Kata Penutup
Belakangan ini,
aku lagi keranjingan main board game bernama Murder Mystery.
Rasanya seru banget karena kita bisa merasakan sensasi seolah masuk ke dalam
dunia novel misteri. Aku pribadi paling suka kebagian peran sebagai pelaku
karena sensasinya yang bikin berdebar-debar.
Nah, omong-omong, sudah lama tidak berjumpa. Aku Amamiya
Kazuki.
Buku kali ini adalah kisahnya Nanase Yuino. Mengingat volume
lima, enam, dan tujuh memiliki struktur yang agak tidak biasa, rasanya sudah
cukup lama sejak terakhir kali aku merangkum satu volume dengan struktur cerita
yang lurus dan wajar seperti ini. Bagaimana menurut kalian?
Di tengah-tengah menulis bagian awal, tiba-tiba sebuah ide
melintas di kepalaku, "Ah! Gimana
kalau bikin konsep selingkuh yang direstui saja!" Istilah yang buruk
sekali, ya. Gara-gara ide itu, rasanya selera dan fantasi Hikari jadi agak
melenceng, tapi ya, hal seperti itu kadang memang bisa terjadi.
Mulai volume
sembilan berikutnya, cerita akan memasuki Arc Kelas Dua. Jika kisah Haibara-kun
ini harus dibagi menjadi beberapa bagian, formatnya akan menjadi: Bagian
Pertama adalah volume 1-4, Bagian Kedua adalah volume 5-8, dan Bagian Ketiga
adalah volume 9 dan seterusnya.
Dengan kata lain,
ini adalah bagian akhir. Aku akan sangat bahagia jika kalian berkenan untuk
terus menyaksikan kisah ini sampai selesai.
Beralih ke kabar
terbaruku. Akhir-akhir ini, kegiatanku berfokus pada pengerjaan skenario untuk game.
Selain itu, aku
juga bertanggung jawab sebagai penulis cerita asli dan naskah untuk Webtoon
(komik vertikal) berjudul Saikyou Ansatsusha, Class Teni de Isekai e
yang saat ini sedang rilis mingguan di LINE Manga dan platform lainnya.
Ceritanya seru banget, lho!
Lalu, bagi kalian
yang berpikir, "Aku ingin coba baca karya Amamiya Kazuki yang lain!",
aku akan sangat senang jika kalian mau mengikuti akun X (Twitter lama) milikku
di @amamiya5235. Masih ada banyak proyek lain yang sedang kupersiapkan, jadi silakan
nantikan terus perkembangannya.
Selanjutnya
adalah ucapan terima kasih. Rasanya setiap kali menulis ini aku selalu meminta
maaf kepada Editor N-san, tapi entah bagaimana, kali ini aku berhasil menepati deadline!
(Tolong seterusnya ditepati, ya). Oh iya, mohon lupakan fakta bahwa di awal aku
sempat sesumbar dengan semangat membara seperti, "Ini bakal cepat beres,
kok! Gampang banget!", padahal draf pertamanya baru kukirim pas di hari H
tenggat waktu. Terima kasih banyak seperti biasanya.
Lalu, kepada
Gin-san yang bertindak sebagai ilustrator, terima kasih banyak atas ilustrasi
luar biasanya yang kembali hadir di volume ini. Sosok Yuino di sampul buku
terasa begitu nyata dan luar biasa indahnya.
Terakhir, rasa
terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah terlibat dalam
penerbitan buku ini.
Jika karya ini
bisa sedikit saja menyentuh hati kalian, maka tidak ada kebahagiaan yang lebih
besar lagi bagi seorang penulis.
Kalau begitu,
sampai di sini dulu untuk kali ini.
Aku sangat tidak
sabar untuk kembali berjumpa dengan kalian di volume berikutnya atau di
karya-karyaku yang lain.
P.S. Karena belakangan ini berat badanku mulai naik, aku memutuskan ikut klub basket pekerja kantoran. Mari hidup sehat dengan berolahraga!
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Mengenai Masalah di Mana Teman Sekelas Cantik yang
Merupakan Oshiku Menjadi Adik Perempuan Tiri
"Eh,
ternyata Kakak."
Stasiun Takasaki
di malam hari. Sosok yang menyapaku di depan gerbang tiket adalah adik
perempuanku, Namika.
"Baru pulang
klub?"
"He-eh. Hari
ini latihannya agak molor. Kalau Kakak baru beres kerja paruh waktu?"
"Iya. Hari
ini aku ada sif di Kafe Mares."
"Omong-omong,
orang di sebelahmu itu teman kerja kelompok juga?"
Namika
mengalihkan pandangannya ke arah Nanase yang berdiri di sampingku.
"Benar.
Karena hari ini sif kami sama, jadi kami pulang bareng."
"Salam
kenal. Aku Nanase Yuino."
Nanase
menyapa dengan seulas senyuman manis yang begitu ramah.
"Ah,
Kak Nanase! Aku kadang suka dengar ceritamu dari Kakak. Aku Namika,
adiknya."
"Namika-san,
salam kenal juga, ya. ……Fufu,
dia suka menceritakanku, ya?"
"Yaiyalah,
soalnya Kak Nanase kan oshi-nya Kakak. Tapi beneran deh, ternyata aslinya cantik
banget ya……"
Bodoh,
jangan katakan hal itu langsung di depan orangnya, dong!
Rahasia kalau aku
diam-diam mengidolakan Nanase sebagai oshi-ku sama sekali tidak boleh
ketahuan!
"O-Oshi……?
Maksudnya bagaimana, ya?"
"Hahaha,
Nanase. Jangan dipikirkan. Itu cuma omong kosong Namika saja, kok."
Aku mencoba
mengalihkan pembicaraan sambil menepuk punggung Namika pelan, memastikan agar
tidak terlihat oleh Nanase.
Namika bergumam
"Aduh……" dengan suara lirih, lalu melotot tajam ke arahku.
"Namika-san,
apa ada sesuatu yang salah?"
"Ah, tidak
apa-apa kok…… Terima kasih ya sudah mau menjaga kakakku selama ini."
Namika
membungkukkan badannya sedikit. Memangnya kamu itu siapanya aku, hah?
"Fufu,
sama-sama."
Nanase mengulas
senyuman dewasa yang tampak begitu anggun.
Melihat Nanase
yang seperti itu, mendadak muncul keinginan jail di dalam benakku untuk sedikit
menggodanya.
"Malah
belakangan ini akulah yang sering menjaganya, tahu? Aku ini sudah seperti sosok
kakak laki-laki bagi Nanase."
"T-Tunggu
sebentar, Haibara-kun……!"
Melihatku yang
berbicara dengan wajah penuh kebanggaan, Nanase memprotes dengan ekspresi wajah
yang terkejut.
"Hah? Kakak
ngomong apa, sih?"
Di sisi lain,
Namika menatapku dengan pandangan mata yang dingin dan malas. Yah, respons
seperti ini sudah menjadi makananku sehari-hari, sih.
"Dengar ya,
Namika. Nanase itu menganggapku sebagai kakaknya sendiri. Jadi, secara teori,
dia itu statusnya adalah kakak perempuanmu. Kamu paham kan maksud
perkataanku?"
"Sama sekali
nggak paham. Satu-satunya hal yang kupahami hanyalah fakta kalau Kakak itu
bodoh."
"N-Namika-san?
Tolong jangan masukkan ucapan Haibara-kun ke dalam hati, ya."
"Tentu saja.
Cowok modelan begini mana ada yang tahan jadi adiknya selain aku."
"……B-Benarkah begitu? Kurasa…… tidak juga, sih?"
"Lagian, mana ada sih orang yang menganggap lawan jenis
sebayanya sebagai kakak kandung sendiri."
"Uhuk……! Cough, cough……!?"
"Kalau sampai ada, itu sih aneh banget. Berarti dia tipe yang manja
banget, kan? Sama sekali nggak ada dewasanya. Apalagi kalau tempatnya
bermanja-manja itu cowok modelan begini, seleranya buruk banget……"
Namika yang
terus-menerus melontarkan makian kepadaku terlihat sangat menikmati momen ini.
Kenapa kamu malah kelihatan senang begitu, sih?
"…………M-Maafkan
aku……"
Di sisi lain,
kata-kata itu ternyata menusuk langsung ke lubuk hati Nanase hingga membuatnya
seketika murung.
"Sudah
hentikan, Namika. Jangan menyakiti perasaan kakak perempuanmu."
"Eh…… Eh!?"
Namika membelalakkan matanya, menatap lekat-lekat ke arah
Nanase yang kini tampak diselimuti aura mendung.
Wajahnya seolah memancarkan tulisan: 'Mana mungkin ada
perkembangan cerita fiksi seperti di Light Novel begini?'
"……Maksudmu, ini seperti judul 'Mengenai Masalah di
Mana Teman Sekelas Cantik yang Merupakan Oshiku Menjadi Adik Perempuan Tiri'
begitu?"
"Bagaimana kalau kita tambah subjudul '~Sepertinya
Adik Kandung dan Adik Sejati Sedang Memperebutkan Posisi Adik Terbaik~'?"
"Menjijikkan."
"Padahal
kamu sendiri yang memulai topik ini!?"
Hal yang paling
kubenci adalah ketika seseorang meninggalkanku sendirian setelah memicu situasi
seperti ini, Namika!
"Lagipula,
mana ada alasan bagi orang secantik Kak Nanase untuk mengagumi Kakak!"
"Ada kok,
makanya dia memanggilku Kakak!"
"A-Aku tidak
pernah memanggilmu begitu sekalipun, ya!"
Saat aku dan
Namika masih sibuk berdebat dan saling berteriak, Nanase yang kesadarannya baru
saja pulih akhirnya ikut menengahi.
"Itu cuma……
kekhilafan sesaat waktu itu. Benar…… itu cuma kekhilafan belaka, kok!"
Namika memandangi Nanase dan aku secara bergantian dengan
tatapan ragu, sebelum akhirnya melontarkan sebuah usulan dengan hati-hati.
"……Anu, apa
sebaiknya aku memanggilmu Kak Yuino saja?"
"T-Tidak
usah dipanggil begitu, kok!"



Post a Comment