NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Henkyou Kizoku ni Tensei shita Akuyaku Reijō Suki ga Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Wanita Terhormat yang Terlalu Tangguh


Di saat Arl sedang terguncang setelah mengetahui kebenaran tentang Rena.

 

Di istana Kerajaan Teokrasi Dorian yang terletak di sebelah barat Kerajaan Suci Protea, sebuah pesta yang diselenggarakan oleh Putra Mahkota sedang berlangsung.

 

Para tamu yang menikmati pesta tersebut hanyalah wanita-wanita muda dalam balutan gaun berwarna cerah, dan satu-satunya pria yang ada di sana adalah sang penyelenggara acara, Bruno Dorian.

 

Saat Bruno sedang memandangi para wanita dengan tatapan penuh gairah, pintu aula pesta tiba-tiba terbuka keras.

 

Setelah pintu terbuka, muncullah seorang gadis berambut perak, gadis yang kecantikannya mengalahkan siapa pun yang hadir di ruangan itu.

 

Melihat kedatangan gadis tersebut, suasana hati Bruno yang awalnya sedang ceria seketika menjadi muram.

 

“Yang Mulia, apa maksud dari semua ini?”

 

Mendengar pertanyaan sang gadis, Bruno menjawab dengan nada malas.

 

“Seperti yang kau lihat, aku sedang berpesta.”

 

“Tapi kelihatannya di sini hanya ada wanita?”

 

“Terus kenapa?”

 

“—Ghk.”

 

Melihat Bruno yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, raut wajah sang gadis menegang.

 

Itu adalah reaksi yang wajar jika melihat posisi sang gadis. Akan tetapi, Bruno merasa tidak senang dengan reaksi itu dan mendengus kasar.

 

“Apa kau sebegitu bencinya melihatku bersenang-senang dengan wanita lain?”

 

“I-Itu...”

 

“Kenapa? Katakan saja sejujurnya. Khusus untuk hari ini, aku akan memaafkanmu.”

 

Bruno mendesak gadis itu sambil menyunggingkan senyum yang menjijikkan. Setiap kali ia tersenyum seperti itu, biasanya ia sedang memikirkan sesuatu yang picik.

 

Meskipun menyadari hal itu, sang gadis tidak memiliki hak untuk melawan. Gadis itu pun menjawab dengan suara yang tertahan.

 

“Saya... tidak suka...”

 

“Fuhaha, begitu ya. Sayang sekali—“

 

Bruno Tertawa lepas, lalu memanggil seorang wanita di dekatnya dengan lambaian tangan dan merangkulnya.

 

“Apa kau pikir aku akan berhenti?”

 

Melihat senyum meremehkan dari Bruno, raut wajah sang gadis semakin suram.

 

“Yang Mulia. Tolong hentikan tindakan—“

 

“Tindakan yang tidak pantas bagi keluarga kerajaan, begitu?”

 

“Benar.”

 

“Begitu ya... Kurasa hubungan kita sudah cukup sampai di sini saja. Awalnya kupikir kau adalah wanita yang penurut dan menyenangkan... sayang sekali.”

 

“Yang Mulia...?”

 

“Ada kabar baik untukmu. Mulai hari ini, aku membatalkan pertunangan kita.”

 

“Eh—“

 

Melihat gadis itu terpaku, Bruno justru menunjukkan ekspresi kebingungan.

 

“Ada apa? Bukankah ini yang kau inginkan?”

 

“—Ghk, saya.. tidak pernah...”

 

“Aku ulangi sekali lagi. Christa Muscat, Putri keluarga Duke Muscat. Mulai hari ini, aku membatalkan pertunanganku denganmu. Jika kau sudah paham, cepat enyah dari pandanganku.”

 

Gadis itu segera menyadari, apa pun yang ia katakan sekarang takkan ada gunanya.

 

“—Ghk, saya... mengerti...”

 

Dengan demikian, bertambahlah satu lagi putri bangsawan yang pertunangannya dibatalkan secara sepihak.

 

※※※

 

Satu bulan telah berlalu sejak Rena tiba di Wilayah Clover.

 

Untungnya, Rena bisa beradaptasi dengan kehidupan di daerah perbatasan ini.

 

“Arl, tolong bertarunglah dengan lebih serius.”

 

“—Ghk.”

 

Di sela-sela waktu luangnya, akhir-akhir ini Rena rutin berlatih tanding pedang kayu bersamaku di halaman seperti ini.

 

Berkat pendidikan khusus yang diterimanya, kemampuan berpedang Rena cukup luar biasa.

 

Meskipun kekuatan fisiknya tidak sebanding dengan pria, Rena sangat pintar menggunakan berat badannya, sehingga ayunan pedangnya terasa sangat berbobot.

 

“Hei Arl. Melawan Rena saja kau terlihat kewalahan begitu, memalukan sekali.”

 

“Ayahanda, berisik!”

 

Dari jendela ruang kerjanya di lantai satu, Alan yang melihatku terdesak malah melontarkan ejekan.

 

Padahal awalnya dia ketakutan setengah mati pada Rena, tapi begitu mengetahui situasi Rena yang sebenarnya, sikapnya langsung berubah drastis. Kini ia bahkan memperlakukan Rena layaknya putri kandungnya sendiri.

 

Lebih dari itu, kalau aku tidak serius, ini bisa benar-benar gawat—

 

Kya...”

 

“—Ghk, kamu tidak apa-apa, Rena!?”

 

Karena merasa terpojok, tanpa sadar tubuhku mengerahkan kekuatan lebih dari yang seharusnya.

 

Pedang kayunya terpental tinggi ke udara, dan akibat dorongan itu, Rena jatuh terduduk di atas rumput.

 

Aku segera mengulurkan tanganku, dan dengan senyuman, Rena menyambut uluran tanganku.

 

“Arl memang sangat kuat, ya.”

 

“Itu tidak penting, kamu tidak terluka?”

 

“Tenang saja. Aku tidak apa-apa.”

 

“Syukurlah...”

 

Setelah memastikan keselamatan Rena yang berharga ini, aku menatap tajam ke arah penyebab masalah ini.

 

“Hei, hei, apa ini salahku? Kalau hanya karena provokasi kecil saja kau sudah mengerahkan tenaga berlebih, itu artinya latihanmu masih kurang, ‘kan?”

 

“—Ghk, i-itu...”

 

Aku tidak bisa membalas satu kata pun di depan kebenaran yang mutlak itu.

 

Sesuai dengan posisinya sebagai kepala Keluarga Clover, kemampuan berpedang Alan memang tidak bisa diremehkan. Saat aku sedang meringis kesal, Alan menoleh pada Rena dengan sebuah senyuman.

 

“Rena. Kalau kemampuanmu sebaik ini, mungkin kamu sudah bisa ikut serta dalam Ekspedisi Penaklukan.”

 

“Jika bicara soal penaklukan... Apakah itu tentang penumpasan monster di dalam hutan?”

 

“Benar.”

 

Di bagian selatan Wilayah Clover terbentang Hutan Agung Flawable yang berfungsi sebagai perbatasan antara Kerajaan Suci dan Kerajaan Moroheiya.

 

Tugas Keluarga Clover adalah memburu kawanan monster di sana hingga jumlah mereka tidak mengganggu peran hutan sebagai perbatasan, dan itu secara de facto telah menjadi tugas penjagaan perbatasan.

 

Ekspedisi Penaklukan adalah kegiatan yang dilakukan setiap setengah tahun sekali, dan latihan pedang kami hari ini juga merupakan salah satu bagian dari persiapan untuk itu.

 

“Arl, aku juga ingin ikut serta dalam Ekspedisi Penaklukan. Apa, tidak boleh...?”

 

“...”

 

Didesak dengan tatapan mata yang mendongak manja, aku refleks mundur beberapa langkah.

 

Rena itu memang memiliki citra kuat sebagai tipe gadis yang pandai berakting, tapi dalam hal ini ia melakukannya tanpa sadar, sehingga rasanya semakin sulit dihadapi.

 

Karena dia sangat imut, aku ingin sekali langsung bilang “OK”, tapi itu sulit kulakukan. Meskipun persiapannya selalu dilakukan dengan matang, Ekspedisi Penaklukan tetaplah membawa risiko yang mengancam nyawa.

 

“Apakah kemampuanku masih belum cukup?”

 

“Bukan, bukan begitu maksudku...”

 

Kemampuannya sudah lebih dari cukup. Hanya saja, aku mengkhawatirkannya.

 

“Tidak apa-apa, ‘kan Arl. Jika terjadi sesuatu yang buruk, kau tinggal melindungi Rena saja.”

 

“T-Tapi...!”

 

“Atau, kau tidak percaya diri?”

 

Saat aku sedang bimbang memikirkan jawaban, lagi-lagi Alan memprovokasiku. Kalau sudah didesak sejauh ini, aku tidak mungkin mundur.

 

“Saya mengerti. Saya pasti akan melindungi Rena.”

“Begitu katanya.”

 

“Terima kasih banyak, kalian berdua. Aku akan berlatih keras agar tidak menjadi beban.”

 

Penolakanku berakhir sia-sia, partisipasi Rena dalam Ekspedisi Penaklukan akhirnya telah ditetapkan.

 

Masih ada waktu sekitar dua setengah bulan hingga penaklukan berikutnya. Dalam kurun waktu tersebut, kami berdua harus menempa diri semaksimal mungkin.

 

Aku menunggu Rena mengatur napasnya sebelum melanjutkan latihan kami. Namun, sebelum sempat melakukannya, Lucy datang menghampiri dengan raut wajah muram.

 

Mengingat biasanya Lucy jarang menampakkan diri di tempat seperti ini, kedatangannya pasti bukan sekadar ingin mengecek keadaan Rena seperti yang dilakukan Alan.

 

“Ada apa, Lucy?”

 

Sepertinya Alan berpikiran sama denganku. Ia menanyakan hal tersebut dengan raut wajah yang berubah serius.

 

“Ini... ada surat seperti ini dari Yang Mulia...”

 

Mendengar kata Yang Mulia, aku dan Rena saling bertukar pandang.

 

Raut wajar Rena tampak menyiratkan sedikit kecemasan.

Walaupun aku rasa tidak mungkin tiba-tiba Yang Mulia meminta kami mengembalikan Rena sekarang.

 

Sambil berpikir seperti itu, aku menantikan reaksi Alan.

 

“Arl. Kau juga bacalah.”

 

Alan yang telah selesai membacanya kemudian menyerahkan surat itu kepadaku. Sepertinya isi suratnya juga ada kaitannya denganku.

 

Setelah menerima surat itu dan membaca isinya.

 

“Apa-apaan ini...”

 

Aku dibuat tercengang oleh isi surat tersebut.

 

Aku membiarkan Rena ikut memastikannya, dan ia pun menunjukkan reaksi yang sama denganku.

 

Surat itu berisi permintaan agar Keluarga Clover menampung sementara seorang putri bangsawan dari negara tetangga, Kerajaan Teokrasi Dorian.

 

Hanya saja, dia bukanlah putri bangsawan biasa, dia adalah seorang putri Duke yang pertunangannya dibatalkan oleh anggota keluarga kerajaan.

 

“Mengenai hal ini, Arl. Kaulah yang paling tepat untuk memutuskan.”

 

“Saya...?”

 

“Ya. Yang Mulia juga pasti menulis surat ini dengan asumsi seperti itu.”

 

Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya kesan seperti apa yang dimiliki Yang Mulia tentangku.

 

Akan tetapi, aku sudah berutang budi yang sangat besar pada Yang Mulia terkait urusan Rena. Aku tidak bisa menolaknya.

 

Terlebih lagi, sampai pertunangannya dibatalkan di negara lain seperti itu. Bisa jadi dia adalah Nona Villainess yang sesungguhnya.

 

“Saya pribadi tidak masalah. Bagaimana menurutmu, Rena?”

 

“Aku akan mengikuti apa pun keputusanmu, Arl.”

 

Aku menanyakannya sekadar untuk memastikan, tapi sepertinya Rena tidak sedang memaksakan diri untuk menyesuaikan suasana.

 

“Kurasa, saya akan menerima permintaan ini.”

 

“Baiklah. Aku yang akan mengirimkan surat balasan kepada Yang Mulia.”

 

“Tolong, Ayahanda.”

 

Dengan demikian, seorang putri bangsawan baru akan segera datang ke Wilayah Clover.

 

※※※

 

Setengah bulan kemudian.

 

Hari kedatangan sang putri Duke akhirnya tiba.

 

Normalnya, proses seperti ini akan memakan waktu lebih lama. Namun, hal ini bisa terjadi lebih cepat karena sang putri sedang berada di Ibukota Kerajaan, dan Yang Mulia langsung bergerak segera setelah mengetahui persetujuan kami.

 

Nah, kira-kira putri bangsawan seperti apa yang akan datang?

 

Rena sepertinya tahu sedikit tentangnya, tapi aku sengaja tidak bertanya. Yang kutahu hanyalah dia seorang gadis cantik berusia lima belas tahun.

 

Setelah apa yang terjadi dengan Rena, aku tidak berharap terlalu banyak. Namun tetap saja, aku berharap dia adalah seorang Nona Villainess.

 

Kurasa ini sudah menjadi naluri seorang penggemar berat Nona Villainess.

 

“Sebentar lagi mereka tiba, Arl.”

 

“Baik, Ayahanda.”

 

Sama seperti saat menyambut Rena, hanya aku dan Alan yang bertugas menyambut kedatangannya. Namun, kali ini Alan terlihat sangat tenang, berbeda dengan saat ia menyambut Rena waktu itu.

 

“Sepertinya mereka sudah tiba.”

 

Setelah kami berdua menunggu sekitar lima menit. Pintu masuk utama terbuka, kemudian tampak seorang gadis cantik yang didampingi beberapa pelayan di belakangnya berjalan dengan anggun memasuki kediaman.

 

Mengingat kali ini adalah hubungan antara tuan rumah dan tamu, kami dari pihak tuan rumah yang lebih dulu menghampirinya.

 

“Selamat datang di kediaman kami. Saya Alan Clover, kepala Keluarga Clover. Dan di sebelah kanan saya ini adalah putra saya, Arl.”

 

“Saya Arl Clover. Senang bertemu dengan Anda.”

 

Gadis itu perlahan mengangkat ujung roknya dan menunduk dengan sopan untuk menanggapi sambutan kami.

 

“Saya Christa Muscat. Terima kasih banyak karena bersedia menampung orang seperti saya.”

 

Rambut peraknya yang lurus memanjang hingga ke pinggang, dipadukan dengan sepasang mata bulat yang indah berwarna hijau zaitun layaknya batu peridot.

 

Meski auranya terasa dewasa, raut wajahnya masih menyiratkan kesan polos dan muda.

 

Sesuai rumor yang beredar, dia memang seorang gadis yang tidak kalah cantik dari Rena.




“Alan-sama. Setelah ini, bolehkah saya meminta waktu Anda untuk membicarakan perihal kedatangan saya ini?”

 

“Kami sudah menyiapkan ruangan untuk berbicara. Jika Christa-jou tidak keberatan, kita bisa langsung menuju ke sana.”

 

“Terima kasih banyak.”

 

Karena pembicaraan akan dilakukan setelah barang bawaan diletakkan, rombongan Christa pun mulai bergerak dipandu oleh Bertrand yang bersiaga di dekat kami.

 

“Arl.”

 

“Ada apa, Ayahanda.”

 

“Menurutku, dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang baru saja diputus tunangannya.”

 

“...”

 

Aku juga berpikir seperti itu. Bahkan dari percakapan singkat tadi, sifatnya yang anggun layaknya seorang wanita terhormat sangat terasa.

 

“Ini berbeda, ya.”

 

“? Apanya yang berbeda?”

 

“Tidak, bukan apa-apa. Sebaiknya kita juga segera menyusul.”

 

“Kau benar.”

 

Kami pun melangkah menuju aula utama untuk mendengarkan penjelasan mengenai situasi yang menimpa Christa.

 

※※※

 

Tidak lama setelah menaruh barang-barangnya di kamar yang kami sediakan, Christa mendatangi ruangan tempat kami menunggu.

 

“Sekali lagi. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah mengizinkan saya untuk tinggal di sini.”

 

“Kami justru merasa terhormat bisa menjamu orang seperti Christa-jou. Walaupun tempat ini jauh dari kata mewah, kami harap Anda bisa bersantai selama berada di sini. Kalau begitu, mari kita langsung saja...”

 

“Baik.”

 

Setelah mendapat dorongan dari Alan, Christa pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya hingga ia berakhir di sini.

 

Isi ceritanya, lagi-lagi terdengar sangat familier dengan kisah-kisah di kehidupanku yang sebelumnya.

Mantan tunangannya, sang Putra Mahkota Teokrasi Dorian, Bruno Dorian, rupanya sangat terkenal sebagai pria hidung belang. Ketika Christa menegur sifat buruknya yang sudah kelewatan itu, ia malah diputus tunangannya secara sepihak.

 

Diputuskan pertunangannya secara paksa oleh Pangeran Bodoh. Ini adalah skenario template yang sangat umum. Dan dalam skenario seperti ini, wanita yang menjadi korban pembatalan pertunangan sudah pasti adalah wanita yang baik hati.

 

Harapan untuk menempuh rute Nona Villainess seketika lenyap begitu saja.

 

Kembali ke topik utama, meski kesalahan ada di pihak sang Putra Mahkota, keluarga dari pihak wanita yang dibatalkan pertunangannya pasti akan terkena dampak buruk pada reputasi mereka. Ditambah lagi, perasaan Christa sendiri tampaknya cukup terpukul atas kejadian ini.

 

Oleh karena itu, ayah Christa yang ingin melindungi putrinya dari rumor miring tersebut, meminta bantuan kepada Kerajaan Suci yang memiliki hubungan baik dengan mereka.

 

“Pasti sangat berat bagi Anda.”

 

“Tidak, ini semua terjadi karena kekurangan diri saya sendiri...”

 

Christa menanggapi ucapan Alan dengan rendah hati, dan tidak ada sedikit pun kesan kepura-puraan dalam sikapnya. Ia adalah definisi sesungguhnya dari seorang wanita bangsawan sejati.

 

“Saya memahami situasinya. Terkait dengan hal tersebut, kira-kira berapa lama Anda berencana untuk tinggal di sini?”

 

“Mengenai hal itu, saya belum bisa memastikannya. Setidaknya sampai sentimen negatif terhadap Keluarga Muscat di Teokrasi mulai mereda... Saya mohon maaf.”

 

“Anda tidak perlu meminta maaf. Saya mengerti mengenai masa tinggal Anda. Keluarga Clover sama sekali tidak keberatan walau Anda menginap dalam waktu lama. Rena.”

 

“Ada apa, Ayah.”

 

“Bisa tolong jaga Christa-jou?”

 

“Baik. Tidak masalah”

 

“Begitulah. Jadi, jika ada masalah, silakan bicarakan padanya.”

 

“Terima kasih banyak.”

 

“Baiklah, kurasa pembicaraan kita cukup sampai di sini saja.”

 

Sebagian besar hal yang ingin ditanyakan oleh Keluarga Clover telah terjawab, sehingga pertemuan tersebut pun dibubarkan.

 

Saat Alan dan Lucy meninggalkan ruangan dan aku hendak menyusul mereka, Rena menyapa Christa.

 

“Christa-sama, jika ada sesuatu yang membuat Anda kesulitan, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan saya.”

 

“Terima kasih, Rena-sama. Dan tolong, Anda tidak perlu memakai bahasa formal kepada saya.”

 

“Jika begitu, saya juga akan merasa lebih tertolong jika anda melakukan hal yang sama.”

 

“Arl-sama, kuharap Anda juga bersedia memperlakukanku seperti Rena-sama.”

 

“Kalau begitu, aku juga ingin kamu memperlakukanku sama seperti kamu memperlakukan Rena.”

 

“Aku mengerti.”

 

Dengan begini, aku bisa tenang.

 

Agar tidak mengganggu percakapan mereka berdua, aku diam-diam bersiap meninggalkan ruangan. Namun tiba-tiba, Rena berlari menghampiriku.

 

“Arl.”

 

“Ada apa, Rena.”

 

“Malam ini, ada hal penting yang ingin kubicarakan, apa kamu punya waktu?”

 

Hal penting?

 

“Boleh saja.”

 

“Terima kasih. Kalau begitu, nanti malam aku akan datang ya.”

 

“Ya, aku mengerti.”

 

Setelah menyelesaikan urusan yang mirip laporan tersebut, Rena bergegas kembali mengobrol dengan Christa.

 

Kira-kira apa yang ingin dia bicarakan?

 

Entah perasaanku saja, tapi nada suara Rena tadi terdengar agak lesu... Yah, nanti malam juga aku akan tahu.

 

Aku memutuskan untuk memikirkannya nanti saja, lalu melangkah meninggalkan ruangan.

 

※※※

 

Malam harinya, saat seluruh penghuni kediaman telah kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat, Rena datang mengunjungiku sesuai janjinya.

 

Sebagai catatan, kami sepakat untuk tidur di kamar terpisah hingga kami resmi menikah nanti.

Begitu Rena duduk di sampingku di tepi tempat tidur, aku pun bertanya padanya.

 

“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?”

 

“Tentu saja, ini tentang Christa.”

 

Rena menatapku dengan tatapan lurus, seolah telah membulatkan tekadnya. Melihat sikap Rena yang seperti itu, tanpa sadar aku pun ikut merasa tegang.

 

“Arl, bagaimana rencanamu terhadap Christa-san?”

 

“Rencana apa maksudnya?”

 

“Maksudku, apakah kamu berniat menerimanya sebagai selir?”

 

“—Hah?”

 

Tunggu sebentar, dari mana asal kesimpulan itu.

 

“Rena.”

 

“Ya.”

 

“Aku ini hanya setia padamu, Rena.”

 

“Ya... eh?”

 

Rena memiringkan kepala dengan bingung dan tampak terkejut, kemudian rona merah perlahan menjalar di pipinya.

 

“Sepertinya kamu salah paham. Aku sama sekali tidak berniat mengambil selir. Bagiku, Memiliki Rena seorang saja sudah lebih dari cukup.”

 

“—Ghk, te-terus kenapa kamu menerima permintaan ini...”

 

“I-Itu...”

 

Tentu saja karena aku berutang budi yang sangat besar pada Yang Mulia, dan Rena tidak tahu kalau aku telah melakukan banyak hal di balik layar hingga ia bisa datang ke sini.

 

“A-Aku hanya murni ingin bertemu dengan putri bangsawan dari negara lain, itu saja.”

 

Itu bukan kebohongan.

 

Keluarga Clover tidak punya kesempatan untuk terlibat dalam urusan diplomasi, jadi kesempatan untuk bertemu bangsawan dari negara lain sangatlah berharga.

 

“Benarkah begitu?”

 

“Ya. Aku bersumpah atas nama Yang Mulia Raja.”

 

Meski aku sudah memakai sumpah paling suci di negeri ini, raut keraguan masih tersisa di wajah Rena.

 

Aku pun memantapkan hati, lalu perlahan menarik Rena dan memeluknya dengan lembut.

 

Jika kata-kata tidak mempan, aku hanya harus membuktikannya dengan tindakan.

 

“—Ghk, A-Arl...!?”

 

“Dengan begini, Rena sudah percaya padaku?”

 

“I-Iya. Aku minta maaf karena sudah memperlihatkan sisi yang memalukan ini. K-Karena itu... uuuh.”

 

Di dalam pelukanku, pundaknya menyusut karena malu dengan wajah yang memerah padam. Rasanya aku sangat ingin memeluknya lebih erat lagi.

 

Sambil berusaha menahan dorongan itu, aku tertawa kecil dengan nada bercanda.

 

“Lagipula, kalau aku punya selir, Rena pasti akan sedih, ‘kan?”

 

Terus terang saja, memiliki selir itu tidak masuk akal bagiku.

 

“Rena?”

 

Entah kenapa, Rena justru tampak bingung menanggapi candaanku. Terlebih lagi sepertinya ia benar-benar bingung, sampai rona merah di wajahnya kini telah menghilang.

 

“Kamu tidak suka aku memiliki selir, ‘kan?”

“Bukan, bukannya tidak suka...”

 

“Eh, kamu tidak keberatan?”

 

“Bagi laki-laki bangsawan lain, memiliki satu atau dua selir adalah hal yang wajar... lagipula...”

 

Dengan nada sedikit canggung, atau lebih tepatnya ragu-ragu, Rena melanjutkan ucapannya.

 

“Bagiku... aku juga merasa akan lebih baik jika ada teman sesama perempuan untuk diajak mengobrol atau semacamnya...”

 

“—Ghk!?”

 

Di wilayah perbatasan ini, aku sempat bermimpi menghabiskan waktu berdua dengan bahagia bersamanya. Namun, tampaknya itu hanyalah pemikiran egoisku semata.

 

Memang benar, wilayah ini adalah tempat yang sepenuhnya asing baginya. Jadi wajar saja jika Rena menginginkan teman perempuan yang bisa diajak bicara dengan santai.

 

Kecerobohan macam apa ini.

 

Aku merutuki kedangkalan pemikiranku sendiri di dalam hati.

 

“Aku minta maaf, Rena. Aku kurang mempertimbangkan perasaanmu.”

 

“—Ghk, t-tidak, bukan begitu... jujur saja, aku juga merasa... sedih kalau aku tidak bisa memonopolimu seutuhnya... tunggu, Arl!”

 

Aku memeluk Rena dengan erat karena sudah tidak mampu lagi untuk menahan perasaanku.

 

Entah kenapa, Hari ini Rena terlihat jauh lebih mempesona dari biasanya. Apakah secara tidak sadar, Rena sedang mencoba bersaing dengan Christa?

 

Mungkin aku terlihat terlalu percaya diri, tapi jika memang seperti itu, aku akan sangat bahagia.

 

“Tunggu, tolong hentikan ini!”

 

“Ups.”

 

Rena, yang wajahnya memerah hingga ke ujung telinga, akhirnya mendorongku yang pikirannya mulai melayang tak karuan.

 

“H-Hari ini aku pamit untuk tidur!”

 

Dengan nada sedikit ketus, Rena berlari keluar kamarku seolah sedang melarikan diri. Ini sepenuhnya tindakan karena rasa malu.

 

Un, sangat imut.

 

Sambil meresapi sisa-sisa kebersamaan dengan Rena malam ini, aku merenungkan perasaan jujur yang ia ucapkan tadi.

 

“Christa, ya...”

 

Memang benar dia bisa menjadi teman yang memahami Rena dengan baik. Tapi, jika ditanya apakah aku bisa mencintainya dengan tulus dari lubuk hatiku, Jawabannya adalah tidak.

 

Melihat masa lalunya yang terus mengabdi pada Pangeran Sialan itu, jika kami bertunangan, Christa pasti akan mencintaiku seumur hidupnya. Dalam artian itu, ia memang tipe yang setia. Akan tetapi...

 

“Tunggu dulu, kenapa aku malah berpikir seolah-olah dia mau menerimanya.”

 

Aku langsung menyanggah pikiranku sendiri secara logis, namun jika melihat situasi Christa saat ini, kemungkinan besar ia akan dengan mudahnya bersedia menjadi selir jika aku menawarkan diri.

 

Itulah bagian yang menakutkan.

 

※※※

 

Di saat Arl dan Rena sedang menikmati momen kebersamaan yang manis.

 

“Tidak selesai-selesai... tidak ada habisnya...!”

 

Di hadapan tumpukan dokumen yang terasa tak terhingga, mantan tunangan Christa, Bruno Dorian, mengerang penuh kekesalan.

 

(Ini semua salah Christa...!)

 

Semenjak Christa pergi, beban pekerjaan Bruno meningkat secara perlahan. Awalnya hanya terasa sedikit lebih banyak dari biasanya, namun akhir-akhir ini jumlahnya terus berlipat ganda setiap harinya.

 

Pada saat itulah, untuk pertama kalinya Bruno menyadari sebuah fakta. Bahwa selama ini, hal-hal yang seharusnya ia kerjakan sendiri, ternyata telah diselesaikan oleh Christa.

 

“Sial, kalau sudah begini...!”

 

Meskipun Bruno enggan menerima omelan dari gadis itu lagi, tapi itu masih jauh lebih baik dari hari-hari di mana ia harus dikejar tumpukan dokumen.

 

“Aku akan membawa Christa kembali...!”

 

Dan begitulah, Bruno membuat sebuah keputusan yang sangat egois.

 

※※※

 

Pagi-pagi buta, aku sudah berada di halaman untuk mengayunkan pedangku.

 

Aku belajar dari kesalahanku karena sempat menggunakan terlalu banyak tenaga saat berlatih bersama Rena, sekarang aku memutuskan untuk berlatih setiap hari seperti ini selama cuaca mendukung.

 

Setelah merasa cukup puas mengayunkan pedang dan mengatur napasku, aku menyadari seseorang sedang mendekat.

 

“Kerja bagus, Arl-san.”

 

Suara itu berasal dari Christa yang masih mengenakan pakaian santai rumahannya. Di tangannya, ia membawa sebuah gelas kaca berisi air.

 

“Silakan.”

 

“Bolehkah? Terima kasih.”

 

Kebetulan aku sedang haus, jadi ini sangat membantu.

 

“Sepertinya kamu sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di sini, ya.”

 

“Ya. Ini semua berkat bantuan kalian semua.”

 

Sudah setengah bulan berlalu semenjak kedatangan Christa. Karena kudengar ia selalu tinggal di kota besar, aku sempat khawatir hidup di daerah terpencil ini akan membuatnya stres, namun sepertinya kekhawatiranku tidak beralasan.

 

“Kalau kamu mengalami kesulitan, segera katakan padaku ya.”

 

“Terima kasih banyak. Jika begitu, bolehkah aku menanyakan satu hal?”

 

Christa melanjutkan ucapannya dengan nada yang sedikit ragu-ragu.

 

“Bisakah aku diberikan suatu pekerjaan untuk dilakukan?”

 

“Pekerjaan...?”

 

“Itu... aku merasa hanya diriku saja yang tidak memberikan kontribusi apa pun bagi Keluarga Clover.”

 

“Tidak, Christa ‘kan di sini sebagai tamu kami, jadi tidak perlu merasa seperti...”

 

Aku menghentikan kalimatku di tengah jalan.

 

Jika melihat kepribadian Christa, mungkin saja ia merasa bersalah karena terus-menerus merepotkan Keluarga Clover yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.

 

Lagipula, jika dipikirkan baik-baik, tinggal di wilayah terpencil seperti ini tanpa melakukan rutinitas apa pun mungkin baginya malah terasa membosankan.

 

“Apa ada jenis pekerjaan tertentu yang kamu inginkan?”

 

“Selain yang berhubungan dengan pertarungan.”

“Kalau begitu, bagaimana jika kamu membantu Rena?”

 

“Itu, anu... aku sudah ditolak olehnya.”

 

Pantas saja Christa sampai membicarakannya padaku, ternyata dia sudah berbicara pada Rena lebih dulu.

 

Mengingat kepribadian Rena, aku kira ia akan dengan senang hati mendelegasikan beberapa pekerjaan pada Christa, cukup mengejutkan.

 

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bicarakan bersama Ayahanda?”

 

“—Ghk, apakah tidak apa-apa?”

 

“Ya.”

 

Mengingat saat ini adalah periode menjelang Ekspedisi Penaklukan, ini adalah waktu yang cukup sibuk sepanjang tahun. Pasti ada pekerjaan yang bisa dilakukan oleh Christa.

 

“Terima kasih banyak.”

 

“Tidak apa-apa, hanya masalah kecil. Lagipula, sudah hampir waktunya sarapan.”

 

Aku kembali ke kamar sebentar untuk berganti pakaian, lalu berjalan menuju aula utama.

 

Kemudian setelah sarapan selesai, aku bertanya pada Alan.

“Ayahanda, setelah ini, bolehkah saya meminta sedikit waktu Anda? Christa sepertinya memiliki sesuatu yang ingin dikonsultasikan.”

 

“Baiklah. Kebetulan aku juga punya sesuatu yang harus kusampaikan pada Christa-jou.”

 

Sepertinya waktunya tepat, jadi aku dan Christa langsung mengikuti Alan ke ruang kerjanya.

 

“Jadi, apa yang ingin dikonsultasikan?”

 

“Christa.”

 

“Alan-sama, saya minta maaf atas permintaan yang tidak sopan ini, tetapi bolehkah saya diberikan suatu pekerjaan?”

 

Mendengar permintaan Christa, raut wajah Alan menunjukkan ekspresi terkejut.

 

“Kenapa tiba-tiba meminta hal itu?”

 

“Saya ingin membantu meringankan beban Keluarga Clover yang telah merawat saya, walau hanya sedikit!”

 

“Ayahanda, apakah ada tugas yang bisa dia kerjakan?”

 

“Biar kupikirkan... Apakah Christa-jou memiliki pengalaman dengan pekerjaan administratif?”

 

“Secara garis besar saya sudah menguasainya.”

“Kalau begitu, aku akan memintamu membantu sebagian pekerjaan administratif kami”

 

“—Ghk, apa Anda yakin? Bukankah itu berhubungan dengan keuangan keluarga?”

 

“Tidak masalah. Kondisi keuangan di wilayah perbatasan ini, tidak akan memberikan kerugian meskipun diketahui orang lain.”

 

“Terima kasih banyak!”

 

“Syukurlah kalau kamu senang menerimanya. Apa ada hal lain yang ingin dikonsultasikan?”

 

“Tidak ada. Terima kasih.”

 

“Kalau begitu, sekarang giliranku. Ini surat dari Yang Mulia yang tiba tadi malam.”

 

Bersamaan dengan kata-kata itu, Alan mengeluarkan sepucuk surat.

 

“Dari Yang Mulia? Terkait masalah apa?”

 

“Tampaknya Bruno-dono telah mendatangi Istana Kerajaan dan menuntut agar Christa-jou diserahkan kembali padanya.”

 

“—Ghk, Yang Mulia...”

 

Mendengar mantan tunangannya sendiri menuntutnya kembali, raut wajah Christa memucat seketika.

 

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

 

“Yang Mulia meminta agar keputusan untuk kembali atau tidak diserahkan sepenuhnya kepadamu, Christa-jou.”

 

Itu artinya, jika Christa menolak, pihak Kerajaan Suci akan menghormati keputusannya.

 

“Bagaimana, Christa?”

 

“A-Aku—“

 

Christa menatapku dan Alan secara bergantian.

 

“Christa-jou. Tolong jangan pikirkan tentang kami, sampaikan saja keinginanmu dengan jujur.”

 

“—Ghk, kalau begitu... aku tidak ingin kembali.”

 

“Baiklah. Kalau begitu, Aku akan menyampaikannya kepada Yang Mulia sesuai perkataanmu.”

 

“Saya benar-benar minta maaf. Mohon bantuannya.”

 

Karena Alan harus segera menulis surat balasan, aku dan Christa pun pamit undur diri dari ruang kerjanya.

 

※※※

“Padahal aku sudah bersusah payah datang kesini...!”

 

Di salah satu ruangan di Istana Kerajaan Suci, Bruno tampak murka setelah mendengar keputusan Christa.

 

Bruno mengira jika ia sendiri yang turun tangan menjemputnya, Christa akan langsung setuju untuk kembali padanya.

 

“Lagipula, apa-apaan dengan sikap Alphonse itu...!”

 

Normalnya, dia harus menuruti permintaan Putra Mahkota dari Kerajaan Teokrasi seperti Bruno, tapi kenapa dia malah memprioritaskan keinginan Christa?

 

Bruno merasa otoritasnya sebagai seorang anggota kerajaan direndahkan, sehingga amarahnya pun semakin meluap.

 

“Aku tidak bisa pulang dengan tangan kosong begitu saja. Aku harus memikirkan sebuah rencana.”

 

Saat raut wajahnya mengkerut sambil menyusun rencana, tiba-tiba masuk laporan tentang kedatangan seorang tamu.

 

Sebenarnya saat ini Bruno merasa sedang tidak ingin menemui siapa pun. Tetapi, mengingat dirinya berkunjung secara mendadak, posisinya tidak memungkinkan untuk mengabaikan pihak dari Kerajaan Suci begitu saja.

 

Dengan terpaksa Bruno menuju ke ruang tamu, di sana seorang pria berambut pirang dengan sepasang mata ungu telah menunggunya.

 

Wajah pria itu agak tirus, namun ketampanan dan pembawaannya menunjukkan dengan jelas bahwa ia adalah seorang pria dari kelas atas.

 

Pria tampan itu berdiri ketika melihat kedatangan Bruno dan membungkuk memberikan salam hormat dengan elegan.

 

“Suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Nama saya Leon Hyacinth. Terima kasih karena Anda bersedia menerima kunjungan mendadak ini.”

 

“Keluarga Hyacinth... kalau tidak salah, kalian adalah keluarga Marquis di Kerajaan Suci, ‘kan?”

 

“Sebuah kehormatan besar bagi saya karena Pangeran Bruno berkenan mengingatnya.”

 

“Hmph, jadi, apa urusanmu?”

 

Bruno duduk bersandar dengan angkuh di hadapan pria yang bernama Leon itu, lalu mendesaknya untuk segera bicara.

 

“Sebenarnya, kedatangan saya kemari membawa sebuah penawaran khusus untuk Anda, Pangeran Bruno.”

 

“Sebuah penawaran...?”

“Benar.”

 

Setelah mendengar penawaran dari Leon, Bruno menyunggingkan senyum menjijikkan seperti biasanya.

 

Usulan Leon adalah, karena negosiasi dengan Alphonse tidak membuahkan hasil, Leon akan mengurus segala persiapan supaya Bruno dapat langsung berkunjung ke kediaman Keluarga Clover dan bernegosiasi sendiri.

 

“Kau benar-benar bisa melakukannya?”

 

“Tentu. Kebetulan sekali, adik perempuan saya menikah dengan Keluarga Clover.”

 

“Jadi maksudmu tidak masalah jika memanfaatkan koneksi itu?”

 

“Tepat sekali.”

 

Setelah berpikir sejenak, Bruno menyunggingkan senyum yang lebih licik dari sebelumnya.

 

“Begitu ya... baiklah. Aku terima tawaran itu.”

 

“Terima kasih banyak. Saya akan menghubungi Anda kembali begitu persiapannya selesai.”

 

“Aku lupa memberitahumu, selesaikan semuanya dalam waktu tiga hari.”

 

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Bruno bergegas meninggalkan ruangan.

 

Kemudian, Leon meludah jijik ke arah pintu yang dibiarkan terbuka itu.

 

“Sesuai rumor, benar-benar Pangeran yang bodoh.”

 

Secara umum, mustahil bagi seorang bangsawan biasa untuk secara sepihak memandu anggota kerajaan dari negara lain menyusup ke wilayah lain.

 

Dan yang paling krusial, Keluarga Hyacinth saat ini sedang berada dalam masa keruntuhan dan hampir tidak memiliki kekuasaan sama sekali.

 

Jika Bruno sedikit saja menaruh perhatian pada informasi dari negara tetangga, fakta-fakta ini sangat mudah diketahui.

 

Tetapi, berkat kebodohan Bruno, Leon justru bisa memanfaatkannya.

 

“Rena. Aku tidak akan pernah membiarkan hanya dirimu saja yang bahagia.”

 

Leon─kakak laki-laki Rena─menggumamkan kata-kata itu sebelum melangkah keluar meninggalkan ruangan.

 

※※※

 

Sekitar setengah bulan terlah berlalu sejak Christa menyatakan bahwa ia tidak berniat untuk kembali.

 

“Saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya!”

 

Tepat setelah sarapan selesai, Christa menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Alan dan seluruh anggota Keluarga Clover.

 

Alasannya tidak lain adalah karena informasi genting yang dibawa oleh utusan dari Yang Mulia pagi itu.

 

Bruno dikabarkan sedang menuju Wilayah Clover dengan bantuan pihak yang tidak dikenal. Tujuannya adalah untuk membawa Christa pulang secara langsung.

 

Terlebih lagi, posisinya dilaporkan telah berada sangat dekat dari kediaman kami.

 

“Christa-jou, tolong angkat kepalamu.”

 

“T-Tapi...!”

 

“Meskipun pihak yang kita hadapi adalah keluarga kerajaan, ini sudah termasuk masalah internasional. Kami akan mengambil langkah tegas dan meminta Bruno-dono untuk kembali.”

 

“Alan-sama...”

 

Pada praktiknya, setiap kunjungan memasuki wilayah negara lain harus disertai dengan pemberitahuan terlebih dahulu.

 

Tindakan Bruno kali ini benar-benar mengabaikan protokol tersebut. Sesuai perkataan Alan, ini sudah termasuk masalah internasional.

 

“Christa. Sebaiknya kita serahkan masalah ini pada Ayah.”

 

“Rena-san... baiklah.”

 

‘—Ayahanda, aku percayakan padamu ya.’

 

‘—Ya, aku mengerti.’

 

Alan mengangguk menanggapi tatapanku. Dan tepat di momen itu, pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar.

 

“Tuan Besar—!”

 

Setelah pintu itu terbuka, terlihat Bertrand yang terengah-engah dan bahunya naik turun.

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Ini tentang—“

 

“—Ghk, begitu ya.”

 

Mendengar apa yang dibisikkan Bertrand, ekspresi Alan seketika berubah menjadi sangat serius.

“Ada apa, Ayahanda?”

 

“Bruno-dono ternyata sudah berada di depan kediaman kita.”

 

“Apa...!?

 

Perkataan Alan membuat semua orang yang ada di ruangan itu tercengang. Sepertinya, utusan Yang Mulia benar-benar datang di saat-saat terakhir.

 

“Alan, apa yang akan kita lakukan.”

 

“Umm...”

 

Alan tampak berpikir keras menanggapi pertanyaan Lucy.

 

“Pertama-tama aku harus keluar dan bernegosiasi dengannya. Tidak ada pilihan lain. Arl.”

 

“Ya.”

 

“Jika memungkinkan, aku ingin kau ikut menemaniku...”

 

Aku tidak tahu seberapa besar kemampuanku menghadapi anggota kerajaan negara lain, tapi aku adalah pria yang pernah bernegosiasi langsung dengan Yang Mulia (Alphonse).

 

Setidaknya aku bisa sedikit berguna bagi Alan.

 

“Saya mengerti.”

 

“Terima kasih. Bertrand.”

 

“Siap.”

 

“Segera persiapkan penyambutan untuk Bruno-dono.”

 

“Baik, segera laksanakan.”

 

Bertrand bergegas meninggalkan ruangan dengan langkah cepat setelah menerima perintah tersebut.

 

“Lalu Lucy, Rena. Aku serahkan Christa pada kalian berdua.”

 

“ “Baik.” “

 

Keduanya mengangguk, lalu menuntun Christa—yang masih gemetar karena rasa bersalah—keluar dari ruangan secara perlahan sambil mengusap punggungnya.

 

“Nah, Arl.”

 

“Ya.”

 

“Sebelum negosiasi, ada sesuatu yang harus kuberikan padamu. Surat ini titipan dari Yang Mulia untukmu.”

 

Sambil berkata seperti itu, Alan mengeluarkan sepucuk surat.

 

“Sebenarnya, aku diinstruksikan untuk memberikan ini padamu saat Christa-jou siap meninggalkan kediaman kita. Tetapi, utusan yang datang pagi ini membawa perintah agar segera menyerahkannya padamu.”

 

Sebenarnya ada apa ini.

 

Aku menerima surat dari Yang Mulia.

 

“Aku akan mengurus persiapan negosiasinya terlebih dahulu. Temui aku begitu kau selesai membaca surat itu.”

 

Setelah Alan melangkah pergi dan meninggalkanku sendirian, aku membaca isi surat tersebut. Dan kemudian—

 

“Apa-apaan... ini...?”

 

Sebenarnya, apa yang sedang Yang Mulia pikirkan?

 

※※※

 

“Aku adalah Putra Mahkota Kerajaan Teokrasi Dorian, Bruno Dorian!”

 

Pemuda berumur dua puluhan dengan rambut dan sepasang mata kuning keemasan yang menjadi ciri khas bangsawan Dorian, memperkenalkan dirinya dengan lantang saat aku dan Bertrand menyambutnya di pintu masuk.

 

Aku sudah mendengar sebelumnya kalau dia seorang pria tampan, dan sesuai rumor, penampilannya sangat memukau. Hanya saja, mungkin karena dikuasai oleh hawa nafsunya, tatapan matanya terlihat keruh.

“Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Saya putra dari pemimpin Wilayah Clover, Arl Clover. Merupakan suatu kehormatan dapat menyambut Anda.”

 

“Apa-apaan ini, aku yang seorang Pangeran sudah datang ke sini, tapi pemimpin wilayah ini bahkan tidak menyambutku?”

 

Pria yang tidak tahu sopan santun sepertimu tidak pantas disambut langsung oleh Alan.

 

Sambil menahan amarahku, aku berusaha menjawab dengan nada datar tanpa mengubah ekspresi.

 

“Pemimpin keluarga sedang menunggu Bruno-sama di ruangan lain. Mari saya tunjukkan jalannya.”

 

“Hmph, sudahlah. Cepat antarkan aku.”

 

“Baik.”

 

Syukurlah Yang Mulia Kerajaan Suci tidak memiliki karakter seperti Bruno.

 

Dengan perasaan lega dari lubuk hati, aku memandu Bruno menuju ruangan di mana Alan menantinya.

 

“Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Saya Alan Clover, kepala Keluarga Clover.”

 

“Bruno.”

 

Setelah menyebutkan namanya dengan asal, Bruno duduk berhadapan dengan Alan.

 

Aku berdiri di belakang Alan, mengamati jalannya situasi.

 

“Kalau begitu, boleh saya menanyakan kembali apa keperluan Anda?”

 

“Tentu saja tentang Christa. Di mana Christa sekarang?”

 

“Christa-jou sedang berada di ruangan terpisah.”

 

“Kalau begitu, cepat serahkan dia padaku.”

 

“Mohon maaf, hal itu tidak bisa kami lakukan.”

 

“Apa?”

 

Tanpa gentar sedikit pun menghadapi tekanan Bruno, Alan menjawab dengan lugas.

 

“Sesuai dengan apa yang pernah kami sampaikan sebelumnya, Christa-jou tidak memiliki niatan untuk kembali kepada Anda.”

 

“Alasan semacam itu tidak ada hubungannya.”

 

“Tentu saja berhubungan. Kami telah diinstruksikan oleh Yang Mulia Alphonse untuk selalu menghormati keinginan Christa-jou.”

 

“—Ghk, sungguh loyal sekali untuk ukuran bangsawan perbatasan.”

 

Bruno menatap ke arahku dan Alan secara bergantian dengan tatapan merendahkan, lalu melanjutkan.

 

“Karena kalian yang memintanya, mari kita lakukan negosiasi. Berapa yang kalian inginkan?”

 

“Apa maksud Anda?”

 

Menanggapi pertanyaan Alan, Bruno tertawa sinis.

 

“Kalian para bangsawan perbatasan pasti sedang kesulitan soal uang, bukan? Aku pribadi yang akan membayarkan biaya hidup selama Christa merepotkan kalian di sini.”

 

Sikapnya yang secara terang-terangan merendahkan keluarga bangsawan perbatasan, tangan Alan yang tertumpu di pahanya mengepal keras.

 

Jelas sekali bahwa di dalam hatinya, amarah Alan telah memuncak.

 

“Kami tidak membutuhkan uang.”

 

“Jangan bohong.”

 

“Saya tidak sedang berbohong.”

 

“—Ghk, beraninya kau menolak kebaikanku ini.”

Bruno mengerutkan dahi, seolah benar-benar tidak habis pikir dengan penolakan kami.

 

“Sudah berkali-kali saya katakan, keluarga kami tidak akan mengabaikan keinginan Christa-jou.”

 

“—Ghk, apa boleh buat. Jika terus begini, pembicaraan ini tidak akan selesai.”

 

Bruno bangkit berdiri sembari mengucapkan kata-kata itu.

 

“Sejauh pengamatanku, kediaman ini hanya memiliki pelayan dalam jumlah minimum. Dan aku sama sekali tidak melihat adanya penjaga.”

 

Cara bicaranya barusan, entah kenapa mengundang firasat buruk.

 

“Apa yang ingin Anda lakukan?”

 

“Jawabannya mudah. Aku akan menyuruh para penjaga yang kubawa untuk menggeledah seluruh rumah ini.”

 

“—Ghk, apakah Anda mengira tindakan semacam itu dapat dibenarkan?”

 

“Tentu saja bisa. Karena aku adalah Bruno Dorian.”

 

Pernyataan tersebut sungguh tidak masuk akal, namun Bruno benar-benar berniat melakukannya.

 

Satu-satunya yang sanggup bertarung secara langsung di Keluarga Clover hanyalah aku, Alan, dan Bertrand.

 

Situasi ini sungguh-sungguh gawat.

 

“Ada apa, kalau tidak mau cepat serahkan Christa...!”

 

Bruno membentak seolah memandang rendah kami sambil menyunggingkan senyum yang menjijikkan.

 

Di detik itu pula, pintu ruangan terbuka dengan keras.

 

“Christa-jou...!?”

 

Dan yang membuka pintu tersebut adalah Christa sendiri. Begitu masuk ke dalam ruangan, Christa langsung menuju ke arah Bruno. Dan kemudian—

 

“Yo, Christa. Sudah lama ti—buagh...!”

 

Christa menampar pipi Bruno sekuat tenaga.

 

“Christa, apa yang kau lakukan padaku...!”

 

Bruno berteriak dengan wajah memerah karena marah.

 

Kenapa Christa ada di sini...

 

Meski sadar harus melakukan sesuatu, otakku tidak mampu mencerna kejadian ini, kurasa Alan juga merasakan hal yang sama denganku.

Mengabaikan aku dan Alan, Bruno melangkah mendekati Christa.

 

“Kau berani mengangkat tangan padaku. Ini adalah pemberontakan terhadap keluarga kerajaan!”

 

“—Ghk.”

 

Dilihat dari sudut pandang objektif, tindakan Christa menampar anggota kerajaan tidak dapat disangkal. Meskipun Bruno yang bersalah, itu tetap sebuah penghinaan terhadap pihak kerajaan.

 

Mendengar fakta itu diungkit, raut wajah Christa sedikit menegang.

 

“Ada apa? Ayo katakan sesuatu?”

 

“—“

 

“Tentu saja kau tidak bisa berkata apa-apa. Karena aku adalah keluarga kerajaan, dan kau hanyalah seorang putri Duke.”

 

Bruno tertawa merendahkan lalu melanjutkan,

 

“Akan kuberikan satu kesempatan bagimu.”

 

“Christa. Aku sangat menghargai kemampuan administratifmu. Karena itu, mengabdilah padaku seumur hidupmu sebagai pegawaiku. Jika kau setuju, aku akan menganggap penghinaan ini tidak pernah terjadi—“

 

“Aku menolak keras tawaranmu.”

 

“Ap—buagh...!?”

 

Christa mendaratkan satu lagi tamparan keras di wajah Bruno.

 

Kekuatannya kali ini jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Saking kuatnya, Bruno sampai terjatuh ke lantai.

 

“Kamu ini memang orang yang sangat bodoh!”

 

Kata-kata kasar yang tidak pernah terbayangkan akan keluar dari mulut Christa yang biasanya tenang, kini meluncur deras.

 

Menerima hinaan itu, Bruno seketika bangkit, dengan mata memerah memancarkan amarah.

 

“Tidak hanya melakukan kekerasan padaku, kau bahkan juga berani menghinaku?!”

 

“Apa yang salah dengan menyebut orang bodoh dengan sebutan bodoh!”

 

“Apa kau bilang... Christa, kau akan dieksekusi sekarang juga!”

 

“Aku sama sekali tidak peduli. Daripada harus mematuhi perintahmu, dieksekusi adalah pilihan yang jauh lebih baik!”

 

“Apa—“

 

Mendengar pernyataan yang begitu berani, bahkan Bruno sekalipun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

 

“Takkan kumaafkan, aku takkan memaafkanmu, Christa!”

 

Seolah telah kehilangan akal sehatnya, Bruno mengangkat tangannya untuk memukul Christa.

 

Sebejat apa pun kelakuannya, Bruno tetaplah seorang anggota kerajaan. Tentu saja, ia memiliki setidaknya dasar-dasar ilmu bela diri.

 

Dengan kemampuan Christa saat ini, mustahil baginya untuk menghindari pukulan dari Bruno.

 

Apa yang harus kulakukan, bagaimana ini...

 

Otakku berputar keras mencari cara untuk mengatasi situasi yang rumit ini.

 

Di tengah kepanikan itu, isi surat yang kubaca tepat sebelum negosiasi terlintas di benakku.

 

Dengan ini, aku bisa melakukannya...!

 

Andaikan aku memiliki waktu sedikit lebih banyak, mungkin ada cara penyelesaian yang lebih damai. Tetapi, Sekarang ini sudah tidak ada waktu lagi.

 

Aku memutuskan untuk mengambil tindakan nekat.

 

“—Ghk, apa yang kau lakukan...!?”

 

Aku menangkis pukulan yang diarahkan ke Christa menggunakan telapak tanganku sendiri.

 

“Mohon maaf. Saya tidak bisa diam saja melihat hal ini lebih jauh lagi.”

 

“Beraninya bangsawan pinggiran dari negara asing sepertimu ikut campur dalam urusan kami.”

 

“Apa yang Anda katakan, Bruno-sama.”

 

“Hah?”

 

Aku menarik bahu Christa yang berada tepat di belakangku dan merangkulnya.

 

“Keluarga kami telah berencana untuk menjadikan Christa sebagai selirku di kemudian hari.”

 

“—Ghk, se-selir, kau bilang...?”

 

“Benar.”

 

Di dalam surat dari Yang Mulia, tertulis informasi seperti ini.

 

Bahwa ayah Christa rupanya sedang berdiskusi dengan Kerajaan Suci tentang kandidat keluarga yang cocok untuk menikahi putrinya. Dan entah kenapa, mereka menilai Keluarga Clover sebagai pilihan yang tepat.

 

Aku menemukan sebuah ide setelah mengingat informasi itu secara spontan.

 

Ide itu adalah, aku hanya harus berpura-pura menjadikan Christa sebagai tunanganku. Dengan begitu, Keluarga Clover memiliki alasan kuat untuk melindungi Christa di tempat ini.

 

Sejak awal aku sudah tahu bahwa memaksa Bruno mundur─meski hanya untuk sementara waktu─dengan mengandalkan alasan ‘menghormati keinginan Christa’ saja, adalah hal yang sangat sulit.

 

Yang Mulia pasti memerintahkanku membaca surat itu karena mempertimbangkan hal ini.

 

Tentu saja, hatiku seutuhnya hanya untuk Rena, jadi skenario ini hanya berlaku sampai Bruno berhasil diusir. Jika situasi ini berhasil teratasi, tidak masalah jika pertunangan ini hanya sekadar dalih belaka.

 

Akan tetapi, strategi ini memiliki satu kelemahan. Kelemahan yang sangat mudah disadari.

 

“Sayang sekali, bangsawan perbatasan. Jangan berbohong seperti itu.”

 

Dan sepertinya, dia sudah menyadarinya.

 

“Berbohong?”

 

“Wajah Christa. Dari yang kulihat, dia tampak kebingungan dengan omong kosongmu itu lho?”

 

Aku menoleh ke arah Christa, raut mukanya terlihat sedang berusaha keras untuk memahami apa yang sedang terjadi.

 

Sangat wajar jika Christa berekspresi seperti itu setelah tiba-tiba disebut sebagai selir.

 

Aku berharap Christa bisa dengan cepat menyadari rencanaku, namun pada tahap ini sepertinya itu hal yang mustahil. Oleh karena itu, aku harus melanjutkan aktingku agar Christa memahami niatku.

 

“Tentu saja ia bingung. Karena cinta yang dipendamnya tiba-tiba saja terwujud.”

 

“Cinta, kau bilang?”

 

“Benar. Dia sudah lama memendam perasaan padaku. Benar, kan?”

 

Luar biasa, Christa. Sepertinya dia sudah paham maksudku dari percakapan tadi.

Pipinya sedikit merona merah saat Christa memalingkan wajah dariku.

 

“Namun, saya sudah memiliki Rena sebagai istri sah. Dan saya sudah bertekad untuk setia hanya padanya.”

 

“Maksudmu Christa sudah menyerah mendapatkanmu?”

 

“Tepat.”

 

“Lelucon macam apa ini. Lalu kenapa sekarang!”

 

“Itu karena keteguhan hati yang baru saja Christa perlihatkan. Itulah yang membuatku jatuh hati padanya!”

 

Aku menjawab tanpa ragu. Maaf ya, Rena, namun kali ini aku tidak berbohong.

 

“Aku sama sekali tidak peduli. Daripada harus mematuhi perintahmu, dieksekusi adalah pilihan yang jauh lebih baik!”

 

Kalimat itulah yang mengubah pandanganku terhadap Christa.

 

Awalnya, Christa selalu terlihat sebagai gadis bangsawan yang anggun dan lemah lembut. Oleh karena itu, aku pikir meskipun Christa orang yang setia, dia bukanlah orang yang tangguh.

 

Tapi nyatanya, Christa memiliki keberanian untuk mempertahankan tekadnya bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya.

 

“Kau ini, bicara apa...”

 

Bruno terlihat kebingungan saat aku membeberkan preferensiku secara terang-terangan, tapi aku juga tidak tahu harus bereaksi apa melihat responsnya.

 

“Saya hanya menjawab alasan mengapa saya mengambil Christa sebagai selir.”

 

“...Ghk.”

 

Mungkin merasa tidak ada untungnya berurusan denganku, Bruno mengarahkan pandangannya pada Christa.

 

“Christa, apa kau benar-benar menyukai pria seperti ini?”

 

“I-Itu...”

 

“Sudah kuduga, ini sulit dipercaya.”

 

Sambil memamerkan senyum kemenangan, Bruno kembali berkata.

 

“Christa. Jika kau benar-benar mencintai pria ini, tunjukkan buktinya padaku!”

 

Seketika Christa mengarahkan pandangannya ke arahku.

Aku tahu ini pasti memalukan baginya, tapi kali ini aku hanya bisa mengandalkan Christa.

 

Mengingat sifat Christa yang pemalu, mungkin memeluk lenganku saja sudah cukup, ‘kan?

 

“—Saya mengerti.”

 

Christa menjawab dan berbalik ke arahku setelah sempat terdiam seolah untuk membulatkan tekadnya. Kemudian—

 

“Apa—...!?”

 

Bruno terbelalak kaget melihat tindakan yang diambil Christa.

 

Tindakan yang diambil Christa untuk membuktikan cintanya padaku adalah mencium pipiku.

 

Namun, itu hanya apa yang terlihat oleh mata Bruno.

 

Kenyataannya, Christa tidak berniat mencium pipi, tapi mencoba mencium bibirku secara langsung.

 

Untungnya, aku berhasil menghindar di detik-detik terakhir, sehingga bibirnya hanya mendarat di pipiku.

 

“Dengan ini, bagaimana?”

 

Setelah menciumku, Christa bertanya dengan berani kepada Bruno.

Mengingat reaksi terkejutnya tadi, menurutku hal ini sudah lebih dari cukup...

 

“H-Hanya dengan ciuman seperti itu...!”

 

Dasar Pangeran Sialan yang harga dirinya setinggi langit.

 

Bruno dengan keras kepala menolak untuk mengakuinya begitu saja.

 

Akan tetapi, memandang sang mantan tunangan yang keras kepala itu, Christa memamerkan senyuman meremehkan.

 

“A-Apa maksud senyummu itu!”

 

“Tidak, Anda ini benar-benar orang yang...”

 

Melewati batas ejekan, Christa menatap Bruno dengan tatapan penuh rasa kasihan, lalu berkata.

 

“Selama ini, pernahkah saya mencium Anda?”

 

“Ka-kalau cuma itu sih...”

 

“Tidak pernah, lho. Jangankan mencium, berpegangan tangan saja tidak pernah.”

 

“...Ghk!?”

 

Aku merasa seperti mendengar bunyi sesuatu yang hancur berkeping-keping.




Sudah pasti itu adalah kebanggaan Bruno sebagai seorang laki-laki atau semacamnya.

 

“Sepertinya, Anda sudah mulai mengerti ya.”

 

“A-Aku, oleh pria macam ini....”

 

“Dia jauh lebih unggul darimu. Tentu saja, sebagai sesama laki-laki.”

 

“—Ghk!? K-Kalian...!”

 

Bruno yang kehilangan akal sehatnya karena tidak tahan harga dirinya diinjak-injak, menerjang ke arahku dan Christa untuk memukul.

 

Sayangnya, Bruno bukan tandinganku.

 

“—Ghk, bangsawan perbatasan sepertimu...!”

 

Aku tanpa ampun mendaratkan pukulan di leher Bruno yang terus memberontak hingga membuatnya pingsan.

 

Ini adalah tindakan yang wajar karena keselamatan pasanganku sedang terancam.

 

“Ayahanda.”

 

“Arl. Tadi, pembicaraan mengenai selir itu... maksudnya bagaimana?”

 

“Penjelasannya akan kuberikan nanti. Sekarang yang penting adalah mengurus Bruno-sama dulu.”

 

“—Ghk, b-baiklah.”

 

Setelah itu, aku mengatakan kepada Alan “Mengenai Christa, tolong percayakan saja padaku.” lalu memintanya untuk meninggalkan ruangan.

 

“Nah.”

 

Seiring situasi yang mulai terkendali, aku menatap ke arah Christa yang sedang duduk di kursi.

 

Dari wajahnya terlihat jelas bahwa dia sedang kelelahan. Meskipun dia terus bersikap berani di hadapan Bruno, tekanan mentalnya pasti sangat besar.

 

“Kamu baik-baik saja?”

 

“Ya. Daripada itu—“

 

Christa menatapku dengan cemas sambil melanjutkan.

 

“Pasti kamu merasa tidak suka, bukan...?”

 

“Tidak suka...?”

 

“Tentang, c-ciuman tadi...”

 

Christa sepertinya memikirkan keputusannya untuk menciumku tadi, bukan soal aku menyuruhnya berakting.

 

Mungkin dia salah paham karena aku menghindarinya tadi.

 

“Itu semua kulakukan demi Rena.”

 

“Demi Rena-san...?”

 

“Ya. Jujur saja ini memalukan, tapi sampai saat ini aku dan Rena belum pernah berciuman.”

 

“—Ghk!?”

 

Meskipun situasinya mendesak, aku tidak bisa membiarkan Christa menciumku sebelum aku melakukannya dengan Rena.

 

“Jadi, aku menghindar bukan karena tidak suka atau semacamnya, Christa, tenang saja.”

 

“Saya mohon maaf. Aku pikir kalian berdua sudah...”

 

“Yah, wajar kalau kamu berpikir seperti itu...”

 

Sudah dua bulan sejak aku dan Rena mulai tinggal bersama.

 

Bahkan pelukan pertama kami saja baru terjadi belum lama ini, yang artinya pergerakan kami memang cukup lambat.

 

Meski begitu, perasaan di mana jarak kami semakin terkikis sedikit demi sedikit itu sebenarnya sangat menyenangkan.

“Pokoknya, kesalahpahamannya sudah selesai, ‘kan?”

 

“Iya. Aku ini sungguh...”

 

Saking malunya, pipi Christa terlihat memerah hingga ke telinga.

 

Sebenarnya aku ingin membiarkannya tenang dulu, tapi aku harus segera meminta maaf karena memaksanya berakting.

 

“Christa, soal tadi—“

 

“A-Anu...!”

 

Sepertinya, Christa masih memiliki sesuatu yang ingin ia sampaikan.

 

“Silakan duluan.”

 

“Kalau begitu, anu...”

 

Christa menatap lurus ke mataku dengan mata hijau zaitunnya.

 

“Aku... anu... Arl-san, a-a-aku sangat mencintaimu!”

 

...Eh?

 

Barusan, apa yang Christa katakan?

 

Saat aku masih bengong mencoba memahami situasi, Christa berdiri dengan pipinya yang masih merona merah.

 

“Meskipun aku masih memiliki banyak kekurangan, mulai sekarang aku mohon bimbingannya!”

 

Selesai mengucapkan kalimat tersebut, masih dengan wajah tertutup tangannya, Christa segera berlari meninggalkan ruangan.

 

“...”

 

Sepertinya maksud dari kebohonganku tadi benar-benar tidak tersampaikan... Semua kalimatku ditangkap oleh Christa sebagai kenyataan, dan ia pun membalasnya dengan menyatakan cintanya padaku.

 

Dengan kata lain, Christa benar-benar menganggap serius tentang perasaanku padanya...

 

“Gawat, gawat, gawat...!”

 

Kalau sudah begini, sudah sangat terlambat untuk mengatakan kalau tadi itu cuma akting...!

 

Lagipula, kenapa Christa bisa jatuh cinta padaku? Meski tinggal di rumah yang sama, jumlah percakapan kami masih terhitung sangat sedikit.

 

Aku benar-benar tidak mengerti, tapi satu-satunya hal yang pasti adalah aku tidak punya pilihan selain menerima kenyataan ini.

 

※※※

 

Bruno diserahkan kepada pasukan kesatria yang diutus langsung oleh Yang Mulia Alphonse untuk menyusulnya.

 

Menurut Alan, Bruno adalah satu-satunya kandidat pewaris di Teokrasi Dorian, sehingga tidak akan ada pencabutan hak waris. Meski begitu, bukan berarti Bruno akan lepas dari hhukuman

 

Hukumannya meliputi pencabutan semua haknya, kecuali hak sebagai pewaris takhta. Tergantung pada sudut pandangnya, hukuman ini bisa lebih berat daripada pembatalan hak waris.

 

Karena setelah raja yang sekarang turun takhta, kendali kekuasaan akan dikuasai oleh bangsawan berdarah keluarga kerajaan seperti ayah Christa, sementara Bruno hanya akan menjadi raja pajangan seumur hidupnya.

 

Singkat cerita, urusan Bruno sudah terselesaikan tanpa masalah.

 

Namun, yang menjadi masalah adalah sandiwaraku sebagai tunangan Christa.

 

Aku menceritakan semuanya dengan jujur pada Alan dan Lucy, sambil bersiap menerima omelan mereka.

Dan anehnya, aku sama sekali tidak dimarahi.

 

Alan yang mengetahui niat Yang Mulia menyerahkan keputusan akhir kepadaku, dan Lucy pun tidak menuntutku untuk memikul tanggung jawab secara paksa. Bahkan, Lucy menawarkan diri untuk menjelaskan tentang situasinya kepada Rena.

 

Bukan hanya Alan, Lucy juga merasa ikut bertanggung jawab dalam masalah ini karena sempat membiarkan Christa lepas dari pandangannya.

 

Baiklah, seperti yang dikatakan Alan, terdapat dua pilihan di hadapanku.

 

Pilihan pertama, tetap setia pada jalan hanya mencintai Rena.

 

Pilihan kedua, menerima pertunanganku dengan Christa.

 

Pilihan pertama akan melukai hati Christa, sedangkan pilihan kedua akan melukai hati Rena. Sejujurnya, aku tidak mampu memilih salah satu di antara keduanya.

 

“Ah, apa yang harus kulakukan.”

 

Sampai malam tiba, tidak ada sedikit pun kemajuan dalam keputusanku. Pada jam tidur ini, aku hanya bisa meratapi nasib sambil berbaring telentang di kasur.

 

Di tengah situasi tersebut, pintu kamarku diketuk beberapa kali.

 

“Maaf mengganggu di jam segini.”

 

Orang yang berkunjung ternyata Rena. Detak jantungku mulai berdegup kencang.

 

“A-Ada apa?”

 

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan sebentar.”

 

“—Baiklah.”

 

Pembicaraan ini pasti tentang Christa. Sepertinya, Lucy sudah menceritakan semuanya kepada Rena.

 

Aku mengizinkan Rena masuk, sudah siap dengan skenario terburuk, yaitu pembatalan pertunangan kami.

 

Begitu Rena duduk di sampingku di atas kasur, aku pun langsung memulai pembicaraan.

 

“Yang ingin dibicarakan itu, tentang Christa, ‘kan?”

 

“Iya. Tadi aku sudah mendengarnya dari ibu.”

 

“Begitu ya... Jadi, kamu pasti marah, ‘kan?”

 

“—“

 

Rena tidak menjawab. Hanya saja, keheningan itu justru seolah mencerminkan perasaan di hatinya saat ini.

 

Tanpa perlu mendengarkan jawabannya, aku refleks duduk dengan posisi seiza dan menundukkan kepalaku.

 

“Aku minta maaf karena bertindak seenaknya! Padahal aku sudah bilang hanya setia pada Rena, tapi kelakuanku malah seperti ini, aku ini benar-benar brengsek.”

 

“—“

 

“Jika Rena mau, aku akan menceritakan kebenarannya pada Christa—“

 

“Tidak perlu melakukan itu.”

 

“T-Tapi...!”

 

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, Aku sama sekali tidak menentang jika kamu mengambil seorang selir. Karena itu, kamu tidak perlu meminta maaf tentang masalah itu.”

 

Setelah berkata seperti itu, Rena sedikit mengambil jarak dariku.

 

“Sepertinya kamu salah paham, jadi akan kukatakan. Aku datang ke sini karena urusan lain.”

 

“Urusan lain...?”

 

“Iya. Ada yang harus kupastikan...”

 

Setelah itu, entah mengapa wajah Rena merona merah saat ia melanjutkan perkataannya.

 

“Setelah makan malam, Christa meminta maaf kepadaku.”

 

“Minta maaf?”

 

“Itu... tentang c-ciuman tadi...”

 

'Ciuman’—mendengar kata itu, aku segera membela diri dengan panik.

 

“Tunggu dulu, Rena. Itu cuma—“

 

“Aku sudah tahu! Hanya di pipi, bukan?”

 

“Benar! Aku belum membiarkannya menyentuh bibirku! Karena aku sudah memutuskan yang pertama adalah denganmu, Rena!”

 

“—Ghk!?”

 

Mendengar kata-kata jujurku itu, wajah Rena semakin memerah.

 

Memalukan memang, tetapi bahkan jika menghitung kehidupan masa laluku, aku sama sekali tidak pernah berciuman.

 

Aku juga sudah bertekad bahwa yang ‘pertama' harus dengan Rena, istri sahku.

 

“Anu, jadi itu hal yang ingin kamu pastikan?”

 

“—Ya.”

 

Rena mengangguk pelan sambil memerosotkan pundaknya.

 

Setelah merasa lega dan ketegangan dari pundakku perlahan menghilang, aku bertanya pada Rena.

 

“Umm, Rena.”

 

“Y-Ya...”

 

“Jadi... apa kamu mau melakukannya... sekarang? Ciuman.”

 

“—Ghk

 

Rena dengan cepat mengalihkan pandangannya ke bawah.

 

Sebenarnya aku ingin melakukannya di hari upacara pertunangan kami, tetapi situasinya sudah seperti ini. Jika aku terus menundanya, aku takut hal itu akan membuat Rena merasa cemas.

 

Buktinya, Rena datang ke sini sekarang karena ia merasa cemas.

 

“Bagaimana, menurutmu?”

“—...”

 

Rena tidak menjawab. Namun, keheningan ini bukanlah tanda penolakan, melainkan karena Rena murni merasa malu.

 

Pada saat seperti ini, lebih baik aku yang mengatakannya duluan, ‘kan.

 

Aku membulatkan tekad, dan menyatakan.

 

“Aku ingin melakukannya.”

 

“—Ghk.”

 

Meskipun aku merasa bersalah pada Christa, tapi aku benar-benar merasa ketakutan saat ia tiba-tiba memaksakan ciumannya kepadaku.

 

Jika ciuman pertamaku diambil pada saat itu, aku pasti akan menyesal seumur hidup karena tidak segera berciuman dengan Rena.

 

“A-Aku juga—“

 

Menanggapi kata-kataku, Rena membuka mulutnya dengan terbata-bata.

 

“Aku juga... ingin melakukannya. Ciuman... dengan Arl.”

 

Melihatnya berkata seperti itu dengan mata yang berkaca-kaca, aku refleks memeluk Rena. Aku merasakan tenaga ditubuhnya mulai menghilang saat aku memeluknya. Setelah itu—

 

“Rena.”

 

“Arl.”

 

Tanpa ada yang mendahului, bibir kami bersentuhan secara alami untuk pertama kalinya.

 

Hanya sebuah ciuman yang sangat ringan.

 

Momen itu berlalu dalam sekejap, dan seketika itu juga pipiku memanas karena rasa malu.

 

“O-Oh ya, ngomong-ngomong.”

 

“A-Ada apa?”

 

“Kenapa, kamu menolak bantuan Christa untuk mengerjakan pekerjaan rumah?”

 

“—Ghk, t-tentang hal itu...”

 

Setelah mendengar pertanyaan yang kulontarkan untuk mengalihkan suasana itu, pipi Rena semakin memerah, lalu ia mengalihkan pandangannya dariku sebelum menjawab.

 

“Karena urusan melayani keperluan Arl... aku ingin melakukannya sendiri...”

 

“—Ghk.”

 

Mendengar jawaban yang begitu manis itu, aku tidak bisa menahan diri untuk menciumnya sekali lagi.

 

※※※

 

Setengah bulan kemudian.

 

Sebuah surat yang berisi laporan lengkap mengenai penyelesaian akhir dari masalah waktu itu datang dari Yang Mulia.

 

Seluruh hak yang dimiliki Bruno, kecuali haknya sebagai pewaris takhta akan dicabut, dan kabarnya ia akan diatur sebagai boneka oleh bangsawan-bangsawan yang mewarisi darah keluarga kerajaan.

 

Lalu, terpisah dari urusan itu, telah ditetapkan secara resmi bahwa Christa akan menjadi selirku.

 

Sekarang setelah masalah pembatalan pertunangan selesai dan nama baik Christa pulih, sebenarnya ada kemungkinan rencana menjadikannya selir bagi bangsawan perbatasan sepertiku akan ditolak karena dianggap tidak pantas.

 

Akan tetapi, ayah Christa sepertinya menyimpan amarah besar terhadap Bruno. Beliau sangat mengapresiasi tindakanku yang berhasil mengusir Bruno, sehingga beliau sangat setuju dengan usulan ini.

 

“Kalau begitu sekali lagi. Christa-jou—ah bukan, Christa. Katakanlah sepatah kata.”

 

Saat makan malam, Alan yang telah menyampaikan penyelesaian masalah ini, meminta Christa mengucapkan sambutan sambil memegang gelasnya.

 

Christa mengangguk pelan setelah mendapat giliran berbicara, lalu berdiri dan membungkukkan dirinya dalam-dalam sebelum berbicara.

 

“Sekali lagi saya ucapkan, terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan Keluarga Clover yang bersedia menerima orang seperti saya.”

 

Christa mengangkat wajahnya dengan senyuman manis dan rendah hati yang khas darinya, lalu melanjutkan perkataannya.

 

“Ke depannya, saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk kemajuan Keluarga Clover. Sekali lagi, mulai dari sekarang mohon bantuannya.”

 

Setelah Christa membungkuk sekali lagi dengan kata-kata tersebut, tepuk tangan hangat pun bergemuruh.

 

Memang benar, bakat administratif Christa adalah hal yang sangat berharga sampai-sampai Bruno sendiri rela datang untuk menjemputnya kembali. Bahkan Alan juga mengatakan bahwa dia sangat terbantu.

 

Ditambah lagi, bakat sihirnya juga luar biasa. Kabarnya, alasan mengapa Rena dan Lucy bisa kehilangan jejak Christa saat kedatangan Bruno adalah karena mereka berada di bawah pengaruh sihir hipnotis yang ia gunakan.

 

Meskipun sihir hipnotis yang Christa gunakan hanyalah sebatas membuat orang tertidur seperti saat di kelas, sihir itu tetaplah sihir langka yang jarang bisa digunakan.

 

Selain itu, Christa juga sangat mahir dalam menggunakan sihir tingkat tinggi, mulai dari memperkuat pendengaran hingga sihir penyembuhan.

 

Christa dengan kemampuannya yang seperti itu, tidak diragukan lagi ia akan segera menjadi sosok yang tak tergantikan bagi Keluarga Clover.

 

Sungguh, aku sangat menantikan hari-hari yang akan datang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close