NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 8 Interlude

Catatan Operasional Saint

Dokumen Tidak Resmi: Di Ibu Kota Pertama, Zefente


Di Ibu Kota Pertama, Zefente, musim panas telah tiba lebih awal.

Langit cerah seolah melupakan musim hujan yang seharusnya melanda.

Cahaya mentari yang terang benderang menerobos masuk ke halaman dalam istana kerajaan.

Suhu udara saat ini benar-benar tidak lazim untuk musimnya. Tak heran, saat berhasil meniti anak tangga terakhir di Gedung Administrasi, tubuh ini sudah sepenuhnya bersimbah keringat.

(Sial, ini benar-benar menyiksa. Apa musim panas sudah tiba?)

Begitulah yang dipikirkan oleh Claregg Ormawisk, sang Perdana Menteri Kerajaan Bersatu.

Sebenarnya ia bisa saja menggunakan lift, tetapi cetak biru rencana penghematan di masa perang mengharuskan penggunaan peralatan segel suci dibatasi.

Berhubung dirinya sendirilah yang mengusulkan rencana tersebut, Claregg merasa wajib memelopori dan memberikan teladan yang baik.

Ruang kerja Claregg terletak di lantai yang hampir mencapai puncak Gedung Administrasi.

Setelah mengatur napasnya sejenak, ia mendorong pintu hingga terbuka.

"Maaf membuat Anda sekalian menunggu."

Claregg membungkuk pelan. Rupanya, para tamu sudah tiba lebih dulu di sana.

Ada dua orang—salah satunya adalah seorang wanita.

Sang Ratu Kedua, Nateara.

Wanita itu langsung melayangkan tatapan dingin tanpa sepatah kata pun.

Sementara satu orang lagi adalah pria paruh baya bertubuh sangat kurus, yang dikenal dengan julukan Uzumidori Hoshi.

Pria itu merupakan pemimpin dari Midori Yubi, sebuah organisasi spionase yang menguasai wilayah barat Won Daolang.

Berbeda dengan sang Ratu, ia menyambut Claregg dengan anggukan kepala yang ramah.

"Terima kasih atas kerja keras Anda, Tuan Perdana Menteri."

Kedua orang ini adalah tokoh penting dari faksi 'Simbiosis', kelompok yang mengampanyekan perdamaian dan pembauran dengan Fenomena Raja Iblis.

Claregg sendiri juga merupakan bagian dari faksi tersebut.

"Maaf telah membuat kalian menunggu terlalu lama. Rapat parlemen berjalan jauh lebih alot dari yang saya perkirakan."

Claregg berucap seolah tengah membela diri. Sembari menyadari hal itu, ia tetap melanjutkan kata-katanya.

Parlemen, atau yang biasa disebut dengan Kantor Administrasi Kerajaan Bersatu, merupakan entitas yang cukup merepotkan bagi Claregg.

Otoritas seorang perdana menteri saat ini sudah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan zaman monarki dahulu.

Sekarang, posisinya tak lebih dari sekadar penengah antar-faksi. Kekuasaannya bahkan berada di bawah ketua parlemen.

Meski begitu, bukan berarti ia sepenuhnya tidak berdaya. Keluarga Claregg adalah keluarga terpandang yang telah melahirkan perdana menteri dan menteri kehakiman selama beberapa generasi.

"Jadi, bagaimana situasi di parlemen tadi?"

Uzumidori Hoshi melempar senyum simpul, menatap Claregg seolah ingin menjajaki pikirannya.

"Sepertinya laporan situasi perang dari Panglima Tertinggi Marcolas Esgain sudah tiba, bukan?"

"Benar."

Claregg mengangguk kecil, sembari memunculkan sedikit rasa waspada dalam benaknya. Informasi rahasia itu baru saja tiba satu jam yang lalu.

Namun, bukan hal aneh jika pemimpin organisasi intelijen barat sudah mengetahuinya.

"Ini di luar perkiraan kita. Saat ini, semangat bertempur rakyat sedang membubung sangat tinggi."

Bagi faksi 'Simbiosis', laporan dari Marcolas Esgain tidak ada bedanya dengan mimpi buruk yang mengerikan.

Kemenangan demi kemenangan terus diraih.

Situasi berkembang begitu pesat, bahkan bisa disebut sebagai serangan kilat yang gemilang.

Umat manusia akhirnya berhasil menyeberangi Selat Valigarhi dan merebut kembali wilayah pesisir.

Kini, mereka dilaporkan telah memulihkan jalur komunikasi dengan Kota Artileri Nofan dan terus bergerak maju ke utara.

Jika situasinya seperti ini, merebut kembali Nofan akan menjadi perkara yang sangat sulit.

Ditambah lagi, kekuatan Fenomena Raja Iblis di Pegunungan Kajit bagian timur telah disapu bersih, sementara di sisi barat membentang Danau Norus yang mustahil ditembus oleh serangan skala besar.

Bagian selatan pun kini telah sepenuhnya menjadi wilayah kekuasaan manusia.

"Umat manusia terus menumpuk kemenangan, jauh melampaui apa yang kita prediksikan sebelumnya."

Sembari berbicara, Claregg melangkah dan menduduki kursi di balik meja kerjanya.

"Terutama Ksatria Suci Kesebelas, sepak terjang mereka benar-benar mengerikan. Kemenangan demi kemenangan terus mereka raih. Berdasarkan laporan, mereka bersama Ksatria Suci Kesembilan kini telah mencapai hutan belantara."

"Fenomena Raja Iblis ternyata tidak sekuat bualannya, ya."

Uzumidori Hoshi menghela napas panjang dengan dramatis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kudengar Fenomena Raja Iblis Hephaestus yang keluar dari hutan belantara pun langsung hancur total hanya dalam satu pertempuran."

"Itu fakta."

Claregg terpaksa membenarkan hal tersebut seraya mengembuskan napas berat.

"Dia dibunuh oleh Viewks Wintier dan Sang Goddess Matahari, Lukjut."

"Oh—Goddess! Jadi, mungkinkah itu akar masalahnya?"

Claregg merasa tebakan itu keliru, namun ia memilih untuk bungkam.

Lagipula, berdebat tidak akan ada gunanya. Sosok yang istimewa di sini adalah Viewks Wintier, karena dialah yang mampu menarik keluar seluruh potensi kekuatan dari Sang Goddess Matahari secara maksimal. Bahkan jika dipasangkan dengan Goddess lain pun, Viewks pasti tetap akan menjadi ancaman yang nyata.

Bagaimana tidak? Dia bisa membinasakan Fenomena Raja Iblis yang memanfaatkan keuntungan geografis hutan belantara dengan begitu mudah tanpa kesulitan berarti.

"Bicara soal Goddess, apa yang sedang dilakukan oleh tiga ksatria yang menggunakan jasad Goddess itu?"

"Sepertinya mereka memilih opsi untuk menghemat kekuatan. Sang Goddess Ratapan, Nuckelavee, telah menarik diri dari garis depan dan mundur bersama Sang Goddess Bulan, Empusa. Sementara Deirdre, sang Goddess Bumi—"

"Menahan Pasukan Saint dengan mengepung kembali Kota Nofan, bukan? Sepertinya rencana itu berjalan dengan cukup baik."

Sebelum Claregg sempat menyelesaikan kalimatnya, Uzumidori Hoshi sudah memotong dan melanjutkan.

"Dengan memaku Pasukan Saint di sekitar Nofan, mereka tidak akan bisa bergerak maju. Sementara Ksatria Suci Kesebelas yang memimpin di depan beserta Ksatria Suci Kesembilan yang membantu mereka, kabarnya jalur logistik mereka saat ini hampir terputus total, benar begitu?"

"Tepat sekali. Namun—"

"Itu tidak akan bertahan lama. Pasukan Fenomena Raja Iblis yang dipimpin Deirdre pun cepat atau lambat pasti akan dihancurkan. Satu-satunya kabar baik adalah... siapa namanya tadi? Ah, benar, sang Ksatria Hukuman. Mereka berhasil menangkap kontraktor dari Goddess Pedang, bukan? Meski kurasa hal itu tidak akan banyak memengaruhi situasi secara keseluruhan."

"……Ya."

Sekali lagi, Claregg hanya bisa mengangguk pasrah. Pria berjuluk Uzumidori Hoshi itu benar-benar memahami seluruh situasi dengan sangat baik.

"Jika Nofan bisa dijatuhkan, situasinya pasti akan berubah drastis. Namun, itu pun merupakan hal yang sulit. Di samping Panglima Tertinggi Esgain itu, para Ksatria Suci juga ditempatkan di sana. Ditambah lagi, Ksatria Suci Keenam beserta Goddess Kekuatan kini telah bergabung dengan Ksatria Suci Kedelapan yang didampingi oleh Goddess Bayangan."

Claregg mendengarkan rentetan penjelasan itu dengan perasaan yang kian kelam.

Rasanya taktik untuk menyerang jalur logistik umat manusia yang telah merangsek ke utara sudah tidak bisa digunakan lagi.

Di sana ada Ksatria Suci Keenam—atau lebih tepatnya, ada pria bernama Lufen Kauron.

Selama pria itu berada di wilayah utara, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Jika situasi ini terus berlanjut, maka skenario yang diucapkan oleh Tovitz Huker pasti akan benar-benar terjadi.

Sebuah pertempuran penentu di Puncak Spiral Sordo.

"Begitu Pasukan Saint berhasil menerobos pasukan yang dipimpin Deirdre dan menyalurkan pasokan logistik ke Ksatria Suci Kesebelas, umat manusia akan langsung menyerbu ke utara menuju Puncak Spiral Sordo dalam sekali jalan."

"Ini situasi yang sangat gawat. Jika dibiarkan, semuanya akan berakhir buruk bagi kita."

Uzumidori Hoshi kembali merentangkan kedua tangannya dengan gestur yang berlebihan.

"Bagaimana menurut Anda? Bukankah sudah saatnya bagi kita untuk memikirkan cara menyelamatkan diri sendiri? Kami tidak tahu bagaimana situasi di utara, tetapi kekuatan faksi kita di sekitar Ibu Kota Pertama ini sudah seperti lilin di ujung tanduk. Organisasi kita di berbagai tempat telah runtuh berantakan."

Apa yang dikatakannya memang sebuah fakta yang tak terbantahkan.

Setelah berakhirnya Pemilihan Suci, interogasi terhadap Uskup Agung Milose yang tertangkap mengungkap banyak fakta tersembunyi.

Akibatnya, banyak petinggi faksi 'Simbiosis' yang ditangkap atau bahkan dieksekusi secara diam-diam.

"Harus kuakui, Kaitoubyou benar-benar hebat. Bahkan setelah mengerahkan seluruh anak buahku, aku masih belum bisa mengendus identitas asli dari pemimpin mereka. Ada indikasi kalau Ksatria Suci Keduabelas juga ikut campur dalam masalah ini."

"Saya juga sudah memahami situasi tersebut. Namun—"

"—Sekarang sudah terlambat."

Nateara akhirnya membuka suara. Sang Ratu Kedua menatap mereka berdua dengan sorot mata yang sedingin es.

"Kita sudah tidak punya pilihan lagi. Bukankah kalian juga merasakan hal yang sama? Ketika Kaitoubyou berhasil melacak keberadaan kita suatu hari nanti, mereka tidak akan pernah mengampuni kita."

Nada bicara Nateara terdengar sangat tajam, dan tatapan yang dilemparkannya pada Uzumidori Hoshi tampak begitu menusuk.

"Apa menurutmu menyerah tanpa syarat akan mempan di hadapan orang-orang kejam itu? Kita hanya akan berakhir dibantai oleh mereka."

"Tepat sekali. Anda benar... sekarang memang sudah terlambat."

Uzumidori Hoshi menyetujui perkataan Nateara dengan begitu mudah tanpa bantahan.

"Kita harus memikirkan cara untuk membalikkan keadaan. Tuan Perdana Menteri, apa Anda memiliki suatu rencana?"

"……Ada beberapa. Bukan berarti kita benar-benar kehabisan akal. Bagaimanapun juga, Sang Raja masih berada dalam genggaman tangan kita."

Claregg menumpukan kedua sikunya di atas meja kerja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Bukankah begitu, Yang Mulia Ratu Nateara?"

"Ya. Sampai saat ini... pria itu tidak bisa dikatakan hidup, namun tidak bisa juga dikatakan mati."

Claregg sendiri tidak mengetahui secara mendetail mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Sang Raja.

Dan ia merasa, ada hal-hal yang memang lebih baik tidak diketahuinya.

Satu hal yang pasti, semacam Fenomena Raja Iblis telah melakukan interferensi tertentu pada tubuh Sang Raja.

Akibatnya, penguasa negeri ini sekarang berada dalam kondisi yang tak ubahnya seperti mayat hidup.

(Meskipun di hadapan publik, ia diumumkan sedang beristirahat karena menderita penyakit parah.)

Sesuai aturan, takhta kerajaan seharusnya sudah diserahkan kepada penerus sah. Berdasarkan hak waris, Pangeran Pertama Renavol adalah kandidat yang paling ideal.

Namun, entah mengapa, Ratu Kedua—Nateara—sangat membenci Renavol secara ekstrem.

Kecenderungan itu kian menguat setelah ia kehilangan Pangeran Kedua, Lisfal, akibat penyakit—hingga mendorongnya untuk memihak faksi 'Simbiosis'.

Akan tetapi, jika bukan Renavol, apakah ia berniat menaikkan Raquel ke atas takhta?

Claregg tidak mampu membaca niat asli wanita itu.

Satu hal yang pasti, kerja sama dari Ratu Kedua adalah hal yang sangat krusial bagi mereka.

"Rakyat juga sudah sangat lelah dengan peperangan ini. Kehancuran di daerah-daerah sudah sangat parah, dan dampaknya pun mulai terasa hingga ke pusat kota..."

Claregg mencoba untuk mencari secercah harapan. Semuanya belum benar-benar berakhir.

"……Suara-suara yang mendambakan perdamaian saat ini memang masih terdengar lamat-lamat. Namun, jika kita bisa menghimpun dan menyatukan mereka, kita pasti bisa membentuk kekuatan yang solid. Kesempatan itu... pasti akan datang. Saya sangat memercayai hal itu."

"Kuharap apa yang Anda katakan itu benar-benar terwujud. Aku pun mendoakan hal yang sama."

Uzumidori Hoshi terkekeh pelan. Sebuah tawa yang menyiratkan firasat buruk.

"Sayangnya, kita tidak bisa berharap pada keberuntungan semata, bukan? Lagipula, kita ini sedang mengkhianati para Goddess, jadi mana mungkin kita mendapatkan berkah perlindungan dari mereka."

"Tidak."

Secara mengejutkan, Nateara menggelengkan kepalanya. Dengan tatapan mata yang tetap sedingin es, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

"Berkah itu ada. Berkah perlindungan dari Goddess juga menyertai kita."

"Apa itu berarti—"

Claregg seketika kehilangan kata-katanya. Bahkan pria berjuluk Uzumidori Hoshi pun memperlihatkan ekspresi wajah yang terkejut karena tidak menduga jawaban tersebut.

(Mendapat berkah perlindungan dari Goddess. Itu artinya... ada salah satu dari mereka yang memihak kita?)

Di antara para Goddess itu, apakah ada yang bersekutu dengan faksi 'Simbiosis'? Atau mungkinkah ada di antara para Ksatria Suci?

(Jika benar begitu, sikap percaya diri Nateara selama ini menjadi sangat masuk akal.)

Wanita itu jelas mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Claregg berdoa dalam hati agar rahasia tersebut bisa menjadi kartu as yang akan membawa mereka pada kemenangan—berharap pada sosok Goddess pengkhianat yang entah berada di mana saat ini.

Kota Artileri Nofan terus melepaskan tembakan meriam sebagai bentuk gertakan.

Kini, sebagian besar meriam di benteng yang dikenal sebagai Seikou Hachimon itu hanya menembakkan peluru hampa.

Suara dentuman yang menggelegar di bawah langit awal musim panas itu terdengar begitu hambar dan palsu.

Mungkin, perasaan itu muncul hanya karena dirinyalah yang mengetahui fakta yang sebenarnya di balik tembok kota ini.

(Benar-benar omong kosong.)

Jace Parchlact mengumpat dalam hati sembari mempercepat langkah kakinya.

Baginya, pusat kota yang padat dengan kerumunan orang adalah tempat yang paling tidak menyenangkan.

Terutama saat ini, ketika gelombang pengungsi dari wilayah sekitar terus membanjiri kota, membuat jalan-jalan utama menjadi sangat sesak dan bising.

Ia ingin segera kembali ke kandang naga tempat Neely berada. Toh, semua barang belanjaan yang diperintahkan sudah selesai ia beli.

(Baguslah kami akhirnya dibebaskan dari penjara, tapi harus tertahan di kota yang penuh sesak seperti ini benar-benar membuatku muak.)

Jangankan terbang bebas di angkasa bersama Neely, sekadar mengajaknya berjalan-jalan saja rasanya sangat sulit dilakukan.

Atmosfer kota ini terasa begitu mengungkung dan menyesakkan. Semakin ia memikirkan hal itu, tutur kata dan sikapnya pun secara alami menjadi kian ketus—terlebih lagi hari ini Jace harus ditemani oleh satu orang lagi.

"Hei, cepat sedikit jalannya. Norgayu, apa yang sedang kau lakukan?"

"Ini adalah tanggung jawab seorang raja."

Ketika Jace menoleh ke belakang, ia mendapati Norgayu mengenakan pakaian yang sangat aneh dan mencolok.

Pria itu mengenakan jubah kumal dengan tudung yang ditarik dalam-dalam hingga menutupi matanya, ditambah selembar kain yang melilit paruh bawah wajahnya untuk menyembunyikan identitas.

Di cuaca musim panas seperti ini, pakaian seperti itu tentu saja terasa sangat gerah. Tak heran jika peluh tampak bercucuran deras di wajahnya.

Alasan pria itu sendiri melakukan hal ini adalah 'untuk menyembunyikan identitas di tengah kota', namun di mata orang lain, penampilannya justru terlihat seperti seorang kriminal atau orang asing yang sangat mencurigakan.

"Jangan terburu-buru begitu. Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan keselamatan jiwaku, tetapi ini adalah kesempatan langka bagiku untuk keluar. Aku harus menyaksikan sendiri bagaimana kondisi kehidupan rakyatku dengan mata kepalaku sendiri."

"Aku sama sekali tidak mencemaskanmu. Kalau kau terus mengocehkan hal bodoh seperti itu, bersiaplah untuk kutinggalkan di jalanan."

"Sikapmu sebagai pengawal benar-benar tidak sopan."

Norgayu tampak mengerutkan alisnya dengan sangat kentara karena merasa tersinggung.

"Kau, siapa namamu kembali?"

"Jace."

Kemarin pria ini juga menanyakan hal yang sama.

Tampaknya Norgayu baru saja mengalami kematian klinis belum lama ini, sehingga ingatan dalam otaknya menjadi sangat kacau dan tidak stabil.

Hanya dalam waktu tujuh hari setelah dinyatakan tewas, ia sudah bisa dibangkitkan kembali dan langsung dikirim ke garis depan pertempuran—Jace menduga, proses perbaikan tubuhnya mungkin dilakukan dengan sangat tergesa-gesa.

Apakah ketergesaan itu yang memengaruhi fungsi otaknya setelah bangkit dari kematian?

"Begitu ya. Jace... Jace Parchlact..."

Norgayu menggumamkan nama itu berulang kali di balik kain penutup wajahnya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya mengangguk paham.

"Hmm. Benar, aku ingat sekarang. Aku tahu tentangmu. Sebagai seorang raja, sudah menjadi kewajiban mutlak bagiku untuk mengenali setiap anggota pengawal pribadiku satu per satu."

Melihat tingkah Norgayu yang seperti itu, rasa cemas seketika menyergap benak Jace.

Apakah suatu hari nanti ingatannya juga akan terkikis habis dan aus seperti pria ini?

Di dalam kepala Norgayu, Jace tampaknya telah didaftarkan sebagai seorang 'anggota pengawal pribadi'.

Padahal, seingat Jace, belum lama ini dirinya masih menjabat sebagai seorang jenderal di angkatan udara.

Membayangkan kalau dirinya akan berakhir tragis seperti itu kelak, Jace merasa tidak boleh mati dengan mudah.

Ia benar-benar tidak ingin mati. Jace mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mencoba mengubur dalam-dalam perasaan kelam yang mulai menggerogoti pikirannya.

"—Terserahlah, mau kau anggap pengawal atau apa pun itu bebas. Panggil aku sesukamu. Sekarang, ayo cepat kembali."

"Umu. Aku paham kalau kau ingin cepat sampai, tapi tunggulah sebentar lagi."

Norgayu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berlutut di tepi jalan.

Di sana, tampak beberapa anak manusia yang masih sangat belia sedang duduk meringkuk di atas tanah yang kotor.

(Anak-anak manusia, ya? Aku tidak pernah tahu cara menentukan usia ras manusia dengan tepat.)

Meski begitu, Jace bisa melihat dengan jelas kalau kondisi fisik anak-anak itu tampak sangat lemah dan menderita.

Usia mereka mungkin sekitar sepuluh tahun, atau sedikit di atasnya.

Salah satu dari mereka—seorang anak laki-laki dengan luka bakar yang mengerikan di wajahnya—menatap Norgayu dengan tatapan mata yang kosong, sembari menyodorkan sebuah kotak kayu kecil yang kosong ke arahnya.

"Gunakan ini untuk menyambung hidup kalian."

Norgayu merogoh sakunya, lalu memasukkan beberapa lembar kupon militer dan koin logam kecil ke dalam kotak kayu tersebut.

Melihat koin logam itu, Jace sempat terkejut karena mengira itu adalah koin perak berharga dari era kerajaan lama. Namun setelah diperhatikan lagi, dugaannya meleset.

Koin itu ternyata adalah uang palsu hasil tempaan Norgayu sendiri, yang diklaim sebagai mata uang resmi yang dicetak oleh 'negara' fiktif buatannya.

Jika sampai ada petugas yang melihat mereka menggunakan uang palsu itu di tempat umum, taruhannya adalah masalah yang sangat besar.

Jace sempat ingin menegurnya, namun ia memilih untuk menahan diri.

Menasihati Norgayu adalah tindakan yang sia-sia karena pria itu tidak akan pernah mau mendengarkan perkataan orang lain.

"Maafkan aku karena hanya bisa memberikan jumlah yang sedikit ini. Kelaparan dan kemiskinan yang menimpa kalian saat ini adalah bentuk kegagalanku sebagai seorang pemimpin. Kuharap kalian bisa bertahan sedikit lagi. Aku bersumpah akan membangun dunia yang makmur dan layak huni bagi kalian semua."

(Pria ini benar-benar tidak ada kapoknya.)

Jace hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ajaib tersebut.

Sepanjang menyusuri jalan utama ini, setiap kali Norgayu melihat anak-anak telantar seperti mereka, ia pasti akan menghentikan langkahnya dan membagikan koin-koin palsu itu secara cuma-cuma.

Anak laki-laki dengan luka bakar di wajahnya itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih, ia hanya terus memandangi figur Norgayu dengan ekspresi wajah yang kebingungan.

Anak-anak malang seperti mereka jumlahnya tak terhitung di kota ini. Karena itulah, bagi Jace, tindakan filantropi yang dilakukan Norgayu terasa sangat tidak masuk akal dan sia-sia belaka.

"Benar-benar keterlaluan—penguasa wilayah ini sama sekali tidak becus dalam bekerja," Norgayu menggerutu dengan suara rendah yang sarat akan kekesalan.

"Beban pajak yang dijatuhkan pada rakyat terlalu mencekik. Walau saat ini sedang dalam kondisi perang sekalipun, mereka tidak boleh membiarkan rakyat sampai kelaparan dan kehabisan bahan pangan seperti ini. Jace, besok pagi seret penguasa wilayah ini ke hadapanku! Perintahkan dia untuk menyiapkan seluruh buku catatan pajak dalam waktu satu malam!"

"Ya, ya, akan kusampaikan nanti."

Jace mengangguk asal-asalan demi menyudahi keluhan itu. Toh, begitu bangun tidur besok pagi, Norgayu pasti sudah melupakan semua perintah yang diucapkannya hari ini.

"Tapi kau ini benar-benar rajin ya... untuk apa repot-repot membagikan koin kepada setiap anak yang kau temui di jalan? Tindakanmu itu tidak akan pernah ada habisnya."

"Aku tahu betul kalau aku tidak akan bisa menyelamatkan semua orang di dunia ini," jawab Norgayu lirih, seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri.

Ia membenarkan posisi tudung jubahnya agar menutup lebih rapat, lalu berjalan beriringan di samping Jace.

"Menyelamatkan mereka mungkin berarti mengabaikan orang lain yang berada di tempat berbeda. Namun bagi rakyat, seorang raja adalah sosok absolut yang bertugas untuk menganugerahkan keberuntungan bagi mereka. Seorang penguasa harus memiliki keangkuhan seperti itu dalam dirinya."

"Terserah kau sajalah."

Benar-benar pemikiran yang konyol. Jace merasa jika ia adalah seekor naga yang bisa menyemburkan api murni, ia ingin sekali membakar pria di sampingnya ini sekarang juga.

Pemikiran dasar mereka berdua benar-benar tidak pernah sejalan.

(—Tapi harus kuakui, isi kepalanya memang sangat berguna. Sifatnya saja yang menyebalkan.)

Jace mengetahui dan mengakui satu fakta objektif: Norgayu adalah seorang jenius yang tak tertandingi.

Tidak peduli seberapa sesat ideologi yang dianutnya, atau seberapa destruktif kehadirannya bagi tatanan masyarakat manusia, Jace tidak mau ambil pusing.

Bagi ras naga, kecerdasan taktis yang dimiliki Norgayu adalah instrumen yang sangat krusial untuk meraih kemenangan.

Oleh karena itu, Jace memilih untuk menelan kembali kata-kata makian yang sudah berada di ujung lidahnya, lalu mengajak pria itu melanjutkan perjalanan.

"Kurasa ini sudah lebih dari cukup. Ayo jalan, Yang Mulia."

"Umu."

Dari titik itu, jarak menuju barak militer yang ditempati oleh para Ksatria Hukuman sudah tidak terlalu jauh lagi.

Barak sementara bagi para terpidana itu terletak di sebuah area yang agak masuk ke dalam, sedikit menjauh dari hiruk-pikuk pusat perbelanjaan kota.

Berdasarkan informasi yang beredar, fasilitas tersebut dulunya merupakan sebuah bangunan penjara darurat yang biasa digunakan untuk mengurung orang-orang yang membuat keonaran di pasar.

Di depan bangunan itulah, Patausche dan Rhyno tampak sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.

"Wah, selamat datang kembali! Kawan Jace, Kawan Norgayu! Senang sekali melihat kalian berdua kembali dengan selamat!"

Rhyno yang menyambut mereka di dekat pintu masuk barak tampak memasang senyum lebar yang sangat ceria di wajahnya.

(Pria yang satu ini...)

Jace benar-benar tidak habis pikir dengan struktur saraf yang dimiliki oleh makhluk di depannya ini.

Rasanya mustahil bagi manusia normal untuk bisa memahami jalan pikirannya.

Tapi ya mau bagaimana lagi, bagaimanapun juga, jati diri asli dari pria ini adalah seekor Fenomena Raja Iblis.

Bahkan setelah identitas aslinya terbongkar di hadapan umat manusia sekalipun—atau mungkin justru karena hal itu—Rhyno tampak jauh lebih bertenaga dan ceria dari biasanya.

Pria itu sempat berkata, 'Karena sekarang aku tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi, perasaanku justru menjadi jauh lebih lega dan segar'.

Jace benar-benar tidak habis pikir dengan logika absurd semacam itu.

Terkait keberadaan Rhyno sendiri, pihak Galtuilt dan otoritas kuil agung kabarnya masih mengalami kepanikan massal, sehingga keputusan mengenai prosedur penanganan resmi terhadap dirinya terus-menerus ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Pria bernama Marcolas Esgain itu pun tampaknya dibuat pusing tujuh keliling oleh masalah ini.

Berkat kekacauan birokrasi tersebut, selain interogasi dan audit rutin yang diadakan setiap tiga hari sekali, Rhyno bisa menjalani hari-harinya di barak dengan santai tanpa ada perubahan berarti.

Mengingat kasus yang menimpa Patausche sebelumnya juga berakhir serupa, Jace menduga ada kekuatan politik besar yang sedang bermain di balik layar.

Mungkin unit Ksatria Suci Keduabelas yang sering digosipkan itu sedang sibuk bergerak secara rahasia untuk mengamankan posisi mereka.

"Pertempuran yang akan kita hadapi kali ini diprediksi akan menjadi pertempuran yang paling sengit sepanjang sejarah. Oleh karena itu, persiapan yang matang adalah kunci utama. Terima kasih atas bantuan kalian berdua!"

Sembari terus mengoceh dengan riang, Rhyno merentangkan kedua tangannya lebar-lebar lalu melangkah maju mendekati Jace.

Melihat gestur itu, Jace langsung tahu kalau pria itu berniat memeluknya.

Karena ia sangat membenci kontak fisik semacam itu, Jace refleks mengayunkan tombak pendeknya untuk memukul tulang kering Rhyno—atau setidaknya begitulah rencananya, karena Rhyno ternyata dapat menghindarinya dengan sangat mudah tanpa kesulitan berarti.

Sebagai gantinya, Rhyno justru langsung mengalihkan target dan memeluk tubuh Norgayu dengan erat.

"Kawan Norgayu! Aku sungguh bahagia melihatmu baik-baik saja. Jadi kau benar-benar berhasil bangkit dari kematian dengan sempurna, ya?"

"Umu? Bangkit... Kematian? Aku tidak terlalu paham apa yang kau bicarakan... tapi ya, umu... begitulah. Sikapmu yang menyambut kepulanganku dengan penuh sukacita ini sungguh patut diapresiasi."

"Terima kasih banyak! Lalu bagaimana dengan hasil belanja kalian tadi? Bukankah harga bahan pangan di pasar sedang melonjak naik?"

"Begitulah jalannya."

Jace menyodorkan kantong barang bawaan yang dipegangnya kepada Rhyno. Sebagian besar barang yang mereka beli memang berupa bahan makanan.

Jatah logistik standar yang didistribusikan oleh pihak militer dirasa tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Terutama untuk Neely dan naga-naga lainnya, Jace ingin memastikan mereka mendapatkan asupan makanan dengan kualitas terbaik. Lagipula, belakangan ini Rhyno juga terus-menerus merengek meminta jatah daging dalam jumlah banyak.

"Selama masa pelarian kemarin, bobot tubuhku menyusut drastis. Jadi aku harus segera mengembalikan berat badanku ke kondisi semula agar fisikku mampu menahan beban kejut dari baju zirah artileri saat ditembakkan."

Begitulah pembelaan yang dilontarkan oleh Rhyno untuk membenarkan porsi makannya yang besar.

"Oh ya, satu lagi, Kawan Norgayu. Apa kau kira-kira bisa memodifikasi bagian peredam kejut pada baju zirah artileriku agar efek tolak baliknya bisa menjadi sedikit lebih kecil saat digunakan?"

"Oh! Menarik sekali! Zirah artileri milikmu itu memang masih memiliki banyak celah yang perlu disempurnakan—kalau begitu, mari kita mulai dengan melakukan perawatan menyeluruh terlebih dahulu!"

Norgayu langsung menyambar dan membetulkan posisi kantong belanjaan di pundaknya, lalu melangkah lebar-lebar menuju ruang kerja 'bengkel' miliknya dengan tergesa-gesa.

Sikapnya saat ini berbanding terbalik dengan gestur lambatnya saat menyusuri jalan utama kota tadi.

Kantong yang dibawa Norgayu memang penuh sesak dengan berbagai macam peralatan untuk menyetel ulang segel suci.

"Saat Kawan Xylo kembali nanti, aku tidak boleh memperlihatkan gaya bertarung yang memalukan di depannya," ucap Rhyno seraya mengulas senyum ramah yang terasa agak berlebihan.

"Aku benar-benar tidak ingin memperlihatkan pose memalukan seperti terjatuh terjungkal akibat efek tolak balik tembakan meriam di hadapannya. Kira-kira, apa yang sedang dia lakukan sekarang ya? Tapi aku sangat yakin kalau dia pasti baik-baik saja di luar sana."

"Nah, justru itu masalah utamanya."

Patausche tiba-tiba memotong pembicaraan. Ia berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada, sementara alisnya tampak bertaut rapat hingga menciptakan kerutan yang dalam di dahi.

"Jika dia memang sudah tewas dibantai, kita tinggal melakukan ritual pemanggilan ulang untuk membawanya kembali ke sini. Namun, pria berkacamata itu kemarin mengatakan kalau situasi saat ini membuat opsi tersebut mustahil untuk dilakukan."

Pria berkacamata yang dimaksud Patausche pastilah sosok pria yang mendatangi barak mereka sesaat setelah mereka tiba kembali di Kota Nofan.

Seorang pria mencurigakan yang selalu memamerkan senyum sadis di wajahnya, yang seingat Jace memperkenalkan dirinya dengan nama Kafzen.

Berdasarkan penjelasan pria itu, saat ini mereka tidak dapat mendeteksi koordinat keberadaan Xylo, dan mereka juga tidak bisa memicu peledakan pada tanda segel suci yang terukir di lehernya.

Dengan kata lain, sebuah kenyataan yang sulit dipercaya telah terjadi: Xylo telah jatuh ke tangan musuh dan kini berstatus sebagai tawanan.

"Sudah lebih dari sepuluh hari berlalu semenjak si bodoh yang tidak becus itu diculik oleh musuh."

Patausche mulai berjalan mondar-mandir di depan ruangan dengan langkah kaki yang tidak tenang.

Jace memperhatikan kalau setiap kali topik mengenai Xylo diangkat, stabilitas emosi wanita ini cenderung menjadi sangat labil dan tidak menentu.

"Padahal Tsav dan Saritaf seharusnya sudah bergerak untuk melacak keberadaannya, tetapi sampai detik ini belum ada laporan atau kontak apa pun dari mereka...!"

"Sepertinya memang begitu."

Terkait masalah yang satu ini, Jace pun tidak mampu menyembunyikan rasa kesal yang berkecamuk di dalam dadanya.

Kemarahan itu sepenuhnya ia tujukan kepada sosok Xylo Forbartz.

"Si bodoh itu, bagaimana bisa dia sampai membiarkan dirinya tertangkap dengan begitu mudah? Benar-benar tindakan yang sangat ceroboh."

Saat Jace dan Neely sedang dikurung di dalam ruang tahanan dan terpaksa absen dari garis depan pertempuran, Xylo justru dilaporkan telah diculik oleh kawanan Fenomena Raja Iblis. Dalam situasi normal, mereka tinggal melacak sinyal dari segel suci di lehernya atau meledakkannya sekalian untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, metode standar itu kini sama sekali tidak berfungsi. Posisi keberadaannya tidak bisa dilacak, dan segel suci miliknya sama sekali tidak merespons sinyal pemicu.

Rasanya sangat logis untuk berasumsi kalau di pihak musuh terdapat entitas Fenomena Raja Iblis yang memiliki kemampuan khusus untuk menetralisasi fungsi segel suci tersebut.

"Kalau itu Kawan Xylo, aku sangat yakin dia pasti akan baik-baik saja!" Rhyno berucap dengan nada menyemangati.

Atau lebih tepatnya, ia sedang mencoba untuk menenangkan emosi Patausche yang tampak meledak-ledak.

Rhyno mengangkat sebelah telapak tangannya di depan wajah Patausche sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Dia pasti bisa menemukan jalan keluar dengan kekuatannya sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah sosok pahlawan sejati bagi kita semua. Jadi, kau tidak perlu merasa cemas."

"Siapa juga yang mencemaskannya? Memikirkan pria seperti dia hanya akan membuang-buang waktu dan energiku saja."

Bohong besar. Jace berani menjamin kalau perkataan wanita itu barusan adalah dusta belaka.

Belakangan ini, setidaknya sekali atau dua kali dalam sehari, Patausche pasti akan mengungkit topik mengenai pencarian Xylo atau mengomeli betapa bodohnya tindakan yang dilakukan oleh pria tersebut.

"Hal yang paling kucemaskan saat ini adalah kondisi psikologis dari Yang Mulia Teoritta. Beliau tampak sangat terpukul dan bersedih akibat kejadian ini. Di saat pria tidak peka, kasar, dan menyebalkan itu menghilang entah ke mana, Yang Mulia Teoritta sekarang—"

Patausche mengalihkan pandangannya ke arah jendela barak, dan raut wajahnya seketika meredup layaknya tertutup awan hitam.

"Lihatlah sendiri kondisinya."

Di dekat bingkai jendela, tampak Teoritta sedang duduk termenung sembari menopang dagunya dengan sebelah tangan.

Wanita itu seharusnya bisa melihat kedatangan mereka dari posisi tersebut, namun sorot matanya tampak kosong seolah-olah tidak ada objek apa pun yang tertangkap oleh indra penglihatannya.

Rasa cemas dan frustrasi yang teramat sangat tampak memancar kuat dari figur tubuhnya.

Seorang Goddess yang terpisah terlalu jauh dari kontraktornya umumnya memang akan mengalami degradasi kondisi mental dan fisik seperti itu.

Jace pernah mendengar penjelasan dari Sigria Parchlact bahwa dalam situasi tersebut, kapasitas kemampuan pemanggilan yang dimiliki oleh sang Goddess akan mengalami penurunan yang sangat drastis.

"Melihat kondisinya yang seperti itu benar-benar membuatku merasa iba. Jangankan untuk melakukan pemanggilan pedang suci, bahkan untuk memanggil pedang biasa pun kemampuannya dilaporkan sudah mulai terganggu."

"Hmm... fenomena yang sangat menarik," gumam Rhyno sembari melambaikan tangannya ke arah Teoritta dengan senyum lebar yang ceria.

Namun, Teoritta tetap tidak memberikan respons apa pun. Wanita itu tampaknya sedang tenggelam jauh di dalam labirin pemikirannya sendiri.

"Kudengar seorang Goddess tidak akan bisa menggunakan otoritas pemanggilannya jika tidak ada kontraktor di sisinya. Tapi, apakah tingkat performa mereka bisa merosot sedalam itu hanya karena sosok yang mengikat kontrak dengannya tidak berada di dekatnya?"

"Sepertinya efek yang ditimbulkan berbeda-beda pada setiap Goddess."

Patausche-lah yang menyahuti pertanyaan tersebut.

Hal itu terasa wajar mengingat dirinya dulunya pernah dinobatkan sebagai kandidat Ksatria Suci Ketigabelas, sehingga ia pasti telah mempelajari banyak informasi mengenai karakteristik para Goddess selama masa pelatihannya.

"Kurasa kasus yang menimpa Yang Mulia Teoritta ini tergolong ke dalam tipe yang ekstrem. Otoritas pemanggilannya melemah secara signifikan, dan energi yang terkuras setelah ia memaksakan diri untuk menggunakan kekuatannya pun tampak jauh lebih besar dari biasanya. Untuk pertempuran berikutnya, kita tidak boleh memberikan beban kerja yang terlalu berat kepadanya."

"Mungkin saja. Tapi, apa menurutmu situasi kita saat ini mengizinkan kita untuk bersikap lunak seperti itu?" Jace memilih untuk melemparkan pandangan yang realistis demi menyadarkan mereka kembali.

"Kita baru saja menerima perintah misi baru yang merepotkan lagi, bukan?"

Bagi unit Ksatria Hukuman, setiap tugas yang didelegasikan kepada mereka esensinya tidak ada bedanya dengan hukuman mati.

Namun, untuk misi kali ini, situasinya tampaknya akan sedikit lebih baik.

Entah taktik politik macam apa yang telah digunakan di balik layar, namun status mereka sebagai sekelompok pengkhianat umat manusia yang memelihara Fenomena Raja Iblis tampaknya telah diputihkan dan lenyap entah ke mana.

Sebagai gantinya, unit mereka kini dipandang sebagai sebuah divisi eksperimental yang tidak jelas asal-usulnya.

Jace pribadi mencurigai kalau ini semua adalah hasil dari aksi penipuan atau manipulasi diplomasi yang dilancarkan oleh Vanetim.

"Kuharap kau bisa menjaga fokusmu dengan baik, Patausche Kivia." Jace mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidung wanita itu.

"Selama si bodoh Xylo belum kembali, kaulah yang memegang kendali komando pasukan di darat. Paham?"

"Aku tahu. Memangnya siapa lagi yang bisa diandalkan di sini selain diriku?"

Patausche pun tampaknya sangat menyadari dan merasakan urgensi dari tanggung jawab tersebut.

Mengingat Xylo dan Tsav saat ini sedang absen dari lini massa, tidak ada sosok lain yang memiliki kapabilitas untuk memimpin pasukan darat selain dirinya.

Lagipula, menyerahkan tongkat komando kepada Rhyno adalah sebuah opsi yang sangat tidak masuk akal.

Meski begitu, ada satu hal krusial yang harus Jace tanyakan terlebih dahulu terkait kapasitas kepemimpinan yang dimiliki oleh wanita di depannya ini.

"Jujurlah padaku, Patausche. Seberapa jauh kau merasa bisa mengemban tugas komando ini dengan baik?"

"Aku tahu apa yang ingin kau katakan, Jace. Dalam hal taktik komando pertempuran skala besar seperti ini, kemampuanku memang tidak akan pernah bisa menyamai level efisiensi pria itu—Xylo Forbartz. Namun jika konteksnya adalah bertarung sebagai pasukan kavaleri di medan laga atau dalam duel satu lawan satu menggunakan senjata tajam, aku sangat yakin tidak akan kalah darinya."

Jawaban yang keluar dari mulut Patausche terasa cukup mengejutkan bagi Jace.

Ia tidak menyangka kalau wanita yang memiliki harga diri tinggi ini akan mengakui keunggulannya dengan begitu lapang dada.

"Kenapa kau menatapku dengan ekspresi seperti itu? Itu adalah sebuah kesimpulan objektif yang logis. Mulai dari pertempuran di Hutan Kuvunji, Zewan-Gan, Kota Yof, hingga operasi perebutan kembali Ibu Kota Kedua... kurasa akulah orang yang paling sering mengamati, menganalisis, dan mempelajari gaya komando pria itu dari jarak dekat."

"Mungkin saja. Lagipula, jika dipikir-pikir kembali, kau ini sebenarnya cukup jenius, bukan?"

"Aku memang memiliki kapasitas yang berada di atas rata-rata."

Patausche sama sekali tidak sedang bercanda atau menyombongkan diri saat mengucapkan kalimat tersebut.

Sebaliknya, raut wajahnya justru menyiratkan rasa kesal dan tidak puas pada dirinya sendiri.

"Namun, aku juga sangat tahu kalau tingkat 'jenius' standar seperti yang kumiliki ini masih belum cukup untuk menyentuh wilayah absolut yang dikuasai pria itu. Aku sangat memahami batasan diriku sendiri. Meski begitu, situasinya memaksaku untuk tetap melangkah maju dan memimpin pasukan ini. Setidaknya sampai si bodoh itu kembali ke sini."

Wanita ini sama sekali tidak meragukan kalau Xylo pasti akan kembali ke barak ini.

Jace sempat berniat untuk menyentil keyakinan tersebut, namun ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya.

Ia merasa tindakan itu hanya akan menggores luka baru di hati Patausche.

"Baiklah. Kalau begitu, aku menyerahkan urusan komando darat sepenuhnya ke dalam tanganmu."

Patausche ternyata jauh lebih tenang dan berkepala dingin dari yang Jace duga sebelumnya.

Mungkin, wanita ini memang memiliki bakat alami sebagai seorang militer sejati.

Sosok yang mampu mengenali dan menerima kekurangan dirinya sendiri adalah aset yang sangat berharga.

Orang-orang dengan karakteristik seperti ini terkadang mampu menorehkan pencapaian yang jauh lebih masif daripada seorang jenius sekalipun.

"Lalu?" Jace memutuskan untuk menanyakan poin inti dari pembicaraan mereka. "Tugas apa yang harus kulakukan?"

"Misi apa lagi yang dijatuhkan kepada kita kali ini? Apa kita ditugaskan untuk menjadi pengasuh bagi Pasukan Saint?"

"……Ya," Patausche mengangguk dengan ekspresi wajah yang masam.

"Brigade Saint-Skeleton—unit pasukan yang dipimpin oleh Saint Julisa Kidafreni—dijadwalkan akan segera meluncurkan operasi pergerakan maju ke arah utara dari Kota Nofan dalam waktu dekat. Target utama dari operasi ini adalah untuk melakukan penggabungan pasukan dengan Ksatria Suci Kesebelas sekaligus menyalurkan pasokan logistik kepada mereka."

Jace langsung mencoba memvisualisasikan peta wilayah utara di dalam kepalanya.

Sebagai seorang ksatria yang sering terbang di angkasa bersama Neely dan terbiasa melihat lanskap bumi dari perspektif burung, peta wilayah utara yang tersimpan di dalam memorinya jauh lebih detail dan akurat dibandingkan dengan milik manusia biasa.

Dari koordinat kota ini—Kota Artileri Nofan—menuju ke arah utara, membentang sebuah area perbukitan yang sangat luas, yang terbelah secara vertikal oleh aliran empat cabang Sungai Tsumeato.

Ksatria Suci Kesebelas dilaporkan telah berhasil menyeberangi area tersebut dan terus merangsek maju sembari menyapu bersih kawanan Fairy abnormal yang mencoba menghadang jalur mereka.

Dalam waktu dekat, mereka diprediksi akan segera mencapai batas luar hutan belantara. Hutan Belantara Sanaph Nede yang tertidur.

Sebuah ekosistem hutan skala raksasa yang menjadi tempat bersemayamnya para Undine.

Di gerbang masuk hutan itulah, mereka akan mendirikan kamp pertahanan sembari menunggu kedatangan bantuan logistik dari Kota Nofan.

"Ksatria Suci Kesebelas, ya? Viewks Wintier," Jace menggumamkan nama itu pelan.

"Performa bertarungnya ternyata jauh melampaui prediksi awal kita. Kudengar dalam beberapa hari terakhir ini, dia berhasil menumbangkan satu ekor Fenomena Raja Iblis yang keluar dari hutan untuk melakukan penyergapan? Walaupun ada bantuan dari Ksatria Suci Kesembilan, menghabisi musuh selevel itu dalam satu kali serbuan benar-benar pencapaian yang luar biasa."

"Benar. Dari mana kau bisa mengetahui informasi itu?"

"Neely yang memberitahuku."

Patausche tampak mengerutkan dahinya, mencoba menakar kebenaran dari ucapan Jace barusan.

Jace sendiri memang memilih untuk merahasiakan detail mengenai karakteristik segel suci miliknya dari anggota Ksatria Hukuman yang lain. Baginya, membeberkan hal tersebut tidak akan membawa keuntungan apa pun.

Malah, tindakan itu berpotensi memicu masalah baru yang merepotkan.

"Inti dari seluruh situasi ini adalah jalannya peperangan saat ini sedang berada di pihak kita. Dan komando pusat telah mengeluarkan perintah tegas agar kita mengerahkan seluruh kemampuan yang ada untuk menyokong pergerakan maju Ksatria Suci Kesebelas."

Ringkasan situasi yang dipaparkan Patausche terasa sangat padat dan akurat. Sentralisasi kekuatan tempur. Sebuah skenario ideal dalam doktrin militer.

"Waktu keberangkatan kita dijadwalkan pada tiga hari ke depan saat fajar menyingsing. Unit kita ditugaskan untuk mengamankan posisi sayap kiri pasukan. Misi utama kita adalah: 'Mengantisipasi dan menahan setiap potensi serangan yang dilancarkan oleh armada Fenomena Raja Iblis yang sedang menyusun formasi di wilayah barat'."

"Dengan kata lain, kita ditugaskan untuk menjadi umpan penahan, bukan?" Jace bisa membaca niat terselubung di balik pembagian tugas tersebut dengan sangat mudah. Tugas ini tak lebih dari sekadar misi bunuh diri.

"Sementara unit kita sibuk bertempur demi mengunci pergerakan musuh, pasukan utama Brigade Saint-Skeleton akan memanfaatkan momentum tersebut untuk mengepung dan menghabisi Deirdre. Atau mungkin mereka berencana mengerahkan unit tambahan dari Nofan untuk melancarkan serangan jepit dari dua arah? Tapi bagaimanapun skenarionya, menahan gempuran musuh hanya dengan mengandalkan kekuatan unit kita saja adalah hal yang mustahil dilakukan. Kita kekurangan personel."

Absennya Xylo ditambah dengan hilangnya Tsav yang pergi mencarinya membuat kuantitas kekuatan tempur yang bisa mereka gerakkan saat ini menjadi sangat terbatas.

Personel yang tersisa dan siap bertempur kini hanyalah Patausche, Tatsuya, Rhyno, Dotta, dirinya sendiri, dan Neely. Sosok Vanetim sudah sejak awal dicoret dari daftar kekuatan tempur oleh Jace karena tidak bisa diandalkan dalam baku hantam.

Sementara efisiensi senjata segel suci milik Norgayu untuk misi pergerakan maju ke utara ini masih menjadi tanda tanya besar—senjata buatannya memang sangat mematikan jika digunakan dalam taktik gerilya atau jebakan statis, namun untuk pertempuran mobile seperti ini, penerapannya akan menjadi sangat sulit.

Apalagi pertempuran kali ini menuntut mobilitas yang sangat tinggi.

Hilangnya figur Xylo sebagai ujung tombak darat ditambah dengan penurunan performa Teoritta benar-benar menjadi pukulan telak yang mereduksi kekuatan unit mereka.

"Bukan berarti kita sama sekali tidak memiliki faktor keuntungan dalam pertempuran ini. Setidaknya, ada dua poin positif yang bisa kita manfaatkan," sahut Patausche sembari mengacungkan dua jarinya ke udara.

"Pertama, kita telah mendapatkan otoritas penuh untuk menggerakkan pasukan pendukung. Kuantitasnya berkisar sekitar delapan ratus personel."

Informasi tersebut sukses membuat Jace terperangah. Jumlah personel yang diberikan dirasa sangat masif, sebuah kelonggaran kebijakan yang sangat tidak biasa dari komando pusat.

Semenjak awal operasi penyeberangan lautan dimulai, unit Ksatria Hukuman sebenarnya hanya dialokasikan untuk menerima sokongan dari lima ratus personel pasukan pembantu.

Personel tersebut merupakan gabungan dari rekrutan baru yang dihimpun di Ibu Kota Pertama, para petualang kelas teri, para mantan penambang, serta para sukarelawan yang berasal dari sisa-sisa anggota Ksatria Suci Ketigabelas yang telah dibubarkan.

Kini, kuantitas tersebut kian membengkak berkat bergabungnya pasukan pribadi ras Yaqi selatan milik Keluarga Mastivolt, ditambah dengan kawanan bajak laut yang ikut melebur di dalamnya.

Pasukan gabungan yang selama ini tertahan di garis belakang akibat berbagai kendala birokrasi, kini akhirnya bisa mereka terjunkan secara penuh ke medan laga.

Kabarnya, keberhasilan pencairan izin operasional pasukan ini tidak lepas dari intervensi politik dan rekomendasi yang dilayangkan oleh Lufen Kauron.

"Apakah pasukan pembantu itu benar-benar bisa diandalkan di medan tempur nanti?"

"Mereka telah melewati serangkaian program latihan intensif dan sudah memiliki jam terbang dalam pertempuran riil. Kinerja mereka dipastikan akan sangat fungsional di lapangan nanti."

Jika Patausche sampai berani memberikan garansi seperti itu, maka kualitas tempur pasukan tersebut kemungkinan besar berada di atas rata-rata pasukan standar.

Namun—

"Tetap saja, misi ini akan menjadi misi yang sangat berat. Struktur pasukan yang baru terbentuk ditambah dengan kuantitas personel yang minim akan membuat kita kalah jumlah di garis depan nanti."

"Aku sangat menyadari risiko tersebut," Patausche membenarkan argumen Jace tanpa bantahan.

"Menahan pergerakan ribuan atau bahkan puluhan ribu Fairy abnormal dengan jumlah pasukan seminim ini adalah perkara yang sangat pelik. Terlebih lagi, entitas Fenomena Raja Iblis yang memegang kendali komando di sekitar wilayah Nofan saat ini adalah sosok yang dikenal dengan nama 'Deirdre'. Berdasarkan data intelijen, makhluk itu memiliki kemampuan khusus untuk merebut jasad dari Goddess Bumi dan memanipulasi otoritas kekuatannya untuk kepentingan mereka."

"Memanipulasi jasad Goddess, ya?" Jace juga sempat mendengar selentingan rumor mengenai fenomena mengerikan tersebut. Dan melihat situasi saat ini, kemungkinan besar rumor itu adalah sebuah kebenaran fakta yang nyata. Neely sempat menceritakan padanya bahwa dalam catatan sejarah masa lalu, kasus mengenai entitas Fenomena Raja Iblis yang menjarah jasad Goddess untuk menggunakan kekuatan supranaturalnya memang pernah terjadi beberapa kali.

"Untuk urusan supremasi udara, aku dan Neely yang akan mengaturnya. Tapi, bagaimana dengan kalian yang bertempur di darat? Apa kalian memiliki taktik khusus untuk mengonter kekuatan makhluk itu?"

"Kita harus menambah kuantitas personel di darat. Dengan kata lain, kita membutuhkan pasukan bantuan tambahan. Kita bisa mencoba mengetuk pintu aliansi para bangsawan atau memanfaatkan pengaruh dari para bangsawan lokal yang memiliki otoritas di wilayah Nofan ini. Saat ini, Vanetim sedang sibuk bergerak di balik layar untuk mengurus masalah diplomasi tersebut. Kuharap dia bisa membawa hasil yang positif."

Skenario itu rasanya cukup masuk akal untuk direalisasikan. Menjebak salah satu bangsawan kaya, lalu melancarkan aksi pemerasan atau ancaman politik kepada mereka.

Atau alternatif lainnya, memalsukan dokumen kesepakatan dan mengiming-imingi mereka dengan keuntungan investasi fiktif.

Jika taktik itu berhasil dieksekusi dengan mulus, menarik simpati mereka untuk mengirimkan pasukan bantuan tambahan bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong.

"Lagipula, kita juga masih memiliki... Frency. Harus kuakui, wanita itu memiliki bakat yang sangat luar biasa dalam urusan manuver politik seperti ini."

Patausche menambahkan kalimat tersebut dengan nada bicara yang agak canggung.

Jace bisa memaklumi hal itu; bagi seorang militer berdarah murni seperti Patausche, mengakui keahlian diplomasi licik milik Frency pasti terasa sangat mengganjal di hati.

"Aku telah mendelegasikan tanggung jawab komando untuk divisi infanteri dari pasukan pembantu sepenuhnya ke dalam tangannya."

Pembagian wilayah komando antara Frency dan Patausche pada akhirnya berhasil mencapai titik temu dan disepakati dalam format struktur tersebut.

"Lalu untuk Dotta, saat ini dia sedang menjalani program pelatihan intensif. Pada pertempuran berikutnya, aku berencana untuk memercayakan posisi komandan unit kepadanya. Di luar dugaan, dia ternyata memiliki bakat kepemimpinan yang cukup menonjol. Dengan menempatkan Tricil sebagai asisten taktis di sampingnya, jalannya roda komando unit miliknya dipastikan tidak akan mengalami kekeliruan yang berarti."

"Hmm, kalau soal Dotta-san, aku sama sekali tidak meragukannya. Pria itu selalu bisa diandalkan di saat-saat kritis." Jace memang memiliki tingkat kepercayaan yang cukup tinggi pada kapasitas Dotta. Dotta adalah tipe manusia yang mampu memantapkan hatinya dan mengambil keputusan berani di tengah situasi genting. Bahkan di kalangan ras naga sekalipun, reputasi dan penilaian terhadap pria itu tergolong sangat positif. Kehadirannya dipastikan akan menjadi tambahan kekuatan yang signifikan bagi unit mereka.

Jace pribadi merasa kalau Dotta sebenarnya jauh lebih cocok untuk dipromosikan sebagai seorang ksatria penunggang naga.

Postur tubuhnya yang relatif kecil dan ramping akan meminimalisasi beban kerja fisik dari naga yang ditungganginya, ditambah lagi ia memiliki kepekaan visual yang sangat tajam serta intuisi yang sangat responsif terhadap tanda-tanda bahaya yang mendekat.

Namun, menempatkannya sebagai pemimpin unit infanteri di darat pun bukan sebuah keputusan yang buruk.

Unit kecil yang dipimpinnya dipastikan akan tumbuh menjadi sebuah divisi taktis yang memiliki fleksibilitas tinggi di lapangan.

Dari sudut pandang tersebut, konfigurasi penempatan personel yang disusun oleh Patausche ini bisa dikatakan sudah sangat ideal dan proporsional.

(Namun, entah mengapa... rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya.)

Jace tidak mampu mengusir firasat aneh yang tiba-tiba berkelebat di benaknya.

Konsep strategi pertempuran yang dirancang oleh Patausche ini terasa terlalu 'normal' dan konvensional.

Ia mendadak mulai membayangkan, 'Jika itu Xylo, kira-kira taktik gila apa yang akan dia terapkan dalam situasi seperti ini?' Namun Jace segera menggelengkan kepalanya demi mengusir pemikiran tersebut.

Di saat Xylo sedang tidak ada di tempat seperti sekarang, mereka tidak memiliki pilihan lain selain bertarung dengan memanfaatkan sumber daya yang tersisa.

Patausche pasti memiliki gaya dan metodologinya sendiri dalam memimpin pertempuran.

Dan performanya dipastikan akan jauh lebih superior dibandingkan jika Jace yang dipaksa untuk merancang taktik pertempuran darat.

Di masa lalu, sebelum Xylo dijatuhi hukuman dan bergabung dengan unit ini, Jace-lah yang terpaksa mengemban tugas komando darat tersebut, dan hasil dari strategi buatannya saat itu benar-benar sangat berantakan dan hancur-hancuran.

Pada akhirnya, kunci utama dari kesuksesan misi ini berada di tangan dirinya dan Neely; mereka harus bergerak cepat untuk merebut supremasi udara secara mutlak, lalu menggunakan keunggulan tersebut untuk menghancurkan lini pertahanan musuh dengan kekuatan penuh.

Hanya taktik lugas itulah yang bisa mereka andalkan saat ini.

"—Lalu, faktor keuntungan kedua yang berhasil kita amankan adalah terkait kasus Boojam," Patausche melanjutkan penjelasannya sembari melipat jari keduanya.

"Keberhasilan mengamankan fisik dari makhluk itu sepenuhnya tercatat sebagai prestasi gemilang dari unit Ksatria Hukuman. Fakta tersebut tidak bisa diganggu gugat oleh pihak mana pun. Kuharap kita bisa mengorek beberapa informasi intelijen yang menguntungkan terkait peta kekuatan musuh dari mulutnya... namun tampaknya hal itu tidak akan berjalan dengan mudah. Makhluk itu sampai saat ini masih memilih untuk bungkam seribu bahasa."

Dalam bentrokan sengit yang terjadi di Pegunungan Kajit sebelumnya, unit mereka memang berhasil melumpuhkan dan menawan entitas Fenomena Raja Iblis yang dikenal dengan nama Boojam.

Keberhasilan tersebut sempat memicu gelombang optimisme yang tinggi bahwa mereka akhirnya bisa menguak tabir misteri dan rahasia yang selama ini menyelimuti asal-usul Fenomena Raja Iblis—namun sayang, sampai detik ini belum ada satu pun informasi berharga yang berhasil mereka dapatkan dari mulut tawanan tersebut.

Bahkan berbagai metode interogasi fisik dan penyiksaan yang dilancarkan pun tampaknya sama sekali tidak membuahkan hasil yang berarti.

Satu-satunya peluang yang tersisa untuk memecahkan kebuntuan ini terletak pada sosok di sampingnya. Jace langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rhyno.

"Ya. Sebenarnya aku sangat ingin pergi menemui dan mengobrol dengannya di ruang tahanan, tetapi pihak otoritas kuil sampai saat ini masih memberlakukan larangan keras bagiku untuk mendekati fasilitas tersebut," sahut Rhyno sembari mengulas senyum tipis.

"Kebijakan yang sangat wajar." Jace bisa memaklumi ketakutan pihak kuil.

Identitas asli Rhyno sebagai bagian dari Fenomena Raja Iblis kini telah terekspos secara terbuka di hadapan publik.

Di mata otoritas kuil, membiarkan dua ekor monster saling bertemu dan berkomunikasi di dalam ruang tahanan adalah sebuah kecerobohan besar yang berpotensi memicu konspirasi atau aksi sabotase baru yang mengerikan.

Lagipula, dari beberapa obrolan sebelumnya, Rhyno tampaknya juga tidak memiliki pemahaman yang mendalam mengenai hakikat dari Fenomena Raja Iblis itu sendiri.

Atau lebih tepatnya, pria itu sempat berucap, 'Aku tidak memiliki kapabilitas atau metodologi yang tepat untuk menerjemahkan fakta tersebut ke dalam bahasa manusia'.

Satu-satunya kepingan informasi yang berhasil mereka ketahui adalah bahwa eksistensi mereka ditarik masuk ke dalam dimensi dunia ini karena adanya semacam gaung panggilan supranatural.

Hanya fakta dasar itulah yang berhasil dikonfirmasi. Berdasarkan penjelasan dari Rhyno, 'Sosok yang mengumandangkan panggilan tersebut adalah Sang Raja dari segala Fenomena Raja Iblis'.

Namun ketika Jace mencoba mengorek lebih dalam mengenai identitas asli atau wujud fisik dari sang raja monster tersebut, Rhyno mengaku bahwa dirinya sendiri pun belum pernah bertatap muka secara langsung dengan entitas yang dimaksud.

(Benar-benar sebuah lelucon yang tidak lucu. Namun, kurasa jawaban dari misteri ini sudah berada di depan mata.)

Ujung utara dunia. Dari sanalah seluruh armada Fenomena Raja Iblis dilaporkan terus-menerus dipanggil dan dimaterialisasikan ke dunia ini.

Jika klaim Rhyno mengenai eksistensi 'Raja' Fenomena Raja Iblis yang memanggil mereka itu benar adanya, maka seluruh kunci jawaban dari teka-teki ini dipastikan berada di titik terutara tersebut.

(Informasi di luar hal itu sama sekali tidak diketahui oleh makhluk ini. Benar-benar tidak bisa diandalkan...)

Lalu terkait pertanyaan mendasar mengenai alasan mengapa Fenomena Raja Iblis selalu melancarkan serangan brutal dan membantai ras manusia, jawaban yang keluar dari mulut Rhyno justru terdengar sangat absurd: 'Karena di dalam lubuk hati yang terdalam, ras manusialah yang menginginkan kehancuran tersebut terjadi'.

Sebuah argumen yang benar-benar tidak masuk akal. Mana mungkin ada manusia normal di dunia ini yang mendambakan diri mereka diserang dan dibantai secara sadis oleh kawanan monster mengerikan seperti itu?

Namun pada akhirnya, bagi Jace, seluruh perdebatan filosofis mengenai asal-usul monster tersebut sama sekali tidak penting untuk dipikirkan.

(Siapa pun eksitasinya, jika mereka berani menggoreskan luka atau menyakiti Neely dan naga-nagaku, maka opsi tunggalnya adalah pemusnahan total.)

Dan jika dalam proses pemusnahan tersebut dunia ini secara tidak sengaja berhasil terselamatkan—maka anggap saja itu sebagai bonus tambahan dari aksinya.

Hanya prinsip sederhana itulah yang menjadi kompas hidupnya saat ini.

"Wah, kalau melihat konstelasi kekuatannya, misi kali ini benar-benar berada dalam level kesulitan yang sangat ekstrem ya. Absennya Ksatria Xylo di saat-saat krusial seperti ini terasa sangat mereduksi kapasitas tempur unit kita," gumam Rhyno sembari memamerkan senyuman ramah yang terasa sangat artifisial.

Namun, berdasarkan pengamatan Jace dalam beberapa pekan terakhir, ia mulai menyadari kalau untaian kalimat yang keluar dari mulut pria itu esensinya adalah sebuah refleksi jujur dari isi pikirannya.

"Di tengah situasi yang carut-marut dan merepotkan seperti ini, dia malah memilih untuk menghilang entah ke mana," Patausche mengumpat dengan nada suara yang penuh dengan kekesalan.

"Awas saja si Xylo itu, begitu dia berani memunculkan batang hidungnya kembali di barak ini—"

"Ksatria-ku!"

Sebuah lengkingan suara yang sangat lantang tiba-tiba menggema memotong kalimat Patausche dari arah belakang.

"Barusan, apakah kalian sedang membicarakan perihal ksatria-ku? Apakah itu berarti Xylo telah berhasil meloloskan diri dan kembali ke barak ini?!"

Rupanya sosok yang berteriak itu adalah Teoritta.

Tanpa ada yang menyadari, wanita itu ternyata telah berlari keluar dari dalam bangunan barak sementara.

Sorot matanya yang semula layu kini tampak memancarkan binar harapan yang berpijar kecil bagaikan jilatan api murni.

"Bukan begitu, Anda salah paham, Yang Mulia Teoritta. Kami barusan hanya sedang mendiskusikan betapa hilangnya pria itu di saat kritis seperti ini benar-benar telah menimbulkan kesulitan yang sangat besar bagi operasional unit kita," Patausche mencoba memberikan klarifikasi dengan nada suara yang selembut mungkin demi menjaga perasaan sang Goddess.

"……Begitu ya. Benar... apa yang kau katakan itu memang benar," sahut Teoritta lirih.

Dalam sekejap mata, binar kehidupan yang baru saja terpancar dari figur tubuhnya langsung padam total, menyisakan sosok wanita yang tampak layu dan rapuh.

Jace yang menyaksikan transformasi tersebut mendadak teringat pada visual sehelai rumput yang kering dan layu akibat sengatan terik matahari.

"Pria itu benar-benar selalu merepotkan orang lain. Berani-beraninya dia berkeliaran di luar sana secara bebas di titik yang berada di luar jangkauan pengawasanku, entah hal bodoh apa lagi yang sedang dilakukannya saat ini. Dia benar-benar seorang ksatria pembangkang yang tidak tahu adat. Aku tidak akan pernah memaafkan tindakannya kali ini...!"

"—Lalu, bagaimana dengan perkembangan pencarian koordinat posisinya?" Jace memilih untuk memotong kalimat Teoritta. Ia benar-benar tidak tahan jika harus terus-menerus disuguhi pemandangan suram dan atmosfer melankolis seperti ini di dalam barak.

"Apakah divisi spionase... dari unit Ksatria Suci itu juga masih belum berhasil mengendus keberadaannya? Jika seorang terpidana bisa hilang tanpa jejak seperti ini, bukankah hal itu berpotensi memicu skandal birokrasi yang sangat masif bagi pihak otoritas?"

Sebab esensi dari masalah ini bukan lagi sekadar perkara hilangnya sosok Xylo Forbartz secara personal.

Jika seorang Ksatria Hukuman yang lehernya telah diukiri dengan tanda segel suci pembatas bisa meloloskan diri dan hilang tanpa jejak dari sistem pengawasan, maka esensi dari hukuman kurungan itu sendiri akan kehilangan fungsinya secara total.

Hal ini mengindikasikan adanya celah keamanan fatal yang memungkinkan kriminal kelas kakap sekalipun—seperti Norgayu atau Vanetim—untuk melarikan diri dan berkeliaran bebas di tengah masyarakat sipil tanpa bisa dilacak.

Namun, Patausche hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah menyahuti pertanyaan tersebut.

"Sampai detik ini belum ada laporan atau kontak intelijen apa pun yang masuk dari pihak mereka. Kurasa mereka saat ini juga sedang mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk menyisir setiap sudut wilayah demi menemukannya."

"Selama Ksatria Xylo belum kembali ke tengah-tengah kita, opsi tunggal yang tersisa adalah meluncurkan operasi ini dan melewati rintangan berbahaya ini hanya dengan mengandalkan kekuatan dari personel yang tersisa saat ini. Fakta objektif tersebut tidak akan pernah berubah," Rhyno menyahut dengan nada suara yang terdengar sangat kontras—terlalu ceria dan penuh dengan optimisme di tengah atmosfer barak yang sedang kelam.

"Namun aku sangat percaya kalau kita semua pasti mampu melewati ujian ini dengan hasil yang gemilang. Jangan pernah berkecil hati, karena kita semua adalah sekelompok kawan seperjuangan yang telah diikat oleh tali ikatan batin yang sangat kuat!"



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close