Chapter
2
Wanita Terhormat yang Terlalu Tangguh
Di saat Arl sedang terguncang setelah mengetahui kebenaran tentang Rena.
Di istana Kerajaan
Teokrasi Dorian yang terletak di sebelah barat Kerajaan Suci Protea, sebuah
pesta yang diselenggarakan oleh Putra Mahkota sedang berlangsung.
Para tamu yang menikmati
pesta tersebut hanyalah wanita-wanita muda dalam balutan gaun berwarna cerah, dan
satu-satunya pria yang ada di sana adalah sang penyelenggara acara, Bruno
Dorian.
Saat Bruno sedang
memandangi para wanita dengan tatapan penuh gairah, pintu aula pesta tiba-tiba
terbuka keras.
Setelah pintu terbuka, muncullah
seorang gadis berambut perak, gadis yang kecantikannya mengalahkan siapa pun
yang hadir di ruangan itu.
Melihat kedatangan gadis
tersebut, suasana hati Bruno yang awalnya sedang ceria seketika menjadi muram.
“Yang Mulia, apa maksud
dari semua ini?”
Mendengar pertanyaan sang
gadis, Bruno menjawab dengan nada malas.
“Seperti yang kau lihat,
aku sedang berpesta.”
“Tapi kelihatannya di sini
hanya ada wanita?”
“Terus kenapa?”
“—Ghk.”
Melihat Bruno yang sama
sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, raut wajah sang gadis menegang.
Itu adalah reaksi yang
wajar jika melihat posisi sang gadis. Akan tetapi, Bruno merasa tidak senang
dengan reaksi itu dan mendengus kasar.
“Apa kau sebegitu bencinya
melihatku bersenang-senang dengan wanita lain?”
“I-Itu...”
“Kenapa? Katakan saja
sejujurnya. Khusus untuk hari ini, aku akan memaafkanmu.”
Bruno mendesak gadis itu sambil
menyunggingkan senyum yang menjijikkan. Setiap kali ia tersenyum seperti itu,
biasanya ia sedang memikirkan sesuatu yang picik.
Meskipun menyadari hal itu,
sang gadis tidak memiliki hak untuk melawan. Gadis itu pun menjawab dengan
suara yang tertahan.
“Saya... tidak suka...”
“Fuhaha, begitu ya. Sayang
sekali—“
Bruno Tertawa lepas, lalu
memanggil seorang wanita di dekatnya dengan lambaian tangan dan merangkulnya.
“Apa kau pikir aku akan
berhenti?”
Melihat senyum meremehkan
dari Bruno, raut wajah sang gadis semakin suram.
“Yang Mulia. Tolong
hentikan tindakan—“
“Tindakan yang tidak
pantas bagi keluarga kerajaan, begitu?”
“Benar.”
“Begitu ya... Kurasa
hubungan kita sudah cukup sampai di sini saja. Awalnya kupikir kau adalah
wanita yang penurut dan menyenangkan... sayang sekali.”
“Yang Mulia...?”
“Ada kabar baik untukmu.
Mulai hari ini, aku membatalkan pertunangan kita.”
“Eh—“
Melihat gadis itu terpaku,
Bruno justru menunjukkan ekspresi kebingungan.
“Ada apa? Bukankah ini
yang kau inginkan?”
“—Ghk, saya.. tidak
pernah...”
“Aku ulangi sekali lagi. Christa
Muscat, Putri keluarga Duke Muscat. Mulai hari ini, aku membatalkan pertunanganku
denganmu. Jika kau sudah paham, cepat enyah dari pandanganku.”
Gadis itu segera
menyadari, apa pun yang ia katakan sekarang takkan ada gunanya.
“—Ghk, saya...
mengerti...”
Dengan demikian,
bertambahlah satu lagi putri bangsawan yang pertunangannya dibatalkan secara
sepihak.
※※※
Satu bulan telah berlalu
sejak Rena tiba di Wilayah Clover.
Untungnya, Rena bisa
beradaptasi dengan kehidupan di daerah perbatasan ini.
“Arl, tolong bertarunglah
dengan lebih serius.”
“—Ghk.”
Di sela-sela waktu
luangnya, akhir-akhir ini Rena rutin berlatih tanding pedang kayu bersamaku di
halaman seperti ini.
Berkat pendidikan khusus
yang diterimanya, kemampuan berpedang Rena cukup luar biasa.
Meskipun kekuatan fisiknya
tidak sebanding dengan pria, Rena sangat pintar menggunakan berat badannya,
sehingga ayunan pedangnya terasa sangat berbobot.
“Hei Arl. Melawan Rena
saja kau terlihat kewalahan begitu, memalukan sekali.”
“Ayahanda, berisik!”
Dari jendela ruang
kerjanya di lantai satu, Alan yang melihatku terdesak malah melontarkan ejekan.
Padahal awalnya dia
ketakutan setengah mati pada Rena, tapi begitu mengetahui situasi Rena yang
sebenarnya, sikapnya langsung berubah drastis. Kini ia bahkan memperlakukan Rena
layaknya putri kandungnya sendiri.
Lebih dari itu, kalau aku
tidak serius, ini bisa benar-benar gawat—
“Kya...”
“—Ghk, kamu tidak
apa-apa, Rena!?”
Karena merasa terpojok,
tanpa sadar tubuhku mengerahkan kekuatan lebih dari yang seharusnya.
Pedang kayunya terpental
tinggi ke udara, dan akibat dorongan itu, Rena jatuh terduduk di atas rumput.
Aku segera mengulurkan
tanganku, dan dengan senyuman, Rena menyambut uluran tanganku.
“Arl memang sangat kuat,
ya.”
“Itu tidak penting, kamu
tidak terluka?”
“Tenang saja. Aku tidak
apa-apa.”
“Syukurlah...”
Setelah memastikan
keselamatan Rena yang berharga ini, aku menatap tajam ke arah penyebab masalah
ini.
“Hei, hei, apa ini
salahku? Kalau hanya karena provokasi kecil saja kau sudah mengerahkan tenaga
berlebih, itu artinya latihanmu masih kurang, ‘kan?”
“—Ghk, i-itu...”
Aku tidak bisa membalas satu
kata pun di depan kebenaran yang mutlak itu.
Sesuai dengan posisinya
sebagai kepala Keluarga Clover, kemampuan berpedang Alan memang tidak bisa
diremehkan. Saat aku sedang meringis kesal, Alan menoleh pada Rena dengan
sebuah senyuman.
“Rena. Kalau kemampuanmu
sebaik ini, mungkin kamu sudah bisa ikut serta dalam Ekspedisi Penaklukan.”
“Jika bicara soal
penaklukan... Apakah itu tentang penumpasan monster di dalam hutan?”
“Benar.”
Di bagian selatan Wilayah
Clover terbentang Hutan Agung Flawable yang berfungsi sebagai perbatasan antara
Kerajaan Suci dan Kerajaan Moroheiya.
Tugas Keluarga Clover
adalah memburu kawanan monster di sana hingga jumlah mereka tidak mengganggu
peran hutan sebagai perbatasan, dan itu secara de facto telah menjadi
tugas penjagaan perbatasan.
Ekspedisi Penaklukan
adalah kegiatan yang dilakukan setiap setengah tahun sekali, dan latihan pedang
kami hari ini juga merupakan salah satu bagian dari persiapan untuk itu.
“Arl, aku juga ingin ikut
serta dalam Ekspedisi Penaklukan. Apa, tidak boleh...?”
“...”
Didesak dengan tatapan
mata yang mendongak manja, aku refleks mundur beberapa langkah.
Rena itu memang memiliki
citra kuat sebagai tipe gadis yang pandai berakting, tapi dalam hal ini ia
melakukannya tanpa sadar, sehingga rasanya semakin sulit dihadapi.
Karena dia sangat imut,
aku ingin sekali langsung bilang “OK”, tapi itu sulit kulakukan. Meskipun
persiapannya selalu dilakukan dengan matang, Ekspedisi Penaklukan tetaplah
membawa risiko yang mengancam nyawa.
“Apakah kemampuanku masih
belum cukup?”
“Bukan, bukan begitu
maksudku...”
Kemampuannya sudah lebih
dari cukup. Hanya saja, aku mengkhawatirkannya.
“Tidak apa-apa, ‘kan Arl.
Jika terjadi sesuatu yang buruk, kau tinggal melindungi Rena saja.”
“T-Tapi...!”
“Atau, kau tidak percaya
diri?”
Saat aku sedang bimbang
memikirkan jawaban, lagi-lagi Alan memprovokasiku. Kalau sudah didesak sejauh
ini, aku tidak mungkin mundur.
“Saya mengerti. Saya pasti
akan melindungi Rena.”
“Begitu katanya.”
“Terima kasih banyak,
kalian berdua. Aku akan berlatih keras agar tidak menjadi beban.”
Penolakanku berakhir
sia-sia, partisipasi Rena dalam Ekspedisi Penaklukan akhirnya telah ditetapkan.
Masih ada waktu sekitar
dua setengah bulan hingga penaklukan berikutnya. Dalam kurun waktu tersebut,
kami berdua harus menempa diri semaksimal mungkin.
Aku menunggu Rena mengatur
napasnya sebelum melanjutkan latihan kami. Namun, sebelum sempat melakukannya,
Lucy datang menghampiri dengan raut wajah muram.
Mengingat biasanya Lucy
jarang menampakkan diri di tempat seperti ini, kedatangannya pasti bukan
sekadar ingin mengecek keadaan Rena seperti yang dilakukan Alan.
“Ada apa, Lucy?”
Sepertinya Alan berpikiran
sama denganku. Ia menanyakan hal tersebut dengan raut wajah yang berubah
serius.
“Ini... ada surat seperti
ini dari Yang Mulia...”
Mendengar kata Yang Mulia,
aku dan Rena saling bertukar pandang.
Raut wajar Rena tampak
menyiratkan sedikit kecemasan.
Walaupun aku rasa tidak
mungkin tiba-tiba Yang Mulia meminta kami mengembalikan Rena sekarang.
Sambil berpikir seperti
itu, aku menantikan reaksi Alan.
“Arl. Kau juga bacalah.”
Alan yang telah selesai
membacanya kemudian menyerahkan surat itu kepadaku. Sepertinya isi suratnya juga
ada kaitannya denganku.
Setelah menerima surat itu
dan membaca isinya.
“Apa-apaan ini...”
Aku dibuat tercengang oleh
isi surat tersebut.
Aku membiarkan Rena ikut
memastikannya, dan ia pun menunjukkan reaksi yang sama denganku.
Surat itu berisi
permintaan agar Keluarga Clover menampung sementara seorang putri bangsawan
dari negara tetangga, Kerajaan Teokrasi Dorian.
Hanya saja, dia bukanlah
putri bangsawan biasa, dia adalah seorang putri Duke yang pertunangannya
dibatalkan oleh anggota keluarga kerajaan.
“Mengenai hal ini, Arl.
Kaulah yang paling tepat untuk memutuskan.”
“Saya...?”
“Ya. Yang Mulia juga pasti
menulis surat ini dengan asumsi seperti itu.”
Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya
kesan seperti apa yang dimiliki Yang Mulia tentangku.
Akan tetapi, aku sudah
berutang budi yang sangat besar pada Yang Mulia terkait urusan Rena. Aku tidak
bisa menolaknya.
Terlebih lagi, sampai
pertunangannya dibatalkan di negara lain seperti itu. Bisa jadi dia adalah Nona
Villainess yang sesungguhnya.
“Saya pribadi tidak
masalah. Bagaimana menurutmu, Rena?”
“Aku akan mengikuti apa
pun keputusanmu, Arl.”
Aku menanyakannya sekadar
untuk memastikan, tapi sepertinya Rena tidak sedang memaksakan diri untuk
menyesuaikan suasana.
“Kurasa, saya akan
menerima permintaan ini.”
“Baiklah. Aku yang akan
mengirimkan surat balasan kepada Yang Mulia.”
“Tolong, Ayahanda.”
Dengan demikian, seorang
putri bangsawan baru akan segera datang ke Wilayah Clover.
※※※
Setengah bulan kemudian.
Hari kedatangan sang putri
Duke akhirnya tiba.
Normalnya, proses seperti
ini akan memakan waktu lebih lama. Namun, hal ini bisa terjadi lebih cepat
karena sang putri sedang berada di Ibukota Kerajaan, dan Yang Mulia langsung
bergerak segera setelah mengetahui persetujuan kami.
Nah, kira-kira putri
bangsawan seperti apa yang akan datang?
Rena sepertinya tahu
sedikit tentangnya, tapi aku sengaja tidak bertanya. Yang kutahu hanyalah dia
seorang gadis cantik berusia lima belas tahun.
Setelah apa yang terjadi
dengan Rena, aku tidak berharap terlalu banyak. Namun tetap saja, aku berharap
dia adalah seorang Nona Villainess.
Kurasa ini sudah menjadi
naluri seorang penggemar berat Nona Villainess.
“Sebentar lagi mereka
tiba, Arl.”
“Baik, Ayahanda.”
Sama seperti saat
menyambut Rena, hanya aku dan Alan yang bertugas menyambut kedatangannya. Namun,
kali ini Alan terlihat sangat tenang, berbeda dengan saat ia menyambut Rena
waktu itu.
“Sepertinya mereka sudah
tiba.”
Setelah kami berdua
menunggu sekitar lima menit. Pintu masuk utama terbuka, kemudian tampak seorang
gadis cantik yang didampingi beberapa pelayan di belakangnya berjalan dengan
anggun memasuki kediaman.
Mengingat kali ini adalah
hubungan antara tuan rumah dan tamu, kami dari pihak tuan rumah yang lebih dulu
menghampirinya.
“Selamat datang di
kediaman kami. Saya Alan Clover, kepala Keluarga Clover. Dan di sebelah kanan
saya ini adalah putra saya, Arl.”
“Saya Arl Clover. Senang
bertemu dengan Anda.”
Gadis itu perlahan
mengangkat ujung roknya dan menunduk dengan sopan untuk menanggapi sambutan
kami.
“Saya Christa Muscat.
Terima kasih banyak karena bersedia menampung orang seperti saya.”
Rambut peraknya yang lurus
memanjang hingga ke pinggang, dipadukan dengan sepasang mata bulat yang indah
berwarna hijau zaitun layaknya batu peridot.
Meski auranya terasa
dewasa, raut wajahnya masih menyiratkan kesan polos dan muda.
Sesuai rumor yang beredar,
dia memang seorang gadis yang tidak kalah cantik dari Rena.
“Alan-sama. Setelah ini,
bolehkah saya meminta waktu Anda untuk membicarakan perihal kedatangan saya
ini?”
“Kami sudah menyiapkan
ruangan untuk berbicara. Jika Christa-jou tidak keberatan, kita bisa langsung
menuju ke sana.”
“Terima kasih banyak.”
Karena pembicaraan akan
dilakukan setelah barang bawaan diletakkan, rombongan Christa pun mulai bergerak
dipandu oleh Bertrand yang bersiaga di dekat kami.
“Arl.”
“Ada apa, Ayahanda.”
“Menurutku, dia sama
sekali tidak terlihat seperti wanita yang baru saja diputus tunangannya.”
“...”
Aku juga berpikir seperti
itu. Bahkan dari percakapan singkat tadi, sifatnya yang anggun layaknya seorang
wanita terhormat sangat terasa.
“Ini berbeda, ya.”
“? Apanya yang berbeda?”
“Tidak, bukan apa-apa.
Sebaiknya kita juga segera menyusul.”
“Kau benar.”
Kami pun melangkah menuju
aula utama untuk mendengarkan penjelasan mengenai situasi yang menimpa Christa.
※※※
Tidak lama setelah menaruh
barang-barangnya di kamar yang kami sediakan, Christa mendatangi ruangan tempat
kami menunggu.
“Sekali lagi. Saya ucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah mengizinkan saya untuk tinggal
di sini.”
“Kami justru merasa
terhormat bisa menjamu orang seperti Christa-jou. Walaupun tempat ini jauh dari
kata mewah, kami harap Anda bisa bersantai selama berada di sini. Kalau begitu,
mari kita langsung saja...”
“Baik.”
Setelah mendapat dorongan
dari Alan, Christa pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya
hingga ia berakhir di sini.
Isi ceritanya, lagi-lagi
terdengar sangat familier dengan kisah-kisah di kehidupanku yang sebelumnya.
Mantan tunangannya, sang
Putra Mahkota Teokrasi Dorian, Bruno Dorian, rupanya sangat terkenal sebagai
pria hidung belang. Ketika Christa menegur sifat buruknya yang sudah kelewatan
itu, ia malah diputus tunangannya secara sepihak.
Diputuskan pertunangannya
secara paksa oleh Pangeran Bodoh. Ini adalah skenario template yang
sangat umum. Dan dalam skenario seperti ini, wanita yang menjadi korban
pembatalan pertunangan sudah pasti adalah wanita yang baik hati.
Harapan untuk menempuh
rute Nona Villainess seketika lenyap begitu saja.
Kembali ke topik utama, meski
kesalahan ada di pihak sang Putra Mahkota, keluarga dari pihak wanita yang
dibatalkan pertunangannya pasti akan terkena dampak buruk pada reputasi mereka.
Ditambah lagi, perasaan Christa sendiri tampaknya cukup terpukul atas kejadian
ini.
Oleh karena itu, ayah
Christa yang ingin melindungi putrinya dari rumor miring tersebut, meminta
bantuan kepada Kerajaan Suci yang memiliki hubungan baik dengan mereka.
“Pasti sangat berat bagi
Anda.”
“Tidak, ini semua terjadi
karena kekurangan diri saya sendiri...”
Christa menanggapi ucapan
Alan dengan rendah hati, dan tidak ada sedikit pun kesan kepura-puraan dalam
sikapnya. Ia adalah definisi sesungguhnya dari seorang wanita bangsawan sejati.
“Saya memahami situasinya.
Terkait dengan hal tersebut, kira-kira berapa lama Anda berencana untuk tinggal
di sini?”
“Mengenai hal itu, saya
belum bisa memastikannya. Setidaknya sampai sentimen negatif terhadap Keluarga
Muscat di Teokrasi mulai mereda... Saya mohon maaf.”
“Anda tidak perlu meminta
maaf. Saya mengerti mengenai masa tinggal Anda. Keluarga Clover sama sekali tidak
keberatan walau Anda menginap dalam waktu lama. Rena.”
“Ada apa, Ayah.”
“Bisa tolong jaga Christa-jou?”
“Baik. Tidak masalah”
“Begitulah. Jadi, jika ada
masalah, silakan bicarakan padanya.”
“Terima kasih banyak.”
“Baiklah, kurasa pembicaraan
kita cukup sampai di sini saja.”
Sebagian besar hal yang
ingin ditanyakan oleh Keluarga Clover telah terjawab, sehingga pertemuan
tersebut pun dibubarkan.
Saat Alan dan Lucy
meninggalkan ruangan dan aku hendak menyusul mereka, Rena menyapa Christa.
“Christa-sama, jika ada sesuatu
yang membuat Anda kesulitan, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan saya.”
“Terima kasih, Rena-sama.
Dan tolong, Anda tidak perlu memakai bahasa formal kepada saya.”
“Jika begitu, saya juga
akan merasa lebih tertolong jika anda melakukan hal yang sama.”
“Arl-sama, kuharap Anda
juga bersedia memperlakukanku seperti Rena-sama.”
“Kalau begitu, aku juga
ingin kamu memperlakukanku sama seperti kamu memperlakukan Rena.”
“Aku mengerti.”
Dengan begini, aku bisa
tenang.
Agar tidak mengganggu
percakapan mereka berdua, aku diam-diam bersiap meninggalkan ruangan. Namun
tiba-tiba, Rena berlari menghampiriku.
“Arl.”
“Ada apa, Rena.”
“Malam ini, ada hal
penting yang ingin kubicarakan, apa kamu punya waktu?”
Hal penting?
“Boleh saja.”
“Terima kasih. Kalau
begitu, nanti malam aku akan datang ya.”
“Ya, aku mengerti.”
Setelah menyelesaikan
urusan yang mirip laporan tersebut, Rena bergegas kembali mengobrol dengan
Christa.
Kira-kira apa yang ingin
dia bicarakan?
Entah perasaanku saja,
tapi nada suara Rena tadi terdengar agak lesu... Yah, nanti malam juga aku akan
tahu.
Aku memutuskan untuk
memikirkannya nanti saja, lalu melangkah meninggalkan ruangan.
※※※
Malam harinya, saat
seluruh penghuni kediaman telah kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat,
Rena datang mengunjungiku sesuai janjinya.
Sebagai catatan, kami
sepakat untuk tidur di kamar terpisah hingga kami resmi menikah nanti.
Begitu Rena duduk di
sampingku di tepi tempat tidur, aku pun bertanya padanya.
“Jadi, apa yang ingin kamu
bicarakan?”
“Tentu saja, ini tentang Christa.”
Rena menatapku dengan
tatapan lurus, seolah telah membulatkan tekadnya. Melihat sikap Rena yang
seperti itu, tanpa sadar aku pun ikut merasa tegang.
“Arl, bagaimana rencanamu
terhadap Christa-san?”
“Rencana apa maksudnya?”
“Maksudku, apakah kamu
berniat menerimanya sebagai selir?”
“—Hah?”
Tunggu sebentar, dari mana
asal kesimpulan itu.
“Rena.”
“Ya.”
“Aku ini hanya setia
padamu, Rena.”
“Ya... eh?”
Rena memiringkan kepala
dengan bingung dan tampak terkejut, kemudian rona merah perlahan menjalar di
pipinya.
“Sepertinya kamu salah
paham. Aku sama sekali tidak berniat mengambil selir. Bagiku, Memiliki Rena
seorang saja sudah lebih dari cukup.”
“—Ghk, te-terus kenapa
kamu menerima permintaan ini...”
“I-Itu...”
Tentu saja karena aku
berutang budi yang sangat besar pada Yang Mulia, dan Rena tidak tahu kalau aku telah
melakukan banyak hal di balik layar hingga ia bisa datang ke sini.
“A-Aku hanya murni ingin
bertemu dengan putri bangsawan dari negara lain, itu saja.”
Itu bukan kebohongan.
Keluarga Clover tidak
punya kesempatan untuk terlibat dalam urusan diplomasi, jadi kesempatan untuk bertemu
bangsawan dari negara lain sangatlah berharga.
“Benarkah begitu?”
“Ya. Aku bersumpah atas
nama Yang Mulia Raja.”
Meski aku sudah memakai
sumpah paling suci di negeri ini, raut keraguan masih tersisa di wajah Rena.
Aku pun memantapkan hati, lalu
perlahan menarik Rena dan memeluknya dengan lembut.
Jika kata-kata tidak
mempan, aku hanya harus membuktikannya dengan tindakan.
“—Ghk, A-Arl...!?”
“Dengan begini, Rena sudah
percaya padaku?”
“I-Iya. Aku minta maaf
karena sudah memperlihatkan sisi yang memalukan ini. K-Karena itu... uuuh.”
Di dalam pelukanku, pundaknya
menyusut karena malu dengan wajah yang memerah padam. Rasanya aku sangat ingin
memeluknya lebih erat lagi.
Sambil berusaha menahan
dorongan itu, aku tertawa kecil dengan nada bercanda.
“Lagipula, kalau aku punya
selir, Rena pasti akan sedih, ‘kan?”
Terus terang saja,
memiliki selir itu tidak masuk akal bagiku.
“Rena?”
Entah kenapa, Rena justru
tampak bingung menanggapi candaanku. Terlebih lagi sepertinya ia benar-benar
bingung, sampai rona merah di wajahnya kini telah menghilang.
“Kamu tidak suka aku
memiliki selir, ‘kan?”
“Bukan, bukannya tidak
suka...”
“Eh, kamu tidak
keberatan?”
“Bagi laki-laki bangsawan
lain, memiliki satu atau dua selir adalah hal yang wajar... lagipula...”
Dengan nada sedikit
canggung, atau lebih tepatnya ragu-ragu, Rena melanjutkan ucapannya.
“Bagiku... aku juga merasa
akan lebih baik jika ada teman sesama perempuan untuk diajak mengobrol atau
semacamnya...”
“—Ghk!?”
Di wilayah perbatasan ini,
aku sempat bermimpi menghabiskan waktu berdua dengan bahagia bersamanya. Namun,
tampaknya itu hanyalah pemikiran egoisku semata.
Memang benar, wilayah ini
adalah tempat yang sepenuhnya asing baginya. Jadi wajar saja jika Rena
menginginkan teman perempuan yang bisa diajak bicara dengan santai.
Kecerobohan macam apa ini.
Aku merutuki kedangkalan
pemikiranku sendiri di dalam hati.
“Aku minta maaf, Rena. Aku
kurang mempertimbangkan perasaanmu.”
“—Ghk, t-tidak,
bukan begitu... jujur saja, aku juga merasa... sedih kalau aku tidak bisa
memonopolimu seutuhnya... tunggu, Arl!”
Aku memeluk Rena dengan
erat karena sudah tidak mampu lagi untuk menahan perasaanku.
Entah kenapa, Hari ini Rena
terlihat jauh lebih mempesona dari biasanya. Apakah secara tidak sadar, Rena
sedang mencoba bersaing dengan Christa?
Mungkin aku terlihat terlalu
percaya diri, tapi jika memang seperti itu, aku akan sangat bahagia.
“Tunggu, tolong hentikan
ini!”
“Ups.”
Rena, yang wajahnya
memerah hingga ke ujung telinga, akhirnya mendorongku yang pikirannya mulai
melayang tak karuan.
“H-Hari ini aku pamit
untuk tidur!”
Dengan nada sedikit ketus,
Rena berlari keluar kamarku seolah sedang melarikan diri. Ini sepenuhnya
tindakan karena rasa malu.
Un, sangat imut.
Sambil meresapi sisa-sisa
kebersamaan dengan Rena malam ini, aku merenungkan perasaan jujur yang ia
ucapkan tadi.
“Christa, ya...”
Memang benar dia bisa
menjadi teman yang memahami Rena dengan baik. Tapi, jika ditanya apakah aku
bisa mencintainya dengan tulus dari lubuk hatiku, Jawabannya adalah tidak.
Melihat masa lalunya yang
terus mengabdi pada Pangeran Sialan itu, jika kami bertunangan, Christa pasti
akan mencintaiku seumur hidupnya. Dalam artian itu, ia memang tipe yang setia.
Akan tetapi...
“Tunggu dulu, kenapa aku
malah berpikir seolah-olah dia mau menerimanya.”
Aku langsung menyanggah
pikiranku sendiri secara logis, namun jika melihat situasi Christa saat ini,
kemungkinan besar ia akan dengan mudahnya bersedia menjadi selir jika aku menawarkan
diri.
Itulah bagian yang
menakutkan.
※※※
Di saat Arl dan Rena sedang
menikmati momen kebersamaan yang manis.
“Tidak selesai-selesai...
tidak ada habisnya...!”
Di hadapan tumpukan
dokumen yang terasa tak terhingga, mantan tunangan Christa, Bruno Dorian,
mengerang penuh kekesalan.
(Ini semua salah
Christa...!)
Semenjak Christa pergi,
beban pekerjaan Bruno meningkat secara perlahan. Awalnya hanya terasa sedikit
lebih banyak dari biasanya, namun akhir-akhir ini jumlahnya terus berlipat
ganda setiap harinya.
Pada saat itulah, untuk
pertama kalinya Bruno menyadari sebuah fakta. Bahwa selama ini, hal-hal yang
seharusnya ia kerjakan sendiri, ternyata telah diselesaikan oleh Christa.
“Sial, kalau sudah
begini...!”
Meskipun Bruno enggan menerima
omelan dari gadis itu lagi, tapi itu masih jauh lebih baik dari hari-hari di
mana ia harus dikejar tumpukan dokumen.
“Aku akan membawa Christa
kembali...!”
Dan begitulah, Bruno
membuat sebuah keputusan yang sangat egois.
※※※
Pagi-pagi buta, aku sudah
berada di halaman untuk mengayunkan pedangku.
Aku belajar dari
kesalahanku karena sempat menggunakan terlalu banyak tenaga saat berlatih
bersama Rena, sekarang aku memutuskan untuk berlatih setiap hari seperti ini
selama cuaca mendukung.
Setelah merasa cukup puas
mengayunkan pedang dan mengatur napasku, aku menyadari seseorang sedang
mendekat.
“Kerja bagus, Arl-san.”
Suara itu berasal dari Christa
yang masih mengenakan pakaian santai rumahannya. Di tangannya, ia membawa
sebuah gelas kaca berisi air.
“Silakan.”
“Bolehkah? Terima kasih.”
Kebetulan aku sedang haus,
jadi ini sangat membantu.
“Sepertinya kamu sudah
mulai terbiasa dengan kehidupan di sini, ya.”
“Ya. Ini semua berkat
bantuan kalian semua.”
Sudah setengah bulan
berlalu semenjak kedatangan Christa. Karena kudengar ia selalu tinggal di kota
besar, aku sempat khawatir hidup di daerah terpencil ini akan membuatnya stres,
namun sepertinya kekhawatiranku tidak beralasan.
“Kalau kamu mengalami
kesulitan, segera katakan padaku ya.”
“Terima kasih banyak. Jika
begitu, bolehkah aku menanyakan satu hal?”
Christa melanjutkan
ucapannya dengan nada yang sedikit ragu-ragu.
“Bisakah aku diberikan
suatu pekerjaan untuk dilakukan?”
“Pekerjaan...?”
“Itu... aku merasa hanya
diriku saja yang tidak memberikan kontribusi apa pun bagi Keluarga Clover.”
“Tidak, Christa ‘kan di
sini sebagai tamu kami, jadi tidak perlu merasa seperti...”
Aku menghentikan kalimatku
di tengah jalan.
Jika melihat kepribadian Christa,
mungkin saja ia merasa bersalah karena terus-menerus merepotkan Keluarga Clover
yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.
Lagipula, jika dipikirkan
baik-baik, tinggal di wilayah terpencil seperti ini tanpa melakukan rutinitas apa
pun mungkin baginya malah terasa membosankan.
“Apa ada jenis pekerjaan
tertentu yang kamu inginkan?”
“Selain yang berhubungan
dengan pertarungan.”
“Kalau begitu, bagaimana jika
kamu membantu Rena?”
“Itu, anu... aku sudah
ditolak olehnya.”
Pantas saja Christa sampai
membicarakannya padaku, ternyata dia sudah berbicara pada Rena lebih dulu.
Mengingat kepribadian Rena,
aku kira ia akan dengan senang hati mendelegasikan beberapa pekerjaan pada
Christa, cukup mengejutkan.
“Kalau begitu, bagaimana
kalau kita bicarakan bersama Ayahanda?”
“—Ghk, apakah tidak
apa-apa?”
“Ya.”
Mengingat saat ini adalah
periode menjelang Ekspedisi Penaklukan, ini adalah waktu yang cukup sibuk
sepanjang tahun. Pasti ada pekerjaan yang bisa dilakukan oleh Christa.
“Terima kasih banyak.”
“Tidak apa-apa, hanya
masalah kecil. Lagipula, sudah hampir waktunya sarapan.”
Aku kembali ke kamar
sebentar untuk berganti pakaian, lalu berjalan menuju aula utama.
Kemudian setelah sarapan selesai,
aku bertanya pada Alan.
“Ayahanda, setelah ini,
bolehkah saya meminta sedikit waktu Anda? Christa sepertinya memiliki sesuatu
yang ingin dikonsultasikan.”
“Baiklah. Kebetulan aku
juga punya sesuatu yang harus kusampaikan pada Christa-jou.”
Sepertinya waktunya tepat,
jadi aku dan Christa langsung mengikuti Alan ke ruang kerjanya.
“Jadi, apa yang ingin dikonsultasikan?”
“Christa.”
“Alan-sama, saya minta
maaf atas permintaan yang tidak sopan ini, tetapi bolehkah saya diberikan suatu
pekerjaan?”
Mendengar permintaan
Christa, raut wajah Alan menunjukkan ekspresi terkejut.
“Kenapa tiba-tiba meminta
hal itu?”
“Saya ingin membantu
meringankan beban Keluarga Clover yang telah merawat saya, walau hanya
sedikit!”
“Ayahanda, apakah ada
tugas yang bisa dia kerjakan?”
“Biar kupikirkan... Apakah
Christa-jou memiliki pengalaman dengan pekerjaan administratif?”
“Secara garis besar saya
sudah menguasainya.”
“Kalau begitu, aku akan
memintamu membantu sebagian pekerjaan administratif kami”
“—Ghk, apa Anda
yakin? Bukankah itu berhubungan dengan keuangan keluarga?”
“Tidak masalah. Kondisi
keuangan di wilayah perbatasan ini, tidak akan memberikan kerugian meskipun diketahui
orang lain.”
“Terima kasih banyak!”
“Syukurlah kalau kamu senang
menerimanya. Apa ada hal lain yang ingin dikonsultasikan?”
“Tidak ada. Terima kasih.”
“Kalau begitu, sekarang giliranku.
Ini surat dari Yang Mulia yang tiba tadi malam.”
Bersamaan dengan kata-kata
itu, Alan mengeluarkan sepucuk surat.
“Dari Yang Mulia? Terkait
masalah apa?”
“Tampaknya Bruno-dono
telah mendatangi Istana Kerajaan dan menuntut agar Christa-jou diserahkan
kembali padanya.”
“—Ghk, Yang
Mulia...”
Mendengar mantan
tunangannya sendiri menuntutnya kembali, raut wajah Christa memucat seketika.
“Lalu, apa yang harus kita
lakukan?”
“Yang Mulia meminta agar
keputusan untuk kembali atau tidak diserahkan sepenuhnya kepadamu, Christa-jou.”
Itu artinya, jika Christa
menolak, pihak Kerajaan Suci akan menghormati keputusannya.
“Bagaimana, Christa?”
“A-Aku—“
Christa menatapku dan Alan
secara bergantian.
“Christa-jou. Tolong
jangan pikirkan tentang kami, sampaikan saja keinginanmu dengan jujur.”
“—Ghk, kalau begitu...
aku tidak ingin kembali.”
“Baiklah. Kalau begitu, Aku
akan menyampaikannya kepada Yang Mulia sesuai perkataanmu.”
“Saya benar-benar minta
maaf. Mohon bantuannya.”
Karena Alan harus segera
menulis surat balasan, aku dan Christa pun pamit undur diri dari ruang
kerjanya.
※※※
“Padahal aku sudah
bersusah payah datang kesini...!”
Di salah satu ruangan di
Istana Kerajaan Suci, Bruno tampak murka setelah mendengar keputusan Christa.
Bruno mengira jika ia
sendiri yang turun tangan menjemputnya, Christa akan langsung setuju untuk
kembali padanya.
“Lagipula, apa-apaan
dengan sikap Alphonse itu...!”
Normalnya, dia harus
menuruti permintaan Putra Mahkota dari Kerajaan Teokrasi seperti Bruno, tapi kenapa
dia malah memprioritaskan keinginan Christa?
Bruno merasa otoritasnya
sebagai seorang anggota kerajaan direndahkan, sehingga amarahnya pun semakin
meluap.
“Aku tidak bisa pulang
dengan tangan kosong begitu saja. Aku harus memikirkan sebuah rencana.”
Saat raut wajahnya
mengkerut sambil menyusun rencana, tiba-tiba masuk laporan tentang kedatangan
seorang tamu.
Sebenarnya saat ini Bruno
merasa sedang tidak ingin menemui siapa pun. Tetapi, mengingat dirinya berkunjung
secara mendadak, posisinya tidak memungkinkan untuk mengabaikan pihak dari Kerajaan
Suci begitu saja.
Dengan terpaksa Bruno menuju
ke ruang tamu, di sana seorang pria berambut pirang dengan sepasang mata ungu
telah menunggunya.
Wajah pria itu agak tirus,
namun ketampanan dan pembawaannya menunjukkan dengan jelas bahwa ia adalah
seorang pria dari kelas atas.
Pria tampan itu berdiri
ketika melihat kedatangan Bruno dan membungkuk memberikan salam hormat dengan
elegan.
“Suatu kehormatan bagi
saya dapat bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Nama saya Leon Hyacinth.
Terima kasih karena Anda bersedia menerima kunjungan mendadak ini.”
“Keluarga Hyacinth...
kalau tidak salah, kalian adalah keluarga Marquis di Kerajaan Suci, ‘kan?”
“Sebuah kehormatan besar bagi
saya karena Pangeran Bruno berkenan mengingatnya.”
“Hmph, jadi, apa urusanmu?”
Bruno duduk bersandar dengan
angkuh di hadapan pria yang bernama Leon itu, lalu mendesaknya untuk segera
bicara.
“Sebenarnya, kedatangan
saya kemari membawa sebuah penawaran khusus untuk Anda, Pangeran Bruno.”
“Sebuah penawaran...?”
“Benar.”
Setelah mendengar
penawaran dari Leon, Bruno menyunggingkan senyum menjijikkan seperti biasanya.
Usulan Leon adalah, karena
negosiasi dengan Alphonse tidak membuahkan hasil, Leon akan mengurus segala
persiapan supaya Bruno dapat langsung berkunjung ke kediaman Keluarga Clover
dan bernegosiasi sendiri.
“Kau benar-benar bisa
melakukannya?”
“Tentu. Kebetulan sekali,
adik perempuan saya menikah dengan Keluarga Clover.”
“Jadi maksudmu tidak
masalah jika memanfaatkan koneksi itu?”
“Tepat sekali.”
Setelah berpikir sejenak,
Bruno menyunggingkan senyum yang lebih licik dari sebelumnya.
“Begitu ya... baiklah. Aku
terima tawaran itu.”
“Terima kasih banyak. Saya
akan menghubungi Anda kembali begitu persiapannya selesai.”
“Aku lupa memberitahumu,
selesaikan semuanya dalam waktu tiga hari.”
Setelah mengucapkan
kalimat tersebut, Bruno bergegas meninggalkan ruangan.
Kemudian, Leon meludah
jijik ke arah pintu yang dibiarkan terbuka itu.
“Sesuai rumor, benar-benar
Pangeran yang bodoh.”
Secara umum, mustahil bagi
seorang bangsawan biasa untuk secara sepihak memandu anggota kerajaan dari
negara lain menyusup ke wilayah lain.
Dan yang paling krusial,
Keluarga Hyacinth saat ini sedang berada dalam masa keruntuhan dan hampir tidak
memiliki kekuasaan sama sekali.
Jika Bruno sedikit saja
menaruh perhatian pada informasi dari negara tetangga, fakta-fakta ini sangat
mudah diketahui.
Tetapi, berkat kebodohan
Bruno, Leon justru bisa memanfaatkannya.
“Rena. Aku tidak akan
pernah membiarkan hanya dirimu saja yang bahagia.”
Leon─kakak laki-laki Rena─menggumamkan
kata-kata itu sebelum melangkah keluar meninggalkan ruangan.
※※※
Sekitar setengah bulan terlah
berlalu sejak Christa menyatakan bahwa ia tidak berniat untuk kembali.
“Saya benar-benar memohon
maaf yang sebesar-besarnya!”
Tepat setelah sarapan
selesai, Christa menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Alan dan seluruh
anggota Keluarga Clover.
Alasannya tidak lain
adalah karena informasi genting yang dibawa oleh utusan dari Yang Mulia pagi
itu.
Bruno dikabarkan sedang
menuju Wilayah Clover dengan bantuan pihak yang tidak dikenal. Tujuannya adalah
untuk membawa Christa pulang secara langsung.
Terlebih lagi, posisinya
dilaporkan telah berada sangat dekat dari kediaman kami.
“Christa-jou, tolong
angkat kepalamu.”
“T-Tapi...!”
“Meskipun pihak yang kita
hadapi adalah keluarga kerajaan, ini sudah termasuk masalah internasional. Kami
akan mengambil langkah tegas dan meminta Bruno-dono untuk kembali.”
“Alan-sama...”
Pada praktiknya, setiap
kunjungan memasuki wilayah negara lain harus disertai dengan pemberitahuan
terlebih dahulu.
Tindakan Bruno kali ini
benar-benar mengabaikan protokol tersebut. Sesuai perkataan Alan, ini sudah
termasuk masalah internasional.
“Christa. Sebaiknya kita
serahkan masalah ini pada Ayah.”
“Rena-san... baiklah.”
‘—Ayahanda, aku
percayakan padamu ya.’
‘—Ya, aku
mengerti.’
Alan mengangguk menanggapi
tatapanku. Dan tepat di momen itu, pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar.
“Tuan Besar—!”
Setelah pintu itu terbuka,
terlihat Bertrand yang terengah-engah dan bahunya naik turun.
“Apa yang terjadi?”
“Ini tentang—“
“—Ghk, begitu ya.”
Mendengar apa yang
dibisikkan Bertrand, ekspresi Alan seketika berubah menjadi sangat serius.
“Ada apa, Ayahanda?”
“Bruno-dono ternyata sudah
berada di depan kediaman kita.”
“Apa...!?
Perkataan Alan membuat semua
orang yang ada di ruangan itu tercengang. Sepertinya, utusan Yang Mulia
benar-benar datang di saat-saat terakhir.
“Alan, apa yang akan kita
lakukan.”
“Umm...”
Alan tampak berpikir keras
menanggapi pertanyaan Lucy.
“Pertama-tama aku harus
keluar dan bernegosiasi dengannya. Tidak ada pilihan lain. Arl.”
“Ya.”
“Jika memungkinkan, aku
ingin kau ikut menemaniku...”
Aku tidak tahu seberapa
besar kemampuanku menghadapi anggota kerajaan negara lain, tapi aku adalah pria
yang pernah bernegosiasi langsung dengan Yang Mulia (Alphonse).
Setidaknya aku bisa
sedikit berguna bagi Alan.
“Saya mengerti.”
“Terima kasih. Bertrand.”
“Siap.”
“Segera persiapkan
penyambutan untuk Bruno-dono.”
“Baik, segera laksanakan.”
Bertrand bergegas
meninggalkan ruangan dengan langkah cepat setelah menerima perintah tersebut.
“Lalu Lucy, Rena. Aku
serahkan Christa pada kalian berdua.”
“ “Baik.” “
Keduanya mengangguk, lalu
menuntun Christa—yang masih gemetar karena rasa bersalah—keluar dari ruangan
secara perlahan sambil mengusap punggungnya.
“Nah, Arl.”
“Ya.”
“Sebelum negosiasi, ada
sesuatu yang harus kuberikan padamu. Surat ini titipan dari Yang Mulia
untukmu.”
Sambil berkata seperti itu,
Alan mengeluarkan sepucuk surat.
“Sebenarnya, aku
diinstruksikan untuk memberikan ini padamu saat Christa-jou siap meninggalkan kediaman
kita. Tetapi, utusan yang datang pagi ini membawa perintah agar segera
menyerahkannya padamu.”
Sebenarnya ada apa ini.
Aku menerima surat dari
Yang Mulia.
“Aku akan mengurus
persiapan negosiasinya terlebih dahulu. Temui aku begitu kau selesai membaca
surat itu.”
Setelah Alan melangkah
pergi dan meninggalkanku sendirian, aku membaca isi surat tersebut. Dan
kemudian—
“Apa-apaan... ini...?”
Sebenarnya, apa yang
sedang Yang Mulia pikirkan?
※※※
“Aku adalah Putra Mahkota
Kerajaan Teokrasi Dorian, Bruno Dorian!”
Pemuda berumur dua puluhan
dengan rambut dan sepasang mata kuning keemasan yang menjadi ciri khas
bangsawan Dorian, memperkenalkan dirinya dengan lantang saat aku dan Bertrand
menyambutnya di pintu masuk.
Aku sudah mendengar sebelumnya
kalau dia seorang pria tampan, dan sesuai rumor, penampilannya sangat memukau. Hanya
saja, mungkin karena dikuasai oleh hawa nafsunya, tatapan matanya terlihat
keruh.
“Senang bertemu dengan
Anda untuk pertama kalinya. Saya putra dari pemimpin Wilayah Clover, Arl
Clover. Merupakan suatu kehormatan dapat menyambut Anda.”
“Apa-apaan ini, aku yang
seorang Pangeran sudah datang ke sini, tapi pemimpin wilayah ini bahkan tidak
menyambutku?”
Pria yang tidak tahu sopan
santun sepertimu tidak pantas disambut langsung oleh Alan.
Sambil menahan amarahku,
aku berusaha menjawab dengan nada datar tanpa mengubah ekspresi.
“Pemimpin keluarga sedang
menunggu Bruno-sama di ruangan lain. Mari saya tunjukkan jalannya.”
“Hmph, sudahlah. Cepat
antarkan aku.”
“Baik.”
Syukurlah Yang Mulia
Kerajaan Suci tidak memiliki karakter seperti Bruno.
Dengan perasaan lega dari
lubuk hati, aku memandu Bruno menuju ruangan di mana Alan menantinya.
“Senang bertemu dengan
Anda untuk pertama kalinya. Saya Alan Clover, kepala Keluarga Clover.”
“Bruno.”
Setelah menyebutkan
namanya dengan asal, Bruno duduk berhadapan dengan Alan.
Aku berdiri di belakang
Alan, mengamati jalannya situasi.
“Kalau begitu, boleh saya menanyakan
kembali apa keperluan Anda?”
“Tentu saja tentang
Christa. Di mana Christa sekarang?”
“Christa-jou sedang berada
di ruangan terpisah.”
“Kalau begitu, cepat
serahkan dia padaku.”
“Mohon maaf, hal itu tidak
bisa kami lakukan.”
“Apa?”
Tanpa gentar sedikit pun
menghadapi tekanan Bruno, Alan menjawab dengan lugas.
“Sesuai dengan apa yang
pernah kami sampaikan sebelumnya, Christa-jou tidak memiliki niatan untuk
kembali kepada Anda.”
“Alasan semacam itu tidak
ada hubungannya.”
“Tentu saja berhubungan.
Kami telah diinstruksikan oleh Yang Mulia Alphonse untuk selalu menghormati
keinginan Christa-jou.”
“—Ghk, sungguh
loyal sekali untuk ukuran bangsawan perbatasan.”
Bruno menatap ke arahku
dan Alan secara bergantian dengan tatapan merendahkan, lalu melanjutkan.
“Karena kalian yang
memintanya, mari kita lakukan negosiasi. Berapa yang kalian inginkan?”
“Apa maksud Anda?”
Menanggapi pertanyaan
Alan, Bruno tertawa sinis.
“Kalian para bangsawan
perbatasan pasti sedang kesulitan soal uang, bukan? Aku pribadi yang akan
membayarkan biaya hidup selama Christa merepotkan kalian di sini.”
Sikapnya yang secara
terang-terangan merendahkan keluarga bangsawan perbatasan, tangan Alan yang
tertumpu di pahanya mengepal keras.
Jelas sekali bahwa di
dalam hatinya, amarah Alan telah memuncak.
“Kami tidak membutuhkan
uang.”
“Jangan bohong.”
“Saya tidak sedang
berbohong.”
“—Ghk, beraninya
kau menolak kebaikanku ini.”
Bruno mengerutkan dahi,
seolah benar-benar tidak habis pikir dengan penolakan kami.
“Sudah berkali-kali saya
katakan, keluarga kami tidak akan mengabaikan keinginan Christa-jou.”
“—Ghk, apa boleh
buat. Jika terus begini, pembicaraan ini tidak akan selesai.”
Bruno bangkit berdiri sembari
mengucapkan kata-kata itu.
“Sejauh pengamatanku, kediaman
ini hanya memiliki pelayan dalam jumlah minimum. Dan aku sama sekali tidak
melihat adanya penjaga.”
Cara bicaranya barusan,
entah kenapa mengundang firasat buruk.
“Apa yang ingin Anda
lakukan?”
“Jawabannya mudah. Aku
akan menyuruh para penjaga yang kubawa untuk menggeledah seluruh rumah ini.”
“—Ghk, apakah Anda
mengira tindakan semacam itu dapat dibenarkan?”
“Tentu saja bisa. Karena
aku adalah Bruno Dorian.”
Pernyataan tersebut
sungguh tidak masuk akal, namun Bruno benar-benar berniat melakukannya.
Satu-satunya yang sanggup
bertarung secara langsung di Keluarga Clover hanyalah aku, Alan, dan Bertrand.
Situasi ini
sungguh-sungguh gawat.
“Ada apa, kalau tidak mau
cepat serahkan Christa...!”
Bruno membentak seolah
memandang rendah kami sambil menyunggingkan senyum yang menjijikkan.
Di detik itu pula, pintu
ruangan terbuka dengan keras.
“Christa-jou...!?”
Dan yang membuka pintu
tersebut adalah Christa sendiri. Begitu masuk ke dalam ruangan, Christa langsung
menuju ke arah Bruno. Dan kemudian—
“Yo, Christa. Sudah lama
ti—buagh...!”
Christa menampar pipi
Bruno sekuat tenaga.
“Christa, apa yang kau
lakukan padaku...!”
Bruno berteriak dengan
wajah memerah karena marah.
Kenapa Christa ada di
sini...
Meski sadar harus
melakukan sesuatu, otakku tidak mampu mencerna kejadian ini, kurasa Alan juga
merasakan hal yang sama denganku.
Mengabaikan aku dan Alan,
Bruno melangkah mendekati Christa.
“Kau berani mengangkat
tangan padaku. Ini adalah pemberontakan terhadap keluarga kerajaan!”
“—Ghk.”
Dilihat dari sudut pandang
objektif, tindakan Christa menampar anggota kerajaan tidak dapat disangkal. Meskipun
Bruno yang bersalah, itu tetap sebuah penghinaan terhadap pihak kerajaan.
Mendengar fakta itu
diungkit, raut wajah Christa sedikit menegang.
“Ada apa? Ayo katakan
sesuatu?”
“—“
“Tentu saja kau tidak bisa
berkata apa-apa. Karena aku adalah keluarga kerajaan, dan kau hanyalah seorang
putri Duke.”
Bruno tertawa merendahkan
lalu melanjutkan,
“Akan kuberikan satu
kesempatan bagimu.”
“Christa. Aku sangat
menghargai kemampuan administratifmu. Karena itu, mengabdilah padaku seumur
hidupmu sebagai pegawaiku. Jika kau setuju, aku akan menganggap penghinaan ini
tidak pernah terjadi—“
“Aku menolak keras
tawaranmu.”
“Ap—buagh...!?”
Christa mendaratkan satu
lagi tamparan keras di wajah Bruno.
Kekuatannya kali ini jauh
lebih besar dari yang sebelumnya. Saking kuatnya, Bruno sampai terjatuh ke
lantai.
“Kamu ini memang orang
yang sangat bodoh!”
Kata-kata kasar yang tidak
pernah terbayangkan akan keluar dari mulut Christa yang biasanya tenang, kini
meluncur deras.
Menerima hinaan itu, Bruno
seketika bangkit, dengan mata memerah memancarkan amarah.
“Tidak hanya melakukan
kekerasan padaku, kau bahkan juga berani menghinaku?!”
“Apa yang salah dengan
menyebut orang bodoh dengan sebutan bodoh!”
“Apa kau bilang...
Christa, kau akan dieksekusi sekarang juga!”
“Aku sama sekali tidak
peduli. Daripada harus mematuhi perintahmu, dieksekusi adalah pilihan yang jauh
lebih baik!”
“Apa—“
Mendengar pernyataan yang
begitu berani, bahkan Bruno sekalipun tidak bisa menyembunyikan
keterkejutannya.
“Takkan kumaafkan, aku
takkan memaafkanmu, Christa!”
Seolah telah kehilangan
akal sehatnya, Bruno mengangkat tangannya untuk memukul Christa.
Sebejat apa pun
kelakuannya, Bruno tetaplah seorang anggota kerajaan. Tentu saja, ia memiliki
setidaknya dasar-dasar ilmu bela diri.
Dengan kemampuan Christa
saat ini, mustahil baginya untuk menghindari pukulan dari Bruno.
Apa yang harus kulakukan,
bagaimana ini...
Otakku berputar keras
mencari cara untuk mengatasi situasi yang rumit ini.
Di tengah kepanikan itu, isi
surat yang kubaca tepat sebelum negosiasi terlintas di benakku.
Dengan ini, aku bisa
melakukannya...!
Andaikan aku memiliki
waktu sedikit lebih banyak, mungkin ada cara penyelesaian yang lebih damai. Tetapi,
Sekarang ini sudah tidak ada waktu lagi.
Aku memutuskan untuk
mengambil tindakan nekat.
“—Ghk, apa yang kau
lakukan...!?”
Aku menangkis pukulan yang
diarahkan ke Christa menggunakan telapak tanganku sendiri.
“Mohon maaf. Saya tidak
bisa diam saja melihat hal ini lebih jauh lagi.”
“Beraninya bangsawan
pinggiran dari negara asing sepertimu ikut campur dalam urusan kami.”
“Apa yang Anda katakan, Bruno-sama.”
“Hah?”
Aku menarik bahu Christa
yang berada tepat di belakangku dan merangkulnya.
“Keluarga kami telah
berencana untuk menjadikan Christa sebagai selirku di kemudian hari.”
“—Ghk, se-selir,
kau bilang...?”
“Benar.”
Di dalam surat dari Yang
Mulia, tertulis informasi seperti ini.
Bahwa ayah Christa rupanya
sedang berdiskusi dengan Kerajaan Suci tentang kandidat keluarga yang cocok
untuk menikahi putrinya. Dan entah kenapa, mereka menilai Keluarga Clover
sebagai pilihan yang tepat.
Aku menemukan sebuah ide
setelah mengingat informasi itu secara spontan.
Ide itu adalah, aku hanya
harus berpura-pura menjadikan Christa sebagai tunanganku. Dengan begitu,
Keluarga Clover memiliki alasan kuat untuk melindungi Christa di tempat ini.
Sejak awal aku sudah tahu
bahwa memaksa Bruno mundur─meski hanya untuk sementara waktu─dengan
mengandalkan alasan ‘menghormati keinginan Christa’ saja, adalah hal yang sangat
sulit.
Yang Mulia pasti
memerintahkanku membaca surat itu karena mempertimbangkan hal ini.
Tentu saja, hatiku
seutuhnya hanya untuk Rena, jadi skenario ini hanya berlaku sampai Bruno
berhasil diusir. Jika situasi ini berhasil teratasi, tidak masalah jika pertunangan
ini hanya sekadar dalih belaka.
Akan tetapi, strategi ini
memiliki satu kelemahan. Kelemahan yang sangat mudah disadari.
“Sayang sekali, bangsawan
perbatasan. Jangan berbohong seperti itu.”
Dan sepertinya, dia sudah
menyadarinya.
“Berbohong?”
“Wajah Christa. Dari yang
kulihat, dia tampak kebingungan dengan omong kosongmu itu lho?”
Aku menoleh ke arah
Christa, raut mukanya terlihat sedang berusaha keras untuk memahami apa yang
sedang terjadi.
Sangat wajar jika Christa
berekspresi seperti itu setelah tiba-tiba disebut sebagai selir.
Aku berharap Christa bisa dengan
cepat menyadari rencanaku, namun pada tahap ini sepertinya itu hal yang mustahil.
Oleh karena itu, aku harus melanjutkan aktingku agar Christa memahami niatku.
“Tentu saja ia bingung. Karena
cinta yang dipendamnya tiba-tiba saja terwujud.”
“Cinta, kau bilang?”
“Benar. Dia sudah lama
memendam perasaan padaku. Benar, kan?”
Luar biasa, Christa. Sepertinya
dia sudah paham maksudku dari percakapan tadi.
Pipinya sedikit merona
merah saat Christa memalingkan wajah dariku.
“Namun, saya sudah
memiliki Rena sebagai istri sah. Dan saya sudah bertekad untuk setia hanya
padanya.”
“Maksudmu Christa sudah
menyerah mendapatkanmu?”
“Tepat.”
“Lelucon macam apa ini.
Lalu kenapa sekarang!”
“Itu karena keteguhan hati
yang baru saja Christa perlihatkan. Itulah yang membuatku jatuh hati padanya!”
Aku menjawab tanpa ragu. Maaf
ya, Rena, namun kali ini aku tidak berbohong.
“Aku sama sekali
tidak peduli. Daripada harus mematuhi perintahmu, dieksekusi adalah pilihan
yang jauh lebih baik!”
Kalimat itulah yang
mengubah pandanganku terhadap Christa.
Awalnya, Christa selalu terlihat
sebagai gadis bangsawan yang anggun dan lemah lembut. Oleh karena itu, aku
pikir meskipun Christa orang yang setia, dia bukanlah orang yang tangguh.
Tapi nyatanya, Christa
memiliki keberanian untuk mempertahankan tekadnya bahkan jika harus
mempertaruhkan nyawanya.
“Kau ini, bicara apa...”
Bruno terlihat kebingungan
saat aku membeberkan preferensiku secara terang-terangan, tapi aku juga tidak
tahu harus bereaksi apa melihat responsnya.
“Saya hanya menjawab
alasan mengapa saya mengambil Christa sebagai selir.”
“...Ghk.”
Mungkin merasa tidak ada
untungnya berurusan denganku, Bruno mengarahkan pandangannya pada Christa.
“Christa, apa kau
benar-benar menyukai pria seperti ini?”
“I-Itu...”
“Sudah kuduga, ini sulit
dipercaya.”
Sambil memamerkan senyum
kemenangan, Bruno kembali berkata.
“Christa. Jika kau
benar-benar mencintai pria ini, tunjukkan buktinya padaku!”
Seketika Christa
mengarahkan pandangannya ke arahku.
Aku tahu ini pasti
memalukan baginya, tapi kali ini aku hanya bisa mengandalkan Christa.
Mengingat sifat Christa
yang pemalu, mungkin memeluk lenganku saja sudah cukup, ‘kan?
“—Saya mengerti.”
Christa menjawab dan berbalik
ke arahku setelah sempat terdiam seolah untuk membulatkan tekadnya. Kemudian—
“Apa—...!?”
Bruno terbelalak kaget
melihat tindakan yang diambil Christa.
Tindakan yang diambil
Christa untuk membuktikan cintanya padaku adalah mencium pipiku.
Namun, itu hanya apa yang
terlihat oleh mata Bruno.
Kenyataannya, Christa
tidak berniat mencium pipi, tapi mencoba mencium bibirku secara langsung.
Untungnya, aku berhasil
menghindar di detik-detik terakhir, sehingga bibirnya hanya mendarat di pipiku.
“Dengan ini, bagaimana?”
Setelah menciumku, Christa
bertanya dengan berani kepada Bruno.
Mengingat reaksi
terkejutnya tadi, menurutku hal ini sudah lebih dari cukup...
“H-Hanya dengan ciuman
seperti itu...!”
Dasar Pangeran Sialan yang
harga dirinya setinggi langit.
Bruno dengan keras kepala menolak
untuk mengakuinya begitu saja.
Akan tetapi, memandang
sang mantan tunangan yang keras kepala itu, Christa memamerkan senyuman
meremehkan.
“A-Apa maksud senyummu
itu!”
“Tidak, Anda ini
benar-benar orang yang...”
Melewati batas ejekan, Christa
menatap Bruno dengan tatapan penuh rasa kasihan, lalu berkata.
“Selama ini, pernahkah
saya mencium Anda?”
“Ka-kalau cuma itu sih...”
“Tidak pernah, lho. Jangankan
mencium, berpegangan tangan saja tidak pernah.”
“...Ghk!?”
Aku merasa seperti
mendengar bunyi sesuatu yang hancur berkeping-keping.
Sudah pasti itu adalah kebanggaan
Bruno sebagai seorang laki-laki atau semacamnya.
“Sepertinya, Anda sudah
mulai mengerti ya.”
“A-Aku, oleh pria macam
ini....”
“Dia jauh lebih unggul
darimu. Tentu saja, sebagai sesama laki-laki.”
“—Ghk!?
K-Kalian...!”
Bruno yang kehilangan akal
sehatnya karena tidak tahan harga dirinya diinjak-injak, menerjang ke arahku
dan Christa untuk memukul.
Sayangnya, Bruno bukan
tandinganku.
“—Ghk, bangsawan
perbatasan sepertimu...!”
Aku tanpa ampun
mendaratkan pukulan di leher Bruno yang terus memberontak hingga membuatnya
pingsan.
Ini adalah tindakan yang
wajar karena keselamatan pasanganku sedang terancam.
“Ayahanda.”
“Arl. Tadi, pembicaraan
mengenai selir itu... maksudnya bagaimana?”
“Penjelasannya akan
kuberikan nanti. Sekarang yang penting adalah mengurus Bruno-sama dulu.”
“—Ghk, b-baiklah.”
Setelah itu, aku mengatakan
kepada Alan “Mengenai Christa, tolong percayakan saja padaku.” lalu memintanya
untuk meninggalkan ruangan.
“Nah.”
Seiring situasi yang mulai
terkendali, aku menatap ke arah Christa yang sedang duduk di kursi.
Dari wajahnya terlihat
jelas bahwa dia sedang kelelahan. Meskipun dia terus bersikap berani di hadapan
Bruno, tekanan mentalnya pasti sangat besar.
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya. Daripada itu—“
Christa menatapku dengan
cemas sambil melanjutkan.
“Pasti kamu merasa tidak suka,
bukan...?”
“Tidak suka...?”
“Tentang, c-ciuman
tadi...”
Christa sepertinya
memikirkan keputusannya untuk menciumku tadi, bukan soal aku menyuruhnya
berakting.
Mungkin dia salah paham
karena aku menghindarinya tadi.
“Itu semua kulakukan demi Rena.”
“Demi Rena-san...?”
“Ya. Jujur saja ini
memalukan, tapi sampai saat ini aku dan Rena belum pernah berciuman.”
“—Ghk!?”
Meskipun situasinya
mendesak, aku tidak bisa membiarkan Christa menciumku sebelum aku melakukannya
dengan Rena.
“Jadi, aku menghindar
bukan karena tidak suka atau semacamnya, Christa, tenang saja.”
“Saya mohon maaf. Aku
pikir kalian berdua sudah...”
“Yah, wajar kalau kamu
berpikir seperti itu...”
Sudah dua bulan sejak aku
dan Rena mulai tinggal bersama.
Bahkan pelukan pertama
kami saja baru terjadi belum lama ini, yang artinya pergerakan kami memang
cukup lambat.
Meski begitu, perasaan di
mana jarak kami semakin terkikis sedikit demi sedikit itu sebenarnya sangat
menyenangkan.
“Pokoknya,
kesalahpahamannya sudah selesai, ‘kan?”
“Iya. Aku ini sungguh...”
Saking malunya, pipi
Christa terlihat memerah hingga ke telinga.
Sebenarnya aku ingin
membiarkannya tenang dulu, tapi aku harus segera meminta maaf karena memaksanya
berakting.
“Christa, soal tadi—“
“A-Anu...!”
Sepertinya, Christa masih
memiliki sesuatu yang ingin ia sampaikan.
“Silakan duluan.”
“Kalau begitu, anu...”
Christa menatap lurus ke
mataku dengan mata hijau zaitunnya.
“Aku... anu... Arl-san, a-a-aku
sangat mencintaimu!”
...Eh?
Barusan, apa yang Christa katakan?
Saat aku masih bengong mencoba
memahami situasi, Christa berdiri dengan pipinya yang masih merona merah.
“Meskipun aku masih
memiliki banyak kekurangan, mulai sekarang aku mohon bimbingannya!”
Selesai mengucapkan
kalimat tersebut, masih dengan wajah tertutup tangannya, Christa segera berlari
meninggalkan ruangan.
“...”
Sepertinya maksud dari
kebohonganku tadi benar-benar tidak tersampaikan... Semua kalimatku ditangkap
oleh Christa sebagai kenyataan, dan ia pun membalasnya dengan menyatakan cintanya
padaku.
Dengan kata lain, Christa
benar-benar menganggap serius tentang perasaanku padanya...
“Gawat, gawat, gawat...!”
Kalau sudah begini, sudah
sangat terlambat untuk mengatakan kalau tadi itu cuma akting...!
Lagipula, kenapa Christa
bisa jatuh cinta padaku? Meski tinggal di rumah yang sama, jumlah percakapan
kami masih terhitung sangat sedikit.
Aku benar-benar tidak
mengerti, tapi satu-satunya hal yang pasti adalah aku tidak punya pilihan
selain menerima kenyataan ini.
※※※
Bruno diserahkan kepada
pasukan kesatria yang diutus langsung oleh Yang Mulia Alphonse untuk
menyusulnya.
Menurut Alan, Bruno adalah
satu-satunya kandidat pewaris di Teokrasi Dorian, sehingga tidak akan ada
pencabutan hak waris. Meski begitu, bukan berarti Bruno akan lepas dari hhukuman
Hukumannya meliputi pencabutan
semua haknya, kecuali hak sebagai pewaris takhta. Tergantung pada sudut
pandangnya, hukuman ini bisa lebih berat daripada pembatalan hak waris.
Karena setelah raja yang
sekarang turun takhta, kendali kekuasaan akan dikuasai oleh bangsawan berdarah
keluarga kerajaan seperti ayah Christa, sementara Bruno hanya akan menjadi raja
pajangan seumur hidupnya.
Singkat cerita, urusan
Bruno sudah terselesaikan tanpa masalah.
Namun, yang menjadi
masalah adalah sandiwaraku sebagai tunangan Christa.
Aku menceritakan semuanya
dengan jujur pada Alan dan Lucy, sambil bersiap menerima omelan mereka.
Dan anehnya, aku sama
sekali tidak dimarahi.
Alan yang mengetahui niat
Yang Mulia menyerahkan keputusan akhir kepadaku, dan Lucy pun tidak menuntutku
untuk memikul tanggung jawab secara paksa. Bahkan, Lucy menawarkan diri untuk
menjelaskan tentang situasinya kepada Rena.
Bukan hanya Alan, Lucy
juga merasa ikut bertanggung jawab dalam masalah ini karena sempat membiarkan Christa
lepas dari pandangannya.
Baiklah, seperti yang
dikatakan Alan, terdapat dua pilihan di hadapanku.
Pilihan pertama, tetap
setia pada jalan hanya mencintai Rena.
Pilihan kedua, menerima
pertunanganku dengan Christa.
Pilihan pertama akan
melukai hati Christa, sedangkan pilihan kedua akan melukai hati Rena. Sejujurnya,
aku tidak mampu memilih salah satu di antara keduanya.
“Ah, apa yang harus
kulakukan.”
Sampai malam tiba, tidak
ada sedikit pun kemajuan dalam keputusanku. Pada jam tidur ini, aku hanya bisa
meratapi nasib sambil berbaring telentang di kasur.
Di tengah situasi
tersebut, pintu kamarku diketuk beberapa kali.
“Maaf mengganggu di jam
segini.”
Orang yang berkunjung
ternyata Rena. Detak jantungku mulai berdegup kencang.
“A-Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin
kubicarakan sebentar.”
“—Baiklah.”
Pembicaraan ini pasti tentang
Christa. Sepertinya, Lucy sudah menceritakan semuanya kepada Rena.
Aku mengizinkan Rena masuk,
sudah siap dengan skenario terburuk, yaitu pembatalan pertunangan kami.
Begitu Rena duduk di
sampingku di atas kasur, aku pun langsung memulai pembicaraan.
“Yang ingin dibicarakan
itu, tentang Christa, ‘kan?”
“Iya. Tadi aku sudah
mendengarnya dari ibu.”
“Begitu ya... Jadi, kamu
pasti marah, ‘kan?”
“—“
Rena tidak menjawab. Hanya
saja, keheningan itu justru seolah mencerminkan perasaan di hatinya saat ini.
Tanpa perlu mendengarkan
jawabannya, aku refleks duduk dengan posisi seiza dan menundukkan
kepalaku.
“Aku minta maaf karena
bertindak seenaknya! Padahal aku sudah bilang hanya setia pada Rena, tapi
kelakuanku malah seperti ini, aku ini benar-benar brengsek.”
“—“
“Jika Rena mau, aku akan
menceritakan kebenarannya pada Christa—“
“Tidak perlu melakukan
itu.”
“T-Tapi...!”
“Seperti yang kukatakan
sebelumnya, Aku sama sekali tidak menentang jika kamu mengambil seorang selir. Karena
itu, kamu tidak perlu meminta maaf tentang masalah itu.”
Setelah berkata seperti
itu, Rena sedikit mengambil jarak dariku.
“Sepertinya kamu salah
paham, jadi akan kukatakan. Aku datang ke sini karena urusan lain.”
“Urusan lain...?”
“Iya. Ada yang harus
kupastikan...”
Setelah itu, entah mengapa
wajah Rena merona merah saat ia melanjutkan perkataannya.
“Setelah makan malam,
Christa meminta maaf kepadaku.”
“Minta maaf?”
“Itu... tentang c-ciuman
tadi...”
'Ciuman’—mendengar kata
itu, aku segera membela diri dengan panik.
“Tunggu dulu, Rena. Itu cuma—“
“Aku sudah tahu! Hanya di
pipi, bukan?”
“Benar! Aku belum
membiarkannya menyentuh bibirku! Karena aku sudah memutuskan yang pertama
adalah denganmu, Rena!”
“—Ghk!?”
Mendengar kata-kata
jujurku itu, wajah Rena semakin memerah.
Memalukan memang, tetapi
bahkan jika menghitung kehidupan masa laluku, aku sama sekali tidak pernah
berciuman.
Aku juga sudah bertekad
bahwa yang ‘pertama' harus dengan Rena, istri sahku.
“Anu, jadi itu hal
yang ingin kamu pastikan?”
“—Ya.”
Rena mengangguk pelan
sambil memerosotkan pundaknya.
Setelah merasa lega dan ketegangan
dari pundakku perlahan menghilang, aku bertanya pada Rena.
“Umm, Rena.”
“Y-Ya...”
“Jadi... apa kamu mau
melakukannya... sekarang? Ciuman.”
“—Ghk”
Rena dengan cepat
mengalihkan pandangannya ke bawah.
Sebenarnya aku ingin
melakukannya di hari upacara pertunangan kami, tetapi situasinya sudah seperti
ini. Jika aku terus menundanya, aku takut hal itu akan membuat Rena merasa
cemas.
Buktinya, Rena datang ke
sini sekarang karena ia merasa cemas.
“Bagaimana, menurutmu?”
“—...”
Rena tidak menjawab. Namun,
keheningan ini bukanlah tanda penolakan, melainkan karena Rena murni merasa
malu.
Pada saat seperti ini,
lebih baik aku yang mengatakannya duluan, ‘kan.
Aku membulatkan tekad, dan
menyatakan.
“Aku ingin melakukannya.”
“—Ghk.”
Meskipun aku merasa
bersalah pada Christa, tapi aku benar-benar merasa ketakutan saat ia tiba-tiba memaksakan
ciumannya kepadaku.
Jika ciuman pertamaku
diambil pada saat itu, aku pasti akan menyesal seumur hidup karena tidak segera
berciuman dengan Rena.
“A-Aku juga—“
Menanggapi kata-kataku, Rena
membuka mulutnya dengan terbata-bata.
“Aku juga... ingin
melakukannya. Ciuman... dengan Arl.”
Melihatnya berkata seperti
itu dengan mata yang berkaca-kaca, aku refleks memeluk Rena. Aku merasakan tenaga
ditubuhnya mulai menghilang saat aku memeluknya. Setelah itu—
“Rena.”
“Arl.”
Tanpa ada yang mendahului,
bibir kami bersentuhan secara alami untuk pertama kalinya.
Hanya sebuah ciuman yang
sangat ringan.
Momen itu berlalu dalam
sekejap, dan seketika itu juga pipiku memanas karena rasa malu.
“O-Oh ya, ngomong-ngomong.”
“A-Ada apa?”
“Kenapa, kamu menolak
bantuan Christa untuk mengerjakan pekerjaan rumah?”
“—Ghk, t-tentang
hal itu...”
Setelah mendengar
pertanyaan yang kulontarkan untuk mengalihkan suasana itu, pipi Rena semakin memerah,
lalu ia mengalihkan pandangannya dariku sebelum menjawab.
“Karena urusan melayani keperluan
Arl... aku ingin melakukannya sendiri...”
“—Ghk.”
Mendengar jawaban yang begitu
manis itu, aku tidak bisa menahan diri untuk menciumnya sekali lagi.
※※※
Setengah bulan kemudian.
Sebuah surat yang berisi
laporan lengkap mengenai penyelesaian akhir dari masalah waktu itu datang dari
Yang Mulia.
Seluruh hak yang dimiliki
Bruno, kecuali haknya sebagai pewaris takhta akan dicabut, dan kabarnya ia akan
diatur sebagai boneka oleh bangsawan-bangsawan yang mewarisi darah keluarga
kerajaan.
Lalu, terpisah dari urusan
itu, telah ditetapkan secara resmi bahwa Christa akan menjadi selirku.
Sekarang setelah masalah
pembatalan pertunangan selesai dan nama baik Christa pulih, sebenarnya ada
kemungkinan rencana menjadikannya selir bagi bangsawan perbatasan sepertiku
akan ditolak karena dianggap tidak pantas.
Akan tetapi, ayah Christa
sepertinya menyimpan amarah besar terhadap Bruno. Beliau sangat mengapresiasi
tindakanku yang berhasil mengusir Bruno, sehingga beliau sangat setuju dengan
usulan ini.
“Kalau begitu sekali lagi.
Christa-jou—ah bukan, Christa. Katakanlah sepatah kata.”
Saat makan malam, Alan
yang telah menyampaikan penyelesaian masalah ini, meminta Christa mengucapkan
sambutan sambil memegang gelasnya.
Christa mengangguk pelan
setelah mendapat giliran berbicara, lalu berdiri dan membungkukkan dirinya
dalam-dalam sebelum berbicara.
“Sekali lagi saya ucapkan,
terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan Keluarga Clover yang bersedia
menerima orang seperti saya.”
Christa mengangkat
wajahnya dengan senyuman manis dan rendah hati yang khas darinya, lalu
melanjutkan perkataannya.
“Ke depannya, saya akan
mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk kemajuan Keluarga Clover. Sekali lagi,
mulai dari sekarang mohon bantuannya.”
Setelah Christa membungkuk
sekali lagi dengan kata-kata tersebut, tepuk tangan hangat pun bergemuruh.
Memang benar, bakat
administratif Christa adalah hal yang sangat berharga sampai-sampai Bruno
sendiri rela datang untuk menjemputnya kembali. Bahkan Alan juga mengatakan
bahwa dia sangat terbantu.
Ditambah lagi, bakat
sihirnya juga luar biasa. Kabarnya, alasan mengapa Rena dan Lucy bisa
kehilangan jejak Christa saat kedatangan Bruno adalah karena mereka berada di
bawah pengaruh sihir hipnotis yang ia gunakan.
Meskipun sihir hipnotis
yang Christa gunakan hanyalah sebatas membuat orang tertidur seperti saat di
kelas, sihir itu tetaplah sihir langka yang jarang bisa digunakan.
Selain itu, Christa juga
sangat mahir dalam menggunakan sihir tingkat tinggi, mulai dari memperkuat
pendengaran hingga sihir penyembuhan.
Christa dengan
kemampuannya yang seperti itu, tidak diragukan lagi ia akan segera menjadi
sosok yang tak tergantikan bagi Keluarga Clover.
Sungguh, aku sangat
menantikan hari-hari yang akan datang.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment