NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 11 Chapter 3

Chapter 3

Jejak Tujuh Warna


Hari ketiga karyawisata telah dimulai.

Langit mendung tampak muram. Hujan gerimis turun rintik-rintik.

Meski cuacanya kurang bersahabat, ini jauh lebih baik dibandingkan hujan badai kemarin. Jadwal hari ini adalah studi wisata menggunakan taksi per kelompok. Kami akan bertindak sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya.

Bisa dibilang ini adalah puncak dari acara karyawisata.

Hanya saja, dengan cuaca seperti ini, tempat yang bisa dikunjungi jadi terbatas. Meski begitu, kami sudah menyusun rencana cadangan untuk kondisi hujan.

"Baiklah, ayo kita berangkat."

Setelah memastikan seluruh anggota kelompok sudah berkumpul, aku memberikan komando. Aku berpura-pura tampak ceria di permukaan agar tidak membuat mereka merasa khawatir.

Tatsuya, yang kemarin secara tiba-tiba kuberitahu soal time leap, sejauh ini tidak menyinggung masalah itu sama sekali.

......Apa dia pikir aku sudah gila?

"Pertama, kita ke Okinawa Churaumi Aquarium, ya."

Reita berkata sambil melihat jadwal untuk cuaca hujan. Di depan lobi hotel, banyak sekali taksi yang berdatangan.

Mengikuti instruksi guru, kami naik ke dalam taksi secara bergantian.

Karena sekolah kami membagi kelompok menjadi lima sampai tujuh orang, setiap kelompok akan berkeliling menggunakan dua taksi sekaligus. Jadi, kami terbagi menjadi kelompok laki-laki—aku, Tatsuya, dan Reita—serta kelompok perempuan—Miori, Fujiwara, dan Kurahashi-san. Destinasi pertama kami adalah Churaumi Aquarium.

Churaumi Aquarium berjarak sekitar satu setengah jam perjalanan dengan mobil dari hotel kami sekarang.

Ini akan menjadi perjalanan panjang sejak awal, tapi rencana perjalanannya memang perlahan akan kembali ke arah kota Naha.

"Asyik, tidak sabar!"

"......Ya, benar juga."

Meski aku mengatakannya dengan ceria, Reita merespons dengan nada yang rendah. Mungkin saja dia sudah mendengar tentang kondisiku dari Tatsuya atau Miori.

Reita duduk di kursi penumpang depan, sedangkan aku dan Tatsuya duduk bersebelahan di kursi belakang. Entah karena pengemudinya orang yang pendiam, dia tidak mengajak kami berbicara sama sekali.

"Hei, Natsuki."

Tatsuya memanggilku sambil menatap ke luar jendela.

"......Ada apa?"

Apa dia ingin menyinggung pembicaraan kemarin?

"Aku bingung harus mulai dari mana, tapi karena aku bukan orang yang pandai berkata-kata, aku akan langsung pada intinya."

Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Tatsuya menatap mataku dengan lurus.

"――Jangan menyerah, Natsuki."

"......Itu, ditujukan untuk apa?"

"Bukankah kau ingin mengubah masa mudamu yang kelabu menjadi penuh warna?"

"Sudah kubilang, kalau aku mengubah sejarah seperti itu, semua orang akan—"

"――Kami tidak akan menderita karenanya."

"Tatsuya bisa bilang begitu karena kau tidak tahu dunia di putaran pertama. Kalau kau melihat dunia putaran pertama itu dan bisa memilih salah satunya, kurasa kau pun akan memilih dunia putaran pertama."

"Aku berani bertaruh, aku tidak akan memilihnya."

Tatsuya menegaskannya seolah dia sangat yakin.

"Lagipula, kau tidak punya hak untuk menentukan kebahagiaan kami."

......Memang benar, itu mungkin keangkuhanku karena akulah yang diserahi pilihan untuk menentukan nasib dunia.

"Atau begini... pertanyaan mendasarnya, apa kau percaya padaku?"

Saat aku bertanya begitu, Tatsuya mengangkat bahunya.

"Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, memang aneh sih. Aku yang jago basket sejak SMP bisa kalah satu lawan satu denganmu. Begitu mengingat itu, aku jadi bisa menerima fenomena supernatural ini."

Tepat setelah masuk sekolah, aku menantang Tatsuya bertanding basket. Saat itu, aku menang dengan memanfaatkan teknik yang kupelajari di masa depan dan pengetahuanku tentang Tatsuya.

"......Maaf ya. Aku menang melawanmu dengan berbuat curang."

"Curang?"

"Di dunia putaran pertama, aku berada di klub basket bersamamu selama tiga tahun SMA."

"......Begitukah?"

Tatsuya membelalakkan matanya.

"Ya. Aku cuma cadangan, tapi kau adalah Ace di tim."

"Cadangan? Dengan kemampuanmu?"

"Karena aku memang murni payah. Tapi setidaknya aku melakukannya selama tiga tahun SMA, dan saat kuliah pun aku terus latihan shooting sebagai hobi. Jadi, kalau lawannya Tatsuya saat kelas satu SMA, aku masih bisa mengimbangi."

"......Jadi begitu ceritanya."

"Lagipula, aku menang karena aku tahu kebiasaanmu. Kemampuan asliku sebenarnya kalah."

"Hah. Meski begitu, aku tidak menganggapnya curang."

Tatsuya tertawa kecil meremehkan kata-kataku.

"Lagipula, belakangan ini banyak orang yang menyiapkan strategi untuk melawanku. Bukankah itu justru keseruan dari basket? Selama kita bertarung di dalam koridor aturan, aku tidak punya keluhan."

Lagipula, tambah Tatsuya lagi.

"Karena kau sudah mematahkan harga diriku, aku jadi makin jago basket."

"Tidak juga. Tatsuya di dunia putaran pertama pun sudah hebat."

"Ini cuma firasatku saja, tapi kurasa aku yang sekarang lebih berkembang daripada aku yang ada di duniamu. Ini bukan cuma soal basket. Benar, kan?"

"Itu..."

......Memang benar, mungkin saja begitu.

Tatsuya saat ini berlatih jauh lebih serius dibandingkan putaran pertama. Begitu juga dengan pelajaran; di putaran pertama dia selalu kesulitan, tapi sekarang nilainya ada di peringkat atas. Sebagai manusia pun, dia lebih memperhatikan sekeliling dan bersikap lebih santai.

"Berkat hari-hari yang kuhabiskan bersamamu, aku jadi berkembang."

Melihat diamku sebagai persetujuan, Tatsuya tertawa dengan riang.

"Memang, pasti ada banyak masalah yang terjadi karena time leap-mu. Seperti musim semi tahun lalu, saat aku iri padamu yang terlalu sempurna dan keluar dari grup."

"......Ya."

"Tapi, bukankah wajar kalau masalah bertambah saat kita berinteraksi dengan orang lain?"

"......Itu kan cuma pembelaan dirimu saja."

"Kalau kau berpikir kami jadi lebih menderita daripada dunia putaran pertama gara-gara masalah yang kau buat, kau salah besar. Setidaknya bagiku, masalah itu justru membuatku berkembang."

Tatsuya tertawa lebar hingga memperlihatkan giginya yang putih.

"Kalau tidak ada kau yang sekarang, aku mungkin tidak akan belajar, aku tidak akan latihan serius karena tidak kepikiran untuk jadi atlet basket profesional, dan aku tidak akan berusaha menjadi pria yang bisa memikat hati Uta. Mungkin aku akan menjalani hidup yang setengah-setengah."

"......Kau mengatakannya seolah-olah kau sudah melihatnya."

"Aku jauh lebih mengenal diriku daripada kau mengenal diriku. Aku bisa membayangkannya."

Pernyataan itu punya daya persuasif yang kuat. Meski itu dunia putaran pertama, dia tetaplah dirinya sendiri.

"Memang dalam satu setengah tahun ini, banyak hal yang terjadi, ya."

Tatsuya menatap ke luar jendela seolah sedang mengenang masa lalu.

"Meski ada tangisan dan penderitaan, itu adalah waktu yang sangat berharga dan menyenangkan."

......Perasaanku pun sama. Jejak masa muda yang telah kulalui ini diwarnai dengan pelangi yang indah.

"Tapi dibandingkan masa lalu, masa sekarang jauh lebih menyenangkan."

"......Eh?"

"Aku bisa menyukai diriku yang sekarang. Itu semua berkat kau yang berada di sini."

Tatsuya, yang dulu pernah bilang dia membenci dirinya sendiri, menepuk dadaku dengan ringan.

"......Tatsuya."

Ada perasaan yang meluap di dalam dadaku.

'Hei Natsuki. Maaf ya, aku tidak bisa membelamu lagi. Lebih dari itu—aku kesal padamu.'

Bahwa Tatsuya yang itu bisa berkata sejauh ini padaku.

"......Bagiku, Tatsuya adalah sosok yang kukagumi."

Karena tidak perlu merahasiakannya lagi, kata-kata itu mengalir keluar dengan lancar.

"Kau orang hebat yang berdiri di pusat perhatian baik di kelas maupun klub, dan kau orang pertama yang jadi temanku."

"Apa, jadi di dunia sebelumnya pun kita berteman?"

"......Ya. Tapi aku yang terbawa suasana dan membuat Tatsuya membenciku."

"Membenciku? Kau?"

"Bukan cuma Tatsuya. Aku dibenci di kelas dan klub, lalu aku jadi penyendiri. Itu murni kesalahanku sendiri. Aku yang merasa terbang saat debut SMA tanpa sadar telah menyakiti semua orang."

"Itu memang fakta, tapi aku tidak bisa membayangkannya..."

"Kali ini, aku bertindak hati-hati agar tidak terjadi lagi. Terutama di awal-awal."

"......Jadi karena itu kau terlihat begitu sempurna."

"Aku juga punya teknik dan pengalaman dari masa kuliah. Aku bisa peringkat satu di sekolah karena punya pengetahuan level universitas, suaraku cukup bagus di karaoke karena hobi latihan sendiri, dan aku bisa masak karena dipaksa keadaan saat hidup sendiri. Semuanya cuma keuntungan dari putaran pertama. Natsuki yang asli tidak seperti itu. Aku tidak berkompetisi di lapangan yang sama dengan kalian. Jadi, wajar saja kalau aku terlihat kuat."

Aku melontarkan kata-kata itu dengan nada mencela diri sendiri. Entah mengapa, ada perasaan lega setelah mengatakannya. Mungkin sebenarnya aku ingin mengatakan ini pada semua orang sejak dulu.

Aku tidak sehebat yang kalian pikirkan.

Karena aku datang dari masa depan, wajar kalau aku bisa melakukan banyak hal melebihi kalian. Jadi, pujian itu terasa tidak nyaman.

"......Aku paham kenapa kemampuan dan kepercayaan dirimu tidak seimbang."

Tiba-tiba, Reita yang sedari tadi diam di kursi depan bergumam seolah baru saja memahami segalanya.

"Kau meremehkanku?"

"Tidak? Sama sekali tidak."

Reita melirikku sekilas dari balik bahunya, lalu tertawa kecil.

"――'Kecemburuan itu milikku, kembalikan'...... kan?"

Tatsuya menggumamkan kata-kata yang dirindukannya itu—kata-kata yang kuucapkan di suatu musim semi di masa lalu.

"Kurasa akhirnya aku bisa memahami dirimu."

"......Maaf karena merahasiakannya selama ini."

"Jangan dipikirkan. Kalau bukan momen ini, aku mungkin tidak akan percaya."

Kemudian, Tatsuya melanjutkan.

"Tetap saja, aku lega kau datang dari masa depan."

"......Kenapa?"




"Itu artinya, berkat kau yang mengulang segalanya, masa muda kami pun ikut bersinar dengan warna pelangi."

Tidak ada celah untuk menyanggah kata-kata Tatsuya. Karena pada akhirnya, bukan akulah yang berhak memutuskannya.

"Jangan pasang wajah murung begitu. Aku adalah temanmu, dan hari ini pun aku menjalani masa muda yang menyenangkan. Bukankah itu sudah cukup? Apa lagi yang kau butuhkan?"

"......Tidak ada."

Saat aku menjawab demikian, Tatsuya menepuk bahuku dengan ringan.

......Namun, itu semua hanyalah pandangan dari sudut pandang Tatsuya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Taksi pun akhirnya tiba di Okinawa Churaumi Aquarium.

Percakapan kami mungkin terdengar sangat aneh, tapi sopir taksi itu tidak mengatakan apa-apa. Di tengah hujan gerimis yang masih mengguyur, aku bergabung kembali dengan Miori dan yang lainnya.

Area di dekat pintu masuk tampak sangat padat. Okinawa Churaumi Aquarium adalah destinasi wajib, jadi tak heran kalau kami berpapasan dengan siswa dari sekolah yang sama di sana-sini.

Lagipula, dengan cuaca seperti ini, tempat yang bisa dikunjungi memang terbatas. Setelah membeli tiket masuk, kami segera berkeliling menyusuri isi akuarium.

Pencahayaan di dalam ruangan sangat temaram, sampai-sampai wajah anggota kelompokku sendiri pun tak terlihat jelas jika kami sedikit saja berjauhan.

"Jangan terlalu jauh-jauh, nanti bisa tersesat, lho~" peringat Fujiwara.

Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada sebuah akuarium tempat kawanan ikan tropis berenang seolah meliuk-liuk di antara terumbu karang.

"Cantik sekali, ya."

Ada suara yang membisik tepat di samping telingaku. Suara itu bukan milik salah satu anggota kelompokku.

Orang yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku adalah Uta.

"Ke-kenapa kamu ada di sini?"

"Kebetulan sekali! Kami juga memutuskan untuk berkeliling mulai dari Churaumi Aquarium dulu!"

Entah kenapa, nadanya terdengar seperti sedang membaca naskah.

"Terus, teman-teman yang lain...?"

Aku panik dan melihat ke sekeliling, tapi tak satu pun anggota kelompokku terlihat. Sepertinya, meski sudah diperingatkan, aku malah benar-benar tersesat.

"......Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?"

"Sudahlah, jangan terlalu sedih begitu!"

"Bagaimana dengan anggota kelompokmu sendiri?"

Seingatku, dia berada di kelompok yang sama dengan Nanase, tapi mereka tidak terlihat di sekitar sini.

"Ehm... iya, aku juga tersesat!"

"Benarkah?"

"Ya, jadi bagaimana kalau kita berkeliling bersama saja?"

Uta bertanya sambil tersenyum manis. Sikapnya seolah-olah percakapan kemarin tidak pernah terjadi. Padahal, Uta seharusnya pergi menjauh dariku sambil menangis.

"Tidak boleh?"

"......Kalau sambil mencari yang lain, mungkin tidak apa-apa."

Berdua saja dengan Uta di akuarium. Situasinya mirip seperti kencan, tapi sekarang aku tidak punya kekasih siapa pun.

"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita jalan!"

Begitulah, aku mulai berjalan menyusuri akuarium bersama Uta. Aku sempat mengirim pesan ke grup chat kelompok bahwa aku terpisah, tapi belum ada balasan. Mungkin mereka semua sedang asyik menikmati pemandangan akuarium.

"Lihat, lihat, Natsu!"

Uta memanggilku. Saat aku menoleh ke sana, seekor ikan tropis berwarna merah menyala sedang berenang tepat di depan mata Uta. Dia mendekatkan wajahnya ke kaca akuarium dengan mata berbinar-binar.

"Ikan itu cantik sekali, ya!"

"Sepertinya enak dimakan."

"Kamu mau memakannya!?"

"Eh, apa menurutmu tidak?"

"Seandainya pun begitu, kamu tidak perlu mengatakannya sekarang!"

Uta memelototiku dengan tatapan tajam.

......Dia tersesat, tapi sama sekali tidak punya niat untuk mencari kelompoknya sendiri. Mungkinkah dia datang ke sini hanya untuk bicara denganku? Mungkin dia sedang memikirkan cara untuk berbaikan setelah kami putus karena pertengkaran.

......Padahal akulah yang salah, jadi dia tidak perlu memikirkanku.

"Aku juga sudah dengar ceritanya dari Miorin."

"......Begitu ya."

"Waktu itu aku memang bingung, tapi... sekarang aku sudah paham betul soal situasimu, Natsu."

"......Sama seperti Tatsuya, ternyata kau mau memercayaiku juga."

"Tentu saja aku percaya! Karena kita ini teman!"

Uta menatap mataku lekat-lekat lalu tertawa penuh kemenangan.

"Tapi, aku tidak akan menarik kembali kata-kataku yang bilang kalau kau itu bodoh!"

Sesaat kemudian, dia menatapku dengan sinis. Ekspresi Uta memang selalu berubah-ubah seperti biasa.

"......Bahwa aku bodoh itu kan memang fakta."

"Nah, lihat! Itu dia sikapmu yang mudah menyerah! Cuma gara-gara diputuskan Hikarin saja!"

"......Kalau diputuskan kekasih, wajar saja kalau aku sedih."

"Bukan cuma itu saja, kan?"

Uta melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami.

"Kalau cuma itu, seharusnya Natsu meminta maaf pada Hikarin dan memintanya untuk mulai kembali dari awal."

Pertanyaan Uta terdengar sangat yakin, seolah dia sudah memegang kebenaran.

"......Aku juga membuat Miori menangis."

Mata Uta membelalak terkejut.

"Setelah menyakiti Hikari dan diputuskan olehnya, aku malah memanjakan diri pada Miori. Saat itu, aku mengatakan hal yang tidak perlu. Hal yang menyakiti hati Miori. Aku membuat mereka berdua menangis."

"......Itu memang salahmu, Natsu."

Uta tidak membelaku. Saat ini, aku justru berterima kasih atas respon dinginnya itu.

"......Ya, aku memang salah."

Lalu, di hadapan diriku yang telah membuat Hikari dan Miori menangis, muncul seorang pria yang mengaku sebagai Tuhan. Dia menghujat jejak masa muda yang telah kulalui selama ini.

"Setelah itu, aku punya kesempatan untuk menoleh ke belakang. Bukan cuma Hikari dan Miori. Di masa muda putaran kedua ini, aku telah menebarkan terlalu banyak ketidakbahagiaan. Saking banyaknya, kehidupan di putaran pertama yang selalu sendirian pun terasa lebih baik dibandingkan masa kini."

"Apakah di antara orang-orang yang kau beri ketidakbahagiaan itu, termasuk aku?"

"......Ya."

Uta menangis karena perbuatanku.

"Asal kau tahu saja, aku tidak menyesalinya, kok."

Tidak ada kesan memaksakan diri pada ekspresi Uta yang tegas itu.

"Aku sempat menyukai Natsu."

Uta membicarakan perasaannya kepadaku dalam bentuk lampau.

"Sekarang sih sudah tidak lagi~"

"......Begitu."

"Ah, tentu saja sebagai teman aku tetap menyukaimu, ya!"

Uta mulai berjalan perlahan. Aku mengikuti langkah punggungnya.

"Setelah menyukai Natsu, aku jadi tahu rasanya perasaan yang naik-turun karena hal-hal sepele... aku kaget sekali, ternyata perasaan bisa goyah begitu hebat saat sedang jatuh cinta. Setiap pengalaman itulah yang membentuk diriku yang sekarang. Jadi, aku tidak menyesalinya. ......Aku tidak bohong, lho?"

"Kalau saja aku tidak datang dari masa depan, bukankah kau tidak akan merasa sedih?"

"Kalau saja Natsu tidak ada, aku juga tidak akan bisa merasakan perasaan senang."

"Belum tentu begitu, kan? Mungkin kau akan jatuh cinta pada orang lain dan hidup bahagia seperti itu."

"Apa di garis waktu di mana Natsu tidak ada, aku seperti itu?"

"......Tidak, aku tidak tahu detailnya karena aku tidak terlalu akrab dengan Uta saat itu..."

"Nah, kan."

Uta berucap dengan penuh percaya diri.

"Kalau Natsu tidak ada, aku tidak akan pernah jatuh cinta."

"......Kenapa kau begitu yakin?"

"Aku tahu, karena ini menyangkut diriku sendiri."

Uta mengatakan hal yang sama dengan Tatsuya.

"Tidak ada orang yang bisa menggantikan posisi Natsu."

......Aku telah menolak perasaan gadis yang sampai sejauh ini memikirkanku. Namun,

"Aku senang pernah menyukai Natsu."

Uta membenarkan masa lalu itu. Dia menerima jejak langkahku yang seharusnya menjadi sebuah kesalahan.

"......Padahal aku sudah menolak pengakuan cintamu?"

"――Karena saat-saat aku jatuh cinta itu adalah waktu yang bahagia."

Uta menghentikan langkahnya dan menatapku.

"Itu adalah kebahagiaan yang tidak akan bisa kudapatkan kalau Natsu tidak ada. Hanya karena aku ditolak, bukan berarti kebahagiaan itu tidak pernah ada. Hal itu menjadi kenangan berharga yang menopang diriku yang sekarang."

"......Uta."

"Ya memang, awalnya aku pasti sedih karena ditolak! Tapi, itu kan jalan yang kupilih sendiri. Natsu juga tidak menyangka kan kalau aku akan menyukaimu?"

"......Aku memang bingung, tapi aku merasa senang."

Bahwa ada seseorang yang mau menyukai orang sepertiku.

"Hanya karena ini adalah dunia yang kau ulangi, bukan berarti semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu! Jadi, aku tidak akan membiarkanmu menanggung tanggung jawab atas tangisanku sendiri. Aku akan menanggung tanggung jawab atas hidupku sendiri!"

Uta menunjuk tepat ke dadaku dengan jari telunjuknya.

"......Aku benar-benar angkuh, ya."

"Iya, padahal kau bukan Tuhan. Kau cuma orang biasa yang terjebak dalam time leap, kan?"

"......Kata-katamu tajam sekali."

Tapi mungkin saja, apa yang dikatakan Uta itu benar. Tindakanku setelah mengulang waktu memang telah memengaruhi semua orang. Meski begitu, mereka tetap memilih jalan hidup mereka sendiri, dan aku tidak punya hak untuk mencampuri urusan mereka.

"Mengatakan bahwa kau membuat semua orang tidak bahagia itu... hanyalah bentuk keangkuhanmu saja, Natsu."

Uta mencengkeram wajahku dengan kedua tangannya, memaksaku untuk menatapnya. Wajahnya berada tepat di depan mataku. Saat tatapan kami bertemu, kupikir pupil matanya terlihat sangat jernih.

"Lihatlah kami yang ada di sini sekarang!"

Di balik tatapan itu, bersemayam cahaya yang sangat kuat.

"Aku sekarang, benar-benar bahagia!"

Uta tidak berbohong.

"Mulai sekarang, ayo kita menangis dan tertawa bersama lagi! Itu kan arti dari masa muda?"

Uta menyodorkan tinjunya ke depan. Saat aku menatap tinju itu dengan bingung,

"Ayo, cepat!"

Uta mengangkat tanganku dengan tangan satunya lagi dan memaksaku untuk mengepalkan tangan. Dia menempelkan tinjunya pada tinjuku.

"......Aku benar-benar tidak bisa menang melawan Uta."

"Jangan harap bisa mengalahkanku, seratus tahun lagi pun belum tentu!"

Uta tertawa merekah seperti bunga. Itu adalah senyum Uta yang selalu kusukai.




"Terima kasih, Uta."

Okinawa Churaumi Aquarium memiliki pintu masuk di lantai empat, dan desainnya membuat pengunjung seolah-olah menyelam ke bawah menuju lantai satu. Setelah menikmati "Perjalanan ke Terumbu Karang" di lantai tiga, kami turun ke lantai dua.

"Yaho, Natsuki."

Tiba-tiba, Serika berdiri di samping tangga.

"......Kenapa kamu ada di sini?"

Serika berasal dari Kelas 1. Karena kelasnya berbeda dari Uta, tentu saja kelompok kami juga berbeda.

"Tunggu, kalau ada Serika, berarti Hikari juga ada?"

"Bukan, Hikari tidak datang ke sini."

"......Apa kamu memisahkan diri dari kelompokmu untuk jalan sendiri?"

"Aku menumpang taksi Uta dan yang lainnya."

"Sery, ganti giliran!"

Uta melakukan high-five dengan Serika.

"Kalau begitu, sampai nanti, Natsu!"

Begitu saja, Uta menghilang ke dalam kerumunan.

"Nah, Natsuki. Ayo."

"......Jangan bilang, ini semua sudah direncanakan?"

Kalau tidak, alurnya terlalu rapi untuk sebuah kebetulan.

"Akhirnya sadar?"

Serika tersenyum geli.

"Kami semua mengadakan rapat strategi. Untuk menolong Natsuki."

"Menolong... berlebihan sekali. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."

"Tapi ini pertama kalinya aku melihat Natsuki yang terdesak sampai seperti ini."

"......"

Aku kehilangan kata-kata untuk menyanggah. Gawat. Aku terlalu lemah dalam perdebatan.

"Tepat sasaran, kan?"

Serika menjulurkan lidahnya seolah merasa puas.

"Kenapa harus di sini? Kita bisa bicara di hotel, kan."

"Aku ingin bicara sambil melihat hiu paus."

"Hah?"

Serika masih saja mengatakan hal-hal yang tidak kumengerti.

"Ya sudah, kita bicara sambil jalan saja."

Lantai dua ini sepertinya disebut "Perjalanan ke Arus Kuroshio". Hal pertama yang tertangkap mataku adalah akuarium terbesar di tempat ini.

Hiu paus, manta, dan makhluk-makhluk yang jauh lebih besar dari kami sedang berenang dengan anggun.

"......Luar biasa."

Aku dibuat terpesona oleh kedahsyatannya.

"Waaa~"

Serika mendekat ke kaca akuarium, mengikuti pergerakan hiu paus dengan wajah yang sangat ceria.

"Menyenangkan."

"......Syukurlah kalau begitu."

"Apa Natsuki sekarang merasa senang?"

Pertanyaan itu membuat pikiranku kosong sesaat.

"......"

"Jawab dengan jujur."

"Aku tidak... merasa senang."

"Eh, kok begitu...!?"

Serika menunjukkan ekspresi terkejut yang sangat kentara. Sangat dibuat-buat.

"Hei, kau sendiri yang menyuruhku menjawab jujur, kan."

Dia bukan karakter yang akan bereaksi seperti itu. Saat aku menatapnya dengan tajam, Serika kembali ke ekspresi normalnya.

"Apa kau tidak senang karena diputuskan oleh Hikari?"

"......Kurasa, itu karena aku telah menyakiti Hikari dan Miori."

Diputuskan hanyalah hasil dari tindakanku sendiri.

"Apa karena menyakiti mereka, kau boleh membuang segalanya?"

"Itu..."

Aku tidak bisa menjelaskan pada Serika, tapi aku memiliki pilihan untuk mengembalikan semuanya seperti semula.

"Jangan-jangan—apa kau berpikir untuk mengulanginya sekali lagi?"

Mendengar kata-kata itu, aku terkejut. Itu adalah pola pikir yang mustahil muncul jika seseorang tidak menerima fenomena time leap.

"Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

"Kalau begitu, apa kau berpikir untuk pulang ke dunia asalmu?"

Pikiranku kosong sekejap. Melihat ekspresiku, Serika mengangguk sekali.

"Tebakanku benar. Jadi itu pilihannya."

"......Kenapa kau bisa tahu?"

Seharusnya itu bukan fenomena yang bisa ditebak semudah itu.

"Sebagai hasil dari perubahan masa lalu akibat time leap-mu, Natsuki berpikir telah membuat semua orang menderita. Kalau ada pilihan untuk kembali ke dunia asal dalam kondisi seperti itu, kupikir kau pasti akan memilihnya."

"Penjelasanmu tidak masuk akal. Kenapa kau pikir aku punya pilihan seperti itu?"

"Jika kau merasa harus tetap hidup di dunia ini, Natsuki hanya bisa berusaha keras untuk membahagiakan orang-orang yang telah kau sakiti. Tapi, fakta bahwa kau tidak melakukannya berarti—"

Serika mengarahkan jari telunjuknya padaku.

"Natsuki punya pilihan untuk menyerah pada dunia ini."

Semuanya tepat sasaran.

"......Apa aku semudah itu ditebak?"

"Semua orang memperhatikan Natsuki lebih dari yang kau pikirkan."

Sepertinya bahkan jalan pikiranku pun terbaca.

"——Kau sudah memutuskan untuk melakukannya dengan serius, kan?"

Ujar Serika singkat. Tatapannya tajam menusuk mataku.

"......Mungkin begitu."

Wajar saja Serika menghujatku. Belum ada enam bulan sejak aku memutuskan untuk menekuni musik dengan serius.

"......Maaf."

Jika aku kembali ke dunia asal, itu berarti aku membuang semuanya setengah jalan. Band kami akan dianggap tidak pernah ada. Aku mencoba berpaling, tapi tentu saja aku menyadarinya.

"Bukan cuma band. Masa muda, kau menjalaninya dengan serius, kan?"

Serika melangkah maju, memperpendek jarak. Dari jarak yang sangat dekat, Serika mendesakku.

"Kalau kau melakukannya dengan serius, kegagalan adalah hal yang wajar. Selama ini pun begitu, kan? Kenapa sekarang kau malah menyerah dan ingin kembali ke awal? Tanpa berusaha untuk memperbaiki hubungan?"

"......Aku sadar kalau Hikari tidak akan bahagia meski bersamaku."

Karena itulah, aku menyerah.

"Payah sekali Natsuki yang sekarang. Kau tidak bisa bilang kalau kau akan membahagiakannya?"

"Dulu aku berniat begitu. Tapi... sekarang aku tidak punya kepercayaan diri itu."

"Memalukan."

"......Iya, kan."

Hanya tawa kering yang keluar.

"Natsuki saat konser festival budaya itu keren sekali."

"......Waktu itu aku tidak punya keraguan. Tanpa tahu bagaimana hasil akhirnya nanti."

"Sangat bersinar dan menyilaukan. Aku pun ikut terbakar oleh semangatmu."

Serika berkata sambil melambaikan tangan ke arah hiu paus yang berenang dengan santai.

"Aku senang bisa nge-band bersamamu. Berkat Natsuki, sekarang pun terasa menyenangkan."

Aku senang mendengarnya. Tapi, Serika di dunia putaran pertama kabarnya sukses sebagai penyanyi-penulis lagu. Jika begitu, keberadaanku saat ini mungkin hanya menghalangi kesuksesan Serika yang seharusnya.

"Kalau tidak ada Hikari, mungkin aku sudah menerkammu."

"Mene-terkam...!?"

Apa-apaan yang dia katakan ini.

"Tapi kalau tidak ada Hikari, Natsuki tidak akan berusaha dengan serius, kan? Jadi, pengandaian ini tidak ada artinya. ...Cintaku, sudah ditentukan akhirnya sejak awal."

Serika menunduk sedih.

"......Baru dengar soal itu."

"Yah, semuanya bohong, sih."

"......Ya?"

"Aku hanya jatuh cinta pada musik."

"......Permisi. Bukankah tadi kita bicara serius?"

Saat aku bertanya dengan kesal, Serika menjulurkan lidahnya.

"Pasti diriku di dunia asal Natsuki sedang bermusik sendirian."

"......Kabarnya kau sukses sebagai penyanyi-penulis lagu."

"Begitu, ya. Yah, aku tidak akan berhenti bermusik sih. Tapi tetap saja, berarti aku tidak nge-band ya di dunia itu."

"......Secara teknis, aku juga tidak melihatnya sendiri, jadi tidak tahu pasti."

Aku hanya mendengar hal itu dari pria yang mengaku sebagai Tuhan.

"Kurasa aku tidak salah. Karena aku ingin nge-band lagi setelah bertemu Natsuki. Kalau tidak berteman dengan Natsuki, aku mungkin hanya bermusik sendirian."

Setahun lalu aku mendengar masalah Serika. Saat SMP, dia membentuk band dengan teman-teman dekat, namun bubar karena perbedaan motivasi. Karena terus mengulangi hal yang sama, hatinya terkikis dan dia jadi takut untuk membentuk band.

"......Menurutku Serika sebagai penyanyi-penulis lagu juga cocok, kok."

"Ya, aku juga berpikir begitu. Tapi—"

Serika melakukan gerakan memetik gitar tipis-tipis, lalu menunjukkan gigi putihnya.

"Aku paling suka saat ini, saat aku bermusik bersama kalian."

"Aku juga senang bermusik bersama Serika dan yang lainnya."

Kata-kata itu keluar dengan tulus dari lubuk hatiku.

"Aku ingin Natsuki tetap di sini. Jangan kembali ke dunia asal."

Serika mengulurkan tangannya. Saat aku menatap tangan itu, Serika berkata.

"Jangan khawatir, tindakan Natsuki benar-benar berujung pada kebahagiaan semua orang."

Setelah bicara dengan Tatsuya, Uta, dan Serika, aku mulai merasakan hal itu sedikit demi sedikit. Mungkin tidak semua tindakanku salah. Meski begitu,

"Aku harus... bagaimana?"

Keraguan muncul. Padahal aku hanya berpikir untuk pulang ke dunia asal.

"Bukan aku yang memutuskan. Cobalah hadapi dirimu sendiri dengan serius sekali lagi."

"......Apa kau bilang aku sedang melarikan diri?"

"Ya. Natsuki yang sekarang tidak melihat dirinya sendiri, pun tidak melihat kami."

"Hadapi dirimu dengan baik ya," Serika meninggalkan kata-kata itu lalu menarik kembali tangannya. Kemudian, dia pergi dari hadapanku.

"......Ya, Natsuki."

Saat aku berjalan sendirian mengikuti rute, Reita sedang menyandarkan punggung di dinding.

"Akhirnya kita bisa bertemu lagi anggota kelompok yang sama."

"Haha, maaf ya. Ada banyak orang yang ingin bicara empat mata denganmu."

"......Untuk menolongku?"

"Tentu saja. Karena ini urusan penting teman baik."

Reita berbicara dengan gayanya yang sombong seperti biasa, lalu menunjuk ke arah di luar jalur rute.

"Ada ruang istirahat di sana."

Aku mengikuti Reita yang memimpin jalan, dan menemukan ruang istirahat yang dikelilingi oleh akuarium. Mungkin karena cukup tersembunyi, tidak banyak pengunjung di sana. Reita membeli dua kopi es dari mesin penjual otomatis dan melemparkan satu padaku.

"Terima kasih."

Saat aku hendak mengeluarkan uang dari dompet, Reita menggelengkan kepala.

"Jangan dipikirkan. Aku sudah mendapat cukup uang karyawisata dari Ayah."

"......Begitu? Uang sakunya juga?"

"Ya. Mungkin dia menemukan semangat dalam pekerjaannya, sekarang dia bekerja dengan riang. Berkat itu, aku bisa mengurangi kerja paruh waktu mulai semester tiga dan fokus ujian. Meski begitu, aku tidak punya tabungan, jadi aku berpikir untuk mengambil beasiswa. Tapi tetap saja, masa depan terlihat lebih cerah dari sebelumnya."

Reita bercerita begitu sambil meminum kopinya.

"Seperti yang pernah kukatakan, tindakanmu benar-benar mengubah kami."

"......Sekarang aku bisa mengatakannya, situasi yang dulu itu sepenuhnya salahku."

Miori hilang dan aku bertengkar dengan Reita. Karena itulah Reita jadi putus asa dan diskors.

"Di dunia putaran pertama, Miori tidak akan di-bully, dan tidak akan hilang."

"Jadi, kasus kekerasan yang kulakukan tidak akan terjadi, dan aku tidak akan mencoba berhenti sekolah begitu?"

Reita cerdas. Jadi, dia langsung mengerti apa yang ingin kukatakan.

"......Ya."

"Itu fakta, ya."

Sebelumnya, saat aku bertemu Reita di klub, kami melakukan percakapan serupa. Namun Reita menertawakan kekhawatiranku, mengatakan tidak ada gunanya mengungkit sampai sejauh itu.

"Kalau dipikir-pikir, sejak saat itu kau memang sudah gelisah, ya."

"......Ya. Aku merasa jangan-jangan pengulangan masa mudaku ini hanya mendatangkan masalah saja."

"Memang benar masalahnya mungkin bertambah, tapi..."

Tatapan Reita tertuju pada akuarium.

"Kalau kau tidak menghadapiku saat itu, aku tidak akan bisa menghadapi Ayahku."

Di ujung pandangannya, seekor ikan tropis sedang berenang membawa anaknya.

"Jadi, aku yakin, diriku di duniamu yang dulu mungkin akhirnya akan membuang dirinya sendiri."

Tiba-tiba dalam mimpi, aku teringat cerita Miori di putaran pertama. Reita punya hubungan dengan kelompok nakal, dan mereka putus. Aku tidak tahu kelanjutannya, tapi... mungkin saja itu benar seperti yang dikatakan Reita.

"Meninggalkan Ayah dan rumah, berhenti sekolah dan sepak bola, hanya hidup tanpa tujuan sambil bekerja serabutan. Dalam kondisi itu, aku mungkin akan berkumpul dengan Kōya dan yang lainnya, dan hanya hubungan dengan merekalah yang jadi sandaran hidup. Hubungan yang rasanya kurang sehat."

Seperti biasa, dia melihat dirinya sendiri dengan objektif sampai-sampai terasa menakutkan.

"Kalau sampai begitu, pasti aku juga akan berharap."

"......Apa?"

"Ingin kesempatan sekali lagi untuk mengulang masa muda itu."

"......Kalau yang mengulang itu Reita, pasti hasilnya jauh lebih baik."

"Entahlah. Kalau aku yang mengulang, masalah pasti akan berkurang tapi..."

"Kalau masalah berkurang, bukankah itu jauh lebih baik?"

"Tapi, kurasa aku tidak akan menjalani masa muda yang semenyenangkan ini."

"......Apa Reita sekarang merasa senang?"

"Tentu saja. Sekaranglah yang paling terasa memuaskan."

Reita mengangguk tanpa ragu.

"Kalau aku yang mengulang pun, pasti aku hanya akan menjalani hari-hari yang sama tanpa perubahan."

Karena itu, Reita melanjutkan.

"Aku senang Natsuki yang mengulang masa muda itu."

"Hal seperti itu..."

Aku ingin bilang 'tidak mungkin'. Tapi bukan aku yang berhak memutuskannya.

"Berkat pengulanganmu, aku menjalani masa muda yang baik. Itu bisa kukatakan dengan percaya diri."

Dan Reita bukanlah orang yang akan berbohong dalam kondisi seperti ini. Aku adalah teman Reita, jadi aku sangat tahu itu.

"Tidakkah kau boleh sedikit percaya diri pada apa yang sudah kau lakukan?"

"......Percaya diri?"

"Kau tidak seegois yang kau pikirkan. Meski tanpa disadari, kau bertindak sambil memikirkan kami. Karena itulah, ada banyak orang yang terselamatkan olehmu."

"......Meski itu hanya produk sampingan dari usahaku mengejar masa muda penuh warna?"

"Jika menolong kami berujung pada kebahagiaanmu, bukankah itu hal yang bagus?"

Reita menatapku dan menepuk bahuku.

"Kau orang baik. Semua orang juga berpikir begitu."

Aku merasakan kehangatan di bahu yang ditepuknya itu.

"......Begitu, ya."

Apa yang kulakukan selama ini, tidak sia-sia, ya. Bahkan secara tidak langsung, itu terhubung pada kebahagiaan Reita dan yang lainnya.

"Masa muda belum berakhir. Ayo kita nikmati bersama sampai akhir."

Perasaanku terasa sedikit lebih ringan. Dunia yang tadinya berwarna abu-abu, sedikit demi sedikit mulai mengambil kembali warnanya. Begitulah perasaanku.

Saat aku berjalan menyusuri lantai dua akuarium bersama Reita, Nanase menunggu di tangga menuju lantai satu.

"......Urutan macam apa ini?"

Tidak aneh jika Nanase, yang berada di kelompok yang sama dengan Uta, ada di sini. Tapi kenapa Serika dan Reita ikut campur?

"Berdasarkan diskusi, kami memutuskan ini yang terbaik."

"Kalau begitu Nanase-san, sisanya serahkan padaku. Natsuki, kami tunggu di pintu keluar."

"......Ya."

Entah kenapa tindakanku ditentukan begitu saja tanpa persetujuanku. Meski begitu, aku tidak punya niat untuk membantah. Aku sudah mengerti kalau mereka semua berusaha menolongku.

"Kalau begitu, mari kita pergi."

Aku menuruni tangga bersama Nanase. Tema lantai satu adalah "Perjalanan ke Laut Dalam". Ruangan ini jauh lebih remang-remang dibanding lantai atas. Karena ini adalah lapisan yang fokus pada makhluk laut dalam, pencahayaannya sengaja dibuat redup.

Karena terlalu gelap, bahkan Nanase yang ada di sampingku pun hampir tidak terlihat.

"Ti-tidak baik kalau sampai terpisah..."

Nanase berkata begitu sambil menggenggam tanganku.

"Tidak apa-apa, kan? ...Kakak."

Nanase berkata dengan suara lirih. Wajahnya memerah sampai ke telinga.

"Kalau malu sekali, sebaiknya tidak perlu mengatakannya..."

"Berisik... kau kan, bukannya senang kalau dipanggil begini?"

"Itu kan cuma guyonan... sekarang kan situasinya serius..."

"Akan kutendang kau."

Nanase menatapku tajam dengan malu-malu. Selama kami melakukan percakapan itu, dia tidak melepaskan genggaman tangannya.

Jika saat masih berpacaran dengan Hikari mungkin lain cerita, tapi sekarang tidak ada alasan untuk menolak. Lagi pula, dalam kegelapan ini, orang-orang tidak akan melihatnya.

"Cantik sekali..."

Ikan-ikan yang kulihat di dalam akuarium tampak memancarkan cahaya. Yang kulihat sekarang sepertinya disebut Flashlight Fish.

Di dalam akuarium yang gelap, mereka bersinar seperti bintang. Akuarium ini konon disebut sebagai planetarium laut. Aku terpaku memandangi kilauannya.

"Ikan ini mirip dengan Haibara-kun."

Nanase menunjuk pada ikan Flashlight Fish yang sedang kuperhatikan.

"......Apanya?"

Wajah ikannya sangat bodoh, lho.

"Bukankah lucu?"

"......Terus apa? Apa aku juga lucu?"

Memang lucu? ...Dengan wajah seperti ini?

"Iya. Jatuh cinta lalu merasa sedih, bukankah itu lucu?"

Nanase terkikik.

"......Apa Nanase tidak marah? Aku telah menyakiti Hikari, tahu."

"Tentu saja marah. Belajarlah dari kesalahan."

Nanase menjentikkan dahi padaku. Rasa sakit ringan menjalar.

"......Ah."

"Belajarlah, dan manfaatkan untuk langkah selanjutnya."

"Itu... sulit."

Karena konsep 'selanjutnya' itu sendiri tidak ada—benarkah? Aku... berniat untuk kembali ke dunia asal. Tapi, keraguan mulai muncul.

"Kira-kira, apa yang dikatakan semua orang?"

Nanase bertanya sambil memandangi ikan-ikan yang bersinar.

"......Mereka bilang mereka senang aku ada di sini."

"Ya. Kalau mereka tidak berpikir begitu, tidak ada gunanya ikut dalam operasi ini."

Tentu saja, jika dipikirkan secara logis, memang benar begitu.

Namun... aku masih belum bisa menghadap ke depan. Bukannya aku meragukan kata-kata mereka.

Aku... tidak punya keberanian untuk bangkit sekali lagi. Karena menyerah jauh lebih mudah.

"Aku pun, diselamatkan olehmu."

Ujar Nanase dengan tenang. Genggaman tangan kami menjadi semakin erat. Setahun lalu, Nanase pernah menggandeng tanganku untuk mengatasi traumanya.

"......Memang benar aku berkontribusi dalam kesembuhan trauma Nanase."

Tapi,

"Kalau kau tidak menantang piano, tidak perlu repot-repot menderita karena trauma."

"Menderita bukanlah sebuah kesalahan. Melawan trauma memang menyakitkan, tapi itu adalah rasa sakit yang diperlukan. Agar aku bisa menghadapi impian yang dulu kutinggalkan sekali lagi."

"......Kalau saja aku tidak datang ke sini, kau tidak perlu menghadapinya, kan?"

Nanase pernah bilang bahwa konser festival budaya kami menjadi pemicu kembalinya dia ke piano. Artinya, titik balik itu jelas diriku.

"Begitu ya... diriku di duniamu pasti lari dari mimpi, kan? Karena bisa menghadapinya, bisa mengatasi trauma, itu semua berkat dirimu."

"......Nanase di garis waktuku adalah siswi jenius peringkat satu di sekolah."

"Karena tidak bisa mengejar mimpi piano, jadi aku serius belajar, ya."

"Aku tidak tahu kelanjutan hidupnya..."

"......Pasti dia mendapatkan kebahagiaannya sendiri."

Nanase melanjutkan kata-kataku.

"Tapi, saat ini, ketika aku mengejar mimpi, rasanya jauh lebih menyenangkan."

"......Begitu ya."

"Ini kan diriku sendiri. Setidaknya, aku lebih tahu daripada dirimu."

Hal yang sama dengan yang lain, Nanase pun mengatakannya. Nanase mencoba meraih cahaya yang bergoyang di dalam akuarium.

"Berkat kau datang dari masa depan, aku bisa meraih mimpiku lagi."

"......Meski karena itu, kau jadi lebih sering terluka?"

"Sebaliknya aku bertanya, antara hidup dengan mengejar mimpi sambil terluka, atau hidup tanpa mimpi agar tidak terluka, mana yang akan kau pilih?"

"Itu..."

Jika target lukanya adalah diriku, aku pasti memilih yang pertama. Meski banyak hal terjadi, aku memang mengejar masa muda yang penuh warna.

"Aku tidak ingin keinginanku ditentukan seenaknya olehmu."

Nanase menatap mataku lekat-lekat.

"Aku lebih suka kehidupan yang sekarang."

Sekali lagi, terdengar suara rantai yang mengikat hatiku terlepas satu per satu.

"Memang, tindakanmu mengubah kami. Sebagai hasilnya, mungkin ada masalah yang muncul, tapi kami tumbuh dari situ, dan kami menjalani hari-hari sambil terus menatap ke depan."

"Apakah... ada makna aku datang ke dunia ini?"

"Ya. Tentu saja. Jadi, semangatlah."

"......Terima kasih, Nanase."

Semuanya bilang mereka bahagia dengan diri mereka yang sekarang. Jika begitu, yang salah dalam pemahaman... pastilah diriku.

"Berhentilah merendahkan diri sendiri. Kami ingin kau ada di sini."

"......Nanase."

Saat aku memanggil namanya, Nanase tersenyum.

"Kakak..."

"Hah!?"

Aku merasakan kehangatan yang memancar dari Nanase.

Aku tidak memiliki kakak perempuan, tapi mungkin beginilah rasanya jika aku memilikinya.

Nanase yang tiba-tiba kuperlakukan seperti kakak mengeluarkan suara yang aneh.

"P-pola itu di luar dugaanku, tapi..."

......Tentu saja. Apa yang baru saja kukatakan? Setelah sadar sepenuhnya, aku merasa sangat malu.

"Maaf, lupakan saja."

"......I-iya."

Nanase berdeham pelan sambil wajahnya memerah.

"Hei, Nanase."

Seandainya aku memutuskan untuk melanjutkan masa muda ini. Seandainya pilihan untuk terus melanjutkan masa muda ini diizinkan untukku.

"......Menurutmu, apa yang harus kulakukan untuk membahagiakan Hikari?"

Saat aku bertanya begitu, Nanase tersenyum lembut.

"Menurutmu, kenapa Hikari mengucapkan selamat tinggal padamu?"

"Karena dia sudah muak dengan diriku yang tidak bisa dipercaya?"

"Kalau begitu, langkah yang harus kau ambil sudah jelas, bukan?"

"......Menceritakan semuanya pada Hikari? Tapi, itu mungkin saja akan menyakitinya."

"Jika begitu, berarti itu saja tidak cukup, bukan?"

"Hanya itu... tidak cukup..."

Sambil termenung memikirkan hal itu, kami selesai menyusuri seluruh area lantai satu. Pintu keluar sudah terlihat.

Cahaya terang menuntun kami keluar.

Aku melepaskan tangan yang sedari tadi kugenggam bersama Nanase.




"Ya, Natsuki."

"Lama sekali, apa kau tersesat."

Di pintu keluar, Reita dan Tatsuya sudah menunggu.

Tak jauh dari sana, Nanase bergabung kembali dengan kelompoknya, termasuk Uta. Serika juga ada di sana. Namun, ada beberapa orang yang seharusnya ada di sini tapi tidak terlihat.

"Di mana Miori dan yang lainnya?"

"Mereka sudah berangkat duluan ke tujuan berikutnya."

"Kalau begitu, kita juga pergi saja."

Aku menengadah ke langit. Tanpa kusadari, cuaca telah berubah menjadi cerah. Terik matahari menyengat kami dari atas.

Tujuan berikutnya adalah tempat pemandangan bernama Manzamo. Sepanjang perjalanan di dalam taksi, percakapan di antara kami tak pernah putus.

Tatsuya dan Reita tampak bersemangat sambil memandangi pemandangan Okinawa yang cerah. Tanpa kusadari, aku pun mulai teringat kembali pada perasaan "menyenangkan" itu.

"Oh, sudah sampai, ya?"

Setelah taksi melaju sekitar satu jam, kami tiba di tempat parkir tujuan. Langit cerah yang menyegarkan. Ke mana perginya awan tebal yang tadi menyelimuti langit?

Langit membentang biru dan sangat jernih. Setelah bergabung kembali dengan Miori dan yang lainnya, kami berjalan kaki menuju lokasi pemandangan.

"Waaa, keren sekali!"

Tebing curam menjorok ke arah laut. Bentuk batunya terlihat seperti belalai gajah.

Kabarnya, ini adalah spot yang sangat Instagramable. Kurahashi-san tampak bersemangat mengambil foto. Angin laut bertiup kencang, namun berkat sinar matahari, suasananya terasa hangat.

"Bagaimana, Natsuki?"

Tanpa kusadari, Miori sudah berada di sampingku. Yang lain berjalan sedikit lebih jauh di depan kami.

"Menyegarkan, ya~"

Mungkin karena ingin merasakan embusan angin di sekujur tubuhnya, Miori merentangkan tangannya lebar-lebar.

"......Benar juga."

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

"......Jangan bilang, kau orangnya?"

Aku menatap profil samping Miori.

"Yang mengumpulkan semua orang dan menyusun strategi ini."

"......Semua orang berkumpul demi dirimu, tahu."

"Terima kasih."

"Bagaimana? Kau sudah bicara dengan semuanya, kan?"

"Aku senang."

Itulah kesan jujur yang kurasakan. Bahwa mereka tidak keberatan aku ada di sini, bahkan memintaku untuk tetap di sini. Itu membuatku lebih bahagia dari apa pun.

"Apa ada perubahan dalam perasaanmu?"

"......Aku tadinya berpikir untuk kembali ke dunia asal."

Miori tidak terlihat terkejut saat mendengar pengakuan itu.

"Ternyata kau bisa melakukan hal seperti itu, ya."

"Sepertinya begitu. Aku tahu itu setelah menceritakan segalanya pada Miori."

"......Kembali ke dunia asal itu artinya, apa kau berniat menikah denganku?"

Miori bertanya pelan. Suaranya nyaris hilang ditelan embusan angin. Aku merasa tidak bisa membohonginya dengan kebohongan.

"......Ya."

Aku mengangguk. Meski aku tahu betapa kejamnya itu bagi Miori.

"Kau menyukaiku?"

"......Kurasa, aku akan kembali menyukaimu lagi."

Dan suatu saat nanti, penyesalan akan masa mudaku itu akan menghilang.

"Itu sudah tidak mungkin lagi."

Miori menggelengkan kepalanya pelan.

"Mungkin di dalam hatimu, selama ini memang selalu ada aku."

Benar. Aku saja yang tidak menyadarinya, tapi aku selalu menyukai Miori.

"Tapi, di dalam hatimu yang sekarang, sudah tidak ada siapa pun selain Hikari-chan."

"......"

"Sekarang kau hanya bingung karena ingatan dirimu di masa depan yang menyukaiku telah mengalir masuk."

......Sejujurnya, aku pun sempat mempertimbangkan kemungkinan itu. Karena itulah aku merasa sangat mual hingga ingin muntah akibat rasa janggal pada diriku sendiri.

——Tapi, aku menyukai Miori sama besarnya dengan aku menyukai Hikari.

Aku terpikat pada Miori yang telah membantuku dari dekat sebagai rekan dalam Proyek Masa Muda penuh warna.

Lalu sekarang, bagaimana?

"Cobalah hadapi dirimu yang sebenarnya dengan benar."

Miori yang tadi menatap laut kini berbalik dan menatapku lurus-lurus. Aku menepis ingatan tentang masa depan di putaran pertama yang kulihat dalam mimpi, lalu balas menatap mata Miori.

"——Apa kau menyukaiku?"

Aku merasa harus memilih kata-kata dengan sangat hati-hati. Dan saat aku berpikir begitu, artinya jawabannya sudah jelas.

"Kau ini bodoh, ya."

Miori menghela napas panjang. Tanpa kusadari, seluruh hatiku telah dipenuhi oleh Hikari. Akhirnya, aku menyadari fakta itu.

"......Maaf."

"Tidak apa-apa, kan kita teman masa kecil."

Miori berkata begitu lalu mulai berjalan. Aku mengikuti punggungnya. Aku tidak bisa melihat ekspresinya.

"Aku memang punya penyesalan."

Ekor kuda Miori bergoyang tertiup angin.

"Aku selalu berpikir, 'Seandainya waktu itu aku melakukan ini...' terus-menerus."

"......Apa kau tidak ingin mengulanginya?"

"Tidak."

Miori menoleh dari balik bahunya dan mengangguk tanpa ragu.

"Padahal kalau mengulanginya, mungkin kau bisa menghapus penyesalan itu?"

"Aku menyukai diriku yang sekarang. Aku menyukai masa muda yang ini. Karena itulah, aku ingin tetap di sini."

Pilihan Miori berbeda denganku. Dia memilih untuk tetap hidup meski membawa penyesalan.

"Paham tidak? Aku menyukai masa kini yang telah kau ubah, lho."

"......Padahal musim dingin tahun lalu, kau sempat terdesak sampai hampir mati?"

"Memang, saat itu sangat menyakitkan, tapi... bukankah kau menolongku?"

"Seandainya aku tidak datang ke sini, situasi seperti itu tidak akan terjadi."

"Kalau situasi itu tidak terjadi, aku juga tidak akan merasakan kebahagiaan saat ditolong olehmu."

"......Aku ini... pernah mencampakkanmu, lho? Di dunia asal..."

Aku tahu seharusnya aku tidak mengatakannya. Tapi, kata-kata itu tetap lolos dari bibirku.

"Bodoh."

Miori berbalik dan melakukan chop di kepalaku.

"Diriku di dunia itu dan diriku yang di sini berbeda. Diriku yang di sini menyukai dirimu yang di sini. Dirimu yang bersanding denganku di dunia itu berbeda dengan dirimu yang kusukai sekarang."

......Benar juga, mungkin itu memang benar.

Diriku yang sekarang dan diriku di putaran pertama itu berbeda. Kami orang yang sama, tapi menjalani hidup yang berbeda. Begitu pula, Miori yang sekarang dan Miori di putaran pertama pun berbeda. Pasti ada perbedaan yang timbul.

"Jadi, dunia mana yang lebih bahagia atau tidak, tidak ada gunanya memikirkannya. Setidaknya, aku merasa bersyukur bisa berada di sini sekarang."

Miori tersenyum.

"Orang yang membuatku berpikir begitu adalah kau. Teman-teman yang lain juga bilang begitu, kan?"

"......Mereka bilang mereka senang menjalani hari ini berkat diriku."

"Tuh kan? Kita bisa tertawa di sini sekarang itu berkat dirimu, tahu."

"Tapi, meski aku di sini... aku pasti akan terus menyakiti orang lain."

"Kalau dirimu yang sekarang kembali ke dunia asal, apa ada jaminan kau tidak akan menyakiti diriku yang di sana?"

"Itu..."

Aku tidak bisa menjamin hal itu. Masalah itu secara tidak sadar terus kucoba untuk tidak kupikirkan. Pada akhirnya, itu hanyalah alasan untuk melarikan diri dari dunia ini.

"Manusia itu saling melukai, disakiti, tapi tetap saling mendukung untuk hidup. Walaupun aku pernah disakiti olehmu, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga darimu."

"......Lalu, apa yang harus kulakukan?"

"Dirimu sendirilah yang menentukan."

......Aku selalu terus melarikan diri. Berkat mereka semua, akhirnya aku bisa menatap ke depan.

"——Tentu saja aku ingin tetap di sini."

Mungkin suatu saat nanti, penyesalan masa muda itu akan menghilang. Tapi, itu adalah masa depan yang seharusnya tidak kuketahui.

Aku ingin mengafirmasi jejak masa muda yang telah kuperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk kuulang.

"Kalau begitu, tetaplah di sini."

Dengan latar belakang langit biru cerah dan hamparan laut luas, Miori tersenyum.

"Kami mencintai masa muda ini, masa muda yang di dalamnya ada dirimu."

Pandanganku kabur, aku tidak bisa melihat ke depan. Miori mengelus kepalaku yang menunduk dengan lembut.

"......Sungguh, kau ini orang yang merepotkan ya. Benar-benar."

Berkat mereka semua, pikiranku berubah. Aku akan terus hidup di dunia ini mulai sekarang.

Aku tidak akan kembali ke dunia asal.

Aku ingin berada di sini, dan mereka semua memintaku untuk tetap tinggal.

Pasti, di masa depan pun aku akan kembali menyakiti seseorang.

Jika itu terjadi, aku hanya perlu meminta maaf dengan tulus dan memberikan kebahagiaan yang lebih besar dari itu.

Dengan begitu, aku akan terus mengejar masa muda penuh warna sampai akhir.

"......Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Aku ingin memperbaiki hubungan dengan Hikari. Lalu... kali ini aku pasti akan membuatnya bahagia."

Karena aku sangat menyukai Hoshimiya Hikari. Tentu saja, itu kalau Hikari mengizinkanku...

Masalahnya adalah cara untuk memperbaiki hubungan itu.

Tanpa menyelesaikan alasan kenapa aku dicampakkan, sulit rasanya untuk kembali bersama Hikari.

Aku sudah mendapat petunjuk dari Nanase, tapi jawaban intinya belum kutemukan.

"Aku mengerti perasaan Hikari-chan."

Miori menusukkan jari telunjuknya ke dadaku.

"Hikari-chan itu, dia tidak tahu apakah dia benar-benar dicintai olehmu atau tidak."

"......Dicintai atau tidak?"

"Soalnya... itu... kalian belum pernah... melakukan itu, kan?"

Miori bertanya sambil bergumam malu-malu.

"......Ya."

"Ditambah lagi, kau menyembunyikan masalah ingatan itu, jadi dia merasa tidak tenang."

Rambut Miori yang diikat bergoyang tertiup angin.

"Karena itu."

Miori menatapku lurus-lurus. Dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat sedih.

"——Ayo kita beri tahu Hikari-chan tentang dirimu yang sebenarnya."

Itu mirip dengan kata-kata di suatu musim semi yang lalu. Memang benar... mungkin aku harus mengungkapkan rahasia itu. Tapi,

"......Tidak bisa, kan. Bahwa di dunia putaran pertama, aku menikah denganmu."

Jika itu Hikari yang berhasil membongkar time leap-ku, mungkin dia akan percaya pada fenomena absurd tentang ingatan masa depan yang mengalir masuk itu.

Tapi, itu tetap saja akan menjadi kata-kata yang menyakitkan bagi Hikari.

Dengan wajah apa aku harus bilang bahwa diriku di putaran pertama memilih Miori, sedangkan diriku yang sekarang di sini mencintai Hikari?

Bagaimana dia bisa percaya pada kata-kata itu?




Terlebih lagi, Hikari sudah meragukan perasaanku.

Dia yakin bahwa di dalam hatiku, bukan dirinya yang bertahta, melainkan Miori. Itu semua karena kesalahanku, kami tidak bisa memastikan perasaan cinta satu sama lain di malam itu.

"Karena kau menjalani kehidupan yang berbeda dari yang dulu, wajar saja kalau kau menikah dengan orang yang berbeda. Dirimu yang menikah denganku di masa depan putaran pertama, sudah berbeda dengan dirimu yang sekarang, yang mengulang masa lalu dan mengumpulkan pengalaman baru. Jika kau menjelaskannya dengan benar, kurasa dia akan mengerti."

"......Secara logika mungkin begitu. Tapi, ini masalah perasaan."

"Justru karena itu, kau harus menjelaskannya. Kau tidak bisa memercayai apa yang tidak kau ketahui. Apalagi jika aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh dirimu yang menjadi kekasihnya... kau pasti berpikiran begitu, kan?"

Aku terperangah.

Kemungkinan besar, itulah yang ditunjukkan Hikari pada Miori.

"Hikari-chan, dia mencoba menitipkan dirimu padaku, tahu."

"......Eh?"

"Karena menurutnya, kau akan lebih bahagia jika bersamaku."

"Kenapa dia berpikiran seperti itu...?"

"Sudah jelas, kan? Karena dia ingin orang yang dicintainya bahagia."

Jika benar begitu, apakah Hikari juga memikirkan hal yang sama denganku?

"Hikari-chan pun merasa bahwa dirinya tidak bisa membuatmu bahagia."

"......Itu salah paham. Masa mudaku membutuhkan Hikari."

"Kalau begitu, kau tahu kan apa yang harus dilakukan?"

Nanase pernah berkata. Jika mengungkapkan segalanya justru menyakiti Hikari, maka itu saja tidak cukup. Jika demikian, apa lagi yang diperlukan?

Jawaban itu kini telah kugenggam.

"Itu adalah saran terbaik dariku yang merupakan rekan kolaborasimu, bukan?"

Sambil tersenyum, Miori mengucapkan kalimat yang sama dengan apa yang dia katakan di suatu musim semi yang lalu.

"Aku percaya padamu."

Karena itu adalah kata-kata dari sahabat masa kecil yang paling mengenalku. Jika kau tetap mendukungku di sampingku, mungkin aku bisa meraih kembali masa muda penuh warna itu.

——Karena itulah, aku memutuskan untuk jujur pada diriku sendiri.

Betapapun menakutkan dan mengerikannya hal itu, aku akan melakukannya demi menjadi kekasih yang sejati.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close