Prolog
Hadiah Pertama
Udara
sedikit bergetar, tampak samar menyerupai fatamorgana.
Hingga
akhirnya, getaran itu membentuk sebuah kesadaran.
"……Aku,
ada di mana……?"
Itu adalah
kalimat pertama yang terucap.
Meski
terdengar terbata-bata, ada kecerdasan yang sangat jelas tertanam dalam suara
itu.
"Sukses,
ya."
Dari arah
dekat, terdengar suara lain yang menyahut, menyelipkan nada lega di dalamnya.
"……Siapa?"
"Nama
Kakek adalah Titania. Sering
disebut sebagai Ratu Peri. Dan, Kakek juga orang tuamu."
"……Orang
tua? Orang tuaku?"
"Kamu
lahir dari sebagian kekuatanku yang kupisahkan. Bisa memiliki kesadaran atau
tidak sebenarnya adalah sebuah spekulasi…… tapi baguslah, kesadaranmu tertanam
dengan sempurna."
Udara
bergetar dengan lembut, seolah-olah merespons perasaan Titania.
"……Kenapa
aku bisa berbicara? Padahal, seharusnya aku tidak tahu apa-apa…… Tapi, aku bisa
memahami banyak hal……?"
"Itu
karena Kakek membagikan sedikit pengetahuan bersamaan dengan kekuatan tadi.
Kamu sudah tahu tentang bahasa, hukum dunia, dan bagaimana sihir bekerja."
"Begitu, ya…… Lalu Ratu, apakah
aku punya nama?"
Mendengar
pertanyaan itu, Titania sempat kehilangan kata-kata untuk sesaat.
"……Benar
juga, nama, ya. Kakek belum memikirkannya."
"……Tidak
ada? Namaku?"
Peri tanpa
nama itu bergumam dengan nada sedih.
"Akan
kupikirkan sekarang. Beri Kakek waktu sebentar."
Hawa
yang menandakan seseorang sedang berpikir dalam-dalam perlahan meresap ke
udara.
Tak lama
kemudian, Titania merangkai kata-kata yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Nama-nama
kami para peri diambil dari sesuatu yang dikisahkan sebagai entitas fiktif di
era kuno."
"……Era
kuno? Ah, ada di dalam pengetahuanku. Dunia peradaban sebelum…… dunia hukum
sihir ini terbentuk."
"Benar.
Kakek lahir di era itu. Era ketika manusia terbang di langit dengan burung
besi, dan mengincar ujung dari cakrawala."
"……Sekarang,
hal itu mustahil untuk dibayangkan……"
"Memang.
Tapi, hal itu benar-benar pernah ada. Walau sekarang tidak ada satu pun manusia
yang mengetahuinya. Karena mereka telah ditelan oleh kekuatan sihir, bahkan
sejarahnya pun ikut menyimpang."
Suara Titania
sedikit bergetar, menyiratkan rasa kesepian sekaligus kerinduan yang mendalam.
"……Ya,
sudah kuputuskan. ──Pixie. Itu namamu."
"……Pixie……"
Dia mengulang
nama itu perlahan, seolah sedang meresapinya di dalam mulut.
Lama-kelamaan,
dia merasa nama itu mulai menyatu dengan eksistensi dirinya.
"……Itu…… diriku."
"Benar. Mulai detik ini, kamu
adalah Pixie."
Pixie merasa ada kehangatan kecil yang
menyala di dalam dadanya.
Sebab
dengan mendapatkan nama, dia mengerti bahwa dirinya "benar-benar ada"
di sini.
"……Terima
kasih sudah memberiku nama, Ratu."
"Sama-sama."
Kata-kata itu
membekas di dalam dada dengan cara yang tak terduga.
Di saat yang
sama, ucapan dari seorang teman lama mendadak terlintas di dalam benak.
"Pixie.
Mulai sekarang, ada sesuatu yang ingin Kakek mintakan bantuan kepadamu."
"……Bantuan?"
"Ada
seorang gadis manusia bernama Luna Flockhart. Dia adalah anak yang akan
menempuh jalan yang sangat terjal mulai sekarang."
Pixie
mendengarkan kata-kata Titania dalam keheningan yang tenang.
"Kakek
ingin kamu berada di sisi anak itu. Tetaplah berada di dekatnya, dan jagalah dia. Lalu, saat dia sedang
kesulitan atau tampak akan terluka, ulurkanlah tanganmu dengan lembut untuk
membantunya. Selain itu,
kamu bebas bertindak sesuka hatimu."
"……Jika
itu adalah…… arti dari kelahiranku."
Begitu
kata-kata Pixie melebur ke udara, hawa keberadaannya tampak melayang naik
dengan lembut.
Tanpa suara,
tanpa wujud, namun sesuatu yang benar-benar ada di sana itu kini perlahan-lahan
menjauh.
Sambil
melepas kepergian hawa yang kian menjauh itu, Titania bergumam.
"…………Heh,
apa yang sebenarnya sedang kulakukan."
Titania
tertawa sendiri, seolah sedang mencemooh dirinya.
Bukan orang
lain, melainkan dirinya sendirilah yang telah memutuskan untuk tetap menjadi
pengamat.
Seharusnya,
dia telah memilih "cara hidup" yang hanya sekadar memandang masa
depan dunia ini.
──Namun meski
begitu, dia justru menciptakan Pixie.
Ini adalah
tindakan yang melenceng dari tekad awalnya yang murni.
Karena
itulah, dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa 'ini hanyalah eksistensi
yang bukan diriku yang sedang terlibat dengan Luna'.
Demi
melarikan diri dari rasa sakit yang berdenyut kecil di lubuk hatinya, Titania
kembali mengingat kata-kata yang pernah diucapkan oleh temannya dulu.
"……Nama
adalah hadiah pertama yang diberikan orang tua kepada anaknya, ya. Kakek sama
sekali tidak pernah bermimpi kalau Kakek-lah yang akan memberikan sebuah nama,
Stella."
Angin
berembus melewati tempat yang tak berpenghuni itu.
Rasanya
seolah-olah senyuman dari Stella, teman lamanya di masa lalu, kembali dengan
lembut dari balik ingatan yang jauh.
Titania
tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia hanya membiarkan dirinya terhanyut
bersama angin yang berembus.



Post a Comment