NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Chapter 4

Chapter 4

Saintess Bergaun Putih


Pagi pertama Oktober.

Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui shoji, menerangi ruangan dengan kehangatan yang tenang.

Udara musim gugur begitu jernih. Dari luar, samar terdengar desir daun yang tertiup angin dan kicau burung kecil.

Sudah lima hari berlalu sejak malam kami menikmati bulan purnama.

Malam itu, ketika kami kembali ke kediaman, kami mendapati Luna yang telah pingsan dan Fuuka beserta yang lain sedang merawatnya.

Alasan Luna pingsan, kami dengar kemudian dari Pixie.

Katanya, Luna telah menyentuh prinsip iblis dan menjadi seorang Transenden.

Akibatnya, beberapa hari ini ia terus tertidur pulas.

Selama itu, kami bergantian menjaga kediaman agar selalu ada yang siap jika ia terbangun. Di sela waktu itu, kami membantu pekerjaan Nagisa atau pergi membasmi monster yang muncul di permukaan.

Dan hari ini, giliran aku dan Fuuka.

Fuuka duduk di dekat jendela, menikmati teh bersama wagashi.

Wajah sampingnya yang tampak di balik uap terlihat begitu damai, lebih lembut dari biasanya.

Aku duduk di seberangnya, membuka buku untuk mengisi waktu.

Di samping tempat tidur, ada bunga yang baru diganti Shion kemarin. Kelopaknya memantulkan cahaya pagi yang menyelinap masuk.

Saat itulah.

"──Dia akan terbangun."

Tiba-tiba Fuuka berbisik.

Suara itu pelan, tapi matanya penuh keyakinan.

Mungkin ia telah melihat Luna yang terbangun melalui Future Sight.

Aku menutup buku, lalu mendekati Luna.

Ujung jari Luna bergerak sedikit.

Kemudian, bulu matanya yang lama tertutup itu bergetar pelan.

Menerima cahaya matahari, kedua matanya perlahan terbuka.

"...Selamat pagi, Luna."

Ketika aku menyapa dengan lembut, sesaat Luna menatap langit-langit dengan pandangan yang belum fokus.

Lama-kelamaan, ia perlahan memalingkan wajah ke arah kami.

"...Selamat pagi, Orn-san..."

Suara yang terdengar setelah beberapa hari itu sedikit serak. Meski begitu, ia tetap terucap dengan jelas.

Saat Luna berusaha bangun, Fuuka segera bergerak ke belakangnya dan menopang dengan lembut.

"Jangan memaksakan diri. Tubuhmu butuh waktu lebih untuk benar-benar terbangun."

"...Terima kasih."

Luna mengatur napas pelan dan tersenyum tipis tanpa tenaga.

"Bagaimana keadaanmu?"

"...Kepalaku masih agak pusing. Tapi... tubuhku sudah tidak apa-apa."

"Kamu tidur lima hari penuh. Kalau sudah bisa bergerak seperti ini, itu sudah luar biasa."

"...Lima hari?"

"Ya. Hari ini tanggal satu Oktober."

Luna berkedip-kedip dengan ekspresi terkejut.

"...Sudah selama itu ya."

"Ya. Di luar juga sudah mulai berubah warna musim gugur."

"...Aku sudah merepotkan semua orang, ya."

"Tidak usah dipikirkan. ...Lalu, sampai mana ingatanmu, Luna?"

Mendengar pertanyaanku, Luna pelan-pelan memejamkan mata.

Ia mengerutkan alis seolah menarik ingatannya, lalu berbisik pelan.

"...Kami sedang menikmati bulan purnama. Semua orang tertawa, lalu..."

Kata-katanya terhenti.

Ujung jarinya bergetar kecil di atas selimut.

"──Sudah ingat?"

Suara Fuuka lembut, seolah sedang menatap sesuatu yang jauh.

"...Malam itu, aku menyentuh 'luar'. Di balik dinding prinsip──kekuatan sihir yang sebenarnya."

Luna mengangguk dan menggenggam tangannya di depan dada.

"Lalu..."

Dengan suara bergetar sambil menahan napas, Luna melanjutkan.

"Aku mengingat Titania yang selama ini terlupa..."

Begitu nama itu terucap, udara di ruangan sedikit menegang.

Fuuka menundukkan pandangan dengan tenang, sementara aku meletakkan tangan di bahu Luna.

"...Begitu. Kamu sudah ingat. Itu bagus."

Luna mengembuskan napas panjang dan mengangguk perlahan.

"...Ya. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengan Titania. Aku ingin segera pergi ke kuil Phoenix."

Di mata Luna terpancar cahaya yang tidak mengenal keraguan.

Cahaya itu terlihat jauh lebih kuat dan jernih dibandingkan sebelum ia tertidur.

"Aku mengerti perasaanmu, tapi bisakah kamu berdiri?"

Ketika aku bertanya, Luna sedikit mengangkat tubuhnya dan menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa. Sudah baik-baik saja."

Meski begitu, ujung jarinya masih sedikit gemetar.

Tubuh yang tidur lima hari penuh pasti butuh waktu lebih untuk memulihkan tenaga.

Tapi tekadnya tampak sangat kuat.

"Baiklah. Tapi kita sarapan dulu. Lebih baik kita mempersiapkan diri dengan baik sebelum ke kuil Phoenix."

Luna mengangguk kecil dan tersenyum.

"Ya. Aku mengerti."

Di luar jendela, daun-daun bergoyang ditiup angin musim gugur, sementara cahaya matahari yang lembut menyelinap masuk.

Wajah samping Luna yang diterangi cahaya itu seolah melambangkan pagi yang baru.

◆◇◆

Setelah selesai sarapan, aku berjalan menaiki jalur pendakian gunung suci bersama Luna dan Oliver.

Tujuannya adalah agar Luna bertemu Titania.

Hari ini Shion dan yang lain membantu pekerjaan Nagisa, jadi kami bertindak terpisah.

Langit tinggi dan jernih, cahaya matahari mulai terasa lembut.

Meski masih menyisakan sedikit jejak musim panas, angin sudah bercampur aroma musim gugur.

Daun-daun di lereng gunung mulai berubah warna di sana-sini, noda kuning dan merah tersebar seperti bintik-bintik.

Setiap daun bergoyang ditiup angin, bunyi kering yang renyah terdengar nyaman di telinga.

Oliver yang berjalan di depan punggungnya tetap besar seperti biasa. Di belakangnya sedikit, Luna berjalan sambil mengatur napas.

Mungkin karena lima hari berbaring, langkahnya masih terasa sedikit berat.

"...Tubuhku masih agak kaku."

Meski napasnya tersengal, Luna tersenyum kecut.

"Tinggal sedikit lagi."

Ketika aku berkata demikian, Luna menjawab "Ya" sambil mengangguk dan kembali menatap ke depan.

"...Oh ya, ini pertama kalinya Oliver-san juga ke kuil Phoenix, kan?"

"Benar, kenapa memangnya?"

"Padahal sebelumnya pasti ada kesempatan, tapi kenapa tidak pernah pergi, ya... itu yang aku pikirkan."

"Awalnya aku berniat pergi setelah Shion. Tapi sebelum itu, Luna sudah memutuskan untuk menjadi Transenden demi pergi ke kuil Phoenix, kan?"

Oliver memotong kata-katanya di situ, lalu mengalihkan pandangan.

Ia menggaruk kepala dengan canggung, seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

"...Makanya, mumpung ada kesempatan, kupikir lebih baik kita pergi bersama."

Gerakan yang agak tidak biasa untuk Oliver membuat Luna sempat tertegun, lalu wajahnya melunak.

"...Fufu, begitu ya. Syukurlah aku tidak membuat kalian menunggu terlalu lama."

Wajahnya yang tersenyum kecil itu terasa sangat lembut.

Kami pun tiba di kuil roh surgawi dan berdiri di depan torii yang menjadi gerbang masuk kuil Phoenix.

"Ini gerbang masuk kuil Phoenix. ...Siapa yang mau membuka jalannya?"

Mendengar pertanyaanku, Luna maju selangkah.

"Biarkan aku yang melakukannya. ...Aku ingin sekali lagi memastikan sensasi memecahkan dinding prinsip."

Suara itu penuh tekad.

"Baiklah. Aku serahkan padamu."

"Aku tidak keberatan."

Oliver juga mengangguk singkat.

Luna berdiri di depan torii dan pelan-pelan memejamkan mata.

Angin menggerakkan rambutnya, dan kekuatan sihir di sekitarnya semakin pekat.

Para roh yang mengambang di sekitar Luna menari mengikuti kehendaknya, lalu berkumpul menuju torii.

Tak lama kemudian, bibir Luna bergerak pelan.

"──Bergeser."

Udara bergetar, dan ruang di sekitar torii mulai berkelombang seperti permukaan air.

Dari dalamnya, aura asing yang seolah mengubah udara itu sendiri mengalir ke arah kami.

"Berhasil...!"

Ekspresi Luna melunak karena berhasil menghubungkan jalannya.

"──Ayo pergi."

Kami melewati torii dan menuju ke dalam kuil Phoenix.

"...Luar biasa..."

Luna menahan napas kecil.

Di sampingnya, Oliver juga kehilangan kata-kata sambil menatap kuil itu.

"Tidak ada kata yang bisa keluar. Jadi ini... kuil Phoenix..."

"Aku mengerti sekarang kenapa orang-orang dulu menyebutnya 'Kawasan Suci'..."

Suara Luna bergetar, tapi itu bukan karena ketakutan. Itu getaran murni dari rasa kagum.

"Kalian berdua, ikuti aku."

Aku memanggil mereka dan melangkah lebih dalam ke dalam kuil.

Begitu memasuki ruangan bagian dalam──ruangan tempat bola kristal disembah──udara terasa semakin jernih.

"...Bangunannya sendiri ternyata biasa saja ya."

Oliver bergumam pelan.

"Benar juga..."

Luna mengangguk.

Di tengah ruangan terdapat bola kristal yang diletakkan di atas alas transparan.

Di dalamnya, cahaya samar berdenyut pelan.

"Itu──prinsipnya."

Mendengar kataku, ekspresi keduanya menegang.

Luna dan Oliver perlahan mendekati bola kristal.

Tiba-tiba, udara bergetar.

Tanpa suara atau cahaya, hanya ada tekanan seperti sesuatu yang mengusap kulit.

"…………Eh...?"

Begitu Luna menahan napas, tubuhnya tiba-tiba menghilang.

"Luna!?"

Oliver terkejut dan hendak berlari mendekat, tapi aku menahannya dengan satu tangan.

"Tenang. ...Dia baik-baik saja."

"B-Baik-baik saja katamu...!"

"Pasti Titania yang memanggilnya. Hanya Luna saja."

Begitu nama itu disebut, ekspresi Oliver dipenuhi pemahaman dan kelegaan.

"...Begitu. Titania..."

"Sekarang ini Luna pasti sedang bertemu kembali dengan Titania."

Aku mengembuskan napas pelan dan menatap bola kristal di depanku.

Cahayanya berdenyut pelan, seperti detak jantung yang tenang.

◆◆◆

"...Ini... di mana...?"

Ketika sadar, Luna sudah berdiri di tempat yang asing.

Di depannya terbentang dataran putih murni tanpa satu rintangan pun, seperti padang es.

Di atas, langit yang samar berkelombang seperti awan fajar, dan jika dilihat lebih tinggi lagi, terbentang langit malam seperti kekosongan.

Di dalam keheningan di mana angin, suara, bahkan detak jantung pun menjauh, hanya keberadaan dirinya sendiri yang menonjol.

"Maaf sudah tiba-tiba membawamu ke sini."

Suara yang familiar terdengar dari belakang.

Luna perlahan berbalik.

Di sana berdiri seorang wanita yang sepenuhnya berwarna putih.

Pakaian, rambut, kulit, mata──semuanya begitu putih murni hingga seolah larut dalam cahaya, seperti cahaya salju yang mengambil bentuk manusia.

Ada kerapuhan seolah akan lenyap jika disentuh, sekaligus kehangatan yang seolah memeluk seluruh dunia.

"…………"

Bibir Luna bergetar. Tapi suara tak kunjung keluar.

Perasaan yang menumpuk di dada meluap lebih dulu daripada kata-kata.

"Lama tidak bertemu──"

Sang wanita cantik putih tersenyum lembut. Namun di matanya tersimpan sedikit keraguan.

Pandangan itu menelusuri wajah Luna, seolah mencari ingatannya, dan──seolah mempersiapkan diri untuk sesuatu.

Lalu setelah jeda sebentar, ia berkata lagi.

"Senang bertemu denganmu, Luna."

Mendengar itu, Luna menggeleng kecil.

"...Bukan 'senang bertemu denganmu'."

Mata Luna berkaca-kaca saat ia akhirnya berhasil merangkai kata.

Mendengar kata-kata itu, sang wanita putih memelotot.

"...Mungkinkah kau masih mengingatku? ......Ruu-ko."

Air mata mengalir di pipi Luna.

Tanpa ragu, ia berlari.

"Titania!"

Sambil memanggil, Luna melompat ke dalam pelukannya.

Ia menenggelamkan wajahnya dan membiarkan air mata meluap seperti bendungan yang jebol.

"Maafkan aku...! Maafkan aku benar-benar...!"

Suara isak yang tersendat menyatu dengan dunia putih itu.

"Aku... melupakan Titania...! Padahal kau begitu berharga... padahal aku tidak boleh melupakanmu...!"

Tangan yang gemetar mencengkeram ujung pakaian Titania.

"Saat mengingatnya, dadaku terasa sesak... aku... merasa sangat bersalah..."

Isak tangis yang tak terbendung menyela kata-katanya hingga suaranya terputus.

Titania pelan-pelan mengusap kepalanya.

"Tidak apa-apa, Ruu-ko."

Suara itu penuh kasih sayang.

"Aku tidak berniat menyalahkanmu karena lupa. Karena kau sudah datang sejauh ini demi aku."

Setiap kali ujung jari Titania menyisir rambut Luna, cahaya putih samar bergetar.

"Saat aku memutar waktu dunia, aku sudah siap mati. Kukira aku tidak akan bisa bicara denganmu lagi. Tapi sekarang aku bisa mendengar suaramu. Bisa menyentuh Ruu-ko seperti ini.──Hanya itu saja sudah membuatku ingin menangis bahagia."

Suara Titania bergetar.

"──Terima kasih, Ruu-ko. Terima kasih telah datang menemuiku sekali lagi."

Pelukan Titania sedikit menguat.

Bayangan keduanya saling tumpang tindih, dan cahaya menyinari dunia putih itu.

Di langit malam yang seperti kekosongan, kekuatan sihir yang tak terhitung jumlahnya seperti bintang-bintang mulai berkilauan.

Seperti hujan berkah, cahaya lembut menari turun ke atas keduanya.

Setelah air mata mereda dan napas mereka akhirnya tenang, Titania pelan-pelan memandang ke belakang Luna.

"...Kau selalu berada di sisi Ruu-ko, ya. Jujur, aku tidak menyangka kau akan begitu setia menepati permintaanku."

Seolah terdorong suara itu, Luna juga menoleh ke belakang.

Di sana ada Pixie, peri yang selalu mendampinginya.

Luna segera mengerti maksudnya dan berbisik pelan.

"──Fairy ManifestationFairia"

Bersamaan dengan bisikan pelan itu, udara di sekitar bergetar.

Cahaya-cahaya kecil tak terhitung jumlahnya berkumpul di sekeliling Pixie.

Mereka mengalir seperti angin, menari seperti kelopak bunga, lalu perlahan membentuk satu sosok.

Ketika cahaya itu menyatu──di sana berdiri seorang gadis putih murni.

Penampilannya begitu mirip dengan Titania versi kecil, hingga mengejutkan.

Pixie menatap tangan dan kakinya sendiri, seolah memastikan tubuh barunya.

"...Ini... adalah... aku...?"

Pixie yang baru pertama kali mendapatkan tubuh fisik itu mengeluarkan suara yang bercampur antara keterkejutan dan haru.

Titania juga menahan napas melihat pemandangan itu.

"Kapan kau sampai bisa menggunakan Fairy Manifestation..."

"Fufu. Lupa ya? Ini kan Titania yang mengajarkannya padaku."

Luna tersenyum kecil.

──Ruu-ko, hal terakhir yang bisa Uchi berikan padamu adalah sensasi Fairy Manifestation ini. Ini pasti akan menjadi kekuatanmu di masa depan. Jadi, tolong jangan lupakan sensasi saat Uchi bermanifestasi ini.──Meski ingatan hari ini hilang sekalipun.

Itu adalah kata-kata yang Titania tinggalkan untuk Luna sedikit sebelum waktu dunia diputar kembali──saat Titania bermanifestasi dengan bantuan Oliver.

Sensasi yang pernah berada di balik lupa itu, kini Luna ingat dengan jelas.

"...Begitu. Ternyata Uchi berhasil meninggalkan sesuatu untuk Ruu-ko."

Titania tersenyum bahagia sambil melangkah maju.

Ia mendekat dan berdiri berhadapan dengan gadis putih──Pixie.

Dengan lembut, ia meletakkan tangan di bahu Pixie.

"Pixie, terima kasih sudah selalu melindungi Ruu-ko selama ini. Berkat keberadaanmu, dia tidak pernah merasa kesepian. Sungguh, Uchi sangat bersyukur."

Pixie menundukkan pandangan sebentar, lalu segera tersenyum.

"...Aku tidak butuh kata terima kasih.──Karena aku menikmatinya. Ratu bilang kan? 'Kau boleh bertindak sesuka hatimu sesuai perasaanmu sendiri.'"

Pixie berbicara pelan, seolah membuka isi hatinya.

"...Selama ini, aku telah melihat banyak hal bersama Luna. Perubahan musim, senyuman orang-orang, air mata, hal-hal baik, hal-hal buruk, semuanya. ...Kalau Ratu tidak menciptakanku, kesempatan seperti ini tidak akan pernah ada. ...Makanya, aku berterima kasih pada Ratu."

Pixie sempat berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar dengan wajah cerah.

"Terima kasih telah melahirkanku, Ratu. ...Bukan──terima kasih, Ibu."

Mendengar kata-kata itu, Titania membelalakkan mata seolah tersentak.

Lalu──matanya perlahan berkaca-kaca.

"...Aku tidak pernah menyangka akan ada hari di mana aku mendengar kata seperti itu..."

Langit pun bergoyang pelan.

Seolah dunia itu sendiri ikut menangis mendengar kata-kata keduanya.

◆◇◆

Partikel cahaya kecil mulai beterbangan dari tubuh Titania.

"...Titania?"

Luna menahan napas.

Titania tersenyum tenang sambil menatap tangannya sendiri.

"...Sepertinya sudah hampir waktunya."

Suara itu damai, sama sekali tidak ada rasa takut akan kematian.

"Hei, Ruu-ko.──Kau tahu bagaimana akhir seorang peri?"

Pertanyaan mendadak itu membuat Luna menunduk dengan pandangan sedih.

"...Ya. Aku mendengar bahwa meski mati, mereka meninggalkan Magic Stone bernama Pupil Roh yang bisa membantu orang-orang."

Titania menyipitkan mata dengan senang.

"Benar sekali."

Setelah berkata demikian, Titania mendekati Luna dan mengulurkan tangan ke kepalanya.

Ujung jarinya menyentuh aksesoris rambut Luna.

"Peri itu, setelah lenyap pun, akan menjadi Pupil Roh yang menjadi cahaya bagi seseorang.──Makanya, ini sudah cukup."

Sambil berbisik, ia perlahan mengalirkan sisa kekuatan sihir yang menyusun dirinya ke dalam aksesoris rambut itu.

Cahaya lembut menetes, dan warna aksesoris rambut itu perlahan memutih.

Lalu──seperti pola yang terurai, bentuknya berubah menjadi siluet yang seolah bulan dan peri sedang berdampingan.

Itu bukan tanda perpisahan, melainkan tanda bahwa ia akan terus mendampingi di bawah cahaya bulan.

Titania menatap kilauan kecil itu dan tersenyum penuh kasih sayang.

"...Setelah dikalahkan oleh Dewa Jahat, aku mengantarkan teman dan sahabat satu per satu... Ketika memutuskan menjadi pengamat, Uchi benar-benar kesepian selama ratusan tahun. Tapi orang yang menyelamatkan Uchi yang seperti itu──adalah kau, Ruu-ko."

Air mata mengalir di pipi Luna.

"Titania..."

"Uchi benar-benar bersyukur. Jangan lupa.──Uchi akan selalu mengawasimu dari dekat mulai sekarang."

Suara Titania bergetar lembut seperti angin.

Luna menahan air matanya sambil mengangguk kuat.

"...Ya."

Titania kemudian memalingkan wajah ke arah Pixie.

"Pixie, kau tidak lagi terikat oleh keinginan Uchi. Mulai sekarang, hiduplah untuk dirimu sendiri──sesuka hatimu."

Pixie berkedip, lalu tersenyum cerah.

"...Baik. ...Aku akan bernyanyi sepuasnya tentang kehidupanku sendiri."

Mendengar itu, Titania mengangguk puas.

Namun sesaat kemudian, ia seolah teringat sesuatu dan mengembuskan napas kecil.

"...Ah, benar. Masih ada satu janji yang belum kutepati."

"Janji...?"

Luna memiringkan kepala.

Titania tersenyum agak malu-malu.

"Uchi belum menjelaskan alasan kenapa memanggilmu 'Ruu-ko', kan?"

Luna berkedip.

"──Kata '' itu terdiri dari ' (awal)' dan ' (akhir)'. Artinya, itu melambangkan satu kehidupan──'seumur hidup'. Itu yang diajarkan Stella, nenek moyangmu. Dia ingin memberikan huruf itu pada anaknya sendiri, tapi... impiannya tidak terkabul. Makanya Uchi memanggilmu, keturunan Stella, dengan sebutan 'Ruu-ko'."

Suara itu tenang. Namun di dalamnya terkandung perasaan selama ratusan tahun.

Luna tersenyum sambil meneteskan air mata.

"...Kalau begitu, Titania telah mewujudkan keinginan nenek moyangku."

"Fufu... tidak sampai segitu sih."

Titania tertawa sambil bercanda.

Tubuhnya sudah hampir sepenuhnya larut menjadi cahaya.

Luna buru-buru mengulurkan tangan.

Tapi tangannya hanya menembus tubuh Titania.

"...Titania!"

Suara Luna bergetar, air mata mengalir deras di pipinya.

"Aku──akan memeluk perasaan Titania dan nenek moyangku, lalu menjalani hidupku sebaik mungkin! Agar kelak, setelah menjalani hidup yang tidak membuat kalian malu, aku bisa mengangkat dada saat bertemu lagi di surga...! Makanya──!"

Suara Luna tersendat oleh isak tangis.

Titania menatap Luna dan menyipitkan mata lembut.

"...Benar juga. Hari ini memang hari yang istimewa."

Luna berkedip.

"............Istimewa...?"

"Ya. Hari ini adalah tanggal satu Oktober. Artinya──hari ulang tahun Ruu-ko. Dan juga hari kau menginjak usia dua puluh tahun. Di zaman lama, usia dua puluh adalah awal menjadi dewasa. Jadi mulai hari ini, kau secara resmi sudah menjadi seorang dewasa. Makanya, meski Uchi tidak ada lagi, kau pasti akan baik-baik saja."

Suara itu penuh kasih sayang.

Air mata baru kembali mengalir di pipi Luna.

"Titania..."

Titania tersenyum kecil dan mengangguk pelan.




“Ruuko…… Pixie…… ──Kalian berdua adalah kebanggaanku. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian berdua dari langit.”

Setelah mengucapkan itu, tubuh Titania berubah menjadi cahaya dan menghilang.

Partikel-partikel seperti bulu putih larut ke dalam langit berbintang.

Di dalam keheningan, Luna perlahan menyentuh rambutnya yang kini memakai hair accessory.

Pixie mendekat dan menyandar lembut di sampingnya.

Meski air mata masih mengalir di pipi, Luna tersenyum.

“……Terima kasih, Titania. Aku akan menghubungkan ajaran yang kudapat darimu──ke masa depan.”

Langit yang dipandangnya penuh dengan bintang-bintang yang berkilau.

Seolah sedang menjaga dari atas.

Mereka mengubah perpisahan menjadi berkah, dan menerangi keduanya dengan tenang──.

◆◆◆

Di dalam Phoenix Shrine, aku bersama Oliver menunggu kembalinya Luna sambil melanjutkan penyelidikan Principle.

Bola kristal besar yang dipuja di bangunan utama memancarkan cahaya biru samar dengan denyut pelan.

Dari bola kristal itu, tak terhitung formula melayang seperti burung api yang mengembangkan sayap, memenuhi ruang di dalam shrine.

Simbol dan garis saling tumpang tindih. Pola yang ditenun dengan string berbeda dari magic art biasa bergerak dengan tenang namun penuh makna.

“……Orn, bagaimana kemajuan analisis Principle?”

Oliver bertanya sambil melihat sekeliling formula.

Aku membandingkan catatan di tangan dengan formula yang melayang di udara, lalu mengembuskan napas kecil.

“Berjalan lancar. Dengan ini, rencanaku seharusnya bisa berjalan tanpa masalah.”

Begitu aku menjawab, Oliver yang sedang memandang formula hanya memiringkan pandangannya ke arahku.

“Rencana yang kau bicarakan tempo hari itu?”

“Benar. Memberikan ketahanan terhadap magic power luar kepada seluruh manusia yang hidup di dunia ini.”

“……Apakah itu benar-benar mungkin? Bahkan leluhur kita yang merupakan ahli magic power nomor satu──August Suns dari The Hero of the Fairy Tale──hanya bisa melarikan diri ke dunia ini untuk menghindari magic power luar.”

“Keraguanmu sangat masuk akal, Oliver. August adalah seorang jenius sejati. Kalau dalam kondisi yang sama dengannya, bahkan aku juga pasti tidak bisa.”

Oliver mengulang pelan “Kondisi yang sama……?” sambil memiringkan kepala.

Keheningan yang meminta kelanjutan pun muncul.

“Dunia Principle yang diciptakan ratusan tahun lalu dan sekarang memiliki satu perbedaan yang sangat mendasar. Yaitu──semua manusia yang hidup di dunia ini lahir di dunia ini. Karena itu, ikatan mereka dengan Principle lebih kuat daripada manusia zaman dongeng.”

Sambil berkata demikian, aku menggerakkan jari di salah satu formula yang keluar dari bola kristal.

“Kalau menggunakan magic art yang dibangun di atas Principle, kita bisa mengganggu hingga tingkat gen manusia. Ini adalah perluasan dari prinsip magic pendukung yang bisa bekerja pada ki manusia.”

“……Mengganggu gen, hal seperti itu── tunggu, ya, benar juga.”

Nada suaranya lebih menunjukkan pemahaman daripada kekagetan.

“Seperti yang sedang kaupikirkan, Oliver. Sudah ada contoh nyata mengganggu gen dengan magic art.”

Begitu kata-kata itu keluar, dada terasa sedikit kasar.

Aku dan Oliver adalah saudara, dan ia juga mewarisi darah August.

──Tapi kelahirannya agak istimewa.

Sekitar dua puluh tahun lalu, sebagian dari Amuntsers──kelompok radikal──melaksanakan rencana rendah karena kepanikan.

Mereka mencoba menciptakan secara buatan keturunan The Hero of the Fairy Tale yang memiliki kemampuan buatan Magic Convergence untuk melawan Dewa Jahat──yaitu proyek designer baby.

Hasilnya adalah Oliver.

Magic art manipulasi gen itu dirancang oleh kakek dan disempurnakan oleh ayah.

Lalu, saat Oliver masih di dalam perut ibunya, ayah melaksanakannya.

Kesalahan perhitungan Amuntsers adalah lahirnya aku, keturunan alami, tak lama setelah Oliver lahir.

Sedikit melenceng, tapi magic seal yang diterapkan padaku saat kecil juga merupakan aplikasi dari magic manipulasi gen ini.

Aku menghormati kakek dan ayah. Tapi aku tidak bisa bilang semua perbuatan mereka benar. Tanpa magic itu, Oliver tidak perlu memikul beban ekstra. Apa yang keluargaku lakukan pada Oliver──

“──Hei, Orn. Jangan bilang kau merasa bersalah soal itu.”

Seolah ditunjuk tepat sasaran, dada terasa tersentak.

Aku mencari kata untuk membalas, tapi Oliver lebih dulu membuka mulut.

“Katakan saja, kau tidak salah.”

Meski singkat, kata-katanya sangat berat.

Oliver sedikit mengerutkan wajah yang disinari cahaya kristal dan melanjutkan.

“Orang tuaku yang meminta agar aku dilahirkan seperti ini. Bukan ayahmu yang sepenuhnya salah, apalagi kau tidak punya kewajiban memikul itu.”

“……Tapi tanpa magic itu, kau tidak perlu memikul beban──”

“──Salah.”

Aku dipotong dengan nada tegas.

Begitu aku mengangkat wajah, Oliver menatapku langsung.

“Aku lahir dan dibesarkan karena diinginkan. Itu saja. Beban? Siapa pun yang hidup pasti memikulnya. Aku tidak mau mendengar itu dari orang yang memikul lebih banyak dariku.”

Sambil berkata demikian, Oliver menepuk dada pelan dengan tinjunya.

“Dengar, Orn. Aku tidak membenci diriku yang sekarang. Karena──”

Bibirnya perlahan membentuk senyum.

“──Karena tubuh ini, aku bisa pergi ke dunia luar bersamamu. Bukankah itu masa depan yang cukup bagus?”

“……Oliver.”

Dada terasa sedikit lebih ringan.

Oliver mendengus malu-malu.

“Aku sudah menerima diriku sendiri sejak lama. Makanya, jangan merasa bersalah soal aku.”

“……Terima kasih.”

“Tidak perlu berterima kasih. Aku membantu karena aku sendiri yang mau.”

Setelah berkata itu, Oliver melihat bola kristal sekali lagi dan kembali ke suara serius.

“Lalu──soal memberi ketahanan terhadap magic power luar ke seluruh umat manusia, secara spesifik bagaimana?”

“Kalau mengoperasikan Principle, kita bisa mengubah struktur dunia. Seperti yang dilakukan sekte saat membanjiri permukaan dengan magic beast. Dan ‘dunia’ itu juga mencakup manusia. Makanya──dengan memanfaatkan hubungan antara Principle dan manusia, kita bisa memberi Anti-Magic kepada semua orang.”

“……Kau benar-benar memikirkan hal yang gila.”

“Tentu saja, kita tidak boleh gagal, jadi aku akan mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Pertama, aku akan mencobanya sendiri.”

Aku menggerakkan pandangan dan menekan dada pelan.

“Lagipula, aku memang ingin bisa mengendalikan youki. Itu disegel oleh mekanisme yang terukir di gen. Makanya, aku akan menetralkan mekanisme itu.”

Cahaya bola kristal mereda, dan udara di dalam shrine kembali tenang.

Ada ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui.

Tapi aku tidak bisa berhenti.

Karena aku percaya bahwa satu langkah ini akan menjadi fondasi menuju dunia luar.

◆◇◆

Saat cahaya kristal mereda dan udara di dalam shrine kembali tenang──tiba-tiba getaran muncul di kedalaman ruang.

“……Orn.”

Oliver memanggil melihat itu.

Begitu aku menoleh, ruang di depan mulai berkedip seperti fatamorgana.

Di tengah kilauan cahaya samar, perlahan──Luna melangkah keluar.

Di matanya tidak ada air mata, tapi ada cahaya yang jelas.

“……Orn-san, Oliver-san. Aku kembali.”

Begitu mendengar suaranya, udara yang tegang langsung mengendur.

Oliver mengangkat bahu dengan lega yang tak disembunyikan.

“Syukurlah kau selamat.”

Suasana yang melingkupi Luna terasa jauh lebih dewasa.

Tidak ada perubahan besar pada tubuhnya, tapi ia memakai hair accessory yang berbeda dari sebelumnya.

“Selamat datang kembali, Luna. ……Apakah hair accessory itu……”

“……Ya. Titania mengubah Spirit Eye-nya menjadi hair accessory untukku.”

Luna menyentuh hair accessory pelan dan tersenyum lembut.

Ketika peri mati, ia menjadi magic stone khusus bernama Spirit Eye.

Artinya──hair accessory itu adalah kenangan sekaligus Titania itu sendiri.

“Aku menerima hal yang sangat berharga dari Titania. Bukan kesedihan atau penyesalan──melainkan kekuatan untuk menghubungkan ke masa depan.”

Kata-katanya terasa seperti cahaya fajar yang menyusup ke dada.

“……Begitu. Syukurlah kau bisa berpisah dengan baik. Aku juga sudah selesai dengan yang ingin kulakukan. Kalau begitu──ayo pulang.”

Begitu aku berkata, Luna dan Oliver mengangguk bersamaan.

“Ya.”

“Aah.”

Langkah kaki ketiganya yang bergema di Phoenix Shrine terasa ringan.

◆◇◆

Kami meninggalkan Phoenix Shrine.

Begitu melewati torii dan kembali ke Tensai Shrine, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah halaman.

“Orn-san!!”

Yang berlari mendekat adalah Nagisa.

Meski napasnya tersengal, wajahnya penuh ketegangan yang tidak biasa.

Di belakangnya terlihat Kiryu-san dengan ekspresi tegang.

Perasaan tidak enak berdenyut tumpul di dada.

“Ada apa?”

“S-sebenarnya!! Baru saja, armada kapal Federasi Rudain…… telah memasuki perairan Kyokuto!”

“──Apa?”

Oliver mengeluarkan suara kaget.

Namun laporan Nagisa belum selesai.

“Lagipula, bersama armada perang itu…… salah satu iblis, Incineration, juga datang!”

Udara seketika tegang.

Iblis──keberadaan yang berada tepat di bawah Dewa Jahat.

Bisa dibilang kekuatan tempur tertinggi sekte.

“Saat ini Shion-san sedang menahan Incineration! Pasukan Federasi lainnya sedang dihadang oleh Fuka-neesama dan prajurit Kyokuto, tapi…… musuh menyerang bukan hanya dari barat, tapi juga dari utara dan selatan, situasinya kacau!”

“Brengsek……

Aku ingin segera berlari ke tempat Shion──tapi kepalaku mengerti.

Kalau medan pertempuran tersebar luas, yang harus kulakukan adalah membangun jaring informasi keseluruhan dengan Telepathy dan mengkoordinasikan gerakan sekutu.

Itu adalah cara menyelamatkan nyawa terbanyak.

Meski logika mengerti, hati belum bisa mengikutinya.

Saat itu──Luna melangkah maju di sampingku.

“Orn-san. Aku yang akan pergi membantu Shion-san.”

“Luna……

Matanya tidak goyah.

Seolah menyimpan cahaya itu sendiri, matanya sangat jernih.

“Aku telah diberi kekuatan untuk terhubung dengan para peri. Melawan iblis adalah bidang keahlianku.”

Sambil berkata demikian, ia memanggil ke langit.

“──Pixie, tolong berikan kekuatanmu!”

Sebagai jawaban, tak terhitung butiran cahaya menari naik mengikuti angin.

‘……Tentu saja!’

“Meski ini mendadak, bisakah kau?”

‘……Pertanyaan bodoh. Aku adalah putri Ratu Peri.’

“Fufufu, benar juga.”

Suara seperti lonceng yang jernih bergema, dan cahaya lembut membungkus tubuhnya.

Lalu Luna menyentuh hair accessory pelan.

Hair accessory putih itu memancarkan cahaya samar.

“Titania──Aku juga meminjam kekuatanmu ya.”

Begitu berbisik, cahaya menyilaukan meledak.

Siluet tubuhnya tertutup warna putih. Rambut, pakaian, bahkan matanya dibalut cahaya.

“──Lunania

Saat itu, udara bergetar.

Cahaya putih memenuhi halaman, dan burung kecil yang hinggap di atas torii terbang.

Begitu cahaya mereda, yang berdiri di sana adalah──seorang sosok seolah keluar dari mitos.

Seluruh tubuh dibalut putih, membawa aura suci. Keberadaannya benar-benar seperti Holy Woman of White.

Luna mengembuskan napas pelan, lalu menoleh dan tersenyum padaku.

“Kalau begitu, aku berangkat.”

“──Aah. Kumohon, Luna.”

Cahaya putih menari naik.

Tubuhnya menyatu dengan angin dan terbang ke langit.

Angin yang tersisa menyapu pipi.

Aku mengepalkan tangan dan memusatkan kesadaran.

Untuk memahami keseluruhan situasi pertempuran──saatnya aku juga menjalankan peranku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close