NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Interlude II

Interlude 2


Di masa-masa itu, sosok Yuino-chan benar-benar terlihat seperti sebuah cangkang kosong yang hampa.

Momen itu terjadi pada liburan musim panas saat kami masih duduk di bangku kelas dua SMP. Mengingat itu adalah liburan panjang yang berharga, aku menghabiskan waktu untuk bermain bersama Yuino-chan berkali-kali.

Biasanya, Yuino-chan pasti akan menolak ajakanku karena dia sangat sibuk dengan kegiatan latihan piano maupun kelas les lainnya.

Namun entah mengapa, sepanjang liburan musim panas kali ini, dia selalu menerima ajakanku dengan senang hati kapan pun aku menghubunginya.

Kami melewati musim panas yang sangat menyenangkan dengan pergi berbelanja hingga berkunjung ke tempat karaoke bersama dengan teman-teman yang lain.

Namun di tengah-tengah momen tersebut, Yuino-chan sering kali mendadak terdiam dan melayangkan pandangan kosongnya menatap ke arah langit.

Padahal biasanya dia selalu tertawa lepas bersama kami atau gemar menggoda diriku, namun ada kalanya sepasang matanya justru memancarkan tatapan yang sangat jauh.

Saat-saat seperti itu membuat pembawaan diri Yuino-chan entah mengapa terlihat menjadi sangat dewasa.

"Apakah kamu…… sudah memutuskan untuk berhenti bermain piano?"

"……Apa yang membuatmu sampai berpikiran seperti itu?"

"Sebab belakangan ini, aku sama sekali tidak pernah melihatmu berlatih lagi."

"……Kamu benar. Aku memang sudah tidak lagi menjalani sesi latihan dengan penuh totalitas seperti dulu."

"Kenapa? Padahal aku sangat menyukai alunan musik piano milik Yuino-chan, lho."

"……Aku murni hanya merasa sedikit lelah dengan semua ini. Alasan utamanya hanya sebatas itu saja, kok."

Melihat Yuino-chan yang langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, aku pun akhirnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.

Sebab aku tahu betul bahwa alasan yang mendasari tindakannya itu jelas bukan sebuah perkara sepele seperti apa yang baru saja diucapkannya.

Yuino-chan adalah sosok gadis yang sangat mencintai aktivitas memainkan instrumen piano.

Fakta tersebut adalah sebuah realitas yang bisa dipahami oleh siapa saja yang melihat pembawaan dirinya saat sedang bermusik.

Aku sama sekali tidak bisa memercayai alasan bahwa dia memilih berhenti murni hanya karena merasa lelah.

Terlebih lagi, jika alasan itu memang benar adanya, dia seharusnya bisa mengekspresikan kehidupan barunya saat ini dengan raut wajah yang jauh lebih bahagia.

Namun realitas yang terpampang di depan mataku saat ini justru memperlihatkan bahwa Yuino-chan sedang memaksakan diri. Aku sudah menyadari adanya kejanggalan tersebut sejak awal mula perubahan sikapnya terjadi.

Awalnya aku berharap intensitas bermain kami yang sering bisa sedikit membantu proses pemulihan kondisi mentalku.

Namun tampaknya, akar masalah yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah sebuah perkara ringan yang bisa diselesaikan dengan mudah.

Karena pertimbangan itulah, hari ini aku memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut secara langsung kepadanya. Dan respons yang kuterima saat ini adalah hasil dari keberanianku itu.

"Aku benar-benar merasa sangat senang karena kamu mau mengkhawatirkan kondisiku, Hikari."

Melihat diriku yang hanya bisa terdiam membisu, Yuino-chan pun menyunggingkan seulas senyuman tipis yang terkesan sangat dipaksakan di wajahnya.

"Namun kamu tidak perlu cemas, karena kondisiku saat ini benar-benar baik-baik saja, kok."

Mendengar kalimat penolakannya barusan, aku akhirnya menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'baik-baik saja' juga bisa bertindak sebagai sebuah kalimat penolakan yang halus.

Aku memiliki keinginan yang sangat besar untuk bisa menjadi pilar kekuatan bagi Yuino-chan. Aku ingin dia bersedia membagi beban masalahnya dan mengandalkan kehadiranku.

Namun masalahnya, aku sama sekali tidak memiliki modal pengetahuan apa pun mengenai seluk-beluk dari dunia musik klasik.

Sekalipun Yuino-chan bersedia menceritakan seluruh detail masalahnya kepadaku, aku dipastikan tetap tidak akan bisa melakukan tindakan apa pun untuk membantunya.

Satu-satunya hal maksimal yang mampu kulakukan saat ini murni hanyalah sebatas bertahan untuk terus berada di sisi sampingnya seperti biasa.

Di tengah-tengah bergulirnya hari-hari yang monoton tersebut, sebuah keajaiban sederhana mendadak berhasil mengembalikan kilau cahaya kehidupan di sepasang mata Yuino-chan yang tadinya sempat meredup hampa. Fenomena perubahan tersebut bisa terjadi murni karena dia mendadak jatuh cinta pada dunia idola.

"Gadis manis yang ada di dalam foto ini adalah sosok oshi nomor satuku! Dia terlihat sangat imut sekali, bukan? Sepasang matanya tampak begitu berbinar……"

"Wah, ini adalah pertama kalinya bagiku melihat Yuino-chan bisa sampai berbicara dengan penuh ambisi dan menggebu-gebu seperti ini, lho?"

"Apakah penampilanku saat ini memang terlihat seaneh itu? Namun terlepas dari hal itu, sosoknya benar-benar sangat luar biasa hebat! Dia selalu berjuang keras mengejar impiannya dengan penuh totalitas, hingga auranya selalu sukses menyalurkan energi positif ke dalam diriku. Kebetulan dalam waktu dekat ini mereka akan menggelar konser live, jadi apakah kamu mau ikut pergi menonton bersamaku, Hikari?"

Melihat transformasi instan Yuino-chan yang mendadak berubah menjadi seorang otaku yang berbicara dengan tempo sangat cepat, aku sejujurnya sempat merasa sangat kewalahan untuk meresponsnya.

Namun di sisi lain, aku juga merasa sangat bahagia karena dia akhirnya bisa mengamankan kembali energi kehidupannya.

Mengingat aku adalah orang yang sangat awam mengenai dunia idola, aku sejujurnya hampir tidak bisa memahami arti dari setiap kosakata teknis yang meluncur dari mulutnya sepanjang waktu.

Namun bagiku, rincian detail tersebut sama sekali tidak penting selama kilau cahaya kebahagiaan bisa kembali menghiasi sepasang mata Yuino-chan yang tadinya sempat hampa seperti cangkang kosong.

"……Tentu saja aku mau. Aku juga ingin melihat secara langsung hal-hal luar biasa yang sangat disukai oleh Yuino-chan."

Melihatnya bisa bangkit berdiri dari keterpurukan adalah sebuah kebahagiaan terbesar bagiku.

Namun di dalam sudut hatiku yang terdalam, aku sempat meyakini bahwa dia mungkin tidak akan pernah lagi mau menginjakkan kakinya di atas panggung kompetisi piano sampai kapan pun.

Bahkan setelah kami resmi memasuki jenjang kehidupan SMA, dia tetap setia mengemban tanggung jawab untuk mengawasi dan merawat diriku.

Alih-alih menganggapnya sebagai seorang sahabat biasa, pembawaan dirinya justru membuatku merasa seperti sedang memiliki sosok kakak perempuan kandung yang sangat hebat.

Aku sadar bahwa hidupku selama ini selalu berakhir diselamatkan oleh kebaikan hati Yuino-chan.

Oleh karena itu, aku juga menyimpan sebuah impian besar untuk bisa menjadi sosok yang berguna bagi kelangsungan hidup Yuino-chan ke depannya.

Aku bahkan sempat memelihara sebuah fantasi indah layaknya sebuah cerita fiksi, di mana novel hasil karyaku sendiri yang nantinya akan berhasil membakar kembali api semangat piano di dalam hatinya.

Namun sayangnya, takdir kehidupan nyata memilih untuk tidak mengizinkan impian manisku itu terkabul.

"Aku sudah memantapkan hati untuk kembali menekuni dunia piano."

Sosok nyata yang berhasil mewujudkan impian itu melalui jalan cerita yang berbeda murni hanyalah Natsuki-kun seorang.

"Setelah melihat secara langsung kualitas pertunjukan live milik kelompok band Haibara-kun kemarin, aku akhirnya menyadari bahwa hatiku pada realitasnya masih belum bisa merelakan dunia musik ini begitu saja."

Mendengar kabar bahagia tersebut meluncur langsung dari mulutnya, aku murni merasakan sebuah letupan kebahagiaan yang besar sekaligus rasa sesak yang menghujam dada karena fakta bahwa akulah yang gagal menjadi pemicu utamanya.

"Wah, begitu ya! Kalau begitu, aku berjanji akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk terus mendukung perjuangan Yuino-chan dari belakang!"

Pada realitasnya aku hanyalah sesosok gadis lemah yang tidak memiliki kekuatan apa pun, bahkan di saat Yuino-chan ambruk tidak sadarkan diri di depan mataku seperti sekarang, aku tetap tidak bisa melakukan tindakan berguna apa pun untuk menolongnya.

Sejak beberapa waktu yang lalu, firasat buruk memang sudah terus-menerus mengusik ketenangan pikiranku. Aku yakin Natsuki-kun pasti juga menyadari adanya kejanggalan aneh dari pembawaan diri Yuino-chan belakangan ini.

Kami berdua tahu bahwa masalah utama yang sedang mengganggu kestabilan emosinya dipastikan memiliki keterkaitan erat dengan dunia piano.

Meskipun logika di dalam kepalaku terus memaksa diri untuk memercayai bahwa ini adalah bentuk perubahan ke arah yang positif, namun firasat buruk itu tetap enggan untuk menyingkir dari hatiku.

Dan tepat pada hari ini, firasat mengerikan tersebut resmi dibuktikan melalui sebuah skenario terburuk yang pernah ada.

Sampai detik ini pun, aku ternyata masih tetap bertahan sebagai sosok orang yang sama sekali tidak mengetahui fakta apa pun mengenai realitas masalah yang sesungguhnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close