NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 10 Part 1


Aku adalah Lloyd de Saloum, pangeran ketujuh Kerajaan Saloum.

Seorang anak sepuluh tahun yang kebetulan sangat menyukai sihir... Ah, ralat, karena baru saja berulang tahun, sekarang aku berumur sebelas tahun.

Wah, aku ingat saat itu semua orang merayakannya dengan meriah. Padahal sebenarnya, akulah yang ingin berterima kasih kepada mereka.

Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah seorang penyihir miskin yang tidak berarti. Entah karena takdir apa, aku bereinkarnasi ke dalam keluarga kerajaan Saloum.

Aku diberkati dengan bakat yang luar biasa, perpustakaan dengan koleksi buku terbanyak di benua ini, serta kekayaan yang tak habis-habis.

Terlebih lagi, sebagai pangeran ketujuh yang tidak ada hubungannya dengan hak pewaris takhta, aku bisa menikmati kehidupan sihir yang bebas sesuka hati. Sungguh, tidak ada hal yang lebih patut disyukuri selain ini.

Bagaimanapun, di tengah hari-hariku yang memuaskan itu, saat ini aku sedang mempersiapkan sebuah penelitian—

"Oh, tumbuhnya lumayan pesat juga, ya."

Saat mendongak menatap pohon yang menjulang tinggi itu, ukurannya sudah menjadi sangat besar, jenis yang tidak akan pernah kau temukan di sekitar sini.

Familiar yang ada di sampingku, Grimo—si iblis dalam wujud anak kambing—dan Jiriel—si malaikat dalam wujud burung kecil—ikut mengangguk.

"Benar-benar kecepatan pertumbuhan yang mengerikan, ya."

"Yah, tidak heran kalau ini disebut World Tree."

—Benar, objek penelitianku saat ini fokus sepenuhnya pada World Tree.

Akibat insiden Kastel Tenchu beberapa hari yang lalu, World Tree yang asli tercabut sehingga tanah mulai runtuh. Klausen, seorang High Elf, mengorbankan nyawanya untuk menjadi World Tree yang baru.

Saat ini, adik perempuan Klausen yang bernama Fiona memimpin para Elf untuk merawat pohon itu di wilayah Lordst.

Pohon purba yang sudah ada sejak daratan ini tercipta... Jika aku menelitinya, itu pasti akan berguna bagi sihirku.

Selain itu, aku juga bisa memberikan pekerjaan kepada para Elf yang kutampung. Benar-benar sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

"Lloyd-sama, Anda datang juga."

"Fiona, ya. Sepertinya kamu melakukannya dengan baik."

Selagi aku merenung, Fiona yang menyadari keberadaanku berjalan mendekat.

Padahal saat pertama kali bertemu dia sangat datar tanpa ekspresi seperti boneka, tapi sekarang dia sudah bisa menunjukkan senyuman yang manis. Sangat bagus melihatnya mulai ekspresif.

"Iya, berkat bantuan Anda, kami bisa menjaganya dengan baik. Kakak juga terlihat sangat sehat."

"Begitu ya. Baguslah kalau begitu."

"Tapi... kecepatannya tumbuh benar-benar luar biasa. Ini sungguh aneh. Padahal biasanya World Tree dikenal memiliki pertumbuhan yang sangat lambat..."

"Mungkin itu pengaruh dari Lloyd-sama. Soalnya, World Tree adalah pohon yang tumbuh dengan mengonsumsi mana."

"Bisa jadi dia menyerap mana Lloyd-sama yang terkumpul di tanah ini untuk tumbuh."

Di wilayah Lordst ini, aku memang sering melakukan eksperimen sihir, sehingga mana dalam jumlah besar berkumpul di tanah itu sendiri. Mungkin itu yang menyebabkan pertumbuhan pohonnya menjadi lebih cepat.

"Tapi kalau terus membesar begini, bukankah suatu saat wilayah ini tidak akan sanggup menampungnya?"

"World Tree yang sudah dewasa besarnya bisa menelan satu negara. Wilayah Lordst tidak seluas itu."

"Kalau sudah begitu, pindahkan saja ke ujung utara. Di sana ada Dungeon milikku."

Di tanah tak berpenghuni di bagian utara benua, terdapat Dungeon raksasa khusus milikku sendiri.

Jika di daerah itu, kurasa tidak masalah meski harus memindahkan World Tree. Lahannya masih sangat luas dan tersisa banyak.

"Jangan bercanda, di sana kan dingin sekali!"

"Fiona-tan dan yang lainnya pasti menderita!"

"Ma, nanti aku akan buatkan lingkungan yang bisa ditinggali, kok."

Kalau cuma masalah dingin, aku tinggal mengutak-atik topografinya sedikit, lalu menyiapkan satu atau dua gua yang nyaman. Tidak ada masalah.

"Tapi Lloyd-sama, ada hal yang merepotkan... Tolong lihat itu."

Dengan wajah serius, Fiona menunjuk ke arah pangkal World Tree.

Jika diperhatikan, pada bagian daun, dahan, dan akarnya, terdapat beberapa bekas gigitan yang terlihat seperti ulah binatang.

"Akhir-akhir ini, kerusakan seperti ini terus terjadi berturut-turut. Kami sudah mencoba memberi obat anti-serangga, pengusir binatang, bahkan melakukan patroli malam, tapi tidak ada hasilnya... Ah, sudah cukup! Beraninya mereka melakukan ini pada Kakak! Aku tidak akan memaafkan mereka!"

Fiona tampak membara karena marah. Wah, dia benar-benar jadi kaya akan emosi sekarang.

"Kalau dibiarkan, kemungkinan terburuknya pohon ini bisa layu... Bisakah Anda membantu kami!?"

"Hmm, kalau bukan serangga ataupun binatang biasa—mungkin itu monster."

Monster pada dasarnya tinggal di dalam Dungeon, dan sesekali keluar untuk menyerang penduduk sekitar. Bagi manusia, mereka adalah hama yang berbahaya.

Orang-orang biasanya menggunakan jasa petualang untuk membasmi mereka. Terkadang monster juga berkumpul dalam kelompok besar untuk menyerang kota manusia, jadi hubungan mereka memang selalu bertentangan.

Yah, kalau bagiku sih, mereka hanyalah bahan eksperimen sihir. Bagi orang yang lumayan kuat, mereka bukan ancaman besar.

"Tapi berani-beraninya masuk ke tempat seperti ini, sepertinya itu monster yang punya nyali besar."

"Tempat ini penuh dengan orang, bahkan dipenuhi oleh mana milik Lloyd-sama. Monster biasa seharusnya tidak akan bisa menyelinap masuk semudah itu."

Wilayah Lordst ini berada di bawah kekuasaanku, sehingga banyak orang tinggal di sini, mulai dari mantan Guild Pembunuh dan yang lainnya.

Mantan Paus, Homunculus, mantan tentara, hingga para Elf... Mereka semua memiliki kemampuan tempur yang cukup tinggi. Kabarnya mereka rutin berburu monster berbahaya sebagai bagian dari latihan.

Berkat itu, aku menerima laporan bahwa monster sudah hampir habis di sekitar sini. Tapi ternyata masih ada saja yang berani menyusup hingga sejauh ini ke dalam kota.

"Kamu tidak melihat wujudnya?"

"Masalahnya, dia menyelinap di tengah kegelapan malam tanpa suara, jadi kami tidak tahu pasti. Kami baru sadar saat kerusakannya sudah terjadi..."

"Hmm, melihat dari bekas gigitannya, sepertinya ukurannya tidak terlalu besar."

Meskipun semua orang tampak kebingungan, aku pribadi tidak terlalu tertarik untuk mencari monster itu.

Namun, kalau World Tree dibiarkan dimakan terus, dia bisa layu. Sebaiknya aku pasang pertahanan saja.

"Untuk sementara, aku pasang Barrier saja kalau begitu."

Sambil berkata begitu, aku membentangkan Mana Barrier yang menyelimuti seluruh World Tree. ...Hup.

"Oi, oi, oi, oi! Meskipun dia mengatur agar para Elf tidak terkena dampaknya saat menyentuh penghalang itu, tingkat kekerasannya berada di level tertinggi yang bahkan sanggup menahan sihir Lloyd-sama sendiri! Ditambah lagi, ada fungsi ekspansi agar tidak mengganggu pertumbuhan World Tree, dan jika hancur pun dia akan langsung memperbaiki diri secara instan!"

"Te-terlebih lagi, penghalang itu memberikan peringatan kepada siapa pun yang mendekat. Jika peringatan itu diabaikan dan mereka tetap menyerang, formula sihirnya disusun untuk melakukan serangan balik secara otomatis... Monster mana pun yang diincar ini pasti tidak akan punya kesempatan hidup! Ini benar-benar parade formula sihir, sebuah benteng sejati! Luar biasa, Lloyd-sama!"

"Anu... bukankah penghalang ini terlalu berlebihan... Tapi kalau begini, Kakak pasti...!"

Grim dan yang lainnya bergumam sendiri saat melihat penghalangku.

Yah, karena akan kutinggalkan, kurasa setidaknya butuh segini. Lagipula aku berniat sesekali datang mengecek, jadi harusnya segini sudah cukup. Mungkin.

"Waduh, sudah jam segini. Kalau begitu aku pulang dulu. Beri tahu aku kalau ada apa-apa lagi."

"I-iya! Terima kasih banyak!"

Setelah berpamitan singkat pada Fiona, aku menggunakan Teleportation untuk kembali ke Kastel Saloum.

"Selamat datang kembali, Lloyd-sama."

"Geh, Sylpha..."

Begitu kembali, orang yang muncul sambil membukakan pintu kamarku adalah si pelayan berambut perak, Sylpha.

Dia tersenyum ramah, tapi senyuman itu justru terasa menakutkan.

Harusnya waktu latihan pedang belum tiba... Saat aku mematung, pelayan berambut ungu di sampingnya, Ren, menuliskan sesuatu dengan jarinya untuk memberitahuku.

Jejak mana yang muncul mengikuti gerakan jarinya bertuliskan, "Tenang saja, Lloyd! Kami baru saja sampai di sini kok!" Namun itu malah terasa makin menyeramkan. Waktunya terlalu pas sekali.

Pelayan berkacamata yang ada di samping mereka, Conny, memunculkan tulisan di papan mana yang dipegangnya. "Yah, sebenarnya dia sudah menunggu di depan kamar sedari tadi. Sepertinya dia menunggumu kembali."

...Aneh sekali. Padahal Teleportation seharusnya tidak mengeluarkan suara atau tanda apa pun.




"Anu itu, kemampuan deteksi pelayan itu... makin hari rasanya makin tajam saja ya, Tuan."

"Itu pasti berkat kekuatan cinta Sylpha-tan. Sama seperti aku yang bisa mendeteksi keberadaan gadis cantik dari aromanya. Fufu."

"'Fufu' matamu! Dasar malaikat sesat!"

"Mau cari ribut, hah?! Iblis bodoh!"

Grim dan Jiriel mulai saling pukul di belakangku. Berisik sekali kalian.

Karena mengganggu, aku menyimpan mereka ke dalam genggamanku.

"Nah, Lloyd-sama. Mari kita mulai latihan pedangnya."

"Hahaha... iya, ya."

Sylpha menggenggam tanganku sambil tersenyum, lalu menyeretku pergi.

Dengan tawa kering yang tertahan, aku pun digiring paksa menuju halaman tengah.

"Ga-gawaaat! Lloyd-sama!"

Keesokan harinya, tepat setelah aku selesai sarapan dan hendak mulai membaca, suara Fiona bergema di dalam kepalaku. Ini adalah Telepathy.

"Ada apa? Masih pagi begini sudah panik begitu."

"Ah, mohon maaf karena menghubungi sepagi ini... Tapi, World Tree digigit lagi!"

"Apa...?"

Aku tersentak hingga mengeluarkan suara. Sungguh mengejutkan jika penghalang itu sampai bisa ditembus.

"Tidak mungkin. Jangankan monster, kami saja harus angkat kaki kalau berhadapan dengan penghalang itu!"

"Benar, kalau sampai penghalang Lloyd-sama ditembus oleh monster kelas teri, mau ditaruh di mana harga diri kami!"

Terlepas dari harga diri Grim dan Jiriel yang tidak penting itu, aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Sebab, penghalang yang kupasang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Seolah-olah pelakunya menyelinap masuk seperti hantu.

Tentu saja, monster tipe roh tidak mungkin memakan World Tree, dan penghalangku sudah diatur untuk menangani jenis seperti itu juga. Seharusnya ini mustahil... Hmm, menarik sekali.

"Baiklah. Aku akan segera ke sana."

"Lloyd-sama, Anda ingat kalau hari ini ada acara minum teh!?"

"Acara itu dimulai siang nanti, jadi Anda harus sudah kembali sebelum itu."

"Ah—iya juga, ya."

Seingatku Sylpha memang sempat mengatakan sesuatu soal itu.

Untung saja aku meminta mereka berdua mengecek jadwalku. Jujur saja, aku benar-benar lupa.

"Baiklah. Kalau begitu, beri tahu aku lima menit sebelum acara dimulai."

"Anda menganggap kami seperti jam beker, ya... Lagipula, Anda sama sekali tidak ada niat untuk mengingatnya sendiri, kan..."

"Masih mending Lloyd-sama ada niat untuk hadir. Tenang saja, saya membawa jam."

Sambil membiarkan omelan Grim dan Jiriel lewat begitu saja, aku terbang menuju World Tree menggunakan Teleportation.

"...Hmm, benar-benar dimakan lagi, ya."

Aku menelusuri luka baru pada daun World Tree dengan jariku.

Kemarin luka ini belum ada. Jelas sekali bagian ini digigit dari dalam penghalangku.

"Bahkan sihir Lloyd-sama pun tidak bisa mencegahnya... Mungkinkah ini ulah Super Beast?"

"Apa itu?"

Rasanya aku pernah mendengar istilah itu di suatu tempat, tapi aku tidak bisa mengingatnya.

"Itu adalah monster yang konon pernah menyerang negeri para Elf. Katanya monster itu menyusup ke dalam kastel dengan sangat mudah, mengamuk mengikuti instingnya, dan menghancurkan dinding bagian dalam World Tree."

"! Aku ingat. Kalau tidak salah namanya adalah Super Beast Jacob!"

"Itu monster yang cuma ada satu di dunia ini seperti yang pernah dikatakan Conny-tan!"

Begitu mereka menyebutnya, aku mulai sedikit ingat. Nama itu sempat muncul selintas saat aku mendengar berbagai cerita dari Raja Iblis Beals.

Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik dengan cerita monster jadi aku melupakannya, tapi nanti akan kutanyakan pada Conny kalau sudah pulang. Itu pun kalau aku tidak lupa lagi. Meski begitu, kemungkinan pelakunya adalah...

"Anda tahu banyak, ya. Benar, itu adalah Super Beast yang katanya hanya ada satu di dunia... Begitu ya. Jadi namanya Jacob."

"Entah itu Super Beast atau bukan, sih."

"? Apa maksud Anda...?"

"Yah, lebih cepat kalau melihatnya langsung."

Tanpa mempedulikan wajah Fiona yang penuh tanda tanya, aku menyentuh penghalang itu.

Seketika, sebagian dari penghalang berubah menjadi monitor dan menampilkan sebuah rekaman. Di sana terlihat suasana World Tree di tengah kegelapan malam.

"Ooh! Ini yang namanya fungsi rekaman, ya!"

"Aku memasangnya di penghalang ini untuk berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi."

Aku memasang kamera pengawas di sekitar penghalang, lalu merangkum video yang dikirim ke dalam formula sihir untuk diputar kembali.

Ide ini kudapat dari alat sihir yang pernah dibuat Conny. Berbagai teknologi yang ada di dunia ini memang bisa diadaptasi ke dalam sihir.

Tentu saja ada fitur mempercepat, mengulang, hingga menjeda. Nah, mari kita lihat apa yang terekam di sini.

"...Ukh, sepertinya tidak ada yang terjadi, ya."

"Setidaknya bokong indah Fiona-tan yang terekam ini adalah sebuah penyelamat... Geboakh!"

Aku mengabaikan Grim yang memukul Jiriel dan terus mempercepat rekamannya—lalu, aku berhenti.

Dahan World Tree itu bergerak.

"...! Hei, lihat. Sekarang dia sedang dimakan."

"! Be-benar! Tapi tidak ada siapa pun di sana...!"

Benar, meski tidak ada apa pun yang terlihat di layar, daun-daun itu sedikit demi sedikit terkikis habis.

Monster berukuran kecil dan tipe kasatmata, ya?

Artinya, "sesuatu" yang sedang memakan daun di gambar ini sudah berada di dalam bahkan sebelum aku memasang penghalang.

"Sesuatu" yang transparan itu tampaknya sudah kenyang setelah makan beberapa saat, lalu merayap turun melalui batang pohon dan bersembunyi di pangkalnya.

Saat aku mengalihkan pandangan dari layar ke World Tree yang asli, jika dilihat baik-baik, ada bagian tanah di pangkal pohon yang tampak baru saja digundukkan.

"Mari kita tangkap dulu... Hup."

"Pigiii!?"

Setelah merasakan sensasi empuk yang kenyal, sebuah suara melengking terdengar.

Makhluk yang kutangkap itu menggeliat dan warnanya mulai berubah, hingga menjadi gumpalan jeli semi-transparan.

"Ini sih Slime. Monster kroco paling lemah di antara semua monster."

"Iya, apa dia sangat menyukai World Tree? Sampai-sampai bersembunyi dan menetap di sini..."

—Slime, monster berbentuk jeli yang dianggap paling lemah.

Mereka adalah monster tidak berbahaya yang hanya merayap di sana-sini memakan sampah atau bangkai makhluk hidup.

Makhluk ini pasti tidak ketahuan karena menggunakan karakteristiknya untuk berkamuflase. Apalagi di tengah kegelapan malam.

Tapi ini aneh. Biasanya Slime hanya berkeliaran di selokan atau jauh di dalam hutan. Berani-beraninya dia menyusup ke pemukiman manusia, apalagi di tengah penjagaan ketat begini... Apakah dia memang sangat menyukai World Tree?

"...Yah, terserahlah. Mari kita musnahkan saja secepatnya."

Aku mengangkatnya dengan ujung jari dan merapal Fireball.

Tepat saat aku hendak menghantamkan bola api yang membara itu ke si Slime—

"Tu-tunggu sebentar-ppi!"

Suara itu berasal dari Slime yang ada di genggamanku.

Karena terkejut melihat Slime bisa bicara, aku tidak sengaja melepaskan Fireball.

Serangan itu melesat tipis di samping tubuh si Slime.

"Pipipiiii!?"

"Ah, maaf."

Habisnya, kamu tiba-tiba bicara begitu jadi aku kaget. Hampir saja kamu hangus terbakar.

"Sulit dipercaya kamu tiba-tiba melepaskan bola api begitu-ppi!"

"Ooh, Slime-nya bisa bicara!"

Sambil tetap memegangnya, aku menarik dan meregangkan tubuhnya.

Kalau diperhatikan baik-baik, dia bahkan punya mata dan mulut. Seharusnya Slime yang asli tidak punya mata maupun mulut, apalagi memiliki emosi atau kemampuan bicara.

Jangan-jangan makhluk ini adalah spesies mutan?

Di antara para monster, terkadang memang ada individu langka yang lahir dengan bentuk atau kemampuan yang telah berubah drastis.

Sifat mereka sangat beragam, dan karena perubahannya yang sangat berbeda dari spesies aslinya, mereka disebut sebagai spesies mutan.

"Biasanya monster yang bisa bicara itu sangat kuat, tapi... makhluk ini terlihat seperti kroco biasa, ya."

"Benar. Meskipun dia punya kecerdasan yang cukup untuk mengobrol, aku sama sekali tidak merasakan adanya kekuatan tempur. Benar-benar terasa selevel Slime biasa."

Seperti yang dikatakan Grim dan Jiriel, Slime ini memang langka tapi sama sekali tidak terlihat kuat.

Buktinya, meski sedang kucubit, dia tidak bisa memberikan perlawanan berarti dan hanya bisa meronta-ronta tidak berdaya.

"Pembunuh! Bukan, pembunuh monster! Aku bakal dimakan-ppi!"

"Diamlah. Aku tidak akan memakanmu, kok. Mungkin."

"Mungkiinn—!?"

Si Slime menjerit. Makhluk yang tidak mengerti bercanda, ya.

Grim dan Jiriel menatapku seolah bertanya "Apa benar begitu?", tapi kalian pikir aku ini apa? Memakan Slime itu jelas-jelas cuma bercanda. Kalau selain itu sih, aku tidak menjamin.

Terlepas dari itu, aku jarang punya kesempatan mengobrol dengan monster, jadi mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya banyak hal.

"Hei kamu. Karena kamu monster, kamu pasti tahu banyak hal, kan? Kalau tahu sihir yang menarik, beri tahu aku dong."

"Aku tidak punya kewajiban menjawab pertanyaan manusia yang tiba-tiba mencoba membunuhku-ppi."

Namun si Slime tampaknya tidak berniat menjawab dengan benar dan justru memalingkan wajahnya dengan angkuh.

"Oi, oi, oi, oi! Berani sekali Slime sialan ini bersikap sombong begitu, hah!?"

"Beraninya kamu bicara begitu kepada Lloyd-sama. Perlu aku ajarkan cara menjilat sepatu yang benar?"

"Sudah, sudah, kalian berdua tenanglah."

Aku menenangkan Grim dan Jiriel yang hendak menerjang si Slime.

Menyelesaikan masalah dengan kekerasan itu terlalu barbar. Mari kita selesaikan ini dengan cara damai.

"Di saat seperti ini, gunakanlah ini—Mana Nature Transformation."

Ini adalah teknik memusatkan kesadaran pada mana yang menyelimuti telapak tangan, lalu mengubah warna dan aromanya menjadi sifat yang disukai monster.

Dengan memaparkan teknik ini pada monster, aku bahkan bisa mengendalikan mereka sesuka hati.

Dulu, aku pernah menundukkan seluruh kawanan binatang buas sekaligus dengan cara ini.

"Pigiii!?"

Si Slime berteriak pelan, lalu tubuhnya kejang-kejang.

Ini adalah metode penyelesaian damai yang luar biasa dariku. Dengan begini, dia pasti akan menuruti kata-kataku dengan patuh.

"...Lloyd-sama, dia pingsan."

"...Sepertinya dia tidak kuat menahan mana Lloyd-sama yang terlalu kuat."

Eeh... padahal rasanya aku tidak membuatnya sekuat itu.

"Karena lawannya cuma Slime, mungkin rangsangannya terlalu berlebihan."

"Benar sekali. Anda harus melakukannya lebih lembut lagi seperti sedang memegang serangga kecil, kalau tidak dia bisa mati."

Hmm, padahal aku merasa sudah menahan diri sebisanya... Ternyata Slime selemah itu, ya?

Kupikir aku sudah cukup mahir dalam menahan kekuatan, tapi ternyata ini sulit juga.

Menghadapi lawan yang terlalu lemah itu ternyata merepotkan. Untuk menggertaknya saja harus bersusah payah. Sepertinya cara untuk menjinakkan mereka juga sangat terbatas.

"Terserahlah, yang penting pelakunya sudah tertangkap. Bawa pulang saja lalu kita jinakkan nanti."

"Lagi pula, sebentar lagi acara minum teh akan dimulai. Kita harus segera kembali."

"Ah, benar juga... Hmm."

—Acara minum teh, ya. Kalau tidak salah hari ini "orang itu" akan datang. Mungkin tidak ada salahnya jika aku meminta saran darinya.

Setelah memasukkan Slime yang pingsan itu ke dalam saku bajuku, aku pun kembali ke Saloum.

Begitu aku sampai, acara minum teh langsung dimulai.

Acara ini diadakan secara rutin oleh kakakku, Pangeran Kedua Albert, untuk mengumpulkan informasi dari rakyat jelata dengan mengundang para putri bangsawan atau saudagar kaya.

Biasanya Albert melakukannya sendirian, tapi terkadang aku atau saudara lainnya diminta ikut serta agar orang-orang mengenali wajah kami.

Ini sesuai dengan ajaran keluarga kerajaan Saloum bahwa anggota kerajaan harus dicintai oleh rakyat bawah.

Apalagi saudara-saudaraku kebanyakan punya kepribadian yang sangat kuat, sehingga mudah menimbulkan salah paham.

"Benar juga. Terutama Lloyd-sama."

"Lloyd-sama, atau mungkin Lloyd-sama, ya."

Grim dan Jiriel melontarkan sindiran, tapi aku terlalu sibuk menikmati panekuk hingga tidak memedulikan mereka.

Hmm, Sylpha benar-benar makin mahir saja. Sirup kental ini benar-benar menonjolkan rasa panekuknya. Luar biasa.

"Aduh, Pangeran Albert bisa saja."

"Tolong ceritakan lebih banyak lagi."

"Wah, Pangeran Albert pandai bicara, ya. Wajahnya juga tampan, benar-benar memanjakan mata. Memang cocok jadi kakaknya Lloyd."

Tao, yang ikut menyelinap di antara para wanita bangsawan, terus merayu Albert untuk bercerita.

Dia adalah petualang yang punya banyak koneksi denganku, dan dia selalu saja ikut campur sesukanya.

Dia pasti mendengar kabar soal acara minum teh ini dari suatu tempat.

"Ah, pelayan di sana, minta tambah dong!"

"...Baiklah. Terima saja langsung dengan mulutmu itu."

"Eh, hei! Jangan melempar makanan begitu! Mgugh!"

Tao menangkap panekuk yang dilempar Sylpha dengan mulutnya. ...Benar-benar seperti anjing.

Aku tidak tahu apakah mereka berdua ini sebenarnya akrab atau tidak.

Terlepas dari itu, aku sudah selesai makan dan mulai merasa bosan.

Aku punya banyak urusan lain. Aku tidak punya banyak waktu luang untuk terus berada di acara minum teh ini.

Karena itu, aku menyenggol pinggang Albert yang duduk di sampingku.

"Kak Albert, sepertinya sudah waktunya..."

"Hmm... Ah, benar juga. Maaf semuanya. Karena pembicaraan kita sudah cukup lama, sepertinya sampai di sini dulu untuk hari ini."

"Eeeh!"

"Sudah selesai, ya?"

"Iya, aku akan senang jika bisa mengobrol lagi dengan kalian lain kali."

Para wanita yang mengincar Albert terlihat kecewa, tapi karena yang mengatakannya adalah orang yang bersangkutan, mereka pun pergi dengan enggan.

Setelah mengantar para wanita itu, Albert meregangkan tubuhnya lebar-lebar dengan helaan napas lega.

"Wah, aku terbantu sekali. Mereka selalu bicara terlalu panjang hingga aku kesulitan, tapi berkat Lloyd yang memulainya, aku bisa mengakhirinya lebih awal. Lain kali bantu lagi, ya."

Albert mengedipkan sebelah matanya lalu kembali bekerja.

Padahal aku hanya ingin acara ini cepat berakhir, jadi tidak ada alasan baginya untuk berterima kasih.

Omong-omong, Tao tidak langsung pulang dan malah asyik menikmati teh, sementara Sylpha terus melototinya seolah menyuruhnya cepat enyah.

...Yah, lupakan soal itu. Mari kita masuk ke topik utama.

Aku pun menoleh ke arah wanita yang duduk di sebelahku—Putri Keenam, Alize.

"Syuu... syuu..."

"...Dia tidur, ya. Tuan Putri Alize."

Melihat Alize yang mendengkur sampai mengeluarkan air liur, Sylpha bergumam dengan nada pasrah.

Padahal aku saja setidaknya tetap terjaga, benar-benar orang yang luar biasa.

"Kak Alize, bangunlah Kak Alize!"

"Funyaa!?"

Begitu bahunya kuguncang, Alize gemetar kaget dan langsung berdiri tegak.

"A-aku tidak tidur, kok! Aku benar-benar bangun! Teh mana lagi yang harus kuminum!?"

"Acara minum tehnya sudah selesai, Kak..."

"...Hah!"

Alize mengerjapkan matanya yang bulat. Dia memang orang yang selalu tampak linglung seperti biasanya.

Putri Keenam Kerajaan Saloum, Alize de Saloum.

Dia memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan hewan, dan dia tidak segan-segan mengatakan bahwa hal terpenting di dunia ini adalah cinta. Benar-benar orang yang pikirannya penuh dengan bunga-bunga.

Meski begitu, kemampuannya tidak perlu diragukan lagi karena dia benar-benar bisa menjinakkan berbagai jenis hewan maupun binatang buas atas nama cinta. Tekniknya bahkan sering kujadikan referensi.

"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutunjukkan pada Kak Alize. ...Tolong lihat ini."

Aku mengeluarkan Slime yang kutangkap tadi dari saku bajuku.

Kupikir jika itu Alize, dia pasti bisa menjinakkannya, makanya aku membawanya ke sini.

"Oi, bangunlah."

Setelah kutinggal-tinggal dengan ujung jari, Slime itu akhirnya terbangun. Dia mengeluarkan suara "Pi" dan membuka matanya.

"Ini... sebenarnya di mana-ppi...?"

"Astaga. Slime itu bisa bicara?"

Sylpha yang melihatnya berseru kaget.

Semua orang yang lain juga tampak berkumpul karena baru pertama kali melihat Slime yang bisa bicara.

"Wah, lumayan imut juga, ya."

"Empuk-empuk kenyal. Menarik."

Ren dan Conny mencolek-colek si Slime. Ternyata responnya cukup bagus. Padahal bagaimanapun dia tetaplah monster.

Yah, lagipula di kastel ini sudah banyak berkeliaran binatang buas, iblis, bahkan sampai Raja Iblis sekalipun, jadi Slime sepertinya sudah bukan hal aneh lagi sekarang.

"Lagipula Lloyd tidak tahu, ya? Slime itu belakangan ini sedang populer di kalangan anak perempuan, lho."

"Iya, sudah banyak pernak-pernik Slime seperti dompet, pensil, dan macam-macam. Aku juga sering menggunakannya untuk alat sihir."

"Heh, aku baru tahu itu."

Bukannya sombong, tapi aku memang sama sekali tidak tertarik dengan tren dunia luar.

Kalau diperhatikan, Ren dan Conny memakai aksesori Slime yang serasi. Bahkan Sylpha pun memakainya.

"A-aku memakainya karena dipaksa setelah diberi hadiah oleh mereka berdua... Ehem!"

Sylpha terbatuk-batuk kecil karena malu.

Yah, aku sudah menduga hal semacam itu. Ternyata kalian bertiga cukup akrab juga, ya.

"Enak sekali, ya. Apa tidak ada untukku!?"

"Punya Kak Tao juga ada, kok. Ini."

"...Padahal kucing betina seperti dia tidak membutuhkannya... Aduh, apa boleh buat."

"Yattaa! Terima kasih, ya. Akan kujaga baik-baik."

Tao ikut bergabung, membuat suasana semakin ramai.

"Cih, iri sekali... Aku juga ingin dijadikan gantungan kunci! Tentu saja, wujud asliku juga boleh!"

"Boleh juga. Bagaimana kalau kubuatkan dari awetan tubuhmu setelah kubunuh nanti!?"

"Apa katamu, iblis sialan!"

"Mau main-main, hah, malaikat bodoh!"

Grim dan Jiriel mulai bertarung lagi. ...Mari biarkan saja mereka dan lanjut ke topik utama.

"—Makhluk ini kutangkap di wilayah Lordst tadi pagi, tapi dia tidak mau terbuka padaku... Bisakah Kak Alize melakukan sesuatu?"

Si Slime yang bersikap dingin padaku ini mungkin bisa berubah jika ditangani Alize.

Dan tepat saat mata mereka bertemu, si Slime langsung membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Pipiii! Namaku Lapi, aku ingin jadi temanmu-ppi!"

Si Slime—yang sekarang bernama Lapi—tiba-tiba mencoba menerjang ke arah Alize.

Oi, oi, kamu bahkan tidak mau memberitahukan namamu padaku, tapi kenapa cepat sekali terbuka pada Alize?

"Yah, lagipula Lloyd-sama memang tidak pernah menanyakan namanya, sih."

"Karena Anda hanya bertanya soal sihir, tentu saja dia tidak akan memperkenalkan diri."

Benarkah? Mungkin saja begitu.

Aku memang punya kebiasaan langsung menanyakan apa pun yang terlintas di kepala. Refleks, begitulah.

Tapi bisa menjinakkannya dalam waktu sesingkat ini, inikah yang disebut kekuatan cinta? Alize memang luar biasa.

"Manusia ini, mana yang dipancarkannya sungguh memikat-ppi... Manis dan harum, seolah aku sedang didekap oleh ibu... Berada di dekatnya saja rasanya aku bisa meleleh-ppi. Kalau dia, jangan-jangan..."

Lapi mulai bergumam sendiri. Sepertinya dia sangat menyukai Alize. Sejak tadi matanya tidak mau lepas darinya.

Hmm, padahal manaku tidak memberikan efek sehebat ini... Alize memang jenius di bidangnya.

"Pipiiii! Aku sudah memutuskan-ppi!"

Tiba-tiba Lapi melompat ke arah Alize.

Waduh gawat, dia terlepas dari tanganku.

Tapi ya sudahlah. Slime sepertinya populer di kalangan perempuan, dan Alize yang menyukai hewan maupun monster pasti akan menangkap dan memeluknya dengan penuh kasih sayang, jadi kurasa tidak perlu dihentikan.

Begitulah pikirku, sampai—

"Kyaaaaaaaa!"

Diiringi jeritan, Alize menghantam Lapi yang melompat itu dengan nampan teh yang dipegangnya.

"Pigiii!?"

Bltan! Lapi menghantam lantai dengan keras.

Akibat benturan keras itu, tubuhnya hancur berantakan.

Dia merayap perlahan untuk menyatukan kembali tubuhnya dan beregenerasi ke bentuk semula.

"Ke-kejam sekali-ppi..."

"Ma-maaf... aku tidak sengaja..."

Alize tampak ketakutan dan mencoba menjaga jarak.

Dia bahkan tidak berani menatap mata Lapi dan tubuhnya gemetar sedikit demi sedikit.

Ada apa sebenarnya? Alize yang sangat menyukai hewan dan menyayangi monster apa pun tanpa pandang bulu, kenapa bisa setakut ini pada Slime sekecil ini?

"Aku, sejak dulu entah kenapa tidak tahan dengan Slime... Aku tidak bisa menyentuhnya!"

"...Hah?"

Suara semua orang menyahut bersamaan dengan kompak.

Pindah ke Menara Taman Kotak tempat tinggal Alize, di sana pelayannya yang bernama Ellis mulai bercerita.

"Itu... kalau tidak salah saat Tuan Putri Alize berusia sekitar enam tahun. Beliau pernah mencoba menyentuh Slime yang keluar dari selokan kastel. Tapi karena Slime itu sering merayap di selokan, baunya sangat busuk, apalagi saat itu dia sedang mencerna bangkai hewan..."

"Aah..."

Suara semua orang kembali menyahut dengan kompak.

Slime yang semi-transparan membuat isi perutnya terlihat saat sedang mencerna sesuatu. Bayangan Slime yang mengeluarkan bau busuk sambil menguraikan bangkai hewan terlihat dengan sangat jelas.

Wajar saja kalau seseorang jadi trauma setelah melihat pemandangan seperti itu.

"Sejak saat itu, aku benar-benar tidak suka Slime... Aku benci kalau mereka mendekat. Maaf ya, Lapi-chan."

"Pii... aku syok sekali-ppi..."

Setelah ditolak mentah-mentah, Lapi tertunduk lesu dengan bahu merosot.

"Sia-sia sudah-ppi... Padahal kupikir jika bekerja sama dengannya, aku bisa memenangkan Super Beast Festival-ppi..."

Telingaku langsung bereaksi saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Lapi yang tampak putus asa itu.

Super Beast Festival? Ngomong-ngomong, Super Beast itu adalah monster yang konon hanya ada satu di dunia, kan? Sepertinya ini akan jadi cerita yang sangat menarik.




"Lapi, tolong beri tahu aku rinciannya."

"Ka-kamu tiba-tiba jadi sangat bersemangat ya-ppi.... Festival Super Beast adalah festival bela diri untuk memilih Super Beast, puncak dari segala monster-ppi. Ini adalah turnamen yang diikuti oleh para elit terpilih dari segala ras monster-ppi. Pemenangnya akan menyandang gelar Super Beast dan berkuasa sebagai raja para monster-ppi."

Hee, jadi Super Beast itu dipilih melalui turnamen ya. Kalau begitu, Jacob adalah pemenang turnamen di masa lalu.

...Meski begitu, turnamen antar monster ya.

Di antara monster, ada banyak ras yang menggunakan sihir unik seperti undead, phantom beast, peri, iblis, dan sebagainya.

Jika mereka adalah elitnya, aku pasti bisa melihat berbagai macam sihir unik.

...Ugh, aku benar-benar ingin pergi ke sana.

"Karena aku adalah perwakilan dari ras Slime, aku memakan World Tree demi mendapatkan kekuatan untuk menang-ppi."

"Begitu ya, ternyata kamu memang Slime yang spesial. Pantas saja kamu bisa bicara."

"Begini-begini, aku disebut sebagai Genius Slime-ppi!"

Lapi membusungkan dadanya, tapi itu istilah yang baru pertama kali kudengar.

Slime itu memiliki berbagai macam subspesies tergantung tempat tinggal dan apa yang mereka makan.

Jumlahnya sangat banyak, bahkan spesies baru ditemukan beberapa kali dalam setahun.

Yah, tapi tidak salah lagi kalau dia memang langka.

"...Tapi sayangnya, tidak mungkin memenangkan Festival Super Beast hanya dengan kekuatanku sendiri-ppi."

Yah, Slime memang monster terlemah sih.

Mereka hanya dikategorikan sebagai monster, tapi sebenarnya lebih dekat dengan tanaman atau sejenisnya.

Lapi sendiri, jujur saja, lemah. Saking lemahnya, Alize bahkan bisa memukulnya jatuh hanya dengan nampan teh.

"Hei Lapi. Aku tidak bermaksud buruk, tapi bukankah lebih baik kamu tidak ikut Festival Super Beast itu?"

"Benar. Pada dasarnya Slime bukanlah ras yang cocok untuk bertarung. Mengikuti turnamen seperti itu hanya akan menyia-nyiakan nyawamu saja."

Seperti yang dikatakan Grim dan Jiriel, dari sudut pandangku pun itu terlihat seperti tindakan gegabah.

Namun, Lapi menggelengkan kepalanya dan menjawab.

"Memang benar Slime adalah yang terlemah di antara seluruh monster. Kami dihina sebagai kroco dan sampah bahkan oleh sesama monster-ppi. Tidak peduli meskipun punya kecerdasan sepertiku, nasib kami tetap malang.... Makanya, agar tidak ditemukan siapa pun, kami hidup bersembunyi di bawah tanah sambil memakan serangga dan daun kering-ppi.... Aku merasa kasihan pada teman-temanku yang lain. Aku ingin mengubah hal itu-ppi!"

Pada dasarnya, monster jarang bertarung antar sesama ras yang berbeda, tapi mereka sangat kejam terhadap yang lemah.

Terutama Slime yang merupakan yang terlemah, aku sering melihat mereka diperlakukan dengan buruk seperti ditendang layaknya bola atau dihancurkan hanya karena suasana hati.

Memang menyedihkan, tapi pada dasarnya dunia ini memang tempat yang seperti itu. Yang lemah dimakan oleh yang kuat adalah hukum alam.

"Aku tahu kalau ini tidak bisa dihindari karena kami lemah-ppi. Tapi aku ingin monster lain tahu kalau kami para Slime pun hidup dengan bersungguh-sungguh. Aku ingin mereka memperhatikanku. Aku ingin diakui sebagai rekan sesama monster-ppi...!"

Keinginan untuk diakui adalah sesuatu yang dimiliki oleh siapa pun.

Karena itulah, Kak Albert sering bilang kalau orang yang berada di atas harus mendengarkan dan mengakui perkataan semua orang.

Manusia akan melakukan apa pun demi diakui.

Dengan kata lain, jika tidak melakukannya, mereka tidak akan mau mendengarkan perkataan kita.

Begitu kuatnya emosi yang disebut keinginan untuk diakui itu.

Lapi pun pasti merasakan hal yang sama.

Apalagi dia bisa sampai berbicara seperti ini.

"Diabaikan oleh siapa pun dan diperlakukan seperti batu kerikil itu sangat... sangat menyakitkan-ppi. Aku sering berpikir kalau lebih baik aku tidak punya kecerdasan saja. Tapi aku sangat senang karena bisa berbicara dengan seseorang setelah sekian lama. Aku terselamatkan karena bertemu kalian. Jika aku berbicara dengan monster lain seperti ini, mungkin kami bisa saling memahami. Jika aku menjadi Super Beast, hal itu pasti bisa terwujud-ppi."

Lapi bercerita dengan sungguh-sungguh, tapi Grim dan Jiriel tetap memasang wajah sulit.

"...Umm, aku mengerti perasaanmu, tapi bukankah itu tetap mustahil?"

"Benar. Pada akhirnya, tidak ada gunanya jika kamu tidak bisa menang melawan monster lain."

Ujung-ujungnya memang kembali ke sana. Sekecil apa pun keinginan itu, tidak akan ada gunanya jika tidak memiliki kekuatan untuk mewujudkannya.

"Tapi! Di masa lalu, ada Slime yang berhasil menjadi Super Beast-ppi!"

"Bukankah itu karena Slime itu memang sangat kuat? Seperti mutasi genetik misalnya?"

"Tidak, pada dasarnya dalam ras Slime tidak ada individu yang memiliki kekuatan tempur yang menonjol-ppi."

"Lalu bagaimana caranya?"

"Karena karakteristiknya yang tidak memiliki tubuh fisik yang layak, Slime sangat rapuh dan sulit untuk melatih diri sendiri-ppi. Karena itulah aku juga memakan World Tree."

Slime menjadi kuat dengan memangsa target dan menyerap mananya.

World Tree yang berisikan mana yang kuat adalah bahan makanan yang sempurna bagi Slime.

"Tapi tetap saja ada batasnya, kan? Seberapa banyak pun kamu meningkatkan mana, nilai absolut yang bisa ditampung oleh wadah aslimu itu rendah."

"Dia menjalin kontrak dengan Monster Tamer yang hebat. Jika menggunakan Familiar Contract, wadah sebagai monster itu sendiri akan diperkuat-ppi."

Monster Tamer... yah, seperti Alize yang bisa menjalin komunikasi hati dengan monster.

Familiar Contract mereka bahkan bisa mengubah wujud dari binatang buas itu sendiri.

Jika dia adalah Monster Tamer yang hebat, maka efeknya akan semakin kuat.

Bahkan Shiro yang kujadikan familiar pun berubah menjadi spesies yang sama sekali berbeda, jadi mungkin saja untuk memperkuat Slime secara besar-besaran.

"Dikatakan bahwa setelah menjadi familiar, dia memenangkan pertarungan dan berhasil menjadi Super Beast-ppi. Jika aku menjalin kontrak dengan Alize, aku pasti akan bisa bertarung di Festival Super Beast-ppi!"

"Hmm, kekuatan Kakak Anda memang hebat sih. Binatang buas yang dipelihara di Menara Taman Kotak saja, padahal belum menjalin kontrak, tapi kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan yang liar."

"Begitu ya. Jika menjalin kontrak dengan Alize-tan yang bisa memperkuat monster hanya dengan berada di dekatnya, mungkin Slime pun bisa mendapatkan kekuatan untuk bertarung setara dengan monster lain."

Begitu ya, memang benar, Alize mungkin bisa meningkatkan kekuatan Lapi.

"Cara menjalin kontraknya adalah dengan saling bersentuhan dan menyatukan hati-ppi! Dengan begitu aku juga akan menjadi familiar Alize—"

"Ma-maaf.... Mohon maaf sekali, tapi...."

"Pii...."

...Tentu saja, itu jika kontraknya bisa dilakukan.

Mendengar jawaban yang sudah diduga, Lapi tertunduk lesu.

Melihat keadaan itu, jangankan menyatukan hati, bersentuhan saja sepertinya mustahil.

Sangat tidak mungkin mereka bisa menjalin kontrak.

...Tapi hmm, jika aku membiarkan Lapi berpartisipasi dalam Festival Super Beast, sepertinya aku bisa melihat berbagai hal menarik.

"Hei Lapi, bagaimana kalau kamu mencoba menjalin kontrak denganku dan ikut Festival Super Beast?"

"Pi!? Ti-tidak, itu sedikit—"

"Sudahlah, coba saja dulu. Tidak perlu malu-malu begitu."

Aku menyambar Lapi dan mengangkatnya, lalu mengaktifkan formula sihir Contract.

Kontrak Monster Tamer pun, selama menggunakan mana, pada intinya tidak berbeda dengan formula sihir.

Menyatukan tubuh dan hati adalah untuk menyilangkan garis mana yang mengalir di dalam tubuh masing-masing.

Aku hanya perlu melakukannya secara "paksa".

Di tengah percikan bunga api, formula sihir yang tak terhitung jumlahnya meledak dan bercampur.

"Pipiiii—! He-hentikan-ppi—!"

"Hei, jangan meronta. Kalau kamu tidak diam, formula sihirnya bisa lepas kendali dan jadi gawat lho."

"Ini sudah hampir lepas kendali-ppii!"

Aku mencoba menahan Lapi, tapi dia meronta dengan gigih sehingga formula sihirnya tidak bisa tergelar dengan baik.

Pada dasarnya sihir kontrak jenis ini memiliki efek yang lemah jika lawan tidak tunduk sepenuhnya.

Ditambah lagi, aku tidak punya bakat sebagai Monster Tamer sehingga ini memakan waktu.

"Anda benar-benar kejam ya Lloyd-sama, menjalin kontrak meskipun lawannya menolak."

"Ini bukan kontrak, lebih mirip seperti pemaksaan. Aku bersimpati padanya."

Meskipun begitu, aku sudah hampir selesai menghubungkan semuanya. Tinggal satu dorongan lagi—

"Tidak boleh!"

"Wah!?"

Tiba-tiba, aku ditubruk oleh Alize. Posisi kami berakhir seperti dia menindihku, dan bagian belakang kepalaku terbentur ringan.

"Aduh.... Apa yang Kakak lakukan, Kak Alize...."

"Tidak boleh Lloyd! Melakukannya dengan paksa itu tidak ada cinta sama sekali! ....Memang benar aku merasa kasihan pada Lapi, dan mungkin kamu melakukannya sebagai gantiku yang takut pada Slime.... Tapi, tindakan tanpa cinta seperti itu tidak bisa dibiarkan sebagai seorang kakak!"

Mata Alize yang menatapku tajam dipenuhi oleh kemarahan, dan juga kesedihan.

Ugh.... Gawat. Sepertinya aku sudah membuatnya marah.

Aku ini kalau sudah menyangkut sihir memang sering kali lupa dengan sekitar.

Memang benar cara itu tadi sedikit kasar.

Sepertinya aku harus meminta maaf dengan tulus di sini.

"Maafkan aku, Kakak. Dan juga Lapi. Aku tidak sengaja...."

"Bagus kalau kamu mengerti!"

"Haa, haa, aku mengalami hal yang mengerikan-ppi...."

Lapi bangkit berdiri dengan lunglai, tapi... ada yang aneh.

Mana yang menyelimuti Lapi jelas-jelas berbeda dengan yang tadi.

Selain itu, seolah-olah ada benang mana yang melilit di antara dia dan Alize....

"Na-napas ini, rasanya kekuatan yang luar biasa meluap-luap-ppi! Jangan-jangan ini...."

"Aku juga.... Merasakan sensasi yang aneh.... Seolah perasaan Lapi tersampaikan padaku...."

Ah, gawat. Jangan-jangan ini....

"Lloyd-sama, jangan bilang kalau ini...."

"Mau bilang jangan-jangan atau apa pun, tidak ada kemungkinan lain selain itu...."

—Yah, begitulah. Sepertinya saat dia menabrakku tadi, formula sihir yang baru setengah jadi itu bekerja pada mereka berdua.

"Itu, Kak Alize? Sepertinya kontrak Kakak dan Lapi... sudah selesai.... Hehe."

"Eh? Eeh? Eeeee—!?"

Suara Alize menggema di dalam menara.

"Horeee! Mulai sekarang mohon bantuannya ya, Alize!"

Karena kontraknya berhasil dilakukan sesuai keinginan, Lapi benar-benar melompat kegirangan.

"Woooo—! Kekuatan yang luar biasa meluap-luap-ppi! Dengan ini aku bisa membalas perbuatan monster lain-ppi!"

Meski begitu, daya lompatnya luar biasa.

Dia sampai mencapai bagian puncak menara. Inilah kekuatan kontrak, hebat juga ya.

Namun di sisi lain, Alize tetap memasang ekspresi rumit.

Yah, dia dipaksa menjalin kontrak dengan Slime yang ditakutinya. Wajar saja.

—Tapi bagiku, ini malah jadi semakin menarik.

Tadinya aku berencana ikut Festival Super Beast meskipun aku yang harus menjalin kontrak, tapi ini juga tidak buruk.

Meskipun begitu, akan sia-sia jika Alize menolak untuk ikut, jadi aku harus memastikannya di sini.

Karena itulah aku mendekati Alize yang sedang murung dan menyapanya.

"Semangatlah, Kak Alize. Tapi bukankah ini kesempatan bagus bagi Kakak untuk mengajariku tentang cinta?"

"Lloyd.... Apa maksudmu?"

"Sejujurnya, aku masih belum memahami cinta yang Kakak bicarakan. Tapi jika Kakak mengikuti Festival Super Beast dan menunjukkan ikatan Kakak dengan Lapi, mungkin aku bisa sedikit memahami cinta yang Kakak maksud.... Jadi, mohon bimbingannya untuk adikmu yang kurang ini!"

"—!"

Alize tersentak mendengar perkataanku.

"Begitu ya, mungkin benar.... Aku memang berpikir kalau Lloyd masih kekurangan cinta. Sampai-sampai melakukan hal kasar seperti tadi. Memang wajar karena kamu masih anak-anak, tapi kakak-kakak yang lain juga sangat berharap padamu. Mungkin suatu saat nanti kamu akan terpilih menjadi raja.... Sebagai kakak, aku harus mengajarkan sebanyak mungkin hal yang bisa kulakukan demi Lloyd yang sudah tumbuh dewasa....! Ya, di saat penting seperti ini, aku tidak boleh mengatakan hal memalukan seperti takut pada Slime."

Setelah bergumam entah apa, Alize menatap Lapi dengan lurus untuk pertama kalinya.

"...Baiklah. Jika Kakak tidak keberatan, Kakak akan membantumu. Mohon bantuannya ya, Lapi."

Tangan yang diulurkan untuk bersalaman itu gemetar hebat. Hei, hei, jangan memaksakan diri....

"Mohon bantuannya-ppi!"

"...Kyuu."

Begitu Lapi menyentuh tangannya, mata Alize memutih dan dia langsung pingsan.

Ah, sudah kuduga.

Yah, yang penting dia sudah bersemangat.

Usaha meyakinkannya tidak sia-sia.

"Ngomong-ngomong Lloyd-sama, bukankah Anda bisa membatalkan kontrak yang tadi? Karena tujuan awal Anda untuk mengetahui alasan tindakan Lapi sudah tercapai, Anda tidak butuh Kakak Anda lagi kan?"

"Benar. Bukankah lebih pasti jika Anda melakukan kontrak paksa saat Alize-tan tidak ada, lalu pergi ke Festival Super Beast bersama Lloyd-sama? Anda juga akan lebih bebas."

"Hmm, aku juga memikirkan hal itu, tapi dalam kasus itu kemungkinan Lapi untuk menang akan rendah."

Mana yang terkandung di dalam diri Lapi saat ini memiliki kekuatan yang hampir setara dengan Lil, Lesser Fenrir yang biasa dibawa Alize.

Jika dia menjalin kontrak denganku, kekuatannya tidak akan sampai sejauh ini.

Apalagi Familiar Contract akan menghasilkan kekuatan seiring dengan semakin dalamnya ikatan di antara mereka... dengan kata lain, ini baru permulaan. Memang Alize itu jenius ya.

"Selain itu, aku lebih tertarik pada sistem yang menciptakan Super Beast daripada pertarungannya itu sendiri. Aku bisa menyelidikinya dengan lebih saksama jika berada di balik layar."

Apa sebenarnya Super Beast itu?

Apa yang terjadi pada monster biasa?

Mungkin itu karena semacam formula sihir tertentu.... Semakin aku memikirkannya, aku jadi semakin penasaran.

"Fufu, aku tidak sabar."

Aku tersenyum menyeringai dengan dada yang penuh dengan ekspektasi.

"Lalu Lapi, di mana Festival Super Beast itu diadakan? Begini-begini kami ini bangsawan. Kami tidak bisa pergi terlalu jauh dari sini."

Baik aku maupun Alize memiliki kehidupan di kastel.

Jika pergi terlalu jauh, akan ada berbagai macam batasan yang muncul.

Paling parah aku bisa mengatasinya dengan sihir, tapi meskipun linglung, Alize tetap ada di sana.

Aku ingin menghindari situasi di mana kekuatanku yang sebenarnya terbongkar.

"Jangan khawatir-ppi. Festival Super Beast diadakan tepat di bawah kastel ini—di Negeri Monster-ppi!"

Negeri Monster... sepertinya aku pernah melihatnya di literatur kuno.

Dikatakan bahwa di kedalaman bumi yang sangat dalam, terdapat tempat di mana banyak monster dilahirkan.

Di sana, berbagai macam monster hidup di lahan yang luas, dan tempat itu disebut sebagai Negeri Monster.

"Aku pernah mendengarnya. Negeri Monster yang berada di kedalaman bawah tanah.... Aku pikir itu hanya dongeng belaka...."

"Bukankah dungeon digunakan sebagai jalan untuk keluar ke permukaan dari sana?"

"Oh, kalian berdua tahu banyak ya-ppi. Benar sekali, kalian bisa pergi ke Negeri Monster melalui dungeon yang ada di dekat sini-ppi!"

Lapi melompat-lompat. Hmm, kalau begitu sepertinya kita bisa segera sampai tergantung lokasinya.

"Aku akan mencoba mendapatkan izin entah bagaimana caranya.... Bagaimana dengan Kak Alize?"

"Aku juga sering pergi keluar, jadi kalau cuma beberapa hari kurasa tidak apa-apa. Lil juga ikut."

"Grrr...."

Lil yang berada di sampingnya mendekatkan kepalanya.

Kalau dipikir-pikir, Alize memang sering pergi keluar dengan menunggangi Lil ya.

Ternyata itu tanpa izin.... Baru terpikir sekarang, tapi keluarga kerajaan kita benar-benar santai ya.

Yah, aku terbantu karenanya sih, jadi tidak apa-apa.

"Jika Tuan Putri Alize pergi, aku terpaksa harus ikut mendampingi.... Haa, padahal aku ingin istirahat." Ellis menghela napas.

Sebenarnya dia ingin membolos, tapi karena dia adalah pelayan pribadi, dia tidak bisa melakukannya.

"Kami tentu saja akan ikut mendampingi, Lloyd-sama."

"...Sudah kuduga?"

"Tentu saja."

Sylpha memasang senyuman yang tidak menerima penolakan.

Semangat ini, boleh tidak kalau ditukar denganku saja?

"Kami juga ikut. Boleh kan, Lloyd?"

"Negeri Monster, sepertinya menarik."

Ren dan Conny mengangguk bersamaan.

Di sana, Tao yang tadi ikut dalam acara minum teh menyela pembicaraan.

"Aku juga tentu saja akan ikut-aru!"

"Anda tidak perlu ikut pun tidak apa-apa sih.... Yah, akan kuizinkan secara khusus."

"Aku tidak butuh izin darimu-aru!"

"On!"

Shiro juga menggonggong seolah menyuruhku untuk mengajaknya juga.

Aduh-aduh, ternyata anggota yang biasanya lagi ya.

Padahal aku ingin tamasya sendirian dengan santai.

"Hmm, pergi dengan orang sebanyak ini akan terlalu mencolok, jadi lebih baik jangan-ppi. Manusia berada di Negeri Monster saja sudah akan dicurigai, itu berbahaya-ppi."

Oh, Lapi memasang wajah sulit. Bagus, bagus.

Jika menggunakan sihir, mengubah wujud semua orang itu mudah, tapi kalau aku bisa meninggalkan Sylpha dan yang lainnya, aku jadi bisa bergerak bebas.

"Lloyd-sama kan selalu bergerak bebas tidak peduli siapa pun yang ikut...."

"Bicara apa kamu. Aku ini selalu sangat berhati-hati setiap kali lho."

"Aku punya ide bagus. Semuanya, coba pakai ini."

Di saat seperti itu, Conny angkat bicara.

Dia mengeluarkan kostum dari tas peralatan sihir yang digendongnya dan membagikannya kepada semua orang.

"Ini sebenarnya apa...?"

"Sudah, pakai saja dulu."

Sesuai perintahnya, semua orang selesai berganti pakaian.

Sylpha menjadi mumi, Ren menjadi zombie, Conny menjadi frankenstein, Tao menjadi werewolf, dan Ellis menjadi imp.

"Wujud monster... ya."

"Wah, pas sekali. ...Cosplay?"

Penampilannya memang seperti kostum penyamaran biasa, tapi anehnya mereka terlihat seperti monster sungguhan.

Omong-omong, aku adalah vampir dan Alize adalah penyihir.

"Semuanya, kalian sangat cocok. Dulu aku membuatnya untuk penyamaran, aku lega karena ternyata pas."

"Kostum ini hebat ya, apa dia memancarkan mana yang sama dengan monster sungguhan?"

"Karena ini dibuat dengan menenun bahan-bahan dari monster. Selain itu, bagian dalamnya sudah dimodifikasi agar bau manusianya tidak tercium, dan menggunakan bahan yang elastis agar mudah bergerak. Kalian bahkan bisa makan atau buang air sambil tetap memakainya."

"Heh, menarik juga."

Jika hanya menyambungkan bahan-bahan monster saja tidak akan jadi seperti ini.

Karena dia menggunakan karakteristik monster sebagai dasarnya dan sekaligus menenun formula sihir yang memperkuatnya, makanya penyamarannya terasa alami tanpa ada keganjilan.

Memang Conny itu jenius dalam membuat alat sihir.

"Ini luar biasa ya. Lloyd-sama benar-benar terlihat seperti monster sungguhan."

"Monster melihat orang lain melalui mananya. Dengan ini, kita tidak akan ketahuan kalau kita manusia."

"Ngomong-ngomong, aku juga memasang alat penyerap mana di dalam kostum Lloyd. Bahkan alat sihirku pun tidak bisa menyembunyikan mana Lloyd yang sangat besar itu."

"Itu sangat membantu."

Bukannya tidak bisa menekan manaku, tapi itu melelahkan jika dilakukan terus-menerus.

Dengan ini, manaku tidak akan bocor ke luar dan ketahuan oleh sekitar.

"Bagaimana? Lapi. Dengan ini tidak ada keluhan kan?"

"Muu.... Tidak ada-ppi...."

Lapi hanya bisa mengangguk mendengar perkataan Conny.

Conny memberiku jempol, tapi ini sama sekali tidak bagus lho. Aduh-aduh, sepertinya aku harus menyerah untuk melakukan tindakan solo.

"Kalau begitu, tolong pandu kami ke dungeon yang terhubung ke Negeri Monster."

"Serahkan padaku-ppi!"

Setelah keluar dari kastel, kami bergerak menuju hutan di dekat Saloum sesuai panduan Lapi.

"Sepertinya sekitar sini.... Oh! Itu dia-ppi!"

Lapi menunjuk ke sebuah lubang kecil yang hanya bisa dilewati satu orang.

Lubang itu terlalu kecil untuk disebut sebagai dungeon, tapi aku bisa merasakan mana unik meskipun sangat lemah.

"Nn? Aku pernah ke sini sebelumnya-aru. Aku pernah masuk tapi karena kecil dan tidak ada apa-apa-aru."

"Karena itulah, sebaliknya ini mungkin bagus untuk menyembunyikan diri dari pandangan orang.... Coba kulihat."

Aku mengirimkan gelombang mana ke dungeon itu dan menyelidiki isi di dalamnya secara garis besar.

...Seperti yang dikatakan Tao, di dalamnya terdapat ruangan kosong yang luas, tapi jika aku memusatkan kesadaran dengan sangat baik, ada bagian dinding yang tipis.

Begitu ya, monster-monster pasti menghancurkan bagian ini untuk masuk ke dalam.

Dungeon akan beregenerasi berkali-kali asalkan ada intinya. Tapi—

"Hei Lapi, bukankah jarak dari sini ke Negeri Monster itu lumayan jauh?"

Aku berbisik pelan pada Lapi.

Ya, dari hasil pengukuran ruang menggunakan gelombang mana, di balik dinding itu terdapat tangga spiral yang seolah tak berujung, dan jika turun dengan cara biasa entah butuh berapa hari untuk sampai.

"Kalau berjalan tiga hari pasti sampai-ppi!"

Lapi menjawab dengan penuh percaya diri tapi.... Hei, hei, tadi kan aku bilang kalau kami tidak bisa meninggalkan kastel terlalu lama.

Lagipula turun tangga selama berhari-hari itu terlalu membosankan, kan?

Karena aku ingin cepat sampai dan melihat-lihat Negeri Monster, sepertinya aku harus turun tangan di sini.

"Aku akan melakukan sesuatu agar kita bisa sampai lebih cepat. Kamu sesuaikan saja ceritanya."

"Aku tidak keberatan sih.... Tapi sebenarnya apa yang mau kamu lakukan-ppi?"

"Membuat lubang. Yang besar. —■■■"

Yang kuaktifkan melalui tumpukan mantra adalah sihir elemen tanah Earthquake Rock Fang.

Aku mengaktifkannya di balik dinding itu.

Seolah-olah taring tanah yang mencuat melahap dirinya sendiri, tangga spiral itu dihancurkan satu per satu.

Suara gemuruh bumi terdengar, dan daerah sekitarnya bergetar.

"A-apa yang terjadi!?"

"Ja-ja-jalan terbuka karena aku datang-ppi!"

"Tapi, sepertinya tidak ada lorong yang tercipta di mana pun...."

"I-i-itu karena ada dinding di sana, dan kita harus menghancurkannya sendiri-ppi!"

"Bukankah seharusnya bagian itu juga terbuka jika jalannya sudah tercipta?"

"Karena akan gawat jika ketahuan manusia, makanya ada tembok pertahanan dua lapis-ppi!"

Lapi berbohong untuk menutupi pertanyaan dari Sylpha dan yang lainnya meskipun dia gelagapan.

Follow-up yang bagus untuk tindakan mendadak. Tapi dalam ya.

Pantas saja harus turun tangga selama tiga hari.

Mari gali sedikit lagi. Dan setelah menunggu beberapa saat,

"...Gemuruh buminya sudah berhenti ya."

"Di balik ini kan-aru? Akan kuhancurkan ya.... Hap!"

Dengan satu pukulan Tao, dindingnya runtuh dan jalannya muncul.

Semuanya menahan napas melihat lubang dalam yang tak terlihat dasarnya, yang kubuat dengan sihirku.

"Kita disuruh turun dari sini?"

"Apa Lapi dan yang lainnya keluar masuk dari sini?"

"Mustahil kan.... Bisa mati lho."

"Pipipipipi...."

Lapi terdiam mencari jawaban.

Waduh, aku tidak memikirkan sampai ke sana.

Aku diam-diam menggelar sihir Float di ruangan itu dan mendekat ke lubang.

"Semuanya, coba letakkan tangan kalian di sekitar sini. Ini dibuat agar kita bisa melayang."

"...Benar juga. Kalau begini sepertinya kita bisa turun dengan biasa."

"Kalau begitu bilang dong dari tadi."

"Pifuu~...."

Lapi menghela napas lega.

Kalau hanya aku saja sih tidak masalah tanpa alat seperti ini, tapi aku harus menyesuaikan dengan standar semua orang.

Meski begitu, aku sudah mulai menguasai akal sehat ya.

...Grim dan Jiriel menatapku dengan mata sinis tapi itu pasti cuma perasaanku saja.

"Kalau begitu mari kita pergi. Kami akan pergi lebih dulu. Lloyd-sama mohon ikuti dari belakang."

"Jangan mengatur-aru! Aku yang duluan ya! Hap!"

"Kalau begitu berikutnya aku.... Ei!"

"Toat!"

Sylpha dan yang lainnya melompat masuk satu per satu. Lapi menatapku dengan ragu dan bertanya.

"Menembus tangga sebanyak itu sekaligus, dan bahkan membuat orang sebanyak ini melayang.... Jangan-jangan Lloyd ini penyihir yang luar biasa-ppi?"

"Tidak juga. Aku cuma anak biasa yang suka sihir, kok."

Sambil menjawab begitu, aku pun melompat ke dalam lubang bersama Lapi.

—Kami terus terjatuh di dalam lubang yang seolah tak berujung.

"Kedalamannya sungguh sulit dipercaya ya."

"Gelap gulita sampai aku tidak tahu mana atas mana bawah-aru."

"Sudah sekitar tiga puluh menit kita begini."

Awalnya Sylpha dan yang lainnya tampak tegang, tapi mungkin karena sudah terbiasa jatuh terlalu lama, mereka mulai bercanda.

Aku sendiri juga mulai bosan karena ini terlalu lama. Sebaiknya kutambah kecepatannya sedikit. Hap!

Aku melepaskan Float yang tadi kugelar, lalu kali ini mengaktifkan Haste.

"Kok rasanya kecepatan jatuh kita jadi makin kencang ya...?"

"Perasaanmu saja kali."

"Tidak, aku yakin ini bukan sekadar perasaan. Ah, aku punya alat pengukur kecepatan kalau mau."

Aku menghentikan Conny yang hendak mengeluarkan sesuatu. Tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu.

Tenang saja. Aku berniat menurunkan kecepatannya tepat sebelum sampai di bawah nanti.

"Eh, dalam sekejap bagian bawahnya sudah kelihatan!"

"Kita akan segera keluar dari lubang!"

Oh, benar juga. Sepertinya aku membuatnya sedikit terlalu cepat.

Sebelum semuanya sadar, aku harus mengerahkan kekuatan penuh—Float.

Wush!

Sensasi melayang menyelimuti kami, dan kecepatan jatuh pun melambat. ...Fuu, hampir saja.

"……Tadi kamu pasti melakukan sesuatu kan, Lloyd?"

"Entahlah, aku tidak tahu apa maksudmu."

"Daripada itu, lihat! Di titik pendaratan dipenuhi oleh monster!"

Kami yang melayang turun perlahan-lahan dipandang oleh para monster di bawah.

"Wah, jumlah monsternya luar biasa banyak-aru!"

"Semuanya, bersiaplah. Kita akan menerobos mereka."

"Tunggu-ppi! Karena penampilan kita terlihat seperti monster, jadi tidak masalah-ppi!"

"……Kalau dipikir-pikir, memang tidak terasa ada niat membunuh ya."

Sampai sekarang aku sudah berkali-kali berhadapan dengan monster, tapi biasanya mereka langsung haus darah dan menyerang begitu melihat kami.

Namun, monster-monster di bawah sana hanya menatap kami dengan heran, dan sepertinya mereka sedang meneriakkan sesuatu.

"Tenang saja-ppi. Mereka menganggap kita sebagai kawan-ppi."

"Tapi meskipun ada penerjemah Lapi, bukankah mereka akan curiga kalau kita tidak mengerti bahasanya?"

"Tidak perlu khawatir. Semuanya, coba tekan tombol yang ada di bagian samping kepala kostum kalian."

"Tombol…… yang ini?"

Begitu menekan tombol di dekat telinga, suara-suara terdengar bercampur dengan suara bising statis.

"Oooi kalian, apa kalian baik-baik saja-be?"

"Apa kalian terpeleset dari permukaan-be?"

"Tapi aneh sekali ya bisa jatuh sepelan itu-be."

……Bahasanya sedikit berlogat aneh, tapi suara para monster itu bisa terdengar.

"Wah, aku mengerti apa yang mereka katakan!?"

"Aku menanamkan alat sihir penerjemah otomatis di dalamnya. Omong-omong, saat bicara pun suaranya otomatis berubah jadi bahasa monster, jadi tenang saja."

"Hmm, jadi suaranya dikonversi melalui alat sihir di dekat mulut ya.... Tapi bagaimana kamu bisa tahu bahasa monster?"

"Dulu aku pernah mencoba membuat alat sihir semacam itu. Selain itu aku juga mencoba bicara dengan binatang."

"Hebat ya. Lain kali bisakah kamu membuat mesin yang bisa menerjemahkan bahasa sihir?"

"Umm, alat sihirku menerjemahkan dengan membaca gelombang emosi. Sepertinya kalau dari tulisan itu mustahil."

Sayang sekali. Padahal di dunia ini masih banyak buku sihir yang belum terpecahkan, jadi kupikir akan sangat membantu jika mesin penerjemah seperti itu ada.

Selagi kami mengobrol, tanah pun semakin dekat.

"Bagaimanapun juga, akan merepotkan kalau kita dikepung. Mari cepat melarikan diri. Lil, Shiro, mohon bantuannya."

"On!"

Kami masuk ke dalam bulu Shiro dan Lil. Begitu mendarat, kedua ekor itu langsung berlari kencang.

"Ah, tunggu dulu-ppe!"

"Mau pergi ke mana-ka!?"

Meninggalkan para monster yang mencoba mengejar, Shiro dan yang lainnya berpindah ke tempat yang sepi dari pandangan orang.

Tempat yang kami capai adalah sebuah bukit yang sedikit jauh dari titik pendaratan.

"……Fuu, akhirnya bisa bernapas lega."

Aku merangkak keluar dari Shiro dan meregangkan tubuh. Begitu melihat sekeliling sekali lagi, ternyata tidak jauh berbeda dengan permukaan.

Langit diterangi terang oleh lumut bercahaya, di gunung dan padang rumput tumbuh semak dan pepohonan, bahkan ada binatang juga di sana-sini.

"……Aku terkejut. Ternyata sampai ada kotanya juga."

Kota monster ya. Benar-benar membuatku tertarik. Ekologi mereka masih belum banyak diketahui. Dan sihir sering kali berkaitan erat dengan kehidupan di tempat tersebut.

Bukan hanya menciptakan air atau mendidihkan air panas, tapi juga konstruksi, pengawetan makanan, distribusi barang, dan sebagainya.... Di Kerajaan Saloum pun berbagai sihir digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di kota sebesar ini, kemungkinan untuk bertemu sihir yang belum diketahui sangatlah tinggi. Memikirkannya saja sudah membuatku bersemangat.

"Oh, apa Festival Super Beast diadakan di bangunan raksasa di pusat kota itu?"

"Benar-ppi."

Dilihat dari luar, bentuknya mirip seperti koloseum. Hmm, aku ingin segera masuk ke dalam dan menyelidikinya.

"Sebelum itu, sebentar lagi waktunya makan siang. Haruskah kusiapkan makanannya? Conny."

"Siaaap, aku keluarkan bahan-bahannya ya."

Atas perintah Sylpha, Conny mengeluarkan banyak bahan makanan dari alat sihirnya.

Sepertinya tas itu bisa memuat barang dalam jumlah besar, jadi saat bepergian pun bisa diisi berbagai macam bahan makanan. Alat sihir memang sangat berguna ya.

Tentu saja aku juga bisa melakukan hal serupa, tapi karena akan merepotkan jika ditanyai macam-macam, aku menyembunyikannya.

Sylpha yang menerima bahan makanan segera mulai memasak, dan dalam sekejap hidangan sudah berjejer rapi.

"Nah, soal rencana ke depannya…… nyam nyam."

Sambil menikmati masakan yang lezat, kami mendiskusikan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

"Apa yang harus dilakukan? Lapi."

"Pertama kita pergi ke kota dan melakukan pendaftaran Festival Super Beast-ppi. Kamu bisa berpartisipasi jika memiliki Bukti Ras ini-ppi."

Lapi mengeluarkan sebuah batu merah hitam dengan tekstur seperti bola kaca.

"Dikatakan bahwa ini dibuat dari getah World Tree yang dicampur dengan darah dan mana para monster-ppi. Dahulu kala, setiap ras memegang ini dan saling membunuh, dan pada akhirnya Super Beast pun lahir. Sekarang ini memang bercahaya, tapi jika pemiliknya kalah, cahayanya akan hilang, dan bukti milik pemenang akan bersinar lebih terang.... Dengan merebut semua cahaya dari ras lain, orang terakhir yang memegang ini akan menjadi Super Beast-ppi."

"Heh, jadi semacam benda terkutuk ya."

—Benda terkutuk adalah objek yang mengandung mana negatif yang berbeda dari biasanya.

Awalnya berasal dari tulang monster kuat atau bijih mineral yang menghisap banyak darah sehingga bersemayam dendam yang kuat, dan mulai mencelakai manusia.

Ini disebut sebagai mana negatif, dan itulah mana yang dimiliki oleh monster jenis iblis atau undead.

"Tapi, bukankah benda itu bisa dicuri? Atau dirampas?"

"Jika benda terkutuk yang kuat sudah memilih pemiliknya, mustahil untuk melepaskannya. Baik secara sengaja maupun paksa."

Itulah alasan kenapa disebut kutukan. Mana negatif ini memiliki kemampuan eksekusi tujuan yang sangat tinggi, bahkan sampai mendistorsi tujuan itu sendiri demi melaksanakannya.

Misalnya jika kamu mencoba membunuh musuh dengan teknik sihir, jika serangan itu dihindari, maka niat membunuh yang dilepaskan akan mendistorsi sasarannya dan malah membunuh si pengguna sihir. Itulah yang disebut pembalikan kutukan.

Dalam kasus ini, tujuannya adalah membuat pemiliknya terus memegang benda itu, jadi jika ada yang menghalanginya, benda itu akan mencoba mencegahnya meski harus membunuh sekalipun.

Oleh karena itu, Bukti Ras tersebut tidak akan bisa direbut oleh orang lain. Tentu saja bukan berarti sama sekali tidak ada caranya.

"Ooh…… Padahal pengetahuan tentang benda terkutuk bahkan banyak sejarawan yang tidak tahu. Seperti dugaan, Lloyd-sama sangat berpengetahuan ya."

"……Ma-masa sih, aku kebetulan saja membacanya di buku lama…… haha, hahaha."

Bahaya, bahaya. Sepertinya aku bicara terlalu banyak lagi. Karena aku seharusnya hanyalah anak biasa yang suka sihir, jika aku terlalu tahu banyak hal nanti malah dicurigai.

"Bagaimanapun juga, mari kita coba pergi ke kota."

Makan siang sudah selesai, dan aku juga penasaran bagaimana kehidupan para monster di sana. Kami pun menaiki Shiro dan Lil lagi menuju ke kota.

Beberapa saat sebelum Lloyd dan yang lainnya mencapai Negeri Monster, di sebuah gunung tertentu puluhan naga sedang berkumpul.

Di depan pandangan mereka, bertakhta seekor naga hitam yang besar.

"Ketua! Ketua!"

"Naga yang kuat! Naga yang bijak!"

"Naga terkuat yang harus menjadi Super Beast!"

WROOOOOOAR!

Bersamaan dengan raungan itu, berbagai macam Breath seperti angin, api, es, dan racun berkecamuk.

Dua sosok bayangan menatap pemandangan itu dari atas.

"Ooh, bagus, bagus. Inspirasiku jadi meluap-luap nih~♪"

"Cih, bisa-bisanya kau terharu hanya dengan melihat sekumpulan kadal, kepekaanmu tinggi sekali ya."

Pemilik bayangan itu adalah Sang Holy King dan Gizarm.

Sang Holy King turun sampai ke kedalaman bawah tanah demi mendapatkan ide untuk komposisi lagu sihir buatannya sendiri.

Dan Gizarm adalah—

"……Hmph, yah, kurasa yang ini boleh juga."

Tap, Gizarm melompat turun dari tebing dan mendarat di tanah.

Para naga itu segera menyadari kehadirannya yang menyelimuti atmosfer yang aneh.

"Kau, siapa KAU!?"

"!? Iblis! Kenapa ada Iblis di SINI!?"

"BUNUH! HANGUSKAN DIA!"

Di hadapan para naga yang menyerang sambil mengepulkan debu tanah, Gizarm bahkan tidak melirik mereka dan hanya menatap telapak tangannya sendiri dengan lekat.

Wush, fluktuasi mana yang seperti api terpancar di mata hitam pekatnya.

"Hmm, batasan 'Jangan Membunuh' yang diberikan oleh si Holy King itu, sepertinya monster-monster ini tidak termasuk dalam targetnya. ……Itu berarti, aku bisa menggunakan kekuatanku setelah sekian lama ya."

Gizarm menarik sudut mulutnya membentuk seringai. Sesaat kemudian, BOOOOM!

Suara ledakan menggelegar dan kepulan asap yang dahsyat membubung tinggi.

Di tempat asap itu menghilang, sebuah lubang besar telah tercipta.

"BERHASIL! Dia hancur berkeping-keping!"

"Dia menerima Breath dari ras Naga Hitam tanpa pertahanan! Itu wajar saja!"

Para naga itu bersorak bangga. Namun, satu naga yang berada paling depan tiba-tiba terbakar hitam.

"GUAAAAAAAARGH!"

Api hitam itu menghanguskan naga tersebut dalam sekejap, melenyapkannya hingga tak bersisa tulang pun.

Kepada para naga yang kebingungan, Gizarm berkata:

"Kukuku…… dasar kadal-kadal yang tidak tahu diri. Kepala kalian terlalu tinggi."

"!!!!!"

Kepala para naga itu terhempas ke tanah.

Bahkan kepala mereka tertanam dalam, dan meski mereka berusaha keras untuk mengangkatnya, sepertinya mereka tidak bisa bergerak sedikit pun.

"Benar. Tetaplah bersujud seperti itu. Meski dengan kekuatan kalian, kalian bahkan tidak akan bisa menggerakkan satu jari pun. ……Nah."

Segera setelah mengalihkan pandangannya ke naga hitam besar itu, dia melompat ke hadapannya dengan Teleportation dan berucap singkat.

"Hei kau, mulai sekarang jadilah peliharaanku."

Para naga itu membeku. Tentu saja, termasuk si naga hitam besar itu.

Kepada mereka, Gizarm melanjutkan perkataannya tanpa menggerakkan alis sedikit pun.

Tubuh si naga hitam gemetar karena amarah mendengar kata-kata yang terlalu semena-mena itu.

Setelah keheningan sejenak, dia bertanya dengan suara tertahan.

"……Kalau aku bilang, tidak mau?"

"Akan kubunuh. Semua yang ada di tempat ini!"

Alasan dia tidak membunuh semua naga di sana hanyalah satu, yaitu agar si naga hitam menerima persyaratan yang dia berikan.

"Bagaimana? Hidup atau mati tergantung jawabanmu. Mau mencoba bertarung denganku juga boleh? Hanya saja, saat ini suasana hatiku sedang bagus setelah sekian lama dan aku sedikit liar. Aku tidak menjamin tidak akan membunuhmu."

Api hitam yang menyelimuti Gizarm dan auranya menegaskan bahwa kata-katanya adalah kebenaran.

Naga hitam itu perlahan-menerlahan mengangkat tubuhnya.

"Ketua…… bertarunglah! Ketua!"

"BENAR! Jangan dengarkan omongan orang SEPERTI INI!"

"Tinggalkan saja KAMI! Aku MOHON!"

Di tengah teriakan para naga yang terkapar, si naga hitam terus berpikir.

Gizarm menunggu sejenak, lalu menghentakkan satu kakinya ke tanah.

Braakk!

Tanah terbelah, dan daerah sekeliling berguncang hebat.

Ekspresi Gizarm diwarnai kejengkelan dan kemarahan, dia menatap naga hitam itu dengan mata yang seolah bisa membunuh.

"Cepat jawab. Atau kalian semua mau mati sekarang juga? Aku tidak suka menunggu. Benar juga. Mulai sekarang, setiap satu detik terlambat, aku akan membunuh satu ekor. Saaa-tu……"

Tepat sebelum dia selesai menghitung, naga hitam itu berteriak panik.

"……Aku mengerti. Tunggu sebentar. Aku akan menuruti perkataanmu…… jadi tolong semuanya jangan diapa-apakan."

"Hmph, harusnya bilang begitu dari awal dasar lamban."

Bersamaan dengan petikan jarinya, para naga pun dibebaskan.

Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki sisa semangat untuk menyerang lagi.

"Aduh aduh, kamu masih saja kasar ya, Giza-giza-kun."

"Aku melakukannya karena perlu. ……Hei, kenapa melamun. Terbanglah."

"Ba-baik……"

Membawa keduanya di punggungnya, naga hitam itu mengepakkan sayapnya. Dia terbang ke angkasa sesuai perintah.

"Ooh…… Ketua…… menjadi pengganti kami……"

"Ini karena kekuatan kami yang tidak cukup……"

"Iblis itu…… WROOOOOOAR! KETUAAAAA!"

Para naga itu melepas kepergian mereka. Suara ratapan bergema di sekitar tempat itu.

—Naga hitam yang dibawa paksa oleh Gizarm itu bernama Ziguro.

Dia adalah ras naga yang disebut-sebut sebagai monster terkuat, dan di antara mereka dia adalah ras Naga Hitam yang dianggap paling kuat.

Orang tua, saudara, dan tentu saja leluhur mereka dari generasi ke generasi telah membuat kekacauan besar di dunia manusia, bahkan banyak yang menantang surga dan neraka.

Namun hanya Ziguro yang tidak pernah pergi ke luar dan tetap tinggal di sini.

Saat semua orang menanyakan alasannya, dia langsung menjawab bahwa dia tidak bisa meninggalkan teman-teman di sini.

Sungguh kebaikan yang luar biasa.

Dialah raja para naga, dan orang yang paling pantas menjadi Super Beast adalah Anda!

……Semua orang berkata begitu sambil menangis dan merasa yakin.

Padahal Ziguro sendiri sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ya, sebenarnya dia lebih lemah dari siapa pun.

Kekuatan keluarganya, penampilan rasnya yang menawan, dan hanya karena dia lahir dengan tubuh yang sangat besar di antara mereka, membuat orang-orang di sekitarnya salah paham bahwa dia adalah yang terkuat.

Monster terlemah yang bahkan tidak punya keberanian membunuh seekor katak, aib bagi ras Naga Hitam…… sebenarnya dialah sosok yang pantas dipanggil begitu.

Tentu saja dia berkali-kali mencoba mengoreksinya.

Namun setiap kali melakukannya, orang-orang di sekitarnya hanya tertawa dan menganggapnya sebagai candaan atau kerendahhatian, sehingga tidak diterima.

Hasilnya, Ziguro yang memimpin ras naga tanpa pernah bertarung sekalipun, terpaksa harus mengikuti Festival Super Beast demi memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya.

—Dan, karma menyerangnya dalam bentuk situasi terburuk.

Mendarat di tempat yang jauh dari sarang, Sang Holy King turun dari punggung Ziguro dan mulai memainkan biola dengan suasana hati yang bagus.

"Hmm hmmm~ hmmm hmmm hmmm♪ hmmm hmmm hmmm~♪ Jaa-nn! Bagaimana menurutmu, Giza-giza-kun?"

Yang memainkan biola dengan riang itu adalah Sang Holy King.

Gizarm menatapnya dengan wajah muak dan berkata singkat.

"Hentikan, payah sekali. Tidak layak didengar."

"Bukankah itu terlalu jahat!? Meskipun aku seorang pasifis, bukan berarti aku tidak apa-apa meski dihina begitu lho!?"

"Meskipun punya sedikit teknik, aku tidak suka sifatmu yang mencoba memperdengarkan lagu yang bahkan belum selesai kepada orang lain. Kata-kata itu sangat pantas untuk orang sepertimu."

"Sedikit katamu…… padahal aku pernah disebut sebagai orang hebat di dunia musik lho. ……Aduh-aduh, kamu masih saja kejam ya. Kamu juga berpikir begitu kan, Ziguro-n?"

"—Ha!?"

Tiba-tiba diajak bicara, Ziguro panik.

Kenapa dia tahu namaku padahal aku belum memperkenalkan diri…… belum sempat dia merasa heran, kata-kata baru sudah terlontar.

"Lagipula ya, gara-gara butuh tunggangan kaki sampai menculik orang tiba-tiba itu keterlaluan sekali kan. Kamu juga berpikir begitu kan?"

"Itu…… haa……"

Sambil melirik ke arah Gizarm, Ziguro menjawab dengan terbata-bata.

Selain kekuatan Gizarm, Sang Holy King juga terasa setara dengannya.

Menyinggung salah satu dari mereka bisa berakibat fatal.

Karena itu, dia hanya bisa ragu untuk bicara.

"Iya kan~? Merepotkan sekali ya, Ziguro-n?"

Serangan susulan dengan wajah tersenyum, namun di balik ekspresi ramah itu terpancar tekanan yang luar biasa.

Zrrsh!

Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh Ziguro.

Penampilan dan mananya terlihat seperti manusia biasa.

Tapi atmosfer yang menyelimuti Sang Holy King memiliki keanehan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Itu jauh lebih hebat dari teman-temannya, keluarganya, monster menakutkan lainnya, dan bahkan jauh lebih hebat dari Super Beast yang pernah dia lihat dari kejauhan……!

Senyumnya yang ceria malah semakin menegaskan kengeriannya.

"I-iya! Benar sekali seperti yang Anda katakan!"

Ziguro refleks bersuara, tapi,

"……Hah?"

Gizarm segera membalas dengan tatapan mengancam.

Dia pun memberikan tekanan yang tidak kalah hebatnya dengan Sang Holy King.

"HIIIIIIII!"

Diberi tekanan yang luar biasa dari kedua sisi, Ziguro hanya bisa menundukkan kepala karena ketakutan dan gemetar hebat.

Melihat hal itu, Sang Holy King tertawa geli.

"Ahahaha. Hei, bukankah kasihan kalau dia terus ditakut-takuti, Giza-giza-kun? Kamu memang orang jahat ya."

"Aku tidak akan meladeninya jika kau tidak melakukan hal konyol."

"Lalu, serius nih, bukan cuma buat jadi tunggangan kaki kan? Kurasa sudah waktunya kamu beri tahu alasan sebenarnya kenapa membawa dia ke sini?"




Gizarm sejenak ragu, lalu menjawab.

"……Alasanku membawa makhluk ini, adalah untuk mengikutsertakannya dalam Festival Super Beast."

"Fe-Festival Super Beast!? Aku!?"

"Ya. Karena ada festival besar, bukankah membosankan jika hanya menonton saja? Tentu saja, aku tidak mungkin berpartisipasi sendiri, jadi aku akan menggunakan kadal ini sebagai perwakilanku."

"He~, ada angin apa nih? Kamu kan tipe karakter yang bakal bilang hal-hal seperti itu 'konyol'?"

"Aku punya firasat. Firasat bahwa sesuatu yang menyenangkan akan terjadi……!"

Melihat Gizarm yang tertawa kecil, Ziguro gemetar ketakutan.

Tentu saja, sejak awal dia memang berniat mengikuti Festival Super Beast, tapi jika situasinya jadi begini, ceritanya berbeda.

Kalau di depan teman-temannya, kalah pun mungkin masih bisa dimaafkan. Namun, di depan orang-orang seperti Gizarm, hal itu tidak akan berlaku.

Tatapan itu…… jika gagal, dia pasti tidak akan dilepaskan begitu saja. Jika dia menunjukkan pertarungan yang memalukan, nyawanya bahkan tidak akan terjamin.

Dan Ziguro yang sebenarnya lemah tidak mungkin bisa menunjukkan sesuatu yang memuaskan mereka…… Wajahnya memucat sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Mu-mustahil, Tuan!"

"Aku tidak meminta pendapatmu."

"Ah~, Giza-giza-kun memang tidak akan mengubah keputusannya. Jadi tidak ada pilihan selain melakukannya. Ziguro-n!"

Sang Holy King berkata dengan yakin sambil mengacungkan jempol dan tersenyum lebar.

Sedangkan Gizarm bahkan tidak sudi memandangnya.

Pandangan Ziguro seketika berputar dan menjadi gelap.

"Ta-ta-tapi! Saya ini cuma besar badan saja, aslinya payah! Saya tidak punya bakat untuk memenangkan Festival Super Beast—"

"Jangan berkicau lebih dari itu. Menjijikkan."

Mendengar kata-kata berat yang seolah menghimpitnya, Ziguro terpaksa bungkam.

"Aku sudah tahu seberapa pengecutnya dirimu tanpa perlu dijelaskan. Justru karena menggunakan sampah sepertimu, kemenangan akan terasa lebih menyenangkan. Tenang saja, aku akan membuatmu menang dengan cara yang benar. Demi pembalasan dendamku juga. Kukuku."

Pembalasan dendam katanya…… Ziguro memucat memikirkan betapa merepotkannya hal itu.

Intinya, dia disuruh melawan musuh kuat yang bahkan orang sekuat ini pun tidak bisa kalahkan.

Mungkin begini rasanya saat dunia terasa runtuh di depan mata.

"Yah, jangan terlalu khawatir begitu. Giza-giza-kun tidak akan mengatakan hal yang tidak bisa dia lakukan, tahu? Ziguro-n cukup percaya padanya dan bertarung saja."

Itu adalah kata-kata paling ringan dan tidak bisa dipercaya yang pernah dia dengar seumur hidupnya, tapi dia tidak punya keberanian untuk membantah.

Bagaimanapun, dia harus melakukannya. Ziguro menundukkan kepala dengan pasrah.

Mengabaikan Ziguro yang merana, keduanya mulai mengobrol lagi.

"Ngomong-ngomong, Giza-giza-kun? Mengenai partisipasi di Festival Super Beast ini, jangan-jangan kamu melakukannya untukku?"

"Hah?"

"Jangan pura-pura bodoh. Kamu menyiapkan monster kandidat supaya terjadi drama di dekatku, demi memberikan inspirasi untuk lagu buatanku, kan? Ternyata kamu orang yang baik ya.... Ah! Jangan-jangan ini yang namanya cinta? Deg-degan……!"

"……Mau coba mati sekali?"

Tekanan yang dilepaskan kali ini tidak sebanding dengan yang sebelumnya.

Meski menerima tekanan itu langsung dari depan, wajah Sang Holy King tetap tenang.

Keduanya benar-benar di luar nalar, setidaknya jauh melampaui skala kekuatan yang bisa diukur oleh Ziguro.

"……!"

Tanpa sadar, Ziguro sudah jatuh pingsan dengan mulut berbusa dan mata putih yang mendelik.

Keduanya melirik Ziguro sejenak.

"……Jadi, bagaimana menurutmu soal dia?"

"……Entahlah. Yah, aku akan mencoba berbagai hal padanya."

Wajah mereka saat menatap Ziguro tampak dipenuhi ketertarikan yang gelap.

"Ooh, jadi ini lokasi Festival Super Beast ya."

Setelah berjalan beberapa saat di dalam kota, kami sampai di koloseum yang menjadi lokasi festival.

Di dalam bangunan raksasa yang mungkin berukuran ratusan meter itu, berkumpul berbagai macam monster.

"Jumlah monsternya luar biasa banyak ya. Sepertinya ada lebih dari seribu. Apa mereka semua peserta?"

"Bukan-ppi. Yang mendaftar hanya satu orang yang memegang Bukti Ras. Yang lainnya kebanyakan cuma penonton-ppi."

"Karena namanya Festival Super Beast, mungkin memang rasanya seperti perayaan ya."

Ternyata manusia maupun monster sama-sama bersemangat jika ada acara seperti ini.

Aku tidak tahu bagaimana keseharian mereka, tapi jelas sekali suasana hati mereka sedang tinggi.

"Pokoknya, ayo mengantre."

"Kami akan menjaga sekeliling Anda."

Sambil menunggu giliran dengan dikawal ketat oleh Sylpha dan yang lainnya, para monster mulai mendekat.

"Hai, hai, Nona-nona cantik di sana. Mau minum teh bareng Abang, nggak?"

"Ngomong apa kamu, dasar jelek! Ngaca dulu sana!"

"Abaikan orang-orang bodoh itu, mending sama Abang saja!"

Seperti dugaan, Sylpha dan yang lainnya memang mencolok di mana pun mereka berada. ……Bukan, bukan itu.

Jika diperhatikan baik-baik, tatapan para monster itu terpaku pada Alize.

Berkat kostumnya, mana Alize seharusnya sudah menipis, tapi tetap saja dia menarik perhatian para monster. Benar-benar umpan manusia.

"Grrr……! Guk!"

"Hyaa! Serigala besar banget!?"

Lil mengusir mereka setiap kali ada yang mendekat, tapi ujung-ujungnya para monster kembali berkumpul.

"Muu, ini tidak akan ada habisnya ya."

"Apa lebih baik aku sebar racun saja?"

Semuanya waspada, tapi ini mungkin kesempatan bagus untuk bicara dengan para monster.

Karena itu, aku langsung mencoba mengajak mereka bicara.

"Hei, hei, kalian! Ada peserta Festival Super Beast yang kalian jagokan tidak?"

Pertama-tama, aku harus mengumpulkan informasi tentang para peserta. Pasti ada yang menggunakan sihir menarik di antara mereka.

Mendengar pertanyaanku, tatapan semua monster tiba-tiba berubah.

"Hm? Oh, itu benar juga ya.... Jagoanku tentu saja si raksasa bermata satu, Cyclops. Tubuh besar tapi gerakannya cepat, dia benar-benar benteng berjalan. Kali ini pun dia salah satu kandidat juara-be."

"Bodoh, kalau soal kandidat juara ya Elder Lich dari bangsawan undead-be. Sihir orang itu luar biasa. Katanya monster apa pun bisa mati dalam sekali serang……"

"Kalau soal sihir, penyihir batu Medusa juga tidak kalah. Soalnya ular-ular di kepalanya masing-masing bisa pakai sihir-be."

"Dasar idiot! Sihir tidak mempan buat Mirror Golem si boneka cermin magic-be. Mana mungkin mereka bisa menang!"

"Serangan apa pun tidak ada gunanya kalau tidak kena. Golem lamban begitu tidak akan bisa menang-be. Metal Sylph yang dibilang tercepat di dunia monster adalah yang harus diawasi-be!"

"Ogre Lord pengguna empat pedang juga katanya senang sekali karena baru menemukan pedang sihir yang luar biasa-be."

"Aku dengar kecepatan Harpy Queen adalah yang tercepat di antara monster-be. Katanya dia menutupi kurangnya daya serang dengan memanipulasi Ki."

"Oi, oi, apa kalian tidak tahu Ziguro, Naga Hitam yang dibilang terkuat di antara ras naga-da? Katanya dia menaklukkan seluruh ras naga tanpa bertarung-ppe. Levelnya sudah beda jauh-be."

Hanya dengan satu pertanyaanku, para monster langsung berdebat dengan panas.

Keseriusan mereka seolah membuat tatapan mesum tadi hanyalah kebohongan. Ternyata perdebatan tentang siapa yang terkuat memang selalu seru ya.

Aku pun punya kepercayaan diri untuk bercerita panjang lebar jika ditanya sihir apa yang terkuat.

Tapi sampai sehebat ini ya.... Dunia monster memang dunia di mana hukum rimba berlaku dan kekuatan tempur adalah segalanya, jadi kecenderungan itu terasa lebih kuat. Pantas saja Festival Super Beast begitu meriah.

"Anda sungguh hebat, Lloyd-sama. Bisa menjinakkan orang-orang yang berkerumun di sekitar Kakanda dengan begitu mudah."

"Tidak juga…… kurasa dia cuma memang ingin mendengarkan ceritanya saja……"

Aku merasakan tatapan yang agak aneh, tapi karena sibuk mendengarkan cerita para monster, aku mengabaikannya.

Lagipula, seperti dugaanku, ternyata cukup banyak monster yang bisa menggunakan sihir ya. Ini akan sangat menyenangkan.

Selagi asyik mengobrol, giliran kami pun tiba.

Lapi naik ke atas konter dan menunjukkan Bukti Ras kepada resepsionis wanita yang memiliki tanduk.

"Lapi dari ras Slime, mohon pendaftarannya-dappi!"

Melihat itu, orang-orang di sekitar terbelalak, lalu meledak dalam tawa.

"Bwahahaha! Oi, oi, Slime!? Serius-be?"

"Lagipula apa yang bisa dilakukan oleh makhluk sekecil ini-be."

"Mending pulang saja sebelum terluka-ppe! Dahahaha!"

Para monster menertawakan Lapi dengan sombong.

Aku pikir siapapun yang ikut Festival Super Beast akan disegani, tapi seperti yang Lapi katakan, sepertinya Slime memang dipandang rendah ya.

"……Pii."

Bahkan Lapi pun tetaplah Lapi. Dia hanya gemetar kebingungan mendengar ejekan mereka.

"Makhluk-makhluk ini seenaknya saja bicara.... Kamu juga, balas kek! Dasar Slime payah!"

"Mustahil. Mental pecundang sudah mendarah daging padanya.... Yah, karena dia Slime, mau bagaimana lagi."

Grim dan Jiriel juga merasa jengah.

Yah, ini seperti tikus yang mencoba melawan kawanan singa sih.

Mungkin memang ada benarnya, tapi kalau begini terus, nasibnya di Festival Super Beast akan mengkhawatirkan.

"Semuanya, harap tenang! ……Jadi? Apa yang ingin Anda lakukan?"

"Pi…… pii…… itu……"

Mendengar kata-kata resepsionis, Lapi menunduk dan terbata-bata.

Kalau begini terus, mendaftar saja sepertinya tidak akan bisa.

Aduh-aduh, sepertinya aku harus turun tangan membantu…… baru saja aku berpikir begitu.

"—Sadarilah dirimu, Lapi."

Suara lantang bergema di sekitar.

Itu Alize. Dia melangkah maju ke samping Lapi dan menatap matanya dengan lekat.

"Bukankah kamu bilang alasanmu menjalin kontrak denganku adalah untuk bertarung? Tapi kenapa kamu malah gentar terhadap musuh?"

Mendengar kata-kata tajam dan berat yang tidak terbayangkan keluar dari Alize yang biasanya lugu, semua orang di tempat itu terbungkam.

"Pedang tidak memiliki hati. Tidak takut. Hanya diayunkan demi sebuah tujuan. Kamu hanya perlu mengayunkan kekuatan itu demi diriku saja."

—Kata-kata ini, kalau tidak salah sering digunakan Albert saat melatih prajurit baru.

Prajurit baru biasanya belum terbiasa bertarung, dan meski dikirim ke medan perang pun mereka malah memikirkan hal-hal yang tidak perlu hingga tidak bisa bergerak.

Karena itu, ini adalah teknik untuk menghilangkan rasa takut dengan mensugesti prajurit baru bahwa mereka adalah pedang, yang hanya perlu bertarung demi tuannya.

Albert pernah bilang, jika semua tanggung jawab dilemparkan kepada atasan, manusia bisa melakukan hal segila apa pun—

"Pi……!"

Lapi bergumam, dan matanya mulai bersinar.

"—Benar. Aku sendiri yang meminta untuk ikut dengan Alize. Tapi bergetar ketakutan di tempat seperti ini benar-benar memalukan-ppi. Tugasku adalah menjadi Super Beast dan membuat ras Slime diakui oleh ras lain. Jika aku masih ragu atau takut, maka menjadi pedang saja sudah cukup. Alize berkata begitu padaku-ppi. Kalau begitu aku jadi pedang Alize saja…… tidak, aku ingin menjadi pedangnya-ppi! Aku tidak mengharapkan hal lain-ppi!"

Setelah bergumam sendiri, Lapi menatap ke depan. Ekspresi wajahnya menunjukkan tekad yang kuat.

Sepertinya perasaan Alize sudah tersampaikan ya.

"Tentu saja aku akan berpartisipasi-ppi!"

Lapi yang sudah bersemangat merebut kertas dari resepsionis dan menuliskan pernyataan partisipasinya dengan cepat.

Cara membangkitkan semangat yang luar biasa. Hanya menggunakan kata-kata Albert saja tidak akan jadi seperti ini.

Mungkin karena berbagi pemikiran melalui kontrak pelayan…… tapi Alize juga mungkin mulai bangkit sebagai sosok bangsawan.

"Ba-baiklah. Kami menerima partisipasi dari kontestan Lapi."

Terintimidasi oleh aura tersebut, si resepsionis mengangguk, dan ejekan dari sekitar pun entah sejak kapan sudah berhenti.

"Tadi itu keren sekali, Kak Alize."

Setelah pendaftaran selesai dan kami keluar, aku bicara pada Alize.

"Ya, benar-benar sosok Kakanda Lloyd-sama."

"Iya, iya! Tadi Kak Alize keren banget!"

"Sisi yang mengejutkan, ditemukan."

"Ehehe~ be-begitu ya~?"

Dipuji oleh Sylpha dan yang lainnya membuat Alize terlihat malu-malu.

Namun di sampingnya, hanya Alice yang bersedekap dengan wajah yang seolah bilang itu sudah sewajarnya.

"Begini-begini, Nona Alize adalah orang yang bisa jika mau. Demi menyampaikan cinta sejati kepada Lloyd-sama, beliau sudah belajar banyak hal.... Uuh, beliau sudah jadi begitu hebat……"

"Su-sudah! Bilang 'begini-begini' itu tidak sopan, Alice!"

Alize memprotes Alice yang matanya berkaca-kaca.

Kalau dipikir-pikir, dia memang sering pergi ke tempat Albert ya. Mungkin dia diajari banyak hal.

"Daripada itu Lapi, kalau begini terus kamu tidak akan bisa menang."

"A-aku tahu kok-ppi……!"

Tadi memang bisa diatasi dengan semangat, tapi saat bertarung sungguhan, bukan cuma semangat yang dibutuhkan, tapi juga cara bertarung.

Yaitu pengalaman tempur. Lapi yang merupakan Slime terlemah pasti selama ini hidup dengan selalu melarikan diri.

Karena itulah mental pecundang sudah mendarah daging. Jika dibiarkan, kekuatan yang didapat dari kontrak pun akan sia-sia. Harus segera ditempa ulang.

"Karena itulah, aku serahkan padamu, Sylpha. Tolong pakai cara sparta ya."

"Dimengerti. Akan saya tunjukkan bagaimana menempa mental itu kembali sebelum pertandingan dimulai. Meski dia seekor Slime, akan saya jadikan dia pendekar pedang kelas satu."

"Aku juga, aku juga! Meski mungkin tidak bisa sehebat aku, akan kujadikan dia petarung bela diri tingkat atas. Oke, mari kita tanding siapa yang lebih dulu bisa melatih Lapi-aru!"

Sylpha dan Tao terlihat sangat bersemangat.

Pendekar pedang dan petarung bela diri…… Slime? Memang ada keraguan sih, tapi yah, kalau diserahkan pada mereka berdua sepertinya tidak akan masalah. Mungkin.

"Pertandingannya tiga hari lagi ya. Waktu segitu mungkin cukup untuk membuatnya jadi sedikit lebih mendingan."

Setidaknya mentalnya pasti akan terlatih dengan keras. Dia pasti tidak akan lagi gemetar ketakutan di depan musuh.

"Tidak, entahlah soal itu……"

"Aku malah khawatir apa dia tidak akan mati……"

Grim dan Jiriel merasa cemas, tapi tenang saja. Ren dan Conny ikut bersama mereka.

Kalau cuma hampir mati, mereka berdua pasti bisa menyembuhkannya. Mungkin.

"Selain itu, kalau pengawasan Sylpha dan yang lainnya melonggar, aku jadi lebih mudah bergerak."

Festival Super Beast yang langka, kalau kubiarkan mereka mengurus Lapi, perhatian mereka kepadaku akan berkurang.

Sepertinya banyak monster pengguna sihir yang ikut, aku juga ingin menikmati berbagai hal. Benar, benar.

Peserta yang sudah mendaftar harus menunggu sampai hari H di area tempat tinggal yang sudah disediakan agak jauh dari kota.

Sebagai peserta, Lapi, dan kami sebagai pendampingnya sepertinya boleh masuk ke dalam.

Begitu masuk ke area tersebut, terlihat beberapa peserta lainnya di sana-sini.

Ada yang mengamati peserta lain, ada yang bermeditasi, ada yang latihan ayunan senjata, ada juga yang cuma malas-malasan…… masing-masing bersiap untuk pertarungan yang akan dimulai.

"Aku merasakan hawa yang kuat di hutan itu. Mungkin para peserta sedang melakukan penyesuaian terakhir-aru."

"Begitu ya, di dalam hutan berarti kita bisa latihan tanpa dilihat siapapun. Kalau begitu mari segera bawa Lapi."

"Pi!? Ka-kasih istirahat sebentar dong……"

"Waktu itu terbatas-aru. Kalau begitu, sampai jumpa-aru!"

"Kami pergi dulu, Lloyd-sama."

Lapi pun diseret oleh Sylpha dan Tao. Berjuanglah ya~.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Bukankah sebaiknya kita istirahat saja di tenda ini? Mereka pasti kembali kalau sudah malam."

"Kita kan bukan kucing atau anjing……"

"Kalau begitu mari kita masak makan malam sambil menunggu mereka."

Saat Ren dan yang lainnya membicarakan hal itu, aku berdiri.

"……Lalu, Lloyd mau pergi ke mana?"

"Cuma mau memantau situasi musuh sebentar."

Aku melambaikan tangan dan keluar dari tenda.

Tiba-tiba Grim dan Jiriel melongokkan kepala.

"Begitu ya, hanya dengan latihan mungkin saja tidak bisa menang. Jadi Anda ingin menyelidiki para peserta untuk menyusun strategi ya."

"Mengingat seberapa pengecutnya Lapi, hal itu memang diperlukan. Kebaikan yang luar biasa, memang Lloyd-sama yang terbaik."

"Ah~…… itu, yah, begitulah."

Melihatku menggaruk pipi dan ragu-ragu bicara, Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan sinis.

"……Jangan-jangan, maksudnya bukan itu ya?"

"……Anda cuma mau melihat monster yang bisa pakai sihir, kan?"

"Hampir benar, tapi agak meleset sedikit."

"……Berarti Anda sedang memikirkan sesuatu yang lebih parah."

"……Tolong jaga diri baik-baik ya? Lloyd-sama."

Sedikit lah. Sambil menerima teguran mereka, aku mencari hawa keberadaan monster demi memenuhi tujuanku.

Penyihir memiliki hawa keberadaan yang unik dibanding manusia biasa, jadi kalau dicari dengan sengaja akan segera ketahuan. Begitu juga dengan monster.

Setelah mencari…… ada. Sepertinya ada yang sedang istirahat sendirian di dalam tenda.

Saat aku memastikan sosoknya dengan Clairvoyance, sepertinya itu monster yang memakai jubah merah. Dari penampilannya saja sudah terlihat bagus.

Aku menyembunyikan sosok dan hawaku dengan Hiding dan Presence Erasure, lalu mendekati tenda tersebut.

Saat aku mengendap-endap menyibak ujung tenda dan masuk ke dalam—

"Siapa itu."

Sebuah suara yang seolah menggema dari dasar bumi menyambutku.

Hou, hebat juga dia bisa menyadari keberadaanku padahal aku sudah menghilangkan hawa sepenuhnya. Sepertinya dia memang pantas ikut Festival Super Beast.

Sosok berjubah merah itu tetap duduk di tengah tenda yang gelap gulita sambil perlahan menoleh ke arahku.

Yang mengintip dari balik jubahnya adalah sosok yang bukan manusia.

Dua mata yang menonjol, mulut dengan banyak gigi kecil, tubuh berlendir yang basah……

"Uek, monster menjijikkan macam apa ini."

"Drol! Monster siput raksasa! Tapi kenapa dia dandan seperti penyihir……?"

Drol adalah monster tipe siput yang kecerdasannya rendah dan gerakannya lambat.

Tapi makhluk ini bisa bicara, bahkan memiliki wibawa seperti seorang penyihir.

Tipe mutan ya. Sama seperti Lapi tadi.

"Sangat tidak sopan. Jika memanggilku, panggillah Drol-Mage."

"Drol-Mage…… ternyata kamu memang pengguna sihir ya."

"Mu, apa kamu manusia? Kenapa ada di tempat seperti ini…… Gububu, yah sudahlah. Kebetulan sekali aku punya formula sihir yang ingin kucoba sebelum Festival Super Beast. Langkahmu masuk ke sini adalah akhir dari keberuntunganmu. Jadilah bahan eksperimen sihirku!"

Mana berwarna hitam pekat lahir dari tangannya yang seperti tentakel.

Ooh, formula sihir baru? Jadi bahan eksperimen sihir!

Tiba-tiba saja dia langsung ke intinya ya! Ternyata dia orang baik.

"Yang bakal senang digituin cuma Lloyd-sama saja."

"Itu namanya kalimat ancaman lho, Lloyd-sama……"

Entah kenapa Grim dan Jiriel malah merasa jengah.

"……Aku tidak tahu kenapa kamu senyum-senyum begitu…… tapi bayarlah kesalahanmu itu dengan nyawamu! —Death Mist."

Yang dilepaskan dari ujung jari tentakel Drol-Mage adalah gelombang mana hitam pekat, tujuannya bukan untuk menyerang. Sepertinya untuk membutakan pandangan.

"Uge, aku merasa tidak enak badan nih……"

"Apa ini racun ya…… apa Anda baik-baik saja, Lloyd-sama?"

"Ya, kalau level segini sih."

Breeze Barrier yang selalu kugelar adalah penghalang yang menciptakan dinding udara, serangan lemah bisa dinonaktifkan.

Tapi karena ini sihir yang berharga, mari kita rasakan langsung.

Aku mengeluarkan ujung jari dari penghalang dan mencoba menerimanya langsung.

……Begitu ya, ini sihir yang mengumpulkan mana negatif dan menghempaskannya. Sepertinya dia memberikan kutukan secara langsung.

Kalau terkena telak, mungkin harus bersiap untuk terbatuk-batuk.

"Mu…… Kabut kematianku yang bisa melarutkan segala makhluk hidup…… kalau begitu, Black Scythe!"

Kali ini dia menciptakan pisau hitam dari tentakelnya yang terbagi menjadi banyak.

Yang ini cuma memadatkan yang tadi saja ya. Aku membiarkan diriku terkena serangan pisau yang diayunkan itu.

Kring! Dengan suara dentingan, semua pisaunya hancur berkeping-keping.

"Serangan lemah level segitu tidak akan mempan. Tidak perlu menahan diri. Seranglah dengan sungguhan."

Mendengar kata-kataku, mata Drol-Mage terbelalak sejenak, lalu dia tertawa geli.

"Gubaba! Baiklah, dengan jurus terkuatku aku akan membuatmu—"

"Duh, sampai kapan mau main sandiwara begini sih, Lloyd-sama!"

Grim melompat keluar dan memberikan satu hantaman pada Drol-Mage.

"Benar sekali. Kalau membuat keributan lebih dari ini, sekitar kita bakal sadar!"

Ditambah lagi dengan serangan susulan dari Jiriel, dia pun tumbang.

"Aaah, padahal itu kesempatan langka untuk menerima jurus sungguhannya!"

"Sudahlah. Paling juga tidak seberapa."

"Benar sekali. Dia hanyalah monster, mana mungkin punya kekuatan yang bisa menarik perhatian Lloyd-sama."

Grim dan Jiriel menghela napas panjang seolah-olah sedang menghadapi tingkah anak kecil.

Umm, padahal aku ingin melihat setidaknya satu jurus lagi…… tapi yah, mau bagaimana lagi.

Seperti kata mereka berdua, di luar tenda mulai berisik.

Tidak ada gunanya juga kalau aku jadi mencolok sebelum memenuhi tujuan asliku.

"Kalau Lloyd-sama sih, paling-paling cuma mau 'mencicipi' saja kan."

"Ya, mari kita lari sebelum membuat keributan."

"Oi, oi, siapa yang bilang mau begitu. Aku datang ke sini juga karena punya tujuan lho. Nah, lihat saja."

Aku tidak peduli dan mendekati Drol-Mage, lalu melepas jubah merahnya. Uwah, kotornya.

Karena tidak bisa dipakai kalau begini, aku membersihkannya dengan Purification lalu memakainya…… Nah, lumayan juga.

"Bagaimana?"

"Bagaimana…… apanya?"

"Jangan-jangan Anda bermaksud, Lloyd-sama……"

Aku mengangguk mendengar kata-kata Grim dan Jiriel, lalu tersenyum.

"Ya, aku yang akan menggantikannya ikut Festival Super Beast."

"Sudah kuduga……"

Keduanya menghela napas panjang. Ooh, kalian mengerti juga tanpa perlu kujelaskan ya.

Yah, hubungan kita kan sudah lama. Sepertinya kalian juga mulai mengerti diriku. Bagus, bagus.

Meskipun mereka berdua terlihat sangat lelah menghadapi tingkahku…… yah, mungkin itu cuma perasaanku saja.

"Ini kan Festival Super Beast yang langka. Mana mungkin aku puas kalau cuma menonton saja. Aku juga harus menikmatinya sebagai peserta."

Baru berhadapan dengan Drol-Mage ini saja sudah cukup menyenangkan. Aku ingin melihat sihir lainnya juga.

Untuk itu, cara terbaik adalah dengan ikut berpartisipasi secara langsung. Benar, benar.

"Kasihan sih buat dia, tapi bakal repot kalau dia tiba-tiba datang mengacau, jadi aku lempar saja dia yang jauh."

Ambil dulu Bukti Ras-nya…… lalu, buang pakai Teleportation. Hap!

"Ke-kejam banget……"

"Benar-benar menyedihkan……"

Grim dan Jiriel terlihat sangat ngeri, tapi aku tidak peduli karena sudah tidak sabar menantikan turnamennya.

Pasti ada banyak peserta lain selain dia yang menggunakan sihir menarik. Dan aku bisa merasakan semua itu secara legal di sini.

"Fufu, aku bisa merasakan gelombang mana yang unik di mana-mana……! Kira-kira pengguna sihir seperti apa saja yang ada di sini. Jadi tidak sabar."

Sambil merasakan tekanan menyenangkan yang menggelitik kulit, aku berusaha menekan gejolak kegembiraanku.


Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close