Hukuman
Khusus
Penghalangan
dan Penyerangan Monster Govilcoark 1
──Aku sedang bermimpi. Sebuah mimpi buruk, tepatnya.
Itu terjadi saat aku masih menjabat sebagai Komandan
Ksatria Suci, memimpin barisan besar prajurit dalam sebuah pawai militer.
Di tengah kegelapan hutan malam, kami terus memacu
langkah dengan tergesa-gesa. Kami terpaksa melakukannya karena situasi yang
mendesak.
Musuh telah mengepung kami sepenuhnya dari segala
arah. Di sisi lain, Selenva sudah mencapai batas kemampuannya akibat terlalu
banyak menguras tenaga.
Jika kami tidak segera bergabung dengan pasukan
sekutu entah bagaimana caranya, kehancuran total seluruh pasukan bukanlah hal
yang mustahil.
"Xylo……"
panggil Selenva.
Dia
berdeham sekali, seolah mencoba menyembunyikan suaranya yang parau dan serak.
"Sepertinya, bukankah lebih baik jika kita kembali
saja……? Jika di area terbuka seperti tadi, aku masih bisa memanggil sebuah
bangunan besar untuk tempat kita bertahan……"
"Sudah kubilang berkali-kali, jangan membantah. Ditolak."
Aku berjalan sambil menggendong Selenva di
punggungku. Tubuh anak ini sebenarnya terasa begitu ringan.
Jika harus jujur, yang terasa berat justru adalah
sepasang kakiku sendiri. Setiap kali melangkah maju, aku harus mengerahkan
seluruh sisa tenaga yang ada.
"Kamu sudah mencapai batasmu. Jangan pernah
menggunakan kekuatanmu lagi."
"Tapi, Xylo, kalau terus begini……"
"Lokasi yang meminta bantuan tinggal sedikit lagi di
depan. Peluang menang kita jauh lebih besar jika bergabung dengan mereka,
lagipula bala bantuan seharusnya sudah tiba untuk mengumpulkan pasukan dan
melancarkan serangan balik."
"……Komandan. Izinkan saya menyampaikan saran, meski
ini mungkin lancang."
Sebuah suara terdengar dari arah belakang. Pemiliknya
adalah Sevil Dexter, wakil komandanku yang memperingatkan dengan nada bicara
yang teramat serius.
"Kita telah terisolasi sejak kemarin hari. Terlebih
lagi, pasukan yang seharusnya kita selamatkan sama sekali belum
ditemukan."
"Bukankah kita juga perlu memikirkan kemungkinan
dari skenario terburuk yang bisa terjadi?"
"Apa maksudmu dengan skenario terburuk?"
"Tentu saja fakta bahwa kita semua mungkin telah
ditipu!" sambung sebuah suara lain.
Itu adalah suara dari si sulung dari Diere bersaudara.
Suaranya entah bagaimana tetap terdengar ceria, bahkan dalam situasi genting
seperti ini.
"Komandan juga menyadarinya, bukan? Kalau terus
begini, kita semua akan mati binasa."
"Kakak. Cukup sampai di situ."
Si bungsu dari Diere bersaudara langsung menimpali
dengan suara rendah untuk menghentikan kakaknya. Kakak perempuannya hanya bisa
tersenyum kecut lalu terdiam seribu bahasa.
"Aku juga berpikir──bahwa ini adalah sebuah
kesalahan, Komandan. Anda telah mengambil langkah yang salah."
Suara Sevil kembali terdengar di telingaku. Tidak,
suara ini terdengar mirip namun sebenarnya berbeda, lalu siapakah dia──?
Aku mencoba untuk membalikkan badan. Namun, tubuhku
terasa begitu berat dan tidak bisa digerakkan sesuai keinginanku.
"Anda telah gagal dan menyebabkan kakak laki-lakiku
terbunuh. Apakah Anda bahkan telah melupakan hal mendasar itu?"
"Aku tidak melupakannya."
"……Cepat atau lambat, Anda pasti akan melupakannya……
Tuan Forbartz."
Kali ini terdengar suara lain yang berbeda. Itu
adalah suara seorang wanita yang berbisik dengan nada rendah.
"Karena Anda adalah seorang Ksatria Terpidana."
Mimpi buruk yang sangat dangkal, pikirku dalam hati.
Disalahkan oleh orang-orang yang telah mati adalah hal yang lumrah, tetapi
mimpi kali ini terasa terlalu terang-terangan.
Aku merasa rasa bersalahku sendiri terkesan sangat sepele
dan murahan.
(Mereka bukan orang-orang seperti itu. Aku tahu betul
tentang hal itu.)
Kata-kata penuh dendam seperti ini sama sekali tidak
cocok untuk mereka. Membiarkan mereka mengatakan hal seperti itu di dalam mimpi
terasa teramat kejam, hingga membuatku mencaci diri sendiri.
Tak peduli seberapa sepele dan murahannya diriku, rasanya
tidak adil jika harus melibatkan mereka ke dalam mimpi buruk ini.
(Sialan. Sebenarnya apa yang terjadi denganku?)
Aku menggertakkan gigi dengan erat. Kemudian
mencoba melangkahkan kaki satu demi satu ke arah depan.
"Enyahlah. Pergi kalian dari sini."
Aku berbalik dan mengatakannya dengan lantang serta
jelas ke arah mereka. Aku menatap tajam ke arah wajah mereka yang bukan lagi
berupa bayangan hantu yang samar.
Mereka balik menatapku dengan wajah tanpa
ekspresi──dan dugaanku benar, mereka berbeda. Hal seperti ini tak lebih dari
sekadar permainan boneka yang diciptakan oleh isi kepalaku sendiri, sebuah
penghinaan yang keji.
Aku harus menyampaikan kepada seseorang tentang sosok
asli mereka yang sebenarnya.
Hal itulah yang paling menakutkan bagiku saat ini.
Jika aku mati di kesempatan berikutnya dan kehilangan seluruh ingatan, mungkin
saja di dalam benakku mereka akan selamanya menjadi 'orang-orang yang seperti
itu'.
(Itu sama sekali tidak benar.)
Jika aku kehilangan ingatan, aku bahkan tidak akan bisa
membuktikan kepada diriku sendiri bahwa mimpi buruk ini hanyalah akibat dari
rasa bersalahku yang tak berarti.
"Enyahlah."
Aku berteriak dengan lantang ke arah mereka yang
berdiri tanpa ekspresi.
"Enyahlah!"
──Aku terbangun karena mendengar suara teriakan dari
diriku sendiri.
"Oh."
Sebuah suara yang terdengar ringan menyambut
kesadaranku.
Saat membuka mata, hal pertama yang tertangkap oleh
pandanganku adalah wajah Empusa. Tampaknya dia sedang membungkuk dan mengintip
ke arah wajahku dari dekat.
Makhluk ini memiliki warna mata yang berbeda antara
bagian kiri dan kanan. Mata kanannya berwarna biru jernih, sedangkan mata
kirinya berwarna hitam pekat.
Rambutnya yang berkilau dengan warna ungu tua tampak menjuntai dan menyentuh keningku.
"Apakah kamu sudah bangun, Xylo Forbartz?"
"Begitulah. Minggir."
Aku menepis rambut Empusa yang menjuntai, lalu bangkit
duduk. Tubuhku bersimbah keringat. Akhir-akhir ini, cuaca memang sedang
gerah-gerahnya.
Sambil menahan pening yang samar di kepala, aku
mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ini adalah sebuah rumah penduduk kecil
yang dialokasikan untukku. Penghuni aslinya sudah lama diungsikan, membuat
rumah ini kosong melongpong.
Manusia-manusia yang tunduk pada para Fenomena Raja Iblis
biasa menggunakan rumah-rumah kosong seperti ini sesuka hati. Di atas ranjang
sederhana yang ada di dalam sinilah aku ditidurkan.
Sejujurnya, tempat ini jauh lebih mendingan daripada
tempat tidur yang biasa diberikan kepada Pahlawan Terhukum.
"Melihat manusia tertidur selalu membuatku cemas.
Saat kamu mengigau kesakitan seperti tadi, aku sempat berpikir kamu akan mati
begitu saja."
Dia berucap demikian sambil mengulas senyum. Sebuah
senyuman lepas tanpa beban.
Empusa. Fenomena Raja Iblis yang kabarnya telah
ditanamkan jasad sesosok Goddess Bulan ini, sama sekali tidak mau
beranjak dari sisiku walau sekejap.
Tentu saja, hal ini sangat wajar. Pasalnya, aku
membutuhkan kekuatannya untuk terus menyegel Segel Suci Pahlawan Terhukum yang
tertanam di leherku.
Ya—dia adalah Fenomena Raja Iblis yang telah ditanamkan
jasad sesosok Goddess.
Dalam kasus Empusa, tampaknya dia memiliki semacam
kekuatan untuk menyegel Segel Suci. Mengingat sebutannya adalah Goddess,
dia pasti bisa menmenit atau memanggil sesuatu, tapi apa tepatnya?
Jangan-jangan, sesuai namanya, dia benar-benar bisa
memanggil bulan? Padahal sekarang masih pagi, dan bayangan bulan pun sama
sekali tidak terlihat.
(Kekuatan untuk menyegel Segel Suci. Kalau aku bisa
memahami cara kerjanya, aku mungkin bisa memikirkan cara untuk kabur—)
Namun untuk saat ini, aku bahkan tidak punya petunjuk
sekecil apa pun untuk memecahkannya. Kejadian beberapa waktu lalu saat aku
tertangkap oleh para bajak laut Zehi Dhaer mendadak terlintas di benak.
Situasi yang kuhadapi sekarang jauh lebih sulit dan tidak
bisa dibandingkan dengan saat itu.
(Lagipula, dari mana sebenarnya jasad makhluk ini
berasal?)
Jasad seorang Goddess. Aku memang pernah mendengar
kabar bahwa jasad tersebut dicuri dari Ibu Kota Kerajaan Kedua.
Jasad milik Goddess Ratapan dan Goddess
Bumi—Empusa sendiri yang menceritakan aksi penjarahan makam itu dengan nada
luar biasa gembira.
Akan tetapi, kalau begitu jumlahnya tidak cocok. Dari
mana asal jasad Goddess Bulan ini?
Aku sudah mencoba menanyakannya, tapi dia tampaknya sama
sekali tidak berniat untuk menjawab. Dari situ aku sadar, pada akhirnya makhluk
ini memang tidak punya niat untuk membagikan informasi berharga apa pun
kepadaku.
"Ada apa, Xylo?"
Melihatku yang tenggelam dalam pikiran, Empusa tampaknya
salah paham. Dia melontarkan pertanyaan dengan nada suara yang terdengar cemas.
"Apakah kamu sering mengalami mimpi buruk? Tidurmu
setiap malam selalu terlihat menyedihkan."
"Entahlah. Aku
tidak ingat."
Aku berbohong. Anggaplah aku mengingat sesuatu, aku
sama sekali tidak punya kewajiban untuk memberitahunya.
"Hmm. Sepertinya kualitas tidurmu memang perlu
diperbaiki."
Empusa mengerang kecil, lalu mulai berjalan
mondar-mandir di samping ranjangku. Suara ketukan telapak kakinya terdengar
menggema.
Kaki makhluk ini memiliki kuku yang keras menyerupai
kuda, dan bagian itulah yang menimbulkan suara berisik.
"Aku sempat meminta saran kepada Yukihito tentang
cara mengatasinya. Bagaimana kalau meminum susu hangat sebelum tidur? Atau kamu
lebih suka dinyanyikan pengantar tidur? Aku bisa menyuruh Nuckelavee
menyanyikannya untukmu. Atau, mau tidur ditemani?"
"Berisik, diamlah sebentar."
Yukihito sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya
sejak kami memasuki kota ini. Tampaknya dia memiliki wewenang untuk bertindak
secara independen.
Pria macam apa dia sebenarnya? Ah, dipikirkan pun tidak
ada gunanya—karena itu aku hanya menguap lebar sekali.
"Kepalaku langsung pening kalau mendengar keributan
sesaat setelah bangun tidur. Tolong tenang sedikit."
"Mu. Begitu ya, maafkan aku."
Empusa langsung membekap mulutnya sendiri dengan sebelah
tangan.
Makhluk ini tampaknya benar-benar menganggap manusia
sebagai makhluk ringkih yang bisa mati kapan saja. Jika dibandingkan dengan
Fenomena Raja Iblis, pemikiran itu memang tidak salah, tapi tindakannya ini
agak berlebihan.
Dia seolah-olah sedang memelihara dan merawatku dengan
sangat hati-hati.
Namun di sisi lain, hal itu juga berarti pengawasannya
terhadapku sangatlah ketat.
"Apakah sekarang sudah siang?"
Tanpa sadar, jemariku meraba bagian kerah baju. Biasanya
ada pin pengikat berwarna biru di sana.
Pin itu terbuat dari logam yang memiliki sifat menyimpan
cahaya. Dari tingkat kejenuhan warna birunya, aku bisa sedikit memperkirakan
waktu yang telah berlalu. Namun, benda itu telah lenyap saat aku tertangkap.
(Padahal aku cukup menyukai pin itu.)
Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu bangkit berdiri dan
melayangkan pandangan ke luar jendela kamar.
Pemandangan yang tertangkap oleh mataku adalah para Fairy
abnormal dan manusia yang bergerak kesana-kemari, bekerja bersama-sama.
(Basis pertahanan para Fenomena Raja Iblis. Atau lebih
tepatnya, basis dari 'Fraksi Simbiosis'.)
Tempat ini adalah sebuah kota yang sudah lama
ditinggalkan, terletak di sepanjang anak sungai yang disebut 'Jari Tengah' di
dalam aliran Sungai Tsumato.
Kota Covilcork namanya. Sebuah kota yang membentang kokoh
dengan benteng pertahanan kuat, yang dulunya pasti pernah berjaya sebagai pusat
transportasi air yang penting.
Kota ini terletak jauh di sebelah timur laut dari Nofan,
dan lokasinya cukup dekat dengan Hutan Lindung Sanaph Nede yang tertidur.
Karena dibangun memotong bagian utara dan selatan dari
sungai 'Jari Tengah', kota ini memiliki tiga buah jembatan berukuran besar.
Jumlah Fairy abnormal dan manusia yang berkumpul di sini dipastikan
terhitung lebih dari sepuluh ribu jiwa. Ini adalah kota yang besar.
Sebuah kota di wilayah utara, tempat di mana para
Fenomena Raja Iblis dan orang-orang dari Fraksi Simbiosis hidup berdampingan.
Aku yakin tempat seperti ini tidak hanya ada satu di dunia.
Ke sanalah aku digiring setelah berhasil ditangkap oleh
para Fenomena Raja Iblis. Sudah sepuluh hari berlalu sejak aku menjadi tawanan
mereka.
Perlakuan yang kuterima di sini sama sekali tidak bisa
dikatakan buruk. Hanya saja tangan kananku yang patah ini cukup merepotkan,
tapi ya cuma sebatas itu.
Mereka benar-benar berhati-hati agar tidak sampai
membunuhku secara tidak sengaja. Jika aku mati, aku pasti akan dibangkitkan
kembali di sekitar Ibu Kota Kerajaan Pertama.
Mereka jelas berpikir bahwa hal itu tidak akan membawa
keuntungan bagi pihak mereka.
Lantas, apa niat mereka yang sebenarnya—
"Empusa!"
Bersamaan dengan seruan kasar itu, pintu masuk ruangan
terbuka lebar. Dua sosok bayangan manusia memunculkan diri dari balik pintu.
"Sampai kapan kamu mau membuat kami menunggu?
Tugasmu itu cuma membangunkan manusia ini, kan?!"
Salah satu dari mereka adalah seorang gadis berambut
putih. Dari bagian dahinya, mencuat sepasang tanduk kambing
gunung berukuran besar.
Mata kanannya yang berwarna merah selalu terlihat
basah, seolah-olah digenangi oleh darah yang pekat.
Daodra, kalau tidak salah itu namanya. Fenomena Raja
Iblis Daodra.
Sesosok Fenomena Raja Iblis berwujud gadis yang telah
ditanamkan jasad Goddess Bumi—Yukihito-lah yang memberikan informasi
tersebut tanpa pelit sedikit pun. Pria itu juga aneh. Dia sama sekali tidak
terlihat peduli meski telah membocorkan informasi dari kubunya sendiri.
Apakah dia begitu yakin kalau aku tidak akan pernah
bisa kabur lagi? Ataukah dia memang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang
tidak penting?
"Jangan bicara sekasar itu sampai bilang mau
membangunkannya dengan paksa, Daodra."
Empusa melangkah maju dan berdiri di depanku.
Tindakannya seolah-olah ingin melindungiku dari Daodra.
"Bagaimana kalau dia mati karena tindakanmu itu? Watakmu terlalu kasar. Sungguh liar dan barbar."
"Tidak mungkin! Kamu saja yang terlalu
berlebihan memperlakukannya! Manusia itu tidak akan mati semudah itu, tahu.
Nuckelavee juga bilang begitu! Benar, kan?"
Daodra memalingkan wajahnya ke belakang.
"Yah... begitulah. Memang benar. Seperti
yang dikatakan oleh Nona Muda."
Sebuah sahutan dengan nada suara yang terulur malas
terdengar membalas.
Sosok yang berdiri di sana adalah bayangan satunya
lagi—seorang wanita yang mengenakan pakaian compang-camping mirip kain rombeng.
Rambut hitamnya tampak bergelombang, senada dengan warna kedua matanya.
Penampilan makhluk ini hampir menyerupai manusia biasa,
namun bagian dahinya adalah sesuatu yang patut digarisbawahi. Ada sebuah mata
di sana. Mata ketiga yang tersemat di dahinya itu tampak memancarkan kilauan
cahaya berwarna biru.
Tiga ekor Fenomena Raja Iblis berkumpul di dalam satu
rumah penduduk yang sama. Dalam artian tertentu, ini adalah pemandangan yang
terasa sangat tidak nyata.
Jika asosiasi sarjana di kuil atau korps pencatat
Fenomena Raja Iblis melihat situasi ini, mereka mungkin akan langsung pingsan
di tempat.
Empusa si pemilik kuku kuda adalah Goddess Bulan.
Daodra si pemilik tanduk kambing adalah Goddess
Bumi.
Dan Nuckelavee si pemilik tiga mata adalah Goddess
Ratapan. Mereka masing-masing telah merebut jasad para Goddess dan
menjadikan otoritas kekuatan tersebut sebagai milik mereka sendiri.
"Aku ini sebenarnya sudah melakukan banyak
eksperimen, lho. Aku sudah merusak tubuh beberapa orang untuk memastikannya
sendiri. Makanya aku tahu. Kebetulan—"
Suara Nuckelavee terdengar santai dan enteng, seraya
melangkahkan kakinya yang sempoyongan masuk ke dalam kamar. Dia terlihat persis
seperti orang mabuk.
Meski begitu, tatapan dari ketiga mata yang menghunjam ke
arahku terasa sangat tenang secara konstan.
"Cuma kehilangan satu lengan atau satu kaki tidak
akan membuat mereka mati, kok. Kamu terlalu protektif, Empusa. Daripada dia
melakukan hal yang macam-macam, menurutku lebih baik kita rusak saja tubuh
orang ini sejak awal."
"Huh. Aku hanya memercayai apa yang sudah kupastikan
dengan mataku sendiri."
Ulasan senyum Empusa terasa begitu sinis. Hubungannya
dengan Nuckelavee tampaknya memang tidak bisa dikatakan akur.
"Bukankah kamu sendiri yang terlalu memusuhi manusia
ini?"
"Tentu
saja... Atau lebih tepatnya, aku menganggapnya sebagai ancaman."
Meski
seulas senyum tipis terukir di wajah Nuckelavee, sama sekali tidak ada emosi
yang bisa terbaca dari sana. Otot-otot wajahnya seolah-olah sudah kaku dan
membeku dalam bentuk seperti itu.
"Aku
bisa merasakannya. Namamu Xylo Forbartz, kan? Sifatmu
itu mirip sekali dengan orang itu. Pack Pooka... orang itu juga, karena aku
gagal menghabisinya saat itu... sekarang dia berubah menjadi sosok yang sangat
merepotkan."
Pack Pooka. Nama itu terdengar tidak asing di
telingaku. Rhyno kalau tidak salah pernah memperkenalkan dirinya dengan sebutan
itu. Apakah Nuckelavee mengenal pria itu?
Namun, alih-alih rasa penasaran, rasa amarah yang
luar biasa justru lebih dulu meletup di dalam dadaku.
(Jangan bercanda.)
Disamakan dengan orang seperti dia benar-benar
membuatku muak luar biasa.
"Orang ini sama berbahayanya dengan dia. Dia
bisa saja mengacaukan dan menghancurkan segalanya..."
"Mana mungkin. Bagaimana bisa aku yang begitu lemah
lembut dan pencinta damai ini dianggap berbahaya?"
Aku langsung melayangkan bantahan telak. Rasanya harga
diriku baru saja diinjak-injak dengan kejam.
"Yang berbahaya itu justru orang-orang seperti Tsav
atau Rhyno, tahu. Merekalah jenis manusia yang jauh lebih cocok untuk
dijebloskan ke dalam sel tahanan. Apa kalian tidak berpikiran sama?"
"Hah? Siapa mereka? Tsav? Rhyno?"
"Sudah, sudah. Nona Muda tidak perlu meladeni
ucapannya. Dia cuma
sengaja ingin membuatmu bingung."
Daodra
sempat berniat memberikan respons dengan wajah serius, namun Nuckelavee segera
memotongnya.
"Dia
hanya berusaha menanamkan informasi yang tidak berguna ke dalam kepalamu. Hal
seperti itu sangat berbahaya. Terutama untuk keberadaan seperti Nona Muda, hal
itu bisa memberikan pengaruh yang buruk."
"…Aku juga tahu hal selevel itu! Nuckelavee,
jangan berlagak seperti senior dan menceramahiku!"
Daodra mendelik tajam ke arah Nuckelavee, lalu
berusaha mendorongnya menyingkir.
Bukan, gerakan itu lebih tepat disebut sebagai upaya
untuk menghempaskannya dengan paksa. Sebuah gerakan yang menyerupai hantaman
pukulan.
Nuckelavee dengan cekatan memiringkan paruh atas
tubuhnya untuk menghindar, membuat hantaman lengan Daodra telak mengenai
dinding kamar. Suara retakan yang luar biasa keras bergema di dalam ruangan.
"Cih."
Daodra
berdecak kesal dalam volume kecil.
Seperti
yang diharapkan dari Fenomena Raja Iblis. Setidaknya, daya hancur fisik Daodra
sudah benar-benar menyimpang jauh dari penampilannya yang terlihat seperti
seorang gadis belia.
Kecepatan
reaksi Nuckelavee yang berhasil menghindarinya pun merupakan sesuatu yang harus
kuwaspadai dengan saksama.
"Tenanglah,
Nona Muda."
Tidak
sekadar menghindar, Nuckelavee ternyata telah mencengkeram pergelangan lengan
Daodra. Senyum tipis masih setumpuk menghiasi wajahnya.
"Kalau
kamu serius ingin bermain-main, aku juga tidak akan bisa menahan diri lagi
nanti, lho. Mengerti? Kita harus berhati-hati."
"…Aku
juga sudah tahu itu!"
"Apakah
kamu melupakan tujuan awal kita datang ke tempat ini? Coba ingat-ingat lagi.
Lagipula, Nona Muda adalah sosok yang tekun dan serius, kan?"
Ketiga mata Nuckelavee sempat melirik ke arah Empusa
selama sepersekian detik. Tetap saja, niat aslinya sama sekali tidak bisa
kubaca.
"Kita ini berbeda dari mereka yang bertindak
setengah hati karena menganggap ini sebagai permainan belaka. Benar, kan? Nona
Muda Daodra, aku sama sekali tidak membencimu."
"Aku tidak merasa senang sedikit pun disukai olehmu.
Dan mana mungkin aku melupakan tujuan kita."
Daodra mendengus pelan, lalu menghempaskan cengkeraman
tangan Nuckelavee dari lengkannya.
"Karena manusia ini sudah bangun, aku akan segera
membawanya pergi."
"Lakukan setelah semua urusan selesai. Dia bahkan
belum menyantap sarapan paginya."
Empusa tampaknya sama sekali tidak memedulikan perdebatan
sengit di antara keduanya. Dia menyodorkan sebongkah roti tepat di depan
mataku.
"Nah, makanlah. Manusia itu kalau tidak makan secara
teratur pasti akan kelaparan lalu mati, kan? Atau, apakah sebongkah roti saja
belum cukup memenuhi kebutuhan gizi tubuhmu? Apa lagi yang kamu butuhkan?"
"Ini sudah cukup. Lagipula, aku bisa makan
sendiri."
Sembari menahan tusukan tatapan tajam nan menusuk dari
Daodra dan Nuckelavee, aku merebut roti itu dari genggaman tangan Empusa.
"Kita bisa pergi sambil aku memakan ini. Aku
bersedia digiring oleh kalian. Jadi, siapa yang memanggilku?"
"Tovitz Huker."
Daodra menyebutkan nama itu dengan nada enggan,
seolah-olah dia baru saja melafalkan sebuah nama yang terkutuk.
"Dia yang memanggilmu. Katanya dia baru saja tiba
tadi malam."
"…Begitu ya."
Tovitz Huker. Eksistensi yang bisa dibilang sebagai ahli
strategi di kubu para Fenomena Raja Iblis.
Jika meminjam istilah dari Yukihito, dia adalah 'sosok
pria yang luar biasa menjijikkan'.
Meski hatiku dilingkupi rasa enggan yang teramat sangat,
ini akan menjadi pertemuan pertama kami secara langsung.
◆
Tovitz duduk dengan santai di dalam ruang kastil
pertahanan yang terletak di pusat kota, seolah-olah tempat itu adalah miliknya
sendiri.
Tampaknya dia memang menetap dan tidur di sana. Ruangan
yang dulunya pasti berfungsi sebagai ruang kerja penguasa kastil itu kini telah
diisi oleh sebuah meja dan tempat tidur, dengan tumpukan buku dan berbagai
dokumen lain yang menggunung di sampingnya.
Penampilan Tovitz Huker secara garis besar persis seperti
apa yang pernah kudengar dari cerita Yukihito. Seorang pria berambut hitam yang
sama sekali tidak memiliki ciri khas yang menonjol.
Di sampingnya berdiri seorang pria kurus dengan rona
wajah yang pucat pasi, tampaknya bertindak sebagai pengawal. Pria kurus itu
sepertinya memiliki kemampuan bertarung yang jauh lebih hebat daripada Tovitz.
Menyadari arah pandanganku, dia tampak sedikit memasang
posisi waspada secara samar.
Aku pun tanpa sadar mulai mengukur jarak aman di antara
kami—melihat reaksi kami berdua, Tovitz mengulas senyum kecut.
"Tolong jangan terlalu tegang, Tuan Xylo. Pria
di sampingku ini bernama Sura Odo."
Dia memperkenalkan pria kurus itu dengan isyarat
tangan. Sura Odo. Dalam bahasa kerajaan kuno, bukankah nama itu
memiliki arti 'serangga beracun'?
"Dia
sudah membantuku dalam banyak hal. Bisa dibilang, dia adalah pengawal
pribadiku."
Meski sudah diperkenalkan, Sura Odo sama sekali tidak
mengubah ekspresi wajahnya, pun tidak menunjukkan niat untuk bersuara.
Sikapnya benar-benar mencerminkan seorang pesuruh
yang bekerja di dunia bawah tanah. Jenis manusia yang biasa bekerja di
tempat-tempat yang jauh lebih gelap daripada para petualang atau tentara
bayaran biasa.
"Tuan Xylo. Bisakah kamu bersikap sedikit lebih
santai?"
Tovitz berucap dengan nada suara yang sedikit menyiratkan
rasa bersalah.
"Aku yakin kamu sudah paham betul kalau kami semua
sama sekali tidak berniat untuk membunuhmu."
"Umu. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun untuk
membunuhnya."
Empusa yang mengikutiku masuk tanpa perlu diminta
langsung menyingkirkan beberapa tumpukan dokumen di sekitar sana, lalu menarik
sebuah kursi yang tersembunyi di balik gunungan tersebut.
"Nah, Xylo, duduklah di sini. Kakimu pasti lelah,
kan? Kelelahan itu tidak baik bagi tubuh. Kudengar makhluk hidup yang
kondisinya melemah akan menjadi lebih mudah terserang penyakit."
"Aku tidak akan mati hanya karena merasa lelah
sedikit."
Meski sempat melontarkan gerutu, aku memutuskan untuk
menjatuhkan diri di atas kursi tersebut.
Sebab, jika aku terus berdiri tegak di depan Tovitz yang
duduk di balik meja kerja, komposisi posisi kami berdua akan terlihat persis
seperti seorang atasan dengan bawahannya.
"Mengingat kamu sampai repot-repot memanggilku ke
sini, pembicaraan seperti apa yang ingin kamu sampaikan? Apakah sekarang sudah
waktunya bagimu untuk menyiksaku?"
"Sama sekali tidak. Aku hanya ingin—aku ingin
berdamai denganmu, dan juga dengan para Pahlawan Terhukum lainnya."
"…Ha?"
Aku merasa baru saja mendengar sebuah untaian kalimat
yang sama sekali tidak masuk akal.
"Berdamai? Apa maksud dari leluconmu itu?"
"Artinya persis seperti yang baru saja kukatakan.
Pasukan Pahlawan Terhukum yang kamu pimpin telah menorehkan pencapaian tempur
yang luar biasa mengagumkan bersama dengan Goddess Pedang, Teoritta.
Bagi pihak Fenomena Raja Iblis, keberadaan kalian benar-benar sangat
merepotkan. Kalian adalah musuh yang teramat tangguh."
Tovitz berbicara dengan sangat lancar dan mengalir. Gaya bicaranya persis seperti seorang orator yang ulung. Benar-benar
terasa sangat mencurigakan dan penuh kepalsuan.
"Menurutmu, apa taktik paling efektif yang bisa
digunakan untuk menghadapi musuh yang tangguh?"
"Kamu pasti ingin bilang dengan cara mengubah
mereka menjadi sekutu, kan."
"Tepat sekali. Itu adalah hal yang sangat wajar,
bukan? Aku hanya mencoba untuk mempraktikkan hal
tersebut."
"Hebat sekali kamu bisa memiliki pemikiran seperti
itu."
Aku menyilangkan kaki, lalu sengaja memasang gestur tubuh
yang terlihat angkuh dan sombong.
Manusia yang tidak memiliki kekuatan namun berlagak sok
hebat dan banyak bicara biasanya akan dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Aku sengaja mempraktikkan hal itu sekarang.
Bagaimanapun juga, statusku saat ini hanyalah seorang
tawanan—seorang pecundang lemah yang tidak berdaya, tidak ada keraguan tentang
hal itu. Untuk bisa menyusun rencana melarikan diri dari tempat ini, akan jauh
lebih menguntungkan jika musuh memandangku dengan sebelah mata.
"Bagaimanapun cara kamu memandangnya, pasukan kami
sama sekali bukan bagian dari unit militer yang normal. Pencapaian tempur yang
terlihat hebat di matamu itu hanyalah sebuah tipuan belaka. Pasalnya, di kubu
kami ada seorang penipu ulung yang luar biasa hebat."
"Jika sebuah tipuan belaka bisa sampai membunuh
Fenomena Raja Iblis, maka hal itu justru terasa jauh lebih mengerikan dan
mengancam."
"Kalian semua sudah salah paham. Apa kalian ini
sekumpulan orang awam? Pasukan gadungan yang hanya bisa mengandalkan taktik
licik dan nekat di saat-saat terdesak seperti kami, mana bisa dijadikan
sandaran kekuatan yang andal."
Hal semacam ini bahkan berada di luar konteks
strategi militer. Bagaimana bisa sebuah kelompok yang hanya mengandalkan tipu
muslihat dan taktik licik untuk meraih kemenangan dapat dikelola dan digerakkan
dengan benar sebagai sebuah pasukan?
"Terlebih lagi, menculikku adalah tindakan yang
sama sekali tidak berguna. Kalian seharusnya menculik Tatsuya atau Patausche."
Di dalam lubuk hatiku yang terdalam, nama Norgayu
sempat terlintas, namun aku memilih untuk tidak menyuarakannya.
Mungkin saja mereka sudah menyadarinya, tapi nilai
strategis militer yang dimiliki oleh Norgayu berada dalam skala yang jauh
berbeda jika dibandingkan dengan orang-orang seperti kami.
"Kamu, apa kamu tidak sadar kalau tindakan yang kamu
lakukan ini sama sekali tidak ada gunanya?"
"—Fuhfuh. Jangan terlalu rendah hati seperti itu, Xylo
Forbartz!"
Empusa mengeluarkan suara dengusan dari tenggorokannya.
Dia mungkin sedang tertawa.
"Aku secara pribadi memberikan penilaian yang sangat
tinggi untukmu. Kamu dan Teoritta telah berhasil menumbangkan Iblis, bahkan
sampai membinasakan Abaddon yang mengerikan itu, bukan! Itu adalah sebuah
pencapaian yang benar-benar luar biasa memuaskan. Sungguh mengagumkan.
Ceritakan padaku secara mendetail bagaimana cara kalian menghabisinya."
"Aku sudah menceritakannya berkali-kali
kepadamu."
Selama beberapa hari terakhir, Empusa memang sama sekali
tidak pernah beranjak dari sisiku. Selama kurun waktu tersebut, aku sudah
menceritakan kisah itu berulang kali dengan mencampurkan fakta dan kebohongan
secara acak, namun makhluk ini tampaknya masih belum merasa bosan mendengarnya.
"Itu masih belum cukup. Aku ingin tahu lebih banyak
lagi. Aku menganggap rasa ingin tahu yang besar adalah salah satu kekuatan
utama yang kumiliki. Bagaimana saat-saat terakhir kematian Abaddon? Ekspresi
seperti apa yang terukir di wajah pria yang hampa dan konyol itu?"
"Kamu terdengar sangat gembira saat menanyakannya
ya. Padahal di matamu, dia adalah sekutu."
"Dalam artian tertentu hal itu memang benar, tapi di
sisi lain bisa juga dikatakan tidak."
Aku berniat melontarkan kalimat itu untuk
memprovokasinya, namun Empusa justru menunjukkan reaksi yang di luar dugaan.
Dengan ekspresi wajah yang sepenuhnya tenang, dia
melontarkan jawaban yang sama sekali tidak masuk akal. Apakah dia sengaja ingin
mengelabui pemikiranku?
"Dia juga merupakan salah satu pesaingku.
Bagaimanapun juga, posisi kami sampai kapan pun adalah sosok yang tunduk di
bawah perintah sang 'Raja'—"
"Empusa. Bukankah sebaiknya kamu menghentikan
ucapanmu sampai di situ saja?"
Padahal pembicaraan ini tampaknya akan mulai memasuki
bagian yang sangat menarik, namun Tovitz langsung memotongnya dengan tegas.
"Membocorkan segala hal kepadanya jelas bukan
merupakan sesuatu yang diinginkan oleh sang 'Raja'. Anis tidak akan pernah
mengizinkan hal semacam itu terjadi."
"Oh. Benar juga ya. Kakakku tercinta, Ratu kami
semua!"
Seolah baru saja teringat akan sesuatu, Empusa langsung
menepukkan kedua telapak tangannya.
Anis. Nama itu terdengar tidak asing bagi telingaku.
Bukankah itu adalah nama dari Fenomena Raja Iblis yang bertarung denganku di
Ibu Kota Kerajaan Kedua, sosok yang memiliki kemampuan untuk membekukan area di
sekitarnya?
Ratu. Jadi eksistensi yang saat ini memimpin dan
menyatukan seluruh Fenomena Raja Iblis adalah makhluk itu? Terlebih lagi,
Empusa baru saja menyebutnya dengan panggilan 'Kakak'. Terlalu banyak informasi
baru yang masuk ke dalam kepalaku sekaligus.
"Baiklah.
Anis si Black Crown. Demi nama baik Kakak, aku akan
mematuhinya. Lagipula, kamu adalah perwakilan resmi yang ditunjuk olehnya,
kan!"
"Terima kasih banyak—Tuan Xylo. Apakah kamu memiliki
ketertarikan terhadap informasi mengenai Fenomena Raja Iblis?"
"Sama sekali tidak."
"Jika kamu bersedia membelot dari umat manusia dan
menjadi sekutu kami, aku tidak keberatan untuk membagikan seluruh informasi
tersebut kepadamu."
"Aku sudah bilang tidak tertarik, kan. Apa
otakmu tidak bisa mencerna kalimat sesederhana itu?"
"Kalau begitu, mari kita anggap pembicaraan ini
selesai untuk sementara waktu."
Sebuah untaian kalimat yang benar-benar memicu rasa
jengkel. Eksistensi yang selalu memasang sikap sok tahu dan seolah bisa membaca
segalanya seperti dia adalah jenis manusia yang paling kubenci dari lubuk
hatiku yang terdalam. Rasanya aku ingin sekali melayangkan tendangan telak ke
wajahnya.
"Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja, Tuan Xylo.
Kamulah yang merupakan inti utama dari Pasukan Pahlawan Terhukum. Salah satu
kekuatan penggerak utama yang berhasil membuat umat manusia bisa melangkah
sejauh ini dalam perang."
"Mana mungkin hal konyol semacam itu benar."
Benar-benar omong kosong yang tidak masuk akal. Jika aku
memang memiliki nilai sehebat itu di mata mereka, aku pasti sudah bisa
melakukan banyak hal dengan jauh lebih baik dari ini.
Aku tidak akan kehilangan Ksatria Suci Kelima, aku tidak
akan kehilangan Senelva. Aku juga tidak akan membiarkan
Milete, Nark, dan orang-orang dari Pasukan Forbartz tewas mengenaskan.
"Daripada membuang-buang waktumu bersamaku,
bukankah akan jauh lebih baik jika kamu pergi menangkap Beux?"
"Memang benar, Beux Wintier adalah sosok yang
sangat mengancam. Beberapa waktu lalu dia juga menorehkan pencapaian yang luar
biasa hebat. Fenomena Raja Iblis Hephaestus yang sengaja kuutus untuk melakukan
serangan gertakan justru dihabisi olehnya dengan sangat mudah."
Apakah kejadian seperti itu benar-benar telah terjadi? Aku merasa orang ini terlalu banyak mengumbar informasi penting secara
cuma-cuma.
Apa sebenarnya alasan yang membuatnya sampai bersedia
membagikan pergerakan militer di kubu umat manusia kepadaku? Tidak—terlalu
banyak berspekulasi dan berpikir dalam-dalam juga bukan merupakan hal yang
baik.
Jika aku mencoba mencari makna di balik setiap
peristiwa, aku justru akan menjadi kaku dan tidak bisa bergerak.
"Kekuatan yang dimiliki oleh Beux Wintier memang
tergolong tidak normal. Bahkan bagiku pribadi, tingkat kekuatan yang mampu
menumbangkan Hephaestus hanya dalam satu kali pertempuran tunggal benar-benar
berada di luar prediksi. Akan tetapi—"
Tovitz mendongak untuk menatapku. Sorot matanya
tampak menyiratkan nada ejekan yang samar.
"Hebatnya, kamu sama sekali tidak menyuruhku untuk
menangkap Lufen Kauron, melainkan Beux."
"Tentu saja. Apa gunanya menangkap pria pemalas dan
loyo seperti dia."
"Aku mengerti. Kalau begitu, mari kita anggap hal
itu memang seperti yang kamu katakan."
Pria ini benar-benar sukses memicu emosiku. Dia tampaknya
tahu betul seberapa besar nilai strategis militer yang dimiliki oleh si pemalas
itu.
"Namun, sosok yang paling menarik perhatianku sampai
saat ini tetaplah dirimu."
"Begitu ya. Kalau begitu, kamu ini ternyata adalah
orang yang luar biasa bodoh."
"Kira-kira begitulah. Jadi, apakah kamu benar-benar
tidak berniat untuk menjadi sekutu kami?"
"Kalau kamu berpikir aku akan mengiyakannya—"
Aku memutuskan untuk melakukan satu tindakan spekulasi
yang nekat.
"—Kamu benar-benar orang yang terlalu
optimistis!"
Sembari bangkit berdiri dengan hentakan cepat, aku
menendang kursi yang baru saja kududuki—mengarahkannya tepat ke arah Tovitz. Sepasang
mata Tovitz tampak melebar sesaat karena sedikit terkejut.
"Haha!"
Empusa tertawa lepas sembari bertepuk tangan gembira.
"Semangat yang bagus! Luar biasa. Usahaku dalam
merawatmu selama ini ternyata tidak sia-sia!"
Kursi yang kutendang tadi berhasil dihantam jatuh sebelum
sempat mencapai tubuh Tovitz. Sura Odo. Pria berwajah suram itu ternyata mampu
menunjukkan pergerakan yang luar biasa gesit.
Sura Odo tidak menghentikan pergerakannya sampai di situ.
Dia langsung melesat maju untuk menerjangku.
Sebilah pisau tampak digenggam erat di salah satu
tangannya—sebuah pisau dengan bentuk bilah melengkung lebar yang menyerupai
parang. Aku justru melangkah maju menyongsong pergerakannya. Leher. Tepat
sesaat sebelum bilah tajam itu berhasil mengoyak kulit leherku, pergerakan
tangan Sura Odo langsung terhenti secara paksa.
"Hentikan."
Empusa telah mencengkeram erat pergelangan lengan pria
itu. Dia mengeluarkan suara kekehan dari tenggorokannya.
"Apakah kamu benar-benar berniat untuk
menghabisinya? Hm?"
Sembari mengulas senyum simpul, Empusa melayangkan
tendangan menggunakan kaki berkuku kudanya telak ke arah Sura Odo. Tanpa
menimbulkan suara sedikit pun, tubuh Sura Odo langsung terlempar ke arah
belakang.
Aku bisa langsung menyadari bahwa dia sengaja melompat
mundur atas inisiatifnya sendiri untuk meminimalisasi dampak benturan. Meski
begitu, Empusa tidak menunjukkan niat untuk melakukan serangan susulan.
"Makhluk rendahan sepertimu, berani-beraninya
bertindak tidak sopan di hadapan sosok pahlawan yang telah kuakui—sungguh
kelakuan yang tidak tahu diri."
"Apa yang dikatakan Empusa ada benarnya, Sura Odo.
Kita sudah bersusah payah untuk menangkapnya hidup-hidup. Tolong jangan bunuh dia.
Membiarkannya tetap hidup dalam kondisi terikat adalah cara paling aman dan
dipastikan paling andal untuk mengendalikannya."
"…Aku juga sama sekali tidak berniat untuk
membunuhnya."
Sura Odo bergumam dengan nada suara yang terdengar muram,
sembari memainkan pisau di tangannya dengan lihai.
"Aku hanya ingin merusak organ suaranya agar dia
tidak bisa berbicara lagi. Aku sudah sangat terbiasa melakukan hal-hal semacam
itu. Kondisi seperti itu pasti akan jauh lebih menguntungkan bagi kita, bukan?
Sama sekali tidak ada gunanya membiarkan pria ini terus mengumbar omong
kosong."
"Huh! Benar-benar sebuah pemikiran yang sangat picik
dan membosankan."
Empusa menghela napas panjang dengan ekspresi wajah yang
tampak kecewa.
"Pria sepertimu benar-benar hanya bisa merusak
suasana saja. Mulai sekarang, tutup mulutmu dan jangan bicara lagi."
"Mohon maaf, Sura Odo. Aku juga masih ingin
membicarakan banyak hal secara mendalam dengan Tuan Xylo. Jadi tolong urungkan
niatmu untuk merusak organ suaranya ya."
"Padahal aku sama sekali tidak punya niat untuk
mengobrol dengannmu."
Aku berdiri tegak sembari melayangkan tatapan tajam yang
menghunjam langsung ke arah Tovitz yang duduk di depanku.
"Tovitz. Aku sama sekali tidak bisa
memercayaimu."
"Jika aku bisa membuatmu memercayaiku, apakah proses
negosiasi di antara kita bisa berjalan lancar?"
"Hal itu adalah sesuatu yang mustahil terjadi sampai
kapan pun."
"Padahal aku sangat memercayaimu, lho, Tuan Xylo.
Terutama dalam hal kemampuan bertarung dan kepribadian yang kamu miliki."
"Apa yang tahu tentang diriku?"
"Aku sudah membaca dan mempelajari berbagai
berkas catatan mengenai dirimu sejak kamu masih bergabung di Ksatria Suci
Kelima. Karena itulah, aku bisa mengetahuinya."
Catatan. Rasa tidak nyaman yang luar biasa hebat
mendadak meletup di dalam lubuk hatiku secara instan. Apa yang bisa dipahami
oleh orang luar hanya dari selembar berkas catatan kuno.
Jauh di luar sana, ada sosok-sosok yang jauh lebih
berharga dan tidak boleh dilupakan daripada orang sepertiku.
Aku tidak mampu lagi membendung luapan rasa amarah
yang kini mulai tercampur di dalam nada suaraku.
"…Coba katakan padaku, Tovitz. Apa tepatnya yang
berhasil kamu ketahui?"
"Mari kita lihat. Sebagai contoh—"
Tepat saat dia baru saja hendak menyuarakan kalimatnya,
suara dentangan lonceng yang luar biasa nyaring mendadak bergema membelah
udara. Sebuah nada dentangan yang beritme cepat.
Itu adalah tanda peringatan yang mengindikasikan
terjadinya situasi darurat. Suaranya terdengar menggema dari arah wilayah
bagian utara kota.
Aku dan Tovitz secara serentak langsung mengalihkan
pandangan ke luar jendela. Di balik dinding pembatas kota, gumpalan asap hitam
tampak membubung tinggi ke angkasa.
"Ya. Mereka datang di waktu yang benar-benar
sangat tepat."
"Siapa yang datang?"
"Musuh."
Artinya, itu adalah pergerakan dari pasukan militer milik
Aliansi Kerajaan? Sungguh sebuah hal yang sulit untuk dipercayai.
Bagaimana bisa mereka sudah berhasil mencapai lokasi
sejauh ini dan bahkan telah menyusun formasi untuk melakukan serangan ofensif?
Pergerakan mereka benar-benar luar biasa cepat.
Tidak—jika pasukan itu digerakkan oleh Ksatria Suci
Kesebelas yang dipimpin oleh Beux dan Lufen, maka kemungkinan hal itu terjadi
bukanlah sesuatu yang mustahil.
"Sangat disayangkan, Tuan Xylo, tebakanmu kali ini
meleset jauh. Pasukan militer yang ada di luar sana bukanlah milik umat
manusia."
"Kalau begitu, pasukan milik siapa?"
"Fenomena Raja Iblis, Chernobog."
Tovitz memalingkan wajahnya untuk menatapku. Hal yang
membuatku merasa merinding adalah sorot matanya yang tampak memancarkan
secercah harapan yang besar.
"Dia adalah sosok Fenomena Raja Iblis yang memilih
untuk membelot dan memberontak dari Tir na Nog. Pasukan Fairy abnormal
yang berada di bawah komandonya memang kerap kali datang melancarkan serangan
seperti ini secara berkala."
"Benar sekali. Dia adalah sosok pria yang memiliki
potensi yang cukup menarik."
Sembari berucap demikian, Empusa tampak menganggukkan
kepalanya beberapa kali tanda setuju.
Chernobog. Itu adalah nama Fenomena Raja Iblis yang baru
pertama kali kudengar sepanjang hidupku. Apakah dia merupakan sosok musuh yang
keberadaannya masih belum berhasil terdeteksi oleh pihak umat manusia?
"Karena situasi dan kondisinya sedang seperti ini,
Tuan Xylo."
Tovitz mengulas sebuah senyuman yang terkesan
ramah—sebuah senyuman yang entah mengapa terasa sangat menyebalkan di mataku.
"Maukah kamu memimpin pasukan militer kami untuk
maju bertempur di garis depan?"
"Ha?"
Orang ini benar-benar sudah tidak waras, pikirku.
Hukuman
Khusus
Penghalangan
dan Penyerangan Monster Govilcoark 2
Kira-kira tiga atau empat jam perjalanan berbaris ke arah
utara dari Kota Kovilkork.
Monster bauran, para aberrant fairy, tampak
berdesakan di sana.
Sekali lihat pun langsung tahu, jumlah mereka adalah
sebuah pasukan besar.
"Jarak berbaris" adalah satuan bersama yang
ditetapkan oleh Galtuill dan biasa digunakan dalam militer.
Satuan ini menjadi tolok ukur jarak yang bisa
ditempuh oleh sepasukan tentara dalam waktu satu jam.
Artinya, jarak saat ini menunjukkan bahwa pertempuran
akan dimulai sekitar tiga atau empat jam lagi.
Dengan kata lain, pasukan dari Fenomena Raja Iblis,
Chernobog, telah mendekat lebih cepat daripada perkiraan.
Pasukan patroli yang mencoba menghadang mereka
kabarnya telah disapu bersih dengan sangat mudah.
"Para aberrant fairy yang diciptakan
Chernobog itu sangat ganas dan tidak kenal rasa takut."
Empusa yang berdiri di sampingku berucap demikian.
"Begitu mereka mendapat momentum, kekuatan mereka
akan keluar penuh. Chernobog juga sangat lihai dalam membesarkan para aberrant
fairy.
Lihatlah. Dia menempatkan jenis ukuran besar
di barisan depan, bukan?
Troll dan Kairak. Butuh trik khusus untuk membesarkan
mereka sampai seukuran itu."
Troll bisa ditemukan di mana-mana, tetapi Kairak termasuk
langka. Makhluk ini adalah hewan herbivora berukuran besar yang berubah menjadi
aberrant fairy.
Karena ukuran tubuhnya yang terlampau raksasa, mereka
sulit digunakan di medan belantara yang rumit. Selain itu, jumlah populasi
mereka sedikit karena membutuhkan pasokan makanan yang luar biasa banyak.
"Total jumlah mereka sekitar sepuluh ribu, dengan
Yulmen, Bogey, dan Fuath sebagai intinya.... Jumlah yang setara dengan Gwythion
yang bermarkas di Pegunungan Khajit, ya—Xylo, bukankah ini saatnya menunjukkan
kebolehanmu?!"
Aku tidak menyahuti ucapan Empusa yang entah mengapa
terdengar penuh ekspektasi itu.
Musuh berjumlah sepuluh ribu, lengkap dengan campuran aberrant
fairy ukuran besar. Jika ingin bertarung melawan mereka, aku membutuhkan
strategi yang sepadan.
(—Ya. Bertarung.)
Pada akhirnya, semuanya malah jadi begini. Bisa dibilang,
aku tidak punya pilihan lain.
Aku memandang pasukan Chernobog—gerombolan musuh
itu—dengan perasaan muram.
"Aku mau bertanya dulu soal tentara di pihak
kita."
Aku menanyakan hal itu kepada Empusa sambil melirik para
prajurit yang menjadi 'sekutu' kami.
"Apakah Thunder Stave milik mereka bisa
digunakan? Atau paling tidak, mereka kelihatan memegangnya."
"Tentu saja sudah kubuat agar bisa digunakan.
Apa kamu sedang mencoba menyelidiki otoritas Goddess Bulan? Fufu!"
Telinga binatang milik Empusa bergerak sedikit.
Gerakan itu tampak seperti sedang menahan rasa gatal.
"Aku ini serbabisa, jadi penyesuaian seperti itu
cukup mudah bagiku. Mengaktifkan lambang suci pada Thunder Stave sambil
memastikanmu tidak melarikan diri adalah hal yang bisa kulakukan. Apa kamu
kecewa?"
Aku kembali bungkam. Saat ini, hal terpenting adalah
mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.
Bagaimana caranya dia bisa menyesuaikan otoritas itu? Dia
memang menggunakan peralatan lambang suci bahkan di dalam kota.
Mekanisme di balik hal itu sangat membuatku penasaran.
Namun, mengurus situasi di depan mata jauh lebih mendesak.
Intinya, aku harus memimpin orang-orang ini dan
menang melawan musuh.
"Aku sudah yakin Anda pasti akan menerimanya."
Twitz berbicara dengan senyuman yang menyebalkan.
"Bagi seorang Xylo-san, Anda tidak akan mungkin
membiarkan kami mati begitu saja. Benar, kan?"
"Diamlah. Kata-katamu malah membuatku malas."
"Kalau begitu, apa Anda mau menonton mereka
mati?"
Twitz berbalik. Di belakang kami, berdiri para prajurit
manusia.
Jumlahnya sekitar dua ribu orang. Mereka adalah prajurit
garnisun Kota Kovilkork yang berafiliasi dengan 'Faksi Simbiosis'.
Wajah mereka semua pucat pasi. Meski tangan mereka
menggenggam senjata, banyak di antara mereka yang gemetaran.
Selain mereka, pasukan di luar Kota Kovilkork yang
tersisa adalah sekitar tiga ribu aberrant fairy. Jika digabungkan dengan
manusia, totalnya menjadi lima ribu unit.
Sisa pasukan yang lebih besar bertugas mempertahankan
bagian dalam kota.
"Xylo-san, bahkan jika Anda tidak memimpin mereka
pun, hasilnya akan sama saja."
Yang dimaksud 'mereka' oleh Twitz tentu saja adalah para
prajurit manusia.
"Lagipula, mereka telah gagal total dengan sangat
memalukan dalam pertempuran di Pegunungan Khajit. Kali ini, sebagai bentuk
pertanggungjawaban, mereka dikirim untuk bertarung di baris paling depan."
Berdasarkan cerita, sepertinya memang begitu situasinya.
Pantas saja ada yang gemetaran, aku paham alasannya.
"Jika aku yang memimpin, aku akan menyuruh pasukan
manusia ini menerobos langsung dari depan. Anggap saja peran mereka adalah
mengikis kekuatan musuh sebisa mungkin."
"Tindakan yang sia-sia. Hal itu tidak akan
memberikan dampak yang berarti."
"Tapi setidaknya ada nilai peringatan di
dalamnya. Walau menyebut diri sebagai 'Faksi Simbiosis', manusia yang tidak
berguna tetap harus merasakan penderitaan.
Itu bisa menjadi pelajaran yang bagus. Aku sendiri sadar
kalau aku bukan tipe orang yang disukai, jadi aku perlu menjaga ketertiban
dengan metode seperti ini."
Setelah berkata begitu, Twitz tertawa.
"Tapi, Xylo-san. Anda pasti bisa membuat mereka
bertarung dengan cara yang paling berarti."
Sikapnya sok akrab sekali, membuatku ingin
mendecakkan lidah.
Cara bicaranya membuat emosinya sulit dibaca, tetapi
ada satu hal yang bisa kupahami. Bajingan ini adalah orang yang sepenuhnya
rasional.
Sama sekali tidak ada gerak-gerik yang menunjukkan
rasa kesal atau kecewa pada dirinya. Hal itu mungkin karena dia menganggap
emosi sebagai sesuatu yang tidak berguna.
Merasa marah atau sedih hanya akan membuat diri
sendiri tidak nyaman. Oleh karena itu, dia tidak memikirkan hal sia-sia seperti
itu.
Karena sifatnya yang terlalu ekstrem itulah, dalam
beberapa situasi dia bisa terlihat seperti pria yang lembut dan tenang.
Sejujurnya, dia bukan jenis orang yang ingin kujadikan teman dekat.
"Jika Anda tidak memimpin mereka, mereka akan mati
tanpa arti. Anggap saja ini semacam ancaman—yah, bagi kalian pihak Kerajaan
Serikat, bukankah semakin banyak orang dari 'Faksi Simbiosis' yang mati justru
akan semakin menguntungkan?"
"Aku mengerti, jadi diamlah. Aku tidak bilang
tidak akan melakukannya, kan?"
Aku tahu aku mengambil keputusan yang bodoh, aku
sadar akan hal itu. Mencoba menyelamatkan orang-orang dari 'Faksi
Simbiosis'—apakah aku ini pengkhianat umat manusia?
Namun, membiarkan mereka mati di sini rasanya seperti
mengecewakan ingatan masa lalu. Mengecewakan Pasukan Ksatria Suci Kelima
terdahulu, dan orang-orang dari 'Pasukan Volbarts'.
Mengecewakan Senerva, serta semua orang. Dan
juga—Teoritta.
(Tinggal lakukan saja, kan?)
Lagipula, musuh saat ini adalah Chernobog. Mereka memang
memusuhi Fenomena Raja Iblis, tetapi melihat para Troll itu saja sudah
membuktikan kalau mereka sama sekali bukan teman manusia.
Sebagian besar dari makhluk itu adalah manusia yang
terkikis dan berubah menjadi aberrant fairy.
"Aku hanya perlu memukul mundur mereka, kan? Akan
kulakukan. Kamu yakin kalau Chernobog tidak ada di dalam
gerombolan itu?"
"Ya. Kami sudah mengirim pengintai untuk
memastikannya. Sepertinya dia berpikir ini belum saatnya untuk
pertempuran penentu."
"Dimengerti."
Mengetahui hal itu saja sudah cukup untukku. Aku bisa
melakukannya, menanamkan sugesti itu pada diri sendiri adalah hal yang penting.
"Seperti yang diharapkan dari seorang Xylo
Volbarts. Anda memang pahlawan yang hebat."
"Tutup mulutmu. Kamu membuatku muak."
"Benar juga ya. Aku memang sering kelepasan bicara,
makanya selalu dibenci orang. Mohon bantuannya."
Aku mencoba mencengkeram kerah baju Twitz. Namun,
lenganku langsung ditahan oleh Soula Od.
Sialan. Memiliki lengan kanan yang patah dan tidak bisa
digunakan benar-benar sangat merepotkan.
"Jangan terlalu ngelunjak ya."
Soula Od mencengkeram pergelangan tangan kiriku dengan
kuat.
"Aku tidak menilai dirimu setinggi penilaian Twitz.
Kamu adalah keberadaan yang tidak masalah untuk kubunuh kapan saja."
"Ha! Begitukah? Kalau begitu, kenapa tidak bunuh aku
sekarang? Apa kamu berani menentang majikanmu?"
Saat aku membalasnya dengan cibiran, Soula Od menyipitkan
matanya sedikit. Aku merasa ada niat membunuh yang meluap sedetik di matanya.
"Tolong hentikan, kalian berdua. Terutama kamu,
Soula Od, karena kamu harus bergerak di bawah komando Xylo-san."
"Apa?"
"Dengar itu, dasar serangga beracun."
Saat wajah Soula Od berkerut, aku langsung
mencaci-makinya tanpa membuang waktu.
"Patuhi perintahku dengan manis. Karena aku akan
memperkerjakanmu bagai budak."
"……Aku tidak pernah mendengar soal ini,
Twitz."
"Aku baru saja memikirkannya. Bukankah lebih
baik kalian berdua mengakrabkan diri? Siapa tahu kalian bisa menjadi
rekan."
"Katanya begitu. Meski aku lebih baik mati daripada
jadi rekanmu—"
Aku memutuskan untuk tidak memedulikan Soula Od lagi.
Pandanganku kembali lurus ke depan.
"Mulai sekarang kita akan menghancurkan
bajingan-bajingan di depan sana. Singsingkan lengan bajumu."
"Menghancurkan, katanya! Bagus sekali, sungguh luar
biasa! Itulah baru pahlawan!"
Terdengar suara tepuk tangan. Empusa menatapku dengan
mata yang berbinar penuh harap, sementara mata kiri hitam pekatnya berkilau.
"Nah! Apa yang akan kamu lakukan, Xylo?"
"Pertama, aku ingin bertanya dulu. Bagaimana
kekuatan tempurmu? Apa saja yang bisa dilakukan oleh para aberrant fairy
milikmu?"
"Fuath dan Yulmen masing-masing ada seribu limaころ,
ditambah sekitar seratus penunggang Barghest."
"Jumlah ukuran besarnya sedikit sekali, ya."
Makhluk bernama Yulmen itu adalah jenis aberrant fairy
berkaki dua yang berada di pertengahan antara Troll dan Goblin. Karakteristik
utama mereka adalah struktur tubuh dan kekuatan ototnya yang sangat mirip
dengan manusia.
Oleh karena itu, mereka bisa menggunakan senjata manusia
apa adanya. Namun, kelincahan mereka tidak sebanding dengan Goblin, dan daya
hancurnya pun tidak sekuat Troll, membuat posisi mereka dalam kekuatan tempur
terasa tanggung.
Dari sudut pandang manusia, mereka juga sulit dibedakan
dari Goblin atau Troll. Akibatnya, nama mereka jarang muncul dalam laporan
pengintaian di medan perang.
Mengatakan hal ini mungkin akan membuat orang-orang dari
Asosiasi Akademis marah. Namun, aku sangat meragukan apakah ada gunanya
mengklasifikasikan mereka secara biologis.
"Bagi Fenomena Raja Iblis, ada hal yang dikuasai dan
tidak dikuasai dalam mengendalikan erosi perubahan aberrant fairy."
Empusa mengucapkan hal itu seolah bukan masalah besar.
Itu adalah informasi berharga mengenai Fenomena Raja
Iblis. Galtuill memang sudah membuat perkiraan kasar, tetapi mendengarnya
langsung dari mulut pelakunya memberikan kesan yang berbeda.
"Aku sendiri tidak pandai membuat jenis ukuran
besar. Kudengar lingkungan pertumbuhan itu penting, tetapi aku tidak begitu
tertarik mengurusnya.
Lagipula, makhluk besar itu jelek dan tidak
menyenangkan, bukan? Seleraku tidak sejalan dengan Chernobog."
"Mungkin saja."
"Sebagai gantinya, aku sangat mahir dalam
menggerakkan para aberrant fairy. Aku sudah menjinakkan mereka dengan
sangat baik."
"Baiklah. Pastikan mereka berguna semaksimal
mungkin."
Artinya, hampir tidak ada aberrant fairy
ukuran besar di pihak kami.
Jika bertarung secara frontal dengan formasi ini,
kami hanya akan diinjak-injak.
Begitu musuh merangsek maju dengan momentum mereka, kami
tidak akan punya kesempatan bertahan sama sekali.
(Terutama para prajurit manusia. Situasinya benar-benar
gawat.)
Aku menatap para prajurit berwajah pucat itu. Walau
mereka adalah pasukan garis belakang, bukan berarti mereka tidak terlatih.
Mereka bisa berlari mengikuti aba-aba, menusukkan
tombak, dan menembakkan Thunder Stave. Namun, situasi saat ini di mana
mereka dipaksa memikul tanggung jawab atas kegagalan sebelumnya telah
menanamkan rasa takut.
Penurunan moral mereka sudah berada di tahap yang
kritis.
(Tentara yang seperti ini sangatlah rapuh.)
Kalau begitu, kami tidak boleh berbenturan secara
frontal, dan aku harus memastikan strategi itu berjalan mutlak.
"Pertama, gerakkan pasukan kavaleri manusia."
"Baiklah. Lalu, bagaimana caranya?"
"Semuanya di sayap kanan. Untuk sayap kiri, isi
dengan unit besar saja termasuk Barghest.
Sisanya di tengah, tutup jalan masuk kota tepat di
tengah-tengah. Dengan formasi itu, manusia menjadi barisan depan, sedangkan aberrant
fairy di barisan belakang.
Dan juga—ini sederhana saja, tapi kita butuh sedikit
pergerakan. Akan kusiapkan sekarang."
"Apa begitu saja sudah cukup?"
Mendengar instruksi yang bertubi-tubi itu, Empusa
menunjukkan wajah heran.
"Kenapa tidak menempatkan Barghest di tengah? Jika
ukuran besar musuh menerobos, kita tidak akan kuat menahannya."
"Mereka tidak akan langsung menerobos."
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Karena begitulah cara mereka
bertarung—sudahlah, cepat gerakkan pasukannya. Musuh sudah dekat."
Musuh tidak sedang berdiam diri, melainkan terus
mendekat. Namun pergerakan mereka lambat.
Sudah menjadi lumrah bagi para aberrant fairy
bahwa begitu mereka menjauh dari Fenomena Raja Iblis, koordinasi mereka akan
kacau. Hal itu membuat pergerakan kelompok menjadi sulit, dan kali ini adalah
contoh yang sangat tepat.
Meski mereka menempatkan aberrant fairy ukuran
besar di barisan paling depan untuk merangsek maju, langkah mereka lambat
akibat bobot tubuh yang lambun.
Tampaknya, ukuran menengah dan kecil yang sudah tidak
sabar mulai mendesak unit ukuran besar di depan mereka.
Mereka ingin segera menerobos ke Kota Kovilkork untuk
menghancurkan segalanya.
Namun di sisi lain, tidak ada yang mau berdiri di barisan
paling depan dan mati terlebih dahulu.
Sikap egois seperti itu sangat terasa dari pergerakan
pasukan musuh. Celah itulah yang akan aku incar.
"Bagian tengah, maju. Aku juga akan pergi, pinjamkan
aku seekor kuda."
"Hee.
Itu…… apa Anda juga akan turun ke garis depan?"
Twitz
menunjukkan wajah yang sedikit terkejut.
"Tentu saja aku tidak keberatan meminjamkan kuda.
Tapi, jangan berpikir kalau Anda bisa melarikan diri ya."
"Aku tahu. Lagipula kamu pasti menempatkan pengawas
untukku, kan?"
Yang dimaksud tentu saja adalah Soula Od. Tidak mungkin
Twitz menugaskan orang ini bersamaku hanya demi 'mengakrabkan diri' seperti
lelucon tadi.
Dia bukan pria yang cocok untuk sandiwara konyol seperti
itu.
"Kalau begitu, Soula Od. Pastikan Xylo-san tidak
melarikan diri atau mencoba bunuh diri."
"……Akan kulakukan tugasku. Tapi Twitz, aku merasa
kamu selalu melimpahkan urusan merepotkan kepadaku."
"Tentu saja. Lagipula aku membayar upah yang mahal
untukmu, jadi itu sudah sewajarnya."
Soula
Od memalingkan wajahnya dalam diam. Itu adalah respons dari seseorang yang
sudah sering berdebat dan selalu menyadari kesia-siaannya di akhir.
Sedikit banyak, aku bisa memahami perasaan itu.
"Twitz, kamu juga. Gerakkan pasukan di dalam kota
persis seperti yang kukatakan tadi.
Aku tidak menyuruh mereka bertarung, jadi harusnya tidak
ada masalah, kan?"
"Tentu saja tidak masalah. Lagipula, itu adalah hal
yang memang berniat kulakukan bahkan sebelum Anda mengatakannya."
"Baguslah kalau begitu. Aku hanya memastikan, untuk
bersiap seandainya kamu ternyata sangat tidak berguna di luar batas."
"Terima kasih atas perhatian Anda."
Dia sama sekali tidak ambil pusing terhadap ironi maupun
makian. Benar-benar bajingan yang tidak kusukai, rasanya seperti sedang
mengobrol dengan orang-orang sejenis Adiph.
"Fufu! Apa persiapannya sudah selesai? Kalau begitu
mari kita pergi—jangan khawatir, Xylo."
Empusa datang sambil menuntun seekor kuda. Itu adalah
kuda jantan hitam dengan corak putih di dahinya.
"Bahkan jika Soula Od bermalas-malasan, aku sendiri
yang akan melindungimu. Aku tidak hanya akan mengagumimu, tetapi juga
merawatmu, karena itu adalah kewajiban seorang pemilik."
"Terserahmu saja. Lakukan sesukamu."
"Lengan kananmu tidak bisa digunakan, kan? Apa kamu
bisa naik dengan satu tangan? Perlu bantuan—oh."
Aku menaiki kuda itu tanpa berkata apa-apa lagi. Bagi
seorang Ksatria Suci, teknik berkuda adalah kemampuan dasar dari yang paling
dasar, dan aku sendiri tidak membenci kuda.
Jika situasinya normal, mungkin aku akan lebih bahagia
jika menjadi kavaleri rendahan di suatu tempat. Terkadang, pemikiran seperti
itu terlintas di kepalaku.
◆
Mereka sudah tidak bisa menahannya lagi. Dengan kesan
seperti itu, pasukan Chernobog mulai menambah kecepatan gerak mereka.
Mendahului aberrant fairy ukuran besar, unit
ukuran kecil dan menengah mulai berlari kencang menerjang ke arah kami.
Aku mengamati pergerakan itu dari tengah-tengah
pasukan baris depan. Posisi ini membuatku berada di lokasi yang sangat
berbahaya.
Namun, demi memimpin orang-orang dari 'Faksi
Simbiosis' yang tidak bisa menyembunyikan ketakutan ini, komandan harus berdiri
di paling depan.
"Kita maju!"
Aku berseru kepada orang-orang di sekitarku.
"Pertama, kita akan berbenturan secara frontal.
Unit kecil mereka bergerak mendahului yang lain.
Kita hadapi mereka seadanya, lalu langsung mundur.
Saat waktunya tiba, aku akan memberi isyarat, jadi jangan sampai
melewatkannya."
Aku mengatakannya dengan mudah, tetapi mundur di
tengah pertempuran aslinya adalah hal yang sangat sulit.
Bagi pasukan dengan moral dan tingkat latihan yang
rendah, tindakan itu bisa langsung menghancurkan formasi mereka.
Namun, semua itu tergantung pada situasi dan persiapan.
Aku hanya perlu membuat sebuah skenario agar mereka bisa mundur dengan aman.
"Dengar baik-baik! Jika kalian bertarung sesuai
perintahku, kalian tidak akan mati semudah itu!"
Aku berteriak keras, merasakan tatapan penuh keraguan
dari sekelilingku. Hal yang wajar jika mereka tidak percaya.
"Bahkan jika kalian melarikan diri pun, kalian hanya
akan dibunuh oleh bajingan sialan Twitz itu. Lakukan saja sekali ini! Semuanya
akan berhasil!"
Alasan aku berteriak seperti itu sebenarnya juga untuk
meyakinkan diriku sendiri. Semuanya akan berhasil, karena jika tidak percaya
begitu, mana mungkin aku bisa menjadi komandan.
"Mereka datang!"
Pasukan kami yang bergerak maju akhirnya berbenturan
dengan pasukan Chernobog. Aku menerjang masuk tanpa ragu, memimpin di barisan
paling depan.
Aku sempat mendengar Soula Od mendecakkan lidah,
sementara Empusa tertawa senang dari tenggorokannya. Mengingat tangan kananku
tidak bisa digunakan, ini adalah terjangan yang hampir tanpa pertahanan.
Seperti yang sudah diduga, Fuath ukuran kecil dan para
Goblin langsung berkerumun mengerumuniku. Aku tidak bisa mengatasi mereka
dengan satu tangan, apalagi aku tidak diberi senjata apa pun.
"Jangan bercanda!"
Terdengar geraman dari Soula Od. Kuda yang dikendarainya
melesat maju menyalip posisiku.
"Kamu benar-benar suka bertingkah ya, Xylo
Volbarts."
Cahaya tajam dan suara gemuruh meledak dari Thunder
Stave yang disiapkannya. Dua ekor Goblin langsung terpental hancur
sekaligus.
Itu adalah Thunder Stave untuk penembak jitu yang
tampaknya telah dimodifikasi. Bagian larasnya dipotong pendek agar bisa
digunakan dalam pertempuran jarak dekat.
Modifikasi seperti itu sangat berbahaya, dan jika Norgayu
melihatnya, dia pasti akan marah besar.
"Jangan maju terlalu depan, Volbarts. Kamu
hanya menambah pekerjaanku saja."
Tanpa berbalik ke arahku, Soula Od mengomplain hal itu.
Tentu saja aku tidak peduli.
"Masa bodo, dasar serangga beracun. Kalau tidak
suka, pergi saja sana. Aku malah lebih senang."
"Mana bisa, bodoh. Ini adalah pekerjaanku."
"Kalau begitu jangan mengeluh."
Saat aku mencibirnya, wajah Soula Od langsung dipenuhi
ekspresi kebencian. Kebencian itu pun secara otomatis dilampiasikannya kepada
para aberrant fairy.
Dia kembali menembakkan Thunder Stave, lalu
mengganti magasin dengan gerakan tangan yang sangat mulus. Di sisi lain, cara
bertarung Empusa jauh lebih brutal.
"Ku, ku," tawa Empusa dari tenggorokannya
sambil berlari kencang.
Dia tidak menunggangi kuda. Dia melompat dengan kaki
kukunya sendiri, lalu mengayunkan lengan dari atas kepala untuk menghancurkan
tengkorak Fuath.
Itu adalah pukulan dengan tangan kosong. Pada saat
hantaman terjadi, aku merasa lengan kanannya membesar dengan suara yang
berderit.
Apakah dia Fenomena Raja Iblis yang memiliki
kemampuan manipulasi tubuh seperti itu?
"Sudah lama sekali aku tidak menggerakkan
tubuhku."
Empusa
mencengkeram tubuh Fuath dengan kuat. Lengan dari siku hingga ujung jarinya
telah membengkak sedemikian rupa hingga mampu melakukan hal itu.
Dia
mengayunkan lengan hitam pekat yang membengkak itu, lalu menghantamkannya ke aberrant
fairy lain. Pada akhirnya, dia meremas makhluk itu hingga meledak hancur.
"Ada
apa! Apa gerombolan Chernobog hanya selevel ini?"
Para aberrant fairy yang berkerumun bahkan
tidak bisa mendekati Empusa. Fuath yang Terinjak oleh kaki kukunya langsung
hancur berantakan di bagian tengkorak.
Empusa membuka lebar mata kiri hitamnya, lalu meloloskan
suara tawa tertahan dari tenggorokannya.
"Rapuh sekali. Nama Chernobog yang dikenal sebagai
badai perang kejam tiada tanding bisa tercoreng kalau begini!"
Dia mengeluarkan kekuatannya dengan suasana hati yang
sangat baik. Mungkin wujud beringas inilah sifat asli dari Empusa.
Dia tampaknya adalah tipe yang menikmati pertempuran itu
sendiri, terlihat dari cara bertarungnya yang mengamuk tanpa kendali. Soula Od
dan Empusa.
Ketika orang-orang seperti mereka memimpin di barisan
paling depan, pasukan di belakang pun akan ikut terbawa momentum. Kami telah
menjadi seperti pasak yang ditancapkan ke dalam kelompok musuh.
Dalam Pasukan Pahlawan Hukuman, tugas seperti ini
biasanya sering dilakukan oleh Tatsuya. Anak itu selalu bertarung dengan
sempurna.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan Tatsuya akan kalah
dari seseorang dalam pertempuran langsung.
"Dorong mereka!" Berteriak aku keras-keras.
"Musuh cuma kumpulan makhluk kecil. Kita tidak akan
kalah satu lawan satu, dan kita bisa menang mutlak dua lawan satu!"
"Oooooh!" Suara yang mirip dengan lolongan
perang bergema dari sekeliling.
Tampaknya rasa takut mereka sudah cukup terkikis saat
ini. Harapan bahwa mereka mungkin bisa bertahan hidup kini mendorong punggung
para prajurit 'Faksi Simbiosis' untuk maju.
Namun, pertahanan musuh ternyata lebih kokoh daripada
perkiraan awal, sehingga kami belum bisa menembbusnya sepenuhnya. Hal itu
disebabkan karena adanya kekuatan tempur yang berkumpul di bagian tengah
pasukan mereka.
Akan sangat mudah jika kami bisa langsung menembusnya,
tetapi kenyataan tidak sesederhana itu. Dan yang terpenting—waktu kami hampir
habis.
Keterlambatan kami di sini telah memberikan waktu bagi
kekuatan utama musuh untuk bergerak. Begitu aberrant fairy ukuran
menengah dan besar maju, pasukan kami akan langsung hancur dalam sekejap.
"Mereka datang," Soula Od memberi peringatan
dengan nada dingin.
"Jika lawannya adalah ukuran besar, aku tidak akan
bisa terus mengawasimu. Aku akan menyeretmu mundur bahkan jika harus memotong
kedua kakimu terlebih dahulu."
"Fu! Aku tidak akan mengizinkanmu melukai Xylo-ku,
tapi—"
Empusa melempar mayat Fuath, lalu berbalik dengan
senyuman yang berlumuran darah.
"Ucapannya ada benarnya. Aku mungkin tidak bisa
melindungimu lebih dari ini, jadi sebaiknya kamu mundur."
"Jangan khawatir. Unit yang benar-benar besar
tidak akan datang ke sini."
Aberrant fairy ukuran
besar di pihak musuh hampir tidak bergerak sama sekali. Sebagai gantinya, unit
ukuran menengah mulai maju ke garis depan dengan gestur terpaksa.
Alasan di balik hal itu sudah sangat jelas bagi
sepertiku.
"Aku menempatkan para Barghest untuk bersiap di
sayap kiri. Musuh tidak bisa mengabaikan keberadaan mereka."
Kelemahan dari unit ukuran besar adalah kelincahan
mereka yang buruk. Begitu mereka mulai maju dengan kecepatan penuh, mereka
tidak akan bisa berhenti dengan mudah.
Dalam kondisi seperti itu, jika mereka dihantam dari
samping oleh sesama unit ukuran besar, dampaknya akan sangat fatal.
Meskipun jumlah Barghest di sana hanya sekitar
seratus unit, serangan dari arah samping tetap merupakan ancaman yang sangat
serius.
Jika musuh memiliki komandan yang kompeten, mereka
mungkin akan membagi kelompok untuk mengatasinya. Jika hal itu terjadi, aku
sudah menyiapkan rencana lain untuk meresponsnya.
Namun, musuh saat ini sama sekali tidak menunjukkan
pergerakan seperti itu.
"Sudah waktunya! Semuanya mundur!"
Aku mengangkat tangan kiri, lalu mengayunkannya dalam
gerakan memutar yang besar. Suara lonceng mulai bertalu-talu, dan itulah
isyarat yang kami tunggu.
Para prajurit di pihak kami sudah mulai mendapatkan
kembali sedikit rasa percaya diri mereka. Mereka tahu mereka tidak akan kalah
jika hanya melawan unit kecil.
Hal itu memicu kenaikan moral, dan yang terpenting, aku
sudah menyiapkan taktik agar kami bisa mundur dengan aman.
"Hei, jangan lelet! Berkumpul di tengah! Buat
formasi sekecil mungkin!"
Aku berteriak lantang seiring suara lonceng yang
bertalu semakin cepat.
"Jangan sampai kalian terjebak di tengah-tengah
ajang saling bunuh para aberrant fairy!"
Pada saat itu, dari arah belakang kami, sekelompok aberrant
fairy sudah mulai merangsek maju dengan cepat.
Mereka adalah aberrant fairy sekutu yang
berada di bawah kendali penuh Empusa. Mereka bergerak melebar dari sisi kiri
dan kanan, melewati posisi kami yang berkerumun di tengah, lalu menerjang
langsung ke arah gerombolan musuh.
Pergerakan ini bermakna meluncurkan serangan menjepit
dari arah kedua sayap samping musuh. Seketika itu juga, aku bisa melihat
gerombolan musuh mulai goyah ketakutan.
Momentum maju musuh terhenti sepenuhnya karena mereka
harus menunggu unit ukuran menengah datang membantu barisan depan. Justru
karena situasi seperti inilah, taktik pengalihan ini menjadi sangat efektif.
"Begitu rupanya. Ya, aku
paham sekarang."
Empusa menghentakkan kaki kukunya ke tanah dengan penuh
semangat. Para aberrant fairy yang menerjang dari belakang terus
menambah kecepatan mereka, lalu berbenturan langsung dari depan musuh.
Benturan itu menciptakan kekacauan masif yang berhasil
menghambat pergerakan maju unit ukuran menengah milik musuh.
"Jadi
begini caramu bertarung ya. Memberikan rasa percaya diri, meningkatkan moral,
lalu menghentikan musuh! Ini benar-benar pelajaran yang sangat berharga
untukku."
"Bisa diam tidak—Semuanya, siapkan Thunder
Stave!"
Aku mengabaikan ucapan Empusa karena situasi saat ini
sama sekali tidak santai. Kami harus menyokong garis pertempuran di mana para aberrant
fairy sedang saling membantai satu sama lain.
Bagaimanapun juga, pihak kami kalah dalam jumlah total,
sehingga keterlambatan satu langkah saja bisa berakibat fatal.
"Tembak! Berondongan dua kali!"
Begitu aku mengayunkan tangan ke bawah, para prajurit
yang telah selesai mundur langsung menembakkan Thunder Stave mereka
secara serentak. Formasi inilah yang sejak awal ingin kuwujudkan di
medan pertempuran ini.
Menjadikan aberrant fairy sebagai tameng
barisan depan untuk menahan musuh, sementara manusia melakukan serangan jarak
jauh dari belakang. Ini bukan taktik yang aneh, melainkan strategi yang sangat
standar dalam militer.
Namun, jika kami menunjukkan formasi ini sejak awal,
para aberrant fairy musuh pasti akan mengambil langkah antisipasi yang
berbeda. Hal seperti ini hanyalah dasar dari dasar dalam taktik pertempuran
melawan aberrant fairy.
"Sekali lagi! Tembak! Berondongan!"
Sekali lagi, kilatan petir menyembur dari senjata mereka.
Para aberrant fairy musuh langsung tertembus
oleh sambaran petir dan meledak hancur seketika.
Tembakan ini adalah batas maksimal yang bisa kami lakukan
saat ini. Jika diteruskan, kami berisiko menembak aberrant fairy sekutu
kami sendiri dari arah belakang.
Namun, tindakan tadi sudah lebih dari cukup untuk
menghentikan pergerakan musuh. Sekarang, kami memiliki ruang untuk mundur lebih
jauh lagi.
"Bagus, mundur. Kembali ke posisi yang telah
ditentukan."
Kami mundur hingga mencapai jarak di mana gerbang kota
berada tepat di belakang punggung kami. Posisi ini sudah sangat ideal.
"Oh," Empusa bertepuk tangan melihat hal itu.
"Musuh benar-benar berhenti total dan tidak mengejar
kita lagi."
Pasukan Chernobog memiliki jumlah yang jauh lebih unggul
daripada pihak kami. Bahkan jika barisan depan mereka kacau, mereka masih
memiliki cadangan kekuatan yang cukup untuk memutari formasi kami dari sisi
samping.
Namun, mereka tetap tidak bisa menembus posisi kami saat
ini. Ada alasan mengapa mereka tidak bisa memutari posisi kami dengan mudah.
"Tentu saja tidak bisa, karena aku menyuruh
pasukan infanteri berbaris di atas dinding benteng."
Ini adalah persiapan yang kusuruh lakukan lewat
bantuan Twitz sebelumnya.
Menempatkan prajurit di atas dinding benteng dan
membuat mereka mengambil posisi siap siaga untuk bertahan.
Meskipun mereka tidak melakukan apa-apa, musuh tahu
mereka akan langsung diserang begitu masuk ke dalam jarak tembak. Kemungkinan
itulah yang berhasil menahan langkah kaki para aberrant fairy musuh.
Aku memperkirakan bahwa saat kami mundur, musuh akan
mulai melihat situasi ini seolah-olah kami sedang memancing mereka masuk ke
dalam jebakan.
Pada akhirnya, pertempuran ini memang dikendalikan oleh
persepsi psikologis semata.
Bagi pihak kami, ini adalah pertempuran melawan musuh
dengan jumlah dua kali lipat, tetapi bagi musuh tidak demikian.
Bagi para aberrant fairy, tidak akan ada gunanya
mengalahkan kami jika pada akhirnya mereka tidak bisa merebut kota ini.
Ujung-ujungnya mereka tidak akan mendapatkan daging
manusia yang menjadi hadiah utama mereka.
(Karena itulah mereka tidak bisa menyerang dengan
maksimal dan ragu-ragu.)
Jika Chernobog sendiri ada di sini, dia pasti akan
mengambil cara bertarung yang berbeda. Inilah akibatnya jika sebuah pasukan
tidak memiliki komandan yang mampu memahami strategi secara keseluruhan.
"……Ini cuma trik murahan, Xylo Volbarts. Kamu
mungkin berpikir sudah berhasil menahan langkah kaki mereka, tetapi situasi ini
tidak akan bertahan selamanya."
Soula Od bergumam dengan wajah yang tampak suram.
"Mereka itu sama saja dengan binatang liar. Memang benar mereka tidak punya otak untuk berpikir…… tapi
karena itulah, mereka tidak akan bisa melawan insting mereka untuk membunuh
kita.
Pada akhirnya, mereka pasti akan tetap menerjang maju ke
sini."
"Memang benar. Tapi menahan mereka selama ini saja
sudah lebih dari cukup."
Waktunya sudah sangat tepat sekarang. Terdengar suara
lonceng bertalu dengan cepat dari arah sayap kanan pasukan kami.
Diiringi oleh gemuruh suara langkah kaki, teriakan
perang, serta suara ledakan dari Thunder Stave. Semua getaran itu
menandakan bahwa pasukan kavaleri kami telah menghantam sisi samping musuh.
Wajah Soula Od langsung berubah menjadi tidak senang saat
menyadari hal itu. Dia pasti berharap rencana yang kubuat berakhir dengan
kegagalan total.
"Kamu paham sekarang? Perhatian mereka sudah sepenuhnya teralih ke bagian depan.
Selain itu, kita juga tahu kalau bagian samping mereka jauh lebih rapuh
daripada bagian tengah."
Demi
membuat Soula Od semakin kesal, aku sengaja menjelaskan situasi tersebut dengan
ekspresi wajah seperti seorang instruktur.
"Kamu
juga melihat pergerakan unit ukuran menengah tadi, kan? Mereka mulai memutar
untuk menghindari barisan depan yang terhenti, membuat formasi gerombolan
mereka menjadi kacau balau.
Ketika
pasukan sebesar itu sudah mengalami kekacauan formasi, mereka tidak akan bisa
merespons serangan dari kavaleri."
Pasukan kavaleri kami tidak akan melakukan tusukan yang
terlalu dalam ke posisi musuh. Mereka hanya akan bergerak menyisir atau
mengoyak bagian tepi dari gerombolan musuh, lalu segera menjauh untuk
melepaskan diri.
Setelah itu mereka akan berputar membentuk busur
lingkaran, lalu mengulangi serangan yang sama. Taktik tabrak lari ini sangat
efektif untuk mengacaukan aberrant fairy yang tidak memiliki koordinasi.
Makhluk yang berada di posisi luar akan mencoba merangsek
masuk ke bagian dalam demi menghindari serangan kavaleri.
Tentu saja makhluk yang berada di bagian dalam tidak akan
tinggal diam ketika posisi mereka diserang dari rekan sendiri.
Aksi saling dorong pun akan terjadi karena tidak ada yang
mau mengalah berada di posisi luar.
Dengan mengulangi proses ini secara terus-menerus,
kekuatan musuh akan hancur dengan sendirinya dari dalam.
(Jika situasinya ideal, aku sebenarnya mengharapkan
kavaleri bisa menerobos masuk dan memecah kelompok musuh—)
Jika itu adalah kavaleri yang dipimpin oleh Patausche,
mereka pasti bisa melakukan hal selevel itu dengan sangat mudah.
Sebuah terjangan kuat yang mampu menembus langsung
gerombolan musuh untuk menghancurkan inti pertahanan mereka sekaligus
mengakhiri pertempuran.
"Ku,
ku! Dasar Chernobog sialan."
Empusa meloloskan suara tawa kecil dari tenggorokannya.
"Dia membiarkan kelompoknya bertarung dengan cara
yang sangat memalukan seperti ini. Hanya demi pertarungan menjijikkan ini, kamu
berani menentang 'Raja' kami? Rasakan itu, keparat!"
Bukan karena mereka termotivasi oleh ucapan itu, tetapi
pergerakan musuh mulai mengalami perubahan.
Dalam gerombolan aberrant fairy yang kehilangan
Fenomena Raja Iblis, terkadang ada situasi di mana mereka memiliki komandan
yang jelas, dan ada juga yang tidak.
Situasi pertama terjadi ketika ada satu individu yang
sangat kuat memegang kendali penuh atas individu lainnya.
Sementara situasi kedua adalah ketika beberapa individu
yang lumayan kuat berkumpul dan memimpin kelompok secara acak.
Aku ingin tahu jenis gerombolan mana yang sedang kami
hadapi saat ini—dan sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya.
(Jenis kedua, ya. Jumlah individu yang lumayan kuat itu
ada sekitar dua puluh ekor?)
Di tengah barisan depan musuh yang sedang mengalami
kekacauan, ada satu bagian yang tampak tidak terlalu terpengaruh. Mereka
bertarung melawan aberrant fairy milik Empusa sambil meneriakkan
perintah kepada rekan-rekan mereka.
Keberadaan merekalah yang membuat pasukan kami belum bisa
menghancurkan barisan depan musuh sepenuhnya.
Unit yang berkumpul itu terdiri dari beberapa Yulmen
berukuran besar yang sedang mengayunkan tombak panjang dan kapak perang mereka.
Merekalah yang menjadi inti dari pasukan musuh saat ini.
Demi mengantisipasi serangan kavaleri, mereka mulai
bergerak bersama menuju ke arah sisi samping pasukan.
Jika mereka berhasil menstabilkan situasi, gerombolan
musuh kemungkinan besar akan bisa menyusun kembali formasi mereka, dan serangan
kavaleri kami akan terhenti.
Jika pertempuran berlanjut secara normal setelah itu,
kami berisiko mengalami kerugian besar akibat tindakan mereka.
Bagaimanapun juga, perbedaan jumlah pasukan di antara
kami masih terlalu besar.
Strategi yang kujalankan ini hanya efektif untuk
menciptakan kekacauan di awal, dan akan menjadi sangat sulit jika kami harus
terlibat dalam benturan langsung yang berkepanjangan.
Oleh karena itu, aku harus memberikan pukulan penentu
sebelum situasi berubah menjadi buruk.
(Seandainya saja Rhyno ada di sini saat ini.)
Kami hanya perlu melepaskan tembakan meriam tepat di
tengah-tengah unit inti musuh itu untuk menyelesaikan segalanya.
Saat berada dalam pertempuran seperti ini, aku malah
sering memikirkan rekan-rekan yang tidak ada di sini.
Aku menggelengkan kepala untuk membuang pikiran itu
dari kepalaku, lalu berteriak sekuat tenaga.
"Kita maju!"
Aku mengepalkan tangan kiri dan mengacungkannya ke
atas kepala sebagai isyarat untuk merangsek maju. Saat inilah
satu-satunya kesempatan emas yang kami miliki.
Unit inti musuh sedang mengalihkan perhatian mereka ke
arah samping pasukan.
Hal itu membuat tekanan di barisan depan mereka mengalami
penurunan yang signifikan untuk sementara waktu.
Semua itu terjadi karena para pemimpin mereka sedang
lengah dan melihat ke arah lain.
Di antara musuh bahkan ada beberapa aberrant fairy
yang memanfaatkan situasi ini untuk melarikan diri ke belakang.
Tentu saja celah ini tidak akan bertahan lama karena unit
inti musuh tidak sebodoh itu.
Mereka pasti akan segera berbagi peran dan mengambil
tindakan antisipasi dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, aku harus mendaratkan serangan fatal
sebelum mereka sempat merespons.
"Terjang mereka! Ikuti aku!"
Sudah pasti akulah yang menerjang paling pertama di
barisan depan. Tindakan itu membuat Soula Od mengumpat kasar, sementara Empusa
melompat maju sambil tertawa senang.
Darah langsung muncrat di tempat di mana Empusa
mendaratkan lompatannya. Suara lonceng bertalu dan teriakan perang kini bergema
di seluruh medan pertempuran.
Para prajurit manusia tampaknya telah berhasil
mendapatkan kembali sebagian dari rasa percaya diri mereka.
Yang terpenting, melihat kekuatan tempur terkuat di pihak
mereka bertarung di barisan paling depan telah memberikan suntikan momentum
yang besar.
Sambaran petir dari Thunder Stave milik Soula
Od membuka jalan di depan kami.
Sementara amukan brutal dari Empusa semakin memperluas
kerusakan di pihak musuh.
Kedua orang ini bertindak bagai ujung tombak yang tajam,
dan para prajurit di belakang bertugas untuk memperlebar jalur tembusan yang
telah terbuka.
Dalam waktu singkat, kami akhirnya berhasil mencapai
posisi unit inti musuh yang berisi dua puluh ekor Yulmen tersebut.
"Maju! Bunuh bajingan-bajingan itu!"
Merespons teriakan lantangku, salah satu Yulmen dengan
ukuran tubuh paling besar bergerak maju untuk menghadangku.
Dia meneriakkan sesuatu yang tidak jelas sambil
mengayunkan tombak panjangnya dengan brutal.
Tentu saja serangan itu langsung digagalkan oleh
tindakan Soula Od.
Meskipun akurasi tembakannya tidak sebat hebat Tsav,
kemampuannya masih tergolong cukup akurat untuk ukuran prajurit biasa.
Tembakannya berhasil menghancurkan lengan kanan
Yulmen yang sedang bersiap mengayunkan tombak tersebut dari bagian siku ke
bawah.
Setelah itu, Empusa yang berlari cepat langsung
menghantamkan tinjunya hingga membuat wajah makhluk itu hancur berantakan.
Aku sempat mendengar suara seperti daging yang
terpanggang dari arah hantaman tersebut. Aku bisa melihat lengan Empusa tampak
memerah akibat suhu permukaannya yang meningkat drastis.
(Bagus. Ini akan menjadi akhir dari mereka.)
Yulmen dengan ukuran tubuh paling besar kini telah
berhasil kami tumbangkan.
Tindakan itu seketika memicu kepanikan di antara dua
puluh ekor anggota unit inti musuh yang tersisa.
Ada yang mulai melangkah mundur ketakutan, ada yang
berbalik untuk melarikan diri, dan ada juga yang mencoba berteriak demi
menyemangati rekan di sekitarnya.
Bahkan ada satu makhluk yang melompat sambil mengeluarkan
suara aneh demi mencoba membunuhku.
Harus kuakui dia memiliki keberanian yang lumayan besar.
"Sewil,
jangan ikut campur! Biar aku—"
Itu
adalah tindakan refleks yang keluar dari tubuhku. Pada momen tersebut, aku
telah melakukan dua kesalahan yang sangat bodoh.
Kesalahan
pertama adalah tangan kiriku secara refleks bergerak menuju ke posisi di mana
aku biasanya menyimpan pisau.
Padahal
semua senjata tajam milikku telah disita sepenuhnya demi mencegahku melakukan
tindakan bunuh diri, ditambah lagi saat ini aku tidak bisa menggunakan lambang
suci.
Kesalahan kedua adalah aku telah meneriakkan nama Sewil
secara spontan. Kesalahan yang satu ini benar-benar tidak bisa dimaafkan oleh
diriku sendiri.
Tampaknya ingatan saat bertarung bersama Pasukan Ksatria
Suci Kelima mendadak bangkit di kepalaku. Hal itu terjadi karena sudah lama
sekali aku tidak berada di medan pertempuran yang normal seperti ini.
Dalam situasi seperti ini, Sewil Dexter biasanya selalu
berdiri di belakang atau di samping posisiku. Aku menyadari selama ini aku
selalu menyuruhnya melakukan tugas perlindungan setiap kali aku menerjang maju
ke depan.
Padahal jika melihat kemampuannya, dia sebenarnya
memiliki bakat yang sangat mumpuni untuk memimpin pasukannya sendiri.
(Seharusnya aku menceritakan hal-hal seperti ini kepada
Nalk dulu.)
Penyesalan itu mendadak muncul di kepalaku sekarang.
Padahal situasi saat ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk melamunkan
masa lalu.
(Dasar bodoh.)
Sebuah hantaman keras terjadi, dan tubuhku langsung
terlempar jatuh dari atas kuda. Aku bisa melihat kuda yang kunaiki tadi berdiri
dengan kedua kaki belakangnya di depanku.
Di seberang sana, salah satu Yulmen tampak sedang
mengangkat tombak tangannya tinggi-tinggi.
Mulai dari momen itu, seluruh gerakan tubuhku
berjalan di bawah kendali alam bawah sadar.
(Ini adalah—)
Tubuhku sudah melompat di udara, merasakan sensasi
tidak terduga dari aktifnya lambang suci Sakara.
Jarak lompatannya jauh lebih pendek daripada
biasanya, dan tubuhku langsung dirundung rasa lelah yang luar biasa hebat.
Namun, lompatan tadi berhasil membuatku menyelinap
masuk ke dalam area pertahanan Yulmen tersebut, lalu aku melayangkan sebuah
tendangan.
Aktivasi dari lambang suci Sakara terasa sangat
tidak sempurna saat itu.
Sensasinya mirip seperti saat mencoba mengaktifkan
lambang suci ketika pasokan energinya tidak mencukupi.
Tendangan tadi tidak sampai membuat tubuhnya terpental,
melainkan hanya membuatnya goyah dan kehilangan keseimbangan.
Yulmen yang berlutut dengan satu kaki itu mengeluarkan
teriakan kemarahan yang keras.
Mengingat aku tidak memiliki senjata apa pun saat ini,
aku mencoba melompat mundur untuk melarikan diri, tetapi kali ini lambang suci
sama sekali tidak merespons.
Aku tidak akan bisa menghindar tepat waktu dari
serangannya.
"Oh, gawat—Xylo!"
Empusa berbalik ke arahku setelah menyadari situasi
berbahaya tersebut.
Mata kiri hitam pekat serta rambut ungu tuanya tampak
berlumuran darah, membuatnya terlihat seperti seekor binatang liar.
(Dasar bodoh.)
Aku tidak boleh mati di tempat seperti ini sekarang.
Aku belum menceritakan perihal 'Pasukan Volbarts',
Nalk, maupun Milete kepada siapa pun di dunia ini.
Aku bahkan belum sempat menuliskan atau merekam kisah
perjuangan mereka dalam bentuk apa pun.
Tangan kiriku meraba-raba permukaan tanah di
sekitarku, berharap bisa menemukan patahan pedang atau benda apa pun yang bisa
dijadikan senjata.
Jika Teoritta ada di sini, dia pasti akan langsung
memanggil sebuah pedang untukku.
Aku bahkan sempat memikirkan khayalan tidak berguna
seperti itu di tengah situasi kritis ini.
Namun pada akhirnya, tindakan bodoh yang kulakukan
tidak sampai berakibat fatal bagi keselamatan nyawaku.
"Ooooaaaaah!"
Diiringi teriakan keras, para prajurit manusia menerjang
maju ke arah posisi kami. Senjata yang mereka genggam saat ini bukanlah Thunder
Stave, melainkan bilah pedang besi.
Tiga orang prajurit melakukan hantaman badani secara
bersamaan ke arah Yulmen yang sedang mencoba menyerangku.
Bilah pedang mereka langsung menusuk ke arah tenggorokan,
dada, dan juga bagian dada samping makhluk tersebut.
Yulmen itu menggeliatkan tubuhnya dengan brutal akibat
rasa sakit yang luar biasa.
Namun, itu adalah gerakan terakhir yang bisa dilakukannya
sebelum akhirnya memuntahkan darah dan ambruk ke tanah.
"──Se, selanjutnya!"
Salah satu prajurit berbalik ke arahku dengan tatapan
mata yang dipenuhi rasa panik yang amat sangat.
"Selanjutnya, apa yang harus kami lakukan? Tolong beri tahu kami. Aku tidak mau mati di tempat ini……!"
Aku baru menyadari beberapa saat kemudian bahwa
prajurit tersebut sedang meminta instruksi selanjutnya dariku. Aku
memaksakan sebuah senyuman di wajahku, lalu melambaikan tangan kiri dengan
santai.
Seolah-olah semua situasi yang terjadi sejak awal berada
di bawah kendali rencanaku.
"Jangan khawatir. Pertempuran ini sudah
berakhir."
Kali ini, suara lonceng bertalu terdengar dari arah sayap
kiri pasukan kami. Diiringi oleh suara gemuruh yang keras yang menggetarkan
permukaan tanah di sekitar medan pertempuran.
Itu adalah suara dari Barghest, unit ukuran besar di
pihak kami yang akhirnya bergerak merangsek maju.
Musuh seharusnya menempatkan Kairak di barisan belakang
untuk mengantisipasi pergerakan ini, tetapi respons mereka sangat lambat.
Unit inti yang bertugas memberikan perintah telah habis
dibantai di depan mata mereka sendiri, dan anggota yang tersisa pun sudah mulai
melarikan diri ke belakang.
"Sampai di sini saja."
Pasukan musuh kini telah berada dalam kondisi hancur dan
mulai melarikan diri secara massal dari medan pertempuran.
Beberapa makhluk yang masih memiliki niat bertarung pun
tidak bisa bergerak dengan lelucon akibat terhambat oleh rekan mereka sendiri
yang berebut untuk kabur.
Tugas kami selanjutnya hanyalah melakukan pengejaran
untuk menghabisi sisa-sisa pasukan mereka.
"Lakukan pengejaran seadanya saja. Tugasku sudah
selesai di sini, jadi aku akan kembali sekarang. Tidak
ada masalah, kan?"
"Umu. Pertempuran yang sangat luar biasa. Sekarang
aku tahu, hal yang tidak kumiliki selama ini ternyata adalah dirimu."
Orang yang merespons ucapanku tadi adalah Empusa.
"Apa kamu tidak berpikir kalau kita berdua adalah
kombinasi yang sangat serasi? Selama ini aku selalu merasa iri melihat hubungan
antara Kak Anis dan Twitz.
Aku ingin kamu menjadi ahli strategist untuk pasukanku
juga."
"Apa maksudmu dengan kata Kakak itu? Kamu juga
mengatakannya tadi. Apa kamu ini adik dari Fenomena Raja Iblis itu?"
Pertanyaan itu sudah lama membuatku penasaran sejak awal
perjumpaan kami.
Apakah Fenomena Raja Iblis memiliki hubungan persaudaraan
seperti manusia?
Rasanya seperti sedang mendengarkan sebuah cerita
dongeng yang tidak masuk akal. Empusa menatap wajahku sambil mengeluarkan suara
tawa kecil dari dalam tenggorokannya.
"Maknanya mungkin berbeda dengan hubungan
persaudaraan yang dimiliki oleh umat manusia. Namun, aku
memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi seperti Kak Anis suatu hari nanti.
Dialah sosok ideal yang menjadi kebanggaan dari seluruh
Raja Iblis.
Dan demi mewujudkan hal itu, aku tetap membutuhkan
bantuan dari dirimu."
"Aku sama sekali tidak paham maksud ucapanmu."
"Aku tidak akan terburu-buru. Aku akan
menjelaskan maknanya kepadamu secara perlahan seiring berjalannya waktu. Nah,
mari kita kembali sekarang."
Empusa menghentakkan kaki kukunya untuk menginjak aberrant
fairy yang masih hidup di dekat posisinya.
Hantaman itu langsung menghancurkan daging dan tulang
makhluk tersebut dalam sekejap.
"Hari ini aku juga merasa sedikit lelah."
Meskipun pemandangan di depanku terasa sangat tidak
menyenangkan, aku sendiri harus mengakui kalau tubuhku sudah sangat lelah saat
ini.
Rasa lelah yang memiliki sensasi berbeda dari yang
biasanya kurasakan.
(Keberuntungan sedang berpihak kepadaku kali ini.)
Saat menghadapi pasukan Fenomena Raja Iblis, hal
terpenting adalah membaca sampai sejauh mana musuh bisa memprediksi pergerakan
kita.
Kita tidak punya pilihan selain mencari tahu hal itu
langsung di tengah pertempuran, dan kali ini prediksiku terbukti sangat akurat.
Demi mengantisipasi jika musuh bisa membaca rencana
awal, aku sebenarnya sudah menyiapkan rencana cadangan untuk membagi pasukan
atau mengirim kavaleri ke barisan belakang mereka.
Namun pada akhirnya, keputusan untuk tidak
menggunakan rencana cadangan tersebut adalah langkah yang paling tepat.
Di luar semua urusan taktik tadi, ada satu hal lain yang
jauh lebih penting untuk kupikirkan saat ini.
Yaitu perihal otoritas Goddess Bulan yang
berada di tangan Empusa.
Aku membuka dan mengepalkan tangan kiriku berulang
kali. Lambang suci Zatte Finde maupun Load sama sekali tidak
berfungsi saat ini.
(Namun pada momen kritis tadi, lambang suci Sakara
sempat aktif untuk sesaat.)
Selain itu, Thunder Stave milik Soula Od dan para
prajurit manusia terbukti bisa berfungsi dengan normal selama pertempuran.
Hal itu menandakan bahwa kekuatan Goddess Bulan
yang dimiliki Empusa memiliki arah orientasi target yang sangat spesifik,
persis seperti ucapannya sendiri.
Namun, bagaimana caranya dia bisa membedakan antara
lambang suci milikku dengan milik orang lain?
Benda apa yang sebenarnya dia panggil untuk mengendalikan
kekuatan tersebut?
Aku harus bisa menemukan jawaban dari pertanyaan itu jika
ingin melarikan diri dari tempat ini suatu hari nanti.
(Aku sudah mendapatkan satu petunjuk.)
Sebuah perkiraan kasar sudah mulai terbentuk di kepalaku.
Langkah selanjutnya hanyalah mencari tahu bagaimana cara membuktikan dan
memanfaatkan petunjuk tersebut demi kepentinganku.
Hukuman
Khusus
Penghalangan
dan Penyerangan Monster Govilcoark 3
Baru setelah kami kembali ke dalam kota, pertempuran
benar-benar berakhir dan aku akhirnya bisa sedikit tenang.
Api unggun dinyalakan di alun-alun pusat Kota
Kovilkork, menjadi tempat berkumpulnya para prajurit dari "Faksi
Simbiosis" yang berhasil bertahan hidup.
Tentu saja ada juga yang gugur, dengan jumlah
perkiraan mencapai sekitar seratus orang. Artinya satu dari dua puluh orang
telah tewas, sebuah angka kerugian yang jelas tidak bisa diabaikan begitu saja.
Meskipun demikian, wajah-wajah mereka yang selamat
dari maut tampak sangat cerah. Kesannya mungkin terasa agak menipiskan
rasa kemanusiaan, tetapi aku sangat memahami perasaan mereka.
Bisa menikmati jatah makanan di sekitar api unggun
seperti ini adalah hak istimewa yang hanya dimiliki oleh mereka yang selamat.
Menunya adalah bubur campuran gandum dan kacang, ditemani
dengan toi-zuke ikan mas Akabiki.
Toi-zuke sendiri adalah metode pengawetan ikan
menggunakan cuka yang dicampur daun bawang serta rempah suriwaku. Hidangan tradisional ini sangat disukai dan populer di kalangan
orang-orang utara.
Jatah makananku dibawa oleh Empusa yang datang
menghampiri dengan wajah tampak sangat kegirangan.
"Nah, makanlah sekarang juga. Manusia itu
makhluk lemah yang cepat mati jika tidak makan, bukan?"
"Kami tidak akan mati secepat itu hanya karena
melewatkan makan."
"Aku tidak akan tertipu, karena menjaga kesehatan
fisik itu adalah hal yang sangat penting. Ayo cepat makan, aku akan terus
berdiri di sini untuk mengawasimu."
"Hentikan. Kamu tidak perlu melihatiku seperti
itu."
Sikap Empusa benar-benar membuatku mati kutu, tetapi aku
tetap tidak boleh melewatkan jatah makanan ini.
Terpaksa aku mengambil tempat duduk di sudut alun-alun
kota yang remang-remang diterangi oleh kobaran api unggun. Aku menyandarkan
punggungku pada dinding sebuah bangunan toko tua yang sudah tampak sangat usang
dan reyot.
Meskipun saat ini kondisinya sudah rusak dan tidak
berbentuk lagi, alun-alun ini pasti pernah dipenuhi deretan toko yang ramai di
masa lalu. Saat aku sedang menikmati makanan dengan perasaan kurang nyaman
sambil memikirkan hal itu, faktor pengganggu lain yang membuat suasana semakin
canggung mulai mendekat.
"Hei……
Bung."
Suara
itu terdengar ragu-ragu dari salah seorang prajurit yang berhasil selamat. Aku
sudah menyadari sejak awal bahwa ada tiga orang yang melangkah mendekat hingga
membentuk posisi mengepung tempatku duduk.
Wajah-wajah
mereka semua terasa tidak asing lagi di dalam ingatanku. Mereka adalah
gerombolan yang siang tadi bergerak maju menyokongku saat aku hampir terbunuh
secara tragis oleh Yulmen.
Awalnya
aku berniat pura-pura tidak mendengar panggilan tersebut demi menghindari
percakapan. Namun, mereka ternyata memiliki tingkat kesabaran yang lumayan
tinggi untuk terus berdiri menungguku.
"Hei.
Kamu itu Xylo…… kan? Xylo Volbarts…… sang Goddess Slayer. Atau mungkin
lebih tepat jika dipanggil dengan nama yang satunya lagi? Falcon of Thunder
dari Pasukan Pahlawan Hukuman."
"Kalau
memang iya, lalu mau apa?"
Jika
kubiarkan begitu saja, bajingan ini pasti akan terus mengoceh tanpa henti,
sehingga aku terpaksa merespons ucapannya.
"Apa kamu punya keluhan karena dipimpin olehku?
Memang ada banyak orang yang mati, dan ucapanmu benar kalau situasinya akan
lebih baik jika dipimpin oleh orang yang kompeten."
"Bukan, bukan itu maksud kami."
Prajurit yang mengajakku bicara tadi menggelengkan
kepalanya demi menyangkal dugaanku.
"Kami hanya merasa sangat terkejut saja melihat
orang sepertimu bisa berakhir menjadi rekan kami sekarang."
Setelah berkata begitu, dia melempar sebuah senyuman
ironis yang tampak dipenuhi oleh niat buruk.
"Bagaimana perasaanmu? Seseorang yang dulunya dipuja
sebagai pahlawan umat manusia, berakhir menjadi anggota Pasukan Pahlawan
Hukuman, dan sekarang malah berdiri sejajar dengan manis di samping Fenomena
Raja Iblis. Hei, apa kamu menikmati semua ini?"
Aku curiga bajingan ini sedang berada dalam kondisi mabuk
akibat pengaruh efek samping alkohol. Jatah makanan tadi memang dilengkapi
dengan segelas atau dua gelas minuman keras lokal yang memiliki kadar alkohol
cukup tinggi.
"Aku sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk
menjadi rekan kalian."
Mereka telah salah paham, atau mungkin rumor murahan ini
memang sengaja disebarkan oleh seseorang secara sengaja. Twitz adalah tipe
bajingan licik yang sangat suka menyebarkan isu miring semacam itu demi
kepentingannya sendiri.
"Aku tidak sudi bertahan hidup dengan cara menjadi
hewan peliharaan para Fenomena Raja Iblis."
Aku melemparkan tatapan mata yang sangat tajam ke arah
Empusa. Namun, makhluk itu hanya tertawa geli dari dalam tenggorokannya seolah
sengaja menertawakan situasi sulitku.
"Kalian bisa melihat sendiri kalau situasi saat ini
sebenarnya sangat tidak menyenangkan bagi diriku. Atau apakah kalian sendiri
memiliki pandangan serta pemikiran yang berbeda mengenai hal tersebut?"
"Tentu saja berbeda. Kamu bisa mengatakannya dengan
mudah hanya karena kamu adalah orang yang kuat."
Sahut seorang prajurit dengan nada bicara yang
terdengar sangat tajam dan menusuk indra pendengaran. Tatapan matanya tampak
lebih menunjukkan rasa benci dan dendam yang mendalam daripada sekadar
kemarahan emosi semata.
"Kamu memiliki Goddess di sisimu dan juga
diberkahi kekuatan bertarung yang sangat besar. Kamu hanya sedang sangat
beruntung, sementara nasib kami berbeda jauh dengan dirimu."
Every
time he spoke, his voice grew increasingly barbed and hostile. Pada akhirnya,
nada bicaranya berubah menjadi seolah-olah dia sedang menantangku untuk
berduel.
"Kota
tempat tinggal masa kecilku dulu hancur berantakan akibat serangan brutal dari
Fenomena Raja Iblis. Dalam situasi mengerikan seperti itu, apa yang bisa
dilakukan oleh manusia biasa seperti kami, hei Xylo Volbarts?!"
"Tidak ada hal yang bisa dilakukan."
Tanpa adanya persiapan yang matang, manusia memang
tidak akan pernah bisa melakukan apa-apa saat menghadapi bencana sebesar itu.
Hal semacam itu adalah sebuah kenyataan kelam yang sudah sangat kupahami dengan
baik sepanjang perjalanan hidupku.
"Nasib kita sebenarnya mirip. Masa kecilku juga
diwarnai oleh kehancuran kota tempat tinggal akibat serangan Fenomena Raja
Iblis yang bernama Tao Wu."
"Jadi jika bicara soal keberuntungan, kita
berdua sama-sama beruntung karena masih bisa bertahan hidup sampai detik
ini."
"Cih……
lalu, apa sebenarnya maksud dari ucapanmu itu?!"
Dia
akhirnya berteriak keras tepat di depan wajahku, membuktikan kalau staminanya
masih tersisa banyak.
"Apa
kamu mencoba mengatakan kalau kamu juga pernah mengalami penderitaan yang sama
beratnya dengan kami? Lalu apa hubungannya? Apa kamu mau bilang kalau kami
sebenarnya bisa memilih cara bertarung seperti dirimu jika kami mau?!"
Dia
sempat menggerakkan tangannya ke depan, tetapi tidak sampai melakukan tindakan
nekat seperti mencengkeram kuat-kuat kerah bajuku. Keberadaan Empusa yang
berdiri tepat di sampingku tampaknya menjadi alasan utama yang menahan langkah
beraninya.
"Aku
memiliki seorang nenek yang saat ini hanya bisa terbaring sakit di atas
ranjang! Temanku yang ini memiliki anak kecil, dan yang satunya lagi memiliki
adik perempuan dengan kondisi fisik yang sangat lemah!"
"Jika
kami membuang semuanya dan melarikan diri sendirian ke arah selatan seperti
dirimu, kami pasti juga bisa bertarung melawan Fenomena Raja Iblis! Kami tidak
harus berakhir menjadi bagian tragis dari 'Faksi Simbiosis' yang memuakkan
seperti ini jika memiliki kekuatan……!"
Setelah
itu, dia meloloskan kalimat terakhirnya dengan nada bicara yang terdengar
sangat getir dan dipenuhi keputusasaan.
"Orang-orang dengan jalan pikiran seperti dirimu
itulah yang sebenarnya aneh. Kamu tidak rasional."
"Mungkin saja. Aku tidak punya niat untuk
mengklaim diriku sebagai pihak yang benar."
Di mata kalian aku mungkin terlihat abnormal, dan aku
sadar telah mengambil langkah yang salah hingga akhirnya terdampar dalam
kondisi mengenaskan ini.
Aku terpaksa membunuh Senerva dengan tanganku
sendiri, serta melupakan semua janji kepada para bawahanku terdahulu. Aku juga
menyeret orang-orang dari Pasukan Volbarts ke dalam bahaya, dan jumlah korban
jiwa dipastikan masih akan terus bertambah.
Namun, aku tetap memilih untuk terus maju dan
bertarung di medan perang yang penuh dengan darah ini. Jalan hidup tragis
seperti ini jelas bukan sebuah pilihan hidup yang bisa dikategorikan sebagai
tindakan yang benar.
"Namun, aku sudah tidak memiliki hak untuk
memilih jalan hidup lain lagi sekarang. Karena aku adalah seorang Pasukan
Pahlawan Hukuman."
Kini giliran diriku yang menyampaikan apa yang ingin
kukatakan secara jujur kepada mereka semua.
"Sejujurnya, aku merasa sangat iri melihat kondisi
kalian, sungguh."
Kalimat itu langsung membuat suasana di antara kami
menjadi hening seketika untuk beberapa saat.
"Apa kamu sedang mencoba pamer kalau tingkat
penderitaanmu jauh lebih hebat daripada kami?! Persetan dengan semua
penderitaanmu itu!"
"Aku tidak peduli seberapa menderitanya dirimu,
karena hal itu tidak akan bisa menyelamatkan nasibku saat ini! Memangnya apa
lagi yang bisa kami lakukan dalam situasi pelik sekarang ini?!"
"Memangnya ada hal lain yang ingin kamu lakukan?
Sebaiknya urungkan saja niatmu itu."
"Tindakan yang kamu ambil saat ini tidak salah.
Aku menilai pilihanmu untuk bertahan hidup demi keluarga adalah hal yang
benar."
Kalimat itu kuucapkan dengan sangat tulus dari lubuk
hatiku yang paling dalam kepada prajurit tersebut. Mereka memiliki keluarga
atau sosok berharga yang harus dilindungi, dan hal-hal seperti itu adalah
sesuatu yang tidak boleh dibuang begitu saja.
Jalan hidup yang kupilih sendiri jelas merupakan
sebuah kesalahan besar, dan aku sedang menerima hukuman atas pilihan egois
tersebut saat ini.
"Namun, meskipun kondisi kita seperti ini──"
Ya, setidaknya aku harus menegaskan satu hal penting ini
kepada mereka sebelum mereka memutuskan untuk pergi. Aku bukan tipe orang yang
suka diam saja saat dipojokkan dan diintimidasi oleh orang lain tanpa melakukan
perlawanan balik.
"Fakta kalau kamu sengaja datang ke sini untuk
memancing keributan denganku membuktikan ada sesuatu yang mengganjal di dalam
hatimu. Jika kamu ingin mendapatkan kepuasan batin, maka carilah jalan
keluarnya sendiri dengan kekuatanmu."
Sembari mengucapkan kalimat tersebut kepada mereka, aku
menyadari bahwa kata-kata itu sebenarnya juga ditujukan untuk memperingatkan
diriku sendiri.
Jika seandainya aku diberi kesempatan untuk memilih
kembali di masa lalu, jalanku mungkin tidak akan berubah menjadi seperti ini.
Apakah aku akan membunuh Senerva atau tidak, atau apakah
aku akan menjalin kontrak dengan Teoritta atau tidak pada waktu itu, aku pasti
akan mengulangi kesalahan yang sama.
Aku bukanlah sosok pahlawan yang benar, sehingga petuah
yang kuucapkan tadi sama sekali tidak memiliki dasar validitas yang kuat.
(Namun jika memang kenyataannya seperti itu, lalu
memangnya kenapa?)
Aku menolak untuk meratapi nasib sial diriku sendiri lagi
mulai saat ini dan seterusnya. Aku merasa sudah saatnya untuk lepas sepenuhnya
dari kondisi mental yang lemah dan penuh penyesalan tidak berguna seperti itu.
Mungkin keputusan besar ini juga dipengaruhi oleh mimpi
buruk kekanak-kanakan yang sempat kualami tadi pagi saat tertidur.
"Jadi? Apa masih ada hal lain yang ingin kamu
sampaikan kepadaku?"
"……Berisik sekali kamu. Sejak awal aku memang tidak
punya hal yang ingin kubicarakan dengan orang sepertimu!"
Kalimat kasar itu menjadi kata perpisahan terakhir
darinya sebelum dia dan teman-temannya memutuskan melangkah pergi.
Setelah menendang dinding toko usang yang berada di
belakang punggungku, ketiga prajurit itu akhirnya berlalu meninggalkan sudut
alun-alun.
Pertemuan singkat yang melelahkan itu menyisakan rasa
tidak nyaman di hatiku, namun aku memilih mengabaikannya dan kembali menyantap
bubur gandum milikku.
"Umu. Melihat perkembangan dirimu akhir-akhir ini
terkadang membuatku merasa sedikit khawatir."
Empusa tampak menyandarkan tubuhnya pada dinding toko
usang tersebut sambil terus menatap ke arah posisi tempatku duduk.
Rambut ungu tua serta siluet wajah sampingnya yang
diterangi oleh kobaran api unggun membuat penampilannya terlihat sangat eksotis
namun asing.
"Aku tidak mau kehilangan sosok berharga yang akan
menjadi penasihat militerku. Tadi aku sempat bersiap siaga
karena mengira kalian akan terlibat dalam aksi saling bunuh."
"Mana mungkin kami akan melakukan aksi saling bunuh
hanya untuk urusan sepele seperti itu."
"Manusia sangat sering melakukan aksi pembantaian
sesama hanya karena masalah ego, bukan? Kudengar ada banyak kejadian serupa
yang tercatat dalam sejarah peradaban panjang kalian."
"Pada periode di mana kami para Fenomena Raja Iblis
belum turun melakukan intervensi, kalian pasti sangat sering
melakukannya."
Urusan sejarah dunia masa lalu rupanya menjadi hal yang
cukup menarik bagi makhluk dari Fenomena Raja Iblis seperti dirinya.
Mereka mungkin memiliki pemahaman yang jauh lebih
mendalam mengenai hal itu jika dibandingkan dengan pengetahuan manusia biasa.
Orang seperti Sigria pasti akan merasa sangat senang jika
bisa duduk di sini dan mendengarkan topik pembicaraan ini.
"Jangan-jangan…… alasan kalian para Fenomena Raja
Iblis menyerang manusia adalah demi mencegah kami untuk saling membantai satu
sama lain?"
"Mh?
Ah…… Fuhahaha! Sebuah skenario pemikiran yang sangat menarik jika memang begitu
kenyataannya."
"Tapi,
apakah hal semacam itu benar-benar hal yang menarik? Aku tidak memiliki
kapasitas untuk menilai hal tersebut, sehingga mustahil bagiku memberikan
jawaban pasti kepadamu."
Apakah
dia sedang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan sengaja, atau dia memang
mengatakannya secara tulus dari lubuk hatinya?
Meskipun
aku sendiri yang melemparkan pertanyaan spekulatif tersebut, aku merasa topik
ini masih agak melenceng jauh dari hakikat asli mereka.
Mengajukan
pertanyaan secara frontal dan langsung ke inti masalah tampaknya adalah langkah
terbaik yang bisa kuambil.
"Hei."
Ini
adalah salah satu teka-teki besar yang sangat ingin kutanyakan secara langsung
kepada Rhyno jika ada kesempatan berharga nanti.
"Apa sebenarnya tujuan akhir yang ingin dicapai oleh
kalian para Fenomena Raja Iblis di dunia ini? Kenapa kalian terus-menerus
melancarkan serangan brutal tanpa henti kepada umat manusia?"
"Menurut pendapatmu sendiri, kenapa kami melakukan
semua itu?"
"Apa kamu sama sekali tidak punya niat untuk
menjawab pertanyaanku? Jika aku sudah tahu jawaban pastinya, aku tidak akan
repot-repot bertanya kepadamu."
"Setidaknya kamu pasti bisa membuat sebuah perkiraan
di dalam kepalamu mengenai hal itu. Coba pikirkan baik-baik sekarang, imajinasi
seperti apa yang terlintas di dalam kepala seorang pahlawan sepertimu?"
"……Misalnya, apakah tindakan kalian itu didasari
oleh sebuah aksi balas dendam?"
Jika motif di balik semua kehancuran ini adalah hal
tersebut, maka aku masih bisa memahami alasan logis di balik tindakan kejam
mereka.
"Di masa lampau yang jauh, kelompok kalian mungkin
telah diusir secara paksa dari habitat asli oleh nenek moyang umat manusia.
Mengingat kalian adalah ras pribumi asli yang mendiami dunia ini sebelum
kedatangan kami, motif balas dendam itu terasa cukup masuk akal."
"Fufu. Sebuah jawaban yang sangat mencerminkan sudut
pandang naif dari seorang pahlawan manusia. Jawabanmu itu persis seperti
kisah-kisah perjuangan heroik yang sering kubaca dalam buku dongeng."
Kata-katanya yang bernada sarkasme itu sukses membuatku
merasa seolah-olah sedang diremehkan secara terang-terangan.
Namun seiring berjalannya waktu percakapan kami, aku
mulai menyadari satu hal krusial mengenai sifat asli dari Fenomena Raja Iblis
ini.
Empusa sama sekali tidak memiliki niat buruk untuk
menghina atau merendahkan diriku dengan ucapan bernada sindiran yang
dilontarkannya tadi.
Dia hanya mengekspresikan pemikirannya dengan cara yang
tidak biasa dipahami oleh standar norma kebiasaan manusia pada umumnya.
"Fakta bahwa kedua belah pihak memiliki pembenaran
atas tindakan masing-masing pasti memberikan sedikit rasa lega bagi dirimu.
Melalui proses saling memahami, sebuah solusi damai untuk menyelesaikan konflik
pada akhirnya akan bisa ditemukan."
"Pahlawan manusia benar-benar sosok makhluk hidup
yang sangat lembut dan penuh kasih sayang ya!"
"Berisik sekali kamu. Jadi apakah perkiraan kasarku
tadi itu sepenuhnya salah?"
"Aku tidak bisa memberikan jawaban pasti untuk
pertanyaan itu, karena 'Raja' tidak menginginkan rahasia ini terbongkar."
Kata 'Raja' kembali muncul dalam percakapan kami, memicu
rasa penasaran yang mendalam mengenai struktur kepemimpinan organisasi mereka.
Sosok misterius tersebut memang sesekali sering
disebut oleh mereka dalam beberapa kesempatan pertempuran penting.
"Sebenarnya apa wujud asli dari 'Raja' yang
kalian agungkan itu? Kenapa kalian begitu patuh tanpa syarat kepadanya, dan
apakah dia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa?"
"Entahlah. Kami sendiri tidak terlalu memahaminya
secara mendalam. Bukankah seharusnya pihak manusia seperti kalian yang memiliki
informasi jauh lebih detail mengenai sosok 'Raja' kami?"
"Apa sebenarnya maksud dari ucapanmu itu? Sejak tadi
aku merasa kamu selalu mencoba menghindari inti dari setiap pertanyaan penting
yang kuajukan."
"Hahaha! Kamu akhirnya menyadari taktikku ya? Mohon
maaf yang sebesar-besarnya, tetapi aku memang tidak bisa menceritakan hal itu
kepadamu karena itu juga keinginan diriku sendiri."
Situasi pelik ini terasa semakin membingungkan dan
misterius bagi akal sehatku sebagai seorang manusia biasa yang berpikir logis.
Aku mendadak memikirkan perihal Rhyno yang berada di
tempat lain saat ini. Apakah bajingan bermata satu itu mengetahui fakta yang
sebenarnya mengenai identitas asli 'Raja' mereka, dan apakah dia bersedia
menceritakannya kepadaku jika kami bertemu lagi nanti?
Jika aku berhasil melarikan diri dari tempat terkutuk ini
dengan selamat, aku bersumpah harus menanyakan perihal identitas 'Raja' ini
langsung kepada Rhyno.
Mengapa Fenomena Raja Iblis terus-menerus menyerang
manusia tanpa ada niat untuk berdamai atau melakukan gencatan senjata?
Meskipun aku tidak tahu apakah bisa mengharapkan jawaban
yang waras dari mulut kasarnya, aku merasa topik ini adalah sebuah petunjuk
krusial. Rahasia besar ini tampaknya memegang kunci utama untuk mengakhiri
segala penderitaan yang terjadi di dunia yang sudah hancur ini.
"Baiklah kalau begitu, lupakan saja."
Sebagai penutup hidangan makan malam, aku langsung
menandaskan sisa makanan toi-zuke ikan mas Akabiki milikku dalam satu
suapan besar.
Rasanya benar-benar sangat hambar di lidahku saat
mengunyahnya secara perlahan sebelum akhirnya kutelan masuk ke dalam perut.
Jika aku yang memasaknya sendiri di dapur, aku sangat
yakin bisa menghasilkan hidangan dengan cita rasa yang jauh lebih lezat.
Bahkan masakan buatan Patausche pun belakangan ini sudah
menunjukkan beberapa tanda peningkatan kualitas rasa yang cukup signifikan.
"Urusan makanan malam ini sudah selesai sepenuhnya,
jadi aku akan segera kembali ke tempat tidurku sekarang. Hari ini aku sudah
bekerja dengan sangat keras."
"Umu, ucapanmu itu ada benarnya juga. Xylo, kamu
telah menjalankan tugasmu sebagai komandan pasukan dan bertarung dengan sangat
luar biasa hari ini."
"Jadi istirahatlah yang cukup malam ini agar
kondisimu segera pulih kembali sebelum pertempuran berikutnya dimulai. Twitz
pasti tidak akan bisa mengeluhkan hasil kerja kerasmu hari ini, bahkan Deirdre
pun sampai merasa sangat kagum melihatnya!"
"──Tindakan semacam itu, aku sama sekali tidak
pernah mengucapkannya walau hanya satu kata pun."
Ibarat petir di siang bolong, sebuah suara bernada sangat
ketus mendadak terdengar dari arah belakang posisi tempat kami berdua sedang
asyik mengobrol.
Sesosok bayangan putih yang tampak anggun terlihat
melangkah maju memotong jalur cahaya dari kobaran api unggun yang berada di
belakangku.
Makhluk yang baru datang itu adalah seorang Fenomena Raja
Iblis dengan wujud fisik menyerupai seorang gadis muda bertubuh mungil.
Ciri khas paling mencolok dari dirinya adalah keberadaan
sepasang tanduk kambing berukuran sangat besar yang tumbuh di atas bagian
kepalanya. Dialah Deirdre, sosok yang baru saja namanya disebut dalam obrolan
kami.
Mengingat dia langsung memotong pembicaraan tepat saat
namanya disebut, ada kemungkinan besar dia sudah sejak tadi berdiri di sana
menguping pembicaraan kami.
Dia tampaknya sengaja menanti momen yang paling pas untuk
memunculkan diri dan bergabung secara langsung ke dalam percakapan kami.
"Mohon maaf karena telah membuatmu menunggu
kedatangan diriku terlalu lama di tempat ini."
Aku memutuskan untuk sedikit memprovokasi dirinya demi
bisa melihat bagaimana jenis reaksi emosi yang akan ditunjukkannya secara
spontan kepadaku.
Sebuah gurauan sederhana yang sengaja kugunakan sebagai
alat ukur untuk mengetahui seberapa dekat struktur mental Fenomena Raja Iblis
ini dengan emosi manusia.
Trik psikologis sederhana ini berhasil kupelajari setelah
melalui berbagai pengalaman interaksi intens dengan makhluk sejenis seperti Boojam
dan juga Abaddon sebelumnya.
"Kamu sengaja datang jauh-jauh ke sini karena
sebenarnya ingin mengobrol berdua denganku, kan? Makanya kamu rela berdiri
mengantre di kegelapan sampai giliranku senggang dari gangguan prajurit
lain."
"Ha? Siapa juga yang sudi meluangkan waktu
berharganya hanya untuk menunggu orang sepertimu? Apa-apaan jalan pikiranmu
itu, memikirkan alasanku sampai harus repot-repot menanti makhluk
sepertimu."
"Begitukah kenyataannya? Kupikir karena aku adalah
sosok pahlawan yang sangat populer di tempat ini, kamu jadi merasa ragu untuk
mengajakku mengobrol karena takut mengganggu."
"Mana mungkin hal konyol seperti itu bisa terjadi di
dalam dunia nyata ini, jangan bermimpi terlalu tinggi……!"
Deirdre tampak mengatupkan rahangnya dengan sangat rapat
sambil mengepalkan tangan kirinya dengan kuat demi menahan rasa malu yang
menderanya.
Saking kuatnya kepalan tangan gadis itu, aku bahkan
sampai bisa mendengar suara berderit yang cukup keras dari sela-sela jarinya.
Melihat respons emosional yang ditunjukkannya secara
spontan tersebut, Deirdre tampaknya adalah jenis Fenomena Raja Iblis yang
memiliki tingkat emosi mirip manusia.
Struktur mentalnya jauh lebih dinamis dan ekspresif jika
dibandingkan dengan sebagian besar rekan sesama makhluk Fenomena Raja Iblis
lainnya.
"Aku berdiri di sini hanya karena merasa penasaran
melihat keberadaan dari sesosok manusia yang langka sepertimu."
"Jika motif kedatanganmu ke sini hanya sebatas itu,
bukankah ada banyak manusia lain yang bisa kamu lihat di perkemahan?"
Pertanyaan kritis yang kuajukan tampaknya juga berhasil
memicu rasa penasaran yang sama besar di dalam diri Empusa yang sejak tadi
menyimak.
Hal itu terlihat jelas dari perubahan nada bicaranya yang
mendadak berubah menjadi bernada seolah sedang menguji niat asli dari Deirdre.
"Hal apa yang membuat seorang Xylo Volbarts milikku
ini terlihat begitu langka dan spesial di mata sipitmu?"
"Ada banyak faktor yang membuat dirinya terlihat
sangat berbeda jika dibandingkan dengan manusia biasa pada umumnya. Pertama,
dia adalah individu unik yang saat ini berada secara legal di bawah hak
kepemilikan penuh dari dirimu."
"Dia juga merupakan seorang kontraktor resmi dari Goddess,
dan di saat yang sama juga menyandang status sebagai Pasukan Pahlawan Hukuman.
Aku secara pribadi belum pernah melihat kombinasi status seaneh dan selangka
itu sebelumnya sepanjang hidupku."
Deirdre kemudian membungkukkan badannya yang mungil demi
bisa mengamati detail wajahku yang sedang duduk dengan jarak yang jauh lebih
dekat.
Pandangan matanya yang tajam tampak menelisik setiap
sudut wajahku seolah sedang menginspeksi sebuah barang antik yang baru saja
ditemukannya.
"Hei Empusa, makhluk peliharaanmu ini biasanya
diberi makan apa olehmu setiap harinya? Apakah dia memakan hidangan yang sama
persis dengan menu makanan yang dikonsumsi oleh manusia pada umumnya?"
"Kapan biasanya dia tidur, dan bagaimana dengan
aktivitas fisik atau jadwal latihan olahraganya selama berada di dalam
perkemahan pasukan? Apakah kamu juga sering membawanya keluar dari kandang
hanya untuk sekadar berjalan-jalan santai menikmati pemandangan sekitar?"
"Kamu tampak sangat penasaran sekali dengan urusan
pribadiku ya. Jika kamu memiliki niat terselubung untuk memberinya makanan
secara sembarangan, sebaiknya urungkan saja niat tokomu itu sejak
sekarang."
"Jangan menyalahkan diriku jika nanti jemari
tanganmu yang mulus itu berakhir digigit sampai putus olehnya karena tidak
berhati-hati."
Sembari melontarkan ancaman tersebut, Empusa langsung
melangkah maju mengambil posisi berdiri tepat di depanku demi menghalangi
pandangan mata penasaran dari Deirdre.
Tindakannya yang protektif itu sukses memutus kontak
mata langsung di antara diriku dengan gadis bertanduk kambing tersebut.
"Lagipula, manusia ini adalah keberadaan yang
sangat krusial dan berharga bagiku demi bisa memenuhi peran pentingku di dunia
ini. Posisinya bagiku adalah sama pentingnya seperti posisi strategis Twitz
bagi Kak Anis."
"Aku berkomitmen penuh untuk menjinakkan makhluk
liar ini hingga tunduk sepenuhnya, sehingga aku tidak akan mengizinkan siapa
pun menyentuhnya."
"……Memangnya kenapa kalau aku menyentuhnya, aku
kan cuma mau memberinya sedikit jatah makanan camilan saja."
"Tindakan defensifmu yang berlebihan itu justru
semakin membuktikan kalau kamu memang memiliki niat tersembunyi untuk
merebutnya dariku. Biar kupertegas sekali lagi kepadamu di sini, aku tidak akan
pernah sudi menyerahkan kepemilikan manusia ini kepada siapa pun."
Kedua makhluk ini terus saja berbicara dengan sangat
asyik sesuka hati mereka tanpa memedulikan sama sekali opiniku sebagai objek
pembicaraan.
Meskipun situasi ini terasa sangat menyebalkan bagi
harga diriku, harus kuakui bahwa sebagian besar Fenomena Raja Iblis memang
memiliki perangai egois.
Mereka selalu menganggap makhluk lain di luar
kelompok mereka sebagai properti atau barang pajangan yang bisa dimiliki secara
sepihak.
"Intinya adalah, jangan pernah sekali-kali
mencoba untuk mendekati barang berharga milikku ini lagi di masa mendatang.
Jika kamu memberinya makanan aneh yang membuat perutnya sakit, aku bersumpah
akan menghancurkan tubuh mungilmu saat itu juga."
"Ah begitu ya ancamanmu, lakukan saja hal itu
jika kamu memang merasa dirimu cukup mampu untuk mengalahkanku."
Setelah melontarkan kalimat balasan yang sengit
tersebut, Deirdre akhirnya memutuskan untuk memalingkan tubuhnya membelakangi
posisi tempat kami berdiri.
"Nuckelavee! Mari kita segera kembali ke markas
sekarang juga dan meninggalkan tempat membosankan ini. Bukankah sebentar lagi
tenaga dan kekuatan tempur kita akan mulai sangat dibutuhkan di garis depan
pertempuran wilayah Nofan?"
Saat Deirdre melangkah pergi dengan langkah kaki yang
cepat, pandangan mataku secara refleks ikut bergerak mengikuti arah tujuannya
pergi.
Pandanganku menembus kegelapan malam di alun-alun kota,
mencoba mencari tahu siapakah sosok yang dipanggil dengan nama asing tersebut.
(……Bajingan misterius itu rupanya ada di sana sejak
tadi.)
Di seberang kobaran api unggun yang menerangi pusat
alun-alun kota, sesosok bayangan hitam berukuran besar tampak sedang berdiri
tegak dalam keheningan malam.
Meskipun postur tubuhnya terlampau tinggi jika
dibandingkan ukuran normal, dia terlihat berdiri dengan posisi tubuh agak
condong.
Siluet bayangan hitam legam tersebut tampak memiliki
rambut hitam bergelombang yang terurai panjang hingga menyentuh bagian bahu
tegapnya yang kokoh. Sosok misterius yang berdiri di kegelapan itu adalah
Nuckelavee, salah satu petarung kuat milik kelompok Fenomena Raja Iblis.
Sepasang mata utamanya serta sebuah mata ketiga berwarna
biru yang terletak di bagian dahinya tampak sedang menatap lurus ke arahku
tanpa emosi.
Tatapannya yang tajam dan dingin itu memancarkan aura
intimidasi yang sangat kuat, seperti seekor binatang buas yang sedang mengintai
mangsa dari balik semak.
Sebuah pandangan mata yang sepenuhnya kosong, dingin, dan
terbebas dari segala bentuk jenis perasaan yang biasa dimiliki makhluk hidup.
Aku mencoba mengangkat tangan kiriku ke udara sebagai
bentuk sapaan kasual dan ramah kepadanya demi mencairkan suasana tegang.
Namun, makhluk misterius yang berdiri di seberang api
unggun tersebut sama sekali tidak memberikan respons atau balasan apa pun atas
sapaanku.
Dia seolah menganggap keberadaan diriku di tempat ini
hanyalah sebatas angin lalu yang tidak memiliki arti penting bagi dirinya.
Tidak lama kemudian, dia mulai melangkah pergi
meninggalkan area alun-alun kota dengan langkah kaki yang tampak sedikit gontai
dan tidak stabil.
Meskipun demikian, aku bisa merasakan dengan jelas bahwa
mata ketiga berwarna biru di dahinya tetap terus mengawasi posisiku hingga dia
menghilang.
"Fun. Deirdre mungkin masih bisa kita abaikan,
tetapi posisi Nuckelavee…… benar-benar berada di tahap yang berbeda. Dia sama
sekali tidak memiliki pemahaman mengenai konsep emosi, dan tampaknya juga tidak
punya niat sedikit pun untuk mempelajarinya."
"Karena menganggap emosi sebagai sesuatu yang tidak
berguna bagi seorang petarung, dia memandang keberadaan unik dirimu sebagai
sebuah ancaman yang sangat berbahaya."
Empusa mendengus kasar setelah melontarkan kalimat
analisisnya yang terdengar sangat masuk akal mengenai sifat dasar dari rekan
satu kelompoknya tersebut.
"Xylo, pastikan kamu selalu meningkatkan
kewaspadaanmu secara maksimal saat berada di dekat makhluk bermata tiga itu
dalam setiap kesempatan."
Aku merasa firasat buruk yang sempat terlintas di dalam
benakku tadi memang sepenuhnya benar dan akurat mengenai motif tersembunyi
makhluk itu.
Nuckelavee tampaknya memang sudah sejak awal terus
mengawasi dan memata-matai setiap detail pergerakan kecil yang kulakukan dari
kegelapan malam.
Hukuman
Khusus
Akhir
dari Penghalangan dan Penyerangan Monster Govilcoark
Aku kembali dipanggil oleh Twitz dua hari kemudian.
Tampaknya bajingan itu benar-benar berniat untuk
menetap di benteng Kovilkork. Ruang kerja mantan penguasa kastil yang
digunakannya sebagai tempat tidur kini terlihat jauh lebih berantakan dari
sebelumnya.
Menurut pengakuannya sendiri:
"Saya sedang berada di tengah-tengah proses
bersih-bersih."
Begitulah katanya, tetapi aku sama sekali tidak bisa
mempercayai ucapan tersebut. Jika dia memang sedang bersih-bersih, dia pasti
akan terjebak dalam pusaran merapikan barang yang tidak akan pernah ada
ujungnya.
Sebab, bahkan saat kami sedang berbicara pun, Soula
Odd dan para prajurit "Faksi Simbiosis" terus-menerus datang silih
berganti untuk mengangkut tumpukan buku serta dokumen.
"Bagaimana menurut Anda, Tuan Xylo?"
Twitz bertanya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan
dari tumpukan berkas di hadapannya. Dia tampak membaca dokumen demi dokumen
secara bergantian, lalu menuliskan sesuatu di atasnya.
Tentu saja aku tidak bisa melihat sampai ke detail isi
tulisan tersebut dari posisiku berdiri.
"Apakah Anda sudah mulai terbiasa dengan
lingkungan militer kami? Kovilkork adalah kota yang lumayan indah, bukan?
Terutama pemandangannya, benar-benar yang terbaik. Saat pagi hari, matahari
akan terbit dari ufuk laut dan menyinari Sungai Scars hingga warnanya
berubah menjadi merah pekat."
Untuk sesaat, Twitz mengalihkan pandangannya ke luar
jendela.
"Jika ada kesempatan, aku juga sangat ingin
menikmati pemandangan indah ini bersama dengan Anis."
"Transportasi air di sini memang sangat praktis.
Tapi, itu kalau hulu sungainya tidak dikuasai oleh umat manusia."
Aku sendiri setidaknya pernah mendengar nama Kota
Kovilkork. Kota itu adalah titik penting bagi transportasi air di wilayah utara
yang sangat dibanggakan oleh Keluarga Kerajaan Meth.
Kota tersebut berkembang pesat berkat jalur perdagangan
aktif dengan Kepulauan Kio di sebelah timur. Namun di sisi lain, kemampuan
pertahanan kota ini tergolong sangat rendah, sehingga mereka pasti langsung
tidak berdaya saat Fenomena Raja Iblis datang menyerbu.
Bahkan benteng yang terletak di pusat kota ini pun
tidak memiliki struktur bangunan yang praktis untuk pertempuran.
"Aku juga sudah mengatur segalanya agar
kehidupan sehari-harimu di sini tidak mengalami kesulitan. Bagaimana?
Jika kamu memiliki keluhan atau protes, aku akan menerimanya dengan senang
hati."
"Keluhanku adalah keberadaan makhluk ini. Dia selalu
mencampuri setiap urusanku dan benar-benar sangat mengganggu."
Aku mengarahkan jempolku ke arah belakang. Empusa
yang berdiri tegak di dekat pintu masuk layaknya seorang penjaga hanya melempar
senyuman tipis.
Menanggapi keluhanku tersebut, Twitz tampak sama
sekali tidak merasa terganggu atau ambil pusing.
"Bagaimana kalau kita mencoba berbagai hal agar
kamu bisa lebih cepat terbiasa di sini? Pertemuan sambutan hangat sepertinya
terdengar menarik, bukan?"
"Jangan bercanda, keparat."
"Aku sangat senang karena Tuan Xylo bersedia
merespons leluconku dengan baik. Akhir-akhir ini, Soula Odd selalu mengabaikan
diriku secara total."
"Mulai sekarang aku juga akan mengabaikanmu."
"Well, kesampingkan dulu masalah yang satu
itu."
Benar-benar bajingan yang merepotkan, pikirku dalam
hati. Twitz pada dasarnya adalah tipe pria yang sama sekali tidak membutuhkan
keberadaan orang lain di sisinya.
Dia pasti benar-benar tidak peduli dengan bagaimana
jenis reaksi yang akan kuberikan kepadanya. Dia adalah jenis manusia yang
paling ingin kuhindari dalam hubungan sosial.
──Meskipun jika dibandingkan, dia masih jauh lebih
mendingan daripada Dotta atau Tsav.
"Apakah kamu sudah memikirkan perihal tawaran
yang kusampaikan waktu itu?"
"Tawaran yang mana? Aku sama sekali tidak
mengingatnya."
"Tawaran mengenai apakah kamu bersedia untuk
berpihak dan bergabung dengan kelompok kami atau tidak."
"Aku menolak dengan sangat tegas."
Aku langsung menjawabnya secara instan tanpa ragu,
tetapi ekspresi wajah Twitz sama sekali tidak berubah. Dia tampaknya sudah
menduga sejak awal kalau aku akan memberikan jawaban penolakan seperti itu.
"Sekarang giliran aku yang bertanya, kenapa aku
harus repot-repot berpihak pada kelompok kalian?"
"Tentu saja karena ada banyak sekali keuntungan yang
bisa kamu dapatkan. Pertama, kelompok kami dipastikan akan mampu memanfaatkan
seluruh kemampuan bertarungmu secara maksimal."
Twitz menumpukan kedua sikutnya di atas meja kerja. Dia
mengesampingkan tumpukan dokumen di dekatnya, lalu menatap lurus ke arah
mataku.
"Hanya dengan mengandalkan lima ribu prajurit, kamu
mampu mencerai-beraikan lebih dari dua puluh ribu pasukan musuh tanpa mengalami
kerugian yang berarti. Padahal mereka bukanlah prajurit yang kamu latih sendiri
dan tingkat kemampuannya pun meragukan, tetapi kamu bisa melakukannya dengan
sangat tenang."
Lebih dari dua puluh ribu pasukan, katanya.
Bajingan-bajingan ini ternyata sengaja memanipulasi dan memangkas jumlah asli
pasukan musuh saat pertempuran waktu itu.
Apakah itu berarti ada lebih banyak Fairy Abnormal
yang bersiaga sebagai pasukan cadangan di belakang sepuluh ribu pasukan garis
depan?
(Bajingan ini benar-benar telah memanfaatkan diriku.)
Taktik yang digunakannya adalah kebalikan dari trikku
saat memperlihatkan prajurit di atas dinding kastil untuk menahan pergerakan
musuh. Dengan sengaja menyembunyikan informasi mengenai jumlah asli pasukan
musuh, dia membuatku terfokus hanya pada musuh yang ada di depan mata.
Jika sejak awal aku mengetahui total kekuatan tempur
musuh yang sebenarnya, aku mungkin akan memilih cara bertarung yang jauh lebih
ekstrem.
Misalnya saja, aku bisa memilih untuk menjebol pintu
gerbang kastil dari dalam, lalu memancing musuh masuk ke dalam area kota demi
menyeret pasukan cadangan mereka ke dalam pusaran pertempuran.
Twitz tahu betul kalau aku adalah tipe orang yang
akan mengambil langkah ekstrem seperti itu. Karena
itulah dia memilih untuk menutup rapat semua informasi sensitif tersebut
dariku.
Pantas saja dia pasti sangat dibenci setengah mati
jika berada di dalam struktur organisasi militer.
"Jadi pasukan cadangan musuh jumlahnya mencapai
dua kali lipat lebih banyak ya. Apa yang akan terjadi jika mereka tidak memilih
mundur saat pasukan garis depan mereka hancur?"
"Tuan Xylo pasti akan menemukan jalan keluar untuk
mengatasinya. Skenario terburuknya mungkin hanya setengah dari pasukan 'Faksi
Simbiosis' yang akan gugur, tetapi aku yakin kamu pasti bisa mencegah
kehancuran total pasukan."
"Apa di matamu aku terlihat menang dengan sangat
mudah? Aku hanya sedang beruntung karena taktik yang kupilih
tidak meleset terlalu jauh."
"Hasil
akhir adalah segalanya di dunia ini. Bagiku, nilai sejati dari seorang Xylo
Volbarts bukanlah berdiri di garis paling depan sebagai seorang petarung."
Twitz
berbicara dengan nada sok tahu yang memuakkan. Aku adalah tipe orang yang
selalu memiliki dorongan kuat untuk menonjok wajah orang-orang sepertinya.
"Memimpin
ribuan atau puluhan ribu prajurit di medan laga, itulah nilai sejatimu yang
sebenarnya. Pasukan Kerajaan Aliansi dengan sangat bodohnya justru menolak
untuk memberikan posisi strategis itu kepadamu, apa kamu tidak berpikiran
sama?"
"Sama
sekali tidak."
Ini
juga merupakan sebuah jawaban instan yang keluar dari mulutku tanpa ragu.
"Pada
detik-detik terakhir yang krusial, aku selalu mengambil keputusan yang salah.
Keputusan mereka untuk tidak memberiku hak komando tertinggi adalah sebuah
tindakan yang sangat tepat."
"Sayang
sekali. Perbedaan nilai kerja di antara kita tampaknya memang terlalu dalam
untuk bisa disatukan, sehingga membujukmu lewat jalur ini sepertinya
mustahil."
Sembari mengembuskan napas panjang, Twitz menyandarkan
punggungnya pada sandaran kursi. Dia tampaknya akhirnya menyadari bahwa
berdiskusi menggunakan topik ini dengan diriku adalah hal yang sia-sia, dan itu
adalah sebuah berkah bagiku.
"Kalau begitu, mari kita bahas perihal keuntungan
kedua yang bisa kami tawarkan. Seperti yang sudah kamu ketahui, otoritas Goddess
Bulan yang berada di tangan Empusa mampu menyegel kekuatan Stigma. Jika
kita memiliki kekuatan ini──"
"Omong kosong."
Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraannya akan bermuara.
Dia ingin mengatakan kalau mereka bisa membebaskanku dari
jerat Hukuman Pahlawan. Benar-benar sebuah penawaran yang
sangat konyol dan tidak bermutu.
"Ucapanmu itu terdengar sama persis dengan
bualan dari gerombolan bajak laut bodoh yang pernah kutemui. Kalian tidak lebih
dari sekadar penjahat kelas teri."
"Anda benar. Kami memang hanyalah penjahat kelas
teri, karena gelar penjahat kelas kakap yang sesungguhnya tentu saja dipegang
oleh kalian para Pasukan Pahlawan Hukuman."
Setelah melontarkan kalimat yang berada di batas
antara sindiran dan lelucon tersebut, Twitz menyandarkan tubuhnya semakin dalam
pada kursi kerjanya. Dia tampak memejamkan kedua matanya secara perlahan.
"Aku akan mengatakannya sekali lagi, ini
benar-benar sangat disayangkan. Awalnya aku mengira kamu bertarung demi bisa
memanfaatkan seluruh kemampuanmu secara maksimal, sama seperti halnya Beux
Wintier."
"Itu adalah cara berpikir dari orang bodoh. Mana
mungkin aku sudi mempertaruhkan nyawaku di medan perang hanya untuk alasan
konyol semacam itu."
"Lalu, untuk apa kamu bertarung?"
"Aku tidak punya kewajiban apa pun untuk
menceritakannya kepadamu."
Aku mendadak merasa sangat enggan untuk membagikan alasan
pribadiku kepada pria di depanku ini. Alasan utamaku bertarung adalah milikku
seorang, dan menceritakannya pada orang lain hanya akan membuatnya terdengar
palsu serta konyol.
Beberapa orang bahkan mungkin akan menganggapku sebagai
sosok pria bodoh yang sudah tidak tertolong lagi.
Namun, sejak pertama kali aku memutuskan untuk melangkah
masuk menjadi seorang tentara, alasan bertarungku selalu melampaui sekadar
urusan mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup.
"Hal
itu benar-benar membuatku penasaran."
"Kalau begitu, silakan buat dirimu penasaran sampai
mati. Tapi, jika ada satu hal yang bisa kukatakan──alasan itu juga melibatkan
keberadaan orang-orang sepertimu."
Aku mengarahkan telunjukku tepat ke arah wajah Twitz.
"Melihat orang-orang yang sangat menyebalkan seperti
kalian berakhir gigit jari karena taktikku adalah sebuah hiburan yang sangat
menyenangkan."
"Begitukah?
Hal itu…… entah kenapa membuatku merasa sedikit iri kepadamu."
"Bagian
mana yang membuatmu iri? Statusku saat ini adalah seorang Pasukan Pahlawan
Hukuman."
"Kamu telah memiliki alasan bertarung itu sejak
lama, bukan? Sementara aku sendiri tidak pernah memiliki hal semacam itu──ya,
sebuah motivasi. Aku sangat ingin melihat dunia dari sudut pandang serta indra
yang kamu miliki."
"Ucapanmu terdengar sangat menjijikkan. Entah
kenapa, isi kepalamu itu terasa sangat mirip dengan Rhyno."
"Aku merasa itu adalah sebuah penghinaan terbesar
yang pernah kuterima. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai makian."
Twitz melempar senyuman tipis, namun dia tidak lagi
melanjutkan obrolan konyol tersebut lebih jauh. Dia tampaknya akhirnya
menyadari bahwa seluruh keuntungan yang ditawarkannya tidak akan pernah
bernilai di mataku.
Namun──dari percakapan singkat kami tadi, ada satu hal
yang mengusik rasa penasaranku.
"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, Twitz
Huker?"
Aku mengarahkan jariku ke arah Twitz. Jika situasi
memungkinkan, aku sebenarnya sangat ingin mencengkeram kuat-kuat kerah bajunya
saat ini.
"Kenapa kamu memilih untuk berpihak pada Fenomena
Raja Iblis? Untuk tujuan apa kamu bertarung? Apa kamu berniat menjadi raja dari
sisa-sisa manusia yang selamat setelah Fenomena Raja Iblis memusnahkan seluruh
umat manusia?"
"Jika aku bisa mempertaruhkan seluruh hidupku demi
tenggelam dalam ambisi seperti itu, aku pasti akan merasa sangat bahagia."
Twitz menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang
tampak benar-benar merasa iri.
"Pertempuran yang kujalani saat ini adalah demi
cinta."
"Jawab dengan serius."
"Aku sedang berbicara dengan sangat serius saat
ini. Fenomena Raja Iblis Anis──aku mencintainya, dan aku bertarung di sini
adalah demi dirinya."
Awalnya aku mengira dia sedang mencoba melontarkan
lelucon konyol lagi, namun senyuman di wajah Twitz sama sekali tidak memudar.
Di sisi lain, Empusa juga tampak menatap ke arah Twitz
dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iri.
"Apakah Tuan Xylo tidak bisa menerima alasan
tersebut?"
"Mana mungkin aku bisa menerimanya. Alasanmu itu
terdengar sangat palsu."
"Tidak masalah meskipun itu hanyalah sebuah
kebohongan semata. Hal yang terpenting adalah apakah diriku sendiri bisa
mempercayai kebohongan itu dengan sepenuh hati atau tidak. Aku membutuhkan
alasan semacam itu agar dunia ini tidak terasa membosankan."
Entah kenapa, aku merasa mulai bisa memahami cara
berpikir dari bajingan di depanku ini. Bagi dirinya, tidak ada hal lain di
dunia ini yang jauh lebih penting daripada tujuan yang telah ditetapkannya
sendiri.
Karena dia memiliki prinsip hidup seperti itu, maka
segala bentuk negosiasi ataupun provokasi tidak akan pernah mempan terhadapnya.
"Apakah keputusanmu untuk membantu pemberontakan
Jace waktu itu juga didasari oleh cara berpikir yang sama?"
"Benar sekali. Skenario waktu itu benar-benar
sangat menyenangkan. Meskipun aku tahu pertempuran tersebut akan berakhir
dengan kehancuran, aku tetap bisa menikmatinya dengan sangat serius."
Dia berbicara dengan nada suara yang dipenuhi oleh
rasa rindu masa lalu. Aku bisa merasakan kalau ucapannya kali ini juga keluar
dari lubuk hatinya yang terdengar sangat jujur.
Aku paham apa yang ingin disampaikannya. Seluruh
pertempuran yang dijalani oleh Twitz adalah murni demi memuaskan keinginan
pribadinya sendiri.
Dia menggunakan sosok Fenomena Raja Iblis bernama Anis
sebagai alasan, namun itu semua terjadi karena dia sendiri yang memutuskan
untuk menjadikannya sebagai motivasi hidup. Oleh karena itu, melanjutkan dialog
dengan pria ini sudah tidak ada gunanya lagi.
"Negosiasi kita telah resmi berakhir gagal. Jangan
pernah berharap aku akan sudi memimpin pasukan kalian lagi meskipun kamu
memohon kepadaku."
"Tentu saja. Aku tidak akan memintanya lagi karena
tindakan tersebut terbukti sia-sia."
Twitz mengakui kekalahannya dengan sangat mudah di luar
perkiraan awal diriku.
"Namun, hal itu bukan berarti aku akan menyerah
begitu saja untuk membujukmu menjadi rekan kami. Meskipun bukan sebagai seorang
komandan pasukan, aku tetap ingin menarikmu ke dalam kubu kami."
"Kemungkinan itu sama sekali tidak ada. Aku tidak akan pernah mau bernegosiasi lagi denganmu."
"Ya. Berdasarkan fakta tersebut, aku merasa
peluang untuk itu masih tetap terbuka lebar. Aku ingin
meminta Tuan Xylo untuk mengambil pekerjaan lain."
"Ha?"
Bajingan ini benar-benar tidak pernah berhenti
melontarkan ucapan yang selalu berhasil mengejutkan diriku. Aku langsung
menatap tajam ke arah Twitz dengan pandangan penuh kewaspadaan.
"Pekerjaan jenis apa lagi? Jika itu adalah memimpin
pasukan, aku menegaskan tidak akan mau melakukannya."
"Perihal Fenomena Raja Iblis. Apa kamu tidak
memiliki rasa penasaran untuk mengetahui siapakah wujud asli dari mereka yang
sebenarnya?"
Aku dan Twitz secara refleks mengalihkan pandangan mata
kami ke arah pintu masuk kamar. Empusa memilih untuk tetap diam seribu bahasa,
namun dia langsung mengulas senyuman lebar saat menyadari pandangan mata kami
tertuju padanya.
"Aku telah memanfaatkan para petualang untuk
menjalankan misi investigasi terhadap berbagai situs runtuhan kuno di wilayah
utara ini."
"Jangan bilang kalau kamu mendadak memiliki
ketertarikan pada bidang arkeologi."
"Tindakan ini murni didasari oleh alasan praktis di
lapangan. Dari dalam situs runtuhan kuno, kami terkadang bisa menemukan
berbagai warisan masa lalu yang bisa langsung digunakan dalam pertempuran
nyata. Bahkan jasad dari Goddess Bulan yang berada di tangan Empusa saat
ini pun merupakan hasil dari investigasi tersebut."
Skenario itu bukanlah sebuah hal yang mustahil untuk
terjadi di dunia nyata. Bahkan Teoritta sendiri pun berhasil ditemukan dari
hasil misi eksplorasi yang belum lama berselang.
Khusus untuk wilayah utara, kemungkinan mengenai adanya
situs runtuhan kuno yang masih belum terjamah memang tergolong cukup tinggi.
Perlahan-lahan, aku mulai bisa menangkap arah dari pembicaraan pria ini.
Dia tampaknya berniat menyuruhku melakukan pekerjaan yang
biasa dilakukan oleh para petualang.
"Aku ingin Tuan Xylo mengambil alih tugas untuk
melakukan eksplorasi di situs runtuhan kuno tersebut. Aku akan membentuk sebuah
tim kecil untuk menyokong pergerakanmu."
Tepat saat Twitz meloloskan kalimat tersebut, Soula Odd
melangkah masuk ke dalam ruangan. Atau mungkin Twitz memang sengaja mengatur
waktu agar kalimatnya selesai tepat saat pria itu memunculkan diri.
Jika pelakunya adalah Twitz, maka skenario perhitungan
waktu yang sangat akurat seperti itu tentu saja sangat mungkin terjadi.
"Mohon bantuannya ya, Soula Odd."
"……Apa?"
Soula Odd tentu saja sama sekali tidak mengetahui perihal
topik pembicaraan kami sejak tadi. Ekspresi wajahnya tampak menunjukkan rasa
terkejut yang sangat kentara.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Apakah kamu sejak tadi tidak menguping pembicaraan
kami dari balik pintu? Karena ini bukanlah topik yang terlalu penting, aku akan
menjelaskannya kepadamu nanti."
"Aku memang menguping, tetapi aku sangat yakin kalau
topik ini sama sekali tidak melibatkan diriku. Jadi kalimat tadi bukanlah
sebuah pertanyaan, melainkan sebuah gertakan. Katakan, apa yang sedang kalian
bicarakan?"
"Ini
bukanlah sebuah masalah besar."
"Katakan
sekarang. Mengenai detail pekerjaan, aku setidaknya masih memiliki hak penuh
untuk menolak──"
"Aku sama sekali tidak bisa menangkap maksud dari
ucapanmu tadi. Menyelidiki situs kuno bersama dengan bajingan ini?"
Mengabaikan protes dari si serangga beracun, aku memilih
untuk terus mengonfrontasi Twitz demi meminta penjelasan logis.
"Kenapa kamu malah menyuruhku untuk melakukan
pekerjaan semacam itu?"
"Mengetahui masa lalu adalah kunci utama untuk bisa
memahami esensi asli dari Fenomena Raja Iblis. Dan aku tahu kamu tidak akan
menolak tugas ini."
Twitz mengucapkan kalimat tersebut dengan nada suara yang
dipenuhi rasa percaya diri yang tinggi. Faktanya,
menolak tawaran ini memang merupakan sebuah tindakan yang sangat bodoh.
Jika dibandingkan dengan terus terkurung di dalam sel
tahanan, bergerak bebas di dunia luar tentu saja akan memberikan peluang
melarikan diri yang jauh lebih besar. Dengan kata lain, aku sama sekali tidak
memiliki alasan untuk menolak pekerjaan ini.
"Semakin dalam kamu memahami perihal Fenomena Raja
Iblis, kamu akan menyadari bahwa memusnahkan mereka adalah hal yang mustahil.
Kamu pasti juga akan sampai pada kesimpulan yang sama nantinya──dan saat itu
terjadi, sudut pandangmu akan berubah. Kita mungkin akan bisa menjalin hubungan
yang baik setelahnya."
Twitz menatap ke arahku dengan pandangan mata yang
sedikit mendongak, seolah sedang mencoba untuk menyelidiki sesuatu dari
ekspresi wajahku.
"Bahkan Goddess Pedang Teoritta milikmu itu
pun tidak akan pernah mampu untuk memusnahkan Fenomena Raja Iblis. Meskipun dia
memiliki pedang yang mampu memberikan kematian pada segala hal, tetap ada
beberapa entitas yang tidak akan pernah bisa dibunuh olehnya."
Pedang suci. Mereka ternyata juga telah memiliki
informasi yang cukup mendalam mengenai senjata milik Teoritta tersebut.
Namun, aku sama sekali tidak berniat untuk meladeni
permainan tebak-tebakan psikologis yang sedang dilancarkannya saat ini. Aku
memilih untuk mengabaikan sebagian besar dari untaian kalimat yang diucapkan
oleh Twitz tadi.
Sebagai gantinya, aku memilih untuk melayangkan sebuah
pertanyaan kritis kepadanya.
"Kenapa kamu sampai harus melangkah sejauh ini?
Meskipun kamu berhasil menarikku ke dalam kubumu, aku tidak merasa keberadaanku
akan memberikan kontribusi yang besar bagi kalian."
"Itu adalah sebuah penilaian yang terlalu
merendahkan diri sendiri, Tuan Xylo. Jika seandainya kamu tidak ada di dunia
ini, maka perang ini dipastikan akan berjalan dengan jauh lebih mudah bagi
kami."
Benar-benar sebuah pernyataan yang sangat konyol.
Ucapannya seolah menuduh bahwa keberadaanku di medan laga justru membuat
jalannya pertempuran menjadi semakin rumit dan menambah jumlah korban jiwa.
Bagaimana pun aku memikirkannya, aku tidak merasa
diriku memiliki nilai yang begitu tinggi di dalam peperangan ini.
Seolah kembali berhasil membaca isi hatiku yang
sebenarnya, Twitz menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Kamu tampak meragukan ucapanku, bukan? Namun,
kalimat tadi adalah murni sebuah kejujuran yang keluar dari lubuk hatiku yang
paling dalam."
Masa bodoh dengan semua bualanmu itu, pikirku kesal.
◆
Angin yang terasa hangat mulai berembus secara perlahan
dari arah ufuk timur, melewati sela-sela pepohonan hutan yang lebat.
(Hujan tampaknya akan segera turun.)
Pikir Tsav dalam hati sembari mengalihkan pandangan
matanya menatap langit senja yang mulai menggelap.
"Sarutah, mari kita sudahi perjalanan kita untuk
hari ini."
Saat membalikkan badan, dia melihat sesosok gadis muda
yang mengenakan jubah dari kulit serigala sedang berdiri di sana.
Gadis itu kini hanya memiliki satu lengan, setelah
kehilangan lengan kirinya dalam pertempuran sengit beberapa waktu lalu.
"Mari kita mencari tempat untuk beristirahat. Jika
kita berjalan sedikit lebih jauh ke depan, kita mungkin akan menemukan sebuah
pemukiman warga. Sial, sebagai orang yang pernah masuk dalam panduan pedagang
keliling ibu kota pertama, aku sebenarnya sangat enggan untuk menginap di
penginapan berbintang dua ke bawah, tapi mau bagaimana lagi. Jika memungkinkan,
aku sangat berharap ada sumber air panas di sekitar sini, bagaimana
menurutmu?"
"Kamu benar-benar sangat berisik. Bisakah kamu
diam sedikit dan tidak selalu membuat kegaduhan setiap saat?"
Memotong kalimat panjang dari Tsav, Sarutah mendengus
dengan nada suara yang terdengar sangat rendah dan dingin.
"Apakah kamu selalu seperti ini sepanjang waktu?
Bisakah kamu belajar untuk bersikap sedikit lebih tenang?"
"Aku memiliki kondisi fisik unik di mana aku akan
langsung mati lemas jika tidak berbicara dalam sehari──ah, itu bohong. Aku
tentu saja tidak akan mati hanya karena hal sepele seperti itu. Namun, bersikap
ceria seperti ini tentu saja jauh lebih mendingan daripada terus diam dengan
wajah muram seperti Kak Xylo atau Tuan Jace, bukan? Aku benar-benar tidak bisa
memahami jalan pikiran mereka, apa ada hal baik yang bisa didapatkan dengan
terus menunjukkan wajah suram seperti itu?"
"Aku tidak tahu. Namun, keberadaan mereka tetap jauh
lebih mendingan daripada dirimu."
"Ehh, kejam sekali! Penilaianmu itu benar-benar
sangat melukai harga diriku! Padahal di antara seluruh anggota Pasukan Pahlawan
Hukuman, aku adalah sosok pria yang paling ceria, ramah, menyenangkan, dan juga
paling waras! Menyakitkan sekali rasanya saat menyadari kalau pesonaku ini
sangat sulit untuk dipahami oleh orang lain."
"Aku sudah menyuruhmu untuk diam karena kamu sangat
berisik. ……Hujan tampaknya benar-benar akan segera turun."
Sebagai orang yang tumbuh di alam liar, Sarutah tentu
saja memiliki kepekaan yang jauh lebih tinggi mengenai perubahan kondisi cuaca
di sekitarnya.
Dia tampak mengendus udara secara perlahan demi mencium
aroma yang dibawa oleh embusan angin senja.
"Masih ada sedikit waktu sebelum rintik hujan
pertama mulai membasahi bumi. Daripada mencari pemukiman warga, sebaiknya kita
menggunakan pondok peristirahatan sementara milik kelompok kami saja."
Sarutah mengarahkan jari telunjuknya ke arah selatan.
Pondok kecil yang biasa disebut sebagai tempat
persinggahan sementara oleh orang-orang gunung tampaknya tersebar di berbagai
sudut wilayah utara ini.
Meskipun hanya berupa bangunan sederhana, pondok tersebut
sudah lebih dari cukup untuk digunakan sebagai tempat berlindung dari terpaan
angin dan hujan.
Selama perjalanan panjang kami demi memburu keberadaan Xylo,
bangunan tersebut telah beberapa kali menyelamatkan hidup kami.
Meskipun sebenarnya, bagi pria seperti Tsav, tidur di
alam terbuka tanpa atap sambil diterpa angin dan hujan bukanlah sebuah masalah
besar yang harus dipusingkan.
"Tapi……
pergerakan mereka benar-benar sangat cepat hingga kita belum bisa menyusulnya
sampai sekarang. Seperti yang bisa diduga dari Fenomena Raja Iblis, kecepatan
gerak kaki mereka berada di tahap yang berbeda."
Misi
pengejaran yang kami lakukan di sepanjang aliran Sungai Scars kini telah
resmi melewati hari kesepuluh.
Sungai Scars
sendiri memiliki banyak sekali anak sungai yang bercabang di berbagai sudut
wilayah utara ini.
Alirannya
membentang luas membelah daratan utara, dimulai dari aliran sungai tenang
bernama Thumb yang bermuara di danau bagian barat Nofan, hingga berakhir
pada aliran sungai deras bernama Little Finger.
Awalnya
aku mengira kami akan bisa menyusul mereka dengan cepat jika Xylo diculik oleh
manusia biasa.
Namun,
pihak musuh ternyata merupakan pasukan gabungan dari berbagai Fairy Abnormal
seperti Bogey dan Fuath yang memiliki kemampuan mobilisasi sangat tinggi.
Ditambah
lagi, kami juga harus sebisa mungkin menghindari keterlibatan dalam pertempuran
langsung dengan pasukan musuh sepanjang perjalanan.
(Sial,
ini benar-benar membuatku terlihat tidak keren sama sekali. Padahal awalnya aku
berniat untuk menyelamatkannya dengan sangat mudah.)
Tsav
melempar sebuah senyuman tak berdaya demi menertawakan ketidakberdayaan dirinya
saat ini.
Rencana
awalnya adalah menyelamatkan Xylo dengan mudah, lalu melontarkan kalimat ejekan
seperti "Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan di tempat seperti ini,
Kak?" tepat di depan wajahnya.
Mengejek
dan menertawakan pria yang biasanya selalu bersikap sok berkuasa itu adalah
sebuah skenario yang sangat menyenangkan untuk dibayangkan. Hanya dengan
memikirkan momen tersebut saja sudah cukup untuk membuat sudut bibir Tsav
terangkat secara refleks.
Dia
tidak memiliki perasaan suka ataupun benci yang mendalam terhadap sosok Xylo,
dan terkadang tindakan pria itu bahkan terasa sangat menyebalkan bagi dirinya.
Namun
karena adanya dinamika hubungan seperti inilah yang membuat mereka pada
akhirnya menjadi rekan satu tim yang tidak terlalu buruk saat bertualang
bersama.
Setelah
merenungkan hal tersebut cukup dalam, sebuah pertanyaan mendadak terlintas di
dalam kepala Tsav.
"Bagaimana dengan dirimu sendiri, Sarutah?"
"……Apa maksudmu?"
"Aku hanya merasa penasaran mengenai alasan apa yang
sebenarnya membuatmu rela bersusah payah untuk mengejar keberadaan Kak Xylo
sejauh ini. Pria itu memang diakui sangat kuat dalam urusan strategi
peperangan, tetapi menyelamatkan hidupnya sama sekali tidak akan memberikan
keuntungan apa pun bagi kita. Tindakan ini benar-benar sebuah kesia-siaan yang
mutlak, lalu kenapa kamu masih mau melakukannya?"
"Aku memiliki alasan yang sangat kuat untuk pergi
menyelamatkannya. Kami terikat oleh sebuah janji aliansi."
"Ah, janji aliansi yang sering diucapkan oleh Kak Xylo
waktu itu ya! Jadi dia ternyata benar-benar serius mengenai hal
tersebut."
"Dia sangat serius. Setidaknya, dia adalah pria
yang selalu menepati seluruh janji yang telah diucapkannya. Oleh
karena itu, aku juga akan melakukan hal yang sama demi menepati janjiku
kepadanya."
Setelah meloloskan kalimat tersebut, Sarutah mengalihkan
pandangan matanya untuk menatap Tsav sekali dengan tatapan yang dipenuhi rasa
tidak puas.
"……Kamu juga. Kamu telah berhasil membunuh Fenomena
Raja Iblis bernama Gwyllion yang merupakan musuh bebuyutanku. Aku mengakui
kalau kemampuan bertarungmu memang sangat hebat, dan karena alasan itulah aku
masih mau bersabar untuk menahan diri dari segala bentuk ucapan tidak bermutumu
sejak tadi."
"Hehehehe! Terima kasih banyak atas pujiannya. Jadi,
apakah sekarang aku sudah diizinkan untuk berbicara tidak bermutu lagi
kepadamu?"
"Jika kamu berani mengajakku berbicara lagi hari
ini, aku bersumpah akan membunuhmu saat ini juga."
"Uwah, menyeramkan sekali! Tapi, apakah kamu yakin
bisa melakukannya? Mengingat tindakanmu yang kemarin pun berakhir dengan
kegagalan total."
"Diam."
Sarutah menunjukkan taringnya dengan sangat jelas sembari
berdiri dari posisi duduknya.
Hanya dengan mengandalkan satu lengan kanannya yang
tersisa, dia tampak sangat mahir dalam mengemas seluruh barang bawaan serta
kapak kecil miliknya ke atas pundak.
"Waktu kita sudah tidak banyak lagi sebelum rintik
hujan mulai turun membasahi tempat ini. Hujan kali ini dipastikan akan turun
dengan sangat deras, sehingga aku harus segera bergegas. Kita harus menghindari
segala bentuk pemborosan stamina yang tidak berguna sebelum berhasil
menyelamatkan Xylo."
"Kamu benar."
Tsav mengalihkan pandangan matanya menatap jauh ke arah
ufuk timur, tepat ke arah ujung dari aliran Sungai Scars bermuara.
(Berdasarkan perkiraanku, kita akan bisa menyusul posisi
mereka dalam waktu tiga hari lagi.)
Jejak kaki serta sisa pelarian yang ditinggalkan oleh
musuh menunjukkan indikasi jarak yang sedekat itu di antara mereka saat ini.
"──Ah. Satu hal lagi yang ingin kukatakan kepadamu, Tsav."
Sarutah mendadak menghentikan langkah kakinya dan
membalikkan badan untuk menatap Tsav sekali lagi.
"Jangan pernah sekali-kali berani menyentuh urusan
dapur atau memasak makanan kita selama perjalanan, karena seluruh urusan
memasak akan diambil alih sepenuhnya olehku."
"Eh, kenapa begitu?"
"Makanan hasil masakanmu sama sekali tidak memiliki
rasa. Itu adalah jenis makanan terburuk yang pernah kukenal sepanjang
hidupku."
"Ah, tindakanmu itu benar-benar tidak baik. Kamu
tidak boleh menjadi orang yang pemilih dalam urusan makanan jika ingin tumbuh
menjadi gadis yang besar, Sarutah!"
"Diam! Jangan berani menyentuh diriku!"
Tsav menggeser posisi kepalanya sedikit ke belakang
demi menghindari ayunan kapak kecil yang diayunkan tepat di depan ujung
hidungnya.
Mata pisau dari senjata tersebut tampak memancarkan aura
membunuh yang sangat pekat dan nyata dari sang pemilik.
Gadis itu tampaknya benar-benar memiliki niat yang sangat
serius untuk menghabisi nyawanya saat ini.
Namun, melihat luapan rasa permusuhan yang ditunjukkan
secara terang-terangan tersebut justru membuat Tsav tidak bisa menahan tawanya.
Perjalanan ini tampaknya akan menjadi semakin
menyenangkan, pikir Tsav dalam hati.



Post a Comment