Chapter 1
Liburan Musim Panas Siswa Tahun Kedua
“…Mimpi ya.”
Begitu membuka
mata, yang kulihat adalah langit-langit kamar yang sudah sangat familiar.
Cahaya matahari
pagi yang lembut menyusup masuk melalui celah tirai.
Jam menunjukkan
pukul delapan.
Aku bangkit duduk
dan melirik samping. Tentu saja tidak ada siapa-siapa di sana.
Entah kenapa,
mimpi itu terasa sangat nyata. Aku bahkan masih ingat detailnya dengan jelas.
Dalam
mimpi itu, aku tidak melakukan time leap. Waktu berlalu begitu saja, aku
bertemu kembali dengan Miori secara kebetulan di tempat kerja, kemudian kami
mulai berpacaran… dan akhirnya melakukan hal itu.
Sedikit terasa
sayang. Kehangatan tubuhnya masih terasa melekat.
Seolah-olah dia
benar-benar berada di sampingku hingga beberapa saat lalu.
“Kenapa sekarang
malah mimpiin Miori…”
Ketika aku
menatap ke depan, selimutku mencuat jelas.
Penyebabnya sudah
jelas. Itu jelas-jelas milikku.
“Hei hei… tenang
dulu, Haibara Natsuki.”
Ini hanyalah
fenomena fisiologis biasa. Lagipula mimpi ya tetap mimpi. Bukan berarti aku
punya hasrat seperti itu terhadap Miori. Ya, mustahil sekali.
Karena kekasihku
adalah Hoshimiya Hikari.
‘Aku akan
membahagiakanmu.’
…Kata-kata tekad
di dalam mimpi itu melintas di benakku.
Suara Miori yang
memanggil namaku berulang kali, pelukannya di punggungku, serta wajahnya yang
tertidur bahagia dalam pelukanku—semuanya masih terbayang begitu jelas.
…Meski terasa
sangat nyata, itu tetap hanya mimpi.
Benar! Mustahil
aku menjalani hidup tanpa time leap!
“…Hm???”
Kalau dipikir
secara logis, aku malah tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang
kenyataan.
“Kakak, sudah
pagi lho~?”
Tiba-tiba pintu
kamarku terbuka.
“Kamu
bilang hari ini ada klub, kan?”
Sepertinya
Namika khawatir karena aku tidak kunjung bangun.
Dia masuk
ke kamarku dengan langkah ringan. Seperti biasa, dia tidak pernah mengetuk.
“Aah, aku
ketiduran.”
Latihan
klub dimulai pukul setengah sembilan. Kalau buru-buru bersiap, masih sempat.
“……”
“…Ada apa?”
Entah kenapa
Namika diam saja sambil menatapku lekat-lekat.
Lebih tepatnya,
dia sedang menatap selimut yang menutupiku.
Bagian selimut
itu jelas mencuat. Penyebabnya sudah jelas.
“O-oh, syukurlah
Kakak sudah bangun!”
Namika tersadar,
lalu buru-buru keluar dari kamarku dengan wajah panik.
…Lihat ke mana
sih dia bicara tadi.
*
Sekitar
satu setengah bulan sejak acara live rutin Klub Musik Ringan.
Begitu
keluar rumah, sinar matahari yang menyengat membakar aspal.
Suhu hari ini
mencapai 35 derajat. Ini sudah bukan suhu untuk manusia biasa.
Kalau orang zaman
ini tahu bahwa di masa tujuh tahun mendatang suhu 35 derajat bisa berlangsung
berhari-hari berturut-turut, pasti wajah mereka akan sangat lucu.
Sudah satu minggu
sejak liburan musim panas dimulai.
Tapi berbeda
dengan liburan musim panas tahun lalu yang relatif longgar.
Kali ini aku
memutuskan untuk serius berband dengan anggota Stray Luminous. Sebagian besar
liburanku akan kuhabiskan untuk latihan klub dan latihan pribadi.
Waktu yang
tersisa akan kugunakan untuk kerja part-time dan kencan dengan Hikari.
Meski sangat
sibuk, liburan musim panas ini terasa sangat padat dan memuaskan.
Sambil
bergoyang di dalam kereta, aku melamun menatap ponsel. Notifikasi RINE masuk.
Pengirimnya tentu
saja Hikari.
Karena kami
berdua sama-sama sibuk, kami saling menjaga komunikasi dengan intens.
Hoshimiya
Hikari: “Novel baru sudah
jadi! Kalau sempat, tolong kasih komentar ya?”
Natsuki: “Kalau aku boleh, dengan senang
hati.”
Hoshimiya
Hikari: “Oke, aku
tempel di sini ya!”
Hikari
juga sedang serius mengejar mimpinya selama liburan ini. Dia tampaknya
benar-benar fokus menulis novel.
Aku
memang amatir total, jadi sulit memberi saran teknis, tapi setidaknya aku bisa
memberikan komentar jujur.
Novel
Hikari menarik bahkan tanpa pandangan mata kasih sayang, jadi aku juga
menantikan karya barunya.
Aku
membuka file PDF yang dikirim Hikari. Isinya tentu saja novel.
Judulnya Kau
Bernyanyi di Balik Langit.
Cerita
tentang empat gadis yang bisa terbang di dunia yang memiliki sihir.
Ringkasannya
sudah pernah kudengar saat kami bicara di telepon tempo hari.
Sebelumnya
dia menulis cerita misteri remaja, sekarang beralih ke genre yang mengandung
elemen fantasi. Hikari memang
punya banyak ide yang ingin ditulis.
Natsuki: “Terima kasih.”
Natsuki: “Aku sekarang mau latihan klub, nanti
setelah pulang ke rumah aku akan baca dengan tenang.”
Begitu
aku balas, Hikari mengirim stiker kucing yang sedang membungkuk sambil bilang
“Terima kasih!”.
Kami
berdua sedang serius menghadapi mimpi masing-masing.
Sebagai
kekasih, aku ingin mendukungnya sebisa mungkin.
Dengan
pikiran itu, aku berganti kereta menuju Stasiun Maebashi.
Begitu
melewati gate Stasiun Maebashi, Yamano langsung berlari menghampiriku.
“Senpai!
Selamat pagi!”
Sikapnya
seperti anak anjing yang sedang senang. Kalau ada ekor, pasti sudah mengibas-ngibas.
Kami
bertemu di gate, berarti dia naik kereta yang sama.
“Kamu kelihatan
sangat senang.”
“Ya iyalah!
Pagi-pagi sudah ketemu Senpai!”
Yamano tertawa
lebar memperlihatkan gigi putihnya. Dia terlihat lebih bersemangat dari
biasanya.
“Bukan hanya itu,
kan?”
“Kok Senpai tahu?
Kemarin aku barbeque bareng Matsui-san dan yang lain!”
“Wah, itu bagus
sekali.”
“Dagingnya
kebanyakan, sampai sekarang masih terasa di perutku!”
Yamano
menepuk-nepuk perutnya sendiri.
“Mau
sentuh?”
“Tidak
lah.”
Di dunia
mana ada orang yang menyentuh perut junior lawan jenis.
Yamano
terlalu mempercayaiku, kadang jaraknya membuatku khawatir.
Katanya sih, dia
tidak punya perasaan cinta padaku.
“Aku tahun lalu
juga barbeque bareng semua orang.”
“Eh,
serius!? ”
“Dengar
dan kagetlah. Kami
melakukannya di cottage dekat pantai.”
Musim panas lalu,
kami pergi ke pantai bersama.
Rasanya baru
kemarin, tapi sudah setahun berlalu. Waktu memang berjalan cepat.
“Wah~! Aku juga
ingin ikut!”
“Tapi tahun ini
kami belum barbeque. Aku iri sama kamu.”
“Hehe, Matsui-san
yang mengajak! Ini juga berkat Senpai!”
Yamano tampak
sangat senang, sampai-sampai dia melangkah kecil di depanku.
Melihat Yamano
yang dulu berusaha berubah kini menikmati masa mudanya, aku juga ikut senang.
“Hari ini aku
juga akan latihan dengan semangat!”
Aku berjalan
menyusuri jalan menuju sekolah sambil mengikuti Yamano.
Kami tiba di
ruang musik kedua pukul sembilan lewat dua puluh lima. Tepat lima menit sebelum
mulai.
“Natsuki, Saya.
Pagi.”
Serika yang
sedang menyetel gitar menyapa kami.
“Selamat pagi!”
Yamano menyapa
dengan penuh semangat lalu langsung menuju drum set.
“Pagi, Serika.
Mana Mei?”
“Kalau
Shinohara-kun, dia ada di belakang Natsuki.”
Serika menunjuk
ke belakangku. Begitu menoleh, Mei sudah berdiri di sana.
“A-aku sudah
nggak kaget lagi!”
Meski caranya
menghilangkan kehadiran masih seperti assassin, aku sudah mulai terbiasa.
Kami sudah hampir
satu tahun bersama. Mei memang bisa muncul di mana saja.
“Bukan sengaja
mengejutkan, aku memang cuma punya kehadiran tipis.”
Mei tersenyum
pahit, tapi lalu ekspresinya melunak seperti teringat sesuatu.
“Tapi akhir-akhir
ini, Shizuki sudah bisa menyadari kehadiranku sebelum aku menyapa!”
“B-Begitu ya…”
Artinya bahkan
pacarnya, Funayama-san, kadang tidak menyadari kehadiran Mei.
“Sebenarnya
minggu depan aku mau pergi ke festival bareng Shizuki.”
“Eh, serius? Musim ini berarti Rock in...?”
“Benar sekali!”
Mei berbicara dengan wajah bersemangat. Agak iri juga.
Alasan Mei dan Funayama-san bisa pacaran adalah karena
selera musik mereka cocok.
Makanya wajar kalau tempat kencan di liburan panjang adalah
festival live.
“Bisa pacaran
dengan Shizuki itu berkat Natsuki.”
Hubungan Mei dan
Funayama-san masih berjalan baik hingga sekarang.
Setelah naik
kelas dan jadi satu kelas, hubungan mereka semakin dekat.
“Hei hei, masih
bilang itu? Aku nggak ngapa-ngapain kok.”
Mei dan Funayama-san sejak awal sudah saling suka.
Aku hanya
membantu sedikit komunikasi mereka.
“Tapi akhir-akhir
ini, kalau aku bahas band, Shizuki jadi agak cemberut. Aku nggak tahu kenapa…
dulu dia selalu senang kalau aku ngomongin musik…”
“Soal itu, aku
punya firasat yang sangat kuat…”
Karena Mei
terlalu dekat dengan Yamano, Funayama-san sedang waspada terhadap
perselingkuhan.
Aku yang pernah
mendamaikan mereka berdua, sampai-sampai sempat dimarahi Funayama-san.
“Benarkah? Aku
butuh saran dari Natsuki…”
“Begini…
sebaiknya kamu lebih memperhatikan jarak dengan lawan jenis selain Shizuki.”
“Lawan jenis
lain? Maksudnya selain Shizuki…? Kenapa…?”
Mei tampak
bingung, tapi lalu bergumam seperti baru sadar.
“Jangan-jangan
Shizuki sedang curiga aku selingkuh!?”
Sepertinya Mei
memiliki harga diri yang terlalu rendah hingga tidak terpikir soal
perselingkuhan.
“Belakangan
kamu memang terlalu dekat dengan Yamano. Makanya Funayama-san merasa tidak
tenang.”
“N-Ngerti…!
Baiklah! Mulai sekarang aku akan lebih hati-hati!”
Mei
mengangguk-angguk karena memang ada yang terpikir.
“Maaf,
Shinohara-senpai. Aku juga akan lebih berhati-hati.”
Yamano
yang sedang menyiapkan drum tampaknya mendengar percakapan tadi. Dia menunduk
ke arah Mei dengan wajah murung.
“Natsuki
bilang begitu, bukankah itu agak boomerang?”
Serika
berkata dengan wajah datar seperti biasa.
“Serika
yang satu kelas dengan Hikari bilang begitu malah…”
“Soalnya
aku sering dengar cerita tentang Natsuki dari Hikari. Termasuk keluhannya.”
Meski
wajah Serika tetap datar, nada suaranya terdengar agak bangga.
“Di
sekitar Natsuki terlalu banyak cewek cantik. Terutama aku.”
Serika menunjuk
dirinya sendiri.
“…Aku tahu. Aku
juga akan lebih hati-hati.”
Aku
sedang membuat Hikari merasa tidak tenang.
Setelah
ditegur Serika, aku merasa harus lebih menjaga diri.
Kalau ada
cowok yang terlalu dekat dengan Hikari, aku pasti juga akan cemburu.
Yang
penting adalah menjaga jarak yang tepat.
“Baik, obrolan
selesai. Persiapan sudah selesai, mari mulai.”
Sambil
berbicara tadi, kami sudah selesai menyetel mic dan gitar.
“Mau main apa?”
“Pemanasan dulu, full song Stray Luminous.”
“Siap!”
“Baik.”
Kami
mengangguk mendengar usul Serika.
“Yosh,
mulai!”
Yamano
mengetuk drumstick tiga kali.
Aku dan
Serika memetik gitar, sementara bass Mei menopang melodi.
Intro lagu baru Stray Luminous mulai mengalun.
Stray Luminous—biasa dipanggil Strumi.
Itu adalah nama baru band kami sekaligus judul lagu baru.
Setelah Iwano-senpai keluar dan Yamano bergabung, sempat ada
sedikit keributan, tapi sekarang visi kami sudah satu.
Kami akan
serius menekuni band. Dan menggelar live terbaik.
Sejak
masuk liburan musim panas, kami latihan dua sampai tiga kali seminggu.
Ruang
klub musik dan ruang musik kedua memang bisa digunakan, tapi karena harus
bergantian dengan band lain, jumlah sesi per minggu terbatas. Kami bisa menyewa
studio di live house tempat Serika kerja dengan harga murah, tapi itu kami
simpan sebagai pilihan terakhir saat mendekati live.
Liburan musim
panas ini kami tetapkan sebagai periode meningkatkan kemampuan dasar. Artinya,
kami lebih memprioritaskan latihan individu daripada latihan bersama. Latihan
individu bisa dilakukan di rumah masing-masing.
Makanya sepanjang
liburan ini, di hari tanpa klub pun aku tetap latihan gitar setiap hari.
Berkat itu, aku
sudah bisa memainkan chord gitar yang sulit tanpa kesulitan besar!
“Natsuki, sudah
semakin mahir ya.”
Setelah selesai
bermain tanpa kesalahan, Serika memujiku.
“Kalau begini,
latihan gitar setiap hari jadi ada hasilnya.”
Serika tidak
pernah berbohong.
Kalau dia memuji,
berarti aku memang benar-benar sudah lebih baik.
“Natsuki,
semangatnya tinggi ya.”
“Ya iyalah. Kan
aku sudah memutuskan untuk serius.”
Semangat semua
orang sudah menyatu, suasana latihan pun terasa tegang dan fokus.
Live kami
selanjutnya kemungkinan besar adalah Festival Budaya musim gugur.
Masih awal
liburan musim panas, jadi waktu masih banyak.
Ada tawaran untuk
tampil di festival eksternal selama liburan, tapi kami memutuskan untuk fokus
membangun fondasi dulu.
Target saat ini
adalah meningkatkan kemampuan band sambil menambah follower di SNS lewat
penampilan live dan upload video ke MeTube. Kami ingin naik perlahan tapi
pasti.
“Serika. Gimana
lagu baru?”
Saat kami
sedang latihan individu, Serika ditugaskan membuat lagu baru.
“Melodinya sudah
hampir selesai. Tapi liriknya belum.”
Serika berkata
sambil memainkan melodi itu di gitarnya.
Lalu dia
tiba-tiba menoleh ke Mei.
“Mungkin aku
minta Shinohara-kun yang buat liriknya.”
“Eh!? Aku!?”
Mei yang
tiba-tiba ditunjuk menunjuk dirinya sendiri dengan mata melebar.
“Soalnya Saya dan
Natsuki sudah pernah, jadi giliran Shinohara-kun.”
“B-Baiklah… aku
nggak yakin bisa, tapi aku akan coba!”
Dulu, Mei
pasti akan langsung bilang “Aku nggak bisa!”.
Kata “aku
akan coba” itu menunjukkan bahwa Mei sekarang benar-benar serius dengan band.
Sejak
mulai beraktivitas band, Mei juga perlahan berkembang.
“Aku juga
akan buat lirik yang memalukan seperti Natsuki dan Yamano-san!”
“…M-Maksudnya
apa!?”
Yamano
memerah dan menyergah Mei, tapi maksudnya memang seperti itu.
Lirik Stray
Luminous yang ditulis Yamano hampir seperti surat cinta untukku.
“Kalau
liriknya bagus, tidak harus memalukan sih…”
Serika
berkata dengan wajah sedikit bingung, lalu menambahkan,
“Tapi mungkin
memang lebih baik kalau kita membuka perasaan kita yang sebenarnya.”
Begitulah kesimpulannya.
“Aku juga
sependapat.”
Katanya Black
Witch adalah lagu yang mengekspresikan perasaan Serika.
Lirik Monokuro
yang aku tulis adalah ungkapan rasa terima kasih kepada semua orang yang selalu
bersamaku, sedangkan Hoshi e adalah perasaanku kepada Hikari. Dari pengalaman, kalau terlalu malu-malu,
hasilnya tidak akan bagus.
“Kalau begitu,
cukup sampai sini dulu untuk hari ini.”
Aku melirik jam
mengikuti pandangan Serika. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas.
Sudah waktunya
bergantian dengan band berikutnya. Kalau sedang fokus, waktu memang berlalu
sangat cepat.
Kami buru-buru
membereskan peralatan lalu keluar ke koridor.
Para junior Klub
Musik Ringan yang akan menggunakan ruang musik kedua selanjutnya sudah
menunggu.
“Terima kasih
atas kerjanya, Haibara-senpai.”
Yang menyapa
dengan ramah adalah Sakata-kun, teman sekelas Yamano.
Sakata-kun adalah
junior yang baik hati. Dia banyak memberiku informasi saat kasus Yamano dulu.
“Tolong ajari
gitar lagi lain kali ya.”
Karena Sakata-kun
masih pemula, bahkan aku bisa mengajari dasar-dasarnya.
“Tentu saja.
Kalau aku sedang kosong, kapan saja boleh.”
“Yosh! Nanti aku chat di RINE ya!”
Saat aku berbicara dengan Sakata-kun, Serika dan yang lain
juga mengobrol dengan junior mereka. Pemandangan yang cukup menghangatkan hati.
“Kalau gitu,
pukulnya harus ‘dooon’ gini lho!”
“D-Do… doon?”
“Iya, dooon! Biar lebih ada dinamikanya!”
Sementara itu, Yamano sepertinya sedang memberi saran kepada
gadis yang bertugas drum.
Sepertinya
dia juga cukup akur dengan teman sekelas di Klub Musik Ringan.
Memang,
Yamano aslinya orang yang ceria dan juga cantik.
Setelah
sifat kurang perhatiannya diperbaiki, tidak ada alasan lagi untuk dibenci.
“Oh, Sakata-kun
ya. Halo-halo~”
“O-ou… Yamano.”
Yamano mendekat setelah melihat teman sekelasnya.
Sementara Sakata-kun mengusap hidungnya dengan jari sambil
tersipu, seolah tidak keberatan.
Oh iya, dulu
Sakata-kun pernah bilang…
‘Tapi… kalau
dilihat lagi, Yamano itu lucu ya.’
Sepertinya dia
memang punya perasaan.
…Jadi dia jatuh
cinta?
“Band kalian
gimana?”
“Ya gimana,
soalnya semuanya masih pemula, jadi permainannya belum karuan.”
“Ahaha,
memang awalnya begitu! Tapi justru periode itu yang paling seru, kan?”
“Memang sih, aku
merasakan perkembangan sendiri… meski pelan-pelan.”
Sambil
memperhatikan percakapan Yamano dan Sakata-kun dengan perasaan campur aduk,
“Anu, Haibara-senpai.
Boleh sebentar?”
Sakata-kun
berbisik sambil menutup mulut dengan tangan.
Meski
berbicara dengan senior, dia sangat santai dan bahkan suka merangkul bahu.
Benar-benar tipe yang energik.
“Boleh
nggak aku ajak Yamano kencan?”
…Oh,
ternyata benar dia sedang jatuh cinta.
Wajah
Sakata-kun yang sedikit memerah itu sudah menjelaskan semuanya.
“Kenapa
nanya aku?”
“Soalnya
Yamano pernah bilang dia nggak akan kasih ke siapa pun.”
“Aku
nggak punya hak seperti itu. Aku cuma senior biasa.”
“Tapi
kemarin kamu bilangnya beda banget?”
Kami
berbisik agar Yamano yang sedang bengong tidak mendengar,
“Anu~
kalian dari tadi ngomong apa sih dengan suara kecil?”
Yamano mengerutkan alis dengan wajah curiga.
“Eh, itu…”
“…Nggak apa-apa
kok kalau bilang.”
Sakata-kun
berkata sambil menggaruk kepala.
Sepertinya dia
tidak keberatan kalau perasaannya diketahui. Benar-benar cowok.
“Sebenarnya kami
sedang bicara soal apakah kamu pantas punya pacar.”
“Ngomongin apaan
sih!?”
Yamano
membelalakkan mata sambil menyela.
“Kamu sudah punya
teman, sudah nyaman di kelas. Saatnya bikin pacar cowok ganteng.”
“Se-Senpai ini
ngomong dari posisi yang mana!?”
“‘Proyek
Transformasi Yamano Saya’ kan belum selesai.”
“Nggak usah
sampai segitunya!”
Yamano memerah
sambil meminta proyek itu dihentikan. Sayang sekali.
“Eh, tapi kenapa
tiba-tiba bahas ini… ah.”
Akhirnya Yamano
sadar dan menatap Sakata-kun.
Sakata-kun
menggaruk kepala malu-malu lalu mengajak,
“Kalau mau, lain
kali kita pergi bareng yuk?”
“E-eh… itu…”
Yamano
jelas-jelas tampak panik menghadapi Sakata-kun yang memberanikan diri.
“A-aku masih
terlalu dini buat pacaran~!”
Akhirnya Yamano
yang wajahnya sudah merah padam langsung lari sekencang-kencangnya.
Sepertinya dia
tidak tahan dengan suasana yang asing itu.
“Aku… ditolak…”
Sakata-kun
bersandar ke dinding dengan wajah hancur.
Para
gadis dari band yang sama mendekati Sakata-kun yang sedang patah hati.
“Sakata-kun,
kasihan sekali… tapi aku selalu di sini kok.”
Mulutnya bilang
kasihan, tapi wajahnya jelas-jelas cerah. Aneh sekali.
“Kalau aku sih,
nggak akan bikin kamu sedih kayak gitu~”
“Menurutku, pacar
itu sebaiknya orang yang sudah sering bareng dari dulu deh.”
…Band Sakata-kun
memang terdiri dari satu cowok dan empat cewek.
Empat gadis
mengerubungi Sakata-kun yang sedang patah hati.
“M-makasih ya…
kalian mau menghibur aku.”
Entah kenapa,
band ini terasa seperti akan hancur dalam waktu dekat.
“…Makanya
aku benci orang-orang yang populer…”
Mei
bergumam pelan sambil menatap Sakata-kun dengan mata gelap.
“Kan kamu
sudah punya Funayama-san?”
“Memiliki
pacar nggak langsung menghilangkan rasa benci terhadap orang populer.”
“…Begitu
ya?”
“Memang
begitu. Soalnya aku juga ingin dikelilingi cewek-cewek.”
Hei, keinginanmu
keluar begitu saja.
“Tapi kalau benar
dikelilingi cewek, kamu juga nggak bisa ngobrol dengan lancar, kan?”
“……………………Memang
benar juga.”
Setelah berpikir
lebih dari sepuluh detik, Mei mengangguk jujur.
Aku kadang juga
dilempar ke ruang yang hanya ada cewek, dan itu memang sangat canggung.
“…Mei-kun?”
Tiba-tiba
terdengar suara pelan yang penuh amarah.
Bahu Mei
yang berdiri di sebelahku langsung tersentak keras.
Begitu
menoleh pelan, di belakang kami berdiri seorang gadis berkacamata.
Pacar
Mei, Funayama-san.
“Kalian
sedang membicarakan hal yang menarik ya. Boleh aku ikut mendengar?”
Funayama-san
tersenyum, tapi matanya sama sekali tidak tersenyum.
Di
belakangnya, terasa aura gelap yang mengalir deras.
“Bukan, itu… Shizuki. Tadi itu cuma cara bicara saja…”
Mei
berkeringat dingin sambil mencoba memberi alasan dengan tergagap-gagap.
“Kalau
mau dikelilingi cewek, biar aku kelilingi kamu saja bagaimana?”
“Bukan
begitu… dengar dulu! Walaupun dikelilingi cewek, aku tetap nggak bisa ngobrol
dengan baik. Makanya aku ingin dikelilingi Shizuki! Aku cuma ingin Shizuki yang
banyak!”
Funayama-san
menatap alasan Mei yang sangat dipaksakan dengan mata dingin, lalu menghela
napas.
“…………Baiklah. Aku
maafkan.”
“Fufu, lucu.”
Serika
yang berdiri di belakang Funayama-san berkata dengan wajah datar. Sama sekali tidak lucu.
“Aku bawa Mei-kun
dulu ya. Kami mau kencan sekarang.”
“Ah, kalau
begitu… sampai jumpa di latihan klub nanti! T-tunggu, Shizuki!?”
“Ayo pergi,
Mei-kun.”
Funayama-san
menggenggam lengan Mei kuat-kuat dan menariknya pergi.
Sulit dipercaya
ini adalah gadis yang dulu terlihat pemalu saat pertama bertemu. Cinta memang
bisa mengubah orang.
“Kalau begitu,
Senpai. Kami mau latihan dulu!”
Di sisi lain,
Sakata-kun yang sudah dihibur masuk ke ruang musik kedua bersama para gadis.
Hasilnya,
aku dan Serika tertinggal di koridor.
“Kamu mau ke
mana, Natsuki?”
“Aku mau kerja
part-time sekarang.”
Berband memang
butuh biaya terus-menerus.
Untuk mencari
uang, aku harus kerja part-time.
Shift-ku dari jam
satu sampai tujuh sore, jadi harus cepat makan siang.
“Kalau begitu,
kita bubar di sini ya.”
“Kamu
nggak pulang bareng sampai stasiun?”
“Pulang
berdua bakal bikin Hikari tidak enak.”
Sepertinya dia
sedang memikirkan perasaanku yang sudah punya pacar.
“Makasih ya.”
“Kalau ada yang
mau dibahas soal band, aku nggak akan sungkan kok.”
Serika
melambaikan tangan ringan dan berkata “Sampai jumpa lagi” sebelum pergi.
Karena
aku berada di band dengan komposisi dua cowok dan dua cewek, meski tidak
dikatakan langsung, Hikari pasti merasa khawatir. Seperti yang Serika ingatkan,
aku harus lebih berhati-hati soal ini.
*
Dalam perjalanan
pulang, aku melewati lapangan.
Saat itu klub
sepak bola sedang melakukan pertandingan latihan melawan sekolah lain.
Aku berhenti
sebentar. Di tengah lapangan, Reita sedang berdiri.
Dari
posisi midfielder, dia mengedarkan bola sambil memberi instruksi kepada rekan
setimnya.
Sepuluh
rekan setim bergerak seperti tangan dan kaki Reita yang menjadi komandan.
“Lari, Kouki!”
Umpan vertikal
Reita menyusup di antara pertahanan lawan dan sampai ke penyerang.
Umpan
yang membuat penyerang bisa lari bebas. Sangat tipis dari garis offside.
Penyerang itu menusuk ke depan gawang dan menendang keras.
Bola yang
ditendang itu menggetarkan jaring gawang dengan hebat.
“Uwooooh!”
Bangku
cadangan Suzunari langsung ramai.
“Umpan
bagus, Reita!”
“Bukan,
Kouki yang hebat bisa lepas begitu.”
Reita
melakukan high-five dengan Kouki, penyerang kelas dua itu.
Reita memang
masih memiliki visi permainan yang luas seperti biasa.
Kemampuan yang
dulu dia tunjukkan di turnamen bola basket kini benar-benar dimanfaatkan di
posisi aslinya.
Beberapa menit
setelah gol itu, peluit akhir pertandingan berbunyi.
Reita dan
teman-temannya sedang bergembira. Sepertinya mereka menang.
Klub sepak bola
sudah tersingkir di babak kedua pra-interhigh musim panas, dan para senior
tahun tiga sudah pensiun sebelum liburan. Jadi tim yang sedang latihan ini
adalah tim baru yang terdiri dari siswa kelas satu dan dua.
Reita
terpilih menjadi kapten baru klub sepak bola.
Sebenarnya,
Reita menjadi kapten baru memang sudah seharusnya.
Tapi
karena kasus kekerasan yang menyebabkan skorsing, Reita sempat membuat klub
sepak bola khawatir.
Makanya
Reita sendiri tidak menyangka akan terpilih, tapi katanya ada dorongan kuat
dari rekan-rekan setimnya.
Melihat
pemandangan ini, aku bisa merasakan betapa besar kepercayaan tim kepada Reita.
Reita
yang sedang tertawa bersama teman-temannya tiba-tiba melihatku.
“Hai, Natsuki.
Kamu melihat pertandingannya?”
Sambil
menyeka keringat dengan handuk, Reita mendekatiku.
Gerakannya
yang menyisir rambut terlihat sangat keren. Tetap ganteng seperti biasa.
“Hanya
bagian akhir saja. Umpan tadi bagus banget.”
“Haha,
iya kan? Aku memang terus mengincar umpan vertikal.”
Reita
tertawa lebar memperlihatkan gigi putihnya.
“Tim baru
ini kelihatannya cukup bagus ya.”
“Iya,
waktu aku terpilih jadi kapten, aku sendiri juga khawatir.”
Reita
mengangkat bahu sambil tersenyum.
“Kamu harus
membalas kepercayaan mereka, kan?”
“Tentu saja.
Karena aku pernah mengkhianati mereka sekali.”
Reita menatap
bangku cadangan tempat teman-temannya berada sambil bergumam penuh perasaan.
“Bisa kembali
bermain sepak bola dengan tenang seperti sekarang ini berkat Natsuki.”
Reita berkata
sambil menepuk dadaku pelan.
“Aku cuma
ngebonceng mukamu kok.”
“Kalau
dipikir lagi, itu memang pelanggaran berat.”
“Saat itu aku
agak kebawa emosi…”
“Haha, aku sudah
nggak ambil pusing kok. Bertinju di pinggir sungai, itu juga bagian dari masa
muda, kan?”
“Setelah
melakukannya, ternyata lebih menyedihkan dari yang kubayangkan.”
Lagipula
sakit banget. Bertinju itu memang bukan hal yang baik.
“Realita
memang seperti itu. Tidak akan seindah cerita di novel.”
Reita
berkata sambil tersenyum, lalu menatapku lekat.
“Meski
begitu, tindakanmu memang telah mengubah kami. Kalau bukan karena kamu, aku pasti sudah keluar
sekolah dan tidak akan pernah bermain sepak bola lagi.”
“…Ya, bagus atau
buruk, begitulah.”
“Maksudnya apa?”
Reita bertanya dengan wajah bingung.
“Bukan… kalau
bukan karena aku, mungkin kasus kekerasan itu tidak akan pernah terjadi, kan?”
Lebih tepatnya,
kasus itu memang tidak akan terjadi. Aku tahu itu.
Artinya skorsing
Reita akibat kekerasan itu adalah sesuatu yang aku picu.
Saat itu, Reita
tertekan dari dua sisi: masalah keluarga dan hilangnya Miori.
Pertengkaranku
dengan Reita juga pasti menjadi salah satu penyebabnya.
Tapi kalau time
leap-ku tidak ada—yaitu di garis waktu putaran pertama—setidaknya masalah
hilangnya Miori tidak akan terjadi. Karena itu Reita juga tidak akan melakukan
kekerasan.
Di permukaan,
Reita seharusnya lulus dengan tenang.
Kalau dipikirkan,
aku hanya menciptakan masalah yang sebenarnya tidak perlu.
“Haha, nggak usah
dipikirkan sampai sejauh itu.”
Reita tertawa
seolah menganggapnya lelucon.
Wajar saja. Hanya
aku yang tahu sejarah aslinya.
“Ah, iya.
Natsuki, malam delapan Agustus kosong nggak?”
Reita tiba-tiba
mengganti topik.
“Ehm…
pagi ada klub, tapi sore dan malamnya kosong.”
Jadwalku
padat, tapi malamnya relatif longgar.
“Soalnya
ada Festival Kembang Api Maebashi, kan? Tahun ini kita pergi bareng lagi yuk?”
“Ah, benar ya! Sudah musim festival kembang api!”
Aku terlalu sibuk
sampai lupa sama sekali.
Melupakan salah
satu acara penting masa muda musim panas, ini benar-benar memalukan seumur
hidup!
“Tentu saja aku
mau pergi… tapi,”
“Kalau mau pergi
berdua dengan Hoshimiya-san, nggak apa-apa kok. Prioritaskan itu saja.”
Reita langsung
mengerti perasaanku dan berkata demikian.
“Aku akan tanya
Hikari dulu.”
“Terima kasih.
Aku nggak maksa, tapi sudah lama kita nggak kumpul semua.”
“…Benar juga.
Sudah saatnya kumpul lagi.”
Setelah naik ke
kelas dua, kami semua terpisah kelas.
Masing-masing
sibuk dengan klub, kerja part-time, piano, dan kehidupan sendiri.
Meski sering
bicara berdua atau bertiga, kesempatan berkumpul berenam sudah sangat jarang.
“Hei, Reita!
Pelatih panggil kumpul!”
Okajima-kun dari
klub sepak bola memanggil Reita dari kejauhan.
“Kalau begitu,
Natsuki. Sampai jumpa lagi ya.”
“Ya. Nanti aku
chat di RINE.”
Reita kembali ke
lingkaran teman-teman sepak bolanya.
Reita
memang paling cocok berada di tengah lingkaran seperti itu.
“…Aduh,
aku juga harus buru-buru ke tempat kerja.”
Setelah
melihat jam, ternyata waktu sudah lebih lama dari yang kukira.
*
Setelah
menyelesaikan makan siang di gerai hamburger depan stasiun, aku mendatangi Cafe
Males.
Ternyata
sudah sepuluh menit sebelum jam masuk. Harus cepat ganti baju.
“Eh,
tunggu—”
Saat
membuka pintu ruang ganti, aku merasa mendengar suara aneh.
Tapi
karena terburu-buru, aku tetap membuka pintunya.
Baru pada
detik berikutnya aku mengerti arti suara tadi. Dia sedang bilang “tunggu”.
Di balik
pintu yang terbuka, berdiri seorang gadis berambut hitam panjang dalam keadaan
hanya memakai pakaian dalam.
“H-Haibara-kun…!?”
Kulit
putih bersih yang tidak terbakar matahari. Tubuhnya yang ramping dan anggun
ternyata memiliki payudara yang lebih besar dari yang kukira, tertutup bra
putih bersih.
Dia
berusaha menutupi tubuh dengan kedua tangan, tapi hanya mampu menutupi bagian
bawah.
Dia
sepertinya tidak sadar bahwa lengannya yang bersilang justru menekan dada dan
menonjolkan belahan payudaranya.
Aku tanpa
sadar membakar pemandangan itu ke dalam ingatan sebelum buru-buru membalikkan
badan.
“Ma-maaf!”
Aku menutup pintu
dengan keras. Terdengar suara kain bergesekan tanpa ada jawaban.
Aturan di
ruang ganti adalah memasang plang “Sedang Ganti Baju” di pintu saat ada yang
berganti.
Karena
tidak ada plang, berarti Nanase lupa memasangnya.
Jadi, aku
tidak salah… seharusnya. Setidaknya
secara logika.
Sambil memikirkan
itu, pintu terbuka.
“…Maaf. Sudah
boleh masuk.”
Meski mulutnya
meminta maaf, Nanase menatapku dengan mata menyipit tajam.
“…Nanase, kamu
marah?”
“Aku nggak marah.
Aku yang lupa memasang plang.”
Meski
kata-katanya begitu, ekspresinya jelas-jelas sedang tidak enak hati.
“Hanya saja… kamu
tadi melihatnya cukup lama, bukan?”
“Bukan, bukan
begitu kok?”
Kena sasaran, suaraku langsung naik. Sangat tidak meyakinkan.
Tentu saja! Aku
juga seorang cowok!
Meski dalam hati
aku membela diri, aku tetap berusaha pura-pura tidak tahu.
“Aku cuma
kaget dan membeku saja.”
“Jadi,
kamu tidak melihat tubuhku dengan mata yang seolah menelanjangiku, begitu?”
“Tentu saja
tidak. Mana mungkin aku melakukan itu?”
Aku sama sekali
tidak memikirkan hal seperti ‘Jadi Nanase memakai bra putih ya’ sedikit pun.
Tenang dulu.
Nanase itu adikku… bukan, dia memang bukan adikku yang sebenarnya.
Nanase yang terus
menatapku dengan tatapan menusuk akhirnya menghela napas panjang.
“Sudahlah. Lebih
baik kamu cepat ganti baju. Shift sudah mau mulai.”
“A-ah, iya…”
Aku
mengambil seragam toko dari loker milikku.
Saat
hendak berganti dari seragam sekolah, aku merasakan tatapan Nanase di
punggungku.
“A-anu… Nanase-san?”
“Ada apa?”
“Aku juga mau
ganti baju…”
“Ganti saja.”
“Tapi susah kalau
dilihat terus seperti itu.”
“Kamu juga harus
merasakan apa yang aku rasakan tadi.”
Nanase
mendengus. Dia jelas masih marah!
“…Baiklah,
aku mengerti.”
Memangnya
tidak ada yang perlu ditutupi juga.
Sambil membuka
kancing kemeja, Nanase terus menatapku lekat-lekat.
Wajahnya yang
memerah semakin terlihat jelas karena kulitnya yang putih.
“Anu… kalau malu,
kamu nggak perlu memaksa melihat kok?”
Karena kasihan
melihatnya, aku menegur. Nanase langsung melotot marah.
“Melihat tubuh
cowok saja mana mungkin aku malu.”
“Kalau begitu
tidak apa-apa sih…”
Tapi kata-katanya
dan wajahnya jelas tidak sinkron.
Meski aku melepas
kemeja, aku masih memakai kaos dalam, jadi tidak ada masalah besar.
…Seharusnya
begitu, tapi entah kenapa aku merasa terancam. Tatapannya benar-benar seperti
menelanjangiku.
Jadi tadi Nanase
merasakan tatapan seperti ini ya. Aku jadi merasa bersalah.
Saat aku hendak
membuka celana,
“…A-aku keluar
dulu!”
Nanase sepertinya
tidak tahan lagi dan buru-buru keluar dari ruang ganti.
“Tunggu, Yuino-chan
kenapa!?”
“H-Haibara-kun
mulai melepas bawahnya!”
“Hah!?”
Dari luar
terdengar percakapan Nanase dan Kirishima-san. Cara bicaranya terlalu
berlebihan!
Memang salah aku
yang mengintip, tapi jangan meledakkan sendiri juga!
*
Shift hari ini
diisi tiga orang. Aku di dapur, sementara Nanase dan Kirishima-san di hall.
Meski hari biasa,
karena sedang liburan musim panas, banyak pelanggan yang masih siswa. Tapi
karena jam makan siang sudah lewat, toko tidak terlalu ramai. Suasana di dalam
cukup santai.
“Hei, Haibara-kun.”
Karena sedang
longgar, Nanase menyapa dari balik counter.
“Ada apa?”
“Ehm… itu…”
Nanase jarang
sekali terlihat ragu-ragu seperti ini.
“Bisa lihat ini
sebentar?”
Nanase
mengeluarkan ponsel dari saku dan menunjukkan layarnya padaku.
Itu adalah hasil
kompetisi piano. Nama Nanase tercantum di sana.
“Wah, kamu masuk
juara?”
“Iya. Masih hanya
tingkat daerah sih, tapi sudah lama sekali aku tidak masuk juara.”
Nanase
tersenyum bahagia.
Ekspresinya
terlihat seperti anak kecil.
“Selamat
ya.”
Aku tidak
tahu level kompetisinya, tapi jelas ini kabar baik.
“Fufu,
terima kasih.”
Sudah
sekitar setengah tahun sejak festival musik di mana Nanase berhasil mengatasi
dinding mentalnya.
Aku
memang mendengar dia mulai ikut kompetisi piano lagi, tapi tidak menyangka
sudah bisa juara.
“Kamu
ingin dipuji banget ya?”
Kirishima-san
mendekat sambil tersenyum nakal ke arah Nanase.
“…Maksudnya apa?”
“Soalnya kamu
kelihatan sangat senang. Seperti anak anjing yang mengibas-ngibaskan ekor.”
Mendengar
perumpamaan Kirishima-san, pipi Nanase langsung memerah.
Memang
benar sih, wajah Nanase seolah tertulis ‘Puji aku, puji aku’ tadi!
Sejak
festival musik itu, Nanase jadi jauh lebih jujur dalam menunjukkan emosinya.
Baik atau
buruk, dia tidak lagi menyembunyikan sisi kekanakannya. …Setidaknya di
depanku.
“Yuino-chan. Suka sama orang yang sudah punya pacar itu
nggak boleh lho. Lagipula dia teman
kerja.”
Kirishima-san
menahan Nanase dengan wajah serius.
Ekspresinya cukup
meyakinkan. Sepertinya dia punya pengalaman.
“Bukan begitu,
Kirishima-san. Aku ini ka— mngh!”
Saat aku hendak
bilang bahwa aku kakaknya, mulutku langsung ditutup oleh tangan Nanase.
“Kalau bilang
lebih lanjut, aku bunuh kamu ya!?”
Sambil menutup
mulutku dengan panik, Nanase membiarkan Kirishima-san melanjutkan.
“Aku juga pernah
mengalaminya. Suka sama cowok yang sudah punya pacar. Sambil merasa kasihan
pada diri sendiri, aku pernah mencoba peluang kecil dengan bilang ‘E~ pacarnya
galak ya’…”
Ceritanya cukup
hidup.
Ini dia,
mahasiswi tipe populer yang suka drama cinta.
“Tapi cinta
seperti itu, pasti nggak akan bahagia…”
Kirishima-san
terlihat sangat terpuruk. Seperti biasa, emosinya memang tidak stabil.
“Makanya Yuino-chan,
lupain Natsuki-kun saja! Ya!?”
“Bukan begitu!
Aku sama sekali nggak punya perasaan seperti itu pada Haibara-kun!”
Nanase
menggelengkan kepala menghadapi Kirishima-san yang sedang berapi-api (entah
untuk siapa).
“Benarkah?”
Kirishima-san
masih curiga.
Apakah Nanase
terlihat sangat dekat denganku?
“Kalau begitu,
kamu memandang Natsuki-kun seperti apa?”
Kirishima-san
mendekatkan wajahnya sambil bertanya.
“…Itu… seperti kakak… mungkin…”
Karena sudah tidak bisa mengelak, Nanase menjawab dengan
jujur.
“Ah, kakak?”
“…Iya, meski
tidak rela…”
Mungkin malu
karena mengatakannya sendiri, pipi Nanase semakin memerah.
Kalau
dibilang langsung seperti ini, aku juga ikut malu!
Aku
memang sering bercanda soal ini, tapi kalau Nanase yang bilang, ini terasa
sangat serius!
“Yuino-chan
ternyata sudah jadi wanita jahat seperti ini…”
Sementara itu,
Kirishima-san menatap Nanase dengan wajah terkejut.
“Wa-wanita
jahat…?”
Menghadapi Nanase
yang bingung,
“Itu sama dengan
cowok yang bilang ‘Dia cuma seperti adik bagiku~’!”
Kirishima-san
menunjuk Nanase dengan telunjuknya.
“Cowok seperti
itu, yang dulu bilang ‘seperti adik’, akhirnya selingkuh! Itu namanya adik
apa!? Apa selera kamu itu incest!? Hah!?”
Pernyataan Nanase
sepertinya menyentuh titik sensitif Kirishima-san.
Dia marah dengan
suara pelan agar tidak mengganggu pelanggan. Sangat terampil.
“Be-begitukah…?”
Sementara Nanase
yang disebut wanita jahat terlihat sangat terkejut.
“Mungkin kamu
yang memintanya memanggil seperti itu?”
Tiba-tiba
Kirishima-san menatapku. Rasanya seperti diarahkan ujung pedang.
“Bukan,
bukan begitu… aku nggak memaksanya…”
Memang
pernah. Aku pernah beberapa kali meminta dipanggil kakak.
Karena
merasa ada yang kena, aku diam saja. Tekanan dari Kirishima-san semakin kuat.
“Memang
benar, cowok ganteng itu kebanyakan brengsek. Jangan sampai kamu tertipu tipe seperti ini.”
Kirishima-san
memeluk bahu Nanase sambil melotot ke arahku.
“…Jangan samakan
aku dengan mantan pacar Kirishima-san dong.”
Aku sering
mendengar keluhannya setiap kali dia patah hati. Mereka memang jauh lebih parah
dariku.
“Apa maksudnya
‘mantan’ itu!? Mereka dulu orang baik lho! Awalnya!”
Kenapa kamu malah
membela mereka? Perasaanmu itu apa sih?
“Tapi sekarang
kamu bahagia dengan pacar yang baik, kan?”
“Benar!
Mereka semua berbeda dengan yang sekarang! Dia nggak selingkuh!”
Kirishima-san
tersenyum bahagia.
Fakta
bahwa kelebihan pertama yang disebutkan adalah “tidak selingkuh” menunjukkan
betapa dalamnya trauma itu.
“Fufu, ternyata
aku wanita jahat ya…”
Sementara itu,
Nanase tertawa pahit karena terkejut dengan kata-kata Kirishima-san.
“Hei, Nanase?
Jangan dipikirkan.”
“…Nggak apa-apa.
Soalnya aku memang nggak bisa membantah.”
Nanase yang
bermata berkaca-kaca mengeluarkan aura murung.
“Intinya,
cowok yang selingkuh itu brengsek! Natsuki-kun, jangan jadi seperti itu ya!”
Kirishima-san
akhirnya menutup percakapan yang sudah semakin kacau.
“Ya ya, aku
mengerti.”
Pada saat aku
menjawab, wajah dewasa Miori melintas di benakku.
‘Aku akan
membahagiakanmu.’
…Lalu kenapa?
Kirishima-san benar.
Aku sudah
bersumpah akan membahagiakan Hikari. Jadi aku pasti tidak akan selingkuh.
Tiba-tiba
kata-kata Hikari melintas di pikiranku.
‘Saat itu… hatiku
sangat sakit… tapi sedikit… terasa enak…’
…Meski
kemungkinan Hikari memiliki fetish yang agak menyimpang, itu tidak masalah!
*
Ting!
Bel pintu
masuk berbunyi.
“Selamat
datang—”
Saat aku
hendak melanjutkan, mataku langsung melebar.
“Yahho~
Natsu! YuiYui!”
“Ouh.
Maaf mengganggu ya.”
Yang
masuk adalah seorang gadis kecil dan seorang cowok bertubuh besar. Uta dan
Tatsuya.
Mereka
berdua masih memakai seragam, dengan tas klub digantung di bahu.
“Selamat
datang. Habis klub?”
Nanase
yang bertugas di hall mengantar mereka ke meja.
“Benar!
Hari ini klub cowok dan cewek selesai barengan!”
Uta
berbicara dengan riang bersama Nanase.
Sementara itu,
Tatsuya mendekat ke arahku.
Meski dibatasi
counter, tubuhnya terasa sangat besar.
“…Kamu kelihatan
semakin kekar ya?”
“Oh, kamu bisa
lihat? Ini hasil latihan keras selama setengah tahun.”
Tatsuya
memperlihatkan otot lengannya yang seperti batang pohon sambil tersenyum lebar.
“Aku
pasti sudah nggak bisa mengalahkanmu di basket lagi.”
“Mau
coba? Bukan sombong, tapi tahun ini aku sudah jauh lebih mahir.”
“Aku pasrah saja.
Kalau kamu pakai power dribble, aku pasti kalah.”
“Hei,
kabur ya? Pengecut banget.”
Tatsuya
mengeluh, tapi dia tidak benar-benar serius.
Tanpa perlu
mencoba, aku sudah yakin bisa mengalahkannya sekarang.
Lagipula setahun
lalu, kemampuan asliku memang kalah. Tapi kemenangan tetap kemenangan. Kalau
Tatsuya jadi pro nanti, aku akan bangga seumur hidup dengan kemenangan ini.
“Gimana tim
barumu?”
Tanpa sadar
pertanyaanku mirip dengan yang kutanyakan ke Reita.
“Masih sangat
jelek. Dengan ini, impian Interhigh cuma mimpi belaka.”
Jawaban Tatsuya
justru sebaliknya dengan Reita.
Klub basket cowok
mereka berhasil masuk semifinal pra-turnamen musim panas.
Di putaran
pertama, tahun kedua mereka tersingkir di babak kedua.
Perubahan hasil
ini pasti karena perkembangan Tatsuya. Setelah berhubungan denganku dan
memutuskan mengejar mimpi jadi pro, Tatsuya jelas jauh lebih mahir daripada di
putaran pertama.
“Kamu kan
kapten baru, Tatsuya?”
“Iya.
Memang nggak cocok dengan karakterku, tapi aku akan coba.”
Setelah
hasil musim panas, para senior pensiun dan Tatsuya terpilih jadi kapten baru.
Alur ini
sama dengan putaran pertama, tapi perasaan Tatsuya pasti sangat berbeda.
“Reita dan Uta
juga bisa, jadi aku pasti bisa juga.”
“Eh, itu
sindiran buat aku? Aku dengar lho~?”
Uta yang
sedang melihat menu di meja mendekat sambil mengerucutkan pipi.
“Uta juga bisa,
maksudnya…”
“Ah, Natsuki
belum tahu ya? Uta
sekarang kapten baru klub basket cewek.”
Tatsuya
berkata sambil menepuk kepala Uta pelan.
“Ya,
kurang lebih begitu…”
“Aku
benar-benar nggak tahu.”
Uta
menjelaskan sambil menyingkirkan tangan Tatsuya dengan ekspresi rumit.
“Aku kira
kapten baru pasti Miorin yang satu tahun di atas dan jadi starter utama. Tapi
tiba-tiba Miorin malah merekomendasikan aku! Kenapa aku!?”
Uta masih
terlihat tidak terima sambil memegang kepalanya.
“Tapi… aku bisa
mengerti perasaan Miori.”
Uta itu mood
maker. Dia selalu bisa mencerahkan suasana di mana pun.
“Apakah
aku benar-benar bisa…?”
“Tapi kamu sudah
jadi kapten cukup lama kan?”
“Aku memang
berusaha keras~ tapi aku sama sekali nggak percaya diri. Aku juga nggak terlalu
jago.”
“Uta pasti bisa.”
“Senang dengar
itu, tapi itu nggak punya dasar!”
“Ada dasarnya
kok. Waktu itu juga Uta yang menolong Miori.”
Saat Miori tidak
bisa mengoper bola dan bertengkar dengan senior, yang menghubungkan kedua belah
pihak adalah Uta.
“Saat itu…?”
Uta memiringkan
kepala bingung, lalu tiba-tiba sadar dan membantah.
“Itu kan
Natsuki yang menolong Miorin!?”
“Aku cuma
membantu Uta yang sedang berusaha menolong Miori.”
Suasana
klub yang hampir hancur berhasil diperbaiki berkat usaha Uta.
Kalau dipikirkan,
Uta terpilih jadi kapten baru sebenarnya wajar.
“Lagipula
Miyamoto memang nggak cocok jadi pemimpin.”
“Aku setuju. Dia
dasarnya egois.”
“Miorin kena
kata-kata kasar banget!?”
Uta
terkejut mendengar ucapan Tatsuya dan aku.
“…Kalau
Natsuki bilang begitu, aku akan berusaha.”
Uta menghela
napas.
“Meski begitu,
Tatsuya, Reita, dan Uta semua jadi kapten. Keren banget.”
Setidaknya di
putaran pertama, Reita dan Uta bukan kapten.
Karena bukan klub
yang sama, aku tidak tahu detailnya.
“Ya, aku sudah
memutuskan jadi pro. Harus bikin tim lebih kuat.”
Ekspresi Tatsuya
penuh semangat saat mengatakan itu.
“Kami kalah di
pra-Interhigh musim panas, tapi ada rasa positifnya. Kali ini kami pasti
menang.”
“Semangat ya,
Tatsuya. Aku mendukungmu.”
“Sekarang
juga boleh masuk klub basket lho? Three-mu bisa dipakai.”
“Maaf,
aku sudah memutuskan serius dengan band.”
“Tch, ya
sudah lah.”
Tatsuya
tertawa kecil lalu kembali ke meja. Uta juga mengikutinya.
Mereka sengaja
tidak ingin mengganggu pekerjaanku terlalu lama.
“Uta, mau pesan
apa?”
“Ehm… aku mau
omurice!”
“Itu juga nggak
jelek.”
“Fufu, kita pesan
yang sama?”
“…Apaan sih,
jijik banget.”
“Hah!? Ngomong
apa ke cewek yang kamu suka!”
Sambil mencuci
piring, aku melihat mereka berdua mengobrol dengan riang.
“Jadi,
pesanannya?”
Saat Nanase
bertanya, Tatsuya menjawab, “Omurice dua.”
“Ara, bukannya
jijik?”
“Ya nggak apa-apa
lah. Cewek yang aku suka mau yang itu.”
Tatsuya
mengangkat bahu. Uta langsung membelalakkan mata kaget.
“Hah!?
Aku nggak bilang mau yang sama kok!”
“Cuma
bercanda. Aku memang mau omurice juga.”
Karena
kehilangan kata untuk membantah, Uta hanya diam sambil menatap Tatsuya dengan
mata menyipit.
“Pesanannya
sudah diterima.”
Nanase
melihat keduanya sambil terkikik kecil, lalu kembali ke tempatku.
“Omurice,
dua porsi. Kamu pasti sudah dengar tadi.”
“Siap.”
Sambil
menjawab Nanase, aku mengambil telur dari kulkas.
“Belakangan
mereka kelihatan semakin dekat ya.”
“Memang.”
Memang dari dulu
mereka sudah dekat, tapi sejak naik kelas dua, kedekatan mereka terlihat
semakin jelas.
Tatsuya tidak
menyembunyikan perasaannya terhadap Uta, dan Uta pun menerimanya sambil
sesekali menggodanya. Akhir-akhir
ini aku sering melihat mereka pulang bersama setelah klub.
“Karena
Tatsuya semakin agresif mendekati Uta, kan?”
“Sepertinya
begitu. Uta juga kelihatan
tidak keberatan, jadi ini tinggal masalah waktu saja.”
Nanase satu kelas
dengan Uta, jadi dia pasti banyak mendengar ceritanya.
“Dia sepertinya
sudah benar-benar move on dari Haibara-kun.”
Seperti
yang dikatakan Nanase, akhir-akhir ini aku memang tidak lagi merasakan tatapan
Uta.
Kunjungannya
ke Cafe Males ini juga karena dia sudah kembali memandangku sebagai teman.
Kalau dia
masih punya perasaan, Uta pasti tidak akan melakukan hal yang bisa terbaca
sebagai ‘datang untuk bertemu aku’. Karena Uta selalu memikirkan perasaan Hikari.
Sejak aku mulai
pacaran dengan Hikari, Uta jelas-jelas menjaga jarak denganku.
Tentu saja saat
berkumpul bersama semua orang kami masih berinteraksi, tapi jarang sekali kami
berdua saja.
Tapi belakangan
ini dia sudah biasa menyapa secara normal.
Dia pasti sudah
menilai bahwa sekarang tidak masalah lagi.
‘……Jangan buat
aku merasa ada harapan lagi ya?’
Air mata Uta di
Festival Budaya musim gugur lalu melintas di benakku.
“…Dia sudah bisa
kembali menjadi teman dengan baik. Itu yang paling penting.”
Ada
sedikit rasa sepi di hati. Tapi hal itu sebaiknya tidak diucapkan.
Sambil
membuat dua porsi omurice, aku melirik sekilas ke meja di pinggir jendela.
Uta yang
sedang bercerita dengan semangat tentang hari ini, sementara Tatsuya
mendengarkan sambil sesekali menimpali.
“Nagiura-kun
sudah semakin dewasa dalam setahun ini.”
“…Benar. Kadang
aku malah kangen dengan kegaduhannya yang dulu.”
Setahun lalu,
Tatsuya adalah tipe cowok energik murni yang tidak pandai membaca suasana, tapi
justru menciptakan suasana sendiri. Tapi belakangan dia sudah bisa
memperhatikan sekitar dan berperilaku sesuai situasi.
“Tahu nggak?
Akhir-akhir ini Nagiura-kun cukup populer.”
“…Benarkah?”
“Iya. Tentu saja
tidak bisa mengalahkan Haibara-kun, tapi mungkin sudah mengalahkan
Shiratori-kun.”
Memang, sejak
kasus kekerasan, reputasi Reita agak menurun.
Meski sebagian
besar kesalahpahaman sudah hilang, dia masih terkesan agak menyeramkan.
“Tapi karena
Haibara-kun sudah punya pacar, secara realistis dia mungkin yang paling
populer.”
“Sebenarnya
aku heran kenapa dulu dia tidak populer. Padahal ganteng.”
“Dulu
banyak yang takut padanya. Tapi akhir-akhir ini dia mulai terlihat lebih santai
dan punya kelonggaran. Banyak yang tertarik dengan perbedaan itu.”
Nanase
berbicara dengan riang sambil menatap Tatsuya.
“Lalu
bagaimana dengan Nanase sendiri?”
Karena
akhir-akhir ini Nanase juga sering bersama Tatsuya, aku bertanya karena
penasaran.
Nanase
sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil.
“Begitu
ya. Aku mungkin juga sedikit
tertarik.”
Jadi rumor bahwa
cowok yang punya kelonggaran lebih populer itu benar.
…Tunggu,
berarti aku seharusnya tidak populer dong?
Sambil memikirkan
hal itu, dua porsi omurice pun selesai.
“Terima kasih
telah menunggu.”
Nanase membawanya
ke meja Tatsuya. Mereka
langsung menyantapnya dan mengacungkan jempol ke arahku.
Hal kecil
seperti ini terasa menyenangkan. Meski sudah naik kelas dan terpisah kelas, serta kesempatan bertemu semakin
sedikit, persahabatan kami masih terjaga.
*
Di keramaian
dekat gate Stasiun Takasaki, ada seorang gadis yang sangat mencolok.
“Natsuki-kun!”
Gadis itu——Hikari
yang melihatku langsung tersenyum cerah seperti bunga yang mekar.
Dia
melambai-lambaikan tangan dengan semangat sambil berlari menghampiriku.
Para cowok yang
diam-diam memperhatikan Hikari dari sekitar langsung pergi sambil mendecakkan
lidah.
“Selamat pagi,
Hikari.”
“Ya. Sudah agak
lama ya?”
Terakhir bertemu
di hari pertama liburan, jadi sudah satu minggu.
Hikari yang
tersenyum bahagia memakai blus lengan pendek putih dan mini skirt. Fashion yang
sejuk dan cocok untuk musim panas. Hikari memakai mini skirt cukup jarang.
“Baju ini dipilihkan Yuino-chan. Gimana?”
Pantas saja, aku
merasa ini tidak seperti selera Hikari.
“Menurutku sangat
lucu.”
“Fufu, terima
kasih.”
Hikari tersenyum
sambil sedikit malu, pipinya memerah.
“Mini skirt ini
agak sejuk dan bikin risih sih. Tapi lucu kok.”
Mungkin karena
sadar tatapan orang sekitar, Hikari berkali-kali menarik ujung roknya.
…Hm, aku
bisa mengerti selera Nanase dari pemandangan ini.
Pandangan
Nanase terhadap Hikari memang cukup bernuansa seksual (sangat偏見).
Apapun
itu, yang jelas dia sangat lucu. Hikari cocok dengan segala fashion, tapi gadis
cantik memakai baju lucu tetap kombinasi terbaik.
“J-Jangan dilihat terus dong~”
Sepertinya aku
tanpa sadar sudah terlalu lama menatap Hikari.
“Maaf.”
“Walaupun senang
sih… tapi kamu terlalu fokus ke kakiku. Mesum.”
Hikari menatapku
dengan mata menyipit sambil meninju pelan bahuku dengan kepalan tangan.
Karena aku tidak
bisa membantah, lebih baik mengalihkan topik.
“Ayo berangkat
sekarang.”
Aku menggenggam
tangan Hikari dengan santai (?), lalu mulai berjalan.
Kami melewati
gate JR dan menuju peron jalur dua arah.
Sepanjang jalan
kami terus bergandengan, tapi Hikari tampak tidak puas.
“Ada apa,
Hikari?”
“…Entah kenapa
Natsuki-kun kelihatan sudah terbiasa?”
“Terbiasa apa?”
“Aku masih
deg-degan setiap kali, tapi Natsuki-kun akhir-akhir ini kelihatan sudah biasa! Bilang lucu dengan santai, atau
langsung genggam tangan dengan natural!”
Hikari
memerah sambil mengeluh.
“Kalau
dibilang begitu… aku juga masih deg-degan kok?”
“Benarkah~?
Wajahmu kelihatan sangat santai.”
“Memang sih, dibanding awal-awal pacaran, aku sudah lebih
santai.”
Lebih tepatnya, aku sudah lebih mahir menyembunyikan
kegugupan.
“…Curang. Hanya
Natsuki-kun saja.”
Hikari tiba-tiba
menarik tanganku kuat-kuat, membuatku sedikit limbung.
Pada saat itu,
aku merasakan sesuatu yang lembut dan empuk menempel di pipiku.
Begitu buru-buru
menoleh, Hikari sedang memasang wajah “berhasil ya”.
“Na… hei…”
“Fufu, akhirnya
kamu gelisah juga.”
Hikari tersenyum
nakal, tapi wajahnya sudah merah padam.
“Di
tempat seperti ini——”
Aku
buru-buru melihat sekeliling, tapi tidak ada orang di sekitar.
“Aku
sudah memastikan tidak ada orang di sekitar kok.”
“Meski
begitu…”
“…………Terlalu
berlebihan ya. Maaf.”
Hikari
yang sudah kembali sadar mengucapkan maaf dengan wajah murung.
Melihatnya
seperti itu, rasa sayangku langsung memuncak.
“Ya sudah lah.”
Aku meletakkan
tangan di kepala Hikari dan mengelus-elus rambutnya.
Hikari
hanya diam menerima sambil tersenyum lebar, “Ehehe…”
Lucu sekali.
Kenapa pacarku ini begitu menggemaskan?
“Lihat tuh,
pasangan itu.”
“Keduanya merah
padam. Lucu banget~”
Tanpa sadar,
sepasang mahasiswa yang sudah ada di peron menggoda kami.
Sepertinya kami
sudah masuk ke dunia sendiri tanpa sadar. Sangat memalukan.
Aku mulai pacaran
dengan Hikari pada musim gugur tahun lalu.
Musim
berganti, dan musim panas datang lagi. Sebentar lagi sudah satu tahun.
Meski
begitu, kami berdua masih belum sepenuhnya keluar dari fase pasangan baru yang
manis.
*
Setelah
berganti kereta dan bus, kami tiba di kota Kiryu.
Tempat
kencan hari ini adalah ‘pantai’ Gunma, yaitu Caribbean Beach.
Nama
resminya adalah Kolam Renang Indoor Kiryu Shin-sato. Katanya menggunakan panas
limbah dari pusat kebersihan terdekat.
“Akhirnya
aku datang juga ke sini.”
“Benarkah?
Aku pernah datang dengan orang tua.”
“…Seisan tipe
yang suka ke kolam renang?”
Aku sama sekali
tidak bisa membayangkan Seisan bermain di kolam renang dengan anaknya.
“Dia tidak pernah
ikut. Jadi hanya aku dan Mama.”
“Wah…”
“Tidak apa-apa
kok. Lagipula kalau Papa ikut juga tidak ada gunanya.”
Kata-katanya
cukup pedas.
Memang ini akibat
perbuatan Seisan sendiri sih.
“Agak ramai ya~”
“Soalnya sedang
puncak liburan musim panas.”
Sambil
mengobrol, kami antri di jalur masuk.
Mayoritas
pengunjung adalah keluarga, sisanya kelompok siswa dan pasangan.
Jam menunjukkan
pukul 09.55. Belum buka tapi parkiran sudah hampir penuh.
“Dengan
banyaknya orang, bisakah kita berenang dengan nyaman?”
“Pasti lebih luas
dari yang Natsuki-kun bayangkan.”
Akhirnya pintu
masuk dibuka dan giliran kami segera tiba. Masuknya cukup lancar.
Kami berpisah di
depan ruang ganti dan berganti pakaian masing-masing.
Baju renang yang
kubawa sama dengan tahun lalu. Celana pendek berwarna hitam dasar.
Karena cepat selesai, aku keluar lebih dulu dan masuk ke
area kolam.
Area kolam sudah penuh orang, tapi karena skalanya besar,
tidak terasa sempit.
Aku melihat papan petunjuk di dekat pintu keluar ruang
ganti.
Di lantai satu ada kolam anak dan kolam arus, di lantai dua
ada kolam ombak, kolam 25 meter, dan water slide. Ada juga jacuzzi dan sauna.
Sambil menunggu
Hikari, aku melihat-lihat papan petunjuk.
Alasan aku
sedikit gelisah sudah jelas.
Ini adalah
pertama kalinya aku melihat Hikari memakai baju renang setelah satu tahun.
Aku juga seorang
cowok. Tentu saja aku ingin melihat pacarku memakai baju renang.
“Maaf lama,
Natsuki-kun!”
Suara terdengar
dari belakang.
Begitu menoleh,
Hikari sudah berdiri di sana.
Baju renang
Hikari bukan yang sama dengan tahun lalu.
“…G-Gimana?”
Tahun lalu dia
memakai baju renang dengan pareo.
Tapi musim panas
ini, dia memakai bikini sederhana.
Luas kainnya
kecil, tingkat keterbukaan tinggi. Kulit putih bersihnya yang tidak terbakar
matahari terpapar dengan jelas.
Belahan dada yang
dalam tanpa sadar menarik pandanganku.
“Tahun lalu beda
ya baju renangnya.”
“…Iya. Baru beli. Cocok nggak?”
Hikari yang memerah pipi sedang menjadi pusat perhatian para
cowok di sekitar.
Memang wajar
mengingat kecantikan Hikari, tapi tetap saja agak rumit.
“Cocok banget.”
“…Te-terima
kasih. Memang agak malu sih.”
Mungkin sadar
tatapan orang sekitar, Hikari gelisah sambil berusaha menutupi tubuhnya.
“Apa ini juga
pilihan Nanase?”
“Eh? Bukan, ini
aku pilih sendiri kok.”
Syukurlah. Mini
skirt masih bisa dimaafkan, tapi kalau bikini ini pilihan Nanase, berarti
pandangannya terhadap Hikari memang sangat seksual. Hampir saja.
“…Agak terlalu
seksi ya.”
“…Kamu sadar
juga.”
“Soalnya… aku
ingin Natsuki-kun menganggapku cantik.”
“Sangat cantik,
tapi aku nggak mau orang lain melihat terlalu banyak.”
Sambil menggaruk
kepala, aku mengatakan itu. Hikari tersenyum bahagia.
“Kalau begitu,
aku tutup dulu ya.”
Hikari
mengeluarkan rashguard dari tas dan memakainya.
Setelah
menutup resletingnya, tingkat keterbukaan langsung berkurang drastis.
“Ada jaketnya
juga.”
“Iya. Aku juga
nggak mau dilihat orang lain selain Natsuki-kun.”
Oh. Jadi aku
boleh melihat ya. Berarti aku mau lihat lebih banyak lagi!
Sambil berteriak
dalam hati, di permukaan aku tetap mempertahankan wajah datar.
“Aku kira sama
dengan tahun lalu.”
“Kamu juga sama
dengan tahun lalu.”
“Iya. Ini baru
kedua kalinya pakai sejak tahun lalu.”
Meski
begitu, bayangan belahan dada yang dalam tadi masih melekat di benakku.
…Sepertinya
agak lebih besar dari tahun lalu…
“Aku juga
begitu sih…”
Tenang,
Natsuki. Ini bukan saatnya memikirkan hal kotor.
Hari ini
aku harus bersenang-senang di kolam renang bersama Hikari. Lupakan pemandangan
tadi.
“Sebenarnya…”
Tanpa
tahu aku sedang berusaha mengalihkan pikiran, Hikari bergumam pelan.
“Baju renang
tahun lalu agak kekecilan…”
…Di mana? Tidak
perlu ditanya. Jelas bagian atasnya.
Dari dua pilihan
atas dan bawah, yang ukurannya bisa berubah adalah bagian atas.
“…”
Karena aku diam
saja, Hikari menoyor bahuku pelan.
“…Katakan sesuatu
dong.”
Hei, apa yang
harus kukatakan!
Tingkat kesulitan
komunikasinya terlalu tinggi!
*
Setelah
menemukan tempat menyimpan barang, kami langsung masuk ke kolam arus.
Karena kolam air
hangat, suhu airnya pas dan nyaman. Arus mendorong punggung sehingga tubuh
secara alami meluncur ke depan.
Hikari
meletakkan lengannya di pelampung yang disewa dan mengalir dengan senang.
“Enak
sekali~”
Aku
berjalan di samping Hikari.
By the
way, walking in water adalah olahraga yang baik untuk sendi dan efektif. Dulu
saat diet sebelum masuk SMA, aku sering melakukannya di kolam gym. Nostalgia.
“Agak
jauh sih, tapi senang akhirnya datang.”
“…Benar
juga.”
Alasan
kencan hari ini di kolam renang adalah karena Hikari bilang “Tahun ini aku
ingin ke pantai lagi”. Seminggu
lalu saat telepon malam, kami mengenang liburan musim panas tahun lalu bersama
semua orang.
Bersaing crawl
dengan Tatsuya, ditenggelamkan Miori saat naik pelampung, ditembak air pistol
oleh Uta, beristirahat di bawah payung dengan Nanase, banana boat yang
terbalik, makan siang sambil ngobrol konyol dengan Reita dan Tatsuya, terkejut
dengan permainan pasir Serika yang rumit, melindungi Hikari yang jadi target di
beach volley… Benar-benar menikmati pantai sepenuh hati.
Itu adalah musim
panas yang seperti keajaiban. Aku masih bisa mengingat pemandangan saat itu
dengan jelas.
Tapi musim panas
ini, tidak ada rencana pergi ke pantai bersama semua orang.
Kami sempat membahas di RINE, tapi jadwal tidak
cocok.
Ditambah klub musik ringan, basket cowok, basket cewek,
sepak bola, dan klub sastra yang berbeda, Nanase ada piano, Hikari ada
pekerjaan novel.
Beberapa orang juga kerja part-time, ditambah urusan
keluarga. Situasinya sangat berbeda dengan tahun lalu saat orang-orang yang
longgar jadwalnya bisa menyesuaikan.
“Sayang tidak bisa ke pantai bareng semua orang… tapi terima
kasih sudah mengajak.”
Karena Hikari
terlihat sedih, aku mengajaknya ke kolam renang. Ini bukan pengganti pergi ke
pantai bersama, tapi semoga bisa memberi kesenangan yang berbeda.
“Aneh ya. Musim
panas lalu semua orang bisa pergi tapi aku yang tidak pasti, musim panas ini
malah sebaliknya. Aku yang bisa, tapi semua orang yang susah.”
Satu tahun memang
bisa mengubah banyak hal.
Intuisiku bahwa
musim panas itu tidak akan datang lagi ternyata benar.
“Syukurlah tahun
lalu sempat pergi.”
“Iya. Kalau tidak
pergi saat itu, pasti menyesal.”
“Hari-hari
menemani Hikari yang menulis novel di kafe sangat kukenang.”
“…Sudah satu
tahun ya. Saat itu aku merepotkan Natsuki-kun sekali.”
“Waktu itu bahkan
aku yang biasa juga bingung saat mendengar kamu tiba-tiba kabur dari rumah.”
“Lagipula kamu
datang sampai stasiun terdekat rumahku… kalau dipikir lagi, sejak awal kamu
memang berniat mengandalkanku. Aku mungkin gadis jahat yang memanfaatkan
kebaikanmu.”
“…Kamu bilang
sendiri?”
“Aku percaya di
lubuk hati bahwa Natsuki-kun pasti akan menolongku.”
“Tapi dulu kamu
kan tidak suka padaku?”
“Awalnya iya.
Tapi wajahmu dari awal sudah kusukai.”
“Itu pujian apa
sindiran?”
Saat aku menyela,
Hikari terkikik.
“Meski tidak bisa
kembali ke masa lalu, semua itu menjadi pengalaman yang membentuk diriku
sekarang.”
Cara
bicaranya seperti kalimat dalam novel, agak dramatis.
“Kalau bukan
karena Natsuki-kun, aku masih akan menjadi boneka ayahku. Pasti tidak bisa
membuat kenangan indah di masa muda, dan akan terus menyesal seumur hidup.”
Hikari
diam-diam menggenggam tanganku di dalam air. Genggaman kekasih.
“Makanya,
Natsuki-kun. Aku sangat bahagia sekarang bisa mengejar mimpi bersama orang yang
kucintai. Semua ini berkat Natsuki-kun yang menolongku.”
Senyum Hikari
bersinar seperti pelangi.
“Aku juga, saat
ini adalah yang paling bahagia.”
Dulu masa mudaku
berwarna abu-abu, sekarang aku menulis ulangnya menjadi penuh warna.
Motivasiku
sebenarnya hanya itu, tapi akhir-akhir ini banyak orang yang berterima kasih
padaku.
Kalau tindakanku
bisa membahagiakan orang-orang di sekitarku, aku juga senang. Berarti time leap
ini ada artinya.
“Karena Hikari
dan semua teman mau bersama dengan diriku yang seperti ini.”
“Natsuki-kun bisa
mengatakan kalimat memalukan dengan wajah serius ya~”
“Hikari
yang tadi bilang hal lebih memalukan!”
Sedang suasana emosional! Tiba-tiba tangga ditarik!
“Mau pakai
pelampung juga, Natsuki-kun?”
Hikari terkikik
sambil menyodorkan pelampung.
“Kalau begitu,
aku pakai ya.”
Aku masuk
ke dalam pelampung dan menyandarkan berat badan.
Sensasi
melayang-layang mengikuti arus terasa nyaman.
Sepanjang itu,
Hikari seharusnya berjalan di samping——tapi entah kapan dia menghilang.
Saat aku heran ke
mana dia pergi, jawabannya muncul tiba-tiba di belakang.
Hikari menyusup
ke dalam pelampung yang sama dan menempel erat di punggungku.
“H-Hei Hikari!?”
“Begini pas untuk
berdua!”
Saat menoleh ke
belakang, wajah Hikari yang basah berada sangat dekat.
Hikari
memelukku dari belakang sambil bersandar di pelampung.
Payudaranya
yang besar menempel erat di punggungku.
Sensasi lembut
dan kenyal itu terasa nyaman.
Meski kolam arus
ramai, semua orang sibuk dengan kelompok masing-masing, jadi kami tidak terlalu
mencolok… tapi tetap saja memalukan.
Aku melepaskan
lengan Hikari yang melingkar di punggung, lalu menyelam sebentar dan keluar
dari pelampung.
“Ah, kenapa
kabur?”
Hikari
mengerucutkan pipi dengan wajah cemberut.
Sepertinya
dia tidak sadar betapa destruktif kekuatannya. Atau mungkin dia melakukannya dengan sengaja…
entah mana pun, itu menyeramkan. Jadi beginilah rasanya wanita yang punya daya
tarik iblis.
“Bukan, soalnya…
itu terlalu menempel banget…”
Begitu aku
menunjukkan, Hikari memalingkan wajah sambil memerah.
Ini pasti tipe
‘aku sengaja melakukannya, tapi malu kalau dibilang langsung’!
Setelah pacaran
hampir sepuluh bulan, aku mulai sedikit memahami kepribadian Hikari.
“…Jangan lakukan
itu lagi. Mesum banget.”
Yang mesum itu
siapa sih.
Tolong jangan
godain aku terus. Bagaimana kalau aku benar-benar berubah jadi binatang?
Well, mungkin dia
melakukannya karena tidak masalah kalau aku jadi binatang…
“Oh iya… Reita tadi nanya apakah delapan Agustus kosong.”
Aku memutuskan untuk mengalihkan topik dengan sekuat tenaga.
“Delapan Agustus? …Ah, benar. Hari Festival Kembang Api
Maebashi ya.”
“Dia mengusulkan
supaya kita semua pergi ke festival kembang api bersama.”
“Tentu saja aku
mau! Aku ingin berkumpul dengan semua orang!”
“Kalau begitu,
aku balas ke Reita ya.”
“Terima kasih!”
Hikari mengangguk
sambil tersenyum, lalu melanjutkan.
“Sebenarnya aku
juga mau mengajak Natsuki-kun sendiri.”
Dia
langsung mengerti hanya dari tanggal delapan Agustus. Jadi itu alasannya.
“Tapi kalau pergi
bersama semua orang, aku juga bisa bertemu Natsuki-kun. Dua keuntungan
sekaligus.”
“Tapi kita tidak
bisa berduaan, jadi tidak bisa mesra-mesraan lho?”
“Untuk itu, hari
ini aku akan isi ulang dulu!”
“Uwoh!?”
Hikari menangkap
bahuku dan mendorongku ke dalam kolam dengan bunyi “byur”.
Dia
sendiri yang mendorong, tapi sekarang sedang menggapai-gapai di dalam air. Aku
menangkap tubuhnya.
Di dalam
air, mata kami bertemu. Ekspresi Hikari yang panik berubah menjadi lega.
Sesaat, bibir
kami bersentuhan.
Kami naik ke
permukaan bersama.
“…Hei, Hikari?”
Aku bertanya,
tapi Hikari diam saja dan membalikkan badan, lalu keluar dari kolam.
“Aku agak capek,
istirahat yuk.”
…Kenapa dia bisa
setenang itu?
Aku juga keluar
dari kolam. Entah kenapa Hikari terus membelakangiku. Telinganya yang terlihat
dari sela rambut basah itu merah padam. Dia sama sekali tidak tenang.
“…Tidak
enak?”
“…Bukan
tidak enak sih.”
Akhir-akhir
ini serangan Hikari semakin gencar. Aku ingin dia agak menahan diri.
Hatiku
yang sudah lama hancur ini bisa benar-benar menjadi debu.
Sudah
sekitar sepuluh bulan sejak kami pacaran. Kami sudah bergandengan, berpelukan,
dan berciuman… tapi belum lebih dari itu. Bisa dibilang hubungan yang sehat.
Tapi,
kalau dibilang aku hanya kehilangan timing untuk melangkah lebih jauh, aku juga
tidak bisa membantah. Karena… kalau firasatku benar, Hikari sepertinya juga
menginginkannya. Meski kami masih SMA, apa boleh hubungan kami terus stagnan
seperti ini?
Setelah pacaran
sekian lama, aku mulai terbiasa dengan kehidupan punya pacar.
Aku juga mulai
memahami apa yang dilakukan saat kencan.
Tapi selanjutnya
adalah wilayah yang belum kuketahui. Tentu saja aku juga punya keinginan untuk
melanjutkan hubungan dengan Hikari. Tapi kalau terburu-buru, aku khawatir akan
melukai Hikari.
Ini bukan masalah
yang bisa diselesaikan dengan “terus maju maka jalan akan terbuka”.
Ini
masalah yang harus kupikirkan dengan matang dan kujawab dengan hati-hati.
*
Kami yang
lelah berenang sedang beristirahat di pinggir kolam.
Karena
Caribbean Beach adalah kolam renang indoor, kami tidak kepanasan terkena sinar
matahari.
Memang
tidak ada AC, tapi jauh lebih baik daripada di luar.
“Natsuki-kun,
menurutmu sepuluh tahun lagi kamu sedang melakukan apa?”
Hikari
bertanya sambil minum sport drink.
“Kenapa
tiba-tiba bahas itu?”
“Hm~
entahlah? Soalnya sebentar lagi saatnya memikirkan masa depan.”
Memang
benar, sekarang sudah liburan musim panas tahun kedua.
Sudah saatnya
mulai memikirkan pilihan setelah lulus.
“Begini… aku
pasti akan bekerja di perusahaan biasa saja.”
Meski aku
serius berband dengan Serika dan yang lain, aku tidak melihat masa depan
menjadi profesional.
Setidaknya,
kemampuan kami sekarang belum sampai ke level itu.
“Kamu mau kerja
di perusahaan apa?”
“Perusahaan
konstruksi umum.”
Hikari berkedip
bingung mendengar jawabanku yang singkat.
“…Cukup
spesifik, kamu memang ingin masuk ke bidang konstruksi?”
“Bukan,
bukan begitu.”
“Apaan
sih itu.”
Hikari
tertawa geli mendengar jawabanku.
Wajar dia
bingung. Aku hanya menceritakan isi mimpi yang akhir-akhir ini sering kulihat.
Kalau aku
tidak melakukan time leap dan menjalani hidup seperti biasa, apa yang akan
terjadi.
Kalau harus
diberi nama, mungkin ‘masa depan yang benar’.
Di ‘masa depan
yang benar’ itu, aku bekerja biasa saja, lalu bertemu kembali dengan Miori.
Lalu melihat
Miori membuatku teringat perasaan cinta, dan kami mulai berpacaran.
Mimpi itu terasa
sangat nyata dan meyakinkan. Sulit dianggap sekadar mimpi biasa.
“――Saat itu,
siapa yang berada di samping Natsuki-kun?”
Tiba-tiba aku
merasa jantungku dingin.
Hikari
tersenyum sambil menatapku lekat-lekat.
Baginya, ini
mungkin hanya godaan biasa saat mesra-mesraan.
“Tentu saja
Hikari.”
Maka aku
berbohong.
Lebih tepatnya,
aku tidak punya pilihan selain berbohong.
Aku tahu Hikari
memiliki daya observasi yang tajam.
Tapi aku tidak
mungkin mengatakan bahwa yang berada di sampingku adalah Miori.
“Memang aku sudah
menduga!”
Hikari tersenyum
lebar seolah puas.
“Lalu Hikari
sendiri?”
Karena takut
digali lebih dalam dan keceplosan, aku mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan
menjadi novelis. Dan best seller pula!”
“Itu mimpi yang
bagus sekali.”
Saat aku
menimpali, Hikari melanjutkan dengan riang.
“Aku debut saat
masih SMA, lalu kuliah di jurusan sastra. Tapi novel debutku tidak terlalu
laku, jadi setelah lulus aku kerja di perusahaan Papa sambil menulis novel
sampingan.”
“Cukup detail
ya.”
“…Lalu, sekitar
usia dua puluh lima aku mengeluarkan karya hits. Diadaptasi jadi film! Jualan
jutaan eksemplar! Pekerjaan novel semakin banyak, penghasilanku sebagai penulis
stabil, jadi aku jadi penulis penuh waktu. Karena tidak ada pekerjaan utama
lagi, hidupku jadi agak longgar… tapi saat itu…”
Suara Hikari yang
tadinya bersemangat tiba-tiba kehilangan warnanya.
“――Di sampingku,
Natsuki-kun tidak ada.”
Matanya yang
sedih menatapku lekat.
Kenapa dia
mengatakan hal seperti ini? Seperti pembicaraan perpisahan.
“…Aku yang
mengabaikan Natsuki-kun. Karena sibuk kerja dan menulis novel, aku tidak punya
waktu untuk bertemu Natsuki-kun. Meski begitu, aku tetap memprioritaskan novel.
Akhirnya perasaan Natsuki-kun menjauh dariku… saat aku sadar, semuanya sudah
terlambat. Makanya di sampingku yang sudah mewujudkan mimpi, tidak ada seorang
pun.”
“Apakah Hikari
bisa melihat masa depan?”
“Bukan. Hanya
mimpi yang aku lihat saja.”
“Kalau begitu,
tidak perlu dipikirkan.”
Sama seperti
mimpi yang aku lihat. Tidak ada gunanya memikirkannya.
Yang membuatnya
terasa sangat nyata pasti karena imajinasi Hikari yang kuat.
“Seberapa pun
sibuknya Hikari, aku akan selalu berada di sampingmu.”
Begitu aku
katakan, Hikari mengangguk bahagia.
“Terima kasih,
Natsuki-kun.”
“Mungkin karena
itu akhir-akhir ini kamu sangat mesra…”
“…Aku agak takut.
Meski tahu itu hanya mimpi.”
Hikari memerah
sambil malu-malu.
“…Tidak apa-apa
kok. Kalau itu memang masa depan yang sebenarnya,”
Meski mimpi itu
benar-benar gambaran akurat masa depan berdasarkan daya observasi, penalaran,
dan imajinasi Hikari, tetap ada cara menyelesaikannya.
“Kalau kita tahu
itu akan terjadi, tinggal kita ubah supaya tidak terjadi.”
Memang selama ini
aku selalu melakukan itu.
Meski mengetahui
putaran pertama, aku terus mengubah dunia putaran kedua.
“Begitu ya.
Jawaban yang sangat mirip Natsuki-kun.”
Hikari mengangguk
seolah puas.
Lalu seolah
teringat sesuatu, dia bertanya.
“Kamu tahu time
paradox?”
“Waktu pergi ke
masa lalu lalu mengubah sesuatu, lalu bertentangan dengan keadaan sekarang…
seperti itu kan?”
Tentu saja aku
tahu.
Karena aku
sendiri adalah pihak yang mengalami fenomena time leap.
Aku sempat
mencari berbagai teori semacam itu tepat setelah time leap.
Tapi pada
akhirnya tidak ada jawaban yang menjelaskan apa yang terjadi padaku.
Aku hanya bisa
berpikir bahwa Tuhan mengabulkan keinginanku untuk ‘mengulang masa muda’.
“Kenapa tiba-tiba
bahas itu?”
“Karena logika
Natsuki-kun tadi justru akan menyebabkan time paradox.”
Memang aku bilang
‘kalau tahu masa depan yang sebenarnya, tinggal kita ubah’.
“Dalam kasus ini,
bukankah ‘masa depan yang sebenarnya’ itu sendiri akan hilang?”
“…Benar juga.
Kalau kita anggap itu hanya khayalanku, tidak ada kontradiksi.”
“Lalu,” Hikari
melanjutkan.
“Kalau aku tahu
masa depan sepuluh tahun lagi, lalu kembali ke masa lalu untuk mengubahnya…
berarti time paradox sedang terjadi, kan?”
…Kenapa dia
membahas hal seperti ini?
Yang membuatnya
terasa meyakinkan adalah karena aku sendiri adalah korban time leap.
Tidak adil kalau
aku berpikir fenomena ini hanya terjadi padaku saja.
Meski
begitu, tidak ada hal yang aneh dalam tindakan Hikari… sepertinya.
Setidaknya
di awal, dia melakukan hal yang sama seperti yang kuingat di putaran pertama.
“Dalam
kasus ini, apa yang terjadi pada masa lalu yang sudah diubah? Secara umum ada
tiga hipotesis.”
Sambil
aku berpikir, Hikari melanjutkan pembicaraan.
“Pertama, meski
bisa kembali ke masa lalu, kita tidak bisa mengubah apapun. Kalau terjadi
sesuatu, ada kekuatan takdir yang membuatnya sia-sia. Artinya tidak ada yang
berubah dan tidak bisa diubah.”
Cara bicaranya
sangat lancar.
“Kedua, masa kini
akan berubah sesuai dengan intervensi di masa lalu. Artinya, kalau aku kembali
ke masa lalu dan membunuh Papa, keberadaanku akan hilang… seperti itu.”
Seolah dia sudah
lama meneliti hal ini.
“Ketiga, saat
kembali ke masa lalu, dunia itu menjadi parallel world. Jadi berapa pun kita
mengubah masa lalu, itu tidak akan memengaruhi dunia tempat kita hidup.”
Ini seharusnya
hanya obrolan biasa dan hipotesis semata.
“Menurut
Natsuki-kun, hipotesis mana yang benar?”
“…Bukankah ini
bukan pertanyaan yang ada jawabannya?”
“Cuma firasat
saja.”
“Yang ketiga,
kurasa.”
“Kenapa berpikir
begitu?”
“Yah, tidak ada
alasan khusus. Hanya firasat…”
Kalau harus
disebutkan, karena akhir-akhir ini aku sering melihat mimpi yang sangat nyata.
Di dunia tanpa
time leap, aku menjalani kehidupan yang tidak kukenal.
“…Hanya karena
aku merasa yang itu lebih baik.”
Hipotesis pertama
sudah terbantah karena aku sudah bisa mengubah masa lalu.
Hipotesis kedua
sangat mungkin. Karena aku tidak bisa kembali ke masa depan, aku tidak tahu
kebenarannya.
Makanya aku
berharap yang ketiga yang benar.
Karena kalau
tindakanku sekarang sedang mengubah masa depan itu,
Kalau hari-hari
indah bersama Miori yang sudah saling menguatkan cinta itu menjadi tidak pernah
ada,
…Aku tidak suka
itu.
“Terima kasih,
Natsuki-kun. Sangat membantu.”
Tanpa sadar,
Hikari sedang mencatat serius di ponselnya dengan wajah serius.
“…Apakah
novel selanjutnya bergenre SF?”
“Fufu,
benar sekali! Terima kasih sudah menjawab dengan baik!”
Hikari
tersenyum lebar seolah sedang memeriksa jawaban.
…Ternyata
hanya soal novel. Aku jadi deg-degan sia-sia.
“Begini,
tokoh utamanya adalah gadis yang time leap ke masa lalu! Lalu dia menyelesaikan
masalah yang dulu menyiksanya dengan pengetahuan dari masa depan! Menarik kan?”
“…Ya,
cukup menarik?”
Situasiku
sekarang terlalu mirip, jadi malah sulit menganggapnya menarik!
Memang
aku tidak pernah menyelesaikan segalanya dengan santai menggunakan pengetahuan
masa depan.
“Semalam
aku memikirkan novel itu terus, lalu mimpi buruk bahwa diriku sepuluh tahun
lagi berpisah dengan Natsuki-kun… pagi tadi aku bangun sambil menangis.”
Hikari
menceritakan maksud sebenarnya sambil pelan menggenggam tanganku.
“Tapi Natsuki-kun
menyangkalnya, aku senang sekali.”
Melihat senyum
Hikari yang seperti matahari, hatiku tetap tidak bisa tenang.
Entah kenapa aku
merasa sangat bersalah. Padahal aku tidak melakukan apa-apa.
…Meski mimpi itu
memang ‘masa depan yang benar’,
Bagi diriku sekarang yang kembali ke masa lalu untuk mengulang masa muda, itu tidak ada hubungannya.



Post a Comment