NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 11 Chapter 1

Chapter 1

Perjalanan Wisata Sekolah


Alarm jam beker berbunyi lebih awal dari biasanya.

Alasannya sederhana saja. Hari ini, karyawisata dimulai. Karena kami harus naik bus sejak pagi buta untuk menuju Bandara Haneda, waktu bangunnya pun jauh lebih awal dari rutinitas harian. Aku berusaha mengangkat kelopak mata yang terasa berat ini, lalu hendak mengganti pakaian dengan seragam… sampai aku sadar. Benar juga, hari ini kami memakai pakaian bebas.

Aku menguap lebar, membuat kesadaranku perlahan-lahan mulai terkumpul.

Malam tadi, aku sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk karyawisata.

Di atas tas duffel yang berisi pakaian untuk empat hari tiga malam, terlipat rapi pakaian bebas yang akan kupakai hari ini.

Aku memilih kemeja lengan pendek, jaket hoodie tipis, dan celana jin. Aku memprioritaskan kenyamanan agar mudah bergerak.

Sebenarnya, aku sempat memasukkan jaket tebal ke dalam tas, tapi kurasa tidak akan terpakai. Meski sudah akhir September, kudengar Okinawa masih sangat panas.

"Selamat pagi, Natsuki."

Begitu keluar kamar dan sampai di ruang tengah, Ibu sedang menyiapkan sarapan.

"Bu, tumben bangun pagi sekali."

Ini bahkan belum lewat jam lima. Saat kulihat ke luar jendela, itu adalah waktu di mana matahari baru saja menampakkan diri.

"Hari ini kan karyawisata? Persiapanmu sudah beres?"

Rupanya Ibu mengkhawatirkanku.

"Tenang saja, semuanya sudah kuselesaikan kemarin."

"Natsuki benar-benar sudah dewasa, ya. Padahal waktu karyawisata SMP dulu, kamu baru menyiapkannya di saat-saat terakhir."

"Haha…"

Aku menanggapinya dengan tawa hambar.

Dulu saat SMP, motivasiku untuk karyawisata benar-benar nol, sampai-sampai aku sempat galau apakah harus ikut atau tidak. Itu adalah acara yang terlalu kejam bagi orang yang kesepian sepertiku. Teman sekelas yang terpaksa memasukkanku ke dalam kelompok mereka pun terlihat canggung, yang membuat hatiku terasa sakit. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk ikut karena tak kuasa membuang keinginan untuk merasakan masa muda. Tapi, sama sekali tidak menyenangkan.

Hal seperti itu hanya akan terasa menyenangkan jika dihabiskan bersama orang-orang berharga.

Tentu saja, tidak akan ada artinya jika aku yang sendirian hanya sekadar berpartisipasi.

Karena ingin mengubah masa muda yang seperti itu, aku terus berusaha keras.

Harusnya, sekarang aku bisa menjadikan karyawisata ini sebagai momen masa muda yang paling berkesan.

"Selamat bersenang-senang, ya."

Ibu terlihat sangat gembira.

Melihatku menikmati kehidupan SMA, mungkin membuatnya merasa tenang.

"……Iya."

Aku tidak mungkin bisa jujur pada Ibu tentang apa yang kurasakan saat ini.

Aku menyantap roti panggang dan telur orak-arik buatan Ibu, lalu segera menyikat gigi.

Sebagai jaga-jaga, saat aku mengecek isi tas duffel di depan pintu masuk,

"……Eh, Kakak? Kenapa pakai baju bebas?"

Namika yang masih penuh dengan bekas bantal di rambutnya menyapaku sambil mengucek mata.

"Hari ini karyawisata."

"Ah, benar juga. Tadi mulai hari ini, ya?"

Namika menguap lebar sambil melambaikan tangan dengan malas.

"Selamat jalan."

"Ya, aku berangkat."

Padahal ini adalah karyawisata yang sudah kutunggu-tunggu, tapi entah kenapa perasaanku jauh lebih berat dari biasanya.

"Jangan lupa ambil foto bareng Senior Hoshimiya, ya!"

Aku pura-pura tidak mendengar ucapan Namika yang terasa biasa saja itu.

Aku mendorong pintu depan seolah ingin melarikan diri, lalu sinar matahari langsung menyambutku.

Berbanding terbalik dengan perasaanku, langit biru tanpa awan membentang luas.

Angin sejuk membelai pipiku. Suhu udara saat ini sangat nyaman, meski nanti pasti akan semakin panas. Ini bukan waktu yang tepat untuk menyebutnya akhir musim panas atau awal musim gugur. Hanya musim peralihan.

Sambil menenteng tas yang terasa berat, aku melangkah menuju Stasiun Nishiyoshii.

Bisa dibilang, perjalanan dari rumah ke sekolah hari ini adalah bagian yang paling melelahkan. Keringat mulai membanjiri dahiku.

Wajar saja, aku menggendong ransel yang biasa kupakai sekaligus menenteng tas duffel.

Setelah berjuang, akhirnya aku berhasil naik kereta dan duduk di kursi.

Sambil diguncang oleh laju kereta yang berderak, aku mulai tenggelam dalam lautan pikiranku sendiri.

"---Sekarang pun, kamu masih bisa kembali ke dunia yang benar."

Kata-kata dari pria yang mengaku sebagai Dewa itu masih terus terngiang di kepalaku.

Dunia pertama, atau dunia kedua?

Pada akhirnya, aku tidak bisa memberikan jawaban saat itu juga. Karena itulah, dia memberiku batas waktu.

Malam ketiga karyawisata. Sepertinya itu adalah batas waktu terakhir untuk menunda keputusan.

Artinya, dua hari lagi dia akan muncul kembali di dalam mimpiku.

Sebelum saat itu tiba, aku harus memutuskan dunia mana yang akan kupilih.

Bagi orang biasa yang hanya terseret dalam fenomena Time Leap, ini adalah pilihan yang terlalu berat.

Lagipula, kau tahu kan?

Dunia mana pun yang kupilih, dunia yang satunya lagi akan benar-benar lenyap.

Sejujurnya, jika saja aku tidak berharap untuk mengulang masa mudaku, dunia ini tidak akan pernah tercipta. Mungkin saja, berharap untuk mengulang masa lalu demi menyesali masa muda adalah sebuah kesalahan sejak awal.

"Tindakan yang kamu lakukan demi mendapatkan masa muda yang penuh warna, hanya membawa kesengsaraan bagi orang lain."

---Aku tahu itu.

Karena aku menulis ulang masa mudaku, takdir orang-orang berharga bagiku pun ikut melenceng.

"Aku…… sudah tidak bisa memercayai Natsuki-kun yang sekarang sama sekali."

"……Maafkan aku. Aku sendiri tidak tahu harus bicara apa."

Kata-kata Hikari dan Miori terlintas di benakku.

Karena aku yang datang dari masa depan, mereka berdua menangis.

Padahal di dunia pertama, hal seperti itu tidak pernah terjadi.

Pria yang mengaku sebagai Dewa menyebut dunia pertama sebagai "dunia yang benar".

Kalau begitu, apakah dunia kedua tempatku mengulang segalanya ini adalah "dunia yang salah"?

"Setiap kali kamu menjalani masa muda penuh warna, akan ada seseorang yang sengsara. Kalau begitu, bukankah lebih baik menjalani masa muda yang kelabu, di mana hanya dirimu sendiri yang sengsara, seperti di dunia pertama? Apa menurutmu begitu, Haibara Natsuki?"

Aku merasa sudah menjalani hidupku dengan sekuat tenaga sampai sejauh ini. Aku berusaha keras untuk mengulang setiap harinya.

Memutuskan untuk kembali ke dunia pertama sama saja dengan mengakui bahwa seluruh usahaku selama ini tidak ada artinya.

……Sebenarnya, aku tidak mau mengakui hal itu.

Namun, hasil dari usahaku mengulang waktu justru menebar kesengsaraan bagi orang-orang yang kusayangi.

Itu adalah fakta mutlak, dan aku tidak bisa menyangkal julukan "dunia yang salah" itu.

……Tapi, jika aku kembali ke dunia pertama, maka dunia kedua akan dianggap tidak pernah ada.

Apakah itu benar-benar tidak apa-apa?

Sudah satu minggu berlalu sejak hari itu.

Meskipun batas waktu untuk memilih sudah semakin dekat, aku masih belum bisa memberikan jawaban.

Di area parkir sekolah, berderet bus yang terparkir.

Di sekelilingnya, murid-murid satu angkatan sudah berkumpul dengan pakaian bebas.

Jumlahnya baru sekitar setengah. Karena masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum waktu berkumpul.

"Woi, Natsuki! Sini!"

Tatsuya melambai dengan heboh memanggilku. Suaranya tetap saja lantang.

"Selamat pagi."

Aku menyapa mereka semua.

Di sekeliling Tatsuya, sudah ada Reita, Mei, dan Kijima yang berkumpul.

"Natsuki! Akhirnya hari ini tiba!"

Mata Mei berbinar-binar.

"Kamu sudah bersemangat sejak pagi, ya."

"Apa maksudmu! Ini karyawisata, tahu!?"

"Memangnya kamu tipe orang yang menantikan karyawisata seperti itu?"

"Tentu saja! Kalau aku yang dulu, mungkin aku bakal mikir, 'Cih, apaan sih karyawisata? Cuma acara penyiksaan di mana aku cuma bisa melihat para normie pria dan wanita bermesraan…',"

"Kamu dulu sinis banget, ya," tukas Reita, tapi aku paham perasaannya.

"Tapi, sekarang aku sudah punya teman dan pacar! Tidak ada alasan untuk tidak menikmatinya!"

Mei mulai bersenandung dengan ceria. Sepertinya dia hampir saja menari.

"Aku juga menantikan karyawisata ini," sahut Reita setuju melihat keadaan Mei.

"Aku jarang diajak pergi berlibur, jadi ini adalah kesempatan yang sangat berharga."

……Mengingat aku tahu latar belakang keluarga Reita, topik ini terasa cukup sensitif.

"Ah, maaf. Aku malah membuat suasana jadi aneh."

Reita berusaha mengalihkan pembicaraan dengan panik.

Bagi dirinya sendiri, mungkin dia hanya mengatakan sebuah fakta sederhana.

"Eh, coba lihat deh. Pakaian bebas para gadis, bukannya imut banget ya?"

Kijima menatap dengan wajah serius, mencuri pandang ke arah para gadis yang sedang mengobrol.

Sepertinya dia bukan sekadar mengalihkan topik, tapi memang hanya memikirkan hal itu.

"Benar juga."

Tatsuya menimpali.

Aku pun ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Bukan hanya para gadis, penampilan pakaian bebas semua orang terasa segar.

Selain kelompok yang biasanya bergaul, kami jarang bertemu di hari libur.

Karena hari ini adalah kali pertama aku melihat pakaian bebas mereka, semuanya terlihat sangat baru.

"Mumpung karyawisata, semua orang pasti niat banget, ya."

"Jelas lah, mereka pasti milih pakaian terbaik dari koleksi yang mereka punya."

Aku setuju dengan ucapan Reita. Aku pun salah satunya.

"Bukan cuma baju, makeup dan tata rambut pun sudah dipersiapkan. Boleh juga, ya?"

"Mungkin mereka pikir selagi karyawisata, guru-guru bakal maklum, kali?"

Antusiasme semua orang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Bahkan Reita yang biasanya terlihat keren, kini tampak sedikit melayang.

Wajar saja. Karyawisata adalah acara masa muda terbesar dalam kehidupan SMA.

Aku pun sudah sangat menantikannya. Bahkan mungkin, aku yang paling bersemangat.

Namun sekarang, entah kenapa aku merasa enggan. Sejujurnya, aku tidak sedang memikirkan hal itu.

Aku berusaha bersikap wajar agar tidak terlihat suram secara terang-terangan, tapi di mataku, segalanya masih tampak kelabu.

Padahal satu minggu yang lalu, semuanya masih dihiasi dengan warna pelangi yang cerah.

"Semuanya, halo~"

Saat aku sedang tenggelam dalam lautan pikiran, seseorang menyapaku.

Itu Kurahashi. Bersama Miori, Fujiwara, dan Funayama, dia bergabung ke lingkaran kami.

Anggota yang biasanya berkumpul di kelas pun sudah lengkap.

"Selamat pagi. Semuanya, kalian terlihat lebih cantik dari biasanya, ya."

Ucap Reita dengan santai. Aku kagum bagaimana dia bisa melontarkan kalimat seperti itu dengan natural.

"Wah, Shiratori-kun pintar banget mengambil hati, ya~"

Kurahashi berkacak pinggang sambil mengedipkan sebelah mata. Dia sangat antusias.

"Kamu selalu saja bilang hal yang sama ke siapa pun, ya……"

Di sisi lain, Fujiwara tampak menatapnya dengan wajah lelah.

"Kejam sekali. Aku cuma bilang begitu saat aku benar-benar memikirkannya, kok."

"Ya, ya, terserah."

Senyum menawan Reita pun tidak mempan pada Fujiwara.

Lagipula, Fujiwara sudah punya kekasih tercinta. Meski sekarang kami sudah beda kelas.

"Mei-kun, selamat pagi."

Funayama menyapa Mei dengan senyum ramah.

"Selamat pagi, Shizuki."

"……Tidak ada komentar tentang pakaianku?"

Funayama bertanya sambil menarik ujung roknya dengan sedikit malu.

"Eh? Bukannya aku sudah sering melihatnya saat kita berkencan……"

"Mei-kun?"

Meski tersenyum, aku bisa merasakan tekanan dari Funayama.

"I-indah sekali! Sungguh!"

"……Yah, kuberikan izin."

Mei dan Funayama sedang asyik berbincang seperti pasangan pada umumnya.

Entah kenapa aku merasa ada hubungan dominasi di sana, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

"……"

"……"

Tiba-tiba mataku bertemu dengan Miori.

Sejujurnya, canggung.

Tapi mengabaikannya pun terasa aneh, jadi aku menyapanya.

"……Selamat pagi."

"……Iya, selamat pagi."

Di antara aku dan Miori, mengalir suasana yang aneh dan berat.

Sejak hari itu, aku tidak bisa berbicara dengan baik padanya.

Kami memang sering mengobrol saat bersama orang banyak, tapi kami tidak pernah berduaan sama sekali.

"……Kemarin, bisa tidur?"

"……Yah, lumayan lah."

Karena itulah, percakapan kami pun terasa kaku.

"Kok suasananya jadi kelam gitu~?"

Melihat kondisi kami, Kurahashi memiringkan kepala dengan bingung.

"E-eh, benarkah?"

"Mungkin cuma perasaanmu saja?"

Baik aku maupun Miori, kami buru-buru mencari alasan.

"Haha……"

Aku sadar betul tawa itu terdengar palsu.

---Hari itu, aku benar-benar bodoh.

Bukan, aku memang selalu bodoh, tapi aku melakukan kesalahan yang fatal.

Aku membicarakan hal yang tidak perlu kepada Miori. Padahal tidak perlu menceritakan semuanya.

Aku seharusnya tahu perasaan apa yang dimiliki Miori padaku.

Seharusnya aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Miori kalau kubicarakan hal seperti itu.

Merasa panik…… hanyalah alasan belaka.

Aku terlalu memanjakan diriku pada Miori.

Aku pikir Miori akan memaafkanku kalau aku bersandar padanya.

Aku yang bodoh ini telah menyakiti Miori. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak berubah.

Seperti yang dikatakan pria yang mengaku Dewa itu, aku hanya berasumsi bahwa diriku sudah berubah.

"Suasananya mirip mantan pasangan yang baru putus, ya~?"

"Guh……"

Komentar santai Kurahashi menusuk tepat di dada kami.

"Duh, kamu ini terlalu tidak peka, ya……"

"Ah, maaf maaf~"

Fujiwara menegur Kurahashi.

Mungkin untuk ukuran murid kelas dua, mereka seharusnya tahu kalau Miori pernah menyukaiku.

Kurahashi memang tipe yang tidak ragu menyinggung hal sensitif dengan santainya.

"……Hei, Miori."

"……Apa?"

Sekali lagi, mataku bertemu dengannya dalam jarak dekat.

"Ehm……"

Aku merasa harus mengatakan sesuatu.

Namun, kata-kata yang paling penting justru tidak keluar.

Miori memalingkan wajahnya karena canggung.

"……Kalian berdua benar-benar aneh. Apa terjadi sesuatu~?"

Kurahashi menatap kami dengan tatapan tajam.

"Haibara-kun kan sedang berpacaran dengan Hoshimiya-san! Mana mungkin terjadi apa-apa, lah!"

Fujiwara memukul kepala Kurahashi pelan sambil menyuruhnya berhenti.

"……Benar apa kata Fujiwara."

Aku berbohong sambil memaksakan senyum hambar.

Tentu saja, ada sesuatu yang terjadi. Dan aku pun sudah tidak berpacaran dengan Hikari lagi.

Fakta bahwa suasana kami aneh adalah hal yang objektif.

Setidaknya, aku tahu kalau aku harus bersikap biasa saja di depan orang lain.

Namun, aku tidak bisa berpura-pura dengan baik.

"Berbaris!"

Tiba-tiba, ketua tingkat angkatan berseru dengan lantang. Sepertinya waktu berkumpul sudah habis.

"Ayo, cepat berbaris nanti kena marah!"

Seperti biasa, Fujiwara memimpin kelas untuk berbaris.

Untuk karyawisata, satu kelas dibagi menjadi enam sampai tujuh kelompok, dan kami berbaris dengan ketua kelompok di depan.

Karena aku adalah ketua kelompok, aku berdiri paling depan. Saat melihat ke belakang, teman sekelompokku---Tatsuya, Reita, Miori, Fujiwara, dan Kurahashi---sedang berbaris. Perlu diketahui, Mei, Kijima, dan Funayama berada di kelompok lain.

"Semuanya sudah lengkap? Kalau begitu, saya akan menjelaskan aturan yang harus diperhatikan."

Akhirnya, karyawisata dimulai.

Pertama, ada ceramah panjang lebar dari ketua tingkat yang membuat semangat semua orang hampir padam, namun wali kelas kami melakukan aksi penyelamatan dengan berkata, "Sudah hampir waktunya……"

"Oh, begitu rupanya…… kalau begitu, pastikan kalian selalu mematuhi aturan selama perjalanan!"

Singkat cerita, kami pun naik ke bus sesuai kelas masing-masing.

Busnya memiliki struktur standar dengan lorong di tengah dan dua kursi di tiap sisi.

Pengaturan tempat duduk tidak ditentukan. Namun, karena kami berbaris sesuai kelompok, mau tidak mau kami duduk sesuai kelompok, dengan mengisi kursi dari baris paling belakang.

Kelompok kami terdiri dari tiga pria dan tiga wanita. Hasilnya, Tatsuya dan Reita duduk berdampingan, sementara Fujiwara dan Kurahashi duduk bersama, yang membuatku secara alami duduk di sebelah Miori.

"……Eh?"

"Maaf. Tadi situasinya berjalan begitu saja……"

"Bukan begitu, bukannya aku tidak suka, sih……"

Sudah terlambat kalau ingin bertukar tempat duduk sekarang, itu malah terlihat aneh.

Selain itu, karena teman sekelas lainnya terus berdatangan, aku tidak bisa bergerak sembarangan.

"Semua sudah ada? Kalau begitu, kita berangkat."

Setelah wali kelas melakukan absensi kembali, bus pun meninggalkan area parkir.

Perjalanan panjang dimulai dari sini. Pertama, kami akan menuju Bandara Haneda di Tokyo dari kota Maebashi, Prefektur Gunma.

Mempertimbangkan kemacetan lalu lintas pagi hari, mungkin akan memakan waktu sekitar tiga jam.

"Senang banget ya, meski hari kerja tapi tidak perlu ikut pelajaran."

"Apalagi tidak ada latihan klub. Belakangan ini latihan klub benar-benar berat."

"Klub basket pria disuruh lari saat waktu luang sebelum tidur."

"Eh, serius? Tapi ya tinggal bolos saja, kan?"

"Pelatih klub basket pria juga ikut mengawasi……"

"Wah, itu sih menyebalkan. Ya sudah, semangatlah."

Di dalam bus, suasana langsung ramai dan bising.

"……"

"……"

Mungkin hanya aku dan Miori yang tidak saling bicara.

Miori menopang dagunya di bingkai jendela, menatap pemandangan jalan tol yang monoton.

"……Maafkan aku."

Ucapnya lirih. Dengan volume suara yang nyaris tenggelam oleh kebisingan di sekeliling kami.

"……Memangnya apa yang kamu sesali?"

Justru, seharusnya akulah yang meminta maaf.

"Ini salahku. Karena aku, Natsuki putus dengan Hikari-chan."

Ternyata aku memang terlalu banyak bicara hari itu.

Aku telah membebani Miori dengan beban yang tidak perlu.

"Bukan. Itu semua salahku. ……Maaf, aku sudah bicara yang aneh-aneh."

"Meskipun itu adalah aku dari dunia lain, itu tetap saja kesalahanku."

"Lupakanlah. Aku cuma sedang gila saat itu."

"Memangnya kamu pikir dengan kalimat seperti itu kamu bisa selamat?"

"……Sebaliknya, kenapa kamu malah memercayaiku? Bahkan kalaupun itu bukan soal Time Leap."

Miori yang teman masa kecilku tahu perbedaan antara aku saat SMP dan aku yang sekarang.

Dan jika dia mendengar kesimpulan dari Hikari, aku paham kenapa dia percaya soal Time Leap.

Tapi bicara soal memori masa depan di dunia pertama, itu pasti terdengar tidak masuk akal.

"Entah satu atau dua fenomena supranatural, begitu aku memutuskan untuk memercayaimu, itu tidak ada bedanya."

……Benar juga, dari sudut pandang Miori, memang begitu jadinya.

"Kamu melihat mimpi tentang garis dunia yang benar, lalu mendapatkan pengalaman yang seharusnya tidak ada, itu adalah tekanan dari dunia yang berusaha kembali ke keadaan semula. Mungkin lebih tepat jika kita menamakannya kekuatan koreksi dunia. Karena pergeseran garis dunia menjadi terlalu besar, dunia yang asli terancam punah dan melontarkan pesan krisis."

Itulah penjelasan dari pria yang mengaku Dewa, meskipun aku tidak terlalu paham logikanya.

Tapi yah, tidak ada alasan bagiku untuk berbohong. Aku hanya bisa menerima kalau memang seperti itulah adanya.

"Bagaimana hubunganmu dengan Hikari-chan sejak itu?"

"Aku tidak menghubungi dia, dan dia pun tidak menghubungiku."

"……Begitu, ya."

Aku mengeluarkan smartphone dari saku dan membuka percakapan dengan Hikari.

'Aku hampir sampai!'

'Mengerti. Aku akan menjemputmu.'

Itu adalah percakapan terakhir kami satu minggu yang lalu.

"Aku akan melakukan sesuatu."

Ucap Miori dengan nada yang kuat.

"……Eh? Melakukan sesuatu, maksudnya bagaimana?"

"Aku akan membuatmu kembali bersama Hikari-chan."

"……Tidak mungkin, itu mustahil."

"Kamu sudah tidak menyukai Hikari-chan lagi?"

"Mana mungkin."

"Kalau begitu, kenapa kamu menyerah?"

"……Itu."

Yang ditanyakan Miori mungkin apakah aku ingin kembali bersama Hikari.

Jika hanya berdasarkan perasaan pribadiku, tentu saja aku ingin kembali. Namun, jika keberadaanku justru membuat Hikari semakin sengsara, lebih baik aku tidak mendekatinya lagi.

Lagipula, aku harus memilih salah satu dunia.

Jika aku harus kembali ke dunia pertama…… maka apa pun yang kulakukan setelah ini tidak ada artinya.

"……Aku tidak ingin membicarakannya."

Hari itu, aku menceritakan segalanya pada Miori.

Hanya saja, percakapan dengan pria yang mengaku Dewa itu adalah kejadian setelahnya.

Karena itu, Miori tidak tahu kalau akulah yang diberi pilihan untuk menentukan dunia.

Tentu saja, tidak perlu memberitahunya. Aku tidak boleh membebani Miori lagi.

Karena sudah terlanjur membicarakan hal yang tidak perlu, dia jadi merasa semua ini salahnya.

Ucapanku benar-benar tidak peka. Aku hanya terus mengulangi kesalahan yang sama.

Jika saja aku tidak menceritakan apa pun, Miori tidak akan meneteskan air mata.

"……Hikari yang memutuskan untuk putus. Tolong hargai kehendak Hikari."

"Mungkin benar begitu, tapi…… aku yakin itu bukan niat aslinya. Hikari-chan sangat menyukaimu, tahu? Kalau kita bicara sekali lagi dengan benar---"

"---Hikari tidak akan mengucapkan selamat tinggal dengan mudah."

Karena dia adalah orang yang sangat menghargai kata-kata.

"Itu……"

Miori kehilangan kata-kata dan terdiam.

"Aku yang telah mengkhianati kepercayaan Hikari. Hanya itu saja. Miori tidak perlu mengkhawatirkannya."

"Tapi…… aku adalah sekutumu."

"Sejak kapan kita punya hubungan seperti itu?"

Hubungan kerja sama kita sudah lama berakhir.

"Baru saja, aku baru saja memperbarui hubungan kerja sama kita. Aku akan bekerja sama untuk membuatmu dan Hikari-chan kembali bersama."

"Aku tidak meminta kerja sama seperti itu."

"Aku tidak meminta persetujuanmu."

"……Kamu terlalu memaksa."

"Berisik. Aku hanya ingin melakukannya."

Sikapnya lebih keras dari biasanya.

"Sudah kubilang berkali-kali. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun."

Ini adalah masalahku.

Justru Miori di dunia pertama hidup bahagia berkat Miori.

Tapi, menyampaikan rasa terima kasih itu kepada Miori yang ada di sini tidak ada gunanya.

Karena Miori di dunia pertama dan Miori di dunia kedua, meski dasarnya sama, mereka menjalani kehidupan yang berbeda.

"……Aku melakukan ini bukan karena aku pikir ini salahku."

"Lalu, apa maksudnya?"

"Karena aku tidak ingin melihatmu memasang wajah seperti itu, makanya aku ingin kalian kembali bersama."

"……Memangnya aku memasang wajah suram?"

Aku merasa sudah sangat berhati-hati agar tidak disadari oleh teman-teman yang lain.

Tapi, sepertinya Miori tetap menyadarinya.

"Hei---"

Saat Miori baru saja hendak mengatakan sesuatu, layar ponselku menyala karena notifikasi.

"……Ada apa?"

Yang muncul di pop-up adalah grup obrolan bernama 'Kemah Pantai'.

Grup 'Kemah Pantai' itu berisi anggota yang ikut denganku ke pantai musim panas lalu.

Singkatnya, itu adalah anggota 'Natsuki Family' dari kelas satu dua tahun lalu, ditambah dengan Miori dan Serika.

Belakangan ini, justru grup ini yang lebih aktif.

Setelah mengetuk aplikasi untuk membukanya, kulihat Uta mengirim pesan.

Isinya adalah, 'Sore hari ketiga, aku ingin foto bareng semuanya di pantai!'.

Seketika itu juga, semua orang mulai menekan stiker 'Suka!'.

Nanase, Tatsuya, Reita, Serika…… dan Miori yang duduk di sebelahku pun ikut menekan stiker itu.

Setelah sepuluh menit berlalu, hanya aku dan Hikari yang belum memberikan reaksi.

"……Sudah dibaca oleh tujuh orang, ya," gumam Miori sambil menatap ponselnya sendiri.

Kata-kata itu bermakna bahwa semua orang sudah melihatnya.

Artinya, meskipun Hikari melihat obrolan ini, dia tidak memberikan reaksi apa pun.

Penyebabnya tidak perlu dipikirkan lagi. Pasti karena dia tidak mau bertemu denganku.

Tanganku tidak sanggup bergerak untuk sekadar menekan stiker, jadi aku memasukkan ponsel ke dalam saku.

……Aku menunda masalah itu lagi.

Padahal aku tahu bahwa cepat atau lambat, aku harus memberikan jawaban.

Bus yang membawa kami akhirnya tiba di Bandara Haneda.

Setelah turun dari bus, kami diminta berbaris kembali di dalam bandara.

Setelah itu, kami menitipkan tas duffel dan menuju ke dekat gerbang keberangkatan.

Meski pemeriksaan keamanan sudah selesai, masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum pesawat mulai dinaiki.

Setelah mendengar peringatan entah keberapa kalinya dari ketua tingkat agar kami sadar diri sebagai siswa Suzunari, kami diberi waktu bebas sebentar.

Murid-murid lain menghabiskan waktu dengan bebas; ada yang membeli camilan di toko, menjelajahi sekitar, atau mengobrol. Aku meminta izin pada Tatsuya dan yang lainnya dengan alasan, "Tadi agak mabuk darat di bus," lalu melamun sendirian di kursi dekat jendela sambil menatap pesawat. Sejujurnya, aku tidak mabuk darat, tapi perasaanku memang sedang tidak enak.

Ada banyak hal yang harus kupikirkan.

Masalah tidak akan selesai kalau terus-terusan ditunda. Aku tahu itu.

"Hap."

Tiba-tiba, seseorang duduk di kursi kosong di sebelahku.

Saat aku menoleh, ternyata Serika sedang meminum cola.

Pakaian bebas Serika hari ini adalah model off-shoulder dengan desain mencolok, celana slacks dengan belahan, dan sepatu hak tinggi. Pakaian yang keren, tapi membuatku bingung harus memandang ke mana.

Bahkan saat ini pun, Serika menarik banyak perhatian.

Gaya rambutnya berbeda dari biasanya; ujung rambut yang diikat bergelombang longgar, dan dia mengenakan anting di telinganya.

Secara keseluruhan, gayanya terlalu gyaru. Apa dia benar-benar sebebas itu?

"Apa tidak apa-apa pakai baju begitu?"

"Tadi aku dimarahi habis-habisan sama guru. Padahal baju ini imut, tahu."

"Kurasa masalahnya bukan cuma di situ……"

Meski SMA Suzunari dikenal punya aturan sekolah yang relatif santai, tetap saja tindakan itu di luar batas.

"Lagipula, kenapa cuma dimarahi? Kamu menyuap gurunya?"

"Wali kelasku adalah penggemarku."

"Apa tidak apa-apa dengan itu……"

Terlalu jauh mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan!

"Kalau karyawisata begini, kalau tidak 'bersenjata' (berdandan), semangatku tidak akan muncul."

"Jadi gaya gyaru itu adalah senjatamu…… maksudku, kamu benci karyawisata ya?"

"Habisnya, waktu buat dengar musik jadi sedikit, dan aku juga tidak bisa main gitar."

Bagi Serika yang mendedikasikan hidupnya untuk musik, mungkin ini adalah acara yang sangat mengekang.

"Tapi, dengan pergi ke tempat asing, terkadang aku mendapat inspirasi untuk menulis lirik."

Serika mengeluarkan ponselnya dan memasang earphone di satu telinga.

"Jadi, rasa semangat itu sebanding dengan rasa malasnya."

Mungkin dia ingin tenggelam dalam dunianya sendiri dengan musik meski hanya saat waktu luang.

"Dengar lagu apa?"

"Lagu 'Alternative Plans'-nya ELLEGARDEN."

"……Lagu yang bagus, ya."




Percakapan antara aku dan Serika terhenti sampai di sana.

Aku tidak tahu kenapa Serika datang ke sebelahku.

Tapi, mungkin saja Serika tahu. Bahwa aku dan Hikari sudah putus.

Itu karena Serika sekelas dengan Hikari, dan belakangan ini mereka selalu bersama. Seingatku, kelompok karyawisata mereka pun sama. Tidak aneh jika dia mendengar ceritaku dari Hikari.

……Setidaknya, dia pasti menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.

Serika pasti sedang menunggu aku bicara. Itulah kenapa dia ada di sampingku.

Buktinya, Serika yang sedang mendengarkan musik tidak memasang salah satu earphone-nya.

"……Misalkan saja, jika hidup itu ada dua."

Serika menutup kelopak matanya tanpa berkata apa-apa.

Aku tidak tahu apakah dia mendengar ucapanku, tapi aku tetap melanjutkan kata-kataku.

"Jika kamu harus memilih salah satu, apa yang akan jadi tolok ukurmu?"

"Itu sih sudah jelas."

Serika menjawab dengan cepat tanpa membuka matanya.

"Pilih yang terlihat menyenangkan."

Jawaban yang sangat khas Serika.

Tapi, ya benar juga. Kurasa aku pun akan menjawab hal yang sama.

Hanya saja…… jika masalahnya semudah itu, aku tidak akan merasa tersiksa seperti ini.

"Lalu, bagaimana dengan kondisi ini? Hidup di mana dirimu senang tapi orang berharga bagimu menderita, atau hidup di mana dirimu sengsara tapi orang berharga bagimu bahagia…… menurutmu bagaimana, Serika?"

"Hal seperti itu tidak akan terjadi."

Serika menyanggahnya dengan tegas.

"Kalau aku senang, berarti semua orang juga senang."

"Kalau kamu menyangkal premisnya, eksperimen pikirannya tidak akan ada artinya, tahu."

"Kalau semua orang tidak senang, aku pun tidak senang."

"……Itu ada benarnya juga."

Seperti yang Serika katakan.

Itulah kenapa saat ini, pandanganku menjadi kelabu.

"Saat seperti itu, mari kita ciptakan pilihan ketiga."

Serika mengacungkan jempol dengan wajah penuh percaya diri.

"Hidup di mana aku dan orang-orang berharga bagiku sama-sama senang dan bahagia. Aku akan terus berlari mengejar itu."

"Bagaimana jika itu terjadi setelah orang berharga bagimu menderita?"

"Meski sekarang menderita, bukan berarti penderitaan itu akan terus berlanjut selamanya, kan?"

Selain itu, Serika melanjutkan ucapannya.

"Karena masa lalu yang penuh penderitaan tidak bisa diubah, kita tidak punya pilihan selain berbahagia di masa depan."

……Kata-kata Serika adalah sebuah kebenaran mutlak.

Setidaknya, bagi manusia pada umumnya.

Tapi aku yang sekarang memiliki cara untuk mengubah masa lalu yang penuh penderitaan.

"……Terima kasih, itu membantuku."

Saat kukatakan itu, Serika membuka matanya dan menatap wajahku lekat-lekat.

"Aku yakin, Natsuki akan baik-baik saja."

"……Apanya?"

"Firasatku."

Aku tidak mengerti apa maksud dari "baik-baik saja" itu.

Namun, kata-kata Serika selalu memiliki daya persuasi yang misterius seperti biasanya.

Pesawat lepas landas.

Sensasi tekanan yang seolah mendorong punggungku ke kursi perlahan menguat.

Setelah itu, tiba-tiba rasa melayang menyerang kami.

"T-tidak mungkin~! Seram, seram!"

Jeritan Kurahashi terdengar dari kursi belakang. Sepertinya dia takut ketinggian.

Tidak seperti bus, kursi pesawat disusun bertiga, jadi aku duduk bersama Reita dan yang lainnya.

Sedangkan Miori duduk satu baris di belakang, bersama Fujiwara dan Kurahashi.

"Wah, pemandangannya luar biasa!"

Tatsuya, yang duduk setelah Reita, menatap ke luar jendela dengan antusias.

"Orang bodoh dan asap suka tempat tinggi…… ah, pepatah itu sudah tidak berlaku lagi buat Tatsuya, ya."

Reita berkata begitu sambil mengangkat bahunya.

"Dulu aku sering menggunakannya untuk memancing emosi Tatsuya."

"Sekarang nilai ujianku sudah lebih bagus daripada kamu, rasakan itu."

"Ya ya, aku juga akan serius mulai tahun depan. Lihat saja nanti."

Alasan Reita bilang "tahun depan" adalah karena dia akan mulai belajar untuk ujian masuk.

Tekanan tak terlihat bernama ujian itu perlahan-lahan mulai mendekati kami.

Setelah karyawisata ini selesai, kurasa kesempatan untuk menikmati masa muda akan semakin sedikit.

Sambil memikirkan hal itu, guncangan pesawat pun mereda.

Sepertinya pesawat sudah stabil setelah mencapai ketinggian tertentu.

Perjalanan ke Bandara Naha di Okinawa akan memakan waktu sekitar tiga jam.

Antusiasme semua orang tinggi, dan suasana di dalam pesawat pun bising.

Mungkin karena naik pesawat, mereka jadi merasa benar-benar sedang karyawisata.

"Lagian aku lapar sekali. Makan siangnya pakai makanan pesawat, ya?"

"Kata sekolah mereka sudah menyiapkan bento. Katanya penerbangan domestik kelas ekonomi tidak menyediakan makanan pesawat."

Aku membeberkan informasi yang sudah kucari sebelumnya kepada Tatsuya yang sedang mengelus perutnya.

Karena ingin menikmati karyawisata semaksimal mungkin, aku tidak pernah melewatkan persiapan.

……Yah, sekarang aku sendiri tidak tahu apakah persiapan itu ada gunanya atau tidak.

"Hee, begitu ya? Terserahlah, yang penting bisa makan."

Di tengah percakapan itu, bento pun dibagikan. Bento makunouchi yang cukup besar.

Porsinya terlihat agak terlalu banyak untuk para gadis. Rupanya mereka menyamaratakan standar dengan porsi pria.

"Lumayan sih, tapi kurang kenyang."

"Nagiura-kun, mau makan punyaku? Aku benar-benar tidak sanggup menghabiskannya……"

"Oh, kamu pengertian sekali ya."

Tatsuya menghabiskan makanannya dengan lahap, lalu menerima sisa bento dari Fujiwara di kursi belakang.

"Kamu selalu saja makan banyak."

"Pemain basket butuh fisik yang kuat. Kalau tidak makan, kita tidak bisa bicara apa-apa."

Tatsuya berkata sambil melahap nasi putih dengan rakus.

"Aku merasa badanku makin besar dalam beberapa bulan terakhir."

"Sebaliknya, bukannya Natsuki malah jadi sedikit kurus?"

"Belakangan ini aku memprioritaskan latihan band, jadi latihan otot sering terabaikan……"

Tentu saja, aku tetap berolahraga secukupnya agar tidak gemuk.

Aku ingin menjadi versi diriku yang sekeren mungkin agar bisa berdiri dengan percaya diri di samping Hikari.

Dulu aku berpikir begitu. Aku berpikir begitu, dan aku bertindak begitu.

Tapi sekarang setelah dicampakkan oleh Hikari, itu semua sudah tidak ada artinya.

"Natsuki? Ada apa?"

Melihatku yang terdiam, Tatsuya bertanya.

"Ah, maaf. Tidak ada apa-apa."

Aku buru-buru menggelengkan kepala untuk mengalihkan perhatian.

Sepertinya lebih baik jika mereka belum tahu kalau aku dicampakkan oleh Hikari.

Jika kuceritakan sekarang, itu hanya akan merusak kesenangan karyawisata semua orang.

……Bahkan saat ini pun, tanpa sadar aku terus mencari sosok Hikari.

Aku membenci diriku sendiri yang begitu sulit move on.

Padahal, aku yang telah mengkhianati kepercayaan Hikari ini tidak punya kualifikasi untuk sekadar mengajaknya bicara.

Pesawat tiba di Bandara Naha.

Pengumuman bergema di langit-langit yang tinggi, dan suara roda koper terus terdengar tanpa henti.

"Kok panas sekali, ya?"

"Rasanya benar-benar sudah sampai di Okinawa."

Cuacanya cerah. Saat keluar, sengatan matahari terasa begitu menyilaukan sampai-sampai aku harus memicingkan mata.

Suhu udara sekitar tiga puluh derajat. Udaranya lembap dan terasa hangat melekat di kulit.

Hawa panas yang tidak terasa seperti akhir September. Benar-benar terasa seperti daerah tropis.

Aku melepas hoodie yang kukenakan lalu memasukkannya ke dalam ransel. Kemeja lengan pendek sudah cukup.

Kami naik ke bus yang sudah menunggu di bandara, lalu menuju tempat pembelajaran perdamaian.

Tempat yang dituju adalah aula besar di gedung bernama Aula Pemuda Okinawa.

Kursi-kursi lipat sudah berjajar di aula yang diperkirakan mampu menampung tiga ratus orang.

Karena angkatan kami berjumlah dua ratus empat puluh orang, kami bisa duduk dengan lega.

Kami mendengarkan ceramah tentang perang selama satu jam, lalu melihat langsung gua bawah tanah yang pernah digunakan saat perang (sepertinya disebut pengalaman Gama). Karena ini adalah karyawisata 'pendidikan', kami harus belajar dengan sungguh-sungguh.

Setelah itu, kami naik bus lagi menuju hotel tempat kami menginap di hari pertama.

Tiga puluh menit bus melaju.

Bus pun berhenti di area parkir hotel.

"Wow~, semangatku jadi naik, nih~"

Begitu turun dari bus, Kurahashi yang kebetulan ada di dekatku berkata.

"Resor hotel yang sangat megah, ya."

Barisan pohon palem yang menuju ke pintu masuk semakin memperkuat suasana tropis.

Lalu, bangunan berwarna putih gading itu berdiri kokoh dengan latar belakang langit senja. Sepertinya gedungnya memiliki lebih dari dua puluh lantai.

Kami berkumpul kembali di lobi terbuka dan dijelaskan mengenai aturan hotel.

Setelah itu, kami diberi waktu bebas sampai makan malam.

Pertama, kami harus menaruh barang bawaan di kamar masing-masing.

Pembagian kamar sudah ditentukan sebelumnya.

Kamar pria ada di lantai empat, sedangkan kamar wanita ada di lantai lima.

Satu kelas dibagi menjadi kelompok berisi empat sampai lima orang, dan aku satu kelompok dengan Reita, Tatsuya, Mei, dan Kijima. Anggota yang itu-itu saja.

Kami segera menuju kamar bersama Tatsuya dan lainnya.

Membuka pintu kamar dengan kartu kunci, lalu masuk ke dalam.

Itu adalah kamar bergaya barat dengan tiga tempat tidur di sisi kiri dan dua di sisi kanan.

Di dekat pintu masuk terdapat meja panjang dan kursi sesuai jumlah orang. Ada juga TV. Ternyata kamarnya lebih luas dari yang kubayangkan.

Aku hampir tidak ingat apa-apa tentang karyawisata di dunia pertama, jadi semuanya terasa sangat baru.

"Wah, bagus sekali."

"Sepertinya akan sangat nyaman."

Kijima dan Reita melihat sekeliling kamar sambil menaruh barang bawaan.

"Wooo!"

Tatsuya langsung melompat ke tempat tidur di dekat pintu.

"Ah~, empuk dan nyaman sekali."

"Woi bodoh! Kita kan belum memutuskan siapa tidur di kasur yang mana!"

Kijima menegur Tatsuya dengan wajah marah.

"Kalau begitu, aku yang ini saja. Soalnya sudah terlanjur melompat ke sini."

"S-sialan kau……!"

"Sudahlah, sudahlah. Lagipula tidak ada bedanya tidur di kasur mana pun. Kamarnya tidak ada perbedaan fasilitas, kok."

Mei menenangkan Kijima yang dahinya tampak berkerut karena marah.

Setelah itu, kami melakukan hompimpa untuk menentukan posisi kasur yang tersisa.

Tiga kasur di sisi kiri ditempati Tatsuya, Kijima, dan Mei. Sedangkan dua kasur di sisi kanan ditempati aku dan Reita.

Begitu aku duduk di atas kasurku, aku baru menyadari rasa lelah di tubuhku.

"Benar-benar melelahkan……"

Kijima bergumam pelan sambil berbaring telentang.

"Soalnya hari ini isinya perjalanan terus-menerus."

Aku setuju dengan ucapan Kijima. Karena lebih dari separuh hari dihabiskan untuk perjalanan, wajar saja kalau lelah.

"Mungkin karena duduk terus saat sesi pembelajaran perdamaian, pinggangku jadi sakit……"

Mei memukul-mukul pinggangnya.

"Kenapa kamu bersikap seperti orang tua saja?"

Tatsuya tertawa melihat Mei. Tatsuya sepertinya masih punya banyak tenaga.

"Ya sudah, mari kita istirahat dengan santai hari ini. Besok baru mulai wisata Okinawa yang menyenangkan."

Reita berkata begitu sambil menyalakan TV dengan remote.

Program variety show yang biasa kami tonton sedang tayang.

"Benar juga! Aku tidak sabar! Soki soba, taco rice, goya champuru!"

"Isinya makanan semua, dasar."

Kami beristirahat sambil menonton TV dan mengobrol santai.

Aku merasa suasana ceria di kamar ini seperti berada di tempat yang jauh sekali.

Padahal ini karyawisata, tapi hanya aku yang tidak bisa bergabung dalam lingkaran keceriaan itu.

"Ah, kenyang sekali."

Setelah selesai makan malam, kami kembali ke kamar.

Tatsuya berbaring di kasur sambil mengelus perutnya yang penuh.

"Makan nasi sampai tiga mangkuk itu terlalu banyak……"

"Steaknya enak sekali."

"Buah pencuci mulutnya juga segar."

Kami menghabiskan waktu bebas dengan mengobrol dan main kartu.

Sebenarnya aku ingin segera mandi, tapi waktu penggunaan pemandian umum sudah dijadwalkan.

Tentu saja boleh mandi dengan shower di kamar, tapi sayang sekali jika tidak memakai pemandian umum yang besar. Hari ini tubuhku lelah karena perjalanan, jadi aku ingin berendam di air hangat dengan santai.

Setelah menunggu giliran kami, kami pun berbondong-bondong menuju pemandian umum.

Saat turun ke lantai dua tempat pemandian umum berada, kami berpapasan dengan sekelompok gadis yang baru selesai mandi.

Kebetulan, di antara kelompok gadis itu ada Uta dan Nanase.

"Eh? Bukannya itu Natsu dan yang lain?"

Uta mengenakan kemeja dan celana pendek, pakaian santai yang berbeda dari biasanya.

"Baru mau mandi?"

Nanase mengikat rambut hitam panjangnya ke belakang dan memakai baju jersey lengan panjang dan celana panjang.

Keduanya menaruh handuk di bahu, rambut mereka masih basah. Mungkin akan dikeringkan di kamar.

"Ah, ya. Bagaimana pemandian umumnya?"

"Luas sekali, dan sangat nyaman!"

"Wah, aku jadi tidak sabar."

Percakapan biasa. Tidak ada keanehan pada sikap Uta dan Nanase.

……Artinya, sepertinya mereka tidak mendengar kabar dari Hikari kalau kami sudah putus.

"Ah, benar juga! Natsu! Tadi siang aku chat di grup, apa kamu sudah lihat?"

Uta bertanya seolah baru mengingatnya.

Itu adalah salah satu masalah yang kutunda.

Usulan Uta untuk mengambil foto bersama semua orang di pantai pada sore hari ketiga.

Jika memikirkan Hikari, mungkin lebih baik jika aku menolaknya.

……Tapi kalau ditolak sekarang, itu akan terlihat sangat aneh.

"Ah, maaf. Aku lupa membalasnya. Aku tidak masalah, kok."

Pada akhirnya, aku menjawab begitu. Karena aku tidak punya pilihan lain selain menjawab demikian.

"Oke! Kalau begitu, sisanya tinggal Hikarin saja!"

Pilihan itu berarti menyerahkan keputusan kepada Hikari.

Apakah Hikari mau berinteraksi denganku sebagai teman mulai sekarang?

Atau, apakah dia sudah tidak ingin melihat wajahku lagi? ……Entahlah.

"Natsu?"

Melihatku yang terdiam, Uta memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Natsuki, ayo berangkat."

Tatsuya yang sedang berbicara dengan Nanase memanggilku.

"Ah, ya!"

"Sampai jumpa nanti, ya!"

"……Ya."

Aku memunggungi Uta dan yang lainnya, lalu menuju ke pemandian umum.

Pluk.

Saat aku menggerakkan tubuh sedikit, permukaan air berguncang.

Sambil berendam di pemandian terbuka yang mengeluarkan uap panas, aku menatap langit malam dengan tatapan kosong.

Bintang-bintang gemerlap di dalam kegelapan yang dalam dan pekat.

"Wah, luar biasa sekali."

"Benar, benar-benar menyegarkan~"

"Ya."

Aku mengangguk menanggapi ucapan Tatsuya dan Mei.

Panas dari pemandian meresap perlahan ke tubuhku yang lelah.

Namun, di balik tembok pemisah, terdengar suara gadis-gadis yang sedang bercanda ria.

Sejujurnya, itu membuat perasaanku jadi sedikit aneh, jadi aku berharap mereka berhenti.

"Sial…… seandainya saja tidak ada tembok ini……!"

Kijima menatap tembok pemisah antara pemandian pria dan wanita dengan penuh rasa iri.

"Apa tidak ada lubang di suatu tempat?"

Tatsuya celingak-celinguk mencari lubang di tembok. Ya mana mungkin ada.

"Benar-benar…… pantas saja kalian begitu."

Di sisi lain, Reita mengangkat bahunya seolah meremehkan Tatsuya dan yang lainnya.

"Kenapa Reita. Kamu juga mau lihat, kan?"

"Itu namanya tidak masuk akal. Bayangkan saja dari suaranya. Itulah cara menikmati situasi ini."

"Begitu rupanya…… luar biasa, Reita."

Kijima mengangguk seolah terkesan, tapi tolong tenanglah.

Itu sama sekali bukan sesuatu yang hebat.

"Wow, tubuh Minan sungguh……!"

Suara lantang terdengar dari sebelah.

Itu suara Miori. Terdengar seperti dia tidak sengaja mengucapkannya.

"Benar, kan~? Aku sering dibilang begitu~"

Kurahashi merespons dengan gaya santai seperti biasanya.

Alasan percakapan dengan volume suara normal itu terdengar adalah karena para pria di sini semua sedang memasang telinga.

"……Apanya yang luar biasa?"

"Lawannya Kurahashi, tahu. Kamu mengerti, kan?"

"Dada-nya……"

"Besar sekali."

Tatsuya dan yang lainnya berbisik satu sama lain.

"B-boleh aku sentuh?"

Woi Miori. Jangan coba-coba menyentuhnya.

"Boleh saja~"

"Tentu saja tidak boleh! Tidak senonoh!"

Fujiwara menyela percakapan mereka dengan panik.

"Bayangkan, bayangkan---"

Kijima menutup mata dan bermeditasi di dalam pemandian.

"Jadi Miori ada di sana…… hmmm…… begitu rupanya."

Reita sedang mengangguk pada apa, entah lah. Biarkan saja.

"Apa yang sedang kalian lakukan, benar-benar……"

Mei tampak lelah.

Syukurlah, ada teman yang berpikiran waras.

"Mei tidak ikut-ikutan, ya."

"Tentu saja tidak. Aku kan sudah punya kekasih?"

"---Airnya hangat sekali."

"!?"

Saat itu, suara Funayama terdengar samar, membuat tubuh Mei tersentak.

"Mei?"

"Jangan ajak aku bicara. Aku sedang fokus saat ini."

"Kalian semua sama saja……"

Pada akhirnya, ternyata anak laki-laki SMA hanyalah sekumpulan orang yang penuh dengan hasrat.

Kami yang sudah puas berendam di pemandian kembali ke kamar.

Waktu sudah lewat jam sembilan. Terlalu cepat untuk merasa mengantuk.

Setelah jam sepuluh adalah waktu tidur, tapi sebelum itu dianggap waktu bebas.

"Hei, tidak bisa pergi ke kamar cewek, ya?"

"Katanya guru berjaga di dekat lift. Sepertinya Hino tertangkap."

Reita menjawab pertanyaan Kijima sambil melihat ponselnya.

"Apa yang dilakukan orang itu……"

"Mungkin dia ingin menemui Fujiwara?"

Hino memang sudah memadu kasih dengan Fujiwara sejak kelas satu.

"Meski lift tidak bisa, bukannya ada tangga?"

"Lagipula, mereka pasti menjaga keduanya, kan."

"Meski begitu, bukankah layak dicoba?"

Sepertinya Kijima belum menyerah.

"Ada apa Kijima. Jangan-jangan ada gadis yang kamu suka?"

Tatsuya bertanya sambil menyeringai.

"Bukan begitu. Cuma saja, Chihiro mengajakku. Bagaimana kalau kalian ikut?"

Kijima menunjukkan layar LINE.

Chihiro adalah gadis yang satu kelompok dengan Kijima. Nama keluarganya kalau tidak salah Aihara.

"Kalau Aihara-san, bukannya dia satu kamar dengan Miori?"

"Ya. Dia mengajakku main kartu atau semacamnya."

"Bukankah Aihara-san menyukai Kijima?"

"……Yah, aku belum ditembak, tapi aku merasakan atmosfer seperti itu."

Kijima menggaruk kepalanya.

"Maaf, tapi aku tidak ikut. Kalau ada Uta mungkin saja."

Tatsuya menolak dengan tegas tanpa ragu.

"Kamu setia sekali, ya. Padahal kalian belum jadian."

"Kalau sudah jadian tapi masih ke kamar wanita lain, pasti akan dianggap tidak serius."

"Cih, kaku sekali. Reita bagaimana?"

"Kurasa aku akan melewatkannya. Statusku saja masih dalam masa skors."

Reita tersenyum getir sambil mengangkat bahu.

Sejak insiden kekerasan itu, Reita sengaja mempertahankan diri sebagai murid teladan.

Dia tidak akan melakukan tindakan yang melanggar aturan. Mungkin dia tidak ingin menyusahkan klub sepak bola.

"Lalu, Shinohara?"

"Sepertinya Shizuki akan marah……"

Mei yang sudah punya pacar juga menggelengkan kepala.

Aihara-san dan Funayama memang satu kelompok, tapi sepertinya kamar hotelnya berbeda.

"Haibara…… eh, kamu juga tidak bisa karena ada Hoshimiya, kan."

Kijima menyerah lalu berbaring.

"Aku juga tidak punya keberanian untuk menyusup sendirian ke sarang para gadis."

Padahal aku sekarang sudah sendiri. Meski begitu, aku juga tidak akan pergi.

"Ngomong-ngomong Kijima. Bukannya kamu dulu pacaran sama Miwa?"

Tatsuya melemparkan topik pembicaraan.

"……Itu cerita kelas satu, tahu. Aku sudah lama diputuskan olehnya."

Nama yang familier. Miwa-san. Gadis yang sesekali kuajak bicara saat kelas satu.

Kami tidak sedekat teman…… tapi aku sempat ditembak saat musim gugur. Karena saat itu aku sudah berpacaran dengan Hikari, aku tidak punya pilihan selain menolaknya.

Miwa-san juga adalah orang yang harus meneteskan air mata karenaku.

"Katanya dia menyukai Haibara, makanya dia memutuskan aku. Baru bisa kubicarakan sekarang, sih."

Kijima berkata dengan nada santai.

Suasana ruangan menegang sesaat.

……Karena aku, Kijima diputuskan oleh Miwa-san?

"Ya, meski akhirnya dia juga ditolak oleh Haibara."

"……Benarkah begitu? Natsuki."

Aku belum pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun.

"……Ya, dia memang menembakku, tapi kutolak. Itu tepat setelah aku mulai berpacaran dengan Hikari."

"Ternyata Natsuki memang populer, ya."

Mei berkata dengan nada kagum.

Aku ingin menyanggahnya secara refleks, tapi wajah orang-orang yang menyukaiku melintas di benakku.

"……Maaf."

"Kenapa kamu malah minta maaf? Itu bukan salahmu, kan. Waktu itu memang sedih, tapi setelah satu tahun berlalu, ini sudah jadi bahan tertawaan. Makanya aku ceritakan."

Kijima merangkul bahuku. Pasti, tidak ada kebohongan dalam perkataannya.

"Lagipula Haibara, sampai kapan mau memanggil 'Kijima-kun'? Bukannya itu terasa canggung?"

"……Kalau begitu, boleh kupanggil Toshiki?"

Itu adalah nama depan Kijima.

"Ya. Aku juga akan memanggilmu Natsuki. Ayo, kita berteman baik."

Kijima---Toshiki, tersenyum lebar.

Dia mencoba mempererat jarak denganku, meski aku seperti ini. Aku merasa senang.

"Ah, curang sekali Natsuki! Kalau begitu, aku juga boleh memanggilmu Toshiki, kan?"

"Hmm, kalau Shinohara... kurasa tidak boleh..."

"Kenapa?!"

Melihat Mei yang terperangah, Toshiki dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak.

"Canda, kok. Senang berkenalan denganmu, Mei."

Rasanya, satu lagi ikatan pertemanan kami semakin menguat.

"Kalau begitu, kami juga akan memanggilmu Mei saja. Mumpung lagi begini."

"Betul juga."

"E-eh... kalau begitu, Toshiki, Tatsuya, Reita, sekali lagi, mohon bantuannya!"

Mei menundukkan kepala dengan sopan.

"Berlebihan sekali kau ini."

"Apa mungkin dia agak mirip Natsuki?"

Tatsuya dan Reita tersenyum getir. Yah, aku dan Mei memang sama-sama berasal dari golongan inkya (pendiam/kurang pergaulan) sih.

"Ngomong-ngomong Toshiki, kalau Aihara menyatakan perasaannya padamu, apa kau akan jadian dengannya?"

"Tentu saja. Sudah saatnya aku memulai 'cinta yang berikutnya'."

"Wah, anak muda sekali! Aku pasti mendukungmu!"

"Tolong bantu aku ya. Kalau ada bantuan darimu yang satu kelompok denganku, segalanya pasti bakal berjalan lancar."

Toshiki dan yang lainnya mengobrol dengan riang.

……Meski begitu, tidak bisa dimungkiri bahwa akibat tindakanku di dunia putaran kedua, Kijima-kun telah tersakiti.

Di dunia putaran pertama, mungkin mereka berdua bisa berpacaran tanpa masalah.

Ternyata, perubahan sejarah yang kulakukan memang menyebarkan ketidakbahagiaan bagi semua orang.

Kalau begitu, aku……

"Hei Natsuki. Sebenarnya apa yang terjadi?"

Saat aku sedang tenggelam dalam lautan pikiran, Tatsuya tiba-tiba bertanya.

Begitu aku mengangkat wajah, Tatsuya, Reita, Toshiki, dan Mei semuanya menatapku lekat-lekat.

"……Kau pikir kami tidak menyadari perubahan sikapmu?"

Reita tersenyum tipis.

"Kau itu orangnya mudah ditebak."

"Padahal kau begitu menantikan karyawisata ini, tapi sejak tadi kau terlihat kurang bersemangat."

"Ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak menyadarinya sampai mereka memberitahuku."

Tatsuya, Mei, dan Toshiki bergantian berbicara.

"……Aku sengaja diam karena tidak mau merusak suasana karyawisata kalian."

"Ceritakan saja. Kita ini teman, kan?"

Lagipula, kabar tentang hubunganku yang kandas dengan Hikari cepat atau lambat pasti akan terbongkar.

Selain hal yang berkaitan dengan time leap, rasanya tidak masalah jika menceritakan sisanya.

"……Aku dicampakkan oleh Hikari."

" " "Eh!?" " "

Tatsuya dan yang lainnya refleks berseru kaget.

"Suara kalian terlalu keras. Pelankan."

Reita meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.

Waktu tepat menunjukkan jam sepuluh malam. Jam tidur telah dimulai.

Ini adalah waktu di mana guru akan marah jika kami berisik di dalam kamar.

"Tumben Reita tidak terkejut."

"Aku terkejut, kok. Hanya saja tidak terlihat di wajahku."

Sementara itu, Tatsuya dan yang lainnya saling berpandangan dengan wajah syok.

"……S-serius nih?"

Tatsuya berbisik memastikan.

"Ya. Dia bilang selamat tinggal, jadi sudah tidak diragukan lagi."

"Kalian berdua tidak membalas pesan di grup, jadi aku sempat mengira kalian mungkin sedang bertengkar..."

"Aku tidak percaya kalian sampai putus..."

"Apa yang terjadi? Bukannya hubungan kalian terlihat baik-baik saja?"

Menjawab pertanyaan Toshiki, aku menjawab dengan singkat.

"……Ini salahku. Aku telah mengkhianati kepercayaan Hikari. Makanya aku dicampakkan."

"……Apa kau tidak bisa menceritakan detailnya?"

"Maaf... tapi untuk sekarang, aku tidak mau membicarakannya."

Menceritakan detail berarti menyentuh rahasia time leap.

Terlepas dari Hikari yang pernah menguji teori time leap-ku atau Miori si teman masa kecilku, aku tidak yakin orang lain akan percaya jika kuceritakan. Meskipun mereka adalah Tatsuya dan teman-temanku.

Lagipula, bahkan jika mereka percaya, itu hanya akan membebani mereka dengan beban yang tidak perlu.

Tentu saja, itu tergantung seberapa jauh aku bercerita.

Tapi karena ada bagian yang memang tidak bisa kuceritakan, lebih baik aku diam saja.

"Yah, aku tidak akan memaksamu untuk cerita kalau kau tidak mau."

Melihatku yang terdiam, Tatsuya menggaruk kepalanya.

"Pantas saja kau tidak bersemangat. Sekarang aku mengerti."

Sebenarnya, alasan aku tidak bersemangat bukan semata-mata karena dicampakkan Hikari.

Melainkan karena tindakan kukulah yang membuat Hikari dan Miori menangis.

Dan karena aku akhirnya tahu kenyataan bahwa tindakanku telah membuat semua orang menderita.

Tentu saja, rasa sakit karena dicampakkan Hikari juga besar, tapi karena ini salahku, aku tidak bisa menyalahkan siapa pun.

"Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu?"

"……Terima kasih banyak atas perhatiannya, tapi ini masalah kami berdua."

Terhadap Mei yang tampak khawatir, aku menggelengkan kepala.

"Begitu, ya……"

"Yah, mungkin saja waktu akan menyelesaikan semuanya!"

Mungkin Toshiki ingin mencairkan suasana, jadi dia sengaja berkata optimis.

Namun, sayangnya waktu tidak akan menyelesaikan apa pun.

Justru, waktu hanya akan memaksaku untuk segera memilih.

Meski begitu, jawabanku sudah hampir bulat.

---Aku akan kembali ke dunia putaran pertama.

Penuh Warna bagiku, adalah warna kelabu bagi semua orang.

Setelah mengetahui hal itu, aku tidak ingin menjadi orang bodoh yang tetap memaksakan masa mudaku sendiri.

"Aku mengerti kau sedang sedih, tapi ini karyawisata, tahu?"

Mungkin karena kasihan melihatku yang diam saja, Tatsuya merangkul bahuku dengan erat.

"Ayo nikmati! Untuk hiburan! Bukannya kau juga sangat menantikannya?"

……Memang benar, aku sangat menantikan karyawisata ini.

Karena ini adalah acara masa muda terakbar selama SMA, aku benar-benar berusaha keras menyambutnya.

"……Benar juga."

Karena aku sudah memutuskan untuk kembali ke dunia putaran pertama, ini akan menjadi masa muda terakhirku.

Hari-hari yang kuhabiskan bersama semua orang di sini sekarang, hanya akan tertinggal di ingatanku saja.

"Baiklah... ayo kita naikkan semangatnya!"

"Nah, gitu dong! Baru seru!"

Jadi setidaknya, mari kita jadikan karyawisata ini kenangan terbaik.

Dengan menjadikan kenangan itu sebagai bekal, aku akan melanjutkan sisa hidupku di dunia putaran pertama.

Karena itu…… aku yakin, itulah keputusan yang paling benar.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close