NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Afterword + Bonus Story

Kata Penutup


Belakangan ini, aku lagi keranjingan main board game bernama Murder Mystery. Rasanya seru banget karena kita bisa merasakan sensasi seolah masuk ke dalam dunia novel misteri. Aku pribadi paling suka kebagian peran sebagai pelaku karena sensasinya yang bikin berdebar-debar.

Nah, omong-omong, sudah lama tidak berjumpa. Aku Amamiya Kazuki.

Buku kali ini adalah kisahnya Nanase Yuino. Mengingat volume lima, enam, dan tujuh memiliki struktur yang agak tidak biasa, rasanya sudah cukup lama sejak terakhir kali aku merangkum satu volume dengan struktur cerita yang lurus dan wajar seperti ini. Bagaimana menurut kalian?

Di tengah-tengah menulis bagian awal, tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku, "Ah! Gimana kalau bikin konsep selingkuh yang direstui saja!" Istilah yang buruk sekali, ya. Gara-gara ide itu, rasanya selera dan fantasi Hikari jadi agak melenceng, tapi ya, hal seperti itu kadang memang bisa terjadi.

Mulai volume sembilan berikutnya, cerita akan memasuki Arc Kelas Dua. Jika kisah Haibara-kun ini harus dibagi menjadi beberapa bagian, formatnya akan menjadi: Bagian Pertama adalah volume 1-4, Bagian Kedua adalah volume 5-8, dan Bagian Ketiga adalah volume 9 dan seterusnya.

Dengan kata lain, ini adalah bagian akhir. Aku akan sangat bahagia jika kalian berkenan untuk terus menyaksikan kisah ini sampai selesai.

Beralih ke kabar terbaruku. Akhir-akhir ini, kegiatanku berfokus pada pengerjaan skenario untuk game.

Selain itu, aku juga bertanggung jawab sebagai penulis cerita asli dan naskah untuk Webtoon (komik vertikal) berjudul Saikyou Ansatsusha, Class Teni de Isekai e yang saat ini sedang rilis mingguan di LINE Manga dan platform lainnya. Ceritanya seru banget, lho!

Lalu, bagi kalian yang berpikir, "Aku ingin coba baca karya Amamiya Kazuki yang lain!", aku akan sangat senang jika kalian mau mengikuti akun X (Twitter lama) milikku di @amamiya5235. Masih ada banyak proyek lain yang sedang kupersiapkan, jadi silakan nantikan terus perkembangannya.

Selanjutnya adalah ucapan terima kasih. Rasanya setiap kali menulis ini aku selalu meminta maaf kepada Editor N-san, tapi entah bagaimana, kali ini aku berhasil menepati deadline! (Tolong seterusnya ditepati, ya). Oh iya, mohon lupakan fakta bahwa di awal aku sempat sesumbar dengan semangat membara seperti, "Ini bakal cepat beres, kok! Gampang banget!", padahal draf pertamanya baru kukirim pas di hari H tenggat waktu. Terima kasih banyak seperti biasanya.

Lalu, kepada Gin-san yang bertindak sebagai ilustrator, terima kasih banyak atas ilustrasi luar biasanya yang kembali hadir di volume ini. Sosok Yuino di sampul buku terasa begitu nyata dan luar biasa indahnya.

Terakhir, rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penerbitan buku ini.

Jika karya ini bisa sedikit saja menyentuh hati kalian, maka tidak ada kebahagiaan yang lebih besar lagi bagi seorang penulis.

Kalau begitu, sampai di sini dulu untuk kali ini.

Aku sangat tidak sabar untuk kembali berjumpa dengan kalian di volume berikutnya atau di karya-karyaku yang lain.

P.S. Karena belakangan ini berat badanku mulai naik, aku memutuskan ikut klub basket pekerja kantoran. Mari hidup sehat dengan berolahraga!




Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Mengenai Masalah di Mana Teman Sekelas Cantik yang Merupakan Oshiku Menjadi Adik Perempuan Tiri

"Eh, ternyata Kakak."

Stasiun Takasaki di malam hari. Sosok yang menyapaku di depan gerbang tiket adalah adik perempuanku, Namika.

"Baru pulang klub?"

"He-eh. Hari ini latihannya agak molor. Kalau Kakak baru beres kerja paruh waktu?"

"Iya. Hari ini aku ada sif di Kafe Mares."

"Omong-omong, orang di sebelahmu itu teman kerja kelompok juga?"

Namika mengalihkan pandangannya ke arah Nanase yang berdiri di sampingku.

"Benar. Karena hari ini sif kami sama, jadi kami pulang bareng."

"Salam kenal. Aku Nanase Yuino."

Nanase menyapa dengan seulas senyuman manis yang begitu ramah.

"Ah, Kak Nanase! Aku kadang suka dengar ceritamu dari Kakak. Aku Namika, adiknya."

"Namika-san, salam kenal juga, ya. ……Fufu, dia suka menceritakanku, ya?"

"Yaiyalah, soalnya Kak Nanase kan oshi-nya Kakak. Tapi beneran deh, ternyata aslinya cantik banget ya……"

Bodoh, jangan katakan hal itu langsung di depan orangnya, dong!

Rahasia kalau aku diam-diam mengidolakan Nanase sebagai oshi-ku sama sekali tidak boleh ketahuan!

"O-Oshi……? Maksudnya bagaimana, ya?"

"Hahaha, Nanase. Jangan dipikirkan. Itu cuma omong kosong Namika saja, kok."

Aku mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menepuk punggung Namika pelan, memastikan agar tidak terlihat oleh Nanase.

Namika bergumam "Aduh……" dengan suara lirih, lalu melotot tajam ke arahku.

"Namika-san, apa ada sesuatu yang salah?"

"Ah, tidak apa-apa kok…… Terima kasih ya sudah mau menjaga kakakku selama ini."

Namika membungkukkan badannya sedikit. Memangnya kamu itu siapanya aku, hah?

"Fufu, sama-sama."

Nanase mengulas senyuman dewasa yang tampak begitu anggun.

Melihat Nanase yang seperti itu, mendadak muncul keinginan jail di dalam benakku untuk sedikit menggodanya.

"Malah belakangan ini akulah yang sering menjaganya, tahu? Aku ini sudah seperti sosok kakak laki-laki bagi Nanase."

"T-Tunggu sebentar, Haibara-kun……!"

Melihatku yang berbicara dengan wajah penuh kebanggaan, Nanase memprotes dengan ekspresi wajah yang terkejut.

"Hah? Kakak ngomong apa, sih?"

Di sisi lain, Namika menatapku dengan pandangan mata yang dingin dan malas. Yah, respons seperti ini sudah menjadi makananku sehari-hari, sih.

"Dengar ya, Namika. Nanase itu menganggapku sebagai kakaknya sendiri. Jadi, secara teori, dia itu statusnya adalah kakak perempuanmu. Kamu paham kan maksud perkataanku?"

"Sama sekali nggak paham. Satu-satunya hal yang kupahami hanyalah fakta kalau Kakak itu bodoh."

"N-Namika-san? Tolong jangan masukkan ucapan Haibara-kun ke dalam hati, ya."

"Tentu saja. Cowok modelan begini mana ada yang tahan jadi adiknya selain aku."

"……B-Benarkah begitu? Kurasa…… tidak juga, sih?"

"Lagian, mana ada sih orang yang menganggap lawan jenis sebayanya sebagai kakak kandung sendiri."

"Uhuk……! Cough, cough……!?"

"Kalau sampai ada, itu sih aneh banget. Berarti dia tipe yang manja banget, kan? Sama sekali nggak ada dewasanya. Apalagi kalau tempatnya bermanja-manja itu cowok modelan begini, seleranya buruk banget……"

Namika yang terus-menerus melontarkan makian kepadaku terlihat sangat menikmati momen ini. Kenapa kamu malah kelihatan senang begitu, sih?

"…………M-Maafkan aku……"

Di sisi lain, kata-kata itu ternyata menusuk langsung ke lubuk hati Nanase hingga membuatnya seketika murung.

"Sudah hentikan, Namika. Jangan menyakiti perasaan kakak perempuanmu."

"Eh…… Eh!?"

Namika membelalakkan matanya, menatap lekat-lekat ke arah Nanase yang kini tampak diselimuti aura mendung.

Wajahnya seolah memancarkan tulisan: 'Mana mungkin ada perkembangan cerita fiksi seperti di Light Novel begini?'

"……Maksudmu, ini seperti judul 'Mengenai Masalah di Mana Teman Sekelas Cantik yang Merupakan Oshiku Menjadi Adik Perempuan Tiri' begitu?"

"Bagaimana kalau kita tambah subjudul '~Sepertinya Adik Kandung dan Adik Sejati Sedang Memperebutkan Posisi Adik Terbaik~'?"

"Menjijikkan."

"Padahal kamu sendiri yang memulai topik ini!?"

Hal yang paling kubenci adalah ketika seseorang meninggalkanku sendirian setelah memicu situasi seperti ini, Namika!

"Lagipula, mana ada alasan bagi orang secantik Kak Nanase untuk mengagumi Kakak!"

"Ada kok, makanya dia memanggilku Kakak!"

"A-Aku tidak pernah memanggilmu begitu sekalipun, ya!"

Saat aku dan Namika masih sibuk berdebat dan saling berteriak, Nanase yang kesadarannya baru saja pulih akhirnya ikut menengahi.

"Itu cuma…… kekhilafan sesaat waktu itu. Benar…… itu cuma kekhilafan belaka, kok!"

Namika memandangi Nanase dan aku secara bergantian dengan tatapan ragu, sebelum akhirnya melontarkan sebuah usulan dengan hati-hati.

"……Anu, apa sebaiknya aku memanggilmu Kak Yuino saja?"

"T-Tidak usah dipanggil begitu, kok!"



Previous Chapter | ToC 

0

Post a Comment

close