Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 7
Si Kembar Tampaknya Ingin Menjadi Maid
Tentu saja, aku masih belum terbiasa dengan apartemen mewah ini.
Bagaimana pun juga, selama tujuh belas tahun aku tinggal di rumah merangkap toko yang sempit dan usang. Tidak mungkin aku bisa langsung terbiasa dengan bangunan tinggi yang dilengkapi kunci otomatis, lobi megah, lift, hingga layanan pramutamu.
Aku melangkah keluar dari lift di lantai teratas Grand Liversia Yomihama. Kubuka pintunya menggunakan kartu akses yang dititipkan padaku, lalu melangkah masuk. Meskipun si kembar bilang, "Kartu itu bukan dititipkan, tapi sudah menjadi milikmu," tetap saja rasanya aneh.
Aku melewati koridor dari arah pintu masuk yang terang benderang dan terasa sangat lega menuju ruang tengah. Di area depan maupun koridor, aku tidak melihat adanya kotak kardus. Mungkin pihak kurir sudah membawakannya langsung ke kamarku.
Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Ada suara—bukan, ada suara percakapan dari arah ruang tengah. Sepertinya Yuzuki langsung pulang tanpa mampir ke mana pun, dan Fuuka pun sudah kembali.
"Aku pulang—"
"Selamat datang di rumah, Tuan Muda!"
"......Kalian itu nona muda, tahu."
Si kembar sudah bersiap di depan pintu ruang tengah.
Mereka menundukkan kepala dengan sudut yang persis sama, dan mengangkat kepala pada waktu yang benar-benar bersamaan. Sinkronisasi gerakan yang mengerikan.
Yuzuki dan Fuuka, keduanya mengenakan terusan hitam dengan celemek putih berenda—yang biasa disebut seragam pelayan atau maid.
"Kamu tidak asyik sekali sih, Masaki."
"Seharusnya ini adalah bagian di mana Anda melakukan pelecehan seksual kepada pelayan sambil berkata, 'Hehehe, mana kecupan selamat datangnya?', Masaki-san."
"Apa ada orang yang langsung melakukan hal seperti itu begitu sampai di rumah?"
Meski aku protes, aku tidak bisa memungkiri kalau pakaian mereka sangat provokatif dan membuatku ingin melakukan setidaknya satu atau dua pelecehan seksual.
Seragam maid Yuzuki memiliki rok mini yang rasanya bisa memperlihatkan celana dalamnya hanya dengan sedikit gerakan saja. Sementara Fuuka, bagian dadanya terbuka lebar, memamerkan belahan dada yang sangat jelas. Meski serupa, perbedaan titik yang mereka tonjolkan pada seragam maid itu benar-benar membuatku bimbang.
"Lagipula, ada apa dengan seragam maid itu!"
"Ini seragam yang dulu dipakai di rumah utama keluarga kami."
"Saat kami masih kecil, para pelayan masih memakai pakaian seperti ini"
"............"
Melihat pendeknya rok dan terbukanya bagian dada itu... apakah pelayan tersebut benar-benar hanya dipekerjakan untuk mengurus rumah tangga?
"Maksudmu, keluarga Tsubasa benar-benar punya pelayan di zaman sekarang ini?"
"Ah, bagian dada saya dan rok mini Yuzu-nee ini sudah dimodifikasi. Para pelayan yang bekerja di rumah kami adalah profesional, jadi mereka tidak memakai pakaian sensual seperti ini."
"Sensual, katamu..."
"Sekarang mereka cuma pakai kemeja, celana panjang, dan celemek biasa. Membosankan sekali."
"......Mungkin karena citra maid sudah berubah di masyarakat."
Aku memang tidak terlalu paham, tapi sekarang ada maid cafe, dan sepertinya ini juga kostum standar di video-video porno. Mempekerjakan pelayan dengan seragam seperti ini mungkin akan dianggap buruk secara sosial sekarang.
"Yah, beberapa pelayan masih sangat memperhatikan penampilan dan memakai seragam klasik, sih."
"Iya, orang-orang itu memang agak aneh."
"............"
Mendengar si kembar ini menyebut orang lain "aneh", berarti para pelayan itu pasti benar-benar di luar nalar. Aku memutuskan untuk tidak akan pernah mendekati rumah utama keluarga Tsubasa.
"Tapi tetap saja, kenapa seragam maid... apa yang kalian pikirkan?"
"Aku sempat berpikir untuk menyimpannya buat nanti karena daya hancurnya besar, lho."
"Tapi, menunda-nunda itu langkah yang buruk. Kami sudah mengungkapkan semua yang perlu dikatakan, jadi sekarang saatnya menyerang dengan kekuatan penuh."
"......Jadi memakai seragam maid itu termasuk serangan?"
Meski aku bertanya begitu, aku harus mengakui daya hancurnya memang besar. Padahal aku tidak pernah tertarik pada maid cafe atau video porno bertema pelayan. Namun, melihat si kembar cantik ini dalam balutan seragam maid... mereka terlihat terlalu imut dan erotis.
"Setidaknya, Masaki terlihat gentar. Serangan pembuka kita berhasil."
"Baru lima detik buka pintu langsung disuguhi maid. Apalagi kembar."
"Yah... status kembar saja sudah punya daya hancur sendiri."
Ditambah lagi, mereka adalah gadis cantik yang bahkan melampaui idola mana pun. Rasanya hanya sedikit siswa SMA yang tidak akan merasakan apa-apa melihat ini.
"Lagipula, hari ini kamu sudah puas menikmati celana dalam Fuuka, kan?"
"Dan kamu juga sudah puas mencicipi payudara Yuzu-nee, kan?"
"Berbagi informasi seperti itu benar-benar memalukan, tahu..."
Tak kusangka betapa aku tergila-gila pada Yuzuki dan Fuuka sudah diketahui oleh satu sama lain secara mendetail.
"Meski tidak bicara langsung, entah bagaimana kami bisa merasakannya."
"Kalau kamu mencoba memanjakan salah satu dari kami secara diam-diam, pasti akan langsung ketahuan, lho?"
"Kalian benar-benar menjalani hidup yang sulit, ya..."
Bayangkan, sang kakak bisa tahu apa yang dilakukan adiknya dengan pria yang mereka kencani, begitupun sebaliknya. Normalnya, itu bukan perasaan yang menyenangkan. Bahkan fakta bahwa pria itu adalah orang yang sama seharusnya tidak membuat segalanya jadi lebih mudah.
"Biasanya, orang akan merasa cemburu atau semacamnya..."
Mungkin banyak pria yang senang bisa menyukai sepasang gadis kembar cantik sekaligus. Tapi bagaimana dengan perasaan mereka yang disukai secara "paket" itu?
"Tentu saja, kalau kamu mendekati perempuan lain selain Fuuka, akan aku bu—maksudku, tidak akan aku maafkan," ujar Yuzuki.
"Aku tidak akan marah apa pun yang kamu lakukan pada Yuzu-nee, tapi jika kamu mendekati teman Yuzu-nee misalnya, akan aku bu—tidak akan dimaafkan."
"............"
Mereka berdua hampir saja mengucapkan kata "bunuh". Bagiku, ditakuti orang yang merasa akan "dibunuh" olehku adalah hal biasa, tapi diancam akan "dibunuh" adalah pengalaman pertama.
"Tunggu, apa Fuuka juga tahu soal Takaya...?"
"Takaya? Hmm, siapa itu?"
"......Bukan apa-apa."
Fuuka seolah tahu aku melihat Takaya berganti baju dan mengobrol berdua dengannya sepulang sekolah, tapi sepertinya itu hanya firasat yang "entah bagaimana" tersampaikan. Yuzuki pun sepertinya tidak berniat menjelaskan kekacauan di ruang ganti tadi.
"Daripada itu, mumpung kami pakai seragam maid! Masaki, kamu boleh melakukan apa pun sesukamu!"
"Benar, mumpung kami pakai kostum ini. Mau lanjut yang tadi siang...?"
"............"
Aku menelan ludah. Mengakui betapa rendahnya diriku, aku benar-benar terangsang melihat mereka dalam balutan seragam maid.
Seragam rok mini Yuzuki dan seragam dengan belahan dada terbuka milik Fuuka—keduanya luar biasa. Yuzuki memiliki bawahan pendek tapi bagian dadanya tertutup, sementara Fuuka memiliki bagian dada yang terbuka namun memakai rok panjang. Perbedaan ini justru membuatku semakin bergairah.
"Jadi, Masaki. Kamu mau mulai dari siapa—atau mau sekaligus?"
"Aku lebih suka berbarengan... ya, berbarengan saja lebih baik."
Cup, cup. Yuzuki dan Fuuka menciumku secara bergantian. Mengerikan betapa mereka sudah menganggap ciuman sebagai hal yang sangat wajar. Padahal kami baru mulai berkencan kemarin, dan ciuman pertama kami pun baru kemarin.
Memacari gadis kembar saja sudah tidak normal, tapi kecepatan perkembangan hubungan kami juga terlalu cepat. Dua kali lipat... tidak, mungkin dua puluh kali lipat dari kecepatan normal?
Tentu saja, kecepatan kemajuan hubungan itu berbeda-beda bagi setiap orang. Tapi bagi pasangan SMA yang baru pertama kali pacaran, bukankah biasanya butuh satu bulan hanya untuk ciuman? Dan melewati batas lebih jauh mungkin butuh tiga bulan atau bahkan dua kali lipatnya. Namun, di sini──
"Fufu, kalau begitu biar aku yang menyerang duluan."
"Karena kami adalah pelayan. Kami harus melayani... dengan aktif."
Tahu-tahu saja, aku sudah didudukkan di sofa ruang tengah dengan dua maid yang menempel di sisi kiri dan kananku.
"Tunggu dulu, apa yang kalian rencanakan tepat setelah aku pulang!?"
"Masaki tidak perlu melakukan apa pun. Di sekolah aku sudah memperlihatkan dadaku sepuasnya... sekarang giliran yang sebelah sini."
Yuzuki melingkarkan satu tangannya di leherku, sementara tangan lainnya menyingkap rok pendeknya hingga terangkat. Celana dalam putihnya terlihat mengintip sekilas—
"Bagianku, aku sudah cukup banyak memperlihatkan celana dalam... jadi sekarang, mungkin giliran yang ini."
Fuuka juga melakukan hal yang sama, satu tangannya di leherku, sedangkan tangan lainnya menarik kerah dadanya yang terbuka lebar hingga bra hitamnya sedikit terlihat. Kontras antara Yuzuki yang tampak berani dengan pakaian dalam putih bersih, serta Fuuka yang kalem namun mengenakan pakaian dalam hitam yang seksi, benar-benar memberikan sensasi yang luar biasa.
Tidak—
Celana dalam Yuzuki sedikit ditarik ke bawah, memperlihatkan bagian yang sangat sensitif. Bra Fuuka pun sedikit bergeser, dan sesuatu yang berwarna merah muda terlihat sekilas...
"Wah... Ma-Masaki-san, bagian itu..."
"Uwaa... he-hebat... aku pernah dengar ceritanya, tapi tak sangka bisa jadi seperti ini..."
Pandangan si kembar terpusat pada satu titik di tubuhku.
Sejujurnya, ditatap oleh mereka berdua seperti ini membuatku malu. Namun, karena aku pun sudah membuat mereka melakukan hal-hal yang memalukan, aku tidak boleh melarikan diri. Lagipula, untuk melarikan diri—saat ini aku sudah terlalu bergairah.
"Kalau begitu... bagaimana kalau pelayanmu melayani bagian ini juga?"
"Benar juga... karena kami adalah pelayan. Kami harus melayani seluruh bagian dari Masaki-san."
"He-hei, jangan-jangan...!"
Ternyata, dugaan "jangan-jangan" itu benar.
Yuzuki dan Fuuka duduk bersimpuh di lantai— mereka mendekatkan wajah ke arah tubuh bagian bawahku. Dua wajah gadis yang kecantikannya luar biasa kini berada sangat dekat dengan "milikku". Aku sudah mengalami banyak kejadian tak masuk akal selama dua hari ini, tapi ini adalah puncaknya.
"Kalau bagian ini... diperlihatkan, akan jadi lebih hebat lagi, kan?"
"A-aku juga... tolong lihat aku, Masaki-san..."
Yuzuki menyingkap rok mininya tinggi-tinggi, dan Fuuka membuka lebar bagian dadanya. Celana dalam putih sang kakak dan bra hitam sang adik terpampang nyata, membuat gairah di bagian bawahku semakin meluap.
"Baiklah, aku mulai ya..."
"Iya, Yuzu-nee..."
Sambil merona merah hingga ke telinga, si kembar menjulurkan lidah kecil mereka dan mendekatkan wajah ke sana. Seperti saat memasak, mereka dengan terampil mengeluarkan penisku dari celana—
Dua pelayan kembar itu mulai menjilati bagian tersebut dengan lidah mereka secara bergantian—cup, cup, mereka mengecup bagian ujungnya bergantian. Sensasi nikmat yang menyengat seperti aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhku.
"Ngh, bagian Masaki-san yang ini... luar biasa..."
"Buatlah diri Anda lebih bergairah lagi karena kami..."
"Rasanya, tidak peduli lagi bagian mana yang dada atau bagian bawah... bukankah begitu, Yuzu-nee?"
"Memang benar, pikiran kita selalu sama ya, Fuuka..."
"He-hei? Kalian berdua, sekarang mau apa lagi...?"
"Tidak perlu dipikirkan, cup♡"
"Hari ini kami adalah pelayan... jadi ini adalah layanan ekstra♡"
Cup, cup, kedua pelayan kembar itu mengecup penisku secara bersamaan, mengisapnya dalam-dalam, lalu—
Mereka merogoh seragam maid masing-masing dan membukanya lebar-lebar ke arah depan.
"Uoh...!"
Fuuka, yang sejak awal branya sudah terlihat, menarik pakaian dalam itu hingga bergeser—
Yuzuki pun membuka bagian depan seragamnya dan menggeser branya dengan cara yang sama.
Plung, dua pasang gundukan besar menyembul keluar. Tidak hanya bentuk bulatnya yang besar, tapi bahkan ujungnya yang berwarna merah muda—puting mereka—terpampang jelas.
"Se-sebenarnya ini memalukan sekali."
"I-iya. Bagian seperti ini... ini pertama kalinya aku memperlihatkannya kepada orang lain selain Yuzu-nee."
Meski merasa malu, si kembar tidak berusaha menyembunyikan dada mereka. Payudara berukuran 90 cm dengan areola yang imut serta puting yang menegang. Tidak hanya volumenya, bahkan ukuran putingnya pun seolah sama hingga satuan milimeter.
"Yaan, milik Masaki ini jadi semakin besar..."
"Anda jadi bergairah karena payudara kami ya. Manisnya... cup."
Saat Fuuka mengecup ujungnya lagi, Yuzuki menjulurkan lidahnya dan menjilat penisku dengan gerakan memutar.
""Kalau begitu, bagian ini juga... sambil menikmati payudara dan celana dalam pelayan Anda... kami akan melayani dengan mulut si kembar...""
Yuzuki dan Fuuka bersuara secara harmonis di waktu yang sangat tepat.
Sambil memamerkan dada mereka, si kembar juga menyingkap rok hingga memperlihatkan celana dalam putih sang kakak dan celana dalam hitam sang adik.
"Ngh, cup."
"Nnngh, cuuup."
Mereka mulai mengecup, menjilat, dan memasukkannya ke dalam mulut. Yuzuki mengisap bagian ujungnya, sementara Fuuka menjilati bagian pangkalnya. Kemudian, Fuuka mengulumnya dengan suara basah yang intens, sementara Yuzuki menjilati area dekat pangkalnya. Rangsangan visual dan fisik ini benar-benar terlalu dahsyat...!
"Kyaaan, Masaki-san...♡"
"Yaann... duh, Masaki...♡"
Aku menjulurkan tangan, mencengkeram payudara si kembar satu per satu, dan meremasnya dengan kuat.
Kelembutan dan volume yang luar biasa itu terpancar nyata ke telapak tanganku.
"Lebih kuat lagi juga boleh. Karena kami pun akan menyerangmu lebih hebat lagi♡♡"
"Payudaraku juga... silakan lakukan sesukamu. Sebagai gantinya, biarkan kami menyerang bagian ini lebih dalam lagi ya...♡♡"
Aku benar-benar tidak berdaya untuk melawan──
Aku meletakkan tanganku di atas kepala Yuzuki dan Fuuka, lalu menuntun mulut mereka berdua menuju penisku yang sudah menjadi semakin keras.





Post a Comment