NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V1 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Kehidupan Sebelumnya

"──Hei, Shuji, kau dengar tidak? Ini salah, tahu."


"Aku dengar kok! Berisik sekali… bicaranya sedikit pelan, bisa tidak?"


"A-aku ini mengajarimu demi kamu, tahu! Kamu yang tidak mendengarkan dengan benar!"


Sepasang laki-laki dan perempuan duduk berdampingan di meja perpustakaan, tempat yang seharusnya tidak boleh berisik.


Aku yang mendapat nilai merah di ujian tengah semester pertama SMA──Haishima Shuji, sedang diajari oleh teman masa kecil sekaligus teman sekelasku, Kusakabe Rikka.


Sejak dulu Rikka adalah siswi teladan, populer di kalangan laki-laki maupun perempuan. Entah kenapa, dia selalu mengurusku, seperti seorang kakak perempuan.


Sementara aku bermulut kasar dan tidak terlalu pintar dalam pelajaran maupun olahraga. Satu-satunya kelebihanku hanya manga dan game.


Meski begitu, dia selalu menemaniku.


"…………"


Di sampingku, Rikka belajar dengan serius. Profil wajahnya benar-benar seperti perwujudan kata "gadis cantik", dengan rambut hitam berkilau dan bulu mata panjang yang menjatuhkan bayangan.


"Apa? …dari tadi kamu terus melihat wajahku."


"…profil wajahmu──menurutku indah."


"H-haa!? Kukira kamu mau bilang apa… itu tidak seperti dirimu, Shuji!"


Rikka memerah dan memukulku berkali-kali.


Bagiku, dia──selalu menjadi sosok yang kukagumi. Karena itu, aku pikir dia akan terus bersinar seperti matahari ke depannya.


Namun, takdir terlalu tidak masuk akal──


"Ah~, hahaha… aku katanya kena kanker. Stadium empat! Sepertinya sudah tidak bisa disembuhkan lagi!"


Di dalam kamar rumah sakit yang serba putih, Rikka yang terbaring di ranjang berkata sambil tertawa seolah itu hanya lelucon.


"Hah… kenapa kamu malah tertawa… apa ini… apa maksudnya ini!!"


Aku tidak bisa memahami perasaannya yang tersenyum padahal seharusnya sedih, dan tanpa sadar aku berteriak.


"Hehe. Maaf ya, Shuji. Kita sudah tidak bisa pergi ke sekolah bersama lagi."


"…sial! Sial, sial! Kenapa bukan aku yang tidak bisa apa-apa ini… kenapa harus kamu yang bisa melakukan segalanya!!"


Aku benar-benar membenci Tuhan.


Rikka punya masa depan. 


Dia seharusnya masuk universitas bagus, mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi, jatuh cinta dengan seseorang yang hebat──dan menjadi bahagia.


Tapi semuanya direnggut oleh Tuhan. Dan hanya aku yang tidak bisa apa-apa ini yang tersisa.


"──Shuji, hiduplah banyak juga untuk bagianku. Ini terakhir kalinya, jadi akan kukatakan…………cara bicaramu yang kasar itu, senyummu yang kadang muncul, dan sisi lembutmu sebenarnya… semuanya, aku sangat menyukainya…"


Kata-kata terakhir yang ditinggalkan Rikka adalah hadiah terbaik sekaligus seperti kutukan.


Sebulan kemudian, Rikka meninggal dunia.


Dengan rasa kehilangan di dada, aku menahan air mata dan mulai belajar.


──Untuk menjadi dokter.


Alasan yang biasa. Keinginan untuk menyelamatkan seseorang sebagai pengganti orang yang tidak bisa kuselamatkan.


Karena itulah aku bercita-cita menjadi dokter.


Namun, bahkan setelah gagal tiga kali ujian masuk, aku tetap tidak bisa masuk fakultas kedokteran.


Aku merasakan betapa tidak berdayanya diriku.


Mungkin karena itu…


Setidaknya di akhir, aku ingin melakukan sesuatu untuk seseorang meski aku tidak berdaya.


Hari itu, sebuah truk melaju ke arah seorang siswi SD yang sedang berjalan di penyeberangan.


Aku langsung bergerak tanpa berpikir. Mendorong anak itu menjauh, dan sebagai gantinya──


Detik berikutnya, yang terdengar di telingaku adalah suara lembut seperti dewi. Padahal aku selalu menganggap Tuhan itu omong kosong, entah kenapa suara itu sampai kepadaku.


──Kepada dirimu yang baik hati dan ingin menjadi dokter, aku akan memberimu kehidupan berikutnya.


──Priest. Itulah profesimu di kehidupan selanjutnya.


──Aku telah memberimu skill khusus yang hanya bisa digunakan olehmu.


──Namun, karena ini kekuatan yang sangat unik, aku mengambil sedikit imbalan darimu.


──Teruslah berlatih, dan selamatkan sebanyak mungkin nyawa.


──Semoga jalan yang kau tempuh selalu bersama bimbingan langit.


Saat tersadar, aku sudah terbangun di dalam hutan yang tidak kukenal. Di sungai jernih yang ada di dekatku, aku melihat bayanganku yang terpantul di permukaan air.


Yang terlihat di sana adalah diriku yang masih kecil, sekitar usia dua belas tahun. Bahkan rambutku berubah dari hitam menjadi abu-abu.


Orang yang menemukan dan merawatku adalah sepasang kakek-nenek bernama Mileister yang tinggal di desa terpencil bernama Iasis.


Dikelilingi oleh kasih sayang mereka yang tegas namun hangat, aku memulai kehidupan baruku di dunia ini sebagai seseorang yang menyelamatkan orang lain──


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close