Interlude 1
"Peringkat pertama rumpun IPA diraih Nanase lagi,
ya."
"Ya ialah. Sejak naik ke tingkat dua, dia kan tidak
pernah sekalipun turun ke peringkat dua."
Jajaran murid yang berkerumun di depan papan pengumuman
koridor tampak asyik mengobrol dengan heboh.
Papan tersebut hanya memajang daftar nama peserta didik yang
berhasil masuk ke dalam peringkat lima puluh besar.
Bagi orang sepertiku yang posisinya lebih mudah ditemukan
jika dicari dari urutan paling bawah, papan itu sama sekali tidak ada
hubungannya dengan hidupku.
Meski begitu, aku tetap menaruh rasa kagum yang besar pada
sosok teman sekelas yang terus konsisten mengamankan posisi peringkat pertama
sejak pembagian jurusan dimulai. Namanya adalah Nanase Yuino.
Dia sudah menjadi teman sekelas sejak kami masih berada di
tingkat pertama.
Walaupun kami hampir tidak pernah mengobrol, aku secara
sepihak bisa mengingatnya dengan sangat valid karena dia adalah sahabat karib
dari Hoshimiya-san, gadis yang kusukai.
Seingatku, performa akademisnya saat masih di tingkat
pertama dulu tidak selalu berakhir di peringkat pertama secara mutlak.
Tampaknya dia baru mulai benar-benar memacu energinya
setelah resmi naik ke tingkat kedua.
Pada ujian kali
ini pun, dia berhasil menciptakan selisih jarak hingga dua puluh poin dari
peraih peringkat kedua. Sebuah dominasi yang sangat mutlak.
Aura yang
terpancar dari dirinya pun entah kenapa kini terasa sangat berbeda jika
dibandingkan dengan kondisinya saat masih di tingkat pertama dulu.
Masa-masa akhir
di tingkat kedua kini sudah berjalan semakin dekat. Intensitas murid yang mulai
mengalihkan fokus hidup mereka ke dalam mode persiapan ujian masuk universitas
sudah tidak bisa dibilang sedikit lagi.
Namun, kurasa
tidak ada satu pun orang yang memiliki determinasi dan ambisi sebesar yang
ditunjukkan oleh Nanase.
Berdasarkan gosip
harian di kalangan anak perempuan yang tidak sengaja kudengar, Nanase kabarnya
memiliki target untuk bisa menembus seleksi Universitas Tokyo.
Mengingat sekolah
kami belum memiliki rekam jejak yang berhasil meloloskan muridnya ke
universitas tersebut, jajaran guru dikabarkan siap memberikan dukungan penuh
untuk mengawal ambisinya.
Meskipun tingkat
nilai kelulusan sekolah kami menduduki peringkat atas di area prefektur, namun
tetap saja ada jurang pemisah yang lebar jika dibandingkan dengan sekolah elite
yang menduduki posisi puncak.
Di dalam sekolah
elite seperti itu, jumlah murid dengan kapasitas monster seperti Nanase pasti
ada banyak sekali di sana.
Tentu saja
rentetan fakta tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang
sepertiku yang bahkan terus menderita di posisi terbawah di SMA Suzunari ini.
Daripada sibuk
memikirkan urusan orang lain, aku harus mulai serius belajar demi bisa
menyelamatkan diri dari jeratan nilai merah.
Meskipun logika
di dalam kepalaku sudah memahami hal itu dengan sangat baik, namun menumbuhkan
motivasi belajar pada realitasnya tidak pernah berjalan semudah itu.
Aku melangkah
kaki melewati kerumunan teman sekelas yang masih asyik mengobrol, lalu
mengambil posisi duduk di bangku milikku sendiri. Beruntung sekali posisiku
berada di area samping jendela.
Sebab jika aku
sampai berakhir ditempatkan di barisan tengah, area sekitarku pasti akan
langsung dikepung oleh lingkaran anak populer dan atmosfernya akan berubah
menjadi neraka jahanam bagiku. Aku mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling
ruangan.
Di dalam kelas
yang bising itu, hanya Nanase seorang yang tampak sibuk membuka buku referensi
sembari terus menggoreskan pensil mekaniknya di atas lembar catatan.
Raut wajahnya
yang tampak bosan seolah menyiratkan sebuah pesan tersirat bahwa tidak ada
aktivitas lain yang bisa dikerjakannya di dunia ini selain belajar.
Pada sebuah momen
percakapan yang pernah kami lalui bersama dulu, dia sempat bercerita bahwa dia
aslinya tidak menyukai mata pelajaran rumpun IPA.
Sorot matanya
yang dipenuhi oleh rasa kepasrahan saat menceritakan bahwa akses jalan untuk
bisa hidup bersama dengan hal yang dicintainya kini sudah tertutup rapat,
menyisakan kesan yang sangat mendalam di lubuk hatiku.
Meskipun mengenai
apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya, aku sama sekali tidak mengetahui
informasi apa pun terkait hal itu.
Satu hal yang
pasti, dia saat ini sedang berjuang mati-matian melahap semua materi pelajaran
setelah terpaksa merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.
——Sepotong memori
dari cuplikan kehidupan harian biasa di masa lalu itu, mendadak kembali
terlintas di dalam benakku.



Post a Comment