NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Prolog

Prolog

Hadiah Pertama


Udara sedikit bergetar, tampak samar menyerupai fatamorgana.

Hingga akhirnya, getaran itu membentuk sebuah kesadaran.

"……Aku, ada di mana……?"

Itu adalah kalimat pertama yang terucap.

Meski terdengar terbata-bata, ada kecerdasan yang sangat jelas tertanam dalam suara itu.

"Sukses, ya."

Dari arah dekat, terdengar suara lain yang menyahut, menyelipkan nada lega di dalamnya.

"……Siapa?"

"Nama Kakek adalah Titania. Sering disebut sebagai Ratu Peri. Dan, Kakek juga orang tuamu."

"……Orang tua? Orang tuaku?"

"Kamu lahir dari sebagian kekuatanku yang kupisahkan. Bisa memiliki kesadaran atau tidak sebenarnya adalah sebuah spekulasi…… tapi baguslah, kesadaranmu tertanam dengan sempurna."

Udara bergetar dengan lembut, seolah-olah merespons perasaan Titania.

"……Kenapa aku bisa berbicara? Padahal, seharusnya aku tidak tahu apa-apa…… Tapi, aku bisa memahami banyak hal……?"

"Itu karena Kakek membagikan sedikit pengetahuan bersamaan dengan kekuatan tadi. Kamu sudah tahu tentang bahasa, hukum dunia, dan bagaimana sihir bekerja."

"Begitu, ya…… Lalu Ratu, apakah aku punya nama?"

Mendengar pertanyaan itu, Titania sempat kehilangan kata-kata untuk sesaat.

"……Benar juga, nama, ya. Kakek belum memikirkannya."

"……Tidak ada? Namaku?"

Peri tanpa nama itu bergumam dengan nada sedih.

"Akan kupikirkan sekarang. Beri Kakek waktu sebentar."

Hawa yang menandakan seseorang sedang berpikir dalam-dalam perlahan meresap ke udara.

Tak lama kemudian, Titania merangkai kata-kata yang meluncur begitu saja dari bibirnya.

"Nama-nama kami para peri diambil dari sesuatu yang dikisahkan sebagai entitas fiktif di era kuno."

"……Era kuno? Ah, ada di dalam pengetahuanku. Dunia peradaban sebelum…… dunia hukum sihir ini terbentuk."

"Benar. Kakek lahir di era itu. Era ketika manusia terbang di langit dengan burung besi, dan mengincar ujung dari cakrawala."

"……Sekarang, hal itu mustahil untuk dibayangkan……"

"Memang. Tapi, hal itu benar-benar pernah ada. Walau sekarang tidak ada satu pun manusia yang mengetahuinya. Karena mereka telah ditelan oleh kekuatan sihir, bahkan sejarahnya pun ikut menyimpang."

Suara Titania sedikit bergetar, menyiratkan rasa kesepian sekaligus kerinduan yang mendalam.

"……Ya, sudah kuputuskan. ──Pixie. Itu namamu."

"……Pixie……"

Dia mengulang nama itu perlahan, seolah sedang meresapinya di dalam mulut.

Lama-kelamaan, dia merasa nama itu mulai menyatu dengan eksistensi dirinya.

"……Itu…… diriku."

"Benar. Mulai detik ini, kamu adalah Pixie."

Pixie merasa ada kehangatan kecil yang menyala di dalam dadanya.

Sebab dengan mendapatkan nama, dia mengerti bahwa dirinya "benar-benar ada" di sini.

"……Terima kasih sudah memberiku nama, Ratu."

"Sama-sama."

Kata-kata itu membekas di dalam dada dengan cara yang tak terduga.

Di saat yang sama, ucapan dari seorang teman lama mendadak terlintas di dalam benak.

"Pixie. Mulai sekarang, ada sesuatu yang ingin Kakek mintakan bantuan kepadamu."

"……Bantuan?"

"Ada seorang gadis manusia bernama Luna Flockhart. Dia adalah anak yang akan menempuh jalan yang sangat terjal mulai sekarang."

Pixie mendengarkan kata-kata Titania dalam keheningan yang tenang.

"Kakek ingin kamu berada di sisi anak itu. Tetaplah berada di dekatnya, dan jagalah dia. Lalu, saat dia sedang kesulitan atau tampak akan terluka, ulurkanlah tanganmu dengan lembut untuk membantunya. Selain itu, kamu bebas bertindak sesuka hatimu."

"……Jika itu adalah…… arti dari kelahiranku."

Begitu kata-kata Pixie melebur ke udara, hawa keberadaannya tampak melayang naik dengan lembut.

Tanpa suara, tanpa wujud, namun sesuatu yang benar-benar ada di sana itu kini perlahan-lahan menjauh.

Sambil melepas kepergian hawa yang kian menjauh itu, Titania bergumam.

"…………Heh, apa yang sebenarnya sedang kulakukan."

Titania tertawa sendiri, seolah sedang mencemooh dirinya.

Bukan orang lain, melainkan dirinya sendirilah yang telah memutuskan untuk tetap menjadi pengamat.

Seharusnya, dia telah memilih "cara hidup" yang hanya sekadar memandang masa depan dunia ini.

──Namun meski begitu, dia justru menciptakan Pixie.

Ini adalah tindakan yang melenceng dari tekad awalnya yang murni.

Karena itulah, dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa 'ini hanyalah eksistensi yang bukan diriku yang sedang terlibat dengan Luna'.

Demi melarikan diri dari rasa sakit yang berdenyut kecil di lubuk hatinya, Titania kembali mengingat kata-kata yang pernah diucapkan oleh temannya dulu.

"……Nama adalah hadiah pertama yang diberikan orang tua kepada anaknya, ya. Kakek sama sekali tidak pernah bermimpi kalau Kakek-lah yang akan memberikan sebuah nama, Stella."

Angin berembus melewati tempat yang tak berpenghuni itu.

Rasanya seolah-olah senyuman dari Stella, teman lamanya di masa lalu, kembali dengan lembut dari balik ingatan yang jauh.

Titania tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia hanya membiarkan dirinya terhanyut bersama angin yang berembus.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close