NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Interlude III

Interlude 3


Seiring dengan semakin banyaknya sesi pelajaran musik yang kami lalui, tingkat kemahiran paduan suara kelas kami pun perlahan-lahan mulai meningkat.

Mengingat aku sama sekali tidak boleh membuat semua orang kembali merasa cemas, aku selalu menyempatkan diri untuk menggenggam tangan Haibara-kun satu kali sebelum jam pelajaran dimulai.

Belakangan ini, efek magis dari genggaman tangan tersebut bahkan masih bisa bertahan dengan baik untuk membantuku bermain di depan kelas, meskipun beberapa waktu sudah berlalu.

……Walau bagaimanapun, fakta bahwa aku harus terus mengulang rutinitas memalukan ini benar-benar membuatku ingin rasanya menyembunyikan wajah di balik kedua belah tangan karena teramat malu.

Lagipula jika dipikir secara logika, fenomena di mana aku tidak akan bisa memainkan piano tanpa modal memegang tangan seseorang adalah sebuah hal yang sangat tidak masuk akal. Aku ini sudah bukan anak kecil lagi.

Terlebih lagi, sosok lawan yang harus kugenggam tangannya di sini statusnya adalah kekasih dari sahabat baikku sendiri. Situasi ini benar-benar terasa sangat buruk dan memuakkan.

Aku benar-benar tidak sudi untuk memaafkan kelakuan diriku sendiri. Sebenarnya makhluk macam apa aku ini?

Aku yakin perasaan yang bersarang di dalam hatiku saat ini murni bukanlah sebuah definisi dari rasa suka.

Aku murni hanya sedang memanfaatkan ketidakberdayaan mentalku secara tidak sadar untuk memilih sosok sandaran yang paling nyaman.

Aku murni hanya sedang mengincar sosok seseorang yang sekiranya akan bersedia memaklumi dan memaafkan segala bentuk kemanjaanku. Aku benar-benar sesosok wanita yang paling rendah dan menjijikkan.

Namun di saat aku terus melakukan tindakan egois seperti itu, Haibara-kun maupun Hikari justru selalu memperlakukan diriku dengan penuh kelembutan yang luar biasa.

Dan realitas itulah yang justru terasa sangat menakutkan bagiku.

Sampai detik ini pun, aku sadar bahwa diriku masih terus-menerus memanfaatkan kebaikan hati dari sahabat-sahabat berhargaku.

Aku sudah menyeret mereka berdua untuk ikut terlibat ke dalam pusaran egoku yang sangat egois.

Kira-kira, dengan ekspresi dan perasaan seperti apa Hikari sedang menatap pembawaan diriku saat ini?

"……Eh, rupanya itu Yuino."

Tepat di saat aku sedang berjalan seorang diri di sepanjang jalan pulang sembari merenungkan hal tersebut.

"Kenapa wajahmu terlihat seperti sedang dilanda oleh sebuah masalah yang sangat berat begitu?"

Sosok yang tiba-tiba datang menyapaku tersebut rupanya adalah Hondo-san.

Sama sepertiku, Hondo-san tampaknya juga baru saja bersiap untuk pulang ke rumah, melihat dari tas sekolah serta kotak gitar yang sedang digendong di punggungnya.

"Kebetulan sekali, yuk kita mengobrol sebentar di sana."

Hondo-san menunjuk ke arah sebuah bangku taman yang terletak tidak jauh dari posisi kami berdiri. Di bagian samping bangku tersebut, tampak berdiri sebuah vending machine.

Bahkan sebelum aku sempat melayangkan sebuah kalimat penolakan, Hondo-san sudah melangkah kaki terlebih dahulu dengan santai menuju ke arah mesin penjual otomatis tersebut.

Anehnya, tindakan sepihaknya itu sama sekali tidak menyisakan impresi pemaksaan di dalam hatiku, mungkin karena dia mengeksekusi langkah tersebut setelah berhasil membaca jawaban akhir dari isi kepalaku.

"Kamu mau minum apa?"

"Ah, um…… kopi saja, deh. Ah, tapi biar aku saja yang membayar bagianku sendiri."

"Tidak perlu, karena aku yang mengajakmu ke sini, jadi biar aku saja yang mentraktirmu."

Hondo-san melemparkan satu kaleng kopi hangat ke arah genggaman tanganku, sebelum akhirnya memilih untuk membeli satu kaleng sup jagung hangat untuk dirinya sendiri.

Di bawah naungan langit malam yang sangat dingin, kami berdua pun mengambil posisi duduk berdampingan di atas bangku taman. Seiring berjalannya waktu menuju malam hari, hawa dingin di sekitar kami terasa bergerak semakin menusuk tulang.

Sensasi kehangatan dari minuman kaleng yang mengalir masuk ke dalam tenggorokan terasa sangat menyejukkan tubuh. Perlahan-lahan, embusan napas putih yang hangat mengudara secara samar sebelum akhirnya lenyap tak berbekas ke angkasa.

"Mengenai apa yang sedang bersarang di dalam kepala Hikari saat ini, rincian detailnya dipastikan sudah sangat jelas, bukan?"

Setelah mendengarkan seluruh keluh kesah mengenai masalah yang sedang mengganggu pikiranku, Hondo-san langsung melayangkan sebuah jawaban dengan nada suara yang terkesan seolah sedang membicarakan sebuah hal yang sangat lumrah.

"Apakah itu artinya…… Hondo-san berhasil memahami isi kepalanya?"

"Tentu saja. Di dalam isi kepala Hikari saat ini, dia pasti sedang merasa sangat bersemangat karena berhasil membiarkan kekasihnya direbut oleh sahabatnya sendiri."

Mendengar analisis gilanya barusan, aku hampir saja menyemburkan kembali kopi yang baru saja mengalir di dalam mulutku.

"Uhuk, uhuk……!?"

"Eh, Yuino. Ada apa denganmu? Kamu baik-baik saja?"

"B-Bagaimana bisa kamu bertanya ada apa……!? Mana mungkin pemikiran menjijikkan seperti itu benar adanya!"

Aku benar-benar tidak habis pikir mengenai isi kepala dari gadis ini yang bisa-bisanya melontarkan sebuah argumen gila yang sudah berada di luar batas kewajaran norma sosial.

……Apakah anak ini secara sukarela memang menganggap sosok Hikari sebagai seorang gadis mesum yang aneh?

"Maksudku, lagipula sejak awal…… d-direbut bagaimana!? Aku sama sekali tidak berniat merebutnya!"

Aku sendiri bahkan sampai merasa heran mengenai kalimat pembelaan macam apa yang baru saja meluncur dari mulutku barusan……

Namun terlepas dari rasa heranku tersebut, aku tetap harus menyuarakannya demi meluruskan kesalahpahaman fatal ini.

Hondo-san tampak melayangkan pandangan matanya secara sekilas ke arah area sekitar kami.

"Yuino. Sebaiknya kamu tidak menyuarakan kosakata sensitif seperti itu dengan nada suara yang lantang. Orang-orang di sekitar kita sedang memperhatikan kita, lho."

Seorang pria paruh baya yang penampilannya tampak seperti seorang pekerja kantoran yang baru pulang kerja terlihat berjalan melewati posisi kami sembari melayangkan pandangan mata yang memancarkan ekspresi seolah sedang membatin, 'Wah, anak muda zaman sekarang ternyata sangat berani ya kalau sedang membicarakan topik dewasa di tempat umum'.

"Nah, sekarang mari kita lupakan lelucon barusan."

Hondo-san menyuarakan kalimat tersebut dengan nada suara yang sangat tenang dan santai.

Dia bisa tetap bersikap seantusias itu, padahal barusan dia baru saja berhasil mengacak-acak ketenangan hatiku dengan sangat sukses.

Pada detik itulah, aku menjadi sangat yakin bahwa diriku dipastikan tidak akan pernah bisa menang jika dituntut untuk berhadapan dengan sosok Hondo-san.

……Lagipula, karena pembawaan bicaranya yang selalu datar sejak awal, aku menjadi sangat kesulitan untuk membedakan mana kalimat yang murni bersifat lelucon semata.

"Jika aku boleh berbicara secara serius, aku pribadi menilai bahwa Hikari saat ini murni hanya sedang menaruh rasa percaya yang sangat besar kepada kapasitas seorang Natsuki."

Anehnya, kalimat yang baru saja disuarakan oleh Hondo-san tersebut terasa sangat ajaib hingga mampu meruntuhkan benteng pertahanan keraguanku dengan mudah.

Padahal jika mengukur dari durasi waktu pertemanan, jalinan ikatan yang kumiliki bersama Hikari dipastikan berjalan jauh lebih lama dibandingkan dengan durasi pertemanan mereka berdua.

"……Apakah itu artinya, dia percaya bahwa kekasihnya tidak akan pernah terpikir untuk melakukan perselingkuhan di belakangnya?"

"Faktor itu jelas menjadi salah satu pilar utamanya, sih."

Hondo-san melayangkan pandangan matanya menatap ke arah kejauhan sebelum kembali melanjutkan untaian kalimatnya.

"Namun di luar hal itu, karena Natsuki adalah sosok pahlawan yang sudah berhasil menyelamatkan hidupnya di masa lalu, Hikari percaya bahwa pria yang luar biasa seperti Natsuki pasti akan mampu melakukan sesuatu untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh Yuino."

Mendengar penjelasannya barusan, aku entah mengapa merasa seolah-olah Hondo-san sedang membicarakan realitas mengenai dirinya sendiri.

"Bagaimanapun juga, seorang gadis yang sedang jatuh cinta memang cenderung akan bersikap sedikit buta. Mereka selalu menganggap sosok kekasihnya sebagai seorang pahlawan super yang serbabisa."

Setelah itu, Hondo-san tampak sedikit melonggarkan otot di sekitar sudut bibirnya untuk memamerkan sebuah senyuman tipis yang bernada gurauan.

Pembawaan suaranya saat ini terdengar sedikit canggung, sebuah pemandangan yang terhitung sangat langka untuk bisa disaksikan dari sosok seorang Hondo-san yang biasanya selalu tenang.

"Lagipula, sebenarnya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari sikap Hikari, bukan? Intinya, karena dia sangat menyayangi sosok Yuino, dia memilih untuk memercayakan proses penanganannya kepada sosok orang yang paling dia percayai di dunia ini. Rincian detailnya murni memperlihatkan betapa besarnya rasa sayang yang dimiliki oleh Hikari kepadamu."

Rangkaian argumen logis yang ditarik oleh Hondo-san pada realitasnya memang merupakan sebuah kebenaran yang sangat selaras dengan pemahaman pribadiku mengenai sifat asli Hikari selama ini.

"Begitu…… ya? Jika sudut pandangnya memang seperti itu…… aku murni merasa sangat bahagia untuk bisa mendengarnya."

Beban berat yang bersarang di dalam dadaku rasanya sedikit berkurang karena hal itu.

Bahkan di dalam sudut hatiku yang terdalam, aku sempat tidak sengaja memelihara sebuah pemikiran egois bahwa tidak apa-apa jika aku tetap bertahan dengan pola interaksi yang ada saat ini.

Aku bisa tetap mendapatkan sentuhan fisik dari Haibara-kun, di bawah naungan izin dan permakluman yang diberikan oleh Hikari.

Sejujurnya, fantasi egois tersebut sempat terasa sebagai sebuah opsi jalan keluar yang sangat manis dan menggoda untuk terus kupertahankan di dalam kepala.

"——Namun jika aku boleh jujur, aku pribadi menilai bahwa pembawaan diri Yuino yang sekarang benar-benar terlihat sangat manja."

Oleh karena itu.

Sembiri terus menatap ke arahku, Hondo-san melayangkan sebuah kalimat penegasan tersebut dengan nada suara yang datar dan tenang, persis seperti pembawaan dirinya yang biasa.

Mendengar kalimat telaknya barusan, hatiku yang selama ini selalu diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian oleh orang-orang di sekitarku mendadak terasa seperti baru saja ditusuk oleh sebilah pisau yang sangat tajam.

"Sejak awal mula pertemuan kita, aku selalu menganggap bahwa Yuino adalah sosok manusia yang memiliki jenis golongan ras yang sama denganku."

……Sebenarnya, pemikiran yang serupa juga sempat terlintas di dalam kepalaku saat menyaksikan pertunjukan live miliknya di acara festival budaya sekolah kemarin.

Meskipun kapasitas kemampuan tingkat observasiku dipastikan tidak akan pernah bisa setajam dan sehebat milik Hondo-san yang sudah menyadarinya sejak awal.

"Kita adalah jenis manusia yang tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup tanpa adanya musik. Kita tidak akan pernah bisa mengekspresikan gelombang emosi di dalam dada tanpa bantuan instrumen ini."

Hondo-san menggerakkan salah satu ujung jemari tangannya untuk menyentuh permukaan kotak gitar yang bersandar tegak di samping bangku taman dengan penuh kelembutan.

"Karena aku sangat mencintai dunia ini, aku akan terus memilih untuk bertahan memainkannya."

Atmosfer di sekitar kami mendadak mengalami transformasi yang sangat drastis. Padahal hawa udara malam saat itu sudah terasa sangat dingin, namun atmosfer yang dipancarkan oleh pembawaan dirinya terasa jauh lebih membekukan.

Untaian kata yang disuarakan oleh Hondo-san memiliki sebuah kekuatan magis yang sangat pekat dan menusuk realitas.

"Aku murni hanya ingin terus memelihara rasa percaya bahwa karya musik milikku suatu hari nanti pasti akan mampu mengubah dunia."

Berkaca dari prinsip hidupnya yang begitu kokoh tersebut, lantas apa sebenarnya tujuan akhir yang sedang kuincar saat ini?

Bisa kembali memainkan piano dengan tenang di depan semua orang…… hal semacam itu murni hanyalah sebatas syarat dasar paling awal saja.

Lalu setelah syarat dasar tersebut berhasil kupenuhi, apa sebenarnya hal besar yang ingin kuwujudkan di dunia ini?

……Aku tidak tahu. Sebenarnya apa definisi nyata dari arti karya musik milikku yang sesungguhnya?

"Alasan utama yang membuat Yuino terus memilih untuk bersikap manja kepada Natsuki saat ini murni terjadi karena kamu sedang kehilangan arah dan tersesat, bukan?"

Hondo-san menuntut diriku untuk kembali bercermin dan menatap lurus ke dalam esensi dari jati diri pribadiku sendiri.

"——Yuino. Melalui deretan papan tuts piano tersebut, sebenarnya kepada siapa dan pesan apa yang ingin kamu sampaikan kepada dunia?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close