Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
Si Kembar Tampaknya Ingin Diberkati oleh Teman-temannya
Tanpa terasa, awal musim panas pun telah berlalu──
Bulan pun berganti, dan kini sudah memasuki bulan Juli.
Karena terlalu banyak peristiwa yang terjadi sejak pergantian seragam di bulan Juni, setiap harinya terasa berjalan sangat lama. Namun, seberapa pun lambannya waktu yang dirasakan, waktu tetap maju tanpa ampun. Kini Juli telah tiba, dan sebentar lagi ujian akhir semester akan dimulai di sekolah kami.
Sekolah kami bukanlah sekolah elit yang ternama, melainkan sekolah yang sangat biasa. Peringkatnya mungkin berada di kelas menengah ke atas. Meski begitu, kabarnya lebih dari delapan puluh persen siswanya melanjutkan pendidikan ke universitas.
Aku pun berniat lanjut kuliah, dan orang tuaku tidak keberatan. Walaupun rumah kami hanya kedai ramen kecil-kecilan, mereka bilang masih punya cukup tabungan untuk menyekolahkan kedua anaknya ke perguruan tinggi. Jika bisa, mereka berharap aku masuk universitas negeri yang biaya kuliahnya lebih murah, dan aku pun tidak keberatan dengan hal itu. Karena aku cukup mahir dalam belajar, kurasa aku bisa mengincar universitas negeri dengan level yang lumayan tinggi.
"............"
Aku sedang membuka buku pelajaran di bangkuku. Tentu saja, aku tidak bermesraan dengan si kembar sepanjang waktu di sekolah.
"Ahahaha, serius? Bisa mati tahu kalau melakukan hal bodoh seperti itu."
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi Yuzuki terlihat sangat senang. Beberapa siswi populer berkumpul di sekelilingnya, mengobrol sambil tertawa. Meskipun kami tidak sedang bermesraan, entah kenapa suara si kembar sangat mudah tertangkap oleh telingaku.
"Fufu, benarkah? Apa kamu baik-baik saja setelah bercanda seperti itu?"
"............"
Kupikir ada siswi lain yang membicarakan hal yang sama dengan Yuzuki, ternyata itu Fuuka. Namun, Fuuka duduk di bangku yang jauh dari Yuzuki, dan dia juga sedang dikelilingi oleh kelompok siswinya sendiri. Mereka cenderung tipe siswi pendiam dari kelompok murid teladan berprestasi. Seperti kata pepatah "burung dengan bulu yang sama akan berkumpul", Yuzuki dan Fuuka masing-masing memiliki banyak teman yang tipenya mirip dengan mereka sendiri.
"Ahaha, video seperti itu bukannya bakal dihapus ya?"
"Fufufu, video seperti itu bukannya akan segera dihapus?"
Seperti biasa, meskipun si kembar berada di tempat yang berbeda dan berbicara dengan kelompok yang berbeda pula, mereka menunjukkan sinkronisasi yang aneh. Padahal, Yuzuki dan Fuuka tidak mungkin sedang membicarakan topik yang persis sama. Namun, si kembar ini memang terkadang menunjukkan sinkronisasi yang ajaib.
"Hei, Masaki, lihat deh video ini."
"Ah, oi."
Tiba-tiba Yuzuki bangkit dari kursinya dan menghampiriku, lalu dengan ringan ia mengangkat pinggulnya dan duduk di atas mejaku.
"Lihat-lihat, ini video tentang eksperimen. Menurutmu, apa yang akan terjadi setelah ini?"
"......Yu-Yuzuki. Jangan duduk di sana."
Terlebih lagi, Yuzuki duduk dengan menyilangkan kaki jenjangnya, membuat ujung roknya yang memang pendek itu semakin terangkat ke atas. Saat dia menunjukkan pahanya dari jarak sedekat ini──
"Heis, sepertinya menarik. Boleh aku ikut melihatnya?"
"............!"
Tanpa kusadari, Fuuka sudah berada di belakangku. Ia meletakkan kedua tangannya di pundakku, lalu mencondongkan tubuhnya hingga kedua gundukan kenyalnya menekan punggungku. Di depan ada paha, di belakang ada dada...
"He-hei, kalian berdua. Sebaiknya menjauh sedikit."
"Kenapa sih? Kok kamu malu-malu begitu? Padahal kita kan pacaran."
"Malu-malu juga tidak apa-apa, kok, terlihat manis. Tapi, karena kita pacaran, tidak masalah kan kalau kita menempel begini?"
"......Benar juga, ya."
Aku pun akhirnya menyerah dan bersikap masa bodoh.
Bisa berada di antara dua gadis kembar yang cantik adalah hak istimewa bagi seorang Masaki Nakaba. Fakta bahwa aku dan si kembar berpacaran sudah kami deklarasikan secara resmi.
Aku tidak bisa berlagak keren dengan mengatakan "aku tidak akan lari atau sembunyi". Kenyataannya, aku sempat sangat berniat untuk menyembunyikan hubungan ini. Aku sama sekali tidak menyangka Yuzuki dan yang lainnya akan mengungkapkannya secara terang-terangan. Namun, meskipun hubungan kami bertiga sudah terbuka, apakah boleh kami bermesraan begitu saja di dalam kelas──mungkin karena orang-orang di sekitar merasa sulit untuk menegur, tidak ada yang mendekat ataupun mengajak bicara.
Ini bukan semata-mata karena wajahku yang sangar sehingga mereka segan. Pasti semua orang sedang bingung, apakah cerita tentang kami bertiga yang berpacaran itu fakta atau sekadar lelucon. Bagiku ini situasi yang patut disyukuri karena aku pun akan bingung bagaimana merespons jika ditegur, tapi......
"Tunggu sebentar, Masaki-kun."
"Hm?"
Tiba-tiba terdengar suara yang entah kenapa terdengar agak berat dan mengancam. Karena suaraku sendiri sering dibilang berat, aku merasa ada kemiripan. Yah, meski tidak bisa dimungkiri nadanya agak kasar, Takaya Riina adalah seorang gyaru, bukan berandalan. Aku juga bukan berandalan──ah, lupakan soal diriku.
Berbeda dengan Yuzuki yang selalu ceria dan populer, Takaya ini memiliki sedikit aura intimidasi. Rambut hitam pendeknya diberi highlight merah, dari rambutnya saja sudah terlihat sangat mencolok. Blus seragamnya bukan berwarna putih melainkan merah muda, dan roknya tentu saja pendek. Wajahnya yang dipoles riasan tipis terlihat cantik, dan meski ukuran dadanya tidak terlalu besar, tubuhnya tinggi semampai serta langsing dengan proporsi yang luar biasa.
Dia adalah gadis cantik yang tidak kalah saing dengan Yuzuki atau Fuuka, dan sangat populer di sekolah. Takaya tergabung dalam kelompok Yuzuki, dan kabarnya mereka adalah sahabat dekat.
"Ada apa, Rii?"
"Eeto, apakah ada masalah......?"
Menyusul kakaknya, Fuuka ikut bertanya. Meski terlihat pendiam, Fuuka sama sekali tidak merasa gentar di hadapan Takaya yang mencolok.
"Jelas ada masalah, dong! Masakan dua gadis kembar sekaligus dengan satu laki-laki──tunggu, kok sepertinya cuma aku sendiri yang heboh!?"
Kenyataannya memang begitu, tapi jika aku mengatakannya sekarang, itu hanya akan menyiram bensin ke dalam api.
"......Takaya, apakah nilaimu bagus?"
"Hah? Nilai?"
Saat aku menyela, Takaya tampak melongo. Aku mengerti dia ingin meributkan soal pacar sahabatnya, tapi bagiku, aku ingin menjalani kehidupan sekolah setenang mungkin. Maaf ya Takaya, tapi kali ini biarkan aku mengalihkan pembicaraan.
"Maksudku, ujian akhir kan sudah dekat. Aku cuma berpikir, apa kamu punya waktu luang untuk memikirkan urusan kami?"
"......Masaki-kun sendiri bagaimana?"
"Nilaiku tidak buruk-buruk amat."
Itu sebenarnya bentuk kerendahhatianku, karena nilaiku termasuk jajaran atas. Meski tampangku seperti orang yang kerjaannya berkelahi setiap hari, aku tetap belajar dengan cukup rajin. Walaupun tidak sejenius adikku, Wakaba, setidaknya otakku berputar cukup cepat.
"Rii nilainya agak kurang, sih. Dia kan memang kurang bersemangat belajar."
"Ja-jangan dibongkar dong, Yuzu! Bukannya aku tidak semangat, tapi aku kelelahan karena latihan menari, makanya tidak sempat belajar!"
Kalau tidak salah, Takaya memang serius menekuni tari dan bahkan mengikuti sekolah tari. Dulu, aku pernah terjebak di ruang ganti putri bersama Yuzuki, dan saat itulah aku melihat Takaya sedang menari. Bahkan di mata orang awam sepertiku pun, langkah kakinya terlihat sangat terlatih.
"Memang benar, tarianmu bagus, Takaya."
"Eh? Sejak kapan aku memperlihatkan tarianku pada Masaki-kun ──ah!"
Wajah Takaya langsung memerah padam.
Gawat, sepertinya aku keceplosan. Takaya sepertinya teringat kejadian saat aku mengintipnya di ruang ganti. Meski kejadian itu sudah dimaafkan, tetap saja baginya itu adalah hal yang memalukan.
"A-anggap saja kejadian waktu itu tidak pernah ada──argh, sudahlah! Maaf sudah bicara yang tidak-tidak!"
Padahal dia tidak perlu minta maaf. Takaya langsung memalingkan wajah dan kembali ke bangkunya sendiri.
"Maaf ya, Masaki."
"Tidak apa-apa......"
Sebagai sahabat Yuzuki, aku paham perasaannya yang ingin menginterogasi laki-laki yang menduakan temannya, jadi aku tidak keberatan. Setidaknya, untuk saat ini aku berhasil mengalihkan situasi. Meski aku merasa agak tidak enak pada Takaya......
"Rii itu bukan orang jahat, dia hanya terlalu pencemas. Mungkin dia pikir aku sedang ditipu olehmu."
"Kurasa Yuzuki bukan tipe orang yang mudah ditipu."
Tapi dia juga bukan tipe orang yang suka menipu. Dari luar penampilannya memang terlihat gampangan dan seolah bisa melakukan satu atau dua kenakalan dengan mudah. Tentu saja, orang tidak bisa dinilai dari penampilannya.
"Masaki-san tidak mungkin menipu orang, kan. Apalagi menipu Yuzu-nee. Tapi, kalau aku──tidak apa-apa lho kalau ditipu oleh Masaki-san?"
"......Woi."
Ucapanmu itu terdengar jelas oleh orang-orang di sekitar, tahu?
Hal ini justru akan membuat orang-orang semakin salah paham──atau lebih tepatnya, menatapku dengan penuh kecurigaan.
"Aku tahu Takaya bukan orang jahat."
Baru kemarin aku bersalaman dengannya untuk menjalin hubungan baik. Karena dia sahabat Yuzuki, tidak ada ruginya bagiku untuk membangun hubungan yang harmonis dengannya.
Hanya saja──
Wajar jika mata penuh kecurigaan tertuju padaku dan Tsubasa Twins. Meski begitu, aku, Yuzuki, dan Fuuka sudah memutuskan untuk menjalani hubungan bertiga ini. Rasa tidak percaya dari orang-orang di sekitar akan kami luluhkan sedikit demi sedikit.
Tapi sebelum itu, waktunya belajar untuk ujian.
Begitulah, masa ujian pun berakhir tanpa ada kejadian yang berarti──setiap hari, sepulang sekolah, aku dan si kembar hanya mengurung diri di kamar masing-masing untuk belajar.
Aku dan Fuuka memang tipe yang serius, tapi Yuzuki yang seorang gyaru modis dan terlihat tidak santai pun ternyata sangat fokus di depan meja belajar jika sudah urusan ujian. Itu sedikit di luar dugaan, walau aku sudah tahu dia tidak se-gampangan kelihatannya, jadi aku tidak terlalu terkejut.
Hari-hari belajar dan masa ujian berlalu begitu saja selagi kami sibuk di meja belajar. Dan akhirnya, setelah ujian selesai──
"Ngh, cup, nnngh... hah... ngggh♡"
"U-uwoh, Fuuka, pagi ini kok agresif sekali...?"
"Benarkah...? Habisnya, ujian kan akhirnya sudah selesai, jadi tolong biarkan aku melakukannya sepuas hati... hamuuh♡"
Pagi hari setelah ujian berakhir. Aku duduk di sofa ruang tengah kediaman Tsubasa.
Fuuka, yang terlihat segar dengan gaun terusan putih tanpa lengan, duduk bersimpuh di depan sofa sambil menyisir rambut hitam panjangnya pelan dengan satu tangan. Tangan satunya lagi menggenggam erat penisku──menyentuhkan bibirnya di ujung, menghisapnya kuat-kuat, dan terkadang menelannya hingga ke pangkal.
"Ugh... Fu-Fuuka...!"
"Ngh...!♡"
Dalam sekejap aku mencapai puncaknya──dan mengeluarkan segalanya di dalam mulut Fuuka.
Biasanya aku berniat menariknya keluar di detik terakhir, tapi karena rasanya terlalu nikmat, akhirnya aku membiarkan Fuuka meminum semuanya.
"Haa... ngguh..."
Setelah menelan semuanya, Fuuka menatapku dengan wajah memerah dan membuka mulutnya. Sepertinya dia ingin menunjukkan kalau dia sudah menelan semuanya.
"Fufu, banyak sekali... hari ini kamu tampak sangat bergairah ya, Masaki-san."
"Begitukah... yah, aku juga merasa sangat lega karena ujian sudah selesai."
Aku mengelus kepala Fuuka pelan. Perlakuan yang seperti anak kecil memang, tapi Fuuka terlihat senang. Sepertinya pameran "sudah diminum" tadi memang dilakukan supaya aku mengelusnya seperti ini.
"Masaki-san, apa kamu ingin menggunakan mulutku lagi...?"
Fuuka mengecup ujungnya, lalu menatapku dari bawah dengan tatapan manja. Lidahnya mulai bergerak lincah, menjilat seolah sedang menggelitik──
"Aku bersedia menemanimu berapa kali pun...?"
"Ah... mulai hari ini sekolah juga libur karena masa jeda ujian, ya."
Sekolah kami biasanya libur setelah masa ujian berakhir. Murid-masing bisa memulihkan tenaga yang terkuras, sementara guru bisa fokus memeriksa kertas ujian dan memberi nilai. Para guru pasti sangat sibuk selama masa ujian, apalagi mereka harus membuat soal sebelumnya, jadi kurasa gurulah yang sebenarnya lebih butuh libur. Dua Yamada-sensei itu mungkin sekarang sedang menggerutu sambil mengoreksi tumpukan kertas.
"Hei, hei. Menemani berapa kali pun boleh saja, tapi sarapan dulu, kan?"
"Oups..."
Yuzuki muncul mengenakan kaos berkerah longgar dan celana pendek. Dia memakai celemek di luarnya, berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang.
Kalau dipikir-pikir, nasibku ini enak sekali; setiap pagi salah satu dari si kembar membuatkan sarapan, sementara yang satunya lagi melayaniku dengan mulutnya seperti ini.
"Nanti aku juga bakal kasih kamu pakai mulutku kok, Masaki♡"
"Tidak... aku ingin pakai mulut kalian berdua sekaligus."
"Duh, kamu benar-benar mau menang sendiri ya, Masaki."
"Aku suka melakukannya berdua dengan Yuzu-nee, kok♡"
Usulan manja dariku diterima begitu saja oleh si kembar. Ini bukan cuma nasib enak, tapi sudah level surga. Tapi, sebelum menggunakan mulut mereka berdua, sarapan dulu.
"Akan kuhabiskan sarapannya selagi hangat."
"Iya, silakan."
Yuzuki mengecupku sekali lalu kembali ke dapur. Aku dan Fuuka menyusul ke ruang makan. Aroma lezat dari dapur mulai tercium, benar-benar menggugah selera.
"Hari ini aku masak banyak──makan yang banyak ya, biar kamu bertenaga."
Yuzuki berujar penuh arti sambil mengedipkan sebelah matanya. Mengingat aku akan menggunakan mulut Yuzuki setelah ini, sepertinya memang lebih baik makan banyak untuk mengumpulkan stamina.
Sarapan mewah berupa french toast, telur mata sapi, sosis, salad, dan sup pun tersaji──
"Terima kasih atas makanannya. Fuh, enak sekali."
"Sama-sama. Cara makanmu yang lahap sejak pagi bikin aku semangat memasaknya."
"Aku diajarkan untuk menghargai dan menghabiskan makanan yang sudah disajikan."
Keluarga Masaki mengelola kedai ramen bernama "Shinryu"—semacam kedai masakan Tionghoa lokal. Ayahku memang orang yang kasar dan tidak berguna, tapi soal makanan dia sangat rewel. Padahal dia bukan tipe orang yang suka menceramahiku, tapi sejak kecil dia terus mengoceh supaya aku tidak menyisakan makanan, jangan mengeluh soal masakan orang, dan jangan pilih-pilih makanan.
Tentu saja, sebagai anak pemilik kedai makan, aku tidak keberatan menghargai makanan tanpa perlu disuruh pun.
"Ajaran yang bagus. Menurutku, biar bagaimanapun kamu dibesarkan dengan cara yang baik."
"Tapi tetap saja tidak sebanding dengan kalian para nona muda."
Yuzuki memang terlihat seperti gyaru, tapi tata kramanya sangat baik. Cara dia menggunakan pisau dan garpu saja sudah jauh berbeda denganku. Setelah tinggal bersama seperti ini, aku jadi tahu kalau etika makan mereka berdua sangat sempurna.
"Kami juga biasa saja, kok. Keluarga Tsubasa membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan bebas."
"Begitukah... yah, mungkin saja."
Mengingat mereka membiarkan dua anak SMA tinggal berdua di apartemen, bahkan membiarkanku tinggal di sini juga, bisa dibilang mereka sangat longgar.
"Ini kan zamannya kebebasan individu. Tidak mungkin terus-terusan dididik dengan keras──ah, iya. Masaki, gimana hasil ujianmu?"
"Malah bahas ke situ ya."
Rupanya topik tentang pendidikan langsung menyambung ke urusan ujian.
"Aku sih, ya lumayanlah. Baru hitung-hitungan sendiri, tapi kalau cuma melewati nilai rata-rata sih sepertinya gampang."
Karena ujian baru berakhir kemarin, hasilnya memang belum dibagikan, tapi nilai rata-rata biasanya sudah bisa ditebak.
"Ahahaha, Masaki rajin juga ya. Sampai niat menghitung poin sendiri segala?"
"Tentu saja. Ujian itu tidak ada artinya kalau cuma sekadar dikerjakan, kan?"
Mengecek benar atau salah selagi ingatan saat menulis jawaban masih segar itu memberikan manfaat besar. Lagipula, meski aku cukup percaya diri dan merasa tidak mungkin sampai ikut ujian susulan, aku tetap saja penasaran dengan hasilnya. Melakukan penilaian mandiri itu banyak untungnya dan tidak ada ruginya sama sekali.
"Yah, Masaki memang pintar sih. Padahal sepertinya orang-orang bakal merasa kaget kalau tahu."
"Aku tidak bisa protes kalau ada yang tanya 'memangnya menurutmu aku ini orang seperti apa'," aku hanya bisa tersenyum getir.
Wajah sangar begini pasti citranya seperti "penguasa sekolah di balik layar". Fakta bahwa aku bisa belajar mungkin lebih mengejutkan daripada melihat berandalan memungut kucing terlantar di bawah guyuran hujan.
"Yuzuki sendiri juga pintar, kan? Bukannya kamu juga bakal bikin orang kaget?"
"Gyaru yang pintar belajar itu bukan hal langka. Gyaru itu gengsian, tahu. Kami tidak mau dianggap bodoh."
"Heh..."
Memang benar, Yuzuki tidak hanya punya penampilan yang menarik, dia juga jago olahraga. Singkatnya, spek dirinya memang tinggi. Terlebih lagi, setelah tinggal bersama, aku jadi tahu kalau dia juga serba bisa dalam urusan rumah tangga tanpa ada celah sedikit pun. Bisa berpacaran dengan gadis secantik dan se-serba bisa ini, apakah ini benar-benar bukan mimpi?
"Ah, tunggu dulu. Daripada membahas aku dan Yuzuki, sekarang yang penting itu Fuuka, kan?"
"Eh? Aku memangnya kenapa?"
"Kamu dengar pembicaraan tadi, kan? Gimana ujianmu, Fuuka? Kamu kan baru saja pindah sekolah, pasti ada perbedaan kemajuan materi pelajaran dengan sekolah lama. Apa ada kebijakan khusus untukmu?"
"Ah, soal itu guru memang sempat menawarkannya, tapi aku hanya menerima niat baiknya saja."
"Kebijakannya diterima juga, dong!"
"Tapi, sepertinya nilaiku dan Yuzu-nee akan sama, lho?"
"...Apa hal semacam itu tetap berlaku meski kondisinya sulit begini?"
Yuzuki dan Fuuka, Tsubasa bersaudara, adalah Destiny Twins. Terdengar seperti cerita mistis, tapi──
Yuzuki dan Fuuka selalu mendapatkan nilai yang sama dalam ujian. Mereka benar pada soal yang sama, dan salah pada soal yang sama pula. Kabarnya mereka pernah dicurigai menyontek, dan itu masuk akal. Si kembar ini pertama kali berdiri dan pertama kali bicara pada hari yang sama. Di hari yang sama pula mereka ditolong oleh pria yang sama──dan jatuh cinta pada pria yang sama.
Kembar Takdir──tanpa sadar mereka selalu mengambil tindakan yang sama. Karena perilaku dan hasil tindakan mereka sangat tersinkronisasi, orang-orang di sekitar sering menganggap mereka aneh.
"Yah, rahasianya adalah, kami sudah sering belajar bersama bahkan sejak sekolah kami masih berbeda."
"Kami sering saling memperlihatkan buku pelajaran. Aku juga sudah sering melihat buku teks dan catatan Yuzu-nee dari dulu."
"Oh, begitu ya..."
Syukurlah, ternyata Kembar Takdir bukan sepenuhnya fenomena mistis. Si kembar ini memang punya kemampuan semacam telepati, tapi mustahil mereka tahu hal yang belum pernah mereka dengar. Contohnya, mereka tidak akan pernah tahu kalau Perang Sekigahara terjadi pada tahun 1600 Masehi tanpa pernah membaca atau mendengarnya di suatu tempat. Bukan berarti jika Yuzuki tahu angka tahunnya, maka Fuuka otomatis tahu tanpa melakukan apa pun.
Kalau sampai sehebat itu malah jadi seram, jadi aku sedikit merasa lega.
"Hm? Kalau begitu, sebaliknya, apakah Yuzuki bisa dapat nilai yang sama jika mengerjakan soal ujian di sekolah lama Fuuka──SMA Putri Shuuka?"
"Sepertinya begitu. Soalnya pengetahuan kami juga seperti saling terbagi. Pokoknya, ujian Fuuka juga aman-aman saja, kok."
"Kalau begitu, syukurlah. Tentu saja aku tidak pernah berpikir kalian bakal ikut ujian susulan."
Bagaimanapun, Fuuka pindah ke sini setelah melewati ujian pindah sekolah yang katanya lebih sulit daripada ujian masuk biasa. Dasarnya dia memang pintar belajar.
"Hmm, Masaki benci anak bodoh tidak?"
"Eh? Pertanyaan macam apa itu?"
"Cuma obrolan santai. Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah dengar kriteria gadismu seperti apa."
Yuzuki tersenyum penuh arti ke arahku. Bukannya ingin tahu kriteriaku, sepertinya dia cuma ingin menggodaku. Soalnya──aku kan pernah menyatakan cinta padanya sebelumnya. Meski begitu, tidak ada salahnya untuk memikirkannya kembali.
"Kriteria, ya..."
Pasti gadis seperti Yuzuki, itu sudah jelas. Karena pada awalnya, memang Yuzuki lah yang aku sukai. Hanya saja, aku tidak pernah memusingkan soal pintar tidaknya atau seberapa tinggi spek dirinya. Berbohong besar kalau aku bilang tidak peduli penampilan, tapi tentu saja bukan cuma itu.
Yuzuki punya kepribadian yang ceria dan cocok dengan senyuman. Dia tipe gadis yang lugas, bahkan membiarkan teman sekelas yang tidak akrab sekalipun memanggil nama kecilnya. Mungkin bagian itulah yang kusukai.
"Masaki, kamu sedang berpikir keras ya?"
"Ah, tidak. Hal semacam itu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata."
"Tapi, fakta bahwa kamu menyatakan cinta pada Yuzu-nee berarti menyukai tipe yang seperti Yuzu-nee, kan?"
"............!"
Tiba-tiba Fuuka mendekat dan bergumam pelan. Apa yang kupikirkan tepat sasaran!
"Kalau soal kriteria, bukannya yang seperti 'punya kepribadian ceria dan senyumnya menyilaukan'?"
"Lalu, tipe yang lugas sampai membiarkan teman sekelas yang tidak akrab memanggil nama kecilnya... begitukah?"
"Kalian ini bukan cuma Kembar Takdir atau Dual Twins saja, kan!?"
Mereka pasti sedang membaca pikiranku!
Lagipula, Yuzuki, hebat juga ya kamu bisa memuji diri sendiri setinggi itu!
"Sekarang tentu saja Fuuka juga... anu... masuk kriteriaku."
Aku mengucapkannya sambil merasa wajahku memanas, meski rasanya tidak cocok dengan tampang sangarku ini. Sulit sekali rasanya menyatakan "suka" secara lugas. Untungnya si kembar sepertinya tidak terlalu mempermasalahkannya, jadi aku agak sedikit bermanja pada situasi itu.
"Tapi, sudah pasti kan kalau Masaki-san aslinya memang suka tipe gyaru yang modis?"
"U-uhm... kalau ditegaskan begitu, bagaimana ya?"
Sulit untuk mengiyakan kalau aku ini pecinta gyaru. Malah, aku cenderung merasa agak tidak nyaman jika berhadapan dengan siswi tipe gyaru lainnya. Wajar saja bagi orang yang tidak terbiasa menghadapi perempuan merasa tertekan oleh aura gyaru yang kuat.
"Kalau tipe gyaru, apa Takaya-san juga termasuk kriteriamu?"
"Takaya? Yah... dia memang cantik, sih."
Dasarnya, semua gadis di sekitar Yuzuki memang punya level kecantikan yang tinggi. Takaya Riina tidak diragukan lagi adalah salah satu yang paling menonjol di antara mereka... tapi, kejadian mengintip di ruang ganti tempo hari—meski sudah dimaafkan—membuatku sulit untuk bicara santai dengannya.
Dia juga satu-satunya teman sekelas yang berani menginterogasi hubunganku dengan si kembar secara terang-terangan, dan sepertinya dia punya banyak hal yang ingin disampaikan padaku. Berkat masa ujian, aku sempat terhindar dari desakan Takaya──tapi sepertinya itu hanya menunda masalah saja. Takaya sepertinya menganggap hubunganku dengan si kembar adalah sesuatu yang tidak masuk akal, dan itu sangat wajar.
"Tapi ya, soal Rii, suatu saat nanti──eh?"
Tepat saat Yuzuki hendak mengatakan sesuatu, bel pintu berbunyi.
"Jarang-jarang ada tamu datang ke sini..."
Sejauh yang aku tahu, hampir tidak pernah ada tamu yang berkunjung ke kediaman Tsubasa. Yuzuki dan Fuuka memang sering belanja daring, tapi barang-barang biasanya langsung masuk ke kotak paket di lobi. Karena mereka berdua pintar memasak, mereka juga tidak pernah memesan layanan pesan antar. Dan yang mengejutkan, belum pernah sekalipun teman-teman mereka berkunjung. Sepertinya si kembar adalah tipe yang tidak suka mengundang orang ke rumah.
"Iya, iya, biar aku yang buka. Halo, dengan siapa ya?"
『Halo, ini Takaya. Apa ini Yuzu?』
"Eh? Rii? Ada apa tiba-tiba begini? Ah, sebentar aku buka pintunya, naik saja."
Yuzuki mengoperasikan interkom untuk membuka pintu lobi. Takaya datang... Takaya datang!? Panjang umur sekali, baru saja dibicarakan──
"Tu-tunggu sebentar! Takaya mau ke sini?"
Seingatku, ini juga pertama kalinya Takaya berkunjung ke rumah keluarga Tsubasa.
"Iya. Fuuka, apa ada camilan?"
"Sepertinya ada kue kering pemberian orang di suatu tempat..."
"Bukan, bukan! Sebelum meributkan soal teh dan kue, ada hal lain yang harus kita putuskan!"
Aku menghentikan si kembar yang hendak menuju dapur.
"Gi-gimana ini? Apa aku sembunyi saja di kamarku?"
"Hah? Kenapa harus sembunyi?"
"Eh? Untuk apa sembunyi?"
"......Berpacaran dengan anak kembar saja sudah bikin heboh, kalau sampai tahu kita tinggal bersama, keterkejutannya tidak akan cuma dua kali lipat."
Secara akal sehat, tinggal bersama bagi sesama anak SMA itu tidak mungkin terjadi. Ditambah lagi dengan bumbu "anak kembar", orang-orang bukan cuma bakal menganggapku aneh, tapi Yuzuki dan Fuuka juga bakal dikira sudah tidak waras.
"Pokoknya aku sembunyi. Aku tidak akan bersuara, jadi Yuzuki, Fuuka, tolong urus sisanya dengan baik ya."
"Masaki, bersembunyi pun percuma saja, tahu."
"Percuma?"
"Takaya-san itu sahabat Yuzu-nee. Kita tidak mungkin menyembunyikan soal tinggal bersama ini selamanya. Lagipula Kakakku tidak terlalu pandai berbohong."
"Tunggu dulu, kalian tidak berniat berterus terang soal tinggal bersama ini pada Takaya, kan?"
"Kami berniat berterus terang, kok."
"Iya, kami akan berterus terang."
"............"
Jangan kompak begitu dong di saat seperti ini.
"Lagipula tidak akan bisa disembunyikan terus, dan aku memang berniat menceritakan semuanya pada Rii suatu saat nanti."
"Aku juga setuju. Jika suatu saat pasti ketahuan, lebih baik dia tahu lebih awal agar kita lebih tenang."
"......Apa hidupku tidak akan jadi seperti di neraka nanti?"
Bagi Takaya, Yuzuki adalah sahabatnya. Fuuka adalah murid pindahan yang juga adik Yuzuki. Aku ragu Takaya akan bersikap keras pada mereka berdua──tapi kalau lawannya aku, dia pasti tidak akan segan-segan, kan? Jika dulu mungkin tidak, tapi belakangan ini Takaya sepertinya sudah tidak terlalu takut padaku. Dia pasti akan mendesakku dengan keras, menanyakan apa maksudku memacari Yuzuki dan Fuuka sekaligus, apalagi sampai tinggal bersama. Sudah pasti interogasi di kelas kemarin akan berlanjut di sini.
"Yah, benar juga sih..."
"Masaki?"
"Aku tidak bisa lari selamanya. Kalau begitu──"
Aku segera berubah pikiran. Aku harus bersikap jantan. Melarikan diri itu sama sekali bukan gayaku──tidak jantan. Meski bukan prinsip yang kaku dan mungkin terdengar ketinggalan zaman, aku selalu berusaha untuk "bersikap jantan". Kalau begitu, aku tidak boleh lari ataupun bersembunyi. Kemarin di kelas aku memang sempat mengelak, tapi kali ini aku harus menghadapinya dengan jujur.
"Baiklah, kita beri tahu Takaya. Dia orang baik, kok. Pasti dia mau mengerti."
"Nah, begitu dong Masaki. Itu baru namanya laki-laki."
"Luar biasa, Masaki-san. Memang harus begitu."
Si kembar mengangguk-angguk setuju. Karena pendapat kami bertiga sudah bulat, pilihan untuk melarikan diri sudah tertutup sepenuhnya.
Takaya Riina melangkah masuk ke pintu masuk kediaman Tsubasa. Begitu melihat Yuzuki, Fuuka, dan satu lagi sosok pria berwajah sangar yang muncul menyambutnya──
"Ke-kenapa?"
"Bahaya!"
Kantong kertas berisi oleh-oleh yang dipegangnya jatuh berdebum ke lantai. Menjatuhkan barang karena syok? Ternyata reaksi seperti di manga begini benar-benar ada di dunia nyata, ya.
Aku bergegas melompat ke depan dan berhasil menangkap kantong yang dijatuhkan──atau hampir jatuh──itu tepat di detik terakhir. Aku sendiri heran dengan kecepatan refleksku.
"Takaya, sepertinya aku mengejutkanmu ya. Maaf."
Aku melangkah naik dari area pintu masuk sambil memastikan kondisi kantong kertas tersebut.
"Ini isinya makanan? Tidak sampai membentur lantai, sih, tapi apa tidak apa-apa?"
"A-ah, iya, isinya kue sus, jadi tidak akan hancur cuma karena begitu──tunggu, bukan itu masalahnya! Kenapa Masaki-kun ada di sini... maksudku, apa kamu sedang main ke sini juga? Sama sepertiku?"
"Yah, bukan begitu... tapi kamu sudah paham, kan?"
Aku hanya mengenakan kaos putih polos dan celana pendek, pakaian yang sangat santai. Kalau cuma untuk pergi ke minimarket sih tidak masalah, tapi terlalu santai jika dibilang "sedang main ke rumah pacar". Takaya pun pasti langsung menyadarinya dalam sekali lhat. Orang ini tinggal di sini, batinnya. Itulah sebabnya dia sampai kaget setengah mati hingga menjatuhkan kue susnya.
"Kita bicara di dalam saja. Tidak enak kan kalau berdiri terus di sini."
"........"
Mendengar ucapanku, Takaya mengangguk pelan. Takaya memakai kaos ketat yang memperlihatkan pusarnya dipadu dengan celana pendek hotpants, pakaian yang cukup terbuka. Namun anehnya, kesan sehat justru lebih kuat terasa daripada kesan seksi. Kalau diingat-ingat, mungkin ini pertama kalinya aku melihat Takaya dengan pakaian rumah biasa...
Sambil memikirkan hal itu, kami berempat pindah ke ruang tengah.
"Fuuka, maaf ya, tolong buatkan teh. Semuanya mau teh? Karena cuaca panas, sepertinya es teh enak ya."
Tidak ada yang keberatan dengan usul Yuzuki. Fuuka segera membuatkan es teh di dapur dan kembali membawa nampan.
Kami berempat menikmati es teh dingin dengan banyak es batu itu──tapi belum ada yang menyentuh kue sus bawaan Takaya. Karena sebelum itu, Yuzuki mulai menjelaskan semuanya. Aku dan Fuuka tidak menyela, hanya mendengarkan dalam diam. Untuk menjelaskan pada Takaya, memang Yuzuki sebagai sahabatnya adalah orang yang paling tepat.
"Ah, benar juga. Rii, ikut aku sebentar."
Bahkan, Yuzuki sempat membawa Takaya keluar dari ruang tengah untuk berbicara berdua saja. Tak lama kemudian, mereka kembali dan duduk di sofa──tiga gadis itu duduk berjajar dengan Yuzuki di tengah, sementara aku berdiri agak jauh sambil melipat tangan.
"Yuzu, kamu serius...?"
"Serius banget, buat apa aku bohong soal begini. Aku juga sudah menunjukkan kamar Masaki padanya."
Ya, sebagai bukti bahwa aku memang tinggal di salah satu kamar di apartemen ini, sepertinya Yuzuki sudah memamerkan kamar pribadiku pada Takaya. Tidak ada hal yang memalukan di sana, jadi tidak masalah bagiku. Tapi dengan begini, alasan seperti "bohong" atau "prank" sudah tidak mungkin digunakan lagi. Kami sudah tidak bisa mundur, dan aku memang menginginkan hal itu.
"Memang itu benar-benar kamar anak laki-laki, tapi... tu-tunggu dulu. Biarkan aku menata pikiranku."
Takaya meminum es teh buatan Fuuka langsung dari gelas tanpa sedotan. Padahal dia bisa minum pelan-pelan, sepertinya dia benar-benar sangat terguncang.
"...Anu, apa boleh anak SMA tinggal bersama seperti ini?"
"Pertanyaanmu saking normalnya sampai terasa baru di telingaku."
Aku tahu hal itu akan mengejutkan, tapi aku sendiri sudah terlalu terbiasa dengan lingkungan ini.
"Aku mengerti maksudmu, Rii. Tapi ya, kami tidak ingin membiarkan Masaki lepas."
"Kami memang masih bergantung pada orang tua, tapi karena ada rumah yang bisa kami gunakan sesuka hati seperti ini, tidak ada salahnya memanfaatkan keuntungan itu, kan?"
"Kalian berdua benar-benar cerdik ya... Aku tahu sifat Yuzu, tapi sepertinya adiknya pun punya dasar sifat yang mirip."
Entah Takaya merasa kagum atau heran. Dia sepertinya masih kewalahan menghadapi situasi ini.
"Aduh... dibilang mirip Yuzu-nee membuat aku jadi malu."
"Kalian kan sudah dibilang mirip sejuta kali. Kenapa baru malu sekarang?"
"Mau dibilang sejuta atau sepuluh juta kali pun aku tetap senang."
"Aku paham banget perasaan itu~"
"Paham apanya!"
Aku refleks membalas. Apa-apaan yang dikatakan Fuuka dan Yuzuki ini? Padahal biasanya anak kembar justru tidak suka dibilang mirip, tapi kakak-beradik ini sepertinya malah senang jika dibilang identik. Meski sudah tinggal bersama dan bermesraan setiap hari dengan mereka, masih ada hal-hal yang belum bisa kupahami.
"Tapi ya... sebelum soal tinggal bersama, sebenarnya aku masih belum percaya."
"Hm? Takaya, soal apa?"
"Ya itu, soal Masaki-kun yang pacaran dengan Yuzu dan adiknya sekaligus. Seberapa akrab pun kalian sebagai anak kembar, itu kan namanya... mendua?"
"Ugh..."
Dibilang begitu secara telak membuatku merasa bersalah juga. Meski sudah memutuskan untuk memacari mereka berdua, terkadang kata-kata seperti itu tetap terasa seperti serangan bagiku.
"Aku sulit percaya kalian mengizinkannya mendua. Jangan-jangan aku sedang dikerjai?"
"Buat apa kami mengerjaimu, Rii. Tidak ada untungnya bagi kami."
"Memang sih... tapi kalau ini prank, sama sekali tidak lucu."
"Mana mungkin aku melakukan prank yang tidak seru begitu."
"Meski begitu... aku tetap sulit menerimanya. Logika normalku seolah menghalangi."
"Hmm..."
Apa yang dikatakan Takaya memang benar, dan aku sangat paham perasaannya. Jika aku punya teman──yang saat ini tidak ada di sekolah ini──lalu dia bilang, "Sebenarnya aku memacari dua gadis kembar sekaligus," aku pun pasti tidak akan pernah percaya.
Bahkan daripada mencurigai itu sebagai kebohongan, orang mungkin akan merasa kasihan karena mengira aku sedang berhalusinasi. Mungkin perasaan Takaya pun mendekati hal tersebut. Kalau begitu, akulah yang harus mematahkan keraguan itu.
"Aku benar-benar berpacaran dengan Yuzuki dan Fuuka. Jujur saja, awalnya yang kusukai memang hanya Yuzuki."
"Itu... tentu saja begitu, kan? Karena kalian sekelas."
Pada awalnya, aku bahkan tidak tahu keberadaan Fuuka. Tidak mungkin aku bisa langsung menyukainya. Aku juga menjelaskan hal itu kepada Takaya.
"Begitulah ceritanya, aku ini adalah bonus yang menyertai Yuzu-nee."
"......Bo-bonus. Dari semua cerita sejauh ini, bagian yang paling aneh ──maksudku, paling unik, bukannya adikmu ini ya?"
"Be-begitukah...... ah, tidak juga, kok."
Fuuka entah kenapa malah terlihat malu-malu lagi. Menurutku, Takaya sama sekali tidak sedang memujinya. Yah, kenyataannya Fuuka memang agak 'geser', tapi itu juga salah satu daya tariknya.
"Takaya, biar kubilang ya, aku tidak menganggap Fuuka sebagai bonus."
"Eeh...... padahal aku tidak keberatan sama sekali kalau dianggap bonus."
Entah mengapa, Fuuka terlihat benar-benar tidak puas. Ini juga merupakan salah satu keanehan Fuuka, jadi tidak ada gunanya dipikirkan terlalu dalam.
"Pokoknya, aku serius berpacaran dengan si kembar. Karena Yuzuki dan Fuuka yang menginginkannya, kami pun tinggal bersama seperti ini. Tentu saja, tinggal bersama ini juga adalah keinginanku."
"Hmm......"
Takaya melipat tangan sambil memiringkan kepalanya.
"Kalau dikatakan dengan serius oleh wajah Masaki-kun yang seperti itu, aku jadi merasa harus percaya......"
"Haha, wajahku ini ada gunanya juga sesekali."
Wajah yang selama ini selalu dibilang menyeramkan ternyata bisa disebut punya aura yang kuat juga. Tak disangka, hal itu memberikan efek persuasif pada kata-kataku.
"Dengar, Rii."
"Anu, Takaya-san."
Yuzuki dan Fuuka berujar serempak.
"Masaki itu setia pada si kembar."
"Masaki-san itu setia pada si kembar."
"Itu namanya bukan setia!"
Sayangnya, aku tidak punya kata-kata untuk membela diri. Dalam persepsi umum, mau dibilang dengan cara apa pun, ini tetaplah hubungan mendua. Penjelasan tambahan dari si kembar tadi sepertinya malah memberikan efek negatif.
"Masaki-san."
"Hm? Ada apa, Fuuka?"
Fuuka bangkit berdiri dan melangkah menghampiriku.
"Mengenai cerita Masaki-san tempo hari──soal memiliki dua kepribadian──apa lebih baik tidak usah dibicarakan?"
"Ah......"
Fuuka berbisik pelan di telingaku. Sepertinya dia menjaga perasaanku karena ini adalah rahasia yang tidak kuceritakan pada orang lain.
Sejak lahir, ada "dua kepribadian" di dalam kepalaku. Meski begitu, kedua kepribadian ini benar-benar identik, dan dalam persepsiku, mereka tidak bergantian muncul seperti kepribadian ganda yang sering ada di karya fiksi. Hal yang bisa kulakukan hanyalah melakukan "rapat dalam otak" di antara kedua diriku. Meski kepribadiannya sama, terkadang ada sedikit perbedaan pendapat, dan meskipun menangani masalah yang sama, hasil kesimpulannya bisa berbeda.
Ya, sekarang──aku sedang melakukan rapat otak tentang "apakah boleh memberitahu Takaya soal dua kepribadian ini". Kesimpulannya langsung mufakat.
Ditolak.
"......Karena ini urusan isi kepalaku, tidak ada cara untuk membuktikannya. Kalau diberitahu pada Takaya pun hanya akan membuatnya semakin bingung. Padahal sekarang saja dia sudah sangat kacau."
"Benar juga...... masuk akal," Fuuka mengangguk pelan.
Si kembar ini bisa langsung memercayai soal dua kepribadianku karena situasinya memang aku menyukai mereka berdua secara bersamaan. Karena mereka merasa dicintai olehku secara simultan, itulah mengapa mereka percaya. Tapi meminta Takaya untuk percaya adalah hal yang mustahil. Kasihan juga kalau harus membuatnya semakin bingung.
"Kalau begitu, soal double mind Masaki-san biarlah menjadi rahasia kita bertiga saja."
"Dou-double mind......"
Kalau tidak salah ada istilah double bind, ya? Kondisi di mana seseorang menerima dua pesan yang bertentangan secara bersamaan sehingga menjadi bingung. Misalnya, diperintah "Dengarkan instruksiku!" tapi di saat yang sama dilarang "Jangan cuma menunggu instruksi!". Dulu Wakaba pernah memberitahuku soal itu.
Anak itu, karena mencemaskan isi kepalaku, dia sampai mempelajari psikologi dan semacamnya. Padahal dua kepribadianku sama sekali tidak ada hubungannya dengan double bind.
"Maaf membuat menunggu. Bisik-bisiknya sudah selesai."
"Aku memang tidak dengar apa yang kalian bicarakan, tapi kalian melakukannya dengan sangat terang-terangan ya. Tidak terasa seperti sedang berbisik rahasia sama sekali."
"Aku pikir akan tidak sopan pada Takaya-san kalau kami terlalu sembunyi-sembunyi."
Fuuka berujar dengan riang lalu duduk kembali di sofa.
"Yah...... kalau kalian bertiga sampai bicara sejauh itu, aku tidak punya pilihan selain percaya."
Takaya menghela napas panjang.
"Cerita kalian terlalu luar biasa, sulit bagiku untuk mencernanya......"
"Rii, anggap saja begini; jangankan zaman Edo, kabarnya di zaman Meiji pun kakek-kakek hebat punya istri lebih dari satu, kan? Dibandingkan itu, Masaki cuma punya dua, jadi masih terhitung manis, kan?"
"Yuzu-nee adalah istri sah, dan aku adalah selirnya."
"......Itu pun sama sekali tidak persuasif, tapi kenapa adiknya malah kelihatan senang sih?"
Takaya sepertinya selain tidak paham dengan situasi kami, dia juga merasa heran. Bahwa kami tidak dipahami atau dianggap aneh, itu memang sudah kami duga sebelumnya.
"Yah, mungkin ada bagusnya orang pertama yang tahu soal tinggal bersama ini—selain keluargaku dan keluarga Tsubasa—adalah sahabat Yuzuki, yaitu kamu, Takaya."
"Eh, keluarga kalian juga sudah tahu? Itu juga mengejutkan......"
Gawat, sepertinya aku baru saja keceplosan lagi──tapi sudah terlambat. Lagipula, mungkin memang lebih baik jika aku menumpahkan segalanya kepada Takaya.
"Tapi, kenapa kalau aku yang tahu malah dianggap tidak apa-apa?"
"Karena aku percaya pada Yuzuki, dan kurasa kamu masih mau mendengarkan dengan tenang. Selain itu, kamu sudah tidak terlalu takut padaku, jadi kamu tidak akan mencurigai adanya tindakan kriminal atau semacamnya."
"Itu sih... ya iyalah. Aku tidak mungkin berpikir Masaki-kun menggunakan kekerasan untuk memaksa Yuzu dan adiknya menjadi milikmu."
"Mendengarnya saja aku sudah bersyukur."
Takaya tersenyum getir, dan aku pun membalasnya dengan senyuman yang sama. Mengingat wajahku yang sangar ini, aku memang selalu ditakuti oleh orang-orang di sekolah. Padahal seingatku, aku tidak pernah melakukan hal buruk apa pun.
"Yuzu itu bukan tipe yang bisa dipaksa, dan adiknya sepertinya juga punya mental yang kuat."
"Fuuka, aku tidak tahu itu pujian atau hinaan bagimu."
"Yuzu-nee, itu mungkin yang namanya tsundere."
Menurutku, Takaya mungkin memang sedang memuji, tapi dia bukan tsundere.
"Begitu ya. Kalau sampai orang lain tahu soal kita tinggal bersama, apa Rii mau membantu membela kami?"
"Paling tidak aku akan memberikan bantuan tembakan perlindungan. Habisnya, ini kan soal sahabatku, adiknya, dan... pacar mereka berdua."
Tampaknya, meskipun masih bingung, Takaya mulai menunjukkan rasa pengertiannya.
"Tapi!"
"Eh?"
Takaya tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan menatapku dengan tajam.
"Masaki-kun, kamu serius kan pada mereka berdua? Adiknya sampai bilang dirinya bonus, jadi kalau ternyata salah satu dari mereka cuma mainan bagimu──"
"Mana mungkin begitu. Hmm..."
Takaya ternyata punya sisi keras kepala juga... atau mungkin, memang hubungan ini tetap sulit dipahami sepenuhnya oleh orang lain. Bahkan setelah dijelaskan sejauh ini, aku tetap belum bisa meyakinkan Takaya sepenuhnya. Padahal, cara untuk membuktikan hubungan kami itu──
"Kalau begitu, Rii. Biar kutunjukkan buktinya dengan jelas."
"Bukti?"
"Benar, Yuzu-nee. Kita harus membuat Takaya-san percaya pada kita."
"Eh, kalian mau melakukan apa...?"
"........"
Ah, sepertinya aku mulai paham. Padahal aku bukan anak kembar, tapi kenapa jalan pikiranku mulai sinkron dengan Yuzuki dan Fuuka? Yuzuki dan Fuuka bangkit dari sofa dan berjalan menghampiriku.
“Cup...”
“Ngh...”
Yuzuki dan Fuuka secara bersamaan mengecup pipiku.
"Mmph, muah♡"
"Nnngh, cup♡"
Kali ini, mereka bergantian mencium bibirku.
"Tu-tunggu sebentar! Yuzu, Imouto-san, apa yang kalian lakukan!?"
"Kan sudah kubilang, kami sedang menunjukkan bukti."
"Iya, ini bukti bahwa kami bertiga memang berpacaran."
Yuzuki dan Fuuka berujar riang kepada Takaya sambil menempel manja padaku. Tunggu, bukannya mereka malah mulai menikmati situasi ini?
"Lalu... tolong jangan panggil 'Imouto-san', tapi panggil saja 'Fuuka'. Rasanya sedih kalau sahabat Kakak sendiri menjaga jarak seperti itu."
"Ugh..."
Fuuka melepaskan diri dariku dan berbisik tepat di samping Takaya. Mungkin karena wajah gadis secantik itu mendekat tiba-tiba, wajah Takaya langsung memerah padam meski mereka sesama perempuan.
"Ba-baiklah... Fuuka. Fuu ya. Aku biasanya memanggil teman akrab dengan nama panggilan."
"Luar biasa. Yuzu-nee, namaku sekarang Fuuka."
"Baguslah. Kedengarannya lebih manis daripada 'Yuzu' milikku."
"........"
Di depanku, para gadis ini mulai terlihat akrab. Padahal Takaya tadi sangat bingung, tapi ternyata dia cepat juga pulihnya.
"Tunggu, bukan itu masalahnya! Yuzu, Fuuka! Ke-kenapa kalian ber-ciuman di depanku..."
"Jangan-jangan Rii belum pernah ciuman ya?"
Kini giliran Yuzuki yang mendekati Takaya, lalu mengangkat dagunya dengan ujung jari.
"A-aku kan... sekarang lagi fokus menari!"
"Yah, aku pun baru melakukannya pertama kali dengan Masaki."
"Aku yang bonus ini pun, tentu saja Masaki-san adalah yang pertama bagiku."
"Aku tidak butuh informasi itu, tahu..."
Mata Takaya mulai berputar-putar, dia mulai kacau lagi. Aku bahkan merasa sedikit bersalah sekarang.
"Tapi, kami sebenarnya sudah melakukan hal yang lebih dari sekadar ciuman, lho..."
"Tu-tunggu sebentar, Yuzu!?"
"Kalau yang ini, aku pun sebenarnya merasa sedikit malu..."
"Fuuka, kamu juga ngapain!?"
Mari kita tata kembali situasinya.
Takaya duduk di sofa. Yuzuki dan Fuuka berdiri di depan Takaya──
Yuzuki melepas kaosnya, sementara Fuuka menanggalkan kaitan depan gaun terusannya yang tanpa lengan.
Boing... dada berukuran 90 cm cup G milik mereka berdua terekspos. Dada yang memantul akibat gerakan melepas baju itu masih terlihat berguncang pelan. Ukuran yang luar biasa ini, seberapa sering pun aku melihatnya, selalu membuatku terkejut dan jantungku tak berhenti berdebar. Yuzuki mengenakan bra olahraga berwarna abu-abu, sedangkan Fuuka mengenakan bra putih yang terlihat polos dan manis.
"Kalau cuma bra sih sebenarnya Rii sudah sering melihatnya... tapi kalau harus menunjukkannya lagi di situasi seperti ini, rasanya cukup memalukan."
"Ka-kalau malu ya jangan dilepas! Apa kamu kepanasan!?"
"Mungkin dalam arti tertentu, iya. Tidak, kurasa... tubuhku mulai terasa panas."
Yuzuki tersenyum penuh arti──
"Masaki, ke sini sebentar."
"A-ah, iya."
Aku dipanggil oleh Yuzuki dan berdiri di samping si kembar. Kemudian, aku merengkuh mereka berdua dengan kedua tanganku dalam satu pelukan.
"Kyaa, langsung tancap gas?"
"Yaan♡ Seperti biasa ya, Masaki-san."
"Se-seperti biasa, katamu...!"
Takaya tampak semakin kebingungan. Aku mendekap si kembar lebih erat──sambil secara alami mulai meremas pelan dada mereka masing-masing. Karena Yuzuki dan Fuuka sudah memamerkan dada mereka, tidak mungkin aku mendiamkannya begitu saja.
"Annh♡ Tunggu, Masaki. Bukannya ini agak lebih kasar dari biasanya?"
"Ngh♡ Kalau aku, justru lebih suka yang seperti ini...♡"
"Tu-tunggu, tunggu sebentar! Serius, apa-apaan ini!?"
Takaya berteriak kaget, tapi──aku tetap meremas dada mereka berdua tanpa ampun. Memang benar, mungkin aku sedang lebih bergairah dari biasanya. Padahal seingatku, aku tidak punya hobi pamer di depan orang lain.
"Nnngh... aduh, kalau begini aku tidak tahan lagi...♡ Masaki, ayo...♡"
"Masaki-san... silakan...♡"
Yuzuki menaikkan bra olahraganya ke atas, memperlihatkan putingnya yang berwarna merah muda. Fuuka pun menurunkan bra putihnya ke bawah, memperlihatkan puting dengan warna yang persis sama dengan kakaknya.
"Ka-kalian sampai memperlihatkan bagian itu juga!?"
"Aku sudah berkali-kali melihatnya, kok."
Sambil berkata begitu, pertama-tama aku mencium puting Yuzuki, sementara di saat yang sama jemariku memainkan dan memutar puting Fuuka. Ternyata memang benar, menikmati puting si kembar dengan mulut dan tangan secara bersamaan adalah perasaan yang luar biasa...
"Nnngh♡ Masaki, kamu menghisapnya terlalu kuat♡"
"Ka-kalau diputar begitu...♡ Annh♡"
Setelah itu, kali ini aku menjilati sekeliling puting Fuuka lalu mengulum dan menghisapnya kuat-kuat. Tentu saja, tanganku beralih ke puting Yuzuki, menjepit dan menarik-nariknya perlahan.
"Dengar, Rii? Kamu mengerti...?"
"A-apa yang harus kumengerti?"
"Beginilah cara Masaki menyayangi kami berdua secara bersamaan."
"Me-menyayangi, ya... yah, kalau punya dua orang semanis kalian secara bersamaan... m-mungkin hasilnya memang bakal jadi seperti ini?"
Ucapannya masuk akal, tapi sebenarnya tidak sesederhana itu.
"Bukan begitu... ngh♡"
Cup, cup, Fuuka mendaratkan beberapa kecupan padaku.
"Masaki-san itu sangat peka... dia memberikan apa yang aku dan Yuzu-nee inginkan tepat pada waktunya. Dadaku lagi... annh♡"
Sebelum dia sempat menyelesaikannya, aku sudah beralih dari ciuman Fuuka dan kembali menghisap putingnya. Suara hisapan dan jilatan terdengar jelas di ruangan itu.
"Ngh, lihat... kamu paham sekarang?"
"Ma-mana mungkin aku paham! Su-sudah cukup, aku sudah mengerti! Yuzu juga!"
"Maaf ya, Rii."
"Eh?"
Yuzuki juga mengecupku singkat sebelum akhirnya──ia terduduk bersimpuh di lantai. Di saat yang sama, Fuuka juga ikut duduk sejajar di samping kakaknya.
"Sebenarnya kami sudah memikirkan ini sejak lama."
"Iya, soalnya selama ini kan baru sampai ciuman, dada, dan... mulut saja."
"Mu-mulut, katamu...!"
Sampai di titik ini, aku mulai curiga si kembar sengaja mengerjai Takaya. Yah, meski dalam situasi begini, apa pun yang dilakukan pasti bakal bikin kaget.
“”Makanya...””
Suara mereka bersatu, dan tangan mereka berdua secara serentak meraih celanaku──
"Kyaaa...!"
Takaya menjerit, dan jujur saja aku pun hampir ikut berteriak. Mana mungkin mereka melakukan hal sejauh ini di depan Takaya──!
"A-apa yang kalian lakukan, Yuzu, Fuuka...!"
Takaya──wajahnya memerah padam melihat apa yang muncul di hadapannya, tapi matanya tidak berpaling. Kalau boleh jujur, aku ingin dia memalingkan wajahnya. Dilihat oleh Takaya yang bukan pacarku rasanya sangat memalukan...!
"Masaki..."
"Masaki-san..."
"O-oi, Yuzuki, Fuuka, kalian... uugh!"
Yuzuki dan Fuuka, si kembar itu menggunakan tangan mereka untuk sedikit mengangkat dada mereka yang berukuran identik──lalu menjepit penisku di antara gundukan tersebut.
"Sudah saatnya kami memberikan ini padamu."
"Benar... mumpung aku dan Yuzu-nee punya ukuran yang besar..."
"............!"
Yuzuki dan Fuuka saling menekan dada mereka yang bervolume besar itu. Penisku terjepit di antara dada yang empuk, seolah-olah terkubur di dalamnya.
"Luar biasa... rasanya beda ya dengan menggunakan mulut...♡"
"Silakan nikmati perasaan nyaman di antara dada kami ya♡"
"Ugh, Yuzuki... Fuuka...!"
Sambil tetap menjepitnya, mereka berdua mulai menggerakkan dada mereka naik-turun, menggeseknya dengan kuat. Sensasinya benar-benar berbeda dengan saat menggunakan mulut mereka, tapi rasanya terlalu nikmat...!
Aku sudah sering meremas dan menikmati dada si kembar dengan bibir dan lidahku, tapi aku tidak menyangka masih ada cara menikmati yang seperti ini...! Tidak, aku tahu perilaku seperti ini ada──tapi digesek dan dibalut oleh keempukan dada yang montok seperti ini benar-benar luar biasa.
"Ti-tidak disangka, kalian sampai mau melakukan hal seperti ini..."
"Kenapa?♡ Masaki, apa jangan-jangan kamu memang sudah ingin melakukannya dari dulu?"
"Kalau iya, seharusnya bilang saja dari awal... kami akan melakukannya kapan pun untukmu♡"
Yuzuki menyeringai nakal, sementara Fuuka tersenyum manis sembari semakin gencar menggesekkan dadanya pada penisku. Cara mereka menggesekkan dada sudah sampai pada tahap yang agresif, rasanya benar-benar terlalu nikmat. Dada berukuran 90 cm, G-cup, dan itu ada dua pasang...! Jika terjepit di antara benda seperti itu, aku akan mencapai klimaks dalam sekejap...!
Sesekali, Yuzuki mengusap penisku dari pangkal menggunakan ujung putingnya, sementara Fuuka menjilat ujungnya dengan lincah sembari tetap menjepitnya. Di tengah permainan si kembar yang penuh variasi ini, penisku berdenyut kencang karena kegirangan yang luar biasa, dan gairahku semakin memuncak.
"Ahnn, ukurannya jadi semakin besar... Masaki!"
"Sepertinya kamu merasa sangat nyaman... ngh, Masaki-san!"
"Yu-Yuzuki, Fuuka... cukup...!"
Mereka berdua tanpa ampun saling menekan dada satu sama lain, mengapit penisku dan menggeseknya kuat-kuat. Padahal dada mereka terasa sangat lembut hingga seolah bisa meleleh, tapi entah mengapa mereka bisa menjepitnya sekuat ini. Karena rasa nikmat yang sudah di luar batas, aku benar-benar tidak sanggup lagi menahannya──
"Yuzuki, Fuuka...! Dada kalian, luar biasa...!"
"Ahnn, Masaki...!♡"
"Nnngh, Masaki-san...!♡"
Lalu, begitu saja aku──
"Kyaa...!"
"Eh?"
"Jeritan tadi bukan dariku..."
"Bukan dari aku juga..."
Di detik terakhir, aku refleks membuka mata yang sedadi tadi terpejam. Tepat di bawahku, masih ada dua pasang dada besar yang menjepit penisku. Dan lebih jauh lagi di depan sana──tentu saja ada Takaya yang sedang duduk di sofa.
"Auuu... sa-sampai sebanyak ini...?"
"Ah..."
Aku hampir saja berteriak lagi karena terkejut. Karena rasa nikmat yang luar biasa, aku sampai mencapai puncaknya tanpa memikirkan apa pun, tapi──
"Ta-Takaya! Maaf!"
Wajah cantik Takaya Riina telah──aku kotori. Cairan itu mengalir kental di pipi Takaya. Selain menunjukkan adegan luar biasa dengan si kembar, aku tidak menyangka akan sampai melakukan hal semacam ini padanya.
"Pa-panas... ternyata baunya seperti ini ya..."
"........"
Namun, Takaya hanya termangu dan tidak tampak marah.
"Anu, Rii? Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tapi..."
"A-apa?" jawab Takaya sambil memejamkan satu mata dan mengusap pelan noda di wajahnya dengan tangan.
"Dengan ini, kamu sudah paham, kan? Kami berdua melakukan hal erotis seperti ini dengan Masaki, dan..."
"Masaki-san juga menyayangi kami berdua secara bersamaan..."
"......Aku sudah paham... sejak kalian berdua... memulainya dengan da-dada tadi. Terlebih lagi... panas dan bau dari benda ini pun... sudah membuatku dipaksa paham..."
"Soal itu aku benar-benar minta maaf..."
Aku masih berdiri di sana, tetap dalam jepitan Yuzuki dan yang lainnya. Aku bingung harus merespons bagaimana.
"Sudahlah... aku mengerti... a-aku anggap ini sebuah kecelakaan... Masaki-kun."
"Eh?"
Entah sadar atau tidak, Takaya justru menempelkan sisa noda di wajahnya ke bibir──lalu menjilatnya dengan lidah.
"Sahabatku... aku percayakan padamu. Begitu juga dengan adik sahabatku."
"A-ah... serahkan saja padaku."
Sepertinya Takaya tidak marah. Mungkin karena disuguhi pemandangan yang begitu mengejutkan dan berakhir dikotori seperti itu, dia justru merasa linglung alih-alih marah. Meski begitu, aku harus introspeksi diri. Setelah kejadian mengintip di ruang ganti tempo hari, ini adalah kedua kalinya aku menyebabkan "kecelakaan" pada Takaya. Aku merasa sangat bersalah...
"Kamu agak erotis ya, Rii..."
"Iya, kamu sangat menggoda, Takaya-san..."
"Kyaa, Yuzu, Fuuka... a-apa yang kalian lakukan?"
Tiba-tiba saja Yuzuki dan Fuuka mendekat ke arah Takaya. Si kembar itu menjulurkan lidah dan menjilati sisa cairan kental yang masih menempel di wajah Takaya hingga bersih.
"Tapi, ini milik Masaki, jadi ini milik kami."
"Benar, maaf ya. Sudah menjadi tugas kami untuk menjilati semuanya sampai bersih di akhir."
"Ka-kalian sampai melakukan hal itu juga!?"
Wajah Takaya memerah padam saat wajahnya dijilati oleh Yuzuki dan Fuuka. Melihat dua gadis kembar cantik sedang bermesraan dengan gadis cantik yang modis itu, entah mengapa muncul semacam perasaan tabu...
Tidak, ini bukan waktunya untuk berdebar-debar. Seberapa pun nikmatnya permainan dada Yuzuki dan Fuuka, mengeluarkannya di wajah Takaya adalah hal yang keterlaluan.
Aku benar-benar harus merenungkan hal ini... namun, terlepas dari caranya──yang memang berakhir dengan cara yang sangat luar biasa──setidaknya aku sudah mendapatkan izin dan pemahaman dari sahabat Yuzuki untuk berpacaran dengan si kembar.
Mungkin terdengar tidak enak pada Takaya jika aku menyebutnya sebagai "rintangan" dalam hubunganku dengan si kembar. Tapi bagiku yang ingin menyayangi Yuzuki dan Fuuka, sepertinya satu fase penting telah berhasil kulewati.





Post a Comment