Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 3
Padahal Aku Berharap pada Tuhan, Asal Kamu Ada Sudah Cukup
"Selamat tahun baru, Hibari. Mohon bantuannya lagi tahun ini."
"Selamat tahun baru, Masaomi-kun. Mohon bantuannya juga untuk tahun ini."
Tahun telah berganti, dan liburan musim dingin tinggal menyisakan beberapa hari lagi. Tanpa membuang waktu setelah salam tahun baru yang singkat, atas usul Masaomi, kami memutuskan untuk pergi melakukan hatsumode hanya berdua saja. Salju yang turun lebat saat Natal kini hanya tersisa sedikit di sana-sini. Meskipun ada prakiraan salju lagi untuk malam nanti, tidak ada peringatan cuaca buruk, jadi pergi dan pulang di siang hari seharusnya tidak menjadi masalah.
Tujuan kami adalah Kuil Gunung Yuragi, sebuah kuil yang bangunan utamanya terletak di ketinggian sekitar dua ratus meter di Gunung Kutsuna. Kuil ini juga merupakan titik awal dari rute pendakian Gunung Yuragi. Mulai dari kereta gantung dari kaki gunung hingga berbagai infrastruktur lainnya, kuil ini terhubung dengan kota-kota di sekitarnya. Selain itu, selama musim hatsumode, banyak bus tambahan yang beroperasi, sehingga memungkinkan pengunjung untuk sampai ke sana hampir tanpa berjalan kaki dari stasiun terdekat. Bisa dikatakan ini adalah tempat kencan yang sempurna bagi pasangan indoor untuk menyelesaikan agenda hatsumode tanpa ragu.
"Gunung Kutsuna ini, karena sekarang aku hanya ke sini setahun sekali di musim seperti ini, citranya selalu terasa dingin ya. Meski seingatku jarang ada salju yang tersisa sebanyak ini," ucap Masaomi saat turun di stasiun kereta gantung yang terletak sangat dekat dengan kuil.
"Mungkin kalau kita lewat jalur pendakian, tubuhmu akan terasa hangat?"
"Aku sih tidak masalah, tapi apa Hibari akan mengizinkannya?"
"Terima kasih kepada infrastruktur transportasi. Sisanya, kurasa kita cukup berpegangan tangan agar tidak terpeleset salju."
"Hamba merasa sangat bahagia menerima usul yang lebih baik daripada mendaki gunung, Hibari-sama."
Sambil melontarkan gurauan konyol, mereka berjalan di jalan setapak kuil yang masih bersalju dengan tangan saling bertautan, yang baru saja mereka keluarkan dari lengan mantel. Lokasi di mana gerbang Torii bisa dilewati dalam lima detik berjalan kaki setelah turun adalah kemudahan yang tak tertandingi.
Sebagai informasi, Gunung Kutsuna adalah nama panggilan penduduk setempat; nama resminya adalah Gunung Yuragi, yang juga menjadi asal nama Kuil Gunung Yuragi. Ketinggian puncaknya tidak sampai seribu meter, namun kaki gunungnya membentang luas ke utara dan selatan, mencakup wilayah perkotaan di sekitarnya seperti Kota Kutsuna, Kota Hapaki, dan Kota Misora. Lereng gunung yang landai ini lebih dikenal karena kemudahan jalurnya daripada keindahan garis cakrawalanya. Masaomi sendiri telah berkali-kali mengikuti acara mendaki gunung ini sejak kecil, namun tentu saja ini adalah pengalaman pertamanya berziarah bersama kekasih.
"Ternyata masih cukup ramai ya di hari ketiga tahun baru ini."
Kuil Gunung Yuragi memiliki area yang tergolong luas, sepadan dengan kemampuannya menampung berbagai doa egois dari penduduk yang tinggal di kaki gunung. Jika berjalan lurus menyusuri jalan setapak, akan ada Chozuya (tempat penyucian tangan), dan jika terus maju, pengunjung akan sampai di Kagura-den (aula tari suci). Di bagian belakangnya terdapat gerbang Torii besar kedua, dan setelah menyeberangi jembatan suci serta menaiki tangga batu, pengunjung akhirnya bisa masuk ke area utama setelah melewati gerbang suci yang lebih besar.
Meski terlihat seperti jalan lurus yang sederhana, pinggiran jalan setapak dipenuhi oleh kedai-kedai makanan yang giat mengincar keuntungan musim perayaan. Di sisi kiri dan kanan area kuil berjejer rapat gedung harta karun, monumen peringatan, hingga monumen naga putih raksasa. Masaomi mengira suasana akan sedikit lebih sepi setelah menghindari tanggal satu dan dua Januari, namun ternyata tempat itu tetap sesak oleh para peziarah yang memiliki pemikiran serupa, hingga terasa cukup sempit.
"Kuil tempat bersemayamnya Dewa Naga, katanya. Kedengarannya seperti di dalam game, mirip Astral Side ya."
Masaomi membacakan papan panduan kuil yang ia lihat sekilas. Hibari pun memberikan penjelasan.
"Jangankan Kuil Gunung Yuragi, seluruh area Gunung Kutsuna adalah 'Kinjyu Seibyou' (Makam Suci Kutukan Terlarang). Itu adalah wilayah misterius yang tidak bisa dijadikan markas maupun dimasuki dari luar. Tapi, jika pergi ke kaki gunung, ada titik aliran nadi naga. Kamu bisa mendapatkan berkah berupa buff penguatan di sana."
"Makam Suci Kutukan Terlarang... itu kan..."
Masaomi teringat akan altar itu.
Gadis naga putih.
Seperti yang ditunjukkan oleh monumen yang baru saja mereka lihat, dewa yang dipuja di Kuil Gunung Yuragi adalah naga putih. Rasanya tidak mungkin jika ini hanya kebetulan belaka. Sepertinya tempat itu memang struktur proyeksi dari Astral Side yang berhubungan dengan kuil ini.
"Misalnya, jika kita melakukan dive langsung di lokasi ini, apa tetap tidak bisa masuk?"
"Apa kamu pikir aku belum mencobanya?"
"Yah, sepertinya kamu akan menjadi orang pertama yang melakukannya."
"Alasannya tidak jelas, tapi pada dasarnya kita tidak bisa melakukan dive di sini. Sama sekali tidak ada perasaan 'dipanggil' itu....Lagipula sekarang, meski bisa melakukan dive, kurasa itu tidak akan banyak berpengaruh."
Saat Masaomi menatap Hibari yang tanpa sadar menyentuh jepit rambutnya, Hibari membalas dengan tatapan "aku tidak apa-apa". Nada bicaranya terdengar tenang, dan sejak Natal, ia tidak lagi menunjukkan keguncangan saat topik Astral Side dibahas. Masaomi merasa lega menyadari bahwa jepit rambut sepasang sayap itu setidaknya mampu sedikit melindungi hati Hibari.
Berbaur dengan kerumunan peziarah lainnya, mereka berdua menaiki tangga batu panjang yang licin karena salju dengan hati-hati. Napas yang mereka embuskan tampak putih, dan udara terasa dingin menusuk kulit. Hangatnya suhu tangan Hibari yang digenggamnya perlahan menghangatkan perasaan Masaomi.
"Nah, kita sampai."
Begitu sampai di puncak tangga batu, bangunan utama kuil yang megah menampakkan wujudnya. Area kuil pun ramai dengan banyak peziarah.
Saat Masaomi mengedarkan pandangannya mencari celah yang agak sepi, tiba-tiba ia merasakan sensasi kesemutan seperti gangguan sinyal (noise) dan menyipitkan matanya sejenak. Pada saat itulah, ia merasa melihat sosok gadis dengan rambut putih yang khas mengenakan pakaian miko.
"...Kasuka?"
Masaomi tanpa sadar bergumam, namun sosok mungil itu segera menghilang ditelan kerumunan orang. "Mungkin cuma perasaanku saja," pikirnya sambil menggelengkan kepala.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa, aku cuma merasa seperti melihat Kasuka tadi. Tapi kurasa aku salah lihat, tidak mungkin dia ada di sini."
"Kamu kenal dengan Kasuka?"
Masaomi terkejut karena gumaman yang ia lontarkan tanpa sengaja itu mendapat balasan. Ia spontan menoleh ke arah sumber suara.
Di sana berdiri seorang pria lanjut usia yang mengenakan hakama berwarna biru muda. Sambil memegang berbagai barang pernak-pernik kuil di satu tangan, ia mengelus kepalanya yang botak licin dan menatap Masaomi dengan tajam. Sepertinya dialah yang tadi mengajaknya bicara.
Hibari bertanya lewat tatapan matanya, "Kenalanmu?". Namun, Masaomi sama sekali tidak mengenal orang dari kuil ini. Meski begitu,
"...Apakah Anda, kakeknya Kasuka?"
“Oh, benar juga. Kamu teman yang selalu berwajah datar yang sering diceritakan Kasuka, kan? Rasanya aku pernah melihatmu di foto.”
Sebelumnya, aku pernah mendengar cerita bahwa kakek Kasuka menjabat sebagai Guuji (kepala pendeta) di Kuil Gunung Yuragi. Karena itulah aku mencoba bertanya, tapi sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa. Jika diperhatikan lagi, sorot mata yang agak sayu dan lembut itu memang terasa mirip dengan Kasuka.
Meski begitu, aku jadi bertanya-tanya apa saja yang Kasuka tunjukkan kepada keluarganya. Aku mencoba membayangkan mencengkeram leher Kasuka di dalam benakku, tapi dia pasti hanya akan tertawa "ehehe" dan sama sekali tidak bisa diandalkan.
“Nama saya Kusunoki Masaomi. Saya berteman baik dengan Kasuka.”
“Aku Tachibana Gen. Aku sudah dengar banyak hal dari Kasuka. Termasuk soal teman laki-lakinya yang satu lagi, yang berambut cokelat itu. Jadi, siapa di antara kalian yang mau jadi menantu di keluarga Kasuka?”
Dia melemparkan "bom" tepat setelah perkenalan diri. Suhu udara di sekitar Hibari yang berdiri di sampingku seketika turun dua derajat.
“Waduh, Nona cantik, tolong jangan melotot begitu. Itu cuma bercanda, jadi tolong jangan diambil hati.”
Mengesampingkan lelucon yang tidak lucu itu, mumpung ada kesempatan, aku memutuskan untuk menanyakan keadaan Kasuka.
“Kasuka sepertinya sedang kurang sehat belakangan ini, apakah dia baik-baik saja?”
“...Soal itu, aku sendiri juga merasa khawatir. Aku pikir Masaomi-kun mungkin tahu sesuatu.”
Situasinya mulai terasa tidak beres. Seingatku, Kasuka bilang dia bekerja paruh waktu di Kuil Gunung Yuragi. Bagaimana mungkin keluarga sedekat ini bahkan tidak memahami kondisinya?
Sepertinya rasa heranku tersampaikan padanya. Gen melirik Hibari sejenak, lalu berkata:
“Tidak enak bicara di sini. Kalau kamu tidak keberatan, mari ke kantor pengelola kuil. Apa kamu punya waktu?”
“Ah, anu...”
Aku memikirkan banyak hal sekaligus: rencana kencan hatsumode dengan Hibari, kondisi Kasuka, hingga apakah sang Guuji sendiri punya waktu luang di tengah keramaian pengunjung seperti ini. Akhirnya, aku pun gagap.
“Aku akan berziarah duluan, jadi pergilah, Masaomi-kun. Kamu pasti mengkhawatirkan Tachibana-san, kan?”
Mungkin karena menyadari atmosfer yang diciptakan Gen—bahwa dia ingin bicara berdua—Hibari memberikan bantuannya. Meskipun merasa tidak enak karena telah membuatnya harus mengalah, tidak bisa dimungkiri bahwa aku memang mencemaskan Kasuka.
“Kalau begitu, aku terima tawaranmu... Hibari, ada kursi istirahat di dekat peta panduan kuil. Kita bertemu di sana kalau sudah selesai. Harusnya ada gerai ramalan (omikuji) juga di sana.”
“Iya. ...Kalau sekiranya akan lama, tolong hubungi aku. Bagaimanapun, sendirian itu dingin, dan sepi.”
Setelah mengucapkan kata-kata yang manis namun memelas itu, Hibari mengikuti arus peziarah menuju bangunan utama kuil.
Gen bergumam dengan penuh perasaan, "Ah, masa muda itu indah ya," sementara Masaomi hanya bisa melepaskan senyum kecut yang jarang ia tunjukkan.
“Bagian belakang kantor pengelola ini adalah rumah tinggalku, mari bicara di sana.”
Masaomi mengikuti langkah Gen seperti yang diperintahkan.
Dari pintu masuk belakang kantor yang bertuliskan "Hanya untuk Petugas", mereka menyusuri lorong sempit berlantai kayu yang penerangannya hanya berasal dari jendela kecil.
Setelah melewati persimpangan yang sepertinya menyatu dengan bangunan utama, mereka sampai di area yang merangkap sebagai rumah tinggal sekaligus kantor. Karena jalannya lurus, ia tidak akan tersesat, namun udara yang dingin membeku serta beban sejarah yang terasa menumpuk di tempat itu membuat Masaomi secara alami menegakkan punggungnya.
“Itu ruang tamunya, silakan ambil bantal duduk dan duduk di mana saja. Aku akan ambilkan teh.”
“Ah, tidak perlu repot-repot. Kuil sedang ramai, Anda pasti sangat sibuk.”
“Ahaha, aku ini sudah hampir pensiun, hanya Guuji formalitas saja. Meskipun aku tidak boleh mengatakannya keras-keras di depan kantor pusat, urusan pengelolaan kuil hampir semuanya ditangani oleh istriku. Lagipula, orang tua sepertiku memang senang menjamu tamu. Sebenarnya, tempo hari aku menceritakan hal yang sama kepada Keiji-kun... jadi tolong jangan sungkan.”
Ternyata Keiji juga pernah mengunjungi kuil ini. Rasanya sulit dipercaya putra dokter yang kaku itu datang untuk meminta bantuan dewa, jadi kemungkinan besar dia datang untuk menanyakan keadaan Kasuka juga. Benar-benar kakak yang terlalu protektif.
Ruangan yang ditunjukkan adalah ruangan beralas tatami. Di bawah hiasan kayu ranma mewah yang diukir dengan detail naga yang rumit, dua ruangan terhubung melalui ambang pintu kayu.
Karena pintu geser fusuma dibiarkan terbuka, ruangan itu tampak jauh lebih luas dari luas aslinya. Karena rumah kakek-nenek Masaomi sudah direnovasi dan hanya memiliki ruangan gaya Barat, arsitektur tradisional Jepang yang dilihatnya secara saksama untuk pertama kali ini memberikan kesan yang sangat unik, hingga ia tanpa sadar menoleh ke sana-kemari.
Berbicara soal keunikan—di ruangan sebelah, terdapat altar dewa yang megah di bagian atas ceruk dinding, khas sebuah kuil. Namun, di sana terpajang sebuah foto yang sudah agak usang, menunjukkan seorang anak kecil yang sedang duduk di ayunan di sebuah tempat yang tampak seperti taman. Rambut merahnya diikat dua khas anak-anak, namun senyum tipisnya yang tampak dewasa dan tenang memberikan kesan yang sangat tidak seimbang.
Foto di altar dewa. Itu sendiri tidak masalah, tapi masalahnya ada di sebelahnya.
“Itu... Kurokomi? Tapi kenapa ada di tempat seperti ini?”
Di balik celah kertas suci shide yang menjuntai dari altar, terlihat konsol game lama beserta kotak kemasannya. Secara keseluruhan kotor oleh lumpur dan termakan waktu hingga detail ilustrasinya sulit dikenali, namun di antara komposisi karakter-karakter yang memasang kuda-kuda bertarung, terlihat judul dengan font kaku bertuliskan: 『Cross Communication Dive!!』.
Apakah Kasuka yang hobi main game yang membawanya ke sini? Tapi tetap saja, menaruhnya di altar dewa itu...
“Lokasi foto ini... Bendungan Kutsuna? Seingatku memang ada taman di dekat sana.”
Masaomi mencoba mengingat peta Gunung Kutsuna yang ada di panduan rute ziarah Gunung Yuragi. Kemudian ia menatap sekali lagi anak kecil di foto itu dengan saksama. Seperti luka kering yang hampir terkelupas, ada sesuatu yang terus mengusik kesadarannya. Penduduk sekitar sini memang sering mengunjungi Gunung Kutsuna untuk piknik atau kegiatan sekolah, tapi seingatku itu adalah──
“Taman wisata alam itu sekarang ditutup karena ada proyek perbaikan bendungan. Aku khawatir jadwal pengerjaannya akan tertunda lagi karena salju lebat dan risiko longsor, tapi kalau sudah urusan alam, kita tidak bisa apa-apa. Mungkin hanya bisa berdoa kepada Dewa.”
Gen, yang baru saja kembali dengan baki berisi teh botol dan kerupuk senbei, memberikan jawaban atas tatapan penasaran Masaomi.
“Ngomong-ngomong, game itu adalah harta karun yang menyelamatkan nyawa Kasuka. Itulah sebabnya kami menjadikannya sebagai persembahan.”
Pikiran Masaomi sempat terhenti, namun kalimat yang sangat berkesan itu memicu rasa ingin tahunya lebih dalam.
“Nyawa Kasuka... Karena ini di kuil, apakah itu berarti kaset game yang membawa berkah Dewa?”
“Apakah menurutmu hal-hal seperti itu terdengar mencurigakan?”
“Saya bisa melihat kalau kaset itu sangat berharga bagi Anda. Dan saya rasa itu sangat khas Kasuka.”
Masaomi berpikir pasti ada alasan khusus mengapa benda itu dipajang di altar. Jika benda itu benar-benar menyelamatkan nyawa seseorang, ia merasa jenis bendanya sudah tidak lagi menjadi masalah penting.
“Keiji-kun juga mengatakan hal yang serupa. Kalian benar-benar menyayangi Kasuka, ya.”
Meskipun benar bahwa mereka adalah teman baik, dipuji secara terang-terangan seperti itu membuat Masaomi merasa agak malu.
“Sejak sekitar tahun lalu, setiap kali kami bertemu, dia selalu bercerita tentang 'teman sekelas kesayangannya'. Karena dia menyebut nama Masaomi dan Keiji, dia pasti sangat memercayai kalian. Baginya, menceritakan tentang teman adalah hal yang... sudah lama sekali tidak ia lakukan sejak dia masih sangat kecil.”
Masaomi membatin, "Si bodoh itu cerita apa saja sih ke keluarganya?", namun suasana di sana terlalu sakral untuk ia gunakan bercanda.
“Karena ini kesempatan bagus, biarkan aku menceritakan sedikit masa lalunya. Anak itu... punya banyak sisi yang rumit.”
Ekspresi yang ditunjukkan Gen saat itu, di balik senyum tenangnya yang ramah, tampak menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Seolah ia ingin mengatakan bahwa cucunya yang sangat ia cintai telah diberikan ujian oleh Dewa yang bahkan tak sanggup ia selamatkan sendiri.
“Cerita yang tadi itu sungguhan. Kasuka dulu pernah jatuh tergelincir di Bendungan Kutsuna.”
“Itu... terdengar sangat masuk akal bagi dia.”
Masaomi pernah bergurau soal hal semacam itu, tapi ia tak menyangka Kasuka benar-benar pernah melakukannya. Karena kisahnya sangat mencerminkan kepribadian Kasuka, ia bingung harus tertawa atau bersikap prihaton.
“Kejadiannya saat dia sedang bermain di kuil ini. Dia berjalan melipir ke jalur setapak hutan yang tidak diaspal, lalu jatuh ke area dekat waduk bendungan. Begitu keluarganya sadar dia hilang, kami bersama warga sekitar langsung berpencar mencari. Secara kebetulan, kami menemukan game yang sedang dia mainkan jatuh di jalur setapak itu. Dari sana terlihat jejak tergelincir, dan di detik terakhir, Kasuka yang pingsan di bawah tebing berhasil diselamatkan.”
Masaomi terdiam karena terkejut mendengarkan cerita Gen. Tentu saja ini pertama kalinya ia mendengar hal tersebut.
“Bagiku, aku percaya bahwa Dewa Naga lah yang menyelamatkan Kasuka.”
“Dewa Naga?”
“Dewa yang bersemayam di Kuil Gunung Yuragi. Dulunya, seluruh area ini dialiri Sungai Yuragi yang sering meluap, dan beliau adalah Dewa yang berperan mengendalikan air tersebut. Yah, karena profesiku sebagai Guuji yang memegang teguh keyakinan, itulah interpretasiku. Mungkin sulit diterima oleh anak muda zaman sekarang.”
Gen tertawa kecut, membuat kerutan di wajahnya semakin dalam.
“Sejak zaman kuno, sungai yang meluap sering dianggap sebagai naga yang murka. Leluhur kita memanjatkan doa untuk menenangkan naga yang liar itu agar menjadi naga yang melindungi mereka. Faktanya, banyak legenda rakyat semacam itu di daerah ini, dan cukup terkenal di kalangan tertentu. Kamu mungkin pernah dengar soal Power Spot, kan? Kalau boleh bicara agak blak-blakan... mereka adalah sumber peziarah yang berharga.”
Maksudnya, tidak masalah jika orang datang hanya karena rasa penasaran, asalkan mereka berkunjung.
“Bicara soal Power Spot... apakah itu berkaitan dengan nadi naga?”
Informasi Astral Side yang baru saja ia dengar dari Hibari terlontar begitu saja. Meskipun terdengar sangat kental dengan nuansa okultisme, dalam hal ketidakmasukakalan, "Dewa Naga" dan "Valkyrie" tidak jauh berbeda. Masaomi merasa tidak adil jika ia hanya memercayai Astral Side tanpa memercayai Dewa, jadi ia rasa ia bisa memercayai penjelasan Gen.
“Kamu tahu banyak, ya. Kuil Gunung Yuragi adalah lubang spiritual yang terhubung dengan nadi naga di wilayah ini... Tapi ya, terlepas dari legenda-legenda semacam itu, intinya Kasuka selamat karena dia membawa game itu. Meski dia menderita sedikit efek samping setelahnya.”
“Efek samping?”
“Anak itu... jika dikatakan dengan bahasa yang baik, dia itu kan santai dan punya ritme sendiri, kan? Namun sebelum diselamatkan dulu, dia adalah anak yang sangat cerdas dan bijaksana, sampai-sampai orang menyebutnya calon profesor, menteri, atau bahkan titisan Dewa Naga. Saking cerdasnya, semua orang sampai heran mengapa dia bisa melewati jalan yang sudah jelas-jelas berbahaya itu.”
Masaomi mendengarkan dengan mulut setengah terbuka. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa kesan yang ia miliki tentang Kasuka dan cerita barusan merujuk pada orang yang sama. Jika itu Kasuka yang sekarang, jatuh ke bendungan yang sama tiga kali pun tidak akan mengejutkan.
“Setelah dia sadar—meskipun dia tetap cucu kesayanganku—tapi dari sudut pandang keluarga, dia berubah total seolah 'tertukar', mulai dari cara bicara dan segalanya. Perubahan yang paling mencolok adalah warna rambutnya. Tapi, apakah kamu tahu soal kondisi otak Kasuka yang istimewa?”
“Iya... saya ingat dia pernah bilang kalau otak kakak kembarnya menyatu dengan otaknya.”
“Karena asalnya memiliki dua otak, dia sangat cerdas. Namun penjelasan yang kami terima saat itu adalah, akibat benturan di kepalanya, salah satu otaknya mungkin 'terlempar' entah ke mana. Kasuka menginterpretasikan hal itu sebagai kakaknya, tapi jujur, aku tidak terlalu memercayainya. Bagiku Kasuka adalah Kasuka, tidak ada kakak atau adik, dia adalah satu orang yang utuh.”
Gen menatap Masaomi dengan pandangan serius, seolah sedang menilai sesuatu. Sepertinya ia sedang mengamati setiap gerak-gerik "teman sekelas kesayangan" cucunya ini untuk melihat apa yang ia pikirkan tentang Kasuka setelah mendengar cerita ini.
“Meskipun aku ini seorang Guuji, tapi Dewa itu bukanlah entitas yang menyelamatkan orang secara cuma-cuma tanpa pandang bulu. Malah, mereka jauh lebih serakah daripada manusia; mereka mencampuri hal-hal yang mereka sukai, yang hasilnya bisa menjadi penyelamat atau justru bencana. Mereka adalah entitas yang egois. Itulah sebabnya, aku memercayai Dewa dengan caraku yang egois pula, dan aku bersyukur atas ikatan nyawa yang dihubungkan oleh kaset game itu. Meskipun sebagai imbalannya, Kasuka kehilangan dirinya yang dulu layaknya diculik oleh dewa, dan membuatnya sulit menjalani kehidupan yang normal... ya kan?”
Nada bicaranya yang menyiratkan rasa bersalah seolah-olah ia sedang membela seseorang yang tidak mampu mengungkapkan rasa terima kasih.
"Entah dia itu sang kakak atau sang adik, saya merasa sangat bersyukur dia telah diselamatkan oleh Dewa Naga saat itu."
Mendengarkan cerita Gen, Masaomi baru menyadari bahwa selama ini ia sebenarnya tidak terlalu tahu banyak tentang Kasuka. Ia hanya tahu bahwa Kasuka tinggal di sekitar daerah Hapaki, seorang si bodoh yang suka mengembara sesuka hati, sangat menyukai bendungan, punya selera pakaian yang nyentrik, dan sangat menyayangi Masaomi—hanya sebatas itu.
Pada akhirnya, apa pun masa lalu yang ia miliki, atau seperti apa pun kepribadiannya dulu, bagi Masaomi yang hanya mengenal sosok Kasuka yang bodoh saat ini, hal itu sejujurnya tidak jadi masalah.
Bersama Kasuka dan Keiji, melakukan hal-hal konyol bertiga saja sudah cukup membuat rutinitas yang membosankan menjadi menyenangkan. Bagi seorang anak SMA, hal penting dalam hidup hanyalah sebatas itu—dan itu tidak akan berubah.
"Benar juga. Pertanyaanku tadi memang tidak perlu. Aku sudah tidak meragukan kalian lagi."
Namun, Masaomi merasa pasti ada makna penting mengapa Gen sengaja menceritakan hal itu kepadanya. Ia tidak tahu apa maknanya, tapi melihat ekspresi dan nada bicara Gen yang tenang, sepertinya jawaban Masaomi barusan bukanlah jawaban yang membuatnya dicap tidak layak.
"Hanya saja... orang tua Kasuka tidak berpikiran sama, terutama ibunya, yang merupakan putri kandungku."
Gen mulai berkisah tentang kepedihan itu. Begitu terjadi perubahan pada diri Kasuka dan kecerdasan jeniusnya hilang seketika, ayah Kasuka mendadak kehilangan minat untuk mengasuhnya hingga berujung pada perceraian. Hal itu membuat ibu Kasuka juga mulai meragukan kasih sayangnya sendiri kepada putrinya, lalu memilih untuk menelantarkannya dan melarikan diri ke dalam pekerjaan.
Karena kepribadian Kasuka yang seperti itu, ia tampak tidak terlalu ambil pusing, namun cara bicaranya yang unik membuatnya sulit memahami emosi ibunya, sehingga hubungan mereka menjadi sangat kaku.
Kebiasaan mengembara Kasuka kemungkinan besar adalah bentuk pelarian karena ia merasa tidak betah berada di rumah.
"Putriku itu... dia lemah. Itulah sebabnya, setelah pergulatan batin yang panjang, ia menyerah untuk menjadi ibu yang benar....Tidak, mungkin itu hanya pembelaanku sebagai ayahnya. Lebih tepatnya, ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa ia bukan lagi ibu dari seorang putri yang unggul. Karena harapannya terlalu besar, ia tidak mampu menurunkan standar ekspektasinya terhadap Kasuka yang kini sulit berkomunikasi secara normal. Ia bahkan tidak bisa membuang harga dirinya untuk bergantung pada suaminya demi membesarkan Kasuka hingga dewasa. Ia pernah berkata bahwa kini perannya sebagai orang tua hanyalah sebatas mencari nafkah."
Masaomi terdiam seribu bahasa. Terhadap masalah kerumitan rumah tangga seperti itu, apa pun yang ia katakan sebagai orang yang tumbuh besar dengan berkecukupan hanya akan terdengar dangkal, dan ia merasa Gen pun tidak mengharapkan pembelaan apa pun darinya.
"Dia juga mencelaku dengan sangat tajam. Dia bilang, gara-gara akulah sang kakak yang hebat itu mati."
Gen membetulkan posisi duduknya dan menatap Masaomi lekat-lekat. Di balik sorot mata tuanya yang menyimpan sejuta pengalaman, terpancar emosi yang sangat serius.
"Dia bilang, semua itu terjadi karena aku membelikan konsol game itu untuknya, hanya karena terbuai oleh kata-katanya yang ingin 'bermain dengan Ma-kun'."
Tatapan Gen seolah sedang menyelidiki niat terdalam Masaomi. Sepertinya sejak pertama kali mengenal Masaomi, Gen sudah menyadarinya. Siapakah sosok "Ma-kun" yang dipanggil oleh Kasuka kecil saat itu.
Seketika, semuanya terasa masuk akal. Ingatan masa kecilnya yang lama terkubur kini terguncang hebat.
—Ma-kun.
Di dalam kenangan usang yang sudah lama tidak ia buka, terdapat Kurokomi dan seorang gadis berambut merah.
Sebuah janji kecil yang pernah ia ucapkan dengan ketus, "Kapan-kapan lagi, ya."
"Boleh saya memastikan satu hal? Anak yang ada di foto itu...?"
"Ah—itu Kasuka. Sebelum dia jatuh ke bendungan."
Masaomi memang sudah menduganya. Sosok lain yang diletakkan di samping game yang menyelamatkan nyawa Kasuka.
Sosok "seseorang" yang telah hilang seolah "tertukar"—seseorang yang bukan lagi Kasuka.
—Pembohong.
Sebuah kecaman tanpa suara sampai kepadanya dari masa lalu. Pantas saja ekspresi anak itu terasa sangat akrab di ingatannya.
"Mengapa Anda menceritakan ini kepadaku... dan Keiji?"
"Karena kalianlah yang bersedia mendengarkan suara Kasuka. Suara 'derau' halus yang bahkan ibunya sendiri pun menutup telinga darinya."
Masaomi, sebagai pemuda mentah, belum mengenal nama dari perasaan kompleks yang bercampur antara penyesalan, kepasrahan, dan kasih sayang yang terpancar dari kata-kata Gen. Mungkin suatu saat nanti ia akan memahaminya seiring bertambahnya pengalaman hidup.
"Itulah sebabnya, aku rasa saat ini orang yang paling serius memikirkan Kasuka adalah kalian berdua."
Masaomi tidak sanggup bertanya, "Bahkan lebih dari Anda?".
Sebab Masaomi merasa dirinya tidak punya hak untuk itu. Begitu pula Keiji. Tidak ada satu pun yang punya hak. Fakta bahwa Kasuka ingin bersama Masaomi dan Keiji—mungkin hanya itu yang terpenting.
"Dulu aku sering memintanya untuk membantu di sini, tapi ini adalah pertama kalinya Kasuka sendiri yang meminta untuk diizinkan bekerja paruh waktu. Dia bilang, dia ingin berubah seperti kalian. Aku benar-benar bahagia. Mengetahui dia mendapatkan teman-teman seperti kalian yang bersedia melihat sosok Kasuka yang sekarang."
"Bagi saya, apakah Kasuka sudah berubah atau dulu dia seorang jenius, itu sama sekali tidak ada hubungannya. Saya rasa, dulu maupun sekarang, kami tetaplah teman."
"...Terima kasih sudah selalu menjadi temannya. Aku yakin Keiji-kun juga akan mengatakan hal yang sama. ——Entah siapa pun orangnya, tapi sungguh, tidak maukah kamu jadi menantu di keluarga Kasuka?"
Masaomi hanya bisa tersenyum kecut menanggapi nada bicara yang terdengar seperti bercanda namun sebenarnya serius itu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia sempat memberi kabar di tengah percakapan tadi, namun ia buru-buru mengambilnya karena khawatir telah membuat Hibari menunggu terlalu lama.
"Eh...?"
Notifikasi yang muncul bukanlah pesan dari Hibari—melainkan pesan dari Keiji yang mengabarkan bahwa Kasuka harus dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Kedokteran.
Sudah hampir satu jam Hibari menunggu Masaomi.
Meskipun tadi sempat ada pesan masuk yang mengatakan bahwa "sepertinya akan lama", Hibari tetap merasa kecewa. Ia akhirnya mengantre sendirian di barisan peziarah, membaca satu per satu papan pengumuman yang menjelaskan legenda Kuil Gunung Yuragi sendirian, melemparkan koin persembahan sendirian, memanjatkan doa yang lebih mirip keluh kesah atau kutukan kepada Dewa yang entah ada atau tidak sendirian, dan mengambil ramalan omikuji di gerai pemberian sendirian. Hasilnya: ‘Daikyo’.
"......Yah, begitulah kira-kira."
Ia duduk di bangku kayu, menatap hasil ramalan itu dengan curiga sembari mengerucutkan bibirnya.
Setiap kali melihat gerai pemberian yang tampak mungil dibandingkan dengan kemegahan Kuil Gunung Yuragi, Hibari sering berpikiran lancang bahwa tempat itu mirip seperti loket penjualan lotre. Dalam hal keinginan yang tidak semudah itu terkabul, bersandar pada Dewa maupun membeli lotre memang tidak jauh berbeda. Bahkan seorang Astral Diver yang bisa melakukan apa pun sesuka hati di Astral Side pun harus membayar kompensasi yang setimpal di Material Side. Dunia ini memang tidak pernah memberikan kemudahan begitu saja.
Sejak tidak bisa lagi melakukan dive, dunia Hibari berubah drastis. Pintu menuju realitas lain yang sebelumnya ia anggap biasa kini tertutup rapat, dan terkadang rasa hampa yang tak terlukiskan datang menyerangnya. Namun di saat-saat seperti itu, Masaomi selalu ada di sisinya. Mengobrolkan hal-hal sepele, membuatnya tertawa, atau hanya sekadar duduk di sampingnya. Hanya dengan itu, Hibari mampu berdiri di atas kakinya sendiri di tengah beratnya kenyataan di Material Side.
—Aku benar-benar sudah jadi lemah, ya.
Jika itu adalah dirinya yang dulu, ia tidak akan pernah tenggelam dalam sentimentalitas seperti ini, apalagi bersandar pada orang lain. Sang Valkyrie yang penyendiri, "Noble Lark", selalu bertarung seorang diri.
Namun, sekarang berbeda.
Mengingat pundak Masaomi yang sedikit lebih bidang darinya, lalu teringat akan kehangatan yang menyentuh bibirnya, seketika seluruh tubuhnya terasa panas merona. Perasaan itu, yang terasa seolah-olah emosi ditumpahkan lebih langsung daripada sekadar berpegangan tangan, memberikan rasa mabuk kepayang yang luar biasa—sesuatu yang berbeda dari sensasi dive.
Sambil menendang kecil sisa salju di bawah kakinya dengan sepatu bot, tanpa sadar ia menyentuh jepit rambut sepasang sayap pemberian Masaomi. Rasa dingin dari jepit rambut itu seolah mengalirkan kelembutan Masaomi, menenangkan tubuhnya yang sedang bergejolak. Ia melepaskan senyum kecut, merasa sedikit malu karena menyadari bahwa ia telah menyerahkan seluruh emosinya kepada Masaomi.
"Manis sekali ya, jepit rambut itu. Apa itu kado dari seseorang?"
"......Eh?"
Karena sama sekali tidak menyangka akan disapa oleh seseorang, Hibari mengeluarkan suara yang agak linglung. Namun, keterkejutan yang sebenarnya adalah karena sosok yang menyapanya itu memiliki wajah yang sangat ia kenal.
"Tachibana...-san? Bukannya kamu sedang sakit...? Apakah kamu baik-baik saja?"
Rambut putih yang takkan terlupakan begitu sekali pandang, wajah menggemaskan layaknya hewan kecil—dari sudut mana pun kulihat, dia benar-benar Tachibana Kasuka. Namun, alasan mengapa aku sempat bertanya karena tidak mampu mengenalinya sepenuhnya bukan karena ia mengenakan pakaian miko, atau nada suaranya yang tenang seolah sepuluh tahun lebih tua, bukan hal remeh semacam itu.
"Iya, benar. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Kasuka."
Kasuka yang itu, sedang berbicara dengan suara normal dan percakapan yang masuk akal──.
"Halo, Hibari-chan. Salam kenal dariku. Aku Tachibana──Yuu, salam kenal, for you."
"Yuu? Salam kenal? Anu, maaf. Aku agak bingung sekarang."
"Maaf, maaf, ini mendadak sekali ya. Karena kamu pacarnya Ma-kun ──Masaomi-kun, aku jadi memotong terlalu banyak penjelasan."
Gadis bernama Yuu yang memiliki wajah identik dengan Kasuka itu memanggil Masaomi dengan sebutan "Ma-kun". Aku benar-benar tidak paham lagi apa yang sedang terjadi.
"Aku ini kakak kembar Kasuka, mungkin begitu ya sebutannya. Bisa dibilang kami ini satu raga dua nyawa, atau tepatnya dua otak. Tubuh kami hanya satu, tapi otak kami ada dua. Karena itu, kami berbagi ingatan dari tubuh yang sama, jadi aku tahu tentangmu. Hanya saja, aku berada di sini, tapi sebenarnya aku tidak ada di sini."
Kata-katanya yang seolah merajut filosofi itu sulit ditangkap intinya. Singkatnya, meskipun penampilannya sama dengan Kasuka, Yuu yang berdiri dengan kesan rapuh di depanku ini adalah orang yang berbeda, begitukah?
"Mudahnya begini. Aku adalah penduduk Astral Side."
"Penduduk Astral Side...... Astral Diver? Mana mungkin, kamu tahu tentang Astral Side?"
"Iya. Aku tahu banyak hal. Mungkin lebih banyak darimu. Tapi hari ini aku ingin membicarakan hal yang berbeda. Mungkin tidak akan langsung klik karena fokusmu belum pas, tapi aku akan bicara sendiri saja ya. Aku tidak punya banyak waktu selagi Kasuka sedang 'pergi' ke sana, maaf ya."
Dengan tatapan mata yang menyipit penuh rasa bersalah, Yuu menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Kasuka yang asli──entah benar atau tidak sebutan itu──Yuu bisa sangat memedulikan perasaan Hibari, namun karena ia tetap harus menyampaikan ini, ucapan bahwa ia "tidak punya waktu" pasti adalah sebuah kebenaran.
"Dulu, di wilayah Yuragi ini, ada seorang miko asli yang memiliki otak abnormal sepertiku. Saat itu dia diperlakukan benar-benar seperti utusan Dewa Naga, seperti anak ajaib yang menjadi dewa hidup. Orang itu berperan mengintervensi kekuatan nadi naga di Gunung Yuragi untuk mewujudkan idealismenya──mengabulkan permohonan orang-orang, serta menangkal kelaparan, wabah, dan bencana."
"Itu legenda Kuil Gunung Yuragi, kan? Apa hubungannya dengan Astral Side......"
Pemahamanku tidak sanggup mengejar legenda misterius yang tiba-tiba dimulai ini. Namun meski tidak paham, aku merasa familier dengan isi ceritanya. Itulah legenda Kuil Gunung Yuragi yang tertulis di papan panduan tadi.
Selain itu, di kaki gunung Kinjyu Seibyou dalam Astral Side pun memang terdapat titik buff penguatan melalui nadi naga. Dalam artian itu, legenda dan Astral Side memiliki istilah-istilah yang sama. Jika dianggap sebagai ekspresi ala video game secara luas mungkin masuk akal, tapi pada dasarnya Astral Side sendiri memang memiliki banyak mekanisme yang mirip game. Apakah ini hanya kebetulan, atau justru......
"Dulu sang miko menumpangkan permohonan manusia langsung pada nadi naga, tapi aku menciptakan hal itu dalam bentuk Astral Side. Namun pada hakikatnya, ini adalah hal yang sama. Kamu tahu, kan? Penyelarasan Astral Side akan terhubung langsung dengan penyelarasan Material Side. Aku rasa selama ini kamu memercayai hal itu, dan bisa dibilang ini adalah bukti sejarahnya."
Hibari terdiam seribu bahasa dan menatap wajah Yuu lekat-lekat. Meski rambut putihnya bergoyang ditiup angin musim dingin, mata biru pucatnya tidak goyah sedikit pun.
"Singkatnya, kamu benar-benar telah menyelamatkan dunia ini dengan cara menyelamatkan Astral Side. Tapi sekarang peran itu tidak diberikan lagi padamu. Karena Kasuka, sang miko, sedang berusaha mengatasi masa lalunya yang terbelah dua dan kembali menjadi satu manusia utuh. Secara ringkas, Astral Side yang asli sudah tidak bisa dipertahankan lagi."
Seketika itu juga, wujud Yuu tampak meliuk goyah dan ekspresinya hancur. Padahal ini bukan Astral Side, tapi muncul noise seolah ia sedang dipulangkan paksa. Namun, Hibari pasti juga sedang menunjukkan ekspresi yang sama.
Apakah "tidak punya waktu" itu merujuk pada distorsi ini?
"Aku minta maaf duluan ya. Soal Ma-kun."
"Ma-kun──Masaomi-kun?"
"Karena aku sebagai pengelola menganakemaskan Ma-kun dan menghubungkannya dengan kuat ke Astral Side, dengan prinsip yang sama seperti Guardian──artinya, akibat pengaruh Astral Side yang sedang menyusut, mungkin hal yang tidak baik akan menimpa Ma-kun."
Aku sama sekali tidak bisa mengikuti arah pembicaraannya. Namun, hanya kalimat bahwa "hal yang tidak baik akan menimpa Masaomi" lah yang harus kupahami meskipun harus dipaksakan.
Tanpa sadar aku meremas ramalan 'Sial Besar' di tanganku. Cara bicaranya terdengar seperti sebuah ramalan atau semacamnya. Penampilan miko-nya serta nada bicaranya yang tidak memiliki keraguan sedikit pun memberikan daya persuasi yang aneh, membuat kecemasan yang mendalam melintas di benakku.
"Karena itu, aku mohon lindungilah Ma-kun. Hanya itu yang ingin kusampaikan sekarang."
Yuu perlahan mengulurkan tangan putihnya dan menyentuh jepit rambut Hibari dengan penuh kasih. Seperti percikan listrik statis, aku merasakan sengatan tajam, dan baru sekarang aku menyadari bahwa ini bukanlah mimpi di siang bolong.
"Aku melindungi Masaomi-kun......? Kenapa begitu? Padahal aku sudah tidak bisa dive lagi."
Rasanya wajar jika aku mengatakannya dengan nada agak ketus. Aku sudah cukup bingung dengan istilah pengelola atau anak emas, lalu apa yang harus kulakukan?
Aku teringat saat kencan pertama dengan Masaomi di restoran keluarga. Saat itu aku menceritakan soal Astral Side secara sepihak, apakah saat itu Masaomi juga merasakan hal yang sama denganku sekarang? Dia benar-benar hebat bisa menerimanya dengan begitu tenang.
"Maksudku Ma-kun yang di sini. Karena untuk saat ini, aku belum bisa bermain dengan Ma-kun yang di 'sana'."
"Di sini atau di sana...... lagipula, bukankah sebaiknya kamu katakan langsung saja pada Masaomi-kun?"
"──Karena sulit sekali mengatakan kepada orang yang disukai, 'mungkin hal buruk akan menimpamu gara-gara aku'."
Setelah melontarkan kalimat yang tak bisa diabaikan itu sebagai kata-kata terakhirnya, sosok Yuu lenyap seketika.
"Tunggu──!"
Beberapa peziarah melemparkan pandangan curiga terhadap Hibari yang tiba-tiba berdiri dan berbicara ke ruang hampa, namun ia tidak mempedulikan hal itu.
—Hal buruk akan terjadi pada Masaomi-kun. Aku, harus melindunginya.
Informasi yang datang bertubi-tubi seperti gelombang pasang membuat bagian dalam otaknya terasa nyeri. Rasa "pemahaman paksa" yang mendesak—serupa dengan saat berbagai informasi mengalir masuk di Astral Side—membuat instingnya menjerit.
Waktu berlalu dalam keheningan yang cukup lama, hingga embusan napas putihnya bisa diibaratkan sebesar balon raksasa.
"Ada apa, Hibari? Sepertinya tadi kamu sedang berbicara dengan seseorang."
Suara Masaomi terdengar di waktu yang tepat, memecahkan balon putih itu dan menarik kembali kesadarannya.
—Aku akan baik-baik saja. Bukankah aku sudah berdoa kepada Dewa agar asalkan ada kamu, itu sudah cukup?
Karena itu, "Sial Besar" macam apa pun, pasti bisa kulewati.
Hibari berdiri terpaku dengan langkah limbung seolah baru saja menyelesaikan dive. Saat Masaomi menanyakan keadaannya, ia menceritakan hal yang sulit dipercaya. Seorang miko yang sangat mirip Kasuka bernama Yuu mengaku sebagai penduduk Astral Side dan meramalkan bahwa hal buruk akan terjadi pada Masaomi.
"Tapi baru saja ada pesan kalau Kasuka dilarikan ke rumah sakit. Aku bicara langsung dengan Gen-san, jadi ini pasti benar. Beliau juga bilang belum pernah bertemu Kasuka lagi sejak dia pingsan saat sedang bekerja paruh waktu."
"......Maafkan aku. Secara objektif, aku pasti terdengar sedang meracau, kan?"
Mungkin karena sudah terlalu kedinginan, Hibari memeluk lengannya sendiri sambil menggigil. Masaomi menyesal karena membiarkan obrolannya dengan Gen berlangsung terlalu lama, namun ia merasa penyebab kegelisahan Hibari bukan hanya karena cuaca dingin.
"Ramalan cuaca bilang siang ini akan cerah, tapi sepertinya langit mulai mendung. Ayo cepat pulang. Bahaya kalau kamu sampai masuk angin, dan mungkin kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku akan belikan minuman hangat dulu."
Sambil menatap langit, Masaomi berbicara, dan Hibari hanya mengangguk dalam diam.
Sebenarnya Masaomi ingin menjenguk Kasuka, namun saat ini menenangkan Hibari yang sedang kacau adalah prioritas utamanya.
Mereka kembali menyusuri jalan setapak kuil dan menaiki kereta gantung. Selama perjalanan, Hibari terus menggenggam kaleng teh hangat dengan kedua tangannya, dan sepertinya itu sedikit menenangkannya. Saat turun di stasiun kaki gunung, ekspresi wajah Hibari sudah jauh lebih rileks.
Tepat saat mereka naik bus menuju Stasiun Kutsuna, Masaomi melanjutkan pembicaraan tadi.
"Soal cerita tadi. Aku dengar kakak Kasuka sebenarnya tidak sempat lahir ke dunia. Yuu? Jika meminjam istilahnya, 'dua otak satu raga' itu terdengar seperti kepribadian ganda atau semacamnya. Tapi jika begitu, berarti raga Kasuka yang sedang dirawat di rumah sakit harusnya datang ke kuil ini."
"Hantu, mungkin ya. Tapi bagiku yang juga sudah tidak normal ini, aku tidak bisa menampik hal-hal yang tidak realistis seperti itu."
Masaomi bingung apakah ia harus membenarkan perkataan Hibari yang bernada mencela diri sendiri itu. Memang hal ini terasa tidak nyata, dan Astral Side pun bisa saja dianggap sebagai kategori okultisme oleh orang lain.
"Gadis itu memanggil Masaomi-kun dengan sebutan 'Ma-kun'. Apakah kalian saling kenal?"
"......Mungkin, itu adalah Kasuka yang dulu. Aku sendiri pun baru mengingatnya tadi."
Teman masa kecil Masaomi yang pernah bermain Kurokomi bersamanya dulu memanggilnya dengan sebutan itu. Sosok itu pastilah Kasuka sebelum jatuh ke bendungan—atau meminjam istilah Gen, sebelum ia "tertukar". Seorang gadis yang tampak bijaksana dan memperlakukan Masaomi layaknya seorang adik. Janji yang pernah ia langgar hingga membuat gadis itu marah, dan sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
"Tachibana-san yang dulu adalah... penduduk Astral Side? Bagaimana bisa dia ada di sini?"
"Soal itu, aku juga tidak mengerti. Tapi──hmm?"
"Tapi apa? Ada apa, Masaomi-kun?"
Beberapa pesan dari Keiji masuk. Ada perkembangan mengenai pengobatan gangguan koma kronis yang beberapa kali dibantu oleh Masaomi dan Tsubaki, nomor kamar rawat Kasuka, dan juga...
"Keiji bilang dia langsung memeriksa gelombang otak Kasuka. ......Katanya, muncul pola gelombang CCD."
Mata Hibari membelalak. Tentu saja, karena itu berarti──
"Kasuka telah menjadi seorang Astral Diver? Tapi jika begitu, berarti saat ini Kasuka sedang melakukan dive, lalu Yuu yang Hibari temui tadi adalah...... aw!"
"Masaomi-kun, itu......!"
Hibari menunjuk ke arah leher Masaomi dengan suara serak. Karena sulit melihatnya sendiri di kursi bus yang sempit, Masaomi meminta Hibari memotretnya dengan ponsel, lalu ia memeriksa data gambarnya.
Di lehernya muncul bengkak merah memanjang yang besar. Efek dari Astral Side yang sudah tidak pernah ia lihat lagi sejak Hibari kehilangan kemampuan dive. Bengkak yang meliuk seperti ular itu berlanjut hingga ke balik kerah baju. Meskipun tidak bisa memastikannya sekarang, sepertinya bengkak itu menyebar luas di bagian tubuh Masaomi.
—Maafkan aku ya, Ma-kun.
Masaomi merasa seolah mendengar suara itu dan spontan mengedarkan pandangan ke dalam bus. Tentu saja, baik Kasuka maupun Yuu tidak ada di sana.
"Hibari sedang tidak melakukan dive. Tapi efeknya muncul di tubuhku. Apakah ini 'hal buruk' yang dikatakan Yuu tadi?"
"Yuu-san memintaku untuk melindungimu, tapi jika terjadi sesuatu padamu, aku......!"
"Tenang saja. Berkat sang Noble Lark yang terkuat, aku sudah terbiasa dengan bengkak seperti ini. Biasanya hanya sakit sebentar saja, jadi jangan dipikirkan terlalu serius."
Masaomi mencoba tertawa untuk menenangkan Hibari yang tampak sangat terguncang dan seolah ingin mengatakan sesuatu lagi. Jika ia tidak bisa tertawa di saat seperti ini, lalu kapan lagi? Ia meyakinkan dirinya sendiri dan memaksa sudut bibirnya untuk terangkat.
Melihat Masaomi yang sudah tidak lagi berwajah datar, Hibari sepertinya merasa sedikit tenang dan tidak mengejar penjelasan lebih lanjut.
──Rasanya cukup perih.
Sepertinya, ini berbeda dari bengkak mimizubare yang biasanya. Yuu bilang ini adalah efek karena ia "menganakemaskanku", tapi apa sebenarnya maksudnya? Apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku dan Kasuka sekarang?
"Di saat seperti ini, aku malah tidak bisa melakukan dive atau apa pun. Seandainya saja aku bisa pergi ke Astral Side..."
Tidak bisa melakukan dive ke Astral Side.
Kalimat Hibari yang terdengar seperti penyesalan itu menyadarkanku pada sesuatu.
"Hei, soal kamu yang tidak bisa dive lagi... waktu itu ada pertanda seperti kamu ditendang keluar secara paksa, kan? Kapan tepatnya itu mulai terjadi?"
"E-eh... seingatku sekitar akhir Oktober."
Saat Kasuka mulai jatuh sakit dan sering absen pun kalau tidak salah pada waktu yang hampir bersamaan. Apakah ini benar-benar hanya kebetulan? Jika kondisi buruk Kasuka disebabkan karena ia menjadi seorang Diver, maka dive tersebut memberikan pengaruh pada Astral Side, dan hal itu berkaitan dengan eksistensi Yuu──jika dipikir seperti itu, semuanya terasa mulai masuk akal.
Tentu saja, aku tidak punya bukti. Namun, sesuatu yang melampaui intuisi memberitahuku bahwa ini tidak sepenuhnya meleset. Sesuai dengan perkataan Yuu bahwa Masaomi dan Astral Side terhubung dengan kuat, mungkin ini adalah semacam kemampuan persepsi sebagai seorang Diver.
Rasa perih pada bengkak di leherku meningkat seolah merespons pikiranku, membuatku meringis. Apakah berlebihan jika aku merasa ini sedang beresonansi dengan hatiku? Namun, seorang Diver pada dasarnya adalah entitas yang menjadikan kekuatan keyakinan sebagai tumpuan hidup. Kalau begitu, aku akan mencoba memercayainya.
"Masaomi-kun, kamu berkeringat. Kamu benar-benar tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Aku cuma kepikiran soal Kasuka. Waktu kamu tidak bisa dive lagi dan waktu Kasuka jatuh sakit itu hampir bersamaan. Jika Yuu benar-benar kakak Kasuka dan datang ke sini dari Astral Side, mungkin Kasuka tahu sesuatu."
"Mungkin saja... tapi dia kan sedang dirawat di rumah sakit?"
"Aku punya sahabat karib si keparat bajingan yang punya koneksi kuat soal begituan. Namanya Orito Keiji."
"......Sebagai orang yang berobat di rumah sakit yang sama, itu bukan lelucon yang lucu," ujar Hibari dengan nada sangat jengah. Aku pun setuju sepenuhnya.
Tak lama kemudian, kami turun dari bus, naik kereta, dan sampai di stasiun terdekat dari rumah Hibari.
Langit tampak mendung pekat, membenarkan ramalan salju untuk malam nanti. Jalanan yang jarang terkena sinar matahari pun terasa gelap dan sangat dingin, ditambah sisa-sisa salju di sana-sini yang menusuk tulang. Tanpa perlu alasan, kami berdua berjalan sambil merangkul lengan secara alami.
Meskipun napas kami memutih dan tangan membeku──bahkan tanpa melakukan dive pun──aku merasa selama kami berdua bersama, tempat ini terasa hangat seolah dilindungi oleh sebuah penghalang.
Rumah Hibari sudah sangat dekat. Seolah memahami rasa enggan kami untuk berpisah, lampu lalu lintas di persimpangan terakhir berubah menjadi merah. Sambil menginjak-injak sisa salju dengan suara shari-shari, Masaomi melamun memikirkan bagaimana caranya mencium Hibari saat berpisah nanti.
Akhirnya, lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Tetap menempel seperti aksesori pasangan, tepat saat mereka melangkah beberapa depa seolah membuang rasa berat hati──sensasi seolah tanah di bawah kaki mereka meliuk hebat menyerang Masaomi.
"──Gempa?"
Suara heran Hibari memberitahunya bahwa sedang terjadi gempa bumi. Namun, yang ditangkap oleh Masaomi adalah dorongan yang jauh lebih kuat dan berbahaya daripada sekadar gempa.
──Dive. Tepatnya, sebuah paksaan untuk "di-dive-kan".
Di saat yang sama, rasa sakit yang tajam menusuk punggungnya, disusul sakit kepala layaknya sengatan listrik. Sakit kepala itu menyebar perlahan dari bagian terdalam otaknya, lalu berubah menjadi rasa ngeri yang seolah ingin mencabut seluruh kesadaran Masaomi hingga ke akarnya. Rasa ngeri yang menjalar ke seluruh tubuh ini bukan lagi sekadar bengkak biasa, ia merasa seolah sedang dililit oleh naga raksasa, dan secara insting ia menyadari bahwa kesadarannya akan segera meninggalkan raganya.
"Syukurlah. Sepertinya guncangannya tidak besar──Masaomi-kun?!"
Suara Hibari terdengar jauh. Aku yakin sudah mengucap "aku tidak apa-apa", tapi aku tidak percaya diri.
Kepalaku sangat pusing. Tak tahan lagi, aku membungkukkan tubuh, padahal kami sedang berada di atas zebra cross. Aku harus mendongak dan berjalan. Apa Hibari tidak ikut tertarik ke "sana"? Kalau begitu, setidaknya dia harus segera menjauh.
──Gawat.
Indraku yang sedang meluas karena mencoba terhubung ke Astral Side menangkap suara yang asing. Suara melengking ban yang berputar tanpa kendali.
"Ada apa?! Ini bukan karena gempanya... ternyata kamu memang sedang tidak sehat, kan?! Hei?!"
Berbeda dengan Hibari yang biasanya tenang, suara melengking penuh keputusasaan terdengar tumpang tindih. Hibari terlalu sibuk menatap wajah Masaomi hingga ia sama sekali tidak menyadari suara decitan ban yang begitu keras.
Di ujung pandangan yang dipaksakan, sebuah bongkahan malapetaka terpampang nyata. Sebuah mobil van yang sedang belok kanan tampak bergoyang hebat. Mobil itu mencoba masuk dengan kecepatan yang tidak wajar hingga bannya tergelincir di atas sisa salju di persimpangan.
──Aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Tanpa sempat melambat secara berarti, van itu tidak kunjung berhenti. Mobil itu menerjang ke arah sini. Mungkin si pengemudi tidak melihat Masaomi dan Hibari. Tidak, meskipun ia melihat, ia sudah kehilangan kendali atas kendaraannya. Kami akan tertabrak!
──Kalau begitu, berpikirlah. Berpikir, berpikir, berpikir, berpikir, berpikir──!!
Sensasi ditarik menuju Astral Side membuat waktu di Material Side terasa melambat. Tubuhku terasa sangat berat. Tidak bisa digerakkan seolah terikat. Tidak mungkin menggendong Hibari dan lari dari posisi mendekam ini. Apa yang harus kulakukan. Van itu datang. Apa yang harus kulakukan. Apa yang bisa kulakukan di dunia nyata. Jika aku adalah Masaomi──jika aku adalah seorang Guardian.
──Seandainya saja di sini adalah Astral Side.
『Lindungi Hibariiii!!』
Di dalam jiwanya yang tanpa suara, ia merasakan sebuah kepastian.
Entah yang bergerak itu kedua tangannya ataukah sebuah penghalang, itu tidak penting lagi.
Di dalam pandangan Masaomi yang melambat layaknya cuplikan frame-by-frame, ia melihat dengan jelas Hibari terlempar dengan kasar dan jatuh terduduk di trotoar sisi terdekat. Ia pasti sudah sepenuhnya keluar dari jalur tabrakan van itu. Begitu saja cukup. Selama kesalahan itu tidak terjadi, apa yang terjadi setelahnya...
Fakta bahwa Masaomi sendiri tidak bergerak dari tempatnya, itu tidak penting.
Tepat saat ia hampir melupakannya, hantaman yang menerbangkan seluruh tubuhnya pun datang.
──Ah, terulang lagi ya.
Suara klakson yang menggelegar, decitan rem yang meraung, teriakan yang entah milik siapa──semuanya tidak terdengar. Kecelakaan lalu lintas musim semi tahun lalu yang sudah hampir terlupakan. Saat itu pun, rasanya persis seperti──.
Pikiran yang seolah membakar otak hingga ke batas maksimalnya pun berakhir di sana.
"Bohong...... ini bohong, kan? Masaomi-kun...... Masaomi-kun...... Masaomi-kun! Jawab aku──TIDAKKKKK!!"
Aku tidak merasa akan kalah dari Dewa yang memutuskan benang takdir. Namun, sambil berharap agar Hibari tidak menangis, kesadaran Masaomi pun terputus seketika.




Post a Comment