NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 10 Afterword + Bonus Story

Kata Penutup


Anime-nya sudah diputuskan! Anime-nya sudah diputuskan!

Kalau kalian sedang membaca kata penutup ini, kemungkinan besar anime-nya sudah mulai tayang.

Wah, benar-benar menyenangkan ya!

Perkenalkan, aku Amamiya Kazuki!

Langsung saja, bagaimana dengan volume sepuluh ini?

Sungguh perkembangan yang mengejutkan, bukan?

Tenang saja, aku tidak akan membuat kalian menunggu terlalu lama setelah cliffhanger seperti ini.

Saat aku menulis kata penutup ini, draft awal volume sebelas sudah selesai!

Kemungkinan besar akan segera terbit. Mungkin. Pasti!

Mengenai isi volume sepuluh, aku akan membahasnya lebih detail di kata penutup volume sebelas nanti. Mari kita berdoa agar volume sebelas juga mendapat halaman kata penutup yang panjang.

Volume sebelas mendatang direncanakan sebagai volume akhir yang sesungguhnya.

Ini adalah arc perjalanan studi, acara masa muda terakhir di kehidupan SMA!

Tunggu dengan antusias ya!

Meski begitu, aku memang berencana menulis volume dua belas.

Tapi volume itu akan berupa kumpulan cerita sampingan atau semacam after-story.

Dengan begitu, kisah masa muda yang dijalani Haibara-kun di volume dua belas akan resmi berakhir.

Oh ya, kali ini kata penutupnya mendapat cukup banyak halaman.

Alasannya adalah...

Aku ingin berbicara banyak tentang anime!

Juni tahun lalu, bersamaan dengan perilisan volume sembilan, kami mengumumkan bahwa proyek anime sedang dalam persiapan.

Sebenarnya proyek ini sudah berjalan cukup lama sebelum itu. Aku menahan diri untuk tidak memberi tahu siapa pun. Rasanya ingin cepat-cepat memberitahu semua orang!

Kemudian pada November, pengumuman resmi anime diumumkan. Akhirnya aku bisa dengan bangga memberitahu orang-orang di sekitar bahwa anime-nya benar-benar jadi. Rasanya seperti terbebas dari beban.

Setelah itu, aku berpikir ingin mengeluarkan kelanjutan cerita asli saat anime tayang. Aku harus menulis!

Sambil sibuk mengejar deadline, entah bagaimana musim semi tahun 2026 sudah semakin dekat.

Anime adalah salah satu mimpi terbesarku sejak menjadi penulis light novel.

Aku benar-benar bahagia bisa mewujudkan mimpi itu lewat Haibara-kun.

Semua ini berkat kerja keras semua pihak yang terlibat dan dukungan kalian para pembaca. Terima kasih banyak sekali.

Setelah mendapat tawaran anime, aku baru sadar betapa besar skala yang bergerak dibandingkan sebelumnya.

Banyak orang bekerja keras agar Haibara-kun menjadi anime yang menarik. Sebagai pengarang, aku benar-benar penuh rasa syukur.

Aku juga berusaha ikut berkontribusi sebisa mungkin, jadi aku aktif berpartisipasi dalam rapat skenario dan sesi rekaman suara.

Meski aku pemula dalam produksi anime, mungkin aku adalah orang yang paling mengenal cerita Haibara-kun di dunia ini, jadi aku berpikir setidaknya bisa membantu sedikit.

Dalam proses itu, aku banyak belajar hal baru yang pasti akan menjadi bekal untuk karya-karyaku selanjutnya.

Lewat kesempatan ini, aku ingin menceritakan sedikit proses anime-nya kepada kalian semua.

Aku pertama kali mendengar tawaran anime dari pihak editor beberapa tahun lalu.

Saat itu aku masih bekerja sebagai karyawan kantoran sambil menulis. Jujur saja, aku sudah cukup kewalahan, jadi saat mendengar kabar itu, reaksinya kurang lebih, “Masih belum tahu akan jadi apa, jadi lebih baik tidak terlalu berharap dulu...”

Karena kalau tidak berharap, aku tidak akan kecewa. Pernah ada pengalaman seperti itu di masa lalu?

Baru benar-benar terasa nyata ketika skenario episode pertama dikirimkan.

Rapat skenario pertama aku tidak bisa hadir karena sedang sibuk setelah resign dari pekerjaan tetap. Tapi setelah itu, aku ikut serta di setiap rapat!

Di sana aku bertemu banyak orang yang terlibat dan terkesan dengan jumlah orang yang bekerja untuk karya ini.

Di rapat skenario, ada lebih dari sepuluh orang yang ikut serta. Melihat mereka saling bertukar pendapat dari berbagai sudut pandang, aku hanya bisa berpikir, “Jadi skenario dibuat seperti ini ya!” dengan mata berbinar-binar. Seperti anak SD yang datang study tour.

Untungnya, Haibara-kun ditangani oleh para penulis skenario veteran yang sangat handal.

Secara garis besar mengikuti alur asli, tapi tentu ada beberapa perubahan untuk medium anime.

Para penulis veteran itu dengan tepat mengatakan, “Bagian ini terlalu panjang jadi kita potong”, “Bagian ini lebih baik dijelaskan lewat gambar”, dan sebagainya. Aku hanya bisa mengangguk-angguk sambil berkata “Pantas saja!” seperti mesin.

Tentu saja bukan hanya penulis skenario, pendapat sutradara, produser, dan editor pengurus Haibara-kun (yang sangat andal!) juga beterbangan di sana. Semuanya terasa sangat segar bagi diriku yang tidak tahu apa-apa tentang produksi anime.

Menulis skenario anime juga menjadi salah satu targetku, jadi aku mengikuti dengan semangat magang penulis skenario yang kebetulan berstatus pengarang asli.

Rapat skenario selalu menyenangkan karena aku bisa merasakan bagaimana semua orang di sana benar-benar bekerja keras untuk menjadikan Haibara-kun anime yang bagus.

Setelah itu aku sadar bahwa bersikap “tidak berharap” terhadap anime adalah sikap yang tidak sopan.

Akhirnya aku memutuskan untuk percaya bahwa ini akan menjadi anime yang bagus dan memberikan dukungan sepenuh tenaga.

Tapi level skenario yang dibuat para veteran itu terlalu tinggi, jadi sering kali aku hanya bilang, “Tidak ada yang perlu dikoreksi.”

Senang sih, tapi tetap saja!

Aku sebenarnya cukup sadar akan kekuatan posisiku sebagai pengarang asli, jadi aku berusaha berhati-hati dalam berpendapat. Tapi jujur, aku orang yang memang penuh masalah, jadi aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi pengarang asli yang baik bagi tim produksi.

Dari dulu aku memang suka bicara hal-hal yang tidak perlu.

Meski begitu, aku juga siap untuk tegas jika diperlukan demi karya ini.

Tapi ternyata itu kekhawatiran yang tidak perlu. Karena semua orang di sini adalah profesional anime yang memiliki kemampuan jauh di atasku.

Aku yakin hasilnya akan lebih baik jika aku hanya mengawasi daripada ikut campur terlalu banyak.

Pendapatku hanya sebatas penyesuaian karakter saja. Karena itu memang bidang yang paling aku kuasai!

Meski kadang editor lebih tepat dalam hal itu. Kalau begitu, memang tidak perlu ya pendapatku.

Semakin banyak rapat skenario, semakin banyak material yang harus aku review.

Mulai dari desain karakter, storyboard, hingga seni latar!

Melihat hal-hal yang selama ini hanya ada di kepalaku menjadi nyata sungguh luar biasa. Anime memang hebat!

Tapi tugas pengarang asli bukan hanya terharu. Aku harus menunjukkan masalah jika ada.

Meski begitu, semuanya begitu luar biasa, dan sutradara serta produser juga berbagi visi yang detail, jadi aku bisa dengan tenang mengacungkan jempol!

Terima kasih banyak telah menghargai pendapatku sebagai pengarang asli yang tidak tahu arah.

Setelah itu, proses produksi masuk ke tahap rekaman suara (afureko).

Selain itu masih banyak pekerjaan lain, tapi yang aku bantu utamanya adalah rapat skenario, review berbagai material, dan afureko.

Di lokasi afureko, rasanya seperti, “Karakter-karakter yang aku ciptakan dapat suara! Berapa yang harus aku bayar!?” dengan semangat kegirangan.

Tapi begitu mendengar akting para seiyuu, aku langsung terpukau. Mereka terlalu jago menangkap karakter masing-masing!

Akting Uemura-san yang memerankan Haibara Natsuki benar-benar sempurna sejak awal. Aku kaget sekali...

Seiyuu memang luar biasa!

Awalnya aku dan sutradara sempat khawatir suaranya terlalu keren. Karena suara Uemura-san memang sangat keren.

Tapi lagi-lagi itu kekhawatiran yang tidak perlu.

Aktingnya yang sedikit suram dan cool itu... Ya! Ini benar-benar Natsuki!

Afureko benar-benar membuatku sadar betapa hebatnya kemampuan para seiyuu.

...Masih banyak yang ingin aku ceritakan, tapi halamannya sudah habis! Enam halaman kok terasa terlalu sedikit.

Nanti aku akan bicara lebih banyak tentang anime di tempat lain, jadi kalau mau, silakan cek akun X-ku!

Mungkin aku juga akan live-tweet saat tayang nanti!

 

Baiklah semuanya!

Pastikan kalian menonton anime Haibara-kun ya!






Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Window Shopping Bersama Para Gadis

Kami sedang berjalan menyusuri AEON Mall Takasaki.

"Mungkin sudah cukup lama ya sejak kita kumpul dengan formasi ini," ujar Serika.

Anggotanya ada lima orang: Hikari-chan, Uta, Yuino-chan, Serika, dan aku. Kami adalah anggota grup perempuan saat kamp pelatihan pantai dulu. Sejak saat itu, kami sering berkumpul untuk bermain bersama secara berkala.

Namun, frekuensinya berkurang drastis setelah kami naik ke kelas dua.

"Ahaha, soalnya semua orang sibuk, kan~"

"Tapi, syukurlah kita tetap bisa berkumpul di tengah kesibukan itu."

Hikari-chan dan Yuino-chan menimpali.

Saat ini adalah masa liburan musim panas Obon, sehingga kegiatan klub libur selama beberapa hari.

Kalau ditanya sedang apa kami di AEON Takasaki, jawabannya adalah window shopping. Kami datang untuk mencari baju musim gugur sebagai persiapan menyambut musim mendatang.

"Eh, yang ini lucu banget!"

"Memang benar, sepertinya cocok untuk Uta. Coba dipakai, deh?"

"Oke! Kalau begitu, aku ke ruang ganti sekarang ya!"

Kami memilihkan pakaian untuk satu sama lain dan meminta orang yang terlihat cocok untuk mencobanya. Belanja bersama anak perempuan itu memakan waktu lama, lho. Kali ini, Natsuki dan yang lainnya tidak kami ajak.

"Bagaimana?"

Uta keluar dari ruang ganti mengenakan rok longgar berwarna krem. Kesannya terasa segar, perpaduan antara lucu dan dewasa. Sangat cocok untuknya.

"Hmm, menurutku bagus," kataku sambil mengacungkan jempol.

Uta tersenyum senang.

"Eh~ kalau begitu, aku beli saja ya?"

"Harganya berapa, Uta-chan?"

"Hmm, kalau tidak salah label harganya ada di sekitar sini..."

Uta melihat label harga rok itu bersama Hikari-chan.

"......Oke, ayo cari baju lain~!"

"Ya, yah... mungkin kalau kita cari lagi, ada baju dengan suasana serupa kok!"

Sepertinya harganya mahal. Yah, bagaimanapun juga, kami hanyalah anak SMA.

"Susah juga ya kalau mau beli baju yang mahal."

"Coba kalau aku sudah bisa kerja paruh waktu~"

Uta dengan enggan mengembalikan rok itu ke tempat asalnya.

"Mau kerja paruh waktu di live house-ku? Kamu bisa jadi kaya, lho."

Serika berpose peace dengan wajah serius.

"Tapi, bukannya kamu sendiri tidak punya uang, Serika?"

"Uangku selalu habis begitu saja. Kenapa ya?"

Saat aku melontarkan candaan, Serika memiringkan kepalanya bingung.

"Itu karena kamu terlalu banyak beli CD. Terlalu sering pergi ke konser."

Selain itu, menurutku kegiatan band juga memakan biaya. Meskipun Serika bekerja paruh waktu mati-matian, kesannya dia menghabiskan semua uang yang didapat.

"Aku mengerti. Aku juga kerja paruh waktu, tapi uangku selalu saja habis."

"Yuino-chan, itu karena kamu terlalu banyak beli merchandise idol..."

Hikari-chan menimpali dengan wajah lelah. Konon, kamar Yuino-chan dipenuhi oleh merchandise idol. Ternyata dia punya sisi yang cukup disayangkan (maaf ya).

"Uta tidak punya waktu untuk kerja paruh waktu, kan."

Aku menyentil dahi Uta pelan. Uta memajukan bibirnya.

"Aku tahu~, kegiatan klub saja sudah bikin kewalahan."

Uta adalah kapten baru klub basket putri, jadi kurasa dia memikul beban yang cukup berat. Lagipula, untung saja kapten barunya bukan aku. Aku tidak cocok dengan peran seperti itu.

"Uta-chan, bukannya kamu sering membantu di kedai okonomiyaki orang tuamu?"

"Kadang-kadang sih~. Tapi mereka tidak memberiku banyak uang saku! Pelit sekali!"

Uta yang sedang merajuk itu tetap terlihat lucu hari ini.

"Kakiku lelah, istirahat sebentar yuk."

Serika menunjuk papan petunjuk ke arah food court.

"Benar juga..."

Tanpa terasa, hari sudah sore. Kami telah berkeliaran di AEON Mall selama setengah hari. Kami mengambil meja di salah satu sudut food court dan membeli crepe serta kopi.

Food court sedang sangat ramai. Yah, namanya juga masa Obon.

"Pada akhirnya, kita cuma beli baju dari Unishiro, ya?" ujar Serika sambil menopang dagu.

Memang benar juga.

"Tetap saja, kalau harganya sudah lebih dari sepuluh ribu yen, jadi ragu sendiri, ya."

Hikari-chan tersenyum pahit. Padahal rumahnya seharusnya keluarga kaya, tapi sepertinya uang sakunya tidak sebanyak itu.

"Hikari, coba tatapannya lebih ke atas lagi."

"Eh, ee...? Begini sudah benar?"

Yuino-chan memotret Hikari-chan yang sedang memegang crepe. Foto Hikari-chan langsung diunggah ke Minsta.

Benar-benar tipikal dirinya... fakta bahwa dia tidak ikut berfoto di sana sangat mencerminkan kepribadian Yuino-chan.

"Aku ingin cepat-cepat bisa membeli banyak baju lucu~" kata Uta sambil memakan crepe cokelat pisang miliknya.

"Kalau kamu hemat uang crepe, mungkin kamu bisa beli baju yang tadi?"

"Apa sih yang kamu katakan? Makanan manis itu tidak bisa dikompromikan!"

Uta berargumen dengan semangat sambil terus mengunyah makanannya.

"Selanjutnya, aku mau lihat kosmetik," ujar Serika di sisi lain.

Masih mau berkeliling lagi?

"Ah, kalau begitu aku mau tahu rekomendasi Serika-chan."

"Tidak boleh. Aku tidak akan membiarkan Hikari memakai riasan ala gal."

"Ke-kenapa malah Yuino-chan yang melarang!?"

Melihat interaksi yang kacau itu, senyumku merekah tanpa sadar.

Pada akhirnya, meskipun sudah menghabiskan setengah hari di AEON, kami hampir tidak membeli apa pun.

──Aku merasa, keseharian yang biasa seperti inilah yang paling kusukai.



Previous Chapter | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close