NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Chapter 1

Chapter 1

Tiga Fase


"──Titania itu, siapa?"

Luna bertanya sembari memiringkan kepalanya.

Itu adalah sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak terduga.

Sensasi seolah lubuk hatiku dicengkeram oleh sepasang tangan dingin mendadak menjalar, menciptakan kekosongan dalam benakku.

Aku hanya pernah bertukar kata dengan Titania sebanyak satu kali, yaitu tahun lalu di wilayah Regrif saat memenuhi permintaan penyeledikan labirin dari Jarl Eddington.

Itu pun hanyalah sebuah kontak yang terjadi secara tidak sengaja.

Oleh karena itu, sebagian besar pengetahuanku tentang sifat dan karakteristik Titania hanyalah sebatas deduksi yang didasarkan pada cerita dari Luna.

Setiap kali menceritakan tentang Titania, Luna selalu tersenyum dengan raut wajah yang tampak sangat bahagia.

──Namun sosok gadis yang sama, kini justru sedang menunjukkan ekspresi wajah yang kebingungan.

"Kenapa…… Padahal seharusnya aku tidak mengenalnya, tapi begitu mendengar nama itu,…… kenapa dadaku terasa sangat sesak seperti ini?"

Luna melontarkan pertanyaan itu dengan suara yang bergetar, namun dengan nada yang mengindikasikan bahwa dia bahkan tidak mampu untuk menangis.

"Pixie, apa sebenarnya yang terjadi di sini……?"

Aku mereplikasi skill Spirit Domain untuk melontarkan pertanyaan kepada Pixie, peri yang selalu berada di sisi Luna.

"……Kira Orn sudah tahu. ……Kalau jejak keberadaan Sang Ratu telah lenyap."

Meskipun suara kecil Pixie terdengar sedikit bergetar, di dalamnya samar-samar menyiratkan nada yang sedang menyalahkanku secara diam-diam.

"Jejak keberadaannya, lenyap……?"

Mendengar kata-kata yang spontan kulontarkan kembali, Pixie melanjutkan penjelasannya dengan suara yang terdengar seolah sedang memeras seluruh tenaganya.

"……Cavadale telah mengerahkan kemampuan uniknya, Equivalent Exchange, demi memutar kembali waktu di dunia ini."

"Kalau soal itu, aku sudah tahu."

Pemutaran kembali waktu yang dimaksud adalah insiden yang terjadi saat aku menelan kekalahan dari Ordo Cyclamen di Tstrial, di mana Kakek──Cavadale Evans, menukarkan eksistensi dirinya sendiri untuk memicu fenomena tersebut.

"……Cavadale telah menyerahkan eksistensi dirinya serta jejak keberadaannya selama sepuluh tahun sebagai bayaran. ……Oleh karena itu, semua orang mengenalinya sebagai 'sosok yang telah meninggal dunia sejak sepuluh tahun yang lalu'."

Sampai di bagian itu, aku masih bisa memahaminya.

Kakek adalah sosok yang sangat mendambakan gelar sebagai pengrajin alat sihir jenius. Namun, ada juga orang-orang yang tidak menyukai eksistensinya, membuat Kakek menerima persekusi hingga akhirnya hidup terisolasi.

Secara publik dinyatakan bahwa Kakek memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak kuat menahan tekanan lingkungan sekitar yang merugikan tersebut.

Namun pada kenyataannya, dia sama sekali tidak meninggal dunia. Kakek justru pergi menuju Tstrial, membuka sebuah toko kelontong kecil secara sederhana sembari terus mengawasi pertumbuhanku dari dekat.

Sebelum waktu diputar kembali, sebenarnya ada beberapa orang──meskipun jumlahnya sangat sedikit── yang mengetahui fakta bahwa Kakek aslinya masih hidup.

Akan tetapi setelah waktu diputar kembali, orang-orang yang awalnya mengetahui Kakek masih hidup pun kini memiliki pemahaman bahwa dia telah meninggal dunia sejak sepuluh tahun yang lalu. Aku sempat berpikir bahwa itulah harga yang harus dibayar demi memutar kembali waktu.

"……Tapi, itu saja masih belum cukup. ……Oleh karena itu, Sang Ratu juga menyerahkan seluruh jejak keberadaannya sejak masa lampau, berserta dengan seluruh kekuatan sihir yang membentuk eksistensi dirinya sendiri."

Jadi, begitu rupanya.

Kakek tidak hanya menyerahkan eksistensi dirinya, melainkan juga jejak keberadaannya di masa lalu sebagai bayaran.

Jika Titania juga melakukan pembayaran yang serupa, maka harga yang harus dibayarkannya pun pasti setara.

"……Fakta bahwa mereka pernah bertemu saat Luna masih kecil, begitu pula dengan kata-kata yang telah mereka pertukarkan, seluruhnya telah diserahkan oleh Sang Ratu sebagai bayaran."

Luna mendadak mengangkat wajahnya secara refleks.

"……Apakah aku, pernah bertemu dengan Titania……?"

"……Uhm. Karena itulah Luna sekarang harus menderita seperti ini, tanpa tahu apa alasan di balik rasa sakit itu."

"……Kh."

Luna membiarkan sepasang matanya bergetar, lalu dia terdiam tanpa bergerak sedikit pun untuk beberapa saat.

Tepat saat aku sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepadanya, Luna memalingkan wajahnya ke arahku.

Di dalam sepasang matanya, tampak bersemayam seberkas cahaya yang menyerupai sebuah kepasrahan dan ketetapan hati.

"……Orn-san. Jika tidak keberatan, bisakah kamu memberi tahu aku? …………Sosok seperti apakah Titania itu sebenarnya?"

Mendengar pertanyaan itu, aku sempat menahan napas untuk sesaat.

Meskipun suaranya masih terdengar bergetar, dia tetap berusaha untuk melangkah menatap ke depan.

"……Baiklah."

Akulah yang harus menjawab pertanyaan tersebut. ──Pikirku.

"……Sebagian besar informasi tentang Titania yang kuketahui sebenarnya adalah cerita yang kudengar dari Luna sendiri, tapi aku juga pernah bertemu dengannya secara langsung sebanyak satu kali. Apa kamu masih ingat? Saat aku, Luna, dan para murid pergi ke wilayah Regrif untuk memenuhi permintaan dari Jarl Eddington──"

Sembari sesekali mengangguk dan memberikan respons kecil, Luna terus mendengarkan ceritaku secara saksama tanpa menyela sampai bagian akhir.

Aku bisa merasakan bahwa dia sedang berusaha untuk menerima setiap jengkal kata-kata yang kuucapkan tanpa menyisakan satu pun.

Begitu aku selesai menceritakan seluruh rangkaian kejadiannya, Luna akhirnya membuka suara.

"……Terima kasih, banyak."

Suara lirih tersebut meluncur pelan dari bibirnya.

Berbanding terbalik dengan kata-kata yang diucapkannya, raut wajah Luna masih memancarkan gurat kebingungan yang sangat jelas.

Itu adalah hal yang wajar.

Meskipun hal-hal yang kuceritakan tadi adalah konten yang kudengar dari Luna di masa lalu, bagi dirinya yang sekarang, itu hanyalah sebuah "kenangan yang tidak memiliki sensasi nyata".

Garis rupa dari sesuatu yang telah lenyap, mustahil bisa didapatkan kembali hanya melalui perantara kata-kata semata.

Meskipun begitu──dia tetap berusaha keras untuk meraih sisa-sisa memori yang masih tertinggal di dalam dirinya.

"……Ternyata memang terasa aneh, ya. Semakin aku mendengarnya, entah kenapa, hatiku justru terasa semakin bergejolak. Padahal aku sama sekali tidak bisa merasakan sensasi nyatanya……"

Sembari bergumam demikian, Luna perlahan menempelkan salah satu tangannya ke dada.

Dia menurunkan pandangan matanya, seolah sedang memastikan sesuatu.

"Aku senang bisa mendengarkan cerita ini. Bagi diriku yang sekarang, ingatan masa kecilku hanya dipenuhi oleh hal-hal yang menyakitkan saja. Namun, ternyata aslinya ada juga waktu-waktu bahagia yang kuhabiskan bersama Titania, kan? Mengetahui hal itu saja, bagiku sudah lebih dari cukup……"

Melihat sosok gadis yang memaksakan diri untuk tersenyum sembari berkata demikian, aku tidak tahu harus memberikan respons seperti apa.

Saat memikirkan tentang rasa kehilangan dan penderitaan yang bersemayam di balik senyuman tersebut, kata-kata apa pun yang kuucapkan rasanya akan terdengar sangat hambar.

──Seharusnya, aku harus melindungi masa depan ini sebelum semuanya dimulai.

Akan menjadi sebuah kebohongan besar jika aku bilang aku tidak pernah berpikir demikian.

Namun jika aku menyuarakannya dalam bentuk kata-kata, rasanya itu hanya akan terkesan sebagai sebuah alasan pembelaan diri belaka.

"……Luna."

Aku mengalihkan arah pandanganku sedikit, lalu menengadah menatap langit.

Bahkan setelah berhasil mendapatkan kembali seluruh ingatanku sekarang, rasa tidak berdaya yang kurasakan kala itu masih belum kunjung sirna.

Namun, yang membedakannya dengan waktu itu adalah──.

"……Perasaan yang kamu rasakan saat ini pastilah bukan sebuah kepalsuan. Rasa sedih ataupun rasa sepi, jika perasaan itu memang benar-benar ada, maka itu mengindikasikan bahwa kamu tidak kehilangan segalanya secara total. Pasti masih ada sesuatu yang tersisa di dalam diri Luna. ……Dulu aku juga pernah kehilangan ingatanku. Kala itu aku sendiri tidak menyadarinya, tapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, kurasa hal-hal yang tersisa itu memang benar-benar ada."

Mendengar kata-kata yang kuucapkan, sepasang mata Luna seketika membelalak lebar.

"……Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya sekarang, kok. Cukup dengan melangkah menggunakan ritme langkahmu sendiri secara perlahan, kurasa kamu pasti akan menemukan kembali bentuk dari kenangan-kenangan tersebut."

"……Iya."

Luna menarik napas dalam-dalam secara perlahan, lalu mengangguk pelan.

Meskipun gurat keraguan yang nyata masih tertinggal di wajahnya, namun kehendak kuat untuk "berusaha menghadapi hal tersebut" tampak terpancar jauh lebih dominan.

Meski saat ini masih belum bisa mengingatnya, namun perasaan itu sendiri akan tetap abadi.

Dan hal itu, pastilah…… akan kembali bersemi jika dibagikan bersama dengan orang lain.

Oleh karena itu, aku ingin terus melangkah bersamanya untuk mencari sisa-sisa kenangan tersebut.

◆◇◆

Keesokan paginya, suara kicauan burung terdengar mengetuk lubuk telingaku, perlahan mengusir kegelapan di balik kelopak mata seiring dengan datangnya cahaya fajar.

Sembari membiarkan tubuhku diselimuti oleh kehangatan kasur futon penginapan yang lembut, aku membuka mataku perlahan.

Dari balik jendela, embusan angin sejuk yang membawa aroma rerumputan tampak menyelinap masuk ke dalam ruangan.

Sembari menikmati sensasi angin khas pagi hari di musim panas tersebut, aku bangkit berdiri dari kasur lalu meregangkan otot-otot tubuhku ringan.

"……Baiklah."

Begitu membuka pintu geser fusuma, aroma sup miso dan kaldu dashi tampak menguar samar di udara, secara alami langsung memicu rasa lapar di dalam perutku.

Aku melangkah keluar menuju lorong dan berjalan ke arah aula utama, di mana Fuuka, Shion, dan Nagisa tampak sedang sibuk menata hidangan makanan.

Kami yang sudah tinggal di tempat ini sejak tiga hari yang lalu, menerapkan sistem rotasi terjadwal untuk urusan menata hidangan makanan, dan kebetulan pagi ini adalah giliran mereka bertiga.

Makanannya sendiri dimasak oleh koki profesional, jadi kami selalu disuguhi hidangan yang sangat lezat setiap harinya. Urusan menata hidangan seperti ini setidaknya adalah hal minimal yang bisa kami lakukan sendiri.

"Ah, Orn, selamat pagi!"

Shion yang menyadari keberadaanku langsung menyunggingkan senyum lebar.

Yukata yang dikenakannya saat ini adalah pakaian standar yang disediakan oleh pihak penginapan, sangat kontras dengan pakaian mewah nan megah yang dikenakannya saat festival kemarin.

Meskipun terkesan sangat sederhana, entah kenapa pakaian itu terlihat sangat cocok untuknya──menciptakan sebuah pesona berbeda yang sangat kontras dengan penampilannya yang meriah, membuatku sempat terpesona sesaat tanpa sadar.

"Selamat pagi."

"S-Selamat pagi!"

Menyusul setelahnya, Fuuka dan Nagisa juga turut memberikan salam sapaan kepadaku.

"Selamat pagi semuanya. Sini, biar aku bantu menata hidangannya juga."

"K-Kami sangat terbantu……!"

Mendengar tawaranku, Nagisa menunjukkan senyuman yang terkesan sedikit kaku.

(……Dia ternyata masih merasa takut kepadaku, ya. Yah, mau bagaimana lagi.)

Sembari mengobservasi Nagisa dari sudut mata, aku bergumam di dalam hati.

Diriku yang sekarang dikenal dengan julukan Maou (Raja Iblis), dan statusku saat ini adalah seorang buronan internasional.

Padahal pada kenyataannya, itu hanyalah sebuah dosa fiktif yang sengaja dikarang oleh Ordo demi mengisolasiku dari lingkungan sosial secara total.

Nagisa seharusnya sudah mendengar fakta tersebut dari Fuuka, namun kesan mendalam yang diberikan oleh sebuah julukan ekstrem tidak akan bisa dihapuskan dengan mudah begitu saja.

Fakta bahwa dia masih mau bertukar kata denganku saat ini sudah lebih dari cukup.

Aku akan meluangkan waktu secara perlahan untuk membangun kembali hubungan kepercayaan di antara kami berdua mulai sekarang.

Sembari menata piring-piring serta membawa mangkuk sup miso yang masih mengepulkan asap hangat, keempat tangan kami terus bergerak aktif, perlahan mengisi atmosfer di dalam ruangan dengan kehangatan suasana pagi hari.

Tidak berselang lama kemudian, satu per satu dari rekan-rekan kami mulai menampakkan batang hidungnya di aula utama.

"Baiklah, dengan ini semuanya sudah siap."

Sembari berkata demikian, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling aula utama, di mana barisan meja makan telah tertata dengan sangat rapi berserta kepulan asap hangat yang menari-nari seolah mengindikasikan bahwa sarapan pagi telah siap dinikmati.

Nasi putih, sup miso, dan ikan bakar. Hidangan sarapan yang dipersiapkan dengan sangat hati-hati tersebut berjejer rapi di atas meja, pemandangan yang sanggup menenangkan hati hanya dengan melihatnya saja.

"Hari ini pun terlihat sangat lezat, ya!"

Wajah Luna seketika berbinar terang.

"Mau dilihat berapa kali pun, ini benar-benar luar biasa……"

"Perutku sudah lapar! Ayo cepat kita makan!"

Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat cerah dan ceria.

Kami semua mengambil posisi duduk di kursi masing-masing, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada.

" "Selamat makan!" "

Suara kami saling bersahutan, menandai dimulainya waktu pagi hari yang berjalan dengan sangat santai.

Fuuka dan Haruto-san tampak menikmati makanan mereka seolah sedang bernostalgia, sedangkan Shion mengangguk puas sembari memisahkan daging ikan bakar menggunakan sumpitnya.

"Kurasa hari ini aku bisa memisahkannya dengan sedikit lebih rapi daripada kemarin."

Mendengar kata-kata itu, Luna menyunggingkan senyum tipis.

Di sisi lain, Oliver justru tampak sedang menatap tajam ke arah sumpitnya yang sedang menjepit nasi putih.

"……Aku sudah bisa menjepitnya dengan benar, tapi mengontrol tingkat kekuatannya ternyata masih sangat sulit, ya."

"Sumpit itu memang memiliki tingkat kesulitan yang tidak terduga, sih."

Sembari memberikan respons ringan terhadap kata-kata Oliver, aku mengangkat mangkuk sup miso di tanganku.

Bersamaan dengan kepulan asapnya, aroma dashi yang menenangkan langsung merayap membelai hidungku.

Saat menyesapnya satu kali, rasa asin yang lembut berserta kelezatan rasa umami langsung menyebar memenuhi seluruh rongga mulutku.

"……Sup miso di pagi hari memang selalu memiliki keistimewaan tersendiri, ya."

Mendengar kalimat yang spontan lolos dari bibirku tersebut, Fuuka langsung memberikan respons.

"Orn, kamu memang mengerti selera yang bagus."

Begitu Fuuka berkata demikian dengan nada yang sedikit bangga, Shion dan Nagisa spontan melepaskan tawa kecil mereka.

Oliver kembali memfokuskan dirinya menghadap meja makan dengan tenang, sedangkan Luna mendekatkan piring kecilnya perlahan sembari tersenyum, "Ini juga sangat lezat, ya."

Kepulan asap yang menari di atas tikar tatami, pancaran sinar matahari pagi yang menyelinap masuk dari balik jendela, hingga aroma kaldu dashi yang mengambang di udara──seluruh komponen tersebut bersatu membentuk sebuah potret kedamaian yang utuh.

Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara secara menggebu-gebu, namun keheningan yang tercipta di antara kami sama sekali tidak terasa canggung.

Suasana pagi hari di penginapan yang telah menjadi hal familier bagi kami selama tiga hari terakhir, kini terpampang nyata di depan mata.

Sembari menikmati kemewahan waktu berharga yang dihabiskan bersama dengan rekan-rekan di meja makan, aku terus menggerakkan sumpitku untuk menyantap makanan.

◆◇◆

"Nah, kalau begitu. Orn, Festival Reibu sudah selesai dengan aman dan Kyokuto juga sudah kembali ke aktivitas normalnya, jadi bisa kita asumsikan kalau pergerakan krusial kita dimulai hari ini, kan?"

Tepat di saat semua orang telah selesai menyantap makanan mereka dan sedang beristirahat sejenak, Haruto-san melontarkan sebuah pertanyaan.

Proses pemulihan terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat ritual pemanggilan dewa oleh Philly tiga hari yang lalu, saat ini masih terus berjalan.

Meskipun begitu, berbagai sektor yang sebelumnya bergerak dengan sangat sibuk demi menyukseskan jalannya Festival Reibu, kini situasinya pasti sudah jauh lebih tenang.

"Uhm. Pertama-tama──kita akan melenyapkan segala bentuk ancaman yang berpotensi memicu masalah di masa depan."

Alasan utama kami datang ke Kyokuto adalah untuk merebut kembali negara ini dari cengkeraman Ordo. Dan alasan selanjutnya, adalah untuk melakukan investigasi mengenai hukum dunia.

Terkait alasan pertama, sebagian besar targetnya telah berhasil tercapai seiring dengan terusirnya Philly dari tempat ini.

Namun, sisa-sisa anggota Ordo dipastikan masih banyak yang berkeliaran di dalam wilayah Kyokuto.

Kita harus melumpuhkan sisa-sisa anggota tersebut sembari mengambil tindakan tegas agar pasukan Ordo selanjutnya tidak akan bisa menginjakkan kaki mereka di dalam wilayah Kyokuto lagi.

Meskipun aku ingin segera bergegas melakukan investigasi mengenai hukum dunia, namun membangun lingkungan yang kondusif agar kami bisa fokus melakukan investigasi adalah hal krusial yang harus dipersiapkan terlebih dahulu.

"Persis seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, kita akan membagi pergerakan kita menjadi tiga kelompok dan bergerak secara serentak."

Begitu aku membuka suara untuk membagi tugas, semua orang secara alami langsung memosisikan tubuh mereka dengan tegak.

"Aku, Oliver, dan Luna, kami bertiga akan pergi mengitari labirin-labirin yang ada di dalam negeri."

Shion langsung memberikan respons terhadap kata-kataku.

"Itu karena sihir teleportasi jarak jauh yang digunakan oleh Ordo, memanfaatkan inti labirin sebagai medianya, kan?"

Aku mengangguk setuju terhadap perkataannya sebelum kembali melanjutkan penjelasan.

"Benar sekali. Meskipun saat ini wilayah Kyokuto telah diselimuti oleh penghalang yang menghambat sihir teleportasi, namun penghalang tersebut pada aslinya adalah sesuatu yang dibangun oleh pihak Ordo sendiri. Jadi, kita harus mengambil tindakan pencegahan ekstra untuk memastikan keamanannya."

"Dengan kata lain, tugas kelompok kita adalah pergi menuju bagian terdalam dari setiap labirin yang ada di Kyokuto, lalu mengukir formula sihir yang menghambat sihir teleportasi tepat di bagian inti labirinnya demi mencegah infiltrasi pasukan musuh selanjutnya, begitu kan?"

Mendengar konfirmasi dari Luna, aku memberikan anggukan kecil.

"Uhm. Itulah tugas kelompok kita."

Mengingat area operasi kami berada di dalam labirin, aku memutuskan untuk membawa Oliver dan Luna yang memiliki keahlian tinggi dalam urusan penjelajahan labirin.

"Lalu tugas kelompok kami adalah menjalin relasi dan jaringan dengan berbagai pihak di Kyokuto, begitu?"

Haruto-san memastikan tugasnya sembari menyunggingkan senyuman tipis yang penuh percaya diri.

"Uhm. Aku ingin menyerahkan tugas itu kepada Haruto-san, Katina-san, dan Huey-san."

Aku mengangguk untuk memberikan konfirmasi mutlak.

Fakta mengenai kembalinya Fuuka telah diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat melalui perantara Festival Reibu kemarin.

Bersamaan dengan momen tersebut, dia juga telah mendeklarasikan penolakannya terhadap posisi sebagai seorang putri secara langsung menggunakan mulutnya sendiri.

Namun, tidak menutup kemungkinan akan adanya pihak-pihak yang berusaha untuk mendesak dan mengangkat kembali posisi Fuuka sebagai seorang putri.

Oleh karena itu, Haruto-san dan yang lainnya harus menjalin relasi dengan berbagai pihak sebagai perwakilan dari Fuuka, sekaligus mempersiapkan skenario untuk menyerahkan takhta kepemimpinan publik kepada Nagisa.

"Lalu aku akan pergi bersama dengan Fuuka untuk bergabung dengan Tershe, kan?"

Begitu Shion memastikan tugasnya, Fuuka yang berada di sebelahnya juga turut mengangguk pelan dengan tenang.

"Uhm, aku ingin kalian membantu Tershe-san yang sudah bergerak lebih dulu untuk menyelidiki wilayah internal Kyokuto. Pergerakan di seberang lautan──seperti Federasi Ludain ataupun wilayah daratan utama tidak boleh kita abaikan begitu saja, lagipula dia pasti sudah mengantongi informasi terkait sisa-sisa anggota Ordo yang masih berkeliaran di dalam negeri."

Mendengar instruksiku, mereka berdua mengangguk mantap.

Tepat di saat konfirmasi ulang mengenai pembagian tugas masing-masing telah selesai dan semua orang bersiap untuk bergerak──.

"──T-Tolong tunggu sebentar!"

Nagisa yang sedari tadi hanya menyimak percakapan kami dalam diam mendadak meninggikan suaranya.

Namun, wajahnya tampak tertunduk dalam, membuat kami tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini.

"Nagisa, ada apa?"

Fuuka melontarkan pertanyaan dengan nada suara yang sangat lembut.

"……Sebenarnya, ada sebuah hal yang harus kuminta maaf kepada Orn-san……!"

"Meminta maaf kepadaku……?"

"…………Iya. Sebenarnya aku ingin meminta maaf secepat mungkin, tapi……"

Jawaban tersebut terdengar sedikit bergetar, dan kepalan tangan yang dicengkeramnya erat di atas lutut pun tampak menegang hebat.

"Karena proses pemulihan pascabencana serta urusan Festival Reibu yang sangat padat…… tanpa kusadari, waktu sudah berjalan hingga hari ini……"

Nagisa tidak mampu lagi untuk melanjutkan kata-katanya, menyisakan keheningan mendalam yang menyelimuti seluruh aula utama.

Setelah mengamati situasi tersebut selama beberapa saat, Oliver akhirnya membuka suara dengan tenang.

"Ah…… Jika ini adalah urusan pribadi di antara kalian berdua, apakah sebaiknya kami keluar dari ruangan ini terlebih dahulu?"

Mendengar pertanyaan yang dilandasi oleh rasa kepedulian tersebut, Luna juga turut mengarahkan tatapan mata yang dipenuhi rasa cemas ke arah Nagisa.

"T-Tidak perlu……!"

Nagisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat secara berulang kali.

"Jika diperbolehkan, aku ingin semua orang yang berada di ruangan ini juga turut mendengarkan penjelasanku……!"

Meskipun suaranya terdengar bergetar, namun kata-kata tersebut mengandung sebuah kehendak kuat yang sangat nyata.

Sembari mengangkat wajahnya secara perlahan, Nagisa mengarahkan pandangan matanya lurus tepat ke arahku.

"Orn-san…… Dalam pertemuan konferensi tingkat tinggi yang diadakan dua bulan lalu, aku──mengambil posisi setuju terhadap proposal untuk menjadikanmu sebagai buronan internasional."

Sembari berkata demikian, kedua bahu Nagisa tampak bergetar hebat, dan kepalan tangannya dicengkeram dengan sangat kuat hingga memutih.

Konferensi tingkat tinggi yang dimaksud adalah sebuah pertemuan di mana para pemimpin negara serta pihak-pihak otoritas terkait berkumpul di satu tempat demi merumuskan tindakan penanggulangan terhadap ancaman monster yang mulai mewabah di permukaan bumi.

Dalam pertemuan tersebut, penguatan kerja sama antarnegara berhasil disepakati, dan penaklukan labirin agung ditetapkan sebagai prioritas utama yang harus diselesaikan oleh umat manusia secara bersama-sama.

──Dan tempat itu juga merupakan saksi bisu di mana statusku sebagai buronan internasional resmi diputuskan.

Pengakuan tersebut memiliki bobot yang sangat berat, sanggup mengubah atmosfer di dalam ruangan menjadi sangat tegang dalam sekejap mata.

Meskipun begitu, Nagisa memilih untuk tidak melarikan diri dan tetap melanjutkan kata-katanya.

"Fakta bahwa adanya tekanan dari pihak Ordo memang benar adanya. Namun meskipun demikian,…… fakta bahwa akulah yang mengangkat tangan setuju di tempat itu tetap tidak akan berubah. Sebagai dampaknya, akulah yang menjadi salah satu faktor penyebab dirimu terpojok seperti saat ini."

Nagisa menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Saya benar-benar…… meminta maaf yang sebesar-besarnya!"

Nagisa tetap mempertahankan posisinya yang menunduk dalam tanpa bergerak sedikit pun.

Melihat sosoknya yang seperti itu, aku akhirnya menyadari sesuatu. ……Bahwa selama ini aku telah salah paham terhadap dirinya.

Kukira sikap kaku yang ditunjukkan oleh Nagisa selama ini adalah karena dia menyimpan rasa takut yang amat sangat terhadap diriku.

Namun pada kenyataannya, sikap tersebut lahir dari rasa bersalah yang mendalam karena tindakannya di masa lalu telah berkontribusi menjadikan diriku sebagai seorang kriminal buronan internasional.

Jika memang demikian situasinya, maka kesalahpahaman ini harus segera diluruskan secepat mungkin.

"Angkat wajahmu. Itu bukan sebuah hal yang membuatmu harus meminta maaf kepadaku, kok. Akulah yang justru harus meminta maaf karena telah membuatmu menderita seperti ini."

"T-Tidak mungkin! Orn-san sama sekali tidak memiliki alasan untuk meminta maaf……!"

"Tidak, dalam kasus ini, akulah pihak yang sepenuhnya bersalah. Karena status sebagai buronan internasional tersebut, sebenarnya adalah hal yang kuinginkan sendiri."

"…………Eh?"

"Aku tahu kalau diriku telah menjadi incaran utama dari pihak Ordo. Ditambah lagi, cepat atau lambat mereka pasti akan mengarahkan ujung tombak serangan mereka ke arah Yaten no Ginko (Kelinci Perak Langit Malam)."

Aku menghentikan kata-kataku sejenak, menunggu respons dari Nagisa sebelum kembali melanjutkan penjelasan.

"Sosok yang menjadi target mereka cukup diriku saja. Aku harus mengeluarkan Yaten no Ginko dari daftar target buruan mereka."

"……Karena itulah kamu memilih menjadi buronan internasional? Tapi, bagaimana caranya? Padahal Orn-san sama sekali tidak menghadiri pertemuan tersebut……"

"Urusan itu, aku memintanya sebagai sebuah permohonan kepada Yang Mulia Lucila. Aku memintanya untuk mengajukan proposal yang menjadikan diriku sebagai buronan internasional di dalam pertemuan konferensi tingkat tinggi tersebut. Jika skenario itu berjalan, maka Kerajaan Nohitant yang menjadi markas utama dari Yaten no Ginko bisa menunjukkan kepada publik internasional bahwa mereka telah memutus hubungan denganku, kan?"

"……Kalau dipikir-pikir lagi, sosok yang mengajukan proposal tersebut memang Putri Lucila……"

Penjelasan yang kusampaikan tampaknya memberikan dampak kejutan yang sangat besar bagi Nagisa, membuatnya hanya bisa membelalakkan mata lebar-lebar dalam keheningan.

"Nagisa, semua hal yang diucapkan oleh Orn adalah sebuah kebenaran."

Fuuka yang sedari tadi hanya menyimak jalannya percakapan akhirnya membuka suara.

"Kak Fuuka……"

"Aku juga berada di tempat yang sama saat Orn dan Lucila membicarakan mengenai rencana tersebut. Orn memang menyatakan kalau dirinya bersedia untuk menanggung seluruh beban dosa dari insiden itu sendirian. Dan Lucila bergerak menindaklanjuti kehendak tersebut untuk menjadikan Orn sebagai buronan internasional."

"…………"

"Oleh karena itu, Nagisa tidak perlu merasa bersalah ataupun membebani pikiranmu lagi."

Mendengar kata-kata Fuuka, Nagisa kembali menundukkan wajahnya sembari menggigit bibirnya erat-erat.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan untuk beberapa saat.

"……Meskipun begitu, aku tetap tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri……"

Sembari berkata demikian, Nagisa mengangkat wajahnya yang kini telah digenangi oleh air mata.

"Aku…… tidak memiliki kekuatan untuk menentang perintah dari Ordo sampai akhir……!"

Suara tersebut terdengar bukan seperti sebuah teriakan, melainkan seperti sebuah rintihan yang dipaksakan keluar dari lubuk hatinya.

Aku terus menatap ke arahnya tanpa memalingkan pandangan mataku sedikit pun.

Di dalam lubuk hatiku yang terdalam, rasa sakit yang sangat familier perlahan-lahan mulai menyebar kembali.

"……Nagisa."

Aku menatap lurus ke arah sepasang matanya sembari merajut kata-kata.

"Kita tidak akan pernah bisa untuk selalu melangkah di atas jalan yang benar. Jika ada seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan di dunia ini, itu mengindikasikan bahwa sosok tersebut sebenarnya sama sekali tidak melangkah maju ke depan. Kesalahan ataupun penyesalan adalah sebuah bukti konkret bahwa kita telah melangkah maju. Dan di ujung jalan tempat kita melangkah, kita akan kembali dihadapkan pada sebuah persimpangan jalan yang baru. Apakah kamu memilih untuk berhenti di tempat tersebut, ataukah kamu memilih untuk terus melanjutkan langkahmu?"

Nagisa terus menatapku dengan sepasang mata yang membelalak lebar.

Oleh karena itu, aku kembali melanjutkan kata-kataku.

"Fakta bahwa Nagisa bersedia untuk mengakui kelemahan dirimu sendiri di tempat ini. Itu adalah sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada sekadar mematuhi perintah orang lain dalam diam."

"……Keberanian?"

"Benar sekali. Menghadapi kelemahan yang ada di dalam diri sendiri adalah sebuah hal yang menakutkan bagi siapa pun. Ada kalanya kita juga ingin melarikan diri dari kenyataan tersebut. Namun kamu, saat ini, telah memilih untuk menghadapinya dengan jantan. Jika demikian situasinya, maka kamu──bukan lagi sosok manusia yang hanya bisa patuh dan tunduk pada perintah orang lain. Mulai sekarang, kamu bisa melangkah menggunakan kehendak dan keputusanmu sendiri."

Butiran air mata yang menggenang di sepasang mata Nagisa perlahan jatuh menetes ke bawah.

Namun, gurat kegelapan yang sebelumnya menyelimuti raut wajahnya kini telah sirna sepenuhnya.

"……Apakah aku, benar-benar bisa berubah?"

Mendengar gumaman lirih Nagisa, Fuuka perlahan mendekatkan tubuhnya untuk memberikan ketenangan.

"Di saat kamu memiliki keinginan untuk berubah, pada momen itulah proses perubahan di dalam dirimu sebenarnya telah dimulai. Jadi jangan khawatir. Nagisa pasti bisa menjadi sosok manusia yang kuat."

"Terima kasih, Kak Fuuka."

Mendengar kata-kata Fuuka, Nagisa akhirnya menyunggingkan senyuman tipis──sebuah senyuman yang samar, namun memancarkan seberkas rasa bangga yang sangat nyata.

◆◇◆

Negara Kyokuto ini memiliki sebuah gunung suci yang berdiri kokoh tepat di bagian titik pusatnya, dan wilayah di sekitarnya terbagi menjadi empat daerah utama yang meliputi arah barat, timur, selatan, dan utara.

Bagian selatan adalah ibu kota Hanemiya, yang bertindak sebagai pusat kebudayaan serta roda pemerintahan negara.

Bagian barat adalah Tsuranami, sebuah kota yang memegang kendali atas urusan perdagangan internasional, menjadikannya sebagai jalur maritim krusial tempat berkumpulnya berbagai komoditas logistik serta kebudayaan asing.

Selain itu, negara ini juga ditopang oleh Honae yang berada di bagian utara sebagai kota pertanian penyedia pangan dalam skala masif, serta Shiohara di bagian timur sebagai kota nelayan penghasil komoditas garam laut yang melimpah.

"Mau dilihat kapan pun, lautan memang selalu terasa sangat luas, ya."

Melihat hamparan samudra luas yang membentang nyata di depan mata, sebuah kalimat spontan lolos dari bibirku.

Kami yang langsung bergegas mengitari berbagai labirin yang ada di penjuru negeri, kini telah menginjakkan kaki di wilayah Shiohara.

"Angin lautnya terasa sangat menyejukkan, ya."

Sembari menahan rambutnya yang berkibar tertiup angin laut, Luna menarik napas dalam-dalam secara perlahan, menyipitkan kedua matanya seolah sedang menikmati aroma payau khas lautan secara maksimal.

"Kalau tidak salah, dulu saat kita pergi ke laut bersama dengan Ogon no Shoko (Fajar Emas), Aneri sempat mengeluh berisik karena rambutnya rusak akibat air laut, kan?"

Oliver mengenang kembali memori masa lalu tersebut dengan nada suara yang dipenuhi rasa rindu.

Sebagai informasi tambahan, Aneri dan Derick saat ini telah bergabung ke dalam unit operasional Amuntsars di Kadipaten Hitia, membuat mereka sibuk bergerak mengitari berbagai penjuru daerah.

"Kejadian seperti itu memang pernah ada, ya. Hehe, benar-benar sangat membuat rindu."

Shiohara adalah sebuah kota yang dipenuhi oleh kehangatan aktivitas masyarakat berserta aroma khas lautan yang pekat.

Suara lantang dari para nelayan yang baru saja kembali dari aktivitas melaut pagi hari terdengar bersahutan, dan di sepanjang gang-gang kecil tampak berjejer rapi berbagai komoditas hasil laut segar serta ikan asin tangkapan pagi ini.

Sebuah atmosfer kemeriahan yang sangat berbeda dengan situasi di ibu kota Hanemiya tampak menyelimuti seluruh penjuru kota ini.

"Target labirin kita selanjutnya sepertinya berada di ujung tanjung yang ada di depan sana. Katanya pintu masuknya akan tertutup dan tidak terlihat akibat dampak dari pasang surut air laut."

Sembari memastikan lokasi labirin target melalui perantara peta di tanganku, aku memberikan penjelasan kepada mereka berdua.

"Labirin yang berkaitan dengan ekosistem laut, ya…… Sudah lama sekali rasanya tidak mengunjungi tempat seperti itu."

Oliver bergumam sembari meregangkan otot-otot tubuhnya ringan.

"Jika areanya dipenuhi oleh banyak genangan air, maka pergerakan kaki kita akan menjadi sangat mudah terhambat, jadi kita harus meningkatkan kewaspadaan kita secara ekstra."

Luna juga turut menimpali dengan nada suara yang serius, namun entah kenapa di dalamnya samar-samar tersirat warna yang terdengar menyenangkan.

Kami bertiga terus melangkah maju menuju labirin sembari saling bertukar gurauan satu sama lain.

Suara burung laut, deburan ombak, hingga pancaran sinar matahari yang terik melingkupi sekitar──membuat segala komponen tersebut terasa jauh lebih cerah dari biasanya.

Perasaan tegang yang berpadu serasi dengan rasa antusias yang pas, selalu timbul setiap kali kami hendak menuju sebuah labirin yang belum pernah terjamah sebelumnya.

Ditambah lagi dengan percakapan ringan tanpa arah bersama dengan rekan seperjuangan.

Rangkaian pemandangan yang terasa sangat familier seolah menarikku kembali ke masa-masa awal saat pertama kali meniti karier sebagai seorang penjelajah, seketika memicu rasa rindu yang mendalam di lubuk hatiku.

"……Suasana seperti ini, ternyata tidak buruk juga."

Mendengar gumaman lirih yang spontan lolos dari bibirku tersebut, Luna memiringkan kepalanya dengan raut wajah yang tampak penasaran.

"Orn-san, apa kamu mengatakan sesuatu tadi?"

"Tidak, aku hanya sedang sedikit mengenang masa lalu saja."

"Masa lalu, ya?"

Oliver memastikan hal tersebut dari samping dengan sudut matanya.

"Uhm. Saat melangkah seperti ini, entah kenapa aku mendadak teringat kembali pada diriku sendiri di masa lalu yang selalu memaksakan diri untuk terlihat hebat."

"Fufuh, kalau soal itu, kurasa aku juga merasakan hal yang sama."

Luna menyunggingkan senyuman yang sangat lembut.

"Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan ketegangan yang pas seperti ini."

"……Benar juga, ya."

Sembari membiarkan tubuhku dibelai oleh embusan angin laut yang sejuk, aku mengarahkan pandangan mataku sedikit jauh ke depan.

Di dalam labirin yang akan kami tuju setelah ini pun, tumpukan tugas yang harus kuselesaikan sudah menanti dalam jumlah yang sangat masif.

Akan tetapi──jika di sela-sela waktu tersebut aku bisa menikmati momen kedamaian seperti ini, maka beban tugas tersebut rasanya sama sekali tidak buruk.

Sembari membiarkan suara deburan ombak laut terus mengiringi langkah dari arah belakang, kami bertiga kembali melanjutkan langkah kaki menuju labirin.

◆◇◆

Sekitar dua minggu telah berlalu sejak kami mulai mengukir formula sihir di setiap inti labirin yang tersebar di berbagai penjuru daerah.

Sejauh ini prosesnya berjalan dengan sangat lancar tanpa adanya kendala ataupun masalah yang berarti.

Setelah bertolak dari wilayah timur Shiohara, kami bergerak melintasi wilayah utara Honae sembari berburu monster yang sesekali menampakkan diri di permukaan bumi, hingga akhirnya kini kami telah menginjakkan kaki di wilayah barat Tsuranami.

Di tempat ini, aku memutuskan untuk berpisah jalan sementara waktu dengan Luna dan Oliver demi bergegas menuju ke lokasi Shion dan yang lainnya yang sedang bergerak di Tsuranami.

Begitu aku tiba di titik lokasi pertemuan yang telah disepakati sebelumnya, dari seberang jalan tampak sebuah sosok yang sangat familier langsung tertangkap oleh pandangan mataku.

"Orn! Sudah lama tidak bertemu!"

Shion yang menyadari keberadaanku langsung melambaikan tangannya sembari menyuarakan nada kegembiraan yang sangat jelas.

Senyuman manis yang terpancar dari balik helaian rambutnya yang berkibar pelan tertiup angin laut, entah kenapa seketika memberikan sensasi kehangatan yang menenangkan di dalam dadaku.

"Uhm, sudah lama tidak bertemu. Tershe-san juga."

"Sudah lama tidak bertemu, Yang Mulia Orn. Tanpa perlu membuang waktu lebih lama lagi, izinkan saya untuk menyampaikan poin-poin laporan terkait hasil investigasi yang telah berhasil kami himpun sejauh ini."

Tershe melangkah maju satu langkah ke depan, lalu merangkum situasi terkini secara padat dan lugas.

Pergerakan dari pihak Federasi Ludain maupun wilayah daratan utama, target sisa-sisa anggota Ordo yang terindikasi masih bersembunyi di dalam negeri, hingga rumor-rumor kecil yang beredar di sekitar wilayah Tsuranami berhasil dirangkumnya secara menyeluruh tanpa menyisakan satu pun detail yang terlewat.

"Berhasil menghimpun informasi sebanyak ini dalam kurun waktu yang sangat singkat…… Seperti yang diharapkan darimu, hebat sekali."

"Saya merasa sangat terhormat atas pujian Anda. Namun, ada satu poin penting yang menjadi perhatian utama saya saat ini."

"Sebuah perhatian utama?"

"Benar. Informasi yang masuk dari wilayah daratan utama terindikasi memiliki kecondongan yang sangat tidak wajar. Kemungkinan besar fakta terkait dampak kerusakan akibat monster serta situasi perkembangan penaklukan labirin agung di sana sengaja disembunyikan dari publik."

Dalam pertemuan konferensi tingkat tinggi beberapa waktu yang lalu, penaklukan labirin agung telah ditetapkan sebagai prioritas utama yang harus diselesaikan oleh umat manusia secara bersama-sama.

Lokasi dari Labirin Agung Timur sendiri berada di negara tetangga, yaitu Federasi Ludain yang letaknya berada tepat di seberang lautan.

Dalam situasi normal, perkembangan mengenai proses penaklukan di sana seharusnya akan menjadi konsumsi publik yang terdengar dengan sendirinya terlepas dari apakah kita menyukainya atau tidak.

Fakta bahwa informasi mengenai labirin agung tersebut sengaja disembunyikan, pada aslinya adalah sebuah anomali yang sangat tidak masuk akal.

Bagaimanapun juga, perkembangan mengenai proses penaklukan tersebut adalah hal krusial yang akan menentukan arah masa depan umat manusia selanjutnya.

"……Jika kita berasumsi bahwa pihak Federasi sedang melakukan pembatasan informasi secara ketat, maka tidak menutup kemungkinan bahwa informasi yang saat ini berhasil kita kantongi sengaja dipalsukan oleh mereka, ya."

Mendengar gumaman yang kulontarkan, Tershe memberikan anggukan setuju.

"Benar sekali. Mengingat informasi dari wilayah daratan utama untuk saat ini masih belum bisa kita pastikan validitasnya secara nyata, saya rasa akan sangat bijaksana bagi kita untuk tidak terlalu memercayainya secara mentah-mentah."

"Aku setuju. Untuk saat ini, mari kita fokuskan seluruh tenaga kita untuk meringkus sisa-sisa anggota Ordo yang masih berkeliaran di dalam negeri terlebih dahulu. Tolong jalin kerja sama dengan Nagisa dan yang lainnya untuk menangani urusan ini. Jika kalian kekurangan tenaga bantuan, aku bersedia untuk turun tangan secara langsung."

"Saya sangat menghargai kebaikan hati Anda. Jika situasi mendesak yang membutuhkan kekuatan besar dari Yang Mulia Orn terjadi, saya pasti akan segera menyampaikannya kepada Anda tanpa ragu."

"Tidak perlu sungkan. Akulah yang justru sangat terbantu karena adanya Tershe di tempat ini."

Begitu aku berkata demikian, Tershe mendadak menutup mulutnya sejenak seolah sedang menahan kata-kata yang hendak diucapkannya.

Namun tidak berselang lama kemudian, dia memantapkan pandangan matanya lurus tepat ke arahku seolah baru saja mengambil sebuah keputusan bulat.

"……Baiklah, dengan ini laporan resmi dari saya telah selesai. Berikutnya, ini adalah sebuah urusan pribadi dari diri saya sendiri──namun, ada satu hal yang ingin saya mohonkan kepada Yang Mulia Orn."

"Sebuah permohonan, kepadaku?"

"Benar. Tolong, bisakah…… Anda berhenti menggunakan gaya bahasa yang terlalu formal dan sopan seperti itu saat berbicara dengan saya mulai sekarang?"

"Eh?"

Mendengar sebuah permohonan yang sama sekali tidak terduga tersebut, aku spontan melontarkan pertanyaan kembali untuk memastikan, yang kemudian langsung direspons oleh Tershe dengan sebuah dehaman kecil sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.

"Saya adalah seorang pelayan setia dari Nona Shion. Oleh karena itu, posisi saya sama sekali tidak pantas untuk menerima perlakuan yang terlalu sopan dari sosok pria yang…… akan menjadi calon suami dari Nona Shion di masa depan."

"T-Tunggu sebentar!? Tershe!?"

Shion yang sedari tadi hanya menyimak percakapan kami dalam diam dari samping, seketika langsung merona hebat dengan raut wajah yang tampak panik luar biasa.

Helaian rambutnya yang berkibar ditiup angin laut bahkan terlihat ikut bergerak berantakan seiring dengan gerakan paniknya.

"T-Tunggu dulu, kenapa topiknya mendadak melompat ke arah sana!? S-Soal calon suami itu, k-kami masih belum melangkah sampai sejauh……!"

Tershe menyipitkan sepasang matanya perlahan sembari menunjukkan senyuman hangat yang penuh arti.

"Namun menurut pandangan saya pribadi, probabilitas mengenai hal tersebut tergolong sangat tinggi, lho."

Cara Tershe berbicara saat ini memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa dia sedang sangat menikmati reaksi kepanikan dari Shion.

"Itu masih terlalu cepat tahu……! Y-Yah, kalau ditanya mengenai masa depan…… aku juga tidak menampik kalau aku memiliki pemikiran ke arah sana, sih…… tapi tetap saja……!"

"Fufufu. Jika demikian situasinya, bukankah itu berarti tidak ada masalah sama sekali?"

"Uuuh…… Tershe, kamu sebenarnya sengaja sedang bersenang-senang di atas penderitaanku, kan?"

"Mana mungkin hal seperti itu terjadi. Tidak mungkin seorang pelayan seperti saya tega bersenang-senang melihat reaksi dari Nona Shion yang sangat saya hormati, bukan?"

(Tidak, dari sudut pandang mana pun, kamu jelas-jelas sedang sangat menikmati momen ini kok──)

Sembari bergumam demikian di dalam hati, aku mengalihkan arah pandanganku ke arah Shion yang berada di sebelahku.

Melihat seluruh area wajahnya hingga ke bagian ujung telinga merona merah padam seperti ini, rasanya adalah sebuah pemandangan langka yang baru pertama kali kusaksikan secara langsung.

"O-Orn……! Tolong jangan masukkan ke dalam hati, ya!? Tershe hanya sedang membual dan bercanda saja, kok……!"

Shion menggerakkan kedua tangannya panik di depan dada, berusaha keras untuk mengalihkan topik pembicaraan──namun gurat rona merah di kedua telinganya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Meskipun aku tahu kalau Tershe saat ini memang sedang sengaja menggoda Shion, namun argumen yang disampaikannya tadi harus kuakui memiliki poin kebenaran yang sangat rasional.

Lagipula, aku sendiri menyatakan perasaanku kepada Shion bukan didasari oleh sebuah komitmen yang setengah-setengah.

"Aku mengerti kok. Tapi Tershe-san──tidak, apa yang disampaikan oleh Tershe barusan menurutku memang ada benarnya. Baiklah, mulai sekarang aku akan berinteraksi dengan Tershe menggunakan gaya bahasa yang lebih santai dan natural."

"Saya sangat menghargai keputusan Anda, Yang Mulia Orn. Sama halnya dengan Nona Shion, saya berjanji akan mengabdi kepada Anda dengan segenap jiwa dan raga saya."

"Uhm, mohon bantuannya mulai sekarang, Tershe."

◆◇◆

Setelah situasi Shion telah kembali tenang seperti sediakala, aku memutuskan untuk berpisah dengan mereka berdua demi bergegas menyusul Luna dan Oliver yang telah bergerak lebih dulu menuju labirin terdekat.

"Apakah proses pertukaran informasi dengan Shion-san dan yang lainnya berjalan dengan lancar?"

Begitu aku menginjakkan kaki di area pintu masuk labirin, Luna yang menyadari keberadaanku langsung melontarkan pertanyaan sapaan.

"Uhm, semuanya berjalan dengan sangat lancar tanpa kendala."

Sembari memberikan jawaban kepada Luna, aku mengalihkan arah pandanganku ke arah Fuuka yang sedang berdiri bersama dengan mereka berdua.

"……?"

Fuuka memiringkan kepalanya ringan dengan raut wajah polos, sembari memegang tusukan daging bakar di kedua belah tangannya.

Oliver dan Luna pun ternyata juga terlihat sedang memegang satu tusuk daging bakar di tangan masing-masing.

Alasan mengapa sosok Fuuka tidak terlihat saat aku sedang menerima laporan dari Tershe tadi, ternyata adalah karena dia dijadwalkan untuk ikut berpartisipasi dalam agenda penjelajahan labirin hari ini.

"……Kenapa kalian semua kompak sedang memegang tusuk daging bakar seperti itu?"

"Karena tadi ada yang jualan di dekat sini."

Fuuka memberikan jawaban dengan nada santai tanpa beban sembari terus mengunyah daging bakar di mulutnya secara lahap.

"Orn mau satu?"

"……Boleh, terima kasih."

Tepat di saat aku menerima tusukan daging bakar yang disodorkannya sembari mengembuskan napas ringan, Fuuka kembali membuka suara.

"Oh iya, Orn."

Sembari terus mengunyah daging bakar di mulutnya, Fuuka berucap dengan nada suara yang terkesan sangat santai seperti biasanya.

"Begitu agenda penjelajahan labirin hari ini selesai, ada seseorang yang ingin kuperkenalkan kepadamu."

"Baiklah. Aku akan meluangkan waktu untuk itu nanti."

"Uhm."

Sembari terus bertukar kata ringan, kami berempat bergegas menghabiskan sisa daging bakar masing-masing sebelum akhirnya memantapkan langkah kaki untuk masuk ke dalam labirin.

Selesai mengukir formula sihir penghambat teleportasi di dalam inti labirin yang memakan waktu hingga beberapa jam tersebut, kami akhirnya melangkah keluar kembali ke permukaan bumi, di mana pemandangan langit saat ini telah mulai didominasi oleh semburat warna merah senja.

"Ternyata memakan waktu yang jauh lebih lama dari perkiraan kita sebelumnya, ya."

Luna mengembuskan napas lega ringan sembari melontarkan kalimat tersebut.

"Wajar saja, labirin yang kita jelajahi kali ini memang memiliki struktur area yang sangat luas, sih."

Oliver yang telah berhasil mengendurkan ketegangan tubuhnya memberikan anggukan setuju terhadap perkataan Luna.

"Fuuka, maaf ya sudah membuatmu menunggu hingga selarut ini. Kamu tidak apa-apa, kan?"

"Aku tidak apa-apa, kok. Tapi daripada memikirkan hal itu, sekarang aku ingin segera makan malam. Perutku sudah sangat lapar."

Melihat sikap Fuuka yang selalu bertingkah konstan seperti biasanya tanpa terpengaruh oleh situasi sekitar, aku hanya bisa menyunggingkan senyum kecut.

Meskipun saat ini dia telah menanggalkan posisinya sebagai seorang putri atas kehendaknya sendiri, namun fakta bahwa Fuuka adalah sosok yang berada di kasta tertinggi dalam hierarki kebangsawanan negara ini tetap tidak akan berubah.

Menilai dari pola perilaku Fuuka sejauh ini, sosok yang ingin diperkenalkannya kepadaku nanti pastilah tipe orang yang memiliki fleksibilitas tinggi dan mudah diajak berkompromi, jadi kurasa aku akan menyikapinya dengan pikiran positif saja.

Tidak berselang lama kemudian, kami berempat akhirnya tiba di kediaman vila sekunder milik keluarga Asagiri yang berada di wilayah Tsuranami.

Tepat saat pintu utama dibuka, aroma harum masakan yang sangat menggugah selera langsung menusuk hidungku.

"Selamat datang kembali. Hidangan makan malamnya kebetulan baru saja selesai dimasak."

Tershe yang sedari tadi berada di area dapur langsung melangkah maju menuju ke arah koridor depan untuk menyambut kedatangan kami.

Di atas meja makan, tampak telah berjejer rapi mangkuk sup miso, ikan bakar, hingga berbagai hidangan pelengkap berukuran kecil lainnya.

"……Luar biasa. Jadi kamu bahkan menguasai teknik memasak hidangan tradisional Jepang juga, ya?"

Sebuah kalimat pujian yang dilandasi rasa kagum spontan lolos dari bibirku.

"Ini hanyalah sebuah keahlian hasil dari meniru apa yang saya lihat dari orang lain semata. Kemampuan saya masih jauh di bawah standar jika dibandingkan dengan koki profesional yang asli."

Tershe menundukkan kepalanya ringan seolah sedang merendah, namun pancaran raut wajahnya mengindikasikan dengan sangat jelas bahwa dia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap kualitas masakan yang dibuatnya tersebut.

Tidak berselang lama kemudian, Shion yang sebelumnya berada di ruangan lain juga turut bergabung, membuat kami semua kini telah berkumpul di satu meja makan untuk menyantap hidangan bersama.

Begitu mengambil sumpit di tangannya, Fuuka langsung melahap daging ikan bakar di depannya tanpa ragu.

"……Lezat."

Meskipun kalimat yang lolos dari bibirnya terdengar sangat pendek, namun sudut bibir Fuuka tampak sedikit terangkat naik, memperlihatkan dengan sangat jelas tingkat kepuasan yang sedang dirasakannya saat ini.

"Saya merasa sangat lega jika hidangan ini ternyata cocok dengan selera Anda."

Tershe menyunggingkan senyuman hangat, memperlihatkan raut wajah yang tampak sangat lega.

Aku pun tidak ingin ketinggalan untuk mulai menggerakkan sumpitku.

Bersamaan dengan aroma kaldu dashi lembut yang menyebar memenuhi rongga mulut, sebuah sensasi kerinduan yang belum pernah kurasakan sebelumnya mendadak menjalar, memberikan kehangatan tersendiri di dalam dadaku.

"Sangat lezat. Ditambah lagi, rasanya benar-benar memberikan sensasi ketenangan yang luar biasa……"

"Uhm, masakan Tershe memang selalu menjadi yang terbaik!"

Shion memberikan respons setuju terhadap gumaman yang kulontarkan sembari menyunggingkan senyum lebar.

"Terima kasih atas pujian Anda. Saya berjanji akan terus mengasah kemampuan memasak saya demi menyajikan hidangan terbaik untuk kalian ke depannya."

Ditemani oleh atmosfer percakapan yang terasa sangat hangat dan santai, proses makan malam berjalan dengan sangat lancar hingga tanpa sadar lubuk hati kami semua telah dipenuhi oleh rasa kepuasan yang mutlak.

◆◇◆

Di saat waktu makan malam telah selesai sepenuhnya, tirai kegelapan malam telah turun menyelimuti bumi secara total, menyisakan suara deburan ombak dari kejauhan yang memecah keheningan malam secara konstan.

"Hei, bukankah ini sudah saatnya bagi kita untuk pergi?"

Sebelum masuk ke dalam labirin tadi, Fuuka sempat berkata bahwa ada seseorang yang ingin diperkenalkannya kepadaku.

Namun tanpa terasa, waktu saat ini ternyata sudah berjalan hingga larut malam.

Meskipun begitu, sosok Fuuka yang menjadi pencetus utama dari agenda tersebut justru terlihat sedang menikmati teh hangatnya dalam diam secara perlahan, sebelum akhirnya mengembuskan napas ringan.

Mungkin karena pengaruh dari efek kehangatan teh yang diminumnya, area pipinya tampak merona merah tipis, menciptakan sebuah impresi kelembutan yang berbeda dari penampilannya yang biasa.

"Tidak masalah. Justru situasi malam hari di saat mobilisasi orang-orang sudah mulai sepi seperti sekarang ini adalah waktu yang paling ideal."

Mendengar kalimat yang terkesan memiliki makna terselubung tersebut, aku spontan mengernyitkan dahi.

"Waktu yang paling ideal, apa maksudmu──"

Tepat di saat aku hendak melontarkan pertanyaan balik untuk memastikan──.

"Orn, beberapa waktu yang lalu kamu sempat bertanya kepadaku, kan? Kamu bilang, 'Tolong beri tahu aku mengenai seluk-beluk terkait Energi Spiritual (Yoki)'."

Pertanyaan tersebut seketika menusuk lubuk hatiku yang terdalam.

"……Uhm. Aku memang pernah menanyakan hal itu."

──Energi Spiritual (Yoki). Kekuatan misterius yang esensinya berbeda mutlak dengan Energi Sihir (Manor) maupun Energi Kehidupan (Ki). Meskipun aku sudah berhasil memahami konsep dasarnya sejauh itu, namun sampai detik ini aku masih belum bisa menangkap apa sebenarnya esensi hakiki dari kekuatan tersebut.

Oleh karena itu, di masa lalu aku sempat melemparkan pertanyaan mengenai 'Apa sebenarnya Energi Spiritual itu' kepada Fuuka secara langsung.

Namun sebagai respons, kala itu dia hanya memberikan jawaban singkat berupa, 'Aku sendiri sebenarnya juga tidak terlalu memahaminya'.

Mengingat tipe pergerakan Fuuka didominasi oleh aspek intuisi dan bakat murni, fakta bahwa dia tidak mampu menjabarkannya ke dalam bentuk rangkaian kata-kata yang struktural adalah sebuah hal yang wajar.

Oleh karena itu, aku sedang berusaha mencari alternatif cara lain agar bisa memahami esensi dari Energi Spiritual tersebut dari sudut pandang yang berbeda.

"Persis seperti yang sudah kusampaikan kala itu, aku memang tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya. Oleh karena itu, aku akan membawa sosok yang memiliki pemahaman mendalam tentang hal tersebut untuk berbicara langsung kepadamu."

"……Membawa sosok yang memiliki pemahaman mendalam?"

Tepat di saat aku melontarkan pertanyaan kembali, gerakan tangan Fuuka tampak bergerak menyentuh alat sihir penyimpanan yang terpasang di area pinggangnya.

Dan dari tempat tersebut, dia mengeluarkan pedang katana kesayangannya──Byakuro (Sakura Putih).

"Aku baru bisa memantapkan keyakinanku bahwa sosok ini aman untuk dikeluarkan ke dunia luar baru-baru ini. Tapi jika aku mengeluarkannya di tempat yang ramai, situasinya dipastikan akan memicu kegemparan yang masif. Oleh karena itu, aku terus mencari waktu yang tepat di saat semua orang sedang berkumpul seperti sekarang."

Shion dan yang lainnya turut mengawasi jalannya situasi dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa penasaran yang pekat.

Fuuka perlahan menarik sedikit bagian pangkal pedangnya dari dalam sarung pelindung dengan gerakan yang sangat tenang.

Bagian bilah pedang yang sedikit menyembul keluar tersebut mendadak memancarkan seberkas cahaya yang lembut.

Bilah pedang yang awalnya berwarna putih keperakan tersebut, perlahan-lahan mulai bertransformasi merubah warnanya menjadi merah muda pucat yang menyerupai warna bunga sakura.

"──Sakuramochi, keluarlah."

Tepat pada momen di saat Fuuka menyuarakan panggilan tersebut, gumpalan kabut tebal tampak membubung keluar dari arah bilah pedang.

Kabut tersebut menari-nari di udara secara perlahan, berkumpul di satu titik, hingga akhirnya mulai membentuk sebuah wujud yang utuh──.

"Apa-apaan, sosok ini……"

Sebuah kalimat kebingungan spontan lolos dari bibirku.

Sosok yang akhirnya menampakkan wujudnya di depan mata kami saat ini adalah seekor rubah berwarna merah muda pucat yang memiliki bentuk ekor bulat menyerupai kuncup bunga.

Keempat kaki dari rubah tersebut sama sekali tidak menginjak lantai, melainkan melayang di udara secara lembut.

Melihat wujudnya yang bergerak mengambang seolah telah terbebas dari belenggu hukum gravitasi bumi tersebut, sosok makhluk ini dari sudut pandang mana pun benar-benar terlihat seperti sebuah gumpalan kecomelan yang sangat menggemaskan.

"Sudah kubilang berkali-kali jangan memanggilku dengan nama sialan itu, tahu!"

Makhluk menyerupai rubah yang baru saja menampakkan wujudnya tersebut, langsung berteriak murka sebagai kalimat pembukanya.

Tepat pada momen di saat rubah tersebut mengarahkan tatapan mata tajam ke arah Fuuka, seberkas tekanan mistis yang pekat tampak berkelebat di balik wujud comelnya.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, Fuuka hanya memiringkan kepalanya ringan dengan raut wajah polos.

"Bukankah Sakuramochi sendiri yang bilang kalau kamu sangat membenci nama 'Wataame' (Permen Kapas)? Karena alasan itulah aku akhirnya mengganti namamu menjadi 'Sakuramochi', kan?"

"Jangan bercanda! Kenapa semua opsi nama yang kamu persiapkan tidak ada satu pun yang normal dan semuanya hanya dipenuhi oleh nama makanan manis yang lembek begitu, hah!?"

"T-Tunggu dulu, Fuuka. Sebenarnya makhluk berbulu super comel yang sedang melayang itu apa?"

Shion mengarahkan jari telunjuknya ke arah rubah tersebut dengan gerakan yang tampak sedikit ragu.

Mendapatkan pertanyaan tersebut, Fuuka memberikan jawaban dengan nada santai seolah hal itu adalah sebuah perkara yang biasa.

"Hewan peliharaanku."

"Haaaah!? Siapa yang kamu maksud dengan hewan peliharaan, hah!?"

──Tidak, jangankan mengategorikannya sebagai hewan peliharaan, akal sehatku sendiri saat ini bahkan masih belum bisa mencerna situasi yang sedang terjadi di depan mata dengan benar.

Dan hal itu tidak hanya berlaku untukku saja.

Semua orang yang berada di ruangan ini minus Fuuka, saat ini benar-benar telah dibuat cengong dan tertinggal jauh oleh perkembangan situasi yang mendadak ini.

"Heis bocah tengik! Jangan mentang-mentang aku memberimu sedikit kelonggaran, kamu bisa bertindak sesuka──"

Tanpa memedulikan keberadaan kami yang sedang kebingungan, makhluk menyerupai rubah tersebut hendak melontarkan kalimat protes lanjutan kepada Fuuka, namun tepat pada detik berikutnya, gerakan tangan Fuuka tampak berkelebat dengan kecepatan tinggi.

Dan di saat berikutnya, area tengkuk dari Sakuramochi telah berada di dalam cengkeraman tangan Fuuka dengan sangat pas.

"Bertingkah tidak sopan kepada tuanmu sendiri adalah sebuah hal yang tabu, lho. Dan satu lagi, aku bukan bocah tengik. Panggil aku dengan nama 'Fuuka'. Mengerti?"

Fuuka melontarkan kalimat teguran tersebut dengan nada suara yang sangat tenang, namun di dalamnya bersemayam seberkas tekanan mutlak yang membuat siapa pun tidak akan memiliki keberanian untuk menentangnya.

"~~~~!?"

Sepasang mata Sakuramochi seketika terbelalak lebar dengan kornea mata yang memutih, sedangkan bagian telinga dan ekornya langsung terkulai lemas ke bawah.

Tekanan mistis yang pekat yang sempat dipancarkannya beberapa saat yang lalu kini telah sirna sepenuhnya tanpa bekas, menyisakan sosoknya saat ini yang terlihat murni menyerupai seekor binatang kecil yang tidak berdaya.

"M-Maaf, Fuuka. Bisa tolong jabarkan penjelasannya dengan sedikit lebih mendetail? Makhluk itu, sebenarnya makhluk apa……?"

Aku kembali melontarkan pertanyaan kepada Fuuka untuk meluruskan situasi.

"……Makhluk ini adalah sebuah entitas yang terbentuk dari kumpulan sisa-sisa kesadaran (residu) siluman yang bersemayam di dalam bilah pedang Byakuro."

Menyadari bahwa penjelasannya sebelumnya memang terlalu minim informasi, Fuuka mulai memberikan penjabaran secara serius untuk merespons pertanyaanku.

"Byakuro adalah sebuah pedang yang sangat spesial. Di masa lalu, sisa-sisa kesadaran dari berbagai siluman yang telah berhasil disucikan menggunakan pedang ini terus berputar dan terakumulasi di dalam bilah pedangnya dalam jumlah yang masif. Sebagai dampaknya, sejak pertama kali menerima pedang ini, aku sudah bisa mendengar berbagai pecahan suara dari sisa-sisa kesadaran yang berada di dalamnya secara konstan. Selama ini aku selalu memilih untuk mengabaikan suara-suara tersebut, namun saat kembali ke Kyokuto kemarin, aku mencoba untuk menyatukan Energi Kehidupan (Ki) milikku dengan Energi Spiritual (Yoki) yang berasal dari sisa-sisa kesadaran di dalam pedang siluman ini untuk menerima eksistensi mereka secara utuh. Dan begitu aku menyadarinya, mereka semua telah bertransformasi menjadi bentuk makhluk ini."

"Bagian konklusinya padahal adalah poin yang paling krusial, tapi kenapa kuantitas informasinya justru menjadi yang paling sedikit, ya……"

"Mau bagaimana lagi, aku sendiri aslinya juga tidak terlalu memahami seluruh rangkaian prosesnya secara mendetail, kok. Tapi jika boleh memberikan sebuah estimasi, kurasa fenomena ini memiliki prinsip kerja yang serupa dengan sihir kutukan Kodoku (Kutukan Cacing)."

"……Kodoku?"

Tepat di saat aku melontarkan kosakata yang asing di telingaku tersebut untuk memastikan──.

"Ah, kalau soal itu aku tahu. Dulu Fuuka pernah menceritakan hal itu kepadaku."

Shion menempelkan jari telunjuknya di area pipi sembari memberikan anggukan kecil seolah sedang memanggil kembali memori masa lalunya.

"Jika tidak salah, itu adalah sebuah teknik sihir kutukan di mana kita mengurung berbagai jenis makhluk di dalam satu wadah yang sama, lalu membiarkan mereka saling membantai satu sama lain sampai menyisakan satu entitas terakhir yang akan menyerap seluruh kekuatan dari makhluk-makhluk yang telah tewas tersebut untuk mendapatkan kekuatan yang masif, bukan?"

Mendengar penjelasan dari Shion, Fuuka memberikan anggukan kecil untuk membenarkan.

"Jadi, begitu rupanya. Dengan kata lain, jutaan sisa-sisa kesadaran siluman yang saling berputar di dalam pedang siluman tersebut saling memangsa satu sama lain, dan entitas tunggal yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam seleksi alam tersebut adalah makhluk ini, begitu kan?"

Mendengar kesimpulan yang kulontarkan, makhluk rubah yang dipanggil dengan nama Sakuramochi tersebut langsung membusungkan dadanya tinggi-tinggi sembari mengayunkan ekor merah muda pucatnya dengan gerakan yang tampak sangat bangga.

"Tepat sekali seperti apa yang kamu katakan! Aku adalah entitas agung yang terpilih melalui seleksi ketat tersebut! Level dan kelasku berada di tingkatan yang mutlak berbeda jika dibandingkan dengan sisa-sisa kesadaran lemah lainnya, tahu!"

Melihat perangainya yang berbicara dengan nada tinggi nan angkuh tersebut, entah kenapa gurat pesona sebagai perwujudan dari akumulasi Energi Spiritual yang menakutkan justru sama sekali tidak terlihat, melainkan hanya memancarkan kesan sebagai sebuah karakter figuran yang lemah.

……Lagipula, apakah makhluk ini benar-benar merupakan perwujudan asli dari entitas agung yang telah melahap seluruh sisa-sisa kesadaran siluman di dalam pedang?

"Tapi tetap saja, dia terlihat sangat comel…… Hei Fuuka, makhluk kecil ini berada di pihak kita, kan?"

"Uhm, tentu saja. Lagipula dia adalah hewan peliharaan milikku."

"Sudah kubilang aku bukan hewan peliharaan, tahu! Aku adalah entitas agung yang memiliki harga diri tinggi, sesosok Kyu──"

"──Kalau begitu, apakah aku boleh menyentuh dan mengelusnya!?"

"A-Apakah saya juga diperbolehkan untuk mencobanya?"

Tepat di saat Shion menyuarakan keinginannya untuk mengelus Sakuramochi, Luna yang sedari tadi hanya mengamati jalannya percakapan kami dalam diam dari belakang langsung melangkah maju ke depan untuk ikut berpartisipasi.

"Uhm, boleh kok."

"Haaaah!? Kenapa kamu seenaknya sendiri memberikan izin kepada orang lain──"

Tanpa memedulikan kalimat protes yang diteriakkan oleh Sakuramochi, Shion perlahan mengulurkan kedua belah tangannya ke depan dengan gerakan yang tampak sedikit ragu.

Namun tepat pada momen di saat ujung jarinya menyentuh helaian bulu berwarna merah muda pucat tersebut, ekspresi wajah Shion seketika langsung berubah drastis.

"A-Apa-apaan dengan kualitas bulu ini……! Sangat halus, lembut, dan terasa sangat hangat……!"

Mendengar pekikan kagum yang dilontarkan oleh Shion, Luna tidak ingin ketinggalan untuk langsung memeluk wujud comel tersebut demi bisa menikmati sensasi kelembutan bulunya secara maksimal.

"H-Hentikan ituーー! Jangan mengelusku sesuka hati! Aku ini adalah entitas menakutkan yang seharusnya ditakuti dan disegani oleh umat manusia, tahu!"

Tanpa memedulikan kalimat protes yang diteriakkan oleh Sakuramochi dengan sekuat tenaga, kedua gadis tersebut terus melanjutkan aktivitas mengelus dan memeluk wujud comel Sakuramochi secara brutal tanpa ampun.

Meskipun makhluk berbentuk rubah tersebut terus meronta-ronta panik untuk melepaskan diri, namun bagian ekornya yang bulat menyerupai kuncup bunga tampak berubah bentuk secara elastis setiap kali dicengkeram, memperlihatkan tekstur kenyal nan lembut yang membuatnya benar-benar terlihat sangat mirip seperti kue mochi sakura tradisional yang asli.

"Uhm, melihat pemandangan ini, kurasa nama 'Sakuramochi' memang adalah sebuah nama yang paling sempurna untuknya."

Tepat di saat Fuuka melontarkan kalimat tersebut dengan raut wajah yang tampak sangat bangga atas hasil karyanya, rubah kecil tersebut langsung menegakkan telinganya tegak sebelum akhirnya berteriak histeris.

"Maaaa-kaaaa-nyaaaa! Sudah kubilang berkali-kali jangan memanggilku dengan nama sialan itu, tahu!"




◆◇◆

Tidak berselang lama kemudian, Shion dan Luna tampak menunjukkan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa kepuasan yang mutlak.

"Haaah…… benar-benar menyenangkan sekali……"

"Uhm…… ini bisa membuat seseorang menjadi ketagihan, ya……"

Di sisi lain, Sakuramochi tampak sedang terkulai lemas dengan tubuh yang melayang pasrah di udara, sembari terus mengembuskan napas yang terengah-engah.

"Kenapa aku harus mengalami nasib sial seperti ini……"

Oliver hanya bisa mengembuskan napas sembari mengangkat kedua bahunya ringan.

"……Sebuah malapetaka yang tidak terduga untukmu, ya."

"Aku benar-benar tidak pernah menyangka…… kalau hari di mana aku akan dikasihani oleh seorang manusia akan benar-benar datang……"

Sakuramochi menggumamkan kalimat tersebut dengan nada suara yang sangat lirih, sembari mengarahkan pandangan matanya kosong ke arah kejauhan.

Di tengah atmosfer ruangan yang telah mulai sedikit kondusif kembali, aku melemparkan pertanyaan untuk memastikan situasi.

"……Jadi, sosok yang ingin diperkenalkan oleh Fuuka kepadaku itu sebenarnya adalah makhluk ini?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Fuuka memberikan jawaban mantap tanpa ragu sedikit pun.

"Uhm. Makhluk ini bisa dibilang adalah perwujudan dari Energi Spiritual itu sendiri, jadi dia pasti bisa menjawab pertanyaanmu mengenai 'Apa sebenarnya Energi Spiritual itu'."

"Begitu rupanya……"

Aku memberikan anggukan setuju dengan raut wajah yang serius, lalu mengalihkan arah pandanganku tepat ke arah Sakuramochi.

"Kalau begitu, izinkan aku untuk bertanya kembali kepadamu. Apa sebenarnya Energi Spiritual itu?"

"Hah? Kenapa aku harus repot-repot menjawab pertanyaan dari orang sepertimu?"

Makhluk berbentuk rubah tersebut langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, sembari menyuarakan nada ketidaksenangan yang sangat jelas.

Tepat pada momen tersebut, sepasang mata Fuuka tampak sedikit menyipit.

"Sakuramochi. Jangan bertingkah pelit begitu, dong."

Meskipun nada suara yang disuarakannya terdengar sangat lembut, namun seberkas tekanan mutlak yang tidak bisa ditolak tampak menyelinap masuk ke dalam ruangan.

Kedua bahu rubah kecil tersebut seketika bergetar hebat, dan setelah terdiam seribu bahasa untuk beberapa saat, dia akhirnya mengembuskan napas pendek.

"Cih…… baiklah, aku mengerti. Aku hanya perlu menjelaskannya saja, kan? Menjelaskannya saja…… Sialan, memberikan ceramah edukasi kepada seorang manusia seperti ini benar-benar membuat level kelasku merosot tajam."

Sakuramochi mendengus kesal sembari memosisikan tubuh melayangnya di udara dengan sikap yang tegak.

Sembari menggerakkan bagian telinga dan ekornya secara perlahan, dia mulai menyuarakan nada suara yang sangat berwibawa──sebuah impresi cerdas yang sama sekali tidak bisa dibayangkan jika melihat sosok tidak berdayanya yang beberapa saat lalu.

"Jadi, kamu ingin tahu mengenai seluk-beluk Energi Spiritual, kan?"

"Uhm. Mohon bantuannya."

Sakuramochi mengembuskan napas pendek satu kali sebelum akhirnya mulai merajut untaian kata.

"Pertama-tama, komponen utama yang membentuk Energi Spiritual adalah──sebuah kekuatan yang lahir dengan memanfaatkan 'Emosi Negatif' yang bersemayam di dalam diri makhluk hidup sebagai bahan bakarnya. Rasa marah, rasa benci, rasa iri, hingga rasa takut. Komponen emosi hitam seperti itu memiliki daya pikat yang jauh lebih masif dan pekat jika dibandingkan dengan Energi Kehidupan (Ki) yang memanfaatkan 'Emosi Positif' sebagai bahan bakarnya. Kekuatan tersebut akan terus berkembang secara masif seperti kobaran api yang melahap habis kayu bakar, hingga pada akhirnya sanggup merubah eksistensi penggunanya menjadi sesosok monster yang mengerikan."

"……Mengenai poin itu, aku bisa memahaminya dengan sangat baik. Suka atau tidak, emosi negatif memang selalu memiliki daya kekuatan yang sangat luar biasa, ya."

Shion menyuarakan kalimat tersebut dengan nada lirih sembari menyunggingkan senyum kecut.

Sakuramochi menggerakkan bagian ekornya ringan sebagai bentuk persetujuan.

"Benar, karena luapan emosi yang terlalu kuat pada akhirnya hanya akan membakar habis akal sehat manusia. Jika kamu salah dalam menggunakannya, maka kamu akan bertransformasi menjadi sesosok monster dengan sangat mudah."

Sembari terus menggerakkan tubuhnya meluncur di udara secara perlahan, rubah kecil tersebut mengarahkan tatapan matanya yang tajam lurus ke arahku.

"Dan pada akhirnya, umat manusia memilih untuk membuang kekuatan tersebut. Alasannya sangat sederhana. Karena daya kekuatannya terlalu masif dan tidak bisa dikendalikan, jumlah korban yang berujung menghancurkan diri mereka sendiri maupun rekan seperjuangan mereka terus berjatuhan tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Melalui proses evolusi selama ribuan tahun, umat manusia akhirnya berhasil mengukir sebuah sistem genetik yang menekan pergerakan Energi Spiritual di dalam tubuh mereka secara permanen. ……Dengan kata lain, manusia membuang Energi Spiritual dari dalam diri mereka atas dasar konklusi bahwa kekuatan tersebut adalah 'sebuah kekuatan yang tidak akan pernah bisa dikendalikan oleh mereka'."

Di balik untaian kalimat terakhir yang diucapkannya tersebut, samar-samar menyiratkan sebuah nada sindiran yang sangat pekat.

"Jika definisinya seperti itu…… bukankah itu berarti umat manusia aslinya tidak kehilangan kekuatan tersebut, melainkan hanya menyegelnya agar tidak bisa digunakan lagi?"

"Tepat sekali."

Sakuramochi memberikan jawaban instan untuk merespons pertanyaan dari Luna.

Mendengar penjelasan tersebut, entah kenapa aku merasa fenomena ini memiliki prinsip dasar yang serupa dengan pengalaman pribadiku di masa lalu, di saat Ayah menggunakan sihir penyegel tingkat tinggi untuk mengunci kemampuan Energi Kehidupan (Ki) serta sihir tingkat tinggi milikku.

"Dan ras yang memilih untuk membuang kekuatan tersebut murni hanyalah umat manusia saja. Berbagai jenis makhluk hidup lainnya sampai saat ini masih memiliki kapasitas kekuatan tersebut di dalam tubuh mereka secara konstan. Dan dari sekian banyak makhluk hidup tersebut, adakalanya muncul sebuah kasus langka di mana mereka berakhir ditelan oleh kekuatan itu sendiri dan bertransformasi menjadi sesosok monster. Eksistensi monster itulah yang oleh umat manusia disebut dengan istilah 'Siluman', dan faksi keluarga tertentu seperti garis keturunan Shinonome telah mendedikasikan diri mereka untuk menyucikan eksistensi tersebut selama bertahun-tahun."

"Siluman……"

Aku menempelkan salah satu tanganku di area dagu.

"Aku memang pernah membaca mengenai eksistensi mereka melalui perantara berbagai literatur kuno di masa lalu, namun aku sendiri belum pernah menyaksikannya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Apakah keberadaan mereka memang selangka itu?"

"Fakta bahwa mereka adalah eksistensi yang langka memang sebuah kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat, namun alasan mengapa kamu belum pernah melihatnya sampai sekarang didasari oleh faktor lain."

"Faktor lain?"

"Dunia ini pada aslinya memang telah dirancang secara struktural agar eksistensi bernama siluman tersebut tidak akan pernah bisa lahir kembali ke permukaan bumi. Sederhananya hanya sebatas itu saja."

"Dunia…… Dengan kata lain, melalui perantara sistem hukum dunia, kapasitas Energi Spiritual yang dimiliki oleh berbagai jenis makhluk hidup saat ini telah ditekan secara paksa, begitu?"

"Persis seperti itu. ……Ah, topik pembicaraan kita ternyata sudah melenceng terlalu jauh, ya. Singkatnya, meskipun Energi Spiritual berada di kutub yang berlawanan dengan Energi Kehidupan (Ki), namun pada dasarnya akar dari kedua kekuatan tersebut adalah sama, yaitu 'sebuah kekuatan alami yang mengalir di dalam tubuh makhluk hidup'."

Fuuka memberikan anggukan setuju dengan raut wajah yang tampak telah memahami situasi sepenuhnya.

"Mendengar penjelasan dari Sakuramochi membuatku menyadari satu hal. Pantas saja kala itu──setiap kali aku mencoba untuk menggunakan Energi Spiritual, aku selalu merasa seolah-olah kesadaran hatiku akan direnggut paksa oleh sesuatu."

Sakuramochi mengalihkan sudut pandangannya sedikit ke arah Fuuka, lalu menyunggingkan senyuman yang terkesan penuh arti.

"Wajar saja, lagipula performa dirimu yang dulu terkesan seperti sesosok bocah yang sedang mencoba untuk menyentuh eksistensi kami dengan gerakan yang dipenuhi rasa takut, sih."

"Berisik."

Begitu Fuuka melontarkan kalimat balasan dengan nada kesal, makhluk berbentuk rubah tersebut mengayunkan ekornya dengan gerakan yang tampak sangat jenaka.

Selagi proses interaksi di antara mereka berdua terus berjalan, aku memanfaatkan momentum tersebut untuk menyinkronkan seluruh informasi yang berhasil kuhimpun di dalam benakku sejauh ini.

"Jika premisnya demikian, berarti umat manusia di masa purba aslinya memiliki kapasitas untuk mengendalikan Energi Kehidupan (Ki) maupun Energi Spiritual secara bersamaan. Namun seiring dengan berjalannya waktu di saat mereka memilih untuk membuang kekuatan Energi Spiritual, kemampuan mereka untuk mengendalikan Energi Kehidupan pun perlahan-lahan ikut sirna tanpa bekas, begitu?"

"Tingkat analisis yang sangat tajam."

Rubah kecil tersebut memberikan konfirmasi sembari terus mengayunkan ekor merah muda pucatnya secara konstan.

"Dampak dari proses penyegelan Energi Spiritual tersebut pada aslinya ikut berkontribusi memperlambat roda sirkulasi dari Energi Kehidupan di dalam tubuh manusia. Sebagai akibatnya, umat manusia perlahan melupakan cara untuk memanipulasi 'kekuatan alami yang bersemayam di dalam diri mereka sendiri', dan bertransformasi menjadi sesosok makhluk hidup licik yang hanya bisa mengandalkan kecerdasan otak semata."

"……Akan tetapi."

Shion mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan sembari memasang raut wajah yang tampak sedang berpikir keras.

"Berdasarkan kisah dongeng kuno yang beredar, di masa lampau sempat muncul sebuah era di mana orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi Energi Kehidupan (Ki) mulai menampakkan batang hidungnya kembali, bukan? Bagaimana fenomena seperti itu bisa terjadi?"

"Itu karena adanya stimulan dari sebuah jenis kekuatan baru bernama 'Energi Sihir (Manor)'."

Sakuramochi memberikan jawaban langsung untuk merespons pertanyaan dari Shion.

"Kekuatan tersebut bukan merupakan sebuah elemen bawaan lahir yang ada di dalam tubuh, melainkan sebuah energi murni yang melimpah ruah di lingkungan sekitar. Eksistensi energi baru itulah yang akhirnya memberikan stimulus fungsional terhadap tubuh manusia."

"Sebuah stimulus……?"

"Uhm. Seiring dengan berjalannya waktu di saat Energi Sihir mulai memenuhi seluruh penjuru dunia, kapasitas Energi Kehidupan yang selama ini tertidur lelap di dalam tubuh manusia ikut bereaksi secara alami hingga akhirnya aktif kembali. Bagaimanapun juga, Energi Sihir dan Energi Kehidupan berada di dalam sebuah hubungan yang saling bertolak belakang (Saling Mengikis). Layaknya konsep Yang dan Yin──di saat salah satu kutub menguat, maka kutub yang berlawanan pun secara konsisten akan ikut menguat untuk mengimbangi eksistensinya."

Aku menempelkan salah satu tanganku di area dagu, lalu merajut kata-kata secara perlahan demi memastikan deduksiku.

"……Jika Energi Kehidupan dan Energi Sihir berada di dalam sebuah hubungan yang saling mengikis, bukankah itu berarti Energi Spiritual yang berada di kutub berlawanan dengan Energi Kehidupan, memiliki hubungan yang selaras (Saling Mendukung) dengan Energi Sihir?"

"Sebuah analisis yang sangat akurat. Secara konsep teoritis, prinsip kerjanya memang persis seperti itu."

Sakuramochi menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi, lalu menyunggingkan senyuman yang terkesan sedikit menyindir.

"Meskipun begitu, kekuatan tersebut tetaplah sebuah komoditas berbahaya yang tingkat eksistensinya berada jauh di luar batas kemampuan manusia, sih."

Begitu berhasil menguak esensi hakiki dari Energi Spiritual, di dalam lubuk hatiku yang terdalam terdengar sebuah suara klik yang mengindikasikan bahwa seluruh teka-teki telah terpecahkan dengan sempurna.

Seni rahasia mutlak milikku──Mond Ende.

Esensi sejati dari teknik tersebut terletak pada proses di mana aku memanipulasi Energi Kehidupan (Ki) dan Energi Sihir (Manor) secara bersamaan hingga mencapai batas ekstrem, lalu membiarkan kedua kekuatan tersebut saling mengikis satu sama lain secara sengaja.

Melalui perantara fenomena tersebut, aku bisa mendongkrak kapasitas performa fisik tubuhku hingga melampaui batas mutlak, sekaligus menciptakan sebuah daya hancur masif yang sanggup melenyapkan segala hal yang ada di dunia ini.

Namun di sisi lain, pengaktifan teknik tersebut setara dengan menggunakan tingkatan tertinggi dari Energi Kehidupan──yaitu konsep [Penghancur Sihir].

Mengingat [Penghancur Sihir] adalah sebuah kekuatan yang eksistensinya murni didedikasikan untuk melenyapkan Energi Sihir, mengaktifkan teknik tersebut di dalam tubuhku yang telah menyatu erat dengan kapasitas Energi Sihir (Skill Unik) berpotensi memicu risiko fatal yang sanggup menghancurkan struktur tubuhku sendiri dari dalam.

(Akan tetapi, jika seandainya──aku bisa menyisipkan Energi Spiritual di antara kedua kekuatan tersebut sebagai penengah.)

Dampak serangan balik yang dihasilkan dari fenomena saling mengikis tersebut dipastikan akan bisa diredam secara maksimal melalui perantara Energi Spiritual yang bertindak sebagai 'Bahan Peredam'.

Aliran Energi Kehidupan dan Energi Sihir yang mengalir di dalam tubuhku tidak akan lagi saling melahap satu sama lain secara destruktif, melainkan akan saling menjaga keseimbangan satu sama lain dengan Energi Spiritual sebagai media perantaranya.

Jika skenario tersebut benar-benar bisa direalisasikan──maka struktur performa dari Mond Ende yang tidak akan melukai tubuh penggunanya akan bisa tercipta dengan sempurna.

Aku mengembuskan napas pendek secara perlahan.

"……Persis seperti dugaanku, Energi Spiritual adalah kepingan teka-teki terakhir yang kucari selama ini."

Mendengar gumaman lirih yang kulontarkan, Sakuramochi yang sedang melayang santai di udara langsung menggerakkan bagian telinganya ringan.

"Hei, jangan bilang kalau kamu saat ini sedang berpikir bahwa kamu memiliki kapasitas untuk mengendalikan Energi Spiritual? Bukankah baru saja kujelaskan tadi? Energi Spiritual adalah sebuah kekuatan yang tidak akan pernah bisa dikendalikan oleh umat manusia. Fakta tersebut telah terukir secara absolut di dalam sistem genetik tubuh kalian, tahu."

Meskipun nada suara yang disuarakannya terdengar sangat dingin, namun bagian ekor dari rubah kecil tersebut tampak bergoyang secara tidak beraturan seolah sedang menyiratkan rasa gelisah.

"Meskipun kamu berkata demikian, bukankah Fuuka terbukti memiliki kapasitas untuk mengendalikannya saat ini? Jika ada satu contoh nyata yang berhasil, bukankah itu berarti aslinya ada sebuah metodologi khusus untuk merealisasikannya?"

Tepat pada momen di saat aku melontarkan kalimat sanggahan tersebut, Sakuramochi seketika langsung menutup mulutnya rapat-rapat selama beberapa saat.

Bagian telinganya mendadak berdiri tegak, dan dia mengarahkan tatapan matanya yang tajam lurus ke arah Fuuka.

"Meskipun aku sendiri sebenarnya sangat enggan untuk mengakuinya, namun bocah tengik yang satu ini──"

"──Fuuka."

Fuuka yang sedari hanya menyimak jalannya percakapan dalam diam langsung memotong kalimat Sakuramochi demi mengoreksi panggilan namanya.

"……………... ……Fuuka, adalah sebuah pengecualian yang sangat spesial."

Meskipun terkesan sangat terpaksa, Sakuramochi akhirnya bersedia mengoreksi kalimatnya sebelum kembali melanjutkan penjelasan.

"Gadis ini adalah sosok yang memegang garis keturunan langsung dari keluarga Shinonome. Sebuah klan khusus yang telah mendedikasikan eksistensi mereka untuk menyucikan siluman──sesosok monster mengerikan yang telah ditelan oleh Energi Spiritual selama bertahun-tahun. Ditambah lagi, dia juga memiliki tingkat keselarasan yang sempurna dengan Byakuro, satu-satunya wadah Energi Spiritual yang eksistensinya diakui secara legal di dunia ini. Hanya dengan terpenuhinya seluruh rentetan persyaratan ekstrem seperti itulah, Fuuka pada akhirnya bisa mengendalikan Energi Spiritual seperti sekarang."

Setelah menjabarkan rentetan penjelasan tersebut secara lugas, Sakuramochi menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi untuk menunjukkan senyuman mengejek.

"Well, meskipun posisinya sespesial itu, toh sampai beberapa waktu yang lalu Fuuka tetap saja bertingkah seperti seorang pengecut yang ketakutan setengah mati akan ditelan oleh Energi Spiritual, membuat kuantitas Energi Spiritual yang bisa dimanipulasinya selama ini tidak lebih dari sekadar setetes air di padang pasir, sih."

Sembari menggerakkan ekornya ke arah kanan dan kiri secara bergantian, dia menyipitkan kedua matanya seolah sedang melayangkan sebuah hinaan secara terang-terangan.

"Kamu tidak perlu menambahkan informasi tidak penting seperti itu."

Fuuka menyela pembicaraan dengan raut wajah yang tampak kesal.

"……Jadi singkatnya, batu sandungan terbesar yang membuat manusia tidak memiliki kapasitas untuk memanipulasi Energi Spiritual didasari oleh faktor sistem genetik tubuh kami yang menekan pergerakan kekuatan tersebut secara paksa, begitu?"

"……? Uhm, benar sekali."

Sakuramochi mendengus kesal sembari mengayunkan ekornya ringan, seolah sedang mengindikasikan mengapa aku harus repot-repot menanyakan sebuah hal yang sudah sangat jelas seperti itu.

"Jika akar permasalahannya murni sebatas itu, kurasa aku tidak akan menemui kendala yang berarti karena aku sendiri sebenarnya telah berhasil menemukan solusi alternatif untuk menangani urusan tersebut dari sudut pandang lain. Situasi ini bahkan bisa dibilang sangat menguntungkan untukku. Sekarang, satu-satunya problem tersisa adalah mengenai bagaimana cara agar aku bisa merasakan sensasi aliran untuk memanipulasi Energi Spiritual tersebut secara nyata di dalam tubuhku. Hei Sakuramochi, apakah kamu memiliki sebuah saran atau petunjuk mengenai metode efektif yang bisa digunakan untuk merasakan sensasi manipulasi kekuatan tersebut?"

"Kenapa kamu juga ikut-ikutan memanggilku dengan nama makanan manis yang lembek begitu──eh, tunggu dulu sebentar! Kenapa kamu berbicara seolah-olah kamu sudah pasti akan bisa memanipulasinya, hah!? Urusan yang satu ini bukan merupakan sebuah perkara sepele yang bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan ego dari seorang individu semata, tahu!?"

Melihat reaksi kepanikan yang ditunjukkan oleh Sakuramochi, Fuuka hanya mengembuskan napas pendek sembari mengangkat kedua bahunya ringan.

"Sakuramochi, sama halnya dengan diriku yang merupakan sebuah pengecualian yang spesial, Orn pun memiliki sebuah sisi spesial yang berada di tingkatan yang berbeda denganku. Orn memiliki sebuah Skill Unik bernama World's Paradox. Sebuah kemampuan mutlak yang memungkinkan dirinya untuk bisa memanipulasi segala jenis kekuatan yang pernah dilihat maupun didengarnya secara langsung."

"Hah? Kemampuan konyol macam apa itu?"

Sakuramochi langsung menunjukkan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang sangat ekstrem.

"Meskipun definisinya seperti itu, namun sistem kerjanya tidak sesederhana seperti kamu bisa langsung menguasainya murni hanya dengan melihat atau mendengarnya saja, kok. Well, meskipun dalam kasus kali ini, aku sendiri sebenarnya berencana untuk mencoba menguasainya dengan menggunakan metodologi lain yang terpisah dari sistem kerja World's Paradox, sih."

"……Benarkah begitu?"

"Uhm. Mengenai detail mekanismenya akan kuceritakan kepadamu secara bertahap nanti, lagipula saat ini aku sendiri masih belum mengantongi tingkat keyakinan yang mutlak hingga seratus persen. ──Baiklah, mari kita kembalikan fokus pembicaraan kita ke topik utama. Apakah kamu memiliki sebuah petunjuk mengenai metode alternatif yang bisa digunakan?"

"……Metode yang paling instan dan praktis adalah dengan menyelaraskan eksistensi dirimu dengan Byakuro. Namun, opsi tersebut adalah sebuah hal yang mustahil untuk direalisasikan. Tidak peduli sekonyol apa pun kemampuan Skill Unik yang kamu miliki, faktor utama yang dibutuhkan untuk bisa selaras dengan pedang tersebut murni didasari oleh aspek garis keturunan darah."

Mendengar penuturan tersebut, aku spontan mengernyitkan dahi.

(Faktor garis keturunan, ya…… Prinsip dasarnya sepertinya memiliki kemiripan dengan sistem pewarisan Skill Unik. Jika situasinya demikian, jika aku mencoba memanfaatkan perluasan interpretasi dari fungsi Skill Unik…… Tidak, rasanya opsi itu terlalu sulit untuk dieksekusi…… Lagipula, Byakuro adalah sebuah pedang berharga yang sangat penting bagi Fuuka. Aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk meminjamnya, jadi opsi ini resmi dicoret. Jika demikian, alternatif cara lainnya adalah──)

"──Ah, jika dipikir-pikir lagi, aslinya masih ada satu opsi tersisa, sih."

Tepat di saat aku sedang sibuk memutar otak di dalam benakku, Sakuramochi mendadak menyuarakan sebuah kalimat seolah baru saja mengingat sesuatu.

"Satu opsi tersisa? Apakah itu berarti aslinya masih ada satu buah pedang siluman lainnya yang eksis di dunia ini?"

"Uhm. Well, meskipun pedang yang satu itu hanyalah sebuah produk tiruan murah yang kualitasnya sama sekali tidak pantas untuk disandingkan dengan diriku, namun fakta bahwa pedang tersebut memiliki kapasitas untuk menampung Energi Spiritual di dalamnya adalah sebuah kebenaran yang nyata."

"Di mana kamu melihat keberadaan pedang tersebut?"

"Itu adalah pedang yang dipegang oleh sosok pria yang telah disucikan oleh Fuuka beberapa waktu yang lalu."

Mendengar kalimat yang diucapkan secara santai tersebut, Fuuka spontan mengedipkan kedua belah matanya secara berulang kali dengan raut wajah heran.

"Sosok yang telah, kusucikan?"

"Kamu ini pikun atau bagaimana, sih. Itu adalah sosok pria barbar yang berhasil kamu tebas tepat di bagian dasar lubang raksasa yang diciptakan oleh Orn beberapa waktu yang lalu, tahu."

"…………?"

Fuuka tampak masih belum bisa menangkap maksud dari perkataan tersebut, membuatnya hanya bisa memiringkan kepalanya ringan dengan raut wajah polos.

Namun, mengingat namaku ikut terseret di dalam rentetan kronologi kejadiannya, itu mengindikasikan dengan sangat jelas bahwa musuh yang dimaksud adalah sesosok musuh yang dihadapi melalui perantara pertempuran bersama di antara aku dan Fuuka.

Kuantitas pertempuran di mana aku bergerak bersama dalam satu garis baris pertahanan yang sama dengan Fuuka jumlahnya tergolong sangat sedikit.

Dan jika ditambahkan dengan indikator mengenai kronologi di mana aku menciptakan sebuah lubang raksasa di dalam medan pertempuran tersebut, maka jawabannya hanya ada satu…….

"──Sosok Senki (Iblis Perang), ya."

Salah satu dari jajaran petinggi Ordo Cyclamen, yaitu Senki Dimon Ogre.

Dalam pertempuran kala itu, demi bisa memfokuskan seluruh tenagaku untuk menghadapi Rasetsu (Raksasa Kejam) Stieg, aku memutuskan untuk menyerahkan tugas penanganan terhadap Senki yang berada di lokasi yang sama kepada Fuuka.

Jika aku tidak salah ingat, senjata utama yang digunakan oleh Senki dalam pertempuran tersebut adalah sebuah pedang berukuran besar (Greatsword), yang berarti di dalam pedang besar itulah letak bersemayamnya Energi Spiritual yang dimaksud.

"……Ah, kalau dipikir-pikir lagi, sosok itu memang menggunakan sebuah pedang besar berwarna tembaga kemerahan. Pedang tersebut saat ini masih berada di dalam penyimpananku karena aku langsung mengamankannya sesaat setelah berhasil menumbangkan Senki kala itu."

Sembari berkata demikian, Fuuka langsung mengoperasikan alat sihir penyimpanannya untuk mengeluarkan pedang besar milik Senki ke permukaan.

"Ini untuk Orn."

Aku menerima pedang besar yang disodorkannya tersebut menggunakan kedua belah tanganku.

Bersamaan dengan perpindahan tangan tersebut, seberkas bobot berat yang jauh lebih masif dari perkiraan awalku langsung terasa nyata menumpu di atas telapak tanganku.

"……Terima kasih banyak, Fuuka. Berkat bantuanmu, jalan yang harus kutempuh mulai sekarang telah terlihat dengan sangat jelas."

Fokus utama yang harus kucapai saat ini adalah──terus memperdalam pemahamanku mengenai hukum dunia, demi bisa menyingkap tabir rahasia dari sistem dunia ini secara lebih mendalam.

Dan di sela-sela proses tersebut, aku harus terus mendongkrak kapasitas pertumbuhan kekuatanku sendiri ke tingkat yang jauh lebih tinggi.

Jika aku terus melangkah maju di atas jalan ini, eksistensi dari Dewa Jahat dipastikan akan menjadi batu sandungan utama yang akan berdiri kokoh menghadang langkahku di masa depan.

Demi bisa menumbangkan eksistensi absolut tersebut, aku harus bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih kuat dari diriku yang sekarang.

Kedua target tersebut sama sekali bukan merupakan sebuah perkara yang mudah untuk diwujudkan.

Akan tetapi, mengingat rentetan proses ini adalah sebuah jalur mutlak yang wajib kulewati demi bisa merealisasikan tujuan akhirku, yaitu "Pergi menuju ke dunia luar", maka aku tidak memiliki pilihan lain selain maju menerjangnya dengan segenap jiwa dan raga.

Sembari mencengkeram bagian gagang pedang dengan erat untuk memastikan bobot beratnya di dalam genggamanku, di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku kembali mengukir sebuah sumpah dan tekad yang baru secara senyap──.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close