Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 10
Dari yang Tadinya Palsu Menjadi Asli
Malam musim panas terasa agak lembap dan gerah.
Di taman yang hanya ada Haruto dan Ayaka, keduanya saling menatap dengan wajah memerah.
“...Jangan-jangan, Ayaka dari dulu sudah, anu, padaku...”
Haruto bertanya dengan terbata-bata, wajahnya menunjukkan ekspresi malu bercampur bingung menanggapi ucapan gadis itu sebelumnya. Melihatnya seperti itu, wajah Ayaka pun ikut memerah padam, tak kalah meronanya dari Haruto, lalu ia mengangguk kecil.
“Ung... aku sudah menyukaimu.”
Suaranya mengecil karena rasa malu.
Mendengar itu, Haruto merasa panas menjalar hingga ke telinganya, namun di dalam dadanya, perasaan gembira yang belum pernah ia rasakan sebelumnya meluap-luap.
Saat Haruto sedang diserang rasa bahagia yang membuatnya ingin menggeliat, Ayaka melancarkan serangan susulan.
“Aku... sudah lama suka sama Haruto-kun, tahu? Sejak kamu mulai datang ke rumah untuk jadi asisten rumah tangga, masakin makanan enak, nemanin Ryota main, bahkan Papa dan Mama juga menyukaimu... aku jadi jatuh cinta padamu, tahu? Makanya, awalnya aku memberanikan diri mengajakmu nonton film.”
“Eh!? Tunggu! Sejak saat itu!?”
Mengetahui sejak kapan gadis itu menyukainya, Haruto terbelalak kaget.
Melihat Haruto yang mulutnya sedikit terbuka karena terkejut, Ayaka menggembungkan pipinya dengan manis.
“Iya, tahu. Sejak saat itu aku sudah melakukan berbagai cara biar Haruto-kun menoleh padaku. Aku nggak bakal mau gandengan tangan sama orang yang nggak aku suka.”
“Eh... ka-kalau begitu. Waktu aku minta Ayaka jadi pacar palsu juga...?”
“Aku sudah suka. Waktu itu aku kaget banget waktu Haruto-kun bohong sama Nenek kalau aku ini pacarmu, tapi di saat yang sama aku juga senang banget.”
Setelah berkata begitu, dia tersenyum malu-malu sambil bergumam “Ehehe”.
Haruto menatap Ayaka, setengah bengong mendengar fakta-fakta yang baru terungkap itu.
“Kalau begitu, latihan pacaran itu...”
“Itu strategi buat memikat Haruto-kun.”
“...”
Kali ini Ayaka mengatakannya dengan senyum jahil layaknya iblis kecil.
Ekspresi Ayaka yang berubah-ubah dengan cepat itu terlihat begitu mempesona, hingga pandangan Haruto terpaku padanya.
“Jadi... begitu ya...”
Haruto bergumam pelan.
“Ung... hei, Haruto-kun?”
Wajah Ayaka kembali memerah karena malu, ia menatap Haruto dengan pandangan ke atas.
“Sejak kapan Haruto-kun mulai menyukaiku?”
“Ehm, kalau perasaan suka ke Ayaka yang nggak bisa kutahan lagi itu, mungkin pas kita lihat bintang bareng?”
Sambil menjawab pertanyaan Ayaka, Haruto menggaruk pipinya dengan malu.
“Tapi, kalau pas mulai sadar akan pesonamu, mungkin waktu kita pergi ke Taman Hutan Satwa.”
“Ah, jangan-jangan, waktu aku jatuh di area bermain air dan Haruto-kun menolongku?”
“U-Ung. I-Iya... waktu itu.”
Waktu itu, Haruto melindungi Ayaka yang bertabrakan dengan anak laki-laki sampai jatuh, hingga akhirnya mereka jatuh bersama dalam posisi berpelukan.
Sosok Ayaka saat itu masih terpatri dalam benak Haruto.
Disinari terik matahari musim panas, Ayaka yang basah kuyup terlihat fantastis, seolah bertabur permata.
Pemandangan itu benar-benar mencuri pandangan Haruto.
“Ternyata waktu itu, ya...”
“Ung...”
Melihat Ayaka yang memasang ekspresi senang sekaligus malu, Haruto jadi ikut malu, dan keduanya pun sama-sama menundukkan wajah.
Di bawah langit malam musim panas, diterangi cahaya lampu jalan, Haruto dan Ayaka berdiri.
Angin berhembus pelan seolah menyelimuti mereka berdua.
Di musim panas yang terik tahun ini, angin malam pun membawa hawa panas yang setara. Namun, bagi Haruto, alasan kenapa malam ini terasa lebih panas dari biasanya pasti karena faktor lain di luar musim.
Ayaka, dengan wajah yang masih merah merona, perlahan membuka mulutnya.
“Kita, sudah muter-muter cukup jauh, ya.”
“Iya, ya... Maaf, ini gara-gara aku nggak peka.”
Haruto menunduk sedikit dengan rasa bersalah.
Melihat itu, Ayaka melangkah mendekat satu langkah.
“Ung. Karena sekarang perasaan Haruto-kun sudah tersampaikan padaku, aku bahagia kok.”
Dia melangkah maju satu langkah lagi, lalu mengintip wajah Haruto yang sedang menunduk dari bawah.
Sambil menatap mata gadis yang kini berada sangat dekat dengannya, Haruto berkata.
“Tapi, Ayaka padahal sudah berjuang terus dari dulu, aku malah berpaling dari perasaanku sendiri, melarikan diri... dan hari ini aku malah bikin Ayaka sedih.”
Mengetahui fakta bahwa gadis itu terus memikirkannya, Haruto merasa dirinya menyedihkan.
Melihat Haruto yang matanya agak sendu, Ayaka mendekatkan wajahnya dengan gerakan cepat, lalu membisikkan kata-kata.
“Tapi sekarang, kamu sudah menyatakan cinta begini, ‘kan?”
“Itu karena... aku sudah benar-benar nggak bisa nahan lagi perasaan suka sama Ayaka.”
“Fufufu, senang deh...”
Dalam jarak sedekat itu, di mana Haruto hanya perlu mengulurkan sedikit tangan untuk memeluknya, gadis itu tersenyum seolah kebahagiaan meluap darinya.
“...Haruto-kun.”
“Hm?”
“Aku suka kamu.”
“Aku juga... sangat menyukaimu.”
“Ah! Haruto-kun curang! Aku juga sangat menyukaimu, tahu!”
Seolah tak mau kalah dari Haruto, Ayaka mengganti kata ‘suka’ menjadi ‘sangat suka’.
Setelah itu, mereka saling tatap-tatapan mata, lalu tertawa kecil “Fufu”.
Setelah tertawa bersama sejenak, Haruto dan Ayaka kembali saling pandang.
“Ayaka, aku janji. Mulai sekarang aku nggak bakal lari lagi. Aku nggak bakal bikin kamu sedih lagi.”
“...Beneran?”
“Ung. Nggak bakal lagi, pasti.”
Seolah berbisik, namun dengan kata-kata yang sarat akan tekad dan keputusan bulat, Haruto mendeklarasikannya.
Saking senangnya, sudut bibir Ayaka naik membentuk senyum lebar.
Bersamaan dengan itu, ia maju selangkah lagi mendekati Haruto.
Kini jarak mereka sudah sedekat ujung kaki yang saling bersentuhan.
“Janji Haruto-kun itu, boleh aku pastikan sekarang?”
“Kalau Ayaka inginnya begitu.”
Mendengar jawaban itu, Ayaka perlahan meletakkan kedua tangannya di dada Haruto, lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Haruto pun perlahan meletakkan tangannya di kedua bahu gadis yang menyandarkan tubuh itu.
Sosok Haruto terpantul di mata gadis yang menatapnya dari bawah.
Selama beberapa detik, pandangan mereka saling bertautan dalam jarak dekat.
Tak lama kemudian, Ayaka perlahan memejamkan mata, dan sedikit berjinjit.
Haruto juga memejamkan matanya, lalu perlahan menundukkan wajahnya.
Bibir mereka bersentuhan dengan lembut dan halus.
Kejadiannya hanya sesaat.
Keduanya segera menjauhkan wajah, lalu perlahan membuka kelopak mata.
Saat itu, Haruto merasakan sensasi aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Di hadapannya ada sosok Ayaka yang wajahnya merah padam, menatapnya dengan ekspresi bahagia.
Di pandangannya hanya ada gadis itu.
Ia lupa kalau ini di taman, ia bahkan tidak tahu apakah ini siang atau malam.
Panasnya malam tropis yang menyengat, rasa tidak nyaman dari kemeja yang lengket oleh keringat, semuanya sirna.
Yang ia rasakan saat ini hanyalah panas yang membakar di bibirnya.
Dan juga, perasaan yang luar biasa besar terhadap Ayaka.
Haruto mendapat dorongan untuk memeluk erat gadis yang masih berada dalam jangkauan lengannya itu dengan sekuat tenaga. Namun, saat itu ia tersadar.
Ayaka sekarang sudah menjadi pacarnya.
Bukan pacar palsu, tapi pacar sungguhan.
Kalau begitu, dipeluk pun nggak masalah, ‘kan?
Saat pikiran Haruto mulai condong ke arah sana, sisa-sisa akal sehatnya menyadari satu hal.
Yaitu, dirinya saat ini penuh keringat.
Dia berlari sampai ke taman ini.
Karena tubuhnya tidak bisa bergerak luwes akibat gugup, ia berkeringat lebih banyak dari biasanya. Ditambah lagi, saat pernyataan cinta tadi ia dalam kondisi sangat tegang, jadi ia juga mengeluarkan keringat dingin.
Singkatnya, dirinya saat ini cukup bau keringat.
Menyadari hal itu, Haruto tiba-tiba merasa sangat malu dengan jaraknya saat ini dengan Ayaka.
Ia ingin menjauh darinya sekarang juga.
Tidak, sebenarnya hati kecilnya tidak ingin menjauh, tapi setelah mempertimbangkan berbagai hal, ia ingin menjauh.
Saat Haruto dilanda dilema, bisikan panas Ayaka menyusup ke telinganya.
“Kita... sudah jadi pacar, ‘kan? Sudah jadi sepasang kekasih beneran, ‘kan?”
“Iya, benar.”
“Kalau begitu, sudah... nggak perlu nahan-nahan lagi, ‘kan?”
“Eh? Nahan-nahan itu apa—Uooh!?”
Haruto yang hendak menanyakan maksud ucapan Ayaka, terpotong oleh teriakan kagetnya sendiri.
Sebab, Ayaka tiba-tiba menubruk dan memeluknya erat.
Gadis itu melingkarkan lengannya ke punggung Haruto, memeluknya erat-erat, dan menempelkan pipinya ke dada bidang Haruto.
Mendapat pelukan panas mendadak dari Ayaka, isi kepala Haruto jadi kosong melompong.
Di telinganya, terdengar kata-kata yang seolah merembes keluar dari perasaan gadis itu.
“Suka... ah, aku suka...”
Mendengar kata-kata itu, sirkuit pemikiran Haruto hampir putus.
Di tengah pikiran yang tak berfungsi baik, ada satu kata yang mengamuk di kepala Haruto.
Aku bau keringat.
Aku nggak mau dibenci Ayaka.
Kalau dia sampai bilang “Bau keringat, jijik banget”, Haruto yakin dia bakal depresi setidaknya selama sepuluh tahun.
Haruto menegur lembut Ayaka yang sedang memeluknya erat.
“Ayaka? Aku sekarang lagi keringatan banget, loh, bau kan? Bisa tolong lepas dulu sebentar?”
Mengatakan itu, Haruto mendesak agar pelukannya dilepas.
Namun, mendengar ucapannya, Ayaka malah menggelengkan kepala sambil tetap menekan wajahnya ke dada Haruto.
“Nggak mau, aku nggak mau lepas.”
“Bukan gitu, tapi bau keringat, ‘kan?”
“Nggak bau, kok. Justru tercium wangi Haruto-kun, rasanya tenang banget.”
“...Be-Begitu... kah...”
Mendengar ucapan tak terduga dari Ayaka, Haruto merasa senang, tapi rasa malunya jauh lebih besar.
Jangan-jangan, Ayaka itu punya fetish bau, ya...?
Sambil memikirkan hal itu, Haruto diam saja dan membiarkan dirinya terus dipeluk oleh gadis itu.
※
Akhirnya... akhirnya perasaanku tersampaikan!
Aku bisa menjadi pacar sungguhan seperti yang selama ini aku impikan!
Aku jadi pacarnya Haruto-kun!!
Di dalam dadaku, rasa bahagia rasanya meledak-ledak.
Hatiku terwarnai oleh satu warna, sampai aku berpikir “Ternyata manusia bisa merasakan emosi ‘senang’ sedahsyat ini ya”.
Haruto-kun adalah pacarku!
Begitu memikirkan itu, aku sudah nggak bisa tahan lagi dan langsung memeluknya sekuat tenaga.
Haruto-kun bilang dia bau keringat dan menyuruhku untuk lepas, tapi sama sekali nggak bau, kok.
Wangi khas Haruto-kun yang samar-samar tercium saat aku berkunjung ke rumahnya.
Wangi itu sekarang tercium jelas, menyelimutiku dan membuat dadaku deg-degan, tapi di saat yang sama rasanya menenangkan hati, seolah sedang bermimpi.
Saat aku memeluk Haruto-kun mengikuti emosiku, dia juga perlahan melingkarkan lengannya ke punggungku dan memelukku balik dengan lembut.
Aah... ya ampun, aku terlalu bahagia, bahaya nih...
Sudah berapa lama aku memeluk Haruto-kun begini?
Saat aku melupakan waktu dan merasakan dirinya dengan seluruh tubuhku, dia menegurku dengan suara lembut.
“Ayaka. Sudah malam juga, bagaimana kalau kita sudahi dulu? Aku antar sampai rumah.”
“...Ung.”
Kalau bisa, aku ingin begini terus selamanya.
Tapi, waktu sudah larut, kalau begini terus aku malah menyusahkan Haruto-kun. Neneknya juga pasti khawatir dia belum pulang.
“Boleh gandengan tangan?”
Padahal cuma menjauh sedikit, tapi udara malam musim panas yang mengalir di antara kami terasa agak dingin, dan aku pun menginginkan Haruto-kun.
Dia memberikan senyuman lembut yang membungkusku dengan hangat, senyuman yang sangat kusukai.
“Tentu saja. Kita kan sudah jadi pacar beneran.”
“Ung!!”
Saking senangnya, tanpa sadar aku menjawab dengan heboh mirip Ryota...
Agak malu sih... tapi aku bahagia.
Dari tangan kanan yang tergenggam dengan Haruto-kun, kehangatan yang nyata dan rasa aman yang memenuhi hati mengalir ke dalam diriku. Sampai sekarang, kami bergandengan tangan ala kekasih dengan alasan “latihan pacaran”, tapi sekarang sudah nggak perlu alasan lagi.
Saat berjalan di samping Haruto-kun, aku bisa berjalan kayak gini kapan saja.
Taman tempat kami berada sekarang adalah tempat Ryota sering bermain, jadi letaknya sangat dekat dengan rumah.
Jaraknya tidak sampai tiga menit jalan kaki, tapi karena aku ingin bersama Haruto-kun meski cuma satu detik lebih lama, aku berjalan sangat pelan. Haruto-kun tidak menunjukkan wajah keberatan sama sekali dan menyesuaikan langkahnya denganku.
Apa Haruto-kun juga punya perasaan yang sama denganku?
Apa dia juga berpikir ingin bersamaku?
Ingin tahu perasaannya, aku mendongak sedikit melihat ke samping.
Dia menyadari tatapanku, lalu menoleh padaku sambil tersenyum, “Hm?”. Melihat itu, aku merasakan kebahagiaan yang menggelitik, membuat ekspresiku jadi kendur tak tertahankan.
“Uun, nggak ada apa-apa kok.”
Sebenarnya aku ingin bilang “Aku ingin bersamamu lebih lama”, tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya...
Tapi melihat wajah Haruto-kun, aku merasa dia juga punya perasaan yang sama, dan rasa senang yang membuat hati melambung pun menyebar.
Sungguh, aku ingin terus berjalan bergandengan tangan dengannya seperti ini selamanya.
Tapi, harapanku itu tentu saja tak mungkin terkabul, dan kami segera sampai di depan rumah.
“...Sudah sampai.”
“...Ung.”
Di depan pintu masuk, kami kembali berhadapan.
“Mau... mampir sebentar?”
Haruto-kun sudah sering datang ke rumah buat jadi asisten rumah tangga, Mama dan Ryota juga sudah kenal, jadi biarpun sudah larut begini keluarga pasti mengizinkan.
Sambil memikirkan alasan itu, aku mendongak menatapnya.
Haruto-kun tersenyum agak canggung lalu menggelengkan kepala.
“Ah, ini sudah kemalaman, nanti malah mengganggu. Besok aku akan menyapa Ikue-san lagi secara resmi.”
“Begitu ya... iya juga sih.”
“Ung. Karena itu... sampai jumpa besok.”
“Iya... besok kamu bakal datang lewat tengah hari, ‘kan?”
Kami sudah menjadi sepasang kekasih sungguhan, jadi dia tak perlu lagi datang lebih awal sebelum jam kerja untuk latihan pacaran.
Tapi justru karena sudah jadi pacar sungguhan, aku malah ingin bertemu Haruto-kun satu menit, satu detik lebih cepat.
Kini setelah perasaan kami tersampaikan, keinginan untuk bersamanya justru semakin besar.
Hatiku dipenuhi satu warna kebahagiaan. Dan di dalamnya, seolah hendak menghapus rasa sepi yang sempat muncul, Haruto-kun tersenyum manis.
“Ung. Aku juga pengin cepat-cepat ketemu Ayaka.”
“Aku juga!”
Mendengar kata-katanya, aku diselimuti rasa senang yang membuat sekujur tubuh gemetar, dan kembali memeluknya erat.
Haruto-kun membalas pelukanku dengan lembut, dan menepuk-nepuk kepalaku pelan.
Rasanya agak diperlakukan kayak anak kecil sih, jadi malu, tapi rasanya sangat nyaman.
Aku berusaha menahan hasrat “ingin begini terus” yang entah sudah keberapa kalinya, dan berjuang melepaskan diri dari Haruto-kun.
“Kalau begitu... selamat tidur.”
Ucapan perpisahanku pada Haruto-kun terdengar merembeskan rasa sepi yang tak bisa disembunyikan.
“Ung, selamat tidur. Sampai jumpa besok ya.”
Setelah berkata begitu, Haruto-kun memelukku erat sekali lagi.
Hanya dengan itu, hatiku terpuaskan dan rasa bahagia meledak lagi.
Setelah itu, aku berdiri di pintu masuk sampai sosok Haruto-kun tak terlihat lagi, mengantarnya pergi sebelum masuk ke dalam rumah.
Saat menuju ruang tamu, Mama yang masih duduk di sofa membaca buku mengangkat wajahnya dan melihatku.
“Selamat datang kembali.”
Mama tersenyum lembut, dan aku membalasnya dengan senyuman.
“Aku pulang. Anu Ma, aku... sudah jadian sama Haruto-kun.”
“Wah! Selamat ya! Syukurlah.”
“Ung.”
Mendapat ucapan selamat dari Mama, aku tersenyum lebar.
“Ootsuki-kun mana? Sudah pulang kah?”
“Ung, hari ini sudah malam. Katanya besok dia mau menyapa Mama secara resmi.”
“Begitu. Jadi menantikan hari esok ya.”
Mama berkata sambil tersenyum.
Mama benar-benar menyukai Haruto-kun, jadi dia terlihat senang dari lubuk hatinya. Melihat Mama begitu, aku jadi ikutan senang.
“Mama.”
“Hm? Ada apa Ayaka?”
“Terima kasih.”
“Kenapa sih tiba-tiba berterima kasih begitu.”
“Uun, nggak apa-apa. Selamat tidur!”
Aku berkata sambil tersenyum pada Mama yang menatapku heran.
Buku yang dibaca Mama. Sampulnya terbalik atas-bawah, sepertinya orangnya sendiri nggak sadar.
Pasti Mama khawatir padaku dan menanti kepulanganku.
Merasakan kasih sayang ibu yang membuat hati geli bahagia, aku langsung berlari masuk ke kamarku.
Lalu, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur.
“...Haruto-kun jadi pacarku... uugh~...”
Mendengar gumamanku sendiri, aku menggeliat kegirangan di atas kasur.
“Ah! Harus lapor ke Saki!”
Sudah cukup larut sih, tapi harusnya dia masih bangun.
Aku segera menyentuh layar ponsel dan membuka obrolan dengan sahabatku.
Panggilan tersambung tak sampai beberapa detik.
‘...Gimana, hasilnya?’
Dari seberang ponsel, terdengar suara Saki yang khawatir.
Menanggapi itu, aku menyampaikan soal Haruto-kun pada Saki tanpa menyembunyikan rasa bahagiaku.
“Aku jadi pacarnya Haruto-kun! Aku sudah jadi pacarnya!”
‘Ooh!! Selamat!!’
Dengan suara keras yang hampir membuat speaker pecah, Saki menyelamatiku.
“Makasih! Ini berkat berbagai saran dari Saki!”
‘Aku nggak melakukan apa-apa kok. Semuanya adalah hasil Ayaka yang memberanikan diri dan berjuang.’
“Ufufu, makasih.”
Mendengar kata-kata sahabatku, aku jadi malu dan senyumku tumpah.
‘Yaaah~ syukurlah kalau begitu. Kalau sampai Ayaka ditolak, pas liburan musim panas selesai aku sudah siap menghajar Ootsuki-kun, loh.’
Mendengar Saki mengucapkan hal yang agak barbar lewat ponsel, aku tanpa sadar tersenyum kecut.
Saki bilang “Eh, enggak kayaknya, nggak nunggu liburan selesai, aku mungkin bakal langsung ngereog ke rumah Ootsuki-kun,” dengan suara yang agak seram.
“Makasih Saki. Tapi, karena kami sudah jadian dengan baik, jangan bully pacarku, ya?”
‘Ohoho, langsung pamer kemesraan nih yee.’
“Ufufufu.”
‘Terus? Jadiannya gimana? Ayaka yang nembak?’
“Uun. Haruto-kun yang... menyatakan cinta padaku.”
Saat aku bilang begitu, Saki bertanya dengan nada sangat penasaran.
‘Wuih, perkembangan yang panas tuh! Terus terus? Dia nembak gimana?’
“E-Ehm... awalnya dia bilang berbagai hal yang dia suka dariku.”
‘Heem heem!’
“Setelah itu... dia bilang ‘Aku suka segalanya tentangmu’.”
‘Kyaaaaaa~~~!!’
Teriakan melengking Saki bergema di kamarku.
Aku juga teringat saat Haruto-kun menembakku tadi, dan badanku jadi panas mengepul.
“Terus ya, terakhir, dia bilang ‘Tolong jadilah kekasihku yang sesungguhnya’.”
‘Bagus banget!! Ootsuki-kun boleh juga! Terus Ayaka jawab apa?’
“Jadikanlah aku kekasih aslimu.”
Saat aku bilang begitu, dari tempat Saki terdengar suara gedebuk barang jatuh disertai suara menggeliat “Kuuuh~”.
‘Ah mantap! Kalian terbaik! Terima kasih asupan gulanya!!’
Mendengar suara Saki yang penuh semangat itu, entah kenapa aku jadi ikut terbawa suasana dan merasa bersemangat dengan cara yang aneh.
“Te-Terus ya...”
‘Apa, apa? Masih ada lagi?’
“U-Ung... ehm. Aku... ciuman sama Haruto-kun.”
‘...!?’
Saat aku memberitahu bahwa aku sudah melakukan ciuman pertamaku dengannya, terdengar jeritan kecil dari Saki—lalu setelah itu, hening. Tak terdengar suara apa pun lagi.
“...Saki? Kamu nggak apa-apa?”
Karena agak khawatir, aku pun memanggil namanya lewat ponsel.
Tiba-tiba, teriakan Saki meledak menggelegar.
‘Selamat! Dan... dasar pasangan bahagia, meledak saja sanaaaa!!’
Mendengar jeritan hati Saki, aku tanpa sadar tertawa.
‘Enaknyaaa~. Aku juga pengen punya pacar yang bisa masak, jago ngurus rumah, dewasa, lembut, pintar, dan perfect kayak Ayaka gitu dong~~’
“Saki pasti bisa dapat pacar yang hebat, kok.”
‘Ung, aku bakal berjuang... tapi aku tuh, anehnya malah suka ngurusin cowok-cowok nggak guna sih...’
Sahabatku berkata dengan semangat yang agak lebih rendah dari sebelumnya.
“Anu... aku nggak tahu bisa bantu atau enggak, tapi aku siap dengerin curhatanmu kapan saja, oke?”
‘Ung, makasih Ayaka. Yah tapi syukurlah. Dengan begini kamu juga sudah berdiri di garis start percintaan.’
“Eh? Sekarang ini baru garis start?”
Mendengar ucapan Saki aku mengeluarkan suara kaget.
Jadi sekarang, saat perasaanku dan Haruto-kun sudah saling tersambut… ini baru garis start?
‘Iya dong, dalam percintaan, ujian sebenarnya baru dimulai setelah pacaran, tahu?’
“Be-Begitu, ya.”
‘Sekarang ini Ayaka pasti lagi penuh sukacita karena bisa jadian sama Ootsuki-kun, jadi aku nggak mau ngomong yang aneh-aneh, sih.’
Saki mengubah nada bicaranya dari yang tadinya heboh menjadi sedikit serius.
‘Mulai sekarang, adalah masa di mana kamu meluangkan waktu untuk menilai Ootsuki-kun.’
“Menilai? Menilai apa?”
‘Menilai apa lagi, tentu saja apakah dia adalah takdir Ayaka atau bukan.’
“Itu artinya...”
‘Apakah dia bisa jadi calon suami masa depan atau tidak.’
Mendengar kata “Calon suami masa depan” terlontar dari mulut Saki, jantungku melompat deg.
“I-Itu bukannya kecepatan? Kita masih SMA, loh?”
Saat aku bilang begitu, Saki juga membalas ‘Benar juga, ya.’
‘Iya sih, aku pernah baca di internet atau di mana gitu, kemungkinan pasangan SMA sampai nikah itu di bawah sepuluh persen.’
Saat SMA, meskipun saling mencintai dan berpacaran, kemungkinan besar akhirnya akan putus dan menjalani hidup masing-masing. Itu karena bagi kami anak SMA, di depan sana ada masa transisi kehidupan yang mengubah lingkungan secara drastis seperti kuliah atau kerja. Di situ, nilai-nilai kehidupan bisa berubah, hubungan antar-manusia berubah, dan itu berujung pada perpisahan.
Saki menjelaskan hal semacam itu padaku.
‘Tapi, kalau dipikir sebaliknya, jika kalian tetap pacaran sambil melewati semua itu, itu artinya dia benar-benar jodohmu, dan tinggal menuju pelaminan saja, ‘kan?’
“Pelaminan...”
Di dalam kepalaku, lonceng gereja pernikahan berdentang nyaring.
‘Yah, seperti kata Ayaka, kita masih SMA. Mungkin nggak perlu terlalu dipikirin sekarang. Tapi, masa depan itu nggak jauh-jauh amat kok, jadi mungkin boleh lah disimpan di sudut kepala sedikit?’
“Iya... juga ya.”
‘Kalau dipikirkan dari tahap sekarang sih, Ootsuki-kun kayaknya bakal jadi suami ideal. Cowok yang bisa masak itu beneran bikin iri.’
“Ung. Kalau masakan buatan Haruto-kun sih aku mau memakannya setiap hari. Tapi, aku juga ingin dia memakan masakanku.”
‘Rasanya kalau Ayaka dan Ootsuki-kun menikah, bakal jadi pasangan serasi yang bikin orang sekitar enek saking mesranya...’
“Kan belum tahu bakal nikah apa enggak...”
Untuk menutupi rasa malu, aku sengaja membalas Saki dengan nada agak dingin.
‘Yah, nggak ada yang tahu masa depan bakal kayak gimana, tapi… kalau perasaan Ayaka nggak berubah, dan Ootsuki-kun juga begitu, berarti masa depan seperti itu bisa saja terjadi, gitu, loh.’
“Iya, ya.”
Setelah itu, aku dan Saki mengobrol soal kejadian di taman, dan tanpa sadar waktu sudah hampir berganti hari.
“Saki, sudah mau tidur?”
‘Ara? Sudah jam segini?’
Saki mengeluarkan suara kaget.
‘Iya nih. Lanjutannya nanti lagi saja pas ketemu langsung.’
“Oke deh. Kalau begitu selamat tidur.”
‘Sip sip, met bobo~’
Setelah memutus panggilan dengan Saki aku berbaring di kasur sambil merenungkan apa yang dikatakannya tadi.
“Bersama Haruto-kun...”
Aku membuka aplikasi memo di ponselku, lalu mengetikkan huruf di sana.
── Ootsuki Ayaka
Saat melihat tulisan itu, wajahku langsung memerah total dan aku membenamkan muka ke bantal.
Masih belum tahu! Masih belum tahu, kok!!
Lagipula, kalau dari sekarang aku sudah begini, Haruto-kun bisa-bisa mengira aku tipe cewek posesif!
Tapi... kalau kami terus pacaran begini, kelak...
Saat membayangkan masa depan itu, aku diselimuti perasaan bahagia yang membuat tubuhku terasa melayang ringan.
Bagiku yang anak SMA, cerita itu masih jauh.
Tapi, seperti kata Saki, itu bukan masa depan yang terlalu jauh sampai tak terbayangkan.
Lima tahun lagi kami sudah jadi orang dewasa yang bekerja.
Mandiri secara sosial, punya posisi untuk menanggung berbagai tanggung jawab, dan kalau sudah begitu...
Kalau, Haruto-kun adalah jodohku...
“Ah, coba cek ramalan kecocokan nama bentar ah...”
Setelah itu, meskipun hari sudah berganti, aku susah tidur.
...Ternyata hasil ramalan namanya nggak buruk juga...
※
“Aku pulang, Nek.”
Haruto yang pulang ke rumah setelah mengantar Ayaka, memberi tahu kepulangannya pada neneknya sambil melepas sepatu di pintu masuk.
“Selamat datang, Haruto.”
Biasanya jam segini neneknya sudah tidur. Tapi, hari ini beliau bangun menunggu cucunya pulang.
“Nek... aku, sudah jadian sama Ayaka. Bukan yang palsu, tapi jadi pacar sungguhan.”
“Begitu ya, begitu ya. Kamu mendengarkan cerita Ayaka-san dengan baik, ‘kan?”
“Ung.”
Melihat neneknya tersenyum lembut, Haruto menggaruk kepalanya karena malu lalu menuju ruang tengah.
“Anu, Nek.”
“Apa?”
“Nenek tuh, apa sudah sadar soal perasaan Ayaka?”
Mendengar Haruto bertanya sambil duduk, neneknya tertawa kecil “Fufufu”.
“Yah, Nenek juga dulu pernah muda dan merasakan cinta, tahu.”
“Begitu, ya...”
Haruto baru sadar sekarang apa maksud neneknya yang menekankan ‘Dengarkan cerita Ayaka-san juga, jangan minta maaf demi kepuasan sendiri’, dan ia pun tersenyum kecut.
“Bahwa Haruto jatuh cinta setengah mati pada Ayaka-san juga, Nenek sudah tahu semua.”
Neneknya berkata sambil menuangkan teh dari teko ke cangkir Haruto.
“Ahaha... aku nggak bisa menang dari Nenek.”
Mendengar itu, Haruto mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu meminum perlahan teh yang dituangkan neneknya.
“Haruto.”
“Hm? Apa?”
Mendengar namanya dipanggil, Haruto mengangkat wajah dari cangkir teh dan melihat neneknya.
“Ayaka-san itu anak yang sangat baik. Kamu harus menjaganya dengan baik, ya?”
“Ung. Sudha tentu, aku akan menjaganya.”
Mendengar jawaban Haruto yang penuh tekad, neneknya mengangguk puas.
“Berpacaran tuh ya, jauh lebih berat daripada yang Haruto bayangkan, loh.”
Nenek menatap cucunya dengan tatapan lembut sambil memberikan nasihat.
“Sebesar apa pun kamu memikirkan pasanganmu, terkadang ada kalanya kamu tidak mengerti dia. Di saat seperti itulah, percayalah pada Ayaka-san. Dan juga, hargailah kata-kata dalam keseharian.”
“Itu, rahasia hubungan harmonis Kakek dan Nenek?”
“Benar. Kalau kamu lakukan itu, Haruto dan Ayaka-san juga bisa terus mesra sampai keriput nanti.”
Mendengar jawaban Nenek yang sedikit jenaka, Haruto tanpa sadar tertawa.
“Nenek, ‘mesra’ katanya. Kalau ‘sampai keriput’ sih berarti aku sudah nikah sama Ayaka, dong.”
“Haruto. Kalau sudah memutuskan berpacaran, hadapilah Ayaka-san dengan keseriusan dan tekad untuk hidup bersama sampai akhir.”
Mendengar ucapan Nenek yang sulit dibedakan antara bercanda atau serius, Haruto menjawab sambil tersenyum canggung.
“Yah, aku memang serius pacaran sama Ayaka, sih. Tapi omongan Nenek itu, perasaannya agak terlalu berat, nanti Ayaka malah jadi ilfeel, loh.”
Sambil mengatakan hal itu, di sudut kepalanya, Haruto justru membayangkan kehidupan tinggal serumah dengan gadis itu, dan pipinya pun merona kemerahan.




Post a Comment