Chapter 4
Mari Menikmati Masa Muda
Setelah
menyelesaikan pelatihan dengan taksi, kami akhirnya tiba di hotel tempat kami
menginap di hari ketiga.
Hotel hari ketiga
ini terletak tepat di tepi pantai. Tak disangka, ada pantai yang terbentang
tepat di depan mata.
"Waaa~, pemandangan yang bagus, ya!"
Kami yang masuk ke kamar hotel lebih dulu, memandang ke arah
pantai dari balkon. Pantai berpasir putih dengan air laut yang biru. Waktu
menunjukkan pukul empat sore. Matahari mulai condong, perlahan membawa suasana
senja mendekat.
"Hei, kita boleh berenang, kan?"
"Mana
mungkin, airnya dingin kalau untuk berenang, tahu."
Meski ini
Okinawa, sekarang sudah akhir September.
Kurasa sekadar
bermain di tepian ombak saja sudah cukup pas. Kabarnya, nanti akan ada acara
rekreasi di pantai.
Kalau ditanya apa
kegiatan pastinya, paling-paling hanya sekadar berfoto bersama. Kami juga sudah
berjanji untuk berfoto bersama.
Namun, karena
kelompok kami kembali ke hotel relatif lebih cepat, kami punya sedikit waktu
bebas. Tatsuya dan yang lainnya mulai bermain kartu di dalam kamar.
Aku
menyandarkan lengan di pagar balkon, memandang laut sambil berpikir. Berkat
saran Miori, aku sudah mendapatkan jawabannya. Namun, bagaimana aku harus
menyampaikan jawaban itu?
Pertama-tama, aku
perlu menyiapkan tempat untuk berbicara dengan Hikari. Selama karyawisata ini,
Hikari selalu menghabiskan waktu bersama teman-teman sekelasnya dari Kelas 1.
Andai aku
memanggilnya melalui LINE, apakah dia mau mendengarkan kata-kataku? Saat
aku sedang memikirkan hal itu, ponselku berdering.
"Senpai,
bagaimana karyawisatanya?"
Saat aku
mengangkat telepon, terdengar suara yang familiar.
"......Yamano."
"Kohai
yang manis ini meneleponmu lagi, lho~!"
Di
seberang telepon, Yamano terdengar bersenang-senang. Padahal seharusnya ini
belum jam pulang sekolah. Mungkin
sama seperti kemarin, dia menyempatkan diri di sela-sela waktu istirahat.
"Jadi, ada
apa?"
"Tadi
Miori-senpai menyuruhku meneleponmu, jadi aku menelepon deh."
Jujur sekali.
Miori benar-benar
melibatkan Yamano yang bahkan tidak ikut karyawisata. Aku tak kuasa menahan
senyum pahit.
"Terus, apa
kau sudah bisa menikmatinya?"
"......Kurasa
begitu. Berkat semua orang, aku sudah bisa menatap ke depan."
"Itu kabar
terbaik!"
"......Terima
kasih, Yamano."
Sekalipun itu
karena disuruh Miori, aku merasa senang dia meneleponku.
"Sama-sama!
Yah, sebenarnya aku tidak melakukan apa pun sih!"
"Kau
meneleponku sampai dua kali, kan?"
"......Apa
tidak mengganggu? Padahal aku tidak ada di sana."
"Tidak
apa-apa, kok."
"Syukurlah."
Yamano berkata
dengan nada lega. Aku menyadari bahwa kohai ini memang benar-benar dekat
denganku.
"Apa yang
terjadi? Boleh ceritakan padaku juga?"
"......Begitu
ya. Singkatnya, aku baru saja putus dari Hikari dan merasa sangat
terpuruk."
"Eh!?
Benarkah!?"
Yamano
mengeluarkan suara yang sangat terkejut, seolah dia tidak menyangka.
"Ya. Aku
telah menyakiti Hikari. Bukan cuma dia saja. Aku teringat masa lalu di mana aku
menyakiti semua orang karenaku, dan sempat berpikir bahwa aku tidak seharusnya
berada di sini."
"Itu namanya
stres berat, Senpai!"
"Pantas saja
Miori-senpai bilang harus meneleponmu," gumam Yamano yang seolah memahami
situasinya.
"Tapi,
sekarang sudah tidak apa-apa. Karena semua orang memberitahuku bahwa itu tidak
benar."
Saat aku
mengatakannya, Yamano mengeluh dengan nada tidak terima.
"Yah...
padahal kalau aku tidak menelepon pun, Senpai pasti sudah bangkit
sendiri."
"Tidak juga.
Bisa dibilang, aku sedang berusaha keras memperbaiki hatiku yang hancur."
Aku hanya memaksa
diriku untuk bisa menatap ke depan.
Dunianya masih
belum penuh warna, dan fakta bahwa aku telah menyakiti Hikari tidak akan pernah
berubah.
"——Berkat
Senpai, aku punya teman band, punya teman di kelas, semuanya berjalan lancar.
Aku benar-benar senang bisa masuk sekolah ini. Kalau hari itu aku tidak melihat
konser Senpai di festival budaya, kurasa aku tidak akan pernah masuk ke sekolah
ini..."
Yamano mulai
bercerita dengan nada yang serius.
"Semuanya
berkat Senpai!"
Dari ponsel,
Yamano mengirimkan sebuah foto ke chat. Di foto itu, Yamano terlihat
sedang bersama Matsui-san dan teman sekelas lainnya.
Itu hanya foto
biasa di dalam kelas, tapi Yamano terlihat tertawa bersama teman-temannya.
"Sekali
lagi, terima kasih banyak, Senpai."
Jarangan
bahasanya terdengar sangat formal, sesuatu yang jarang dilakukan Yamano.
"Berkat
Senpai yang mau menghadapiku, aku bisa mengubah diriku sendiri."
Aku tidak cukup
bodoh untuk tidak menyadari rasa syukur yang terkandung dalam kata-katanya.
"Pasti kalau
tidak bertemu Senpai, aku akan hidup sendirian. Kehidupan itu mungkin tidak
menyakitkan, tapi... kurasa aku tidak akan bisa merasakan kebahagiaan seperti
saat ini."
Seharusnya,
Yamano bersekolah di SMA lain dan menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.
Masalah
kepribadiannya mungkin tidak akan pernah muncul jika dia tidak membentuk band.
Tapi, itu berarti dia akan hidup tanpa bisa mengubah dirinya sendiri.
"Berkat
Senpai yang mengubahku, aku tidak jadi sendirian!"
——Yamano bilang
dia lebih menyukai masa kini daripada "seandainya" itu.
Yamano sangat
mirip dengan diriku di putaran pertama. Karena itulah, aku tak sengaja menyela.
Karena aku merasa jika dibiarkan begini, dia pasti akan menyesal.
"Jadi...
tolong jangan katakan hal menyedihkan seperti 'aku tidak seharusnya berada di
sini'."
Yamano sedang
mengajariku bahwa tindakanku selama ini bukanlah sebuah kesalahan.
"Berkat
teleponmu, aku jadi punya sedikit keberanian."
"Oh? Apa
Senpai mau mencoba menantang sesuatu?"
"......Ya,
kira-kira begitu."
Di bawah sana,
aku melihat rambut berwarna cokelat terang. Di atas pasir putih, seorang gadis
sedang berjalan menuju ke arah laut.
"Bisa kau
beri aku semangat?"
"Aku tidak
begitu paham, tapi serahkan saja padaku!"
Yamano
mengangguk dengan semangat.
"Selamat
berjuang, Senpai! Semangat!"
Di
seberang telepon, Yamano mulai memutar intro lagu Stray Luminous.
"Terima
kasih!"
Aku
menutup telepon dan melesat keluar dari kamar.
"Hei,
Natsuki! Mau ke mana kau!?"
Tatsuya
dan yang lainnya bertanya dengan terkejut.
"Ke
tempat orang yang kusukai!"
Hanya itu yang
kukatakan, lalu aku mulai berlari menuju pantai. Aku menuruni tangga dengan
kecepatan penuh, berjalan cepat melewati lobi, lalu berlari lagi begitu sampai
di luar.
Saat memasuki
pantai, kakiku tertanam di pasir. Pasir masuk ke dalam sepatuku. Namun, aku tak memedulikannya dan terus
berlari demi mencapai laut. Perlahan, sosok orang di kejauhan semakin dekat.
Hikari
yang mengenakan gaun putih sedang memakai sandal jepit dan berjalan di tepian
ombak. Dia yang sedari tadi memandang ke arah laut, menoleh begitu menyadari
suara langkah kakiku.
"......Natsuki-kun."
Dia
menatapku yang mendekat dengan mata terbelalak karena terkejut.
"Hah,
hah..."
Karena
berlari sekuat tenaga di pasir pantai, aku merasa lebih lelah dari yang kukira.
Sambil bertumpu pada lutut, aku terengah-engah berusaha mengatur napas.
"......Ada
yang ingin kubicarakan, Hikari."
Tanpa terasa, matahari mulai condong. Di cakrawala, matahari hendak terbenam.
Langit telah
terwarnai oleh semburat senja. Di belakang punggung Hikari, cahaya matahari
sore berpijar.
"Aku juga,
Natsuki-kun."
Hikari
mengucapkannya sambil tersenyum tipis yang terasa sedih.
"Maaf."
Aku menundukkan
kepala.
"Untuk apa
kau meminta maaf?"
"……Maaf
karena membuatmu merasa tidak tenang."
"Kita sudah
putus, kan?"
"Aku
tidak ingin menyerah."
"Sudah
kubilang, kan? Aku tidak bisa
memercayaimu."
"……Karena
itulah, aku akan menceritakan semuanya, Hikari. Segala sesuatu yang selama ini
kusembunyikan."
"Eh……?"
Saat aku
mengatakannya, Hikari tampak terkejut.
"Kenapa
tiba-tiba kau berniat menceritakannya?"
"Untuk
menghilangkan rasa tidak tenang di hatimu."
"Bukankah
kau menyembunyikannya justru karena isinya akan membuatku tidak tenang?"
Seperti biasa,
tebakan Hikari sangat tepat sasaran.
"……Benar.
Tapi, kalau terus menyembunyikannya, kau tidak akan pernah bisa
memercayaiku."
"Apa kau
bisa membuatku percaya?"
"Ya. Mulai
saat ini, aku akan membuktikan rasa cintaku padamu."
Aku
mengangguk mantap.
Sekarang,
tidak ada lagi keraguan di dalam diriku. Sebab mereka semua telah melenyapkan keraguan itu.
"Aku
tidak akan pernah membuatmu merasa tidak tenang lagi. Aku akan membahagiakanmu, Hikari."
"……Kalau kau
berani bicara sejauh itu, katakan padaku. Apa yang selama ini kau sembunyikan
dariku?"
"Seperti
yang pernah kukatakan sebelumnya, aku melakukan time leap saat duduk di
bangku kuliah tahun keempat. Aku tidak punya pengalaman berpacaran dengan siapa
pun di masa depan, dan itu bukan berarti aku bersama Miori. Itu semua
kebenaran. Aku tidak berbohong."
"……Tapi,
penjelasan itu saja tidak cukup, kan?"
Untuk mengurai
ketegangan, aku menarik napas dalam-dalam. Sambil berusaha keras menahan
getaran suaraku, aku menyampaikan kebenaran yang selama ini kusimpan
rapat-rapat pada Hikari.
"——Di
dalam diriku, mengalir ingatan tentang masa depan."
"……Ingatan
tentang masa depan?"
"Ya.
Tepatnya, ingatan masa depan dari garis waktu tempat asalku."
"……Maksudnya,
sebelum Natsuki-kun melakukan time leap…… yaitu masa depan di putaran
pertama?"
Seperti yang
diharapkan dari Hikari. Dia sangat cepat memahami situasi.
Atas konfirmasi
Hikari, aku membalasnya dengan anggukan.
"Benar. Aku
mulai memimpikan masa depan di dunia di mana aku tidak melakukan time leap.
Itu bukan sekadar lamunanku, melainkan kejadian yang ada di Parallel World
yang bercabang akibat time leap-ku."
"Kenapa kau
bisa tahu hal seperti itu?"
"Seorang
pria yang mengaku sebagai Tuhan muncul dalam mimpiku dan menjelaskannya."
"……Aku ingin
bilang itu tidak masuk akal, tapi karena kau sendiri sudah melakukan time
leap, aku tidak bisa mengelak."
Itu adalah bagian
yang paling sulit dipercaya, namun Hikari mau menerimanya.
"Menurutnya,
aku memimpikan masa depan putaran pertama karena adanya tekanan untuk
mengembalikan dunia ke kondisi semula—sesuatu yang disebut 'Kekuatan Koreksi
Dunia'. Katanya, celah di garis waktu semakin melebar, dunia aslinya terancam
musnah, dan dunia tengah mengirimkan sinyal bahaya…… kira-kira seperti itulah
penjelasannya."
"Jadi……
alasan Natsuki-kun terlihat begitu mahir dalam segala hal adalah……"
"Ya. Ingatan yang seharusnya belum pernah kualami,
telah tertanam di dalam diriku melalui mimpi."
"…………Begitu ya."
Entah karena sedang menata pikirannya, Hikari menunduk
sambil menyentuh dagunya.
"Alasan kenapa aku tidak bisa melakukannya dengan
Hikari hari itu, adalah karena aku merasa mual akibat rasa janggal
tersebut."
Aku tahu hal-hal yang seharusnya tidak kuketahui. Aku bisa
melakukan hal-hal yang seharusnya belum bisa kulakukan. Aku bahkan tahu
caranya.
Rasa janggal itu, antara tubuh dan hati yang tidak sejalan,
membuat perasaanku sendiri tidak bisa mengikutinya.
"……Aku
mengerti apa yang Natsuki-kun katakan. Jujur saja, sulit dipercaya,
tapi……"
"……Ya, aku
tahu."
Aku sendiri sadar
kalau ini adalah cerita yang tidak masuk akal.
"……Tapi, aku
ingin memercayai Natsuki-kun. Karena itu, tolong beritahu aku."
Mata Hikari
berkaca-kaca.
"Di masa
depan dunia aslimu, dengan siapa Natsuki-kun bersama?"
"Aku……"
Aku tidak ingin
mengatakannya. Namun, aku harus jujur.
Terus melarikan
diri tidak akan mengubah apa pun. Aku ingin benar-benar menghadapi Hikari.
"——Di dunia
masa depan itu, aku menikah dengan Miori."
Saat rahasia itu
terungkap, tidak ada ekspresi terkejut di wajah Hikari. Mungkin karena meskipun
tidak tahu detailnya, fakta tersebut masih berada dalam jangkauan dugaannya.
"……Begitu
ya."
"Aku
mengira, jika aku mengatakan ini, aku akan menyakitimu."
"……Jika aku
mendengarnya saat itu, tentu saja aku akan terluka. Aku pasti berpikir bahwa
Natsuki-kun memang ditakdirkan bersama Miori-chan, dan aku hanyalah
pengganggu……"
Karena itulah aku
tidak menceritakannya. Hasilnya, aku justru kehilangan kepercayaan Hikari.
Situasi di mana
pilihan apa pun akan menyakiti Hikari adalah kesalahan itu sendiri. Seandainya
kami bisa memastikan perasaan cinta satu sama lain saat itu, aku pasti tidak
perlu sampai harus mengungkapkan rahasia ini.
"Kau bukan
pengganggu. Aku——aku yang ada di sini sekarang, mencintaimu, Hikari."
"……Bagaimana
cara aku memercayai kata-kata itu?"
"Aku sudah
memikirkan banyak hal, dan akhirnya aku sadar hanya ada satu cara ini."
Yang dibutuhkan
Hikari adalah bukti cinta.
"——Awalnya,
itu adalah cinta pada pandangan pertama."
Untuk menembus
kebuntuan yang mustahil itu, aku hanya bisa menyusun kata-kata. Aku akan jujur,
menunjukkan diriku yang sebenarnya, dan menyampaikan perasaanku pada Hikari.
"Di hari
upacara penerimaan murid baru putaran pertama, saat melihatmu di bawah deretan
pohon sakura, aku jatuh cinta……"
"Bukankah
saat itu kau kutolak, Natsuki-kun?"
"Ya. Sejak
itu hubungan kita tidak pernah dekat, dan setelah lulus SMA pun kita tidak
pernah berkomunikasi lagi."
Namun, aku
melanjutkan kata-kataku.
"Meski sudah
masuk kuliah tahun keempat pun, aku tidak bisa melupakanmu."
Penolakan Hikari
adalah penyesalan terbesar dalam masa mudaku.
"……Tapi,
suatu saat nanti kau pasti akan melupakanku. Lalu kau akan menikah dengan
Miori-chan. Benar,
kan?"
"Ya.
Di garis waktu di mana aku tidak melakukan time leap, sepertinya memang
begitu."
"Kalau
begitu, itu berarti takdir. Natsuki-kun memang ditakdirkan bersama
Miori-chan."
"Aku
tidak peduli dengan takdir! Aku akan menentukan sendiri orang yang
kucintai!"
Hikari
tampak tersentak mendengar teriakanku yang tiba-tiba. Untuk menyampaikan perasaan yang nyaris meluap
ini, aku menoleh kembali pada masa muda yang kujalani di putaran kedua.
"Aku
yang telah melakukan time leap…… kali ini aku benar-benar ingin
berpacaran denganmu."
Jejak masa muda yang kuulang kembali dipenuhi dengan alasan
mengapa aku jatuh cinta padamu, Hikari.
"Aku senang
kita bisa jadi teman. Aku juga menyukai kepribadianmu yang ceria dan energik.
Hanya dengan bersamamu, aku merasa mendapat energi. Aku juga menyukai
kebaikanmu yang selalu memperhatikan sekeliling."
"……Apa kau
pikir memujiku saja cukup?"
"Setiap kali
aku mengetahui sisi baru dirimu, rasa sukaku semakin bertambah. Sikapmu yang
tiba-tiba bertindak nekat, kenyataan bahwa kau payah dalam olahraga, bernyanyi,
serta belajar, sifatmu yang menganggap dirimu sendiri sebagai idola sekolah, bahkan
rasa cintamu yang begitu dalam—semuanya menurutku manis."
"……Itu sama
sekali bukan pujian, tahu."
Hikari menatapku
tajam dengan ekspresi cemberut.
"Kata-kata
yang kau ucapkan secara santai pun telah menyelamatkan hatiku."
Di suatu musim
semi yang lalu, Hikari pernah berkata:
『Walaupun kau
merasa payah, bukankah tetap ada hal yang kau sukai? Karena itu, aku ingin
melakukannya.』
Kata-kata itu
memberiku keberanian saat aku merencanakan Rainbow Youth Project. Aku,
yang seberapa pun berusaha untuk tampil baik pada dasarnya tetaplah seorang
penyendiri (in-kya), selalu merasa bahwa keinginan itu terlalu muluk
bagi diriku. Kata-kata Hikari menegaskan sisi diriku yang terdistorsi itu.
"……Apa benar
aku pernah bilang begitu?"
"Tidak heran
kalau kau tidak ingat. Benar-benar hanya percakapan sehari-hari."
Aku tersenyum
kecut melihat Hikari yang tampak kebingungan.
"Setelah
itu, saat kau kabur dari rumah dan menginap di tempatku, aku mengetahui masa
lalumu. Aku tahu bahwa kau pun sebenarnya berpura-pura seperti aku, dan itu
membuatku merasa dekat denganmu. Aku ingin menjadi kekuatan untukmu yang sedang
berjuang melawan keluargamu. Meski terasa lancang bagi orang awam sepertiku
untuk memberi saran soal novel……"
"……Natsuki-kun
benar-benar telah menjadi kekuatanku."
"Yang tadi
itu sedikit terlalu indah. Sejujurnya, aku hanya ingin pergi ke laut
bersamamu."
"Begitukah?"
"Karena
pergi ke laut bersama orang yang disukai itu, bukankah itu masa muda
banget?"
"…………Benar
juga."
Hikari
mengangguk dengan sedikit malu. Mungkinkah dia sendiri juga berpikiran begitu?
"Tapi……
Uta-chan dan aku, kau sempat bingung harus memilih siapa, kan?"
"Ya. Karena
perasaanku pada Uta yang menaruh hati padaku semakin besar."
Aku membeberkan
semuanya secara jujur. Setelah insiden klub basket putri dan kencan di festival
Tanabata, perasaanku pada Uta menjadi sebesar perasaanku pada Hikari, dan aku
harus memilih salah satu.
"Meski
begitu, aku memilih Hikari karena——"
Kata-kata yang
pernah Hikari ucapkan padaku terlintas di benakku.
『Aku pikir,
Natsuki-kun yang berusaha menjadi keren itu, benar-benar keren.』
"……Benar,
karena kata-kata Hikari-lah yang menyelamatkanku."
Aku merasa senang
karena dia menyuruhku untuk tidak merasa puas dengan keadaan saat ini,
melainkan harus terus menatap ke depan.
『Kalau kau
berkompromi, dunia tidak akan berubah.』
Berkat teguran
Hikari yang menyuruhku untuk tidak menyerah, aku mendapatkan keberanian.
"Setelah
berpacaran denganmu, segalanya adalah pengalaman pertama bagiku. Aku merasa
gugup saat pergi berdua saja, dan hanya dengan bersentuhan sedikit pun, hatiku
sudah berdebar saking senangnya."
"……Ya. Aku
juga begitu."
Hikari menatap ke
kejauhan, seolah mengenang masa-masa itu.
"Saat itu,
aku yakin sekali kalau Natsuki-kun juga menyukaiku."
Namun, lanjut
Hikari.
"Saat ada
keributan soal Miori-chan, aku menyadarinya. Bahwa di dalam hati Natsuki-kun,
sudah ada perasaan besar sejak awal. Hanya saja, dirimu sendiri tidak
menyadarinya, bahwa itu adalah cinta."
"……Ya."
Itu adalah
pertama kalinya aku mengungkapkannya dengan kata-kata. Sebab aku sudah
memutuskan untuk terus menyembunyikan kebohongan itu. Namun, keyakinanku tidak
ada artinya dibandingkan dengan bukti cinta pada Hikari.
"Aku juga
menyukai Miori. Aku menyadarinya setelah mulai berpacaran denganmu."
"……Kau
mengakuinya, ya."
"Tapi
sekarang, semuanya sudah berbeda."
"Meski di
masa depan putaran pertama, kau menikah dengan Miori-chan?"
"Hatiku
sekarang sudah terisi penuh olehmu saja, Hikari."
Memang
benar aku dulu menyukai Miori. Bahkan mungkin sebesar perasaanku pada Hikari.
"Kita kencan
saat Natal, menelepon hampir setiap hari, bekerja keras bersama demi mengatasi
trauma Nanase, kau juga menyemangatiku saat acara live klub musik, saat
liburan musim panas kita pergi ke kolam renang berdua, belajar bersama di
rumahmu, duduk bersebelahan melihat kembang api……"
Seperti itulah,
aku menghabiskan satu tahun bersamamu.
『——Natsuki-kun
benar-benar pahlawanku!』
Benar saja, kau
selalu memberikan kata-kata yang ingin kudengar. Hikari selalu memberiku
keberanian.
"——Waktu
yang kuhabiskan bersamamu, telah berubah menjadi cinta."
Mata Hikari
terbelalak. Air mata mulai menetes dari sudut matanya.
"……Saat aku
mencoba untuk melakukan hubungan intim denganmu, bayangan Miori terlintas di
benakku. Karena itulah, aku tidak bisa melakukannya dengan lancar. Tapi, itu
bukan perasaan diriku yang ada di sini sekarang. Itu terjadi karena memoriku
dikacaukan oleh apa yang disebut 'Kekuatan Koreksi Dunia'. Sekarang setelah
ingatanku teratur, aku bisa mengatakannya dengan penuh keyakinan."
Aku melangkah
maju menuju Hikari.
"Haitara
Natsuki, hanya mencintai Hoshimiya Hikari seorang!"
Aku menatap mata
yang jernih seperti permata itu dan menyatakan cintaku dengan lugas. Aku sempat
sok dengan bilang "bukti cinta", tapi hanya inilah satu-satunya hal
yang bisa kulakukan.
"Aku juga
mencintaimu. Natsuki-kun. Hanya mencintaimu seorang."
Hikari terus
mengucapkannya sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Aku bisa
lepas dari boneka mainan Papa, bisa menjadi novelis, pergi ke laut bersama
kalian semua, berkencan dengan Natsuki-kun, berpegangan tangan, berpelukan,
berciuman…… semua masa muda yang bahagia ini, semuanya, semuanya adalah berkat
Natsuki-kun."
Sambil berusaha
keras menghapus air mata dengan lengan bajunya, kata-kata itu terus tumpah
bersama air mata yang tak henti mengalir.
"……Maaf
karena sudah mengucapkan selamat tinggal."
"Aku juga,
maaf karena sudah membuatmu cemas dan terluka……"
Hikari
tersenyum sambil menangis.
"Berpacaranlah
denganku sekali lagi."
Aku mengulurkan
tanganku.
"Aku ingin
kita bertahan hidup di dunia ini bersama-sama!"
Masa muda penuh
warna milikku tidak akan bisa terwujud tanpa Hikari di sisiku.
"Aku pasti
akan membuatmu bahagia!"
Srrpp...
Hikari menarik
napas dalam-dalam. Di saat aku mengira jawabannya akan segera tiba.
"Jangan membuatku cemas!! Dasar bodoh!!"
Tepat di depan wajahku, aku dimaki dengan suara keras. Ini pertama kalinya aku mendengar suara
Hikari sekeras itu. Aku begitu kaget sampai-sampai jatuh terduduk di pasir
pantai.
"Aku sudah
dengar dari Uta-chan, kan!? Kau berakting jadi tokoh utama yang tragis dan berniat menyerah pada
segalanya, kan!?"
"I-itu……"
Sepertinya
hal itu memang sudah tersebar sampai ke telinga Hikari. Yah, sebenarnya aku
juga tidak berniat menyembunyikannya lagi sekarang.
"Padahal
kau bisa ada di sini berkat bantuan semua orang, tapi kau malah sok
keren!"
"Ma-maaf……"
Itu terlalu tepat
sasaran, membuatku merasa lesu.
"Kau berniat
menyerah pada segalanya dan kembali ke dunia asal, kan?"
"……Ya. Kalau
time leap-ku membuat semua orang menderita, aku berpikir jika aku
menghapus segalanya, maka aku tidak perlu membuatmu menangis atau menyakiti
siapa pun."
"……Bodoh ya,
Natsuki-kun itu."
"……Ya.
Padahal mereka semua memberitahuku bahwa aku boleh ada di sini."
"Itu
salah."
"Eh…… apa
aku tidak boleh ada di sini?"
"Aku ingin
kau terus berada di sini! Kami semua menyampaikan hal itu padamu!"
Hikari menegaskan
bahwa ini bukanlah izin, melainkan sebuah permohonan.
"Lagipula,
Natsuki-kun sudah mewarnai masa muda kami menjadi penuh warna, kan?"
"……Hikari
juga berpikiran begitu?"
"Sudah
jelas!"
Setelah berteriak
penuh amarah, Hikari menyatakan tekadnya.
"Jadi,
sebagai ganti atas kebahagiaan yang kau berikan pada kami——"
Hikari perlahan
mengulurkan tangan padaku yang masih terduduk dengan posisi memalukan di atas
pasir.
"——Kali ini,
aku yang akan membuatmu bahagia!"
Aku terpana
menatap tatapan matanya yang begitu kuat. Kata-kata Hikari selalu mampu
menyelamatkan hatiku.
"Aku tidak
akan pernah membiarkanmu berpikir untuk kembali ke dunia asal lagi!"
Aku meraih tangan
Hikari. Dia menarikku dengan sekuat tenaga.
Aku bangkit dari
pasir pantai dengan penuh semangat. Tepat saat itu juga, Hikari memelukku erat.
"Ngh……"
Bibir kami
bertaut.
Hikari menciumku.
Agar bibir itu
tidak terlepas, aku mendekap tubuhnya yang ramping dengan erat. Dunia yang
tadinya berwarna abu-abu, perlahan mulai terwarnai dengan cerah.
"Terima
kasih, Hikari."
Pengakuan cintaku
kali ini benar-benar sangat memalukan.
Aku gagal tampil
keren, dan kenyataannya, justru Hikari yang tampil keren. Namun, kurasa begini
saja sudah cukup.
Menjadi jujur,
kurasa memang seperti inilah rasanya.
"……Tetaplah
bersamaku selamanya."
"Aku tahu.
Aku akan selalu bersamamu."
"Berjanjilah."
"Aku
berjanji."
Aku mengaitkan
jari kelingkingku dengan Hikari, lalu kami saling tersenyum dengan jarak yang
sangat dekat.
Pasti, kehangatan
inilah yang disebut sebagai kebahagiaan. Sesaat setelah aku memikirkan hal itu,
suara tepuk tangan mulai terdengar dari sekeliling kami.
"……Hmm?"
"Eh……?"
Tanpa kusadari,
kami sudah dikelilingi oleh banyak murid.
Aku buru-buru
melepaskan pelukanku dari Hikari. Kami segera menjaga jarak dengan canggung.
"Selamat!"
"Waaah~,
pemandangan yang bagus sekali!"
"Kalian
bermesraan sekali ya! Bikin iri saja!"
"Punya
pacar, mati saja sana……"
……Oh iya,
sore ini kan ada acara rekreasi di pantai.
Tidak
diragukan lagi kalau tadinya kami hanya berdua saja. Rupanya, saat kami sedang
asyik berbicara, mereka diam-diam berkumpul di sekitar sini.
"Se, sejak
kapan……?"
"Entahlah……?"
Harusnya, dengan
jarak sedekat ini, aku bisa menyadari keberadaan mereka.
……Mungkin, mereka
mengamati kami dari kejauhan. Begitu kami berpelukan, mereka perlahan mendekat.
"Aku sudah
memberi instruksi kepada semua orang agar tidak mengganggu kalian."
Reita
mengacungkan jempolnya. Sungguh kemampuan Control yang luar biasa!
Sangat membantu!
Sangat membantu, tapi aku tidak mau memujinya secara jujur!
"……Kenapa
tidak kau kumpulkan saja mereka di tempat lain?"
"Itu tidak
mungkin, kan? Karena jadwalnya memang rekreasi di pantai. Menahan langkah
mereka sebentar saja sudah merupakan usaha maksimal. Yah, lagipula semua orang
menonton dengan antusias."
"Sejauh mana
kalian mendengarkan?"
"Karena
ada jarak, kami hampir tidak mendengar percakapannya. Hanya bagian saat kalian
berteriak karena emosi yang meluap saja yang terdengar. Tapi tenang saja,
pembicaraan soal time leap sama sekali tidak terdengar. Orang-orang yang
tidak tahu situasinya hanya menganggap ada pasangan yang sempat bertengkar,
lalu berbaikan dengan cara yang sangat dramatis."
Saat
Reita menjelaskan situasinya, kami terus disoraki dengan tepuk tangan dan
siulan.
Hikari
yang berada di sampingku menutupi wajahnya yang semerah padam dengan kedua
tangan, lalu berjongkok di atas pasir. Pipiku pun terasa panas seperti
terbakar.
Ah,
apakah aku baru saja menambah satu lagi catatan sejarah hitam dalam hidupku……
"Oke, ayo
kita semua berfoto bersama!"
Uta
berkata dengan ceria sambil berlari ke arah kami.
"Astaga,
kalian ini benar-benar merepotkan."
"Benar
sekali. Aku sampai mengira apa yang akan terjadi."
"Ayo
kita buat filmnya."
"Tolong
mengertilah perasaan kami juga~"
"Oh,
menurutku justru menyenangkan kok?"
Tatsuya, Reita,
Serika, Miori, dan Nanase menyusul kemudian. Sepertinya mereka semua mengawasi
interaksi antara aku dan Hikari.
Benar-benar,
tolong hentikan itu! Bukankah
ini sudah kelewatan malunya!
"Ampun
deh……"
"Tidak
apa-apa, Hikari. Aku
mendengarnya dengan jelas, kok."
Nanase
menaruh tangannya di bahu Hikari yang sedang berjongkok.
"Kali
ini, aku yang akan membuatmu bahagia! Keren sekali, tahu."
"Jangan
meniruku, Yuino-chan!"
Ini adalah
perbuatan iblis.
Nanase menatap
Hikari sambil menyeringai puas.
"Hikarin,
keren sekali tadi!"
"Aku setuju.
Aku hampir jatuh cinta. Maksudku, aku memang suka."
Uta
memuji Hikari dengan lugu, dan Serika terus mengangguk setuju.
"Natsuki,
kau norak sekali tadi."
"Aku
sampai refleks berkomentar kalau komposisinya terbalik."
"Berisik
kalian!"
Tatsuya dan Reita
terus memaki tanpa ampun.
"Yah,
bukankah kalian sudah melakukan tugas dengan baik?"
Miori
berkata sambil bermain air di tepian ombak.
"Norak-norak
begitu, kau terlihat keren, kok."
"……Oh."
"Sama-sama."
"Aku belum
berterima kasih, tahu."
"Oleh-oleh
Okinawa, kau yang bayar ya."
"……Memangnya
tidak apa-apa hanya dengan itu?"
"Justru itu
yang kuinginkan."
Di sekitar kami,
murid-murid satu angkatan mulai berfoto dalam kelompok mereka masing-masing.
Waktu senja tidaklah lama. Sebentar lagi, hari pasti akan gelap.
Ini semua karena
kami yang mendominasi pasir pantai. Mohon maaf.
"Hei, ada
yang mau memotretku?"
Begitu
Uta memanggil, Mei yang berada tepat di sampingnya langsung mengangkat tangan.
"Ah,
kalau begitu biar aku yang melakukannya."
"Wah!?
Kaget!?"
"Hahaha,
padahal aku sudah ada di sini sejak tadi, lho……"
Mei
menggaruk pipinya yang terasa gatal. Kami saling bertatapan. Mei memberikan
acungan jempol padanya. Aku pun membalasnya dengan acungan jempol juga.
"Baik,
apakah semua sudah siap?"
Mei
menerima smartphone milik Uta dan bersiap. Kami berkumpul dengan latar
belakang laut saat senja.
"Kalau
matahari terbenam dijadikan latar belakang, sepertinya akan terlihat bagus di Minsta."
"Natsuki
dan Hikari-chan di tengah, ya. Kalian kan pemeran utamanya hari ini?"
"Eh……
memalukan……"
"Kenapa
masih malu-malu sekarang? Padahal tadi sudah berciuman sebegitu
beraninya."
"Nanase…… kau sedang mempermainkan kami, ya?"
"Tontonan
semenarik itu jarang ada, kok. Aku mengerti perasaanmu."
"Terserah
apa pun itu, Mei sudah menunggu."
"Ayo, ayo,
semuanya cepat! Mataharinya akan tenggelam!"
Di baris
depan ada Uta, aku, Hikari, dan Miori. Di baris belakang ada Tatsuya, Serika,
Nanase, dan Reita. Kami berbaris seperti itu agar difoto.
"Baik,
cheese."
Setelah
mengambil beberapa foto, Mei mengembalikan smartphone itu kepada Uta.
Uta mengecek hasilnya, lalu tersenyum lebar seolah bunga yang mekar.
"Hasilnya
bagus sekali! Shinohara-kun jenius!"
"Mana
lihat," kami semua pun mengintip layar smartphone Uta.
Dengan latar
belakang matahari terbenam yang indah dan laut yang jernih, semua orang tampak
tersenyum di dalam foto.
"Hei,
Natsuki-kun. Ayo minta tolong difotokan berdua."
"……Tadi
katanya malu, tapi sekarang sudah tidak apa-apa?"
"Sudah tidak
ada gunanya malu sekarang. Lagipula, rasa malu saat bepergian itu tidak perlu
dibawa pulang!"
"Padahal di
sini cuma ada kenalan kita semua."
"Masalah
kecil tidak penting! Uta-chan!"
"Iya, iya!
Akan kupotretkan!"
Aku
menggandeng tangan Hikari dan meminta tolong untuk difoto. Kami menghabiskan
waktu dengan saling memotret, lalu bermain air di tepian ombak.
Sebagai
acara penutup karyawisata, ini mungkin terkesan cukup sederhana. Namun, pasti saat kami menoleh kembali di
masa depan nanti, ini akan menjadi kenangan terbaik.
*
Saat tersadar,
aku sudah berdiri di sebuah ruang monokrom.
Tempat itu adalah
ruang kelas. Di atas meja guru, sosok diriku yang dulu sedang duduk.
Namun, dia jelas
bukan aku.
"Lama tidak
berjumpa."
Pria yang mengaku
sebagai Tuhan itu ada di sana. Sesuai janji, ini adalah malam hari ketiga
karyawisata. Aku sudah menduga kalau dia akan muncul dalam mimpiku begitu aku
tertidur.
"Sudah
menemukan jawabannya?"
"Jika kau
sudah memperhatikannya selama ini, bukankah kau sudah tahu tanpa aku harus
mengatakannya?"
"……Kurasa
begitu. Namun, karena aku telah memberikanmu hak untuk memilih, aku ingin
mendengar jawabannya langsung dari mulutmu."
"Aku memilih
dunia tempatku berada saat ini."
Sekarang, tidak
ada lagi alasan untuk bimbang. Karena semua orang telah mengajariku arti dari time
leap yang kulakukan.
"Kau yakin?
Dunia yang seharusnya benar akan musnah, lho."
"……Meskipun
begitu, jika aku harus memilih salah satu, aku tetap memilih yang
sekarang."
"Hmph,
tampaknya provokasiku tidak lagi ada artinya."
Pria yang mengaku
sebagai Tuhan itu tersenyum pahit. Kemudian, dia menunjuk ke arah pintu di
bagian belakang kelas.
"Jika kau
memilih dunia putaran kedua, keluarlah dari pintu itu."
"……Jadi
pintu di depan itu artinya dunia putaran pertama?"
"Pemahamanmu
cepat sekali. Memang benar begitu."
Tampaknya pria
yang mengaku sebagai Tuhan itu tidak berniat mencampuri pilihanku. Aku berjalan
menuju bagian belakang kelas. Saat kubuka pintunya dengan keras, di baliknya
hanyalah kegelapan.
"Berjalanlah
lurus. Dengan begitu, kau akan bisa kembali ke dunia tempatmu berada
sekarang."
Aku berbalik
sekali lagi ke arah pria yang mengaku sebagai Tuhan itu, yang menjelaskan
dengan nada datar.
"Kenapa? Apa
kau berubah pikiran?"
"……Tidak,
aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihku."
"Terima
kasih, katamu?"
"Terima
kasih telah mengabulkan permintaanku."
Berkat time
leap, aku mendapatkan kesempatan untuk mengulang masa muda.
Berkat hal itu
pula, aku bisa mendapatkan masa muda penuh penuh warna bagaikan pelangi yang
selama ini kucari-cari.
Banyak hal yang
terjadi, tapi aku merasa bahwa semua kejadian itu adalah bagian dari diriku
yang sekarang.
"Cepat
pergi."
Dia mengatakannya
dengan ketus. Atau mungkin, konsep seperti "perasaan" memang tidak
ada padanya. Yah, aku tidak tahu detailnya. Sepertinya dia pun tidak berniat
memberitahuku.
"Sampai
jumpa."
Mungkin saja,
saat mati nanti kami akan bertemu lagi. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang
terpenting adalah, selama aku melangkah melalui pintu ini, aku bisa kembali ke
tempat mereka berada. Hanya itu yang perlu kuketahui, hal-hal lainnya hanyalah
perkara sepele.
Aku
melangkah masuk ke dalam pintu itu.
Aku berlari lurus
menembus kegelapan. Tak lama kemudian, kulihat cahaya di kejauhan. Aku berlari
sekuat tenaga menuju cahaya itu.
Berharap agar
dunia tempatku hidup ini, akan terus bersinar dengan penuh warna selamanya.



Post a Comment