Interlude 3
Seiring dengan
semakin banyaknya sesi pelajaran musik yang kami lalui, tingkat kemahiran
paduan suara kelas kami pun perlahan-lahan mulai meningkat.
Mengingat aku
sama sekali tidak boleh membuat semua orang kembali merasa cemas, aku selalu
menyempatkan diri untuk menggenggam tangan Haibara-kun satu kali sebelum jam
pelajaran dimulai.
Belakangan ini,
efek magis dari genggaman tangan tersebut bahkan masih bisa bertahan dengan
baik untuk membantuku bermain di depan kelas, meskipun beberapa waktu sudah
berlalu.
……Walau
bagaimanapun, fakta bahwa aku harus terus mengulang rutinitas memalukan ini
benar-benar membuatku ingin rasanya menyembunyikan wajah di balik kedua belah
tangan karena teramat malu.
Lagipula jika
dipikir secara logika, fenomena di mana aku tidak akan bisa memainkan piano
tanpa modal memegang tangan seseorang adalah sebuah hal yang sangat tidak masuk
akal. Aku ini sudah bukan anak kecil lagi.
Terlebih lagi,
sosok lawan yang harus kugenggam tangannya di sini statusnya adalah kekasih
dari sahabat baikku sendiri. Situasi ini benar-benar terasa sangat buruk dan
memuakkan.
Aku benar-benar
tidak sudi untuk memaafkan kelakuan diriku sendiri. Sebenarnya makhluk macam
apa aku ini?
Aku yakin
perasaan yang bersarang di dalam hatiku saat ini murni bukanlah sebuah definisi
dari rasa suka.
Aku murni hanya
sedang memanfaatkan ketidakberdayaan mentalku secara tidak sadar untuk memilih
sosok sandaran yang paling nyaman.
Aku murni hanya
sedang mengincar sosok seseorang yang sekiranya akan bersedia memaklumi dan
memaafkan segala bentuk kemanjaanku. Aku benar-benar sesosok wanita yang paling rendah dan menjijikkan.
Namun di
saat aku terus melakukan tindakan egois seperti itu, Haibara-kun maupun Hikari
justru selalu memperlakukan diriku dengan penuh kelembutan yang luar biasa.
Dan
realitas itulah yang justru terasa sangat menakutkan bagiku.
Sampai
detik ini pun, aku sadar bahwa diriku masih terus-menerus memanfaatkan kebaikan
hati dari sahabat-sahabat berhargaku.
Aku sudah
menyeret mereka berdua untuk ikut terlibat ke dalam pusaran egoku yang sangat
egois.
Kira-kira,
dengan ekspresi dan perasaan seperti apa Hikari sedang menatap pembawaan diriku
saat ini?
"……Eh,
rupanya itu Yuino."
Tepat di
saat aku sedang berjalan seorang diri di sepanjang jalan pulang sembari
merenungkan hal tersebut.
"Kenapa
wajahmu terlihat seperti sedang dilanda oleh sebuah masalah yang sangat berat
begitu?"
Sosok
yang tiba-tiba datang menyapaku tersebut rupanya adalah Hondo-san.
Sama
sepertiku, Hondo-san tampaknya juga baru saja bersiap untuk pulang ke rumah,
melihat dari tas sekolah serta kotak gitar yang sedang digendong di
punggungnya.
"Kebetulan
sekali, yuk kita mengobrol sebentar di sana."
Hondo-san
menunjuk ke arah sebuah bangku taman yang terletak tidak jauh dari posisi kami
berdiri. Di bagian samping bangku tersebut, tampak berdiri sebuah vending
machine.
Bahkan sebelum
aku sempat melayangkan sebuah kalimat penolakan, Hondo-san sudah melangkah kaki
terlebih dahulu dengan santai menuju ke arah mesin penjual otomatis tersebut.
Anehnya, tindakan
sepihaknya itu sama sekali tidak menyisakan impresi pemaksaan di dalam hatiku,
mungkin karena dia mengeksekusi langkah tersebut setelah berhasil membaca
jawaban akhir dari isi kepalaku.
"Kamu mau
minum apa?"
"Ah, um……
kopi saja, deh. Ah, tapi biar aku saja yang membayar bagianku sendiri."
"Tidak
perlu, karena aku yang mengajakmu ke sini, jadi biar aku saja yang
mentraktirmu."
Hondo-san
melemparkan satu kaleng kopi hangat ke arah genggaman tanganku, sebelum
akhirnya memilih untuk membeli satu kaleng sup jagung hangat untuk dirinya
sendiri.
Di bawah naungan
langit malam yang sangat dingin, kami berdua pun mengambil posisi duduk
berdampingan di atas bangku taman. Seiring berjalannya waktu menuju malam hari,
hawa dingin di sekitar kami terasa bergerak semakin menusuk tulang.
Sensasi
kehangatan dari minuman kaleng yang mengalir masuk ke dalam tenggorokan terasa
sangat menyejukkan tubuh. Perlahan-lahan, embusan napas putih yang hangat
mengudara secara samar sebelum akhirnya lenyap tak berbekas ke angkasa.
"Mengenai
apa yang sedang bersarang di dalam kepala Hikari saat ini, rincian detailnya
dipastikan sudah sangat jelas, bukan?"
Setelah
mendengarkan seluruh keluh kesah mengenai masalah yang sedang mengganggu
pikiranku, Hondo-san langsung melayangkan sebuah jawaban dengan nada suara yang
terkesan seolah sedang membicarakan sebuah hal yang sangat lumrah.
"Apakah itu artinya…… Hondo-san berhasil memahami isi
kepalanya?"
"Tentu saja. Di dalam isi kepala Hikari saat ini, dia
pasti sedang merasa sangat bersemangat karena berhasil membiarkan kekasihnya
direbut oleh sahabatnya sendiri."
Mendengar analisis gilanya barusan, aku hampir saja
menyemburkan kembali kopi yang baru saja mengalir di dalam mulutku.
"Uhuk, uhuk……!?"
"Eh, Yuino. Ada apa denganmu? Kamu baik-baik
saja?"
"B-Bagaimana bisa kamu bertanya ada apa……!? Mana mungkin pemikiran menjijikkan seperti
itu benar adanya!"
Aku benar-benar
tidak habis pikir mengenai isi kepala dari gadis ini yang bisa-bisanya
melontarkan sebuah argumen gila yang sudah berada di luar batas kewajaran norma
sosial.
……Apakah anak ini
secara sukarela memang menganggap sosok Hikari sebagai seorang gadis mesum yang
aneh?
"Maksudku, lagipula sejak awal…… d-direbut bagaimana!?
Aku sama sekali tidak berniat merebutnya!"
Aku sendiri bahkan sampai merasa heran mengenai kalimat
pembelaan macam apa yang baru saja meluncur dari mulutku barusan……
Namun terlepas dari rasa heranku tersebut, aku tetap harus
menyuarakannya demi meluruskan kesalahpahaman fatal ini.
Hondo-san tampak melayangkan pandangan matanya secara
sekilas ke arah area sekitar kami.
"Yuino. Sebaiknya kamu tidak menyuarakan kosakata
sensitif seperti itu dengan nada suara yang lantang. Orang-orang di sekitar
kita sedang memperhatikan kita, lho."
Seorang pria paruh baya yang penampilannya tampak seperti
seorang pekerja kantoran yang baru pulang kerja terlihat berjalan melewati
posisi kami sembari melayangkan pandangan mata yang memancarkan ekspresi seolah
sedang membatin, 'Wah, anak muda zaman sekarang ternyata sangat berani ya kalau
sedang membicarakan topik dewasa di tempat umum'.
"Nah,
sekarang mari kita lupakan lelucon barusan."
Hondo-san
menyuarakan kalimat tersebut dengan nada suara yang sangat tenang dan santai.
Dia bisa tetap
bersikap seantusias itu, padahal barusan dia baru saja berhasil mengacak-acak
ketenangan hatiku dengan sangat sukses.
Pada detik
itulah, aku menjadi sangat yakin bahwa diriku dipastikan tidak akan pernah bisa
menang jika dituntut untuk berhadapan dengan sosok Hondo-san.
……Lagipula,
karena pembawaan bicaranya yang selalu datar sejak awal, aku menjadi sangat
kesulitan untuk membedakan mana kalimat yang murni bersifat lelucon semata.
"Jika aku
boleh berbicara secara serius, aku pribadi menilai bahwa Hikari saat ini murni
hanya sedang menaruh rasa percaya yang sangat besar kepada kapasitas seorang
Natsuki."
Anehnya, kalimat
yang baru saja disuarakan oleh Hondo-san tersebut terasa sangat ajaib hingga
mampu meruntuhkan benteng pertahanan keraguanku dengan mudah.
Padahal jika
mengukur dari durasi waktu pertemanan, jalinan ikatan yang kumiliki bersama
Hikari dipastikan berjalan jauh lebih lama dibandingkan dengan durasi
pertemanan mereka berdua.
"……Apakah
itu artinya, dia percaya bahwa kekasihnya tidak akan pernah terpikir untuk
melakukan perselingkuhan di belakangnya?"
"Faktor itu
jelas menjadi salah satu pilar utamanya, sih."
Hondo-san
melayangkan pandangan matanya menatap ke arah kejauhan sebelum kembali
melanjutkan untaian kalimatnya.
"Namun di
luar hal itu, karena Natsuki adalah sosok pahlawan yang sudah berhasil
menyelamatkan hidupnya di masa lalu, Hikari percaya bahwa pria yang luar biasa
seperti Natsuki pasti akan mampu melakukan sesuatu untuk membantu menyelesaikan
masalah yang sedang dihadapi oleh Yuino."
Mendengar
penjelasannya barusan, aku entah mengapa merasa seolah-olah Hondo-san sedang
membicarakan realitas mengenai dirinya sendiri.
"Bagaimanapun
juga, seorang gadis yang sedang jatuh cinta memang cenderung akan bersikap
sedikit buta. Mereka selalu menganggap sosok kekasihnya sebagai seorang
pahlawan super yang serbabisa."
Setelah itu,
Hondo-san tampak sedikit melonggarkan otot di sekitar sudut bibirnya untuk
memamerkan sebuah senyuman tipis yang bernada gurauan.
Pembawaan
suaranya saat ini terdengar sedikit canggung, sebuah pemandangan yang terhitung
sangat langka untuk bisa disaksikan dari sosok seorang Hondo-san yang biasanya
selalu tenang.
"Lagipula,
sebenarnya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari sikap Hikari, bukan?
Intinya, karena dia sangat menyayangi sosok Yuino, dia memilih untuk
memercayakan proses penanganannya kepada sosok orang yang paling dia percayai
di dunia ini. Rincian detailnya murni memperlihatkan betapa besarnya rasa
sayang yang dimiliki oleh Hikari kepadamu."
Rangkaian argumen
logis yang ditarik oleh Hondo-san pada realitasnya memang merupakan sebuah
kebenaran yang sangat selaras dengan pemahaman pribadiku mengenai sifat asli
Hikari selama ini.
"Begitu……
ya? Jika sudut pandangnya memang seperti itu…… aku murni merasa sangat bahagia
untuk bisa mendengarnya."
Beban
berat yang bersarang di dalam dadaku rasanya sedikit berkurang karena hal itu.
Bahkan di
dalam sudut hatiku yang terdalam, aku sempat tidak sengaja memelihara sebuah
pemikiran egois bahwa tidak apa-apa jika aku tetap bertahan dengan pola
interaksi yang ada saat ini.
Aku bisa
tetap mendapatkan sentuhan fisik dari Haibara-kun, di bawah naungan izin dan
permakluman yang diberikan oleh Hikari.
Sejujurnya,
fantasi egois tersebut sempat terasa sebagai sebuah opsi jalan keluar yang
sangat manis dan menggoda untuk terus kupertahankan di dalam kepala.
"——Namun
jika aku boleh jujur, aku pribadi menilai bahwa pembawaan diri Yuino yang
sekarang benar-benar terlihat sangat manja."
Oleh
karena itu.
Sembiri
terus menatap ke arahku, Hondo-san melayangkan sebuah kalimat penegasan
tersebut dengan nada suara yang datar dan tenang, persis seperti pembawaan
dirinya yang biasa.
Mendengar
kalimat telaknya barusan, hatiku yang selama ini selalu diperlakukan dengan
penuh kelembutan dan kehati-hatian oleh orang-orang di sekitarku mendadak
terasa seperti baru saja ditusuk oleh sebilah pisau yang sangat tajam.
"Sejak
awal mula pertemuan kita, aku selalu menganggap bahwa Yuino adalah sosok
manusia yang memiliki jenis golongan ras yang sama denganku."
……Sebenarnya,
pemikiran yang serupa juga sempat terlintas di dalam kepalaku saat menyaksikan
pertunjukan live miliknya di acara festival budaya sekolah kemarin.
Meskipun
kapasitas kemampuan tingkat observasiku dipastikan tidak akan pernah bisa
setajam dan sehebat milik Hondo-san yang sudah menyadarinya sejak awal.
"Kita adalah
jenis manusia yang tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup tanpa adanya musik.
Kita tidak akan pernah bisa mengekspresikan gelombang emosi di dalam dada tanpa
bantuan instrumen ini."
Hondo-san
menggerakkan salah satu ujung jemari tangannya untuk menyentuh permukaan kotak
gitar yang bersandar tegak di samping bangku taman dengan penuh kelembutan.
"Karena aku
sangat mencintai dunia ini, aku akan terus memilih untuk bertahan
memainkannya."
Atmosfer
di sekitar kami mendadak mengalami transformasi yang sangat drastis. Padahal
hawa udara malam saat itu sudah terasa sangat dingin, namun atmosfer yang
dipancarkan oleh pembawaan dirinya terasa jauh lebih membekukan.
Untaian
kata yang disuarakan oleh Hondo-san memiliki sebuah kekuatan magis yang sangat
pekat dan menusuk realitas.
"Aku murni
hanya ingin terus memelihara rasa percaya bahwa karya musik milikku suatu hari
nanti pasti akan mampu mengubah dunia."
Berkaca dari
prinsip hidupnya yang begitu kokoh tersebut, lantas apa sebenarnya tujuan akhir
yang sedang kuincar saat ini?
Bisa kembali
memainkan piano dengan tenang di depan semua orang…… hal semacam itu murni
hanyalah sebatas syarat dasar paling awal saja.
Lalu setelah
syarat dasar tersebut berhasil kupenuhi, apa sebenarnya hal besar yang ingin
kuwujudkan di dunia ini?
……Aku tidak tahu.
Sebenarnya apa definisi nyata dari arti karya musik milikku yang sesungguhnya?
"Alasan
utama yang membuat Yuino terus memilih untuk bersikap manja kepada Natsuki saat
ini murni terjadi karena kamu sedang kehilangan arah dan tersesat, bukan?"
Hondo-san
menuntut diriku untuk kembali bercermin dan menatap lurus ke dalam esensi dari
jati diri pribadiku sendiri.
"——Yuino.
Melalui deretan papan tuts piano tersebut, sebenarnya kepada siapa dan pesan
apa yang ingin kamu sampaikan kepada dunia?"



Post a Comment