NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 10 Part 4


Di bawah tanah istana terdapat Perpustakaan Terlarang, tempat berbagai buku terlarang tidur dengan tenang.

Sebenarnya aku sudah pernah berkunjung ke sini sebelumnya. Saat itu kalau tidak salah……

"……Bernostalgia juga ya, bau apek cetakan begini. Aku pertama kali bertemu Lloyd-sama kan di sini."

"Benar juga, kau dulu kan disegel di sini. ……Pupu, kau pasti sangat hafal tempat ini, kan? Tolong pandu kami, ya."

"Akan kubunuh kauuu!"

Grim dan Jiriel mulai melakukan rutinitas bertengkar mereka.

Sebenarnya tanpa dipandu pun, aku sudah sering menyelinap ke sini jadi aku ingat hampir semua letak bukunya.

Mari kita lihat, buku tentang monster seharusnya ada di……

"Lewat sini."

Orang yang bersuara barusan ternyata adalah Alise.

Dia berjalan mantap menuju rak buku, mengambil sebuah buku, lalu mulai membuka halaman-halaman referensi dengan cepat.

Dan dia tidak membukanya secara asal. Halaman yang dia buka semuanya berkaitan dengan Super Beast.

Aku sampai terkejut melihat keahliannya yang seolah sudah sangat paham isinya.

"E-etoo…… Kak Alise, apa Kakak mengerti isi bukunya?"

"Yah, kurang lebih."

Ini adalah Perpustakaan Terlarang.

Tentu saja semua buku yang diletakkan di sini tidak bisa dipahami dengan mudah.

Apalagi Alise yang biasanya selalu tampak linglung dan belum pernah kulihat membaca buku sebelumnya, rasanya sulit dipercaya kalau dia bisa memecahkan kodenya, tapi……

"Fumu, fumu fumu…… Begitu ya."

Namun, mengesampingkan kekhawatiranku, Alise terus membaca dengan kecepatan yang luar biasa.

Saat aku mengintip dari samping, dia memang benar-benar tampak memahaminya.

Ini sudah melampaui level 'kurang lebih'. Aku tahu dia punya bakat alami, tapi sampai sehebat ini…… Kak Alise yang sedang serius benar-benar mengerikan.

"──Aku sudah paham garis besarnya. Menurut catatan di buku-buku ini, Super Beast tidak bisa ada dua secara bersamaan. Itu berarti, jika kita melahirkan Super Beast yang baru, keduanya akan kehilangan kekuatan dan kembali ke bentuk semula, kan? Jika begitu, Lapi juga akan kembali jadi Slime biasa, dan semuanya selesai!"

Ujar Alise setelah selesai membaca.

Aku yang menguraikan isi buku menggunakan sihir dari belakang juga sampai pada kesimpulan yang sama.

Dia benar-benar memahaminya.

"……Luar biasa. Sepertinya aku baru saja melihat bakat terpendam Kak Alise."

Kegiatan membaca buku bagi orang yang tidak terbiasa itu sebenarnya sangat sulit.

Terkadang otak menolak untuk mengerti, atau mata hanya sekadar menyapu tulisan tanpa memahami isinya.

Itu pengalaman yang wajar dialami siapa saja.

Aku pun kalau membaca genre yang tidak kuminati bisa langsung lupa dalam sekejap.

"Ini semua berkat kekuatan cinta!"

Begitu ya. Kalau karena cinta, aku tidak bisa membantah.

……Tentu saja, dia tidak mengatakannya tanpa dasar.

Sebagai anggota kerajaan, Alise adalah pengguna mana alami.

Sejak awal dia memang memiliki 'pemahaman super' terhadap berbagai hewan melalui mana-nya.

Bukan hal aneh jika kekuatan itu bangkit melalui buku.

Walaupun tetap saja, itu tidak mungkin terjadi tanpa rasa cinta yang begitu besar.

"Aduh, aduh, kakak-kakak Lloyd-sama memang semuanya gila ya."

"Benar-benar Kak Alise-tan! Dia memang kakak dari Lloyd-sama yang hebat."

Aku merasa dia memang orang yang luar biasa.

Aku percaya sihir bisa menghubungkan segalanya, dan sepertinya cinta pun memiliki kekuatan yang serupa.

"……Tapi masalahnya dimulai dari sini. Melahirkan Super Beast baru, ya…… Kita tidak mungkin mengadakan Festival Super Beast sekali lagi."

Negeri monster sedang hancur lebur, dan altar itu saat ini sudah kehilangan mana sehingga tidak bisa diaktifkan lagi.

Butuh mana dalam jumlah raksasa untuk mengaktifkannya kembali.

Terlebih lagi, mana itu harus merupakan energi khusus yang dikumpulkan dari antusiasme para monster di koloseum.

Kita tidak punya waktu untuk melakukan hal yang sama──

"……Gawat."

"Ada apa tiba-tiba, Lloyd-sama?"

"Penghalang yang menahan Lapi sepertinya akan pecah."

"Penghalang Lloyd-sama!? Mustahil!"

Penghalang itu tidak akan pecah hanya karena beban massa yang besar, tapi sepertinya Lapi mencoba memusatkan serangan pada satu titik untuk menjebolnya.

Aku sempat meremehkannya karena mengira dia hanya gumpalan besar saja, tapi sepertinya Super Beast memang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Mungkin pemikiranku yang terlalu naif. Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi menganggap benda itu sebagai Lapi.

"Maaf Kak Alise. Aku harus pergi membantu di permukaan!"

Aku meninggalkan Alise dan berlari keluar dari Perpustakaan Terlarang.

Hampir bersamaan dengan saat aku sampai di atas tembok benteng, sebuah lubang terbuka di penghalang.

……Cih, perbaikannya tidak akan sempat.

Dari sela-sela penghalang yang retak itu, cairan slime berwarna biru kehitaman sudah mulai meluap keluar.

Alise yang ditinggalkan sendirian tampak tidak memedulikan Lloyd yang pergi, dia terus bergumam sendiri di depan buku.

Erice hanya bisa menatap punggung tuannya yang tampak sangat berbeda dari biasanya.

"Untuk melenyapkan Super Beast, kita harus melahirkan Super Beast baru. ……Untuk itu, kita harus mengadakan Festival Super Beast sekali lagi…… Begitu kan."

"……Alise-sama?"

"Maaf Erice. Aku juga harus pergi! Ayo, Ril!"

Dengan tatapan penuh tekad, Alise melompat ke atas punggung Ril dan melesat pergi secepat kilat.

"Ah, tunggu! Alise-sama!? Mau ke mana Anda, Alise-samaaa!?"

Suara Erice yang tertinggal di dalam Perpustakaan Terlarang hanya bergema sia-sia.

"Ooh, ini benar-benar hebat."

Cairan kental berwarna hitam pekat yang keluar dari lubang penghalang mulai menyebar, membakar dan melelehkan hutan di sekitarnya.

Bukan cuma rumput, bahkan tanah pun ikut meleleh oleh cairan pelarut yang mengerikan itu.

Pantas saja penghalang yang kutipiskan tidak sanggup menahannya.

Pasukan penyihir di bawah komando Albert terus melancarkan tembakan bola api, tapi monster itu sama sekali tidak bergeming.

Untuk saat ini, aku harus memperbaiki penghalangnya dan menambahkan ketahanan terhadap cairan pelarut.

"Ooh! Perbaikannya selesai dalam sekejap, Bos!"

"Luar biasa! Sekarang cairan pelarutnya sudah tidak mempan lagi pada penghalang baru itu!"

Perbaikan selesai. Namun, karena slime adalah makhluk tanpa bentuk, kemampuan adaptasinya tidak bisa dibandingkan dengan monster lain.

Fakta bahwa dia berubah menjadi cairan pelarut adalah bukti dari karakteristik tersebut.

Aku tidak yakin ini akan selesai sampai di sini saja, tapi……

"Lloyd-sama! Lihat itu, Bos!"

"Cairan kental yang merembes tadi mulai bergerak!"

Cairan kental yang tadi menyebar di tanah tampak mulai berkumpul di satu titik.

Apakah itu bagian dari tubuh Lapi……?

Tidak, auranya terasa berbeda.

"Apa itu? Warnanya beda dari Lapi yang tadi……"

"Warnanya merah seperti darah. Rasanya sangat tidak enak."

Slime berwarna merah itu memancarkan mana yang terasa sangat jahat dan mengerikan.

Makhluk itu perlahan membuka matanya, menyunggingkan sudut mulutnya dengan aneh, dan tertawa mengejek.

"Kukuku…… Akhirnya aku bisa keluar juga."

"……Siapa kau?"

"Aku ini Lapi! ……Yah, walaupun tubuh utamanya ada di sana, bisa dibilang aku adalah sisi gelap alias Darkness dari Lapi. Namaku…… mari kita gunakan nama Davy saja. Kuhaha, ternyata memperkenalkan nama itu cukup menyenangkan juga ya!"

Bagian dari tubuh Lapi yang menamai dirinya Davy itu tampak sangat bersemangat. Dia tipe orang yang aneh.

"Lapi itu benar-benar 'anak baik' yang payah. Bahkan saat menjadi Super Beast pun, dia bersikeras tidak mau meracuni atau melukai sekitarnya karena tidak ingin melibatkan orang lain. Lucu sekali, padahal tubuh sebesar itu saja sudah sangat mengganggu. Makanya aku memutuskan hubungan dengan tubuh utama dan keluar membawa sebagian kecil dari tubuhnya."

"Begitu…… Jadi kesadaran Lapi masih tersisa."

Dia tidak merespons panggilan Alise tadi, jadi kupikir dia sudah tertelan habis oleh Super Beast dan menghilang…… Ternyata masih ada sedikit harapan yang tersisa.

"Cuma tinggal sisa-sisa sedikit saja, kok. Makanya aku bisa keluar begini. ……Anak itu sudah putus asa. Dia menjadi Super Beast karena ingin diakui oleh semua orang, tapi hasilnya malah jadi kacau begini. Teman-teman yang dulu mengakuinya kini malah lari ketakutan, bahkan majikan yang selalu dia percayai pun meninggalkannya. Wajar saja kalau dia menyerah, kan?"

"……Begitu ya. Jadi itu alasan kenapa para monster tetap hidup."

Aku memang merasa aneh.

Sejak awal, cairan pelarut slime itu sudah cukup kuat.

Apalagi jika menjadi Super Beast, pasti akan berkali-kali lipat lebih kuat.

Tapi aneh rasanya jika monster yang tertelan ke dalam tubuhnya tetap bisa bertahan hidup.

"Benar juga, para monster di bawah tanah sama sekali tidak ada yang mati setelah Lapi naik ke permukaan tadi, Bos."

"Jadi Lapi melakukannya atas kemauannya sendiri. Bahkan setelah jadi seperti itu…… aku jadi sedikit kagum padanya."

"Fuhat! Justru karena itu jugalah aku bisa keluar sekarang! Dia melakukan hal-hal tidak berguna demi makhluk-makhluk sampah itu, makanya berakhir begini. Tapi karena aku sudah keluar, aku tidak akan membiarkan hal manis seperti itu terjadi lagi. Orang-orang yang tidak mengakuiku tidak pantas untuk hidup. Karena itu, akan kululuhkan dan kumakan kalian semua sampai habis!"

Davy bilang dia adalah sisi gelap Lapi.

Lapi yang tidak ingin membunuh orang yang mengakuinya, dan Davy yang ingin membunuh orang yang mengkhianatinya.

Benar-benar dua sisi koin yang berlawanan.

"Yah, apa pun itu, pengganggu harus dimusnahkan! Aku mulai dari kau yang kelihatannya paling merepotkan. ……Matilah!"

Dia memuntir tubuhnya berkali-kali, lalu melepaskannya seketika seperti tembakan peluru tajam yang melesat ke arahku.

Saat aku menahannya dengan penghalang mana yang tebal, serangan itu kehilangan kekuatannya setelah sempat merangsek masuk beberapa sentimeter.

"Uwoh!? Dia bisa merusak penghalang mana Lloyd-sama sampai sedalam itu……!"

"Tidak bisa dipercaya! Inikah kekuatan Super Beast……! Mohon berhati-hatilah, Lloyd-sama!"




Aku sebenarnya sudah meningkatkan ketahanan penghalangnya, tapi daya serangnya lumayan juga.

Sebuah tembakan nyasar mengenai monster yang sedang mencoba kabur.

Bak karet yang ditarik lalu dilepaskan, monster itu tersedot dengan kencang dan diserap ke dalam tubuh Davy.

"Berkat Super Beast Transformation, karakteristik Slime miliknya meningkat pesat! Terutama kemampuan untuk menyerap dan beradaptasi! Aku sudah meluluhkan dan menyerap Magic Barrier-mu! Berikutnya akan kubuat lebih panas lagi!?"

"……Hou."

Menarik sekali. Jadi dia menyerap dan menganalisis Magic Barrier-ku, lalu mengubah susunan tubuhnya sendiri?

Karakteristik Slime adalah menyerap dan beradaptasi.

Apa dia menyerap struktur mantranya?

 Ataukah gelombang mana-ku?

Apa pun itu, aku jadi penasaran dengan apa yang terjadi di dalam tubuh Davy. Aku mulai merasa bersemangat.

"……Kenapa kau malah nyengir begitu! Mati sana!"

Sesuai harapanku, dia kembali menyemburkan cairan pelarut.

Aku mengulurkan tangan ke depan dan──membiarkan diriku terkena serangan itu begitu saja.

"Apa yang Anda lakukan, Lloyd-samaaaaa!"

"Tolong tahan diri untuk tidak sengaja terkena serangan hanya karena itu terlihat menarik, yaaa!"

"Bodoh! Akan kuambil segalanya darimu!"

Bagus, sekarang.

Byaaar!

Begitu tubuhku terbungkus cairan, aku menyelimuti diriku dengan Magic Barrier (High) yang kubentuk menjadi lapisan super tipis.

"Hahaha! Segalanya milikku sekarang!"

Sembari mendengar suara penuh kemenangan itu, aku tersedot masuk ke dalam tubuh Davy.

──Lalu, saat tersadar, aku sudah berada di tengah lautan hitam.

"……Puah! Memakan serangan seperti itu mentah-mentah, apa sebenarnya yang Anda pikirkan, Lloyd-sama!"

"Benar sekali! Biar bagaimanapun Anda memasang penghalang, bagaimana kalau terjadi sesuatu!"

"Tenanglah, Grim. Jiriel juga."

Mereka berdua menatapku dengan curiga. Padahal aku cuma mencoba membiarkan diri terserap sedikit, tapi omelan mereka pedas sekali.

"Tidak, habisnya saya tidak menyangka Anda akan benar-benar melakukan hal senekat ini……"

"Firasatku sudah tidak enak. Tapi untuk benar-benar melakukannya……"

"Davy bilang Lapi masih ada di dalam dirinya.

Jadi kupikir, kalau aku masuk ke dalam, mungkin aku bisa menemukan cara untuk mengembalikan Lapi."

……Yah, itu sebenarnya hanya setengah dari alasan aslinya.

Sebagian besar alasannya adalah rasa ingin tahu tentang apa yang ada di dalam sini.

Bagian dalam Slime yang sudah mengalami Super Beast Transformation…… Aku sangat penasaran struktur mantra seperti apa yang ada di sini.

Pasti sangat menarik. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak masuk.

"Tidak, tidak, ini pasti murni karena Anda merasa hal ini bakal menarik……"

"Kalau ada alasan lain selain rasa penasaran, saya ingin sekali mendengarnya."

Tatapan Grim dan Jiriel terasa perih. Aku berdeham pelan untuk menenangkan suasana.

"Yah, terlepas dari itu──ruangan ini cukup menarik, ya."

Aku memunculkan cahaya dengan sihir, namun sekelilingku hanyalah kegelapan yang seolah tanpa ujung.

Di lautan hitam ini, pepohonan dan bebatuan yang ditelan Davy tampak terapung-apung.

Saat kucoba menyentuhnya, rasanya lebih seperti benda kental daripada cairan.

Sedikit berbeda dengan tubuh Slime biasa, ini lebih mirip tar dengan viskositas yang sangat tinggi.

"Coba kulihat, mari kita rasakan rasanya."

Ini adalah teknik memeriksa komposisi suatu zat dengan menjilatnya, sama seperti yang dilakukan Ren.

Aku sudah berlatih dan sekarang bisa melakukan hal serupa.

Bukannya tidak bisa menggunakan Appraisal, tapi untuk zat misterius seperti ini, akan sangat sulit jika hanya mengandalkan itu.

"Hoi! Jangan masukkan benda kotor begitu ke dalam mulut!"

"Setidaknya bersihkan dulu dengan Purification!"

"Iya, iya, aku mengerti."

Karena mereka menghentikanku dengan sekuat tenaga, aku pun terpaksa menggunakan sihir suci Purification untuk menghilangkan kotorannya.

……Meskipun begitu, warnanya tetap hitam pekat dan kental.

Siapa tahu rasanya enak seperti cokelat.

Maka dari itu, aku pun mencoba mencicipinya sedikit.

"Benda ini…… alih-alih lumpur, rasanya lebih seperti gumpalan mana yang dipadatkan."

Mana biasanya tidak terlihat, tapi bisa berubah menjadi materi padat di dalam penghalang khusus.

Sama seperti bangunan yang diwujudkan dalam penghalang unik yang digunakan oleh iblis tingkat tinggi yang kulawan sebelumnya.

"Berarti ini adalah sejenis sihir, ya? Tapi saya tidak yakin Lapi bisa menggunakan teknik tingkat tinggi seperti itu."

"Pemadatan mana seharusnya sulit dilakukan jika bukan iblis tingkat tinggi. Lagipula, aku merasa ada berbagai struktur mantra lain yang bercampur di sini."

Aku hanya bisa membaca sebagian informasi dari mana yang melumpur ini.

Nuansanya mirip dengan struktur yang terukir di koloseum untuk melahirkan Super Beast, tapi──

"……Mu."

Aku mendengar suara dari kejauhan.

Tampak sesuatu yang berbentuk seperti bola mendekat sambil melompat-lompat.

Meskipun hanya terlihat siluetnya, bentuknya mirip dengan Lapi sebelum dia membesar.

"Slime……? Dia datang ke sini, Bos."

"Mungkinkah itu bagian dari tubuh Lapi atau semacamnya?"

Makhluk mirip Slime itu sampai di bawah cahaya.

Benda itu memang Slime. Namun, yang terpantul di bagian depannya adalah──wajahku sendiri.

"Lo, lo…… lolllo……!?"

"Wajah Lloyd-samaaaa!?"

Popopopopopo!

Tiba-tiba saja, Slime dengan wajahku tertempel di tubuh mereka mulai turun dalam jumlah banyak.

Oi, oi, ini sudah jadi seperti film horor.

"Loi."

"Loi loi."

"Loloi!"

Slime-slime itu mendekat sambil mengeluarkan suara unik.

Mereka menatapku dengan wajah linglung, atau terkadang menguap lebar.

"Ini…… apakah mereka…… cukup lucu……?"

"Bukan itu masalahnya…… apa suaranya memang harus begitu!?"

Aku sendiri merasa canggung dengan situasi ini.

Kemungkinan besar, saat aku menjilat zat tadi, mereka mendapatkan sebagian informasiku.

Karakteristik Slime adalah menyerap dan beradaptasi, makanya mereka meniru wajahku.

"Eh, makhluk-makhluk ini tiba-tiba membuka mulut mereka!?"

"Merapalkan mantra……? Ja-jangan-jangan──"

"■■■"

Bersamaan dengan Slime itu membuka mulut, cahaya silau terpancar dari sana.

Dhuarrr! Ledakan besar terjadi, dan asap hitam menyelimuti sekeliling.

Tentu saja aku melindungi diriku dengan Magic Barrier, tapi yang tadi itu adalah Blaze Ball. Kekuatannya lumayan juga.

"Lumayan apanya! Kekuatannya setara dengan serangan Lloyd-sama!"

"Apalagi sampai merapalkan mantra beruntun…… gawat, jangan-jangan mereka juga bisa menggunakan sihir lain!?"

"■■■"

Dhuar! Dhuar dhuar!

Berbagai aliran sihir mulai menghujani kami.

Semuanya benar-benar mirip dengan sihir yang kugunakan. Meniru begitu, mereka ternyata makhluk yang cukup menggemaskan, ya.

"Tidak, tidak, ini sama sekali tidak menggemaskan!"

"Ini seperti membiarkan makhluk berbahaya tingkat tinggi berkeliaran bebas!"

Kasar sekali mereka bicara begitu tentang makhluk yang berwajah sama denganku.

Yah, tapi saat ini mereka memang cukup mengganggu.

"Karena wajah kita sama, aku akan mengajari kalian apa itu sihir yang sebenarnya──"

──Sihir Elemen Angin, Silence Field.

Sihir ini memasang penghalang udara di sekitar dan menghentikan getaran udara untuk melenyapkan suara.

Suara para Slime itu pun menghilang, mereka hanya bisa membuka-tutup mulut tanpa suara.

"Ooh, penyegel mantra! Tapi bagi Lloyd-sama, Anda seharusnya tetap bisa menggunakan sihir meski tanpa rapalan, kan?"

"Kenapa makhluk-makhluk ini tidak melakukannya dan hanya terlihat bingung?"

"Sihir yang kupelajari sudah melampaui ratusan ribu. Sihir yang jarang kugunakan biasanya kusimpan di dalam 'laci' di kepalaku."

Sihir Elemen Ilusi, Imaginary Archive. Aku menyegel sihir yang tidak biasa kugunakan ke dalam dimensi imajinasi.

Otak manusia itu, jika diisi terlalu banyak pengetahuan, hal-hal yang tidak terlalu penting bisa terlupa.

Itu jugalah alasannya kenapa aku terkadang pelupa…… ini sungguhan, lho.

"Ada beberapa cara untuk melepaskan segel sihir semacam ini, tapi karena pada dasarnya aku tidak perlu menggunakannya, aku menyegel semuanya di Imaginary Archive. Makhluk-makhluk ini tidak punya konsep untuk membukanya, dan kalaupun terbuka, mereka tidak akan tahu mana yang harus digunakan."

Sihir itu bukan cuma soal mempelajarinya, tapi butuh pengetahuan luas untuk menguasainya.

Kalau cuma sihir sederhana sih mungkin saja, tapi sihir yang mendetail seperti Dispel tidak akan pernah bisa dikuasai oleh peniru yang hanya mengopi kemampuan saja.

"Benar juga…… Lloyd-sama kan pada dasarnya lebih suka menerima serangan sihir begitu melihatnya."

"Karena tidak ada konsep untuk menyegel, maka tidak ada konsep untuk melepaskan segel pula, ya."

Yah, begitulah kira-kira.

Meskipun mereka bisa menggunakan sihir yang sama denganku, pada akhirnya mereka tetaplah Slime. Mereka masih terlalu kurang pengalaman untuk melawanku.

"Baiklah, ayo kita bergegas."

Sambil menyegel mulut Slime yang muncul satu demi satu, aku terus melangkah menembus kegelapan pekat.

"Lloyd-sama, Anda kelihatannya cuma jalan asal-asalan saja, apa Anda tahu jalannya?"

"Sekeliling sangat gelap, rasanya kita cuma lewat jalan yang sama terus."

"Ah, ada tempat yang memancarkan mana yang unik. Jika kita ke sana, kita pasti akan menemukan sesuatu."

Mana yang dipancarkan Super Beast memiliki gelombang yang khas, dan hawa itu semakin pekat di arah yang kutuju.

Aku yakin tubuh asli Lapi pasti ada di sana.

"Fiuh, ternyata tinggi sekali ya…… Kau baik-baik saja, Ril?"

"Kuon!"

Pada saat itu, Alise yang menunggangi punggung Ril telah tiba kembali di Negeri Monster.

Ril yang meluncur turun melalui lubang vertikal yang dibuat Lloyd mendarat dengan santai, lalu menyalak pelan seolah mengatakan tidak ada masalah.

Jika ritual Super Beast dilakukan, Super Beast baru akan lahir, dan karena aturan bahwa hanya satu yang boleh ada, efek Super Beast pada Lapi akan menghilang. Lapi pun akan kembali seperti semula.

Untuk itu, apa pun yang terjadi, dia memutuskan harus pergi ke Negeri Monster.

Namun, Alise tertegun saat melihat sekeliling.

"……! Apa-apaan…… ini mengerikan sekali……!"

Bangunan yang tertelan oleh Lapi yang telah menjadi Super Beast semuanya runtuh, dan para monster pun tampak tergeletak tak berdaya.

Meskipun begitu, karena monster memiliki vitalitas yang tinggi, sepertinya mereka masih bernapas namun tidak sanggup untuk bergerak.

"Aku harus menolong mereka!"

Karena tidak tahan melihatnya, Alise melompat turun dari Ril dan mendekati monster yang tergeletak.

Dia merobek ujung roknya dan membalut luka monster tersebut.

"Guooo……?"

Saat ini, Alise tidak mengenakan kostum bonekanya, jadi bahasa mereka tidak saling tersambung.

Namun, sepertinya dia mengerti apa yang dikatakan para monster itu.

"Tidak apa-apa! Pasti akan membaik. Ril, kumpulkan kain dan air sebanyak mungkin!"

"Kuruuu……"

Ril menyalak lemah seolah keberatan.

Dia seolah ingin mengatakan bahwa dia tidak bisa meninggalkan Alise sendirian di tempat seperti ini. Namun,

"Pergilah!"

"……Kuon."

Mendengar perintah tegas Alise, Ril pun berlari pergi dengan wajah terpaksa.

"……Tapi harus bagaimana. Aku belum pernah mengobati monster sebelumnya. Dengan jumlah sebanyak ini, rasanya mustahil bisa menyelamatkan semuanya……"

Hanya dengan melihat sekeliling saja, ada ratusan monster yang tergeletak.

"Benar juga. Jika aku menjalin kontrak dengan mereka──"

Dia teringat saat menjalin kontrak dengan Lapi.

Jika dia meningkatkan vitalitas dasar para monster melalui kontrak, mereka pasti akan selamat.

Setelah membulatkan tekad, Alise segera memejamkan mata. Sembari mencoba meraba sensasi sebelumnya, cahaya redup mulai menyelimuti tubuhnya.

Cahaya itu menyelimuti monster di hadapannya, dan luka-lukanya tertutup dalam sekejap mata.

"Kalau tidak salah…… rasanya seperti ini, kan……?"

Awalnya, itu adalah struktur sihir kontrak yang dia rebut sepenuhnya dari Lloyd, tapi setelah mengalaminya sekali, Alise telah menjadikannya miliknya sendiri.

Meskipun hanya meniru, dia berhasil mereproduksinya dan menjadikannya benar-benar miliknya.

Cahaya itu perlahan memperluas jangkauannya, menyembuhkan para monster di sekitarnya satu per satu──

"Gruruo!? Oooooh!"

"Woaaaaaah!?"

Para monster itu mulai bangkit berdiri sambil bersorak.

Cahaya yang menjadi semakin kuat itu, tanpa disadari, telah menyelimuti seluruh Negeri Monster.

Semakin jauh aku masuk ke dalam kegelapan, hawa Super Beast semakin kuat terasa.

"Ooh! Ada sesuatu yang terlihat di balik kegelapan itu, Bos!"

"Apakah itu semacam altar……?"

Pada lantai yang terapung di lautan hitam itu, terukir lingkaran sihir yang persis sama dengan yang kulihat di bawah tanah koloseum.

Dan yang tertanam di dalam pilar yang menjulang di tengahnya adalah──Lapi.

"Ada di sana, Lloyd-sama! Itu Lapi!"

"Sepertinya separuh tubuhnya membatu, sama seperti Jacob sebelumnya."

Aku berhenti tepat di hadapan Lapi.

Nah, sekarang harus diapakan, ya.

"Apa Anda sudah memikirkan cara, Lloyd-sama?"

"Cara untuk mengembalikan Lapi…… aku sama sekali tidak punya ide."

"Fumu……"

Aku sudah menyelidiki altar bawah tanah, koloseum, bahkan melihat langsung momen kelahiran Super Beast, jadi aku sudah mengumpulkan cukup banyak informasi.

Ada beberapa cara yang bisa kuambil, tapi──mari kita coba cara yang sederhana dulu.

Sret! Aku mencengkeram Lapi, lalu menariknya dengan sekuat tenaga.

"Apa yang Anda lakukan, Lloyd-samaaaa!?"

"Bolehkan Anda melakukan hal seperti itu!?"

"Sudah diam saja dan bantu aku."

"Eeeeh!? Serius nih, Bos!?"

"S-saya tidak mau tahu ya kalau terjadi sesuatu!"

Cara paling sederhana untuk membatalkan sihir ritual adalah dengan memutus fondasinya.

Singkatnya, pemikiranku adalah; jika aku menarik paksa Lapi yang berada di pusat ritual secara fisik, Slime raksasa maupun Davy yang merupakan sisi gelap Lapi pasti akan lenyap.

"Gugyaaaaaaaa!"

Suara teriakan bergema di sekeliling. Itu bukan suara Lapi…… tapi Davy.

Suara dari luar tubuh sepertinya merambat sampai ke sini.

"Kaliannn! Ternyata kalian masih hidup dan belum dicerna!? Lagipula apa yang kalian lakukan di tempat seperti itu!?"

"Apa lagi…… aku sedang mencoba menarik keluar Lapi……"

"Menarik keluar!? Hentikan hal sepet…… gaaaaaaaa!"

Setiap kali aku menarik Lapi, sekeliling kami bergetar hebat.

Sepertinya Davy di luar sana sedang meronta-ronta kesakitan. Aku tidak masalah karena aku sedang melayang, sih.

"Hah, hah…… k-kau…… jangan gerakkan dia lagi! Akan kubunuh kau!"

Davy mencoba menggertak, tapi suaranya terengah-engah dan terdengar sangat lemah.

Grim dan Jiriel saling berpandangan, lalu menyeringai lebar.

"……Hoho, kalau dia benci hal ini, berarti cara ini sangat efektif, Bos."

"Benar, ayo kita tarik sampai lepas, Lloyd-sama. Tarik dengan keras!"

Dua orang ini jadi sangat bersemangat. Padahal tadi mereka sempat ragu.

Namun, fumu. Jika Davy membencinya, secara logika ini adalah jawaban yang benar, tapi……

"He-hentikan! Jika kau membawanya pergi, aku tidak akan bisa menahan 'itu' lagi! Jadi tolong hentikan! Kumohon! Aku akan melakukan apa pun!"

Davy memohon dengan sangat sampai lupa diri. Benar-benar reaksi yang aneh.

'Aku tidak akan bisa menahannya sendiri'? Lalu 'itu' maksudnya apa……?

Tanpa memedulikan rasa penasaranku, Grim dan Jiriel terus mengerahkan tenaga mereka.

"Yosh! Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya ini kesempatan bagus! Ayo, Malaikat Sialan!"

"Uooooh! Kau sendiri jangan bermalas-malasan! Iblis Bodoh!"

"Ugyaaaaaaaa! Aaaaaaah! Guaaaaaaaa!"

Sret, sret, sret! Tubuh Lapi mulai terlepas dari pilar. Davy terus berteriak histeris.

Dan──ceklek! Tubuh Lapi pun terlepas sepenuhnya dari pilar itu.

"Oh, lepas juga. ……Hmm?"

Saat kulihat pilarnya, ada Slime hitam yang tertempel di sana.

Wajahnya tampak seolah sedang berputus asa pada sesuatu, dan perlahan-lahan hancur berkeping-keping lalu terbang tertiup angin.

"Tiba-tiba jadi sepi ya. Suaranya sudah tidak terdengar lagi."

"Sepertinya Lapi masih hidup, tapi…… entahlah."

"Woi Lapi, kau baik-baik saja?"

Tepat saat aku mengguncang Lapi untuk menyadarkannya, hal itu terjadi.

Dhuuum! Lantai di bawah kaki kami berguncang hebat. Saking hebatnya sampai-sampai tidak mungkin bisa berdiri tegak. Aku tidak masalah karena melayang, sih.

"Uwoooo!? A-apa yang terjadi!?"

"Guncangannya dahsyat sekali! Sekeliling kita juga sangat panas!"

Pemandangan di sekeliling mulai mendistorsi karena panas tinggi. Aku sendiri tidak masalah karena memasang Magic Barrier.

"Pi!"

Akhirnya Lapi membuka matanya. Dia naik ke atasku lalu melihat sekeliling dengan bingung.

"Oh, kau sudah sadar ya. Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja-pi…… Bukan itu masalahnya! Padahal aku sudah bilang jangan menarikku paksa, kenapa malah diabaikan-pi!?"

"Yang bilang begitu kan Davy, bukan kau."

"Yah, dia itu kan aku yang lain, atau bisa dibilang dia itu perwujudan dari perasaanku juga…… Owaaa!"

Bokun! Guncangan kali ini jauh lebih besar.

Davy bilang dia adalah dua sisi koin yang sama dengan Lapi. Jadi perkataan tadi juga merupakan keinginan Lapi, ya.

"Suasananya jadi gawat nih, Bos."

"Bukankah ini berbahaya jika kita terus di sini?"

Meskipun aku sendiri baik-baik saja, di luar Magic Barrier suasananya sudah seperti berada di tengah-tengah lava.

Sepertinya dimensi ini sudah mencapai batasnya. Tinggal menunggu waktu sampai hancur total.

"Untuk sekarang, ayo kita keluar."

Aku menggunakan Teleport untuk keluar.

Begitu sampai di luar, gumpalan Slime raksasa yang kutahan dengan penghalang maupun Davy sudah menghilang.

"Ooh, semua kekacauan tadi sudah hilang, Bos."

"Syukurlah kau bisa kembali normal, Lapi."

"……Bukan-pi. Mereka tidak hilang-pi."

Lapi bergumam pelan sambil menengadah ke langit.

Di atas kepala kami, awan hitam yang tadinya tidak ada kini menutupi langit.

Rintik hujan mulai turun. ……Tidak, ini──

"Benda apa itu!? Gerakannya terlalu liar untuk disebut awan hujan, Bos!"

"……Tsu!? Air hujan ini rasanya seperti menyengat! Apa ini racun!?"

"Bukan racun-pi. Ini sama sepertiku……"

"Butiran hujan seukuran Slime, ya."

Slime raksasa yang tadi naik ke langit dan kini menyerang dengan berubah menjadi hujan.

Yah, kekuatannya memang tidak sampai menembus Magic Barrier-ku, tapi benda ini sepertinya akan menimbulkan kerusakan di area yang luas.

Pepohonan meleleh, tanah membusuk, dan para prajurit bergegas mencari perlindungan di bawah atap.

"Sesaat setelah babak final berakhir, sesuatu yang bisa kusebut sebagai 'kehendak Super Beast' mengalir masuk ke dalamku. Kehendak kuat yang membenci segalanya dan ingin melenyapkannya…… Aku sudah mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menahannya agar hal itu tidak terjadi-pi."

"Benar juga, Davy juga pernah bilang begitu. Soal membunuh orang-orang yang tidak mengakuinya atau apalah itu."

"A-itu cuma sebagian kecil dari perasaanku…… Intinya! Karena penahanku yaitu aku sendiri sudah tidak ada, kehendak Super Beast itu pun muncul-pi!"

Kehendak Super Beast, ya.

Memang benar, niat membunuhnya terasa lebih kuat dibandingkan Davy yang tadinya hanya ingin menelan para monster.

Hujan ini seolah-olah ingin memangsa tanah itu sendiri.

"Tu-Lloyd-sama, lihat itu! Ada mata raksasa di langit……"

"Apa awan hujannya membentuk formasi seperti itu…… menyeramkan sekali."

Mata raksasa yang tercipta di langit menatap tajam ke arahku.

Fumu, jadi kau yang namanya kehendak Super Beast itu, ya. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi──

"Aku tidak ingin istananya semakin rusak. Ayo kita pindah tempat."

Sihir Skala Besar Elemen Angin, Jade Kirin. Angin kencang yang menderu bagaikan Kirin yang berlari menyapu bersih awan-awan di langit dalam sekejap.

"Dweh!? Awannya terdorong seperti aliran deras. Angin macam apa itu……"

"Kalau sampai salah menembakkannya ke tanah, semuanya pasti akan terbang tercerabut sampai ke akar……"

Aku tidak akan salah tembak, jadi tenang saja. Bagaimanapun juga, tanah ini adalah tempat eksperimenku yang berharga.

Karena itu, aku tidak bisa membiarkan makhluk yang mengancamnya ini berkeliaran di sini.

Lagipula, aku tidak boleh sampai terlihat sedang bertarung oleh orang-orang Saloum.

Super Beast yang terbawa angin menderu-deru, dan aku mengikuti mereka dengan menunggangi angin.

"Kurasa di sini sudah cukup."

Setelah terbawa angin beberapa lama, kami sampai di atas laut di mana daratan sudah tidak terlihat lagi.

Di bawah kami tidak ada pulau atau apa pun, jadi di sini aku bisa bertarung sepuasnya.

"Piiiii──"

Suara tinggi yang mirip dengan jeritan terdengar dari langit. Bersamaan dengan itu, Super Beast mulai mengubah wujudnya.

Awan hitam berkumpul dan menjadi gumpalan cairan kental. Alih-alih Slime──ini lebih mirip dengan lumpur yang memenuhi bagian dalamnya tadi.

Gumpalan lumpur yang jatuh ke atas laut itu perlahan mengangkat sebagian tubuhnya, dan mata bulat yang tercipta di sana diarahkan kepadaku.

Pupil hitam pekat yang tidak diketahui apa isinya itu menatapku tajam.

"Kenapa……"

Super Beast itu mengeluarkan suara sambil mendekat ke arahku.

Lalu dia mengarahkan mata raksasanya tepat di depan mataku.

"Kenapa…… kalian menjauh……? Padahal aku…… menjadi Super Beast…… demi semua orang…… Kenapa…… Kenapa…… Kenapa…… Kenapa kalian semua lari darikuuuu!?"

Bersamaan dengan teriakan pilu itu, ribuan tentakel menjulur dari seluruh tubuh Super Beast.

Aku mencoba menahan sekumpulan tentakel yang menghujam itu dengan Magic Barrier, tapi──

Bachiin!

Goncangan hebat terasa. Aku yang terpental begitu saja terhempas masuk ke dalam laut.

"Lloyd-sama!?"

"Anda baik-baik saja!?"

"……Ya."

Aku menjawab sembari muncul dari dalam air.

Aku tidak basah. Sejak sesaat sebelum terpukul sampai sekarang, Magic Barrier-ku selalu aktif.

"Serangan tadi, sepertinya menembus Magic Barrier Lloyd-sama, Bos!?"

"Bukan menjebol tapi menembus…… apa sebenarnya yang terjadi?"

"Sepertinya itu yang namanya tubuh spiritual."

Ada keberadaan unik di antara monster, yaitu tipe spiritual seperti Wraith.

Monster jenis ini tidak memiliki wujud fisik dan memiliki sifat bisa menembus benda begitu saja.

Mirip dengan Iblis atau Majin yang merupakan tubuh mana, tapi monster tipe spiritual ini awalnya bahkan tidak bisa berinteraksi dengan benda fisik, dan dengan sihir biasa pun aku tidak bisa memberikan damage pada mereka.

"Tapi itu aneh, Bos! Memang benar tubuh spiritual tidak bisa disentuh, tapi harusnya mereka pun tidak bisa menyentuh kita!"

"Benar sekali! Dia menembus Magic Barrier saja tapi bisa memberikan serangan pada Lloyd-sama! Itu kontradiksi!"

Benar sekali. Monster tipe spiritual tidak bisa menerima serangan, tapi sebaliknya mereka juga tidak bisa menyerang.

Seharusnya mereka adalah monster lemah yang hanya bisa melakukan serangan mental.

"Makanya, ada trik di baliknya. ……Coba lihat ini."

Aku mencoba menyentuh Magic Barrier yang tadi dilewati begitu saja oleh serangan lawan, dan merasakan sensasi kasar di ujung jariku. Sebagian dari penghalang itu tampak sedikit terkikis.

"Ini…… bekas serapan si Super Beast-desu kai? Berarti setelah dia melewati Magic Barrier sekali……"

"Dia menyerap Magic Barrier dari dalam sambil memulihkan wujud fisiknya untuk menyerang Lloyd-sama……?"

Benar sekali. Itu adalah serangan brilian yang memanfaatkan karakteristik Slime dan tubuh spiritual secara bersamaan.

Dia benar-benar melancarkan serangan yang cukup merepotkan.

"Mengambil keuntungan dari wujud spiritual dan fisik sekaligus, curang banget sih…… tapi kalau dia monster tipe spiritual, harusnya dia punya kelemahan terhadap Holy Magic!"

"Tepat sekali! Dengan Holy Magic milikku, mau dia hantu atau bukan, aku bisa menyerangnya tanpa masalah! Mau dia punya tubuh fisik pun tidak jadi soal!"

Grim dan Jiriel tampak bersemangat, tapi…… entahlah, ya.

Memang benar Holy Magic sangat efektif melawan hantu, tapi kalau lawannya dia…… yah, tidak ada salahnya mencoba.

"Light Blade──"

Aku memusatkan mana di telapak tanganku.

Sebuah gumpalan mana membesar sembari memancarkan kilatan cahaya putih murni.

Dari sana, belasan bilah pedang tercipta, memanjang, dan menyebar ke segala arah.

Aku menggenggam sebilah pedang cahaya raksasa yang tercipta dari suntikan mana dalam jumlah masif; sebuah senjata yang besar dan ganjil.

"──Infinite Edge."

"Uooooh! Light Blade milik Lloyd-sama! Dilihat kapan pun tetap terasa mengerikan auranya!"

"Kekerasan dan kekuatannya tidak perlu diragukan lagi! Kalau begini pasti bisa!"

Aku memutar Light Blade di tanganku, mengambil ancang-ancang, lalu melancarkan tebasan.

Benturannya membelah lautan, membuat pilar air membubung tinggi ke langit.

Di tengah guyuran air yang jatuh seperti air terjun, aku menyadari beban Light Blade: Infinite Edge di tanganku tiba-tiba lenyap.

Begitu air laut mereda, yang muncul di hadapanku adalah Light Blade yang bagian ujungnya telah lenyap, dan si Super Beast yang sama sekali tidak terluka.

Alamak, sepertinya benar-benar tidak mempan.

"B-mustahil!? Light Blade-nya tadi seharusnya kena telak……!"

"Tapi malah terhapus begitu saja!? Bagaimana bisa……!"

Yah, bagiku ini sudah sesuai dugaan, sih.

Kalau Magic Barrier saja bisa diserap, tidak ada alasan dia tidak bisa melakukan hal yang sama pada Holy Magic.

Karakteristik Slime; penyerapan dan adaptasi.

Kalau musuh selevel ini yang memilikinya, memang tidak ada kemampuan yang lebih merepotkan dari ini.

"Kalau begitu berarti kita tidak bisa apa-apa-desu kai!? Ternyata ada musuh yang tidak bisa dikalahkan bahkan oleh Lloyd-sama……!"

"Memiliki karakteristik semua monster, ditambah lagi menyerap dan beradaptasi dengan segala rintangan…… bukankah itu berarti dia abadi!?"

"Tidak, cara mengalahkannya sih sebenarnya ada. Tapi──"

Aku menggantung kalimatku dan menghentikan tangan yang tadinya terarah pada Super Beast.

Itu karena Lapi melilit tanganku, seolah sedang melindungi makhluk itu.

"Apa yang mau kamu lakukan, Lapi?"

"Super Beast…… dia itu makhluk yang malang, jadi kalau bisa tolong jangan bunuh dia-pi……!"

Kata-kata Lapi yang terdengar seperti akan menangis membuatku mematung.

Memanfaatkan celah itu, si Super Beast menambah jumlah tentakelnya dan menyerangku kembali.

"Cih……"

Aku menghentikan serangan untuk sementara dan menghindar. Menghindar. Menghindar dari badai tentakel yang menghujam.

"Apa maksudmu, Lapi! Beraninya kamu menghalangi Lloyd-sama!"

"Benar! Apa kamu sudah lupa budi karena telah diselamatkan tadi!?"

"A-aku tidak lupa-pi. Aku sangat berterima kasih. ……Tapi, setelah menyatu dengan Super Beast aku jadi mengerti, dia itu benar-benar keberatan yang menyedihkan-pi……"

"……Menyedihkan? Apa maksudmu?"

"Super Beast pertama──dia adalah Genius Slime yang sama denganku-pi. Dia jauh lebih pintar dariku, dan dialah yang menciptakan sistem Super Beast ini-pi."

Sebuah fakta mengejutkan terungkap.

Tidak disangka seekor Slime bisa menciptakan struktur mantra serumit itu…… benar-benar sulit dipercaya.

"Dulu, daratan ini adalah tempat peperangan hebat antara para dewa dan iblis, permukaan dunia bukanlah tempat yang layak untuk ditinggali. Hal yang sama berlaku bagi manusia, tapi mereka mempelajari Ancient Magic dari iblis dan Holy Magic dari surga hingga menjadi semakin kuat-pi. Namun, para monster yang tidak memiliki kecerdasan tinggi mulai diburu oleh manusia dan perlahan terdesak ke bawah tanah…… Di sanalah dia memutuskan untuk menunjukkan kekuatan monster sekali lagi. Itulah alasan Super Beast dilahirkan-pi."

Kalau diingat-ingat, Jacob juga pernah bilang begitu.

Lapi pasti mendengar cerita ini dari si Slime Super Beast pertama itu.

Ternyata dialah awal dari segalanya.

"Gila…… ternyata leluhur Lapi itu makhluk yang sehebat itu."

"Tapi melihatnya mengamuk sekarang, aku sama sekali tidak merasa dia punya kecerdasan tinggi……"

Aku tidak merasakan kehendak apa pun dari Super Beast yang sedang mengamuk di depan mataku ini.

Dia hanya menumbuhkan tentakel tak terhingga dan mengayunkannya secara membabi buta.

Mungkin setelah bergabung dengan ratusan monster, kesadarannya pun ikut lenyap.

"Usahanya berhasil, Super Beast memberikan pukulan telak pada para dewa dan iblis. Manusia juga mulai takut pada monster, dan daratan kembali memiliki sedikit tempat bagi para monster-pi. Para monster yang mendapatkan kembali kekuatannya mulai bertambah jumlahnya sedikit demi sedikit…… Fakta bahwa monster masih ada sampai sekarang adalah berkat dia-pi."

"Lalu apa yang menyedihkan? Bukankah dia seorang pahlawan yang telah menjalankan kehendaknya dan melakukan apa yang harus dilakukan?"

"Sampai di situ memang bagus-pi…… tapi, monster lain malah gemetar ketakutan melihat kekuatannya yang luar biasa, hasilnya bukan cuma dia, tapi seluruh ras Slime malah jadi dikucilkan. Di tengah gejolak batin itu, dia tetap memberikan kekuatan pada generasi Super Beast berikutnya demi teman-temannya. Saat aku menjadi Super Beast, dia sebenarnya sudah hancur lebur……! Tanpa kehendak sendiri, dia hanya menjadi alat menyedihkan yang terus menyuplai kekuatan-pi. ……Karena itulah sejak aku menjadi Super Beast, aku selalu menghiburnya-pi. Aku tahu rasanya pedih saat tidak diakui oleh siapa pun. Jadi setidaknya, biarlah aku yang mengakuinya……!"

"Lapi…… kamu──"

Tepat saat aku hendak mengatakannya, sebuah cahaya hitam menembus Lapi.

Lapi yang tertembak tepat di tengah tubuhnya hancur berkeping-keping dan jatuh ke laut.

Gumpalan lendir yang tersisa sedikit di pakaianku pun menguap di udara dan menghilang.

"Lapiiiiiiiiiiii!"

"Bajingan! Apa yang kamu lakukan!"

Grim dan Jiriel meraung murka. Si Super Beast mengarahkan pupil hitam pekatnya padaku.

"Jangan…… kasihani…… aku……!"

Mendengar kata-kata itu, untuk pertama kalinya aku merasakan kehendak milik "dia".

Gumpalan lumpur raksasa itu perlahan mengecil.

Warnanya berubah dari hitam menjadi biru, lalu menjadi sebuah bola yang melayang di udara.

"Makhluk ini…… Slime? Mirip banget sama Lapi-desu ze."

"Lapi bilang dia itu leluhurnya…… wajar saja kalau mirip, sih……"

Seperti yang dikatakan Grim dan Jiriel, wujud Super Beast yang mengecil itu sangat mirip dengan Lapi.

Namun, perubahan Super Beast tidak berhenti di situ.

Tubuhnya menggeliat dan mulai membentuk sosok seorang pemuda.

Meskipun begitu, struktur tubuhnya tetaplah Slime.

Slime berbentuk manusia semi-transparan mungkin adalah deskripsi yang paling pas.

Dengan jubah (meskipun terbuat dari jeli) yang berkibar, penampilannya entah kenapa mengingatkanku pada seorang penyihir.

"……Fumu, begini ya rasanya."

Si Super Beast membuka dan mengepalkan tangannya seolah sedang memastikan gerakannya. Mata semi-transparannya menatapku lekat.

"Dalam wujud Slime pun sebenarnya tidak masalah, tapi wujud penyihir ini lebih memudahkan untuk melakukan banyak hal."

Merapalkan mantra, menggerakkan seluruh tubuh terutama jari-jari untuk memanipulasi struktur sihir; jika dalam wujud manusia, gerakan magis yang bisa dilakukan jadi lebih banyak.

Alasan kenapa sebagian besar monster pengguna sihir berbentuk manusia adalah karena hal itu.

"Woi, keparat! Kenapa kamu membunuh Lapi!"

"Benar! Lapi tadi mencoba menyelamatkanmu, tahu!"

"Karena makhluk rendahan sepertinya mengasihaniku. Keangkuhan itu pantas dibayar dengan nyawa."

Mendengar protes keduanya, si Super Beast menjawab dengan nada menghina.

"Nah, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku adalah Zeldiggs. Super Beast pertama sekaligus penyihir jenius."

Super Beast──Zeldiggs berkata. Gelarnya banyak sekali ya; Pertama, Super Beast, Jenius, Penyihir.

Sombong sekali. Sepertinya dia tipe yang punya harga diri setinggi langit. Makanya dia marah karena dilindungi oleh Lapi.

"Jangan kasihani katamu? Memangnya kamu siapa, hah!"

"Benar! Lapi itu mengkhawatirkanmu dan……"

"──Hah."

Bersamaan dengan tawa mengejeknya, angin kencang berhembus dahsyat. Dia melepaskan mana dalam cakupan yang luas. Apalagi, ini bukan serangan yang disengaja, melainkan sesuatu yang muncul secara alami dari keberadaannya, seperti sebuah uapan kecil.

Begitu ya, jadi ini kekuatan Super Beast pertama.

Tanpa jumlah mana yang luar biasa, mustahil bisa melakukan hal seperti ini.

Sepertinya klaim bahwa dia menciptakan seluruh struktur mantra itu sendiri bukan cuma bualan belaka.

"Menyedihkanlah, malanglah, jangan mengukurku dengan standar rendahan kalian, menjijikkan tahu. Lagipula Slime itu juga salah paham. Mengorbankan diri demi monster lain untuk menjadi Super Beast? Salah besar! Alasan aku menciptakan sistem mantra ini hanya satu, yaitu untuk membuktikan kekuatanku sendiri. Membuat monster-monster tidak berguna saling membunuh untuk melahirkan Super Beast. Karena struktur mantra ini butuh kerja sama para monster, aku menyebarkan berita bohong itu untuk memanfaatkan monster-monster berotak udang. Yah, meskipun hasilnya mungkin memang membantu mereka…… tapi tahu tidak kalau butuh pengorbanan monster yang tak terhitung jumlahnya untuk menyempurnakan ini?" Zeldiggs terkekeh pelan.

Menjadikan semua monster sebagai bahan eksperimen sihir, ya.

Yah, sebagai penyihir, itu adalah pola pikir yang benar. Kalau memang cuma butuh kebenaran saja, sih.

"Ngomong-ngomong, bicaramu jadi lancar sekali ya. Padahal tadi cuma bisa bicara terbata-bata."

"Tadi itu cuma igauan saat tidur. Aku terbangun karena kalian berisik sekali."

……Lagi tidur saja sudah sehebat itu.

Sepertinya dia memang lawan yang luar biasa.

"T-tidur katamu!? Jangan bercanda!"

"Itu pasti cuma gertakan karena dia tidak mau kalah, Lloyd-sama!"

"……Hmph. Dasar bodoh."

Bergumam bosan, Zeldiggs mengaktifkan struktur mantra yang tak terhitung jumlahnya.

No-Cast──saat aku menyadarinya, pandanganku memutih. Sesaat kemudian,

Zudooon!

Suara ledakan menggelegar, menerbangkanku bersama dengan Magic Barrier-ku.

"Guh, yang tadi itu Death Fang! Sihir tingkat tertinggi elemen kegelapan-desu ze! Hebatnya lagi, apa makhluk ini bisa memberikan karakteristik spiritual bahkan pada sihirnya sendiri!?"

"Sihir tanpa rapalan biasanya kekuatannya turun drastis. Tapi kekuatannya tetap sebesar ini! Dia benar-benar tipe penyihir murni! Apa Anda baik-baik saja, Lloyd-sama!?"

Luka memar hitam muncul di lenganku yang terkena serangan, bahkan luka yang cukup dalam terukir di sana.

Death Fang, sihir yang memangsa vitalitas target dan memberikan kematian, ya.

Kecepatan pelurunya lambat dan mudah ditahan dengan Magic Barrier, tapi dengan karakteristik spiritual, sangat mudah untuk mengenai lawan.

Terlebih lagi dengan melepaskannya tanpa rapalan, dia bisa menambah jumlahnya hingga sulit dihindari──begitu ya.

"──Matilah."

Tubuhku mulai hancur berkeping-keping. Jadi ini juga yang mengalahkan Lapi tadi.

Begitu ya, ini yang namanya Death Fang. Bisa jadi referensi bagus.

"Lloyd-samaaaa!"

Mendengar jeritan mereka berdua, aku menjawab dengan santai.

"Hmm? Ada apa?"

"Eh, kenapa Anda bisa pasang muka tenang begituuu!"

Melihatku yang baik-baik saja, Grim dan Jiriel terbelalak kaget.

Yang hancur tadi adalah boneka pengganti yang kubuat.

Tubuh aslinya sudah menghindar menggunakan Teleport.

Karena itu sihir yang jarang kulihat, aku mencoba menerimanya dengan boneka pengganti.

"Struktur mantra yang cukup menarik. Apa terpengaruh oleh Ancient Magic atau Holy Magic? Menarik sekali."

Habisnya, sejak sampai di sini, aku sama sekali tidak bisa menyentuh sihir apa pun.

Karena akhirnya aku menemukan monster tipe penyihir, aku akan menikmatinya sampai ke akar-akarnya.

Kalau dipikir-pikir, dia ini penyihir dari zaman kuno, ya.

Dia pasti memodifikasi apa yang digunakan dewa dan iblis saat itu.

Sihir elemen kegelapan memang terkenal digunakan oleh monster, dan sepertinya dia adalah titik awalnya.

Mengetahui struktur mantra sederhana yang telah membuang segala hal yang tidak perlu membantu kita memahami akar dari elemen tersebut.

……Inilah salah satu kenikmatan mempelajari sihir.

"Ternyata cuma boneka pengganti…… benar-benar bikin jantungan saja."

"Padahal biasanya Anda langsung menerimanya sendiri…… Lloyd-sama sudah tumbuh dewasa, ya."

……Rasanya mereka baru saja mengatakan sesuatu yang tidak sopan.

Perlu kalian tahu, aku bukannya ingin mati.

……Yah, sebenarnya aku tadi sempat ingin merasakannya langsung, sih.

Menerima dengan boneka pengganti dan tubuh asli memang rasanya beda, dan kalau tubuh sendiri yang merasakan, aku jadi lebih serius dalam meresponsnya.

"……Hah, orang sombong sepertimu dulu juga banyak. Mereka meremehkanku hanya karena aku seekor Slime, tapi umur orang-orang seperti itu biasanya tidak panjang!"

Bergumam demikian, Zeldiggs kembali melepaskan Death Fang. Jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Tentu saja tanpa rapalan, tidak ada tempat untuk lari.

"Death Fang milikku, sang penyihir jenius, pasti akan mencabut nyawa lawan! Apalagi karena tanpa rapalan, aku bisa menembakkannya secara bersamaan sesuka hati! Mau seribu atau sepuluh ribu! Nah, coba hindari seperti tadi kalau bisa! Ahahahaha!"

Sesuai perkataannya, bilah pedang hitam yang bahkan lebih banyak dari sebelumnya muncul di sekitar Zeldiggs dan menyerangku.

Di depan badai pedang itu, aku hanya mengangkat ujung jariku sedikit.

Dhuar! Dhuar dhuar!

Zeldiggs terbelalak melihat rentetan ledakan yang terjadi.

Sihir yang menembus segalanya dan baru menjadi nyata sesaat sebelum mengenai musuh, ya.

Karakteristik itu memang merepotkan, tapi sihir tetaplah sihir.

Jika aku mengintervensi struktur mantranya secara langsung, aku bisa menghancurkannya bahkan sebelum sihir itu aktif.

"Ooh, Anda melakukan intervensi paksa pada struktur mantranya dan membatalkan aktivasinya-desu na!?"

"Padahal jumlahnya sebanyak itu, apalagi tanpa rapalan…… Anda memang luar biasa, Lloyd-sama!"




Tadi aku sudah menganalisis struktur mantranya saat menerima serangan dengan boneka pengganti.

Sihir tipe begini biasanya sangat sederhana karena terlalu mementingkan daya hancur. Karena itulah, menghapusnya pun tergolong cukup mudah.

"Nah, selanjutnya apa, Penyihir Jenius? Kamu pasti masih punya cara menyerang yang lain, kan?"

"……Tentu saja."

Sambil menggertakkan gigi, Zeldiggs membiarkan mana meluap dari sekujur tubuhnya.

Aliran mana itu begitu deras hingga memercikkan bunga api. Ini…… bukan struktur mantra. Apa kali ini dia berniat menembakkan gelombang mana murni?

Padahal dia harusnya tahu hal semacam itu tidak akan bisa melukaiku.

Saat aku memperhatikannya dengan tenang untuk melihat apa yang akan dia lakukan, Zeldiggs mengangkat kedua tangannya ke langit.

"Muncullah! Wahai para abdiku!"

Seketika itu juga, sebuah lingkaran sihir raksasa tercipta di bawah kakinya.

Pola ini, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.

Selagi aku berpikir, bayangan hitam mulai merayap naik dari lingkaran sihir tersebut.

Itu adalah──para Super Beast dari generasi terdahulu. Skeleton, Chimera, Manticore, dan berbagai sosok Super Beast lainnya muncul satu demi satu.

"Hah, hah…… Hahaha……! Bagaimana! Roh dan raga para Super Beast terdahulu ada di dalam diriku, dan aku bisa memanifestasikan mereka kapan saja dengan mana! Jumlah mereka jauh melampaui seratus, dan tentu saja mereka memiliki karakteristik yang sama denganku!"

Menciptakan boneka mana dari para Super Beast terdahulu…… jumlah mana yang dibutuhkan pasti sangat luar biasa.

Pantas saja dia sampai terengah-engah begitu.

"Ayo, para pecundang! Bermainlah dengannya! Tebas, bakar, hancurkan, dan mangsa dia!"

"GUOOOOOOOOO!"

Atas perintah Zeldiggs, para Super Beast itu menerjang maju.

"Duaah! Me-mereka datang, Lloyd-sama!"

"Seluruh Super Beast terdahulu…… a-apakah Anda akan baik-baik saja!?"

Bagaimanapun, aku harus menghadapinya.

Aku menjatuhkan mereka satu per satu dengan Light Blade di tanganku.

"Bu-nuh…… Bu-nuh…… Bu-nuh……"

"BUNUUUUUUH!"

Terlebih lagi, Super Beast ini memiliki karakteristik yang sama dengan Zeldiggs.

Setiap kali berbenturan, Light Blade-ku terkikis, dan mereka bahkan menembus Magic Barrier.

" " "BUNUH!" " "

Gakiink! Light Blade-ku patah setelah beradu dengan pedang milik Super Beast berbentuk kerangka.

Memanfaatkan celah saat aku sedikit terhuyung, Super Beast lainnya merangsek maju──

"Berakhir sudah, makhluk rendahan!"

Para Super Beast itu mengerumuniku seperti gumpalan benang. Dari balik kerumunan itu, suara tawa Zeldiggs terdengar membahana.

──Tapi, daripada itu semua. Hatiku justru tertuju pada ekspresi para Super Beast yang tertangkap mataku.

Keputusasaan, rasa sakit; wajah-wajah mereka tampak sangat menderita karena semua itu bercampur jadi satu.

"Makhluk-makhluk ini…… matanya sedih sekali……"

"Mereka dipaksa bertarung. Kata 'bunuh' itu sepertinya bukan ditujukan untuk lawan, melainkan permohonan agar mereka sendiri dibunuh."

Ingin dibunuh, ya.

Raga mereka yang dikorbankan untuk ritual sudah lama musnah, dan sekarang mereka hanya termanifestasi oleh struktur mantra milik Zeldiggs.

Karena itu, mereka tidak punya cara untuk melawan perintahnya. Benar-benar hanya boneka yang bergerak sesuai keinginan si tuan.

"Ahahahahaha! Lihat, inilah kekuatanku! Perlu kalian tahu, sekarang mereka jauh lebih kuat dibanding saat mereka masih menjadi Super Beast dulu! Mereka adalah prajurit abadi yang tak bisa mati! Iri, kan!? Kalau kau minta maaf sekarang, aku bisa mempertimbangkan untuk menjadikanmu bagian dari mereka!?"

Sambil mengeluarkan suara yang menderita, para Super Beast terus menyerang.

Sepertinya dia sengaja menyisakan indra perasa sakit pada mereka.

Tujuannya agar mereka bertarung mengalahkan musuh demi menghentikan rasa sakit yang diberikan pada diri mereka sendiri. ……Benar-benar selera yang buruk.

"……Kamu berbeda dengan Lapi."

"Tentu saja! Meskipun sesama Slime, disamakan dengan makhluk rendahan sepertinya saja sudah membuatku muak! Lagipula……"

Aku mengabaikan ucapan Zeldiggs dan terus berbicara.

"Dia mempertaruhkan nyawa demi melindungi monster-monster yang membencinya. Dia bilang, seorang raja harus terus berbakti tanpa menyerah meskipun tidak diakui oleh sekelilingnya. Tapi kamu, kamu terus mengorbankan sekeliling demi dirimu sendiri."

"Fuhah! Masa bodoh! Rakyat memang ada untuk mengabdi pada raja. Menjadi bagian dari diriku adalah sebuah kehormatan bagi mereka!"

"Begitu ya…… yah, terserahlah."

Gumamku sambil memerintahkan Grim dan Jiriel yang bersemayam di kedua telapak tanganku untuk membuka 'mulut'.

"■■■■■──"

Mantra yang kulepaskan dengan Triple Cast adalah Holy Magic, Triple Holy Light.

Kilauan cahaya yang menyilaukan menyelimuti para Super Beast.

"Bodoh! Holy Magic lagi? Mau dicoba berapa kali pun, itu hanya perlawanan sia-sia──"

Diselimuti cahaya, para Super Beast mulai hancur berkeping-keping.

Setelah itu, mereka tidak beregenerasi lagi, melainkan menguap dan menghilang ke udara. Ekspresi mereka saat hancur tampak begitu damai.

"……Te……ri……"

"……Ma……ka……sih……"

Rasanya aku mendengar mereka menggumamkan sesuatu saat menghilang, tapi suaranya tidak sampai ke telingaku.

Para Super Beast terdahulu yang tertidur di bawah tanah, ya. Pasti ada di antara mereka yang bisa menggunakan sihir menarik.

Meskipun tidak bisa, mungkin ada yang mengetahuinya, atau ada yang memiliki struktur mantra terukir di tubuhnya.

……Di saat aku meratapi rasa sayang karena kehilangan pengetahuan itu, Zeldiggs berdiri mematung dengan mulut ternganga.

"Mustahil! Holy Magic seharusnya tidak mempan!"

"Memang benar karakteristikmu bisa menyerap Holy Magic yang seharusnya memurnikan tubuh spiritual. Tapi, hal itu pun ada batasnya."

Itu hal yang wajar. Selama dia bermanifestasi untuk menyerang, dia harus menyerap sihirku.

Namun, menyerap Holy Magic yang merupakan kelemahannya justru akan mempercepat kehancurannya. Apalagi jika konsentrasinya tinggi.

Melepaskan Holy Light yang dikompresi hingga melampaui batas ketahanan mereka; itulah cara pertama untuk mengalahkan makhluk ini.

"Cih…… dasar sampah tidak berguna……!"

Zeldiggs menggertakkan giginya, lalu aku berkata padanya.

Tapi cara ini tidak akan berhasil jika para Super Beast itu menolaknya dengan kehendak yang kuat.

Sebab Holy Magic adalah struktur mantra yang bekerja kuat pada hati. Bagaimana ya mengatakannya, ini seperti……

"Bermain boneka."

"A-apa katamu……?"

"Habisnya, teknik itu kan struktur mantra yang sengaja kamu ciptakan sendiri? Melahap mereka yang lebih lemah darimu lalu memuntahkannya kembali untuk diperbudak…… kalau itu bukan bermain boneka, lalu apa namanya? Kalau kamu merasa kesepian, bilang saja, aku akan menemanimu bermain sepuasnya."

"Ka……mu…… bajingaaan!"

Mendengar kata-kataku, wajah Zeldiggs memerah padam karena amarah.

Kenapa dia marah begitu? Padahal aku hanya mengatakan yang sebenarnya.

"Kenyataan itu terkadang bisa menjadi pedang kata-kata yang menyakiti orang, Lloyd-sama. Tapi rasakan itu! Syukurin kamu, Zeldiggs!"

"Benar sekali! Ayo, katakan lebih banyak lagi, Lloyd-sama! Untuk si Zeldiggs-chan yang malang dan menyedihkan ini!"

Grim dan Jiriel memprovokasi dengan sekuat tenaga.

Aku memberikan isyarat memanggil dengan tangan kepada Zeldiggs yang mulai gemetaran.

"Sudah jangan banyak bicara, cepat serang aku. Bukankah aku sudah bilang akan menemanimu bermain? Jangan bilang kamu ketakutan?"

"Fufu…… Hahaha…… Ketakutan? Aku? Lucu sekali leluconmu itu…… dasar, makhluk rendahan KEPARAAAAAAT!"

Akhirnya Zeldiggs meledak dalam amarah karena kata-kataku dan menerjang lurus ke arahku.

"Dia datang, Lloyd-sama! Kecepatannya luar biasa!"

"Ayo lakukan yang tadi lagi! Ayo, Iblis!"

Keduanya membuka mulut dan melepaskan Holy Light.

Cahaya menyilaukan menembus Zeldiggs──tapi, dia sama sekali tidak peduli dan terus merangsek maju hingga tepat di depan mataku.

"Hah! Apa kamu pikir trik yang sama akan mempan pada tubuh asliku!?"

"Sudah kuduga."

Yang barusan dilepaskan adalah Holy Light milik Grim dan Jiriel, porsi untuk dua orang.

Meskipun itu cukup untuk memberikan sedikit kerusakan pada para Super Beast, sepertinya tidak mempan pada tubuh asli Zeldiggs.

"Cho! Jahat banget sih, Lloyd-samaaaa!?"

"Cuma kami berdua yang menyerang jadi terlihat seperti orang bodoh tahu!"

"Maaf, maaf. Aku cuma ingin mencoba hal lain."

Yaitu, cara kedua untuk mengalahkannya.

Seingatku ada di sekitar sini…… Aku mengaduk-aduk isi jubahku tapi tidak kunjung menemukannya.

Karena aku memperluas kapasitas penyimpanan dengan perluasan dimensi, aku jadi agak sulit menemukan barang yang kucari. Hmm, bukan yang itu, bukan yang ini juga……

"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan, tapi beraninya kamu bersikap sesantai itu di hadapanku! Mati! Mati! MATILAAAAAH!"

Aku menghindari semua serangan yang dilancarkan bersamaan dengan raungannya itu.

Sihir, serangan fisik, tentakel…… kombinasi serangan yang mencampurkan itu semua pun tidak ada yang berhasil menyentuhku sedikit pun.

Pada dasarnya, makhluk ini tidak punya bakat bertarung. Karena dia hampir abadi berkat tubuh spiritual dan sebagainya, dia benar-benar kekurangan pengalaman tempur.

Bagiku yang telah meniru Mind's Eye milik Tao, menghindarinya sambil memejamkan mata pun terasa sangat mudah.

"Hah, hah…… s-sial…… jangan cuma menghindar saja……"

"Kamu terlalu cepat lelah. Itu karena kamu mengayunkan serangan hanya mengandalkan tenaga."

Menggerakkan tubuh spiritual atau tubuh mana itu sendiri membutuhkan mana yang sangat besar. Terlebih lagi jika digunakan bersamaan dengan sihir.

Bahkan iblis tingkat tinggi dengan mana tak terbatas pun merasakan hal yang sama.

Kecuali jika mereka memiliki sirkulasi mana yang efisien sepertiku. Bagi monster biasa seperti Zeldiggs, ini adalah beban yang berat.

"Ooh! Ini toh cara kedua yang Lloyd-sama maksud!"

"Tidak, ini benar-benar di luar perhitungan. Aku tidak menyangka dia sepayah ini."

"Kamu…… KAMU KEPARAAAAAT……!"

"Cara lainnya adalah…… ini."

Sambil menghindar, akhirnya aku menemukannya.

Yang kukeluarkan dari jubah adalah buah yang bersinar dalam warna pelangi.

"Ini…… buah World Tree?"

"Ya, benar sekali. Aku membawa buah yang kudapatkan sesaat sebelum World Tree yang dulu itu layu."

Buah World Tree dianggap sebagai sumber kehidupan abadi; keberadaannya saja memberikan umur panjang bagi para Elf, dan konon siapapun yang memakannya bisa mendapatkan keabadian.

Saat dalam perjalanan ke sini, Fiona memercayakannya padaku. Dia bilang, jika harus bertarung dengan musuh yang bisa menyebabkan bencana alam, tolong bawalah ini.

Inilah saatnya untuk menggunakannya.

"Tidak, kurasa Fiona memberikannya karena dia mencemaskan keselamatan Lloyd-sama……"

"Pasti tujuannya untuk pemulihan stamina. Setidaknya sudah pasti bukan untuk digunakan dalam eksperimen……"

Buah World Tree yang berharga, akan kugunakan dengan baik, Fiona.

Aku melemparkannya begitu saja ke arah Zeldiggs.

"……?"

Zeldiggs menggumam heran dan menepis buah itu.

──Pada saat itu juga, bagian yang tersentuh meledak.

Cahaya yang tercipta mulai melilit tubuh spiritual Zeldiggs.

"Uwooo!? A-apa ini!? Apa yang terjadi!?"

Zeldiggs bersinar terang benderang bagaikan matahari terbit.

Badai vitalitas yang menderu membuat permukaan laut bergejolak dan guntur menggelegar. Cahaya yang menyilaukan itu perlahan meredup, dan pemandangan kembali terlihat jelas──

"Ini…… tidak mungkin."

Gumam Zeldiggs. Tubuhnya kini dipenuhi dengan vitalitas yang meluap, dan sosoknya yang bersinar merah memberikan kesan kekuatan yang luar biasa.

Benar, Zeldiggs bukan lagi tubuh spiritual. Dia telah mendapatkan raga fisik berkat kekuatan buah World Tree.

"Ahahahaha! Aku merasakan kekuatan yang luar biasa! Apa ini!? Apa aku sudah menjadi dewa!?"

Sepertinya kekuatannya memang hebat. Dia melompat-lompat kegirangan di udara.

Luar biasa, efek buah World Tree benar-benar hebat.

"Tapi apa yang Anda lakukan, Lloyd-samaaaa!"

"Buah World Tree yang berharga! Malah dipakai untuk memperkuat musuh!"

Grim dan Jiriel melancarkan protes keras.

Keras sekali suara kalian. Telingaku sampai berdengung, tahu.

"Wajar kalau kami berteriak! Lihat itu! Lihat kekuatannya yang mengerikan itu!"

"Benar! Monster memang jadi lebih kuat jika memakan World Tree, tapi ini tidak normal! Dia sudah jadi makhluk yang berbeda dari sebelumnya!"

Yah, memang benar sih. Mana milik Zeldiggs telah meningkat ke jumlah yang tak bisa dibandingkan dengan sebelumnya.

Buah World Tree, ya. Sepertinya efeknya melebihi dugaanku.

"Ahahahahaha! Luar biasa…… kekuatanku meluap-luap! Terima kasih telah mengangkatku ke ranah dewa! Dengan kekuatan sebesar ini, dewa maupun iblis bukan lagi tandinganku! Segalanya akan jatuh ke tanganku──"

"Hop."

"Gubahaa!?"

Aku memukulnya dengan Light Blade di tanganku.

Bersamaan dengan suara seperti benda yang remuk, dia terpental jauh dan membalul berkali-kali di permukaan laut.

Zeldiggs menatapku dengan wajah linglung, pipinya bengkak memerah.

"APA-APAAN!? ……Ba-bagaimana bisa kamu memukulku!? Dan kenapa aku tidak bisa berubah menjadi tubuh spiritual!?"

"Ya karena…… kamu sudah punya raga fisik berkat buah World Tree, kan?"

Tubuh spiritual adalah kondisi di mana seseorang kehilangan vitalitas.

Tentu saja, bagi mereka yang sudah memiliki raga dan vitalitas yang meluap, berubah menjadi tubuh spiritual adalah hal yang mustahil.

Karena itulah, dia bisa disentuh. Dan bisa dipukul.

"Jadi begitu, Anda menggunakan buah World Tree untuk mencegahnya menjadi tubuh spiritual. Membuat roh tak beraga sekalipun memiliki raga fisik, buah World Tree benar-benar mengerikan."

"Dan dengan begini, kita bisa melawannya! Ternyata Anda sudah memperhitungkan sampai sejauh ini…… Anda memang luar biasa, Lloyd-sama!"

……Aku tidak mungkin bilang kalau aku cuma ingin melihat seberapa besar efek buah World Tree dalam memberikan vitalitas.

Tapi aku tidak menyangka tubuh spiritual pun bisa sampai mendapatkan raga fisik. Kupikir paling hebat hanya akan menjadi setengah roh…… benar-benar pohon yang mistis.

Mungkin agak sedikit sayang, tapi pohon itu pasti akan tumbuh lagi nanti, jadi tidak masalah. Aku juga sudah puas melihat cara kerjanya.

"Ku…… kukuku…… Ahahahaha! Jadi begitu, tindakan anehmu tadi adalah untuk membatalkan wujud spiritualku, ya. Sepertinya kamu layak untuk membuatku bertindak serius. ……Tapi, apa kamu sadar? Fakta bahwa aku, Super Beast pertama yang merupakan puncak dari segala monster sekaligus penyihir jenius, telah mendapatkan kekuatan yang meluap-luap ini tidak akan berubah! Harga yang harus kamu bayar akan sangat mahal!"

Zeldiggs membiarkan mananya meluap seiring dengan semangatnya yang membara.

Karena sekarang dia memiliki raga fisik, tekanan mananya jauh lebih besar daripada sebelumnya.

"──Mumpung ada kesempatan. Mau mencobanya secara langsung?"

Suara itu terdengar tepat di samping telingaku. Zeldiggs sudah mulai menyerang. Di tangannya tergenggam sebuah bola mana yang bersinar merah.

"Berdenyutlah, darah panas dalam nadiku…… Crimson Blood Fang."

Sihir Elemen Kegelapan, Crimson Blood Fang. Ini adalah sihir pengendali darah yang sangat disukai oleh kaum vampir.

Struktur mantranya adalah menabrakkan gumpalan darah yang tercipta dari mana kepada lawan, lalu membiarkan darah yang masuk melalui luka itu mengamuk untuk menghancurkan target dari dalam.

"Bola mana darah dengan densitas dan massa yang luar biasa! Ternyata ini identitas dari kilauan merah yang terpancar dari dirinya!"

"Benar-benar denyutan kehidupan…… Padahal Crimson Blood Fang yang asli itu jauh lebih kecil, tapi yang ini mengalami perubahan yang tidak normal!"

Habisnya, Crimson Blood Fang yang digunakan kaum vampir itu kan sihir lemah yang cuma menembakkan benda seperti jarum, atau sekadar tambahan saat mereka menggigit lawan.

Ini pertama kalinya aku melihat Crimson Blood Fang yang berkobar seperti api begini.

Bilah merah yang dilepaskan meledak tepat di depan mataku.

"Bagaimana, makhluk rendahan! Inilah sihirku setelah mendapatkan raga fisik! Inilah kemampuan asli sang jenius! Ahahahahahaha!"

Suara tawa Zeldiggs terdengar dari balik kepulan asap darah. Begitu ya, daya hancurnya memang hebat.

──Meskipun begitu, kekuatannya masih dalam jangkauan sihir biasa, sih.

"Ha──"

Tawa lebar Zeldiggs terhenti, matanya terbelalak kaget.

Melihatku muncul tanpa luka sedikit pun, dia memasang wajah seolah tak percaya.

Sihir selevel ini tidak akan mungkin bisa menembus Magic Barrier-ku.

"Banyak asap ya. Cuma itu saja."

"Cih…… kalau begitu rasakan ini! Dark Armament: Blade Bone Fang."

Tulang-tulang tak terhingga yang lahir dari ketiadaan masing-masing memanjang mengincarku.

Ini adalah sihir yang disukai kaum Skeleton di antara sihir elemen kegelapan lainnya, di mana tulang yang memanjang akan menjadi setajam dan sekuat pedang.

Ini pertama kalinya aku melihat Blade Bone Fang sebesar ini──tapi, terus kenapa?

Semuanya tertahan oleh Magic Barrier-ku dan hancur berkeping-keping dengan suara yang nyaring.

"Guh……! Masih ada lagi! Beast Crushing Jaw! Wounding Horn Fang! Necrotic Powder Strike Fang!"

Zeldiggs terus melepaskan sihir secara bertubi-tubi, namun semuanya tertahan oleh Magic Barrier dan tidak mencapaiku.

Ooh, heeh, ternyata ada banyak macam sihir ya. Menyenangkan sekali.

"Ke-kenapa…… Kenapa sihirku tidak mempan!?"

"Hmm, bukankah itu murni karena perbedaan kemampuan kita sebagai penyihir?"

Jawabku sambil mengorek telinga.

"Aku tidak menyangkal kalau kamu adalah penyihir yang cukup hebat. Tapi itu dalam standar monster. Altar yang menciptakan Super Beast, sihir elemen kegelapan, dan lain sebagainya memang patut diacungi jempol, tapi pada akhirnya sihir-sihir ini sudah terlalu kuno. Kamu tidak akan pernah mencapai puncak sihir yang telah diasah oleh umat manusia selama bertahun-tahun."

Bahkan Magic Barrier ini pun bukan aku sendiri yang menciptakannya dari nol.

Orang pertama yang menciptakan struktur mantranya, orang yang memodifikasinya, orang yang memodifikasinya lebih lanjut, dan seterusnya…… melalui waktu yang panjang, kebijaksanaan dari orang-orang yang mencintai sihir berkumpul, diasah, dimurnikan, hingga akhirnya mencapai bentuknya yang sekarang.

Aku hanya menggunakannya sekarang. Jika waktu berlalu lebih lama lagi, pasti akan lahir sesuatu yang lebih kuat. Begitulah cara struktur mantra berevolusi.

"Selama sejarah yang panjang, puluhan ribu pecinta sihir telah menenunnya. Baik yang berbakat maupun yang tidak, mereka mempertaruhkan seluruh keberadaannya untuk mengembangkan sihir. Semakin luas dasarnya, maka puncaknya pun akan semakin tinggi. Kamu mungkin memang jenius, tapi ada batas untuk ketinggian yang bisa dicapai sendirian. Mungkin kamu yang memandang rendah orang lain sebagai alat tidak akan pernah bisa memahaminya."

"Mu-mustahil……! Mau berapa banyak pun sampah berkumpul, mau berapa puluh ribu tahun waktu berlalu, apa yang bisa mereka lakukan!? Bukankah itu semua hanya membuang-buang waktu!?"

"Kalau begitu, mau mencoba merasakannya? Esensi sihir yang diciptakan oleh sejarah umat manusia."

Gumpalan api yang menyala di ujung jariku mulai berpusar dan suhunya semakin meningkat.

Yang kuaktifkan adalah sihir tingkat rendah elemen api, Fireball.

Ini adalah sihir yang sangat sederhana untuk menciptakan api, namun dengan menggabungkan berbagai struktur mantra, kekuatannya bisa meningkat tanpa batas.

Misalnya menggunakan angin untuk memperbesar api, menahan penyebaran untuk meningkatkan kepadatan panas, memperlancar sirkulasi mana untuk efisiensi, atau meningkatkan mana itu sendiri──

"Mustahil…… itu Fireball……!? Bo-bohong! Mana mungkin ada Fireball seperti ituuu!"

Zeldiggs sangat panik. Tentu saja, aku sendiri tidak akan bisa menciptakan Fireball seperti ini sendirian.

Inilah tumpukan pengetahuan manusia, kristalisasi cinta, dan ini adalah salah satu kepingannya.

"Coba saja tangkis kalau bisa. Jenius."

Begitu aku menggerakkan ujung jariku, gumpalan api itu melesat menuju Zeldiggs.

Dia mencoba berubah menjadi wujud spiritual, namun hal itu mustahil karena vitalitas dari buah World Tree, dia tidak punya pilihan selain menangkisnya.

Zeldiggs mencoba memunculkan Magic Barrier untuk menangkisnya, namun penghalang itu hancur berantakan sesaat setelah bersentuhan.

Magic Barrier yang sangat rapuh. Dengan itu saja tidak akan bisa menahan sihir selevel Fireball.

"UWAAAAAAAAAAAA!"

Jeritan Zeldiggs lenyap ditelan suara air laut yang menguap.

Di sekelilingku dulu hanya ada orang-orang bodoh.

Lagipula, hampir tidak ada monster yang bisa berbicara bahasa manusia dengan benar, dan bukanlah hal yang aneh bagi mereka untuk berkomunikasi hanya melalui raungan, isyarat tangan, atau perubahan ekspresi.

Di tengah situasi seperti itu, aku yang menggunakan kata-kata dianggap sebagai anomali dan menerima serangan yang hebat, bahkan teman-teman sesama Slime pun menjauhiku.

Apa boleh buat. Seorang jenius memang sulit diakui oleh sekelilingnya. Apalagi waktu itu aku belum punya kekuatan.

Karena itulah aku mempelajari sihir. Aku melihat buku sihir atau alat magis yang ditulis seseorang, lalu menciptakan struktur mantra versiku sendiri.

Kekerasan melalui sihir sangatlah efektif, monster yang merundungku segera menghilang, dan sebaliknya mereka mulai memujaku sebagai raja.

Meskipun aku merasa jengkel dengan betapa cepatnya mereka berubah sikap, sebagai raja, aku merasa monster-monster bodoh itu cukup lucu, dan aku memberikan sedikit sihir kepada mereka yang berbakat.

──Beberapa tahun berlalu, dan saat aku beranjak dewasa, aku mulai bisa melihat bagaimana dunia ini terbentuk.

Sepertinya banyak monster yang tertindas oleh dewa dan iblis, bahkan diburu oleh manusia.

Katanya tubuh monster bisa menjadi bahan yang bagus jika dibongkar, sehingga monster-monster yang lemah tidak punya pilihan selain melarikan diri ke bawah tanah.

Kenapa kami harus mengalami hal yang tidak adil seperti itu? Karena itulah, aku memutuskan untuk melawan dengan kekuatan, sama seperti dulu.

Meskipun musuhku adalah seluruh dunia. Untuk memberontak terhadapnya, aku perlu menggunakan seluruh kekuatan yang kupunya.

Karena itulah aku mengumpulkan kebijaksanaan dan kekuatan.

Pertama, pemahaman tentang monster secara keseluruhan; tanpa menyatukan kekuatan seluruh monster, kita tidak akan bisa memberikan perlawanan sedikit pun.

Sambil berkeliling meyakinkan mereka bahwa menciptakan monster terkuat, Super Beast, adalah kunci untuk mencapainya, di saat yang sama aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun altar penciptaan Super Beast.

Selain itu, peningkatan kekuatanku sendiri adalah hal yang mutlak, namun hal itu terselesaikan oleh seorang manusia yang tersesat di Negeri Monster suatu hari nanti.

Dia adalah orang aneh di antara manusia, tipe yang memberikan senyum kepada monster seolah-olah sedang berinteraksi dengan sesama manusia.

Sepertinya dia adalah seorang Monster Tamer, dan katanya dia bisa meningkatkan kekuatanku melalui kontrak.

Dengan ragu aku mencoba menjalin kontrak dengannya, dan aku merasakan peningkatan kekuatan yang luar biasa.

Kupikir dia adalah orang yang hebat.

Dan dia juga orang yang baik.

Awalnya aku tidak memercayainya, tapi karena dia sangat ramah, aku perlahan-lahan mulai membuka hati padanya.

Bagiku, dialah teman pertama yang bisa kuajak bicara secara setara.

Begitulah, Festival Super Beast yang pertama kali diadakan.

Seiring berjalannya pertandingan, struktur mantra mendekati kesempurnaan, dan sesuai rencana, aku yang menjadi pemenang seharusnya menjadi Super Beast──seharusnya begitu.

──Namun ritual itu berakhir dengan kegagalan.

Sistemnya sendiri berfungsi sesuai rencana, namun aku sendiri…… tidak memperhitungkan karakteristikku sebagai Slime.

Karena jumlah mana yang sangat besar, penyerapan dan adaptasi terus aktif tanpa henti, dan tubuhku berubah menjadi tsunami raksasa yang menyapu segalanya.

Tentu saja, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

Aku tidak ingin menelan teman-teman yang sudah membangun struktur mantra ini bersamaku, juga dia yang sudah bertarung di sisiku.

Namun…… teman-temanku justru lari tunggang-langgang karena ketakutan, dan dia pun menepis tangan yang kuulurkan untuk meminta pertolongan.

Jahat sekali! Tolong aku! ……Semua kata-kataku itu diabaikan begitu saja oleh mereka.

Karena itulah, aku benar-benar tidak bisa memaafkan mereka semua.

Ingatan kala itu melekat erat di sudut kepalaku dan tak mau pergi.

Sadar-sadar, Negeri Monster sudah hancur, dan tubuhku yang meluap ke permukaan dunia terus melebar demi melahap seluruh daratan ini.

Seluruh dunia menjadi musuhku, dan aku terus melawan segalanya.

Lalu pada suatu saat, tiba-tiba aku menyadarinya.

Begitu ya. Karena aku seorang jenius, karena aku adalah keberadaan yang tak mampu dipahami oleh para makhluk rendahan, maka semua orang takut padaku.

……Kalau begitu biarlah. Aku sendirian saja sudah cukup. Aku tidak butuh teman, sahabat, ataupun keturunan. Karena seorang jenius memang ditakdirkan untuk menyendiri.

Jadi, sosok sepertimu sudah…… tidak kubutuhkan lagi……!

Sadar-sadar, permukaan air di depanku memantulkan wajahnya, sosok yang dulu sangat kucintai.

Wajah itu tampak seolah sedang menangis.

Wajah yang sangat sedih. Aku segera menyadari bahwa pantulan cermin itu adalah emosiku sendiri saat ini.

"Apakah aku…… merasa sedih……?"

Melahap teman, melahap sahabat, melahap keturunan yang mengagumiku…… Apakah kekuatan yang akhirnya kugapai ini hanya sebatas bisa dikalahkan oleh satu orang manusia saja? ……Tidak, bukan satu orang ya. Kristalisasi dari cinta dan kebijaksanaan para penyihir yang lahir dalam sejarah panjanglah yang telah melampauiku.

Lapi──keturunanku yang menjadi Super Beast kali ini.

Kalau dipikir-pikir, dia juga dikucilkan oleh para monster sama sepertiku dulu.

Meski begitu, dia tetap melindungi penonton, bertahan agar tidak menelan temannya, bahkan menyebutku sebagai sosok yang malang.

Antara orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan orang yang mengutamakan orang lain selain dirinya…… tak perlu ditanya lagi siapa yang lebih pantas menjadi raja.

Dan aku justru telah membunuh sosok sepertinya……!

Saat aku menekan dadaku karena rasa sakit, gerakan kecil itu membuat permukaan air beriak.

Di sana, terpantul sosok anak laki-laki penyihir yang tak kukenal namanya.

"Oi, oi, tidak bisa dipercaya. Makhluk ini masih hidup."

"Padahal sudah terkena serangan itu…… vitalitas yang luar biasa ya."

Zeldiggs terduduk di permukaan laut sambil menatap kosong ke arah air.

Meski begitu, tubuhnya sudah dipenuhi retakan besar di mana-mana, dan proses kehancuran tampaknya sudah dimulai.

Vitalitas yang didapat dari buah World Tree sepertinya sudah mencapai batasnya.

"Apakah aku…… telah salah……? Jika aku memercayai teman, sahabat, dan keturunanku, apakah hasilnya akan berbeda……?"

Aku menjawab pertanyaan Zeldiggs yang bergumam dengan ekspresi hampa itu.

"Entahlah…… tapi kalau memang begitu, aku mungkin bisa lebih menikmatinya."

Kemampuan tempur sebagai Super Beast, karakteristik monster, semuanya berada di standar yang tinggi.

Namun karena dia tidak membagikan sihir yang telah susah payah diciptakannya kepada sekitar dan memilih untuk meremehkan sekelilingnya, perkembangan sihir Zeldiggs pun terhenti.

Andai saja para monster mencintai sihir selama waktu yang panjang ini, sihir yang tercipta di sini pasti akan memiliki variasi yang jauh lebih kaya.

"Menikmatinya…… ya. Hahaha…… aku memang tidak bisa menang darimu."

Ekspresi Zeldiggs yang tersenyum pahit tampak berbeda dari sebelumnya, seolah beban berat yang merasukinya telah lenyap.

Lalu, dari dalam tubuhnya yang hancur berantakan, muncullah──

"Pi!"

"Lapi!?"

Lapi yang seharusnya tadi tertembak mati oleh Zeldiggs keluar dari sana.

Kupikir dia sudah mati…… apa dia bangkit kembali berkat kekuatan buah World Tree?

"Apa kamu masih punya ingatan?"

"Pii…… aku tidak terlalu ingat-pi…… rasanya seperti baru saja bertarung dengan Lloyd, tapi rasanya juga tidak-pi……"

"Berarti kamu sempat menyatu dengan Zeldiggs, ya."

Begitu ya. Kupikir dia tertembak, tapi mungkin sebenarnya dia hanya diserap saja.

Mungkin Zeldiggs menggunakan sisa kekuatannya untuk membiarkan Lapi tetap hidup. ……Bisa dibilang ini adalah hadiah perpisahan darinya.

Saat suasana sedang haru──Goon! Permukaan laut bergetar hebat.

"A…… k-kali ini apalagi yang terjadiiii!?"

"Lautnya mengamuk hebat! Sepertinya terjadi gempa bumi besar!"

Gempa bumi yang sangat kuat sampai terasa meski kami sedang melayang di udara.

Pulau yang terlihat di kejauhan tenggelam, dan permukaan laut tampak amblas di beberapa titik.

"G-gawat-pi! Karena Super Beast telah musnah sepenuhnya, Negeri Monster akan lenyap-piyo!"

"……Kalau dipikir-pikir, Altar Super Beast itu tersebar ke seluruh Negeri Monster, ya."

Altar itu, yang terlihat hanyalah sebagian kecil saja; aslinya altar itu menyebar seperti jaring di bawah tanah untuk mendapatkan mana dari seluruh monster.

Dan bagian terbesar yang menyusunnya adalah tubuh Zeldiggs sendiri.

Oleh karena itu, jatuhnya Zeldiggs menyebabkan altar itu musnah, dan bangunan-bangunan dalam jumlah besar yang merupakan bagian dari Negeri Monster itu pun ikut runtuh.

"Tapi ya, kenapa cuma Negeri Monster yang lenyap bisa sampai gempa bumi sehebat ini!?"

"Massa sebesar itu kalau tiba-tiba runtuh, kamu pasti tahu kan apa yang akan terjadi pada permukaan dunia……!"

Benar, jika tercipta lubang raksasa di bawah tanah, pengaruhnya ke permukaan dunia tidak akan terelakkan.

……Gawat. Jika dibiarkan, tanah akan amblas dan banyak kota serta negara di permukaan akan musnah.

"Kita ke Negeri Monster. Kita harus mencegah keruntuhannya."

Tidak ada waktu untuk bersantai. Aku terbang menuju Negeri Monster menggunakan Teleport.

Negeri Monster yang kusinggahi keadaannya jauh lebih kacau daripada yang ada di permukaan.

Langit-langit terus runtuh, dan bongkahan batu besar maupun kecil jatuh tanpa henti.

Bangunan-bangunan roboh, dan retakan tanah tercipta di mana-mana.

Mungkin ini juga disebabkan karena fondasi tanah yang melonggar akibat Lapi yang membesar tadi.

"Ini…… sepertinya situasinya lebih gawat dari yang kukira-desu na."

"Iya, apakah Lloyd-sama pun bisa melakukan sesuatu……"

"Tetap saja harus dicoba. ──Earth Magic: Tremor Rock Fang: Creation."

Seiring dengan rapalan mantra, tanah menyembul naik membentuk pilar-pilar batu yang menusuk langit-langit.

Ini adalah sihir yang mengintervensi bumi; aku menciptakan pilar penyangga dengan memberikan pengarahan pada sihir tersebut.

Aku terbang ke sana kemari sambil terus mengaktifkan sihir itu di berbagai tempat. Keruntuhan di permukaan dunia bagaimanapun harus dicegah.

Begitu jumlah pilar batu melampaui seratus, akhirnya keruntuhan di area sekitar berhenti. Namun, jika hanya segini……

"Ini baru sebagian kecil dari Negeri Monster-pi, tidak ada artinya kalau tidak dilakukan ke seluruh wilayah-piyo!"

"……Muu."

──Dengan kecepatan seperti ini, aku tidak akan sempat mengejar kecepatan runtuhnya tanah.

Aktivasi sihir pun ada batasnya.

"Kalau begini, bisa mencegah sepuluh atau dua puluh persen keruntuhan saja sudah untung-desu ze!"

"Kita hanya bisa melakukan sesuatu untuk Saloum saja. Sisanya, dengan sangat menyesal……!"

Grim dan Jiriel pun sudah memasang wajah menyerah.

Jika aku menaikkan seluruh tanah tanpa mempedulikan akurasi mungkin akan sempat, tapi jika dilakukan dengan sembarangan, para monster di sini dan permukaan dunia akan terkena dampak besar.

Meski itu adalah pilihan terakhir yang harus dilakukan──

"……Aneh-pi."

Lapi bergumam.

Aku pun baru menyadari kejanggalan itu sekarang.

"Benar, tidak ada monster di sini."

Banjir besar yang disebabkan Lapi tadi seharusnya membawa dampak kerusakan yang masif.

Meski begitu, tidak ada monster yang seharusnya terluka dan terkapar di mana pun.

"Benar-benar-pi! Jika situasinya seperti ini, mereka seharusnya lari ketakutan-pi! Tapi aneh sekali kalau tidak ada satu pun orang di sini-piyo!"

Kupikir mereka hanya tidak terlihat atau sedang bersembunyi, tapi aku tidak merasakan hawa keberadaan mereka sama sekali.

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Guncangannya mulai mereda-desu ze!?"

"Ada sesuatu yang bersinar di sebelah sana!"

Ke arah yang ditunjuk Grim dan Jiriel, terlihat pilar cahaya yang menyilaukan.

Aku pernah melihatnya di suatu tempat. Kalau tidak salah itu adalah……

"Cahaya kelahiran Super Beast……!"

"Ayo pergi!"

Kami terbang menuju ke arah cahaya tersebut.

Tanpa disadari, guncangan benar-benar telah berhenti.

Di sekeliling pilar cahaya yang kami capai, banyak sekali monster yang berkumpul.

Puluhan ribu…… tidak, mungkin ratusan ribu.

"Pemandangan yang luar biasa ya. Kalau dikatakan seluruh monster di negara ini berkumpul di sini pun aku bakal percaya-desu ze."

"Semuanya menatap cahaya itu. Tunggu, jangan-jangan itu……"

Saat aku menajamkan penglihatan ke dalam cahaya, yang ada di pusatnya adalah──Alise.

Dengan mata terpejam dan rambut yang terurai dari ikatannya, sosoknya yang membiarkan rambut emas cantiknya tertiup angin tampak begitu mistis, seolah-olah dia tidak sedang bernapas.

Perasaan ini…… jangan-jangan Alise sedang berubah menjadi Super Beast?

Seingatku di buku yang pernah kubaca, tertulis bahwa untuk melenyapkan Super Beast adalah dengan menciptakan Super Beast yang baru.

Alise menjadi Super Beast yang baru, dan altar pun bangkit kembali.

Karena akar-akarnya kembali menancap di bawah tanah, keruntuhan Negeri Monster pun terhenti…… jika dipikir begitu, semuanya jadi masuk akal.

"Jadi maksudnya Kakak sekarang……"

"Sudah menjadi Super Beast……?"

Hanya itu kemungkinan yang terpikirkan.

Tapi apakah dia akan baik-baik saja?

Menurut struktur mantra yang kuanalisis, orang yang menjadi Super Beast akan mendapatkan kekuatan dahsyat namun sebagai gantinya dia akan bergerak mengikuti dorongan nafsu menghancurkan.

Apakah Alise juga akan menjadi seperti itu……?

"Kak Alise!"

Tanpa sadar aku melompat ke dalam cahaya dan memanggilnya. Lalu──

"Oh, Lloyd."

Suara balasan terdengar dengan nada santai seperti biasanya.

Ternyata dia benar-benar santai seperti biasa. Kesadarannya masih utuh, dan dia tampak baik-baik saja.

Apa-apaan sih. Aku jadi merasa rugi sudah mencemaskannya.

"A-apakah Kakak baik-baik saja?"

"Ya, meski aku merasa ada kekuatan aneh yang meluap dari dalam diriku."

Alise menatap tangannya sendiri dengan heran. Sepertinya fakta bahwa dia berubah menjadi Super Beast itu benar adanya.

Apalagi, dia tampaknya masih tetap seorang manusia di saat yang sama, dan wujud fisiknya sepertinya tidak akan berubah lebih dari ini.

Bagaimanapun, aku harus mendengar ceritanya.

"Anu, Kak Alise. Boleh aku tanya apa yang sebenarnya terjadi?"

"……Ya, tentu saja."

Setelah berdeham kecil, Alise mulai bercerita.

"Setelah Lloyd pergi, aku menuju ke Negeri Monster. Tujuannya adalah untuk menciptakan Super Beast yang baru demi melenyapkan Super Beast yang ada saat ini."




Menurut legenda, hanya ada satu Super Beast yang bisa eksis di dunia ini.

Begitu yang kedua lahir, maka struktur mantranya akan saling meniadakan.

Pada akhirnya, aku memang mengalahkannya dengan cara biasa, tapi momen saat Zeldiggs musnah dan Alise menjadi Super Beast mungkin terjadi hampir bersamaan.

Lenyapnya Zeldiggs yang tadinya memiliki vitalitas meluap-luap itu bisa jadi juga dipengaruhi oleh hal ini.

"Begitu ya. Tapi, bagaimana Kakak bisa menjadi Super Beast? Caranya?"

"Begitu sampai di sini, aku melihat pemandangan yang sangat memilukan. Banyak monster yang terluka dan terkapar, kondisinya benar-benar buruk…… Karena itu, demi menolong mereka, aku menjalin kontrak dengan semuanya. Tahu-tahu, aku sudah diselimuti cahaya dan sampai pada titik ini."

──Aku terdiam seribu bahasa.

Monster yang ada di sini jumlahnya ratusan ribu lebih, dan dia menjalin Familiar Contract dengan semuanya dalam waktu singkat?

"Menjalin Familiar Contract yang mengonsumsi mana dalam jumlah besar tanpa memakan banyak waktu, apalagi dengan jumlah sebanyak ini…… benar-benar sulit dipercaya-desu ze."

"Tidak, jika tingkat kesukaan pihak monster tinggi, sang perapal tidak akan mengonsumsi banyak mana. Ini pasti karena Kak Alise sangat dicintai oleh mereka."

Memang benar beban perapal akan berkurang jika pihak monster memiliki rasa suka, tapi tetap saja mustahil mengumpulkan rasa suka dari monster sebanyak ini dalam waktu singkat.

Apa dia menggunakan perubahan sifat sihir yang ekstrem?

Sesuatu yang begitu kuat hingga membuat siapa pun yang mendekat langsung bersujud patuh……

Tindakan seperti itu bahkan mustahil bagiku.

Benar-benar teknik seorang jenius.

"Jadi maksudnya, Kakak menjadi Super Beast karena telah diakui oleh seluruh monster…… tapi kenapa wujudnya tetap manusia? Super Beast adalah raja para monster, asalnya manusia tidak mungkin bisa menjadi itu…… Hmm?"

Saat aku mengamati lebih teliti, struktur mantra pada altar sedikit berubah.

Itu adalah perubahan sangat kecil yang tidak akan disadari jika tidak dibaca dengan saksama.

Begitu aku membedahnya, ternyata kekuatan dahsyat yang seharusnya diberikan saat proses menjadi Super Beast telah dibuat hampir menghilang.

Dengan begini, tidak akan ada risiko mengamuk.

Sebagai gantinya, penggunanya mendapatkan karisma yang sangat kuat agar para monster bisa berkumpul di bawah pimpinan Super Beast dan bertarung sebagai satu kesatuan……

Kemungkinan Zeldiggs-lah yang melakukannya.

Dia memeras sisa kekuatan terakhirnya demi masa depan para monster──si brengsek itu, ternyata dia memenuhi tugasnya dengan gagah di akhir hayatnya.

Saat aku sedang tenggelam dalam haru, Alise tiba-tiba mendekatkan wajahnya.

"Sekarang giliran aku yang bertanya. Bagaimana kamu tahu tempat ini? Terlebih lagi, kamu terbang ke sini dengan kecepatan luar biasa, bagaimana caramu melakukannya?"

……Gawat. Sebagai seorang adik yang "sekadar suka sihir", kemampuanku yang sekarang ini terlalu mencurigakan. Karena datang terburu-buru, aku lupa menyembunyikannya.

"E-eh, itu…… benar! Saking khawatirnya pada Kak Alise, aku jadi nekat, lalu tanpa sadar kekuatan misterius dalam diriku bangkit…… mungkin?"

"Jiiiii……"

Ugh, tetap dicurigai ya…… tapi aku tidak punya alasan lain.

Alise menatapku yang terpojok dan bungkam, lalu tiba-tiba wajahnya menjadi cerah.

"Begitu ya! Itu Cinta!"

Aku tertegun sejenak.

Masih saja orang ini bicaranya aneh-aneh…… meski begitu, aku langsung menyambar kesempatan itu.

"Be-benar! Itu cinta. Cinta!"

"Ya, cinta. Tak salah lagi, itu adalah cinta. ……Fufu, lagipula aku senang akhirnya Lloyd mulai memahami apa itu cinta. Kasih sayang kakak, dan adik yang menjawabnya…… rasanya sedikit terlarang, tapi tidak apa-apa karena ini sehat, kan!? ……Tapi mungkin sedikit saja tidak buruk…… Ah, tidak tidak, kita ini kan bersaudara!"

Alise mulai menggumamkan sesuatu yang aneh.

Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Cinta, ya…… yah, memang benar aku bisa sampai di sini karena kecintaanku pada sihir, jadi alasannya tidak sepenuhnya asal-asalan. Yah, syukurlah dia sudah merasa puas dengan jawaban itu.

"──Selesai! Mahakarya terbaikku!"

Suara sorakan gembira itu datang dari Holy King.

Dia duduk di atas batu dengan pakaian compang-camping dan tubuh penuh luka karena sempat terjebak dalam banjir besar tadi.

Namun, daripada memedulikan "hal sepele" itu, dia justru tergerak oleh inspirasi kuat setelah melihat kelahiran Super Beast baru, hingga ia menulis skor musik seolah kerasukan.

Lagu sihir yang ia ciptakan itu berjudul Ou taru Uta (Song of the King).

"Mau langsung mendengarnya? Gizagiza-kun, Jigro-n!"

"……Terserah kau saja," sahut Guisarme dengan wajah kesal.

Jigro mengangguk ragu sambil gemetaran.

Namun sebelum mereka selesai menjawab, Holy King sudah menyiapkan biolanya seolah tidak sabar.

"Baiklah, aku mulai. ──♪"

Maka terciptalah melodi yang agung.

Kepekatan suara yang rasanya mustahil dihasilkan hanya dari satu biola, sebuah banjir suara yang penuh dengan kekuatan persuasi yang mendalam. Tanpa sadar, Jigro meneteskan air mata dan bersujud.

Rasanya benar-benar seperti sedang menyaksikan kelahiran sang Super Beast secara langsung.

"……Bagaimana?"

"Luar biasa…… luar biasa sekali! Tuan Holy King! Tak disangka Anda punya keahlian sehebat ini!?"

"Hahaha, kata 'tak disangka' itu berlebihan tahu. Justru inilah bakat asliku! ……Lalu, bagaimana pendapat Gizagiza-kun?"

Ditanya oleh Holy King, Guisarme menjawab──

"Payah."

Dia langsung mematahkannya begitu saja.

"Eeeh!? Tapi, tapi ini luar biasa lho! Tuan Guisarme! Tidak mungkin payah……"

"Pemahamannya sudah lebih dari sekadar di permukaan. Tapi hanya sampai di situ. Nilai aslimu tidak ada di 'sana'. Lagu yang hanya sekadar bilang 'indah' saat melihat hal yang indah itu ada di mana-mana. Kau pasti punya sesuatu yang hanya bisa dilakukan olehmu sendiri."

Ekspresi Guisarme saat mengatakan itu sangat serius. Jigro segera menyesali kedangkalan pemikirannya sendiri.

Memang benar itu lagu yang hebat, namun Guisarme menuntut lebih dari itu kepada Holy King. Itu artinya, ia sangat menghargai kemampuan pria tersebut.

"Kau tidak cocok menjadi 'Raja'. Carilah jalan lain."

"Cih."

Dan Holy King pun memahami maksud perkataannya. Meski agak menyimpang, Jigro merasakan adanya ikatan kepercayaan yang kuat di antara mereka. Menjadi kuat sekaligus memercayai kawan, dan dipercaya…… apa yang paling dikagumi oleh Jigro ada di sana.

"Yah, harus cari bahan baru lagi, deh."

"Hmph, lain kali perdengarkanlah lagu yang sedikit lebih mendingan."

Melihat keduanya yang mulai meninggalkan Negeri Monster, tanpa sadar Jigro pun bergegas mengikuti mereka.

Maka guncangan tanah pun mereda, dan monster-monster yang mengamuk di permukaan kembali ke tempat asal mereka.

Albert dan yang lainnya sempat bingung dengan kejadian mendadak ini, namun begitu semuanya tenang, kehidupan damai pun kembali.

Tapi aku tahu. Saat ini, di dalam Kastil Saloum, sedang terjadi perubahan yang sangat mengerikan──

"Kak Alise! Di mana Anda!?"

Aku memanggil Alise di Menara Taman Miniatur. ……Tidak ada jawaban. Apa mungkin dia ada di sana lagi?

"Iyaaa!"

Terlambat beberapa saat, suara terdengar dari bawah tanah.

Sudah kuduga. Aku menghela napas dan membuka pintu rahasia. Di bawah pintu yang tersembunyi di balik semak-semak, terdapat lubang besar dengan alat komunikasi berbentuk terompet di sisinya.

Ini adalah alat sihir buatan Connie yang bisa digunakan untuk berbicara dengan orang di tempat jauh. Dengan kata lain, Alise sedang berada di Negeri Monster.

"Apa Kakak di sana lagi? Kak Albert memanggil lho. Katanya pesta teh akan segera dimulai."

"Oh, benarkah? Aku segera ke sana."

Sesaat setelah suara santainya terdengar, tanah di kakiku bergetar. Lalu, doon! Dari pintu rahasia lainnya, Alise meluncur keluar menunggangi Rill.

Daya lompatnya meningkat lagi ya. Apa ini pengaruh Alise menjadi Super Beast?

──Ya, saat ini bawah tanah kastil sedang mengalami renovasi besar-besaran di bawah tangan Alise.

Karena dia telah menjadi Super Beast yang harus berinteraksi dengan Negeri Monster, lubang-lubang raksasa sedang digali di berbagai tempat.

Sepertinya orang-orang sekitar belum menyadarinya, tapi di bawah tanah juga ada fasilitas penelitian yang dulu kugunakan.

Aku berusaha mengarahkan mereka agar tidak ketahuan, tapi aku selalu was-was kalau-kalau suatu saat mereka akan membentur tempat itu.

"Sudah lama tidak jumpa-pi. Lloyd."

"Senang melihatmu sehat, Lapi."

Dan Lapi saat ini menjabat sebagai raja di Negeri Monster.

Sebagai famili dari Alise yang telah menjadi Super Beast, dia diakui sebagai raja.

Raja aslinya adalah Alise sang Super Beast, namun karena dia juga anggota keluarga kerajaan Saloum, dia tidak bisa terlalu sering pergi ke bawah tanah, jadi dia menunjuk seorang wakil.

Yah, kenyataannya dia sering sekali ke sana, sih…… tapi aku juga mirip dengannya, jadi aku tidak bisa banyak protes.

"Fuu, untunglah, aku memang baru mau istirahat."

"Sepertinya sibuk sekali ya. Benar-benar."

"Iya, tapi hal seperti ini sangat menyenangkan bagi kusemuanya."

"Pi!"

Bagaimanapun, baik Alise maupun Lapi memiliki wajah yang tampak puas.

Mereka berdua sekarang sedang mengerahkan seluruh tenaga untuk membangun kembali Negeri Monster di bawah tanah.

Super Beast adalah raja para monster, dan seorang raja harus berbakti kepada rakyatnya; sepertinya begitu prinsipnya.

Ngomong-ngomong, dia sangat aktif berpartisipasi dalam pesta teh juga demi mempelajari manajemen negara dan kebutuhan publik dari Albert dan yang lainnya.

Dia bahkan giat belajar hal-hal yang dulu tidak pernah ia lirik dan langsung mempraktikkannya; sosoknya benar-benar seperti orang yang berbeda.

Berkat itu, pemulihan Negeri Monster berjalan pesat, dan hari di mana kota yang lebih megah dari sebelumnya berdiri mungkin sudah tidak jauh lagi.

Sebagai sisi manusia, aku sedikit merasa was-was, tapi kalau Alise yang melakukannya, pasti akan berjalan lancar. Mungkin.

"Kalau begitu Lapi, sisanya aku serahkan padamu ya?"

"Tentu saja-pi!"

"Kuun!"

"Rill, tolong juga ya."

Rill yang membawa Lapi kembali turun ke bawah tanah.

Setelah mengantar mereka dengan pandangan mata sejenak, Alise mengibaskan roknya dan tersenyum.

"Kalau begitu, ayo kita pergi, Lloyd."

Punggungnya terlihat jauh lebih besar dari sebelumnya.

Itu adalah punggung megah dari seseorang yang memikul tanggung jawab. Aku terpaku sejenak melihat sosok itu.

"Yah, memang benar kedudukan bisa membentuk kepribadian seseorang, dia hebat juga. Mungkin tindakannya sekarang juga bertujuan untuk menjadi contoh bagi Lloyd-sama, ya."

"Iya, sungguh kasih sayang kakak adik yang mulia. Terlepas dari itu pun, Kak Alise pasti akan menjadi raja yang luar biasa."

Grim dan Jiriel tampak manggut-manggut setuju. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya mereka senang.

Jadi raja, ya…… kalau bisa melakukan segalanya sesuka hati seperti itu, mungkin tidak buruk juga. Tidak deng, aku lebih cocok meneliti sihir dengan bebas sesuai kata hati.

"Duh Lloyd, jangan melamun saja, cepat kemari! Ada banyak hal yang butuh bantuanmu!"

"Eeeh, aku juga!? ……Haaa, baiklah. Kak Alise."

Dipanggil oleh suara yang penuh semangat itu, aku pun mulai berlari. Melihatku, Alise tersenyum dengan sangat puas.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close