NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Interlude I

Interlude 1


"Peringkat pertama rumpun IPA diraih Nanase lagi, ya."

"Ya ialah. Sejak naik ke tingkat dua, dia kan tidak pernah sekalipun turun ke peringkat dua."

Jajaran murid yang berkerumun di depan papan pengumuman koridor tampak asyik mengobrol dengan heboh.

Papan tersebut hanya memajang daftar nama peserta didik yang berhasil masuk ke dalam peringkat lima puluh besar.

Bagi orang sepertiku yang posisinya lebih mudah ditemukan jika dicari dari urutan paling bawah, papan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan hidupku.

Meski begitu, aku tetap menaruh rasa kagum yang besar pada sosok teman sekelas yang terus konsisten mengamankan posisi peringkat pertama sejak pembagian jurusan dimulai. Namanya adalah Nanase Yuino.

Dia sudah menjadi teman sekelas sejak kami masih berada di tingkat pertama.

Walaupun kami hampir tidak pernah mengobrol, aku secara sepihak bisa mengingatnya dengan sangat valid karena dia adalah sahabat karib dari Hoshimiya-san, gadis yang kusukai.

Seingatku, performa akademisnya saat masih di tingkat pertama dulu tidak selalu berakhir di peringkat pertama secara mutlak.

Tampaknya dia baru mulai benar-benar memacu energinya setelah resmi naik ke tingkat kedua.

Pada ujian kali ini pun, dia berhasil menciptakan selisih jarak hingga dua puluh poin dari peraih peringkat kedua. Sebuah dominasi yang sangat mutlak.

Aura yang terpancar dari dirinya pun entah kenapa kini terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisinya saat masih di tingkat pertama dulu.

Masa-masa akhir di tingkat kedua kini sudah berjalan semakin dekat. Intensitas murid yang mulai mengalihkan fokus hidup mereka ke dalam mode persiapan ujian masuk universitas sudah tidak bisa dibilang sedikit lagi.

Namun, kurasa tidak ada satu pun orang yang memiliki determinasi dan ambisi sebesar yang ditunjukkan oleh Nanase.

Berdasarkan gosip harian di kalangan anak perempuan yang tidak sengaja kudengar, Nanase kabarnya memiliki target untuk bisa menembus seleksi Universitas Tokyo.

Mengingat sekolah kami belum memiliki rekam jejak yang berhasil meloloskan muridnya ke universitas tersebut, jajaran guru dikabarkan siap memberikan dukungan penuh untuk mengawal ambisinya.

Meskipun tingkat nilai kelulusan sekolah kami menduduki peringkat atas di area prefektur, namun tetap saja ada jurang pemisah yang lebar jika dibandingkan dengan sekolah elite yang menduduki posisi puncak.

Di dalam sekolah elite seperti itu, jumlah murid dengan kapasitas monster seperti Nanase pasti ada banyak sekali di sana.

Tentu saja rentetan fakta tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang sepertiku yang bahkan terus menderita di posisi terbawah di SMA Suzunari ini.

Daripada sibuk memikirkan urusan orang lain, aku harus mulai serius belajar demi bisa menyelamatkan diri dari jeratan nilai merah.

Meskipun logika di dalam kepalaku sudah memahami hal itu dengan sangat baik, namun menumbuhkan motivasi belajar pada realitasnya tidak pernah berjalan semudah itu.

Aku melangkah kaki melewati kerumunan teman sekelas yang masih asyik mengobrol, lalu mengambil posisi duduk di bangku milikku sendiri. Beruntung sekali posisiku berada di area samping jendela.

Sebab jika aku sampai berakhir ditempatkan di barisan tengah, area sekitarku pasti akan langsung dikepung oleh lingkaran anak populer dan atmosfernya akan berubah menjadi neraka jahanam bagiku. Aku mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling ruangan.

Di dalam kelas yang bising itu, hanya Nanase seorang yang tampak sibuk membuka buku referensi sembari terus menggoreskan pensil mekaniknya di atas lembar catatan.

Raut wajahnya yang tampak bosan seolah menyiratkan sebuah pesan tersirat bahwa tidak ada aktivitas lain yang bisa dikerjakannya di dunia ini selain belajar.

Pada sebuah momen percakapan yang pernah kami lalui bersama dulu, dia sempat bercerita bahwa dia aslinya tidak menyukai mata pelajaran rumpun IPA.

Sorot matanya yang dipenuhi oleh rasa kepasrahan saat menceritakan bahwa akses jalan untuk bisa hidup bersama dengan hal yang dicintainya kini sudah tertutup rapat, menyisakan kesan yang sangat mendalam di lubuk hatiku.

Meskipun mengenai apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya, aku sama sekali tidak mengetahui informasi apa pun terkait hal itu.

Satu hal yang pasti, dia saat ini sedang berjuang mati-matian melahap semua materi pelajaran setelah terpaksa merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.

——Sepotong memori dari cuplikan kehidupan harian biasa di masa lalu itu, mendadak kembali terlintas di dalam benakku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close