NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 10 Chapter 1

Chapter 1

Liburan Musim Panas Siswa Tahun Kedua


“…Mimpi ya.”

Begitu membuka mata, yang kulihat adalah langit-langit kamar yang sudah sangat familiar.

Cahaya matahari pagi yang lembut menyusup masuk melalui celah tirai.

Jam menunjukkan pukul delapan.

Aku bangkit duduk dan melirik samping. Tentu saja tidak ada siapa-siapa di sana.

Entah kenapa, mimpi itu terasa sangat nyata. Aku bahkan masih ingat detailnya dengan jelas.

Dalam mimpi itu, aku tidak melakukan time leap. Waktu berlalu begitu saja, aku bertemu kembali dengan Miori secara kebetulan di tempat kerja, kemudian kami mulai berpacaran… dan akhirnya melakukan hal itu.

Sedikit terasa sayang. Kehangatan tubuhnya masih terasa melekat.

Seolah-olah dia benar-benar berada di sampingku hingga beberapa saat lalu.

“Kenapa sekarang malah mimpiin Miori…”

Ketika aku menatap ke depan, selimutku mencuat jelas.

Penyebabnya sudah jelas. Itu jelas-jelas milikku.

“Hei hei… tenang dulu, Haibara Natsuki.”

Ini hanyalah fenomena fisiologis biasa. Lagipula mimpi ya tetap mimpi. Bukan berarti aku punya hasrat seperti itu terhadap Miori. Ya, mustahil sekali.

Karena kekasihku adalah Hoshimiya Hikari.

‘Aku akan membahagiakanmu.’

…Kata-kata tekad di dalam mimpi itu melintas di benakku.

Suara Miori yang memanggil namaku berulang kali, pelukannya di punggungku, serta wajahnya yang tertidur bahagia dalam pelukanku—semuanya masih terbayang begitu jelas.

…Meski terasa sangat nyata, itu tetap hanya mimpi.

Benar! Mustahil aku menjalani hidup tanpa time leap!

“…Hm???”

Kalau dipikir secara logis, aku malah tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang kenyataan.

“Kakak, sudah pagi lho~?”

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka.

“Kamu bilang hari ini ada klub, kan?”

Sepertinya Namika khawatir karena aku tidak kunjung bangun.

Dia masuk ke kamarku dengan langkah ringan. Seperti biasa, dia tidak pernah mengetuk.

“Aah, aku ketiduran.”

Latihan klub dimulai pukul setengah sembilan. Kalau buru-buru bersiap, masih sempat.

“……”

“…Ada apa?”

Entah kenapa Namika diam saja sambil menatapku lekat-lekat.

Lebih tepatnya, dia sedang menatap selimut yang menutupiku.

Bagian selimut itu jelas mencuat. Penyebabnya sudah jelas.

“O-oh, syukurlah Kakak sudah bangun!”

Namika tersadar, lalu buru-buru keluar dari kamarku dengan wajah panik.

…Lihat ke mana sih dia bicara tadi.

Sekitar satu setengah bulan sejak acara live rutin Klub Musik Ringan.

Begitu keluar rumah, sinar matahari yang menyengat membakar aspal.

Suhu hari ini mencapai 35 derajat. Ini sudah bukan suhu untuk manusia biasa.

Kalau orang zaman ini tahu bahwa di masa tujuh tahun mendatang suhu 35 derajat bisa berlangsung berhari-hari berturut-turut, pasti wajah mereka akan sangat lucu.

Sudah satu minggu sejak liburan musim panas dimulai.

Tapi berbeda dengan liburan musim panas tahun lalu yang relatif longgar.

Kali ini aku memutuskan untuk serius berband dengan anggota Stray Luminous. Sebagian besar liburanku akan kuhabiskan untuk latihan klub dan latihan pribadi.

Waktu yang tersisa akan kugunakan untuk kerja part-time dan kencan dengan Hikari.

Meski sangat sibuk, liburan musim panas ini terasa sangat padat dan memuaskan.

Sambil bergoyang di dalam kereta, aku melamun menatap ponsel. Notifikasi RINE masuk.

Pengirimnya tentu saja Hikari.

Karena kami berdua sama-sama sibuk, kami saling menjaga komunikasi dengan intens.

Hoshimiya Hikari: “Novel baru sudah jadi! Kalau sempat, tolong kasih komentar ya?”

Natsuki: “Kalau aku boleh, dengan senang hati.”

Hoshimiya Hikari: “Oke, aku tempel di sini ya!”

Hikari juga sedang serius mengejar mimpinya selama liburan ini. Dia tampaknya benar-benar fokus menulis novel.

Aku memang amatir total, jadi sulit memberi saran teknis, tapi setidaknya aku bisa memberikan komentar jujur.

Novel Hikari menarik bahkan tanpa pandangan mata kasih sayang, jadi aku juga menantikan karya barunya.

Aku membuka file PDF yang dikirim Hikari. Isinya tentu saja novel.

Judulnya Kau Bernyanyi di Balik Langit.

Cerita tentang empat gadis yang bisa terbang di dunia yang memiliki sihir.

Ringkasannya sudah pernah kudengar saat kami bicara di telepon tempo hari.

Sebelumnya dia menulis cerita misteri remaja, sekarang beralih ke genre yang mengandung elemen fantasi. Hikari memang punya banyak ide yang ingin ditulis.

Natsuki: “Terima kasih.”

Natsuki: “Aku sekarang mau latihan klub, nanti setelah pulang ke rumah aku akan baca dengan tenang.”

Begitu aku balas, Hikari mengirim stiker kucing yang sedang membungkuk sambil bilang “Terima kasih!”.

Kami berdua sedang serius menghadapi mimpi masing-masing.

Sebagai kekasih, aku ingin mendukungnya sebisa mungkin.

Dengan pikiran itu, aku berganti kereta menuju Stasiun Maebashi.

Begitu melewati gate Stasiun Maebashi, Yamano langsung berlari menghampiriku.

“Senpai! Selamat pagi!”

Sikapnya seperti anak anjing yang sedang senang. Kalau ada ekor, pasti sudah mengibas-ngibas.

Kami bertemu di gate, berarti dia naik kereta yang sama.

“Kamu kelihatan sangat senang.”

“Ya iyalah! Pagi-pagi sudah ketemu Senpai!”

Yamano tertawa lebar memperlihatkan gigi putihnya. Dia terlihat lebih bersemangat dari biasanya.

“Bukan hanya itu, kan?”

“Kok Senpai tahu? Kemarin aku barbeque bareng Matsui-san dan yang lain!”

“Wah, itu bagus sekali.”

“Dagingnya kebanyakan, sampai sekarang masih terasa di perutku!”

Yamano menepuk-nepuk perutnya sendiri.

“Mau sentuh?”

“Tidak lah.”

Di dunia mana ada orang yang menyentuh perut junior lawan jenis.

Yamano terlalu mempercayaiku, kadang jaraknya membuatku khawatir.

Katanya sih, dia tidak punya perasaan cinta padaku.

“Aku tahun lalu juga barbeque bareng semua orang.”

“Eh, serius!? ”

“Dengar dan kagetlah. Kami melakukannya di cottage dekat pantai.”

Musim panas lalu, kami pergi ke pantai bersama.

Rasanya baru kemarin, tapi sudah setahun berlalu. Waktu memang berjalan cepat.

“Wah~! Aku juga ingin ikut!”

“Tapi tahun ini kami belum barbeque. Aku iri sama kamu.”

“Hehe, Matsui-san yang mengajak! Ini juga berkat Senpai!”

Yamano tampak sangat senang, sampai-sampai dia melangkah kecil di depanku.

Melihat Yamano yang dulu berusaha berubah kini menikmati masa mudanya, aku juga ikut senang.

“Hari ini aku juga akan latihan dengan semangat!”

Aku berjalan menyusuri jalan menuju sekolah sambil mengikuti Yamano.

Kami tiba di ruang musik kedua pukul sembilan lewat dua puluh lima. Tepat lima menit sebelum mulai.

“Natsuki, Saya. Pagi.”

Serika yang sedang menyetel gitar menyapa kami.

“Selamat pagi!”

Yamano menyapa dengan penuh semangat lalu langsung menuju drum set.

“Pagi, Serika. Mana Mei?”

“Kalau Shinohara-kun, dia ada di belakang Natsuki.”

Serika menunjuk ke belakangku. Begitu menoleh, Mei sudah berdiri di sana.

“A-aku sudah nggak kaget lagi!”

Meski caranya menghilangkan kehadiran masih seperti assassin, aku sudah mulai terbiasa.

Kami sudah hampir satu tahun bersama. Mei memang bisa muncul di mana saja.

“Bukan sengaja mengejutkan, aku memang cuma punya kehadiran tipis.”

Mei tersenyum pahit, tapi lalu ekspresinya melunak seperti teringat sesuatu.

“Tapi akhir-akhir ini, Shizuki sudah bisa menyadari kehadiranku sebelum aku menyapa!”

“B-Begitu ya…”

Artinya bahkan pacarnya, Funayama-san, kadang tidak menyadari kehadiran Mei.

“Sebenarnya minggu depan aku mau pergi ke festival bareng Shizuki.”

“Eh, serius? Musim ini berarti Rock in...?”

“Benar sekali!”

Mei berbicara dengan wajah bersemangat. Agak iri juga.

Alasan Mei dan Funayama-san bisa pacaran adalah karena selera musik mereka cocok.

Makanya wajar kalau tempat kencan di liburan panjang adalah festival live.

“Bisa pacaran dengan Shizuki itu berkat Natsuki.”

Hubungan Mei dan Funayama-san masih berjalan baik hingga sekarang.

Setelah naik kelas dan jadi satu kelas, hubungan mereka semakin dekat.

“Hei hei, masih bilang itu? Aku nggak ngapa-ngapain kok.”

Mei dan Funayama-san sejak awal sudah saling suka.

Aku hanya membantu sedikit komunikasi mereka.

“Tapi akhir-akhir ini, kalau aku bahas band, Shizuki jadi agak cemberut. Aku nggak tahu kenapa… dulu dia selalu senang kalau aku ngomongin musik…”

“Soal itu, aku punya firasat yang sangat kuat…”

Karena Mei terlalu dekat dengan Yamano, Funayama-san sedang waspada terhadap perselingkuhan.

Aku yang pernah mendamaikan mereka berdua, sampai-sampai sempat dimarahi Funayama-san.

“Benarkah? Aku butuh saran dari Natsuki…”

“Begini… sebaiknya kamu lebih memperhatikan jarak dengan lawan jenis selain Shizuki.”

“Lawan jenis lain? Maksudnya selain Shizuki…? Kenapa…?”

Mei tampak bingung, tapi lalu bergumam seperti baru sadar.

“Jangan-jangan Shizuki sedang curiga aku selingkuh!?”

Sepertinya Mei memiliki harga diri yang terlalu rendah hingga tidak terpikir soal perselingkuhan.

“Belakangan kamu memang terlalu dekat dengan Yamano. Makanya Funayama-san merasa tidak tenang.”

“N-Ngerti…! Baiklah! Mulai sekarang aku akan lebih hati-hati!”

Mei mengangguk-angguk karena memang ada yang terpikir.

“Maaf, Shinohara-senpai. Aku juga akan lebih berhati-hati.”

Yamano yang sedang menyiapkan drum tampaknya mendengar percakapan tadi. Dia menunduk ke arah Mei dengan wajah murung.

“Natsuki bilang begitu, bukankah itu agak boomerang?”

Serika berkata dengan wajah datar seperti biasa.

“Serika yang satu kelas dengan Hikari bilang begitu malah…”

“Soalnya aku sering dengar cerita tentang Natsuki dari Hikari. Termasuk keluhannya.”

Meski wajah Serika tetap datar, nada suaranya terdengar agak bangga.

“Di sekitar Natsuki terlalu banyak cewek cantik. Terutama aku.”

Serika menunjuk dirinya sendiri.

“…Aku tahu. Aku juga akan lebih hati-hati.”

Aku sedang membuat Hikari merasa tidak tenang.

Setelah ditegur Serika, aku merasa harus lebih menjaga diri.

Kalau ada cowok yang terlalu dekat dengan Hikari, aku pasti juga akan cemburu.

Yang penting adalah menjaga jarak yang tepat.

“Baik, obrolan selesai. Persiapan sudah selesai, mari mulai.”

Sambil berbicara tadi, kami sudah selesai menyetel mic dan gitar.

“Mau main apa?”

“Pemanasan dulu, full song Stray Luminous.”

“Siap!”

“Baik.”

Kami mengangguk mendengar usul Serika.

“Yosh, mulai!”

Yamano mengetuk drumstick tiga kali.

Aku dan Serika memetik gitar, sementara bass Mei menopang melodi.

Intro lagu baru Stray Luminous mulai mengalun.

Stray Luminous—biasa dipanggil Strumi.

Itu adalah nama baru band kami sekaligus judul lagu baru.

Setelah Iwano-senpai keluar dan Yamano bergabung, sempat ada sedikit keributan, tapi sekarang visi kami sudah satu.

Kami akan serius menekuni band. Dan menggelar live terbaik.

Sejak masuk liburan musim panas, kami latihan dua sampai tiga kali seminggu.

Ruang klub musik dan ruang musik kedua memang bisa digunakan, tapi karena harus bergantian dengan band lain, jumlah sesi per minggu terbatas. Kami bisa menyewa studio di live house tempat Serika kerja dengan harga murah, tapi itu kami simpan sebagai pilihan terakhir saat mendekati live.

Liburan musim panas ini kami tetapkan sebagai periode meningkatkan kemampuan dasar. Artinya, kami lebih memprioritaskan latihan individu daripada latihan bersama. Latihan individu bisa dilakukan di rumah masing-masing.

Makanya sepanjang liburan ini, di hari tanpa klub pun aku tetap latihan gitar setiap hari.

Berkat itu, aku sudah bisa memainkan chord gitar yang sulit tanpa kesulitan besar!

“Natsuki, sudah semakin mahir ya.”

Setelah selesai bermain tanpa kesalahan, Serika memujiku.

“Kalau begini, latihan gitar setiap hari jadi ada hasilnya.”

Serika tidak pernah berbohong.

Kalau dia memuji, berarti aku memang benar-benar sudah lebih baik.

“Natsuki, semangatnya tinggi ya.”

“Ya iyalah. Kan aku sudah memutuskan untuk serius.”

Semangat semua orang sudah menyatu, suasana latihan pun terasa tegang dan fokus.

Live kami selanjutnya kemungkinan besar adalah Festival Budaya musim gugur.

Masih awal liburan musim panas, jadi waktu masih banyak.

Ada tawaran untuk tampil di festival eksternal selama liburan, tapi kami memutuskan untuk fokus membangun fondasi dulu.

Target saat ini adalah meningkatkan kemampuan band sambil menambah follower di SNS lewat penampilan live dan upload video ke MeTube. Kami ingin naik perlahan tapi pasti.

“Serika. Gimana lagu baru?”

Saat kami sedang latihan individu, Serika ditugaskan membuat lagu baru.

“Melodinya sudah hampir selesai. Tapi liriknya belum.”

Serika berkata sambil memainkan melodi itu di gitarnya.

Lalu dia tiba-tiba menoleh ke Mei.

“Mungkin aku minta Shinohara-kun yang buat liriknya.”

“Eh!? Aku!?”

Mei yang tiba-tiba ditunjuk menunjuk dirinya sendiri dengan mata melebar.

“Soalnya Saya dan Natsuki sudah pernah, jadi giliran Shinohara-kun.”

“B-Baiklah… aku nggak yakin bisa, tapi aku akan coba!”

Dulu, Mei pasti akan langsung bilang “Aku nggak bisa!”.

Kata “aku akan coba” itu menunjukkan bahwa Mei sekarang benar-benar serius dengan band.

Sejak mulai beraktivitas band, Mei juga perlahan berkembang.

“Aku juga akan buat lirik yang memalukan seperti Natsuki dan Yamano-san!”

“…M-Maksudnya apa!?”

Yamano memerah dan menyergah Mei, tapi maksudnya memang seperti itu.

Lirik Stray Luminous yang ditulis Yamano hampir seperti surat cinta untukku.

“Kalau liriknya bagus, tidak harus memalukan sih…”

Serika berkata dengan wajah sedikit bingung, lalu menambahkan,

“Tapi mungkin memang lebih baik kalau kita membuka perasaan kita yang sebenarnya.”

Begitulah kesimpulannya.




“Aku juga sependapat.”

Katanya Black Witch adalah lagu yang mengekspresikan perasaan Serika.

Lirik Monokuro yang aku tulis adalah ungkapan rasa terima kasih kepada semua orang yang selalu bersamaku, sedangkan Hoshi e adalah perasaanku kepada Hikari. Dari pengalaman, kalau terlalu malu-malu, hasilnya tidak akan bagus.

“Kalau begitu, cukup sampai sini dulu untuk hari ini.”

Aku melirik jam mengikuti pandangan Serika. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas.

Sudah waktunya bergantian dengan band berikutnya. Kalau sedang fokus, waktu memang berlalu sangat cepat.

Kami buru-buru membereskan peralatan lalu keluar ke koridor.

Para junior Klub Musik Ringan yang akan menggunakan ruang musik kedua selanjutnya sudah menunggu.

“Terima kasih atas kerjanya, Haibara-senpai.”

Yang menyapa dengan ramah adalah Sakata-kun, teman sekelas Yamano.

Sakata-kun adalah junior yang baik hati. Dia banyak memberiku informasi saat kasus Yamano dulu.

“Tolong ajari gitar lagi lain kali ya.”

Karena Sakata-kun masih pemula, bahkan aku bisa mengajari dasar-dasarnya.

“Tentu saja. Kalau aku sedang kosong, kapan saja boleh.”

“Yosh! Nanti aku chat di RINE ya!”

Saat aku berbicara dengan Sakata-kun, Serika dan yang lain juga mengobrol dengan junior mereka. Pemandangan yang cukup menghangatkan hati.

“Kalau gitu, pukulnya harus ‘dooon’ gini lho!”

“D-Do… doon?”

“Iya, dooon! Biar lebih ada dinamikanya!”

Sementara itu, Yamano sepertinya sedang memberi saran kepada gadis yang bertugas drum.

Sepertinya dia juga cukup akur dengan teman sekelas di Klub Musik Ringan.

Memang, Yamano aslinya orang yang ceria dan juga cantik.

Setelah sifat kurang perhatiannya diperbaiki, tidak ada alasan lagi untuk dibenci.

“Oh, Sakata-kun ya. Halo-halo~”

“O-ou… Yamano.”

Yamano mendekat setelah melihat teman sekelasnya.

Sementara Sakata-kun mengusap hidungnya dengan jari sambil tersipu, seolah tidak keberatan.

Oh iya, dulu Sakata-kun pernah bilang…

‘Tapi… kalau dilihat lagi, Yamano itu lucu ya.’

Sepertinya dia memang punya perasaan.

…Jadi dia jatuh cinta?

“Band kalian gimana?”

“Ya gimana, soalnya semuanya masih pemula, jadi permainannya belum karuan.”

“Ahaha, memang awalnya begitu! Tapi justru periode itu yang paling seru, kan?”

“Memang sih, aku merasakan perkembangan sendiri… meski pelan-pelan.”

Sambil memperhatikan percakapan Yamano dan Sakata-kun dengan perasaan campur aduk,

“Anu, Haibara-senpai. Boleh sebentar?”

Sakata-kun berbisik sambil menutup mulut dengan tangan.

Meski berbicara dengan senior, dia sangat santai dan bahkan suka merangkul bahu. Benar-benar tipe yang energik.

“Boleh nggak aku ajak Yamano kencan?”

…Oh, ternyata benar dia sedang jatuh cinta.

Wajah Sakata-kun yang sedikit memerah itu sudah menjelaskan semuanya.

“Kenapa nanya aku?”

“Soalnya Yamano pernah bilang dia nggak akan kasih ke siapa pun.”

“Aku nggak punya hak seperti itu. Aku cuma senior biasa.”

“Tapi kemarin kamu bilangnya beda banget?”

Kami berbisik agar Yamano yang sedang bengong tidak mendengar,

“Anu~ kalian dari tadi ngomong apa sih dengan suara kecil?”

Yamano mengerutkan alis dengan wajah curiga.

“Eh, itu…”

“…Nggak apa-apa kok kalau bilang.”

Sakata-kun berkata sambil menggaruk kepala.

Sepertinya dia tidak keberatan kalau perasaannya diketahui. Benar-benar cowok.

“Sebenarnya kami sedang bicara soal apakah kamu pantas punya pacar.”

“Ngomongin apaan sih!?”

Yamano membelalakkan mata sambil menyela.

“Kamu sudah punya teman, sudah nyaman di kelas. Saatnya bikin pacar cowok ganteng.”

“Se-Senpai ini ngomong dari posisi yang mana!?”

“‘Proyek Transformasi Yamano Saya’ kan belum selesai.”

“Nggak usah sampai segitunya!”

Yamano memerah sambil meminta proyek itu dihentikan. Sayang sekali.

“Eh, tapi kenapa tiba-tiba bahas ini… ah.”

Akhirnya Yamano sadar dan menatap Sakata-kun.

Sakata-kun menggaruk kepala malu-malu lalu mengajak,

“Kalau mau, lain kali kita pergi bareng yuk?”

“E-eh… itu…”

Yamano jelas-jelas tampak panik menghadapi Sakata-kun yang memberanikan diri.

“A-aku masih terlalu dini buat pacaran~!”

Akhirnya Yamano yang wajahnya sudah merah padam langsung lari sekencang-kencangnya.

Sepertinya dia tidak tahan dengan suasana yang asing itu.

“Aku… ditolak…”

Sakata-kun bersandar ke dinding dengan wajah hancur.

Para gadis dari band yang sama mendekati Sakata-kun yang sedang patah hati.

“Sakata-kun, kasihan sekali… tapi aku selalu di sini kok.”

Mulutnya bilang kasihan, tapi wajahnya jelas-jelas cerah. Aneh sekali.

“Kalau aku sih, nggak akan bikin kamu sedih kayak gitu~”

“Menurutku, pacar itu sebaiknya orang yang sudah sering bareng dari dulu deh.”

…Band Sakata-kun memang terdiri dari satu cowok dan empat cewek.

Empat gadis mengerubungi Sakata-kun yang sedang patah hati.

“M-makasih ya… kalian mau menghibur aku.”

Entah kenapa, band ini terasa seperti akan hancur dalam waktu dekat.

“…Makanya aku benci orang-orang yang populer…”

Mei bergumam pelan sambil menatap Sakata-kun dengan mata gelap.

“Kan kamu sudah punya Funayama-san?”

“Memiliki pacar nggak langsung menghilangkan rasa benci terhadap orang populer.”

“…Begitu ya?”

“Memang begitu. Soalnya aku juga ingin dikelilingi cewek-cewek.”

Hei, keinginanmu keluar begitu saja.

“Tapi kalau benar dikelilingi cewek, kamu juga nggak bisa ngobrol dengan lancar, kan?”

“……………………Memang benar juga.”

Setelah berpikir lebih dari sepuluh detik, Mei mengangguk jujur.

Aku kadang juga dilempar ke ruang yang hanya ada cewek, dan itu memang sangat canggung.

“…Mei-kun?”

Tiba-tiba terdengar suara pelan yang penuh amarah.

Bahu Mei yang berdiri di sebelahku langsung tersentak keras.

Begitu menoleh pelan, di belakang kami berdiri seorang gadis berkacamata.

Pacar Mei, Funayama-san.

“Kalian sedang membicarakan hal yang menarik ya. Boleh aku ikut mendengar?”

Funayama-san tersenyum, tapi matanya sama sekali tidak tersenyum.

Di belakangnya, terasa aura gelap yang mengalir deras.

“Bukan, itu… Shizuki. Tadi itu cuma cara bicara saja…”

Mei berkeringat dingin sambil mencoba memberi alasan dengan tergagap-gagap.

“Kalau mau dikelilingi cewek, biar aku kelilingi kamu saja bagaimana?”

“Bukan begitu… dengar dulu! Walaupun dikelilingi cewek, aku tetap nggak bisa ngobrol dengan baik. Makanya aku ingin dikelilingi Shizuki! Aku cuma ingin Shizuki yang banyak!”

Funayama-san menatap alasan Mei yang sangat dipaksakan dengan mata dingin, lalu menghela napas.

“…………Baiklah. Aku maafkan.”

“Fufu, lucu.”

Serika yang berdiri di belakang Funayama-san berkata dengan wajah datar. Sama sekali tidak lucu.

“Aku bawa Mei-kun dulu ya. Kami mau kencan sekarang.”

“Ah, kalau begitu… sampai jumpa di latihan klub nanti! T-tunggu, Shizuki!?”

“Ayo pergi, Mei-kun.”

Funayama-san menggenggam lengan Mei kuat-kuat dan menariknya pergi.

Sulit dipercaya ini adalah gadis yang dulu terlihat pemalu saat pertama bertemu. Cinta memang bisa mengubah orang.

“Kalau begitu, Senpai. Kami mau latihan dulu!”

Di sisi lain, Sakata-kun yang sudah dihibur masuk ke ruang musik kedua bersama para gadis.

Hasilnya, aku dan Serika tertinggal di koridor.

“Kamu mau ke mana, Natsuki?”

“Aku mau kerja part-time sekarang.”

Berband memang butuh biaya terus-menerus.

Untuk mencari uang, aku harus kerja part-time.

Shift-ku dari jam satu sampai tujuh sore, jadi harus cepat makan siang.

“Kalau begitu, kita bubar di sini ya.”

“Kamu nggak pulang bareng sampai stasiun?”

“Pulang berdua bakal bikin Hikari tidak enak.”

Sepertinya dia sedang memikirkan perasaanku yang sudah punya pacar.

“Makasih ya.”

“Kalau ada yang mau dibahas soal band, aku nggak akan sungkan kok.”

Serika melambaikan tangan ringan dan berkata “Sampai jumpa lagi” sebelum pergi.

Karena aku berada di band dengan komposisi dua cowok dan dua cewek, meski tidak dikatakan langsung, Hikari pasti merasa khawatir. Seperti yang Serika ingatkan, aku harus lebih berhati-hati soal ini.

Dalam perjalanan pulang, aku melewati lapangan.

Saat itu klub sepak bola sedang melakukan pertandingan latihan melawan sekolah lain.

Aku berhenti sebentar. Di tengah lapangan, Reita sedang berdiri.

Dari posisi midfielder, dia mengedarkan bola sambil memberi instruksi kepada rekan setimnya.

Sepuluh rekan setim bergerak seperti tangan dan kaki Reita yang menjadi komandan.

“Lari, Kouki!”

Umpan vertikal Reita menyusup di antara pertahanan lawan dan sampai ke penyerang.

Umpan yang membuat penyerang bisa lari bebas. Sangat tipis dari garis offside. Penyerang itu menusuk ke depan gawang dan menendang keras.

Bola yang ditendang itu menggetarkan jaring gawang dengan hebat.

“Uwooooh!”

Bangku cadangan Suzunari langsung ramai.

“Umpan bagus, Reita!”

“Bukan, Kouki yang hebat bisa lepas begitu.”

Reita melakukan high-five dengan Kouki, penyerang kelas dua itu.

Reita memang masih memiliki visi permainan yang luas seperti biasa.

Kemampuan yang dulu dia tunjukkan di turnamen bola basket kini benar-benar dimanfaatkan di posisi aslinya.

Beberapa menit setelah gol itu, peluit akhir pertandingan berbunyi.

Reita dan teman-temannya sedang bergembira. Sepertinya mereka menang.

Klub sepak bola sudah tersingkir di babak kedua pra-interhigh musim panas, dan para senior tahun tiga sudah pensiun sebelum liburan. Jadi tim yang sedang latihan ini adalah tim baru yang terdiri dari siswa kelas satu dan dua.

Reita terpilih menjadi kapten baru klub sepak bola.

Sebenarnya, Reita menjadi kapten baru memang sudah seharusnya.

Tapi karena kasus kekerasan yang menyebabkan skorsing, Reita sempat membuat klub sepak bola khawatir.

Makanya Reita sendiri tidak menyangka akan terpilih, tapi katanya ada dorongan kuat dari rekan-rekan setimnya.

Melihat pemandangan ini, aku bisa merasakan betapa besar kepercayaan tim kepada Reita.

Reita yang sedang tertawa bersama teman-temannya tiba-tiba melihatku.

“Hai, Natsuki. Kamu melihat pertandingannya?”

Sambil menyeka keringat dengan handuk, Reita mendekatiku.

Gerakannya yang menyisir rambut terlihat sangat keren. Tetap ganteng seperti biasa.

“Hanya bagian akhir saja. Umpan tadi bagus banget.”

“Haha, iya kan? Aku memang terus mengincar umpan vertikal.”

Reita tertawa lebar memperlihatkan gigi putihnya.

“Tim baru ini kelihatannya cukup bagus ya.”

“Iya, waktu aku terpilih jadi kapten, aku sendiri juga khawatir.”

Reita mengangkat bahu sambil tersenyum.

“Kamu harus membalas kepercayaan mereka, kan?”

“Tentu saja. Karena aku pernah mengkhianati mereka sekali.”

Reita menatap bangku cadangan tempat teman-temannya berada sambil bergumam penuh perasaan.

“Bisa kembali bermain sepak bola dengan tenang seperti sekarang ini berkat Natsuki.”

Reita berkata sambil menepuk dadaku pelan.

“Aku cuma ngebonceng mukamu kok.”

“Kalau dipikir lagi, itu memang pelanggaran berat.”

“Saat itu aku agak kebawa emosi…”

“Haha, aku sudah nggak ambil pusing kok. Bertinju di pinggir sungai, itu juga bagian dari masa muda, kan?”

“Setelah melakukannya, ternyata lebih menyedihkan dari yang kubayangkan.”

Lagipula sakit banget. Bertinju itu memang bukan hal yang baik.

“Realita memang seperti itu. Tidak akan seindah cerita di novel.”

Reita berkata sambil tersenyum, lalu menatapku lekat.

“Meski begitu, tindakanmu memang telah mengubah kami. Kalau bukan karena kamu, aku pasti sudah keluar sekolah dan tidak akan pernah bermain sepak bola lagi.”

“…Ya, bagus atau buruk, begitulah.”

“Maksudnya apa?”

Reita bertanya dengan wajah bingung.

“Bukan… kalau bukan karena aku, mungkin kasus kekerasan itu tidak akan pernah terjadi, kan?”

Lebih tepatnya, kasus itu memang tidak akan terjadi. Aku tahu itu.

Artinya skorsing Reita akibat kekerasan itu adalah sesuatu yang aku picu.

Saat itu, Reita tertekan dari dua sisi: masalah keluarga dan hilangnya Miori.

Pertengkaranku dengan Reita juga pasti menjadi salah satu penyebabnya.

Tapi kalau time leap-ku tidak ada—yaitu di garis waktu putaran pertama—setidaknya masalah hilangnya Miori tidak akan terjadi. Karena itu Reita juga tidak akan melakukan kekerasan.

Di permukaan, Reita seharusnya lulus dengan tenang.

Kalau dipikirkan, aku hanya menciptakan masalah yang sebenarnya tidak perlu.

“Haha, nggak usah dipikirkan sampai sejauh itu.”

Reita tertawa seolah menganggapnya lelucon.

Wajar saja. Hanya aku yang tahu sejarah aslinya.

“Ah, iya. Natsuki, malam delapan Agustus kosong nggak?”

Reita tiba-tiba mengganti topik.

“Ehm… pagi ada klub, tapi sore dan malamnya kosong.”

Jadwalku padat, tapi malamnya relatif longgar.

“Soalnya ada Festival Kembang Api Maebashi, kan? Tahun ini kita pergi bareng lagi yuk?”

“Ah, benar ya! Sudah musim festival kembang api!”

Aku terlalu sibuk sampai lupa sama sekali.

Melupakan salah satu acara penting masa muda musim panas, ini benar-benar memalukan seumur hidup!

“Tentu saja aku mau pergi… tapi,”

“Kalau mau pergi berdua dengan Hoshimiya-san, nggak apa-apa kok. Prioritaskan itu saja.”

Reita langsung mengerti perasaanku dan berkata demikian.

“Aku akan tanya Hikari dulu.”

“Terima kasih. Aku nggak maksa, tapi sudah lama kita nggak kumpul semua.”

“…Benar juga. Sudah saatnya kumpul lagi.”

Setelah naik ke kelas dua, kami semua terpisah kelas.

Masing-masing sibuk dengan klub, kerja part-time, piano, dan kehidupan sendiri.

Meski sering bicara berdua atau bertiga, kesempatan berkumpul berenam sudah sangat jarang.

“Hei, Reita! Pelatih panggil kumpul!”

Okajima-kun dari klub sepak bola memanggil Reita dari kejauhan.

“Kalau begitu, Natsuki. Sampai jumpa lagi ya.”

“Ya. Nanti aku chat di RINE.”

Reita kembali ke lingkaran teman-teman sepak bolanya.

Reita memang paling cocok berada di tengah lingkaran seperti itu.

“…Aduh, aku juga harus buru-buru ke tempat kerja.”

Setelah melihat jam, ternyata waktu sudah lebih lama dari yang kukira.

Setelah menyelesaikan makan siang di gerai hamburger depan stasiun, aku mendatangi Cafe Males.

Ternyata sudah sepuluh menit sebelum jam masuk. Harus cepat ganti baju.

“Eh, tunggu—”

Saat membuka pintu ruang ganti, aku merasa mendengar suara aneh.

Tapi karena terburu-buru, aku tetap membuka pintunya.

Baru pada detik berikutnya aku mengerti arti suara tadi. Dia sedang bilang “tunggu”.

Di balik pintu yang terbuka, berdiri seorang gadis berambut hitam panjang dalam keadaan hanya memakai pakaian dalam.

“H-Haibara-kun…!?”

Kulit putih bersih yang tidak terbakar matahari. Tubuhnya yang ramping dan anggun ternyata memiliki payudara yang lebih besar dari yang kukira, tertutup bra putih bersih.

Dia berusaha menutupi tubuh dengan kedua tangan, tapi hanya mampu menutupi bagian bawah.

Dia sepertinya tidak sadar bahwa lengannya yang bersilang justru menekan dada dan menonjolkan belahan payudaranya.

Aku tanpa sadar membakar pemandangan itu ke dalam ingatan sebelum buru-buru membalikkan badan.

“Ma-maaf!”

Aku menutup pintu dengan keras. Terdengar suara kain bergesekan tanpa ada jawaban.

Aturan di ruang ganti adalah memasang plang “Sedang Ganti Baju” di pintu saat ada yang berganti.

Karena tidak ada plang, berarti Nanase lupa memasangnya.

Jadi, aku tidak salah… seharusnya. Setidaknya secara logika.

Sambil memikirkan itu, pintu terbuka.

“…Maaf. Sudah boleh masuk.”

Meski mulutnya meminta maaf, Nanase menatapku dengan mata menyipit tajam.

“…Nanase, kamu marah?”

“Aku nggak marah. Aku yang lupa memasang plang.”

Meski kata-katanya begitu, ekspresinya jelas-jelas sedang tidak enak hati.

“Hanya saja… kamu tadi melihatnya cukup lama, bukan?”

“Bukan, bukan begitu kok?”

Kena sasaran, suaraku langsung naik. Sangat tidak meyakinkan.




Tentu saja! Aku juga seorang cowok!

Meski dalam hati aku membela diri, aku tetap berusaha pura-pura tidak tahu.

“Aku cuma kaget dan membeku saja.”

“Jadi, kamu tidak melihat tubuhku dengan mata yang seolah menelanjangiku, begitu?”

“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku melakukan itu?”

Aku sama sekali tidak memikirkan hal seperti ‘Jadi Nanase memakai bra putih ya’ sedikit pun.

Tenang dulu. Nanase itu adikku… bukan, dia memang bukan adikku yang sebenarnya.

Nanase yang terus menatapku dengan tatapan menusuk akhirnya menghela napas panjang.

“Sudahlah. Lebih baik kamu cepat ganti baju. Shift sudah mau mulai.”

“A-ah, iya…”

Aku mengambil seragam toko dari loker milikku.

Saat hendak berganti dari seragam sekolah, aku merasakan tatapan Nanase di punggungku.

“A-anu… Nanase-san?”

“Ada apa?”

“Aku juga mau ganti baju…”

“Ganti saja.”

“Tapi susah kalau dilihat terus seperti itu.”

“Kamu juga harus merasakan apa yang aku rasakan tadi.”

Nanase mendengus. Dia jelas masih marah!

“…Baiklah, aku mengerti.”

Memangnya tidak ada yang perlu ditutupi juga.

Sambil membuka kancing kemeja, Nanase terus menatapku lekat-lekat.

Wajahnya yang memerah semakin terlihat jelas karena kulitnya yang putih.

“Anu… kalau malu, kamu nggak perlu memaksa melihat kok?”

Karena kasihan melihatnya, aku menegur. Nanase langsung melotot marah.

“Melihat tubuh cowok saja mana mungkin aku malu.”

“Kalau begitu tidak apa-apa sih…”

Tapi kata-katanya dan wajahnya jelas tidak sinkron.

Meski aku melepas kemeja, aku masih memakai kaos dalam, jadi tidak ada masalah besar.

…Seharusnya begitu, tapi entah kenapa aku merasa terancam. Tatapannya benar-benar seperti menelanjangiku.

Jadi tadi Nanase merasakan tatapan seperti ini ya. Aku jadi merasa bersalah.

Saat aku hendak membuka celana,

“…A-aku keluar dulu!”

Nanase sepertinya tidak tahan lagi dan buru-buru keluar dari ruang ganti.

“Tunggu, Yuino-chan kenapa!?”

“H-Haibara-kun mulai melepas bawahnya!”

“Hah!?”

Dari luar terdengar percakapan Nanase dan Kirishima-san. Cara bicaranya terlalu berlebihan!

Memang salah aku yang mengintip, tapi jangan meledakkan sendiri juga!

Shift hari ini diisi tiga orang. Aku di dapur, sementara Nanase dan Kirishima-san di hall.

Meski hari biasa, karena sedang liburan musim panas, banyak pelanggan yang masih siswa. Tapi karena jam makan siang sudah lewat, toko tidak terlalu ramai. Suasana di dalam cukup santai.

“Hei, Haibara-kun.”

Karena sedang longgar, Nanase menyapa dari balik counter.

“Ada apa?”

“Ehm… itu…”

Nanase jarang sekali terlihat ragu-ragu seperti ini.

“Bisa lihat ini sebentar?”

Nanase mengeluarkan ponsel dari saku dan menunjukkan layarnya padaku.

Itu adalah hasil kompetisi piano. Nama Nanase tercantum di sana.

“Wah, kamu masuk juara?”

“Iya. Masih hanya tingkat daerah sih, tapi sudah lama sekali aku tidak masuk juara.”

Nanase tersenyum bahagia.

Ekspresinya terlihat seperti anak kecil.

“Selamat ya.”

Aku tidak tahu level kompetisinya, tapi jelas ini kabar baik.

“Fufu, terima kasih.”

Sudah sekitar setengah tahun sejak festival musik di mana Nanase berhasil mengatasi dinding mentalnya.

Aku memang mendengar dia mulai ikut kompetisi piano lagi, tapi tidak menyangka sudah bisa juara.

“Kamu ingin dipuji banget ya?”

Kirishima-san mendekat sambil tersenyum nakal ke arah Nanase.

“…Maksudnya apa?”

“Soalnya kamu kelihatan sangat senang. Seperti anak anjing yang mengibas-ngibaskan ekor.”

Mendengar perumpamaan Kirishima-san, pipi Nanase langsung memerah.

Memang benar sih, wajah Nanase seolah tertulis ‘Puji aku, puji aku’ tadi!

Sejak festival musik itu, Nanase jadi jauh lebih jujur dalam menunjukkan emosinya.

Baik atau buruk, dia tidak lagi menyembunyikan sisi kekanakannya. …Setidaknya di depanku.

“Yuino-chan. Suka sama orang yang sudah punya pacar itu nggak boleh lho. Lagipula dia teman kerja.”

Kirishima-san menahan Nanase dengan wajah serius.

Ekspresinya cukup meyakinkan. Sepertinya dia punya pengalaman.

“Bukan begitu, Kirishima-san. Aku ini ka— mngh!”

Saat aku hendak bilang bahwa aku kakaknya, mulutku langsung ditutup oleh tangan Nanase.

“Kalau bilang lebih lanjut, aku bunuh kamu ya!?”

Sambil menutup mulutku dengan panik, Nanase membiarkan Kirishima-san melanjutkan.

“Aku juga pernah mengalaminya. Suka sama cowok yang sudah punya pacar. Sambil merasa kasihan pada diri sendiri, aku pernah mencoba peluang kecil dengan bilang ‘E~ pacarnya galak ya’…”

Ceritanya cukup hidup.

Ini dia, mahasiswi tipe populer yang suka drama cinta.

“Tapi cinta seperti itu, pasti nggak akan bahagia…”

Kirishima-san terlihat sangat terpuruk. Seperti biasa, emosinya memang tidak stabil.

“Makanya Yuino-chan, lupain Natsuki-kun saja! Ya!?”

“Bukan begitu! Aku sama sekali nggak punya perasaan seperti itu pada Haibara-kun!”

Nanase menggelengkan kepala menghadapi Kirishima-san yang sedang berapi-api (entah untuk siapa).

“Benarkah?”

Kirishima-san masih curiga.

Apakah Nanase terlihat sangat dekat denganku?

“Kalau begitu, kamu memandang Natsuki-kun seperti apa?”

Kirishima-san mendekatkan wajahnya sambil bertanya.

“…Itu… seperti kakak… mungkin…”

Karena sudah tidak bisa mengelak, Nanase menjawab dengan jujur.

“Ah, kakak?”

“…Iya, meski tidak rela…”

Mungkin malu karena mengatakannya sendiri, pipi Nanase semakin memerah.

Kalau dibilang langsung seperti ini, aku juga ikut malu!

Aku memang sering bercanda soal ini, tapi kalau Nanase yang bilang, ini terasa sangat serius!

“Yuino-chan ternyata sudah jadi wanita jahat seperti ini…”

Sementara itu, Kirishima-san menatap Nanase dengan wajah terkejut.

“Wa-wanita jahat…?”

Menghadapi Nanase yang bingung,

“Itu sama dengan cowok yang bilang ‘Dia cuma seperti adik bagiku~’!”

Kirishima-san menunjuk Nanase dengan telunjuknya.

“Cowok seperti itu, yang dulu bilang ‘seperti adik’, akhirnya selingkuh! Itu namanya adik apa!? Apa selera kamu itu incest!? Hah!?”

Pernyataan Nanase sepertinya menyentuh titik sensitif Kirishima-san.

Dia marah dengan suara pelan agar tidak mengganggu pelanggan. Sangat terampil.

“Be-begitukah…?”

Sementara Nanase yang disebut wanita jahat terlihat sangat terkejut.

“Mungkin kamu yang memintanya memanggil seperti itu?”

Tiba-tiba Kirishima-san menatapku. Rasanya seperti diarahkan ujung pedang.

“Bukan, bukan begitu… aku nggak memaksanya…”

Memang pernah. Aku pernah beberapa kali meminta dipanggil kakak.

Karena merasa ada yang kena, aku diam saja. Tekanan dari Kirishima-san semakin kuat.

“Memang benar, cowok ganteng itu kebanyakan brengsek. Jangan sampai kamu tertipu tipe seperti ini.”

Kirishima-san memeluk bahu Nanase sambil melotot ke arahku.

“…Jangan samakan aku dengan mantan pacar Kirishima-san dong.”

Aku sering mendengar keluhannya setiap kali dia patah hati. Mereka memang jauh lebih parah dariku.

“Apa maksudnya ‘mantan’ itu!? Mereka dulu orang baik lho! Awalnya!”

Kenapa kamu malah membela mereka? Perasaanmu itu apa sih?

“Tapi sekarang kamu bahagia dengan pacar yang baik, kan?”

“Benar! Mereka semua berbeda dengan yang sekarang! Dia nggak selingkuh!”

Kirishima-san tersenyum bahagia.

Fakta bahwa kelebihan pertama yang disebutkan adalah “tidak selingkuh” menunjukkan betapa dalamnya trauma itu.

“Fufu, ternyata aku wanita jahat ya…”

Sementara itu, Nanase tertawa pahit karena terkejut dengan kata-kata Kirishima-san.

“Hei, Nanase? Jangan dipikirkan.”

“…Nggak apa-apa. Soalnya aku memang nggak bisa membantah.”

Nanase yang bermata berkaca-kaca mengeluarkan aura murung.

“Intinya, cowok yang selingkuh itu brengsek! Natsuki-kun, jangan jadi seperti itu ya!”

Kirishima-san akhirnya menutup percakapan yang sudah semakin kacau.

“Ya ya, aku mengerti.”

Pada saat aku menjawab, wajah dewasa Miori melintas di benakku.

‘Aku akan membahagiakanmu.’

…Lalu kenapa? Kirishima-san benar.

Aku sudah bersumpah akan membahagiakan Hikari. Jadi aku pasti tidak akan selingkuh.

Tiba-tiba kata-kata Hikari melintas di pikiranku.

‘Saat itu… hatiku sangat sakit… tapi sedikit… terasa enak…’

…Meski kemungkinan Hikari memiliki fetish yang agak menyimpang, itu tidak masalah!

Ting!

Bel pintu masuk berbunyi.

“Selamat datang—”

Saat aku hendak melanjutkan, mataku langsung melebar.

“Yahho~ Natsu! YuiYui!”

“Ouh. Maaf mengganggu ya.”

Yang masuk adalah seorang gadis kecil dan seorang cowok bertubuh besar. Uta dan Tatsuya.

Mereka berdua masih memakai seragam, dengan tas klub digantung di bahu.

“Selamat datang. Habis klub?”

Nanase yang bertugas di hall mengantar mereka ke meja.

“Benar! Hari ini klub cowok dan cewek selesai barengan!”

Uta berbicara dengan riang bersama Nanase.

Sementara itu, Tatsuya mendekat ke arahku.

Meski dibatasi counter, tubuhnya terasa sangat besar.

“…Kamu kelihatan semakin kekar ya?”

“Oh, kamu bisa lihat? Ini hasil latihan keras selama setengah tahun.”

Tatsuya memperlihatkan otot lengannya yang seperti batang pohon sambil tersenyum lebar.

“Aku pasti sudah nggak bisa mengalahkanmu di basket lagi.”

“Mau coba? Bukan sombong, tapi tahun ini aku sudah jauh lebih mahir.”

“Aku pasrah saja. Kalau kamu pakai power dribble, aku pasti kalah.”

“Hei, kabur ya? Pengecut banget.”

Tatsuya mengeluh, tapi dia tidak benar-benar serius.

Tanpa perlu mencoba, aku sudah yakin bisa mengalahkannya sekarang.

Lagipula setahun lalu, kemampuan asliku memang kalah. Tapi kemenangan tetap kemenangan. Kalau Tatsuya jadi pro nanti, aku akan bangga seumur hidup dengan kemenangan ini.

“Gimana tim barumu?”

Tanpa sadar pertanyaanku mirip dengan yang kutanyakan ke Reita.

“Masih sangat jelek. Dengan ini, impian Interhigh cuma mimpi belaka.”

Jawaban Tatsuya justru sebaliknya dengan Reita.

Klub basket cowok mereka berhasil masuk semifinal pra-turnamen musim panas.

Di putaran pertama, tahun kedua mereka tersingkir di babak kedua.

Perubahan hasil ini pasti karena perkembangan Tatsuya. Setelah berhubungan denganku dan memutuskan mengejar mimpi jadi pro, Tatsuya jelas jauh lebih mahir daripada di putaran pertama.

“Kamu kan kapten baru, Tatsuya?”

“Iya. Memang nggak cocok dengan karakterku, tapi aku akan coba.”

Setelah hasil musim panas, para senior pensiun dan Tatsuya terpilih jadi kapten baru.

Alur ini sama dengan putaran pertama, tapi perasaan Tatsuya pasti sangat berbeda.

“Reita dan Uta juga bisa, jadi aku pasti bisa juga.”

“Eh, itu sindiran buat aku? Aku dengar lho~?”

Uta yang sedang melihat menu di meja mendekat sambil mengerucutkan pipi.

“Uta juga bisa, maksudnya…”

“Ah, Natsuki belum tahu ya? Uta sekarang kapten baru klub basket cewek.”

Tatsuya berkata sambil menepuk kepala Uta pelan.

“Ya, kurang lebih begitu…”

“Aku benar-benar nggak tahu.”

Uta menjelaskan sambil menyingkirkan tangan Tatsuya dengan ekspresi rumit.

“Aku kira kapten baru pasti Miorin yang satu tahun di atas dan jadi starter utama. Tapi tiba-tiba Miorin malah merekomendasikan aku! Kenapa aku!?”

Uta masih terlihat tidak terima sambil memegang kepalanya.

“Tapi… aku bisa mengerti perasaan Miori.”

Uta itu mood maker. Dia selalu bisa mencerahkan suasana di mana pun.

“Apakah aku benar-benar bisa…?”

“Tapi kamu sudah jadi kapten cukup lama kan?”

“Aku memang berusaha keras~ tapi aku sama sekali nggak percaya diri. Aku juga nggak terlalu jago.”

“Uta pasti bisa.”

“Senang dengar itu, tapi itu nggak punya dasar!”

“Ada dasarnya kok. Waktu itu juga Uta yang menolong Miori.”

Saat Miori tidak bisa mengoper bola dan bertengkar dengan senior, yang menghubungkan kedua belah pihak adalah Uta.

“Saat itu…?”

Uta memiringkan kepala bingung, lalu tiba-tiba sadar dan membantah.

“Itu kan Natsuki yang menolong Miorin!?”

“Aku cuma membantu Uta yang sedang berusaha menolong Miori.”

Suasana klub yang hampir hancur berhasil diperbaiki berkat usaha Uta.

Kalau dipikirkan, Uta terpilih jadi kapten baru sebenarnya wajar.

“Lagipula Miyamoto memang nggak cocok jadi pemimpin.”

“Aku setuju. Dia dasarnya egois.”

“Miorin kena kata-kata kasar banget!?”

Uta terkejut mendengar ucapan Tatsuya dan aku.

“…Kalau Natsuki bilang begitu, aku akan berusaha.”

Uta menghela napas.

“Meski begitu, Tatsuya, Reita, dan Uta semua jadi kapten. Keren banget.”

Setidaknya di putaran pertama, Reita dan Uta bukan kapten.

Karena bukan klub yang sama, aku tidak tahu detailnya.

“Ya, aku sudah memutuskan jadi pro. Harus bikin tim lebih kuat.”

Ekspresi Tatsuya penuh semangat saat mengatakan itu.

“Kami kalah di pra-Interhigh musim panas, tapi ada rasa positifnya. Kali ini kami pasti menang.”

“Semangat ya, Tatsuya. Aku mendukungmu.”

“Sekarang juga boleh masuk klub basket lho? Three-mu bisa dipakai.”

“Maaf, aku sudah memutuskan serius dengan band.”

“Tch, ya sudah lah.”

Tatsuya tertawa kecil lalu kembali ke meja. Uta juga mengikutinya.

Mereka sengaja tidak ingin mengganggu pekerjaanku terlalu lama.

“Uta, mau pesan apa?”

“Ehm… aku mau omurice!”

“Itu juga nggak jelek.”

“Fufu, kita pesan yang sama?”

“…Apaan sih, jijik banget.”

“Hah!? Ngomong apa ke cewek yang kamu suka!”

Sambil mencuci piring, aku melihat mereka berdua mengobrol dengan riang.

“Jadi, pesanannya?”

Saat Nanase bertanya, Tatsuya menjawab, “Omurice dua.”

“Ara, bukannya jijik?”

“Ya nggak apa-apa lah. Cewek yang aku suka mau yang itu.”

Tatsuya mengangkat bahu. Uta langsung membelalakkan mata kaget.

“Hah!? Aku nggak bilang mau yang sama kok!”

“Cuma bercanda. Aku memang mau omurice juga.”




Karena kehilangan kata untuk membantah, Uta hanya diam sambil menatap Tatsuya dengan mata menyipit.

“Pesanannya sudah diterima.”

Nanase melihat keduanya sambil terkikik kecil, lalu kembali ke tempatku.

“Omurice, dua porsi. Kamu pasti sudah dengar tadi.”

“Siap.”

Sambil menjawab Nanase, aku mengambil telur dari kulkas.

“Belakangan mereka kelihatan semakin dekat ya.”

“Memang.”

Memang dari dulu mereka sudah dekat, tapi sejak naik kelas dua, kedekatan mereka terlihat semakin jelas.

Tatsuya tidak menyembunyikan perasaannya terhadap Uta, dan Uta pun menerimanya sambil sesekali menggodanya. Akhir-akhir ini aku sering melihat mereka pulang bersama setelah klub.

“Karena Tatsuya semakin agresif mendekati Uta, kan?”

“Sepertinya begitu. Uta juga kelihatan tidak keberatan, jadi ini tinggal masalah waktu saja.”

Nanase satu kelas dengan Uta, jadi dia pasti banyak mendengar ceritanya.

“Dia sepertinya sudah benar-benar move on dari Haibara-kun.”

Seperti yang dikatakan Nanase, akhir-akhir ini aku memang tidak lagi merasakan tatapan Uta.

Kunjungannya ke Cafe Males ini juga karena dia sudah kembali memandangku sebagai teman.

Kalau dia masih punya perasaan, Uta pasti tidak akan melakukan hal yang bisa terbaca sebagai ‘datang untuk bertemu aku’. Karena Uta selalu memikirkan perasaan Hikari.

Sejak aku mulai pacaran dengan Hikari, Uta jelas-jelas menjaga jarak denganku.

Tentu saja saat berkumpul bersama semua orang kami masih berinteraksi, tapi jarang sekali kami berdua saja.

Tapi belakangan ini dia sudah biasa menyapa secara normal.

Dia pasti sudah menilai bahwa sekarang tidak masalah lagi.

‘……Jangan buat aku merasa ada harapan lagi ya?’

Air mata Uta di Festival Budaya musim gugur lalu melintas di benakku.

“…Dia sudah bisa kembali menjadi teman dengan baik. Itu yang paling penting.”

Ada sedikit rasa sepi di hati. Tapi hal itu sebaiknya tidak diucapkan.

Sambil membuat dua porsi omurice, aku melirik sekilas ke meja di pinggir jendela.

Uta yang sedang bercerita dengan semangat tentang hari ini, sementara Tatsuya mendengarkan sambil sesekali menimpali.

“Nagiura-kun sudah semakin dewasa dalam setahun ini.”

“…Benar. Kadang aku malah kangen dengan kegaduhannya yang dulu.”

Setahun lalu, Tatsuya adalah tipe cowok energik murni yang tidak pandai membaca suasana, tapi justru menciptakan suasana sendiri. Tapi belakangan dia sudah bisa memperhatikan sekitar dan berperilaku sesuai situasi.

“Tahu nggak? Akhir-akhir ini Nagiura-kun cukup populer.”

“…Benarkah?”

“Iya. Tentu saja tidak bisa mengalahkan Haibara-kun, tapi mungkin sudah mengalahkan Shiratori-kun.”

Memang, sejak kasus kekerasan, reputasi Reita agak menurun.

Meski sebagian besar kesalahpahaman sudah hilang, dia masih terkesan agak menyeramkan.

“Tapi karena Haibara-kun sudah punya pacar, secara realistis dia mungkin yang paling populer.”

“Sebenarnya aku heran kenapa dulu dia tidak populer. Padahal ganteng.”

“Dulu banyak yang takut padanya. Tapi akhir-akhir ini dia mulai terlihat lebih santai dan punya kelonggaran. Banyak yang tertarik dengan perbedaan itu.”

Nanase berbicara dengan riang sambil menatap Tatsuya.

“Lalu bagaimana dengan Nanase sendiri?”

Karena akhir-akhir ini Nanase juga sering bersama Tatsuya, aku bertanya karena penasaran.

Nanase sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil.

“Begitu ya. Aku mungkin juga sedikit tertarik.”

Jadi rumor bahwa cowok yang punya kelonggaran lebih populer itu benar.

…Tunggu, berarti aku seharusnya tidak populer dong?

Sambil memikirkan hal itu, dua porsi omurice pun selesai.

“Terima kasih telah menunggu.”

Nanase membawanya ke meja Tatsuya. Mereka langsung menyantapnya dan mengacungkan jempol ke arahku.

Hal kecil seperti ini terasa menyenangkan. Meski sudah naik kelas dan terpisah kelas, serta kesempatan bertemu semakin sedikit, persahabatan kami masih terjaga.

Di keramaian dekat gate Stasiun Takasaki, ada seorang gadis yang sangat mencolok.

“Natsuki-kun!”

Gadis itu——Hikari yang melihatku langsung tersenyum cerah seperti bunga yang mekar.

Dia melambai-lambaikan tangan dengan semangat sambil berlari menghampiriku.

Para cowok yang diam-diam memperhatikan Hikari dari sekitar langsung pergi sambil mendecakkan lidah.

“Selamat pagi, Hikari.”

“Ya. Sudah agak lama ya?”

Terakhir bertemu di hari pertama liburan, jadi sudah satu minggu.

Hikari yang tersenyum bahagia memakai blus lengan pendek putih dan mini skirt. Fashion yang sejuk dan cocok untuk musim panas. Hikari memakai mini skirt cukup jarang.

“Baju ini dipilihkan Yuino-chan. Gimana?”

Pantas saja, aku merasa ini tidak seperti selera Hikari.

“Menurutku sangat lucu.”

“Fufu, terima kasih.”

Hikari tersenyum sambil sedikit malu, pipinya memerah.

“Mini skirt ini agak sejuk dan bikin risih sih. Tapi lucu kok.”

Mungkin karena sadar tatapan orang sekitar, Hikari berkali-kali menarik ujung roknya.

…Hm, aku bisa mengerti selera Nanase dari pemandangan ini.

Pandangan Nanase terhadap Hikari memang cukup bernuansa seksual (sangat偏見).

Apapun itu, yang jelas dia sangat lucu. Hikari cocok dengan segala fashion, tapi gadis cantik memakai baju lucu tetap kombinasi terbaik.

“J-Jangan dilihat terus dong~”

Sepertinya aku tanpa sadar sudah terlalu lama menatap Hikari.

“Maaf.”

“Walaupun senang sih… tapi kamu terlalu fokus ke kakiku. Mesum.”

Hikari menatapku dengan mata menyipit sambil meninju pelan bahuku dengan kepalan tangan.

Karena aku tidak bisa membantah, lebih baik mengalihkan topik.

“Ayo berangkat sekarang.”

Aku menggenggam tangan Hikari dengan santai (?), lalu mulai berjalan.

Kami melewati gate JR dan menuju peron jalur dua arah.

Sepanjang jalan kami terus bergandengan, tapi Hikari tampak tidak puas.

“Ada apa, Hikari?”

“…Entah kenapa Natsuki-kun kelihatan sudah terbiasa?”

“Terbiasa apa?”

“Aku masih deg-degan setiap kali, tapi Natsuki-kun akhir-akhir ini kelihatan sudah biasa! Bilang lucu dengan santai, atau langsung genggam tangan dengan natural!”

Hikari memerah sambil mengeluh.

“Kalau dibilang begitu… aku juga masih deg-degan kok?”

“Benarkah~? Wajahmu kelihatan sangat santai.”

“Memang sih, dibanding awal-awal pacaran, aku sudah lebih santai.”

Lebih tepatnya, aku sudah lebih mahir menyembunyikan kegugupan.

“…Curang. Hanya Natsuki-kun saja.”

Hikari tiba-tiba menarik tanganku kuat-kuat, membuatku sedikit limbung.

Pada saat itu, aku merasakan sesuatu yang lembut dan empuk menempel di pipiku.

Begitu buru-buru menoleh, Hikari sedang memasang wajah “berhasil ya”.

“Na… hei…”

“Fufu, akhirnya kamu gelisah juga.”

Hikari tersenyum nakal, tapi wajahnya sudah merah padam.

“Di tempat seperti ini——”

Aku buru-buru melihat sekeliling, tapi tidak ada orang di sekitar.

“Aku sudah memastikan tidak ada orang di sekitar kok.”

“Meski begitu…”

“…………Terlalu berlebihan ya. Maaf.”

Hikari yang sudah kembali sadar mengucapkan maaf dengan wajah murung.

Melihatnya seperti itu, rasa sayangku langsung memuncak.

“Ya sudah lah.”

Aku meletakkan tangan di kepala Hikari dan mengelus-elus rambutnya.

Hikari hanya diam menerima sambil tersenyum lebar, “Ehehe…”

Lucu sekali. Kenapa pacarku ini begitu menggemaskan?

“Lihat tuh, pasangan itu.”

“Keduanya merah padam. Lucu banget~”

Tanpa sadar, sepasang mahasiswa yang sudah ada di peron menggoda kami.

Sepertinya kami sudah masuk ke dunia sendiri tanpa sadar. Sangat memalukan.

Aku mulai pacaran dengan Hikari pada musim gugur tahun lalu.

Musim berganti, dan musim panas datang lagi. Sebentar lagi sudah satu tahun.

Meski begitu, kami berdua masih belum sepenuhnya keluar dari fase pasangan baru yang manis.

Setelah berganti kereta dan bus, kami tiba di kota Kiryu.

Tempat kencan hari ini adalah ‘pantai’ Gunma, yaitu Caribbean Beach.

Nama resminya adalah Kolam Renang Indoor Kiryu Shin-sato. Katanya menggunakan panas limbah dari pusat kebersihan terdekat.

“Akhirnya aku datang juga ke sini.”

“Benarkah? Aku pernah datang dengan orang tua.”

“…Seisan tipe yang suka ke kolam renang?”

Aku sama sekali tidak bisa membayangkan Seisan bermain di kolam renang dengan anaknya.

“Dia tidak pernah ikut. Jadi hanya aku dan Mama.”

“Wah…”

“Tidak apa-apa kok. Lagipula kalau Papa ikut juga tidak ada gunanya.”

Kata-katanya cukup pedas.

Memang ini akibat perbuatan Seisan sendiri sih.

“Agak ramai ya~”

“Soalnya sedang puncak liburan musim panas.”

Sambil mengobrol, kami antri di jalur masuk.

Mayoritas pengunjung adalah keluarga, sisanya kelompok siswa dan pasangan.

Jam menunjukkan pukul 09.55. Belum buka tapi parkiran sudah hampir penuh.

“Dengan banyaknya orang, bisakah kita berenang dengan nyaman?”

“Pasti lebih luas dari yang Natsuki-kun bayangkan.”

Akhirnya pintu masuk dibuka dan giliran kami segera tiba. Masuknya cukup lancar.

Kami berpisah di depan ruang ganti dan berganti pakaian masing-masing.

Baju renang yang kubawa sama dengan tahun lalu. Celana pendek berwarna hitam dasar.

Karena cepat selesai, aku keluar lebih dulu dan masuk ke area kolam.

Area kolam sudah penuh orang, tapi karena skalanya besar, tidak terasa sempit.

Aku melihat papan petunjuk di dekat pintu keluar ruang ganti.

Di lantai satu ada kolam anak dan kolam arus, di lantai dua ada kolam ombak, kolam 25 meter, dan water slide. Ada juga jacuzzi dan sauna.

Sambil menunggu Hikari, aku melihat-lihat papan petunjuk.

Alasan aku sedikit gelisah sudah jelas.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Hikari memakai baju renang setelah satu tahun.

Aku juga seorang cowok. Tentu saja aku ingin melihat pacarku memakai baju renang.

“Maaf lama, Natsuki-kun!”

Suara terdengar dari belakang.

Begitu menoleh, Hikari sudah berdiri di sana.

Baju renang Hikari bukan yang sama dengan tahun lalu.

“…G-Gimana?”

Tahun lalu dia memakai baju renang dengan pareo.

Tapi musim panas ini, dia memakai bikini sederhana.

Luas kainnya kecil, tingkat keterbukaan tinggi. Kulit putih bersihnya yang tidak terbakar matahari terpapar dengan jelas.

Belahan dada yang dalam tanpa sadar menarik pandanganku.

“Tahun lalu beda ya baju renangnya.”

“…Iya. Baru beli. Cocok nggak?”

Hikari yang memerah pipi sedang menjadi pusat perhatian para cowok di sekitar.

Memang wajar mengingat kecantikan Hikari, tapi tetap saja agak rumit.

“Cocok banget.”

“…Te-terima kasih. Memang agak malu sih.”

Mungkin sadar tatapan orang sekitar, Hikari gelisah sambil berusaha menutupi tubuhnya.

“Apa ini juga pilihan Nanase?”

“Eh? Bukan, ini aku pilih sendiri kok.”

Syukurlah. Mini skirt masih bisa dimaafkan, tapi kalau bikini ini pilihan Nanase, berarti pandangannya terhadap Hikari memang sangat seksual. Hampir saja.

“…Agak terlalu seksi ya.”

“…Kamu sadar juga.”

“Soalnya… aku ingin Natsuki-kun menganggapku cantik.”

“Sangat cantik, tapi aku nggak mau orang lain melihat terlalu banyak.”

Sambil menggaruk kepala, aku mengatakan itu. Hikari tersenyum bahagia.

“Kalau begitu, aku tutup dulu ya.”

Hikari mengeluarkan rashguard dari tas dan memakainya.

Setelah menutup resletingnya, tingkat keterbukaan langsung berkurang drastis.

“Ada jaketnya juga.”

“Iya. Aku juga nggak mau dilihat orang lain selain Natsuki-kun.”

Oh. Jadi aku boleh melihat ya. Berarti aku mau lihat lebih banyak lagi!

Sambil berteriak dalam hati, di permukaan aku tetap mempertahankan wajah datar.

“Aku kira sama dengan tahun lalu.”

“Kamu juga sama dengan tahun lalu.”

“Iya. Ini baru kedua kalinya pakai sejak tahun lalu.”

Meski begitu, bayangan belahan dada yang dalam tadi masih melekat di benakku.

…Sepertinya agak lebih besar dari tahun lalu…

“Aku juga begitu sih…”

Tenang, Natsuki. Ini bukan saatnya memikirkan hal kotor.

Hari ini aku harus bersenang-senang di kolam renang bersama Hikari. Lupakan pemandangan tadi.

“Sebenarnya…”

Tanpa tahu aku sedang berusaha mengalihkan pikiran, Hikari bergumam pelan.

“Baju renang tahun lalu agak kekecilan…”

…Di mana? Tidak perlu ditanya. Jelas bagian atasnya.

Dari dua pilihan atas dan bawah, yang ukurannya bisa berubah adalah bagian atas.

“…”

Karena aku diam saja, Hikari menoyor bahuku pelan.

“…Katakan sesuatu dong.”

Hei, apa yang harus kukatakan!

Tingkat kesulitan komunikasinya terlalu tinggi!

Setelah menemukan tempat menyimpan barang, kami langsung masuk ke kolam arus.

Karena kolam air hangat, suhu airnya pas dan nyaman. Arus mendorong punggung sehingga tubuh secara alami meluncur ke depan.

Hikari meletakkan lengannya di pelampung yang disewa dan mengalir dengan senang.

“Enak sekali~”

Aku berjalan di samping Hikari.

By the way, walking in water adalah olahraga yang baik untuk sendi dan efektif. Dulu saat diet sebelum masuk SMA, aku sering melakukannya di kolam gym. Nostalgia.

“Agak jauh sih, tapi senang akhirnya datang.”

“…Benar juga.”

Alasan kencan hari ini di kolam renang adalah karena Hikari bilang “Tahun ini aku ingin ke pantai lagi”. Seminggu lalu saat telepon malam, kami mengenang liburan musim panas tahun lalu bersama semua orang.

Bersaing crawl dengan Tatsuya, ditenggelamkan Miori saat naik pelampung, ditembak air pistol oleh Uta, beristirahat di bawah payung dengan Nanase, banana boat yang terbalik, makan siang sambil ngobrol konyol dengan Reita dan Tatsuya, terkejut dengan permainan pasir Serika yang rumit, melindungi Hikari yang jadi target di beach volley… Benar-benar menikmati pantai sepenuh hati.

Itu adalah musim panas yang seperti keajaiban. Aku masih bisa mengingat pemandangan saat itu dengan jelas.

Tapi musim panas ini, tidak ada rencana pergi ke pantai bersama semua orang.

Kami sempat membahas di RINE, tapi jadwal tidak cocok.

Ditambah klub musik ringan, basket cowok, basket cewek, sepak bola, dan klub sastra yang berbeda, Nanase ada piano, Hikari ada pekerjaan novel.

Beberapa orang juga kerja part-time, ditambah urusan keluarga. Situasinya sangat berbeda dengan tahun lalu saat orang-orang yang longgar jadwalnya bisa menyesuaikan.

“Sayang tidak bisa ke pantai bareng semua orang… tapi terima kasih sudah mengajak.”

Karena Hikari terlihat sedih, aku mengajaknya ke kolam renang. Ini bukan pengganti pergi ke pantai bersama, tapi semoga bisa memberi kesenangan yang berbeda.

“Aneh ya. Musim panas lalu semua orang bisa pergi tapi aku yang tidak pasti, musim panas ini malah sebaliknya. Aku yang bisa, tapi semua orang yang susah.”

Satu tahun memang bisa mengubah banyak hal.

Intuisiku bahwa musim panas itu tidak akan datang lagi ternyata benar.

“Syukurlah tahun lalu sempat pergi.”

“Iya. Kalau tidak pergi saat itu, pasti menyesal.”

“Hari-hari menemani Hikari yang menulis novel di kafe sangat kukenang.”

“…Sudah satu tahun ya. Saat itu aku merepotkan Natsuki-kun sekali.”

“Waktu itu bahkan aku yang biasa juga bingung saat mendengar kamu tiba-tiba kabur dari rumah.”

“Lagipula kamu datang sampai stasiun terdekat rumahku… kalau dipikir lagi, sejak awal kamu memang berniat mengandalkanku. Aku mungkin gadis jahat yang memanfaatkan kebaikanmu.”

“…Kamu bilang sendiri?”

“Aku percaya di lubuk hati bahwa Natsuki-kun pasti akan menolongku.”

“Tapi dulu kamu kan tidak suka padaku?”

“Awalnya iya. Tapi wajahmu dari awal sudah kusukai.”

“Itu pujian apa sindiran?”

Saat aku menyela, Hikari terkikik.

“Meski tidak bisa kembali ke masa lalu, semua itu menjadi pengalaman yang membentuk diriku sekarang.”

Cara bicaranya seperti kalimat dalam novel, agak dramatis.

“Kalau bukan karena Natsuki-kun, aku masih akan menjadi boneka ayahku. Pasti tidak bisa membuat kenangan indah di masa muda, dan akan terus menyesal seumur hidup.”

Hikari diam-diam menggenggam tanganku di dalam air. Genggaman kekasih.

“Makanya, Natsuki-kun. Aku sangat bahagia sekarang bisa mengejar mimpi bersama orang yang kucintai. Semua ini berkat Natsuki-kun yang menolongku.”

Senyum Hikari bersinar seperti pelangi.

“Aku juga, saat ini adalah yang paling bahagia.”

Dulu masa mudaku berwarna abu-abu, sekarang aku menulis ulangnya menjadi penuh warna.

Motivasiku sebenarnya hanya itu, tapi akhir-akhir ini banyak orang yang berterima kasih padaku.

Kalau tindakanku bisa membahagiakan orang-orang di sekitarku, aku juga senang. Berarti time leap ini ada artinya.

“Karena Hikari dan semua teman mau bersama dengan diriku yang seperti ini.”

“Natsuki-kun bisa mengatakan kalimat memalukan dengan wajah serius ya~”

“Hikari yang tadi bilang hal lebih memalukan!”

Sedang suasana emosional! Tiba-tiba tangga ditarik!

“Mau pakai pelampung juga, Natsuki-kun?”

Hikari terkikik sambil menyodorkan pelampung.

“Kalau begitu, aku pakai ya.”

Aku masuk ke dalam pelampung dan menyandarkan berat badan.

Sensasi melayang-layang mengikuti arus terasa nyaman.

Sepanjang itu, Hikari seharusnya berjalan di samping——tapi entah kapan dia menghilang.

Saat aku heran ke mana dia pergi, jawabannya muncul tiba-tiba di belakang.

Hikari menyusup ke dalam pelampung yang sama dan menempel erat di punggungku.

“H-Hei Hikari!?”

“Begini pas untuk berdua!”

Saat menoleh ke belakang, wajah Hikari yang basah berada sangat dekat.

Hikari memelukku dari belakang sambil bersandar di pelampung.

Payudaranya yang besar menempel erat di punggungku.

Sensasi lembut dan kenyal itu terasa nyaman.

Meski kolam arus ramai, semua orang sibuk dengan kelompok masing-masing, jadi kami tidak terlalu mencolok… tapi tetap saja memalukan.

Aku melepaskan lengan Hikari yang melingkar di punggung, lalu menyelam sebentar dan keluar dari pelampung.




“Ah, kenapa kabur?”

Hikari mengerucutkan pipi dengan wajah cemberut.

Sepertinya dia tidak sadar betapa destruktif kekuatannya. Atau mungkin dia melakukannya dengan sengaja… entah mana pun, itu menyeramkan. Jadi beginilah rasanya wanita yang punya daya tarik iblis.

“Bukan, soalnya… itu terlalu menempel banget…”

Begitu aku menunjukkan, Hikari memalingkan wajah sambil memerah.

Ini pasti tipe ‘aku sengaja melakukannya, tapi malu kalau dibilang langsung’!

Setelah pacaran hampir sepuluh bulan, aku mulai sedikit memahami kepribadian Hikari.

“…Jangan lakukan itu lagi. Mesum banget.”

Yang mesum itu siapa sih.

Tolong jangan godain aku terus. Bagaimana kalau aku benar-benar berubah jadi binatang?

Well, mungkin dia melakukannya karena tidak masalah kalau aku jadi binatang…

“Oh iya… Reita tadi nanya apakah delapan Agustus kosong.”

Aku memutuskan untuk mengalihkan topik dengan sekuat tenaga.

“Delapan Agustus? …Ah, benar. Hari Festival Kembang Api Maebashi ya.”

“Dia mengusulkan supaya kita semua pergi ke festival kembang api bersama.”

“Tentu saja aku mau! Aku ingin berkumpul dengan semua orang!”

“Kalau begitu, aku balas ke Reita ya.”

“Terima kasih!”

Hikari mengangguk sambil tersenyum, lalu melanjutkan.

“Sebenarnya aku juga mau mengajak Natsuki-kun sendiri.”

Dia langsung mengerti hanya dari tanggal delapan Agustus. Jadi itu alasannya.

“Tapi kalau pergi bersama semua orang, aku juga bisa bertemu Natsuki-kun. Dua keuntungan sekaligus.”

“Tapi kita tidak bisa berduaan, jadi tidak bisa mesra-mesraan lho?”

“Untuk itu, hari ini aku akan isi ulang dulu!”

“Uwoh!?”

Hikari menangkap bahuku dan mendorongku ke dalam kolam dengan bunyi “byur”.

Dia sendiri yang mendorong, tapi sekarang sedang menggapai-gapai di dalam air. Aku menangkap tubuhnya.

Di dalam air, mata kami bertemu. Ekspresi Hikari yang panik berubah menjadi lega.

Sesaat, bibir kami bersentuhan.

Kami naik ke permukaan bersama.

“…Hei, Hikari?”

Aku bertanya, tapi Hikari diam saja dan membalikkan badan, lalu keluar dari kolam.

“Aku agak capek, istirahat yuk.”

…Kenapa dia bisa setenang itu?

Aku juga keluar dari kolam. Entah kenapa Hikari terus membelakangiku. Telinganya yang terlihat dari sela rambut basah itu merah padam. Dia sama sekali tidak tenang.

“…Tidak enak?”

“…Bukan tidak enak sih.”

Akhir-akhir ini serangan Hikari semakin gencar. Aku ingin dia agak menahan diri.

Hatiku yang sudah lama hancur ini bisa benar-benar menjadi debu.

Sudah sekitar sepuluh bulan sejak kami pacaran. Kami sudah bergandengan, berpelukan, dan berciuman… tapi belum lebih dari itu. Bisa dibilang hubungan yang sehat.

Tapi, kalau dibilang aku hanya kehilangan timing untuk melangkah lebih jauh, aku juga tidak bisa membantah. Karena… kalau firasatku benar, Hikari sepertinya juga menginginkannya. Meski kami masih SMA, apa boleh hubungan kami terus stagnan seperti ini?

Setelah pacaran sekian lama, aku mulai terbiasa dengan kehidupan punya pacar.

Aku juga mulai memahami apa yang dilakukan saat kencan.

Tapi selanjutnya adalah wilayah yang belum kuketahui. Tentu saja aku juga punya keinginan untuk melanjutkan hubungan dengan Hikari. Tapi kalau terburu-buru, aku khawatir akan melukai Hikari.

Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan “terus maju maka jalan akan terbuka”.

Ini masalah yang harus kupikirkan dengan matang dan kujawab dengan hati-hati.

Kami yang lelah berenang sedang beristirahat di pinggir kolam.

Karena Caribbean Beach adalah kolam renang indoor, kami tidak kepanasan terkena sinar matahari.

Memang tidak ada AC, tapi jauh lebih baik daripada di luar.

“Natsuki-kun, menurutmu sepuluh tahun lagi kamu sedang melakukan apa?”

Hikari bertanya sambil minum sport drink.

“Kenapa tiba-tiba bahas itu?”

“Hm~ entahlah? Soalnya sebentar lagi saatnya memikirkan masa depan.”

Memang benar, sekarang sudah liburan musim panas tahun kedua.

Sudah saatnya mulai memikirkan pilihan setelah lulus.

“Begini… aku pasti akan bekerja di perusahaan biasa saja.”

Meski aku serius berband dengan Serika dan yang lain, aku tidak melihat masa depan menjadi profesional.

Setidaknya, kemampuan kami sekarang belum sampai ke level itu.

“Kamu mau kerja di perusahaan apa?”

“Perusahaan konstruksi umum.”

Hikari berkedip bingung mendengar jawabanku yang singkat.

“…Cukup spesifik, kamu memang ingin masuk ke bidang konstruksi?”

“Bukan, bukan begitu.”

“Apaan sih itu.”

Hikari tertawa geli mendengar jawabanku.

Wajar dia bingung. Aku hanya menceritakan isi mimpi yang akhir-akhir ini sering kulihat.

Kalau aku tidak melakukan time leap dan menjalani hidup seperti biasa, apa yang akan terjadi.

Kalau harus diberi nama, mungkin ‘masa depan yang benar’.

Di ‘masa depan yang benar’ itu, aku bekerja biasa saja, lalu bertemu kembali dengan Miori.

Lalu melihat Miori membuatku teringat perasaan cinta, dan kami mulai berpacaran.

Mimpi itu terasa sangat nyata dan meyakinkan. Sulit dianggap sekadar mimpi biasa.


“――Saat itu, siapa yang berada di samping Natsuki-kun?”

Tiba-tiba aku merasa jantungku dingin.

Hikari tersenyum sambil menatapku lekat-lekat.

Baginya, ini mungkin hanya godaan biasa saat mesra-mesraan.

“Tentu saja Hikari.”

Maka aku berbohong.

Lebih tepatnya, aku tidak punya pilihan selain berbohong.

Aku tahu Hikari memiliki daya observasi yang tajam.

Tapi aku tidak mungkin mengatakan bahwa yang berada di sampingku adalah Miori.

“Memang aku sudah menduga!”

Hikari tersenyum lebar seolah puas.

“Lalu Hikari sendiri?”

Karena takut digali lebih dalam dan keceplosan, aku mengalihkan pembicaraan.

“Aku akan menjadi novelis. Dan best seller pula!”

“Itu mimpi yang bagus sekali.”

Saat aku menimpali, Hikari melanjutkan dengan riang.

“Aku debut saat masih SMA, lalu kuliah di jurusan sastra. Tapi novel debutku tidak terlalu laku, jadi setelah lulus aku kerja di perusahaan Papa sambil menulis novel sampingan.”

“Cukup detail ya.”

“…Lalu, sekitar usia dua puluh lima aku mengeluarkan karya hits. Diadaptasi jadi film! Jualan jutaan eksemplar! Pekerjaan novel semakin banyak, penghasilanku sebagai penulis stabil, jadi aku jadi penulis penuh waktu. Karena tidak ada pekerjaan utama lagi, hidupku jadi agak longgar… tapi saat itu…”

Suara Hikari yang tadinya bersemangat tiba-tiba kehilangan warnanya.


“――Di sampingku, Natsuki-kun tidak ada.”

Matanya yang sedih menatapku lekat.

Kenapa dia mengatakan hal seperti ini? Seperti pembicaraan perpisahan.

“…Aku yang mengabaikan Natsuki-kun. Karena sibuk kerja dan menulis novel, aku tidak punya waktu untuk bertemu Natsuki-kun. Meski begitu, aku tetap memprioritaskan novel. Akhirnya perasaan Natsuki-kun menjauh dariku… saat aku sadar, semuanya sudah terlambat. Makanya di sampingku yang sudah mewujudkan mimpi, tidak ada seorang pun.”

“Apakah Hikari bisa melihat masa depan?”

“Bukan. Hanya mimpi yang aku lihat saja.”

“Kalau begitu, tidak perlu dipikirkan.”

Sama seperti mimpi yang aku lihat. Tidak ada gunanya memikirkannya.

Yang membuatnya terasa sangat nyata pasti karena imajinasi Hikari yang kuat.

“Seberapa pun sibuknya Hikari, aku akan selalu berada di sampingmu.”

Begitu aku katakan, Hikari mengangguk bahagia.

“Terima kasih, Natsuki-kun.”

“Mungkin karena itu akhir-akhir ini kamu sangat mesra…”

“…Aku agak takut. Meski tahu itu hanya mimpi.”

Hikari memerah sambil malu-malu.

“…Tidak apa-apa kok. Kalau itu memang masa depan yang sebenarnya,”

Meski mimpi itu benar-benar gambaran akurat masa depan berdasarkan daya observasi, penalaran, dan imajinasi Hikari, tetap ada cara menyelesaikannya.

“Kalau kita tahu itu akan terjadi, tinggal kita ubah supaya tidak terjadi.”

Memang selama ini aku selalu melakukan itu.

Meski mengetahui putaran pertama, aku terus mengubah dunia putaran kedua.

“Begitu ya. Jawaban yang sangat mirip Natsuki-kun.”

Hikari mengangguk seolah puas.

Lalu seolah teringat sesuatu, dia bertanya.

“Kamu tahu time paradox?”

“Waktu pergi ke masa lalu lalu mengubah sesuatu, lalu bertentangan dengan keadaan sekarang… seperti itu kan?”

Tentu saja aku tahu.

Karena aku sendiri adalah pihak yang mengalami fenomena time leap.

Aku sempat mencari berbagai teori semacam itu tepat setelah time leap.

Tapi pada akhirnya tidak ada jawaban yang menjelaskan apa yang terjadi padaku.

Aku hanya bisa berpikir bahwa Tuhan mengabulkan keinginanku untuk ‘mengulang masa muda’.

“Kenapa tiba-tiba bahas itu?”

“Karena logika Natsuki-kun tadi justru akan menyebabkan time paradox.”

Memang aku bilang ‘kalau tahu masa depan yang sebenarnya, tinggal kita ubah’.

“Dalam kasus ini, bukankah ‘masa depan yang sebenarnya’ itu sendiri akan hilang?”

“…Benar juga. Kalau kita anggap itu hanya khayalanku, tidak ada kontradiksi.”

“Lalu,” Hikari melanjutkan.

“Kalau aku tahu masa depan sepuluh tahun lagi, lalu kembali ke masa lalu untuk mengubahnya… berarti time paradox sedang terjadi, kan?”

…Kenapa dia membahas hal seperti ini?

Yang membuatnya terasa meyakinkan adalah karena aku sendiri adalah korban time leap.

Tidak adil kalau aku berpikir fenomena ini hanya terjadi padaku saja.

Meski begitu, tidak ada hal yang aneh dalam tindakan Hikari… sepertinya.

Setidaknya di awal, dia melakukan hal yang sama seperti yang kuingat di putaran pertama.

“Dalam kasus ini, apa yang terjadi pada masa lalu yang sudah diubah? Secara umum ada tiga hipotesis.”

Sambil aku berpikir, Hikari melanjutkan pembicaraan.

“Pertama, meski bisa kembali ke masa lalu, kita tidak bisa mengubah apapun. Kalau terjadi sesuatu, ada kekuatan takdir yang membuatnya sia-sia. Artinya tidak ada yang berubah dan tidak bisa diubah.”

Cara bicaranya sangat lancar.

“Kedua, masa kini akan berubah sesuai dengan intervensi di masa lalu. Artinya, kalau aku kembali ke masa lalu dan membunuh Papa, keberadaanku akan hilang… seperti itu.”

Seolah dia sudah lama meneliti hal ini.

“Ketiga, saat kembali ke masa lalu, dunia itu menjadi parallel world. Jadi berapa pun kita mengubah masa lalu, itu tidak akan memengaruhi dunia tempat kita hidup.”

Ini seharusnya hanya obrolan biasa dan hipotesis semata.

“Menurut Natsuki-kun, hipotesis mana yang benar?”

“…Bukankah ini bukan pertanyaan yang ada jawabannya?”

“Cuma firasat saja.”

“Yang ketiga, kurasa.”

“Kenapa berpikir begitu?”

“Yah, tidak ada alasan khusus. Hanya firasat…”

Kalau harus disebutkan, karena akhir-akhir ini aku sering melihat mimpi yang sangat nyata.

Di dunia tanpa time leap, aku menjalani kehidupan yang tidak kukenal.

“…Hanya karena aku merasa yang itu lebih baik.”

Hipotesis pertama sudah terbantah karena aku sudah bisa mengubah masa lalu.

Hipotesis kedua sangat mungkin. Karena aku tidak bisa kembali ke masa depan, aku tidak tahu kebenarannya.

Makanya aku berharap yang ketiga yang benar.

Karena kalau tindakanku sekarang sedang mengubah masa depan itu,

Kalau hari-hari indah bersama Miori yang sudah saling menguatkan cinta itu menjadi tidak pernah ada,

…Aku tidak suka itu.

“Terima kasih, Natsuki-kun. Sangat membantu.”

Tanpa sadar, Hikari sedang mencatat serius di ponselnya dengan wajah serius.

“…Apakah novel selanjutnya bergenre SF?”

“Fufu, benar sekali! Terima kasih sudah menjawab dengan baik!”

Hikari tersenyum lebar seolah sedang memeriksa jawaban.

…Ternyata hanya soal novel. Aku jadi deg-degan sia-sia.

“Begini, tokoh utamanya adalah gadis yang time leap ke masa lalu! Lalu dia menyelesaikan masalah yang dulu menyiksanya dengan pengetahuan dari masa depan! Menarik kan?”

“…Ya, cukup menarik?”

Situasiku sekarang terlalu mirip, jadi malah sulit menganggapnya menarik!

Memang aku tidak pernah menyelesaikan segalanya dengan santai menggunakan pengetahuan masa depan.

“Semalam aku memikirkan novel itu terus, lalu mimpi buruk bahwa diriku sepuluh tahun lagi berpisah dengan Natsuki-kun… pagi tadi aku bangun sambil menangis.”

Hikari menceritakan maksud sebenarnya sambil pelan menggenggam tanganku.

“Tapi Natsuki-kun menyangkalnya, aku senang sekali.”

Melihat senyum Hikari yang seperti matahari, hatiku tetap tidak bisa tenang.

Entah kenapa aku merasa sangat bersalah. Padahal aku tidak melakukan apa-apa.

…Meski mimpi itu memang ‘masa depan yang benar’,

Bagi diriku sekarang yang kembali ke masa lalu untuk mengulang masa muda, itu tidak ada hubungannya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close