NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Chapter 5

Chapter 5

Deru Ombak


──Adegan kembali ke tempat Orn berada, tepat setelah dia melepas kepergian Luna.

Langit yang pagi tadi tampak cerah benderang, kini kian dipenuhi awan mendung seiring melangkah ke arah barat.

Setelah melepas kepergian Luna yang menuju ke tempat Shion, aku langsung mengalihkan fokus pikiranku.

"Nagisa, apa kamu tahu di mana keberadaan Haruto-san? Kalau bisa, aku butuh lokasi spesifiknya."

"Iya. Tolong tunggu sebentar."

Nagisa memejamkan matanya perlahan, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Melalui perluasan interpretasi dari kemampuan uniknya, Soul Interference, dia tidak hanya bisa mendeteksi iblis, melainkan juga posisi orang-orang terdekatnya.

Meskipun kabarnya ada batasan jarak, deteksi tersebut masih sangat mungkin dilakukan selama targetnya berada di dalam negeri.

Pancaran cahaya samar perlahan membubung dari telapak tangannya, yang kemudian memanjang lurus ke arah utara.

"……Saya sudah menemukannya. Haruto-san saat ini──berada di dalam hutan yang dekat dengan Honae, kota pertanian di bagian utara."

"Honae, ya."

Jika Federasi memang melakukan penyerangan, kukira dia akan berada di dekat Tsuranami, kota perdagangan di bagian barat, tapi kenapa dia justru ada di utara?

Sembari menyimpan keraguan tersebut, aku mereplikasi skill Telepathy menggunakan kemampuan unikku.

Aku mengarahkan kesadaran ke arah utara untuk membentangkan jalur komunikasi.

Hasilnya, aku bisa langsung menemukan keberadaan Haruto-san dengan cepat.

"Haruto-san, bisa mendengarku?"

Begitu aku mengirimkan transmisi suara, balasan langsung datang tanpa penundaan.

"Orn! Kamu sudah kembali, ya?!"

"Uhm. Aku sudah mendengar situasi tentang penyerangan Federasi dari Nagisa. Tolong jelaskan situasinya."

"Musuh menyerang dengan memecah pasukan menjadi tiga arah. Wilayah utara ditangani olehku dan Tershe, wilayah selatan oleh Fuuka, sedangkan wilayah barat saat ini sedang dihadapi oleh Kati dan Huey."

"Tiga arah sekaligus, ya…… Benar-benar merepotkan."

"Tapi tenang saja, di sini──wilayah utara, kami berhasil mendesak mereka mundur. Sekarang kami sedang dalam proses memburu sisa-sisa pasukan musuh di dalam hutan. Berkat Tershe yang membentangkan barisan pertahanan, kerugian kami pun bisa ditekan sampai batas minimal."

Hutan di pinggiran Honae. Itu bukan tempat yang buruk untuk dijadikan sebagai garis pertahanan.

Jika memanfaatkan topografi medan dengan baik, jumlah pasukan yang sedikit pun akan sangat mumpuni untuk menghadapi mereka.

"Bagaimana dengan situasi di selatan dan barat?"

"Jumlah musuh di selatan tergolong sedikit, lagipula di sana ada Fuuka. Jadi tidak heran kalau di sana pertarungannya sudah selesai sekarang. Yang menjadi masalah adalah barat. Di sanalah pasukan utama mereka berada."

"Tsuranami, ya."

"Target utama musuh sudah pasti adalah invasi dari arah barat."

Suara Haruto terdengar sedikit memberat.

Dia pasti bisa merasakan jalannya pertempuran ini secara langsung di lapangan.

"Bisa kuserahkan wilayah utara kepadamu?"

"Oh, jangan khawatir. Tershe dan aku masih bugar. Kami bisa mengatasi tempat ini sampai tuntas."

Setelah mengakhiri komunikasi suara dengan Haruto-san, aku langsung mengalihkan arah kesadaranku.

Menuju selatan──ke arah Fuuka.

Aku memusatkan kekuatan sihir ke satu titik, lalu menjalin benang mental secara tipis.

Saat menanyakan situasi kepada Fuuka dengan cara yang sama, persis seperti dugaan Haruto-san, wilayah tersebut ternyata sudah berhasil dia kuasai sepenuhnya.

Dia benar-benar sosok yang bisa diandalkan.

Aku pun memutuskan untuk menyerahkan pertahanan Hanemiya selanjutnya kepada Fuuka.

──Wilayah utara dan selatan tidak ada masalah.

Jika demikian, maka yang tersisa hanyalah barat.

Angin lambat laun berembus semakin kencang, membawa aroma payau laut secara samar.

Sensasi ini mirip seperti sebuah pertanda akan datangnya badai besar.

"Oliver, ayo berangkat."

"Kamu sudah berhasil menangkap situasinya?"

"Uhm. Kita akan menahan pasukan utama musuh. Tujuan kita adalah lepas pantai Tsuranami."

"Dimengerti."

Selesai berbicara dengan Oliver, terakhir aku memberikan instruksi kepada Nagisa.

"Aku akan membiarkan jalur komunikasi suara denganmu tetap terhubung. Jika ada pergerakan besar dari Fuuka, Haruto-san, ataupun di tempat lain, tolong beri tahu aku melalui komunikasi suara."

"Baik, saya mengerti! Orn-san, saya benar-benar minta maaf karena harus melibatkanmu kembali ke dalam kekacauan negara ini, tapi tolong bantuannya!"

"Kemungkinan besar dalang di balik insiden kali ini adalah diriku sendiri, kok. Akulah yang justru mungkin sudah merepotkan Kyokuto. Jadi, Nagisa tidak perlu merasa bersalah sama sekali. ──Kalau begitu, aku pergi dulu."

Begitu selesai berbicara dengan Nagisa, aku saling bertukar pandang dengan Oliver, lalu kami menghentak tanah hampir di saat yang bersamaan.

Di saat yang sama, aku mengaktifkan Elseria Flight untuk langsung melesat menuju Tsuranami.

◆◇◆

Pemandangan di bawah kaki kami menjauh dengan kecepatan kilat.

Tepat saat kami memasuki wilayah bagian barat Kyokuto, langit biru perlahan mulai ternoda oleh warna abu-abu kelam sewarna timah.

Angin mengamuk hebat, dan awan mendung menggantung sangat rendah.

Hawa yang terasa berat dan menyesakkan tampak bergelayut di udara, seolah-olah ada sesuatu yang sedang berusaha menutupi ujung barat negara ini──.

"……Langit yang buruk, ya."

Oliver bergumam dengan suara rendah.

"Kemungkinan ini bukan fenomena alam biasa. Gangguan pada aliran kekuatan sihirnya terlalu kuat."

"Apakah ini ulah iblis?"

"Bukan, ini sepertinya bukan sekadar ulah dari Funchaku sendirian, melainkan dampak dari sisa-sisa pertempuran antara Shion dan Funchaku."

"Hasil dari tabrakan antara hawa dingin dan hawa panas, ya……"

Sembari melesat maju sambil bercakap-cakap dengan Oliver, lautan mulai terlihat dari balik celah gumpalan awan.

Gelombang ombak hitam mengamuk hebat, dan di antara gulungan ombak tersebut, tampak bayangan dari beberapa kapal.

Lebih dari setengahnya sudah berada dalam kondisi terbakar dan mengobarkan api.

Bersamaan dengan suara ledakan dan derit besi yang terbawa oleh angin, aroma kain layar yang hangus terbakar langsung menusuk hidung.

"……Mengerikan sekali."

"Jadi seperti inilah pertempuran yang menggunakan senjata sihir."

"…………"

Asap tebal hanyut terbawa angin, menyisakan jejak samar dari lintasan peluru meriam.

Namun, situasi pertempuran itu sendiri tampaknya sudah mulai mereda.

Untuk memastikannya, aku mengirimkan komunikasi suara kepada Katina-san.

Katina-san, bisa mendengarku? Bagaimana situasi pertempurannya sekarang?

Ah, Orn! Kebetulan sekali, aku baru saja mau berniat melaporkannya kepadamu. Di sini kita menang! Pasukan Federasi sudah mulai bersiap untuk mundur!

……Begitu ya, syukurlah.'

Saat ini, duta besar dari pihak Kyokuto sedang mengadakan pertemuan dengan komandan Federasi. Kupikir gencatan senjata akan segera dideklarasikan dalam waktu dekat.

Mendengar kata-kata itu, ketegangan di lubuk hatiku akhirnya mengendur.

Tampaknya, pertempuran ini untuk sementara waktu telah berakhir.

Kalau begitu──apakah sebaiknya aku juga segera menyusul ke tempat Shion?

Meskipun aku memercayai Luna, bagaimanapun juga aku tetap sedikit mencemaskan keadaan Shion.

Tepat saat pemikiran itu melintas, sesuatu tampak terjatuh ke dalam laut di ujung jarak pandangku.

Begitu mengalihkan pandangan ke arah sana, serpihan kecil tampak memercik, dan sebuah kotak kayu yang tadinya terapung di permukaan air mendadak terguling ke samping.

Bersamaan dengan momen tersebut, "sesuatu" yang tadinya bersembunyi di balik bayangan kotak langsung merosot dan jatuh ke dalam laut.

(……Anak kecil?)

Hanya dalam sekejap mata, lengan dan kaki yang mungil itu sempat tertangkap oleh pandanganku.

Tubuh kecil yang terempas ke laut itu tampak kewalahan menghadapi air yang tidak familier baginya, membuatnya meronta-ronta dengan panik.

Aku pun segera menukik turun dan mendekat ke arah anak tersebut.

"Hei, kamu tidak apa-apa?!"

Aku mengulurkan lengan, lalu mendekapnya erat.

"Sekarang sudah aman. Kita akan pergi dari sini."

Tepat saat aku memberi tahu hal itu, bibir mungilnya bergerak.

"……Ternyata metode ini memang sangat efektif untuk menghadapi Anda, ya."

Sama sekali tidak ada nada ketakutan ataupun tanda-tanda meminta pertolongan dari suara tersebut.

Di dalamnya hanya bersemayam sebuah keyakinan tenang milik seseorang yang telah selesai melakukan observasi.

Detik berikutnya, seberkas cahaya berkilat dengan tajam.

Rasa sakit yang menyengat langsung menjalar di pipiku.

"──Kh!?"

Saat aku memutar tubuhku secara refleks, sebuah bilah perak tampak melintas tipis tepat di depan mata.

Ujung pisau membelah angin, menggores pipiku secara dangkal.

Beberapa tetes darah tampak jatuh menetes ke permukaan laut.

Sebelum kusadari, empat bayangan manusia telah berdiri mengepung di sekelilingku.

Semuanya adalah anak-anak yang mengenakan jubah luar berwarna merah.

Terlebih lagi, mereka──terbang di udara.

Padahal di kalangan umum, sihir yang memungkinkan manusia untuk terbang di langit seharusnya dinyatakan belum berhasil dikembangkan hingga saat ini.

"Bagaimana bisa kalian terbang di──"

Di detik berikutnya, rentetan peluru cahaya langsung ditembakkan.

Aku bergegas membalikkan tubuh secara refleks, membentangkan penghalang sihir untuk menahan hantaman langsung dari serangan tersebut.

Sembari mundur meluncur di atas permukaan laut, aku mengobservasi peralatan yang mereka gunakan.

Di balik jubah merah mereka, terdapat formula sihir rumit yang terukir di bagian pergelangan tangan serta punggung.

Aliran kekuatan sihir tampak merayap di permukaan kain, berpendar dengan cahaya samar.

(Begitu rupanya…… Pakaian itu bertindak sebagai alat sihir yang membantu mereka untuk terbang, ya.)

Anak-anak itu tetap membisu, mereka mengubah formasi dan mulai mempersempit ruang kepungan.

Tepat di tengah-tengah mereka, bocah laki-laki yang tadi kulepaskan dari dekapanku tampak berdiri tegak di atas permukaan laut.

Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Namun, hanya suaranya saja yang terdengar tertata dengan sangat janggal.

"──Eksperimen verifikasi pertama, selesai. Beralih ke eksperimen verifikasi kedua."

Sebuah batu sihir berwarna hitam legam mendadak muncul di tangan kanan bocah itu.

Kegelapan yang pekat tampak berdenyut di bagian dalamnya.

"Hentikan!"

Lebih cepat daripada suaraku yang mencapainya, bocah itu telah menjatuhkan batu tersebut ke dalam laut.

Tepat di saat batu sihir menyentuh permukaan air, suara dengungan berat bergaung hebat dari dasar laut.

Seketika itu juga──lautan tampak membubung tinggi.

Pilar air yang gelap melesat tinggi ke langit, dan sebuah bayangan raksasa mendadak memunculkan wujudnya dari dalam sana.

Itu adalah monster ilusi (Genma) menyerupai gurita, memiliki tubuh sebesar gunung dengan jumlah tentakel yang tak terhitung banyaknya.

Tanpa membedakan antara pihak Kyokuto maupun Federasi, tentakel monster itu langsung menghantam dan menghancurkan kapal-kapal di sekitarnya.

Jeritan histeris seketika menggema hebat di lepas pantai Tsuranami.

Tiang kapal yang patah, geladak yang miring, hingga para prajurit yang terlempar ke dalam laut.

Semua orang meneriakkan suara ketakutan yang sama.

(……Kalau dibiarkan seperti ini, ratusan orang akan mati!)

Tidak ada waktu untuk ragu.

Tepat saat aku hendak mencabut Schwarz Hase──aku menyadari pergerakan dari tentakel monster itu.

Tentakel raksasanya melesat naik ke langit, mulai diselimuti oleh pancaran cahaya hitam.

Akibat suara getaran yang memekakkan telinga, udara di sekitar tampak memercikkan aliran listrik bersahutan.

"……Dia mengalirkan arus listrik?!"

Firasat buruk seketika menjalari tulang punggungku.

Jika dibiarkan, arus listrik bertegangan tinggi akan mengalir ke seluruh lautan, dan orang-orang yang terjatuh ke dalam air pasti akan──.

"Jangan bercanda, keparat!!"

Bersamaan dengan raungan kemarahan, aku melepaskan seluruh aliran Ki di dalam diriku secara sekaligus.

Aku menarik ratusan orang──seluruh korban yang terombang-ambing di laut secara serentak menggunakan skill Psychokinesis.

Orang-orang yang terangkat dari lautan tampak melayang di udara, membuat butiran air yang tak terhitung jumlahnya berhamburan seperti kabut.

Aku dipaksa untuk melakukan konsentrasi tingkat tinggi yang seolah membakar otak, membuat saraf-sarafku terasa berderit parah.

(Jangan sampai jatuh…… Jangan pernah letakkan mereka jatuh……!)

Sembari memusatkan seluruh saraf untuk mengendalikan Ki, aku menyadari adanya niat membunuh yang mendekat dengan cepat.

Di ujung sudut pandangku, sebuah tentakel raksasa tampak diayunkan turun ke arahku──.

Namun, sebuah lintasan emas mendadak melesat di depan mataku.

Tentakel tersebut terpotong secara diagonal, lalu jatuh terempas ke dalam laut.

Sosok yang menebasnya adalah Oliver.

"Jika ingin menyerang sang raja, bukankah sebaiknya kamu menumbangkanku terlebih dahulu?!"

"……Oliver, terima kasih atas bantuannya!"

"Orn, biarkan posisimu tetap seperti itu untuk mengamankan keselamatan semua orang. Serahkan makhluk ini kepadaku!"

Oliver mengangkat pedangnya tinggi-tiga, lalu bergumam dengan suara rendah.

"──Aegis."

Kekuatan sihir Oliver lambat laun mulai diselimuti warna putih, mengubah warna kuning emasnya menjadi warna kuning kenari.

Kekuatan sihir tersebut membungkus seluruh tubuhnya, membentuk sebuah baju zirah dan sayap cahaya.

Sembari mengepakkan sayap cahayanya, dia langsung melesat lurus menerjang ke arah monster ilusi tersebut.

Lintasan sewarna kuning kenari tampak menebas dan mengoyak tentakel musuh, menorehkan luka yang dalam di permukaan tubuhnya yang hitam.

Bulu-bulu sayapnya berubah menjadi bilah-bilah tajam kecil yang menghujani musuh, membuat pergerakan monster raksasa itu kian melambat.

Di sisi lain, aku masih terus mempertahankan skill Psychokinesis.

Rasa takut dari orang-orang mengalir deras seperti ombak, berusaha mengacaukan benang kendaliku.

"Tenanglah…… Tidak apa-apa, aku pasti akan menyelamatkan kalian semua……!"

Sembari merajut kembali aliran Ki, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Terdapat sebuah kapal dengan tingkat kerusakan yang relatif kecil yang masih mempertahankan bentuknya.

Meskipun lambung kapalnya miring dan tiang layarnya patah, kapal itu masih bisa terapung.

Bagi diriku yang saat ini telah mengerahkan seluruh Ki hingga batas maksimal, aku sudah tidak memiliki keleluasaan lagi untuk menggunakan kemampuan unik.

Namun jika aku menyerah di sini, ada banyak nyawa yang akan lenyap begitu saja.

──Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi.

"Kembalilah ke waktu semula……!"

Aku mengerahkan seluruh tenaga, mereplikasi skill Time Regression.

Lambung kapal yang berderit parah tampak bergetar hebat, membuat serpihan kayu yang hancur bergerak mengalir mundur ke posisi semula.

Kain layar kembali terbentang, dan tiang kapal yang patah tampak beregenerasi secara utuh.

Pandanganku seketika berputar hebat, membuat kedua lututku bergetar.

Bagian dalam kepalaku terasa sangat panas seolah sedang dibakar.

Namun, aku tidak memiliki kemewahan untuk memedulikan hal semacam itu sekarang.

──Hanya dalam waktu belasan detik.

Kapal tersebut telah kembali ke wujudnya semula sebelum dihancurkan.

"Semuanya──pergilah ke kapal itu!"

Aku mengendalikan aliran Ki untuk menurunkan orang-orang ke atas geladak kapal.

Meskipun tidak bisa menampung semuanya, setidaknya aku berhasil menyelamatkan lebih dari separuh korban.

Begitu kelonggaran mulai tercipta, aku langsung mengendalikan kekuatan sihirku.

"──Membekulah!"

Bunga-bunga es tampak mekar dan meluas di sekeliling kapal, membekukan permukaan laut dalam sekejap mata.

Dengan memanfaatkan permukaan es yang membeku sebagai pijakan kaki, aku menurunkan sisa korban yang ada secara berurutan.

Tepat saat berhasil menurunkan semua orang, aku mengembuskan napas panjang yang berat.

Di atas geladak kapal, prajurit Kyokuto dan prajurit Federasi tampak saling melotot satu sama lain.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk mengangkat senjata.

Fakta bahwa mereka masih hidup──itu sudah lebih dari cukup.

Di tengah situasi tersebut, salah seorang prajurit Federasi tampak bangkit berdiri dengan tubuh yang limbung.

Seluruh tubuhnya dipenuhi luka, dan wajahnya tampak legam terkena jelaga.

"Kamu…… si Maou (Raja Iblis), kan……? Kenapa, kamu menyelamatkan kami……? Padahal, kamu adalah musuh……"

Mendengar pertanyaan itu, aku memilih untuk membisu sejenak.

Aroma laut yang hangus terbakar oleh api pertempuran menusuk hidungku dengan tajam.

"……Hanya karena status kita musuh, bukan berarti itu bisa menjadi alasan yang sah untuk membiarkan kalian mati, kan?"

Prajurit itu seketika menahan napas.

"Di tempat ini, tidak ada yang namanya menang ataupun kalah. Yang ada hanyalah suara yang meminta pertolongan. Mendengar hal itu dan tidak mengulurkan tangan──aku hanya tidak bisa melakukan hal semacam itu."

Suara deburan ombak tampak mengisi keheningan yang tercipta untuk sesaat.

Prajurit tersebut menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, aku sekali lagi mengedarkan pandangan ke arah lautan.

Bayangan raksasa hitam──monster ilusi itu masih terus menggeliat hebat.

Tentakelnya membelah udara, tampak bersiap untuk kembali mengamuk.

Tidak ada waktu untuk beristirahat.

Pertarungan ini belum berakhir.

Aku menggunakan Elseria Flight untuk melesat dan berpindah ke sebelah Oliver.

"Oliver, terima kasih. Terima kasih karena sudah mengalihkan perhatian makhluk itu, aku sangat terbantu."

"Sebenarnya aku ingin sekali menumbangkannya sendiri, sih."

"Ini sudah lebih dari cukup. Aku yang akan memberikan serangan pemungkas. Oliver, tolong lenyapkan tentakel-tentakel yang mengganggu itu."

"Oh, serahkan saja padaku."

Oliver tersenyum, lalu sayap sewarna kuning kenarinya kembali mengepak dengan sangat kuat.

Aku segera mengambil ancang-ancang sembari menggenggam Schwarz Hase.

"Meskipun ini adalah eksperimen langsung di medan tempur, hal yang harus kulakukan sebenarnya sangat sederhana dan jelas. ──Menyelaraskan ketiga kekuatan."

Sembari bergumam seolah sedang meyakinkan diri sendiri, aku menyatukan aliran kekuatan sihir dan Ki yang berputar di dalam tubuh.

Sebelumnya, di Kuil Fudou (Kuil Burung Phoenix), aku telah mengintervensi genetikaku sendiri melalui perantara hukum dunia (Jutsuri).

Mekanisme penekanan kekuatan spiritual (Yoki) yang telah disegel secara hati-hati oleh umat manusia selama bertahun-tahun, kini setelah aku berhasil menetralisirnya, aku bisa mengendalikan kekuatan ketiga yang tertidur di dalam tubuhku──yaitu kekuatan spiritual.

Aku mengeluarkan pedang besar War Demon Demon yang sebelumnya kuterima dari Fuuka.

Saat mencengkeram pedang besar itu erat-erat, bagian dalam diriku tampak beresonansi dengan "sesuatu".

(Jadi ini…… kekuatan spiritual, ya.)

Saat aku mencari tahu bagaimana bentuk eksistensinya menggunakan skill Universal Sight, gelombang besar yang awalnya tidak berbentuk kini mulai memiliki garis rupa yang jelas.

"──Aku bisa!"

Setelah memahami cara mengendalikan kekuatan spiritual, aku menyimpan kembali pedang besar tersebut dan kembali menenggelamkan kesadaranku ke dalam diri.

(Dampak kehancuran yang tercipta akibat benturan antara kekuatan sihir dan Ki──aku akan menekannya menggunakan kekuatan spiritual.)

Tiga kekuatan besar kini saling bertubrukan tepat di titik pusat tubuhku.

Tekanan hebat terasa berderit, membuat tulang-tulangku bergetar.

"──Drygration."

Aliran Ki dan kekuatan sihir yang berputar di seluruh tubuh saling bertolak belakang, memercik hebat layaknya sambaran petir.

Gelombang kehancuran yang tercipta dari benturan tersebut perlahan dibungkus dan dilebur oleh kekuatan spiritual.

Ketiga kekuatan tersebut akhirnya selaras, memusat menjadi satu kesatuan "kekuatan hitam legam".

Saat aku membungkus Schwarz Hase dengan kekuatan tersebut, partikel sewarna biru kehitaman tampak menari-nari di sekeliling bilah pedang.

"──Integration."

Kekuatan sihir, Ki, dan kekuatan spiritual──tiga kekuatan yang berbeda kini menelan Schwarz Hase secara utuh, memusat, hingga memunculkan wujud sebilah pedang hitam legam yang serupa tapi tak sama dengan pedang sihir (Maken).

Cahaya milik Oliver menjelma menjadi bilah-bilah tajam yang memotong tentakel musuh, membukakan jalan untukku.

"Orn, sekarang!"

Oliver berteriak lantang.

Aku pun langsung mengayunkan pedang hitam legam itu ke bawah.

"──Tenbatsu."

Tepat di saat tebasan hitam legam itu mengenai tubuh monster ilusi, gelombang kejut kehancuran yang tercipta akibat benturan antara Ki dan kekuatan sihir langsung menjalar hebat, mengoyak dan menghancurkan tubuh raksasa itu dari dalam.

Kabut hitam meledak bersahuran, membuat tubuh raksasanya runtuh dan hancur lebur.

Badai akhirnya reda, dan pancaran sinar matahari mulai menyelinap dari balik celah awan mendung yang terbelah.

Aroma payau laut akhirnya kembali menjadi aroma lautan yang normal.

"……Apakah sudah berakhir, ya."

Sembari mengembuskan napas, aku menurunkan pedangku.

Oliver yang mendarat di sebelahku tampak menyunggingkan senyum tipis.

"Tidak kusangka…… kamu benar-benar bisa menguasai kekuatan spiritual sepenuhnya, ya……"

"Syukurlah semuanya berjalan lancar. Tapi walau kubilang begitu, aku masih belum bisa mengendalikannya secara sempurna, kok."

"Meskipun begitu, suatu hari nanti kamu pasti akan menguasainya secara sempurna, kan?"

"Tentu saja. Aku akan membuktikan kalau aku bisa mempertahankan kondisi ini bahkan di bawah alam bawah sadar. Jika tidak bisa melakukan hal sejauh itu, aku tidak akan pernah bisa menang melawan Dewa Jahat."

Sembari berkata demikian, aku mengalihkan pandangan ke kejauhan.

Di sana, terdapat lima orang anak yang mengenakan jubah luar berwarna merah.

Mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap ke arah sini dengan sepasang mata yang kosong tanpa emosi.

Benar-benar persis seperti sedang melakukan "observasi" terhadap seluruh rangkaian kejadian tadi dari awal sampai akhir.

Aku harus mengorek informasi dari mereka──tepat di saat pemikiran itu melintas, mereka berlima berbalik secara serentak.

Sembari membiarkan jubah merah mereka berkibar, mereka langsung terbang melesat pergi menuju langit barat.

"Oliver, bisa kuserahkan tempat ini kepadamu?"

"Oh, pergilah!"

Setelah saling mengangguk satu sama lain, aku langsung membelah angin.

Aku mengaktifkan Elseria Flight untuk mengejar kelima bayangan tersebut.

◆◇◆

Setelah terus melaju sembari mempertahankan ketinggian untuk beberapa saat, warna langit lambat laun mulai berubah.

Awan mendung yang tebal tampak terputus, membentangkan langit biru yang cerah seolah sedang menunjukkan sebuah jalan.

Saat aku mengarahkan pandangan ke arah datangnya cahaya──di sana, tampak sosok dua orang yang sangat familier di mataku.

Mereka adalah Shion dan Luna.

Kondisi mereka berdua tampak sangat kelelahan.

Shion terlihat terkulai lemas di dalam dekapan lengan Luna.

Warna rambut Luna pun sudah tidak lagi berwarna putih kapur seperti saat kami berpisah tadi, melainkan sudah kembali ke warna biru tua aslinya.

Di tempat yang agak terpisah dari mereka berdua, seorang gadis berambut merah tampak mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Seketika itu juga, sebuah peluru api langsung ditembakkan.

Hawa panas membelah udara, dan tepat di saat peluru api itu hendak menelan mereka berdua, aku langsung melompat menerjang maju.

"──Hamatensen!"

Tebasan hitam legam langsung menelan kobaran api tersebut, membelah permukaan lautan.

Aku mendarat sembari melenyapkan peluru api tadi.

Melihat diriku yang berdiri sembari membawa pedang hitam legam, sepasang mata Luna tampak bergetar sedikit.

"Orn-san……!"

Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, selain lima orang anak laki-laki dan perempuan tadi──terdapat seorang gadis berambut merah, serta seorang pria yang sama sekali tidak memiliki karakteristik khusus yang menonjol.

Total ada tujuh orang yang berdiri sembari membiarkan ujung jubah luar mereka berkibar tertiup angin laut.

Sosok gadis berambut merah itu sudah tidak salah lagi.

Rambut itu, api itu──dia adalah sang Funchaku Ruari.

Dia tampak melotot menatapku dengan wajah yang dipenuhi amarah yang meluap-luap.

Namun, kondisi tubuhnya tampaknya sudah mencapai batas maksimal.

Tubuhnya dipenuhi luka dan napasnya terdengar terputus-putus.

Aku tahu dia bisa tetap berdiri tegak hanya bermodalkan kekuatan tekadnya saja.

"……Sampai di sini saja, ya. Mari kita mundur."

Pria yang berdiri di sebelahnya memberikan instruksi dengan nada datar.

Ruari mendecakkan lidahnya kesal.

Di detik berikutnya, kobaran api mendadak membubung besar dari bawah kakinya.

"──Kh!"

Bersamaan dengan suara dentuman yang menggelegar, asap putih tebal langsung meledak bersahuran.

Kobaran api dan embusan angin bercampur menjadi satu, mengubah jarak pandang menjadi putih bersih secara instan.

Dari balik pekatnya asap, beberapa hawa keberadaan tampak bergerak menjauh dengan cepat.

──Jangan harap bisa lolos.

Tepat di saat aku berpikir demikian, Luna mendadak mencengkeram lenganku erat-erat.

"Orn-san! Tolong lihat kondisi Shion-san, suhu tubuhnya……!"

Saat aku menengok, wajah Shion sudah dalam kondisi pucat pasi.

Ketika aku menyentuh lengannya, rasa dingin yang membekukan langsung terasa menyengat.

"……Kenapa dia bisa sampai sekritis ini?"

"Dia…… menggunakan sihir untuk menghentikan waktu."

"Jangan-jangan, dia menggunakan Fimbulvetr?!"

Suara keterkejutan yang amat sangat spontan lolos dari bibirku.

Itu adalah sihir yang mengintervensi hukum dunia dari dalam dunia ini untuk mengendalikan jalannya waktu.

Proses intervensi hukum dunia seharusnya dilakukan dengan cara mendatangi Kuil Fudou dan menggunakan bola kristal yang ada di sana.

Jika dia meleompati proses tersebut dan langsung mengintervensi hukum dunia secara sepihak, maka akan ada harga setimpal yang harus dibayar sebagai gantinya.

Aku sudah memperingatkannya untuk tidak menggunakan sihir itu kecuali jika aku berada di dekatnya, tapi fakta bahwa dia tetap menggunakannya mengindikasikan bahwa pertempuran yang dihadapinya benar-benar sangat sengit…….

"……Tidak apa-apa. Kondisinya akan segera membaik, jadi tolong bertahanlah sebentar lagi, Shion."

Aku mengarahkan telapak tanganku, mereplikasi kemampuan unik Nagisa, Soul Interference.

Di saat yang sama, aku mengaktifkan sihir penunjang Status Up.

Aku mendeteksi gelombang Ki yang bergetar tidak stabil di dalam tubuh Shion, lalu mengaktivasi dan merangsangnya kembali menggunakan Soul Interference.

Tak lama kemudian, rona merah yang samar mulai kembali ke pipi Shion.

Jari-jemarinya yang tadinya membeku sedingin es, kini perlahan-lahan mulai mendapatkan kembali kehangatannya.

"……Fuuuh. Dengan begini, untuk sementara waktu kondisinya sudah aman."

"Benarkah……? Syukurlah……!"

Luna mengembuskan napas lega yang panjang, lalu memeluk Shion erat-erat.

Aku menyarungkan kembali pedangku, lalu menengadah menatap langit.

Pertempuran ini telah berakhir.

Namun──sebuah duri kecil masih tertancap di lubuk hatiku yang terdalam.

Kata-kata yang diucapkan oleh bocah laki-laki tadi.

──"Eksperimen verifikasi pertama, selesai. Beralih ke eksperimen verifikasi kedua."

Apakah eksperimen yang dimaksud merujuk pada kemunculan monster ilusi tadi?

Ataukah, ada maksud tersembunyi lainnya?

Angin berembus melewati kami.

Sinar matahari memantul di permukaan laut, menyelimuti dunia dengan kilauan cahaya yang menyerupai fajar.

Aku merasa seolah bisa mendengar suara tirai pembatas dari pertempuran ini telah diturunkan.

Namun, jalan yang harus kami tempuh masih membentang panjang di depan.

Investigasi mengenai hukum dunia berjalan dengan sangat lancar.

Aku pun telah memahami metode untuk mengintervensi genetika menggunakan tubuhku sendiri.

Dalam masa depan yang tidak terlalu jauh dari sekarang, sihir yang mampu menanamkan sifat Hama (Penghancur Iblis) ke dalam diri seluruh umat manusia pasti akan berhasil dirampungkan.

Hal itu mengindikasikan──bahwa persiapan untuk menghancurkan dinding pembatas dari hukum dunia, saat ini sedang berjalan dengan sangat matang dan pasti.

Di saat yang sama, hal itu juga menandakan bahwa waktu untuk pertempuran penentuan akhir melawan Ordo, dan bahkan melawan Dewa Jahat, kini sedang berjalan mendekat secara pasti──.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close