NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V1 Chapter 6

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 6

Keberangkatan

Aku diberi waktu satu minggu.


Sejak hari berikutnya, aku pergi ke berbagai tempat untuk berpamitan, lalu aku menemui Amelia.


Saat aku memberi tahu Amelia bahwa aku akan pergi, dia berlari entah ke mana, dan setelah itu tidak menampakkan diri untuk sementara waktu.


Wajar saja. Sudah dua tahun sejak hubungan kami menjadi sedalam ini.


Aku sendiri juga merasa sedih harus berpisah dengan Amelia. Mungkin Amelia bahkan lebih dari itu…


Seperti saat berpisah dengan Rikka di kehidupan sebelumnya, dadaku sekarang terasa tercekik oleh perasaan itu.


"──Iris. Ada tempat yang ingin kuajak kau ke sana."


Dengan mengatakan itu, aku membawa Iris, kandidat saint, ke bagian terdalam hutan.


Di sana ada tempat suci yang disebut Mata Air Penyembuhan.


"Ti-tidak mungkin…! Yang Mulia Roh Suci Keryneia…!?"


Melihat rusa raksasa itu, Iris sampai kemast karena terkejut.


Selama dua tahun sejak aku bertemu Keryneia, aku beberapa kali datang menemuinya bersama Amelia.


Kadang aku bahkan diizinkan menyikat bulunya, jadi aku merasa kami sudah cukup akrab.


『──Kau membawa orang yang menarik lagi.』


"Wa-wah, perkenalkan, aku Iris Carnelia, kandidat saint! Tidak kusangka makhluk suci pengikut Dewi Artemisia seperti Keryneia-sama ada di sini…"


Baru belakangan aku tahu, di dunia ini ada empat negara besar, masing-masing memiliki dewa yang mereka sembah dan makhluk suci sebagai pengikutnya. Keryneia adalah salah satunya. Namun, ada juga negara yang belum mengetahui keberadaan makhluk sucinya seperti Ceryneia.


『……Shuu. Kau akan pergi, bukan?』


"Hebat, kau langsung tahu. Iya."


『Kapan?』


"Satu minggu lagi."


『Begitu… kalau begitu, sehari sebelum kau pergi, datanglah menemuiku sekali lagi.』


"Baik."


Apa Keryneia juga akan merasa kesepian saat aku pergi?


『Hmph, mana mungkin aku merasa kesepian. Kau pikir sudah berapa lama aku hidup? Tidak mungkin aku memiliki perasaan seperti itu hanya karena kebersamaan beberapa tahun denganmu.』


Berhenti baca pikiranku. Tapi itu terdengar seperti tsundere, tahu.


『──Dan Iris.』


"Ya!"


『Sampai kau meninggalkan desa ini, datanglah ke mata air ini setiap hari untuk membersihkan tubuhmu. Kekuatan perlindunganmu akan meningkat.』


"Benarkah boleh!?"


『……Mumpung ada kesempatan.』


"Ahh, Keryneia-sama…!"


Jadi Mata Air Penyembuhan punya efek seperti itu, ya.


Kalau tidak salah, Amelia juga bilang dia rutin membersihkan diri di mata air ini.


Setelah itu, aku membantu para penduduk desa sebanyak mungkin.


Mulai dari membantu pertanian hingga membedah monster. Mencabut rumput liar, membersihkan selokan, tentu saja termasuk pengobatan seperti biasa.


Aku juga tetap berlatih pedang dengan si kakek setiap pagi.


Aku tidak pernah menang sekalipun… tapi tidak apa-apa. Dia terlihat puas.


Hanya saja, Amelia tetap tidak mau menemuiku, dan waktu terus berlalu.


◇◇◇


『Sudah seminggu, ya.』


"Iya… meski ini masih sehari sebelumnya."


Sesuai janji, aku datang sendirian menemui Keryneia.


"Hei, sebelum urusanmu, ada satu hal yang ingin kutanyakan."


『Apa itu?』


"Katanya aku memiliki perlindungan dewi… bisakah ini dilepas atau dipasang sesuka hati?"


Ini hal penting untuk gaya bertarungku ke depannya.


Kalau bisa, pilihanku akan jauh lebih luas.


『Hmm… tidak kusangka ada yang berani mencoba melepas perlindungan Dewi.』


"Hanya sementara. Bisa dipasang dan dilepas seperti cincin."


Aku memperlihatkan cincin pembalik di jari tengah tangan kananku.


『Bukan tidak bisa… tapi ada syarat. Setelah kau pergi dari sini, sebisa mungkin kunjungi gereja di setiap kota yang kau datangi dan panjatkan doa kepada Dewi.』


"Ah… kalau cuma itu, aku akan melakukannya."


『Hmm… kalau begitu baiklah. Cara melepasnya mudah. Cabut satu helai rambutmu, jadikan persembahan, lalu bayangkan. Untuk mengembalikannya, lakukan hal yang sama.』


"…Aku jadi khawatir bakal botak di masa depan… tapi ya sudah, aku mengerti."


Syukurlah cuma satu helai… kalau lebih, bisa-bisa rambutku habis.


『Sekarang, ada sesuatu yang akan kuberikan padamu──lepaskan salib dari rosariomu.』


Karena pertanyaanku sudah selesai, giliran urusan Keryneia.


Sesuai instruksi, aku melepaskan salib emas dari rantainya. Lalu Keryneia mendekatkan hidungnya.


『Shuu. Meskipun kau seorang Priest, entah kenapa senjatamu adalah pedang. Ini akan berguna bagimu.』


Seketika, salib itu bersinar putih. Setelah cahaya mereda, secara kasat mata tidak ada perubahan.


『Rosariomu kini memiliki perlindunganku. Aku sedikit memodifikasinya. Alirkan sihirmu ke dalamnya dan ucapkan, "Holy Creation".』


Aku mencobanya dengan memegang salib di tangan kanan.


"──Holy Creation."


Tiba-tiba salib itu bersinar, lalu berubah bentuk dalam sekejap──menjadi gagang berbentuk salib, dan dari sana muncul cahaya biru pucat seperti pedang cahaya yang kemudian membentuk bilah pedang.


Berbeda sekali dengan longsword yang biasa kugunakan, pedang ini terasa lebih misterius.


"Woah!? Apa ini!?"


『──"Pedang Suci". Tidak akan tumpul, dan selama ada gagangnya, kau bisa menggunakannya hampir selamanya.』


"Serius? Ini sihir cahaya?"


Karena aku hanya bisa menggunakan sihir cahaya dan angin, aku pun bertanya.


『Ia diwujudkan dari kekuatan sihirmu, tapi berbeda dari sihir cahaya. Tidak termasuk atribut mana pun.──Jika harus disebut, ini adalah atribut suci.』


Cahaya dan suci terasa hampir sama sih…


…yah, tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.


『Dan satu lagi.』


Sepertinya masih ada.


『Jika benar-benar dalam bahaya, alirkan sihirmu ke cincin itu dan ucapkan "〈Luminous Al Summons〉". Aku pasti akan membantumu.』


Aku tidak tahu seperti apa bantuan yang dimaksud. Tapi kalau bisa membantuku, aku akan menggunakannya saat genting.


"…Baik. Terima kasih."


『Jaga dirimu.』


"Iya… kau juga."


Setelah bertukar salam perpisahan singkat, aku pun berpisah dengan Keryneia.


Aku meninggalkan Mata Air Penyembuhan dan berjalan sendirian di dalam hutan.


Sambil melihat secarik kertas, aku terus melangkah. 


Tak lama kemudian, aku sampai di sebuah gubuk kayu yang berdiri sendirian. Meski gubuk, tempat itu sangat terawat dan bersih.


Aku membuka pintunya.


Di dalam, seorang gadis berdiri──


"──Shuu, aku sudah menunggumu."


Amelia, mengenakan pakaian biarawati seperti biasa, menyambutku dengan senyum lembut.


"Amelia…"


Kertas yang kubawa itu adalah surat yang kutemukan di atas meja pagi ini.


Isinya memintaku datang ke gubuk di hutan saat sore hari.


Setelah menyelesaikan urusanku dengan Keryneia, aku datang ke sini.


Gubuk ini tampaknya digunakan oleh para miko, dilengkapi tempat tidur dan alat untuk merawat Ceryneia. Dan sekarang, aku berdua saja dengan Amelia di tempat ini.


"Duduklah di tempat tidur."


"Iya…"


Hari ini Amelia terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.


Rambut panjang birunya berkilau, dan matanya yang jernih terasa seolah bisa menembus diriku.


Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi di sini hari ini.


"Kau akan meninggalkanku, ya."


"…Iya."


Aku tidak akan berbohong. Jadi aku menjawab dengan jujur.


"Sejak kau mengatakan itu, aku mengurung diri di gubuk ini sendirian… dan banyak menangis."


"Ya…"


"Tapi akhirnya aku berhasil menata perasaanku… kurasa."


"Begitu ya…"


Amelia, yang tidak sepenuhnya yakin dengan ucapannya, menumpangkan tangannya di atas tanganku.


Tangannya masih terasa sedikit dingin.


"────"


Tanpa mengatakan apa pun, Amelia melepas pakaian biaranya dan kini hanya mengenakan pakaian dalam.


Cahaya senja yang masuk dari jendela, campuran antara oranye dan biru tua, membuat kulit Amelia terlihat sangat misterius.


"Terakhir kali ini, aku akan menanamkan kenangan padamu sampai kau tidak akan pernah bisa melupakanku."


Sambil berkata begitu, Amelia mulai melepas pakaianku.


Setelah keduanya hanya mengenakan sehelai pakaian dalam, aku didorong dan ditindih oleh Amelia.


Bunyi gishi dari tempat tidur.


Wajah cantik Amelia berada tepat di depan mataku, dan pupil matanya bergetar.


"────Nnh."


Amelia menciumku dengan lembut.


Namun, itu tidak berhenti di situ. "Menanamkan kenangan sampai tak terlupakan" — sesuai dengan kata-katanya, Amelia mulai semakin liar melilitkan lidahnya.


"Nnh… nchu… nnu… chu… chupa… juru…"


Amelia yang dulu polos dan suci, kini sudah belajar banyak hal.


Aku meraih ke belakang punggungnya dan melepas kaitan bra dengan bunyi puchi. Payudara putih yang montok langsung terpapar.


Puting berwarna pink yang mengeras sedikit menghadap ke atas. Keindahannya saja sudah cukup membuatku terangsang.


Saat Amelia menindih dadaku, payudaranya yang lembut menekan kuat ke tubuhku.


Dalam posisi itu, dia menciumku bertubi-tubi — mulai dari mulut, pipi, leher, dada, perut… lalu akhirnya Amelia menurunkan pakaian dalamku. Dia menjilat bibirnya dengan bunyi juru sambil menatap ke bawah.


"Aah… Shuu benar-benar mesum ya."


Amelia sendiri memiliki wajah yang sangat mesum saat mengatakannya. Dia langsung menenggelamkan wajahnya ke pangkal pahaku yang sudah tegang, lalu mengulum kontolku yang sudah mengeras sepenuhnya.


Blowjob yang sudah dia pelajari selama dua tahun ini sangat intens. Bukan hanya menjilat, dia juga menggerakkan batangnya naik-turun sambil merangsang kantung zakar dengan tangan satunya.


Kelembapan dan panas mulut Amelia yang membungkus kepala kontolku, ditambah air liur yang licin dan hangat.


Lidahnya bergerak dengan bunyi juru juru, sementara cairan pra-ejakulasi terus keluar dari ujungnya.


"Enak?"


"Aah… enak sekali…"


"Fufu, semakin keras ya…"


Sambil berkata begitu, Amelia yang tadinya hanya mengulum ujungnya, kini memasukkannya lebih dalam ke mulutnya.


Saat dia menggerakkan kepalanya naik-turun dengan kuat, rangsangannya semakin intens.


"Amelia… aku sudah…!"


"Silakan… keluarkan…"


Benihku yang terus naik ke puncak. Semua saraf seolah terkonsentrasi di ujung kontolku. Akhirnya aku mencapai batas.


"────Nnuh!"


Sekejap, cairan panas menyembur deras memenuhi mulut Amelia. Dia membelalakkan mata karena kekuatan semburannya.


Tak lama kemudian, ejakulasiku reda. Amelia melepaskan mulutnya dengan bunyi kyupo.


"Nnh… nnh… nbaa… juru… Enak sekali."


"Kamu terlalu erotis…"


Ekspresi yang sangat mesum itu sama sekali tidak seperti seorang petugas gereja. Aku merasa jantungku berdegup kencang dan tubuhku semakin panas.


"Sekarang giliran Shuu yang melayaniku."


Setelah berkata begitu, Amelia berbaring telentang di tempat tidur, bergantian denganku.


Di hadapanku terbentang tubuh telanjang yang mulus. Aku langsung menyerbu kedua payudaranya dengan rakus.


"Ah♡ …Shuu… kasar sekali…"


Sambil meremas payudara yang pas di tangan dan menghisapnya, puting Amelia langsung mengeras, dan suaranya pun semakin kuat.


"Putingku… ah♡ enak… ini… tidak boleh… ahn♡"


Payudara Amelia sangat indah bentuknya dan manis hingga seolah meleleh. Putingnya membuatku ingin terus menghisap tanpa henti.


Mendengar suara kenikmatannya membuat kontolku langsung bangkit kembali.


"Sini juga aku kerjakan."


"Ahn♡"


Kali ini aku menenggelamkan wajahku di antara pahanya dan menjilat bagian intimnya yang juga sangat cantik.


Amelia bereaksi jauh lebih kuat daripada saat payudaranya dirangsang. Aku semakin menekannya.


Aku menyerang klitorisnya dengan ganas, lalu memasukkan jari ke dalam memeknya. Bagian dalamnya panas, licin, dan sudah siap sepenuhnya untuk menerima kontolku.


"Shuu… aku sudah…!"


"Baiklah…"


Bersamaan dengan isyarat Amelia, aku mengubah posisi dan mengeluarkan kontolku yang sudah keras kembali.


Aku menempelkannya ke memeknya yang sudah basah kuyup, lalu mendorongnya masuk dengan sekali hentakan.


"Nuuuuuuh♡"


Dengan bunyi zupu, kontolku masuk ke dalam memeknya yang dibungkus cairan cinta yang meleleh.


Dinding daging yang panas dan tekanan memek yang kuat. Pada saat itu saja aku sudah merasa sangat enak hingga nyaris kehilangan kendali.


"Aku gerak ya…"


Melihat Amelia mengangguk pelan, aku mulai menggerakkan pinggulku.


Setiap kali pinggul kami bertemu, terdengar bunyi pachun pachun yang basah, bergema di dalam gubuk kecil yang sepi.


Aku mencium Amelia, menggenggam kedua tangannya, dan terus mendorong kontolku ke arah rahimnya.


"Ahn… ahn♡ Shu… Shuu… enak… enak sekali♡"


"Aah, enak ya? Ini yang enak kan… Amelia… kamu sangat menggemaskan…"


"Lebih kuat! Lebih kuat lagi boleh!"


Sesuai permintaan Amelia, aku mendorong kontolku dengan lebih kuat. Tak lama kemudian, kami mengganti posisi. Aku ngentod dengannya dari belakang.


Sepertinya Amelia sangat menyukai posisi dari belakang. Setiap kali aku mencengkeram bokongnya kuat-kuat, dia terlihat sangat senang.


Setelah menikmati berbagai posisi, akhirnya aku merasa batas sudah dekat.


"Tidak boleh… tidak boleeeh♡ Kontol Shuu terlalu besar… bagian dalamku jadi aneh…♡"


"Amelia… Amelia…!"


Kembali ke posisi normal (missionary), aku memeluknya erat sambil berulang kali menusuk bagian paling dalam memeknya.


Akhirnya kontolku mencapai batas.


"Masuk! Masuk! Shuu… Shuu!!"


"Amelia… aku keluar…!!"


Aku menarik kontolku keluar dan menyemburkan sperma panas dengan deras ke perut Amelia.


"Panas sekali…♡"


Mata Amelia sudah berbentuk hati.


Aku membersihkan cairan di perutnya dengan kain, lalu memeluknya erat-erat.


 ◇◇◇


"Haa… haa………… Ternyata yang terkena ‘kenangan’ justru aku sendiri…"


"Begitu ya. Aku juga…"


Kulit kami berdua penuh dengan banyak bekas merah.


Ternyata "menanamkan kenangan" juga memiliki arti secara fisik. Tapi aku tidak mau hanya terus-menerus diberi. Makanya aku juga meninggalkan banyak tanda di tubuh Amelia.


"Dengan ini… benar-benar akhir ya…"


Di atas tempat tidur, Amelia yang sedang berbaring di lenganku menoleh ke arahku dan berkata pelan.


"Bukan akhir. Aku janji akan kembali…"


"Tapi kamu bisa saja mati kan?"


"Aku tidak akan mati."


"Orang yang bilang begitu justru yang sering mati mendadak."


"Apaan sih itu."


Perasaan kesepian dari Amelia terasa begitu menyakitkan.


Tapi aku sudah memutuskan. Aku akan meninggalkan desa ini, mengenal dunia lebih luas, dan menolong sebanyak mungkin orang.


"Hei, kamu tahu tidak kalau nafsu seks Shuu itu luar biasa?"


"Eh…"


Topik pembicaraan tiba-tiba berubah.


Kenapa sekarang malah membahas itu?


"Aku selalu kalah terus. Stamina Shuu luar biasa, tidak pernah capek, dan itu cukup berat buatku loh."


"Ehh… maaf…?"


"Bukan hal yang perlu dimaafkan sih. …Tapi justru karena itu, kalau kamu pergi ke luar nanti, pasti akan ada hal-hal seperti itu."


Amelia tidak pernah mengatakan hal-hal seperti "aku ingin menjadi kekasihmu" atau mencoba membatasi dan mengikatku hanya karena memikirkan diriku.


Dia khawatir bahwa karena skill yang secara alami membuatku melecehkan wanita cantik ini, aku mungkin akan didekati oleh banyak orang di luar sana.


"Menurutku kamu tidak perlu menahan diri. Tapi, jangan sampai melupakanku ya."


"Mana mungkin aku lupa."


"Soalnya… calon Saint itu juga payudaranya besar…"


"Itu urusan lain. Amelia punya banyak hal yang menarik dari dirimu sendiri."


"Benarkah…?"


Aku mengelus rambut biru Amelia dengan lembut.


Rambutnya halus dan mudah disisir, terasa nyaman di jari.


Saat itu juga.


Kon kon — terdengar ketukan di pintu.


Saat ini kami sedang telanjang dan saling berpelukan.


Ini sama sekali bukan pemandangan yang boleh dilihat orang lain — aku langsung berusaha bangun dari tempat tidur, tapi…


"Shuu… tidak apa-apa."


"Eh…?"


Kata-kata Amelia yang tidak kumengerti.


Sambil bingung, pintu akhirnya terbuka──


"Selamat malam, Shuu, Amelia."


Yang berdiri di sana adalah Marie — janda yang memiliki rambut cokelat panjang hingga punggung, wanita paling menggoda di desa ini.


"Eh… ini apa maksudnya?"


"…………"


Amelia yang bangun dari tempat tidur berjalan mendekati Marie, lalu menggenggam tangannya.


Kemudian dia dengan tenang membimbing Marie ke tempat tidur tempat aku berbaring──


"Tadi sudah kukatakan kan? Shuu itu nafsu seksnya sangat kuat. Lagi pula ini adalah malam terakhir… jadi aku minta bantuan Marie-san."


"Aku sudah lama sekali tidak melakukannya denganmu, sampai-sampai aku hampir gila."


"Itu… itu karena Amelia bilang aku tidak boleh melakukannya dengan orang lain…"


Atas permintaan Amelia, aku memang telah memutuskan hubungan mesum dengan Marie. Lalu kenapa… sekarang Amelia sendiri yang membawa Marie kemari?


"Aku ingin Shuu pergi dari desa ini dalam keadaan benar-benar puas. Hanya aku saja pasti tidak cukup… makanya aku memanggilnya."


"Serius… tunggu, Marie datang sendirian ke tengah hutan ini? Lalu bagaimana dengan monster-monsternya?"


Di tengah pembicaraan, aku baru menyadari hal yang aneh.


Seharusnya, orang yang tidak membawa rosario penangkal monster tidak bisa mendekati bagian dalam hutan ini.


Tapi Marie datang ke tengah hutan tanpa rosario──


"Eh, Shuu tidak tahu?"


"Tahu apa?"


"Marie-san itu penyihir yang sangat hebat loh. Monster-monster di sini bukan lawan baginya."


"…………apa itu, aku baru tau?"


"Fufu, sepertinya aku belum pernah bilang ya. Shuu mengenalku setelah suamiku meninggal dan setelah aku melahirkan anak…"


"Marie-san dulu adalah petualang sebelum kembali ke desa ini. Suaminya dulu satu party dengannya."


Ini pertama kalinya aku mendengarnya!?


Memang, aku pernah punya banyak kesempatan untuk bertanya tentang masa lalunya… tapi karena ada suaminya, aku merasa tidak enak dan selalu menghindari topik itu.


Tapi yang lebih penting daripada itu──


"Pe-petualang itu apa!? Kata itu terdengar sangat seru!!"


Kata kunci khas dunia fantasi itu langsung membuat dadaku berdegup kencang.


Di luar desa ini ada profesi bernama petualang, dan orang bisa mencari uang dengan profesi itu…!


Tunggu… serius nih…?


"Shuu, sekarang itu tidak penting. Mulai sekarang Marie-san akan memberimu banyak cinta, sampai kamu pingsan sekalipun."


"Eh… tunggu… aku sedang tertarik dengan kata ‘petualang’ tadi…"


Tanpa ragu, Marie mulai melepas pakaiannya.


Di bawah kain yang jatuh ke lantai, ternyata dia mengenakan negligee tipis yang tembus pandang.


Dia tidak memakai bra maupun celana dalam, sehingga seluruh tubuhnya terlihat jelas tanpa tertutup apa pun.


"…!"


"Ara, apakah kamu suka?"


"Shuu itu memang sederhana ya."


Bagian bawah tubuhku langsung mengeras sepenuhnya.


"Ah… tunggu Marie…!"


Sementara aku membeku karena terkejut, Marie mendorongku ke tempat tidur dengan kekuatan yang tidak memberi kesempatan untuk menolak.


"Sudah lama sekali kita tidak melakukannya ya… Tapi menurutku tubuhku masih lebih bagus daripada Amelia. Karena ini malam terakhir, nikmatilah sebanyak-banyaknya ya?"


Marie melepas tali bahu negligee-nya. Payudara yang seolah meluap-luap langsung menekan ke wajahku.


Dibungkus oleh kelembutan itu, ujung payudaranya secara alami mengarah ke bibirku──


"Nmuu…!"


"Aah, ini dia… Tubuhmu juga sudah jauh lebih besar daripada dulu… fufu, cara kamu menghisap seperti anak kecil ini justru yang paling enak…!"


Aroma dewasa Marie mengguncang otakku. Sensasi daging yang kurasakan setelah sekian lama membuatku hampir tenggelam.


Tanpa sadar, bibirku sudah menghisap puting Marie. Sensasi yang dalam dan menggoda, berbeda dari Iris maupun Amelia, langsung mencuri hatiku.


"Ayo, karena sudah begini, Amelia juga ikut."


"Eh… bertiga sekaligus?"


"Untuk memeras Shuu habis-habisan, kita harus bekerja sama."


"Ba-baik…"


Sepertinya Amelia tadinya berniat hanya menonton dari samping. Tapi dia tidak bisa menolak godaan manis Marie dan akhirnya naik kembali ke tempat tidur.


"Kalau begitu… nikmatilah payudaraku juga ya…?"


Marie di sebelah kiri, Amelia di sebelah kanan.


Dua payudara lembut menekan wajahku secara bersamaan.


"Fufu, kelihatannya enak sekali… Kalau begitu, aku mulai dulu ya."


"Marie…!"


Marie mengubah posisi, perlahan mengangkat negligee-nya, lalu menurunkan pinggulnya.


Begitu kontolku menyentuh memeknya yang sudah basah kuyup, ia langsung masuk dengan mulus dan nyaman, dituntun masuk hingga ke bagian paling dalam.


"Uhh… aaah…"


"Aaah♡ Kontol Shuu memang yang terbaik… memekku juga sangat senang sekali♡"


Marie menggerakkan pinggulnya naik-turun dengan perlahan, membawaku menuju klimaks.


Dia lebih tua dariku sekitar sepuluh tahun dan memiliki pengalaman yang kaya, sehingga aku jauh lebih terkendali olehnya dibandingkan saat bersama Amelia.


Vagina Marie bisa mengejang dan mengendur sesuka hati, dengan sangat terampil merangsang kontolku dan memperbesar kenikmatan.


"Shuu, lihat ke sini…!"


Seolah cemburu, Amelia menutup mulutku dengan ciuman sambil meremas putingku.


Bersamaan dengan gerakan pinggul Marie, rangsangan ganda itu membuat bagian bawah tubuhku semakin panas dan bereaksi dengan kuat.


"Aaah, milik Shuu semakin besar♡ Bagus… bagus sekali… luar biasa… ayo, keluarkan… keluarkan semuanya di dalam memekku♡"


"Wa… di dalam itu berbahaya…"


Tapi Marie sama sekali tidak berniat melepasku. Dia terus menggerakkan pinggulnya naik-turun berkali-kali, dengan ganas menanamkan kenikmatan.


"Aku… aku sendiri belum pernah menerima sperma Shuu…!"


"Fufu… kalau begitu ambil saja… dengan begitu, Shu akan merasa bersalah dan pasti suatu saat akan kembali ke desa ini…♡"


"Marie, kamu ini… guh… sudah… aku tidak tahan… nhaaaaaa!?"


Kontolku yang tegang akhirnya mencapai batas di dalam memek Marie.


Aku bisa merasakan dengan jelas bagaimana cairan panas menyembur deras menuju rahimnya.


Meskipun hari ini aku sudah berkali-kali melakukannya dengan Amelia, jumlah sperma yang kuberikan kepada Marie adalah yang terbanyak sepanjang masa.


Sensasi cairan yang berdenyut-denyut mengalir ke dalam rahimnya adalah kenikmatan yang tidak bisa ditolak.


"Fufu, terima kasih untuk hidangannya♡"


Marie menjilat bibirnya, lalu mengangkat pinggulnya. kontolku keluar dari vaginanya, dan cairan putih kental menetes ke bawah.


Malam itu masih berlanjut. Amelia dan Marie bergantian menanamkan kenikmatan ke tubuhku berkali-kali.


"──Shu! Aku tidak akan melepaskanmu! Kali ini benar-benar di dalam… nnguuuuuuu~!?"


Sperma panas milikku memenuhi rahim Amelia sepenuhnya. Sepertinya terpengaruh oleh Marie, Amelia mengunci pinggulku dengan kakinya dan memaksaku untuk ejakulasi di dalam.


Ketika aku kembali ke desa nanti, jika Marie atau Amelia sedang menggendong anak yang mirip sekali denganku… membayangkan itu membuat bulu kudukku merinding.


◇◇◇


──Pagi pun tiba, dan kami bertiga kembali ke desa bersama.


Lalu sebelum siang, kami sudah menyelesaikan persiapan dan bersiap untuk meninggalkan desa.


Untuk melepas kepergianku, banyak sekali penduduk desa yang berkumpul.


Situasi seperti ini tidak pernah bisa kubayangkan di kehidupan sebelumnya, di mana aku hanya punya satu teman, Rikka.


Kakek dan nenek, Amelia dan Nora, serta Marie yang menggendong anak kecil.


Selain kepala desa yang botaknya mencolok, ada juga banyak orang yang pernah kusembuhkan, orang-orang yang pernah kubantu di ladang, dan mereka yang pernah membagikan hasil panen mereka kepadaku…


Sepertinya semua orang di desa ini memang hangat.


"Shuu… kau benar-benar akan pergi… rasanya masih tidak nyata…"


Padahal kemarin kami sudah banyak bicara, saling terikat, dan seharusnya sudah saling menguatkan, tapi Amelia sekarang tampak seperti akan menangis kapan saja.


"Shuu…!!"


"Amelia…"


Seolah tubuhku akan remuk, Amelia memelukku dengan sangat erat.


Dan dari matanya yang bergetar, air mata mengalir deras.


"Kau harus kembali… kembali… jemput aku…! Aku tidak bisa membayangkan bersama orang lain selain dirimu…! Kau boleh selingkuh atau apa pun… tapi suatu hari nanti, pasti… pasti… kau harus datang menjemputku… itu saja yang harus kau janjikan…!"


Amelia tidak pernah meminta agar aku tetap tinggal sampai akhir.


Tapi di saat terakhir, dia justru menanamkan kata-kata seberat ini di kepalaku…


Amelia berpikir kalau dengan skillku, hubunganku dengan wanita lain akan bertambah.


Tapi kalau dia berkata seperti itu, aku tidak punya pilihan selain benar-benar kembali dan menjemputnya…


"Baik… aku akan menunjukkan diriku… aku akan sesekali pulang. Jadi… jangan terlalu banyak menangis."


"Shuu! Shuu! Shuu…!!"


Amelia menangis terisak dalam pelukanku, hingga pakaian biarawati yang sudah dia rapikan menjadi berantakan.


Bahkan Nora, adiknya, tidak bisa menyela momen itu dan hanya berdiri di belakang dengan mata bergetar.


"Nora…"


"Shuuuu…!!"


Karena itu, aku yang memanggil Nora, dan kami bertiga saling berpelukan.


Setelah melepaskan pelukan mereka, aku kembali menghadap ke depan.


"──Shuu, bawa ini."


Lalu nenek memberiku sebuah jubah abu-abu. Jika warna rambutku abu-abu terang, maka jubah ini berwarna abu-abu gelap.


Meski tampak ringan, saat disentuh bahannya cukup kaku, dengan hiasan emas dan merah di beberapa bagian, desainnya juga terlihat elegan. Bahkan bisa dikencangkan dengan sabuk seperti trench coat.


…Dan satu lagi, aku juga diberi sepucuk surat.


"Ini jubah dengan perlakuan khusus yang dibuat kepala desa menggunakan alkimia. …Di surat itu tertulis nama dan alamat dua orang. Kalau terjadi sesuatu, cobalah meminta bantuan mereka."


"Begitu ya, terima kasih."


Kepala desa yang botaknya mencolok itu tersenyum dari belakang.


Eh, tunggu… dia bisa pakai alkimia? Baru dengar aku…


Pada akhirnya, tanpa sempat menanyakan soal itu, aku mengenakan jubah tersebut di atas pakaian biarawati, dan ukurannya pas sekali, terlihat sangat keren.


"Hmph. Cocok sekali."


Nenek mendengus puas.


"────"


Lalu aku menarik napas, menatap kakek dan nenek.


Karena ini terakhir, aku harus mengatakannya. Kata-kata yang selama ini sulit kuucapkan──


"Kakek… dan nenek. ──Terima kasih sudah membesarkanku selama lima tahun. Aku benar-benar beruntung kalian yang menemukanku. Itu saja… yang ingin kusampaikan dengan tulus."


"Shuu…"


"Dasar bocah sialan…!"


Di mata mereka, tampak sedikit air mata. Itu pertama kalinya aku melihat mereka menangis sejak aku datang ke desa ini.


"────!"


Dengan perasaan yang tak tertahan, aku melangkah maju dan memeluk mereka──tidak, memeluk Ouji dan Mizette.


"Shuu… Shuu… jaga dirimu… baik-baik ya…!"


"Jangan mati dengan mudah… apa yang sudah kuajarkan, jangan pernah kau lupakan…!"


"Iya… aku tahu. Aku tahu… suatu hari nanti, saat semuanya sudah tenang, aku pasti akan kembali…"


Sejak datang ke dunia ini, rasanya untuk pertama kalinya aku memahami arti cinta tanpa pamrih.


Kakek dan nenek tidak punya anak. Dan aku tahu, itu bukan karena mereka kehilangan anak setelah memilikinya.


Aku bukan anak mereka.


Tapi… aku benar-benar adalah anak mereka.


Dalam pelukan ini, rasanya aku memahami segalanya.


Karena itu──


"──Ayah, Ibu… jaga diri kalian…!"


Untuk pertama kalinya, aku memanggil mereka sebagai orang tuaku di dunia ini.


"Selamat jalan—!!"


Suara keras Nora bergema. Di sampingnya, Amelia berdiri seolah bersandar padanya.


"Sampai jumpa, kalian semua!!"


Sambil menaiki kereta yang dikemudikan Iris, aku membalas lambaian tangan para penduduk desa.


Desa itu semakin menjauh. Saat kami memasuki hutan, sosoknya semakin kecil, hingga akhirnya benar-benar tak terlihat.


Beberapa jam kemudian, kami keluar dari hutan, dan di hadapan kami terbentang padang rumput luas.


Itu adalah pemandangan pertama yang kulihat sejak datang ke dunia ini.


Saat itulah—


──Kilatan, gemuruh…!


Tiba-tiba dari dalam hutan terdengar suara petir besar, menerangi langit.


"Haha, si Keryneia itu… sepertinya dia merayakan keberangkatanku."


Begitulah, aku meninggalkan Desa Iasis, tempat aku tinggal selama lima tahun──


◇◇◇


"──Sepertinya masih ada yang tertinggal di hatimu, ya."


Seolah memahami ekspresi kesepian di wajahku, Iris yang duduk di kursi kusir di sampingku berbicara.


"Ya… sudah lima tahun aku tinggal di sana. Aneh kalau tidak tumbuh perasaan."


"Hehe… benar ya. Aku sudah menduganya. Shuu-sama memang orang yang hangat."


"Apa sih yang kau katakan."


"Soalnya──"


Iris perlahan melepaskan satu tangan dari kendali tali kekang, lalu dengan tangan itu dia menyentuh sudut mataku.


"──karena kau menangis sebanyak ini."


Aku tidak meneteskan air mata sedikit pun sampai saat berpisah dengan mereka.


Keberangkatan ini adalah langkah maju. Dan aku sudah memutuskan akan kembali ke desa itu.


Artinya, ini bukan perpisahan selamanya. Jadi tidak ada alasan untuk menangis.


Ya, aku orang yang dingin, kasar, dan blak-blakan. Aku tidak pernah berpikir sifatku baik, malah aku tahu itu buruk.


Tapi meskipun begitu… Perpisahan dengan mereka ternyata benar-benar menghantam hatiku……


Setelah itu, aku terus menangis untuk beberapa waktu, dan Iris tetap diam di sampingku sampai air mataku benar-benar habis.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close