Interlude 2
Hari ini adalah
hari peringatan kami mulai berpacaran.
Untuk
hari spesial ini, aku memesan full course dinner meski itu bukan gaya-ku.
“Aku baru pertama
kali makan full course. Kamu?”
“Aku pernah
sekali diajak atasan.”
“Tadi aku sudah
riset tata krama, tapi tetap agak khawatir…”
“Restorannya
tidak terlalu mewah kok, pasti bisa diatasi.”
Meski begitu, aku
sudah mempersiapkan diri dengan sangat matang.
Memalukan kalau
aku yang mengajak malah melanggar tata krama.
Restoran itu
berada di lantai empat puluh sebuah hotel di pusat Tokyo.
Sebenarnya aku
ingin menginap di hotel, tapi ini hari kerja biasa.
Baik aku maupun
Miori sedang sibuk dengan pekerjaan, jadi sulit mengambil cuti seenaknya.
Untung atau rugi,
kami sama-sama tahu situasi kerja satu sama lain.
Kami naik lift
hotel yang hanya lima menit dari stasiun, lalu masuk ke restoran.
“Reservasi atas
nama Haibara, benar kan? Kami sudah menunggu.”
Staf
menyambut kami dengan sopan dan langsung mengantar ke meja.
Hanya
dari gerakannya yang halus saja, sudah terasa bedanya dengan tempat makan
biasa.
Kami
duduk di meja pinggir jendela.
Di luar
jendela, hamparan pemandangan malam Tokyo yang gemerlap terbentang.
“Wah,
indah sekali…”
“Benar.
Ini pemandangan khas orang kaya.”
“Ekspresimu
terlalu seperti orang biasa?”
Suasana
di seluruh restoran agak temaram, tapi lentera di meja menerangi sekitar dengan
cahaya lembut, menciptakan nuansa yang elegan.
Miori
yang duduk di hadapanku memakai pakaian lebih rapi dari biasanya. Restoran
seperti ini memang punya dress code. Aku juga memakai setelan jas yang jarang
kukenakan.
Di kantor pusat
aku memang pakai jas, tapi karena aku bagian manajemen lapangan, lebih sering
memakai pakaian kerja di site.
Bahkan di situasi
yang boleh pakai jas, aku lebih suka pakaian kerja. Lebih nyaman.
“Minumannya
bagaimana?”
Karena langsung
ditanya, aku memesan white wine yang tidak terlalu kukenal.
Ngomong-ngomong, harganya sangat mahal. Bahkan white wine
murah pun tidak ada di menu.
“Pakai pisau dan garpu yang mana dulu ya…?”
Melihat Miori yang gelisah dan tegang, aku jadi sedikit
rileks.
“Kamu kelihatan
tegang sekali…”
“Soalnya biasanya
kita cuma ke izakaya.”
“Kamu tiba-tiba
bilang mau full course, jadi aku kaget.”
“Sekali-kali
boleh lah. Ini kan
hari spesial.”
Sambil
mengobrol, kami makan hidangan yang disajikan dengan kikuk.
Rasa
masakannya elegan dan belum pernah kucicipi. Entah bagaimana, rasanya halus dan kompleks. Kalau
terbiasa makan seperti ini, nanti susah puas di warteg biasa.
Orang bilang
kalau naik taraf hidup, susah kembali ke bawah. Sekarang aku mengerti
maksudnya.
Setiap kali
pelayan menyajikan piring, mereka menjelaskan menu, tapi terdengar seperti kode
rahasia sehingga aku tidak paham. Tapi appetizer, sup, dan hidangan ikan
semuanya enak, jadi YOSH!
“Ini adalah
grilled sirloin daging sapi Omi. Silakan dituang sausnya.”
Akhirnya hidangan
utama daging disajikan.
Saat memotong
daging dengan pisau, mudah sekali terpotong.
Begitu masuk ke
mulut, tekstur lembut disertai jus daging yang meluber.
Daging
seukuran itu langsung lumer di mulut. Ternyata benar daging bagus itu meleleh.
Melakukan
hal yang biasanya tidak dilakukan memang memperluas wawasan.
Mendekati
usia tiga puluh dan punya sedikit uang lebih, aku jadi bisa melakukan hal-hal
yang diinginkan.
Mulai
ikut golf karena diajak rekan kerja, mulai memancing karena pengaruh manga,
akhir-akhir ini hidupku cukup menyenangkan.
Waktu
kuliah, aku membayangkan setelah jadi pekerja, hidupku hanya kantor dan rumah.
Tapi
setelah benar-benar mengalaminya, dunia terasa jauh lebih luas dari yang
kubayangkan.
Aku sadar
bahwa nilai-nilai hidupku perlahan berubah.
“Enak
sekali~”
Miori
mengunyah daging dengan wajah bahagia.
Awalnya
dia tegang, tapi sepertinya sekarang menikmati. Syukurlah.
“Potongannya
kecil-kecil, tapi perut sudah kenyang.”
Setelah
selesai makan daging, Miori berkata sambil mengusap perut.
“Memang
benar juga.”
“Fufu,
karena makan pelan-pelan jadi tidak sadar ya?”
Sambil
mengobrol ringan, dessert pun datang.
Mont
Blanc tart dengan sherbet. Penampilannya
terlalu mewah.
Rasanya tentu
enak. Lidahku terlalu kampungan, jadi komentarku cuma level SD…
“Haa, enak
sekali.”
Miori berkata
dengan puas.
Kalau dia bilang
begitu, uang yang kikeluarkan jadi terasa sepadan.
Kami menikmati
kopi setelah makan sambil menikmati pemandangan malam di luar jendela.
Malam di Tokyo
tetap gemerlap. Bagi kami yang berasal dari Gunma, ini terlalu menyilaukan.
Awalnya begitu,
tapi setelah tinggal, kota ini jadi terasa seperti rumah. Perlahan aku mulai
menyukainya.
“Benar-benar
boleh aku yang traktir?”
“Tentu saja.”
Aku mengangguk
pada Miori yang bertanya dengan ragu.
Memang aku bukan
orang kaya, tapi cukup untuk sesekali berfoya-foya.
Meski
begitu, restoran kelas ini hanya untuk acara spesial.
“…Miori.”
“…Y-Ya.”
Saat aku
memanggil namanya, Miori tersentak.
Dia pasti
sudah menduga. Karena aku mengajak ke dinner mewah seperti ini.
Makanya dia
tegang berlebihan. Sisi itu juga menggemaskan.
“Ada yang ingin
aku katakan.”
Aku sudah
memikirkan berbagai kalimat romantis, tapi itu tidak cocok denganku.
Jadi, aku
memutuskan mengatakan isi hatiku secara langsung.
“Aku mencintaimu.
Makanya, nikah yuk.”
Aku menyodorkan
kotak kecil berisi cincin.
Di dalamnya
adalah cincin pertunangan. Aku bingung hampir setengah tahun memilihnya.
Sebenarnya bisa
memilih bersama, tapi aku rasa Miori lebih suka kejutan.
Makanya aku terus
mencari cincin pertunangan yang sesuai selera Miori.
Ini pertama
kalinya aku membeli barang semahal ini, tapi aku tidak menyesal.
“…Ya, dengan
senang hati.”
Miori
mengangguk sambil air mata mengalir dari sudut matanya.
“A-Ahaha… maaf.
Kenapa aku malah menangis ya.”
Miori menutup
wajahnya dengan kedua tangan.
“Kalau sudah tiga
puluh tahun masih bersama, kita menikah kan?”
“Memang aku
pernah bilang begitu… tapi aku tidak menyangka kamu benar-benar mewujudkannya…”
Aku mengeluarkan
sapu tangan dan memberikannya pada Miori.
Miori menyeka air
matanya dengan sapu tanganku, lalu menatap cincin pertunangan itu lagi.
“Boleh aku pasang
di jari?”
“Tentu saja.”
Begitu aku
mengangguk, Miori memasang cincin di jari manis tangan kirinya.
Berlian di tengah cincin berkilauan.
Miori menatap cincin itu dengan penuh kasih sayang.
“Aku akan
menjaganya seumur hidup.”
“…Seharusnya itu
kalimatku.”
Aku pasti tidak akan pernah melupakan senyum bahagia Miori ini.



Post a Comment