Interlude 3
Hari itu adalah
hari pernikahan kami.
Cuaca cerah
cerah. Iklim sudah seperti musim gugur, angin sejuk terasa menyegarkan.
Untuk hari ini,
kami sudah mempersiapkan segalanya sejak lebih dari setahun lalu.
Mulai dari
memilih tempat pernikahan, menentukan anggaran, memilih pakaian, menyusun
jadwal resepsi, menentukan acara, memilih tamu undangan, lalu meminta orang
untuk mengisi hiburan, menyusun ucapan terima kasih dari mempelai pria…
Pokoknya pekerjaan tak ada habisnya, dan sangat melelahkan.
Pernikahan itu
ternyata sangat berat. Aku
baru benar-benar merasakannya.
“Natsuki.”
Aku menoleh saat
namaku dipanggil.
Di sana
berdiri Miori yang mengenakan gaun pengantin.
“…………”
“…Ada apa?”
“Bukan… kamu
cantik sekali.”
“Kamu sudah
berkali-kali melihatnya.”
Miori tersenyum
malu-malu.
Memang aku sudah
melihat Miori memakai gaun pengantin saat pemotretan pre-wedding dan fitting.
Tapi entah kenapa, setiap kali melihatnya tetap tidak terbiasa.
Kalau dipikir
secara objektif, Miori itu terlalu cantik. Kenapa dia mau menikah dengan orang
sepertiku? Tiba-tiba aku merasa bingung. Tapi aku bahagia.
“Natsuki juga
tampan kok.”
Aku juga
mengenakan tuksedo putih bersih.
Wajahku sudah
dirias, rambut disisir rapi, sampai-sampai terlihat seperti orang lain.
“Karena kamu
tinggi, apa pun pasti cocok.”
“…Kalau logikamu
begitu, berarti aku boleh pakai apa saja dong.”
“Memang
benar juga.”
Miori
tersenyum kecil.
“Sepertinya
sudah waktunya pindah.”
Staf
gedung pernikahan menyapa kami.
Miori
berjalan sambil ujung gaunnya dipegang oleh staf.
Aku berjalan di
depan Miori, dari ruang tunggu menuju pintu masuk aula.
Aku tidak bisa
melihat ke dalam, tapi para tamu sepertinya sudah duduk di kursi.
“Kamu
tegang?”
“…Tentu
saja tegang.”
Aku menjawab
jujur saat Miori bertanya.
Pengalaman
berdiri di depan banyak orang hampir tidak pernah kumiliki.
Jujur
saja, tanganku gemetar.
Tangan
itu lalu dibungkus oleh kedua tangan Miori.
“Tenang saja, aku
ada di sini.”
“…Seharusnya itu
kalimatku, bukan?”
“Aku tahu kamu
tidak terlalu bisa diandalkan di saat seperti ini.”
Miori berkata
dengan bangga.
Memang beda orang
yang sejak SMA sudah berada di puncak kelas.
Meski sebentar
lagi akan disorot puluhan pasang mata, dia sama sekali tidak tegang.
Ibu kandungku dan
orang tua Miori juga sudah datang, menunggu waktu mulai.
“Sebentar lagi
akan dimulai.”
Begitu staf
memberi tahu, kami berdiri di pintu masuk dan mempersiapkan hati.
Pintu aula
terbuka. Di tengah terbentang aisle putih bersih. Di kiri dan kanan, para tamu
berdiri menyambut kami. Meski tubuhku kaku karena tegang, aku membiarkan ibuku
memakaikan jas.
Ini disebut
Jacket Ceremony. Ibu ingin melakukannya, jadi aku terima saja. Sebenarnya aku
tidak suka karena menambah proses yang membuatku semakin tegang.
Tapi melihat ibu
bahagia, aku anggap saja baik-baik.
Sepanjang
berjalan ke altar setelah memakai jas, aku merasa seperti tidak hidup.
Kemudian, Miori
masuk diiringi ayahnya.
Dengan langkah
anggun, dia membungkuk hormat, lalu berjalan sambil memandu ayahnya.
Seperti yang
sudah direhearsal, aku menerima Miori dari ayahnya, lalu menghadap ke depan.
Ngomong-ngomong, kami memilih pernikahan bergaya gereja.
Dengan nyanyian pujian, pembacaan Alkitab, dan lain-lain,
upacara pernikahan berlangsung sementara kami berdiri.
“Natsuki sebagai mempelai pria. Apakah Anda bersedia
menerima Miori sebagai istri, dalam keadaan sakit maupun sehat, dalam kesedihan
maupun kebahagiaan, dalam kemiskinan maupun kekayaan, mencintainya,
mendukungnya, menghiburnya, menghormatinya, dan setia kepadanya seumur hidup?”
“Ya, saya bersumpah.”
Suaraku sangat gemetar.
Miori
yang sedang menatapku tersenyum kecil. Hei, jangan tertawa!
Saat
pertanyaan yang sama diajukan padanya, Miori menjawab dengan suara tenang, “Ya.
Saya bersumpah.”
Kemudian
kami melakukan tukar cincin. Cincin pernikahan kami pilih yang desainnya
sederhana.
Karena kami akan
memakainya setiap hari, kami tidak ingin terlalu mewah. Kami memilih bersama
cincin emas putih yang berkilau, lalu aku memasangkannya di jari manis tangan
kiri Miori.
Lalu Miori
memasangkan cincin yang sama di jariku.
“Sekarang,
ciuman sumpah.”
Begitu
pendeta mengumumkan, aku mencium bibir Miori.
Kemudian kami
menandatangani surat nikah, dan pendeta membacakan penutup upacara.
Hanya sekitar
belasan menit, tapi aku merasa hampir mati karena tegang…
Tapi yang
sebenarnya baru akan dimulai.
Begitu keluar
bersama Miori, hujan bunga dari para tamu menyambut kami.
Tanpa jeda
istirahat, resepsi pun dimulai.
Kami
berfoto dengan semua orang sambil mengucapkan terima kasih karena sudah datang.
Hampir semua tamu
kami adalah rekan kerja dan atasan masing-masing. Karena kami berdua memang
tidak punya banyak teman.
Meski dari SD
sampai SMA sekolah sama, kami tidak punya satu pun teman yang sama.
Saat aku
menceritakan itu kepada rekan kerja yang datang, mereka menepuk bahuku dengan
wajah iba.
Kalau dipaksakan,
beberapa orang yang diundang Miori memang pernah kukenal.
Tapi aku
memang tidak punya kenangan baik dengan teman SMA.
Misalnya
Sakura dan Kurahashi, mereka adalah teman seangkatan Miori di klub basket
putri.
Sakura
bahkan satu kelas denganku. Mungkin
pernah menjadi teman sejenak.
Lalu,
orang yang paling kukenal adalah——.
“Haibara-kun.”
Suara
yang seperti lonceng perak terdengar dari belakang.
Begitu
menoleh, di sana berdiri seorang wanita cantik dengan rambut cokelat muda
diikat ponytail.
“…Hoshimiya-san.”
Gadis
yang pernah kukunjungi saat SMA.
Dia
sekarang terlihat jauh lebih cantik daripada dulu.
Aku sudah
tahu bahwa Miori mengundang Hoshimiya.
Jujur aku
agak canggung, tapi kalau itu keinginan Miori, tidak apa-apa.
“…Lama
tidak bertemu.”
“Iya,
sejak SMA.”
Hoshimiya
menyapa dengan sangat biasa.
“Aku kaget sekali
saat Miori-chan menghubungiku. Tidak menyangka kamu menikah dengan
Haibara-kun.”
“…Memang ya.”
“Kalian ternyata
teman masa kecil. Aku sama sekali tidak tahu.”
Karena di
SMA aku dan Miori hampir tidak pernah bicara.
Aku juga
tidak pernah bilang pada siapa pun bahwa kami teman masa kecil. Wajar tidak ada
yang tahu.
“…Meski
sudah terlambat, maaf ya.”
“Eh?”
“Waktu
SMA, bukan hanya padamu… aku merepotkan banyak orang.”
Tindakanku yang
egois saat itu memperburuk suasana kelas. Aku masih menyesalinya sampai
sekarang.
“Anu… boleh aku
tanya satu hal?”
Hoshimiya tidak
menjawab permintaan maafku, malah mengajukan pertanyaan lain.
“Kalau bisa
mengulang masa muda… apa yang akan kamu lakukan, Haibara-kun?”
Pertanyaan yang
sangat aneh.
“…Tentu saja aku
akan berusaha lebih baik daripada dulu.”
“Ya, itu wajar
sih.”
Aku tidak bisa
membaca maksud pertanyaannya.
“Lalu… kalau
harus memilih antara mengulang masa muda atau tetap di sini sekarang, mana yang
kamu pilih?”
“Aku akan tetap
di sini.”
Jawaban itu sudah
kuputuskan sejak lama.
Saat aku
berbicara dengan Hoshimiya, Miori sedang mengobrol dengan Sakura dan yang lain.
Miori yang
memakai gaun pengantin terlihat sangat bahagia saat dipuji.
“——Selamat menikah, Haibara-kun. Semoga bahagia.”



Post a Comment