Kata Penutup
Anime-nya sudah
diputuskan! Anime-nya sudah diputuskan!
Kalau kalian
sedang membaca kata penutup ini, kemungkinan besar anime-nya sudah mulai
tayang.
Wah,
benar-benar menyenangkan ya!
Perkenalkan,
aku Amamiya Kazuki!
Langsung
saja, bagaimana dengan volume sepuluh ini?
Sungguh
perkembangan yang mengejutkan, bukan?
Tenang
saja, aku tidak akan membuat kalian menunggu terlalu lama setelah cliffhanger
seperti ini.
Saat aku
menulis kata penutup ini, draft awal volume sebelas sudah selesai!
Kemungkinan
besar akan segera terbit. Mungkin. Pasti!
Mengenai
isi volume sepuluh, aku akan membahasnya lebih detail di kata penutup volume
sebelas nanti. Mari kita
berdoa agar volume sebelas juga mendapat halaman kata penutup yang panjang.
Volume sebelas
mendatang direncanakan sebagai volume akhir yang sesungguhnya.
Ini adalah arc
perjalanan studi, acara masa muda terakhir di kehidupan SMA!
Tunggu dengan
antusias ya!
Meski begitu, aku
memang berencana menulis volume dua belas.
Tapi volume itu akan berupa kumpulan cerita sampingan atau
semacam after-story.
Dengan begitu, kisah masa muda yang dijalani Haibara-kun di
volume dua belas akan resmi berakhir.
Oh ya, kali ini
kata penutupnya mendapat cukup banyak halaman.
Alasannya
adalah...
Aku ingin
berbicara banyak tentang anime!
Juni tahun lalu,
bersamaan dengan perilisan volume sembilan, kami mengumumkan bahwa proyek anime
sedang dalam persiapan.
Sebenarnya proyek
ini sudah berjalan cukup lama sebelum itu. Aku menahan diri untuk tidak memberi
tahu siapa pun. Rasanya ingin cepat-cepat memberitahu semua orang!
Kemudian pada
November, pengumuman resmi anime diumumkan. Akhirnya aku bisa dengan bangga
memberitahu orang-orang di sekitar bahwa anime-nya benar-benar jadi. Rasanya
seperti terbebas dari beban.
Setelah itu, aku
berpikir ingin mengeluarkan kelanjutan cerita asli saat anime tayang. Aku harus
menulis!
Sambil sibuk
mengejar deadline, entah bagaimana musim semi tahun 2026 sudah semakin dekat.
Anime adalah
salah satu mimpi terbesarku sejak menjadi penulis light novel.
Aku benar-benar
bahagia bisa mewujudkan mimpi itu lewat Haibara-kun.
Semua ini berkat
kerja keras semua pihak yang terlibat dan dukungan kalian para pembaca. Terima
kasih banyak sekali.
Setelah mendapat
tawaran anime, aku baru sadar betapa besar skala yang bergerak dibandingkan
sebelumnya.
Banyak orang
bekerja keras agar Haibara-kun menjadi anime yang menarik. Sebagai
pengarang, aku benar-benar penuh rasa syukur.
Aku juga berusaha
ikut berkontribusi sebisa mungkin, jadi aku aktif berpartisipasi dalam rapat
skenario dan sesi rekaman suara.
Meski aku pemula
dalam produksi anime, mungkin aku adalah orang yang paling mengenal cerita Haibara-kun
di dunia ini, jadi aku berpikir setidaknya bisa membantu sedikit.
Dalam proses itu,
aku banyak belajar hal baru yang pasti akan menjadi bekal untuk karya-karyaku
selanjutnya.
Lewat kesempatan
ini, aku ingin menceritakan sedikit proses anime-nya kepada kalian semua.
Aku pertama kali
mendengar tawaran anime dari pihak editor beberapa tahun lalu.
Saat itu aku
masih bekerja sebagai karyawan kantoran sambil menulis. Jujur saja, aku sudah
cukup kewalahan, jadi saat mendengar kabar itu, reaksinya kurang lebih, “Masih
belum tahu akan jadi apa, jadi lebih baik tidak terlalu berharap dulu...”
Karena kalau
tidak berharap, aku tidak akan kecewa. Pernah ada pengalaman seperti itu di
masa lalu?
Baru benar-benar
terasa nyata ketika skenario episode pertama dikirimkan.
Rapat skenario
pertama aku tidak bisa hadir karena sedang sibuk setelah resign dari pekerjaan
tetap. Tapi setelah itu, aku ikut serta di setiap rapat!
Di sana aku
bertemu banyak orang yang terlibat dan terkesan dengan jumlah orang yang
bekerja untuk karya ini.
Di rapat
skenario, ada lebih dari sepuluh orang yang ikut serta. Melihat mereka saling
bertukar pendapat dari berbagai sudut pandang, aku hanya bisa berpikir, “Jadi
skenario dibuat seperti ini ya!” dengan mata berbinar-binar. Seperti anak SD
yang datang study tour.
Untungnya, Haibara-kun
ditangani oleh para penulis skenario veteran yang sangat handal.
Secara garis
besar mengikuti alur asli, tapi tentu ada beberapa perubahan untuk medium
anime.
Para penulis
veteran itu dengan tepat mengatakan, “Bagian ini terlalu panjang jadi kita
potong”, “Bagian ini lebih baik dijelaskan lewat gambar”, dan sebagainya. Aku hanya bisa mengangguk-angguk
sambil berkata “Pantas saja!” seperti mesin.
Tentu
saja bukan hanya penulis skenario, pendapat sutradara, produser, dan editor
pengurus Haibara-kun (yang sangat andal!) juga beterbangan di sana.
Semuanya terasa sangat segar bagi diriku yang tidak tahu apa-apa tentang
produksi anime.
Menulis
skenario anime juga menjadi salah satu targetku, jadi aku mengikuti dengan
semangat magang penulis skenario yang kebetulan berstatus pengarang asli.
Rapat
skenario selalu menyenangkan karena aku bisa merasakan bagaimana semua orang di
sana benar-benar bekerja keras untuk menjadikan Haibara-kun anime yang
bagus.
Setelah
itu aku sadar bahwa bersikap “tidak berharap” terhadap anime adalah sikap yang
tidak sopan.
Akhirnya
aku memutuskan untuk percaya bahwa ini akan menjadi anime yang bagus dan
memberikan dukungan sepenuh tenaga.
Tapi
level skenario yang dibuat para veteran itu terlalu tinggi, jadi sering kali
aku hanya bilang, “Tidak ada yang perlu dikoreksi.”
Senang
sih, tapi tetap saja!
Aku
sebenarnya cukup sadar akan kekuatan posisiku sebagai pengarang asli, jadi aku
berusaha berhati-hati dalam berpendapat. Tapi jujur, aku orang yang memang
penuh masalah, jadi aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi pengarang asli yang
baik bagi tim produksi.
Dari dulu
aku memang suka bicara hal-hal yang tidak perlu.
Meski
begitu, aku juga siap untuk tegas jika diperlukan demi karya ini.
Tapi
ternyata itu kekhawatiran yang tidak perlu. Karena semua orang di sini adalah profesional
anime yang memiliki kemampuan jauh di atasku.
Aku yakin
hasilnya akan lebih baik jika aku hanya mengawasi daripada ikut campur terlalu
banyak.
Pendapatku
hanya sebatas penyesuaian karakter saja. Karena itu memang bidang yang paling
aku kuasai!
Meski
kadang editor lebih tepat dalam hal itu. Kalau begitu, memang tidak perlu ya
pendapatku.
Semakin
banyak rapat skenario, semakin banyak material yang harus aku review.
Mulai
dari desain karakter, storyboard, hingga seni latar!
Melihat
hal-hal yang selama ini hanya ada di kepalaku menjadi nyata sungguh luar biasa.
Anime memang hebat!
Tapi
tugas pengarang asli bukan hanya terharu. Aku harus menunjukkan masalah jika ada.
Meski begitu,
semuanya begitu luar biasa, dan sutradara serta produser juga berbagi visi yang
detail, jadi aku bisa dengan tenang mengacungkan jempol!
Terima kasih
banyak telah menghargai pendapatku sebagai pengarang asli yang tidak tahu arah.
Setelah itu,
proses produksi masuk ke tahap rekaman suara (afureko).
Selain itu masih
banyak pekerjaan lain, tapi yang aku bantu utamanya adalah rapat skenario,
review berbagai material, dan afureko.
Di lokasi
afureko, rasanya seperti, “Karakter-karakter yang aku ciptakan dapat suara! Berapa
yang harus aku bayar!?” dengan semangat kegirangan.
Tapi
begitu mendengar akting para seiyuu, aku langsung terpukau. Mereka terlalu jago
menangkap karakter masing-masing!
Akting
Uemura-san yang memerankan Haibara Natsuki benar-benar sempurna sejak awal. Aku
kaget sekali...
Seiyuu
memang luar biasa!
Awalnya
aku dan sutradara sempat khawatir suaranya terlalu keren. Karena suara
Uemura-san memang sangat keren.
Tapi
lagi-lagi itu kekhawatiran yang tidak perlu.
Aktingnya yang sedikit suram dan cool itu... Ya! Ini
benar-benar Natsuki!
Afureko benar-benar membuatku sadar betapa hebatnya
kemampuan para seiyuu.
...Masih banyak yang ingin aku ceritakan, tapi halamannya
sudah habis! Enam halaman kok terasa terlalu sedikit.
Nanti aku akan bicara lebih banyak tentang anime di tempat
lain, jadi kalau mau, silakan cek akun X-ku!
Mungkin aku juga akan live-tweet saat tayang nanti!
Baiklah semuanya!
Pastikan kalian menonton anime Haibara-kun ya!
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Window Shopping
Bersama Para Gadis
Kami sedang berjalan menyusuri AEON Mall Takasaki.
"Mungkin sudah cukup lama ya sejak kita kumpul dengan
formasi ini," ujar Serika.
Anggotanya ada
lima orang: Hikari-chan, Uta, Yuino-chan, Serika, dan aku. Kami adalah anggota
grup perempuan saat kamp pelatihan pantai dulu. Sejak saat itu, kami sering
berkumpul untuk bermain bersama secara berkala.
Namun,
frekuensinya berkurang drastis setelah kami naik ke kelas dua.
"Ahaha,
soalnya semua orang sibuk, kan~"
"Tapi,
syukurlah kita tetap bisa berkumpul di tengah kesibukan itu."
Hikari-chan dan
Yuino-chan menimpali.
Saat ini adalah
masa liburan musim panas Obon, sehingga kegiatan klub libur selama beberapa
hari.
Kalau ditanya
sedang apa kami di AEON Takasaki, jawabannya adalah window shopping.
Kami datang untuk mencari baju musim gugur sebagai persiapan menyambut musim
mendatang.
"Eh,
yang ini lucu banget!"
"Memang
benar, sepertinya cocok untuk Uta. Coba dipakai, deh?"
"Oke!
Kalau begitu, aku ke ruang ganti sekarang ya!"
Kami memilihkan
pakaian untuk satu sama lain dan meminta orang yang terlihat cocok untuk
mencobanya. Belanja bersama anak perempuan itu memakan waktu lama, lho. Kali
ini, Natsuki dan yang lainnya tidak kami ajak.
"Bagaimana?"
Uta
keluar dari ruang ganti mengenakan rok longgar berwarna krem. Kesannya terasa
segar, perpaduan antara lucu dan dewasa. Sangat cocok untuknya.
"Hmm,
menurutku bagus," kataku sambil mengacungkan jempol.
Uta
tersenyum senang.
"Eh~ kalau
begitu, aku beli saja ya?"
"Harganya
berapa, Uta-chan?"
"Hmm, kalau
tidak salah label harganya ada di sekitar sini..."
Uta melihat label
harga rok itu bersama Hikari-chan.
"......Oke,
ayo cari baju lain~!"
"Ya, yah...
mungkin kalau kita cari lagi, ada baju dengan suasana serupa kok!"
Sepertinya
harganya mahal. Yah, bagaimanapun juga, kami hanyalah anak SMA.
"Susah juga
ya kalau mau beli baju yang mahal."
"Coba kalau
aku sudah bisa kerja paruh waktu~"
Uta
dengan enggan mengembalikan rok itu ke tempat asalnya.
"Mau
kerja paruh waktu di live house-ku? Kamu bisa jadi kaya, lho."
Serika berpose peace dengan wajah serius.
"Tapi,
bukannya kamu sendiri tidak punya uang, Serika?"
"Uangku
selalu habis begitu saja. Kenapa ya?"
Saat aku
melontarkan candaan, Serika memiringkan kepalanya bingung.
"Itu karena
kamu terlalu banyak beli CD. Terlalu sering pergi ke konser."
Selain itu,
menurutku kegiatan band juga memakan biaya. Meskipun Serika bekerja
paruh waktu mati-matian, kesannya dia menghabiskan semua uang yang didapat.
"Aku
mengerti. Aku juga kerja paruh waktu, tapi uangku selalu saja habis."
"Yuino-chan,
itu karena kamu terlalu banyak beli merchandise idol..."
Hikari-chan
menimpali dengan wajah lelah. Konon, kamar Yuino-chan dipenuhi oleh merchandise
idol. Ternyata dia punya sisi yang cukup disayangkan (maaf ya).
"Uta tidak punya waktu untuk kerja paruh waktu,
kan."
Aku menyentil dahi Uta pelan. Uta memajukan bibirnya.
"Aku tahu~, kegiatan klub saja sudah bikin
kewalahan."
Uta adalah kapten baru klub basket putri, jadi kurasa dia
memikul beban yang cukup berat. Lagipula, untung saja kapten barunya bukan aku.
Aku tidak cocok dengan peran seperti itu.
"Uta-chan, bukannya kamu sering membantu di kedai
okonomiyaki orang tuamu?"
"Kadang-kadang sih~. Tapi mereka tidak memberiku banyak
uang saku! Pelit sekali!"
Uta yang sedang merajuk itu tetap terlihat lucu hari ini.
"Kakiku lelah, istirahat sebentar yuk."
Serika menunjuk papan petunjuk ke arah food court.
"Benar
juga..."
Tanpa terasa,
hari sudah sore. Kami telah berkeliaran di AEON Mall selama setengah hari. Kami
mengambil meja di salah satu sudut food court dan membeli crepe
serta kopi.
Food court sedang sangat ramai. Yah, namanya juga
masa Obon.
"Pada akhirnya, kita cuma beli baju dari Unishiro,
ya?" ujar Serika sambil menopang dagu.
Memang benar juga.
"Tetap saja, kalau harganya sudah lebih dari sepuluh
ribu yen, jadi ragu sendiri, ya."
Hikari-chan tersenyum pahit. Padahal rumahnya seharusnya
keluarga kaya, tapi sepertinya uang sakunya tidak sebanyak itu.
"Hikari,
coba tatapannya lebih ke atas lagi."
"Eh, ee...? Begini sudah benar?"
Yuino-chan memotret Hikari-chan yang sedang memegang crepe.
Foto Hikari-chan langsung diunggah ke Minsta.
Benar-benar tipikal dirinya... fakta bahwa dia tidak ikut
berfoto di sana sangat mencerminkan kepribadian Yuino-chan.
"Aku ingin cepat-cepat bisa membeli banyak baju
lucu~" kata Uta sambil memakan crepe cokelat pisang miliknya.
"Kalau kamu hemat uang crepe, mungkin kamu bisa
beli baju yang tadi?"
"Apa sih
yang kamu katakan? Makanan manis itu tidak bisa dikompromikan!"
Uta
berargumen dengan semangat sambil terus mengunyah makanannya.
"Selanjutnya,
aku mau lihat kosmetik," ujar Serika di sisi lain.
Masih mau
berkeliling lagi?
"Ah, kalau
begitu aku mau tahu rekomendasi Serika-chan."
"Tidak
boleh. Aku tidak akan membiarkan Hikari memakai riasan ala gal."
"Ke-kenapa
malah Yuino-chan yang melarang!?"
Melihat interaksi
yang kacau itu, senyumku merekah tanpa sadar.
Pada akhirnya,
meskipun sudah menghabiskan setengah hari di AEON, kami hampir tidak membeli
apa pun.
──Aku merasa,
keseharian yang biasa seperti inilah yang paling kusukai.



Post a Comment