Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 5
Si Kembar Tampaknya Ingin Mengungkapkan Kebenaran
Unit 3LDK di kediaman Tsubasa ini sangat mewah karena memiliki masing-masing dua kamar mandi dan dua toilet.
Satu untuk laki-laki dan satu lagi untuk perempuan—artinya, aku dan si kembar akan menggunakannya secara terpisah.
Sejujurnya, aku merasa sangat bersyukur karena menggunakan kamar mandi atau toilet bersama gadis sebaya akan terasa memalukan. Tentu saja, bagi si kembar yang adalah perempuan, hal itu pasti akan jauh lebih memalukan lagi. Namun, jika boleh jujur, aku sebenarnya masih belum sepenuhnya setuju untuk tinggal di rumah ini......
"Aku benar-benar terbawa suasana, ya."
Saat menyatakan cinta pada Yuzuki dan mendengar jawaban yang aneh darinya, aku sempat merasa siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Namun, setelah selesai makan, mandi, dan mulai tenang, perasaan seperti "apa sebenarnya yang kulakukan?" mulai muncul dan bergejolak di dalam benakku.
Ya, kenyataannya aku bahkan sudah selesai menumpang mandi di sini. Meskipun ini adalah apartemen mewah, luas kamar mandinya masih dalam batas wajar. Tetap saja, ukurannya jauh lebih besar daripada kamar mandi keluarga Masaki yang sederhana, dan aku terkejut karena ada ruang shower yang terpisah dari bak mandi dan area bilas.
Apakah benar-benar perlu dipisah seperti itu?
Ada fitur jacuzzi-nya juga, dan layar monitor yang bisa ditonton sambil berendam tidak hanya menayangkan TV, tetapi juga terhubung ke internet dan bisa dioperasikan melalui panel sentuh tahan air. Fasilitasnya benar-benar terlalu lengkap. Benar-benar sebuah kenyamanan yang luar biasa; aku tidak perlu melakukan apa pun kecuali menggerakkan sumpit untuk makan.
"Fuu...... kalau terus di sini, aku pasti akan menjadi orang yang tidak berguna, itu sudah pasti."
Setelah keluar dari kamar mandi, sekarang aku sedang bersantai di kamar. Aku belum merasa kalau ini adalah kamarku sendiri, tetapi berkat bantal empuk yang rasanya seperti sedang duduk di atas awan, aku bisa merasa sangat rileks.
"Masaki-san, boleh aku bicara sebentar?"
"Uwoh!"
Tepat setelah mendengar suara ketukan pintu, Fuuka masuk ke dalam.
"A-ada apa, Fuuka?"
"Tidak ada apa-apa, maukah kamu ke ruang tamu? Ini baru jam sembilan, masih terlalu pagi untuk tidur."
"A-ah, baiklah. Hm? Fuuka juga sudah mandi?"
Dia mengenakan terusan putih berlengan pendek yang tampak melambai. Sekilas tidak jauh berbeda dengan pakaian rumahnya tadi, tapi mungkin ini adalah baju tidur. Rambutnya yang terurai tampak masih sedikit lembap.
"Iya, aku baru saja selesai. Di rumah kami, biasanya kami langsung mandi setelah selesai makan."
"Hal semacam itu memang berbeda-beda di setiap keluarga, ya."
Kedai ramen keluargaku buka sampai jam sepuluh malam, ditambah lagi butuh waktu lebih dari dua jam untuk bersih-bersih dan persiapan hari berikutnya. Karena sangat sibuk, urusan makan dan mandi dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga secara terpisah kapan pun mereka sempat. Bahkan untuk urusan mandi saja, pasti ada aturan lokal masing-masing, entah itu sebelum makan atau sesaat sebelum tidur. Jika aku menumpang di kediaman Tsubasa, sudah sepatutnya aku mengikuti aturan mereka. Itu pun jika sudah dipastikan bahwa aku memang akan menumpang di sini.
"Pokoknya, ayo ke sana. Yuzu-nee juga akan segera datang."
"He-hei."
Fuuka meraih tanganku, memaksaku berdiri, lalu menarikku.
Tadi di stasiun pun dia menarikku seperti ini. Meskipun si adik kembar ini terlihat anggun, sepertinya kepribadiannya pun sama kuatnya dengan kakaknya. Terlebih lagi karena dia memakai baju tidur, kainnya terasa lebih tipis daripada pakaian rumah tadi, sampai-sampai kulit di baliknya hampir terlihat transparan.
Di sekitar bokongnya, garis celana dalamnya tampak samar-samar menyembul...... Hei, berhenti. Kalau begini, aku malah terlihat seperti orang cabul.
Akhirnya, aku kembali lagi ke ruang tamu. Atas ajakan Fuuka, aku duduk di sofa. Sofa ini sangat empuk, jenis kelembutan yang bisa membuat orang menjadi manja karena rasanya seperti tubuhmu sedang didekap.
"Ah, bagaimana tadi mandinya? Sudah mengerti cara pakainya?"
"Iya, Yuzuki sudah memberi tahuku. Mandi di tempat orang lain biasanya agak membingungkan, tapi tadi lancar-lancar saja."
Apalagi kamar mandi di apartemen mewah seperti ini, peralatannya terlalu modern...... Aku sempat khawatir akan merusak sesuatu jika sembarang menyentuh tombol. Jika tidak diajari, aku pasti akan kebingungan hanya untuk sekadar mengeluarkan air hangat.
"Syukurlah. Ada banyak fitur di sana, jadi jika ada hal yang mengganjal, silakan panggil aku kapan saja."
"Tidak mungkin aku memanggil Fuuka ke kamar mandi, kan......"
Memanggil gadis sebaya saat aku sedang berada di kamar mandi dalam keadaan telanjang? Itu benar-benar tidak masuk akal. Apa dia tidak paham kalau laki-laki pun merasa malu jika aktivitas mandinya dilihat?
"Memang ada interkom, tapi bukankah memperlihatkan contohnya secara langsung adalah cara yang paling cepat?"
"Dalam hal ini, aku lebih mementingkan etika daripada kecepatan."
"Etika, ya? Hal itu sulit bagi kami. Sepertinya kami sendiri adalah sosok yang jauh dari kata 'umum' atau 'normal'."
"Baguslah kalau kalian sadar diri."
Saudara kembar takdir yang sinkron secara ajaib, cantik, dan kaya raya. Memang benar, mereka sepertinya tidak punya banyak kaitan dengan kehidupan orang normal pada umumnya.
"Tapi, Masaki-san juga sebenarnya agak menyimpang dari kewajaran, lho? Secara logika, biasanya orang tidak akan menolong gadis yang sedang dilecehkan atau digoda di jalan, kan?"
"Begitukah? Bagiku tidak ada ruginya, jadi ya aku coba bantu saja, kan?"
"Ti-tidak akan ada yang mau melakukannya. Maksudku, ada kerugiannya. Orang yang melakukan pelecehan itu kan otaknya sudah tidak beres, kalau terlibat dengan mereka sembarangan, kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika mereka mengamuk."
"Kamu memandang segala sesuatu dengan sangat pesimis, ya..."
Atau lebih tepatnya, dia bicara sesuka hatinya. Aku tidak perlu membela para peleceh itu, jadi dia boleh bicara apa pun sesukanya.
"Orang yang menggoda dengan memaksa pun kurang lebih sama. Kakakku itu, meski dari luar terlihat mencolok, tangguh, dan tampak gampangan, tapi..."
"Apa kamu baru saja menyelipkan ejekan?"
"Padahal dia itu sebenarnya cukup ceroboh, tahu? Kalau diganggu terus-menerus, dia mungkin tidak bisa menolak dan akhirnya ikut saja dengan mereka, entah apa yang akan terjadi padanya nanti. Aku pun ingin berterima kasih karena kamu sudah menolong Kakak."
Fuuka mengabaikan komentarku dan melanjutkan penjelasannya, lalu diakhiri dengan senyuman manis. Yah, terlepas dari ejekannya terhadap kakaknya sendiri—
"Adik tidak perlu berterima kasih hanya karena kakaknya ditolong dari gangguan pria hidung belang, kan."
"Apa kamu lupa? Kami berdua ini memiliki sinkronisasi yang luar biasa, lho."
"Hm...? Apa maksudnya?"
"Jika Kakak dibawa ke suatu tempat dan mengalami hal mengerikan yang tidak bisa diceritakan, aku pun mungkin akan mengalami hal buruk yang serupa di tempat lain."
"I-itu terlalu berlebihan—atau mungkin tidak?"
Apakah saudara kembar memang sesinkron itu bahkan dalam hal kemalangan yang melibatkan kriminalitas? Jika tingkat sinkronisasi saudari Tsubasa ini memang luar biasa, mungkin saja itu bisa terjadi...
"Ada apa, ada apa? Sedang bicara apa?"
"Ah, Yuzu-nee."
Kali ini, Yuzuki muncul di ruang tamu. Sama seperti adiknya, rambutnya terurai dan tampak masih sedikit lembap. Dia mengenakan camisole putih yang memperlihatkan belahan dadanya dengan jelas, serta celana pendek biru tua yang memamerkan pahanya. Pakaian ini pun tidak jauh berbeda dengan baju rumahnya tadi, tingkat eksposurnya cukup luar biasa—tapi, ini rumah mereka.
Wajar saja jika mereka bersantai dengan pakaian yang nyaman setelah mandi, aku tidak bisa protes. Meskipun payudara yang bergoyang lembut dan paha putihnya itu benar-benar menjadi cobaan bagi mata laki-laki...
"Jangan mengobrol seru berduaan saja dong. Ada apa?"
"Tidak ada, aku dan Masaki-san sedang membicarakan betapa cerobohnya Yuzu-nee."
"Aku tidak bilang begitu!?"
"Juga soal gampangan dan mesum... siapa tadi yang bilang begitu ya?"
"Sudah jelas itu kamu tanpa perlu diperdebatkan lagi! Lagipula kamu malah menambahkan kata-kata yang lebih parah!"
"Kalian sebenarnya bicara apa sih... ya sudahlah, tidak apa-apa."
"Kamu tidak keberatan!?"
Yuzuki tidak tampak peduli dan langsung duduk di sofa. Bagi kembar ini, mungkin kata-kata tadi bahkan tidak dianggap sebagai ejekan. Terlepas dari itu—si kembar ini kembali mengambil posisi di kedua sisiku. Apakah posisi duduk seperti ini akan menjadi setelan standar mulai sekarang...?
"Jadi, bagaimana mandinya tadi, Masaki?"
"A-ah."
Aku mengulangi pembicaraanku dengan Fuuka tadi.
"Sepertinya Masaki bisa tinggal di sini tanpa masalah. Rumah yang cukup bagus, kan?"
"Terlalu nyaman, sampai-sampai aku merasa tidak tenang. Rumahku itu kan rumah tua yang sudah dibangun tiga puluh tahun lalu."
"Kedai ramen itu sudah setua itu ya? Tapi, bangunannya terlihat cukup bersih, kan?"
"Iya, bagian dalam kedainya bersih, dan aku tidak menyangka kalau rumahnya sudah seusia itu."
"Tentu saja, ini kan bukan zaman Showa lagi. Kalau kedai ramennya kotor, pelanggan tidak akan datang. Tapi meski penampilannya terlihat kuno—tunggu sebentar!"
Aku menatap wajah Yuzuki dan Fuuka bergantian. Ah, repot sekali harus menoleh ke kiri dan kanan untuk melihat wajah mereka.
"Kalian pernah datang ke rumahku!?"
"Tentu saja. Wajar kan kalau kami menyelidiki rumah orang yang kami sukai. Karena kamu punya kedai, tentu saja kami pergi melihatnya. Saat kami ke sana, Masaki juga sedang bekerja."
"Aku sama sekali tidak sadar..."
"Kami pergi dengan menyamar agar tidak ketahuan oleh Masaki-san. Seperti ini."
Fuuka memperlihatkan layar ponselnya. Foto yang ditampilkan adalah foto selfie si kembar yang memakai topi yang ditarik rendah, kacamata berbingkai hitam, sambil berpose peace. Penampilan mereka seperti selebritas yang sedang menyamar. Pantas saja aku tidak sadar. Mereka bahkan memotret foto ramennya dengan jelas. Tidak salah lagi, itu mangkuk Shinryu dan hasil tata letak Ayah.
"Ah, adik perempuan Masaki sangat aktif melayani pelanggan, ya."
"Anak itu kecil dan imut. Dia sangat cocok memakai cheongsam merah menyala itu."
"Adikmu yang pakai cheongsam rok mini itu, apa tidak bisa dibawa pulang?"
"...Dia adalah gadis maskot keluarga kami yang berharga, jadi kami tidak melayani layanan take-out untuknya."
Si kembar sepertinya menyukai adikku, Masaki Wakaba. Aku harus mengakui kalau dia punya wajah imut yang membuat orang tidak percaya kalau dia punya hubungan darah denganku yang berwajah seram ini. Hanya saja, sepertinya si kembar ini pun tertipu oleh citra luar adikku...
"Sayang sekali. Lain kali aku ingin dilayani olehnya lagi."
"Jika kita memberi tip yang banyak, apa kita bisa mengobrol dengannya di meja?"
"Shinryu tidak menyediakan layanan seperti itu..."
Apa yang ingin mereka lakukan pada anak SMP, sih?
"Cih, membosankan. Ah, Masaki waktu itu hanya mengerjakan tugas kasar seperti merapikan alat makan dan mencuci piring, ya."
"Biar saja. Pelanggan juga lebih suka dilayani adikku yang perempuan daripada laki-laki kusam sepertiku, kan."
"Kalau aku, aku akan sangat senang jika Masaki-san yang melayaniku."
"......Pelanggan seperti itu tidak akan datang meski 1:100 orang."
Tidak, dalam dua puluh tahun sejarah Shinryu, mungkin tidak pernah ada satu pun pelanggan seperti itu. Padahal aku sendiri belum hidup sampai dua puluh tahun.
"Ramen di rumah Masaki enak, lho. Karena direkomendasikan, aku sampai memesan setengah porsi nasi goreng juga."
"Adikmu cukup pandai berjualan, ya. Karena ditawari dengan penuh semangat, aku juga akhirnya menambah pesanan gyoza."
"Anak itu... padahal sudah kubilang jangan terlalu agresif pada pelanggan yang baru pertama kali datang......"
Adikku itu memang pandai merayu, atau lebih tepatnya, pelanggan pria biasanya berakhir memesan makanan dalam jumlah yang tak sanggup mereka habiskan jika sudah dirayu olehnya. Keahlian adikku adalah mempermainkan orang. Kalau pelanggan terlihat akan menyisakan makanan, dia sengaja lewat di dekat meja mereka dengan wajah sedih; aku sampai khawatir suatu saat dia akan membuat perut pelanggan meledak.
"Lagipula, rasa makanan kami seharusnya bukan jenis rasa yang bisa memuaskan orang-orang yang tinggal di tower mansion seperti ini, kan."
"Wah, itu menyinggung perasaan, lho. Kami juga manusia biasa seperti Masaki, tahu. Apa yang menurut Masaki enak, kami juga menganggapnya enak."
"Yah, ramen buatan Ayah memang cukup enak, sih—tapi, bukan itu maksudku."
"Kami juga tidak makan makanan Prancis atau kaiseki setiap hari, kok. Terkadang kami hanya makan nasi pakai telur mentah atau natto saja."
"......Cukup merakyat juga ya."
Aku tidak merasa buruk saat ramen keluarga kami dipuji, tapi......
Kalau dipikir-pikir, makan malam tadi pun menu tonkatsu, jadi mungkin aku bisa menjalani kehidupan sehari-hari tanpa merasa tidak puas dengan makanannya. Bakal jadi neraka kalau setiap hari harus makan pasta cantik atau salad yang menu-menunya terlalu menonjolkan "sisi feminin".
"Hm? Tunggu sebentar. Yuzuki, Fuuka, apa kalian sedang berusaha menyesuaikan diri denganku? Memang benar kita tidak bisa makan makanan mewah setiap hari, tapi apa makanan yang disesuaikan dengan selera laki-laki sepertiku tidak berat bagi kalian?"
Sama seperti menu yang hanya berisi pasta dan salad akan menjadi neraka bagiku. Bagi saudari Tsubasa, bukankah makanan yang pekat dan porsinya besar kesukaan siswa SMA itu terlalu berat?
"Masaki ternyata orang yang sangat perhatian, ya. Padahal kupikir kamu tipe orang yang akan menerima apa pun yang disajikan tanpa bertanya."
"Kami juga makan apa yang kami suka, kok. Lagipula, kita kan sudah tinggal bertiga. Tidak perlu khawatir."
"Kalau begitu syukurlah......"
"Tapi, Masaki. Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu suka di sini, tahu?"
"Benar, kamu boleh 'menikmati' sesukamu, lho?"
"Menikmati apa, makanannya kan sudah habis—"
"Freya, pencahayaan Moonshine."
《Dimengerti, mengubah pencahayaan ke Moonshine.》
"Nn......?"
Seketika, lampu di ruang tamu berubah menjadi redup. Suasananya menjadi aneh, seolah-olah ada cahaya bulan yang meresap masuk secara samar.
"A-apa ini?"
"Ini smart speaker. Karena alat ini hanya merespons suara yang terdaftar, nanti suara Masaki juga akan kita daftarkan, ya."
"O-oh, kalau itu sih tidak masalah, tapi......"
Di rumah keluarga Masaki memang tidak ada, tapi aku tahu apa itu smart speaker. Aku tahu alat itu bisa memutar musik dan mengoperasikan peralatan elektronik. Tapi, kenapa tiba-tiba lampunya berubah jadi seromantis ini......?
"Masaki."
"Masaki-san."
"He-hei......!?"
Tiba-tiba, si kembar memelukku dari kedua sisi. Sensasi dua gundukan lembut terasa ganda......!
"Kita sudah makan dan sudah mandi. Setelah ini—tinggal menikmati malam, kan?"
"Tinggal menikmati kami saja, kan?"
"Menikmati kalian maksudnya...... Tung- hei......!"
Baru saja kupikir mereka berdua sedang mendekapku erat. Tiba-tiba Yuzuki melepaskan pelukannya sejenak.
"Nn......"
"............!"
Cup, bibir kami bertaut. Bibir lembut Yuzuki menekan bibirku—lalu menjauh lagi dengan sedikit suara kecupan.
"Yu-Yuzuki......?"
"Kami memang memaksakan perasaan kami padamu. Hal seperti 'kembar takdir' pun tidak ada hubungannya denganmu, kan. Tapi, kami juga ingin berusaha sebisa mungkin untuk memahami perasaanmu."
"Ta-tapi tetap saja, yang barusan itu......!"
Aku tidak menyangka akan berciuman di hari yang sama saat aku menyatakan cinta. Terlebih lagi, sambil dipeluk oleh adik kembar dari orang yang kutembak itu.
"Saat ini, orang yang Masaki-san sukai adalah Yuzu-nee, kan. Aku mengerti hal itu. Aku masih sekadar 'bonus', ya."
"Tidak, bukan begitu."
Aku menggelengkan kepala dengan mantap agar terlihat jelas meski dalam keremangan cahaya.
"Kamu berulang kali bilang soal 'bonus', tapi aku tidak menganggapmu begitu. Karena aku sudah memutuskan untuk memacari kalian—Fuuka, kamu juga pacarku."
"Wah."
Fuuka memekik kecil, lalu memelukku semakin erat.
"Uuu! Ternyata aku tidak salah pilih Masaki-san. Tapi, aku sendiri yang masih merasa kalau aku ini bonus. Karena itu—setidaknya, ciuman pertama haruslah dengan Yuzu-nee yang paling Masaki-san sukai."
"Aku sudah melakukannya sekali, jadi sekarang giliran Fuuka juga boleh."
"Karena sudah diizinkan......"
"He-hei......"
Cup...... Fuuka menempelkan bibirnya dengan malu-malu.
Mungkin bukan karena mereka kembar, tapi rasanya kelembutannya pun benar-benar sama persis.
"Ah, akhirnya kita bisa sampai sejauh ini ya, Yuzu-nee."
"Benar, rasanya lama sekali... ahn, tidak cukup, aku mau lagi!"
"............!"
Yuzuki menangkupkan tangannya di pipiku, lalu mengecup bibirku berkali-kali. Di saat yang sama, Fuuka juga terus-menerus menekan bibirnya ke pipiku.
"Ga-gantian, Yuzu-nee..."
"Ahn, sebentar lagi...!"
Fuuka memegang pipiku dan dengan paksa melanjutkan ciuman bertubi-tubinya.
"Ngh, cup, nnh... Masaki-san..."
"A-aku juga... nchu, ngh, cup, cup..."
Yuzuki dan Fuuka bergantian mengecupku berkali-kali. Aku sampai mulai bingung bibir siapa yang sedang menciumku sekarang.
"He-hei... tunggu, tunggu sebentar!"
"......Kamu tidak suka?"
"......Apa kamu tidak menyukainya?"
"Bukan begitu. Bukan itu maksudku..."
Aku mencengkeram bahu si kembar dengan kedua tanganku dan mendekap mereka.
"Memang benar aku lebih dulu menyukai Yuzuki. Tapi, karena aku sudah menyatakan akan memacari kalian berdua sekaligus, aku tidak berniat membeda-bedakan kalian!"
"Eh, apa maksudnya..."
"Eh, itu maksudnya apa..."
Mungkin ini bukan soal kejantanan. Tapi, karena aku sudah menerima Yuzuki dan Fuuka, maka:
"Meski mungkin ada yang harus menjadi yang pertama dalam urutan—tapi dalam perasaanku, aku menerima kalian berdua secara bersamaan! Kalau begitu... baiklah, keluarkan lidah kalian, kalian berdua!"
"Li-lidah?"
"Lidah?"
Meski sempat ragu, Yuzuki dan Fuuka menjulurkan lidah mungil mereka yang lucu. Aku pun menjulurkan lidahku dan memautkan lidah kami bertiga.
"Nnnh...!?"
"Nnnnh...!"
Yuzuki dan Fuuka tampak terkejut sesaat, namun mereka segera membalas pautan lidahku dengan penuh semangat. Memang sulit untuk mencium bibir mereka berdua sekaligus, tapi kalau ujung lidah, kami bisa saling memautkan seperti ini. Walaupun hal itu pun cukup sulit dilakukan—
"Nnh, cup, chururu..."
"Nnh, cup, chuuuu..."
Kami saling memautkan lidah, terkadang mengecup bibir, lalu memautkan lidah lagi. Aku mengulum dan menghisap lidah Yuzuki, lalu setelah melepaskannya, aku melakukan hal yang sama pada lidah Fuuka. Aku menikmati rasa bibir dan lidah si kembar sepuasnya, memeluk mereka erat, lalu mencium dan memautkan lidah lagi.
"Ngh, ngh, nnnnh!"
"Fwah, ngh, churup, ngh, nnnnnh!"
Tubuh si kembar gemetar hebat dan mereka terkulai lemas bersandar padaku.
"Ke-kenapa... cuma dengan ciuman... bisa sampai jadi begini..."
"Ternyata... kami memang..."
"Ternyata?"
Aku mendudukkan Yuzuki dan Fuuka di sofa, lalu merangkul bahu mereka.
"I-iya... kami adalah Kembar Takdir... perasaan dan tindakan kami saling sinkron... tapi, karakteristik kami sebagai saudara kembar bukan hanya itu. Kami ada berdua, dan karakteristiknya pun ada dua—"
"Apa itu...?"
"Dual Twin—kami berbagi perasaan berdua dalam satu jiwa."
"Dual Twin—kami berbagi perasaan berdua dalam satu jiwa."
"Dual Twin...? Apa maksudnya...?"
Berbagi perasaan dua orang dalam satu jiwa—aku tidak bisa memahaminya dengan baik.
"Aku menyukai Masaki. Fuuka juga menyukai Masaki. Artinya ada perasaan 'suka' untuk dua orang, kan?"
"Kami berbagi perasaan 'suka' untuk dua orang itu. Singkatnya—perasaan kami itu dua kali lipat dari orang biasa."
"Dua kali lipat...? Maksudnya itu..."
"Artinya cinta kami itu sangat berat. Mungkin bisa dibilang berlebihan... Sekali kami jatuh cinta, kami tidak bisa menghentikan diri sendiri. Sama seperti sekarang."
"Kami akan sangat mencintai hal yang kami sukai secara membabi buta. Kami berbagi emosi, dan emosi yang kuat adalah yang paling mudah dibagikan. Perasaan cinta adalah yang paling utama di antaranya."
"Mencintai secara berlebihan... secara konkretnya seperti apa...?"
"Benar juga, sulit dimengerti ya."
"Iya, kan."
Yuzuki dan Fuuka tertawa kecil lalu kembali menciumku bertubi-tubi. Sepertinya tenaga mereka yang sempat hilang tadi sudah pulih.
"Dulu, anjing pertama yang kami pelihara mengalami gangguan saraf karena kami terlalu menyayanginya, sehingga dia harus diambil alih oleh keluarga kerabat. Patrasche segera sembuh, dan meski sudah tua, sekarang dia hidup bahagia."
"Mama juga pernah masuk rumah sakit karena kelelahan mengasuh kami karena kami terlalu menempel padanya. Untungnya segera ada beberapa pengasuh tambahan sehingga kasih sayang kami terbagi dan masalahnya selesai."
"Jadi maksudnya, siapa pun yang dicintai oleh kalian—akan hancur karena dicintai terlalu berlebihan?"
Jika itu kasih sayang dari anak kecil mungkin terdengar lucu, tapi ini juga mengerikan. Aku bisa mengerti bahwa disayangi atau dicintai bisa menjadi sebuah beban. Adikku sendiri, Wakaba, sangat dimanjakan oleh Ayah, tapi dia malah merasa itu menjengkelkan.
Meski mungkin berbeda dengan kasus si kembar, ada banyak contoh di mana kasih sayang justru menjadi sumber stres. Dalam kasus Yuzuki dan Fuuka, hal itu berada di tingkat ekstrem—begitu kah?
"Benar. Karena itulah, selama ini kami tidak bisa menyukai siapa pun. Tapi, tiba-tiba saja kami jatuh cinta pada seorang laki-laki."
"Perasaan suka kami yang berat ini... maukah kamu menerimanya?"
Kali ini si kembar mengecup pipiku secara bersamaan. Aku terdiam sejenak untuk berpikir, lalu—
"Tentu saja! Karena aku sudah bilang akan menerima kalian, aku tidak akan menarik kata-kataku! Cinta dua kali lipat? Bukankah itu bagus?"
Aku mendekap kedua pacarku itu sekaligus dengan erat.
"Aku tidak selemah itu sampai bisa hancur semudah itu. Ayo, datanglah sebanyak apa pun yang kalian mau! Aku akan menerima semuanya—dan aku juga akan menyerang balik! Biar begini aku ini siswa SMA yang sehat, aku tidak akan tahan jika dihadapkan dengan gadis-gadis yang terlalu cantik seperti kalian!"
"Kyaaa! Itulah Masaki yang kusuka!"
"Kyaa! Aku juga sangat setuju dengan hal-hal mesra!"
Aku mencium Fuuka lalu lanjut mencium Yuzuki, kemudian kami bertiga kembali memautkan lidah.
Ah, gawat... ini adalah situasi yang luar biasa nikmat. Dua gadis kembar cantik, dan mereka mencintaiku dengan sangat berlebihan.
Baiklah, tantangan diterima. Kalau itu aku, aku sanggup menyayangi mereka berdua sebanyak apa pun—dan aku akan sanggup menerima serangan dari mereka berdua...!
Tidak, mungkin hanya aku yang sanggup melakukannya.



Post a Comment