NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V1 Chapter 7

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 7

Perjalanan Menuju Desa Pertama

"Sudah… aku tidak bisa menahannya lagi!"


"Jangan, ini sudah batasnya!"


"Sial… kenapa ada monster seperti itu…!"


"Glen, kita mundur saja!"


Di dalam gua yang dikelilingi dinding batu, teriakan para petualang bergema.


Empat petualang yang sudah penuh luka itu, sambil mengerahkan sisa tenaga, menahan gelombang goblin yang terus menyerang dengan pedang dan sihir.


Namun, keseimbangan itu runtuh seketika hanya karena kemunculan satu makhluk.


"Seranganku tidak mempan… apa yang terjadi!?"


"Yang beginian bahkan petualang rank A pun tidak akan bisa melawannya!"


Goblin. Monster yang lebih kecil dari manusia dan biasanya dianggap lemah──namun yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah varian evolusi yang tumbuh sebesar langit-langit gua. Kehadirannya begitu menekan hingga menyeret para petualang ke jurang keputusasaan.


"Ada jalan keluar!?"


"…………Aku akan jadi penutup."


"Glen!? Itu terlalu nekat!"


"Bukan. Aku yang akan menahan──aku pasti menyusul. Jadi percayakan sekarang padaku!"


Dengan rambut cokelatnya yang berantakan, pendekar pedang Glen melangkah maju.


Menghadapi goblin yang tak terhitung jumlahnya, ditambah varian raksasa itu, peluang menang hampir nol. Tapi untuk membiarkan rekan-rekannya kabur, itu satu-satunya pilihan.


"──Erina, kumohon!"


"Tolong kembali dengan selamat! ──〈Flash〉!"


Pada saat berikutnya, cahaya menyilaukan memenuhi gua, memutihkan segalanya. Para goblin kehilangan target dan menjadi kacau, sementara rekan-rekannya berlari mundur.


"Glen…!"


"Rishia… sampai jumpa."


Pendekar pedang yang tersisa mengangkat pedang berharganya dan berdiri menghadang para monster.


──Itu adalah satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan rekan-rekannya.


◇◇◇


"…Aku gagal, ya. Padahal biasanya misi seperti ini bukan masalah."


Suara lirih itu bergema hampa di kedalaman gua gelap.


Itu adalah ruang luas yang dikelilingi dinding batu. Di salah satu sudutnya, terdapat penjara besi.


Di dalamnya, seorang pendekar pedang──Glen, terikat rantai.


Pergelangan tangannya dibelenggu dengan alat yang berkilau redup, armornya robek, seluruh tubuhnya penuh luka dan darah. Napasnya berat, dan ia hampir kehilangan kesadaran.


"Gyagya, gugya…"


Dengan suara menjijikkan, para goblin berjaga di luar jeruji.


Mereka membawa senjata seadanya dan mengenakan armor seadanya, tapi membentuk formasi seperti pasukan terorganisir.


Dari balik mereka, sosok aneh muncul.


Ukurannya berkali-kali lipat lebih besar dari goblin lain, wajahnya jelek dengan taring tajam. Namun di bagian dadanya, terdapat tonjolan seperti perempuan.


──Goblin Queen.


Itulah nama ratu yang memimpin kelompok itu.


"…Tak kusangka bukan raja, tapi ratu."


Glen tersenyum pahit sambil menatap langit-langit gelap.


Yang memenuhi pikirannya bukanlah nyawanya sendiri.


"Mereka… semoga berhasil kabur dengan selamat…"


Kata-kata lemah itu larut dalam udara dingin gua dan menghilang tanpa jejak.


◇◇◇


Setengah hari telah berlalu sejak aku dan Iris meninggalkan desa. Matahari mulai condong, mendekati senja.


Di depan terbentang padang rumput luas. Bahkan jika menoleh ke belakang, hutan kampung halaman sudah tidak terlihat.


Menurut Iris, dari sini kami akan melewati beberapa desa sebelum menuju kota petualang Hares.


Kota petualang──hanya mendengar namanya saja membuat dadaku berdebar. Sejak tahu Marie dulunya seorang petualang, aku jadi tertarik pada dunia itu.


Aku ingin segera sampai di Hares. Tapi menurut Iris, paling cepat butuh seminggu, bahkan lebih jika berkemah atau singgah di desa. Tentu saja, kalau tidak ada masalah.


"Sejauh ini tidak ada tanda monster… aku ingin memastikan kemampuan bertarungmu, Iris."


"Ya, tentu saja!"


"Levelmu berapa?"


Konsep level di dunia ini──yang hanya bisa diketahui lewat ritual atau Appraisal, digunakan sebagai ukuran kekuatan.


"Levelku… sembilan belas."


"…Bukan umur delapan belas?"


"Aku memang delapan belas, tapi levelku sembilan belas."


"O-oh… ternyata kau lebih tua dariku."


──Lebih rendah dari dugaanku.


Sebagai kandidat saint, kupikir levelnya akan jauh lebih tinggi. Tapi kenyataannya di bawah ekspektasiku.


Namun dia berkeliling negara sendirian. Mungkin kekuatannya tidak bisa diukur hanya dari level. Aku sendiri belum tahu apa-apa tentang dunia luar. Jadi tidak seharusnya menilai sembarangan.


Saat itulah—


"────!!"


"Kyah!?"


Tiba-tiba, raungan memekakkan telinga terdengar dari langit. Iris terkejut dan menarik tali kekang secara kacau, membuat kuda berhenti dengan mengangkat kaki depan.


"Ma-maaf… suara tadi apa…? Wy-wyvern!?"


Saat melihat ke langit, terlihat lebih dari sepuluh bayangan turun. Makhluk bersayap dengan cakar dan taring tajam, bersisik hijau tua──sekumpulan wyvern.


"Wyvern dengan rank penaklukan B ke atas…! Karena dekat dengan Hutan Iblis, monster sekuat ini──eh?"


Wajah Iris pucat saat menjelaskan dengan cepat. Namun tiba-tiba terjadi sesuatu.


Wyvern yang mendekat itu, seolah kehilangan kendali, meluncur miring satu per satu, melewati kereta kami dan menghantam tanah.


"Kyah!?"


Suara dentuman mengguncang tanah. Debu beterbangan, membentuk beberapa kawah kecil di padang rumput. Iris hanya bisa melongo.


"A-apa yang terjadi…? Shuu-sama?"


Mengabaikan pertanyaannya, aku turun dari kereta.


"Makanan dari desa sudah cukup, tapi tidak ada salahnya menambah. Kita ambil daging wyvern sedikit."


"Eeeeeeh!?"


Mengabaikan keterkejutannya, aku mencabut longsword dan memenggal kepala wyvern satu per satu. Mereka belum mati hanya karena jatuh.


Aku lebih terbiasa dengan pedang ini daripada Pedang Suci.


"………………"


"Ada apa? Kenapa menatap begitu?"


"B-bukan… aku tidak mengerti kenapa wyvern tiba-tiba jatuh dan bisa dikalahkan semudah ini…"


Aku menghela napas dan menghadapnya.


"Maaf, tapi bisakah kau berjanji tidak akan memberitahu siapa pun?"


"Tentu saja!"


"Kalau begitu… ini."


Aku mengangkat cincin di jari tengah tangan kananku. Batu biru muda itu berkilau.


"Itu…?"


"Cincin dari Keryneia. Dengan ini, efek sihir dan skill bisa dibalik. Tadi aku membalikkan Penghapusan Kutukan Sempurna."


"Dari makhluk suci…! Dan membalikkan Penghapusan Kutukan Sempurna? Kalau skill penyembuh semua status dibalik… jangan-jangan──"


Mata Iris melebar.


"Yang kugunakan pada wyvern adalah salah urat pinggang."


"Hah…?"


"Salah urat pinggang."


"A-aku paham sih!? Tapi!?"


Aku tersenyum melihat reaksinya.


"Intinya, pinggang mereka kena, jadi tidak bisa terbang."


"T-tapi… apakah wyvern punya pinggang!?"


"Kalau tidak ada, tidak mungkin berhasil."


"Be-benar juga…"


Suara Iris menjadi datar.


Efek Penghapusan Kutukan Sempurna・Pembalik hanya bisa memberi status yang pernah kusembuhkan atau pernah kualami. Tapi karena aku kebal terhadap status abnormal, mungkin hanya tercatat sebagai efek yang tertolak.


Dari semua itu, yang paling sering kugunakan adalah salah urat pinggang. Sekitar setahun setelah datang ke dunia ini, aku pernah menyembuhkan seorang pria desa yang cedera pinggang karena terlalu banyak mencabut mandragora.


Sejak itu, skill ini seperti jadi andalanku.


Monster terbang seperti Black Cockatrice pun selalu jadi korban.


"Kalau cuma wyvern, tidak masalah. Yang tidak berhasil cuma pada makhluk tanpa tulang."


"‘Cuma’ ya… dan makhluk tanpa tulang…?"


"Scary Paralyze Slime. Monster air seperti ubur-ubur besar yang bisa melumpuhkan. Karena pedang tidak mempan, aku coba pakai Demam Luka Bakar milik Amelia, dan tubuhnya hancur dari dalam."


"O-oh begitu…”


Iris hanya menjawab seadanya. Sepertinya imajinasinya belum bisa mengikuti. Yah, tidak masalah.


Ngomong-ngomong, jangkauan Penghapusan Kutukan Sempurna・Pembalik ini efektif sampai sejauh Air Slash milikku bisa mencapai. Kira-kira sekitar seratus meter.


Dan jika melalui cincin, efeknya muncul seketika. Mungkin karena ada perlindungan Keryneia, waktu aktivasi efeknya jauh lebih cepat dibanding skillku sendiri. Kalau mau, bahkan bisa digunakan ke beberapa target sekaligus.


Saat aku sedang memotong-motong daging wyvern, Iris membuka mulut dengan ragu.


"Umm… kita tidak mengambil batu sihirnya?"


"Oh, batu di jantung itu ya. Ngomong-ngomong, di desa katanya tidak berguna, jadi semuanya kuberikan ke kepala desa."


"Ha-harus diambil! Di kota, batu sihir, cakar, dan kulit bisa ditukar dengan uang!"


"Apa!? Kakek itu, bilang dong dari duluuu!!"


Yang terlintas di kepalaku adalah wajah santainya yang tersenyum pura-pura tidak tahu.


Kebiasaan menyembunyikan hal penting itu, tidak bisa diubah ya…!


Akhirnya, kami mengumpulkan beberapa batu sihir hijau sebesar kepalan tangan, lalu memutuskan untuk berkemah di tengah padang rumput malam itu.


◇◇◇


"──Shuu-sama, luar biasa! Anda bahkan bisa memasak!"


Melihatku memasak di perkemahan dengan api unggun, mata Iris berbinar.


"Aku tidak sehebat nenek dalam memasak sih… Iris, kau bisa masak?"


"Ya! Tidak bisa!"


Kurasa itu bukan sesuatu yang perlu dijawab dengan penuh semangat…


Sejak awal Iris hanya menonton tanpa membantu. Tapi karena dia bisa menggunakan sihir air, itu cukup membantu.


"Untuk sekarang, kita makan stew. Aku pakai sedikit daging wyvern juga."


"Waaaah!!"


Beberapa puluh menit kemudian, stew pun selesai.


Dengan dasar bubuk susu, ditambah garam dan lada untuk rasa, lalu dimasukkan sayur dan daging. Karena hanya perlu direbus, tidak terlalu sulit.


Aku membagikan stew ke dalam wadah yang kami bawa dari desa, dan makan malam pun dimulai.


"Panas… enak banget…!"


"Makan pelan-pelan. Masih banyak kok."


"Iya!"


Ternyata rasanya tidak buruk.


Daging monster pun kalau diolah dengan benar bisa enak. Di luar desa katanya monster tidak dimakan, tapi aku jadi penasaran makanan apa saja yang akan kutemui nanti.


"Ngomong-ngomong, Iris… ini agak susah ditanya, tapi kau datang ke hutan tanpa mandi selama seminggu, kan?"


"Ya, benar."


"Tapi aku tidak mencium bau tidak sedap darimu… kenapa?"


Saat aku menyembuhkan Iris dengan Penghapusan Kutukan Sempurna, aku sempat menyadari betapa bersih dan harum tubuhnya.


Biasanya manusia akan bau jika tidak mandi sehari saja, tapi dia tidak.


"Itu mungkin karena aku menggunakan sihir cahaya Purification."


"Oh, itu ya."


"Biasanya digunakan untuk memurnikan air atau benda, tapi sebenarnya juga bisa membersihkan tubuh. Jadi mungkin itu sebabnya aku tidak bau."


"Begitu ya…"


Kalau begitu, mungkin itu memang aroma alaminya.


Dia juga tidak pakai sampo, tapi tetap harum manis. Sesuai dengan kandidat saint.


"Jadi, selama perjalanan ini, meskipun tidak ada sungai, kita masih bisa menjaga kebersihan. Atau bisa juga menggunakan sihir air untuk mandi."


"Begitu ya. Aku tidak tahu apa-apa soal perjalanan, jadi bahkan cara pakai sihir seperti ini menarik."


"Tidak masalah! Silakan tanya apa saja!"


Aku mendapat pengetahuan baru.


Menambah pengetahuan itu menyenangkan. Rasanya berbeda dengan belajar biasa. Memang beginilah seharusnya dunia lain.


Setelah makan, kami tidur di dalam kereta sambil bergantian berjaga.


"Gantian jaga."


"Huaaah… baik…"


Beberapa jam kemudian, aku yang berjaga duluan bertukar dengan Iris.


Ini pertama kalinya berjaga untuk mengantisipasi serangan bandit atau monster, dan jujur saja, aku mengantuk.


Aku jadi merasa semakin banyak orang, semakin mudah tugas ini.


"Ya sudah, sisanya kupercayakan padamu."


"Baik. Selamat malam!"


Begitu berbaring di dalam kereta, aku langsung tertidur.


◇◇◇


"…Shuu-sama… Shuu-sama…"


Sekitar satu jam setelah pergantian jaga.


Setelah memasang sihir penghalang persepsi dan penghalang pelindung di sekitar, aku diam-diam masuk ke dalam kereta.


Shuu-sama tidak bereaksi meski kupanggil, benar-benar tertidur lelap.


Wajah tidurnya… benar-benar menggemaskan…


Aku melepas pakaian suciku, lalu membiarkan bagian atas tubuhku terbuka.


"Akhirnya… saat ini tiba juga…"


Aku sudah menahannya selama seminggu.


Tapi akhirnya, saat yang kutunggu datang.


Aku mengambil tangan Shuu-sama dan menekannya ke dadaku.


"──Nn…"


Ini dia… sensasi ini… berbeda dengan jariku sendiri, jari yang besar dan lembut ini.


Aku masih mengingat saat dia menyembuhkanku dari kutukan nafsu. Meski saat itu aku tidak dalam keadaan normal, ingatanku tetap jelas.


Karena itu, aku juga sangat ingat bagaimana dia menyentuh dan menghisap dadaku waktu itu.


Sejak tinggal di desa Iasis, setiap malam aku menyentuh dadaku sendiri.


Entah karena sensitivitas meningkat atau karena ada sesuatu dalam diriku yang berubah, meskipun kutukannya sudah sepenuhnya dihapus, sensasi dari mulut dan jarinya terus teringat.


Karena itu sekarang, aku mencoba mengulangnya dengan meminjam tangan Shuu-sama.


"Nn… ah… Shuu-sama… ahh, Shuu-sama…"


Sebagai kandidat saint, ini tindakan yang memalukan. Tapi aku tidak bisa berhenti. Aku menginginkannya.


Aku ingin disentuh lebih banyak lagi.


Aku mendekatkan dadaku ke mulut Shuu-sama.


"…!"


Shuu-sama seharusnya tidur.


Tapi saat dadaku menyentuh bibirnya, dia membuka mulut dan menggerakkan lidahnya.


Rasanya enak… mulut Shuu-sama terasa enak… kalau begini aku bisa benar-benar kehilangan kendali.


Air liurnya menyentuh putingku, mengisap dan menjilatinya.


Dia mungkin orang yang paling diberkati dewi di dunia ini.


Kalau begitu, ini bisa disebut sebagai sentuhan ilahi.


Memikirkannya seperti itu membuat semua yang dia lakukan terasa seperti perbuatan dewa.


"Nn… haa… di situ… sensitif… lidahnya… Shuu-sama… ah… nn…"


Tanganku yang kosong secara alami bergerak ke bawah.


Lalu aku memasukkan jariku ke dalam pakaian dalam, menikmati sensasi di dadaku sambil memuaskan diriku sendiri──


◇◇◇


"…………Selamat pagi."


"Ya, selamat pagi♪"


Saat bangun di dalam kereta, aku terkejut melihat wajah Iris tepat di depan. Tapi aku berusaha tetap tenang tanpa menunjukkannya.


…Kenapa dia di sini!?


Bukannya jaga?


"Iris, kau terlihat segar sekali."


"Ya. Berkat Shuu-sama!"


"Begitu ya. Kalau begitu kita sarapan dulu baru berangkat."


"Baik!"


Iris selalu ceria. Melihat orang yang penuh semangat membuatku ikut merasa lebih bersemangat.


Baiklah, makan dulu lalu berangkat.


Dari sini katanya masih agak jauh ke desa pertama.


Mungkin kami harus berkemah sekali lagi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close