NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 10 Interlude II

Interlude 2


Hari ini adalah hari peringatan kami mulai berpacaran.

Untuk hari spesial ini, aku memesan full course dinner meski itu bukan gaya-ku.

“Aku baru pertama kali makan full course. Kamu?”

“Aku pernah sekali diajak atasan.”

“Tadi aku sudah riset tata krama, tapi tetap agak khawatir…”

“Restorannya tidak terlalu mewah kok, pasti bisa diatasi.”

Meski begitu, aku sudah mempersiapkan diri dengan sangat matang.

Memalukan kalau aku yang mengajak malah melanggar tata krama.

Restoran itu berada di lantai empat puluh sebuah hotel di pusat Tokyo.

Sebenarnya aku ingin menginap di hotel, tapi ini hari kerja biasa.

Baik aku maupun Miori sedang sibuk dengan pekerjaan, jadi sulit mengambil cuti seenaknya.

Untung atau rugi, kami sama-sama tahu situasi kerja satu sama lain.

Kami naik lift hotel yang hanya lima menit dari stasiun, lalu masuk ke restoran.

“Reservasi atas nama Haibara, benar kan? Kami sudah menunggu.”

Staf menyambut kami dengan sopan dan langsung mengantar ke meja.

Hanya dari gerakannya yang halus saja, sudah terasa bedanya dengan tempat makan biasa.

Kami duduk di meja pinggir jendela.

Di luar jendela, hamparan pemandangan malam Tokyo yang gemerlap terbentang.

“Wah, indah sekali…”

“Benar. Ini pemandangan khas orang kaya.”

“Ekspresimu terlalu seperti orang biasa?”

Suasana di seluruh restoran agak temaram, tapi lentera di meja menerangi sekitar dengan cahaya lembut, menciptakan nuansa yang elegan.

Miori yang duduk di hadapanku memakai pakaian lebih rapi dari biasanya. Restoran seperti ini memang punya dress code. Aku juga memakai setelan jas yang jarang kukenakan.

Di kantor pusat aku memang pakai jas, tapi karena aku bagian manajemen lapangan, lebih sering memakai pakaian kerja di site.

Bahkan di situasi yang boleh pakai jas, aku lebih suka pakaian kerja. Lebih nyaman.

“Minumannya bagaimana?”

Karena langsung ditanya, aku memesan white wine yang tidak terlalu kukenal.

Ngomong-ngomong, harganya sangat mahal. Bahkan white wine murah pun tidak ada di menu.

“Pakai pisau dan garpu yang mana dulu ya…?”

Melihat Miori yang gelisah dan tegang, aku jadi sedikit rileks.

“Kamu kelihatan tegang sekali…”

“Soalnya biasanya kita cuma ke izakaya.”

“Kamu tiba-tiba bilang mau full course, jadi aku kaget.”

“Sekali-kali boleh lah. Ini kan hari spesial.”

Sambil mengobrol, kami makan hidangan yang disajikan dengan kikuk.

Rasa masakannya elegan dan belum pernah kucicipi. Entah bagaimana, rasanya halus dan kompleks. Kalau terbiasa makan seperti ini, nanti susah puas di warteg biasa.

Orang bilang kalau naik taraf hidup, susah kembali ke bawah. Sekarang aku mengerti maksudnya.

Setiap kali pelayan menyajikan piring, mereka menjelaskan menu, tapi terdengar seperti kode rahasia sehingga aku tidak paham. Tapi appetizer, sup, dan hidangan ikan semuanya enak, jadi YOSH!

“Ini adalah grilled sirloin daging sapi Omi. Silakan dituang sausnya.”

Akhirnya hidangan utama daging disajikan.

Saat memotong daging dengan pisau, mudah sekali terpotong.

Begitu masuk ke mulut, tekstur lembut disertai jus daging yang meluber.

Daging seukuran itu langsung lumer di mulut. Ternyata benar daging bagus itu meleleh.

Melakukan hal yang biasanya tidak dilakukan memang memperluas wawasan.

Mendekati usia tiga puluh dan punya sedikit uang lebih, aku jadi bisa melakukan hal-hal yang diinginkan.

Mulai ikut golf karena diajak rekan kerja, mulai memancing karena pengaruh manga, akhir-akhir ini hidupku cukup menyenangkan.

Waktu kuliah, aku membayangkan setelah jadi pekerja, hidupku hanya kantor dan rumah.

Tapi setelah benar-benar mengalaminya, dunia terasa jauh lebih luas dari yang kubayangkan.

Aku sadar bahwa nilai-nilai hidupku perlahan berubah.

“Enak sekali~”

Miori mengunyah daging dengan wajah bahagia.

Awalnya dia tegang, tapi sepertinya sekarang menikmati. Syukurlah.

“Potongannya kecil-kecil, tapi perut sudah kenyang.”

Setelah selesai makan daging, Miori berkata sambil mengusap perut.

“Memang benar juga.”

“Fufu, karena makan pelan-pelan jadi tidak sadar ya?”

Sambil mengobrol ringan, dessert pun datang.

Mont Blanc tart dengan sherbet. Penampilannya terlalu mewah.

Rasanya tentu enak. Lidahku terlalu kampungan, jadi komentarku cuma level SD…

“Haa, enak sekali.”

Miori berkata dengan puas.

Kalau dia bilang begitu, uang yang kikeluarkan jadi terasa sepadan.

Kami menikmati kopi setelah makan sambil menikmati pemandangan malam di luar jendela.

Malam di Tokyo tetap gemerlap. Bagi kami yang berasal dari Gunma, ini terlalu menyilaukan.

Awalnya begitu, tapi setelah tinggal, kota ini jadi terasa seperti rumah. Perlahan aku mulai menyukainya.

“Benar-benar boleh aku yang traktir?”

“Tentu saja.”

Aku mengangguk pada Miori yang bertanya dengan ragu.

Memang aku bukan orang kaya, tapi cukup untuk sesekali berfoya-foya.

Meski begitu, restoran kelas ini hanya untuk acara spesial.

“…Miori.”

“…Y-Ya.”

Saat aku memanggil namanya, Miori tersentak.

Dia pasti sudah menduga. Karena aku mengajak ke dinner mewah seperti ini.

Makanya dia tegang berlebihan. Sisi itu juga menggemaskan.

“Ada yang ingin aku katakan.”

Aku sudah memikirkan berbagai kalimat romantis, tapi itu tidak cocok denganku.

Jadi, aku memutuskan mengatakan isi hatiku secara langsung.

“Aku mencintaimu. Makanya, nikah yuk.”

Aku menyodorkan kotak kecil berisi cincin.

Di dalamnya adalah cincin pertunangan. Aku bingung hampir setengah tahun memilihnya.

Sebenarnya bisa memilih bersama, tapi aku rasa Miori lebih suka kejutan.

Makanya aku terus mencari cincin pertunangan yang sesuai selera Miori.

Ini pertama kalinya aku membeli barang semahal ini, tapi aku tidak menyesal.

“…Ya, dengan senang hati.”

Miori mengangguk sambil air mata mengalir dari sudut matanya.

“A-Ahaha… maaf. Kenapa aku malah menangis ya.”

Miori menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kalau sudah tiga puluh tahun masih bersama, kita menikah kan?”

“Memang aku pernah bilang begitu… tapi aku tidak menyangka kamu benar-benar mewujudkannya…”

Aku mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada Miori.

Miori menyeka air matanya dengan sapu tanganku, lalu menatap cincin pertunangan itu lagi.

“Boleh aku pasang di jari?”

“Tentu saja.”

Begitu aku mengangguk, Miori memasang cincin di jari manis tangan kirinya.

Berlian di tengah cincin berkilauan.

Miori menatap cincin itu dengan penuh kasih sayang.

“Aku akan menjaganya seumur hidup.”

“…Seharusnya itu kalimatku.”

Aku pasti tidak akan pernah melupakan senyum bahagia Miori ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close