Di bawah tanah istana terdapat Perpustakaan Terlarang,
tempat berbagai buku terlarang tidur dengan tenang.
Sebenarnya aku sudah pernah berkunjung ke sini
sebelumnya. Saat itu kalau tidak salah……
"……Bernostalgia
juga ya, bau apek cetakan begini. Aku pertama kali bertemu Lloyd-sama kan
di sini."
"Benar juga, kau dulu kan disegel di sini. ……Pupu,
kau pasti sangat hafal tempat ini, kan? Tolong pandu kami, ya."
"Akan kubunuh kauuu!"
Grim dan Jiriel mulai melakukan rutinitas bertengkar
mereka.
Sebenarnya tanpa dipandu pun, aku sudah sering menyelinap
ke sini jadi aku ingat hampir semua letak bukunya.
Mari kita lihat, buku tentang monster seharusnya ada di……
"Lewat sini."
Orang yang bersuara barusan ternyata adalah Alise.
Dia berjalan mantap menuju rak buku, mengambil sebuah
buku, lalu mulai membuka halaman-halaman referensi dengan cepat.
Dan dia tidak membukanya secara asal. Halaman yang dia
buka semuanya berkaitan dengan Super Beast.
Aku sampai terkejut melihat keahliannya yang seolah sudah
sangat paham isinya.
"E-etoo……
Kak Alise, apa Kakak mengerti isi bukunya?"
"Yah,
kurang lebih."
Ini
adalah Perpustakaan Terlarang.
Tentu
saja semua buku yang diletakkan di sini tidak bisa dipahami dengan mudah.
Apalagi
Alise yang biasanya selalu tampak linglung dan belum pernah kulihat membaca
buku sebelumnya, rasanya sulit dipercaya kalau dia bisa memecahkan kodenya,
tapi……
"Fumu,
fumu fumu…… Begitu ya."
Namun,
mengesampingkan kekhawatiranku, Alise terus membaca dengan kecepatan yang luar
biasa.
Saat
aku mengintip dari samping, dia memang benar-benar tampak memahaminya.
Ini
sudah melampaui level 'kurang lebih'. Aku tahu dia punya bakat alami, tapi
sampai sehebat ini…… Kak Alise yang sedang serius benar-benar mengerikan.
"──Aku sudah paham garis besarnya. Menurut
catatan di buku-buku ini, Super Beast tidak bisa ada dua secara bersamaan. Itu
berarti, jika kita melahirkan Super Beast yang baru, keduanya akan kehilangan
kekuatan dan kembali ke bentuk semula, kan? Jika
begitu, Lapi juga akan kembali jadi Slime biasa, dan semuanya selesai!"
Ujar Alise setelah selesai membaca.
Aku yang menguraikan isi buku menggunakan sihir dari
belakang juga sampai pada kesimpulan yang sama.
Dia benar-benar memahaminya.
"……Luar biasa. Sepertinya aku baru saja melihat
bakat terpendam Kak Alise."
Kegiatan membaca buku bagi orang yang tidak terbiasa
itu sebenarnya sangat sulit.
Terkadang otak menolak untuk mengerti, atau mata hanya
sekadar menyapu tulisan tanpa memahami isinya.
Itu pengalaman yang wajar dialami siapa saja.
Aku pun kalau membaca genre yang tidak kuminati bisa
langsung lupa dalam sekejap.
"Ini semua berkat kekuatan cinta!"
Begitu ya. Kalau karena cinta, aku tidak bisa membantah.
……Tentu saja, dia tidak mengatakannya tanpa dasar.
Sebagai anggota kerajaan, Alise adalah pengguna mana
alami.
Sejak awal dia memang memiliki 'pemahaman super' terhadap
berbagai hewan melalui mana-nya.
Bukan hal aneh jika kekuatan itu bangkit melalui buku.
Walaupun tetap saja, itu tidak mungkin terjadi tanpa rasa
cinta yang begitu besar.
"Aduh, aduh, kakak-kakak Lloyd-sama memang semuanya
gila ya."
"Benar-benar Kak Alise-tan! Dia memang kakak
dari Lloyd-sama yang hebat."
Aku merasa dia memang orang yang luar biasa.
Aku percaya sihir bisa menghubungkan segalanya, dan
sepertinya cinta pun memiliki kekuatan yang serupa.
"……Tapi masalahnya dimulai dari sini. Melahirkan Super Beast baru,
ya…… Kita tidak mungkin mengadakan Festival Super Beast sekali lagi."
Negeri
monster sedang hancur lebur, dan altar itu saat ini sudah kehilangan mana
sehingga tidak bisa diaktifkan lagi.
Butuh
mana dalam jumlah raksasa untuk mengaktifkannya kembali.
Terlebih
lagi, mana itu harus merupakan energi khusus yang dikumpulkan dari antusiasme
para monster di koloseum.
Kita
tidak punya waktu untuk melakukan hal yang sama──
"……Gawat."
"Ada apa tiba-tiba, Lloyd-sama?"
"Penghalang yang menahan Lapi sepertinya akan
pecah."
"Penghalang Lloyd-sama!? Mustahil!"
Penghalang itu tidak akan pecah hanya karena beban massa
yang besar, tapi sepertinya Lapi mencoba memusatkan serangan pada satu titik
untuk menjebolnya.
Aku sempat meremehkannya karena mengira dia hanya
gumpalan besar saja, tapi sepertinya Super Beast memang tidak bisa dipandang
sebelah mata.
Mungkin pemikiranku yang terlalu naif. Sepertinya aku
sudah tidak bisa lagi menganggap benda itu sebagai Lapi.
"Maaf Kak Alise. Aku harus pergi membantu di
permukaan!"
Aku meninggalkan Alise dan berlari keluar dari
Perpustakaan Terlarang.
Hampir bersamaan dengan saat aku sampai di atas tembok
benteng, sebuah lubang terbuka di penghalang.
……Cih, perbaikannya tidak akan sempat.
Dari sela-sela penghalang yang retak itu, cairan slime
berwarna biru kehitaman sudah mulai meluap keluar.
◆
Alise yang ditinggalkan sendirian tampak tidak
memedulikan Lloyd yang pergi, dia terus bergumam sendiri di depan buku.
Erice hanya bisa menatap punggung tuannya yang tampak
sangat berbeda dari biasanya.
"Untuk
melenyapkan Super Beast, kita harus melahirkan Super Beast baru. ……Untuk itu,
kita harus mengadakan Festival Super Beast sekali lagi…… Begitu kan."
"……Alise-sama?"
"Maaf Erice. Aku juga harus pergi! Ayo, Ril!"
Dengan tatapan penuh tekad, Alise melompat ke atas
punggung Ril dan melesat pergi secepat kilat.
"Ah, tunggu! Alise-sama!? Mau ke mana Anda,
Alise-samaaa!?"
Suara Erice yang tertinggal di dalam Perpustakaan
Terlarang hanya bergema sia-sia.
◆
"Ooh, ini benar-benar hebat."
Cairan kental berwarna hitam pekat yang keluar dari
lubang penghalang mulai menyebar, membakar dan melelehkan hutan di sekitarnya.
Bukan cuma rumput, bahkan tanah pun ikut meleleh oleh
cairan pelarut yang mengerikan itu.
Pantas saja penghalang yang kutipiskan tidak sanggup
menahannya.
Pasukan penyihir di bawah komando Albert terus
melancarkan tembakan bola api, tapi monster itu sama sekali tidak bergeming.
Untuk saat ini, aku harus memperbaiki penghalangnya dan
menambahkan ketahanan terhadap cairan pelarut.
"Ooh! Perbaikannya selesai dalam sekejap, Bos!"
"Luar biasa! Sekarang cairan pelarutnya sudah tidak
mempan lagi pada penghalang baru itu!"
Perbaikan selesai. Namun, karena slime adalah makhluk
tanpa bentuk, kemampuan adaptasinya tidak bisa dibandingkan dengan monster
lain.
Fakta bahwa dia berubah menjadi cairan pelarut adalah
bukti dari karakteristik tersebut.
Aku tidak yakin ini akan selesai sampai di sini saja,
tapi……
"Lloyd-sama! Lihat itu, Bos!"
"Cairan kental yang merembes tadi mulai
bergerak!"
Cairan kental yang tadi menyebar di tanah tampak
mulai berkumpul di satu titik.
Apakah itu bagian dari tubuh Lapi……?
Tidak, auranya terasa berbeda.
"Apa itu? Warnanya beda dari Lapi yang
tadi……"
"Warnanya merah seperti darah. Rasanya sangat
tidak enak."
Slime berwarna merah itu memancarkan mana yang terasa
sangat jahat dan mengerikan.
Makhluk itu perlahan membuka matanya, menyunggingkan
sudut mulutnya dengan aneh, dan tertawa mengejek.
"Kukuku……
Akhirnya aku bisa keluar juga."
"……Siapa kau?"
"Aku ini Lapi! ……Yah, walaupun tubuh utamanya ada di
sana, bisa dibilang aku adalah sisi gelap alias Darkness dari Lapi. Namaku…… mari kita gunakan nama
Davy saja. Kuhaha, ternyata memperkenalkan nama itu cukup menyenangkan juga
ya!"
Bagian
dari tubuh Lapi yang menamai dirinya Davy itu tampak sangat bersemangat. Dia tipe orang yang aneh.
"Lapi itu benar-benar 'anak baik' yang payah. Bahkan
saat menjadi Super Beast pun, dia bersikeras tidak mau meracuni atau melukai
sekitarnya karena tidak ingin melibatkan orang lain. Lucu sekali, padahal tubuh
sebesar itu saja sudah sangat mengganggu. Makanya aku memutuskan hubungan
dengan tubuh utama dan keluar membawa sebagian kecil dari tubuhnya."
"Begitu……
Jadi kesadaran Lapi masih tersisa."
Dia
tidak merespons panggilan Alise tadi, jadi kupikir dia sudah tertelan habis
oleh Super Beast dan menghilang…… Ternyata masih ada sedikit harapan yang
tersisa.
"Cuma tinggal sisa-sisa sedikit saja, kok. Makanya
aku bisa keluar begini. ……Anak itu sudah putus asa. Dia menjadi Super Beast
karena ingin diakui oleh semua orang, tapi hasilnya malah jadi kacau begini.
Teman-teman yang dulu mengakuinya kini malah lari ketakutan, bahkan majikan
yang selalu dia percayai pun meninggalkannya. Wajar saja kalau dia menyerah,
kan?"
"……Begitu ya. Jadi itu alasan kenapa para monster
tetap hidup."
Aku memang merasa aneh.
Sejak awal, cairan pelarut slime itu sudah cukup kuat.
Apalagi jika menjadi Super Beast, pasti akan berkali-kali
lipat lebih kuat.
Tapi aneh rasanya jika monster yang tertelan ke dalam
tubuhnya tetap bisa bertahan hidup.
"Benar juga, para monster di bawah tanah sama sekali
tidak ada yang mati setelah Lapi naik ke permukaan tadi, Bos."
"Jadi Lapi melakukannya atas kemauannya sendiri.
Bahkan setelah jadi seperti itu…… aku jadi sedikit kagum padanya."
"Fuhat! Justru karena itu jugalah aku bisa keluar
sekarang! Dia melakukan hal-hal tidak berguna demi makhluk-makhluk sampah itu,
makanya berakhir begini. Tapi karena aku sudah keluar, aku tidak akan
membiarkan hal manis seperti itu terjadi lagi. Orang-orang yang tidak
mengakuiku tidak pantas untuk hidup. Karena itu, akan kululuhkan dan kumakan
kalian semua sampai habis!"
Davy bilang dia adalah sisi gelap Lapi.
Lapi yang tidak ingin membunuh orang yang mengakuinya,
dan Davy yang ingin membunuh orang yang mengkhianatinya.
Benar-benar dua sisi koin yang berlawanan.
"Yah, apa pun itu, pengganggu harus dimusnahkan! Aku
mulai dari kau yang kelihatannya paling merepotkan. ……Matilah!"
Dia memuntir tubuhnya berkali-kali, lalu melepaskannya
seketika seperti tembakan peluru tajam yang melesat ke arahku.
Saat aku menahannya dengan penghalang mana yang tebal,
serangan itu kehilangan kekuatannya setelah sempat merangsek masuk beberapa
sentimeter.
"Uwoh!? Dia bisa merusak penghalang mana Lloyd-sama
sampai sedalam itu……!"
"Tidak bisa dipercaya! Inikah kekuatan Super Beast……! Mohon berhati-hatilah, Lloyd-sama!"
Aku sebenarnya
sudah meningkatkan ketahanan penghalangnya, tapi daya serangnya lumayan juga.
Sebuah tembakan nyasar mengenai monster yang sedang
mencoba kabur.
Bak karet yang ditarik lalu dilepaskan, monster itu
tersedot dengan kencang dan diserap ke dalam tubuh Davy.
"Berkat Super Beast Transformation,
karakteristik Slime miliknya meningkat pesat! Terutama kemampuan untuk menyerap
dan beradaptasi! Aku sudah meluluhkan dan menyerap Magic Barrier-mu!
Berikutnya akan kubuat lebih panas lagi!?"
"……Hou."
Menarik sekali. Jadi dia menyerap dan menganalisis Magic
Barrier-ku, lalu mengubah susunan tubuhnya sendiri?
Karakteristik Slime adalah menyerap dan beradaptasi.
Apa dia menyerap struktur mantranya?
Ataukah
gelombang mana-ku?
Apa pun itu, aku jadi penasaran dengan apa yang
terjadi di dalam tubuh Davy. Aku mulai merasa bersemangat.
"……Kenapa kau malah nyengir begitu! Mati sana!"
Sesuai harapanku, dia kembali menyemburkan cairan
pelarut.
Aku mengulurkan tangan ke depan dan──membiarkan diriku
terkena serangan itu begitu saja.
"Apa yang Anda lakukan, Lloyd-samaaaaa!"
"Tolong tahan diri untuk tidak sengaja terkena
serangan hanya karena itu terlihat menarik, yaaa!"
"Bodoh! Akan kuambil segalanya
darimu!"
Bagus, sekarang.
Byaaar!
Begitu tubuhku terbungkus cairan, aku menyelimuti
diriku dengan Magic Barrier (High) yang kubentuk menjadi lapisan super
tipis.
"Hahaha! Segalanya milikku sekarang!"
Sembari mendengar suara penuh kemenangan itu, aku
tersedot masuk ke dalam tubuh Davy.
──Lalu, saat tersadar, aku sudah berada di tengah lautan
hitam.
"……Puah! Memakan serangan seperti itu mentah-mentah,
apa sebenarnya yang Anda pikirkan, Lloyd-sama!"
"Benar sekali! Biar bagaimanapun Anda memasang
penghalang, bagaimana kalau terjadi sesuatu!"
"Tenanglah,
Grim. Jiriel juga."
Mereka
berdua menatapku dengan curiga. Padahal aku cuma mencoba membiarkan
diri terserap sedikit, tapi omelan mereka pedas sekali.
"Tidak, habisnya saya tidak menyangka Anda akan
benar-benar melakukan hal senekat ini……"
"Firasatku sudah tidak enak. Tapi untuk
benar-benar melakukannya……"
"Davy bilang Lapi masih ada di dalam dirinya.
Jadi kupikir, kalau aku masuk ke dalam, mungkin aku
bisa menemukan cara untuk mengembalikan Lapi."
……Yah, itu sebenarnya hanya setengah dari alasan aslinya.
Sebagian besar alasannya adalah rasa ingin tahu tentang
apa yang ada di dalam sini.
Bagian
dalam Slime yang sudah mengalami Super Beast Transformation…… Aku sangat
penasaran struktur mantra seperti apa yang ada di sini.
Pasti sangat menarik. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak
masuk.
"Tidak, tidak, ini pasti murni karena Anda merasa
hal ini bakal menarik……"
"Kalau ada alasan lain selain rasa penasaran, saya
ingin sekali mendengarnya."
Tatapan Grim dan Jiriel terasa perih. Aku berdeham pelan
untuk menenangkan suasana.
"Yah, terlepas dari itu──ruangan ini cukup menarik,
ya."
Aku memunculkan cahaya dengan sihir, namun sekelilingku
hanyalah kegelapan yang seolah tanpa ujung.
Di lautan hitam ini, pepohonan dan bebatuan yang ditelan
Davy tampak terapung-apung.
Saat kucoba menyentuhnya, rasanya lebih seperti benda
kental daripada cairan.
Sedikit berbeda dengan tubuh Slime biasa, ini lebih mirip
tar dengan viskositas yang sangat tinggi.
"Coba kulihat, mari kita rasakan rasanya."
Ini adalah teknik memeriksa komposisi suatu zat dengan
menjilatnya, sama seperti yang dilakukan Ren.
Aku sudah berlatih dan sekarang bisa melakukan hal
serupa.
Bukannya tidak bisa menggunakan Appraisal, tapi
untuk zat misterius seperti ini, akan sangat sulit jika hanya mengandalkan itu.
"Hoi! Jangan masukkan benda kotor begitu ke
dalam mulut!"
"Setidaknya
bersihkan dulu dengan Purification!"
"Iya,
iya, aku mengerti."
Karena
mereka menghentikanku dengan sekuat tenaga, aku pun terpaksa menggunakan sihir
suci Purification untuk menghilangkan kotorannya.
……Meskipun begitu, warnanya tetap hitam pekat dan
kental.
Siapa tahu rasanya enak seperti cokelat.
Maka dari itu, aku pun mencoba mencicipinya sedikit.
"Benda
ini…… alih-alih lumpur, rasanya lebih seperti gumpalan mana yang
dipadatkan."
Mana
biasanya tidak terlihat, tapi bisa berubah menjadi materi padat di dalam
penghalang khusus.
Sama
seperti bangunan yang diwujudkan dalam penghalang unik yang digunakan oleh
iblis tingkat tinggi yang kulawan sebelumnya.
"Berarti ini adalah sejenis sihir, ya? Tapi saya
tidak yakin Lapi bisa menggunakan teknik tingkat tinggi seperti itu."
"Pemadatan mana seharusnya sulit dilakukan jika
bukan iblis tingkat tinggi. Lagipula, aku merasa ada berbagai struktur mantra
lain yang bercampur di sini."
Aku hanya bisa membaca sebagian informasi dari mana yang
melumpur ini.
Nuansanya mirip dengan struktur yang terukir di koloseum
untuk melahirkan Super Beast, tapi──
"……Mu."
Aku mendengar suara dari kejauhan.
Tampak sesuatu yang berbentuk seperti bola mendekat
sambil melompat-lompat.
Meskipun hanya terlihat siluetnya, bentuknya mirip
dengan Lapi sebelum dia membesar.
"Slime……? Dia datang ke sini, Bos."
"Mungkinkah itu bagian dari tubuh Lapi atau
semacamnya?"
Makhluk mirip Slime itu sampai di bawah cahaya.
Benda itu memang Slime. Namun, yang terpantul di
bagian depannya adalah──wajahku sendiri.
"Lo,
lo…… lolllo……!?"
"Wajah
Lloyd-samaaaa!?"
Popopopopopo!
Tiba-tiba
saja, Slime dengan wajahku tertempel di tubuh mereka mulai turun dalam jumlah
banyak.
Oi, oi, ini sudah jadi seperti film horor.
"Loi."
"Loi loi."
"Loloi!"
Slime-slime itu mendekat sambil mengeluarkan suara unik.
Mereka menatapku dengan wajah linglung, atau terkadang
menguap lebar.
"Ini……
apakah mereka…… cukup lucu……?"
"Bukan
itu masalahnya…… apa suaranya memang harus begitu!?"
Aku sendiri merasa canggung dengan situasi ini.
Kemungkinan besar, saat aku menjilat zat tadi, mereka
mendapatkan sebagian informasiku.
Karakteristik Slime adalah menyerap dan beradaptasi,
makanya mereka meniru wajahku.
"Eh, makhluk-makhluk ini tiba-tiba membuka mulut
mereka!?"
"Merapalkan mantra……? Ja-jangan-jangan──"
"■■■"
Bersamaan dengan Slime itu membuka mulut, cahaya silau
terpancar dari sana.
Dhuarrr!
Ledakan besar terjadi, dan asap hitam menyelimuti sekeliling.
Tentu saja aku melindungi diriku dengan Magic
Barrier, tapi yang tadi itu adalah Blaze Ball. Kekuatannya lumayan
juga.
"Lumayan apanya! Kekuatannya setara dengan
serangan Lloyd-sama!"
"Apalagi sampai merapalkan mantra beruntun…… gawat,
jangan-jangan mereka juga bisa menggunakan sihir lain!?"
"■■■"
Dhuar! Dhuar dhuar!
Berbagai aliran sihir mulai menghujani kami.
Semuanya benar-benar mirip dengan sihir yang
kugunakan. Meniru begitu, mereka ternyata makhluk yang cukup menggemaskan, ya.
"Tidak, tidak, ini sama sekali tidak
menggemaskan!"
"Ini seperti membiarkan makhluk berbahaya
tingkat tinggi berkeliaran bebas!"
Kasar sekali mereka bicara begitu tentang makhluk
yang berwajah sama denganku.
Yah, tapi saat ini mereka memang cukup mengganggu.
"Karena wajah kita sama, aku akan mengajari kalian
apa itu sihir yang sebenarnya──"
──Sihir
Elemen Angin, Silence Field.
Sihir
ini memasang penghalang udara di sekitar dan menghentikan getaran udara untuk
melenyapkan suara.
Suara para Slime itu pun menghilang, mereka hanya bisa
membuka-tutup mulut tanpa suara.
"Ooh, penyegel mantra! Tapi bagi Lloyd-sama, Anda
seharusnya tetap bisa menggunakan sihir meski tanpa rapalan, kan?"
"Kenapa makhluk-makhluk ini tidak melakukannya dan
hanya terlihat bingung?"
"Sihir yang kupelajari sudah melampaui ratusan ribu.
Sihir yang jarang kugunakan biasanya kusimpan di dalam 'laci' di
kepalaku."
Sihir
Elemen Ilusi, Imaginary Archive. Aku menyegel sihir yang tidak biasa
kugunakan ke dalam dimensi imajinasi.
Otak
manusia itu, jika diisi terlalu banyak pengetahuan, hal-hal yang tidak terlalu
penting bisa terlupa.
Itu jugalah alasannya kenapa aku terkadang pelupa…… ini
sungguhan, lho.
"Ada beberapa cara untuk melepaskan segel sihir
semacam ini, tapi karena pada dasarnya aku tidak perlu menggunakannya, aku
menyegel semuanya di Imaginary Archive. Makhluk-makhluk ini tidak punya
konsep untuk membukanya, dan kalaupun terbuka, mereka tidak akan tahu mana yang
harus digunakan."
Sihir itu bukan cuma soal mempelajarinya, tapi butuh
pengetahuan luas untuk menguasainya.
Kalau cuma sihir sederhana sih mungkin saja, tapi sihir
yang mendetail seperti Dispel tidak akan pernah bisa dikuasai oleh
peniru yang hanya mengopi kemampuan saja.
"Benar
juga…… Lloyd-sama kan pada dasarnya lebih suka menerima serangan sihir begitu
melihatnya."
"Karena
tidak ada konsep untuk menyegel, maka tidak ada konsep untuk melepaskan segel
pula, ya."
Yah,
begitulah kira-kira.
Meskipun
mereka bisa menggunakan sihir yang sama denganku, pada akhirnya mereka tetaplah
Slime. Mereka masih terlalu kurang pengalaman untuk melawanku.
"Baiklah,
ayo kita bergegas."
Sambil
menyegel mulut Slime yang muncul satu demi satu, aku terus melangkah menembus
kegelapan pekat.
"Lloyd-sama, Anda kelihatannya cuma jalan
asal-asalan saja, apa Anda tahu jalannya?"
"Sekeliling sangat gelap, rasanya kita cuma lewat
jalan yang sama terus."
"Ah, ada tempat yang memancarkan mana yang unik.
Jika kita ke sana, kita pasti akan menemukan sesuatu."
Mana yang dipancarkan Super Beast memiliki gelombang yang
khas, dan hawa itu semakin pekat di arah yang kutuju.
Aku yakin tubuh asli Lapi pasti ada di sana.
◆
"Fiuh, ternyata tinggi sekali ya…… Kau baik-baik saja, Ril?"
"Kuon!"
Pada
saat itu, Alise yang menunggangi punggung Ril telah tiba kembali di Negeri
Monster.
Ril
yang meluncur turun melalui lubang vertikal yang dibuat Lloyd mendarat dengan
santai, lalu menyalak pelan seolah mengatakan tidak ada masalah.
Jika
ritual Super Beast dilakukan, Super Beast baru akan lahir, dan karena aturan
bahwa hanya satu yang boleh ada, efek Super Beast pada Lapi akan menghilang. Lapi
pun akan kembali seperti semula.
Untuk itu, apa pun yang terjadi, dia memutuskan harus
pergi ke Negeri Monster.
Namun, Alise tertegun saat melihat sekeliling.
"……! Apa-apaan…… ini mengerikan sekali……!"
Bangunan yang tertelan oleh Lapi yang telah menjadi Super
Beast semuanya runtuh, dan para monster pun tampak tergeletak tak berdaya.
Meskipun begitu, karena monster memiliki vitalitas yang
tinggi, sepertinya mereka masih bernapas namun tidak sanggup untuk bergerak.
"Aku harus menolong mereka!"
Karena tidak tahan melihatnya, Alise melompat turun
dari Ril dan mendekati monster yang tergeletak.
Dia merobek ujung roknya dan membalut luka monster
tersebut.
"Guooo……?"
Saat ini, Alise tidak mengenakan kostum bonekanya,
jadi bahasa mereka tidak saling tersambung.
Namun, sepertinya dia mengerti apa yang dikatakan para
monster itu.
"Tidak apa-apa! Pasti akan membaik. Ril, kumpulkan
kain dan air sebanyak mungkin!"
"Kuruuu……"
Ril menyalak lemah seolah keberatan.
Dia seolah ingin mengatakan bahwa dia tidak bisa
meninggalkan Alise sendirian di tempat seperti ini. Namun,
"Pergilah!"
"……Kuon."
Mendengar perintah tegas Alise, Ril pun berlari pergi
dengan wajah terpaksa.
"……Tapi harus bagaimana. Aku belum pernah mengobati
monster sebelumnya. Dengan jumlah sebanyak ini, rasanya mustahil bisa
menyelamatkan semuanya……"
Hanya dengan melihat sekeliling saja, ada ratusan
monster yang tergeletak.
"Benar juga. Jika aku menjalin kontrak dengan
mereka──"
Dia teringat saat menjalin kontrak dengan Lapi.
Jika dia meningkatkan vitalitas dasar para monster
melalui kontrak, mereka pasti akan selamat.
Setelah membulatkan tekad, Alise segera memejamkan
mata. Sembari mencoba meraba sensasi sebelumnya, cahaya redup mulai menyelimuti
tubuhnya.
Cahaya itu menyelimuti monster di hadapannya, dan
luka-lukanya tertutup dalam sekejap mata.
"Kalau
tidak salah…… rasanya seperti ini, kan……?"
Awalnya,
itu adalah struktur sihir kontrak yang dia rebut sepenuhnya dari Lloyd, tapi
setelah mengalaminya sekali, Alise telah menjadikannya miliknya sendiri.
Meskipun
hanya meniru, dia berhasil mereproduksinya dan menjadikannya benar-benar
miliknya.
Cahaya
itu perlahan memperluas jangkauannya, menyembuhkan para monster di sekitarnya
satu per satu──
"Gruruo!?
Oooooh!"
"Woaaaaaah!?"
Para
monster itu mulai bangkit berdiri sambil bersorak.
Cahaya
yang menjadi semakin kuat itu, tanpa disadari, telah menyelimuti seluruh Negeri
Monster.
◆
Semakin jauh aku masuk ke dalam kegelapan, hawa Super
Beast semakin kuat terasa.
"Ooh! Ada sesuatu yang terlihat di balik kegelapan
itu, Bos!"
"Apakah itu semacam altar……?"
Pada lantai yang terapung di lautan hitam itu, terukir
lingkaran sihir yang persis sama dengan yang kulihat di bawah tanah koloseum.
Dan yang tertanam di dalam pilar yang menjulang di
tengahnya adalah──Lapi.
"Ada di sana, Lloyd-sama! Itu Lapi!"
"Sepertinya separuh tubuhnya membatu, sama seperti
Jacob sebelumnya."
Aku berhenti tepat di hadapan Lapi.
Nah, sekarang harus diapakan, ya.
"Apa Anda sudah memikirkan cara, Lloyd-sama?"
"Cara
untuk mengembalikan Lapi…… aku sama sekali tidak punya ide."
"Fumu……"
Aku
sudah menyelidiki altar bawah tanah, koloseum, bahkan melihat langsung momen
kelahiran Super Beast, jadi aku sudah mengumpulkan cukup banyak informasi.
Ada
beberapa cara yang bisa kuambil, tapi──mari kita coba cara yang sederhana dulu.
Sret! Aku mencengkeram Lapi, lalu
menariknya dengan sekuat tenaga.
"Apa yang Anda lakukan, Lloyd-samaaaa!?"
"Bolehkan Anda melakukan hal seperti itu!?"
"Sudah
diam saja dan bantu aku."
"Eeeeh!?
Serius nih, Bos!?"
"S-saya
tidak mau tahu ya kalau terjadi sesuatu!"
Cara
paling sederhana untuk membatalkan sihir ritual adalah dengan memutus
fondasinya.
Singkatnya,
pemikiranku adalah; jika aku menarik paksa Lapi yang berada di pusat ritual
secara fisik, Slime raksasa maupun Davy yang merupakan sisi gelap Lapi pasti
akan lenyap.
"Gugyaaaaaaaa!"
Suara
teriakan bergema di sekeliling. Itu bukan suara Lapi…… tapi Davy.
Suara
dari luar tubuh sepertinya merambat sampai ke sini.
"Kaliannn!
Ternyata kalian masih hidup dan belum dicerna!? Lagipula
apa yang kalian lakukan di tempat seperti itu!?"
"Apa
lagi…… aku sedang mencoba menarik keluar Lapi……"
"Menarik keluar!? Hentikan hal sepet……
gaaaaaaaa!"
Setiap kali aku menarik Lapi, sekeliling kami
bergetar hebat.
Sepertinya Davy di luar sana sedang meronta-ronta
kesakitan. Aku tidak masalah karena aku sedang melayang, sih.
"Hah,
hah…… k-kau…… jangan gerakkan dia lagi! Akan kubunuh kau!"
Davy
mencoba menggertak, tapi suaranya terengah-engah dan terdengar sangat lemah.
Grim dan Jiriel saling berpandangan, lalu menyeringai
lebar.
"……Hoho, kalau dia benci hal ini, berarti cara
ini sangat efektif, Bos."
"Benar, ayo kita tarik sampai lepas, Lloyd-sama.
Tarik dengan keras!"
Dua orang ini jadi sangat bersemangat. Padahal tadi
mereka sempat ragu.
Namun, fumu. Jika Davy membencinya, secara logika ini adalah jawaban yang
benar, tapi……
"He-hentikan! Jika kau membawanya pergi, aku tidak
akan bisa menahan 'itu' lagi! Jadi tolong hentikan! Kumohon! Aku akan melakukan
apa pun!"
Davy memohon dengan sangat sampai lupa diri. Benar-benar reaksi yang aneh.
'Aku tidak akan bisa menahannya sendiri'? Lalu 'itu'
maksudnya apa……?
Tanpa memedulikan rasa penasaranku, Grim dan Jiriel terus
mengerahkan tenaga mereka.
"Yosh! Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya ini
kesempatan bagus! Ayo, Malaikat Sialan!"
"Uooooh! Kau sendiri jangan bermalas-malasan! Iblis
Bodoh!"
"Ugyaaaaaaaa! Aaaaaaah! Guaaaaaaaa!"
Sret, sret, sret! Tubuh
Lapi mulai terlepas dari pilar. Davy terus berteriak histeris.
Dan──ceklek! Tubuh Lapi pun terlepas
sepenuhnya dari pilar itu.
"Oh,
lepas juga. ……Hmm?"
Saat
kulihat pilarnya, ada Slime hitam yang tertempel di sana.
Wajahnya
tampak seolah sedang berputus asa pada sesuatu, dan perlahan-lahan hancur
berkeping-keping lalu terbang tertiup angin.
"Tiba-tiba jadi sepi ya. Suaranya sudah tidak terdengar
lagi."
"Sepertinya
Lapi masih hidup, tapi…… entahlah."
"Woi Lapi, kau baik-baik saja?"
Tepat saat aku mengguncang Lapi untuk menyadarkannya, hal
itu terjadi.
Dhuuum! Lantai di bawah kaki kami berguncang
hebat. Saking hebatnya sampai-sampai tidak mungkin bisa
berdiri tegak. Aku tidak masalah karena melayang, sih.
"Uwoooo!? A-apa yang terjadi!?"
"Guncangannya dahsyat sekali! Sekeliling kita juga
sangat panas!"
Pemandangan di sekeliling mulai mendistorsi karena panas
tinggi. Aku sendiri tidak masalah karena memasang Magic Barrier.
"Pi!"
Akhirnya Lapi membuka matanya. Dia
naik ke atasku lalu melihat sekeliling dengan bingung.
"Oh, kau sudah sadar ya. Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja-pi…… Bukan itu masalahnya!
Padahal aku sudah bilang jangan menarikku paksa, kenapa malah
diabaikan-pi!?"
"Yang bilang begitu kan Davy, bukan kau."
"Yah, dia itu kan aku yang lain, atau bisa dibilang
dia itu perwujudan dari perasaanku juga…… Owaaa!"
Bokun! Guncangan kali ini jauh lebih besar.
Davy bilang dia adalah dua sisi koin yang sama dengan
Lapi. Jadi perkataan tadi juga merupakan keinginan Lapi, ya.
"Suasananya jadi gawat nih, Bos."
"Bukankah ini berbahaya jika kita terus di
sini?"
Meskipun aku sendiri baik-baik saja, di luar Magic
Barrier suasananya sudah seperti berada di tengah-tengah lava.
Sepertinya dimensi ini sudah mencapai batasnya. Tinggal menunggu waktu sampai
hancur total.
"Untuk sekarang, ayo kita keluar."
Aku menggunakan Teleport untuk keluar.
Begitu sampai di luar, gumpalan Slime raksasa yang
kutahan dengan penghalang maupun Davy sudah menghilang.
"Ooh, semua kekacauan tadi sudah hilang, Bos."
"Syukurlah kau bisa kembali normal, Lapi."
"……Bukan-pi. Mereka tidak hilang-pi."
Lapi bergumam pelan sambil menengadah ke langit.
Di atas kepala kami, awan hitam yang tadinya tidak
ada kini menutupi langit.
Rintik
hujan mulai turun. ……Tidak, ini──
"Benda
apa itu!? Gerakannya terlalu liar untuk disebut awan hujan, Bos!"
"……Tsu!? Air hujan ini rasanya seperti menyengat!
Apa ini racun!?"
"Bukan racun-pi. Ini sama sepertiku……"
"Butiran hujan seukuran Slime, ya."
Slime raksasa yang tadi naik ke langit dan kini menyerang
dengan berubah menjadi hujan.
Yah, kekuatannya memang tidak sampai menembus Magic
Barrier-ku, tapi benda ini sepertinya akan menimbulkan kerusakan di area
yang luas.
Pepohonan meleleh, tanah membusuk, dan para prajurit
bergegas mencari perlindungan di bawah atap.
"Sesaat setelah babak final berakhir, sesuatu yang
bisa kusebut sebagai 'kehendak Super Beast' mengalir masuk ke dalamku. Kehendak kuat yang membenci
segalanya dan ingin melenyapkannya…… Aku sudah mengerahkan seluruh kekuatanku
untuk menahannya agar hal itu tidak terjadi-pi."
"Benar juga, Davy juga pernah bilang begitu.
Soal membunuh orang-orang yang tidak mengakuinya atau apalah itu."
"A-itu cuma sebagian kecil dari perasaanku……
Intinya! Karena penahanku yaitu aku sendiri sudah tidak ada, kehendak Super
Beast itu pun muncul-pi!"
Kehendak Super Beast, ya.
Memang benar, niat membunuhnya terasa lebih kuat
dibandingkan Davy yang tadinya hanya ingin menelan para monster.
Hujan ini seolah-olah ingin memangsa tanah itu sendiri.
"Tu-Lloyd-sama, lihat itu! Ada mata raksasa di
langit……"
"Apa awan hujannya membentuk formasi seperti itu……
menyeramkan sekali."
Mata raksasa yang tercipta di langit menatap tajam ke
arahku.
Fumu, jadi kau yang namanya kehendak Super Beast itu, ya.
Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi──
"Aku tidak ingin istananya semakin rusak. Ayo kita
pindah tempat."
Sihir Skala Besar Elemen Angin, Jade Kirin. Angin
kencang yang menderu bagaikan Kirin yang berlari menyapu bersih awan-awan di
langit dalam sekejap.
"Dweh!?
Awannya terdorong seperti aliran deras. Angin macam apa itu……"
"Kalau
sampai salah menembakkannya ke tanah, semuanya pasti akan terbang tercerabut
sampai ke akar……"
Aku tidak akan salah tembak, jadi tenang saja.
Bagaimanapun juga, tanah ini adalah tempat eksperimenku yang berharga.
Karena itu, aku tidak bisa membiarkan makhluk yang
mengancamnya ini berkeliaran di sini.
Lagipula, aku tidak boleh sampai terlihat sedang
bertarung oleh orang-orang Saloum.
Super Beast yang terbawa angin menderu-deru, dan aku
mengikuti mereka dengan menunggangi angin.
"Kurasa di sini sudah cukup."
Setelah terbawa angin beberapa lama, kami sampai di atas
laut di mana daratan sudah tidak terlihat lagi.
Di bawah kami tidak ada pulau atau apa pun, jadi di sini
aku bisa bertarung sepuasnya.
"Piiiii──"
Suara tinggi yang mirip dengan jeritan terdengar dari
langit. Bersamaan dengan itu, Super Beast mulai mengubah wujudnya.
Awan hitam berkumpul dan menjadi gumpalan cairan
kental. Alih-alih Slime──ini lebih mirip dengan lumpur yang memenuhi bagian
dalamnya tadi.
Gumpalan lumpur yang jatuh ke atas laut itu perlahan
mengangkat sebagian tubuhnya, dan mata bulat yang tercipta di sana diarahkan
kepadaku.
Pupil hitam pekat yang tidak diketahui apa isinya itu
menatapku tajam.
"Kenapa……"
Super Beast itu mengeluarkan suara sambil mendekat ke
arahku.
Lalu dia mengarahkan mata raksasanya tepat di depan
mataku.
"Kenapa……
kalian menjauh……? Padahal aku…… menjadi Super Beast…… demi semua orang……
Kenapa…… Kenapa…… Kenapa…… Kenapa kalian semua lari darikuuuu!?"
Bersamaan
dengan teriakan pilu itu, ribuan tentakel menjulur dari seluruh tubuh Super
Beast.
Aku
mencoba menahan sekumpulan tentakel yang menghujam itu dengan Magic Barrier,
tapi──
Bachiin!
Goncangan
hebat terasa. Aku yang terpental begitu saja terhempas masuk ke dalam laut.
"Lloyd-sama!?"
"Anda baik-baik saja!?"
"……Ya."
Aku menjawab sembari muncul dari dalam air.
Aku tidak basah. Sejak sesaat sebelum terpukul sampai
sekarang, Magic Barrier-ku selalu aktif.
"Serangan
tadi, sepertinya menembus Magic Barrier Lloyd-sama, Bos!?"
"Bukan
menjebol tapi menembus…… apa sebenarnya yang terjadi?"
"Sepertinya
itu yang namanya tubuh spiritual."
Ada
keberadaan unik di antara monster, yaitu tipe spiritual seperti Wraith.
Monster
jenis ini tidak memiliki wujud fisik dan memiliki sifat bisa menembus benda
begitu saja.
Mirip
dengan Iblis atau Majin yang merupakan tubuh mana, tapi monster tipe
spiritual ini awalnya bahkan tidak bisa berinteraksi dengan benda fisik, dan
dengan sihir biasa pun aku tidak bisa memberikan damage pada mereka.
"Tapi
itu aneh, Bos! Memang benar tubuh spiritual tidak bisa disentuh, tapi harusnya
mereka pun tidak bisa menyentuh kita!"
"Benar
sekali! Dia menembus Magic Barrier saja tapi bisa memberikan serangan
pada Lloyd-sama! Itu kontradiksi!"
Benar
sekali. Monster tipe spiritual tidak bisa menerima serangan,
tapi sebaliknya mereka juga tidak bisa menyerang.
Seharusnya mereka adalah monster lemah yang hanya
bisa melakukan serangan mental.
"Makanya, ada trik di baliknya. ……Coba lihat
ini."
Aku mencoba menyentuh Magic Barrier yang tadi
dilewati begitu saja oleh serangan lawan, dan merasakan sensasi kasar di ujung
jariku. Sebagian
dari penghalang itu tampak sedikit terkikis.
"Ini……
bekas serapan si Super Beast-desu kai? Berarti
setelah dia melewati Magic Barrier sekali……"
"Dia menyerap Magic Barrier dari dalam
sambil memulihkan wujud fisiknya untuk menyerang Lloyd-sama……?"
Benar sekali. Itu adalah serangan brilian yang
memanfaatkan karakteristik Slime dan tubuh spiritual secara bersamaan.
Dia benar-benar melancarkan serangan yang cukup
merepotkan.
"Mengambil keuntungan dari wujud spiritual dan
fisik sekaligus, curang banget sih…… tapi kalau dia monster tipe spiritual,
harusnya dia punya kelemahan terhadap Holy Magic!"
"Tepat sekali! Dengan Holy Magic milikku, mau
dia hantu atau bukan, aku bisa menyerangnya tanpa masalah! Mau dia punya tubuh
fisik pun tidak jadi soal!"
Grim dan Jiriel tampak bersemangat, tapi…… entahlah, ya.
Memang benar Holy Magic sangat efektif melawan
hantu, tapi kalau lawannya dia…… yah, tidak ada salahnya mencoba.
"Light Blade──"
Aku memusatkan mana di telapak tanganku.
Sebuah gumpalan mana membesar sembari memancarkan kilatan
cahaya putih murni.
Dari sana, belasan bilah pedang tercipta, memanjang, dan
menyebar ke segala arah.
Aku menggenggam sebilah pedang cahaya raksasa yang
tercipta dari suntikan mana dalam jumlah masif; sebuah senjata yang besar dan
ganjil.
"──Infinite Edge."
"Uooooh! Light Blade milik Lloyd-sama!
Dilihat kapan pun tetap terasa mengerikan auranya!"
"Kekerasan dan kekuatannya tidak perlu diragukan
lagi! Kalau begini pasti bisa!"
Aku memutar Light Blade di tanganku, mengambil
ancang-ancang, lalu melancarkan tebasan.
Benturannya
membelah lautan, membuat pilar air membubung tinggi ke langit.
Di
tengah guyuran air yang jatuh seperti air terjun, aku menyadari beban Light
Blade: Infinite Edge di tanganku tiba-tiba lenyap.
Begitu
air laut mereda, yang muncul di hadapanku adalah Light Blade yang bagian
ujungnya telah lenyap, dan si Super Beast yang sama sekali tidak terluka.
Alamak, sepertinya benar-benar tidak mempan.
"B-mustahil!? Light Blade-nya tadi
seharusnya kena telak……!"
"Tapi malah terhapus begitu saja!? Bagaimana
bisa……!"
Yah, bagiku ini sudah sesuai dugaan, sih.
Kalau Magic Barrier saja bisa diserap, tidak ada
alasan dia tidak bisa melakukan hal yang sama pada Holy Magic.
Karakteristik Slime; penyerapan dan adaptasi.
Kalau musuh selevel ini yang memilikinya, memang tidak
ada kemampuan yang lebih merepotkan dari ini.
"Kalau begitu berarti kita tidak bisa apa-apa-desu
kai!? Ternyata ada musuh yang tidak bisa dikalahkan bahkan oleh Lloyd-sama……!"
"Memiliki karakteristik semua monster, ditambah
lagi menyerap dan beradaptasi dengan segala rintangan…… bukankah itu berarti
dia abadi!?"
"Tidak, cara mengalahkannya sih sebenarnya ada.
Tapi──"
Aku menggantung kalimatku dan menghentikan tangan
yang tadinya terarah pada Super Beast.
Itu karena Lapi melilit tanganku, seolah sedang
melindungi makhluk itu.
"Apa yang mau kamu lakukan, Lapi?"
"Super
Beast…… dia itu makhluk yang malang, jadi kalau bisa tolong jangan bunuh
dia-pi……!"
Kata-kata
Lapi yang terdengar seperti akan menangis membuatku mematung.
Memanfaatkan
celah itu, si Super Beast menambah jumlah tentakelnya dan menyerangku kembali.
"Cih……"
Aku menghentikan serangan untuk sementara dan
menghindar. Menghindar. Menghindar dari badai tentakel yang menghujam.
"Apa maksudmu, Lapi! Beraninya kamu menghalangi Lloyd-sama!"
"Benar! Apa kamu sudah lupa budi karena telah
diselamatkan tadi!?"
"A-aku tidak lupa-pi. Aku sangat berterima kasih. ……Tapi, setelah menyatu dengan
Super Beast aku jadi mengerti, dia itu benar-benar keberatan yang
menyedihkan-pi……"
"……Menyedihkan?
Apa maksudmu?"
"Super
Beast pertama──dia adalah Genius Slime yang sama denganku-pi. Dia jauh lebih
pintar dariku, dan dialah yang menciptakan sistem Super Beast ini-pi."
Sebuah
fakta mengejutkan terungkap.
Tidak
disangka seekor Slime bisa menciptakan struktur mantra serumit itu……
benar-benar sulit dipercaya.
"Dulu,
daratan ini adalah tempat peperangan hebat antara para dewa dan iblis,
permukaan dunia bukanlah tempat yang layak untuk ditinggali. Hal yang sama
berlaku bagi manusia, tapi mereka mempelajari Ancient Magic dari iblis
dan Holy Magic dari surga hingga menjadi semakin kuat-pi. Namun, para
monster yang tidak memiliki kecerdasan tinggi mulai diburu oleh manusia dan
perlahan terdesak ke bawah tanah…… Di sanalah dia memutuskan untuk menunjukkan
kekuatan monster sekali lagi. Itulah alasan Super Beast dilahirkan-pi."
Kalau
diingat-ingat, Jacob juga pernah bilang begitu.
Lapi pasti mendengar cerita ini dari si Slime Super Beast
pertama itu.
Ternyata
dialah awal dari segalanya.
"Gila……
ternyata leluhur Lapi itu makhluk yang sehebat itu."
"Tapi melihatnya mengamuk sekarang, aku sama sekali
tidak merasa dia punya kecerdasan tinggi……"
Aku tidak merasakan kehendak apa pun dari Super Beast
yang sedang mengamuk di depan mataku ini.
Dia hanya menumbuhkan tentakel tak terhingga dan
mengayunkannya secara membabi buta.
Mungkin setelah bergabung dengan ratusan monster,
kesadarannya pun ikut lenyap.
"Usahanya berhasil, Super Beast memberikan pukulan
telak pada para dewa dan iblis. Manusia juga mulai takut pada monster, dan
daratan kembali memiliki sedikit tempat bagi para monster-pi. Para monster yang
mendapatkan kembali kekuatannya mulai bertambah jumlahnya sedikit demi
sedikit…… Fakta bahwa monster masih ada sampai sekarang adalah berkat
dia-pi."
"Lalu apa yang menyedihkan? Bukankah dia seorang
pahlawan yang telah menjalankan kehendaknya dan melakukan apa yang harus
dilakukan?"
"Sampai
di situ memang bagus-pi…… tapi, monster lain malah gemetar ketakutan melihat
kekuatannya yang luar biasa, hasilnya bukan cuma dia, tapi seluruh ras Slime
malah jadi dikucilkan. Di tengah gejolak batin itu, dia tetap memberikan
kekuatan pada generasi Super Beast berikutnya demi teman-temannya. Saat aku
menjadi Super Beast, dia sebenarnya sudah hancur lebur……! Tanpa kehendak
sendiri, dia hanya menjadi alat menyedihkan yang terus menyuplai kekuatan-pi.
……Karena itulah sejak aku menjadi Super Beast, aku selalu menghiburnya-pi. Aku
tahu rasanya pedih saat tidak diakui oleh siapa pun. Jadi setidaknya, biarlah aku
yang mengakuinya……!"
"Lapi……
kamu──"
Tepat
saat aku hendak mengatakannya, sebuah cahaya hitam menembus Lapi.
Lapi
yang tertembak tepat di tengah tubuhnya hancur berkeping-keping dan jatuh ke
laut.
Gumpalan
lendir yang tersisa sedikit di pakaianku pun menguap di udara dan menghilang.
"Lapiiiiiiiiiiii!"
"Bajingan! Apa yang kamu lakukan!"
Grim dan Jiriel meraung murka. Si Super Beast mengarahkan
pupil hitam pekatnya padaku.
"Jangan……
kasihani…… aku……!"
Mendengar kata-kata itu, untuk pertama kalinya aku
merasakan kehendak milik "dia".
◇
Gumpalan lumpur raksasa itu perlahan mengecil.
Warnanya berubah dari hitam menjadi biru, lalu menjadi
sebuah bola yang melayang di udara.
"Makhluk
ini…… Slime? Mirip banget sama Lapi-desu ze."
"Lapi
bilang dia itu leluhurnya…… wajar saja kalau mirip, sih……"
Seperti
yang dikatakan Grim dan Jiriel, wujud Super Beast yang mengecil itu sangat
mirip dengan Lapi.
Namun,
perubahan Super Beast tidak berhenti di situ.
Tubuhnya
menggeliat dan mulai membentuk sosok seorang pemuda.
Meskipun begitu, struktur tubuhnya tetaplah Slime.
Slime berbentuk manusia semi-transparan mungkin
adalah deskripsi yang paling pas.
Dengan jubah (meskipun terbuat dari jeli) yang
berkibar, penampilannya entah kenapa mengingatkanku pada seorang penyihir.
"……Fumu, begini ya rasanya."
Si Super Beast membuka dan mengepalkan tangannya
seolah sedang memastikan gerakannya. Mata semi-transparannya menatapku lekat.
"Dalam wujud Slime pun sebenarnya tidak masalah,
tapi wujud penyihir ini lebih memudahkan untuk melakukan banyak hal."
Merapalkan mantra, menggerakkan seluruh tubuh
terutama jari-jari untuk memanipulasi struktur sihir; jika dalam wujud manusia,
gerakan magis yang bisa dilakukan jadi lebih banyak.
Alasan kenapa sebagian besar monster pengguna sihir
berbentuk manusia adalah karena hal itu.
"Woi, keparat! Kenapa kamu membunuh Lapi!"
"Benar! Lapi tadi mencoba menyelamatkanmu,
tahu!"
"Karena makhluk rendahan sepertinya mengasihaniku.
Keangkuhan itu pantas dibayar dengan nyawa."
Mendengar protes keduanya, si Super Beast menjawab
dengan nada menghina.
"Nah, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku
adalah Zeldiggs. Super Beast pertama sekaligus penyihir jenius."
Super Beast──Zeldiggs berkata. Gelarnya banyak sekali
ya; Pertama, Super Beast, Jenius, Penyihir.
Sombong sekali. Sepertinya dia tipe yang punya harga
diri setinggi langit. Makanya dia marah karena dilindungi oleh Lapi.
"Jangan kasihani katamu? Memangnya kamu siapa,
hah!"
"Benar! Lapi itu mengkhawatirkanmu dan……"
"──Hah."
Bersamaan dengan tawa mengejeknya, angin kencang
berhembus dahsyat. Dia melepaskan mana dalam cakupan yang luas. Apalagi, ini
bukan serangan yang disengaja, melainkan sesuatu yang muncul secara alami dari
keberadaannya, seperti sebuah uapan kecil.
Begitu ya, jadi ini kekuatan Super Beast pertama.
Tanpa jumlah mana yang luar biasa, mustahil bisa
melakukan hal seperti ini.
Sepertinya klaim bahwa dia menciptakan seluruh struktur
mantra itu sendiri bukan cuma bualan belaka.
"Menyedihkanlah, malanglah, jangan mengukurku dengan
standar rendahan kalian, menjijikkan tahu. Lagipula Slime itu juga salah paham.
Mengorbankan diri demi monster lain untuk menjadi Super Beast? Salah besar!
Alasan aku menciptakan sistem mantra ini hanya satu, yaitu untuk membuktikan
kekuatanku sendiri. Membuat monster-monster tidak berguna saling membunuh untuk
melahirkan Super Beast. Karena struktur mantra ini butuh kerja sama para
monster, aku menyebarkan berita bohong itu untuk memanfaatkan monster-monster
berotak udang. Yah,
meskipun hasilnya mungkin memang membantu mereka…… tapi tahu tidak kalau butuh
pengorbanan monster yang tak terhitung jumlahnya untuk menyempurnakan
ini?" Zeldiggs terkekeh pelan.
Menjadikan semua monster sebagai bahan eksperimen
sihir, ya.
Yah, sebagai penyihir, itu adalah pola pikir yang
benar. Kalau memang cuma butuh kebenaran saja, sih.
"Ngomong-ngomong, bicaramu jadi lancar sekali ya.
Padahal tadi cuma bisa bicara terbata-bata."
"Tadi itu cuma igauan saat tidur. Aku terbangun
karena kalian berisik sekali."
……Lagi tidur saja sudah sehebat itu.
Sepertinya dia memang lawan yang luar biasa.
"T-tidur katamu!? Jangan
bercanda!"
"Itu pasti cuma gertakan karena dia tidak mau kalah,
Lloyd-sama!"
"……Hmph. Dasar bodoh."
Bergumam bosan, Zeldiggs mengaktifkan struktur mantra
yang tak terhitung jumlahnya.
No-Cast──saat aku menyadarinya, pandanganku
memutih. Sesaat kemudian,
Zudooon!
Suara ledakan menggelegar, menerbangkanku bersama dengan Magic
Barrier-ku.
"Guh, yang tadi itu Death Fang! Sihir
tingkat tertinggi elemen kegelapan-desu ze! Hebatnya lagi, apa makhluk ini bisa
memberikan karakteristik spiritual bahkan pada sihirnya sendiri!?"
"Sihir tanpa rapalan biasanya kekuatannya turun
drastis. Tapi kekuatannya tetap sebesar ini! Dia benar-benar tipe
penyihir murni! Apa Anda baik-baik saja, Lloyd-sama!?"
Luka memar hitam muncul di lenganku yang terkena
serangan, bahkan luka yang cukup dalam terukir di sana.
Death Fang, sihir
yang memangsa vitalitas target dan memberikan kematian, ya.
Kecepatan pelurunya lambat dan mudah ditahan dengan Magic
Barrier, tapi dengan karakteristik spiritual, sangat mudah untuk mengenai
lawan.
Terlebih lagi dengan melepaskannya tanpa rapalan, dia
bisa menambah jumlahnya hingga sulit dihindari──begitu ya.
"──Matilah."
Tubuhku mulai hancur berkeping-keping. Jadi ini juga
yang mengalahkan Lapi tadi.
Begitu ya, ini yang namanya Death Fang. Bisa
jadi referensi bagus.
"Lloyd-samaaaa!"
Mendengar jeritan mereka berdua, aku menjawab dengan
santai.
"Hmm? Ada apa?"
"Eh, kenapa Anda bisa pasang muka tenang
begituuu!"
Melihatku yang baik-baik saja, Grim dan Jiriel terbelalak
kaget.
Yang hancur tadi adalah boneka pengganti yang kubuat.
Tubuh aslinya sudah menghindar menggunakan Teleport.
Karena itu sihir yang jarang kulihat, aku mencoba
menerimanya dengan boneka pengganti.
"Struktur mantra yang cukup menarik. Apa terpengaruh oleh Ancient
Magic atau Holy Magic? Menarik sekali."
Habisnya, sejak sampai di sini, aku sama sekali tidak
bisa menyentuh sihir apa pun.
Karena akhirnya aku menemukan monster tipe penyihir, aku
akan menikmatinya sampai ke akar-akarnya.
Kalau dipikir-pikir, dia ini penyihir dari zaman kuno,
ya.
Dia pasti memodifikasi apa yang digunakan dewa dan iblis
saat itu.
Sihir elemen kegelapan memang terkenal digunakan oleh
monster, dan sepertinya dia adalah titik awalnya.
Mengetahui struktur mantra sederhana yang telah membuang
segala hal yang tidak perlu membantu kita memahami akar dari elemen tersebut.
……Inilah salah satu kenikmatan mempelajari sihir.
"Ternyata
cuma boneka pengganti…… benar-benar bikin jantungan saja."
"Padahal biasanya Anda langsung menerimanya
sendiri…… Lloyd-sama sudah tumbuh dewasa, ya."
……Rasanya mereka baru saja mengatakan sesuatu yang tidak
sopan.
Perlu kalian tahu, aku bukannya ingin mati.
……Yah, sebenarnya aku tadi sempat ingin merasakannya
langsung, sih.
Menerima dengan boneka pengganti dan tubuh asli memang
rasanya beda, dan kalau tubuh sendiri yang merasakan, aku jadi lebih serius
dalam meresponsnya.
"……Hah, orang sombong sepertimu dulu juga banyak.
Mereka meremehkanku hanya karena aku seekor Slime, tapi umur orang-orang
seperti itu biasanya tidak panjang!"
Bergumam demikian, Zeldiggs kembali melepaskan Death
Fang. Jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Tentu saja tanpa rapalan, tidak ada tempat untuk lari.
"Death Fang milikku, sang penyihir jenius,
pasti akan mencabut nyawa lawan! Apalagi karena tanpa rapalan, aku bisa
menembakkannya secara bersamaan sesuka hati! Mau seribu atau sepuluh ribu! Nah,
coba hindari seperti tadi kalau bisa! Ahahahaha!"
Sesuai perkataannya, bilah pedang hitam yang bahkan lebih
banyak dari sebelumnya muncul di sekitar Zeldiggs dan menyerangku.
Di depan badai pedang itu, aku hanya mengangkat ujung
jariku sedikit.
Dhuar! Dhuar dhuar!
Zeldiggs terbelalak melihat rentetan ledakan yang
terjadi.
Sihir yang menembus segalanya dan baru menjadi nyata
sesaat sebelum mengenai musuh, ya.
Karakteristik itu memang merepotkan, tapi sihir
tetaplah sihir.
Jika aku mengintervensi struktur mantranya secara
langsung, aku bisa menghancurkannya bahkan sebelum sihir itu aktif.
"Ooh, Anda melakukan intervensi paksa pada
struktur mantranya dan membatalkan aktivasinya-desu na!?"
"Padahal jumlahnya sebanyak itu, apalagi tanpa
rapalan…… Anda memang luar biasa, Lloyd-sama!"
Tadi aku
sudah menganalisis struktur mantranya saat menerima serangan dengan boneka
pengganti.
Sihir tipe begini biasanya sangat sederhana karena
terlalu mementingkan daya hancur. Karena itulah, menghapusnya pun tergolong
cukup mudah.
"Nah, selanjutnya apa, Penyihir Jenius? Kamu
pasti masih punya cara menyerang yang lain, kan?"
"……Tentu saja."
Sambil menggertakkan gigi, Zeldiggs membiarkan mana
meluap dari sekujur tubuhnya.
Aliran mana itu begitu deras hingga memercikkan bunga
api. Ini…… bukan
struktur mantra. Apa kali ini dia berniat menembakkan gelombang mana murni?
Padahal
dia harusnya tahu hal semacam itu tidak akan bisa melukaiku.
Saat
aku memperhatikannya dengan tenang untuk melihat apa yang akan dia lakukan,
Zeldiggs mengangkat kedua tangannya ke langit.
"Muncullah!
Wahai para abdiku!"
Seketika
itu juga, sebuah lingkaran sihir raksasa tercipta di bawah kakinya.
Pola ini, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu
tempat.
Selagi aku berpikir, bayangan hitam mulai merayap naik
dari lingkaran sihir tersebut.
Itu adalah──para Super Beast dari generasi terdahulu.
Skeleton, Chimera, Manticore, dan berbagai sosok Super Beast lainnya muncul
satu demi satu.
"Hah,
hah…… Hahaha……! Bagaimana! Roh dan raga para Super Beast terdahulu ada di dalam
diriku, dan aku bisa memanifestasikan mereka kapan saja dengan mana! Jumlah
mereka jauh melampaui seratus, dan tentu saja mereka memiliki karakteristik
yang sama denganku!"
Menciptakan
boneka mana dari para Super Beast terdahulu…… jumlah mana yang dibutuhkan pasti
sangat luar biasa.
Pantas
saja dia sampai terengah-engah begitu.
"Ayo,
para pecundang! Bermainlah dengannya! Tebas, bakar, hancurkan, dan mangsa
dia!"
"GUOOOOOOOOO!"
Atas
perintah Zeldiggs, para Super Beast itu menerjang maju.
"Duaah!
Me-mereka datang, Lloyd-sama!"
"Seluruh
Super Beast terdahulu…… a-apakah Anda akan baik-baik saja!?"
Bagaimanapun,
aku harus menghadapinya.
Aku
menjatuhkan mereka satu per satu dengan Light Blade di tanganku.
"Bu-nuh……
Bu-nuh…… Bu-nuh……"
"BUNUUUUUUH!"
Terlebih
lagi, Super Beast ini memiliki karakteristik yang sama dengan Zeldiggs.
Setiap
kali berbenturan, Light Blade-ku terkikis, dan mereka bahkan menembus Magic
Barrier.
"
" "BUNUH!" " "
Gakiink! Light Blade-ku patah
setelah beradu dengan pedang milik Super Beast berbentuk kerangka.
Memanfaatkan
celah saat aku sedikit terhuyung, Super Beast lainnya merangsek maju──
"Berakhir
sudah, makhluk rendahan!"
Para
Super Beast itu mengerumuniku seperti gumpalan benang. Dari balik kerumunan
itu, suara tawa Zeldiggs terdengar membahana.
──Tapi,
daripada itu semua. Hatiku justru tertuju pada ekspresi para Super Beast yang
tertangkap mataku.
Keputusasaan, rasa sakit; wajah-wajah mereka tampak
sangat menderita karena semua itu bercampur jadi satu.
"Makhluk-makhluk
ini…… matanya sedih sekali……"
"Mereka
dipaksa bertarung. Kata 'bunuh' itu sepertinya bukan ditujukan untuk lawan,
melainkan permohonan agar mereka sendiri dibunuh."
Ingin
dibunuh, ya.
Raga
mereka yang dikorbankan untuk ritual sudah lama musnah, dan sekarang mereka
hanya termanifestasi oleh struktur mantra milik Zeldiggs.
Karena itu, mereka tidak punya cara untuk melawan
perintahnya. Benar-benar hanya boneka yang bergerak sesuai keinginan si tuan.
"Ahahahahaha! Lihat, inilah kekuatanku! Perlu kalian
tahu, sekarang mereka jauh lebih kuat dibanding saat mereka masih menjadi Super
Beast dulu! Mereka adalah prajurit abadi yang tak bisa mati! Iri, kan!? Kalau
kau minta maaf sekarang, aku bisa mempertimbangkan untuk menjadikanmu bagian
dari mereka!?"
Sambil mengeluarkan suara yang menderita, para Super
Beast terus menyerang.
Sepertinya dia sengaja menyisakan indra perasa sakit pada
mereka.
Tujuannya agar mereka bertarung mengalahkan musuh demi
menghentikan rasa sakit yang diberikan pada diri mereka sendiri. ……Benar-benar selera yang buruk.
"……Kamu berbeda dengan Lapi."
"Tentu saja! Meskipun sesama Slime, disamakan
dengan makhluk rendahan sepertinya saja sudah membuatku muak! Lagipula……"
Aku mengabaikan ucapan Zeldiggs dan terus berbicara.
"Dia mempertaruhkan nyawa demi melindungi
monster-monster yang membencinya. Dia bilang, seorang raja harus terus berbakti
tanpa menyerah meskipun tidak diakui oleh sekelilingnya. Tapi kamu, kamu terus
mengorbankan sekeliling demi dirimu sendiri."
"Fuhah! Masa bodoh! Rakyat
memang ada untuk mengabdi pada raja. Menjadi bagian dari diriku adalah sebuah
kehormatan bagi mereka!"
"Begitu
ya…… yah, terserahlah."
Gumamku
sambil memerintahkan Grim dan Jiriel yang bersemayam di kedua telapak tanganku
untuk membuka 'mulut'.
"■■■■■──"
Mantra
yang kulepaskan dengan Triple Cast adalah Holy Magic, Triple
Holy Light.
Kilauan cahaya yang menyilaukan menyelimuti para Super
Beast.
"Bodoh! Holy Magic lagi? Mau dicoba berapa
kali pun, itu hanya perlawanan sia-sia──"
Diselimuti
cahaya, para Super Beast mulai hancur berkeping-keping.
Setelah itu, mereka tidak beregenerasi lagi,
melainkan menguap dan menghilang ke udara. Ekspresi
mereka saat hancur tampak begitu damai.
"……Te……ri……"
"……Ma……ka……sih……"
Rasanya aku mendengar mereka menggumamkan sesuatu saat
menghilang, tapi suaranya tidak sampai ke telingaku.
Para Super Beast terdahulu yang tertidur di bawah tanah,
ya. Pasti ada di antara mereka yang bisa menggunakan sihir menarik.
Meskipun tidak bisa, mungkin ada yang mengetahuinya, atau
ada yang memiliki struktur mantra terukir di tubuhnya.
……Di saat aku meratapi rasa sayang karena kehilangan
pengetahuan itu, Zeldiggs berdiri mematung dengan mulut ternganga.
"Mustahil!
Holy Magic seharusnya tidak mempan!"
"Memang
benar karakteristikmu bisa menyerap Holy Magic yang seharusnya
memurnikan tubuh spiritual. Tapi, hal itu pun ada batasnya."
Itu hal
yang wajar. Selama dia bermanifestasi untuk menyerang, dia harus menyerap
sihirku.
Namun,
menyerap Holy Magic yang merupakan kelemahannya justru akan mempercepat
kehancurannya. Apalagi jika konsentrasinya tinggi.
Melepaskan
Holy Light yang dikompresi hingga melampaui batas ketahanan mereka;
itulah cara pertama untuk mengalahkan makhluk ini.
"Cih……
dasar sampah tidak berguna……!"
Zeldiggs
menggertakkan giginya, lalu aku berkata padanya.
Tapi
cara ini tidak akan berhasil jika para Super Beast itu menolaknya dengan
kehendak yang kuat.
Sebab Holy
Magic adalah struktur mantra yang bekerja kuat pada hati. Bagaimana
ya mengatakannya, ini seperti……
"Bermain boneka."
"A-apa katamu……?"
"Habisnya, teknik itu kan struktur mantra yang
sengaja kamu ciptakan sendiri? Melahap mereka yang lebih lemah darimu lalu
memuntahkannya kembali untuk diperbudak…… kalau itu bukan bermain boneka, lalu
apa namanya? Kalau kamu merasa kesepian, bilang saja, aku akan menemanimu
bermain sepuasnya."
"Ka……mu……
bajingaaan!"
Mendengar
kata-kataku, wajah Zeldiggs memerah padam karena amarah.
Kenapa
dia marah begitu? Padahal aku hanya mengatakan yang sebenarnya.
"Kenyataan itu terkadang bisa menjadi pedang
kata-kata yang menyakiti orang, Lloyd-sama. Tapi rasakan itu! Syukurin kamu,
Zeldiggs!"
"Benar sekali! Ayo, katakan lebih banyak lagi, Lloyd-sama!
Untuk si Zeldiggs-chan yang malang dan menyedihkan
ini!"
Grim dan Jiriel memprovokasi dengan sekuat tenaga.
Aku memberikan isyarat memanggil dengan tangan kepada
Zeldiggs yang mulai gemetaran.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat serang aku.
Bukankah aku sudah bilang akan menemanimu bermain? Jangan bilang kamu
ketakutan?"
"Fufu……
Hahaha…… Ketakutan? Aku? Lucu sekali leluconmu itu…… dasar, makhluk rendahan
KEPARAAAAAAT!"
Akhirnya Zeldiggs meledak dalam amarah karena kata-kataku
dan menerjang lurus ke arahku.
"Dia datang, Lloyd-sama! Kecepatannya luar
biasa!"
"Ayo lakukan yang tadi lagi! Ayo, Iblis!"
Keduanya
membuka mulut dan melepaskan Holy Light.
Cahaya
menyilaukan menembus Zeldiggs──tapi, dia sama sekali tidak peduli dan terus
merangsek maju hingga tepat di depan mataku.
"Hah! Apa kamu pikir trik yang sama akan mempan pada
tubuh asliku!?"
"Sudah kuduga."
Yang barusan dilepaskan adalah Holy Light milik Grim
dan Jiriel, porsi untuk dua orang.
Meskipun itu cukup untuk memberikan sedikit kerusakan
pada para Super Beast, sepertinya tidak mempan pada tubuh asli Zeldiggs.
"Cho! Jahat banget sih, Lloyd-samaaaa!?"
"Cuma kami berdua yang menyerang jadi terlihat
seperti orang bodoh tahu!"
"Maaf, maaf. Aku cuma ingin mencoba hal lain."
Yaitu, cara kedua untuk mengalahkannya.
Seingatku ada di sekitar sini…… Aku mengaduk-aduk isi
jubahku tapi tidak kunjung menemukannya.
Karena aku memperluas kapasitas penyimpanan dengan
perluasan dimensi, aku jadi agak sulit menemukan barang yang kucari. Hmm, bukan
yang itu, bukan yang ini juga……
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan, tapi
beraninya kamu bersikap sesantai itu di hadapanku! Mati! Mati!
MATILAAAAAH!"
Aku menghindari semua serangan yang dilancarkan bersamaan
dengan raungannya itu.
Sihir,
serangan fisik, tentakel…… kombinasi serangan yang mencampurkan itu semua pun
tidak ada yang berhasil menyentuhku sedikit pun.
Pada
dasarnya, makhluk ini tidak punya bakat bertarung. Karena dia hampir abadi
berkat tubuh spiritual dan sebagainya, dia benar-benar kekurangan pengalaman
tempur.
Bagiku
yang telah meniru Mind's Eye milik Tao, menghindarinya sambil memejamkan
mata pun terasa sangat mudah.
"Hah,
hah…… s-sial…… jangan cuma menghindar saja……"
"Kamu terlalu cepat lelah. Itu karena kamu
mengayunkan serangan hanya mengandalkan tenaga."
Menggerakkan tubuh spiritual atau tubuh mana itu sendiri
membutuhkan mana yang sangat besar. Terlebih lagi jika digunakan bersamaan
dengan sihir.
Bahkan iblis tingkat tinggi dengan mana tak terbatas pun
merasakan hal yang sama.
Kecuali jika mereka memiliki sirkulasi mana yang efisien
sepertiku. Bagi monster biasa seperti Zeldiggs, ini adalah beban
yang berat.
"Ooh! Ini toh cara kedua yang Lloyd-sama
maksud!"
"Tidak, ini benar-benar di luar perhitungan. Aku
tidak menyangka dia sepayah ini."
"Kamu……
KAMU KEPARAAAAAT……!"
"Cara
lainnya adalah…… ini."
Sambil
menghindar, akhirnya aku menemukannya.
Yang
kukeluarkan dari jubah adalah buah yang bersinar dalam warna pelangi.
"Ini……
buah World Tree?"
"Ya,
benar sekali. Aku membawa buah yang kudapatkan sesaat sebelum World Tree yang
dulu itu layu."
Buah
World Tree dianggap sebagai sumber kehidupan abadi; keberadaannya saja
memberikan umur panjang bagi para Elf, dan konon siapapun yang memakannya bisa
mendapatkan keabadian.
Saat dalam perjalanan ke sini, Fiona memercayakannya
padaku. Dia bilang, jika harus bertarung dengan musuh yang bisa menyebabkan
bencana alam, tolong bawalah ini.
Inilah saatnya untuk menggunakannya.
"Tidak, kurasa Fiona memberikannya karena dia
mencemaskan keselamatan Lloyd-sama……"
"Pasti tujuannya untuk pemulihan stamina. Setidaknya
sudah pasti bukan untuk digunakan dalam eksperimen……"
Buah World Tree yang berharga, akan kugunakan dengan
baik, Fiona.
Aku melemparkannya begitu saja ke arah Zeldiggs.
"……?"
Zeldiggs menggumam heran dan menepis buah itu.
──Pada saat itu juga, bagian yang tersentuh meledak.
Cahaya yang tercipta mulai melilit tubuh spiritual
Zeldiggs.
"Uwooo!? A-apa ini!? Apa yang terjadi!?"
Zeldiggs bersinar terang benderang bagaikan matahari
terbit.
Badai vitalitas yang menderu membuat permukaan laut
bergejolak dan guntur menggelegar. Cahaya yang menyilaukan itu perlahan
meredup, dan pemandangan kembali terlihat jelas──
"Ini……
tidak mungkin."
Gumam
Zeldiggs. Tubuhnya kini dipenuhi dengan vitalitas yang meluap, dan sosoknya
yang bersinar merah memberikan kesan kekuatan yang luar biasa.
Benar, Zeldiggs bukan lagi tubuh spiritual. Dia telah
mendapatkan raga fisik berkat kekuatan buah World Tree.
"Ahahahaha! Aku merasakan kekuatan yang luar biasa!
Apa ini!? Apa aku sudah menjadi dewa!?"
Sepertinya kekuatannya memang hebat. Dia melompat-lompat
kegirangan di udara.
Luar biasa, efek buah World Tree benar-benar hebat.
"Tapi apa yang Anda lakukan, Lloyd-samaaaa!"
"Buah
World Tree yang berharga! Malah dipakai untuk memperkuat
musuh!"
Grim dan Jiriel melancarkan protes keras.
Keras sekali suara kalian. Telingaku sampai berdengung,
tahu.
"Wajar kalau kami berteriak! Lihat itu! Lihat
kekuatannya yang mengerikan itu!"
"Benar! Monster memang jadi lebih kuat jika memakan
World Tree, tapi ini tidak normal! Dia sudah jadi makhluk yang berbeda dari
sebelumnya!"
Yah, memang benar sih. Mana milik Zeldiggs telah
meningkat ke jumlah yang tak bisa dibandingkan dengan sebelumnya.
Buah
World Tree, ya. Sepertinya efeknya melebihi dugaanku.
"Ahahahahaha!
Luar biasa…… kekuatanku meluap-luap! Terima kasih telah mengangkatku ke
ranah dewa! Dengan kekuatan sebesar ini, dewa maupun iblis bukan lagi
tandinganku! Segalanya akan jatuh ke tanganku──"
"Hop."
"Gubahaa!?"
Aku memukulnya dengan Light Blade di tanganku.
Bersamaan dengan suara seperti benda yang remuk, dia
terpental jauh dan membalul berkali-kali di permukaan laut.
Zeldiggs menatapku dengan wajah linglung, pipinya bengkak
memerah.
"APA-APAAN!?
……Ba-bagaimana bisa kamu memukulku!? Dan kenapa aku tidak bisa berubah menjadi
tubuh spiritual!?"
"Ya
karena…… kamu sudah punya raga fisik berkat buah World Tree, kan?"
Tubuh
spiritual adalah kondisi di mana seseorang kehilangan vitalitas.
Tentu
saja, bagi mereka yang sudah memiliki raga dan vitalitas yang meluap, berubah
menjadi tubuh spiritual adalah hal yang mustahil.
Karena itulah, dia bisa disentuh. Dan bisa dipukul.
"Jadi begitu, Anda menggunakan buah World Tree untuk
mencegahnya menjadi tubuh spiritual. Membuat roh tak beraga sekalipun memiliki
raga fisik, buah World Tree benar-benar mengerikan."
"Dan dengan begini, kita bisa melawannya! Ternyata
Anda sudah memperhitungkan sampai sejauh ini…… Anda memang luar biasa, Lloyd-sama!"
……Aku tidak mungkin bilang kalau aku cuma ingin melihat
seberapa besar efek buah World Tree dalam memberikan vitalitas.
Tapi aku tidak menyangka tubuh spiritual pun bisa sampai
mendapatkan raga fisik. Kupikir
paling hebat hanya akan menjadi setengah roh…… benar-benar pohon yang mistis.
Mungkin
agak sedikit sayang, tapi pohon itu pasti akan tumbuh lagi nanti, jadi tidak
masalah. Aku juga sudah puas melihat cara kerjanya.
"Ku……
kukuku…… Ahahahaha! Jadi begitu, tindakan anehmu tadi adalah untuk membatalkan
wujud spiritualku, ya. Sepertinya kamu layak untuk membuatku bertindak serius.
……Tapi, apa kamu sadar? Fakta bahwa aku, Super Beast pertama yang merupakan
puncak dari segala monster sekaligus penyihir jenius, telah mendapatkan
kekuatan yang meluap-luap ini tidak akan berubah! Harga yang harus kamu bayar
akan sangat mahal!"
Zeldiggs
membiarkan mananya meluap seiring dengan semangatnya yang membara.
Karena
sekarang dia memiliki raga fisik, tekanan mananya jauh lebih besar daripada
sebelumnya.
"──Mumpung ada kesempatan. Mau mencobanya secara
langsung?"
Suara itu terdengar tepat di samping telingaku.
Zeldiggs sudah mulai menyerang. Di tangannya tergenggam sebuah bola mana yang
bersinar merah.
"Berdenyutlah, darah panas dalam nadiku…… Crimson Blood Fang."
Sihir
Elemen Kegelapan, Crimson Blood Fang. Ini adalah sihir pengendali darah
yang sangat disukai oleh kaum vampir.
Struktur
mantranya adalah menabrakkan gumpalan darah yang tercipta dari mana kepada
lawan, lalu membiarkan darah yang masuk melalui luka itu mengamuk untuk
menghancurkan target dari dalam.
"Bola mana darah dengan densitas dan massa yang
luar biasa! Ternyata ini identitas dari kilauan merah yang terpancar dari
dirinya!"
"Benar-benar denyutan kehidupan…… Padahal Crimson
Blood Fang yang asli itu jauh lebih kecil, tapi yang ini mengalami
perubahan yang tidak normal!"
Habisnya, Crimson Blood Fang yang digunakan
kaum vampir itu kan sihir lemah yang cuma menembakkan benda seperti jarum, atau
sekadar tambahan saat mereka menggigit lawan.
Ini pertama kalinya aku melihat Crimson Blood Fang
yang berkobar seperti api begini.
Bilah merah yang dilepaskan meledak tepat di depan
mataku.
"Bagaimana, makhluk rendahan! Inilah sihirku
setelah mendapatkan raga fisik! Inilah kemampuan asli sang jenius!
Ahahahahahaha!"
Suara tawa Zeldiggs terdengar dari balik kepulan asap
darah. Begitu ya, daya hancurnya memang hebat.
──Meskipun begitu, kekuatannya masih dalam jangkauan
sihir biasa, sih.
"Ha──"
Tawa lebar Zeldiggs terhenti, matanya terbelalak
kaget.
Melihatku muncul tanpa luka sedikit pun, dia memasang
wajah seolah tak percaya.
Sihir selevel ini tidak akan mungkin bisa menembus Magic
Barrier-ku.
"Banyak asap ya. Cuma itu saja."
"Cih……
kalau begitu rasakan ini! Dark Armament: Blade Bone Fang."
Tulang-tulang tak terhingga yang lahir dari ketiadaan
masing-masing memanjang mengincarku.
Ini adalah sihir yang disukai kaum Skeleton di antara
sihir elemen kegelapan lainnya, di mana tulang yang memanjang akan menjadi
setajam dan sekuat pedang.
Ini pertama kalinya aku melihat Blade Bone Fang
sebesar ini──tapi, terus kenapa?
Semuanya tertahan oleh Magic Barrier-ku dan
hancur berkeping-keping dengan suara yang nyaring.
"Guh……! Masih ada lagi! Beast Crushing Jaw! Wounding Horn Fang! Necrotic
Powder Strike Fang!"
Zeldiggs
terus melepaskan sihir secara bertubi-tubi, namun semuanya tertahan oleh Magic
Barrier dan tidak mencapaiku.
Ooh,
heeh, ternyata ada banyak macam sihir ya. Menyenangkan sekali.
"Ke-kenapa……
Kenapa sihirku tidak mempan!?"
"Hmm, bukankah itu murni karena perbedaan kemampuan
kita sebagai penyihir?"
Jawabku sambil mengorek telinga.
"Aku tidak menyangkal kalau kamu adalah penyihir
yang cukup hebat. Tapi itu dalam standar monster. Altar yang menciptakan Super
Beast, sihir elemen kegelapan, dan lain sebagainya memang patut diacungi
jempol, tapi pada akhirnya sihir-sihir ini sudah terlalu kuno. Kamu tidak akan
pernah mencapai puncak sihir yang telah diasah oleh umat manusia selama
bertahun-tahun."
Bahkan Magic Barrier ini pun bukan aku sendiri
yang menciptakannya dari nol.
Orang pertama yang menciptakan struktur mantranya, orang
yang memodifikasinya, orang yang memodifikasinya lebih lanjut, dan seterusnya……
melalui waktu yang panjang, kebijaksanaan dari orang-orang yang mencintai sihir
berkumpul, diasah, dimurnikan, hingga akhirnya mencapai bentuknya yang
sekarang.
Aku hanya menggunakannya sekarang. Jika waktu berlalu
lebih lama lagi, pasti akan lahir sesuatu yang lebih kuat. Begitulah cara
struktur mantra berevolusi.
"Selama sejarah yang panjang, puluhan ribu pecinta
sihir telah menenunnya. Baik yang berbakat maupun yang tidak, mereka
mempertaruhkan seluruh keberadaannya untuk mengembangkan sihir. Semakin luas
dasarnya, maka puncaknya pun akan semakin tinggi. Kamu mungkin memang jenius,
tapi ada batas untuk ketinggian yang bisa dicapai sendirian. Mungkin kamu yang
memandang rendah orang lain sebagai alat tidak akan pernah bisa
memahaminya."
"Mu-mustahil……! Mau berapa banyak pun sampah
berkumpul, mau berapa puluh ribu tahun waktu berlalu, apa yang bisa mereka
lakukan!? Bukankah itu semua hanya membuang-buang waktu!?"
"Kalau begitu, mau mencoba merasakannya? Esensi
sihir yang diciptakan oleh sejarah umat manusia."
Gumpalan api yang menyala di ujung jariku mulai berpusar
dan suhunya semakin meningkat.
Yang kuaktifkan adalah sihir tingkat rendah elemen
api, Fireball.
Ini adalah sihir yang sangat sederhana untuk
menciptakan api, namun dengan menggabungkan berbagai struktur mantra,
kekuatannya bisa meningkat tanpa batas.
Misalnya menggunakan angin untuk memperbesar api,
menahan penyebaran untuk meningkatkan kepadatan panas, memperlancar sirkulasi
mana untuk efisiensi, atau meningkatkan mana itu sendiri──
"Mustahil……
itu Fireball……!? Bo-bohong! Mana mungkin ada Fireball seperti
ituuu!"
Zeldiggs
sangat panik. Tentu saja, aku sendiri tidak akan bisa menciptakan Fireball
seperti ini sendirian.
Inilah tumpukan pengetahuan manusia, kristalisasi cinta,
dan ini adalah salah satu kepingannya.
"Coba saja tangkis kalau bisa. Jenius."
Begitu aku menggerakkan ujung jariku, gumpalan api itu
melesat menuju Zeldiggs.
Dia mencoba berubah menjadi wujud spiritual, namun hal
itu mustahil karena vitalitas dari buah World Tree, dia tidak punya pilihan
selain menangkisnya.
Zeldiggs mencoba memunculkan Magic Barrier untuk
menangkisnya, namun penghalang itu hancur berantakan sesaat setelah
bersentuhan.
Magic
Barrier yang
sangat rapuh. Dengan itu saja tidak akan bisa menahan sihir selevel
Fireball.
"UWAAAAAAAAAAAA!"
Jeritan Zeldiggs lenyap ditelan suara air laut yang
menguap.
◇
Di sekelilingku dulu hanya ada orang-orang bodoh.
Lagipula, hampir tidak ada monster yang bisa
berbicara bahasa manusia dengan benar, dan bukanlah hal yang aneh bagi mereka
untuk berkomunikasi hanya melalui raungan, isyarat tangan, atau perubahan
ekspresi.
Di tengah situasi seperti itu, aku yang menggunakan
kata-kata dianggap sebagai anomali dan menerima serangan yang hebat, bahkan
teman-teman sesama Slime pun menjauhiku.
Apa boleh buat. Seorang jenius memang sulit diakui
oleh sekelilingnya. Apalagi waktu itu aku belum punya kekuatan.
Karena itulah aku mempelajari sihir. Aku melihat buku
sihir atau alat magis yang ditulis seseorang, lalu menciptakan struktur mantra
versiku sendiri.
Kekerasan melalui sihir sangatlah efektif, monster
yang merundungku segera menghilang, dan sebaliknya mereka mulai memujaku
sebagai raja.
Meskipun aku merasa jengkel dengan betapa cepatnya
mereka berubah sikap, sebagai raja, aku merasa monster-monster bodoh itu cukup
lucu, dan aku memberikan sedikit sihir kepada mereka yang berbakat.
──Beberapa tahun berlalu, dan saat aku beranjak
dewasa, aku mulai bisa melihat bagaimana dunia ini terbentuk.
Sepertinya banyak monster yang tertindas oleh dewa
dan iblis, bahkan diburu oleh manusia.
Katanya tubuh monster bisa menjadi bahan yang bagus
jika dibongkar, sehingga monster-monster yang lemah tidak punya pilihan selain
melarikan diri ke bawah tanah.
Kenapa kami harus mengalami hal yang tidak adil
seperti itu? Karena itulah, aku memutuskan untuk melawan dengan kekuatan, sama
seperti dulu.
Meskipun musuhku adalah seluruh dunia. Untuk memberontak
terhadapnya, aku perlu menggunakan seluruh kekuatan yang kupunya.
Karena itulah aku mengumpulkan kebijaksanaan dan
kekuatan.
Pertama, pemahaman tentang monster secara keseluruhan;
tanpa menyatukan kekuatan seluruh monster, kita tidak akan bisa memberikan
perlawanan sedikit pun.
Sambil berkeliling meyakinkan mereka bahwa menciptakan
monster terkuat, Super Beast, adalah kunci untuk mencapainya, di saat yang sama
aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun altar penciptaan Super
Beast.
Selain itu, peningkatan kekuatanku sendiri adalah hal
yang mutlak, namun hal itu terselesaikan oleh seorang manusia yang tersesat di
Negeri Monster suatu hari nanti.
Dia adalah orang aneh di antara manusia, tipe yang
memberikan senyum kepada monster seolah-olah sedang berinteraksi dengan sesama
manusia.
Sepertinya dia adalah seorang Monster Tamer, dan katanya
dia bisa meningkatkan kekuatanku melalui kontrak.
Dengan ragu aku mencoba menjalin kontrak dengannya, dan
aku merasakan peningkatan kekuatan yang luar biasa.
Kupikir dia adalah orang yang hebat.
Dan dia juga orang yang baik.
Awalnya aku tidak memercayainya, tapi karena dia
sangat ramah, aku perlahan-lahan mulai membuka hati padanya.
Bagiku, dialah teman pertama yang bisa kuajak bicara
secara setara.
Begitulah, Festival Super Beast yang pertama kali
diadakan.
Seiring berjalannya pertandingan, struktur mantra
mendekati kesempurnaan, dan sesuai rencana, aku yang menjadi pemenang
seharusnya menjadi Super Beast──seharusnya begitu.
──Namun ritual itu berakhir dengan kegagalan.
Sistemnya sendiri berfungsi sesuai rencana, namun aku
sendiri…… tidak memperhitungkan karakteristikku sebagai Slime.
Karena jumlah mana yang sangat besar, penyerapan dan
adaptasi terus aktif tanpa henti, dan tubuhku berubah menjadi tsunami raksasa
yang menyapu segalanya.
Tentu saja, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk
menahannya.
Aku tidak ingin menelan teman-teman yang sudah membangun
struktur mantra ini bersamaku, juga dia yang sudah bertarung di sisiku.
Namun……
teman-temanku justru lari tunggang-langgang karena ketakutan, dan dia pun
menepis tangan yang kuulurkan untuk meminta pertolongan.
Jahat
sekali! Tolong aku! ……Semua kata-kataku itu diabaikan begitu saja oleh mereka.
Karena itulah, aku benar-benar tidak bisa memaafkan
mereka semua.
Ingatan kala itu melekat erat di sudut kepalaku dan tak
mau pergi.
Sadar-sadar, Negeri Monster sudah hancur, dan tubuhku
yang meluap ke permukaan dunia terus melebar demi melahap seluruh daratan ini.
Seluruh dunia menjadi musuhku, dan aku terus melawan
segalanya.
Lalu pada suatu saat, tiba-tiba aku menyadarinya.
Begitu ya. Karena aku seorang jenius, karena aku adalah
keberadaan yang tak mampu dipahami oleh para makhluk rendahan, maka semua orang
takut padaku.
……Kalau begitu biarlah. Aku sendirian saja sudah cukup.
Aku tidak butuh teman, sahabat, ataupun keturunan. Karena seorang jenius memang
ditakdirkan untuk menyendiri.
Jadi, sosok sepertimu sudah…… tidak kubutuhkan lagi……!
Sadar-sadar, permukaan air di depanku memantulkan
wajahnya, sosok yang dulu sangat kucintai.
Wajah itu tampak seolah sedang menangis.
Wajah yang sangat sedih. Aku segera menyadari bahwa
pantulan cermin itu adalah emosiku sendiri saat ini.
"Apakah
aku…… merasa sedih……?"
Melahap
teman, melahap sahabat, melahap keturunan yang mengagumiku…… Apakah kekuatan
yang akhirnya kugapai ini hanya sebatas bisa dikalahkan oleh satu orang manusia
saja? ……Tidak, bukan satu orang ya. Kristalisasi dari cinta dan kebijaksanaan
para penyihir yang lahir dalam sejarah panjanglah yang telah melampauiku.
Lapi──keturunanku
yang menjadi Super Beast kali ini.
Kalau
dipikir-pikir, dia juga dikucilkan oleh para monster sama sepertiku dulu.
Meski
begitu, dia tetap melindungi penonton, bertahan agar tidak menelan temannya,
bahkan menyebutku sebagai sosok yang malang.
Antara orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan
orang yang mengutamakan orang lain selain dirinya…… tak perlu ditanya lagi
siapa yang lebih pantas menjadi raja.
Dan aku justru telah membunuh sosok sepertinya……!
Saat aku menekan dadaku karena rasa sakit, gerakan kecil
itu membuat permukaan air beriak.
Di sana, terpantul sosok anak laki-laki penyihir yang tak
kukenal namanya.
◆
"Oi, oi, tidak bisa dipercaya. Makhluk ini masih
hidup."
"Padahal sudah terkena serangan itu…… vitalitas yang luar biasa ya."
Zeldiggs terduduk di permukaan laut sambil menatap
kosong ke arah air.
Meski begitu, tubuhnya sudah dipenuhi retakan besar
di mana-mana, dan proses kehancuran tampaknya sudah dimulai.
Vitalitas
yang didapat dari buah World Tree sepertinya sudah mencapai batasnya.
"Apakah
aku…… telah salah……? Jika aku memercayai teman, sahabat, dan keturunanku,
apakah hasilnya akan berbeda……?"
Aku
menjawab pertanyaan Zeldiggs yang bergumam dengan ekspresi hampa itu.
"Entahlah……
tapi kalau memang begitu, aku mungkin bisa lebih menikmatinya."
Kemampuan tempur sebagai Super Beast, karakteristik
monster, semuanya berada di standar yang tinggi.
Namun karena dia tidak membagikan sihir yang telah
susah payah diciptakannya kepada sekitar dan memilih untuk meremehkan
sekelilingnya, perkembangan sihir Zeldiggs pun terhenti.
Andai saja para monster mencintai sihir selama waktu
yang panjang ini, sihir yang tercipta di sini pasti akan memiliki variasi yang
jauh lebih kaya.
"Menikmatinya……
ya. Hahaha…… aku memang tidak bisa menang darimu."
Ekspresi
Zeldiggs yang tersenyum pahit tampak berbeda dari sebelumnya, seolah beban
berat yang merasukinya telah lenyap.
Lalu,
dari dalam tubuhnya yang hancur berantakan, muncullah──
"Pi!"
"Lapi!?"
Lapi
yang seharusnya tadi tertembak mati oleh Zeldiggs keluar dari sana.
Kupikir
dia sudah mati…… apa dia bangkit kembali berkat kekuatan buah World Tree?
"Apa kamu masih punya ingatan?"
"Pii……
aku tidak terlalu ingat-pi…… rasanya seperti baru saja bertarung dengan Lloyd,
tapi rasanya juga tidak-pi……"
"Berarti kamu sempat menyatu dengan Zeldiggs,
ya."
Begitu ya. Kupikir dia tertembak, tapi mungkin
sebenarnya dia hanya diserap saja.
Mungkin Zeldiggs menggunakan sisa kekuatannya untuk
membiarkan Lapi tetap hidup. ……Bisa dibilang ini adalah hadiah perpisahan
darinya.
Saat suasana sedang haru──Goon! Permukaan laut bergetar hebat.
"A……
k-kali ini apalagi yang terjadiiii!?"
"Lautnya
mengamuk hebat! Sepertinya terjadi gempa bumi besar!"
Gempa
bumi yang sangat kuat sampai terasa meski kami sedang melayang di udara.
Pulau
yang terlihat di kejauhan tenggelam, dan permukaan laut tampak amblas di
beberapa titik.
"G-gawat-pi!
Karena Super Beast telah musnah sepenuhnya, Negeri Monster akan
lenyap-piyo!"
"……Kalau
dipikir-pikir, Altar Super Beast itu tersebar ke seluruh Negeri Monster,
ya."
Altar
itu, yang terlihat hanyalah sebagian kecil saja; aslinya altar itu menyebar
seperti jaring di bawah tanah untuk mendapatkan mana dari seluruh monster.
Dan
bagian terbesar yang menyusunnya adalah tubuh Zeldiggs sendiri.
Oleh
karena itu, jatuhnya Zeldiggs menyebabkan altar itu musnah, dan
bangunan-bangunan dalam jumlah besar yang merupakan bagian dari Negeri Monster
itu pun ikut runtuh.
"Tapi
ya, kenapa cuma Negeri Monster yang lenyap bisa sampai gempa bumi sehebat
ini!?"
"Massa sebesar itu kalau tiba-tiba runtuh, kamu
pasti tahu kan apa yang akan terjadi pada permukaan dunia……!"
Benar, jika tercipta lubang raksasa di bawah tanah,
pengaruhnya ke permukaan dunia tidak akan terelakkan.
……Gawat. Jika dibiarkan, tanah akan amblas dan banyak
kota serta negara di permukaan akan musnah.
"Kita ke Negeri Monster. Kita harus mencegah
keruntuhannya."
Tidak ada waktu untuk bersantai. Aku terbang menuju Negeri Monster menggunakan Teleport.
◇
Negeri Monster yang kusinggahi keadaannya jauh lebih
kacau daripada yang ada di permukaan.
Langit-langit terus runtuh, dan bongkahan batu besar
maupun kecil jatuh tanpa henti.
Bangunan-bangunan roboh, dan retakan tanah tercipta di
mana-mana.
Mungkin ini juga disebabkan karena fondasi tanah yang
melonggar akibat Lapi yang membesar tadi.
"Ini……
sepertinya situasinya lebih gawat dari yang kukira-desu na."
"Iya, apakah Lloyd-sama pun bisa melakukan
sesuatu……"
"Tetap
saja harus dicoba. ──Earth Magic: Tremor Rock Fang: Creation."
Seiring
dengan rapalan mantra, tanah menyembul naik membentuk pilar-pilar batu yang
menusuk langit-langit.
Ini
adalah sihir yang mengintervensi bumi; aku menciptakan pilar penyangga dengan
memberikan pengarahan pada sihir tersebut.
Aku
terbang ke sana kemari sambil terus mengaktifkan sihir itu di berbagai tempat.
Keruntuhan di permukaan dunia bagaimanapun harus dicegah.
Begitu
jumlah pilar batu melampaui seratus, akhirnya keruntuhan di area sekitar
berhenti. Namun, jika hanya segini……
"Ini
baru sebagian kecil dari Negeri Monster-pi, tidak ada artinya kalau tidak
dilakukan ke seluruh wilayah-piyo!"
"……Muu."
──Dengan kecepatan seperti ini, aku tidak akan sempat
mengejar kecepatan runtuhnya tanah.
Aktivasi sihir pun ada batasnya.
"Kalau begini, bisa mencegah sepuluh atau dua puluh
persen keruntuhan saja sudah untung-desu ze!"
"Kita hanya bisa melakukan sesuatu untuk Saloum
saja. Sisanya, dengan sangat menyesal……!"
Grim dan Jiriel pun sudah memasang wajah menyerah.
Jika aku menaikkan seluruh tanah tanpa mempedulikan
akurasi mungkin akan sempat, tapi jika dilakukan dengan sembarangan, para
monster di sini dan permukaan dunia akan terkena dampak besar.
Meski itu adalah pilihan terakhir yang harus dilakukan──
"……Aneh-pi."
Lapi bergumam.
Aku pun baru menyadari kejanggalan itu sekarang.
"Benar, tidak ada monster di sini."
Banjir besar yang disebabkan Lapi tadi seharusnya
membawa dampak kerusakan yang masif.
Meski begitu, tidak ada monster yang seharusnya
terluka dan terkapar di mana pun.
"Benar-benar-pi! Jika situasinya seperti ini, mereka
seharusnya lari ketakutan-pi! Tapi aneh sekali kalau tidak ada satu pun orang
di sini-piyo!"
Kupikir mereka hanya tidak terlihat atau sedang
bersembunyi, tapi aku tidak merasakan hawa keberadaan mereka sama sekali.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Guncangannya mulai mereda-desu ze!?"
"Ada sesuatu yang bersinar di sebelah sana!"
Ke arah yang ditunjuk Grim dan Jiriel, terlihat pilar
cahaya yang menyilaukan.
Aku pernah melihatnya di suatu tempat. Kalau tidak salah
itu adalah……
"Cahaya kelahiran Super Beast……!"
"Ayo pergi!"
Kami terbang menuju ke arah cahaya tersebut.
Tanpa disadari, guncangan benar-benar telah berhenti.
◇
Di sekeliling pilar cahaya yang kami capai, banyak
sekali monster yang berkumpul.
Puluhan
ribu…… tidak, mungkin ratusan ribu.
"Pemandangan
yang luar biasa ya. Kalau dikatakan seluruh monster di negara ini berkumpul di
sini pun aku bakal percaya-desu ze."
"Semuanya menatap cahaya itu. Tunggu, jangan-jangan
itu……"
Saat aku menajamkan penglihatan ke dalam cahaya, yang ada
di pusatnya adalah──Alise.
Dengan mata terpejam dan rambut yang terurai dari
ikatannya, sosoknya yang membiarkan rambut emas cantiknya tertiup angin tampak
begitu mistis, seolah-olah dia tidak sedang bernapas.
Perasaan
ini…… jangan-jangan Alise sedang berubah menjadi Super Beast?
Seingatku
di buku yang pernah kubaca, tertulis bahwa untuk melenyapkan Super Beast adalah
dengan menciptakan Super Beast yang baru.
Alise menjadi Super Beast yang baru, dan altar pun
bangkit kembali.
Karena akar-akarnya kembali menancap di bawah tanah,
keruntuhan Negeri Monster pun terhenti…… jika dipikir begitu, semuanya jadi
masuk akal.
"Jadi maksudnya Kakak sekarang……"
"Sudah menjadi Super Beast……?"
Hanya itu kemungkinan yang terpikirkan.
Tapi apakah dia akan baik-baik saja?
Menurut struktur mantra yang kuanalisis, orang yang
menjadi Super Beast akan mendapatkan kekuatan dahsyat namun sebagai gantinya
dia akan bergerak mengikuti dorongan nafsu menghancurkan.
Apakah Alise juga akan menjadi seperti itu……?
"Kak Alise!"
Tanpa sadar aku melompat ke dalam cahaya dan
memanggilnya. Lalu──
"Oh, Lloyd."
Suara balasan terdengar dengan nada santai seperti
biasanya.
Ternyata dia benar-benar santai seperti biasa.
Kesadarannya masih utuh, dan dia tampak baik-baik saja.
Apa-apaan sih. Aku jadi merasa rugi sudah mencemaskannya.
"A-apakah
Kakak baik-baik saja?"
"Ya,
meski aku merasa ada kekuatan aneh yang meluap dari dalam diriku."
Alise
menatap tangannya sendiri dengan heran. Sepertinya fakta bahwa dia berubah
menjadi Super Beast itu benar adanya.
Apalagi,
dia tampaknya masih tetap seorang manusia di saat yang sama, dan wujud fisiknya
sepertinya tidak akan berubah lebih dari ini.
Bagaimanapun,
aku harus mendengar ceritanya.
"Anu,
Kak Alise. Boleh aku tanya apa yang sebenarnya terjadi?"
"……Ya,
tentu saja."
Setelah
berdeham kecil, Alise mulai bercerita.
"Setelah Lloyd pergi, aku menuju ke Negeri
Monster. Tujuannya adalah untuk menciptakan Super Beast yang baru demi
melenyapkan Super Beast yang ada saat ini."
Menurut
legenda, hanya ada satu Super Beast yang bisa eksis di dunia ini.
Begitu
yang kedua lahir, maka struktur mantranya akan saling meniadakan.
Pada akhirnya, aku memang mengalahkannya dengan cara
biasa, tapi momen saat Zeldiggs musnah dan Alise menjadi Super Beast mungkin
terjadi hampir bersamaan.
Lenyapnya Zeldiggs yang tadinya memiliki vitalitas
meluap-luap itu bisa jadi juga dipengaruhi oleh hal ini.
"Begitu ya. Tapi, bagaimana Kakak bisa menjadi Super
Beast? Caranya?"
"Begitu sampai di sini, aku melihat pemandangan yang
sangat memilukan. Banyak monster yang terluka dan terkapar, kondisinya
benar-benar buruk…… Karena itu, demi menolong mereka, aku menjalin kontrak
dengan semuanya. Tahu-tahu, aku sudah diselimuti cahaya dan sampai pada titik
ini."
──Aku terdiam seribu bahasa.
Monster yang ada di sini jumlahnya ratusan ribu
lebih, dan dia menjalin Familiar Contract dengan semuanya dalam waktu
singkat?
"Menjalin Familiar Contract yang
mengonsumsi mana dalam jumlah besar tanpa memakan banyak waktu, apalagi dengan
jumlah sebanyak ini…… benar-benar sulit dipercaya-desu ze."
"Tidak, jika tingkat kesukaan pihak monster
tinggi, sang perapal tidak akan mengonsumsi banyak mana. Ini pasti karena Kak
Alise sangat dicintai oleh mereka."
Memang benar beban perapal akan berkurang jika pihak
monster memiliki rasa suka, tapi tetap saja mustahil mengumpulkan rasa suka
dari monster sebanyak ini dalam waktu singkat.
Apa dia menggunakan perubahan sifat sihir yang
ekstrem?
Sesuatu yang begitu kuat hingga membuat siapa pun
yang mendekat langsung bersujud patuh……
Tindakan seperti itu bahkan mustahil bagiku.
Benar-benar teknik seorang jenius.
"Jadi maksudnya, Kakak menjadi Super Beast
karena telah diakui oleh seluruh monster…… tapi kenapa wujudnya tetap manusia?
Super Beast adalah raja para monster, asalnya manusia tidak mungkin bisa
menjadi itu…… Hmm?"
Saat aku mengamati lebih teliti, struktur mantra pada
altar sedikit berubah.
Itu adalah perubahan sangat kecil yang tidak akan
disadari jika tidak dibaca dengan saksama.
Begitu aku membedahnya, ternyata kekuatan dahsyat
yang seharusnya diberikan saat proses menjadi Super Beast telah dibuat hampir
menghilang.
Dengan begini, tidak akan ada risiko mengamuk.
Sebagai gantinya, penggunanya mendapatkan karisma
yang sangat kuat agar para monster bisa berkumpul di bawah pimpinan Super Beast
dan bertarung sebagai satu kesatuan……
Kemungkinan Zeldiggs-lah yang melakukannya.
Dia memeras sisa kekuatan terakhirnya demi masa depan
para monster──si brengsek itu, ternyata dia memenuhi tugasnya dengan gagah di
akhir hayatnya.
Saat aku sedang tenggelam dalam haru, Alise tiba-tiba
mendekatkan wajahnya.
"Sekarang giliran aku yang bertanya. Bagaimana
kamu tahu tempat ini? Terlebih lagi, kamu terbang ke sini dengan kecepatan luar
biasa, bagaimana caramu melakukannya?"
……Gawat. Sebagai seorang adik yang "sekadar suka
sihir", kemampuanku yang sekarang ini terlalu mencurigakan. Karena datang
terburu-buru, aku lupa menyembunyikannya.
"E-eh, itu…… benar! Saking khawatirnya pada Kak
Alise, aku jadi nekat, lalu tanpa sadar kekuatan misterius dalam diriku
bangkit…… mungkin?"
"Jiiiii……"
Ugh,
tetap dicurigai ya…… tapi aku tidak punya alasan lain.
Alise
menatapku yang terpojok dan bungkam, lalu tiba-tiba wajahnya menjadi cerah.
"Begitu ya! Itu Cinta!"
Aku tertegun sejenak.
Masih saja orang ini bicaranya aneh-aneh…… meski begitu, aku langsung menyambar kesempatan itu.
"Be-benar!
Itu cinta. Cinta!"
"Ya, cinta. Tak salah lagi, itu adalah cinta.
……Fufu, lagipula aku senang akhirnya Lloyd mulai memahami apa itu cinta. Kasih
sayang kakak, dan adik yang menjawabnya…… rasanya sedikit terlarang, tapi tidak
apa-apa karena ini sehat, kan!? ……Tapi mungkin sedikit saja tidak buruk…… Ah, tidak tidak,
kita ini kan bersaudara!"
Alise mulai menggumamkan sesuatu yang aneh.
Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya tidak ada
yang perlu dikhawatirkan.
Cinta,
ya…… yah, memang benar aku bisa sampai di sini karena kecintaanku pada sihir,
jadi alasannya tidak sepenuhnya asal-asalan. Yah, syukurlah dia sudah merasa
puas dengan jawaban itu.
◆
"──Selesai!
Mahakarya terbaikku!"
Suara
sorakan gembira itu datang dari Holy King.
Dia
duduk di atas batu dengan pakaian compang-camping dan tubuh penuh luka karena
sempat terjebak dalam banjir besar tadi.
Namun,
daripada memedulikan "hal sepele" itu, dia justru tergerak oleh
inspirasi kuat setelah melihat kelahiran Super Beast baru, hingga ia menulis
skor musik seolah kerasukan.
Lagu
sihir yang ia ciptakan itu berjudul Ou taru Uta (Song of the King).
"Mau
langsung mendengarnya? Gizagiza-kun, Jigro-n!"
"……Terserah
kau saja," sahut Guisarme dengan wajah kesal.
Jigro mengangguk ragu sambil gemetaran.
Namun sebelum mereka selesai menjawab, Holy King
sudah menyiapkan biolanya seolah tidak sabar.
"Baiklah, aku mulai. ──♪"
Maka terciptalah melodi yang agung.
Kepekatan suara yang rasanya mustahil dihasilkan
hanya dari satu biola, sebuah banjir suara yang penuh dengan kekuatan persuasi
yang mendalam. Tanpa sadar, Jigro meneteskan air mata dan bersujud.
Rasanya benar-benar seperti sedang menyaksikan
kelahiran sang Super Beast secara langsung.
"……Bagaimana?"
"Luar
biasa…… luar biasa sekali! Tuan Holy King! Tak disangka Anda punya keahlian
sehebat ini!?"
"Hahaha, kata 'tak disangka' itu berlebihan tahu. Justru inilah bakat asliku!
……Lalu, bagaimana pendapat Gizagiza-kun?"
Ditanya
oleh Holy King, Guisarme menjawab──
"Payah."
Dia
langsung mematahkannya begitu saja.
"Eeeh!?
Tapi, tapi ini luar biasa lho! Tuan Guisarme! Tidak mungkin payah……"
"Pemahamannya
sudah lebih dari sekadar di permukaan. Tapi hanya sampai di situ. Nilai aslimu
tidak ada di 'sana'. Lagu yang hanya sekadar bilang 'indah' saat melihat hal
yang indah itu ada di mana-mana. Kau pasti punya sesuatu yang hanya bisa
dilakukan olehmu sendiri."
Ekspresi Guisarme saat mengatakan itu sangat serius.
Jigro segera menyesali kedangkalan pemikirannya sendiri.
Memang benar itu lagu yang hebat, namun Guisarme menuntut
lebih dari itu kepada Holy King. Itu artinya, ia sangat menghargai kemampuan
pria tersebut.
"Kau tidak cocok menjadi 'Raja'. Carilah jalan
lain."
"Cih."
Dan Holy King pun memahami maksud perkataannya. Meski
agak menyimpang, Jigro merasakan adanya ikatan kepercayaan yang kuat di antara
mereka. Menjadi
kuat sekaligus memercayai kawan, dan dipercaya…… apa yang paling dikagumi oleh
Jigro ada di sana.
"Yah,
harus cari bahan baru lagi, deh."
"Hmph,
lain kali perdengarkanlah lagu yang sedikit lebih mendingan."
Melihat
keduanya yang mulai meninggalkan Negeri Monster, tanpa sadar Jigro pun bergegas
mengikuti mereka.
◆
Maka
guncangan tanah pun mereda, dan monster-monster yang mengamuk di permukaan
kembali ke tempat asal mereka.
Albert
dan yang lainnya sempat bingung dengan kejadian mendadak ini, namun begitu
semuanya tenang, kehidupan damai pun kembali.
Tapi
aku tahu. Saat ini, di dalam Kastil Saloum, sedang terjadi perubahan yang
sangat mengerikan──
"Kak Alise! Di mana Anda!?"
Aku
memanggil Alise di Menara Taman Miniatur. ……Tidak ada jawaban. Apa mungkin dia
ada di sana lagi?
"Iyaaa!"
Terlambat
beberapa saat, suara terdengar dari bawah tanah.
Sudah kuduga. Aku menghela napas dan membuka pintu
rahasia. Di bawah pintu yang tersembunyi di balik semak-semak, terdapat lubang
besar dengan alat komunikasi berbentuk terompet di sisinya.
Ini adalah alat sihir buatan Connie yang bisa digunakan
untuk berbicara dengan orang di tempat jauh. Dengan kata lain, Alise sedang
berada di Negeri Monster.
"Apa Kakak di sana lagi? Kak Albert memanggil lho.
Katanya pesta teh akan segera dimulai."
"Oh, benarkah? Aku segera ke sana."
Sesaat setelah suara santainya terdengar, tanah di kakiku
bergetar. Lalu, doon! Dari pintu rahasia lainnya, Alise meluncur keluar
menunggangi Rill.
Daya lompatnya meningkat lagi ya. Apa ini pengaruh Alise
menjadi Super Beast?
──Ya, saat ini bawah tanah kastil sedang mengalami
renovasi besar-besaran di bawah tangan Alise.
Karena dia telah menjadi Super Beast yang harus
berinteraksi dengan Negeri Monster, lubang-lubang raksasa sedang digali di
berbagai tempat.
Sepertinya orang-orang sekitar belum menyadarinya, tapi
di bawah tanah juga ada fasilitas penelitian yang dulu kugunakan.
Aku berusaha mengarahkan mereka agar tidak ketahuan, tapi
aku selalu was-was kalau-kalau suatu saat mereka akan membentur tempat itu.
"Sudah lama tidak jumpa-pi. Lloyd."
"Senang melihatmu sehat, Lapi."
Dan Lapi saat ini menjabat sebagai raja di Negeri
Monster.
Sebagai famili dari Alise yang telah menjadi Super Beast,
dia diakui sebagai raja.
Raja aslinya adalah Alise sang Super Beast, namun karena
dia juga anggota keluarga kerajaan Saloum, dia tidak bisa terlalu sering pergi
ke bawah tanah, jadi dia menunjuk seorang wakil.
Yah, kenyataannya dia sering sekali ke sana, sih…… tapi
aku juga mirip dengannya, jadi aku tidak bisa banyak protes.
"Fuu, untunglah, aku memang baru mau
istirahat."
"Sepertinya sibuk sekali ya. Benar-benar."
"Iya, tapi hal seperti ini sangat menyenangkan
bagi kusemuanya."
"Pi!"
Bagaimanapun, baik Alise maupun Lapi memiliki wajah
yang tampak puas.
Mereka berdua sekarang sedang mengerahkan seluruh
tenaga untuk membangun kembali Negeri Monster di bawah tanah.
Super Beast adalah raja para monster, dan seorang
raja harus berbakti kepada rakyatnya; sepertinya begitu prinsipnya.
Ngomong-ngomong, dia sangat aktif berpartisipasi
dalam pesta teh juga demi mempelajari manajemen negara dan kebutuhan publik
dari Albert dan yang lainnya.
Dia bahkan giat belajar hal-hal yang dulu tidak
pernah ia lirik dan langsung mempraktikkannya; sosoknya benar-benar seperti
orang yang berbeda.
Berkat itu, pemulihan Negeri Monster berjalan pesat,
dan hari di mana kota yang lebih megah dari sebelumnya berdiri mungkin sudah
tidak jauh lagi.
Sebagai sisi manusia, aku sedikit merasa was-was, tapi
kalau Alise yang melakukannya, pasti akan berjalan lancar. Mungkin.
"Kalau begitu Lapi, sisanya aku serahkan padamu
ya?"
"Tentu saja-pi!"
"Kuun!"
"Rill,
tolong juga ya."
Rill
yang membawa Lapi kembali turun ke bawah tanah.
Setelah mengantar mereka dengan pandangan mata
sejenak, Alise mengibaskan roknya dan tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita pergi, Lloyd."
Punggungnya terlihat jauh lebih besar dari sebelumnya.
Itu adalah punggung megah dari seseorang yang memikul
tanggung jawab. Aku terpaku sejenak melihat sosok itu.
"Yah, memang benar kedudukan bisa membentuk
kepribadian seseorang, dia hebat juga. Mungkin tindakannya sekarang juga
bertujuan untuk menjadi contoh bagi Lloyd-sama, ya."
"Iya, sungguh kasih sayang kakak adik yang mulia.
Terlepas dari itu pun, Kak Alise pasti akan menjadi raja yang luar biasa."
Grim dan Jiriel tampak manggut-manggut setuju. Entah
apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya mereka senang.
Jadi
raja, ya…… kalau bisa melakukan segalanya sesuka hati seperti itu, mungkin
tidak buruk juga. Tidak deng, aku lebih cocok meneliti sihir dengan
bebas sesuai kata hati.
"Duh Lloyd, jangan melamun saja, cepat kemari! Ada
banyak hal yang butuh bantuanmu!"
"Eeeh, aku juga!? ……Haaa, baiklah. Kak Alise."
Dipanggil oleh suara yang penuh semangat itu, aku pun
mulai berlari. Melihatku, Alise tersenyum dengan sangat puas.



Post a Comment