NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 10 Part 3


Saat babak kedua berakhir, hari sudah benar-benar gelap.

Ketika malam tiba, lumut bercahaya yang tumbuh di langit-langit bawah tanah akan kehilangan cahayanya.

Ngomong-ngomong, Tao menyelinap kembali saat pertandingan Lapi berlangsung.

Dia berpura-pura menjadi monster dengan menutupi tubuhnya dengan tanaman liar di sekitar sana.

Anehnya tidak ada yang sadar, dan Conny sedikit terkejut melihat solusi yang sangat primitif itu.

Yah, yang lebih terkejut lagi adalah Tao yang kalah.

Sepertinya dia bertemu lawan yang salah.

Walaupun dia tertawa untuk menutupinya, sepertinya dia sangat menyesal karena tidak bisa bertarung melawan Sylpha.

Bagaimanapun, hari telah berakhir.

Semua orang yang kelelahan langsung tertidur lelap setelah selesai makan.

"……Nn."

Di tengah malam itu, aku tiba-tiba terbangun.

Malam tanpa bulan terasa sunyi yang mencekam.

"……Lho? Lapi tidak ada?"

Saat aku memeriksa tenda, sosok Lapi tidak terlihat.

Kira-kira dia pergi ke mana ya?

Kalau diingat-ingat, dia tadi terlihat sangat murung. Mungkin dia sedang menyendiri di suatu tempat.

"Huaaa…… ada apa Lloyd-sama…… di tengah malam begini……?"

"Munya…… oya, Lapi tidak ada. Jangan-jangan dia memikirkan hal yang tidak-tidak……?"

Aku tidak tahu pastinya, tapi aku sudah terlanjur bangun.

Mari kita cari sebentar. Saat aku memindai sekitar dengan Magic Detection…… ketemu.

Setelah menemukan keberadaan Lapi, aku berjalan ke arah tersebut.

Di dekat koloseum, aku menemukan Lapi yang sedang duduk merenung di atas batu.

"Oh, itu dia. Oii, Lapi……"

Saat aku hendak memanggilnya, aku menyadari sesuatu. Lapi sedang berbicara dengan seseorang. Bayangan itu, jangan-jangan……

"Itu…… si bajingan Drol-Mage!"

"Padahal seharusnya dia terpental jauh oleh Lloyd-sama, tapi sepertinya dia berhasil kembali!"

Drol-Mage merayap mendekati Lapi.

Namun sepertinya kembali ke sini adalah batas kemampuannya, dia tidak lagi memiliki sisa tenaga. Napasnya tersengal-sengal saat dia memohon pada Lapi.

"Kenapa…… kenapa Slime sepertimu bisa bertahan sampai sejauh ini…… Kami kaum Drol yang merupakan ras lemah telah memperoleh kekuatan hingga level ini dengan menyerap sesama kami. Bukan hanya kami. Semua ras telah menggunakan segala cara demi memenangkan Festival Super Beast. Itu semua agar ras Slime seperti kalian tidak menang……! Tapi kenapa, kenapa kau yang masih bertahan!?"

"Aku tidak tahu-ppi!"

"Jika kau menang, kawan-kawanku, mereka yang kalah tidak akan tenang……! Slime menjadi Super Beast adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi……!"

"Aku…… aku……"

"Gobo…… kau…… harus kalah……"

Setelah mengatakan itu, Drol-Mage meleleh dan menghilang.

Sepertinya dia telah kehilangan seluruh kekuatannya.

"Super Beast adalah sosok yang memimpin semua monster, jadi tentu saja mereka tidak mau menyerahkannya pada ras lemah seperti Slime…… begitu?"

"Itulah sebabnya dia begitu dibenci. Tapi menurut saya, Lapi sudah menunjukkan kekuatan yang cukup lumayan di tahap ini."

Grim dan Jiriel memiringkan kepala mereka.

Tugas Super Beast adalah mengamuk agar manusia takut pada monster.

Kalau begitu, selama punya kekuatan, seharusnya ras apa pun tidak masalah. Sampai bersikeras tidak mau membiarkan Slime yang melakukannya, apakah ada alasan lain?

"Meskipun menang di pertandingan aku tetap dibenci, bahkan sampai dikutuk begitu…… Aku, apakah Slime memang tidak seharusnya menang-ppi……?"

Lapi menggumamkan sesuatu, tapi aku terlalu sibuk menyusun pikiranku sendiri sehingga tidak mendengarnya.

Dari kata-kata Drol-Mage, aku merasakan kebencian yang mendalam terhadap Lapi, atau lebih tepatnya terhadap seluruh Slime.

Terlebih lagi, bukan hanya dari Drol, tapi dia dibenci oleh semua monster……?

Festival Super Beast, ya. Sepertinya masih ada rahasia di balik semua ini.

"Baiklah! Baiklah, baiklah! Festival Super Beast akhirnya sampai di babak semifinal! Izinkan saya memperkenalkan para pemain yang berhasil bertahan sampai sejauh ini!"

"OOOOOOOO!" Sorakan besar membahana, memuji kami para pemain.

"Pertama, pahlawan dari ras naga, Naga Hitam Zigurooooo! Tubuh raksasa yang mendominasi, dan juga daya tembak! Ditambah lagi kekuatan fisik! Kuat karena kesederhanaannya! Akankah dia berhasil menggenggam kemenangan di tangannya!?"

"Ziguro! Ziguro! Ziguro!"

Pemain paling populer tetaplah Ziguro, ya.

Bagaimanapun juga, ras naga itu memang mencolok.

Tentu saja popularitasnya di antara monster sangat luar biasa.

Meskipun kepribadian aslinya terasa sangat menyedihkan.

"Berikutnya, Dewa Pedang dari kaum Ogre, Ogre Looord! Siapa bilang dia cuma bodoh yang mengandalkan tenaga!? Teknik pedang dari empat lengannya benar-benar seperti Ashura! Terlebih lagi, dia belum menunjukkan kemampuan aslinya selama turnamen ini! Apakah di semifinal dia akan menunjukkan gaya empat pedang!? Harapan sangat tinggi!"

"Gue nungguin ilmu pedang keren kayak kemarin! Pak Ogre Lord!"

Sylpha yang menyamar menjadi Ogre Lord hanya terdiam seribu bahasa.

Isinya kan cuma punya dua tangan.

Secara logika, gaya dua pedang adalah batasnya.

Lagipula, jangan sampai kau menang melawan Lapi, ya.

"Bintang yang paling diperhatikan di turnamen kali ini! Majin dari kaum Drol, Drol-Mageeee! Meski mengaku sebagai penyihir, daya hancur pukulannya adalah yang nomor satu di turnamen! Awalnya penonton mengejek gaya bertarungnya yang selalu muncul mepet waktu dan menyudahi lawan dengan satu pukulan, tapi kini popularitasnya melonjak tajam karena kekuatannya yang luar biasa!"

"Uooooooo! Tunjukin satu pukulan lagi buat gueeee!"

Sorakan yang jauh lebih besar tertuju padaku. Awalnya hanya cacian, tapi sekarang suara dukungan jelas lebih banyak.

Padahal aku datang hanya untuk mencicipi sihir mereka, tapi ujung-ujungnya malah tidak kena.

Yah, tapi lawan berikutnya, Ziguro, sepertinya punya sihir yang menarik, jadi sepertinya patut dinantikan.

"Dan kemudian, terakhir, mutasi tak terduga yang muncul dari ras Slime! Pemain Lapiiiii!"

"Cepat mampus sana! Dasar Slime sialan!"

"Kenapa sampah kayak lo bisa bertahan, sih!"

"Siapa pun tolong cepat kalahin dia! Hajar sampai babak belur Slime terlemah ituuuu!"

Seketika, ejekan masif yang menenggelamkan sorakan untuk kami menyelimuti arena.

Teriakan itu bahkan terdengar seperti sebuah permohonan.

"Harap tenang! Harap tenang! Saya sangat mengerti perasaan hadirin sekalian, tapi Festival Super Beast adalah upacara yang suci! Semua monster memiliki kesempatan yang sama! Tolong tahan diri! Harap tahan diriiii!"

Pembawa acara mencoba membela Lapi, tapi tetap saja dia terlihat memihak monster lain. Bahkan pembawa acara yang seharusnya netral pun begini.

Sepertinya diskriminasi terhadap Slime jauh lebih dalam dari yang dikatakan Lapi.

Atau lebih tepatnya, bukannya benci, tapi aku merasa ada emosi yang lebih dekat dengan rasa takut.

Pasti ada alasannya, tapi saat ini aku tidak punya cara untuk mengetahuinya.

"Ehem! Ba-bagaimanapun juga! Mari kita mulai babak semifinal! Pertandingan pertama adalah pemain Ziguro melawan pemain Drol-Mage! Baiklah, pertandingan pertama semifinal, dimulai!"

Sorakan yang jauh lebih besar meledak, dan pertarungan pun dimulai.

Ziguro yang berhadapan denganku mulai bergumam dengan tidak percaya diri sambil memalingkan wajah dariku.

"Ha-halo…… hehehe…… jujur saja aku tidak menyangka bisa menang, tapi kalau tidak kulakukan aku akan dibunuh……"

"Kamu masih saja penakut ya. Padahal punya tubuh sebesar itu, sayang sekali."

"Di sekitarku banyak orang kuat…… makanya aku jadi sensitif terhadap rasa takut. Aku merasakan aura yang lebih mengerikan darimu dibanding dari Gizarm-san…… Aku tidak akan bilang karena dia pasti marah, tapi kekuatan murni kalian jelas tidak bisa dibandingkan. Sejujurnya aku benar-benar tidak mau bertarung melawanmu. Sumpah, deh."

Dia sudah ketakutan sebelum bertarung.

Apa tidak apa-apa begitu?

Apa dia bisa memuaskanku?

Aku bakal repot kalau dia tidak menyerang dengan serius.

"Iya, iya, gue ngerti kok Ziguro. Tingkat kengerian Lloyd-sama itu sudah terjamin. Mending lu nyerah aja sebelum luka parah demi kebaikan lu sendiri."

"Itu adalah pilihan bijak. Entah itu Gizarm atau siapa pun, kelasnya sudah terlalu beda jauh dengan Lloyd-sama. Gue nggak bermaksud buruk, mending mundur aja."

Grim dan Jiriel mengangguk-angguk dengan perasaan senang.

Namun saat itu, di kedalaman mata Ziguro yang menunduk, muncul kilatan cahaya yang tajam.

"Tapi ya, Gizarm-san itu sangat menakutkan. Kalau ditatap dengan mata penuh tekanan itu, aku jadi tidak bisa bicara apa-apa. Aku saja sampai ngompol saat pertama kali melihatnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku kalah, tapi kalau aku tidak bertarung aku pasti akan mengalami nasib yang lebih buruk…… karena aku tahu itu, makanya aku terpaksa harus bertarung……"

"Hmm, aku tidak peduli sih, tapi kenapa kamu tidak lari saja? Tipe orang seperti dia tidak mungkin akan repot-repot mengejarmu."

Fokus Gizarm hanyalah padaku.

Acara kali ini hanyalah level hiburan, aku tidak merasa dia akan mengejar Ziguro sampai ke ujung dunia jika dia melarikan diri.

Namun Ziguro menjawab kata-kataku dengan senyum yang tampak seperti mengejek dirinya sendiri.

"Aku merasa tidak bisa lari…… tapi selain rasa takut, aku juga sangat menghormati orang itu. Keberaniannya menghadapi orang yang lebih kuat darinya, kemauan kuatnya untuk melakukan apa pun demi tujuannya…… apakah itu yang disebut rasa kagum? Awalnya aku ketakutan, tapi sekarang aku bersamanya karena keinginanku sendiri. ……Ah, tolong rahasiakan ini ya karena aku bisa dibunuh kalau ketahuan!"

Ziguro menyatukan kedua tangannya dan menunduk seolah memohon.

……Hmm, begitu ya. Sepertinya perasaannya pada Gizarm bukan sekadar rasa takut saja.

"……Lagipula, aku sudah diajari kelemahanmu dengan sempurna."

"Apa?"

Tepat saat aku bertanya keheranan, Grim dan Jiriel yang melayang di sampingku tiba-tiba lenyap. Saat aku melihat, ternyata keduanya sudah berada di dalam genggaman kedua tangan Ziguro.

"A-apa-apaan!? Sejak kapan kita pindah ke tangan si bajingan ini!?"

"Hanya sekejap mata! Bahkan kami tidak menyadarinya…… d-dan lagi, tenaganya kuat sekali! Kami tidak bisa lepas!"

Keduanya panik karena kejadian yang tiba-tiba itu.

Mereka dipindahkan dari sampingku dalam sekejap dan tertangkap.

"Lloyd-san, meski kamu terlihat cuek, sepertinya kamu adalah tipe orang yang cukup peduli pada kawan-kawanmu. Keahlianku adalah membaca raut wajah orang. Walaupun kamu berpura-pura tidak punya emosi, aku bisa tahu. Dari mata dan ekspresimu, aku bisa merasakan amarah karena familiar-mu direbut. ……Sekarang kamu jadi sulit menyerang, kan?"

"Spatial Teleportation…… bukan, ini Summoning, ya?"

"Luar biasa…… Padahal aku cuma memperlihatkannya sesaat di pertandingan sebelumnya, tapi kamu sudah tahu identitasnya. Pantas saja Gizarm-san sangat waspada. ……Ya, tebakanmu benar. Yang kugunakan adalah rumus sihir Summoning. Benda ini bisa memanggil apa pun ke tempat ini. Yah, aku tidak bisa memanggil benda yang terlalu besar, tapi ini rumus sihir yang sangat praktis."

Karena Grim dan Jiriel saat ini seukuran telapak tangan, makanya mereka bisa tertangkap.

Terlebih lagi dengan tenaga yang menekan keduanya, sepertinya mustahil bagi mereka untuk lepas.

"Sial! Gue ceroboh! Hajar aja dia tanpa peduliin kami, Bos!"

"Benar! Kami bukan orang yang bakal kalah dari kacung macam dia!"

Di depan wajah keren mereka berdua, Ziguro mendekatkan api hitam.

"GYAAAAAA! P-PANAAAAAAS!"

"S-sayap saya terbakar!"

Seketika itu juga suara minta tolong keluar dari mulut mereka. Ya ampun, kalian berdua menyedihkan sekali... padahal tadi sudah bicara besar, berusahalah sedikit.

"Tidak ada gunanya, Lloyd-san. Api hitam yang kupanggil dari Dunia Iblis ini adalah manifestasi dari mana bumi yang menyembur keluar. Api ini akan membakar habis mana itu sendiri…… bagi mereka yang merupakan makhluk mana, ini adalah rasa sakit yang tak tertahankan…… Ops, jangan gerakkan satu jari pun, jangan pakai satu rumus sihir pun. Kalau kamu berani melakukannya, kamu tahu kan apa yang akan terjadi pada mereka berdua……?"

Melihatku yang menghela napas, Ziguro buru-buru menambahkan kata-katanya.

Sepertinya rencanaku untuk menolong mereka diam-diam sudah ketahuan.

Karena sifatnya yang penakut, dia sepertinya tidak akan lengah.

Lawan yang cukup merepotkan secara halus.

Terpaksa aku melipat tangan dan memejamkan mata.

"Waduh!? Apa yang terjadi!? Keduanya hanya saling bicara dan tidak bergerak sama sekali!? Pertandingan sudah dimulai sejak tadiii! Cepatlah bertarung kalian berduaaaa!"

"Hehehe, sepertinya semua orang sudah tidak sabar ya. Kalau begitu mari kita mulai pertarungan sepihak ini──"

Ziguro mengangkat ujung jarinya. Yang melesat keluar dari ujungnya adalah api hitam.

Sesuai perkataannya, bola api hitam yang dilepaskan mengincar wajahku yang tidak bergerak sedikit pun.

Bola api itu terbang lurus dan meledak tepat di depan mataku.

"……Lho, lho?"

Dengan wajah heran, Ziguro melepaskan apinya sekali lagi…… tapi itu sia-sia.

Sepertinya itu api yang luar biasa, tapi tidak cukup untuk menembus Magic Barrier-ku.

Tapi sepertinya benar kalau api itu tidak bisa padam, api yang meledak tadi terus membakar permukaan barrier-ku.

"M-mustahil……! Bahkan Api Neraka tidak bisa menembusnya……! Apa yang sebenarnya terjadi……?"

"Heh! Api itu terhalang oleh Magic Barrier yang selalu aktif menyelimuti Lloyd-sama. Dengerin ya, biar kata Api Neraka, pertahanan beliau nggak bakal jebol cuma gara-gara api sekecil itu!?"

"Barrier Lloyd-sama terdiri dari puluhan lapis, dan akan aktif kembali secara otomatis begitu hancur! Orang yang bisa menembus ini di permukaan bumi hanya bisa dihitung dengan jari!"

"Begitu ya, Magic Barrier…… Kalau begitu tolong lepaskan pertahanan itu. Kamu bisa kan?"

"Ah……"

Mendengar itu, wajah Grim dan Jiriel memucat. Sepertinya Ziguro tidak sadar kalau penyebab apinya tidak bisa membakar tubuhku adalah Magic Barrier.

"S-sial…… Maafin gue Lloyd-sama! Kami nggak sengaja keceplosan hal nggak penting tadi……"

"Uugh, saya hanya terus menjadi beban, saya benar-benar malu…… rasanya saya ingin melakukan harakiri untuk menebus kesalahan ini……"

Melihat mereka yang meminta maaf dengan penuh sesal, aku menggelengkan kepala.

"Jangan khawatir kalian berdua. Tanpa disuruh pun, sejak awal aku memang berniat melepaskannya. Lagipula, cara terbaik untuk memastikan kehebatan api hitam itu adalah dengan merasakannya langsung di tubuhku sendiri, kan?"

Tadi aku menahannya dengan Magic Barrier, tapi karena api itu tidak menggunakan rumus sihir, aku jadi kurang paham detailnya.

Walaupun itu fenomena alam, cara terbaik untuk mengetahui sifat detailnya adalah dengan merasakannya secara langsung.

"Ja-jangan……! Cuma api ini yang nggak boleh! Api Neraka yang membakar segalanya, terlalu bahaya buat dirasain langsung, Bos!"

"Benar! Sehebat apa pun Lloyd-sama, sekali terkena api ini, ia tidak akan bisa padam!?"

……Mendengar itu, aku malah jadi semakin penasaran.

Sambil menahan rasa antusias, aku melepaskan Magic Barrier-ku.

Barrier mana itu pun lenyap dan membubarkan diri. Nah, sekarang sudah tidak ada lagi yang menghalangi serangannya ke tubuhku.

"Ayo, tembaklah. Ziguro."

"……Kamu ini aneh ya. Aku jadi paham kenapa Gizarm-san sangat terobsesi padamu. Kalau begitu biarkan aku mencobanya. Apakah kata-katamu itu cuma gertakan atau bukan!"

Ziguro yang sempat terperangah segera memantapkan diri dan melepaskan api hitamnya.

Api itu terbang lurus dan menyentuh ujung kakiku.

Seketika itu juga, GOOOO!

Api itu membara dan menjalar ke seluruh tubuhku.

"Lloyd-samaaaadd!"

"Uoooooo! Kurang ajar kauuuuu!"

Raungan duka dari Grim dan Jiriel bergema.

"Fuhah! Fuhahahaha! Benar-benar dimakan mentah-mentah tanpa pertahanan! Api hitam sudah membakar habis seluruh tubuh Lloyd-san. Kalau sudah begini, cara apa pun tidak akan bisa memadamkannya! Kamu akan terbakar hingga habis! ……Jujur saja aku masih sulit percaya, tapi akulah pemenangnya! Aku berhasil, Gizarm-san! Aku sudah melaksanakan perintah Anda dengan sempurna!"

Ziguro pun menari-nari kegirangan merayakan kemenangannya.

Namun, dia segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

"Tsk!? Ma-mustahil……?"

"……Begitu ya. Jadi ini Api Neraka. Sepertinya bahan bakarnya adalah mana. Itulah sebabnya api ini tidak akan padam sampai korbannya terbakar habis……"

Aku bergumam di tengah selimut api hitam yang membara di sekujur tubuhku.

Untuk api bisa membakar, oksigen diperlukan.

Tapi api hitam yang menyembur dari mana bumi ini sepertinya menggunakan mana target sebagai bahan bakarnya.

Itulah alasan kenapa api ini tidak padam meski terpental oleh Magic Barrier.

Dan alasan kenapa api ini tidak terlalu menjalar luas adalah karena barrier terluarku yang bernama Breeze Barrier adalah pertahanan yang hampir tidak disusun menggunakan mana.

Fumu, dunia ini memang penuh dengan fenomena yang menarik.

Aku sudah diperlihatkan sesuatu yang bagus.

"Nggak mungkin, kan!? Diselimuti seluruh tubuh oleh Api Neraka yang tak pernah padam, kenapa kamu bisa memasang wajah setenang itu sih!?"

"Ini sihir penyembuhan (Healing). Selama aku menyembuhkan tubuh yang terluka secepat api itu membakarnya, aku bisa mengobservasi sifatnya perlahan-lahan sambil menerima serangan."

Sihir penyembuhan memang tidak bisa menyembuhkan penyakit, tapi sangat efektif untuk luka ringan.

Luka bakar adalah contoh yang paling pas.

Yah, walaupun rasanya sedikit sakit, tapi itu cuma masalah kecil.

"Memang bener kalau sihir penyembuhan Lloyd-sama bakal pulih lebih cepet daripada kecepatan api itu membakar, jadi beliau nggak bakal nerima luka…… tapi itu kan soal hasil akhirnya. Masalahnya tetep aja itu panas, kan!?"

"Lloyd-sama sering melakukan eksperimen sihir pada tubuh sendiri jadi ketahanannya terhadap rasa sakit mungkin sudah luar biasa, tapi ini sama saja dengan rasa sakit yang tak terhingga! Tidak ada bedanya dengan penyiksaan!?"

Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena suara api yang bising.

Oh iya, aku rasa aku sudah cukup mengerti detailnya.

"Intinya kalau mananya dinolkan, apinya akan padam. ……Seperti ini."

Saat aku menjentikkan jari, api hitam itu pun membubarkan diri. Di saat yang sama,

"GYAAAAA! P-PANAS! HIIIIII!"

Api hitam menjalar dan membakar tubuh Ziguro. Akulah yang memindahkan api ini ke tubuhnya menggunakan Spatial Teleportation.

"Ooh! Memutus mana buat mencegah Api Neraka! Terus balikin api yang sisa ke Ziguro, bener-bener luar biasa, Bos!"

"Sisik naga yang kuat pun hampir tidak punya ketahanan terhadap Api Neraka. Tanpa keahlian mengolah mana seperti Lloyd-sama, mustahil untuk bisa memutus aliran mananya!"

Di saat keduanya memberikan komentar dengan tenang, api yang menyelimuti Ziguro menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dia berguling-guling di tanah tapi apinya malah semakin membesar.

Api Neraka tidak akan padam sampai membakar habis targetnya, ya.

Kalau tidak tahu cara mengatasinya, ini memang cukup merepotkan.

"Ja-jangan cuma ngomong santai gitu, cepet padamin sekarang juga! Lagipula kalau aku terbakar, mereka berdua juga bakal jadi abu! Apa kamu nggak peduli apa pun yang terjadi pada kedua familiar-mu ini!?"

Api merambat naik ke lengan Ziguro dan mulai memanggang mereka berdua.

Namun bukannya panik, keduanya malah memasang senyum menantang.

"Guu…… Heh……! Lu pikir api sekecil ini bisa manggang gue! Lagipula kalau lu jadiin kami sandera, itu artinya lu nggak bakal berani bunuh kami, kan!"

"Be-benar…… Lloyd-sama saja bisa menahannya. Benda semacam ini tidak ada rasanya bagi saya. Jangan pedulikan kami, kalahkan saja dia!"

Meski bicara besar, keringat dingin bercucuran deras di wajah mereka. Ya ampun, jangan terlalu memaksakan diri, itu tidak baik untuk kesehatan.

"■"

Yang kuaktifkan melalui Spell Bundle adalah sihir pemanggilan (Summoning) hasil meniru tadi.

Hanya dengan melihat dua kali, aku sudah bisa memahami sebagian besar rumus sihirnya, tidak sulit bagiku untuk menyesuaikannya dengan gayaku sendiri.

Sesaat setelah lingkaran sihir muncul di bawah Grim dan Jiriel, mereka pun berpindah kembali ke genggamanku.

"Lloyd-sama, terima kasih banyak, Bos……"

"Maaf karena telah merepotkan Anda……"

"Jangan dipikirkan. Nah, sekarang tinggal mengalahkanmu saja. Atau kamu mau lari? Aku tidak akan mengejar penakut, kok."

Aku berbalik ke arah Ziguro dan melangkah maju perlahan, setapak demi setapak.

"Gu-guuu…… ka-kalau begitu sekali lagi dengan Summoning!"

Ziguro mencoba merebut mereka kembali, tapi keduanya sudah tersimpan aman di dalam genggamanku.

Sepertinya sihir pemanggilan tidak memiliki kekuatan paksa untuk menarik lawan yang menolak.

"Tsk……! Kalau sudah begini, meski harus mati bersama pun! Uooooooo!"

Ziguro meraung sambil melayangkan tinju ke arahku yang semakin mendekat.

"Hee. Kukira kamu cuma penakut, tapi ternyata punya nyali juga. Atau mungkin karena takut dibunuh Gizarm? Yah, yang mana pun tidak masalah bagiku."

"UWAAAAAAAAA!"

Sesaat sebelum cakar tajam Ziguro menyentuhku, aku menjentikkan jari. Pachin!

Seketika, ledakan besar terjadi dan Ziguro terpental hebat ke luar ring.

"RING OUT! Keduanya sempat terlihat berbincang, lalu tiba-tiba terjadi kobaran api! Namun api itu padam dalam sekejap, dan tepat saat kita mengira pertarungan baru saja dimulai, satu pukulan telak dari pemain Drol-Mage melesat kencaaaaaang!"

"Pemain Ziguro terpental ke luar arena tanpa bisa berkutik sedikit pun! Pemenangnya adalah pemain Drol-Mage! Dia berhasil melaju ke babak finaaaal!"

Di tengah gemuruh sorakan "Waaaaa!", aku melangkah turun dari ring.

"Anda memadamkan api hitam itu dengan guncangan dari Fireball, ya Bos. Api Neraka memang tidak akan padam sampai membakar habis targetnya, tapi kalau targetnya terpental lebih cepat dari kecepatan api, apinya tidak akan bisa mengejar."

"Tumben sekali Anda memprovokasi lawan, pasti agar Ziguro yang ketakutan itu mau melawan. Jika dia memperlihatkan pertarungan yang memalukan, dia terancam dibunuh oleh Gizarm. Benar-benar Lloyd-sama yang sangat baik hati."

Aku membiarkan mereka berdua bergumam sendiri sementara aku memastikan keadaan Ziguro.

Sisik naga hitam adalah bahan langka, sebisa mungkin aku ingin membawanya pulang sebagai bahan alat sihir tanpa ada cacat sedikit pun.

Jika terus terpanggang api tadi, kualitas bahannya bisa rusak, makanya aku memadamkannya.

"Nah, saatnya memungut bahan baku…… hm?"

Entah sejak kapan, sosok Ziguro sudah menghilang.

Muu, sepertinya Gizarm sudah lebih dulu memungutnya.

Sayang sekali. Tapi sudahlah, target utamaku adalah Super Beast. Berikutnya adalah final, aku harus fokus.

Apalagi rumus sihir Super Beast di bawah tanah sudah mulai bergerak perlahan.

Entah apa yang akan terjadi nanti…… Dengan perasaan antusias, aku pun kembali ke ruang tunggu.

"Haa…… haa, haa……!"

Napas Ziguro memburu.

Dia menelan ludah berkali-kali dengan sekujur tubuh yang basah kuyup oleh keringat.

Di hadapannya berdiri Gizarm. Sosok itu menatapnya dengan pupil mata yang gelap dan dingin.

"Ti-tidak! Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tahu!? Tapi tidak mungkin aku bisa menang melawan monster seperti itu, maksudku kelas kami benar-benar beda jauh…… Gi-Gizarm-san juga tahu itu kan makanya menyuruhku maju?"

"Iya kan!? Anu, aku ingin Anda mengatakan sesuatu…… ituu……"

Gizarm tetap tak berekspresi, seolah tidak mendengar rentetan alasan yang keluar dari mulut Ziguro.

Tekanan dalam keheningan itu terasa jauh lebih mengerikan bagi Ziguro daripada apa pun.

"Oi, oi, Giza-Giza-kun. Jangan memberi tekanan begitu padanya. Meskipun kalah, si penakut Ziguro-n sudah berusaha cukup keras. Sudahlah, sampai di situ saja."

Gizarm bahkan tidak menoleh pada kata-kata sang Holy King yang ada di sampingnya. Apakah perasaan seorang terpidana mati saat menunggu vonis seperti ini ya?

Pikiran itu melintas di benaknya, namun Ziguro tetap berusaha menyusun kata-kata agar tidak semakin merusak suasana hati Gizarm.

"E-ehm, begini…… aku kan sudah mengeluarkan seluruh kemampuanku, jadi berikutnya aku akan berusaha lebih keras lagi, kuharap kali ini Anda bisa memaafkanku……"

"……Fuh."

Setelah beberapa menit, Gizarm akhirnya menggerakkan sudut bibirnya.

"Kuhahahaha! Fufufu, ha-ha-ha-haaa!"

Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. Perubahan mendadak itu membuat Ziguro dan Holy King saling pandang dengan heran.

"Kuku…… entah apa yang kau takuti, tapi aku sama sekali tidak marah. Malah, perasaanku sedang sangat baik sekarang."

"Be-benarkah……?"

"Ya. Sejak awal aku tidak pernah berpikir makhluk sepertimu bisa menang melawannya. Aku hanya memanfaatkanmu untuk memastikan rumus sihir dan hipotesisku. Hasilnya, kelemahan dia telah terungkap. Begitu pula dengan efektivitas rumus sihirnya. Berkat itu, aku sudah mendapatkan gambaran cara untuk menjatuhkannya."

"Ooh, hebat juga. Memang mantap yaー."

Holy King bersiul-siul menggoda.

Biasanya Gizarm akan membentaknya dengan kesal, tapi kali ini Gizarm justru memasang wajah yang tampak puas.

Dia terlihat benar-benar dalam suasana hati yang baik.

……Aku selamat. Ziguro bernapas lega.

"Ja-jadi, tidak ada hukuman untukku, kan?"

"Itu urusan yang berbeda. Mereka yang melakukan kesalahan harus diberikan hukuman."

"HIIIIIIII!?"

Gizarm membuka bagian dadanya, dan seketika tubuh raksasa Ziguro tersedot masuk seolah-olah ditelan oleh kegelapan.

……Dan akhirnya, hanya menyisakan mulut Ziguro di bagian dada Gizarm.

"GYAAAA! Keluarkan akuuuu! Gizarm-saaaaaan!"

Tanpa mempedulikan Ziguro yang berteriak dan meronta, Gizarm bergumam dengan nada riang.

"Fumu. Dengan menyerap familiar yang telah ditanami rumus sihir, aku bisa menggunakan berbagai sihir secara bersamaan. Rasanya sedikit tidak enak karena seperti meniru bocah itu…… tapi aku harus menggunakan apa pun yang berguna."

"GYAAAAA! Gelap sekali! Takut tahuー!"

Ziguro meronta-ronta di dalam. Tempat dia diserap adalah bagian terdalam dari tubuh mana Gizarm. Melihat tingkah Gizarm, sang Holy King pun berceletuk.

"Heーe, sudah lama aku tidak melihat Giza-Giza-kun seceria ini. Pasti kamu senang sekali melihat Ziguro-n bertarung tadi ya. Ternyata kamu punya sisi yang cukup imut juga. Iya, iya."

"NGGAK ADA IMUT-IMUTNYA SAMA SEKALI TAHUUUU!?"

Teriakan Ziguro menggema ke mana-mana. Sementara di luar, pertandingan berikutnya akan segera dimulai.

"Nah, berikutnya adalah giliranku……"

Sylpha bergumam sambil menatap Lapi yang tampak cemas.

"Jangan khawatir begitu, aku tidak berniat bertarung dengan kekuatan penuh. Tujuanku adalah memastikan kamu memenangkan Festival Super Beast ini sesuai keinginan Lloyd-sama. Karena itu, aku berniat mengundurkan diri di pertandingan berikutnya. ……Yah, kalau kucing betina itu yang melaju, mungkin tanpa sadar aku akan mengalahkannya dulu sih."

Sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar cukup sadis, Sylpha berbicara kepada pembawa acara yang sudah menunggu. Sepertinya dia sedang menyatakan pengunduran dirinya.

"Baiklah, babak kedua semifinal…… secara mengejutkan, pemain Ogre Lord menyatakan mundur dari pertandingan! Pemain Lapi melaju ke babak final tanpa bertarung! ……Eh, tunggu! Tolong jangan melempar barang ke dalam ring!"

Mendengar pengumuman pembawa acara, suara ejekan masif kembali menyelimuti arena pertarungan.




Setiap kali Lapi menang, suasananya selalu seperti ini, tapi kali ini benar-benar parah.

"Anu... kamu tidak apa-apa?"

Aku memberanikan diri menyapanya. Suaraku sudah kuubah dengan sihir, jadi dia tidak akan menyadari siapa aku.

Lapi menoleh ke arahku dengan mata yang tampak keruh dan redup.

Wah, sepertinya mentalnya benar-benar sudah di ambang batas.

"Haha... tidak apa-apa-ppi... aku hanya beruntung bisa sampai ke final tanpa bertarung-ppi."

"Apa kamu harus menang sampai sejauh itu?"

Demi meningkatkan status ras Slime dan membuktikan eksistensinya pada dunia, Lapi menceburkan diri ke dalam pertarungan ini untuk menjadi Super Beast.

Namun meski sudah melaju sejauh ini, ejekan bahwa dia "hanya seekor Slime" tidak berubah, dan Lapi sendiri tetap diperlakukan seperti sampah.

Sejujurnya aku juga berniat mengundurkan diri dari final, tapi melihat situasi ini, melakukan hal itu sepertinya hanya akan memicu kerusuhan.

"Gawat, ya. Orang-orang di kursi penonton benar-benar sudah haus darah."

"Jika Lloyd-sama mengundurkan diri lagi, mereka pasti akan turun ke ring dan terjadi tawuran massal."

Mencegah tawuran itu mudah, tapi seandainya pun dia menjadi Super Beast dengan cara seperti itu, ras Slime tidak akan mendapatkan kembali kehormatan mereka, dan Lapi pun tidak akan bisa menerima dirinya sendiri.

Tidak ada yang lebih hampa daripada kemenangan yang disuapkan begitu saja.

Sihir... terutama kutukan primitif seperti ritual Super Beast ini, sangat bergantung pada luapan emosi. Dalam kondisi mental seperti ini, ada risiko ritual itu sendiri akan gagal total... atau lebih buruk lagi, serangan balik sihir yang tidak terduga bisa terjadi. Mengingat betapa kuatnya ritual ini, dampaknya bahkan bisa sampai ke permukaan dunia.

Namun di luar kekhawatiranku, Lapi tampak tidak peduli sama sekali.

"Tidak masalah-ppi. Pakai cara apa pun, yang penting menang. Kalau kau juga mau mengundurkan diri, aku malah sangat berterima kasih-ppi...!"

"Kamu..."

Lapi duduk di pojok arena dengan tubuh yang tampak limbung.

Sikapnya benar-benar acuh tak acuh, padahal babak final sudah di depan mata. Hm, bagaimana baiknya ya.

"Bisa bicara sebentar?"

Sosok yang menyapaku saat aku sedang berpikir keras adalah—Alise.

Aku baru ingat kalau dia ada di ruang tunggu bersama Lapi. Aku menahan napas melihat ekspresinya yang jauh lebih serius dari biasanya.

"Kamu, tadi menahan diri, kan? Sejak awal juga begitu. Kamu mungkin merasa sudah menyembunyikannya dengan baik, tapi itu sangat jelas bagiku."

Deg! Aku hampir saja mengeluarkan suara kaget yang aneh.

Masa sih? Padahal Sylpha dan yang lainnya tidak menyadarinya, tapi Alise bisa tahu?

"Ja-jangan bicara sembarangan. Aku selalu serius kok. Entah apa yang kamu bicarakan... haha, hahaha..."

"Adikku selalu seperti itu. Makanya, aku bisa tahu hal-hal semacam ini."

"Buhosh!"

Aku tersedak hebat. Hei, hei, jangan bilang dia sudah menyadari identitas asliku? Kalau iya, seberapa jauh dia tahu...?

Keringat dingin mulai mengalir deras dari seluruh tubuhku.

"Yah, lupakan soal itu—pertandingan berikutnya, tolong bertarunglah dengan serius."

Di tengah kepanikanku, Alise justru melontarkan kata-kata yang tak terduga.

"Kamu pasti berniat menahan diri lagi di pertandingan berikutnya, kan. Aku tidak tahu alasannya, tapi... tolong hentikan itu."

"...Kenapa? Ali... kau kan dipihak Slime itu, kan? Seandainya aku tidak serius, bukankah tidak ada gunanya bagimu sengaja mengatakan hal yang justru merugikanmu?"

"Jika terus begini, Lapi akan hancur. Entah akan menang atau kalah, ada saatnya seseorang harus bertarung dengan sungguh-sungguh. Bagi anak itu, saat itu adalah sekarang."

Alise menatap Lapi dengan lekat. ...Tujuan Lapi adalah diakui oleh monster lain. Mungkin Alise berpikir keinginan itu tidak akan pernah terwujud jika situasinya terus begini.

Seorang Alise bisa berpikir sejauh itu...? Rasanya sulit dipercaya.

"Kalau begitu, aku benar-benar memohon padamu."

"……"

Aku hanya bisa menatap punggung Alise yang berbalik pergi dalam diam.

Jika aku serius, mustahil bagi Lapi untuk menang melawanku. Tapi jika aku menahan diri, ritual itu sendiri mungkin tidak akan aktif.

Lapi begitu, Alise juga begini... ah, sial, kepalaku mulai pusing.

Di tengah kebingunganku, terdengar pengumuman bahwa persiapan babak final telah selesai.

Benar-benar tidak diberi waktu untuk berpikir, ya.

Ya ampun, apa yang harus kulakukan.

"Baiklah, akhirnya kita sampai di final Festival Super Beast! Pertama, peserta yang satu ini! Selalu menang dengan satu pukulan sejak babak pertama, kandidat terkuat Super Beast yang naik ke puncak tanpa kesulitan berarti! Kami mohon! Menanglah! Itulah harapan semua orang di sini! Peserta Drol-Mageee!"

"OOOOOOO!" Di tengah sorakan yang membahana, aku naik ke atas ring. ...Ya ampun, benar-benar bingung harus bagaimana.

"Dan lawannya adalah! Ternyata seekor Slime! Siapa yang menyangka perkembangan seperti ini!? Menang tipis dengan susah payah di babak pertama dan kedua, lalu menang WO di semifinal—pertandingan yang benar-benar tidak menggairahkan, tapi dia tetap sampai di sini! Namun di final, hal itu tidak akan terjadi lagi! Semua orang menginginkan kekalahannya! Peserta Lapiiii!"

Di tengah hujan ejekan dan lemparan batu, Lapi naik ke atas ring. ...Dia tetap tidak populer seperti biasa.

Karena ini adalah babak final tanpa ada kesempatan kedua, suara ejekan untuknya berbanding terbalik dengan sorakan dukungan untukku.

"Jadi, bagaimana rencananya, Lloyd-sama?"

"Apakah Anda benar-benar akan bertarung dengan serius?"

"Umm……"

Tentu saja aku belum punya jawaban. Tapi waktu sudah habis. Pertandingan pun dimulai.

Dari putaran pikiran yang buntu, kesimpulan yang kuambil adalah—

"Ah, sudahlah, aku mulai malas berpikir..."

—Aku memutuskan untuk bertarung sekuat tenaga, sesuai permintaan Alise.

"Eh, Lloyd-sama?"

"Ma-mana itu...!"

Gooo!

Aliran mana yang dahsyat mulai bergejolak.

Alat penyerap mana yang kupasang untuk menekan kekuatanku mulai retak karena sudah melampaui batasnya.

Merasakan sensasi udara yang bergetar hebat, aku melangkah maju.

"Pii!?"

"Waduh!? Peserta Drol-Mage mulai memancarkan mana yang luar biasa dahsyat!? Dia benar-benar bersemangat! Bagus! Mari kita mulai! Final Festival Super Beast, dimulai sekarang!"

Bersamaan dengan teriakan pembawa acara, aku memunculkan bola-bola mana yang tak terhitung jumlahnya di sekelilingku.

Sambil memutar-mutar ujung jari, aku menjatuhkannya berkali-kali di sekitar Lapi.

Duum! Duduum!

Suara ledakan menggema, dan pilar api yang dahsyat membakar langit.

"Waaaa! Lloyd-sama, kalau menyerang dengan daya hancur begitu, Lapi bisa mati!"

"Bukan cuma itu, ringnya... tidak, koloseumnya bisa hancur!"

Bodo amat. Aku sudah malas berpikir.

Kalau mereka mau begitu, akan kutunjukkan sekalian. Sesekali melepaskan mana dengan serius juga tidak buruk.

Tapi—

"Jangan khawatir kalian berdua. Yang kugunakan sekarang adalah sihir sistem ilusi, Phantasm Burst. Terlihat megah, tapi ini hanya ledakan ilusi. Tidak akan membunuh siapapun."

Ya, jawabanku adalah melakukan serangan habis-habisan menggunakan sihir ilusi.

Dengan ini, aku bisa mengeluarkan seluruh tenaga tanpa melukai sekeliling. Hmm, ide yang cemerlang.

"Tapi ada lubang gede di ring, lho!? Lapi juga luka-luka begitu!?"

"Jika menerima kekuatan penuh Lloyd-sama, menjadi abu pun tidak akan cukup. Bisa dibilang dia masih selamat justru karena ini hanya ilusi..."

Bukan hanya sihir, segala sesuatu memiliki fenomena sekunder.

Seperti kepakan sayap kupu-kupu yang menimbulkan angin kecil, atau api yang menghasilkan gelombang panas... meski sihir sistem ilusi tidak menghasilkan fenomena fisik, sisa-sisa mana saat merapal sihir tetap akan menghasilkan gelombang kejut kecil. Itulah yang kugunakan untuk menyerang.

"Normalnya sihir ilusi nggak bakal bikin ledakan segede ini, lagian itu sama sekali nggak 'kecil' tahu!?"

"Bagi Lloyd-sama, mungkin itu termasuk kecil. Lagipula kalau beliau serius, koloseum ini pasti sudah jadi padang abu."

Grim dan Jiriel terus melontarkan protes, padahal aku ingin memuji diriku sendiri atas ide brilian ini.

Bagaimanapun, dengan cara ini aku bisa mengeluarkan seluruh kekuatan sambil tetap menahan diri dengan pas.

Lihat saja, buktinya Alise juga tampak puas, kan?

"Tapi kurasa ini saja tidak akan cukup untuk mengalahkan Lapi."

"—Benarkah begitu?"

"Lloyd-sama? Apa maksudnya...?"

Tepat setelah aku bergumam, sebuah hawa keberadaan muncul di belakangku.

"Piiiiiiii!"

Tentu saja, itu Lapi.

Dia mengendalikan Ki untuk menciptakan pijakan dan berlari di udara.

Dia menembus dan menepis Phantasm Burst yang kulepaskan dengan mengubah sebagian tubuhnya menjadi tajam seperti pedang.

"Fumu, teknik pedang gaya Langris, Hedgehog—ya."

Teknik dasar gaya Langris yang melepaskan tusukan beruntun dengan kecepatan tinggi.

Meski dasar, teknik ini tidak akan terbentuk tanpa latihan yang cukup, dan Lapi berhasil melakukannya dengan cukup baik.

Bukan hanya itu. Dia sudah bisa menggunakan Ki sampai pada level bisa bertarung di udara.

Hanya dalam beberapa hari, dia bisa menguasai teknik Sylpha dan Tao sejauh ini. Benar-benar luar biasa.

"Siapa pun lawannya! Seberapa kuat pun dia! Aku tidak boleh kalah-ppi! Aku pasti akan menjadi Super Beast! Agar tidak diremehkan karena aku seekor Slime! Agar diakui oleh semua orang! Aku sudah melakukan apa pun demi hal itu-ppi!"

Lapi menerjang maju sambil mengayunkan pedangnya.

Apa-apaan, tadi aku sempat khawatir, tapi ternyata dia memasang ekspresi yang bagus.

Kupikir dia sedang terpuruk, tapi sepertinya dia sudah memantapkan hati. Baguslah kalau dia semangat.

Sambil menangkis, menghindari, dan menebas Phantasm Burst yang kulepaskan, dia mulai memperpendek jarak.

"……Fumu, hebat juga. Tekad Lapi tidak bisa dihentikan hanya dengan Phantasm Burst. ……Kalau begitu."

Aku menciptakan bilah cahaya di kedua tanganku, sihir suci Light Weapon.

Aku menahan tusukan Lapi dengan pedang cahaya. Suara dentingan tumpul terdengar saat bilah-bilah itu beradu dan memercikkan bunga api.

"O-oi, apa itu jangan-jangan... sihir suci...?"

"Ya, tidak salah lagi... tapi kenapa seekor Drol bisa pakai sihir suci? Mereka kan ras undead yang akrab dengan kematian dan kegelapan, seharusnya mereka bertolak belakang dengan kesucian..."

"Bodoh! Lagipula tidak ada monster yang bisa pakai sihir suci! Jangan-jangan, dia itu Malaikat?"

"Kalau begitu, tujuannya adalah membasmi monster dan mencegah lahirnya Super Beast...? G-gawat! Kita tidak boleh mendukung dia!"

Sepertinya ada suara-suara aneh di antara sorakan penonton, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena bising.

Lagipula aku sedang sibuk bertarung dengan Lapi.

Tubuh Slime yang berupa cairan itu benar-benar fleksibel, aku tidak tahu dari mana serangan akan datang.

Bahkan dalam timing yang seharusnya kena, dia bisa menghindar dengan posisi tubuh yang aneh.

Meski dalam kondisi yang sangat terbatas, dia tetap lawan yang merepotkan.

"Tapi, aku juga paham sedikit soal gaya Langris. Aku punya beberapa teknik serangan balik. Teknik serangan balik gaya Langris—Flowing Shachihoko."

Aku merunduk menghindari tusukannya sambil melancarkan tebasan samping.

Gyiin!

Lapi terpental bersama pedangnya dan kehilangan keseimbangan.

Aku segera melancarkan tebasan balasan dan membuatnya terlempar jauh.

Bagus, jarak sudah tercipta. Aku memusatkan mana untuk melakukan serangan susulan.

"Sihir tingkat tinggi sistem ilusi—Phantasm Tower Fang."

Bundel cahaya berwarna pelangi mengincar Lapi... seharusnya, tapi arahnya malah melenceng ke tempat yang tak terduga.

Ah, gawat. Karena kondisiku sedang tidak seperti biasanya, bidikanku melesat.

Ternyata sulit juga menggunakan sihir tingkat tinggi saat aku sedang membatasi mana seperti sekarang.

Kalau begini, serangannya akan menghantam kursi penonton.

"Gyaa! Benar kan, dia itu utusan dari surga yang datang untuk membasmi kita semua!"

"Aku bakal mati! Seseorang tolong akuuu!"

Suara jeritan terdengar dari kursi penonton, tapi hei, ini ledakan ilusi jadi kalian tidak akan mati... mungkin.

Meski begitu, terkena langsung tetap tidak baik. Tentu saja aku berniat menghapusnya, tapi apa sempat—

Tepat saat aku hendak melenyapkan cahaya itu.

Dugooooon! Ledakan besar terjadi.

...Aneh. Seharusnya itu belum menghantam kursi penonton... apa yang terjadi? Kebingunganku terjawab saat asap mulai menipis.

"S-Slime...?"

"Masa kamu... melindungi kami...?"

Suara terkejut terdengar dari kursi penonton. Di depan mereka, Lapi berdiri menghadang. Dia menahan Phantasm Tower Fang yang kulepaskan dengan tubuhnya sendiri.

(Eh? Aneh-ppi. Kenapa aku melindungi para penonton...?)

Orang yang paling terkejut dengan tindakan itu tidak lain adalah Lapi sendiri.

Lapi yang terus ditindas oleh monster lain, yang meski sudah menjadi kuat dan terus menang tetap disuruh jangan menjadi Super Beast, sebenarnya sudah putus asa.

Nasib buruk Slime adalah karena mereka lemah. Jika kuat, pasti akan diakui. Karena pemikiran itulah Lapi berjuang mati-matian sampai sejauh ini.

Namun reaksi sekeliling jauh lebih dingin dari dugaannya. Perlakuan kejam itu membuat Lapi putus asa dan mulai bersikap masa bodoh.

Dia sudah pasrah. Mau mati pun tidak masalah. Dengan tekad itulah dia menghadapi babak final.

Tapi kenapa—

(Ah, begitu ya... aku ingat. Kenapa aku ingin menjadi Super Beast...)

Lapi yang lahir sebagai Slime yang mengerti bahasa, selalu dipuji hebat dan jenius oleh sekelilingnya.

Saat dikatakan dia bahkan bisa menjadi Super Beast, Lapi pun besar kepala, meremehkan kawan-kawannya, dan akhirnya terisolasi.

Harga diri yang salah tempat dan kecerdasan yang tinggi justru menjadi penghalang. Setelah lama kesepian, Lapi mulai menyadari sesuatu.

Memang kawan-kawannya lemah, bodoh, dan cepat mati. Namun meski begitu, mereka tidak terlihat kesepian sepertinya. Itu karena mereka punya teman.

Dia juga ingin menjadi seperti itu. Berpikir demikian, Lapi memutuskan untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada semua orang.

Dengan menyampaikannya secara ramah, ada beberapa yang mau mendengarkan, dan sedikit demi sedikit dia mulai diakui oleh sekelilingnya.

Setelah mendapatkan pengakuan kembali, dia bersumpah tidak akan besar kepala lagi, dan dengan mengatakan dia mengincar posisi Super Beast demi melindungi semua orang, akhirnya Lapi terbebas dari kesepiannya.

(Kalau diingat-ingat, barusan aku sempat meremehkan penonton lagi, persis seperti dulu. Berpikir betapa bodohnya mereka karena tidak bisa mendukungku yang sudah menang sampai sejauh ini. Berpikir ingin memberi mereka pelajaran...)

Dia sudah memutuskan untuk hidup demi semua orang.

Tubuhnya mengingat hal itu. Karena itulah, dia melindungi mereka semua.

"Makasih ya! Kami selamat! Anu..."

"Bodoh! Itu Lapi! Jangan lupa padanya padahal dia sudah sampai final!"

"Maaf soal yang sebelumnya! Kami akan mendukungmu!"

Mereka benar-benar cepat berubah pikiran setelah diselamatkan... tapi aku tidak berpikiran buruk soal itu.

Aku sejujurnya merasa senang. Hatiku dipenuhi kegembiraan karena telah diakui.

—Tiba-tiba, aku teringat kata-kata Alise.

Bahkan jika kau merasa tidak diakui oleh siapapun, selama kau berjuang, pasti ada seseorang yang melihatmu.

Selama ada pemicunya, segalanya bisa berbalik. Jadi sekarang, teruslah menatap ke depan dengan sungguh-sungguh. Karena aku mempercayaimu—

Saat kulihat, Alise sedang menatap lurus ke arah Lapi. Mata bening tanpa keraguan sedikit pun. Aku menyadari bahwa selama ini aku selalu dilindungi oleh tatapan itu.

Hanya karena dia mempercayaiku, aku bisa sampai sejauh ini—

"Benar. Diakui itu menyenangkan. Tapi untuk itu, aku butuh kawan-kawan. Jadi ini bukan demi siapapun. Demi diriku sendiri, aku akan menyelamatkan semuanya-ppi!"

Kekuatan meluap. Kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya mengalir di sekujur tubuh Lapi.

—Kalau begini, aku bisa.

Sambil memancarkan cahaya yang menyilaukan, Lapi menerjang ke arah Lloyd—

"Hee, kamu benar-benar membuatku terkejut."

Meski itu ledakan ilusi dan aku sempat berniat menghapusnya, tetap saja aku kaget dia bisa selamat setelah menerima sihir tingkat tinggiku mentah-mentah.

Tubuhnya memang babak belur, tapi matanya membara dengan semangat tempur.

"Mustahil! Oi Lapi, kenapa kau melindungi mereka!"

"Padahal kau sudah dihina-hina begitu! Kenapa sampai mau menerima kerusakan separah itu demi mereka!"

Grim dan Jiriel berteriak. Seolah menanggapi mereka, Lapi bergumam.

"Aku... akan menjadi Raja yang diakui oleh siapapun... tapi Raja yang sendirian hanyalah keberadaan yang tidak berarti. Jadi, orang yang ingin menjadi Raja harus tetap berbakti dan tidak menyerah meski tidak diakui oleh sekelilingnya...-ppi!"

Alise mengangguk mendengar kata-kata Lapi.

Kata-kata itu adalah hal yang sering dikatakan oleh Kakak Albert.

Terlepas dari apakah dia benar-benar akan berdiri di depan atau tidak, intinya dia harus menunjukkan tekad sebesar itu.

Sadar atau tidak, Lapi telah membuktikannya.

Tanpa sadar, suasana di kursi penonton mulai berubah.

"Dia melindungi kita... padahal kita sudah bicara kasar begitu... Slime itu!?"

"Ya, sulit dipercaya. Dan lagi, dia tetap tenang setelah kena serangan itu. Kalau dilihat-lihat dia kuat banget, ya."

"Lagipula lawannya itu Malaikat pengguna sihir suci! Kalau mau dukung—cuma dia pilihannya!"

"Lapi! Lapi! Lapi!" Yel-yel itu mulai bergema dan menyebar di seluruh arena.

"Su-sungguh mengejutkan! Tindakan berani pemain Lapi yang melindungi penonton memicu sorakan dukungan dari seluruh arena! A-aku pun jadi terharu! Berjuanglah, pemain Lapiiii!"

Sebagai gantinya, kini giliran aku yang dihujani ejekan.

"Apa yang kau pikirkan sampai melibatkan penonton, dasar bodoh!"

"Lagipula pengguna sihir suci itu musuh, musuh!"

"Jangan biarkan dia pulang hidup-hidup! Bunuh saja dia, Lapiiii!"

Wah, sepertinya Light Weapon tadi ide yang buruk, ya. Kalau tidak salah Super Beast memang diciptakan untuk melawan Surga dan Dunia Iblis.

Aku benar-benar lupa soal itu. Berkat itu, sekarang aku jadi tokoh antagonisnya.

"Sudah telat kalau baru sadar sekarang, Bos... tapi bukannya ini malah jadi hasil yang bagus?"

"Lapi mulai diakui oleh monster-monster lain. Berkat Lloyd-sama..."

Keduanya menatapku dengan tatapan sinis, tapi kurasa aku tidak perlu ambil pusing.

Mau kebetulan atau bukan, hasilnya tetap bagus. Kerja bagus untuk diriku sendiri.

"Benar. Begitu lebih baik. Seorang Raja ada karena rakyatnya, karena diakui oleh mereka. Jadi—pergilah! Lapi!"

"Piiiiiiiiiii!"

Berkat kata-kata Alise, serangan Lapi menjadi semakin ganas.

Meski kelihatannya dia sudah lemah karena terkena seranganku, ternyata Lapi masih sangat bersemangat.

Kecepatan dan kekuatannya sudah tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelumnya.

"Gawat! Padahal beliau nggak bener-bener nyerang, tapi Lloyd-sama malah terdesak!"

"Lalu, apa ini cuma perasaanku saja, atau ukuran Lapi perlahan-lahan jadi semakin besar!?"

—Itu bukan sekadar perasaan.

Dan bukan hanya ukurannya yang membesar, mana yang menyelimuti tubuhnya pun meningkat.

Pedang yang dia buat dari bagian tubuhnya kini sudah lebih dari sepuluh, dan dia bahkan melepaskan bola-bola Ki secara bersamaan.

Meski aku sedang membatasi diri, bertarung serius melawannya malah membuatku mulai terdesak.

Aku bisa merasakan mana yang mengalir deras ke tubuh Lapi yang menerjang ke arahku.

"……Jangan-jangan Lapi mulai diakui sebagai Super Beast...?"

Turnamen ini diadakan untuk menentukan Super Beast, raja para monster. Dan saat ini, satu-satunya monster yang ada di ring ini hanyalah Lapi.

Sekarang setelah monster lain mulai mengakui Lapi, sangat mungkin ritual kelahiran Super Beast sudah mulai aktif secara penuh.

Dokun! Sebuah sensasi denyutan 'sesuatu' terasa dari kedalaman tanah.

Ooh, tebakanku tepat sasaran. Sumber ritualnya ada di bawah tanah, di sekitar tempat Jacob si Super Beast generasi sebelumnya berada.

Aku tidak boleh diam saja. Aku harus melihat prosesnya dari dekat. ...Kalau sudah diputuskan begitu, aku tidak punya waktu untuk terus bertarung di sini.

"Piiiiiiii!"

Karena itulah, aku sengaja menerima serangan Lapi dan membiarkan diriku terpental.

"Gwaaa. Akuuu kalaaaah."

Setelah mengatakan itu, aku terhempas keras ke tanah.

"CRITICAL HIT! Peserta Drol-Mage DOWN! Ini luar biasa! Apakah dia tidak bisa bangkit lagi!? Hitungan dimulai. 3, 2, 1──ZEROOOO! Sudah diputuskan! Pemenangnya adalah pemain Lapiiii!"

Doooooooooo! Sorakan besar membahana.

Suasana di arena benar-benar meriah.

Padahal tadi mereka menghujat Lapi habis-habisan, cepat sekali mereka berubah pikiran.

Tapi bagiku ini menguntungkan. Dengan suasana semeriah ini, tidak akan ada yang sadar jika aku menghilang.

Selagi sempat... aku menggunakan Spatial Teleportation untuk turun ke bawah tanah, bersembunyi di balik kepulan asap debu yang membubung tinggi.

—Kembali ke bawah tanah. Tempat yang kudatangi dengan Spatial Teleportation ini sudah jauh berbeda dari saat pertama kali aku datang.

Cahaya redup merembes dari tanah, dan gempa bumi membuat pijakanku berguncang.

"Woa, aku ngerasain mana yang gila banget, Bos. Inilah ritual yang melahirkan Super Beast itu ya."

"Kekuatan yang mengingatkan pada detak jantung makhluk raksasa... ini benar-benar mengerikan."

Mana yang berpusaran di seluruh koloseum mengalir deras menuju Lapi yang ada di atas ring.

Setelah kemenangannya melawanku, aliran itu sepertinya semakin cepat.

...Fumu fumu, melihatnya beroperasi secara langsung membuatku paham, ritual ini sangat besar dan kasar, benar-benar sesuatu yang primitif.

Yah, mungkin itulah alasan kenapa ia bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Semakin sederhana sebuah rumus sihir, semakin kokoh ia jadinya.

Tiba-tiba, aku menyadari dinding-dinding itu mulai menggeliat.

"Ooh... Super Beast baru akan segera lahir...!"

"Berbahagialah... senangnya..."

"Berikan berkat pada kawan baru kita..."

Mereka adalah para mantan Super Beast. Mereka membisikkan kata-kata seperti orang yang sedang mengigau.

"Gek, mereka masih punya kesadaran? Dulu pas kita ke sini mereka diem aja, pasti gara-gara lagi hibernasi."

"Tapi sepertinya kesadaran mereka sangat samar. Tidak seperti Jacob yang masih bisa diajak bicara."

Mereka sudah menjadi bagian dari ritual ini. Kesadaran mereka mungkin sudah hampir hilang.

Tubuh, mana, dan segala hal lainnya adalah demi ritual ini... benar-benar sebuah kreasi yang diciptakan oleh seluruh monster.

"Oh iya, aku mau tanya-tanya pada Jacob."

Karena aku sudah melihat ritualnya aktif secara langsung, aku akan menanyakan hal yang belum sempat kutanyakan sebelumnya. Ehm, di mana ya... ketemu.

"Yo, Jacob. Sepertinya kamu sudah bangun."

"Nn, kau... eh, kalau tidak salah Lloyd ya. Kita bertemu lagi."

Wajahnya terlihat lebih linglung dari sebelumnya.

Karena ritualnya sudah aktif, sepertinya banyak hal yang tersedot darinya.

Tubuh Jacob kini semakin tenggelam ke dalam dinding, dan mananya sudah berkurang lebih dari setengahnya.

Ditambah lagi, mananya terus-menerus disedot dalam kecepatan yang luar biasa.

Sepertinya waktu kami untuk bicara tidak akan lama. Ehm, apa ya yang mau kutanyakan tadi?

"Oi, dasar kau monster Super Beast! Beritahu apa yang tadi Lloyd-sama lupa tanyakan padamu!"

"Kenapa Slime, yang seharusnya pernah ada sebagai Super Beast, tidak ada di dinding ini!?"

Ooh, itu dia. Ingatan yang bagus, Grim, Jiriel.

Menurut cerita Lapi, dulu pernah ada Slime yang menjadi Super Beast.

Aku ingin bertanya apakah itu alasan kenapa Slime sangat dibenci sampai sekarang.

……Yah, aku sempat lupa sih tadi. Menanggapi pertanyaan itu, Jacob menjawab dengan heran.

"Slime……? Bukankah itu Super Beast generasi pertama? Dia ada di dinding dengan benar, kok. Tuh, di sana."

"Hah? Di sebelah mana!?"

"Dilihat dari mana pun tidak ada Slime…… m-mgh!?"

Jiriel mendadak bungkam. Menyusul kemudian, Grim. Tak lama, aku pun menyadarinya.

──Dia memang "ada". Kami tidak menyadarinya karena ukurannya jauh di luar perkiraan kami.

Slime si Super Beast generasi pertama memiliki ukuran yang tidak bisa dibandingkan dengan para Super Beast lain yang tertanam di dinding.

"Gawat. Garis aneh ini, kupikir tadi cuma retakan atau apa, tapi ternyata ini garis luar tubuh Slime-nya……"

"Apakah ukurannya saking besarnya? Kalau diingat-ingat, Lapi yang tadi juga mulai membesar……"

"Aku pun hanya tahu dari legenda, tapi konon Slime yang menjadi Super Beast pertama itu ukurannya luar biasa masif. Saat menjadi Super Beast, mana dalam jumlah besar akan dituangkan, dan tubuhnya akan membengkak berkali-kali lipat. Tapi bagi Slime yang tidak punya bentuk tetap, tidak ada batasnya. Selama mana terus dituangkan, dia akan terus mengembang. Sampai-sampai menelan seluruh negeri ini."

Grim dan Jiriel menelan ludah dengan berat.

Wah, wah, situasinya mulai terasa berbahaya nih.

"Diceritakan bahwa Slime yang menjadi Super Beast pertama menelan negeri ini dan meluap hingga ke permukaan dunia. Kabarnya, insiden itu membuat banyak monster dan manusia di permukaan tewas mengenaskan."

"Cerita itu sampai ke Dunia Iblis, lho! Katanya ada tsunami raksasa yang menelan segalanya, sampai setengah Dunia Iblis tenggelam…… tak kusangka itu perbuatan seekor Slime."

"Di Surga pun cerita itu ada. Slime yang membengkak hingga menutupi seluruh permukaan bumi. Para dewa sampai turun ke dunia dan butuh pengorbanan besar untuk bisa menyegelnya……"

Tujuan diciptakannya Super Beast adalah demi mengembalikan kejayaan para monster yang terdesak ke bawah tanah.

Namun hasilnya malah tsunami raksasa akibat Slime yang membesar dan menelan permukaan dunia…… Kerugiannya pasti luar biasa banyak.

"……Begitu ya. Alasan monster-monster sekarang sangat takut pada Slime sampai ke tahap tidak normal, mungkin karena dampak dari kejadian itu."

Sudah pasti waktu yang sangat lama telah berlalu sejak kelahiran Super Beast pertama.

Meski mereka sudah lupa apa yang sebenarnya terjadi, mungkin rasa jijik dan takut itu masih membekas kuat di sanubari mereka.

"Tapi kalau begitu, Lloyd-sama……"

"Jangan-jangan situasi sekarang ini, sangatlah berbahaya……?"

──Tepat sekali, saat ini Super Beast baru sedang dalam proses kelahiran.

Slime terburuk yang pernah menelan segalanya──

Duum! Gempa besar berguncang hebat. Akibat beban dari tubuh Lapi yang terus mengembang, langit-langit gua mulai runtuh.

"Oi Jacob, tidak bisakah ini dihentikan!?"

"Tidak mungkin. Begitu ritual transformasi Super Beast dimulai, ia tidak bisa dihentikan. Kecuali…… melenyapkan fungsi Super Beast itu sendiri……"

"Melenyapkan fungsinya!? Oi, tunggu, jangan tidur dulu! Beritahu cara melakukannya!"

"……"

……Sial. Si Jacob itu malah membisu seribu bahasa.

"Sepertinya dia sudah membatu sepenuhnya, Bos."

"Tsk, lagi-lagi dia diam sebelum mengatakan bagian yang terpenting……"

Ditambah lagi, tubuhnya kini mengecil lebih banyak dibanding sebelumnya.

Seiring bangkitnya Super Beast baru, kekuatannya tersedot habis. Melihat kondisi para mantan Super Beast lainnya, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bangun lagi.

Zuzun! Pijakan kami berguncang lebih hebat dari sebelumnya.

Retakan mulai muncul di mana-mana, dan puing-puing bangunan mulai runtuh dari atas. Sepertinya tempat ini sudah mencapai batasnya.

"Lloyd-sama! Tempat ini mau ambruk!"

"Ayo cepat lari! ……Lloyd-sama?"

Menanggapi teriakan mereka berdua, aku justru bergumam di tempat.

"……Sayang sekali kalau tempat ini sampai hancur."

Altar berskala besar seperti ini tidak akan mudah ditemukan lagi.

Ini benar-benar bangunan bersejarah. Kehilangannya akan menjadi kerugian besar. Terutama bagiku.

Karena itulah, aku membentangkan penghalang di sekeliling ruangan untuk melindunginya dari guncangan. ……Sip, preservasi selesai.

"INI BUKAN WAKTUNYA MELAKUKAN ITU, BOSSSSSS!?"

"Di permukaan, Sylpha-tan dan yang lainnya mungkin sedang dalam bahaya!"

"Waduh, benar juga."

Aku harus segera mengurus Lapi yang terus membengkak. Aku juga harus menolong Sylpha dan kawan-kawan, bukan waktunya melamun.

Begitu keluar ke arah Koloseum menggunakan Spatial Teleportation, yang tertangkap mataku adalah──sebuah kolam renang biru yang membentang luas.

Lapi──atau apa pun itu sebelumnya, kini telah berubah menjadi lautan lendir yang memenuhi seluruh Koloseum.

Lendir itu meluap dari celah-celah dinding, menyapu monster-monster yang mengapung di sana.

"Oi, oi, oi, oi, gedenya sudah tidak masuk akal……"

"Bencana besar yang melebihi perkiraan. Sylpha-tan dan yang lain…… ada, mereka di sana!"

Ke arah yang ditunjuk Jiriel, Sylpha dan kawan-kawan sedang berkumpul di bagian atas dinding luar Koloseum.

Sepertinya mereka belum tertelan oleh Lapi, aku bisa bernapas lega.

"Apa yang kau lakukan! Lapi! Kembalilah! Ke mana perginya dirimu yang tadi! Lapi!"

Di sana, Alise terus berteriak memanggil dengan sekuat tenaga, tapi Lapi tetap terus membengkak.

Entah dia masih punya kesadaran atau tidak…… yang jelas dia sepertinya sudah tidak bisa menjawab lagi.

Nah, bagaimana baiknya ya.

Lapi yang sudah menjadi Super Beast sempurna kini dialiri mana dalam jumlah yang gila-gilaan.

Rasanya dia akan menjadi jauh lebih besar lagi. Seperti dulu, sampai dia menelan dan memenuhi seluruh negeri monster.

Kalau begitu, negeri monster ini bisa hancur lagi.

Padahal aku belum sempat berkeliling melihat-lihat tempat ini. Mungkin ada altar menarik lainnya seperti Koloseum ini, dan aku belum puas mencicipi sihir-sihir unik yang hanya digunakan para monster.

Aku tidak akan membiarkan tempat ini hancur.

"Karena itulah, pertama-tama aku harus mengeluarkan Lapi ke luar."

Sihir yang kugunakan adalah sihir sistem angin Breeze Barrier. Biasanya ini digunakan untuk memasang penghalang udara tipis guna menepis kotoran atau debu, tapi jika digunakan dengan kekuatan penuh, membungkus Slime raksasa pun sangat mungkin dilakukan.

Karena butuh fleksibilitas untuk mendorongnya keluar dari dungeon menuju permukaan, penghalang yang lunak akan lebih mudah digunakan.

Begitu aku menjentikkan jari ke atas, tubuh Lapi yang memaksimal mulai terangkat perlahan.

"Hanya dengan selaput udara Breeze Barrier, kau bisa mengangkat benda sebesar gunung ini…… mana yang sinting seperti biasa……"

"Lagipula monster lain malah jatuh ke bawah. Mau dibilang seperti biasa pun, Lloyd-sama yang sedang serius memang benar-benar di luar nalar……"

Bagaimanapun, aku terus mendorong Lapi yang membengkak ke arah permukaan.

Setelah memastikan seluruh tubuhnya keluar ke permukaan, aku membungkusnya rapat-rapat dengan penghalang berbentuk silinder berdiameter tiga kilometer dan tinggi sekitar lima puluh kilometer.

Di dalam penghalang silinder itu, volume tubuh Lapi terus bertambah. ……Fuu, jujur saja ini menguras cukup banyak mana. Untuk mengurung Lapi yang terus membengkak, aku harus membentangkan penghalang raksasa berlapis-lapis. Tapi dengan begini, untuk sementara harusnya aman.

"Lloyd-sama!?"

Sylpha menyadari keberadaanku dan memanggilku.

"Kenapa Lloyd ada di sana-aru?"

"Padahal kan Lloyd-sama ada di sini…… kenapa kalian berdua ada di mana-mana……?"

Tao dan Sylpha membandingkan aku dan boneka kayu buatanku bergantian.

Gawat, aku benar-benar lupa kalau tadi aku meninggalkan boneka pengganti di sana. Bisa repot nih.

Padahal aku berpura-pura menjadi anak kecil biasa yang suka sihir, mustahil aku bilang kalau itu boneka buatan sihir…… keringat dingin mengalir deras di punggungku.

"Anu, itu…… sepertinya rencanaku menipu Sylpha-san berhasil ya. Hebat juga aku."

Di tengah kecanggungan itu, Conny angkat bicara.

"Ini adalah alat sihir yang kubuat. Namanya Automaton. Hebat, kan?"

"Hm…… Automaton, ya. Aku pernah mendengarnya, tapi……"

"Dia bergerak sesuai perintahku. Coba, katakan 'Halo'."

Conny memberiku kode dengan matanya. Aku langsung mengerti dan mengoperasikan boneka kayu itu.

"'Halo'."

"Ooh……!"

Sylpha dan Tao tampak terkejut. ……Fuu, selamat. Hampir saja ketahuan.

Kerja bagus, Conny. Seolah menanggapi perasaanku, Conny memberikan jempol padaku.

"Ya, begitulah. Sebenarnya aku sedang menemani eksperimen Conny. Kalau Sylpha sampai tertipu, berarti eksperimennya sukses besar. Haha, hahaha……"

Ren yang tahu situasi sebenarnya hanya bisa tertawa kaku. Oi, oi, kubilang sembunyikan ekspresimu. Nanti bisa ketahuan.

"Muu…… kalau dilihat-lihat, ini mirip sekali dengan aslinya-aru……"

"Memang kalau diperhatikan baik-baik ada sedikit perbedaan…… Conny, berapa harga yang kau tawarkan untuk Lloyd-sama yang ini?"

"A-aku juga mau! Tolong buatkan tiga-aru!"

"Eh, maaf, yang ini tidak dijual."




"Kenapa mereka jadi mau beli barang-barang aneh begini?"

"Sebenarnya kalian berdua berencana memakai bonekaku untuk apa, sih?"

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan mereka.

"I-itu tidak penting sekarang! Lihat Lapi! Dia melesat keluar ke permukaan dengan kecepatan luar biasa, apa dia akan baik-baik saja!? ……Ngomong-ngomong, apa itu perbuatanmu, Lloyd?"

Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Ren yang berbisik lirih.

"……Iya. Kalau dibiarkan begitu saja, dokumen sejarah berharga di tempat ini akan tertelan habis. Aku sudah memindahkannya ke permukaan dan mengurungnya dengan penghalang, jadi tidak ada masalah."

"Kalau Lloyd yang bilang begitu, aku percaya. Tapi…… apa kau sudah menyiapkan alasan untuk Sylpha-san dan yang lain?"

"Yah, harusnya bakal aman-aman saja."

Sylpha dan yang lainnya tidak mungkin bisa membayangkan alasan di balik tindakan Lapi yang sudah jadi seperti itu.

Meskipun dia berubah menjadi kolam renang raksasa berbentuk silinder di permukaan istana, seharusnya itu bukan masalah besar.

"Tidak, menurutku itu masalah yang sangat besar, Bos……"

"Yah, siapa tahu malah bisa jadi objek wisata baru……"

Grim dan Jiriel melontarkan protes. Terlepas dari itu, tidak salah lagi kalau kami memang harus segera kembali ke permukaan sekarang juga.

"Ayo keluar lewat lubang itu. Pasti kita bisa keluar dengan cara yang sama seperti saat kita datang tadi. Ayo, Kak Alise juga."

"Lapi……"

Alise tertunduk lesu dengan bahu yang lunglai.

Dia memang orang yang sangat penyayang.

Namun, aku tidak bisa membiarkannya terus begini.

Aku menarik tangan Alise, lalu menggunakan Float untuk membawanya terbang menuju permukaan.

"Ini…… Lapi-aru? Sepertinya dia terkurung di dalam sebuah penghalang."

"Sepertinya begitu. Saat menyembur ke permukaan tadi, dia tampak diangkat oleh sihir atau semacamnya. Kira-kira perbuatan siapa, ya……?"

Sylpha dan Tao tampak berpikir keras mengamati fenomena itu.

Ren dan Connie yang mengetahui identitas pelakunya hanya bisa tersenyum kaku. Hei, jangan melihat ke arahku terus.

"……Hah! Aku tahu-aru! Kalau bicara soal penyihir hebat di sekitar sini, cuma ada satu orang yang terlintas-aru!"

"……Kebetulan sekali. Sepertinya orang yang sama juga terlintas di pikiranku. Jika penyihir itu, dia pasti sanggup menahan Lapi yang sudah membesar."

Sepertinya mereka berdua teringat akan sesuatu.

Ja-jangan-jangan maksudnya aku……? Saat aku perlahan mundur untuk menjauh, mereka berdua saling menunjuk dan berteriak kompak.

"Roberto!"

Aku nyaris terjungkal mendengarnya.

……Ah, benar juga, dulu memang pernah ada kejadian seperti itu.

Dulu aku pernah menggunakan Shape Shift untuk berubah menjadi sosok campuran antara aku dan Kak Albert demi menyelamatkan semua orang.

Saat itulah aku mengaku bernama Roberto.

Tentu saja Ren dan Connie yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memiringkan kepala kebingungan.

"Siapa orang itu?"

"Fufun, dia penyihir yang sangat hebat-aru. Sihirnya luar biasa sampai bisa memicu bencana alam, dan dia sangat tampan! Sedikit mirip Lloyd juga!"

"……Ah."

"……Begitu ya."

Namun sepertinya mereka berdua langsung menyadari identitas aslinya, karena mereka mulai menatapku dengan tatapan dingin yang tajam.

Oi, oi, kalian berdua terlalu cepat tanggap.

"Kalau begitu, kemungkinan penghalang itu hancur sangatlah rendah. Kemampuan dia sebagai penyihir sangat bisa dipercaya."

"Tapi sepertinya Roberto pun sudah mengerahkan segalanya hanya untuk menyegelnya-aru. Lapi terus membesar, kita harus segera bertindak. Tapi kenapa Roberto menyembunyikan dirinya-aru……? Lloyd, apa kau tahu sesuatu?"

"I-itu…… entahlah, aku tidak tahu…… ahaha, ahahaha……"

Saat aku mencoba tertawa kaku untuk mengalihkan pembicaraan, Grim dan yang lain memanggilku.

"Lloyd-sama, situasinya sudah begini. Sepertinya kita harus mempertimbangkan untuk membunuh Lapi saja, Bos."

"Benar. Jika Lapi terus membengkak dan penghalangnya hancur, Kerajaan Saloum akan musnah seketika."

Slime yang tidak memiliki bentuk tetap memang akan terus membesar selama terus-menerus dialiri mana.

Melihat situasi ini, aku jadi mengerti kenapa para monster sangat ketakutan tadi.

Tentu saja, kalau aku menyerang dengan serius, tidak akan sulit untuk menghabisinya saat ini juga…… Tapi kalau melihat Kak Alise yang seperti itu, hatiku jadi berat.

"Lapi……"

Alise menyentuh penghalang itu, seolah ingin meraih Lapi yang ada di dalam. Dia tampak sangat menderita.

Bahkan Erice yang biasanya cerewet pun hanya bisa terdiam dan menemani majikannya dengan rasa simpati.

Aku benar-benar ingin mengembalikannya seperti semula.

……Lagipula, aku ingin bertanya pada Lapi bagaimana rasanya menjadi Super Beast, dan mendengar detail lainnya.

"Kak Alise, Lapi pasti akan kembali seperti semula. Semangatlah."

"Benar-aru! Roberto juga sudah datang, jadi pasti tidak ada masalah!"

"Lloyd……"

Alise mengusap air mata yang menggenang di matanya dengan lengan bajunya dengan kasar.

Lalu dia bangkit berdiri dan mencoba menunjukkan senyum di wajahnya.

"……Benar. Meratap pun tidak akan mengubah apa pun. Pahlawan Roberto yang legendaris, lalu Kak Albert dan yang lain pasti punya ide bagus. Ayo semuanya, kita kembali ke istana!"

……Ah, benar juga, aku sampai lupa soal Kak Albert dan yang lain.

Melihat benda sebesar itu muncul, orang sehebat dia tidak mungkin diam saja tanpa melakukan apa pun.

Pasti dia sedang menyiapkan langkah drastis untuk menghabisi Lapi. Sepertinya ini akan menjadi urusan yang merepotkan lagi.

Aku harus segera menyiapkan alasan…… Sambil memegangi kepala yang mulai pening, kami pun kembali menuju istana.

Sesuai dugaan, suasana di dalam istana benar-benar gaduh dan kacau balau.

Yah, wajar saja. Benda semengerikan itu tiba-tiba muncul tepat di dekat istana.

"Ooh, Lloyd, dan Alise juga. Dari mana saja kalian berdua?"

Orang yang menyapa kami adalah Putri Kedua, Birgit di Saloum.

Dia adalah orang yang sangat ahli dalam urusan mencari uang, dan selalu bepergian ke seluruh dunia untuk urusan negosiasi atau perdagangan.

Gaya bicaranya yang khas katanya terbentuk secara alami karena terbiasa bernegosiasi di berbagai negara asing.

"Kak Birgit. Jarang sekali melihat Kakak ada di sini."

"Ah, aku kebetulan sedang ada urusan dagang di dekat sini. Lalu tiba-tiba ada benda luar biasa muncul di langit Saloum. Aku pun buru-buru datang ke sini. Apa pun situasinya, asalkan ada kekuatan uang, sebagian besar masalah pasti bisa diselesaikan. Aku berniat meminjamkan tangan untuk adik-adikku yang lucu ini. Ahahaha!"

"Begitu ya, sangat bisa diandalkan."

Kenyataannya, keberadaan Kak Birgit memang sangat membantu. Manusia tidak bisa melakukan hal besar tanpa uang dan logistik yang cukup.

Alasan aku bisa bebas melakukan riset sihir sejauh ini adalah karena keluarga kerajaan memiliki kekayaan yang lebih dari cukup.

Ujung-ujungnya, di dunia ini segalanya adalah soal uang, uang, dan uang. Di saat aku mengangguk setuju, Alise tiba-tiba berlari maju menerobos.

"Kak Albert!"

Sambil terengah-engah, dia memegangi lengan Kak Albert dan memohon dengan sangat.

"Tolong! Bantu Lapi…… tolong selamatkan Lapi! Dia adalah taming monster-ku!"

"……Alise? Dan Lloyd juga…… entah kenapa, tapi sepertinya kalian tahu sesuatu. ……Baiklah, ayo kita bicara di dalam."

"Kelihatannya menarik, aku ikut dengar juga ya~"

"Kakak…… ini bukan waktunya bermain-main."

"Albert serius seperti biasanya, ya. Rugi kalau hidup tidak dinikmati. Terutama di saat sedang genting seperti ini."

Birgit mengedipkan mata dengan santai.

Sambil mengikuti Kak Albert yang menghela napas panjang, kami masuk menuju ruang kerja.

"──Jadi, begitulah kejadian yang sebenarnya."

Aku menjelaskan situasinya secara singkat dan padat.

Mulai dari pergi ke negeri monster, Alise yang menjadikan Lapi sebagai taming monster-nya, hingga Lapi yang berevolusi menjadi Super Beast dan berakhir seperti itu.

Meski terkejut, Kak Albert tampak menunjukkan ekspresi seolah dia mulai memahami situasinya.

"Negeri monster, lalu Super Beast…… sepertinya kalian baru saja melakukan petualangan yang luar biasa……"

"Maaf karena kami merahasiakannya selama ini……"

"Tidak, itu sendiri bukan masalah. Sejauh ini Lloyd sudah menunjukkan kekuatannya, dan Sylpha serta yang lain juga menemanimu. Sudah saatnya kau memperluas wawasan sebagai calon raja di masa depan…… Yah, tapi sebagai kakak, aku ingin kau setidaknya memberi tahu sedikit."

"Sebagai raja, kita harus mengamankan banyak sumber daya agar rakyat bisa hidup tenang. Untuk itu, satu atau dua petualangan tak dikenal memang diperlukan."

"E-eh…… terima kasih."

Syukurlah. Meskipun mereka sedikit heran, sepertinya mereka tidak marah, jadi aku bisa bernapas lega.

Ini pasti karena kelakuanku yang cukup baik selama ini.

……Rasanya tadi aku mendengar kata-kata berbahaya seperti 'calon raja' atau semacamnya, tapi itu pasti cuma perasaanku saja.

"Lalu, soal itu, Kak Albert…… apa Kakak bisa membantuku untuk menyelamatkan Lapi……!"

"Lapi…… Slime yang dijadikan taming monster oleh Alise. Super Beast baru, ya."

Setelah mengerutkan kening sejenak dalam keheningan, Kak Albert perlahan membuka mulutnya.

"──Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa!? Kenapa begitu!?"

"Kau pasti sudah melihat wajah rakyat sebelum masuk ke istana tadi, kan? Semuanya pasti tampak cemas. Sebagai keluarga kerajaan, kami berkewajiban untuk mengambil tindakan tegas demi keamanan mereka."

"……!"

Mendengar kata-kata itu, Alise langsung terdiam seribu bahasa.

Seperti yang dikatakan Kak Albert, sepanjang jalan menuju ke sini, semua rakyat yang kami temui tampak sangat ketakutan dan cemas.

Banyak yang mengerumuni prajurit untuk meminta penjelasan, dan gerbang istana dipenuhi orang-orang yang mencoba melarikan diri.

Jika tidak segera ditangani, kerusuhan pasti akan pecah. Alise pun memahami hal itu di dalam hatinya.

"Negara ada untuk melindungi rakyat yang tinggal di dalamnya. Aku mengerti perasaanmu yang ingin menyelamatkan monster peliharaanmu, tapi yang harus diprioritaskan adalah rakyat. Tolong mengertilah, Alise."

"……Begitu, ya…… Aku mengerti……"

Aku meletakkan tangan di atas kepala Alise yang tertunduk, lalu mengelusnya pelan.

Melihat pemandangan itu, Kak Birgit bergumam sambil mengangguk.

"Tapi Albert, apa kau punya cara konkret untuk menangani monster raksasa itu?"

"……Saat ini, aku terpaksa mengatakan bahwa membunuhnya pun mustahil dengan kekuatan biasa."

Yah, sepertinya memang begitu.

Bahkan bagiku pun, butuh sedikit trik untuk bisa menghabisinya secara total. Kekuatan tempur yang bisa disiapkan Saloum saat ini tidak akan cukup untuk menembusnya.

"Meski begitu, menurut hasil penyelidikan, saat ini target terkurung di dalam penghalang yang sangat kuat, jadi sepertinya tidak akan terjadi apa-apa dalam waktu dekat. Sepertinya itu dipasang oleh penyihir bernama Roberto yang pernah menolong kita dulu. Menurut para penyihir istana, itu adalah penghalang dengan kepadatan dan luas yang luar biasa. Kemungkinan besar monster itu bisa terus disegel di sana. ……Benar-benar penyihir yang mengerikan, Roberto itu."

"Fumu, petualang misterius Roberto, ya…… Aku sering mendengar ceritanya, tapi ternyata dia sehebat itu. Apa dia mau jadi tentara pribadiku saja ya~"

"……Terlepas dari itu, berkat dia, belum ada kerusakan yang sampai ke sini. Fakta bahwa dia tidak menampakkan diri pasti karena ada alasan tertentu. Aku dengar dia juga pergi tanpa meminta imbalan dulu, jadi sebaiknya kita berasumsi bahwa kita tidak bisa bekerja sama dengannya."

"Sayang sekali ya. Kira-kira dia itu siapa, sih? Aku jadi penasaran…… kan, Lloyd?"

"Ha, haha…… benar juga, ya……"

Kak Birgit menatapku sambil mengulas senyum penuh arti.

Wajah yang mencurigakan itu…… jangan-jangan dia sudah menyadarinya? Orang ini memang punya insting yang sangat tajam.

Dia juga sepertinya tahu tentang Roberto…… Ah, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja. Pasti begitu.

"Namun, kita harus tetap memikirkan kemungkinan terburuk. Aku sudah menyiapkan bahan peledak dalam jumlah besar, pasukan penyihir, dan juga unit Golem. Jika penghalang itu pecah, mereka akan melancarkan serangan total untuk menahan gelombang serangan. Selain itu, kami juga menumpuk karung pasir untuk mempertinggi tembok benteng. Dengan begitu, kerusakan bisa diminimalisir. ……Kau tidak keberatan kan, Alise?"

"Iya……"

Sambil menggigit bibir, Alise mengangguk pelan.

Dia pasti khawatir Lapi akan terluka oleh serangan-serangan itu, tapi dia tidak bisa membantah.

Sebagai anggota keluarga kerajaan, tidak boleh mengutamakan monster peliharaan di atas keselamatan rakyat.

Alise yang biasanya tampak linglung pun sangat memahami hal itu.

Wajahnya tampak penuh dengan perasaan tidak berdaya karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa.

"Selain itu, kami juga sedang menyiapkan persiapan untuk bertahan di dalam benteng. Banjir akibat tubuh raksasa itu pasti akan surut suatu saat nanti, tapi sampai saat itu tiba, kita harus menahan lapar. Aku sedang mengumpulkan orang dan bahan makanan dari berbagai daerah."

"……Fumu, setidaknya kau sudah melakukan hal minimal. Kau sudah sedikit lebih dewasa ya, Albert? Karena pertumbuhan adikku yang manis ini, aku juga akan ikut membantu."

"Aku sangat menghargainya. ……Ah, benar juga. Alise."

Albert menghentikan langkahnya, lalu berkata tanpa menoleh ke belakang.

"……Karena itulah kami sangat sibuk, jadi aku tidak punya waktu untuk mempedulikanmu. Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau."

"…? Hah……?"

Alise mengerjapkan matanya dengan bingung. Kak Albert berdeham pelan lalu melanjutkan kata-katanya.

"Kalau tidak salah, di Perpustakaan Terlarang istana ada buku yang mencatat tentang Super Beast di masa lalu. Siapa tahu di sana tertulis cara untuk mengembalikan Super Beast ke bentuk semula."

"Oh, benar juga! Aku juga baru saja mendapatkan buku langka tentang negeri monster. Buku itu juga harus dimasukkan ke Perpustakaan Terlarang. Karena itu Alise, kami sedang sibuk, jadi bisa tolong kau yang membawakannya ke sana?"

"Eh……?"

……Begitu rupanya. Mereka berdua benar-benar tidak jujur, ya.

Aku menyenggol pinggang Alise yang masih belum menyadari niat mereka dengan sikutku.

"Maksud mereka, kalau Kakak ingin tahu cara mengembalikan Lapi, cari saja sendiri."

"Ah……!"

Benar, Kak Albert dan Kak Birgit secara tidak langsung mengatakan; kalau ingin tahu cara mengembalikan Lapi yang sudah jadi Super Beast, pergi saja ke Perpustakaan Terlarang dan cari sendiri.

Ternyata mereka berdua tetap saja memanjakan adiknya.

"Terima kasih banyak! Kak Albert! Kak Birgit!"

Alise menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan penuh rasa syukur, dan mereka berdua hanya membalasnya dengan kedipan mata.

"G-gawat, Tuan Albert!"

Tiba-tiba, seorang prajurit menerobos masuk ke ruangan.

Melihat keadaan prajurit yang sangat panik itu, ekspresi Kak Albert langsung berubah serius.

"Ada apa?"

"Bahan makanan yang sudah kita kumpulkan…… tiba-tiba dimakan habis oleh sekawanan Slime yang muncul dari saluran air bawah tanah! Saat ini kami sedang mencoba menanganinya, tapi jumlahnya terlalu banyak……!"

"Cih…… apa Super Beast itu memicu aktivitas para Slime……? Ternyata lebih cepat dari dugaanku……"

Kalau tidak salah Lapi pernah bilang, dengan lahirnya Super Beast, seluruh spesiesnya akan menjadi lebih kuat.

Slime yang biasanya cuma mengais sampah di tempat tersembunyi kini mulai keluar dan memakan bahan makanan, ini benar-benar merepotkan.

"Ayo Lloyd, kita harus segera mencari cara untuk mengembalikan Lapi."

"Baik, Kak Alise."

Alise yang sudah menemukan tujuannya tidak lagi ragu-hari. Aku ditarik olehnya menuju Perpustakaan Terlarang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close