Interlude 3
Perputaran Bulan
Ketika
aku──Luna Flockhart──merenungkan kembali hidupku sejauh ini, jika ditanya
“Apakah kau bahagia?”, aku akan menjawab tanpa ragu.
──Aku
bahagia.
Tapi dulu,
aku tidak bisa menemukan cahaya di mana pun dunia ini, dan hanya hidup dalam
kesendirian.
Sejak kecil,
aku sudah tidak punya orang tua. Aku hidup di panti asuhan miskin yang
dindingnya penuh retak.
Pimpinan
panti sibuk, dan meski anak-anak saling berbagi dalam kemiskinan──hampir tidak
ada malam di mana hati terasa penuh.
Suatu hari,
di bawah matahari terbenam, sebutir cahaya muncul di hadapanku.
“……Kamu
siapa?”
Sekarang aku
sadar, saat itulah aku memunculkan Spirit Domination.
“……Eh? Kamu
di sana kan? Kenapa tidak bicara?”
Cahaya itu
tidak menjawab pertanyaanku.
Saat aku
hampir menyerah, berpikir bahwa kata-kata yang kuucapkan untuk mencari hubungan
dengan seseorang tidak akan sampai pada siapa pun,
‘…………Aku
mendengar.’
Suara
perempuan yang jernih dan hangat bergema di dalam kepalaku.
Ada seseorang
yang menjawab suaraku──hanya itu saja sudah terasa seperti mukjizat bagiku saat
itu.
“Ah,
syukurlah. Eto eto, namaku Luna! Kamu siapa?”
Begitu aku
memperkenalkan diri, dari balik cahaya itu kembali terdengar suara.
‘…………Titania.’
“Ti,
Titania?”
Aku tersendat
karena sulit diucapkan. Cahaya itu tertawa senang.
‘Hahaha!
Memang sulit ya bagi anak manusia mengucapkan namaku.’
“Muu……! Aku
pasti bisa mengucapkannya!”
Tawa itu
sangat berbeda dengan angin malam yang dingin, membawa kehangatan hingga ke
relung dada.
──Hari itu,
untuk pertama kalinya cahaya menyinari duniaku.
Sejak itu,
aku berbicara dengan Titania hampir setiap hari.
Hanya
mendengarkan keluhanku yang sepele saja sudah membuat hati ringan. Cerita tentang bintang dan bunga
darinya menjadi penyelamat di tengah hari-hariku yang miskin.
Suatu hari,
aku bertanya pada Titania.
“Kenapa
Titania memanggilku ‘Ruuko’?”
‘……Tidak ada
arti dalam. Apakah kau tidak suka?’
“Bukan tidak
suka. Hanya ingin tahu alasannya.”
‘……Ya. Nanti
kalau waktunya tiba, aku akan ceritakan.’
Nada suaranya
terdengar sedikit sedih.
“……Janji ya?”
‘Baiklah,
janji.’
Akhirnya arti
panggilan itu sampai sekarang masih belum kuketahui.
Tapi setiap
kali dipanggil ‘Ruuko’, dada terasa sedikit hangat.
Akhirnya aku
diangkat oleh keluarga Flockhart.
Tapi itu
bukan keluarga yang kuharapkan. Meski mewah, setiap hari terasa sesak.
Tanpa sadar,
aku diberi tugas berat, dan jika gagal akan dihukum. Itu menjadi hal biasa.
Karena
kesibukan itu, Titania semakin jarang muncul.
Meski begitu,
aku terus menyelesaikan tugas, dan saat berusia sembilan tahun, ayah angkatku
berkata.
“Mulai
sekarang kau akan menjadi penjelajah. Kau akan membentuk party dengan anak-anak yang datang
ke kota ini. Namanya──Oliver Cardiff. Dan satu lagi, Orn Dura. Kau yang akan
mendukung mereka berdua.”
Tidak
ada hak untuk menolak.
Bagi
aku yang tidak punya tempat, hanya menuruti perintah adalah satu-satunya cara
melindungi diri.
Suatu
hari, aku bertemu dengan mereka berdua.
Dari
pertemuan pertama, aku tahu mereka membawa “sesuatu” yang berbeda dariku.
Malam setelah
pertama kali menyelam ke labyrinth bersama mereka, cahaya samar menari masuk ke
kamarku.
‘……Aku
Pixie.’
Cahaya kecil
yang hinggap di telapak tanganku terasa mirip dengan Titania.
‘……Aku
datang dari Ratu──Titania, karena mendengar tentang Luna. ……Boleh
aku berada di dekatmu?’
“Tentu saja boleh. ……Tinggallah selama
yang kau mau.”
Pixie
berkedip senang, dan sejak itu ia selalu berada di sisiku.
Hari-hari
setelah itu berlalu seperti badai.
Menyelam
ke labyrinth sebagai penjelajah, bertarung melawan magic beast, hari-hari penuh
darah dan keringat.
Banyak
pertarungan yang mempertaruhkan nyawa, tidak selalu menyenangkan.
Aku terluka,
hampir kehilangan teman, dan berkali-kali dihancurkan oleh ketidakberdayaanku.
Meski
begitu──aku punya teman yang berjalan bersamaku.
Orn-san
yang selalu tenang dan melihat sekeliling.
Oliver-san
yang kikuk tapi lebih tulus daripada siapa pun.
Dan
peri kecil yang selalu mendampingiku──Pixie.
Waktu
yang kuhabiskan bersama mereka perlahan menjadi “tempatku”.
Kadang
Titania juga muncul, dan ada malam di mana peri-peri lain turun dalam kelompok
cahaya samar.
Pemandangan
itu terasa seperti “kebahagiaan” yang akhirnya berhasil kuraih setelah
perjalanan panjang.
Seiring waktu, jumlah teman bertambah.
Kami disebut party pahlawan, dan akhirnya──semuanya hancur berantakan.
Orn-san diusir. Party bubar. Perusahaan
Flockhart jatuh.
Aku berjalan di jalan baru bersama Silver
Rabbit of the Night Sky, tapi di relung hati selalu ada bayangan “hal yang
hilang”.
Akhirnya, saat Orn-san mengembalikan
ingatannya dan memutuskan untuk berjalan di jalannya sendiri──aku tanpa ragu
mengikuti punggungnya.
Dan di ujung perjalanan, di tanah Kyokuto,
aku menyadari sebuah fakta.
──Bahwa aku
telah melupakan Titania.
Padahal ia
adalah keberadaan yang sangat penting dan mengubah hidupku.
Padahal ia
adalah kenangan yang seharusnya tidak pernah kulupakan.
Tapi
sekarang, berkat menyentuh dunia luar, aku bisa mengingat kembali kejadian
sebelum waktu dunia diulang.
Sekarang aku
bisa mengingat interaksiku dengannya bersama masa lalu.
Tapi fakta
bahwa aku pernah melupakannya sekali, tidak akan pernah hilang.
Karena itu,
aku merasa harus meminta maaf.
Pada Titania
yang memberiku cahaya saat aku sendirian dulu.
Dari lubuk
hati, aku ingin meminta maaf karena pernah melupakannya.
Dan aku ingin
menyampaikan.
──Hidupku bahagia karena kau ada.



Post a Comment