NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjo-hi 1: 30 No Teisō Gyakuten Sekai de mi o tei Shite On'nanoko-tachi o Mamottara ai ga Omoku nari Sugita Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Pedang Terkutuk dan Lonceng Pemanggil Ilusi


Cara Menghapus Kutukan

Aku, Wiz, dan Aigis berkumpul di halaman belakang pada siang hari setelah hari di mana kami berhasil melarikan diri dari cermin.

Di hadapan kami, Narciss dan dua gadis perwakilan kelas sedang duduk bersimpuh di tanah. Postur tubuh mereka yang patuh adalah hasil dari "Garland Bootcamp" yang berlangsung dari malam hingga dini hari tadi.

"Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian menyerang kami, dan kenapa Tekt sampai terkutuk?"

"……Kenapa aku harus menjelaskan hal seperti ini pada kalian, meski kalian bangsawan tingkat tinggi, apalagi pada kalian para wanita?"

"Hah!?"

Narciss membantah desakan Aigis. Tentu saja Aigis langsung murka.

Menanggapi itu, aku pun angkat bicara.

"Push-up sepuluh kali."

"Baik! A-, a-, a-, akan saya lakukan!"

Narciss tersentak kaget dan langsung mengambil posisi push-up. Gadis-gadis itu pun melakukan hal yang sama.

Aku bertepuk tangan untuk menjaga ritme.

"Satu, dua, tiga, empat. Dua, dua, tiga, empat."

"Wah, ini benar-benar disuruh naik-turun sesuai ritme hitungannya……"

"Ini sebenarnya dua puluh kali, bukan sepuluh kali," bisaku.

Narciss tumbang setelah satu setengah kali push-up (sebenarnya tiga kali gerakan). Aku pun berseru.

"Narciss! Baru satu setengah kali, kan! Apa-apaan itu!"

"Instruktur! Ti-, tidak mungkin! Bagiku, sepuluh kali push-up itu mustahil!"

"Jangan manja, dasar kau makhluk yang bahkan belum genap bayi! Di rumahku, setiap orang yang lahir sudah terbiasa melakukan seratus atau dua ratus push-up dalam tiga hari pertama!"

"Tekt-kun, rumahmu itu sudah tidak wajar, tahu."

Aku mengabaikan komentar Wiz dan melanjutkan.

"Lalu, bagaimana dengan sisanya! Kapan dan siapa yang akan melakukannya!"

"I-, itu, mereka berdua yang akan——"

"Eh!?"

"Hiii! Be-, besok! Besok aku yang akan melakukannya! Aku yang besok, yang pastinya sudah lebih berotot dari hari ini!"

"Mana mungkin otot tumbuh sebanyak itu cuma dalam sehari!"

"Ti-, tidak apa-apa! Aku tetap akan melakukannya! Tolong biarkan aku melakukannya!"

"Bagus! Kalau begitu, lakukan sisanya besok!"

"Baik!"

Aku melipat tangan dan mengangguk puas. Wiz dan Aigis bergumam, "Wah, ini sungguh luar biasa……" dan "Hebat sekali kau bisa mendidik mereka sampai sejauh ini……" antara kagum dan takut. Padahal, ini adalah latihan dasar di rumahku.

"Nah, mari kita tanya lagi, Narciss. Jelaskan semuanya tentang cermin yang disebut 'Rahasia Keluarga Kerajaan' itu."

"Baik! Saya akan ceritakan!"

Narciss, yang sama sekali tidak bisa berdiri, akhirnya bangkit dengan bantuan dua gadis itu.

"Itu, kutukan yang menimpa Garland-kun adalah perangkap yang dibuat oleh keluarga Olviete generasi sebelumnya dengan meniru ujian keluarga kerajaan."

"……Ceritakan secara berurutan."

"Baik. Semuanya berawal dari perebutan kekuasaan di keluarga kerajaan generasi sebelumnya."

Narciss mulai bercerita tentang sejarah keluarga kerajaan Constantine. Itu adalah kisah perebutan kekuasaan yang biasa.

Permaisuri yang sekarang pun, dulunya tidak langsung menjadi permaisuri. Dia menang dalam perebutan kekuasaan barulah dia mendapatkan gelarnya.

Dalam prosesnya, sering terjadi upaya untuk membuat permaisuri dibenci oleh raja, atau upaya pembunuhan untuk mengincar nyawanya.

" 'Rahasia Keluarga Kerajaan' itu dibuat oleh ibuku—keluarga Olviete generasi sebelumnya—atas permintaan selir yang menjadi lawan politik permaisuri saat ini. Itu dimaksudkan untuk mengutuk permaisuri yang saat itu masih pelajar berprestasi."

Namun pada akhirnya, kutukan itu tidak pernah digunakan saat itu.

'Rahasia Keluarga Kerajaan' yang dibiarkan begitu saja berubah menjadi legenda urban di sekolah. Golem raksasa akan melenyapkan penyusup dan mencuri ingatan mereka, sehingga informasi yang tersebar hanya samar-samar.

Tapi bagi mereka yang tahu detailnya, akan jelas siapa yang membuatnya dan dengan niat apa. Jika hal itu terbongkar, itu akan berujung pada kejatuhan keluarga Olviete.

"Jadi, aku harus membereskan 'Rahasia Keluarga Kerajaan' ini selama aku masih bersekolah. Karena cermin tidak bisa dihancurkan sebelum kutukan aktif, maka kutukan itu harus dihilangkan oleh tangan keluarga Olviete sendiri agar tidak valid."

Singkatnya, Narciss hanya sedang membersihkan kotoran peninggalan leluhurnya. Itulah tujuan sebenarnya.

Setelah mendengar semuanya, aku berkata.

"Bukan 'Rahasia Keluarga Kerajaan', itu mah rahasia keluargamu sendiri, dasar bodoh!"

"Gyaaa!"

Aku menendang Narciss dengan telak. Narciss terbang sambil berteriak.

"Narciss-kun!", "Kau tidak apa-apa, Narciss-kun?" dua gadis itu segera menolongnya. Aku hanya bisa memegangi kepalaku.

"Aku merasa ini terlalu mudah sejak awal! Tingkat kesulitannya pun hanya sebatas 'sedikit berpikir maka akan selesai'! Jadi beginikah rasanya saat rasa penasaran membunuh kucing?"

Memang, kalau tingkat kesulitannya seperti itu, rasanya seperti "berhasil melewati rintangan dan mendapatkan harta legenda!". Aku jadi lengah! Aku pun melakukannya!

"Ti-, tidak, ujian yang berhasil dilewati Garland-kun itu memang asli, atau setidaknya isinya benar-benar menjiplak aslinya."

"Menurutku tingkat kesulitannya cukup serius sampai membuatku dan si kecil cukup kewalahan."

"Si anti-social itu saja sepanjang waktu cuma menatap huruf kuno di permukaan air tanpa menyadari ada sesuatu di dasar air."

Saat aku meratap, entah sejak kapan Narciss panik sendiri, sementara Wiz dan Aigis mulai bertengkar hebat. Situasi macam apa ini?

Aku berdeham dan bertanya pada Narciss.

"Lalu, apa sebenarnya kutukan ini? Rasanya memang sakit, tapi tidak ada perubahan fisik lainnya."

Karena hanya nyeri tumpul ringan, kemarin aku bahkan sempat mengabaikannya dan tidur begitu saja. Saat bangun pun tidak ada perubahan.

Narciss mengalihkan pandangannya dan berkata.

"……Aku tidak tahu."

"Hah?"

"Tidak, maksudku, a-, aku benar-benar tidak tahu! Aku hanya berniat menghilangkannya, menghancurkan cermin, dan mengambilnya kembali! Tapi kutukan ini seharusnya tidak mematikan bagi orang yang tidak bersangkutan."

Saat aku mengepalkan tangan dan mencengkeram kerahnya, Narciss menggelengkan kepala dengan panik untuk membela diri.

Melihat reaksinya, sepertinya dia memang tidak tahu. Aku pun melipat tangan. Meski bisa diabaikan, nyeri tumpul tetap saja tidak nyaman.

"Bagaimana ya……"

"Boleh aku lihat? Mungkin dengan melihat pola polanya, aku bisa mengidentifikasi jenis sihirnya."

Aku menyingsingkan lengan bajuku dan menunjukkannya pada Wiz. Dia menatap lekat-lekat sambil menyentuh lenganku.

"……Maaf, aku tidak tahu. Aku hanya tahu satu hal: ini bukan sihir biasa."

"Dasar anti-social, kau mau mengambil keuntungan sendiri, ya? Aku juga mau memeluk lengan Tekt!"

"Tindakanku sudah lebih ekstrem dari itu, lho! Kalau begitu aku akan memeluk tubuh Tekt!"

"Hah!? Kalau begitu aku yang akan minta Tekt mencium pipiku!"

"Jangan berebut melecehkanku!"

Setelah mereka berdua akur, kenapa malah jadi begini?

Aigis kemudian mengusulkan, "Hmm…… kalau begitu, bagaimana kalau kita coba pakai koneksiku? Meski aku tidak suka berhutang budi pada orang itu."

"Koneksi Aigis?"

"Ya. Kebetulan, dia ada di kelas yang sama."

"Siapa? Pakar kutukan?"

Saat aku memiringkan kepala, Aigis menggeleng.

"Bukan. Tekt juga pernah melihatnya, kan? Maksudku adalah——"

Aigis menyebutkan nama yang mengejutkan.

"Kerabat dari target sebenarnya dari kutukan Tekt. Putri dari permaisuri saat ini, yaitu Putri Ilusia."

Putri Ilusia

Aku ingin merangkum informasi yang kutahu tentang Putri Ilusia Farace Constantine, putri ketiga yang satu angkatan denganku.

Pertama kali aku melihatnya adalah saat upacara penerimaan siswa di sesi sambutan anggota keluarga kerajaan.

"Semuanya, salam kenal. Saya Ilusia Farace Constantine. Putri ketiga dari permaisuri saat ini."

Dia adalah gadis yang lembut dengan rambut pirang pink yang ditata roll vertikal, sangat mencerminkan seorang putri.

Tutur katanya tegas, sopan, dan menunjukkan kecerdasan serta martabat. Namun, ada aura karisma yang sulit diukur.

Bahkan dalam waktu singkat, dia sudah berhasil membentuk faksi.

Pengaruhnya terhadap siswa tahun pertama sangat kuat, bahkan kabarnya dia sudah dipastikan masuk OSIS.

Aktivitas komite kedisiplinan yang dilakukan Aigis juga merupakan bagian dari pengaruh tersebut. Aigis pun berada di kasta atas sekolah, namun dia tidak bisa mengabaikan sang putri.

Di sisi lain, dia bukanlah orang yang tanpa rumor buruk.

Misalnya, rumor bahwa meski anggota keluarga kerajaan, dia adalah seorang homoseksual.

Di dunia dengan rasio pria-wanita 1:30 ini, hubungan sesama jenis antar wanita bukanlah hal aneh.

Bagi rakyat jelata, menikah sesama wanita dan mendapatkan benih dari pria adalah hal lumrah.

Namun, itu hanya untuk rakyat jelata.

Bagi kaum bangsawan, homoseksualitas dianggap buruk.

Karena wanita bangsawan dituntut untuk menikah dengan pria, melahirkan putra, dan memenangkan perebutan kekuasaan.

Dalam hal itu, sang putri adalah anggota keluarga kerajaan.

Homoseksualitas bagi keluarga kerajaan adalah hal yang tabu. Namun, dia justru membentuk faksi yang terdiri dari gadis-gadis yang memusuhi pria.

Banyak yang menyebutnya yuri harem. Dan pemimpinnya adalah putri yang akan kutemui sekarang.

Singkat kata, bagiku dia adalah sosok yang berada di atas awan.

Perbedaan status kami seperti bumi dan langit. Bahkan untuk menyapa pun terasa lancang. Sosok seperti itulah dia.

Dan sekarang, aku harus bertemu langsung dengan sosok tersebut sepulang sekolah.

"Pe-, perutku sakit."

Sambil menahan sakit perut, aku dipandu oleh Aigis menuju kelas bangsawan tingkat atas.

"Te-, Tekt-kun……! Pe-, perhatian tertuju pada kita. Banyak mata memandang ke sini……!"

"Te-, tenanglah Wiz. Ada Aigis yang memimpin, seharusnya tidak masalah. Ber-, bersikaplah berani……!"

"Benar-benar, bersikaplah berani. Kalian justru menarik lebih banyak perhatian karena bersikap mencurigakan daripada bangsawan rendahan lainnya."

Kami yang penakut terus merasa gugup saat berjalan di koridor.

Aigis hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas.

Ya mau bagaimana lagi?

Kelas bangsawan tingkat atas berarti mereka adalah putri-putri keluarga besar yang seharusnya tidak pernah berurusan denganku. Wajar saja jika merasa takut.

Melihatku berpikir begitu, Aigis berkata.

"Lagipula, yang akan kita temui ini adalah puncak dari kelas bangsawan tingkat atas, lho? Anggota keluarga kerajaan? Kalau kau takut pada putri-putri bangsawan besar di sekitar sini, apa kau bisa bicara dengan benar di depan sang putri?"

"Mana mungkin bisa? Aku ini apa, lho. Anak ksatria. Hampir setara rakyat jelata."

"Ti-, tidak mungkin……! Ai-, Aigis-san."

"Tekt, jangan menyerah begitu saja! Dan si anti-social, jangan seenaknya memanggil namaku!"

Akhirnya, aku dan Wiz diseret oleh Aigis dengan mencengkeram kerah baju kami.

Akhirnya, kami melangkah masuk ke kelas bangsawan tingkat atas 1 tempat Aigis berada.

"Putri! Seperti yang kubicarakan siang tadi, aku membawa mereka!"

Saat Aigis berseru, gadis-gadis yang tadinya berkumpul serempak menoleh ke arah kami.

Aku menciut merasakan emosi yang mirip permusuhan di balik tatapan mereka. Rasanya seperti sedang dipelototi.

Namun, suara yang terdengar dari ujung ruangan begitu tenang dan lembut.

"Aku sudah menunggu, Aigis. Silakan, bawa mereka kemari?"

Dengan rasa segan yang luar biasa, aku melangkah maju dan berhadapan dengan sosok itu.

"Apakah kau orang yang ingin berbicara denganku?"

Gadis itu memiliki kepribadian yang sangat ramah.

Dengan rambut pirang pink panjang dan mata yang agak sayu, dia terlihat sangat lembut. Itulah putri ketiga. Ilusia Farace Constantine.

"Tekt."

Didorong oleh Aigis, aku tersentak dan menjawab.

"Ya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk konsultasi ini, Putri Ilusia. Saya Proteclus Garland. Saya adalah putra dari ksatria Garland."

Aku berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepala. Itu adalah tingkat kesopanan satu tingkat di atas penghormatan saat pertama kali bertemu Aigis.

Mendengar itu, para gadis di sekitar berbisik-bisik. Aku diam-diam merasa panik, tapi tetap mempertahankan posisiku.

Kenapa mereka berbisik? Itu tata krama standar, kan. Karena aku mempelajarinya langsung dari ibu, seharusnya tidak salah.

Melihatku, sang putri berkata.

"Wah……! Kamu sangat sopan. Tapi jangan terlalu memikirkan hal itu. Ini adalah akademi. Tempat ini tidak seformal istana kerajaan."

Saat sang putri berkata, "Siapkan kursi untuk semuanya," para pengikutnya segera menyiapkannya.

"Duduklah. Aku akan mendengarkan ceritamu."

"Terima kasih atas kebaikan Anda."

Aku duduk. Gadis-gadis pengikutnya sedang berbisik-bisik dengan wajah bingung.

"Apa pria tahu tata krama……?", "Meski tahu, jarang sekali mereka menunjukkannya pada wanita……", "Aku pernah melihat anak baron tertawa mengejek saat berpapasan dengan Putri……"

Aku merasa sangat kecil karena dipandang dengan tatapan curiga.

Apa aku melakukan kesalahan? Karena aku hanyalah bangsawan tingkat terendah yang disebut anak ksatria, aku berharap mereka bisa memakluminya.

Untuk mengatasi suasana yang tidak nyaman ini, aku terpaksa memulai pembicaraan.

"Saya datang untuk konsultasi karena ini berkaitan dengan ibu Anda…… permaisuri. Jadi, itu——"

"Tidak apa-apa. Di sini hanya ada orang-orang yang bisa dipercaya. Pengosongan ruangan sudah selesai dilakukan."

Aku menatap sekeliling kelas. Kupikir masih ada orang di sana, tapi sepertinya sudah ada langkah antisipasi.

"Kalau begitu, mohon maaf jika saya mengotori pemandangan Anda."

Setelah berkata demikian, aku menyingsingkan lengan kanan bajuku.

"Ah!", "Apa itu", "Tak mungkin", "Padahal itu kulit pria".

Melihat kutukan yang melilit lenganku, gadis-gadis di sekitar menarik napas bersamaan.

Sang putri pun sempat menunjukkan wajah terkejut, namun segera berubah serius dan menyentuh lenganku.

"Di mana kau mendapatkan ini?"

"Di bagian terdalam dari sebuah rumor yang beredar di akademi, saat saya mencabut pedang, kutukan ini muncul. Saya akan merahasiakan detail rumornya karena banyak hal yang belum jelas."

Narciss sudah kuberi pelajaran, dan dia bukan dalang utamanya, jadi aku akan melindunginya.

"Begitu ya……"

Sang putri membelai kutukan di lengan itu dengan ujung jarinya yang ramping. Lalu, ada tanda-tanda kutukan itu mulai bangkit.

"Putri, akan berbahaya jika Anda menyentuhnya lebih lanjut."

Aku buru-buru meraih tangan sang putri dan menghentikannya menyentuh kutukan itu.

Sang putri membuka matanya lebar-lebar karena terkejut dan menatap mataku. ……Ah, gawat. Apa itu tidak sopan? Apa itu kejahatan ketidaksopanan?

"Ma-, maafkan saya."

"……Tidak. Aku hanya sedikit terkejut."

Aku membuang muka, sementara sang putri tersenyum lembut.

Ta-, takut sekali! Keluarga kerajaan menakutkan! Kalau aku lengah sedikit, rasanya seperti menginjak ranjau!

"……Meski seorang putri, dia menyentuh tangan Tekt……", "Benar-benar tidak bisa lengah……"

Wiz dan Aigis menatap sang putri dengan wajah tegang. Sang putri tidak bereaksi. Tangguh sekali.

Setelah itu, sang putri terdiam cukup lama sambil menatap kutukanku. Aku hanya diam mematung agar tidak terlihat tidak sopan.

Akhirnya, sang putri berkata.

"Aku sudah cukup mengerti. Aku rasa jenis kutukan ini bisa dengan mudah dihapus."

"Benarkah! Terima kasih banyak."

Aku menundukkan kepala dengan senyum lega. Sang putri kembali membuka matanya lebar-lebar dan menatap mataku.

"……Putri?"

"——Ya. Ehem. Kalau begitu, aku akan menjelaskan apa kutukan ini."

Sang putri berdeham dan mulai bercerita.

"Pertama, konfirmasi, kutukan ini memang berkaitan dengan ibu saya…… permaisuri. Lebih tepatnya, ini ditujukan untuk menyerang permaisuri."

"Ya."

Sekitar mulai berbisik. Namun, sang putri melanjutkannya dengan tenang.

"Saya juga tidak tahu detailnya, tapi saya pernah melihat pola ini. Dalam garis keturunan 'Putri Bayangan' kami, ini adalah pola yang konon dimiliki oleh mereka yang dianggap sebagai orang terkutuk."

"Orang terkutuk……?"

"Ya. Mereka yang dikhianati dan dibunuh oleh bayangan yang seharusnya mereka kendalikan. Itu adalah noda memalukan bagi garis keturunan kami."

Mengendalikan. Bayangan.

Aku menduga ini adalah garis keturunan sihir yang mirip dengan sihir pemanggilan.

"Karena sejarah itu, pola ini dihindari dalam garis keturunan kami. Jika permaisuri tergerogoti oleh kutukan ini, beliau pasti tidak akan bisa menghindari perlakuan dingin di dalam garis keturunan."

"Begitu, ya……?"

Aku menanggapi tanpa benar-benar paham.

Alasannya adalah—penjelasan itu hanyalah mengenai pola yang muncul di lengan.

Sedikit melenceng dari penjelasan tentang kutukannya sendiri.

"Cara menghapus kutukannya, mungkin bisa ditemukan jika kita memeriksa dokumen di istana kerajaan. Namun, karena ini informasi dengan tingkat kepentingan tinggi, kemungkinan besar ini berada di bawah yurisdiksi perpustakaan terlarang."

"Perpustakaan terlarang, ya."

"Ya. Ada pustakawan yang merupakan abdi saya, jadi jika saya perintahkan untuk mencarinya, cara menghapusnya pasti akan terungkap."

Kalau begitu, penyelesaiannya tinggal menghitung detik. Mencari bantuan orang yang ahli, lalu mempraktikkannya.

Aku menghela napas lega.

Setidaknya ini bukan sesuatu yang tiba-tiba mengancam nyawa, dan jika ada jalan keluarnya, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

Saat aku merasa tenang, sang putri berkata.

"Namun, apakah aku akan mengaturnya seperti itu atau tidak, itu adalah masalah yang berbeda."

……Hm?

Aku merasa atmosfernya tiba-tiba berubah dan menatap sang putri. Sang putri tetap menatapku dengan senyum lembut dan tenang, lalu berkata.

"Jika diketahui bahwa aku memberikan bantuan kepada bangsawan rendahan tanpa pamrih, itu akan menjadi preseden buruk. Aku tidak ingin diserbu oleh siswa lain yang akan berkata, 'Karena dia diperlakukan dengan baik, aku pun harus diperlakukan sama'."

"Eh, anu."

"Oleh karena itu, saya meminta imbalan. Imbalan yang cukup untuk menggerakkan seorang anggota keluarga kerajaan seperti saya, yaitu saya, Putri ketiga Ilusia Farace Constantine."

Aku mulai berkeringat dingin.

Sepertinya pesannya adalah: Meski kau tidak membawa buah tangan sedikit pun, apa kau pikir anggota keluarga kerajaan akan bergerak hanya demi dirimu satu orang?

Ya, itu memang masuk akal. Aku lengah. Kupikir karena ada perkenalan, semuanya akan berjalan lancar.

Saat itulah, Aigis berdiri.

"Ilusia, ini adalah orang yang kubawa, tahu? Apa kau berniat membuatku malu?"

"Aku tidak berniat meremehkanmu, Aigis. Kau adalah siswa terbaik tingkat satu di Akademi Bangsawan Kerajaan Constantine, sekaligus posisi kedua dari keluarga ternama 'Little Fortress'."

"Hee……? Kau cukup bernyali juga, ya……"

Aigis melebarkan pupil matanya dan mengerutkan kening.

Ketegangan yang berbeda dari pertengkaran biasanya dengan Wiz menyelimuti ruangan.

Untuk memotong suasana itu, aku berkata.

"Ta!…… Apa yang harus, saya lakukan? Jika Anda membuatkan tempat untuk bernegosiasi, berarti Anda tidak meminta sesuatu yang mustahil saya bayar, kan?"

"Tekt! Sudah, biarkan aku dan Ilusia yang menyelesaikannya!"

Aigis menahanku dengan nada cemas. Saat itulah, sang putri berbisik pelan.

"Pikiranmu cukup tajam juga. Tata krama dan kepedulianmu sensitif, padahal kau naif dan polos…… Sungguh, pria yang menarik."

Aku menatap sang putri. Sang putri tersenyum manis padaku.

"Kalau begitu, untuk sementara, maukah kau menjadi asisten pribadiku?"

"Ya?…… Asis, asisten pribadi?"

"Ya, asisten pribadi. Kau anak seorang ksatria, kan? Kalau begitu, itu bisa menjadi pelatihanmu di masa depan."

Saat aku bingung, sang putri melanjutkan dengan senyum ramah.

"Atau…… pekerjaan rendahan seperti asisten pribadi tidak bisa dilakukan oleh seorang pria?"

Karena provokasi itu, aku merasa tersinggung.

Karena itu sama artinya dengan mengatakan bahwa aku sama saja dengan pria rendahan lainnya.

Karena itu, aku berdiri dan berkata.

"Saya bisa!"

"Wah, apa yang bisa kau lakukan?"

"Menjadi asisten pribadi pun tidak masalah! Bahkan kalau harus mendampingi dari pagi sampai malam pun tidak masalah!"

"Tekt-kun!?", "Tunggu, Tekt!?"

Saat aku refleks membual, Wiz dan Aigis terkejut, sementara sang putri tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.

"Ufufufufu, ufufufufufufufufuf! Pria yang sangat menarik. ……Kalau begitu, mulai sekarang, aku akan melatihmu sebagai pelayan pribadiku. Ikutlah denganku."

Sang putri berdiri dan menuju pintu keluar kelas.

"Eh, ah, eh, secepat itu……?"

"Ayo, cepat ikuti. Bukankah mulai besok kau akan mendampingiku dari pagi sampai malam?"

"Eh!? Benar-benar akan mendampingi sebagai asisten pribadi dari pagi sampai malam!?"

"Fufu, ufufufufu."

Sang putri berjalan keluar ke koridor dengan perasaan yang benar-benar gembira.

Melihat punggungnya, aku memegangi kepalaku, "Sepertinya aku terlalu gampang berjanji……"

Pelatihan Asisten Pribadi

Malam itu, aku sedang digembleng habis-habisan.

"Lantai ini belum bersih! Lakukan dengan lebih teliti, bertenaga, namun tetap cepat!"

Sosok yang memerintah dengan suara lantang itu adalah seorang pelayan senior. Aku pun menjawab dengan suara lantang pula.

"Baik! Guru!"

"Bukan Guru! Panggil aku Kepala Pelayan!"

"Baik! Kepala Pelayan!"

Aku membungkukkan badan, lalu kembali berlari untuk mengepel koridor.

Koridor ini bukanlah milik akademi, melainkan koridor di asrama rumah pribadi milik sang putri, Ilusia—atau Sia.

Sesuai dengan kesepakatan, aku sedang menjalani pelatihan menjadi asisten pribadi di bawah didikan pelayan Sia.

Sembari mengepel, aku mengenang kembali bagaimana semua ini bisa terjadi.

Sesaat setelah aku memutuskan untuk mengikuti sang putri, orang yang sangat menentangnya adalah Wiz.

"Tidak boleh! Tidak, tidak, tidak, tidak boleh! Asisten pribadi, apanya! Menggunakan kekuasaan untuk memaksakan pelayan pria tampan agar tunduk padanya, adegan seperti itu ada di mana-mana di dunia ini, dan kalau—ugh!"

"Singkirkan dulu delusi si anti-social itu."

Setelah Aigis melumpuhkan Wiz dengan tebasan tangan, dia menoleh padaku.

"Tekt, karena sudah jadi begini, kurasa kau tidak punya pilihan selain melakukannya, tapi berhati-hatilah."

"……Berhati-hati soal apa?"

Saat aku kebingungan, Aigis mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik cepat.

"Kebencian sang putri pada pria! Dia adalah wanita pembenci pria yang membuat yuri harem, tapi dia malah meminta seorang pria untuk menjadi asisten pribadinya, bukan!? Niatnya untuk menindasmu habis-habisan sudah terlihat jelas, tahu!"

"Ugh…… Begitu, ya?"

Karena aku sudah tahu rumor tentang yuri harem dan ketertarikan sesama jenis itu, aku sudah punya firasat, dan ternyata memang benar.

Saat aku tegang, Aigis berkata, "Dengar, Tekt. Dengarkan baik-baik."

"Ini sudah jadi masalah besar, jadi kurasa dia tidak akan menindasmu secara terang-terangan. Tapi, kalau terjadi sesuatu, pakai ini."

Aigis menyerahkan sebuah cincin padaku.

"Ini sama dengan cincin yang kupakai untuk memanggil perlengkapanku. Gosok cincin ini, dan aku akan dipanggil. Jika keadaan mendesak, aku yang akan membereskannya."

"O-oh. Terima kasih……?"

"Wah! Si kecil curang! Tekt-kun! Aku juga! Aku juga akan segera datang!"

"Si anti-social diam saja! Lagi pula, apa keluarga Viscount sepertimu bisa melawan putri kerajaan!?"

"Demi Tekt-kun, aku bahkan akan menghancurkan negara ini!"

"S-sudahlah, aku pergi dulu, ya……?"

Meninggalkan mereka berdua yang mulai bertengkar lagi, aku berlari kecil menyusul sang putri.

Setelah menyusulnya, aku dipandu tanpa kata hingga sampai ke asramanya.

"Putri, apa Anda tinggal di sini? Besar sekali……"

Asrama itu begitu tinggi hingga aku harus mendongak; itu sudah bukan asrama lagi, melainkan rumah pribadi. Keluarga kerajaan memang luar biasa.

Saat aku sedang terkagum-kagum, sang putri melirikku dengan tatapan tajam.

"Nah, kalau begitu, mari kita mulai dengan perintah sederhana."

"……Baik. Apa pun perintah Anda."

Saat aku mengangguk dengan waspada, sang putri berkata.

"Panggil aku Sia. Aku juga akan memanggilmu Tekt."

"Ba-, baik. Saya mengerti, Putri."

"Bukan Putri?"

"……Sia-sama."

"Bagus."

Atas koreksiku, Sia—sang putri—terlihat puas dan tersenyum, "Keakraban itu penting, bukan?"

Aku tidak bisa membaca niatnya. Perintah pertama dari seorang putri yang benci pria. Kupikir dia akan melakukan pelecehan, tapi ternyata malah seperti ini.

Namun, aku adalah orang yang ditempa habis-habisan di rumah. Aku tidak akan menyerah apa pun yang terjadi.

Sambil berpikir begitu, aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam asrama Sia.

Muncul seorang pelayan senior dengan raut wajah yang tampak sangat gugup.

"Selamat datang kembali, Sia-sama. Dan…… tamu pria."

Pelayan itu menatapku dengan mata penuh kewaspadaan. Wajar saja kalau dia waspada jika ada pria yang datang ke asrama wanita.

……Hm? Tunggu, karena ini dunia pembalikan gender, jadi…… ah?

Saat aku sedang kebingungan dengan dugaanku sendiri, Sia berkata pada pelayan itu.

"Hedda. Mulai hari ini untuk sementara, dia adalah Tekt yang akan menjadi asisten pribadiku. Meski dia dari kelas bangsawan tingkat rendah, didiklah dia layaknya seorang pelayan."

"Hmm, saya mengerti. Saya Heddalice. Pelayan Ilusia-sama."

Pelayan senior itu membungkuk dengan hormat dan memberi salam padaku.

Setelah itu, dia menatapku dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.

"Saya tidak tahu detail situasinya, namun jika dia harus dididik layaknya pelayan, saya, Hedda, tidak akan memberikan keringanan. Meskipun status aslinya adalah seorang siswa, saya akan melatihnya dengan tegas, jadi bersiaplah."

Aku tersenyum kecut, tapi tetap membalas perkenalannya.

"Salam kenal, saya Proteclus. Panggil saja saya Tekt. Saya mungkin akan merepotkan Anda, tapi mohon bantuannya."

Saat aku membungkuk, Hedda—si pelayan senior—membelalakkan matanya karena kaget.

Dia kemudian berbisik pada Sia.

"Pria ini sopan sekali, ya……?"

"Begitu, ya. Tapi, jangan beri dia keringanan, mengerti?"

"Saya mengerti……"

Bisikan berakhir. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bertekad untuk menunjukkan semangatku.

Hedda pun berkata.

"Kalau begitu, mulai hari ini kita langsung mulai. Ikutlah denganku."

"Baik!"

Aku menjawab dengan semangat dan mengikuti Hedda.

——Setelah rangkaian peristiwa itu, inilah saatnya.

"Berikutnya adalah membersihkan cangkir! Jangan bilang kau sudah kelelahan hanya karena hal seperti ini!"

Begitu kami berdua saja, Hedda memulai pelatihannya dengan intensitas ini. Tidak ada kata ampun.

Namun, aku sudah terbiasa dengan tingkat kelelahan seperti ini.

"Saya masih sanggup! Silakan berikan perintah!"

"Tidak ada gunanya menjawab dengan mulut saja! Ayo, gerakkan tanganmu!"

"Baik! Guru!"

"Bukan Guru! Panggil aku Kepala Pelayan!"

"Baik! Kepala Pelayan!"

Aku mengepel cangkir teh dengan kecepatan kilat. Karena itu barang mewah, aku harus berhati-hati agar tangan tidak licin.

Aku membersihkannya tanpa noda sedikit pun dengan teliti, tapi aku juga tidak menurunkan kecepatan.

Kualitas dan kecepatan adalah standar mutlak seorang pelayan. Itu bukan hal baru bagiku.

"Selesai!"

"Saya periksa. ……Hmm, begitu ya, hmm……"

Hedda memeriksa setiap cangkir dengan cermat.

Kemudian, dia berkata.

"Lulus! Cangkir ini dibersihkan dengan sangat baik."

"Terima kasih! Apa berikutnya!"

"Tidak ada! Beristirahatlah."

"Baik! Terima kasih!"

Saat aku duduk di kursi ruang pelayan, Hedda duduk di depanku dengan perasaan yang sangat gembira.

"Tekt-san, ini teh dan kue. Kuenya sisa dari tadi."

"Eh, terima kasih."

Setelah dia menuangkan teh, aku menatap kue di depanku. Karena dia berkata "Kenapa diam saja? Makanlah," aku pun menjawab, "Kalau begitu saya permisi," dan mengambil kue itu.

"……Cara makanmu pun tidak ada masalah. Tekt-san, kau dari keluarga mana?"

"Keluarga Ksatria Garland."

"Ya ampun. Apakah kau putra dari Ksatria Garland yang terkenal itu?"

"Ya. Anda kenal dengan Ibu saya?"

"Tentu saja. Ibumu adalah orang yang sangat kuat."

Hedda mengangguk dengan perasaan haru. Dia menatapku dengan mata lembut, lalu berkata.

"Namun, sekarang saya mengerti. Jika dia siswa akademi, meski dari tingkat terendah, dia tetaplah keturunan bangsawan. Saya heran kenapa dia bisa tumbuh tanpa dimanja."

Hedda menyeruput tehnya.

"Kau tahan dengan bimbingan yang disertai teriakan, dan terbiasa bekerja dengan cepat tanpa melewatkan detail. Pasti kau juga mengerjakan pekerjaan rumah di rumah, ya. Hanya dalam beberapa jam bimbingan ini, kau sudah jauh berubah."

"Tidak juga, Guru…… Kepala Pelayan, ini semua berkat bimbingan Anda."

"Tekt-san…… kau sudah bertahan dengan baik."

"Saya bertahan."

Kami saling melempar senyum kecil. Kemudian, Hedda berdeham.

"Tadi disebutkan kau adalah asisten pribadi, bukan? Kalau begitu, mari kita bahas rencana kerja besok selagi sempat. Kau juga punya kewajiban belajar di akademi, jadi kita harus menyesuaikannya."

"Terima kasih atas pengertian Anda. Kalau begitu, soal jadwal pelajaran besok……"

Aku menyusun jadwal besok dengan Hedda, dan setelah menyantap makanan sisa sebagai makan malam, aku pun pulang.

Hedda mengantarku pulang dengan ramah, sangat kontras dengan sikap tajamnya yang tadi pagi.

"Kalau begitu, mohon bantuannya untuk besok dan seterusnya!"

"Ya, saya juga, Tekt-san."

Sembari mengantarku dengan senyum, Hedda kemudian menggumamkan sesuatu di dalam mulutnya.

"……Jika itu kau, mungkin kau bisa menyelamatkan Sia-sama dari penderitaannya……"

Aku merasa seperti mendengar sesuatu dan menoleh sejenak, tapi Hedda sudah berbalik menuju rumah.

"……?"

Ah, mungkin cuma salah dengar. Aku kembali berjalan pulang dengan langkah ringan.

Tekt-kun, Sang Asisten Pribadi Sempurna

Sesuai dugaan Aigis, Ilusia, putri ketiga yang dipanggil Sia, adalah seorang pembenci pria.

Atau lebih tepatnya, bagi sebagian wanita di dunia ini, ungkapan yang lebih tepat adalah mereka pada dasarnya benci pria.

Sikap angkuh, sifat manusia yang tidak tahu terima kasih, serta keegoisan yang menganggap serangan sebagai hak istimewa mereka.

Itulah wanita yang dipaksa menjalani perjodohan dengan lawan yang seperti itu.

Tentu saja, mereka akan merasa jengah, dan dampaknya banyak yang berakhir dengan kebencian.

Itulah sebabnya—Sia merasa tertarik pada Tekt, seorang pemuda yang polos dan tidak waspada.

"……Pfft, fufu. Pria, tidur siang dengan begitu tidak waspada, ufufu, ufufufufufu."

Pria pada dasarnya selalu waspada terhadap wanita.

Bahkan rakyat jelata sering mendengar cerita tentang pria yang difitnah melakukan pelecehan seksual karena hal sepele.

Di kalangan bangsawan, jika ada perbedaan status yang besar, sekadar melihat pun bisa berujung di penjara.

Dengan premis itu, tidur siang sendirian bagi pria adalah hal yang "mustahil", bahkan di dalam akademi.

Namun, dia tidur siang dengan begitu percaya diri.

Antara kagum karena nyalinya yang besar, dan merasa tertarik karena kurangnya kewaspadaan itu, dia terus mengawasi Tekt.

Itulah pertemuan pertamanya dengan Tekt.

Tapi, itu belum berakhir.

Pertemuan berikutnya adalah setelah sekolah hari itu, saat dia menegur Aigis yang dikabarkan sedang berkencan dengan seorang pria bangsawan tingkat rendah.

Dia terkejut saat mendapat laporan itu karena dia tahu Aigis pada dasarnya juga benci pria.

Dan saat dia melihat Tekt duduk di sana, dia langsung mengerti.

Yang menarik adalah setelah itu.

Ternyata Tekt malah mengangguk-angguk setuju dengan ejekan para wanita tentang pria.

Sia yang melihat itu berusaha menahan tawa mati-matian.

Melihat wajah Tekt yang seolah berkata "Aku pun pernah mengalami nasib buruk seperti itu……", dia merasa itu sangat lucu.

Dia berpikir mungkin akan sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama pria yang menarik seperti ini.

Pertemuan ketiga adalah kasus "kutukan" yang dibawa oleh Aigis. Sembari menimbang-nimbang soal penghapusan kutukannya, Aigis berpikir.

Seorang pria yang berbeda dari pria lainnya. Cerdas, sopan, perhatian, namun naif dan polos—pria yang menarik.

——Dia sangat ingin "mengupas topeng" pria itu.

Baginya, pria sehebat apa pun hanyalah pria rendahan jika kulitnya dikupas. Itu adalah prinsip Aigis.

Karena itu, dia memutuskan untuk mengupas topengnya dengan memberikan permintaan-permintaan yang tidak masuk akal sebagai syarat menghapus kutukan.

Keesokan paginya setelah Tekt menjadi asisten pribadi, Sia yang sudah berpakaian rapi menuju meja makan bersama Hedda.

Seperti pagi biasa, seperti sarapan biasa. Dengan senyum biasanya, Sia bertanya pada Hedda.

"Soal pria yang kusuruh untuk kau latih, bagaimana? Apa dia sudah kabur?"

Pendidikan pelayan dari Hedda sudah terkenal kejam sejak zaman istana kerajaan.

Dia sangat ketat terhadap segala hal. Perfeksionis yang tidak menoleransi noda sedikit pun pada gelas yang disajikan kepada tuannya. Itulah Hedda.

Bahkan ada desas-desus bahwa wanita pun akan kabur dari didikan Hedda dalam sehari.

Di bawah pelayan iblis seperti itu, pria yang dimanja tidak mungkin akan bertahan.

"Jika dia sudah kabur, ya sudahlah. Kutukannya mungkin berbahaya, tapi karena itu hanya sedikit merepotkan baginya, biarkan saja dia menanggungnya."

Saat Sia bergumam demikian, Hedda membuka pintu ruang makan dengan tenang.

"Mohon maaf, tapi—Tekt-san, hanya dalam beberapa jam kemarin, sudah melampaui standar yang saya anggap perlu bagi seorang asisten pribadi."

"Selamat pagi! Sia-sama. Dengan segala kerendahan hati, saya yang menyiapkan sarapan pagi ini."

"……Eh?"

Di balik pintu, sosok yang menanti adalah Tekt yang sedang menata makanan di meja.

"……Hedda?"

"Sia-sama. Saya rasa saya sudah mengajarkan untuk tidak mengabaikan etika, meski terhadap pelayan."

"Eh, ya. ……Selamat pagi, Tekt."

"Ya, selamat pagi. Kalau begitu, silakan duduk di sini."

Sembari dimarahi oleh Hedda, Sia duduk di kursi yang ditarik oleh Tekt.

Kemudian, dia menatap masakan di meja dan menarik napas panjang.

Roti panggang, salad, sup, dan omelet berbentuk bulat yang bersinar.

Meski sarapan ringan, tampilannya terlihat berkilau karena cara memasak yang rapi.

"……Hedda, kemampuanmu meningkat……?"

"Seperti yang dikatakan Tekt-san, ini adalah makanan yang disiapkan olehnya."

"Begitu……"

Sia menelan ludah. Perasaan tegang dan tidak percaya bercampur aduk.

Namun, di hadapan rasa lapar di pagi hari, meski dia seorang putri, dia tidak bisa menolaknya.

"……Selamat makan."

Setelah mengucapkannya, Sia menyuapkan sarapan ke mulutnya.

Lalu, dia terdiam.

"……!"

Enak. Sangat enak.

Hedda seharusnya sudah punya kemampuan memasak yang luar biasa, tapi rasanya jauh melebihi itu.

Sarapan yang biasanya hanya dimasak ala kadarnya ternyata bisa terasa sangat berbeda.

"Bagaimana, Sia-sama? Apakah Anda puas?"

Mendengar Tekt bertanya dengan senyum, Sia mengangguk, "Ya, ya," sembari terus menyantap makanannya.

Enak. Roti panggangnya renyah, semakin dikunyah semakin manis rasa gandumnya menyebar di mulut.

Saladnya juga memiliki dressing yang kental sampai membuat matanya terbelalak.

Namun, yang tidak terlukiskan dengan kata-kata adalah betapa lembutnya omelet itu.

Saat dibelah dengan garpu, isinya yang setengah matang meluap keluar. Jika dimakan bersama roti panggang, rasanya sungguh lezat.

Terakhir, setelah menghabiskan supnya, Sia sampai menghela napas puas, "Haaaaa……"

"Apakah Anda menyukainya?"

"……Ha!"

Dipanggil oleh Tekt dengan senyum, Sia tersadar kembali.

Dia berdeham dan menjawab dengan senyum.

"Ya, saya sangat terkejut. Kamu pandai memasak, ya, Tekt."

"Saya senang Anda berkata begitu. Karena saya jarang memasak, saya sempat khawatir."

"Eh."

"Kalau begitu, silakan lanjutkan sarapannya."

Tekt kembali ke dapur tanpa suara. Sia bertanya pada Hedda di sampingnya dengan perasaan bingung.

"Menyiapkan makanan seperti ini, tapi dia bilang jarang memasak……"

"Saat pertama kali melihat kemampuannya, dia sempat membuat makanannya gosong. Namun, saat saya tunjukkan caranya sekali, dia langsung melampaui saya di kesempatan berikutnya."

Dengan ekspresi antara kagum dan menyerah, Hedda melanjutkan.

"Saya sudah hidup puluhan tahun, tapi sepertinya jenius adalah sebutan untuk orang seperti Tekt-san. Jika saja dia bukan pria, saya pasti sudah mendidiknya menjadi pelayan permaisuri."

"……Begitu, ya."

Sembari menyesap teh yang diseduh Hedda setelah makan, Sia berpikir.

……Jika orang sekaliber Hedda sampai berkata begitu, sebenarnya siapakah orang ini?

Garis Keturunan "Putri Bayangan"

Setelah memulai kehidupan sebagai asisten pribadi, aku jadi tahu bahwa waktu sekolah pada dasarnya adalah saat-saat yang paling santai.

Pagi dan malam hari aku disibukkan dengan memasak, membersihkan rumah, dan mencuci pakaian bersama Hedda-san, tetapi saat sudah tiba di sekolah, hampir tidak ada pekerjaan kecuali jika dipanggil.

Paling-paling, aku hanya menemani Sia berangkat dan pulang sekolah.

Hal yang paling menyenangkan adalah mendapatkan bayaran dari Hedda-san setiap malam.

Aku sudah menjelaskan berkali-kali pada sang putri bahwa "hadiah atas penghapusan kutukan itu tidak perlu," tapi karena dia terus memaksa, ya sudahlah.

Jadi, aku akhirnya menikmati kehidupan asisten pribadi ini layaknya kerja sambilan di pagi dan malam hari.

"Tekt, tolong buatkan teh."

"Ini, silakan."

"Eh, sudah……?"

Aku menyiapkan teh dengan menghitung waktu kapan tenggorokan Sia akan terasa kering.

"Tekt, aku tidak menemukan pena buluku, tolong cari."

"Ah, ini dia. Aku sudah mengisi ulang tintanya."

"……Begitu ya. Sangat membantu."

Aku sudah menyiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan untuk pelajaran besok.

"Tekt, boleh minta tolong pijatkan bahuku?"

"Tentu, silakan. Saya akan melakukannya dengan sungguh-sungguh."

"……Ah, ini. Ini luar biasa, ah, aaaahhh~~~"

Dengan pijatan bahu yang serius, aku memanjakan Sia sampai dia rileks sepenuhnya.

Ternyata Sia jauh lebih ekspresif daripada dugaanku, dan dia adalah majikan yang membuatku merasa usahaku berbuah manis.

Jika bisa mendapatkan uang dan kutukanku juga dihapus, ini adalah tempat kerja sampingan yang sangat baik.

Memang ada sedikit rasa tidak puas karena kegiatan pengembangan perlengkapan sepulang sekolah jadi terabaikan, tapi kutukan ini harus dihapus terlebih dahulu.

Lagipula, aku tidak bisa terus-menerus mengandalkan Aigis soal uang.

Aku mulai merasa puas dengan kehidupan asisten pribadiku ini, sembari belajar mencari uang dari hal-hal kecil.

Suatu pagi, Sia mengatakan sesuatu padaku.

"Tekt, hari ini aku ada pekerjaan, bisakah kau membantuku?"

"Pekerjaan?"

"Ya. Meski aku belum resmi masuk OSIS, ada beberapa hal yang diminta untuk kubantu."

Oh, jadi ada hal seperti itu juga ya, pikirku memahami situasi. Rupanya hari ini dia punya pekerjaan di akademi.

"Mengerti. Apa yang harus aku lakukan?"

"Datanglah ke ruangan ini sepulang sekolah. Isinya hanya merapikan dokumen. Oh, tapi aku akan senang kalau kau buatkan teh. Teh buatan Tekt sangat enak."

Sia tersenyum lembut. Senyum bangsawan yang lembut namun sulit dibaca.

"Sesuai perintah. Saya akan membawa daun tehnya."

Kalau sepulang sekolah, berarti kegiatannya sama saja dengan pekerjaanku sehari-hari, pikirku sembari menuangkan teh ke cangkir.

Nah, sekarang sudah sepulang sekolah.

Setelah menenangkan Wiz yang menangis sedih dan Aigis yang merajuk sampai menghancurkan tembok, aku menuju tempat yang ditentukan.

Saat tiba dan melihat ke dalam, tempat itu tampak seperti ruang kerja. Aku mencoba membuka pintu, tetapi terkunci.

"Oh, kau cepat sekali, Tekt."

"Sia-sama."

Saat aku berbalik, Sia sudah berdiri di sana. Di tangannya ada tumpukan dokumen tebal dan kunci di atasnya.

Ketebalan dokumen itu sampai hampir menutupi wajah Sia.

"Woaaah…… terlihat berat sekali. Perlu kubantu bawakan?"

"Eh?…… Pfft, ufufufu. Aku tidak akan membiarkan anak laki-laki membawa barang berat. Sebagai gantinya, bisakah kau bukakan kuncinya?"

Karena dianggap lemah, aku merasa sedikit kesal, tapi tetap membuka pintu itu dengan kunci.

Sia melangkah masuk dengan langkah ringan.

Aku mengikuti Sia masuk. Rak buku, meja besar untuk satu orang—perabotan yang tertata rapi khas ruang kerja.

"Hap."

Sia meletakkan dokumen-dokumen itu, lalu mengeluarkan stempel dari sakunya.

Itu adalah stempel yang berat dan mewah. Di pegangannya terukir pahatan singa yang tampak sangat gagah.

"Ngomong-ngomong, apa pekerjaan hari ini?"

"Ada beberapa kegiatan sekolah yang membutuhkan izin kerajaan. Jadi, aku harus memberikan stempel izin pada dokumen-dokumen ini."

Ternyata itu adalah urusan yang sangat penting.

Apa-apaan acara sekolah yang harus butuh izin keluarga kerajaan?

"Mari kita mulai. Tidak baik jika kita selesai terlalu larut."

Sambil berkata begitu, Sia mengeluarkan bel pemanggil dari sakunya.

Itu adalah bel tangan. Jenis bel yang digenggam dan digoyangkan oleh bangsawan untuk memanggil pelayan mereka.

Tapi ini bukan rumah. Hedda-san tidak akan datang meski bel itu dibunyikan.

Aku merasa heran, tetapi Sia tetap membunyikan bel itu tanpa peduli.

Sebuah bayangan pun muncul.

"!??"

"Ah, ini pertama kalinya Tekt melihatnya, ya. Maaf kalau membuatmu kaget."

Sia berkata dengan wajah jahil.

Yang muncul adalah ksatria bayangan.

Garis tubuhnya tampak samar dan goyah, tubuhnya transparan.

Dan yang paling tidak cocok dengan suasana sekolah, mereka mengenakan full armor.

Postur tubuhnya terlihat tangguh.

Jika dibandingkan dengan perlengkapan standar milikku, aku merasa mereka punya kemampuan bertarung yang akan membuatku kewalahan.

Ada tiga sosok ksatria tersebut.

Kepada ketiga ksatria bayangan itu, Sia memberi perintah.

"Bantu periksa dokumennya."

Sesuai perintah.

Setelah menerima perintah, ksatria bayangan yang paling megah memberikan hormat. Kemudian, para ksatria itu mulai bergerak dengan lincah.

Mereka bolak-balik ke rak, mengambil beberapa buku sekaligus dari sana.

Saat aku masih tertegun, aku diperintahkan, "Siapkan tehnya," dan aku pun menjawab, "Baik," lalu mulai bergerak.

Seperti biasa, aku menyiapkan teh dengan cepat dan menyajikan set teh di dekat Sia.

Sia duduk di kursinya, dengan ritme yang cepat, dia membubuhkan stempel pada dokumen-dokumen itu.

Aku menyajikan teh di dekat tangan Sia.

"Wah, kerja Tekt memang selalu cepat. Rasanya juga teliti. Baunya harum sekali."

"Terima kasih, itu adalah kehormatan bagi saya."

"Ufufu. Bahasa formal itu lucu, tapi kau boleh lebih santai, tahu?"

Aku tersentak karena tiba-tiba dikomentari begitu.

"……Maksudnya?"

"Karena Tekt selalu sempurna dalam melakukan apa pun. Padahal aku berharap bisa melihat sifat aslimu dengan memberikan permintaan yang tidak masuk akal untuk membuka 'topengmu' itu."

Sia memajukan bibirnya seolah sedang merajuk, lalu mengatakannya dengan nada bercanda.

"……Haa."

Aku sudah diperingatkan soal itu, sih, pikirku dengan mata setengah tertutup.

Bukan karena tidak sadar, sebenarnya aku sudah merasakan aura kalau dia punya sifat yang agak jahat.

 Tapi, jangan katakan itu langsung di depan orangnya.

……Atau jangan-jangan dia bicara begitu karena dia sudah menyerah? Aku tidak mengerti.

Saat aku sedang berpikir, Sia melanjutkan.

"Karena itu, mulai sekarang lebih santai saja. Kau boleh bersikap sama seperti saat berhadapan dengan Aigis."

"……Kalau sama seperti Aigis, aku akan bicara dengan bahasa tidak formal, lho."

"Tidak apa-apa. Lagipula pada akhirnya kita adalah teman seangkatan, bukan?"

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, lalu memutuskan untuk berhenti menggunakan bahasa formal, "Baik, kalau begitu tidak perlu sungkan."

Kemudian, aku menanyakan sesuatu yang membuatku penasaran.

"Lalu, Sia-sama. Ksatria-ksatria itu sebenarnya apa?"

"Itu adalah sihir garis keturunanku. Orang dari garis keturunan 'Putri Bayangan' dapat memanipulasi pasukan bayangan."

"Ooh, begitu ya."

Aku mengangguk paham.

"Kalau begitu, yang satu itu—yang satu-satunya menjawab dan punya dekorasi paling mencolok—siapa?"

"Dia adalah ketua dari para ksatria bayangan itu. Dalam pertempuran nyata pun, dia adalah yang paling hebat."

"Wah…… keren sekali."

Aku menatap ksatria bayangan itu lekat-lekat dan merasa kagum.

Langkah kaki mereka yang serempak menunjukkan tingkat pelatihan yang tinggi.

Terutama sang ketua ksatria, gerakannya terlihat jauh lebih halus.

Sorot mata yang tajam di balik baju zirah itu membuatku berpikir sejenak.

"……Mungkin, kalau bertarung, dia lebih kuat daripada aku."

"Pfft, fufu. Tentu saja begitu. Kau ini laki-laki, tapi kenapa sangat haus darah, Tekt?"

"……"

Aku merasa sangat kecewa karena dianggap seperti pengidap chuunibyou.

Yang aneh adalah ksatria-ksatria itu terlihat seperti laki-laki. Tidak ada kesan "baju zirah wanita" pada mereka.

Karena itulah aku bertanya.

"Ksatria-ksatria itu terlihat seperti laki-laki, ya."

"Ya, mereka memang laki-laki. Konon, di masa lalu yang sangat jauh, laki-laki yang memiliki kekuatan sihir juga lahir dalam jumlah yang sama dengan perempuan."

Aku ternganga.

Hah? Jadi ketimpangan rasio pria dan wanita di dunia ini, atau pembalikan gender itu, bukan terjadi sejak awal?

"Garis keturunan 'Putri Bayangan' hingga saat ini masih mengabdi dan menggunakan jiwa ksatria dari zaman purbakala itu. Berkat mereka, pekerjaan remeh-temeh pun jadi sangat terbantu."

Memang benar, pikirku sembari melihat para ksatria.

Para ksatria dengan lancar mengambil dokumen yang diperlukan dan meletakkannya di meja Sia.

Lalu, mereka mengambil dokumen yang sudah tidak terpakai dan segera mengembalikannya ke tempat semula.

Aku bertanya pada Sia sembari merasa kagum.

"Apakah ksatria-ksatria itu tahu di mana letak semua dokumennya?"

"Tidak juga? Mereka itu adalah boneka buatanku. Mereka hanya bergerak berdasarkan pengetahuanku."

Mendengar itu, aku terperangah.

Eh, tunggu dulu? Sia, jangan-jangan kau menghafal semua tempat dokumen dan segala macam detailnya?

Aku berpikir sejenak, lalu bertanya.

"Apa aku masih dibutuhkan?"

"Tentu saja. Karena baik aku maupun ksatria bayangan itu tidak bisa membuat teh seenak buatan Tekt."

Sembari membubuhkan stempel ton, ton, ton dan memproses dokumen, Sia tersenyum padaku.

"……Begitu, ya."

Aku pikir aku sudah terbiasa menjadi asisten pribadi, tapi ternyata aku masih belum memahami Sia sepenuhnya.

Begitulah kejadian sepulang sekolah di mana aku melihat sekilas betapa kompetennya sosok Sia.

Sang Putri yang Tukang Tidur

Saat libur tiba, aku datang ke asrama Sia seperti biasa, namun Hedda-san mengatakan sesuatu padaku.

"Tekt-san. Karena kamu sudah mulai terbiasa dengan pekerjaanmu, sepertinya sudah saatnya untuk beralih ke tugas berikutnya."

"Eh, masih ada pekerjaan lain?"

Hedda-san menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum mulai bicara.

"Sebenarnya, ada tugas yang tidak saya percayakan kepada Anda sebelumnya karena saya pikir itu akan terlalu berat bagi Anda di awal."

"……Padahal saya merasa sudah dilatih dengan keras sejak awal."

"Saya memang melatih Anda dengan segenap tenaga untuk pekerjaan dasar. Namun, saya tidak memberikan tugas yang memerlukan hubungan kepercayaan dengan Sia-sama."

"Begitu rupanya……"

Memang benar, kudengar awalnya Sia punya motivasi untuk "menjahili Tekt". Tapi, sepertinya motif itu sudah berakhir sejak aku membantunya beberapa hari lalu.

"Oleh karena itu—"

Hedda-san menegakkan punggungnya dan berkata.

"Mulai hari ini, saya minta Tekt-san untuk membantu membangunkan Sia-sama di pagi hari."

"Membantu membangunkan?"

"Ya, membangunkan beliau."

Aku melipat tangan dan memiringkan kepala keheranan.

"Maksudnya, seperti tugas rutin yang Hedda-san lakukan setiap pagi, menyiapkan segala kebutuhan beliau?"

"Sederhananya begitu. Namun…… tidak, mungkin akan lebih cepat jika Anda melihatnya sendiri."

Hedda-san menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua.

"Silakan, naiklah ke atas."

"……Baik."

Kenapa suasananya mendadak serius begini? pikirku sambil melangkah naik ke lantai dua.

Pertama, aku mengetuk pintu kamar tidur yang tertutup sebanyak empat kali. Kemudian aku berseru, "Sia-sama~, selamat pagi~."

Tidak ada jawaban. Aku menoleh ke arah Hedda-san di lantai satu, dan dia hanya mengangguk tanpa suara.

"……Saya masuk, ya~."

Rasanya tidak enak masuk ke kamar tidur tanpa izin, tapi aku tidak mungkin menentang Hedda-san. Aku pun membuka pintunya.

Di dalamnya ada ruangan luas yang tertata dengan sangat rapi.

Kamar yang sangat feminin, dipenuhi dengan pernak-pernik berwarna merah muda.

Di tengah-tengah bagian belakang ruangan, diletakkan sebuah tempat tidur dengan kanopi.

Dan di atas sana, seorang gadis sedang tidur dengan sangat pulas.

"……Ngh……"

Sia sedang berbaring, hanya mengenakan gaun tidur.

"……"

Pemandangan ini cukup berbahaya bagi pria seumuran denganku. Apalagi gaun tidurnya terbuat dari kain tipis yang agak menerawang. Garis tubuhnya pun terlihat jelas.

Kalau dilihat seperti ini, ternyata dada Sia cukup besar, ya…… pikirku sebagai pria seumuran.

Wiz memang punya proporsi yang bagus tapi tidak terlalu terlihat karena baju yang dipakainya, namun kurasa dia tetap tidak bisa menandingi Sia.

Sedangkan Aigis? Dia rata, jadi tidak perlu dibahas.

Begitu sampai di pemikiran itu, aku langsung menggelengkan kepala dengan kuat.

Tidak boleh. Pikiran seperti ini tidak baik dilakukan terhadap gadis yang sedang tidur. Aku harus fokus pada pekerjaanku.

"Sia-sama~? Ini sudah pagi, lho~ ayo bangun~?"

Aku memanggilnya sambil mendekat, namun tidak ada tanda-tanda beliau akan bangun.

"……Sia-sama?"

Aku berdiri di samping tempat tidur. Sia masih tertidur pulas tanpa sedikit pun menggerakkan tubuhnya.

"……Hei, Sia-sama~? Tolong bangun~?"

Karena tidak ada pilihan lain, aku menyentuh area bahunya dan mengguncang tubuhnya pelan.




Tetapi, tidak ada tanda-tanda dia akan bangun. Sama sekali tidak.

……

"Eh, apa dia mati?"

"Tentu saja tidak, Tekt-san."

"Woah!"

Karena konsentrasiku tercurah sepenuhnya pada Sia yang tidak kunjung bangun, aku sampai tidak menyadari kehadiran Hedda-san.

Aku sampai terkejut seperti ini? Batinku merasa jantung berdebar kencang saat berbalik menatap Hedda-san.

"Hedda-san, Sia-sama sama sekali tidak mau bangun."

"Ya. Seperti yang Anda lihat, Sia-sama sangat…… sangat sulit dibangunkan."

Sampai ditekankan dua kali dengan kata "sangat", ya.

"Lagipula, penampilannya agak berbahaya, ya. Apakah saya benar-benar boleh mengurusnya saat baru bangun seperti ini?"

"Ya. Ada penilaian dari saya bahwa Tekt-san sudah terbiasa dengan pekerjaan ini, dan Sia-sama sendiri juga sudah setuju untuk diperiksa apakah beliau mengizinkan Tekt-san yang mengurusnya."

Mendengar itu, aku menatap Sia.

……Jadi, aku sudah dipercaya sampai sejauh ini hingga diizinkan melihatnya dalam keadaan yang tidak terjaga? Aku merasa senang, tapi tetap saja.

"Tapi Sia tetap tidak bangun. Bagaimana ini?"

"Begini caranya. Huuuuh—Cepat bangun! Ilusia Farace Constantine! Ini waktunya bangun!!!"

"Hiaik!"

Terkejut oleh teriakan lantang Hedda-san, Sia tersentak bangun dalam kondisi setengah sadar.

"Bangun, bangun, hiee mahu, hiee mahu……"

"Kalau dibrteriaki dengan keras, dia akan sadar seperti ini untuk sementara. Tapi kalau dibiarkan, dia akan segera tertidur lagi, jadi tolong urus dia dengan menepuk pipinya secara berkala."

"……Eh, bukankah itu agak kasihan……?"

"Tidak masalah. Anggota keluarga kerajaan harus menjadi teladan bagi seluruh bangsawan."

Hedda-san menjawab keraguanku dengan sikap yang tegas dan teguh.

Huuuh…… sungguh, hatiku merasa kasihan padanya.

"Yang perlu dilakukan ada tiga: mengganti baju, mencuci muka, dan menggosok gigi. Karena dia sangat lamban, tolong tegur dia agar segera melakukannya. Terutama saat mencuci muka, dia bisa tenggelam kalau tidak diawasi, jadi hati-hati."

"Tenggelam saat mencuci muka……?"

Aku terperangah mendengar ide yang tidak pernah terlintas di otakku itu. Bagaimana cara mencuci mukanya sampai bisa tenggelam?

"Supiii……"

Saat kami sedang mengobrol, Sia kembali rebah di tempat tidur dan mulai mendengkur halus.

"Hmm, dia tertidur lagi. Kalau begitu, saya contohkan sekali lagi."

"Ti-, tidak perlu. Saya sudah mengerti caranya, Guru. Saya bisa melakukannya sendiri."

"Begitu? Baiklah, saya serahkan padamu. Dan panggil saya Kepala Pelayan."

Hedda-san pun meninggalkan ruangan.

Tinggallah aku berdua dengan Sia yang kembali mendengkur.

Aku menatap Sia. Rasa waspada itu masih ada, tapi melihat keadaannya sekarang, rasa kasimpati justru lebih dominan.

Aku sendiri benci terbangun karena suara alarm yang keras.

Kalau bisa, aku ingin membangunkannya dengan lembut, tapi faktanya dia memang sebegitu sulit bangun sampai perlu teriakan sekeras tadi.

"Hmm…… yah, tapi tetap saja, itu keterlaluan. Aku yakin kalau Sia yang tegas dan bisa diandalkan seperti biasanya, dia tidak perlu diperlakukan seketat itu."

Aku teringat saat dia mengerjakan dokumen beberapa hari lalu.

Cara dia mengingat lokasi semua dokumen dan merespons dengan cepat adalah sosok bangsawan yang sedang menjalankan tugas negara.

Memikirkan hal itu, kurasa tidak ada salahnya jika orang-orang di sekitarnya sedikit memaklumi kelemahannya di pagi hari.

"Oke, kalau begitu ayo kita mulai."

Kalau aku mulai melakukan pekerjaannya, mungkin dia akan bangun sendiri, pikirku sambil mulai bergerak.

Pertama, aku mencari pakaian gantinya. Hedda-san bilang dia sudah menyiapkannya kemarin…… nah, ini dia.

"Ini pakaian untuk hari ini."

Aku membawa baju itu kembali ke samping Sia dan mengguncang tubuhnya.

"Sia~, Sia-sama~. Bangun~. Sudah pagi, lho~."

"Hmm…… hari ini…… apa ada kelas……?"

"Tidak ada sih, tapi Hedda-san menyuruhmu bangun."

"Kalau begitu…… bobo……"

"Aduh, jangan malah masuk ke dalam selimut begitu!"

Aku menarik paksa selimut dari Sia yang mencoba bersembunyi dengan menggeser tubuhnya.

Benar juga, ini mungkin pekerjaan yang butuh kesabaran tinggi. Tidak heran ini bukan pekerjaan yang langsung dipercayakan sejak awal.

Mau bagaimana lagi, aku memutuskan untuk mengambil langkah tegas.

"Sia, permisi sebentar, hap!"

Aku mengumpulkan semangat dan mengangkat tubuh Sia agar duduk.

"Hmm…… eh…… Tekt……?"

"Yap, ini Tekt. Hari ini aku ditugaskan untuk mengurusmu bangun, jadi mari kita mulai."

"Uu~…… hmm……?"

Sia yang belum sadar sepenuhnya kuberdirikan, lalu aku memintanya mengangkat kedua tangan, "Oke, angkat tangannya."

"Angkat~……"

"Bagus sekali. Sekarang bajunya kita lepas, ya."

Aku melepas gaun tidurnya dari atas. Saat kainnya terbuka, terlihatlah tubuhnya yang polos tanpa pakaian dalam—

"!? Hah!? Kenapa di balik baju tidurnya tidak pakai apa-apa!"

Aku buru-buru memalingkan wajah.

Eh!? Kenapa!? Aku memang laki-laki dan tidak tahu banyak soal ini, tapi bukankah biasanya orang pakai sesuatu di balik gaun tidur!?

"Karena…… mengganggu……"

Sia menjawab alasannya dengan sangat singkat. Aku menggertakkan gigi sambil menunduk.

"Ugh, ya sudah, aku tutup mata, ya!"

"Kenapa……?"

Reaksinya yang sangat polos karena tidak mengerti maksudku membuatku teringat betapa kacau kondisi dunia ini dengan pembalikan gendernya. Aku pun mulai memakaikan bajunya.

BH…… tidak, itu terlalu berat buatku. Pakai bajunya langsung saja.

"Oke, angkat tangannya lagi. Angkat yang tinggi!"

"Angkat~……"

Aku memintanya mengangkat tangan lagi lalu memakaikan bajunya.

Aku jadi teringat saat mengurus adik-adikku dulu.

Tapi ini kan situasinya berbeda!

"Hmm…… bagian dadanya terasa dingin……"

"Ugh, BH-nya, itu, nanti pakai sendiri kalau sudah bangun……!"

"Eh…… celana dalam……"

"Iya, celana dalamnya juga!"

Aku memegangi kepalaku. Tapi kalau tidak pakai celana dalam, itu fatal. Apalagi bajunya model gaun satu potong.

"Ya, ya sudah, angkat kakinya……"

"Iya……"

Aku meminta Sia yang duduk di pinggir tempat tidur untuk mengangkat kakinya, lalu aku memasukkan kakinya ke lubang celana dalam.

Meski sudah berhati-hati, tanganku mau tak mau beberapa kali bersentuhan dengan paha putihnya yang mulus.

Saat aku menarik celananya ke atas, tidak jauh dari sana terlihat dada Sia yang besar dan wajahnya yang sayu.

Mata kami bertemu. Sia yang masih mengantuk menatapku.

"……Tekt, wajahmu merah sekali…… ada apa……?"

"Tidak ada apa-apa! Sudah! Celananya sudah terpasang! Selesai!"

"Hmm…… rasanya nyelip……"

"Itu atur sendiri nanti!"

Setelah berhasil memakaikan baju, aku terduduk di lantai sambil terengah-engah.

Pekerjaan ini benar-benar berat bagi seorang perjaka……! Dan Sia sama sekali tidak bergerak! Benar-benar pasrah!

"Hmm……"

Baru saja aku lengah sebentar, Sia sudah mulai menggoyangkan tubuhnya di tempat tidur.

Gawat. Kalau dibiarkan, dia akan jatuh lagi dan tidur.

"Ayo, berdiri! Berdiri Sia! Kita cuci muka!"

"Tidak bisa berdiri~…… Tolong bangunkan aku~……"

"Aduh, ampun! Putri ini benar-benar merepotkan!"

Aku menggendong Sia dengan posisi setengah menggendong di punggung agar dia berdiri.

Aku merasakan dua gundukan lembut di punggungku, tapi kupikir itu hanya perasaanku saja.

Aku membawanya ke wastafel di lantai dua. Begitu langkahnya mulai stabil, aku pun bisa bernapas lega.

"Sia, apa kau sudah sadar? Ayo, cuci muka supaya segar."

"Iya……"

Sia yang beralih dari kondisi mengantuk ke kondisi malas menghadap wastafel. Karena kelihatannya dia tidak punya tenaga, aku yang memutar keran airnya.

Sia menunduk di depan wastafel dan mulai membasuh wajahnya—

"Bugh, bugh-bugh-bugh-bugh."

"Wah, dia tenggelam! Sia! Jangan mati Sia!"

Aku menarik tubuh Sia yang tenggelam di wastafel. Sia membuka matanya lebar-lebar dengan wajah pucat.

"Se-, selamat pagi, Tekt. A-, aku baru saja diselamatkan nyawanya, ya……"

"Hanya karena itu!? Tadi itu benar-benar situasi hidup dan mati!?"

Aku bergidik ngeri menyadari betapa sulitnya dia bangun seperti yang dikatakan Hedda-san.

Aku mengambil handuk dan mengeringkan kepalanya yang basah kuyup. Lalu aku memikirkan tugas selanjutnya.

"Lalu, eh, selanjutnya adalah menggosok gigi, ya……"

Aku menatap Sia. Sia yang masih terbungkus handuk menatapku dengan tatapan polos.

"……Apa kau bisa menggosok gigi sendiri?"

"Mungkin itu lebih sulit daripada mengerjakan dokumen."

Sia tersenyum lembut seperti biasanya.

Aku membalas senyumnya dan berkata.

"Kalau begitu, biar aku yang menggosoknya dari awal sampai akhir. Ikuti saja perintahku, ya……"

"Iya, saya serahkan padamu."

Pada akhirnya, segala hal setelah itu aku yang melakukannya.

Sembari menggosok gigi Sia, aku teringat saat aku mengurus adik perempuanku ketika dia masih bayi.

Kencan Rahasia

Setelah bersusah payah menyelesaikan tugas membangunkan Sia, dia berjalan di sampingku dan berkata.

"Tapi, Tekt benar-benar polos, ya. Ufufu, tidak kusangka kamu bisa segugup itu hanya karena melihat sedikit tubuh wanita."

"!? Kau ini, kau ingat semuanya……!?"

"Ufufufufu. Karena ini bukan berarti aku menyentuh dada pria, bukankah seharusnya kau bisa memakaikan bra dengan tenang saja?"

Karena ini dunia pembalikan gender, bahkan anggota keluarga kerajaan pun tidak punya rasa malu soal hal tersebut. Aku jadi takjub.

Jika dipikir-pikir dengan filter pembalikan gender…… mungkin ini rasanya seperti seorang pelayan yang sangat malu saat memakaikan baju untuk pangeran.

Melihat kepanikan pria saat bersentuhan dengan dada wanita pasti dianggap sangat lucu bagi mereka. Sialan.

Sial, tidak adil sekali.

Haruskah aku balas menempelkan dadaku ke arahnya di saat yang tepat agar dia juga panik?

Aku melirik Sia dengan tajam.

Padahal dia sendiri yang membuatku repot, malah dia yang meledekku.

"Tapi, aku terkejut. Tidak kusangka kamu mau datang ke sini bahkan di hari libur."

Ucap Sia dengan anggun. Aku mengedikkan bahu dan menjawab.

"Hedda-san memang bilang 'istirahatlah', tapi kebetulan teman-temanku sedang sibuk dengan urusan masing-masing, jadi aku kemari."

Wiz dan Aigis menolak ajakanku dengan wajah yang sangat merasa bersalah.

Sebagai gantinya, kami berencana untuk bermain besok.

Sepertinya mereka punya urusan khusus.

Karena aku bosan, ya sudah, aku memutuskan untuk pergi sebagai asisten pribadi layaknya kerja sambilan.

"Begitu, ya…… Kalian berdua, berteman akrab, bukan?"

"Ya, bisa dibilang begitu. Mereka adalah segelintir teman yang kupunya."

"Teman pria yang sedikit……?"

"Ada masalah?"

Saat aku menatapnya, Sia langsung mengelak, "Ti-, tidak. Jangan dipikirkan." Apa-apaan itu.

Yah, sudahlah. Aku pun bertanya pada Sia.

"Sebaliknya, apa yang dilakukan Sia hari ini?"

"Tidak ada rencana khusus, sih…… Kalau hari libur, biasanya kuhabiskan dengan belajar. Mulai dari menari, musik, bahasa asing, sihir, berkuda, hingga bela diri. Isinya bermacam-macam."

"Eh……?"

Seorang pemuda di usia bermain menghabiskan hari liburnya hanya untuk belajar……?

"……Apa maksud tatapan tidak percaya itu?"

Sia menggembungkan pipinya. Aku pun mulai merenungkan tentang Sia.

Awalnya kupikir dia adalah anggota keluarga kerajaan yang kompeten dan licik, namun belakangan ini aku justru melihat sisi yang lebih menyedihkan darinya.

Pagi-pagi dia sulit dibangunkan dan harus diteriaki, sementara hari liburnya habis hanya untuk belajar.

Karena itu, aku pun berkata.

"Hei, Sia. ……Bagaimana kalau kita pergi ke kota secara diam-diam? Tanpa sepengetahuan Hedda-san."

"Eh?"

Mendengar usulanku, Sia membelalakkan matanya.

Singkat cerita, kami sepakat untuk menyelinap keluar dari asrama tanpa sepengetahuan Hedda-san.

Caranya sederhana. Kami hanya perlu beralasan akan mengadakan sesi belajar bersama.

Aku memberi tahu Hedda-san agar kami tidak diganggu karena kami butuh konsentrasi penuh, lalu kami keluar melalui jendela.

Rute pelarian lewat atap sudah kupastikan aman, jadi grapple-ku tidak perlu digunakan.

Kami sampai di bawah dengan selamat.

Dengan begitu, Sia mengenakan tudung untuk menyembunyikan identitasnya, dan kami pun pergi ke kota bersama-sama.

"Wah……!"

Dengan mata berbinar, Sia menatap keramaian kota.

"Te-, Tekt. Banyak sekali orang! Ternyata kota bawah ini seramai ini, ya."

"Eh, ah, ya. ……Sia, jangan-jangan ini pertama kalinya buatmu?"

"I-, iya. Maaf, aku jadi terlalu bersemangat……"

Sia menunduk malu. Melihatnya seperti itu membuat perasaanku geli, jadi aku tersenyum dan menggandeng tangannya.

"Kalau begitu, aku harus memandumu supaya kau bisa menikmatinya. Ayo, lewat sini!"

"Wah, tunggu, Tekt?"

Aku berjalan dengan ringan. Sepertinya ini pertama kalinya Sia ke kota bawah, jadi dia tampak tertarik pada segalanya.

Contohnya, saat aku memberikan tusuk sate dari kedai, dia membelalakkan mata.

"I-, ini……"

"Yakitori. Jangan bilang kau belum pernah makan ayam?"

"I-, iya. Pernah. Itu kan yang disajikan utuh saat pesta?"

"Itu bukannya kalkun?"

Saat aku membalas pertanyaannya sambil makan, Sia mengikutiku dan menggigit potongan pertamanya.

"!!~~~!"

Sepertinya Sia menyukainya. Dia mengunyahnya dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

"Luar biasa. Rasanya tajam sekali! Ternyata di kota bawah ada makanan dengan bumbu sekuat ini!"

"Itu namanya bumbu, Sia."

Apa dia tidak punya ekspresi yang lebih baik? batinku. Masakan Hedda-san memang bumbunya sangat ringan.

Kalau aku menambahkan bumbu agar rasanya lebih kuat sesuai seleraku, dia pasti marah.

Karena Hedda-san selalu mencicipi masakanku, aku akan langsung ketahuan kalau macam-macam.

"Nng, ah, nng……"

Saat aku sedang berpikir, Sia mulai kesulitan memakan potongan daging yang tertancap dalam di tusukannya.

……Ah, benar juga. Karena baru pertama kali, dia tidak tahu cara memakan daging yang tertancap dalam di tusukan.

"Begini cara makannya."

Aku memegang tusukannya secara horizontal dan menggesernya dengan mulut saat menggigit.

Sia menatapku dengan curiga.

"……Apa mulutmu tidak kotor?"

"Lap saja nanti."

"Ba-, bagaimana cara mengelapnya?"

"Ah, ya sudah! Biar aku yang mengelapnya!"

Karena dia benar-benar terlihat tidak tahu harus bagaimana, aku menawarkan diri. Sia pun makan dengan tenang.

"Nnn~♪ Rasanya kuat dan enak sekali."

Sia makan dengan mulut yang belepotan. Berbeda dengan kesan pertamanya, dia ternyata seperti adik kecil yang perlu diurus, pikirku sembari ikut makan.

Setelah selesai, mulut Sia sangat kotor, jadi aku mengelapnya dengan sapu tangan. Sia membiarkanku melakukannya sambil memajukan bibirnya.

"Sudah, bersih."

"Terima kasih!"

Sia tersenyum lebar. Aku tersenyum kecut melihat betapa tidak becusnya dia dalam kehidupan sehari-hari.

Tiba-tiba, terdengar suara yang familier.

"Si kecil, untunglah kau bisa membeli barang yang kau cari."

"Benar juga, si anti-social. Tapi harganya cukup mahal sebagai gantinya."

"Dia membayar satu koin emas dengan santai, dia pasti bangsawan besar, ya~."

"Ah, Wiz dan Aigis."

Begitu aku menemukan mereka, Sia bergerak dengan sangat gesit.

"Woah?"

Dia menarikku masuk ke dalam lorong gelap.

Tubuhku didorong ke tembok, dan dadanya menekan tepat di area ulu hatiku.

Lembut sekali—tunggu, dia tidak pakai bra hari ini!

"Tunggu, Si-, Sia. Dadanya, dadanya menempel."

"Ssst, di-, diamlah."

Namun, Sia berbisik di telingaku dengan raut wajah yang sangat tegang. Ada apa? Apa yang terjadi?

"……A-, itu, setiap kali bertemu mereka, aku selalu dipelototi dengan tatapan 'kapan asisten pribadi Tekt akan berakhir', jadi kalau kita terlihat, sepertinya akan jadi masalah rumit."

"Ah……"

Dua orang itu memang gampang sekali marah. Mereka sering berkelahi dengan mengorbankan diriku.

Aigis selalu menantang berkelahi karena statusnya, dan Wiz akan langsung mencabut tongkatnya jika batas kesabarannya habis.

Memang benar, bersembunyi adalah pilihan yang tepat.

Saat aku sedang berpikir begitu, Sia mulai celingukan dan berkata.

"Ba-, bagaimana kalau kita ketahuan? Kalau mereka melihat kita sedekat ini, Aigis pasti akan memukulku, dan yang satunya lagi pasti akan langsung mengeluarkan tongkatnya!"

"Ah, ya. Mungkin saja mereka akan melakukan itu. Untuk sekarang, tenanglah."

"Ba-, bahkan Aigis mungkin akan mencabik anggota tubuhku, dan yang satunya mungkin akan menjadikanku bahan eksperimen sihir……!? A-, apa kita bisa menang kalau kita serang duluan sekarang!?"

"Tenanglah, Sia. Kau ini ternyata lebih panik dari yang kukira, ya?"

Lagipula, ingatlah nama Wiz itu.

Aku menahan Sia agar tidak mengamuk. Wiz dan Aigis terus berbicara satu sama lain.

"Tapi, semoga saja ada! Cara untuk menghapus kutukan Tekt-kun!"

"Benar. Besok kita ada janji bermain dengan Tekt, jadi kita coba saat itu saja."

"Iya! Kalau kutukannya bisa dihapus, akhirnya Tekt-kun akan kembali pada kita!"

"Ya. Ayo kita berjuang!"

Mereka mengangguk satu sama lain lalu pergi.

"Ternyata mereka berdua memikirkanku, ya……"

Aku merasa sedikit terharu.

Tapi anehnya, dua orang itu tidak bertengkar kalau aku tidak ada. Kenapa? Berbaik hatilah padaku bahkan saat aku ada!

"……Oke, mereka sudah pergi. Tidak apa-apa keluar, kan?"

Aku bertanya pada Sia, tapi Sia hanya menunduk dan terus melamun.

"Sia?"

"……Benar juga. Setelah mereka begitu berdedikasi…… aku harus segera bergerak untuk menghapus kutukannya, bukan?"

Gumam Sia pelan. Lalu, dia mengangkat wajahnya.

"Tekt, aku akan menyiapkan segala sesuatu untuk penghapusan kutukan sebelum hari libur minggu depan. Meskipun penghapusan kutukan mereka mungkin tidak akan berhasil, setidaknya setelah itu, pekerjaanmu sebagai asisten pribadi akan berakhir."

"Eh? O-, oh. Begitu, ya……"

"Ya. Kalau begitu, mari kita keluar—"

Saat Sia menunduk, itulah saatnya.

"!? De-, dekat. Maaf! A-, aku mendekatkan wajahku sedekat ini ke dadamu! A-, itu, bu-, bukan maksudku begitu!"

"Eh, apa?…… Ah, dadanya!?"

Sia baru menyadari kalau dada kiriku berada tepat di depan matanya. Wajahnya memerah padam dan dia menarik diri dengan panik.

"Wa-, wa-, wa-, aku, padahal aku sedang dengan seorang pria, sed-, sedekat ini! Ah, itu, aku minta maaf sebesar-besarnya, itu……"

Sia mengangkat kedua tangannya menyerah. Melihat itu, aku menjawab dengan mata setengah tertutup.

"Ternyata Sia jauh lebih polos daripada aku, ya."

Dada seperti ini, aku bisa memberikannya kapan saja kalau dia mau.

Pedang Terkutuk

Meskipun waktu berakhirnya masa tugasku sebagai asisten pribadi sudah di depan mata, aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas ini dan bisa meluangkan waktu di pagi hari.

Aku bangun pukul empat pagi.

Karena sudah paham seluk-beluk pekerjaan, aku bisa menyelesaikannya tepat waktu jika tiba di asrama Sia pukul lima tiga puluh pagi.

Dengan begitu, sudah saatnya bagiku untuk mengembalikan insting dan kemampuanku yang sempat tumpul.

Dan, ada satu hal lagi. Hari ini adalah hari yang sangat, sangat penting bagiku.

Singkatnya—

"Hari kebebasan keluar akademi, akhirnya tiba!"

Wasshoi! Aku melompat kegirangan.

Ya. Hari ini tepat sebulan sejak aku dilarang keluar dari area akademi dan kota.

Sekarang, aku sudah berstatus bebas untuk pergi ke luar akademi, bahkan ke tempat-tempat di mana monster berkeliaran.




"Harus kulakukan……! Tidak ada pilihan selain memulai latihan……!"

Masih pagi buta, tapi peduli amat. Justru karena ada monster nokturnal, latihan ini jadi lebih menantang.

Aku merasa darahku mendidih dan jantungku berdegup kencang karena kegirangan akan berburu monster.

"Nu-fufufu-hahahahaha!" Aku tertawa layaknya raja iblis.

Kalau begitu, aku harus segera melesat dengan senjata di tangan.

Mengingat aku harus kembali sebelum pukul setengah enam pagi, waktuku sangat terbatas.

 Aku harus pergi secepat kilat, berburu secepat kilat, dan pulang secepat kilat.

Maka, satu detik pun tidak boleh kusia-siakan.

"Hap!"

Aku melompat turun dari tempat tidur. Mendarat di lantai. Berguling ke depan. Aku meraih pedang yang kubawa dari rumah orang tuaku.

Saat hendak mengambilnya, gerakanku terhenti.

"……Hm?"

Yang menarik perhatianku adalah pedang yang membawa kutukan ke lenganku itu.

Aku sempat menyimpannya karena berpikir mungkin akan dibutuhkan untuk menghapus kutukan, meski rasanya menjengkelkan.

Setelah itu, aku terlalu sibuk dengan kehidupan asisten pribadiku dan membiarkannya terbengkalai begitu saja.

Nah, mengenai pedang itu, saat pertama kali kucabut, pedang itu hanyalah pedang berkarat dengan aura yang sangat mencurigakan.

Namun, saat kuperiksa sekarang, kondisinya sudah berubah.

Bukan sekadar berubah, tapi……

"Pedangnya berubah jadi katana."

Apa maksudnya ini? Aku mengambil katana yang tadinya adalah pedang tersebut.

Bilahnya begitu tajam. Ini adalah mata pedang yang sangat tajam, tak tertandingi oleh pedang produksi massal yang kubawa dari rumah.

Yang unik adalah karatnya sudah hilang dan ada pola yang menjalar di sepanjang sisi bilahnya.

Aku menyingsingkan lengan baju untuk memastikan kondisinya.

Aura kutukan yang meliuk-liuk itu terasa mirip, tapi jika dilihat dari karakteristiknya, ini tampak seperti benda yang berbeda.

Kutukan di lenganku memiliki pola yang tampak seperti membubung tinggi dari bawah.

Sementara katana ini memiliki pola yang tenang dan luwes, layaknya air yang mengalir.

"……"

Aku teringat prasasti tentang sang raja.

"Air terus berubah bentuk dan menetap di dasar wadah. Raja bukanlah orang yang kuat, bukan pula orang yang bijak, raja hanyalah raja."

"Dasar wadah" adalah sebuah petunjuk, tapi selebihnya menunjukkan bagaimana sosok raja yang seharusnya.

Singkatnya, bukan hukum rimba, melainkan seleksi alam.

Hal itu mirip dengan sifat air.

"……"

Aku menatapnya lekat-lekat dan bergumam pelan.

"Kalau dilihat-lihat, katana ini keren juga ya……"

Pedang terkutuk yang bisa berubah layaknya air?

Apa dia berubah menjadi katana yang kusukai karena aku?

Wah, ini benar-benar menarik hatiku. Sisi chuunibyou-ku benar-benar tersentuh.

"Kubawa saja."

Dengan perasaan gembira, aku menyarungkan katana itu di sarung pedang seadanya, lalu bergegas keluar dari asrama.

Nah, sekarang aku sudah berada di luar akademi.

Aku melesat dengan semangat menuju hutan.

Tujuanku adalah Hutan Orc.

Hutan tempat aku sempat kesulitan melawan Intellectual Orc beberapa waktu lalu.

Tapi sekarang, aku sudah punya senjata baru dan kekuatanku pun meningkat.

Monster di sini pasti akan terasa mudah bagiku.

Saat aku melangkah dengan penuh rasa percaya diri, aku malah tertangkap.

"Tekt~? Kenapa anak laki-laki sepertimu berada di Hutan Orc sejak pagi buta, ya~?"

Aku mundur selangkah menghadapi Aigis yang menyapaku dengan senyuman.

"Habisnya! Habisnya ini hari kebebasan! Masa hukumanku satu bulan sudah berakhir!"

"Lagipula, kau sepertinya sama sekali tidak paham kalau tindakan berbahaya itu dilarang~. Ya, kalau suasananya sedang ramai atau ada orang sepertiku atau Wiz yang menemani, sih, tidak masalah."

Aigis menghentakkan kaki depannya dengan kuat.

"Kau tidak paham kalau dilarang pergi sendirian ke zona berbahaya tanpa orang lain, ya? Tertangkap kau!"

"Gyaaaaaaa!"

Aku tidak bisa menghindari terjangan Aigis yang tiba-tiba, dan akhirnya aku tertangkap.

"Ini buatmu! Sebagai hukuman, aku akan melakukan pelecehan pada otot perutmu! Apa yang salah, hah!? Otot perut ini! Huuuuh……"

"Wahhhhh, jangan diisap! Jangan mengisap otot perutku!"

Aku merasa seperti kucing besar yang dicengkeram oleh balita saat otot perutku disedot olehnya.

Ini bukan "kucing mengisap" (neko-sui), melainkan "mengisap otot perut".

"Haaaaah…… menenangkan…… Tekt-onium-ku mulai terisi kembali……"

Aigis memasang wajah meleleh, menggesekkan pipinya ke otot perutku dengan puas.

Dia benar-benar suka sekali otot perut, ya.

"Lepaskan! Aku, aku ingin berburu monster setelah sekian lama! Lagi pula tugas asisten pribadiku akan dimulai satu jam lagi, jadi aku harus mengalahkan monster sebelum itu!"

"Hasrat bertarungmu masih saja setinggi itu, ya……. Kau tidak benci kalau kusex-harass begitu?"

"Tidak juga? Aigis kan manis."

"!! Fuuh, jangan menyerang tiba-tiba begitu, dong! "

Melihat Aigis yang tersipu malu, aku melepaskan diri dengan mulus dan segera berdiri.

"Lagipula, kenapa Aigis ada di Hutan Orc pagi-pagi begini? Berbahaya, tahu."

"Kata-kata itu harusnya untukmu. Yah, alasannya sama denganmu. Latihan pagi, istilahnya."

Aigis mengambil palu raksasa yang disandarkannya di pohon terdekat, lalu memanggulnya dengan enteng.

Kekuatan fisiknya luar biasa. Padahal palu itu pasti jauh lebih berat darinya, entah bagaimana dia bisa membawanya dengan mudah.

"Buku yang kubeli untuk mencari cara menghapus kutukanmu ternyata tidak berguna. Karena aku merasa tidak becus karena harus mengandalkan penghapusan kutukan sang putri, aku memutuskan untuk berlatih lebih keras."

Saat Aigis berkata demikian dengan raut wajah sedikit menyesal, aku hanya mengedikkan bahu dan berkata, "Jangan dipikirkan."

Beberapa hari yang lalu, aku sempat melihat Wiz dan Aigis berbelanja bersama Sia.

Cara penghapusan kutukan yang mereka coba ternyata tidak berhasil.

Aku masih ingat jelas saat Wiz menangis—bukan tangisan pria, melainkan tangisan wanita—sambil berkata, "Aku kesal sekali……!

Tekt-kun terus-menerus dimonopoli oleh sang putri, dan aku……!" Wiz memang sering sekali menangis seperti itu, ya.

Terlepas dari itu, aku pun mengajak Aigis.

"Mumpung sudah di sini, ayo kita pergi bersama. Formasi seperti biasa, kau di garda depan, aku sebagai pengintai."

"Tentu, ayo kita berangkat."

Tepat saat Aigis baru saja mengatakannya.

"Aigis."

"Aku tahu."

Aku dan Aigis serentak menoleh ke satu arah dan menepis anak panah yang melesat ke arah kami.

Aku menepisnya dengan pedang, sementara Aigis memosisikan palunya secara vertikal.

Dengan begitu, anak panah itu berhasil dilumpuhkan.

Anak panah yang terbelah dua jatuh di kakiku, dan dua anak panah lainnya jatuh di kaki Aigis.

Mendengar suara "Bumo!" dari arah depan, aku pun berkata.

"Sepertinya Orc. Spesies biasa. Tapi, kalau dilihat dari jumlah anak panahnya……"

"Ada tiga ekor, ya. Apa ada Goblin?"

"Tidak ada."

"Oke. Kalau begitu—siapa cepat dia dapat!"

Begitu mengatakannya, Aigis mengayunkan palu raksasanya.

Melihat pemandangan yang aneh itu, para Orc berhamburan dari balik pohon sambil berteriak, "Bumomomo!" Aigis pun menggerutu, "Cih, dasar Orc biasa, tapi pintar juga menghindar!"

Inilah kelemahan Aigis.

Karena senjatanya terlihat terlalu kuat, musuh akan langsung lari begitu dia mulai mengayunkan serangannya.

Ini mungkin tidak masalah dalam perang besar, tapi tidak cocok untuk pertempuran skala kecil.

Di sisi lain, aku justru ahli dalam pertempuran seperti ini.

"Grappling Hook!"

Aku mengayunkan lengan kiriku dan menembakkan kawat ke atas pohon. Begitu ujungnya menancap, aku segera menarik kawatnya dan melompat ke udara.

Dengan momentum itu, aku melepaskan kaitnya dan terbang di udara, lalu kembali menembakkan grapple ke arah Orc yang sedang berlarian panik.

Ujung kail menancap di tubuh Orc tersebut. Kini, dia tidak bisa melarikan diri lagi.

"Buhiii?"

"Dapat kau!"

Dengan tenaga maksimal, aku menarik kawatnya dan melesat lurus ke arah Orc tersebut.

Karena Orc itu sedang dalam posisi melarikan diri, dia tidak sempat berbalik untuk menyerang balik.

Inilah yang disebut dengan ahli mobilitas.

Mereka yang kalah dalam mobilitas tidak punya hak untuk menentukan apakah pertempuran akan dilanjutkan atau diakhiri.

Satu-satunya yang bisa menentukan nasib pertempuran adalah mereka yang unggul dalam mobilitas.

"Terima kasih, Orc!"

Aku mendekat dengan cepat ke arah Orc itu dan mencabut pedangku.

Satu tebasan.

Kepala Orc itu melayang di udara. Aku mendarat dengan tajam sambil bergerak ke samping di tengah kepulan debu.

"Ah! Tekt, curang sekali kau!"

Aigis yang sudah selesai mengumpulkan tenaga melempar palu raksasanya sekuat tenaga.

Orc yang menjadi sasarannya sempat bersembunyi di balik pohon, tapi itu tidak ada gunanya.

Palu raksasa itu menghancurkan pohon besar itu seolah-olah itu hanyalah ranting kering, lalu melumat tubuh Orc tersebut.

Benar-benar perwujudan kekuatan penghancur.

Dia adalah benteng yang berjalan, mampu melumat musuh dalam satu serangan.

"Lagipula, pertahanan tidak ada artinya di depanku."

Melihat itu, aku tak kuasa menahan tawa.

"Benteng kecil" itu masih tetap hebat seperti biasanya, bahkan di tengah hutan sekalipun.

"Ayo, Tekt! Siapa yang bisa mengalahkan satu ekor terakhir lebih dulu!"

"Tentu saja aku yang akan menang!"

"Hah~!? Akulah yang akan menang!"

Kami tertawa sambil berdebat, lalu mulai bergerak mengejar Orc terakhir.

Aku, seperti biasa, bergerak cepat dengan grapple.

Di sisi lain, Aigis memutuskan bahwa mencari palunya akan memakan waktu terlalu lama, jadi dia berlari mengejar Orc itu dengan tangan kosong.

Kecepatan gerakku sedikit lebih unggul. Ya, hanya sedikit, bahkan dengan bantuan grapple.

Aku benar-benar kagum dengan kecepatan gerak alami Aigis. Rasanya sulit dipercaya kalau kami adalah spesies yang sama.

Aku berpikir.

Jika aku melakukan manuver tiga dimensi untuk mengejutkannya seperti tadi, Aigis pasti akan mengambil kesempatan itu untuk mengalahkan Orc tersebut. Sayangnya, pile bunker-ku belum dipasangi Magic Stone.

Jadi, tidak ada pilihan lain bagiku selain mengalahkan Orc itu dengan kekuatanku sendiri.

"Mau tidak mau, harus kulakukan!"

Aku melepaskan grapple dari tanah dan melompat tepat di depan Orc tersebut.

Pertarungan jujur tanpa tipu muslihat dimulai.

Aku menyiapkan pedang, sementara Orc itu mengganti senjatanya dari busur menjadi gada.

Saat aku melawan Intellectual Orc dulu, aku hanya bisa bertahan dengan satu pedang.

Meski aku sudah bertambah kuat karena senjata baru ini, kekuatan dasarku tidak meningkat semudah itu.

Lalu, apa aku harus kalah?

Menyerah sebelum mencoba?

Atau membiarkan Aigis mengambilnya karena aku hanya bisa bertahan?

——Hal seperti itu tidak mungkin ada dalam pikiranku!

"Menyerahlah!"

Aku menerjang maju. Sambil memegang pedang, aku melesat ke arah Orc itu.

Orc itu pun tidak tinggal diam.

Dia mengayunkan gadanya, berniat menghancurkanku beserta pedangku.

Aku berniat menangkisnya dengan pedangku.

Jika aku bisa menangkisnya dengan sempurna, aku akan memanfaatkan celah itu untuk menebasnya!

Karena itulah, aku terkejut.

"Hm? ……Eh?"

Pedangnya—maksudku, pedang terkutuk yang kubawa kali ini—

Seolah membelah udara, pedang itu dengan mulus memotong gada milik Orc tersebut.

"Hah? Eh?"

Aku mengeluarkan suara bingung sambil mengayunkan pedangku kembali sesuai rencanaku sebelumnya.

Satu tebasan.

Aku menebas tubuh besar Orc itu, membelahnya menjadi dua.

"Pugiihhhhhh!"

"Eh, eeeeehh!? Tekt, hebat sekali!"

Orc itu tumbang. Aigis berhenti dan membelalakkan matanya melihat teknik pedangku.

Aku pun hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak melihat apa yang baru saja kulakukan.

Eh, barusan itu apa? Benar-benar, apa itu?

"Apa ini gara-gara pedang ini……?"

Aku menatap pedang di tanganku dan menyentuh ujung tajamnya dengan kuku.

Ketajamannya hanya sedikit lebih baik dari pedangku yang biasa. Tidak tajam secara tidak masuk akal seperti tadi.

Namun, hasilnya justru seperti ini.

Meski aku sudah terbiasa melawan Orc, rasanya tidak mungkin bisa mengalahkannya semudah menyembelih ikan di atas talenan.

Aku menatap senjata baru ini lekat-lekat dan dengan jujur mengungkapkan perasaanku.

"Pedang macam apa ini, mengerikan sekali……"

Sudah jelas pedang ini terkutuk. Sebaiknya jangan terlalu sering kugunakan.

Peran Ayah

Sehari sebelum jadwal penghapusan kutukan yang dideklarasikan Sia, aku mengunjungi asrama Sia seperti biasa pada pukul lima tiga puluh pagi.

"Selamat pagi, Hedda-san."

"Selamat pagi, Tekt-san. Hari ini juga mohon bantuannya, ya."

"Tentu. Serahkan saja padaku, Guru!"

"Panggil saya Kepala Pelayan."

Setelah bertukar sapa dengan ringan, aku menuju dapur untuk memulai persiapan bahan makanan.

Sejak aku menjabat sebagai petugas yang membangunkan Sia, sebagian tugas memasak hilang dari pekerjaanku. Alasannya, tidak mungkin bagiku untuk menyajikan masakan yang baru matang tepat setelah mengurus Sia bangun tidur.

Jadi, setidaknya aku mengerjakan persiapan bahan-bahannya dengan cepat, lalu bergegas membersihkan lantai satu. Setelah lantai satu selesai, aku langsung beranjak membersihkan area sekitar asrama.

Pekerjaan itu memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Setelah menyelesaikan semua tugas, aku kembali masuk ke dalam asrama.

"Sudah selesai? Luar biasa, Tekt-san."

"Ah, tidak seberapa, hehehe."

"Benarkah? Padahal saya berencana menaikkan upahmu karena melihat pertumbuhanmu."

"Aku rasa aku memang tumbuh dengan sangat pesat."

Sambil disayangi oleh Hedda-san layaknya seorang cucu, aku pun bersiap untuk naik ke lantai dua.

Saat membuka pintu kamar tidur, Sia sedang terlelap. Hari ini pun dia tidur dengan sangat nyenyak.

Aku mendekat lalu memanggilnya.

"Sia~, Sia-sama~. Sudah pagi, ayo bangun~."

"Ngh…… nng……"

"Oke, tidak bangun, ya. Baiklah, kita lakukan seperti biasa."

Aku menyiapkan pakaian gantinya, melingkarkan lengan di punggung Sia, lalu mengangkatnya dengan sekali sentak.

Aku sudah mencoba berbagai cara membangunkan yang minim kontak fisik, tapi akhirnya aku menyimpulkan bahwa cara ini adalah yang tercepat.

Mungkin karena itu—bukan, karena hal itulah—tubuh lembut Sia jadi bersentuhan denganku, tapi itu sudah menjadi risiko yang tak terelakkan.

Setelah membuat Sia duduk secara fisik, aku berseru, "Oke, sekarang kita ganti baju~. Angkat tangan tinggi-tinggi~."

"Angkat~……"

"Bagus sekali, pintarnya bisa mengangkat tangan. Sekarang kita lepas bajunya, ya~."

"Iya~……"

Dengan bantuanku, Sia mengangkat kedua tangannya tanpa sadar, dan aku pun segera melepas gaun tidurnya. Sia jadi telanjang bulat, tapi karena sudah terbiasa, aku memejamkan mata dan melakukannya dengan cekatan.

"Sekarang pakai bra-nya, ya~."

"Ngh…… jangan…… bra-nya, sesak……"

"Iya, iya, tahan sebentar, ya~."

Setelah beberapa hari latihan, aku sudah menguasai teknik memakaikan bra tanpa melihat dan tanpa menyentuh kulit Sia.

Jadi, aku berhasil menutupi dadanya dengan mulus dan mengaitkan pengait di punggungnya. Waduh, beratnya, pikirku lagi hari ini. Selain itu, posisi wajah Sia jadi sangat dekat denganku.

"……Ah…… Tekt……?"

"Selamat pagi, Sia."

"Tekt…… selamat pagiii……"

"Ugh, menahan diri……!"

Melihat senyum polos yang membuat wajahnya tampak sedikit lebih muda itu, jiwa kebapakan di diriku terusik.

Lagipula, aku sendiri sudah berpengalaman mengurus lima adik perempuan. Aku sangat lemah terhadap kepercayaan penuh yang muncul dari kepolosan masa kecil.

Sebenarnya, meskipun penampilan luarnya terlihat dewasa, sisi dalam Sia masih cukup kekanak-kanakan. Dia berusaha bersikap cerdas, tapi aku selalu merasakan aura seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Karena Sia yang seperti itu bermanja-manja di pagi hari, ini benar-benar tidak adil. Dia curang sekali.

"Nah, sekarang ganti seragam! Angkat tangannya lagi."

"Angkat~……"

"Ugh."

Sambil menahan serangan dari senyum polos Sia, aku memakaikan seragamnya. Sepuluh menit kemudian, aku akhirnya selesai memakaikan baju untuk Sia.

"Fiuh, selesai. Sia~? Sudah mulai sadar?"

"Nng…… Papa, gendong……"

"Aku bukan Papa, ayo naik ke punggungku."

Aku menggendong Sia di punggung dan membawanya ke wastafel.

"Oke, cuci muka supaya tidak tenggelam, ya. Splash splash~."

"Wabubububu."

Layaknya boneka tangan, aku menciduk air dari belakang dan membasuh wajah Sia. Sia sempat tersedak sedikit, tapi karena berada di bawah kendaliku, semuanya aman.

"Oke, sudah bersih. Sudah bangun, kan?"

Aku memanggilnya untuk memastikan keadaannya.

Sia adalah tipe yang perlahan sadar saat tubuhnya digerakkan untuk memakai baju, lalu benar-benar segar setelah cuci muka.

Itulah sebabnya jika aku mencuci mukanya di awal, dia akan tersedak parah dan tetap tidak bangun—atau lebih tepatnya, dia akan panik.

Hasilnya, urutan seperti inilah yang paling pas. Namun, saat kulihat, Sia malah membuang muka dengan wajah memerah.

"Hm? Sia?"

"……A-aku tidak bilang apa-apa, lho."

"Apa maksudnya?"

"Ti-tidak, kalau kamu tidak paham, ya sudah."

Saat aku memberikan handuk, dia mengusap wajahnya sendiri, jadi sepertinya dia sudah sepenuhnya sadar.

"Tapi tadi bilang 'Papa', ya. Aku sendiri merasa terharu bisa menjadi sosok orang tua bagi seorang anak."

"!! Tekt!? Kamu mengerti artinya, kan!?"

"Hahahaha. Salah sendiri bicara saat masih mengantuk."

Saat aku menggodanya, Sia memajukan bibirnya dengan wajah yang sangat malu.

"Su-sudahlah! Lagipula besok tugas asisten pribadimu akan berakhir! Tapi jangan coba-coba menyebarkan kejadian tadi ke mana-mana!"

"Aku tahu. Nah, sekarang gosok gigi dan rapikan rambutmu, ya."

"……Iya."

Sia sering melewatkan bagian giginya jika menyikat sendiri, jadi aku melakukannya dengan sangat teliti.

"Tapi ya, aku benar-benar tak menyangka awalnya aku sangat waspada dijadikan budak, malah berakhir jadi seperti ini."

Aku tertawa terbahak-bahak.

"Apa aku sudah lebih mengenal Sia daripada dirinya sendiri? Seperti fakta bahwa ada satu gigi bungsu yang mulai tumbuh?"

"Ngh! Ngh!"

"Hahaha, jangan meronta."

Sia meronta-ronta. Setelah selesai menyikat gigi, aku memberikan gelas, "Ayo berkumur."

Setelah itu, aku berdiri di belakang Sia dan mulai menyisir rambutnya. Aku baru melakukannya akhir-akhir ini, dan menyenangkan melihat rambut Sia menjadi semakin berkilau setiap harinya.

Namun, wajah Sia tampak merajuk.

"Kumur, buang! ……Jangan berpikir kalau dengan melakukan hal ini, kamu sudah tahu segalanya tentang aku."

"Padahal aku sudah mengurusmu dengan sangat teliti, apa yang kau bicarakan?"

"Ya-ya jelas saja! Meskipun kamu mengurusku, suatu saat nanti seorang anak pasti akan memiliki rahasia yang tidak diketahui orang tuanya. Oleh karena itu……"

Sia hampir mengatakan sesuatu, lalu terdiam.

Dia berpikir sejenak, lalu menyusun kata-katanya.

"……Hari ini adalah hari terakhirmu menjadi asisten pribadiku. Kutukan itu, pasti akan kuhapus. Terima kasih atas kerja kerasmu, Tekt."

Mendengar suaranya yang terdengar begitu murung, aku menunduk dan berkata, "Ya, kalau kutukan di lengan dan rasa nyut-nyutan ini hilang, aku juga akan merasa jauh lebih ringan."

Pertempuran Pemusnahan di Reruntuhan Kastil

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku menyiapkan perlengkapan dan pergi ke luar akademi bersama Sia.

"Ritualnya akan dilakukan di reruntuhan kastil. Apa kamu tahu di mana itu?"

"Tahu, kok. Tempat yang banyak Golem-nya, kan?"

Jika saja tidak dalam masa dilarang keluar akademi, aku biasanya pergi ke sana hanya untuk menghancurkan Golem dan menambang Core Gold.

Tapi takdir berkata lain, aku justru malah mendapatkan kutukan pada Cursed Blade-ku.

"Iya. Aku akan memusnahkan Golem-Golem itu dengan sihir garis keturunanku, dan setelah selesai, ritual akan dilakukan di dalam kastil," jelas Sia singkat mengenai rencananya.

"Ngomong-ngomong, kenapa harus di reruntuhan kastil?"

"……Secara lokasi, itu tempat yang pas."

"Begitu, ya?"

Cara bicaranya terkesan mengelak, tapi kurasa tidak mungkin dia merencanakan sesuatu yang aneh sekarang. Jadi, aku membiarkannya saja.

Karena reruntuhan kastil cukup jauh dari sekolah, kami memacu kuda untuk ke sana.

Aku sudah sering berkuda di rumah orang tuaku, jadi semuanya berjalan lancar.

Satu hal yang mengganjal adalah Sia membawaku pergi dengan suasana hati yang sama seperti saat kencan rahasia kemarin.

Artinya, untuk perjalanan sejauh ini, tidak ada Hedda-san atau siapa pun yang ikut selain kami berdua.

Yah, Sia adalah keluarga kerajaan dengan garis keturunan yang kuat, tapi… jika memikirkan statusnya, tindakan ini terasa agak janggal. Apa ada maksud lain di balik ini?

Tak lama kemudian, reruntuhan kastil terlihat. Menara yang menjulang tinggi. Dinding luar dengan retakan runtuh di sana-sini.

Reruntuhan kastil yang muncul di tengah hutan itulah tujuan kami.

Sebenarnya, ada cerita hantu kecil tentang kastil ini.

Kisah tentang seorang ksatria dan bangsawan. Dahulu kala, ada seorang ksatria yang sangat diandalkan oleh seorang bangsawan.

Ksatria itu bersumpah setia kepada bangsawan tersebut. Dia menganggap sang bangsawan seperti ayahnya sendiri.

Namun, suatu hari sang bangsawan mengirim ksatria itu ke medan kematian. Sang ksatria dibujuk habis-habisan oleh bangsawan itu, dan karena rasa baktinya pada sang "ayah", dia pun pergi meski tahu itu adalah ajalnya.

Setelah bertempur hebat, sang ksatria berhasil meraih kemenangan dengan tubuh yang hancur.

Dalam kondisi babak belur, dia kembali sendirian kepada sang bangsawan.

Saat tiba, dia mendapati sang bangsawan sedang berpesta dengan keluarganya, dan tanpa menyadari kepulangan sang ksatria, sang bangsawan berkata:

"Ah, lega sekali! Akhirnya aku bisa menyingkirkan si pencuri kehormatanku itu!"

Mendengar itu, sang ksatria putus asa. Dia membantai seluruh orang di kastil tersebut sebelum akhirnya bunuh diri.

Konon, dendam para pelayan yang dibantai saat itu telah bersemayam di dalam Golem yang ada di sini.

Yah, kalau menurutku, sih:

"Yang punya dendam itu ksatria-nya, tahu."

"Apa kamu bilang sesuatu, Tekt?"

"Tidak, hanya bicara sendiri."

Setelah turun dari kuda, kami berjalan kaki menuju reruntuhan kastil.

Dengan sepatu yang kokoh, kami melintasi medan yang tidak rata. Aroma tanah dan rumput yang pekat membuatku menyadari bahwa kami telah memasuki wilayah yang bukan milik manusia.

Saat mendekat, kastil itu tampak sangat tinggi. Bangsawan yang pernah tinggal di sini sepertinya memiliki jabatan yang tinggi.

Meskipun, jabatan tinggi tidak menjamin kepribadian yang baik.

"Di sini sudah cukup," Sia berhenti tepat sebelum memasuki kastil. Dia mengeluarkan lonceng tangan dari saku.

Lonceng pemanggil Phantom Queen.

"Kalau begitu, mari kita mulai. Tekt, berbahaya kalau kamu di sini, jadi mundurlah dan lihat dari jauh."

Ucapnya sambil mengayunkan lonceng.

Suara lonceng yang melengking bergema ke seluruh penjuru. Seolah merespons, bayangan-bayangan pun muncul.

Bentuk ksatria yang pernah muncul saat aku membereskan dokumen dulu. Namun, bukan hanya itu.

Pasukan tentara yang tak terhitung jumlahnya bermunculan di sekitar Sia. Pendekar pedang standar, pemanah, pasukan tombak yang membentuk phalanx, hingga prajurit besar dengan baju zirah lengkap yang membawa mace.

Jumlahnya sekitar 30-an. Wah, aku merasa kagum.

Lalu, Sia memberi perintah.

"Musnahkan mereka, Phantom Knight!"

"Siap."

Begitu perintah itu terdengar, pasukan bayangan yang tadinya berbaris rapi langsung melesat maju.

Barisan depan dipimpin oleh komandan ksatria. Mereka menyerbu benteng dengan lincah, diikuti oleh ksatria lainnya.

Pasukan ksatria masuk ke reruntuhan kastil dalam formasi. Suara derap langkah militer bergema, dodo-do-do.

Tak lama kemudian, pasukan bayangan Sia pun ditelan oleh reruntuhan kastil.

Hening sejenak.

Sesaat kemudian, suara dentuman keras membahana.

"!? Apa? Apa yang terjadi!?"

"Ini bukan urusan anak laki-laki. Semua anak laki-laki pasti tidak suka dengan urusan kasar seperti ini, kan?"

Dia bicara seolah aku tidak punya kemampuan bertarung. Padahal saat menjelaskan tentang kutukanku, kupikir aku sudah bicara cukup jelas. Apa dia tidak menyadari bahwa aku bisa bertarung?

Suara dari dalam kastil terus terdengar. Suara reruntuhan bangunan bergema tiada henti. Benar, ini pasti suara pertarungan melawan Golem.

Saat aku berpikir begitu, Sia sedikit mengernyit dan menghampiriku.

"Tekt, kalau kamu takut, pejamkan matamu. Keamananmu adalah tanggung jawabku."

"Eh? Tidak, tidak apa-apa—"

Begitu aku menjawab dengan polos, saat itulah.

Sebagian tembok kastil runtuh, dan seekor Golem melompat keluar dari lantai atas. Mengejarnya, para Phantom Knight pun berterbangan.

"Woah?"

Para Phantom Knight itu, seolah tidak takut mati, memanjat tubuh Golem yang sedang jatuh. Golem itu menghantam tanah dengan keras, membuat retakan di bagian kepalanya.

Komandan ksatria itu berpegangan erat pada tengkorak Golem tersebut.

Lalu, para Phantom Knight lainnya berkerumun dan menancapkan senjata mereka ke retakan tersebut.

Dengan kekuatan luar biasa, layaknya tentara semut, mereka mengalahkan Golem tersebut. Golem itu pun menemui ajalnya setelah bagian kepalanya hancur, menumpahkan Core Gold dan Magic Stone.

Sia mengangguk ke arahku.

"Itu yang terakhir. ……Kenapa kamu tidak memejamkan mata? Kamu punya keberanian yang hebat, ya."

"Kau menganggapku seperti apa, sih?"

"……Ufufu. Benar juga, sepertinya Tekt memang bukan tipe orang yang mudah takut."

Karena ini dunia pembalikan gender, diperlakukan seperti "gadis yang berani" membuatku merasa kesal. Jangan remehkan aku, sungguh.

Tapi, tunggu.

"Hari ini, baru kali ini kau tertawa."

Saat aku mengatakannya, Sia membelalakkan mata dan menyentuh bibirnya.

"……Benarkah?"

"Ya. Dari kemarin kau terus merajuk, Sia."

"Begitu, ya……. Kalau begitu, maafkan aku."

Sia menunduk seolah memikirkan sesuatu, tapi segera mengangkat wajahnya dan mulai berjalan.

"Kalau begitu, ayo kita pergi."

Aku pun mengikuti Sia.

Ritual Penghapusan Kutukan

Saat memasuki reruntuhan kastil, di dalamnya berserakan puing-puing yang dulunya adalah tubuh Golem.

Meskipun Golem itu memiliki panjang tiga meter, jika mereka menghadapi senjata konvensional seperti pedang atau busur, mereka seharusnya menjadi musuh yang tangguh. Namun, mereka semua telah dimusnahkan secara menyeluruh.

"Aku sudah memerintahkan Phantom Knight untuk mencari apakah ada yang tersisa. Jadi, jangan khawatir."

Sia berjalan maju sambil menunjukkan rasa peduli, meskipun wajahnya sendiri tampak tegang.

Kami menaiki tangga dan tiba di ruangan yang luas. Aku berpikir, apakah ini tempat pesta di mana ksatria membunuh bangsawan dalam cerita hantu tadi?

Sia berdiri di tengah ruangan dan berkata.

"Mari kita lakukan ritualnya di sini. Tempatnya terbuka, dan jika terjadi sesuatu, kita bisa langsung menuruni tangga menuju jalan keluar."

"Hm, ya."

Aku menjawab sambil berpikir.

...Jika terjadi sesuatu?

"Hei, Sia. Jangan-jangan ritual penghapusan kutukan ini berbahaya?"

"Aku tidak tahu. Tapi, Tekt telah menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi dengan sangat baik. Jadi, aku juga harus memenuhi janjiku, bukan?"

"O-oh……"

Suasananya terasa sangat aneh. Sia memancarkan aura seseorang yang diam-diam telah mengambil keputusan yang tidak baik.

...Apakah dia akan baik-baik saja? Dia kan orang yang mudah panik.

"Eh, Sia? Tentang penghapusan kutukannya, kutukan ini memang melelahkan, tapi kalau caranya berbahaya, mungkin lebih baik kita luangkan waktu lebih banyak untuk penyelidikan—"

"Tekt."

Sia memotong perkataanku tepat saat aku hendak menasihatinya untuk berhenti jika itu berbahaya.

Lalu, dengan senyum sarkastik yang jarang ditunjukkannya, dia mulai berbicara.

"Tidak apa-apa. Ini adalah konsekuensi dari perbuatanku sendiri. Aku berkenalan dengan laki-laki sepertimu dan menghabiskan hari-hari yang menyenangkan. Tapi, itu adalah hal yang tidak adil."

"Tidak adil? ……Apanya?"

"Jika aku bersikap jujur, seharusnya aku menolakmu saat itu. Tapi, aku malah berjanji bisa menghapusnya dengan mudah dan menuntut imbalan darimu. Dan Tekt telah membayar imbalan tersebut dengan benar."

Karena itu, Sia berkata.

"Aku harus memenuhi janjiku, tidak peduli seberapa bahayanya. Jika tidak, itu adalah tindakan yang memalukan bagi keluarga kerajaan. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika melakukan itu."

Mata Sia saat mengatakan itu terlihat begitu lurus.

Pendidikan Hedda-san tertanam dalam akarnya. Itulah tatapan Sia. Tatapan yang tidak memaafkan ketidaktulusan, pengkhianatan, dan perbuatan yang tidak sopan.

Karena itulah, aku menyadari. Sia tidak akan berhenti menghapus kutukan ini, tidak peduli seberapa bahayanya. Dia sudah mengambil keputusan itu.

"……"

Jika sudah begini, aku tidak bisa menghentikannya. Tidak ada cara untuk menghentikannya.

Aku menghela napas panjang dan mengangguk.

"Baiklah. Lakukanlah."

"Ya."

"……Akan lucu kalau setelah bicara sehebat ini, semuanya berakhir dengan mudah."

"Pff, ufufufufufu. ……Jangan membuatku tertawa di saat genting seperti ini."

Sia memelototiku. Aku menjulurkan lidah untuk menutupi kecemasanku.

Lalu, Sia berkata, "Ulurkan tangan kananmu."

Aku mengulurkan tangan kananku sesuai perintah. Lengan kananku yang terlilit kutukan. Sia menatap kutukan itu dengan lekat.

Dan kemudian, dia berkata.

"———Aku tidak akan bilang, 'jangan mengkhianatiku'. Tapi, kamu adalah laki-laki yang luar biasa. Jika memungkinkan, khianatilah aku tanpa aku sadari."

"Hah?"

Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan Sia. Mengabaikan kebingunganku, Sia menggenggam tangan kananku.

Rasa sakit menjalar di lengan kananku. Aku mengerang, "Gah!"

Dan saat itu, kutukannya mulai menggeliat.

Dari titik kontak dengan Sia, kutukan itu menyerbu ke arah lengan Sia.

Pola kutukan itu berpindah ke lengan Sia. Sia menggertakkan gigi menahan sakit.

Saat itu, lonceng tangan jatuh dari saku Sia.

Lonceng itu jatuh ke tanah dan menggelinding. Lalu, secara misterius melayang di udara dan berbunyi ring-ring tanpa ada yang memainkannya.

Satu per satu Phantom Knight muncul. Para ksatria mengeluarkan senjata mereka dan mengepung Sia.

"!? Sia! Apa artinya ini! Apa yang terjadi!"

"Ku……! Kutukan ini, sedang menunjukkan jati dirinya. Sejak awal, kutukan itu memang menargetkan mereka yang memiliki garis keturunan Phantom Queen. Efeknya adalah……"

Sia mengucapkannya dengan susah payah.

"Pemberontakan para Phantom Knight……!"

Saat itu, aura membunuh yang luar biasa mengarah kepadaku.

Aku berbalik. Di sana berdiri komandan Phantom Knight yang menatapku dengan tatapan tajam.

"Kaukah, ———mengapa kau berpihak pada para penyihir itu?"

"Hah? Apa yang kau katakan?"

"Menghindar, Tekt!"

Sambil berteriak, Sia mendorongku.

Pedang sang komandan menembus tempat kami berdiri tadi. Saat itulah aku sadar. Karena kekacauan ini, aku tidak bisa bergerak dengan benar.

Namun, tindakan itu membuatku dan Sia terpisah. Sosok Sia terhalang oleh para Phantom Knight, dan sebaliknya, aku tidak bisa terlihat oleh Sia.

Aku memindai sekeliling. Seperti yang kukatakan tadi, di belakangku ada jalan menuju pintu keluar. Jika aku berlari lurus, aku bisa lolos.

Karena tujuan para Phantom Knight bukanlah aku.

"———Jadi begitu, ya, Sia!"

Ketidakkonsistenan tindakan Sia sejauh ini akhirnya membentuk gambaran jelas di benakku.

Sia sudah merencanakan ini sejak awal. Di tengah pemberontakan Phantom Knight, dia hanya ingin menyelamatkanku.

Namun, pada saat yang sama, bagian yang paling rapuh dari hati Sia telah menyuarakan perasaannya melalui kata-kata.

Tolong khianati aku. Tolong tinggalkan aku. Tolong selamatkan dirimu sendiri. Tapi setidaknya, lakukanlah tanpa aku sadari.

Dan untuk itu, aku————

Pengkhianatan Sang Ayah

Saat masih kecil, Sia sangat disayangi oleh ayahnya sendiri, sang Raja.

Hal seperti itu biasanya jarang terjadi. Bagi pria bangsawan, seorang putri hanyalah salah satu dari sekian banyak anak, dan bagi rakyat jelata pun, sangat langka ada orang tua yang hanya mencintai satu anaknya secara spesial.

Namun, Sia memiliki ingatan bahwa ia sering mendapatkan waktu lebih banyak dibanding saudara-saudaranya yang lain.

Setiap kali Sia datang menghampiri ayahnya, sang Raja akan tersenyum lebar dan bermain bersamanya.

Karena itulah, Sia tidak pernah meragukan kasih sayang ayahnya. Ia menganggap hal itu wajar, dan merasa dirinya spesial.

Suatu hari, Sia tiba-tiba diputuskan untuk menikah dengan seorang bangsawan tinggi dari negara lain yang jauh lebih tua dari ayahnya.

"……Um, Ayah……?"

Tentu saja Sia bingung dengan kabar yang datang tiba-tiba itu.

Sia sadar bahwa dirinya adalah anggota keluarga kerajaan. Ia tidak pernah mengharapkan pernikahan bebas dengan orang yang ia cintai.

Akan tetapi, calon suaminya ini...

"Tentang pernikahan itu, kabarnya Duke ini telah mengirim banyak selirnya ke garis depan pertempuran melawan ras iblis, dan sebagian besar dari mereka tewas……"

Saat Sia menanyakan hal tersebut, ayahnya memasang ekspresi yang sangat memilukan dan berkata:

"Illusia, oh putriku yang tercinta. Ayah pun tidak ingin melakukan hal seperti ini. Tapi negara kita memiliki hutang yang sangat besar kepada pria ini."

Dengan wajah seolah ia menanggung beban yang tak tertahankan, sang Raja memeluk Sia dan berucap:

"Kumohon. Anggap saja ini demi Ayah, tidakkah kau bisa bersabar……!"

Mendengar kata-kata itu, Sia mengangguk sambil meneteskan air mata.

Demi Ayah, pikir Sia. Di usianya yang bahkan belum genap sepuluh tahun, ia setengah hati menerima kematian demi ayahnya.

Begitulah, Sia dipersiapkan untuk menikah dengan tenang.

Tanpa sempat masuk akademi, Sia bersiap untuk menikah dan dikirim ke medan perang. Itulah tekad yang ia tanamkan.

Ia berpikir itu adalah demi sang ayah, sebuah kewajiban anggota keluarga kerajaan.

Maka, sehari sebelum keberangkatannya ke negara lain, Sia pergi ke kamar ayahnya di malam hari karena ingin mendengar suaranya demi menghilangkan kecemasan.

Di sana, melalui celah pintu yang terbuka sedikit, Sia mendengar kata-kata ayahnya yang tertawa terbahak-bahak.

"Oh iya, besok adalah hari pernikahan Illusia. Hahahaha. Duke ini sangat royal, jadi uangnya akan cukup untuk menambah kemewahanku."

Sia tidak mengerti apa yang dibicarakan ayahnya.

"Benar-benar, permaisuri itu. Saat aku mencoba mengambil uang kas negara, dia malah bilang, 'Ini adalah anggaran untuk operasional negara, jangan disentuh'……!"

Ayahnya berbicara dengan nada kesal. Sia membeku di tempat dan tidak bisa bergerak.

"Makanya, aku memutuskan untuk membiarkan anak dari wanita itu menghasilkan uang untuk menutupi kekuranganku! Memang benar dia melahirkan seorang putra dan memegang kekuasaan nyata, tapi untuk putri yang lainnya, aku akan membiarkannya sesuai keinginanku!"

Setelah mengatakan itu, ayahnya tertawa terpingkal-pingkal.

Sia tidak bisa mempercayainya. Ia tidak bisa lagi mengenali sosok ini sebagai ayahnya yang dulu menyayanginya.

Dengan langkah gontai, Sia langsung menemui ibunya.

Ibunya adalah permaisuri yang memegang kekuasaan nyata di keluarga kerajaan. Ia selalu sibuk, dan berbeda dengan ayahnya, jarang sekali ibunya menanggapi Sia dengan serius.

Namun hari itu, bagi Sia, ibunya adalah satu-satunya orang yang bisa diandalkan.

Sang ibu sedang meneliti beberapa dokumen di kamar tidurnya dengan mata yang kelelahan. Sia sempat berpikir ibunya mungkin tidak akan mau mendengarkan.

Akan tetapi, meski tampak enggan, ibunya berkata, "Ada apa di tengah malam begini?" sehingga Sia, setelah mengawali dengan, "Saya rasa saya mungkin hanya berhalusinasi," menyampaikan kata-kata ayahnya kepada sang ibu.

Setelah mendengar semuanya, tubuh sang ibu gemetar hebat.

"———Terima kasih sudah memberitahuku, Sia. Syukurlah, sebelum semuanya terlambat. Syukurlah……!"

Begitu kata ibunya. Setelah itu, ibunya menyuruh Sia untuk tidak khawatir lagi, dan Sia pun tidur dengan tenang malam itu.

Keesokan harinya, semuanya sudah berakhir, dan perjodohan Sia dibatalkan tanpa ia diberi tahu detailnya.

Sejak saat itu, kesempatan Sia bertemu ayahnya berkurang drastis. Hanya saja, setahun setelah kejadian itu, mereka sempat berpapasan di lorong.

Ayah yang ditemuinya saat itu tampak kurus kering tak bernyawa, dengan pakaian yang lusuh.

Saat berpapasan, ayahnya membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar Sia:

"Ini semua salahmu……! Aku membencimu, aku akan mengutukmu, Illusia……!"

Sia merinding ketakutan. Ia bahkan tidak bisa menoleh ke belakang.

Itulah ingatan terakhir Sia tentang sosok ayahnya.

Sejak saat itu, Sia tidak bisa lagi mempercayai pria mana pun.

Faktanya, pria-pria yang ia kenal setelah itu semuanya buruk. Ada yang terang-terangan sem

ena-mena. Ada yang memperlakukan wanita layaknya pelayan. Bahkan pria dari keluarga Duke pun, tak ada yang tahu apa yang mereka rencanakan di belakang.

Satu kesamaan mereka adalah tidak menganggap wanita sebagai manusia.

Karena itulah, Sia berpikir bahwa Tekt, anak laki-laki dari bangsawan rendah yang ia kenal baru-baru ini, juga sama saja.

Memang, Tekt adalah pria yang menarik dan sopan kepada wanita. Dia polos, naif, dan ada sisi yang manis.

Namun, Tekt tetaplah seorang pria.

Sia yakin, pada akhirnya, Tekt akan mengkhianatinya di saat-saat genting. Seberapa dekat pun mereka sekarang, Sia yakin akan tiba harinya Tekt membuang Sia demi keuntungan pribadinya.

……Tapi itu tidak masalah. Sia justru menikmati hari-harinya bersama Tekt sampai ia sempat berpikir seperti itu.

Karena itulah, Sia memulai ritual penghapusan kutukan. Ini akan menjadi ritual yang berbahaya.

Jika kutukannya tidak dipindahkan ke tubuh Sia dan menampakkan wujud aslinya, kutukan itu tidak akan bisa terhapus bagaimanapun caranya.

Bukan hanya itu, meskipun Sia memiliki banyak pengikut, kali ini tidak ada yang bisa ia andalkan.

Kutukan ini mudah ditiru, dan jika diketahui, akan membahayakan seluruh garis keturunan Phantom Queen.

Namun, garis keturunan itu didominasi oleh bangsawan tinggi yang tidak akan mengulurkan tangan untuk bangsawan rendah.

Maka, ritual ini harus dilakukan oleh Tekt dan Sia berdua saja.

Dan Sia berpikir, saat inilah Tekt akan mengkhianati dan membuangnya.

Pria itu tidak punya cara untuk bertarung. Sia tidak pernah berpikir untuk mengajak Tekt mati bersamanya.

Jadi, ini adalah caranya untuk memancing pengkhianatan Tekt sesuai dengan bentuk yang diinginkan Sia.

Daripada dikhianati suatu hari nanti dengan cara yang benar-benar menyakitkan, Sia memilih untuk dikhianati sekarang dengan cara yang bisa ia terima.

Karena itulah, Sia melakukannya.

Sekarang, para Phantom Knight telah memberontak dan mengarahkan pedang kepada Sia.

Tekt pasti sedang berlari menuruni tangga untuk melarikan diri. Itu tidak apa-apa. Itu justru bagus. Karena Tekt tidak bisa berbuat apa-apa dalam situasi ini.

Tidak ada cara bagi Sia untuk selamat dari sini. Jadi, Sia bisa mati tanpa harus tahu seperti apa wajah Tekt saat melarikan diri.

Meskipun Tekt memaki Sia atau menertawakan kematiannya, Sia tidak akan tahu.

———Atau, mungkin dia merasa sayang pada Sia? Mungkin dia akan menangis?

"……Fufu."

Tidak mungkin seperti itu. Namun, mati sambil membayangkan hal itu adalah hak istimewa Sia seorang.

Bilah pedang para Phantom Knight mendekat. Sia memejamkan mata, menerima kematiannya.

Lalu, ia berbisik.

"……Untuk hidup yang kujalani, ini tidak buruk bagi—"

"Tundukkan kepalamu, Sia!!!"

Sia tersentak kaget mendengar suara lantang itu.

Bilah pedang yang mendekat melambat sejenak. Sia, tanpa tahu apa yang terjadi, secara refleks menunduk.

Saat berikutnya, kejadian itu terjadi.

"Pile Bunker!!!!"

Dengan dentuman logam yang merdu, bunga api mekar di udara.

Karena momentum itu, Sia terguling di tanah.

Saat ia bangkit, para Phantom Knight telah terhempas oleh kobaran api yang meluas, membuka sebuah jalan.

Dan di depan sana, berdiri Tekt dengan senjata yang belum pernah kulihat terpasang di kedua tangannya, diselimuti oleh api.

"Ke, kenapa, eh, Tekt……?"

"Sia! Kau ini benar-benar, kalau sedang panik kau jadi melakukan hal yang tak terduga!"

Tekt menatap Sia dengan tatapan mata yang tajam. Sia tidak bisa memalingkan pandangannya dari mata itu.

"Dengar, Sia! Aku tidak tahu nasib seperti apa yang menimpamu dan bagaimana kau memandang dunia ini!"

Tekt melangkah maju dengan gagah dan meraih tangan Sia.

"Aku! Aku adalah asisten pribadimu, aku yang mengurusmu! Kau pikir aku akan membuangmu begitu saja?!"

Mendengar kata-kata itu, Sia tidak kuasa menahan isak tangisnya.

Ia dibesarkan untuk menjadi kuat. Ia hidup dengan diberitahu bahwa jika tidak kuat, ia bukanlah wanita.

Karena tidak ada yang membantunya saat ia kesulitan, ia bangkit dengan kakinya sendiri.

Karena itu, Sia tidak percaya. Tangan yang menggenggam tangannya saat ini.

Sia tidak percaya ada Tekt yang menyelamatkannya dari situasi genting.

"I-itu, tidak mungkin, karena aku, aku telah berbuat tidak sopan kepadamu……"

"Tidak, kan! Hasil dari usahamu untuk bersikap jujur justru jadi seperti ini, kan! Lagipula, kalau kau mau berkorban untuk hal sepele seperti ini, setidaknya bangunlah dengan segar di pagi hari!"

Para Phantom Knight mulai mendapatkan kesadaran mereka kembali. Tapi, bagi Sia, hal itu sudah tidak penting lagi.

"Habisnya……! Aku tidak bisa bangun pagi……! Makanya, aku pikir Tekt sebenarnya membenciku……!"

Sia menangis tersedu-sedu, dan Tekt berkata:

"Kalau kau merasa dibenci hanya karena hal itu, kau tidak akan bisa menyukai siapa pun! Sudahlah, ayo lari! Pegang aku!"

Sia dipeluk oleh Tekt, dan sesaat kemudian, dengan kekuatan yang luar biasa, ia dilemparkan keluar melalui lubang yang runtuh.




Phantom Knight di Dalam Kastil

Aku yang sedang menggendong Sia segera melesat keluar dari reruntuhan kastil menggunakan Grappling Hook.

Kami terlempar ke udara. Sia memelukku erat sambil menjerit, "Kyaaa!?"

"Tekt, kita jatuh! Cepat berpegangan! Biar aku yang jadi bantalan."

"Tidak perlu."

Aku menembakkan grapple ke arah pohon di dekat sana, lalu berputar di sekelilingnya untuk meredam momentum jatuh.

Setelah melepas kaitnya, aku mendarat di tanah sambil menimbulkan kepulan debu.

Sia tampak pusing dan bergumam, "Pemandangannya…… berputar-putar……."

Sambil menarik kembali kabel grapple-ku dengan cepat, aku menatap ke arah pintu keluar reruntuhan kastil.

Dari tempat yang agak tinggi itu, para Phantom Knight menatap ke arah kami.

Sekilas saja aku tahu ada niat membunuh di mata mereka. Itu adalah tatapan yang seolah berkata mereka tidak akan membiarkan Sia hidup. D

an mereka pasti berniat melenyapkanku karena telah menghalangi jalan mereka.

Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil. Mereka terlihat lebih cerdas, bahkan saling memberi isyarat, tidak lagi terlihat seperti boneka yang kulihat sebelumnya.

Ditambah lagi, komandan Phantom Knight yang mengenakan zirah paling mewah di tengah sana juga……

Sia pun tersadar dan mendesakku, "Lagipula, Tekt!"

"A-apa yang baru saja terjadi!? Kamu laki-laki, kan? Kenapa kamu punya perlengkapan seperti ini!"

"Yah, aku harus berusaha keras kalau mau hidup dengan layak."

"Apa maksudnya itu!"

Melihat Sia yang sedikit panik, aku pun menjelaskan.

"Aku ini anak ksatria. Tidak punya tanah atau harta, tapi punya kewajiban sebagai bangsawan. Jadi, aku butuh kekuatan untuk mencari uang. Supaya bisa dipilih oleh para gadis."

"……Itu……"

Sia terdiam. Hukum ditetapkan oleh keluarga kerajaan. Karena aku menderita akibat hukum itu, bisa dibilang aku adalah korban dari kerabat Sia sendiri.

Tapi, hal itu tidak penting. Sekarang adalah saatnya untuk menyelesaikan masalah mendesak.

Aku bertanya pada Sia.

"Apakah para Phantom Knight itu menjadi aneh karena kutukan?"

"……Aku mendengar justru sebaliknya. Kutukan itu adalah kutukan untuk 'mengambil kembali kesadaran diri yang lama'."

"……Begitu, ya."

Aku menyipitkan mata. Ada banyak hal yang dipikirkan, tapi ada juga banyak faktor yang belum pasti. Untuk saat ini, mari kita bergerak.

Aku bertanya pada Sia.

"Sebelum mereka mengejar, mari kita lakukan sesuatu. Kamu bisa bergerak?"

"I-iya. Tapi Tekt, sekarang setelah kehilangan kendali atas para Phantom Knight, aku tidak punya sihir garis keturunan. Tidak ada cara untuk menahan mereka……!"

"Ah, soal itu jangan khawatir."

Aku tersenyum tipis dan memberitahunya.

"Sejak awal, aku sudah curiga soal penghapusan kutukan ini. Jadi, aku sudah memanggil bantuan sebelumnya."

"Ya……? Tekt, apa maksudnya?"

Sambil mengusap cincin yang diberikan Aegis, aku merapalkan mantera.

"Summon, Aegis. Bawa Wiz juga."

"Iya, iya! Aku datang!"

"Aku juga datang, Tekt-kun!"

Begitu kupanggil, keduanya muncul. Aku merasa senang dan segera berlari untuk melakukan high-five dengan mereka berdua.

Di sisi lain, Sia tampak terkejut.

"Eh, cincin itu, apa-apaan?"

"Aku mendapatkannya dari Aegis. Ini cincin pemanggil untuk memanggil Aegis. Aku juga sudah meminta bantuan Wiz karena kupikir kehadirannya akan sangat membantu."

Inti dari pertempuran adalah persiapan. Aku tersenyum bangga dengan wajah penuh percaya diri.

Namun, atmosfer bercanda itu langsung sirna saat aku merasakan gerakan para Phantom Knight.

"Tekt-kun, apa yang harus kami lakukan?"

"Aku akan bergerak sesuai instruksimu. Tekt, pandanganmu luas."

"Terima kasih. Pertama, Aegis. Tolong hancurkan pintu masuk itu."

"Mengerti! ———Datanglah, Little Fortress."

Begitu Aegis menyentuh cincinnya, zirah lengkap muncul. Di tangan kanannya terdapat palu raksasa, dan di tangan kirinya perisai sekeras batu.

Aegis bersiap dengan palu raksasanya, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah pintu masuk reruntuhan kastil.

Tepat saat para Phantom Knight hendak turun, palu besar itu menghantam keras.

Gooooon!

Dengan suara yang menggelegar, palu itu menghancurkan pintu masuk kastil.

Dinding batu di sekitarnya runtuh, menutup jalan keluar para Phantom Knight.

"Selanjutnya Wiz. Bisakah kamu mengikat semua musuh di dalam kastil itu dengan Rose Wand?"

"Bisa! Blood Rose Wand milikku baru saja diperbaiki, jadi aku bisa merantai musuh meski mereka adalah Golem!"

Wiz mengeluarkan tongkat mawar dari dadanya. Ia menggenggam erat batang yang penuh duri itu hingga darah mengalir, lalu meneteskan darahnya di dekat reruntuhan kastil.

Kemudian, Wiz mulai merapalkan mantera.

"Sesuap, meneteslah. Lalu, mekar—Blood Rose Wand."

Dari dalam kastil, terdengar jeritan yang terdistorsi, "Ugh!" "Aaaargh!" Jadi, Phantom Knight selain komandan pun bisa bicara, ya.

Tapi untuk saat ini, bisa dipastikan mereka sudah terjebak oleh sihir Wiz. Wiz terus merapalkan mantera, menyiksa musuh-musuh di dalam sana.

"Te, Tekt……"

Kepada Sia yang tampak bingung, aku menjelaskan.

"Sia, kenapa kamu memilih reruntuhan kastil sebagai tempat ritual?"

"Eh, ya. Itu, aku ingin mencegah para ksatria yang memberontak itu berpencar. Di tempat itu, mereka akan tetap tinggal sebagai markas, jadi pasukan penakluk akan lebih mudah menanganinya."

"Ya, aku juga berpikir begitu. Makanya, aku memanfaatkannya untuk taktik kita."

Aku memasukkan Magic Stone kembali ke Pile Bunker. Sembari menunjuk pintu masuk kastil.

"Kastil itu adalah sebuah kotak. Kalau pintunya ditutup, tempat itu akan menjadi penjara yang mengharuskan mereka melompat untuk keluar. Dan, mereka pasti tidak mau melompat dari tempat tinggi dengan zirah berat, bukan? Saat itulah kita manfaatkan untuk mengikat mereka dengan sihir Wiz."

Aku mengayunkan kedua lenganku. Api yang membara dari Pile Bunker dan kabel grapple mulai meliuk.

"Sisanya—tinggal hancurkan kotaknya sampai rata."

Aku menembakkan grapple ke bagian atas kastil.

Aku melesat naik dengan cepat. Begitu sampai di dekat atap, dengan suara spin yang nyaring aku melepas kabelnya dan terlempar ke udara.

Dari celah ruangan yang runtuh, sesuai dugaanku, para Phantom Knight sudah terikat oleh bunga mawar darah.

Tapi, ada satu pengecualian. Sang komandan ksatria. Dia satu-satunya yang berhasil menebas bunga mawar itu dan menatap ke arahku dengan pedang di tangan.

Mata kami bertemu di udara. Aku menatapnya tajam, dan dia menatapku dengan tatapan aneh.

Komandan ksatria itu berkata, "Aku bertanya lagi. Mengapa kau berpihak pada para penyihir itu?"

Aku tidak menjawab, melainkan mulai memanaskan Pile Bunker.

Mesin pembakaran internal mulai menyalakan api. Panasnya membuat Pile Bunker membara merah.

Aku terjun. Targetku adalah pilar utama kastil. Jika bagian ini hancur, kastil akan runtuh!

"Pile Bunker!"

Pagoooon! Dengan dentuman logam, pasak raksasa ditembakkan.

Kekuatannya yang luar biasa membuat pilar utama kastil hancur hingga ke akarnya. Mulai dari titik itu, dinding batu runtuh ke arah dalam.

Para Phantom Knight terseret dalam reruntuhan kastil yang ambruk. Jeritan pria terdengar, berbaur dengan suara reruntuhan yang menimpa tanah.

Aku menembakkan Grappling Hook ke dahan pohon, berputar sekali seperti melakukan reverse pull-up, lalu mendarat dengan ringan di tanah.

"Fiuh, segini cukup, kan."

"……!?"

Saat aku kembali setelah mengatakan itu, ketiganya terperangah.

"Eh, ada apa?"

"Ti, tidak, bukan 'ada apa', Tekt-kun! I-itu! Kastilnya runtuh hanya dengan satu seranganmu!"

"Benar! Tidak, eh!? Pile Bunker memang punya kekuatan sebesar itu!? Bahkan dengan lemparan paluku pun, menghancurkan satu kastil itu susah, tahu!"

"Ah, meruntuhkan bangunan itu ada triknya. Secara dasar, kalau pilar pendukungnya dihancurkan, sisanya akan mengikuti."

"Itu bukan poinnya!"

Wiz dan Aegis memprotesku. Aku memiringkan kepala karena bingung, tiba-tiba Sia mulai tertawa kecil.

"Te, Tekt. Fufu. A-apa kalian selalu seperti ini? Ufufufufu."

"Ada apa, Sia? Kau tertawa terus, tidak tegang sama sekali."

"Ufufufu, ahahahaha. A-aku tidak mau dengar itu darimu! Ahahahaha!"

Entah karena ketegangannya sudah lepas, Sia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

Namun, aku menepuk pundak Sia dan berkata.

"Tidak, aku serius. Jangan santai dulu. ……Musuh belum musnah seluruhnya."

"?"

Sia menahan napas. Dua orang lainnya juga segera kembali ke posisi waspada.

Sesaat setelah aku menoleh ke arah kastil, sebuah bayangan bangkit dari reruntuhan.

"……"

Itu adalah komandan Phantom Knight yang baru saja bicara padaku.

Dia menyingkirkan puing-puing dan berdiri perlahan. Dengan langkah tegap, dia mendekati kami.

Lalu, dia mengayunkan pedangnya.

Bulu kudukku meremang. Aku secara refleks mencabut Cursed Blade yang terselip di pinggangku. Semua orang di sekitarku pun menegang karena takut.

Lawan yang lebih kuat.

Setelah berada dalam jarak pertarungan langsung, aku baru sadar. Dia lebih kuat. Dia punya kekuatan untuk mengalahkan kami semua sendirian.

"Aku bertanya untuk ketiga kalinya."

Komandan ksatria itu mengarahkan ujung pedangnya kepadaku.

"Mengapa pria sepertimu berpihak pada para penyihir? Para anak gadis penyihir yang merampas sihir dari kita para pria, merampas nyawa bahkan sebelum kita lahir, dan mencoba menindas semua pria dengan dendam egois mereka."

Aku memasang senyum kaku dan bersiap dengan posisi seigan, "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

Pertarungan Pria

Komandan ksatria itu, seperti yang dikatakan Sia sebelumnya, sepertinya memiliki sihir meskipun dia adalah seorang pria.

Tidak terasa seperti dia menggunakan sihir khusus, melainkan teknik pedang yang murni digabungkan dengan peningkatan kekuatan sihir. Itu gaya yang sama persis dengan ibuku.

Tidak ada celah. Aku pikir begitu.

Lagipula, dia adalah ahli bela diri yang bahkan tidak terluka parah meski tertimpa reruntuhan kastil.

Jadi, saat berhadapan langsung, aku berpikir.

...Bagaimana cara menyerangnya?

Dia memakai zirah lengkap, aku bisa saja melarikan diri untuk melakukan perang informasi, tapi kalau aku lari, Sia dan yang lainnya mungkin akan diincar.

Kalau begitu, tidak ada pilihan lain selain pertarungan satu lawan satu. Saat aku berpikir begitu, komandan ksatria berkata lagi.

"Kau, apakah kau tidak punya sihir? Kalau begitu, apakah para pria sudah kalah? Apakah kutukan para penyihir egois itu akhirnya benar-benar menggerogoti para pria?"

"Sudah kubilang, bicara apa sih kau ini! Apa itu penyihir?"

"Penyihir, ya penyihir. Mereka yang mendendam pada pria, mengutuk pria, dan menenun kutukan yang tak terhapuskan pada semua pria di dunia. 'Penyihir Terdistorsi'…… Jangan bilang kau tidak tahu."

"Tidak tahu. Berapa lama cerita itu sudah berlalu?"

Aku memang pernah belajar sejarah, tapi sejak zaman dahulu pria tidak punya sihir dan jumlahnya sangat sedikit.

...Jadi, seperti yang dikatakan Sia sebelumnya, dia adalah ksatria dari zaman kuno?

Dan, di zaman kuno itu, seseorang yang disebut 'Penyihir Terdistorsi' telah mengutuk pria, dan melahirkan dunia pembalikan gender ini...?

Mendengar jawabanku, komandan ksatria itu gemetar.

"……Kejam sekali. Sampai segitunya kah. Sudah berapa lama waktu berlalu? Waktu telah berlalu hingga pria dikalahkan oleh penyihir terdistorsi, dunia berakhir menjadi tempat menyedihkan di mana pria ditindas oleh wanita, sampai hal itu dianggap wajar……!"

Kami semua bingung dengan kata-kata komandan ksatria itu.

Karena dunia yang kutinggali selama ini. Dunia dengan rasio pria-wanita 1:30 ini adalah——

"……Bukankah terbalik? Bukankah justru para gadis yang ditindas oleh para pria?"

Maksudku, aku mengerti perasaannya.

Aku mengerti ketakutan akan mulai ditindas di dunia di mana pria yang dulunya kuat kemudian menjadi lemah.

Tapi bagiku yang hidup di dunia yang tidak seperti itu, aku merasa hal itu tidak terjadi.

"Apa yang kau bicarakan……"

"Tidak, kubilang itu terbalik. Di dunia ini, para gadis justru mengalami nasib yang jauh lebih buruk."

Aku mencoba membujuknya.

Namun, itu tidak membuahkan hasil.

"———Tidak disangka kau sudah dicuci otak sampai sejauh itu……!"

Amarah komandan ksatria meluap.

"Penodaan macam apa ini……! Tidak bisa dimaafkan, tidak akan kumaafkan……! Penyihir……! Para anak gadis penyihir……! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian……!"

Di balik zirah kepalanya, komandan ksatria itu tampak sedang menangis. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memancarkan amarah yang besar.

Perasaanku terhadap bahaya meningkat drastis. Niat membunuh lawan yang lebih kuat tersebar luas, membuat seluruh tubuhku kaku karena takut.

Namun, aku tidak bisa diam saja di sini.

Mungkin, detik berikutnya seseorang akan diserang. Jika tidak menyiapkan tindakan pencegahan, seseorang akan mati!

Siapa? Aku, Wiz, Aegis, atau Sia——

Tidak. Jangan berjudi di situasi hidup dan mati. Bergeraklah untuk melindungi semuanya.

"Aegis! Lindungi Wiz!"

"Mengerti!"

Sambil memberi instruksi dengan lantang, aku melompat ke arah Sia.

"Sia!"

"Kya, Tekt?"

Aku memeluk Sia dan menjatuhkannya ke tanah. Sesaat kemudian, kilatan pedang komandan ksatria lewat tepat di tempat Sia berdiri tadi.

"Kau berani-beraninya! Dasar kakek tua pikun kuno!"

"Kau! Meski kau seorang pria, kau malah melindungi anak gadis penyihir!"

Komandan ksatria yang langsung menutup jarak mengayunkan pedangnya ke arah kami. Aku menahannya dengan Cursed Blade.

Suara denting logam terdengar, pedang komandan ksatria bergeser di atas Cursed Blade-ku. Aku menginjak pedangnya dan mencoba membalas dengan serangan balik.

"Dasar bocah gegabah!"

"Woaaaah!"

Namun, komandan ksatria dengan lengan kuat yang dipenuhi sihir mengangkat pedang beserta diriku. Aku terlempar ke udara dan segera mendarat dengan grapple.

Seolah memburu saat aku mendarat, komandan ksatria melangkah maju dengan satu tebasan.

Tapi aku sudah terbiasa dengan serangan seperti itu karena latihan. Aku menghindar dengan teknik kaki dan menciptakan jarak dengan melompat mundur.

Aku berpikir. Dia kuat. Teknik tinggi, kemampuan fisik yang didukung sihir.

Tidak perlu sihir khusus. Itu saja sudah cukup untuk membuatnya lebih kuat dari semua musuh yang pernah kuhadapi.

Aku berdiri berhadapan lagi dengan komandan ksatria sambil memegang Cursed Blade.

Lalu, dia berkata.

"Mengapa? Mengapa dengan kemampuan sehebat itu kau malah tunduk pada anak gadis penyihir? Kau yang bisa mengasah bela diri sejauh itu meski tanpa sihir, mengapa!"

"Aku tidak tunduk! Justru, aku selalu diperlakukan dengan sangat baik! Terlalu baik, malah!"

"Mengapa kau tidak sadar kalau itu adalah cuci otak!"

"Justru kau yang harus berpikir jernih! Kapan kau melihatku dicuci otak! Kapan kau melihatku diperlakukan buruk oleh mereka!"

"Fakta bahwa kau dibawa ke tempat kematian seperti ini tanpa sihir, itulah buktinya!"

"Aku yang membawa mereka ke sini, dasar booooohhhhhdoh!"

Saat komandan ksatria menyerang kembali, aku pun menyerang balik.

Karena sihir, dia lebih kuat dariku. Jadi jangan melawan dengan kekuatan. Jika kalah dalam kecepatan dan kekuatan——lawanlah dengan teknik!

Aku melenturkan persendianku, berpura-pura adu pedang, lalu membiarkan pedang komandan ksatria meleset. Aku menebas tubuhnya.

Tapi, itu tidak menjadi serangan yang fatal. Jauh dari ketajaman luar biasa saat menebas Orc tadi.

"……Aku, untuk pertama kalinya terluka……"

Namun, komandan ksatria sepertinya merenungkan serangan ini. Dia menyentuh luka kecil di pinggang zirahnya.

"Kau. Orang jenius yang punya kemampuan sehebat ini meski tanpa sihir. Aku tetap tidak mengerti."

"Apanya?"

"Kau kuat. Teknik pedang yang melampauiku meski tanpa sihir. Jika kau punya jumlah sihir yang sama, aku pasti sudah kalah."

"Mungkin benar."

"Kalau begitu, aku akui kau tidak selemah itu sampai bisa dicuci otak. Tapi kalau begitu, aku justru semakin tidak mengerti."

Komandan ksatria melanjutkan.

"Kau bilang kau diperlakukan dengan sangat baik. Kudengar penyihir terdistorsi dibesarkan dengan sangat dimanja. Diberi segalanya, tenggelam dalam kesenangan, lalu menjadi rusak dan akhirnya menjadi penyihir."

"Kalau begitu," lanjut komandan ksatria.

"Kau juga seharusnya seperti itu. Jika kau sudah puas, kau tidak perlu berusaha. Tapi kemampuanmu adalah hasil dari usaha yang tiada henti."

"……"

"Kata-katamu tidak masuk akal, baik itu bohong maupun jujur. Di mana kebenaranmu?"

Mendengar itu, aku menunduk.

Aku teringat akan lingkunganku. Wiz, Aegis, dan Sia, semuanya memperlakukanku dengan baik.

Tapi, bukan itu saja. Aku punya banyak guru. Mulai dari ibuku, Aira sang pandai besi kurcaci loli, dan baru-baru ini Hedda-san juga.

Dan soal situasiku. Lahir sebagai ksatria. Kewajiban yang tidak adil dan hukuman yang terlalu berat jika gagal.

Aku diperlakukan dengan baik. Aku juga diperlakukan dengan keras. Aku juga sering mengalami ketidakadilan.

Dan setelah memikirkannya, aku membuka mulut.

"Diperlakukan dengan baik dan dimanja itu berbeda. Ada kebaikan yang keras. Manja hanyalah sekadar manja."

Aku memegang Cursed Blade.

"Memang, para pria yang hanya dimanja memang terlihat menyedihkan. Mereka seperti bayi yang tumbuh besar. Aku tidak menjadi seperti itu karena aku tidak beruntung sejak lahir……"

Aku berhenti, menggelengkan kepala.

"Bukan. Aku, hanya aku yang beruntung. Aku tidak lahir dalam kondisi di mana meski malas pun semuanya akan beres. Aku lahir dalam kondisi yang beruntung di mana aku harus berusaha."

Aku tidak iri pada pria-pria bodoh yang dibesarkan dengan sangat manja.

Mereka payah. Tapi, tergantung bagaimana dibesarkan, aku juga bisa jadi seperti mereka. Tapi aku berhasil terhindar dari itu. Itu berkat asal-usulku yang langka.

Ada hukum yang membuatku ingin berusaha. Aku bertemu dengan guru-guru yang bisa dimintai ajaran. Aku diberkati dengan bakat yang membalas usahaku. Aku bertemu teman-teman yang ingin berjuang bersama.

"Karena itulah aku bisa jadi kuat. Ke depannya aku akan terus menjadi kuat. Menjadi kuat dan melindungi orang yang berharga bagiku. Itulah tugas seorang pria."

Saat aku mengatakannya, komandan ksatria tertawa, "Fufu...", dan para gadis di belakangku mulai bergumam.

"Aku mengerti. Kalau begitu, buktikanlah."

Komandan ksatria bersiap kembali.

"Jika kau memang diberkati, kalahkan aku tanpa sihir. Buktikan dengan tubuhmu bahwa para gadis penyihir itu layak untuk dilindungi!"

"Tidak perlu kau suruh!"

Saat aku menjawab, komandan ksatria melangkah maju.

Aku sudah bisa membaca gerakan komandan ksatria sampai sejauh ini. Lurus dan jujur. Pedangnya adalah pedang kekuatan, pedang kejujuran.

Jika begitu, aku juga tidak boleh tidak menanggapi itu.

Aku pun melangkah maju. Meski lebih lambat darinya, aku tahu ritmenya. Jika tahu kapan pedang itu datang, tanggapan dan serangan baliknya akan jelas.

Yang penting bukanlah kekuatan atau kecepatan.

Melakukan gerakan yang paling tidak disukai oleh musuh.

Melakukan pergerakan untuk mengalahkan musuh——

Saat aku memikirkannya, aku tahu aura yang menyelimuti Cursed Blade berubah.

"Kau——"

Aura yang tidak menyenangkan seperti saat melawan Orc muncul dari Cursed Blade. Tapi, komandan ksatria sudah mendekat dan mengayunkan pedangnya.

Lalu aku menempatkan pedangku di sana. Tebasan mendatar yang ingin kupukul sebelum komandan ksatria mengayunkannya.

Lalu, kami berpapasan.

Darah memercik di pipiku. Melihat itu, Sia berteriak, "Tekt!" Komandan ksatria tertawa dengan bangga, "Fufu...".

Aku tersenyum kecut, memiringkan bibir seolah mengejek diriku sendiri.

"Aku juga, masih belum cukup."

Sembari berkata begitu, aku menyeka darah dengan jariku.

"Bahkan darah musuh yang muncrat seperti ini pun tidak bisa kuhindari."

Sesaat kemudian, darah menyembur dalam jumlah banyak dari leher komandan ksatria.

"—————!"

Kemenangan. Sembari meyakininya, aku menatap Cursed Blade dan bergumam, "Begitu ya."

Ini, pedang ini, adalah pedang yang sama seperti ujian air itu.

Kelangsungan hidup yang paling cocok. Konsep bukan menjadi yang terbaik, melainkan yang paling cocok.

Pedang ajaib yang mengukur seberapa jauh penggunanya mengenal musuh dan menjadi kuat sesuai dengan itu, lalu mengubah ketajamannya.

Saat penggunanya benar-benar menjadi musuh bebuyutan lawan, pedang ini akan membelah musuh seolah sudah ditentukan sejak awal.

"Ah, ......"

Komandan ksatria tumbang di tempat itu. Sambil memegangi lehernya yang robek besar, dia menoleh, "Kau, kau...!"

Lalu, dia berkata.

"Luar biasa...!"

Komandan ksatria jatuh dengan suara gedebuk. Lalu dia hancur menjadi partikel cahaya dan menghilang.

Putri yang Kutukannya Telah Terhapus

Soal penyelesaian setelah kejadian kali ini.

Pertama yang kami selesaikan adalah janji di antara kami berempat.

Ada banyak hal yang terjadi, tapi karena isinya sangat sensitif, kami memutuskan untuk menyimpannya sendiri tanpa membawanya ke ranah publik.

Bagaimanapun, itu adalah fakta yang merugikan bagi semua pihak.

Aku yang bangsawan rendah meminta hal yang membahayakan keluarga kerajaan, dan Sia melakukan ritual berbahaya tanpa berpikir panjang. Wiz dan Aegis juga berada dalam posisi yang canggung.

Dan ada satu hal penting lainnya.

"……Hampir semua Phantom Knight tidak bisa dipanggil lagi."

Fakta bahwa dari sekian banyak Phantom Knight yang Sia panggil menggunakan lonceng tangan, hanya komandan ksatria yang kuhadapi yang tersisa, adalah poin yang sangat penting.

Sia adalah putri keluarga kerajaan yang menempati peringkat pertama garis keturunan Phantom Queen dan memiliki masa depan yang menjanjikan.

Bahwa jumlah Phantom Knight yang bisa dipanggil Sia berkurang akan menjadi skandal besar jika terbongkar.

Di sisi lain, kabar baiknya adalah kemampuan komandan Phantom Knight yang bisa dipanggil telah meningkat drastis.

Dikatakan bahwa gerakannya menjadi jauh lebih tajam dibanding saat masih dalam kondisi panggilan sebelumnya.

"Awalnya memang Phantom Knight yang kuat, tapi dengan kemampuan sekarang, satu orang saja setara dengan setengah dari kekuatan seluruh Phantom Knight yang dulu. Jika masalah Phantom Knight yang lain diselesaikan, mungkin itu akan jadi kekuatan lebih besar."

"Apa segampang itu?"

"Ufufu, Tekt bisa membaca pikiranku ya. Sebenarnya jika aku memanggil paksa Phantom Knight yang lain, mereka pasti akan mengarahkan pedang padaku. Aku harus membuat mereka mengakuiku seperti sang komandan."

———Jadi, ini saatnya berusaha. Sia sangat berpikir positif seperti itu.

Aku khawatir apakah Sia merasa sedih, tapi kalau orangnya seperti ini, sepertinya tidak ada masalah.

Lagipula, aku hanya perlu membantu saat dia membuat mereka mengakuinya.

Bagaimanapun, karena kami semua sangat lelah, kami memutuskan untuk kembali ke asrama masing-masing.

Nah, keesokan harinya.

"……"

Di kamarku. Aku menatap Cursed Blade sambil berpikir keras.

Meskipun susah digunakan, Cursed Blade ini adalah pedang yang bisa memenangkan pertarungan satu lawan satu dari situasi genting bahkan setelah Magic Stone di Pile Bunker habis.

Jika begitu, aku tidak bisa membiarkannya tidur seperti biasa.

Aku menatap Cursed Blade itu terus-menerus, sampai akhirnya aku membuka mulut.

"Meikyo Shisui... Kita! Ini dia! Sudah diputuskan! Nama kamu mulai sekarang adalah Meikyo Shisui! Putuuus!"

Pedang Terkutuk, Meikyo Shisui. Wah! Keren sekali. Sempurna sekali. Sangat cocok dengan asal-usulnya.

Dengan perasaan puas, aku memberi nama pedang itu, lalu berangkat ke sekolah.

Hari ini aku sudah dipecat, jadi aku tidak pergi ke asrama Sia. Sebagai gantinya, aku memulai kembali latihan pagi yang sempat terhenti, tapi……

"Ada yang kurang……"

Aku malah merasa kurang karena tidak memanjakan Sia di pagi hari. Ugh, ada apa dengan tubuhku……!

Rasanya seperti anak sendiri yang sudah tumbuh besar dan pindah ke sekolah asrama. Seolah anak itu menjauh dariku, dan membuat dadaku terasa bolong.

Padahal aku bahkan belum pernah punya anak.

"……Karena gaji sampingan juga keluar, haruskah aku kembali kerja di pagi hari?"

Karena satu-satunya kekurangannya adalah tidak bisa bermain dengan teman-teman setelah sekolah, mungkin aku akan mengaturnya agar hanya masuk shift pagi saja, pikirku saat sudah sampai di sekolah.

"Tekt-kun! Selamat pagi."

"Oh, Wiz, selamat pagi."

Seperti biasa, aku menyapa Wiz yang berlari ke arahku. Di seberang sana, Narcis menatapku dengan mata gemetar, dikelilingi oleh para gadis.

"Yah, kemarin sangat merepotkan, ya. Tapi, untunglah Tekt-kun bisa lepas dari putri yang dibenci itu!"

"Putri yang dibenci, ya."

"Aku dan si kecil menganggapnya setengah raja iblis."

"Kalian terlalu membencinya, tahu."

Lagipula, menakutkan juga jika memikirkan dunia ini bisa dilihat sebagai dunia setelah diinvasi oleh raja iblis yang disebut 'Penyihir Terdistorsi'.

Sia itu anak manja yang imut seperti itu, tapi ternyata pandangan orang akan berubah jika hampir tidak pernah berinteraksi dengannya.

"Uhehehe…… dengan ini aku bisa memonopoli Tekt-kun sampai siang…… Saat jadi asisten pribadi, terkadang dia dipanggil bahkan saat siang hari…… Ini adalah duniaku……!"

Dan Wiz sedang mengatakan hal yang aneh. Aku hanya menanggapinya dengan senyum kecut.

"J-ja, ja, ja, jadi itu, Tekt-kun! Ha, hari ini! Karena kita akhirnya punya waktu luang, apa kau mau menemani eksperimen Chimera atau, yah, semacamnya!?"

"Ah, mau melakukannya lagi? Boleh. Sekarang mau buat apa lagi?"

"Berhasil! Dyufufufu……! Dengan ini aku memonopoli sampai setelah sekolah……!"

Saat kami sedang mengobrol, muncul dua bayangan di kelas.

"Eh? Bukankah itu Aegis dan Sia?"

"Eh!?"

Siswa kelas bangsawan tinggi muncul, dan kelas seketika menjadi ribut.

Tanpa mempedulikan keributan itu, Aegis dan Sia mendekati kami secara berurutan.

"Yo, Tekt. Karena sang putri ingin bicara, aku datang dengan alasan itu."

"Alasan utamanya malah kalah dari niat yang sebenarnya."

Karena 'alasan itu' benar-benar menjadi niat utamanya.

"……Apa yang kalian lakukan di sini, si kecil? Putri. Tekt-kun tidak akan kuberikan……"

Berdiri di depan mereka berdua, Wiz bersiap untuk mengancam. Persis seperti panda merah.

Sia melewati Wiz dengan luwes dan berbicara padaku.

"Selamat pagi, Tekt. Kemarin, akhirnya aku merepotkanmu lagi."

"Eh? Ah, tidak apa-apa. Dunia ini kan saling membantu, bukan?"

Begitu aku mengatakannya dengan enteng, Sia tersenyum, "Ufufu, aku sudah tahu Tekt akan berkata begitu."

Kemudian, Sia menatapku dengan tenang sambil tersenyum dan berkata dengan suara kecil.

"Tekt, kau telah menghapus kutukanku. Aku baru sadar aku belum berterima kasih, jadi hari ini aku datang untuk berterima kasih."

"? Tidak, kutukan itu kan tadinya ada padaku. Bukankah aneh kalau aku yang menghapusnya?"

"Ufufu, bukan itu, Tekt. Aku bicara soal kutukan yang berbeda."

Kutukan yang berbeda? Aku memiringkan kepala.

"Tekt, saat aku hampir dibunuh, dan saat kau menyelamatkanku, aku telah diselamatkan. Tidak ada yang menolong. Tidak ada yang bisa dipercaya. Dari kutukan seperti itu."

Aku sama sekali tidak terpikirkan soal itu, jadi aku hanya berkedip.

"……Syukurlah…… kalau begitu?"

"Ufufu, kau pasti bingung karena tiba-tiba dikatakan begitu. Karena itu, ini."

Sia meraih tanganku. Wiz dan Aegis berteriak, "Eh!", "Hah?".

Sia menaruh kotak kecil di tanganku. "Silakan dibuka," kata Sia, jadi aku membukanya dengan rasa curiga.

Di dalamnya, ada sebuah mahkota.

"Hm?"

Aku mendongak dan melihat Sia. Sia memerah dan berkata dengan malu-malu.

"Kontrak asisten pribadi sudah berakhir. Tapi seharusnya tidak ada aturan yang melarang membuat kontrak baru. Karena itu——mulai sekarang, aku ingin Tekt menjadi Papa-ku."

"Nnn?"

Aku berkedip berkali-kali.

Sia melanjutkan perkataannya dengan lembut seolah sedang meyakinkan.

"Madu kasih Tekt adalah hari-hari yang sangat berharga bagiku. Aku baru menyadarinya hari ini setelah dibangunkan secara paksa oleh Hedda."

"I, iya……?"

"Dan aku berpikir. Cara membangunkan yang lembut dari Tekt. Perawatan setelahnya…… Tekt benar-benar orang yang cocok menjadi Papa-ku!"

"Nnnn?"

Sia bicara sesuatu, tapi aku tidak paham maksudnya. Otakku menolak untuk mengerti.

Apa? Kenapa ada mahkota? Papa apanya?…… Ah, karena Sia seorang putri, jadi Papa-nya adalah mahkota? Hah?

"Haaaaaaah!? Kau, apa yang kau katakan pada Tekt-ku!"

Aegis lah yang marah. Aku menatapnya penuh harap bahwa bantuan telah datang.

Eh? Tekt-ku?

"Tekt sudah melamarku sejak lama, tahu!? Tekt adalah calon suamiku!"

"Aegis?"

Apa yang terjadi ini. Aegis bukan bala bantuan, tapi ikut perang sebagai kekuatan ketiga.

Aegis dan Sia saling menatap tajam, aku hanya bisa kebingungan. Hei, apa yang harus kulakukan dengan ini.

Saat itu, tiba-tiba sebuah tangan terulur dari belakangku.

"Eh?"




anpa kusadari, tubuhku sudah berada dalam gendongan putri di lengan yang ramping itu.

Gendonganku adalah Wiz. Saat aku menatapnya dengan bingung, Wiz tersenyum lembut padaku dan berkata.

"Tenang saja, Tekt-kun. Aku tidak akan membiarkan orang-orang ini mengambil Tekt-kun dariku."

"Hah——"

Sesaat kemudian, Wiz berlari sekuat tenaga.

"Uwoooooooo!?"

"Ah! Tekt dicuri oleh gadis suram itu!"

"!? Apa katamu!?"

Keduanya panik dan mengejar kami. Aku benar-benar tidak paham situasinya dan berseru, "Apa-apaan, ada apa ini!? Apa yang sebenarnya terjadi!?"

Lalu Wiz menjawab.

"Tekt-kun! Tekt-kun adalah malaikatku, kan!? Bukan milik mereka berdua, kan!"

"Bahkan Wiz pun kehilangan akal sehatnya!?"

Apa!? Apa maksudnya!? Kenapa semua orang tiba-tiba menjadi gila secara beruntun!? Apa ada yang meracuniku dengan obat perangsang!?

"Hah! Hah! Tidak akan! Aku tidak akan memberikan Tekt-kun kepada siapa pun!"

Sambil terengah-engah sejak awal, Wiz berlari dengan liar ke sana kemari. Kami keluar dari gedung sekolah dan melesat kencang melewati jalan di samping lapangan sekolah.

 



Di saat itulah, aku bergumam, "Ah."

"Gawat. Gawat, Wiz."

"Tidak apa-apa! Aku akan membereskan semuanya, Tekt-kun!"

"Bukan itu maksudku. Aku terlihat. Aku terlihat oleh kakakku."

"Eh, apa yang—"

"Tertangkap kau!"

"Tidak akan kubiarkan kau kabur!"

"Kyaaa!"

Wiz tertangkap oleh Aegis dan Sia yang mengejarnya, membuatku terlepas dari gendongan dan bisa berdiri kembali.

Ketiganya langsung terlibat dalam perkelahian fisik yang sengit, tapi aku sama sekali tidak memikirkan hal itu.

Aku dengan cepat menoleh ke arah tempat kakakku berada tadi. Namun, sosok kakakku sudah lenyap.

Artinya, itu dia.

Sudah terlambat untuk menghindari event serangan dari kakakku yang tumbuh besar bersamaku, melatihku dengan menu yang sama, dan punya obsesi berlebihan terhadap adiknya atau yang biasa disebut brocon (Brother Complex).

"……"

Sambil mendengarkan suara pertengkaran gaduh dari teman-teman berhargaku yang ribut di belakang, aku membayangkan kekacauan yang akan terjadi lagi sebentar lagi dan memegangi kepalaku.

Lalu, aku bergumam.

"Kenapa jadi begini……?"

Memang benar, aku bertekad untuk menjadi kuat, melindungi para gadis, dan mencoba bertahan hidup di dunia ini dengan segala cara.

Tapi rasanya, situasiku mulai berkembang ke arah yang sedikit berbeda dari yang kubayangkan.

Untuk membangun harem, aku justru hanya dekat dengan gadis-gadis yang posesif. Lagipula, semua gadis yang dekat denganku memiliki status sosial yang tidak setara, sehingga pernikahan saja sudah sulit sejak awal.

Tidak, aku tidak bilang aku tidak puas. Mereka semua cantik dan baik hati. Tidak mungkin aku merasa tidak puas.

……Hanya saja, mereka adalah sosok yang terlalu hebat untukku, jadi sepertinya aku tidak bisa membalas perasaan mereka.

"Kenapa hal ini bisa terjadi……!"

Di belakangku, perkelahian antar gadis yang sengit masih berlanjut.

Di tengah kehebatannya, kebingunganku pun tertelan dan sirna begitu saja.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close