NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V4 Chapter 4

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 4

Posisi Perasaanku

Setelah puas menikmati Ouchi Ennichi bersama Haruto-kun, aku membereskan dekorasi di ruang tamu.


“Ouchi Ennichi tadi seru banget, ya.”


Melihatku tak bisa menyembunyikan rasa enggan untuk menyudahi ini, Haruto-kun yang sedang mencuci piring tersenyum lembut.


“Syukurlah kalau kamu menikmatinya, sungguh.”


Sambil bilang begitu, dia membilas cup yang tadi dipakai untuk es serut dan menaruhnya di rak pengering.


Melihat cup bertuliskan ‘Es’ itu, aku teringat ‘permainan tebak rasa’ yang tadi kulakukan bareng Haruto-kun, dan aku merasakan wajahku memanas.


Mungkin aku agak kelewat agresif tadi...


Saat teringat, sensasi di dalam mulutku tiba-tiba bangkit kembali. Sambil merasakan detak jantung yang makin kencang, aku melirik Haruto-kun sekilas.


Di tengah hujan deras, dia rela basah-basahan demi menjumpaiku.


Dia mewujudkan impianku untuk keliling kedai makanan dan melihat kembang api bareng orang yang kusuka.


Baik hati, penuh perhatian, jago ngurus rumah, otaknya encer pula; dia pacar idaman yang terlalu bagus buatku. Hanya dengan Haruto-kun ada di sisiku, hatiku sudah terpuaskan. Terwarnai sepenuhnya oleh satu warna kebahagiaan.


Perasaanku pada Haruto-kun kian menguat, dan karena tak bisa menahannya, aku jadi mendesaknya dengan agak berani.


Saat aku menatap Haruto-kun sambil memikirkan hal itu, pandangan kami bertemu saat dia selesai mencuci.


“Hm?”


“Tidak.”


Aku menggelengkan kepala kecil dan kembali membereskan barang.


Saking asyiknya menatap Haruto-kun, tanganku sampai berhenti bekerja.


Tak lama kemudian, semua kegiatan beres-beres Ouchi Ennichi pun selesai.


“Kalau begitu... aku pulang, ya.”


“...Iya.”


Haruto-kun melihat jam dinding dan bicara dengan nada ragu-ragu.


Mendengar ucapannya, aku merasakan kesepian yang tak tertahankan.


“Aku antar sampai depan.”


“Iya, makasih.”


Aku mati-matian menahan kata-kata yang meluap di dalam hati, lalu berjalan ke pintu depan bersama Haruto-kun. Setelah memakai sepatu dan memegang tas belanja, Haruto-kun berbalik menghadapku.


“Emm... jadi, sampai jumpa lagi pas kerja paruh waktu berikutnya, ya?”


“Iya. Hari ini makasih banget, ya. Aku senang banget Haruto-kun datang.”


“Iya, aku juga pengin ketemu Ayaka, dan aku senang kamu menyukainya.”


Haruto-kun berkata sambil tersenyum manis. Hanya dengan itu, hatiku melonjak kegirangan.


“...Ya sudah, bye-bye.”


“Bye-bye...”


Kami saling melambaikan tangan, dan Haruto-kun hendak beranjak pulang.


Sosoknya perlahan menjauh.


Di saat itulah, bendunganku jebol dan mengulurkan tangan.


Aku mencengkeram lengan baju Haruto-kun yang hendak pergi, dan kata-kata yang sejak tadi meluap di hatiku tumpah ruah dari mulut.


“...Emoh... aku mau bareng kamu lebih lama lagi.”


“Eh...”


Mendengar ucapanku, Haruto-kun menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu, lalu kembali berbalik menghadapku.


“Ayaka...”


“Aku mau bareng kamu terus. Enggak mau pisah...”


Aku merengek seperti anak kecil.


“Aku juga pengin terus bareng Ayaka, kok.”


Sambil bilang begitu, Haruto-kun memelukku dengan lembut.


Aku sendiri tahu. Aku yang sekarang ini sangat merepotkan.


Tapi, Haruto-kun sama sekali tidak menunjukkan wajah keberatan, dia justru memperlakukanku dengan sangat berharga.


Ugh... aku pengin terus dipeluk Haruto-kun kayak gini... tapi, aku harus tahan...


“Maaf, ya. Aku jadi egois begini...”


“Ayaka yang egois itu manis kok, jadi nggak masalah sama sekali.”


“Muu, bodoh...”


Terhadap kebaikan Haruto-kun yang rasanya bisa membuatku tenggelam, aku melakukan perlawanan kecil.


Nggak boleh begini terus. Aku nggak boleh menyusahkannya lebih dari ini.


Aku mengerahkan seluruh tekad yang kupunya untuk melepaskan diri dari Haruto-kun, lalu memasang senyum untuk mengantar kepergiannya.


“Maaf ya sudah menahanmu. Sampai nanti.”


“...Ah, benar juga. Besok, kamu mau datang ke rumah?”


Mendengar ajakannya, hatiku seketika menjadi cerah.


“Boleh?”


“Iya. Waktu festival kembang api batal, Ayaka bilang, ‘kan? Mau menyapa Nenek sebagai pacar. Kalau Ayaka datang, Nenek pasti senang.”


“Beneran? Kalau gitu, besok aku main ke sana, ya.”


“Oke, kalau gitu besok siang lewat sedikit gimana?”


“Boleh, kita ketemuan di tempat waktu itu lagi?”


“Sip. Kalau begitu, jumpa besok, ya.”


“Iya! Jumpa besok!”


Masih ada rasa sepi di hati. Tapi, karena besok bisa bertemu dia lagi, aku bisa menahannya.


Terakhir, aku memeluk Haruto-kun erat-erat, lalu mencoba melepaskannya perlahan.


Saat itu, tiba-tiba tangan Haruto-kun menyentuh pundakku.


Lalu, dia menarikku dengan lembut, dan bibirku pun dicuri olehnya.


“Aku pulang, ya. Bye-bye.”


“...Bye, bye...”


Sambil melambaikan tangan, sosok Haruto-kun menghilang di balik pintu.


Bahkan setelah dia pulang, aku masih berdiri melamun menatap pintu depan. Di bibirku, sisa kehangatan dari ciuman yang dia tinggalkan masih terasa panas.


Entah berapa lama aku berdiri terpaku di sana.


Tiba-tiba aku tersadar dan teringat pakaianku.


“Yukata-nya... harus diganti...”


Dengan pikiran yang benar-benar melayang entah ke mana, aku kembali ke kamar dan mengganti yukata dengan baju kasual.


Ah, Haruto-kun curang banget sih, ciuman mendadak begitu...


Kalau digituin, jantungku bisa copot, tahu...


Tapi, aku senang... rasanya aku benar-benar disayang sama Haruto-kun...


Saat itu, tiba-tiba kata-katanya terngiang kembali di telingaku.


‘Mulai sekarang pun, tolong izinkan aku melakukan hal yang mustahil atau nekat demi senyumanmu, ya?’


Saat kata-kata itu terucap, hatiku langsung tercuri.


Aku dicintai.


Aku diperlakukan dengan istimewa.


Aku merasakannya lewat kata-kata Haruto-kun. Aku baru tahu kalau diistimewakan oleh orang yang kita sukai ternyata semembahagiakan ini. Aku benar-benar sudah menjadi tawanan Haruto-kun. Pandanganku, hatiku, semuanya seolah hanya menginginkan Haruto-kun.


Haaah... cepat besok dong, aku pengin ketemu Haruto-kun...


“Saking sukanya, rasanya sampai sesak...”


Suka sama Haruto-kun sampai segininya, aku bakal baik-baik saja nggak, ya? Tapi, sudah terlanjur suka, mau bagaimana lagi.


Tapi, suka... sayang banget... hmm...


Karena hatiku tercuri oleh kata-kata Haruto-kun, aku berkali-kali bilang ‘sayang banget’ padanya untuk menyampaikan perasaanku. Tapi, rasanya itu cuma menyampaikan sebagian kecil saja dari isi hatiku, jadi aku memeluknya erat agar perasaanku tersampaikan lebih banyak lagi.


Waktu itu, apa ada kata-kata yang bisa mewakili perasaanku dengan lebih tepat, ya?


“...Ci...”


Adakah kata yang bisa mewakili perasaan yang menggelembung besar di dalam diriku ini?


“Cin... ta...”


Tapi, tadi pas pulang aku sudah nyusahin Haruto-kun, jadi lain kali aku harus hati-hati.


“Ayaka.”


Aku nggak mau dianggap cewek posesif yang merepotkan sama Haruto-kun...


“Hei Ayaka? Kamu nggak apa-apa? Ayaka?”


Hm? Kok rasanya aku dengar suara Mama...


“Hwah!? Mama!?”


Eh!? Loh!? Kok ada Mama!? Tunggu, eh? Aku ada di ruang tamu... Kapan aku keluar dari kamar? Yukata-nya juga sudah diganti...


“Ayaka, kamu nggak apa-apa? Kamu melamun menatap TV mati, loh...”


“Eh? Masa sih?”


“Masa sih gimana... Mama pulang dan bilang ‘Aku pulang’, tapi nggak ada yang jawab, Mama pikir kamu sudah tidur di kamar, eh taunya lagi duduk di sofa ruang tamu, kaget Mama.”


“Ma-Maaf, Ma. Umm... selamat datang.”


Kepada Mama yang mengintip wajahku dengan cemas, aku tersenyum seadanya.


“Ngomong-ngomong, tadi sore hujannya deras banget, ya. Festival kembang apinya batal, ‘kan?”


Mama yang tahu aku janjian nonton kembang api sama Haruto-kun menatapku dengan wajah cemas.


“Ah, iya. Tapi, Haruto-kun datang ke rumah dan bikin acara yang namanya ‘Ouchi Ennichi’.”


“Ouchi Ennichi? Belum pernah dengar, tuh.”


“Jadi kita menghias dalam rumah kayak kedai festival, terus makan makanan yang biasa ada di kedai, itu namanya Ouchi Ennichi katanya.”


Sambil menjelaskan, aku memperlihatkan foto yang kuambil dengan ponsel ke Mama.


“Wah, hebat juga. Ini Ootsuki-kun yang bikin? Sampai ada permen apel segala.”


“Iya. Soalnya aku pernah bilang kalau impianku itu keliling kedai makanan dan nonton kembang api bareng orang yang kusukai. Terus Haruto-kun nekat beli bahan-bahan hujan-hujanan demi aku. Terus dia bilang, ‘Ayo kita keliling kedai dan nonton kembang api’.”


“Ara-ara, ya ampun. Terus? Ootsuki-kun sudah pulang?”


“Iya, sudah pulang.”


“Hmm, begitu rupanya.”


Mendengar ceritaku sampai situ, Mama tersenyum menyeringai, lalu menatap wajahku dengan suasana yang berbeda dari sebelumnya.


“A-Apa?”


“Tidak. Cuma agak lega aja. Kirain kamu bakal murung karena syok nggak bisa nonton kembang api...”


Mama menatap mataku sambil bicara dengan riang.


“Ternyata cuma lagi sibuk ngelamunin Ootsuki-kun, ya?”


“Ugh...”


Tepat sasaran banget, aku nggak bisa bantah...


“Muncul dengan gagah di tengah hujan deras dan mengabulkan impianmu. Ootsuki-kun kayak pahlawan, ya. Atau, pangeran berkuda putih?”


“Iiih! Jangan ngomong aneh-aneh, ah! Mending Mama cepat ganti baju gih!”


Aku merengut pada Mama yang menggodaku.


“Fufufu, padahal Mama sudah cemas loh, jahatnya.”


“Iya, iya, makasih! Dah, sana ganti baju.”


“Iya, iya.”


Setelah mengusir Mama dari ruang tamu, aku mengambil cangkir dari dapur dan menyeduh dua teh. Lalu, aku menyodorkan satu cangkir kepada Mama sekembalinya dari ganti baju.


“Nih Ma, mau ngeteh, ‘kan.”


Gara-gara digoda tadi, nada bicaraku jadi agak ketus.


“Makasih.”


“Hm.”


“Haaah, enaknya.”


“...Hei, Mama?”


“Hm? Apa?”


“...Mama itu, kenapa menikahi Papa?”


Karena Mama suka menggoda soal Haruto-kun, sebenarnya malu tanya begini. Tapi, aku pengin banget tanya pada Mama yang sudah menikah dengan Papa dan merupakan sesepuh dalam percintaan.


“Pasti karena sayang banget sama Papa kan makanya nikah?”


Saat aku menanyakan itu, Mama tertawa “Fufufu”.


Aku agak waspada, takut digoda lagi. Tapi, Mama menyeruput tehnya perlahan, lalu menatapku dengan mata serius.


“Hmm, gimana, ya... Iya sih Mama mulai pacaran sama Papa karena Mama suka banget sama dia, tapi alasan menikahnya agak beda. Bisa dibilang, justru karena sudah tidak ‘suka’ lagi, makanya Mama menikah.”


“Eh!? Mama nggak suka sama Papa!?”


“Iya, sudah nggak ‘suka’ lagi, kok.”


M-Masa!? Barusan aku dengar pernyataan yang mencengangkan!? Papa dan Mama adalah pasangan yang sangat rukun dan jadi idealku... apa sebenarnya mereka pasangan pura-pura!? Apa krisis keruntuhan keluarga Toujou sedang menghampiri tanpa kusadari!?


Aku tak bisa menyembunyikan keguncangan mendengar jawaban Mama yang tak terduga.


Melihatku seperti itu, Mama tertawa “Hihihi” seolah melihat sesuatu yang lucu.


“Mama!? Bukan waktunya ketawa, tahu!? Aku menentang keras perceraian!! Ryota kan masih kecil!!”


“Fufufu, tenang saja, nggak bakal cerai, kok. Mama itu, sudah lama sekali berhenti ‘menyukai’ Papa.”


Mama memotong kalimatnya di situ, meminum tehnya lagi, lalu melontarkan kata-kata perlahan seolah sedang menasihatiku.


“Mama tuh bukan ‘suka’ sama Shuuichi-san. Tapi Mama ‘mencintai’ (aishiteru) dia.”


“...Men, cintai?”


“Iya, mencintainya.”


Mama mengulangi hal yang sama lalu tersenyum manis.


“Itu, apa bedanya sama suka?”


“Mirip, tapi agak beda. Sedikit perbedaan itulah yang jadi perbedaan besar.”


“...?? Mama lagi-lagi ngerjain aku, ya?”


“Tidak, Mama serius, loh.”


Melihat tatapan curiga dariku, Mama memberikan penjelasan dengan ekspresi seorang ibu yang jarang dia perlihatkan.


“Ayaka tahu istilah ‘Koi’ adalah hasrat, ‘Ai’ adalah ketulusan’?”


“Enggak, baru dengar, tuh.”


“Kata ‘Koi’, kalau ditulis dengan huruf Kanji, unsur ‘hati’-nya ada di paling bawah, ‘kan? Artinya, itu dasar hati atau hasrat. Koi itu selalu menuntut balasan dari pasangannya. Kalau berdandan cantik, ingin dipuji ‘imut’. Kalau ngasih hadiah, ingin pasangannya senang dan bilang ‘makasih’. Kalau nyimpan rasa suka, ingin pasangannya juga menyukai kita sama besarnya. Menyebut ini sebagai hasrat atau pamrih mungkin agak kasar, tapi Koi memang menuntut imbalan dari orang yang disukai.”


Mendengar ucapan Mama, aku mengangguk.


Aku jatuh cinta pada Haruto-kun, dan aku sangat paham apa yang Mama bilang.


Setiap mau ketemu dia, aku selalu berkaca sambil mikir ‘Kira-kira Haruto-kun bakal bilang aku imut nggak, ya?’.


“Sebaliknya, kalau di huruf ‘Ai’, unsur ‘hati’-nya ada di tengah-tengah, ‘kan? Yang berarti ketulusan hati. Diri sendiri itu nomor dua. Asalkan orang yang dicintai bahagia, itu saja sudah cukup. Perasaan tanpa pamrih yang tak menuntut balasan. Itulah ‘Ai’ atau Cinta sejati.”


“...Jadi maksud Mama, Mama menikah karena perasaan Mama ke Papa berubah dari Koi menjadi Ai?”


“Betul. Selain itu, sekarang bukan cuma Papa, Mama juga mencintai Ryota dan Ayaka.”


“...”


Kata-kata Mama membuat hatiku terasa geli tapi hangat.


“Demi kebahagiaan Ryota dan Ayaka, Mama rela bertaruh nyawa Mama sekalipun.”


“Bertaruh nyawa, bukannya berlebihan?”


“Menyampaikan cinta itu memang lebih pas kalau dilebih-lebihkan sedikit.”


Mama berkata begitu sambil mengedipkan sebelah mata dengan centil.


“Tapi kan, secinta apa pun, tetap pengin dibilang ‘imut’ atau ‘cantik’, ‘kan?”


“Iya sih. Tapi ya, saat sedang fase Koi dan saat fase Ai, rasanya agak beda. Susah dijelaskan dengan kata-kata sih, tapi pas lagi Koi, kita ingin jadi cantik demi diri sendiri, supaya bisa menarik hati pasangan. Makanya kalau dipuji rasanya senang sekali sampai hati melonjak-lonjak.”


Mama tampak mengenang masa-masa pacaran dengan Papa, bercerita dengan tatapan menerawang jauh.


“Tapi, saat berubah jadi Ai, kita ingin jadi cantik dan tetap menarik demi pasangan. Agar bisa terus berada di sampingnya, agar menjadi diri yang pantas untuknya. Makanya saat dibilang ‘cantik’, meski rasanya sangat senang sama seperti saat Koi, tapi hati rasanya jadi tenang dan damai. Terasa hangat menjalar. Merasa bahwa di sinilah tempat kita berada.”


“Gitu, ya... tapi, itu... mungkin aku sedikit, sedikit doang loh ya, paham maksud Mama.”


Waktu masih latihan jadi pacar, aku selalu mikirin gimana caranya biar perasaan Haruto-kun tertuju padaku.


Tapi, sekarang aku mulai berpikir ingin menjadi pacar yang tidak malu-maluin saat berada di samping Haruto-kun. Aku ingin menjadi sosok yang pantas sebagai kekasih dari lelaki yang sangat mempesona itu.


“Begitu? Kalau begitu, mungkin Koi-nya Ayaka juga sudah mulai berubah menjadi Ai.”


Berkata begitu, Mama menatapku dengan tatapan lembut.


“Begitu... kah?”


“Fufu, tapi, ya. Cerita tadi itu cuma pengalaman Mama, cerita tentang Koi dan Ai versi Mama. Ayaka punya Koi dan Ai versi Ayaka sendiri yang berbeda. Jadi, hadapilah perasaan itu pelan-pelan dengan caramu sendiri, jangan terburu-buru.”


“Iya... makasih, Mama.”


“Sama-sama.”


Aku meminum teh seteguk lalu tertawa bersama Mama.


“Tapi, istilah ‘Koi adalah hasrat, Ai adalah ketulusan’ tadi cuma permainan kata sih, jadi tidak bisa dibilang mutlak benar juga.”


“Ah Mama, udah bagus-bagus padahal, ceritanya jadi rusak deh.”


“Cinta dan kasih sayang itu terlalu rumit dan sulit ‘tuk dijelaskan dengan sepatah kata saja, tahu.”


Sambil berkata begitu, Mama tertawa riang.


Setelah itu, aku ngobrol dengan Mama sebentar, lalu kembali ke kamar.


Lalu, aku beranjak ke kasur, menatap langit-langit, dan bergumam pelan.


“Koi adalah hasrat, Ai adalah ketulusan, ya...”


Hatiku sekarang, ada di mana, ya?


Tapi, saat mendengar kata ‘Ai’ dari Mama, aku merasa kata itu ngepas banget sama hatiku. Perasaanku yang tak cukup disampaikan hanya dengan kata ‘suka banget’. Kalau itu adalah ‘Cinta’...


“...Agak terlalu berat nggak, sih? Padahal baru pacaran beberapa hari.”


Aku tersenyum kecut, lalu perlahan memejamkan mata.



Siang hari di musim panas yang cerah dan menyegarkan, seolah hujan badai dadakan kemarin cuma bohong belaka.


Aku mengunjungi rumah Haruto-kun.


“Ayaka-san, selamat datang.”


Saat aku masuk ke pintu depan bareng Haruto-kun, Nenek menyambut kami.


“Selamat siang. Anu, ini ada sedikit buah tangan.”


“Ara-ara, makasih ya udah repot-repot. Masuklah, tunggu di ruang tengah, ya. Nenek buatkan teh dulu.”


“Terima kasih.”


Aku menyerahkan bingkisan kue kering pada Nenek, lalu naik ke ruang tengah.


Hmm, rumah ini samar-samar memang punya aroma Haruto-kun, nyaman banget. Aku pengin banget ngantongin udara rumah ini dan membawanya pulang...


“Maaf Ayaka, jadi bikin kamu repot terus tiap kali datang.”


“Nggak apa-apa, kok. Jangan diambil pusing.”


Kunjungan hari ini punya tujuan penting, yaitu melaporkan bahwa kami sudah resmi berpacaran. Jadi, aku harus bersikap sopan pada keluarga Ootsuki.


Sambil antusias begitu, aku duduk menempel rapat di sebelah Haruto-kun yang duduk di depan meja.


“...Nggak gerah?”


“Enggak, kok.”


Biarpun suhu ruangan ini panasnya bukan main, aku yakin tetap bisa nempel sama Haruto-kun.


Lalu, Nenek kembali membawa kue dan teh di nampan.


“Silakan.”


“Terima kasih.”


Aku menerima teh dari Nenek dan menyeruputnya sedikit.


“Enak sekali.”


Mendengar ucapanku, Nenek tersenyum hingga kerutan di wajahnya terlihat jelas, lalu kembali memasang wajah serius dan menundukkan kepala.


“Ayaka-san. Maafkan cucu Nenek karena sudah menyusahkanmu selama ini.”


“Eh? A-Anu! Tolong jangan dipikirkan! Justru saya yang harus minta maaf karena sudah membohongi Nenek selama ini!”


Aku buru-buru menunduk pada Nenek.


“Sebenarnya, yang mengusulkan pura-pura pacaran itu saya. Haruto-kun mau langsung minta maaf ke Nenek, tapi saya melarangnya. Sayalah yang salah.”


Saat aku membela Haruto-kun mati-matian, Nenek mengangkat kepalanya, lalu menatap Haruto-kun dengan ekspresi lembut.


“Haruto, Ayaka-san ini pacar yang sangat baik, ya.”


“Iya, Ayaka adalah pacar terbaik yang terlalu bagus buatku.”


“Haruto-kun...”


Kata-katanya membuat dadaku terasa hangat. Justru Haruto-kun lah pacar terbaik yang terlalu bagus buatku!


“Ayaka-san. Haruto pernah sekali berbohong padamu. Dia punya sisi lemah seperti itu, tapi dia anak yang lembut dan penuh perhatian. Nenek yakin mulai sekarang, dia akan menjagamu sepenuh hati.”


“Iya! Sebenarnya kemarin pun, Haruto-kun datang menemui saya di tengah hujan deras, saya benar-benar merasa sangat dipedulikan dan dihargai!”


“Begitu ya, begitu ya.”


Sampai sekarang pun, kalau ingat kejadian kemarin, pipiku jadi kendur sendiri.


Aku menceritakan kejadian Ouchi Ennichi kemarin dengan penuh semangat, dan Nenek mendengarkannya dengan sangat senang.


“Haruto. Mulai sekarang, jaga Ayaka-san baik-baik, ya.”


Nenek berkata pada Haruto-kun sambil tersenyum senang mendengar ceritaku.


“Iya, tentu saja. Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan menjaga Ayaka.”


Haruto-kun sepertinya malu kejadian kemarin diceritakan ke Nenek, wajahnya jadi agak merah.


Fufu, Haruto-kun yang malu-malu juga manis...


“Anu, kalau boleh, saya ingin dengar cerita masa kecil Haruto-kun.”


Saat aku memohon, wajah Nenek langsung berbinar cerah.


“Ara, boleh dong! Tentu saja ‘kan Nenek ceritakan sebanyak apa pun. Ah, benar juga. Ada album foto yang waktu itu belum sempat Nenek perlihatkan, mau sambil lihat itu?”


“Mau! Tolong perlihatkan!”


Aku menyahut tawaran Nenek dengan antusias.


“Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Nenek ambilkan albumnya.”


“Nek, jangan cerita yang aneh-aneh, ya.”


“Iya, iya.”


Menanggapi ucapan Haruto-kun dengan santai, Nenek pergi dari ruang tengah.


Asyik, bisa dengar banyak cerita masa kecil Haruto-kun~.


Saat aku menunggu dengan hati riang, Haruto-kun di sebelahku tersenyum kecut.


“Segitu penasarannya sama masa kecilku?”


“Iya dong! Wajar kan kalau pengin tahu lebih banyak tentang pacar sendiri?”


“...Yah, ada benarnya, sih.”


“Aku kan masih belum tahu banyak soal Haruto-kun, jadi mulai sekarang aku ingin tahu tentangmu sedikit demi sedikit.”


“Dibilang segamblang itu, rasanya jadi malu...”


Haruto-kun berkata sambil menggaruk lehernya.


Aku sendiri juga malu mengatakannya, tapi perasaan memang harus diutarakan dengan kata-kata, ‘kan? Biar tersampaikan dengan benar.


“Ini Ayaka-san. Nenek bawa albumnya.”


“Wah! Terima kasih!”


Setelah itu, aku melihat album foto bareng Haruto-kun yang malu-malu sambil mendengarkan berbagai cerita dari Nenek. Waktu itu terasa sangat menyenangkan dan membahagiakan, waktu berlalu begitu cepat, dan tanpa sadar hari sudah hampir sore.


“Ah, sudah jam segini. Terima kasih sudah liatin albumnya! Saya senang bisa dengar banyak cerita tentang Haruto-kun.”


“Nenek juga berterima kasih atas waktu yang menyenangkannya. Mulai sekarang, jangan sungkan main ke sini kapan pun kamu mau, ya.”


“Baik!”


Aku mengangguk mantap pada Nenek yang tersenyum ramah.


“Ah, satu lagi, sebelum pulang saya punya satu permintaan...”


“Apa itu? Bilang saja apa pun.”


“Umm, bolehkah saya lapor kalau saya pacaran sama Haruto-kun ke... anu, orang tua dan Kakek Haruto-kun?”


Saat aku bilang begitu, Haruto-kun dan Nenek sama-sama memasang wajah kaget. Tapi, ekspresi itu segera berubah menjadi senyum bahagia.


“Tentu saja boleh. Suami Nenek, dan anak-anak itu juga pasti senang. Terima kasih, ya.”


“Ayaka... makasih.”


Setelah keduanya berterima kasih, aku pun diantar ke ruang tatami tempat altar berada.


“Umm, ini Ayah dan Ibu, dan ini Kakek.”


Haruto-kun memperkenalkan foto-foto yang dipajang di depan altar.


Aku menunduk pada foto-foto itu, lalu duduk bersimpuh dan menyatukan tangan untuk berdoa.


Anu... Saya, kali ini, telah diizinkan untuk menjalin hubungan dengan Haruto-kun. Nama saya Toujou Ayaka. Umm... Haruto-kun adalah laki-laki yang sangat hebat, baik hati, mempesona, dan terlalu luar biasa bagi saya.


Saya juga akan berusaha agar pantas berada di sisinya selaku pacar Haruto-kun, jadi... mohon restunya untuk kedepannya.


Setelah selesai mengucapkan salam dalam hati, aku melepaskan tautan tanganku.


Fyuuh, rasanya agak tegang...


Tapi, syukurlah bisa menyapa orang tua dan Kakek Haruto-kun dengan benar.


“...Haruto-kun ternyata mirip Ibumu, ya.”


“Eh? Apa iya?”


Aku berkata sambil melihat foto orang tuanya yang dipajang di altar.


“Iya. Ah, tapi matanya mungkin mirip Ayahmu.”


“Aku sendiri nggak sadar, sih.”


“Fufu, mirip banget, kok.”


Hari ini adalah hari yang membahagiakan karena aku jadi tahu banyak tentang Haruto-kun.



Di jalan pulang dari rumah Haruto-kun.


Sambil menggenggam tangan Haruto-kun yang mengantarku, aku mengingat kembali cerita yang kudengar dari Nenek.


“Haruto-kun, waktu kecil ternyata bercita-cita jadi sopir bus, ya.”


“Yah, begitulah.”


Dia menjawab sambil tersenyum malu-malu.


“Waktu kecil kan, sopir yang bisa mengendalikan bus besar dengan bebas itu kelihatan keren banget.”


“Fufu, namanya juga cowok.”


“Ayaka waktu kecil mau jadi apa?”


“Aku? Aku... kalau nggak salah mau jadi kang kue, kayaknya?”


“Ah, bisa dimengerti.”


Haruto-kun berkata begitu dan tertawa “Hihihi”.


“Ah! Barusan pasti mikir ‘Anak ini pasti mikir kalau jadi kang kue bisa makan kue sepuasnya!’, kan!”


“Ooh, ternyata Ayaka kecil mikir gitu, ya.”


“Ugh... habisnya, kue kan enak...”


Aku malah menggali lubang sendiri, dan Haruto-kun setuju sambil tertawa, “Iya juga, sih”.


“Muu... kalau gitu, mimpi Haruto-kun yang sekarang apa?”


“Mimpi sekarang? Hmm, apa, ya...”


Mendengar pertanyaanku, Haruto-kun menatap langit yang sudah berwarna jingga.


“Belum ada yang pasti, sih... tapi untuk sekarang, aku pengin bikin Nenek tenang. Aku ingin dapat pekerjaan stabil yang bisa bikin Nenek mikir kalau aku sudah bisa hidup mandiri, mungkin?”


Setelah bilang begitu, dia tersenyum agak miris sambil bilang, “Mimpinya terlalu B aja, ya?”. Senyum Haruto-kun yang diterangi sianr mentari senja itu entah kenapa terlihat sangat sendu di mataku, membuatku tanpa sadar meremas tangannya dengan kuat.


“Haruto-kun...”


“Selain itu, kini aku punya satu mimpi lagi.”


Haruto-kun menatap wajahku, lalu membalas genggaman tanganku dengan erat.


“Mimpi apa, tuh?”


“Membuatmu tersenyum.”


“Eh!?”


Saat kata-kata Haruto-kun sampai ke telingaku, dadaku berdegup kencang.


Wajahnya di kala senja terwarnai merah. Namun tatapan seriusnya menyelimutiku. Sosok terkasih yang membuatku tanpa sadar terpana. Tapi, ekspresi itu segera berubah menjadi senyum malu.


“Gitu deh, terlalu sok iye, ya?”


Haruto-kun tertawa “Ahahaha” karena malu.


Sambil merasakan detak jantung yang dag-dig-dug di dadaku, aku menyembunyikan ekspresiku yang sama sekali tak bisa dikontrol ini darinya, dan bergumam pelan.


“Duh... bego...”


Saat itu, tiba-tiba aku teringat perkataan Saki.


‘Mulai sekarang, adalah masa untuk melihat dan menilai Ootsuki-kun dengan perlahan, loh.’


Saki bilang, dalam percintaan ujian sebenarnya baru dimulai setelah pacaran.


Menghabiskan waktu bersama sebagai kekasih, ini adalah masa untuk menilai apakah Haruto-kun adalah belahan jiwaku atau bukan.


Tapi... mungkin aku sudah tahu jawabannya...


Soalnya, sejak tadi perasaanku terus-menerus berteriak.


‘Orang ini! Dialah orangnya!’


Perasaan itu menyeruak dari dalam dadaku sampai rasanya hatiku sesak.


Haruto-kun adalah cinta pertamaku, dan aku belum pernah menyukai orang lain.


Dengan pengalaman minim begitu, apa aku bisa menilai dia belahan jiwa atau bukan? Bagian rasional dalam diriku meragukannya. Tapi, bersamaan dengan itu, muncul juga pemikiran: apakah aku bisa bertemu lahi orang yang bisa kusuka sebesar ini di sisa hidupku kelak?


Aku yang sekarang, sudah sangat tergila-gila pada lelaki bernama Ootsuki Haruto sampai tak tertolong lagi.


Orang yang begitu mempesona, menarik, yang sangat menghargaiku, dan yang terpenting, orang yang sangat kucinta.


Aku rasa, baik dulu maupun kelak, orang seperti itu cuma Haruto-kun seorang.


Waktu Saki menginap di rumah setelah pesta barbeku, kami berandai-andai kalau cowok yang jadi asisten rumah tangga itu bukan Haruto-kun melainkan cowok lain, apakah aku akan jatuh cinta.


Waktu itu aku bilang ke Saki kalau aku nggak bakal jatuh cinta, tapi jujur aku nggak yakin.


Aku nggak bisa bayangin orang lain selain Haruto-kun yang datang, jadi aku jawab nggak bakal jatuh cinta...


Tapi, andai ada orang yang sebaik, seperhatian, dan sejago Haruto-kun dalam urusan rumah tangga.


Aku tidak bisa sepenuhnya menyangkal kemungkinan aku bakal menyukai orang itu.


Tapi, kalau sekarang aku bisa bilang dengan tegas.


Aku jatuh cinta karena dia adalah Haruto-kun.


Aku nggak bisa bayangin orang lain. Yang kusuka, cuma satu orang di dunia ini. Cuma Haruto-kun.


Aku ingin menyampaikan perasaan ini, perasaan yang menggelembung besar sampai rasanya dadaku mau meledak ini padanya, jadi aku meremas tangan Haruto-kun yang sedang kugenggam dengan sangat erat.


“Aku juga... mimpiku sekarang adalah, bisa terus saling tertawa bareng Haruto-kun selamanya.”


“...Gitu, ya.”


“Iya.”


Jawabannya yang cukup singkat membuat hatiku terasa gatal.


Untunglah sekarang lagi senja, semerah apa pun wajahku, matahari sore akan menutupinya.


Aku melihat bayangan kami berdua yang memanjang di tanah. Lalu, aku merapatkan tubuhku ke arah Haruto-kun seolah ingin menghapus celah di antara kami.


Melihat bayangan yang menyatu tanpa celah, aku berpikir.


Apakah suatu saat akan datang masa di mana aku tidak ‘suka’ lagi pada Haruto-kun?


Sambil memikirkan itu, aku mengingat kembali percakapan dengan Mama kemarin.


Cintaku yang dimulai bersamaan dengan liburan musim panas.


Cinta pertamaku yang sangat, sangat berharga.


Mungkin, itu bukan sekadar cinta pertama biasa...


Aku menyandarkan hatiku pada kehangatan tangan Haruto-kun yang menggenggamku dengan lembut namun kuat.


Hatiku pasti, masih berada di posisi ‘Koi’. Tapi, rasanya hati itu ingin naik ke atas.


Kelak, seiring bertambahnya waktu dan kenangan bersamanya, jika hati itu bisa sampai ke tengah...


Mengharap itu terjadi, aku bergumam.


Agar tidak terdengar olehnya, tapi dengan harapan dia mendengarnya.


Kecil, sangat kecil...


“Haruto-kun... aku mencintaimu (aishiteru).”


Kata-kata yang untuk pertama kalinya dalam hidupku, kuucapkan dengan sepenuh hati dan segenap perasaanku.


“Hm? Kamu bilang apa?”


“Enggak, bukan apa-apa kok.”


Di posisi hatiku yang sekarang, aku belum bisa menyampaikannya dengan jelas.


Tapi, jika aku terus menghabiskan waktu sebagai kekasih di sampingnya begini, dan posisi hatiku berubah.


Saat itulah, aku ingin mengatakannya dengan tegas.


Menatap matanya, dengan mencurahkan seluruh hatiku.


──Bahwa aku mencintainya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close