Chapter
1
Nona Villainess Palsu
Setengah bulan telah berlalu sejak aku masuk ke Akademi Bangsawan.
Pencarian jodohku sama
sekali tidak mengalami kemajuan, namun siapa sangka aku di sini menjalani
kehidupan yang cukup menyenangkan.
“Kau ini. Meskipun hanya
bangsawan kelas bawah, Lagi-lagi berani bersikap sok-akrab pada Yang Mulia...!”
“Saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya, Rena-sama...”
Oh, hari ini pun dia
kembali beraksi dengan penuh semangat...!
Hal pertama di pagi hari,
saat aku memasuki ruang kelas untuk mengikuti kuliah, aku merasa sangat
antusias melihat pemandangan yang belakangan ini sudah menjadi rutinitas.
Seorang gadis cantik
berambut pirang yang diikat gaya half-up, dengan sepasang mata ungu
indah layaknya batu amethyst, sedang menyudutkan seorang gadis cantik
lain yang memiliki rambut dan mata berwarna ungu muda.
Nama gadis yang sedang
menyudutkan itu adalah Rena Hyacinth.
Dia adalah putri dari
Keluarga Marquis Hyacinth, salah satu keluarga dengan kekuatan yang
masuk jajaran teratas di Kerajaan Suci, sekaligus tunangan dari Putra Mahkota
saat ini.
Sementara gadis cantik yang
satunya lagi bernama Mary Iris, seorang putri dari Keluarga Baronet.
Meskipun Akademi Bangsawan
adalah tempat di mana hanya anak-anak dari keluarga Baron ke atas yang
diizinkan masuk, mereka yang berasal dari keluarga semi-bangsawan seperti
Baronet atau keluarga Ksatria juga dapat diterima sebagai murid beasiswa jika
mereka sangat berprestasi.
Di samping murid beasiswa
tersebut, berdiri seorang pria tampan berambut merah muda pucat dengan mata yang
berwarna senada.
Pria itu adalah Putra
Mahkota kerajaan ini, Alphonse King Protea, yang sedang menatap Rena
dengan pandangan tajam.
“Hentikan, Rena.”
Sepertinya hari ini pun
Yang Mulia kembali membela Mary si murid beasiswa dibandingkan tunangannya
sendiri, Rena.
“Maaf ya, Mary. Tunanganku
ini...”
“Yang Mulia, mengapa Anda
membelanya?! Jika Anda bersikap akrab dengan orang yang memiliki status sosial rendah
sepertinya, hal itu hanya akan menodai martabat keluarga Kerajaan!”
“Rena. Sudah berulang kali
kukatakan, kita ini di sekolah. Selama kita belajar di bawah atap yang sama,
status sosial itu tidak ada hubungannya.”
“T-Tapi...”
“Ini tidak akan ada
habisnya. Mary, ayo kita keluar sebentar.”
“Eh, b-baik...”
Seakan kehabisan kesabaran
melihat sikap buruk tunangannya, Yang Mulia membawa murid beasiswa itu keluar
dari ruangan.
“Rena-sama, ayo kita
duduk.”
“Ya, baiklah...”
Setelah Yang Mulia pergi, Rena
duduk di bangkunya atas bujukan para pengikutnya.
Seperti yang bisa kalian
lihat dari runtutan kejadian tadi, ini benar-benar sama persis dengan event
Nona Villainess di dalam game otome.
Karena ada event
semacam ini hampir setiap hari sejak aku masuk, aku sangat menikmati kehidupan
di Akademi Bangsawan.
Ditambah lagi, berkat
mereka yang sangat mencolok, tidak ada yang memedulikan Keluarga Clover yang
dijuluki 'Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar' ini.
Buktinya, aku bahkan bisa
mendapatkan teman dengan normal, padahal Alan pernah bilang kalau mencari teman
saja akan sangat sulit bagiku.
“Selamat pagi, Arl.”
Setelah rutinitas event
Nona Villainess itu berakhir, aku berjalan menuju kursiku yang berada di bagian
paling belakang kelas, lalu seorang pria tampan dengan rambut biru muda yang
agak panjang disertai warna mata yang senada menyapaku.
“Selamat pagi, Ralph.”
Begitu duduk, aku membalas
sapaan dari pria tampan itu sambil mengangkat tangan dengan santai.
Nama pria tampan itu
adalah Ralph Kelp. Kami mulai mengobrol karena duduk bersebelahan saat
upacara penerimaan siswa baru, dan sekarang kami menjadi teman yang mengobrol
setiap hari.
Dia berasal dari Keluarga Count
Kelp, mereka mengelola resort di wilayahnya yang terkenal sebagai
tempat liburan para bangsawan. Kudengar wilayah mereka jauh lebih maju dan
tidak bisa dibandingkan dengan wilayah Clover.
Artinya, dia adalah putra
bangsawan berpengaruh, dan tentu saja dia sudah memiliki tunangan.
Dari yang kudengar,
tunangannya adalah gadis yang sangat menarik dan baik hati. Aku benar-benar iri
padanya.
“Hei, Ralph.”
“Ada apa, Arl?”
Aku bertanya padanya
sambil memendam perasaan kalah sebagai sesama pria.
“Menurutmu bagaimana
tentang perdebatan tadi?”
“Bagaimana apanya?”
“Kau ada di pihak siapa?”
“Itu pertanyaan yang sulit,
ya.”
Jika ini mengikuti alur
cerita Nona Villainess yang selama ini kuketahui, pasti ada salah satu pihak
yang bersalah.
Tapi untuk kali ini,
seperti yang Ralph katakan, kita tidak bisa dengan mudah menghakimi siapa yang
salah.
Sesuai klaim Rena, jika
anggota keluarga kerajaan terlalu akrab dengan putri keluarga Baronet,
martabatnya pasti akan dipertanyakan.
Bagi bangsawan daerah
sepertiku, itu bukanlah urusan yang relevan. Tapi keluarga kerajaan dan
bangsawan pusat yang sering menghadiri pergaulan sosial rupanya sangat
memedulikan hal-hal semacam itu.
Dan yang terpenting,
sebagai seorang tunangan, pasti sangat menyakitkan melihat pasangannya bersikap
akrab dengan wanita lain.
Di sisi lain, argumen Yang
Mulia juga masuk akal.
Karena ini adalah sekolah,
tidak seharusnya ada diskriminasi status sosial di dalam Akademi Bangsawan.
Dalam hal tertentu,
pemikiran Yang Mulia ini sangat pantas dimiliki oleh seorang anggota keluarga
kerajaan yang berdiri di atas rakyatnya.
Terlebih lagi, tahun ini
adalah tahun yang tidak biasa karena hanya ada satu murid beasiswa, yaitu Mary.
Kudengar awal mula Yang
Mulia mulai berbicara dengan Mary adalah karena Yang Mulia melihat Mary diejek
oleh murid-murid lain lantaran dia satu-satunya yang berasal dari kaum
kuasi-bangsawan.
“Ngomong-ngomong, Arl
sendiri ada di pihak mana?”
“Itu, um... coba tebak
saja.”
Tentu saja jawabannya
adalah Rena sang Nona Villainess, tapi jika aku mengatakannya secara
terang-terangan, itu sama saja dengan tidak menghormati keluarga kerajaan.
Ralph adalah anak yang
peka, jadi dia pasti akan berasumsi kalau aku mendukung argumen Yang Mulia.
“Begitu ya, Rena-sama
rupanya.”
Apa? Ternyata tidak
tersampaikan...!?
“Kok kesimpulannya malah
ke sana?!”
“Habisnya, Arl, kau
tertarik pada Rena-sama, ‘kan?”
“—Ghk!?”
Aneh, padahal seingatku
aku tidak pernah sekalipun membicarakan preferensiku ini padanya.
“Arl. Kalau kau
terus-terusan menatap Rena-sama sejak kita masuk akademi, kurasa siapa pun
setidaknya akan menyadarinya.”
“...”
Sepertinya tanpa sadar
semuanya terlihat jelas dari sikapku. Hanya saja, mungkin Ralph salah paham
tentang satu hal. Aku tidak memiliki perasaan romantis pada Rena.
Status sosial antara putri
bangsawan pusat dan putra dari 'Margrave Hanya sebatas Gelar' terlalu jauh
berbeda, dan dia sudah memiliki tunangan yang tak terkalahkan, yaitu Yang
Mulia.
Sejak awal, aku tidak terlalu
naif untuk memimpikan sebuah hubungan yang mustahil terwujud.
Saat aku berniat membuka
mulut untuk menyangkal pendapatnya itu, Ralph sudah berbicara mendahuluiku.
“Arl. Ada kabar baik
untukmu.”
Ralph mendekatkan mulutnya
ke telingaku dan berbisik.
“Sebenarnya, sedang ada
pembicaraan tentang pembatalan pertunangan antara Yang Mulia dan Rena-sama.”
Hee... pembatalan itu
berarti putus tunangan... eh, seriusan? Aku memang sempat berpikir kalau cepat
atau lambat hal itu akan terjadi. Tapi, bukankah ini terlalu cepat?
Untuk saat ini, aku
memutuskan untuk meminta Ralph menceritakan lebih detail tentang informasi
tersebut.
※※※
Bagi para anak-anak
bangsawan daerah yang tidak bisa pulang ke rumah selama bersekolah di Akademi
Bangsawan, akademi menyediakan kamar asrama pribadi di dalam area sekolah.
Setelah jam pelajaran
selesai dan kembali ke asrama, aku telentang di atas tempat tidur dan menghela
napas panjang.
Pembicaraan tentang
pembatalan pertunangan antara Rena dan Yang Mulia sedang memanas.
Dari yang kudengar, faksi
yang bertentangan dengan Faksi Bangsawan (tempat keluarga Rena bernaung,
keluarga Hyacinth), yang biasa disebut Faksi Kerajaan, sedang bergerak
aktif.
Normalnya, seorang putri
dari bangsawan Faksi Bangsawan tidak akan mungkin menjadi tunangan keluarga
kerajaan.
Namun, saat pertunangan
itu ditetapkan, tidak ada gadis lain yang memiliki bakat lebih unggul daripada Rena.
Itulah sebabnya, klaim dari Faksi Bangsawan disetujui, membuat penolakan dari
Faksi Kerajaan berakhir sia-sia.
Ditambah lagi, karakter Rena
yang pada awalnya itu polos dan penurut sangat berbanding terbalik dengan karakternya
sekarang.
Ini adalah pola klasik di
mana kepribadian seseorang berubah menjadi arogan begitu ia menjadi tunangan
seorang pangeran.
Oleh karena itu, sejak
pertunangan ditetapkan, Faksi Kerajaan selalu berusaha mencari cara agar
pertunangan Rena dan Yang Mulia bisa dibatalkan.
Akan tetapi, sekeras apa
pun para bangsawan Faksi Kerajaan mencoba, Yang Mulia tidak pernah berniat
membatalkan pertunangannya dengan Rena.
Yang Mulia terkenal akan
kebaikannya, mungkin ia memikirkan bagaimana nasib Rena setelah pertunangan
dibatalkan.
Setelah melihat keteguhan
hati Yang Mulia, Faksi Kerajaan menyadari satu hal, fakta bahwa Rena yang
merupakan putri pemimpin Faksi Bangsawan sekaligus memiliki masalah
kepribadian, tidaklah cukup untuk mengubah keputusan Yang Mulia.
‘Apakah ada cara lain
untuk menggerakkan Yang Mulia?’, Para bangsawan Faksi Kerajaan terus
mencari sesuatu untuk memecahkan kebuntuan tersebut.
Dan pada saat itulah, Mary
Iris muncul. Kehadirannya membuat sikap Rena semakin memburuk dari sebelumnya.
Sebagai tanggapannya atas
perilakunya itu, sikap Yang Mulia juga ikut berubah, ia mulai menunjukkan
perkataan dan tindakan yang menyalahkan Rena.
Bagi para bangsawan Faksi
Kerajaan, ini adalah kesempatan emas. Jadi mereka segera mendesak Yang Mulia
untuk membatalkan pertunangannya, dan sepertinya respons yang mereka dapatkan
jauh lebih positif dari sebelumnya.
Menurut Ralph, dalam waktu
dekat mungkin akan ada pergerakan secara terang-terangan di Akademi Bangsawan
ini.
“Siapa tahu, mungkin aku
juga punya kesempatan, ya.”
Kenyataannya, di akhir
ceritanya Ralph berkata padaku,
“Bagaimana kamu
menggunakan informasi ini, itu terserah padamu.”
Karena dia bilang begitu,
jika aku melakukannya dengan sangat baik, kemungkinan bagiku untuk mendapatkan Rena
mungkin tidak sepenuhnya nol.
“Misalnya, mencalonkan
diri sebagai tempat pengasingan Rena...”
Di luar dugaan, ide itu
kedengarannya tidak buruk.
Situasi saat ini memaksaku
untuk menyerah pada Rena karena dia adalah tunangan Yang Mulia dan perbedaan
status kami terlalu jauh. Tapi jika pertunangannya dibatalkan, situasi itu akan
berubah.
Pembatalan pertunangan
akan membuat Rena tidak lagi menjadi tunangan Yang Mulia. Dan jika diketahui
bahwa keluarga kerajaan yang memutuskan pertunangan tersebut, ia pasti akan
diperlakukan layaknya barang cacat atau gadis bangsawan yang bermasalah.
Jika sudah begitu, bahkan
diriku yang berasal dari 'Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar’ pun memiliki
kemungkinan yang cukup untuk bersanding dengannya.
Jika harus menyebutkan
satu masalah besar, itu adalah bagaimana caranya bernegosiasi dengan Yang
Mulia... tunggu dulu.
“Hentikan, hentikan. Ide
ini konyolnya kelewatan.”
Mana mungkin Yang Mulia
bersedia meluangkan waktunya yang berharga untukku.
Lagi pula, aku juga tidak
tahu seberapa banyak kebenaran dari cerita yang kudengar dari Ralph tadi.
Aku tidak ingin melewatkan
peluang realistis yang ada di depan mata, hanya karena mengejar mimpi yang
mustahil.
Aku memperingatkan diriku
sendiri yang sempat menaruh sedikit harapan itu, lalu jatuh tertidur.
※※※
Keesokan paginya. Sama
seperti kemarin, Rena dan Yang Mulia kembali berdebat.
“Yang Mulia, sampai kapan
Anda akan terus bersama dengannya?”
“Rena, kau masih saja meributkan
hal itu...”
Dilihat dari
percakapannya, tidak ada yang berubah dari biasanya. Kecuali fakta bahwa ada
seorang siswi lain yang berdiri di samping Mary, di belakang Yang Mulia.
“Hei, Ralph. Anak yang ada
di sebelah Mary Iris itu...”
“Ah, dia Valeria
Marigold.”
Ralph segera menjawab ketika
aku bertanya tentang gadis cantik yang identik dengan rambut berwarna persik
kekuningan yang diikat side ponytail dan mata yang berwarna
senada tersebut.
Keluarga Count Marigold
terkenal sebagai bangsawan yang sangat setia pada keluarga kerajaan. Artinya,
dia adalah bagian dari Faksi Kerajaan, musuh politik bagi keluarga Rena—yakni
Keluarga Hyacinth.
“Aku punya firasat buruk
soal ini...”
“Aku setuju denganmu. Tak
kusangka hari ini situasinya akan berkembang seperti ini.”
Sambil terus mengamati
interaksi Rena dan yang lainnya, tiba-tiba Valeria melangkah maju ke depan Yang
Mulia.
“Rena-san. Bisakah kamu
segera menghentikan ini?”
“—Ghk, Valeria-san.”
Munculnya seorang wanita
dari faksi musuh membuat Rena bersiaga.
“Rena-san, sebenarnya apa
yang membuatmu begitu tidak menyukai Mary-san?”
“Tentu saja status
sosialnya.”
“Status sosial? Yang Mulia
selalu berkata bahwa status sosial tidak ada hubungannya di tempat ini.”
“I-Itu...”
“Ara, apakah kamu berniat
mengatakan sesuatu? Tindakan yang menyangkal kehendak Yang Mulia... itu adalah
sebuah ketidaksopanan, lho.”
“—Ghk, t-tidak
mungkin. Saya hanya—“
‘Hanya demi kebaikan Yang
Mulia.’
Ucapan Valeria memiliki
kekuatan yang begitu besar, hingga Rena tidak mampu mengeluarkan kata-kata itu
dari mulutnya.
“Nah, silakan sampaikan
apa yang ingin kamu katakan.”
“...”
Setelah didesak sedemikian
rupa oleh Valeria, bahkan sosok sehebat Rena pun akhirnya terdiam membisu.
Perubahan sikapnya itu menciptakan suasana kelas berubah menjadi dingin.
Setengahnya adalah akibat
ulah Rena sendiri.
Namun, jika melihatnya
terus disudutkan seperti ini, itu membuatku merasa sangat kasihan pada Rena.
“Aku tidak bisa diam saja
melihat ini.”
“—Ghk, Arl?”
Menanggapi perlakuan kejam
yang diterima oshi-ku, secara refleks aku mulai mengangkat pinggulku
dari kursi.
Dan tepat ketika aku
hampir berdiri sepenuhnya...
“Kalian berdua,
hentikan...!”
“ “—Ghk, Yang
Mulia...!?” “
Yang Mulia, yang biasanya
bersikap lemah lembut, tiba-tiba membentak dengan nada marah. Tekanan suaranya
tanpa sadar membuat pinggulku kembali mendarat di kursi.
“Valeria. Sejak kapan aku
mengizinkanmu untuk maju?”
“—Ghk, saya sungguh
memohon maaf...!”
“Dan juga, Rena. Bukankah
ini sudah saatnya untuk menghentikan tingkahmu? Jika terus begini, kau hanya
akan menurunkan martabat Keluarga Hyacinth.”
“—Ghk, Anda
benar...”
Suhu panas di antara
mereka berdua yang sebelumnya terus memuncak, langsung merosot drastis akibat
perkataan Yang Mulia.
Dan hal yang sama juga
terjadi padaku.
“Arl. Mau bagaimanapun,
tindakanmu tadi itu terlalu berbahaya.”
“Ya. Kau benar...”
Meskipun kulakukan demi Rena,
aku benar-benar bertindak tanpa berpikir panjang. Jika Yang Mulia tidak
meninggikan suaranya, entah apa yang terjadi padaku sekarang.
Membayangkannya saja sudah
membuatku ngeri.
“Tapi yah, pada akhirnya
ini mungkin berbuah hasil yang bagus.”
“? Apa maksudmu?”
“Coba lihat.”
Didorong oleh ucapan
Ralph, aku menatap ke arah Yang Mulia.
“Yang Mulia sedang melihat
ke arah sini.”
“...”
Tatapan kami benar-benar
saling bertemu. Aku tidak bisa mengelak lagi.
“Kau benar, pada akhirnya
ini memang hasil yang bagus.”
Kesempatan untuk berbicara
langsung dengan Yang Mulia yang sangat kuinginkan kini telah datang dengan
sendirinya.
※※※
Sepulang sekolah, aku
dipanggil oleh Yang Mulia.
Tujuan panggilannya
sembilan dari sepuluh sudah pasti mengenai kejadian tadi pagi. Meskipun belum
sempat bertindak, aku jelas-jelas mencoba untuk ikut campur.
Bagi Yang Mulia, yang
lingkungan sekitarnya sedang ramai karena masalah Rena, tindakanku tidak bisa
dibiarkan begitu saja. Tapi, dengan ini kesempatan untuk berbicara empat mata
dengan Yang Mulia telah jatuh ke pangkuanku.
Dengan ketegangan karena
tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, aku berjalan menuju ruang tamu Akademi
Bangsawan.
Di depan pintu ruang tamu,
berdiri penjaga keamanan dengan perlengkapan bersenjata lengkap.
“Ini saya, Arl Clover.”
Begitu aku menyebutkan
namaku, sang penjaga tidak berkata apa-apa dan hanya memberi jalan.
Aku menarik napas
dalam-dalam, lalu mengetuk pintu tiga kali.
“Kuncinya sudah dibuka.
Masuklah.”
“Permisi.”
Aku perlahan memasuki
ruangan setelah mendapat instruksi dari Yang Mulia yang berada di dalam.
Sepertinya semua orang
sudah disuruh keluar, karena di ruangan itu hanya ada Yang Mulia sendirian yang
sedang duduk di sofa tunggal.
Yang Mulia bangkit berdiri
dan memberikan senyuman menyegarkan seperti biasanya.
“Maaf karena membuatmu
repot-repot datang ke sini. Silakan duduk.”
Aku menundukkan kepalaku
dalam-dalam untuk merespons kata-kata sambutannya, lalu duduk berhadapan
dengannya.
“Sebenarnya aku ingin berbicara
santai dulu, tapi akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Maaf karena tiba-tiba, tapi
aku akan langsung masuk ke topik utama.”
Dengan senyum lembut yang
masih terukir, Yang Mulia melanjutkan.
“Kau pasti sudah tahu
alasan mengapa aku memanggilmu, ‘kan?”
“Iya, Yang Mulia.”
“Kalau begitu urusannya
jadi lebih cepat. Tadi pagi, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?”
Dalam negosiasi semacam
ini, Yang Mulia jelas berada di atas angin. Pengalamannya jauh berbeda
denganku. Sekalipun aku berbohong, ia pasti akan langsung menyadarinya.
Mengingat rencana
negosiasi ke depannya, merusak kepercayaannya di sini bukanlah keputusan yang
cerdas.
“Saya mencoba untuk
melindungi Rena-sama.”
“Melindungi Rena?”
Ketika aku menyatakan
fakta itu secara jujur, wajah Yang Mulia menunjukkan ekspresi yang penuh tanda
tanya.
“Memang benar bahwa sikap Rena-sama
akhir-akhir ini bermasalah. Akan tetapi, saya tidak bisa membiarkan begitu saja
perlakuan yang ia terima pagi tadi.”
“Maksudnya, rasa
keadilanmu tidak bisa menerima suasana di tempat itu?”
“Tepat seperti yang Anda
katakan.”
“Begitu rupanya.”
Setelah menunjukkan gestur
berpikir memegang dagu sejenak, Yang Mulia melanjutkan.
“Baiklah. Aku akan
memercayaimu.”
“—Ghk, apakah Anda
yakin?”
“Ya. Biar begini, aku
cukup percaya diri dalam menilai apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.”
Hebat, tidak heran dia
bisa berhadapan dengan banyak bangsawan kelas atas. Tapi, obrolannya tidak
boleh berakhir sampai di sini saja.
“? Ada apa?”
“Tidak, itu...”
“Jika ada yang ingin kau
sampaikan, katakan saja tanpa ragu. Lagipula, aku sudah menyita waktumu dengan
memanggilmu ke sini.”
Jika Yang Mulia sudah
berkata sampai sejauh ini, rasanya justru tidak sopan jika aku tidak menanyakan
apa-apa.
“Kalau begitu, bolehkah
saya menanyakan dua hal?”
“Silakan.”
Untuk memastikan apakah
penawaran yang kupikirkan kemarin itu memungkinkan atau tidak, aku menerima
kebaikannya dan mulai bertanya.
“Pertama, apa rencana Anda
ke depannya mengenai Rena-sama?”
“Apa rencanaku
maksudnya... tentang pertunangan kami?”
“Iya.”
“Jangan tiba-tiba
melontarkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi—“
Senyum yang menghiasi
wajah Yang Mulia sejak tadi seketika lenyap.
“Aku belum pernah
sekalipun memberitahukan jawaban dari pertanyaan itu kepada siapa pun. Kamu
tahu apa artinya itu?”
“Kurang lebih.”
“Kalau begitu, kusarankan
agar kau tidak mendengar jawabannya.”
Itu adalah peringatan dari
Yang Mulia karena khawatir aku akan terseret ke dalam suatu masalah politik
jika mengetahui jawabannya.
Yang Mulia berniat
membatalkan pertunangannya dengan Rena. Tanpa premis itu, penawaranku tidak
akan terwujud. Oleh karena itu, aku tidak boleh mundur di sini.
“Meskipun begitu, maukah
Anda memberitahukannya kepada saya?”
“—Sepertinya tekadmu sudah
bulat.”
“Iya.”
“Baiklah, aku akan
menceritakannya. Aneh rasanya, tapi intuisiku mengatakan tidak apa-apa jika aku
menceritakannya padamu.”
Yang Mulia mengambil jeda
sejenak, lalu melanjutkan ucapannya.
“Akan kusebutkan
kesimpulannya. Aku bermaksud membatalkan pertunanganku dengan Rena.”
“Ternyata dugaan saya
benar.”
“Melihat reaksimu,
sepertinya kau sudah bisa menebak alasannya.”
“Ya, kurang lebih seperti
itu.”
Sikap Rena yang menjadi
arogan setelah pertunangan ditetapkan. Ditambah lagi, desakan terus-menerus
dari para bangsawan Faksi Kerajaan untuk membatalkan pertunangan.
Mungkin ada alasan lain,
tetapi dua hal itulah yang menjadi faktor utama.
“Pertanyaan kedua.
Mengingat Anda berniat membatalkan pertunangan, apakah alasan Anda belum
melakukannya hingga saat ini adalah karena Anda mengkhawatirkan nasib Rena-sama
setelah pertunangan dibatalkan?”
“Ya. Memalukan memang,
tapi kau benar.”
Yang Mulia mengangguk
sambil tersenyum kecut.
Dengan ini, alasan mengapa
Yang Mulia ingin membatalkan pertunangan tetapi tidak bisa melakukannya telah
terkonfirmasi.
“Apa pertanyaannmu sudah
cukup terjawab?”
“Ya, jawaban Anda sudah
lebih dari cukup. Sekarang, saya ingin mengajukan sebuah penawaran kepada
Anda.”
“Penawaran...?”
Dapat dipastikan bahwa
proposal penawaran ini dapat dieksekusi. Sekarang, saatnya untuk
menyampaikannya.
“Seandainya pertunangan
Anda dibatalkan, sebagai bentuk hukuman bagi Rena-sama, Anda bisa memilih untuk
membuangnya ke negara tetangga atau ke wilayah perbatasan di dalam negeri,
bukan?”
“Benar, itu adalah salah
satu pilihan yang bisa diambil.”
“Maka dari itu, maukah
Anda menjadikan Wilayah Clover sebagai tempat pengasingan Rena-sama setelah
pertunangan dibatalkan?”
“—Ghk!?”
Yang Mulia menatapku
dengan ekspresi seolah tidak percaya tentang keputusanku untuk menerima seorang
wanita yang pertunangannya dibatalkan oleh anggota keluarga kerajaan.
Tentu saja wajar jika dia
bereaksi seperti itu, apalagi jika yang menerimanya adalah Keluarga Clover,
sebuah keluarga yang dijuluki 'Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar'.
Yang Mulia berdeham pelan
sebelum bertanya.
“Arl. Apa tujuanmu? Aku
benar-benar tidak paham.”
Bahkan Yang Mulia, yang
telah melihat berbagai macam taktik politik, tidak bisa menebak niatku.
Jawabannya sangat
sederhana. Sejak awal, ini sama sekali bukan tentang politik.
“Anda telah salah paham
akan satu hal, Yang Mulia.”
“Salah paham?”
“Ya. Sama sekali tidak ada
unsur politik dalam penawaran saya ini.”
“Lalu, apa alasanmu?”
“Di dalam penawaran saya
ini, yang ada hanyalah keinginan agar orang yang saya cintai berada di sisi
saya.”
“—Ghk!”
Saking terkejutnya, tubuh
Yang Mulia sedikit terangkat dari sofa.
“Itu... sejauh yang kutahu,
kamu tidak memiliki interaksi khusus dengan Rena, bukan?”
“Tepat seperti yang Anda
katakan.”
“Lalu, kenapa bisa...”
“Itu karena saya
menganggap cara hidup Rena-sama begitu menawan.”
“C-Cara hidup?”
Benar sekali, cara
hidupnya sebagai seorang Nona Villainess!
“Apakah Yang Mulia tahu mengapa
Rena-sama begitu sering menyerang Mary?”
“Bukankah itu karena dia
ingin aku menunjukkan perilaku yang pantas sebagai seorang anggota Keluarga
Kerajaan──”
“Anda salah!”
Memang benar jawaban Yang
Mulia tidak sepenuhnya salah, namun bukan itu inti permasalahannya.
“Rena-sama bertindak
seperti itu semata-mata karena perasaannya yang tulus kepada Anda. Hanya saja,
arah tindakannya berbeda dari apa yang Anda harapkan. Intinya, dia itu sangat
setia pada Anda!”
“B-Begitukah...”
“Coba Anda pikirkan
baik-baik. Secara logika, apakah Anda pikir dia akan melakukan hal seperti menyudutkan
Mary meskipun itu akan membuatnya dibenci oleh Yang Mulia? Tentu tidak. Tindakan
itu dilakukan karena ia sangat mencintai Yang Mulia!”
“B-Begitu ya...”
“Benar!”
Yang Mulia terlihat
sedikit ngeri mendengar argumenku yang berapi-api. Namun, bagiku ini justru sesuatu
yang menguntungkan.
Akan sangat merepotkan
jika Yang Mulia setuju dengan ucapanku dan benar-benar jatuh cinta pada Rena.
“Intinya, saya jatuh cinta
pada keteguhannya yang tidak pernah mau menggoyahkan pendiriannya!”
“—Ghk, b-baiklah.
Aku paham. Aku sangat mengerti, jadi tolong tenangkan dirimu, Arl.”
Apakah ia benar-benar
memahaminya?
Secara pribadi, masih
banyak yang ingin kubicarakan. Namun, karena Yang Mulia terlihat benar-benar
kewalahan, aku memutuskan untuk menahan diriku di sini.
“Arl. Mengenai penawaranmu
itu, aku akan mempertimbangkannya dengan sudut pandang positif.”
“—Ghk,
benarkah...!?”
“Ya. Karena itu, maukah
kau membiarkanku membawa pulang pembicaraan ini untuk kupertimbangkan lebih
lanjut?”
“Tentu saja!”
Sepertinya, perasaanku pada
Rena berhasil tersampaikan dengan baik.
“Arl. Aku senang bisa
berbicara denganmu hari ini.”
“Saya merasa terhormat
mendengarnya.”
Aku menerima tangannya
yang terulur dengan sopan dan menjabatnya.
Apa sudah melakukan apa
yang harus kulakukan. Sisanya hanya bergantung pada apakah Yang Mulia akan
mengambil keputusan seperti yang kuharapkan atau tidak.
Karena aku sudah berusaha
sejauh ini, aku sangat berharap penawaranku ini diterima.
“Kalau begitu, Arl. Sampai
jumpa besok.”
Aku menunduk dalam-dalam
kepada Yang Mulia dengan perasaan yang sangat puas, lalu meninggalkan ruang
tamu.
※※※
Sihir itu nyata adanya di
dunia Arl berada saat ini.
Namun, itu bukan sihir
mencolok seperti yang ada di cerita fantasi isekai pada umumnya. Itu
hanyalah sihir sederhana yang sedikit berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, menyalakan api
kecil di ujung jari sebagai pengganti korek api, mengeluarkan angin sejuk
setara kipas angin dari telapak tangan, atau sedikit meningkatkan kemampuan
pendengaran dan penciuman.
Saat ini ada seseorang
yang sedang menggunakan sihir semacam itu di ruangan kecil yang bersebelahan
dengan ruang tamu.
Nama orang itu adalah Valeria
Marigold, teman seangkatan Arl sekaligus putri Keluarga Marigold yang sangat
setia pada keluarga kerajaan.
Valeria sedang bersiaga di
ruangan sebelah setelah menerima perintah dari Alphonse.
“Sepertinya pembicaraan
mereka sudah selesai, ya.”
Sihir penguatan
pendengaran cukup ampuh untuk menyadap percakapan yang hanya terhalang dinding
biasa.
Valeria segera menemui
Alphonse ketika mengetahui dari isi percakapan bahwa Arl telah pergi.
“Ini Valeria.”
“Masuklah.”
“Permisi.”
Begitu melangkah masuk
tepat setelah diberikan izin, Valeria langsung menyadari ada yang tidak beres
dengan Alphonse.
Alphonse, yang bersandar
lelah di kursinya, tampak sangat kelelahan.
“Apakah sebaiknya kita
membahasnya setelah Anda beristirahat sejenak?”
“Tidak, itu tidak perlu.”
“Tetapi...”
“Sudahlah. Silakan duduk.”
Atas desakan Alphonse,
Valeria pun dengan enggan duduk di kursi.
“Pertama-tama, aku ingin
mendengar pendapatmu, Valeria, mengenai usulan yang diajukan Arl tadi.”
“Jika harus jujur, saya
sama sekali tidak memahami apa yang ia bicarakan.”
“Begitu ya, jadi Valeria juga
berpikir begitu...”
Mendengar tanggapan jujur
Valeria, Alphonse tersenyum kecil.
Arl ingin wilayahnya
dijadikan sebagai tempat pengasingan Rena dengan alasan karena ia menyukai Rena.
Valeria masih bisa
memahami sampai di situ. Hanya saja, alasan di balik perasaannya itu
benar-benar tidak masuk akal.
Dari sudut pandang mana
dan bagaimana Arl bisa menyukai karakter Rena yang seperti itu?
(Yah,
antusiasmenya memang sungguhan, sih...)
Setidaknya bagi Valeria
sendiri yang belum pernah menerima pujian seantusias dan berapi-api seperti itu
seumur hidupnya, meski tidak memahami sepenuhnya perkataan Arl, di dalam
hatinya terselip sedikit perasaan iri kepada Rena.
“Lalu Yang Mulia, bagaimana
dengan keputusan Anda?”
“Dari sudut pandangku, aku
berniat menerima penawarannya.”
“Begitu ya...”
Terlepas dari motifnya,
Valeria juga beranggapan bahwa penawaran Arl layak untuk diterima. Tidak ada
alasan khusus baginya untuk menentang keputusan Alphonse.
“Saya akan sepenuhnya menghormati
keputusan Anda, Yang Mulia.”
“Terima kasih. Terkait
rencana ke depannya, Valeria, aku juga akan membutuhkan kerja samamu.”
“Baik. Perintahkan saja
apa yang harus saya lakukan.”
“Kalau begitu, ini
permintaan pertamaku. Semua hal yang terjadi kali ini, tentu saja harus
dirahasiakan rapat-rapat dari orang lain”
“Saya mengerti. Bahkan
kepada ayah saya sekalipun, saya tidak akan pernah membocorkan hal ini.”
“Itu baru Valeria.”
Kesetiaan Valeria kepada
keluarga kerajaan memang tidak perlu diragukan lagi. Jika ada tindakan yang
bertentangan dengan kesetiaan pada keluarga kerajaan, meskipun itu keluarganya
sendiri, ia tidak akan memberikan ampun.
Itulah sebabnya Alphonse
sangat memercayai Valeria.
Keberadaan Valeria di sisi
Mary hari ini pun bukanlah tindakannya sendiri sebagai Faksi Kerajaan,
melainkan perintah langsung dari Alphonse.
“Kalau begitu, mari kita
bahas rencana kita selanjutnya.”
“Baik.”
Di ruangan itu, Alphonse
dan Valeria mulai menyusun rencana yang melibatkan penawaran Arl secara matang.
Tiga jam kemudian, diskusi
mereka selesai. Matahari telah sepenuhnya terbenam.
“Terima kasih, Valeria.
Aku akan menyampaikan detail ini kepada Arl.”
“Kalau begitu, saya akan
segera memulai persiapannya.”
“Kuserahkan padamu.”
Setelah menerima peran
dari Alphonse, Valeria meninggalkan ruang tamu untuk memulai tugasnya. Dan
kemudian—
“Dengan begini, aku
akhirnya bisa mengabulkan permintaanmu, Rena.”
Ditinggal sendirian di
ruang tamu, Alphonse menggumamkan kata-kata itu.
※※※
Beberapa hari kemudian,
aku menerima pesan resmi dari Yang Mulia bahwa penawaranku diterima.
Pembatalan pertunangannya
dengan Rena akan diumumkan pada pesta perayaan kelulusan tiga tahun yang akan
datang.
Jika pertunangan langsung
dibatalkan sekarang, ada kemungkinan Rena tidak bisa lulus dari Akademi
Bangsawan.
Selain itu, keputusan ini
juga diambil lantaran Yang Mulia khawatir hari-harinya di Akademi Bangsawan
akan dipenuhi oleh perebutan posisi tunangan pengganti Rena.
Lagipula, akan sangat
merepotkan jika Rena dikirim sendirian ke Wilayah Clover saat aku tidak ada,
jadi setting waktu ini juga sangat sempurna bagiku.
Namun, untuk menjalankan
rencana ini, Yang Mulia menitipkan sebuah tugas padaku.
Tugas itu terkait dengan
masalah Mary.
Semakin keras Rena menekan
Mary, para bangsawan Faksi Kerajaan akan semakin mendesak untuk membatalkan
pertunangan.
Maka dari itu, Yang Mulia
harus mengurangi intensitas pertemuannya dengan Mary. Dan sebagai gantinya, ia
memintaku untuk melindungi Mary.
Tentu saja, bukan hanya
aku yang melindungi Mary, Ralph dan Valeria juga akan ikut membantu.
Karena akan sulit bagiku
untuk menyadari bentuk perundungan halus di kalangan wanita, adanya Valeria di
sini benar-benar sangat menguntungkan.
Mengenai Ralph, sepertinya
ini adalah bentuk perhatian Yang Mulia terhadap lingkaran pertemananku.
Dan yang terakhir, tentang
masalah ini, kami semua dilarang membocorkannya kepada siapa pun. Hanya kami
berempat yang mengetahuinya─aku, Yang Mulia, Ralph, dan Valeria.
Sebenarnya, aku berpikir
kalau Raja yang tidak lain adalah ayah dari Yang Mulia sendiri, diberi tahu
mengenai hal ini.
Tetapi, sepertinya ini
adalah bentuk perhatian khas Yang Mulia untuk tidak membebani sang Raja dengan
masalah pribadinya.
Begitulah ceritanya, usulanku
dengan sukses diterima, dan kehidupan baruku di Akademi Bangsawan pun dimulai—
—Kemudian, tiga tahun
telah berlalu sejak kami masuk ke Akademi Bangsawan, dan tibalah saatnya pesta
perayaan kelulusan untuk melaksanakan rencana tersebut.
Yang Mulia akan
mengumumkan pembatalan pertunangannya di akhir acara. Sampai saat itu tiba,
kami akan menghabiskan waktu terakhir kami di akademi bersama teman-teman.
“Arl. Mulai hari ini, aku
tidak akan bisa bertemu denganmu untuk sementara waktu, ya.”
“Kau benar. Mungkin kita
baru bisa bertemu lagi di acara pernikahan Yang Mulia nanti.”
Aku menyetujui ucapan
Ralph yang terdengar sedih.
Termasuk diriku dan Ralph,
besok akan banyak bangsawan daerah yang akan kembali ke wilayahnya
masing-masing.
Ketika saat itu tiba, yang
menantiku adalah kehidupan di pelosok yang sangat terpencil.
Karena Keluarga Clover
hampir tidak pernah diundang ke acara pergaulan sosial, kesempatan untuk
berkunjung ke Ibukota Kerajaan tidak akan datang dalam waktu dekat.
“Hah, aku jadi tidak ingin
pulang...”
Walaupun Rena akan datang
ke rumahku, tetap saja berpisah dari teman-teman ini terasa menyakitkan.
“Hei, Arl. Kamu masih saja
mengatakan hal seperti itu?”
Di tengah keluh kesahku,
Valeria, yang mengenakan gaun berwarna citrus, menghampiri kami dengan
omelannya.
“Sudah berkali-kali aku
katakan, Wilayah Clover memegang peran penting dalam menjaga perbatasan negara
yang dipercayakan oleh keluarga kerajaan. Tapi kamu malah...”
“Kalau kamu ngomong begitu
terus, kamu saja yang menggantikanku, Valeria.”
“Tidak, kalau itu... Aku memiliki
tanggung jawab yang harus kulakukan sendiri...!”
“Fufu, sampai hari
terakhir pun kalian berdua tetap akrab seperti biasanya, ya.”
Mary, yang sejak tadi mengamati
interaksi kami tersenyum dengan ceria.
Pada awal kami berteman, Mary
sangat canggung karena perbedaan status kami, tetapi seiring berjalannya waktu,
ia bisa tersenyum secara alami seperti sekarang.
Ngomong-ngomong, karena Mary
adalah pengguna sihir penyembuhan langka, dia akan bekerja di istana kerajaan.
Itu artinya, dia akan tetap tinggal di Ibukota. Aku benar-benar iri padanya.
Dan seperti yang Mary
katakan, obrolan sepele ini mungkin akan menjadi yang terakhir hari ini.
Meskipun aku sering
menemui event seperti ini di duniaku sebelumnya, tapi tetap saja terasa
mengharukan saat kita mengalaminya secara langsung.
“Ara, Arl. Jangan-jangan kamu
sedang menangis?”
“—Ghk, aku tidak
menangis!”
“Haha, Arl. Sekali-sekali
jujurlah pada diri sendiri.”
“Bagaimana denganmu
sendiri, Ralph!”
Meskipun ia tidak
meneteskan air mata, pipinya terlihat sedikit merona merah. Bagi Ralph, tiga
tahun di Akademi Bangsawan ini juga menjadi kenangan berharga.
Setelah itu, kami bertukar
cerita penuh nostalgia tentang masa-masa di akademi.
Kehidupan di Akademi
Bangsawan terasa sangat damai tanpa insiden besar apa pun. Semua ini berkat
ketiga temanku yang ada di sini. Jika mereka tidak ada, aku pasti akan
menjalani kehidupan menyedihkan seperti yang pernah Alan ceritakan padaku
sebelum masuk akademi.
Aku benar-benar sangat
berterima kasih pada mereka bertiga.
Sekali lagi, dengan
perasaan syukur pada teman-temanku, waktu terus berlalu. Dan kemudian—
“Maaf karena menyela di
tengah kemeriahan kalian, tapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian
semua.”
Saat mendekati akhir acara
pesta, Yang Mulia melangkah ke tengah aula dan memanggil seluruh orang yang
hadir di pesta.
Suara Yang Mulia
menghentikan setiap obrolan, dan aula itu langsung diliputi keheningan.
“Terima kasih. Pengumuman
ini berkaitan dengan pertunanganku dengan Rena.”
Mendengar kata
‘pertunangan’, beberapa gadis memekik kegirangan.
Ketika aku melihat ke arah
Rena, di luar dugaan, ia menunjukkan senyuman yang tenang.
Kecuali untuk urusan
formal, aku nyaris tidak pernah berbicara langsung dengan Rena. Karena itu,
wajar jika aku tidak memahami maksud senyumannya itu.
Hanya saja, membayangkan
senyumnya itu akan segera hancur membuat hatiku sesak.
“Kalau begitu, aku mohon
dengarkan baik-baik. Seperti yang kalian ketahui, saat ini aku bertunangan
dengan Rena. Tetapi—“
Mungkin untuk menguatkan
tekadnya, Yang Mulia berhenti sejenak sebelum mengumumkannya.
“Mulai hari ini, aku
membatalkan pertunangan ini!”
Begitu kata-kata itu
keluar, keheningan sekejap menyelimuti ruangan, sebelum akhirnya digantikan
oleh keributan yang menggema.
Berdasarkan standar moral
di kehidupan sebelumnya, pengumuman semacam ini tidak pantas dilakukan di depan
publik kecuali dengan niat untuk menghina Rena.
Yang Mulia sendiri pun
sebenarnya berpandangan sama.
Tetapi, mengingat
posisinya sebagai bagian dari keluarga kerajaan, urusan pertunangan adalah
urusan kenegaraan, dan ia tidak punya pilihan lain selain menyampaikannya
secara publik.
Mengingat biasanya
pengumuman ini dilakukan di pesta skala besar yang dihadiri oleh para penguasa
wilayah, cara ini bisa dibilang jauh lebih baik.
“Yang Mulia.”
Rena melangkah ke depan
Yang Mulia dengan wajah penuh kesedihan setelah tiba-tiba diputuskan
pertunangannya.
Ruangan itu kembali sunyi,
semua mata tertuju padanya.
“Ada apa, Rena.”
“Yang Mulia, ini pasti
sebuah lelucon, bukan...?”
Rena bertanya dengan nada memelas,
tetapi Yang Mulia menggelengkan kepalanya.
“Apakah aku pernah melontarkan
lelucon semacam itu kepadamu?”
“—Ghk, t-tapi...!”
“Rena. Aku ulangi sekali
lagi. Mulai hari ini, aku membatalkan pertunanganku denganmu.”
“Kenapa... Bagian mana
dari diriku yang membuat Anda tidak puas...?”
“Kalau harus disebutkan
satu, justru karena kamu tidak memahaminya.”
“T-Tidak mungkin...”
Di luar dugaan, tidak ada
satupun yang mencibir Rena saat ia menampakkan ekspresi putus asanya. Mungkin
karena Yang Mulia yang mengumumkan pembatalan itu sendiri terlihat begitu
tersiksa.
Aku bersyukur yang hadir
di sini hanyalah orang-orang yang sangat mengenal Yang Mulia.
“Yang Mulia, izinkan saya
bertanya satu hal terakhir kali.”
“Apa itu?”
“Anda... serius dengan
ini, bukan?”
“Ya. Jangan memaksaku
untuk mengulanginya lagi.”
“—Ghk, saya...
mengerti.”
Berusaha sekuat tenaga
untuk menahan air matanya agar tidak tumpah, Rena perlahan meninggalkan aula.
Tidak ada seorangpun dari hadirin
yang berusaha mengejarnya.
“Yang Mulia, kenapa...”
Begitu Rena pergi, Mary terlihat
sangat terpukul. Berbeda dengan kami bertiga yang mengetahui rencana tersebut, Mary
sama sekali tidak tahu apa-apa, jadi reaksinya ini sangatlah wajar.
Dan hal yang sama juga
berlaku bagi seluruh hadirin yang berada di ruangan ini. Ketegangan yang
sebelumnya ditahan kini pecah menjadi keributan.
Namun, di tengah semua
itu, Yang Mulia tetap berdiri di tengah aula, tidak ada satupun orang yang
berani mendekatinya. Ia benar-benar diperlakukan seperti wabah.
Ketika aku sedang menatap
Yang Mulia, mata kami saling bertatapan.
‘Aku ingin
berbicara di luar sebentar.’
Merasa seolah mendengar
kalimat itu, aku keluar dari ruangan, dan tidak lama kemudian Yang Mulia
menyusulku.
“Kerja bagus hari ini,
Yang Mulia.”
“Arl, kamu juga telah
bekerja keras selama ini.”
Ketika melihatnya dari
dekat, ekspresi Yang Mulia tampak suram dan terlihat jelas bahwa ia sedang
depresi karena tekanan mental yang dihadapi pasti sangat berat.
“Arl. Apakah aku, sudah
melakukannya dengan baik?”
“Anda sangat luar biasa.”
“Begitu ya. Kalau begitu,
kuserahkan sisanya padamu.”
“Baik, saya pasti akan
membahagiakan Rena-sama.”
“Tolong, kuserahkan
padamu.”
Terakhir, kami berjabat
tangan dengan erat, dan aku berjanji padanya untuk membahagiakan Rena.
※※※
Rena berjalan pelan meninggalkan
aula pesta yang mirip gedung dansa bergaya Eropa itu, melangkah di bawah redupnya
cahaya bulan seolah menikmati sisa-sisa perasaan di dalam hatinya.
Meski baru saja diputus
tunangannya, saat ini tidak ada lagi air mata di wajahnya. Sebaliknya—
“Akhirnya, peran ini
selesai juga.”
Rena memancarkan senyuman
yang cerah layaknya seseorang yang baru saja menyelesaikan sebuah misi besar.
※※※
Setelah tiga tahun sekolah
di Akademi Bangsawan, aku yang telah lulus dari akademi kini kembali ke Wilayah
Clover.
Dari dalam kereta kuda, aku
memandangi hamparan alam liar yang tidak berubah sama sekali.
Setelah sampai, aku
melangkahkan kaki ke dalam kediaman Keluarga Clover yang berdiri layaknya
entitas asing di wilayah perbatasan ini. Dan kemudian—
“Aku sudah menunggumu, Arl.
Maaf meskipun baru saja tiba, tapi—“
“Bisa tolong ceritakan
padaku secara detail mengenai hal yang satu ini?”
Begitu membuka pintu
masuk, aku langsung disambut oleh kedua orang tuaku dengan ekspresi yang tampak
tegang dan serius.
Reaksi yang sangat tidak
biasa bagi orang tua yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama, namun hal
itu wajar jika mengingat isi surat yang mereka pegang.
Aku meletakkan barang
bawaanku di kamar, mengganti pakaian, lalu menuju ke aula utama di mana mereka
berdua telah menunggu.
“Maaf membuat kalian
menunggu.”
“Baiklah, Arl. Bisa kau
jelaskan sekarang?”
“Sebenarnya, apa maksud
dari semua ini?”
Sambil mengucapkan itu, mereka
berdua masing-masing menyodorkan selembar surat ke hadapanku. Satu surat
berasal dari Yang Mulia untuk Keluarga Clover, dan satunya lagi adalah surat
yang kukirimkan pada mereka.
Keduanya berisi tentang
pengasingan Rena, namun surat dari Yang Mulia memuat informasi resmi, sementara
suratku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di baliknya.
“Semua yang tertulis di
suratku itu benar adanya.”
“Jadi maksudmu, kamu
mencalonkan diri sebagai tempat pengasingan Rena-jou yang rencananya akan
diputus tunangannya?”
“Benar.”
“Apa alasannya?”
“Seperti yang tertulis di
sana, karena saya mencintai Rena-sama.”
“Apa kau serius?”
“Jika kamu diancam oleh
Yang Mulia, tolong jujur padaku, ya?”
Reaksi mereka ini sangat
wajar mengingat mereka sudah mengetahui tentang reputasi Rena di mata publik.
Sebenarnya, aku sangat
ingin mengubah pandangan mereka sekarang juga, tapi meluruskan kesalahpahaman
ini adalah yang utama.
“Mengenai hal ini, tidak
ada paksaan dari Yang Mulia. Ini murni hasil negosiasi yang saya ajukan sendiri
kepada Yang Mulia.”
“—Ghk.”
“Haaah...”
Alan menggertakkan gigi,
sementara Lucy memijat kening sambil menghela napas.
Aku sudah siap dimarahi,
tapi kelihatannya ini akan lebih parah dari dugaanku.
“Ini semua salah Alan,
bukan?”
“ “Eh...?” “
Alur perkembangan yang tidak
terduga ini membuat bukan hanya aku, tapi bahkan Alan juga merasakan
kebingungan yang luar biasa.
“Lucy, apa yang sebenarnya
ka—“
“Karena kamu terlalu
sering mengancam Arl, makanya Arl sampai mengambil tindakan nekat seperti ini.”
“A-Apa...!?”
‘Arl bertindak
sejauh ini karena merasa putus asa setelah Alan terus-menerus menakut-nakutinya
tentang betapa sulitnya pencarian jodoh'.
Sepertinya begitulah
kesimpulan yang diambil Lucy.
“Benar begitu ‘kan, Arl?”
Apa yang harus
kulakukan... Aku memang bisa saja melemparkan kesalahan ini pada Alan, tapi itu
agak terlalu...
“Tunggu dulu, Lucy. Aku
sama sekali tidak menyangka selera wanita Arl bisa seburuk ini...!”
Hei, Alan. Kau baru saja melontarkan
kalimat yang tidak bisa kubiarkan.
Rasa sungkanku pada Alan
yang ada beberapa saat lalu seketika sirna begitu saja.
“Ucapan Ibunda benar.
Karena Ayahanda terus menakut-nakutiku, saat ada kesempatan di depan mata,
aku—“
“Lihat sendiri ‘kan, Alan.”
“Tidak, tunggu dulu, Lucy.
Bagaimana pun kau memikirkannya, jelas-jelas Arl sedang berbohong—“
“Apa kamu mengatakan
sesuatu, Alan?”
“Ghk— Tidak, bukan
apa-apa.”
Kalau sudah begini, Alan tidak
akan bisa berkutik.
Di Keluarga Clover, raja
sesungguhnya adalah Lucy.
Aku merasa bersalah pada Alan,
tapi ini salahnya sendiri karena sudah menghina fetish-ku terhadap
wanita.
“Kalau begitu, Arl. Ada
yang ingin kubicarakan dengan orang ini, jadi kamu silakan keluar.”
“Baiklah.”
“Satu lagi, karena kamu
sudah memutuskan untuk menerima Rena-jou, kamu harus bertanggung jawab dan membahagiakannya.
Mengerti?”
“Tentu saja.”
“Jawaban yang bagus.
Sekarang, pergilah.”
“Baik.”
“—Ghk, t-tunggu
sebentar Arl, kumohon—“
Setelah menerima kata-kata
penyemangat yang hangat dari Lucy, aku bergegas keluar agar tidak mengganggu
obrolan mereka.
Rena akan tiba di kediaman
ini minggu depan.
Aku sudah tidak sabar menunggu
kedatangannya.
※※※
Satu minggu telah berlalu
sejak kepulanganku ke Wilayah Clover.
Hari ini, Rena akhirnya
datang ke kediaman kami.
“Akhirnya hari ini tiba
juga... perutku sakit.”
“Ayahanda, sudah saatnya
Ayahanda menguatkan mental.”
Sambil menunggu
kedatangannya di depan pintu masuk, Alan merengek dengan suara menyedihkan.
Ngomong-ngomong, Lucy
mengurung diri di kamar karena merasa tidak enak badan. Tadi aku sempat memeriksa
keadaannya, dan sepertinya itu hanya pura-pura sakit.
Keduanya benar-benar tidak
ingin bertemu Rena.
Mereka ini kejam sekali. Padahal
aku saking senangnya sampai hampir tidak bisa tidur semalaman.
Setelah kami berdua
menunggu sekitar sepuluh menit.
Pintu masuk pun terbuka.
Rena berdiri seorang diri dibalik pintu yang terbuka itu. Dia bahkan tidak membawa satu pun pelayan atau pengawal.
“Senang bertemu dengan
Anda untuk pertama kalinya. Mulai hari ini, saya akan berada di bawah perawatan
Anda. Saya Rena Hyacinth. Terima kasih banyak karena bersedia menerima orang
seperti saya.”
Rena mengangkat sedikit
roknya, menunjukkan rasa hormat kepada kami.
“Ke depannya, saya akan
berusaha sebaik mungkin untuk membalas kebaikan Anda semua, jadi mulai sekarang
mohon bimbingannya.”
Setelah menyelesaikan
kalimatnya dengan nada suara yang tenang, Rena membungkuk dalam-dalam.
Berkat pendidikan sebagai
calon ratu yang pernah dijalaninya, perilakunya tersebut terlihat sangat
natural.
“Silakan angkat kepalamu, Rena-jou.”
Menanggapi instruksi Alan,
Rena mengangkat kepalanya. Ekspresinya sangat lembut dan ramah, membuatku
merasa sedikit aneh.
“Perjalanan yang panjang
pasti melelahkan. Kami sudah menyiapkan kamar, silakan beristirahat di sana
untuk sementara waktu. Kita akan bicara setelah itu.”
“Saya mengerti. Terima
kasih atas kebaikan Anda.”
Rena kembali membungkuk
dalam-dalam merespons perkataan Alan, lalu menuju kamarnya dengan dipandu oleh
Bertrand, sang kepala pelayan.
“Hei, Arl.”
Aku tahu apa yang ingin
dikatakan Alan.
“Itu Rena-sama yang asli,
tidak salah lagi.”
“—Ghk, b-benarkah?”
Wajar jika dia
meragukannya. Dari seluruh interaksi tadi, Rena sama sekali tidak menunjukkan
perilaku seperti seorang Nona Villainess. Malahan, ia lebih terlihat seperti
seorang wanita terhormat yang sempurna.
Tapi, itu hanyalah
permukaannya saja. Sebagai penggemar berat Nona Villainess, aku bisa membaca
semua niatnya.
Sambil tersenyum sinis,
aku memberitahu Alan.
“Tenang saja, Ayahanda.
Saat ini ia hanya sedang berpura-pura menjadi kucing manis.”
Strategi Rena sangat
sederhana. Sambil berpura-pura menyesal di Keluarga Clover, di dalam hatinya ia
pasti sedang berjuang keras memikirkan cara untuk kembali ke Ibukota Kerajaan.
“Pada akhirnya nanti,
topengnya akan terlepas.”
“B-Begitu ya... Tapi
sejujurnya, aku lebih suka dia yang sekarang...”
“Yah, mari kita lihat saja
perkembangannya.”
Aku sangat menantikan apa
yang akan terjadi selanjutnya.
※※※
Sudah seminggu sejak Rena
tiba di kediaman Keluarga Clover.
“Hei, Arl.”
“Ada apa, Ayahanda.”
“Dia itu benar-benar Rena-jou,
‘kan?”
Entah sudah ke berapa
kalinya kami mengulang percakapan ini hari ini.
Sambil memperhatikan Rena
yang sedang membuat sarapan bersama para pelayan dari pintu masuk dapur, kami
melanjutkan perbincangan.
“Sudah berkali-kali kukatakan,
itu memang Rena-sama.”
“Hm, meski kau bilang
begitu...”
Alan bergumam seolah tidak
yakin mendengar jawabanku.
Jujur saja, perasaanku pun
tidak jauh berbeda dengan Alan.
Semenjak datang ke rumah
Keluarga Clover, Rena tidak pernah mengeluh saat membantu menyiapkan sarapan,
serta mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci dan bersih-bersih setiap
harinya.
“Ayahanda. Apakah putri
seorang Marquis memang biasanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti
itu?”
“Tidak, normalnya tidak
bisa.”
“Lalu, pelatihan calon
istri atau semacamnya?”
“Itu juga tidak masuk
akal. Dia ‘kan dulunya tunangan Yang Mulia. Tidak ada perlunya belajar mengurus
pekerjaan rumah tangga.”
Memang benar, bahkan Lucy
yang berasal dari keluarga Baron pun belum pernah kulihat mengerjakan tugas
rumah. Sekalipun tujuannya untuk menarik simpati, apa perlu sampai sejauh ini?
Situasi yang terus
berlanjut ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan bersama Nona Villainess
yang kubayangkan.
Saat sedang memusingkan
situasi ini, Rena selesai menyiapkan makanan dan keluar dari dapur, menunduk
sopan kepada kami.
“Selamat pagi, Kalian
berdua.”
“P-pagi, Rena-jou.”
“S-Selamat pagi, Rena-sama.”
Begitu kami berdua
membalas salam dengan canggung secara bersamaan, Rena menurunkan sudut matanya
seperti orang yang merasa serba salah.
“Kalian berdua. Tolong
jangan bersikap terlalu formal kepadaku.”
“ “Eh...?” “
Aku dan Alan saling
berpandangan mendengar tawaran yang sama sekali tidak mencerminkan sosok Nona Villainess
tersebut.
“Tapi. Anda adalah putri
dari seorang Marquis—“
“Itu hanya formalitas
saja. Pada kenyataannya, saat ini saya sama saja seperti orang yang diasingkan
dari keluarga.”
“I-Itu mungkin benar,
tapi...”
Alan, mentang-mentang
kebingungan jangan melihat ke arahku terus. Aku juga tidak tahu harus berbuat
apa.
Saat dua pria memalukan
ini kebingungan memikirkan jawaban, Lucy ikut bergabung dalam obrolan.
“Bukankah apa-apa? Lagipula
dia sendiri yang meminta agar diperlakukan seperti itu.”
“Selamat pagi, Nyonya.”
“Selamat pagi, Rena.”
“—Ghk, ‘Nyonya’...?!”
“Ayo, kalian berdua juga.”
Tak diragukan lagi, nyonya
rumah kamilah yang paling bisa diandalkan.
Mengikuti arahan Lucy,
Alan berbicara.
“Selamat pagi, Rena.
Terima kasih karena selalu membantu pekerjaan rumah tangga. Para pekerja di
kediaman ini juga sangat tertolong.”
“Anda terlalu berlebihan.”
Tatapan Alan padaku seakan
berkata “aku sudah melakukannya, lho”.
Aku juga tidak boleh
kalah.
“S-Selamat pagi, Rena. Selain
itu, panggil aku Arl saja.”
“Bolehkah?”
“Ya.”
Sejak tiba di rumah ini, Rena
selalu memanggilku dengan Arl-dono, dan di masa akademi dulu kami nyaris tidak
pernah mengobrol, jadi rasanya sedikit memalukan tiba-tiba dipanggil dengan
nama depan. Tapi, menyedihkan juga kalau hanya aku yang dipanggil dengan formal
di rumah sendiri.
“Aku mengerti, Arl.”
“—Ghk.”
Rena menyebutkan namaku
sambil menyunggingkan senyuman lembut di bibirnya.
Walaupun dia Nona Villainess,
senyum lembutnya itu mirip sekali dengan Saintess. Tubuhku tanpa sadar
menggeliat pelan ketika menerima serangan sekuat itu.
“Kalau begitu semuanya,
karena sarapan sudah siap, mari kita pindah ke ruang makan.”
Tanpa menyadari kegugupan
kami, Rena mulai membawa makanan menuju aula utama.
Hari ini pun, keaktifan Rena
yang melampaui kemampuan pelayan tidak berubah.
Sebenarnya pemandangan
macam apa yang sedang kulihat ini...
Menghadapi realita yang
sulit diterima ini, dengan hati diliputi keputusasaan, aku melangkah untuk
menyusul punggungnya.
“Tunggu sebentar, Arl.”
“Ada apa, Ibunda?”
Alan sempat menatapku
sejenak saat aku dipanggil oleh Lucy, namun Lucy mengibas-ngibaskan tangannya
seolah mengusirnya, membuat Alan dengan canggung mendahului kami dan menuju
aula utama.
Setelah sosok Rena dan Alan
tidak terlihat lagi, Lucy pun angkat bicara.
“Arl. Bukankah ini sudah saat
yang tepat untuk bertindak?”
“—Ghk, ya, Ibunda
benar...”
Awalnya aku berpikir
seminggu sudah cukup untuk memunculkan niat aslinya, tapi nyatanya sampai
sekarang pun aku masih tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Rena.
Meski tidak ada masalah
yang timbul akibat hal itu, seperti yang dikatakan Lucy, sudah saatnya aku
mengorek informasi darinya secara langsung.
“Saya mengerti. Malam ini,
saya akan menanyakannya langsung.”
“Lakukanlah seperti itu.”
Setelah obrolan itu
selesai, kami pun menuju aula utama untuk sarapan.
※※※
Pada akhirnya, hari ini
pun Rena membantu seluruh pekerjaan rumah tangga dari awal hingga akhir, dan tidak
menunjukkan satu pun tingkah laku khas Nona Villainess.
“Baiklah, ayo lakukan.”
Sambil memandangi langit
malam yang tak berawan dari jendela, aku menguatkan tekadku.
Karena sudah diperingatkan
oleh Lucy, aku tidak bisa terus membiarkan situasi ini tanpa berbuat apa-apa.
Aku keluar dari kamarku,
melangkah hingga tiba di depan pintu kamar di ujung lorong. Lalu, setelah
mengambil napas dalam-dalam, aku mengetuk pintunya.
“Siapa di sana?”
“Ini aku. Maaf mengganggu
larut malam begini, tapi ada yang ingin kubicarakan.”
“Mohon tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian pintu
pun terbuka dan Rena menampakkan dirinya. Ini pertama kalinya aku melihatnya
memakai pakaian tidur tanpa riasan. Singkatnya, ia sangat cantik.
“Um, karena agak
memalukan, tolong jangan terlalu menatapku...”
“—Ghk, m-maaf.”
“Di mana kita akan
bicara?”
“Jika Rena tidak
keberatan, bolehkah aku masuk ke dalam?”
“Aku tidak keberatan.
Silakan.”
“Terima kasih.”
Aku melangkah masuk ke
dalam kamar.
Wajar saja barangnya hanya
sedikit, karena Rena baru tiba seminggu yang lalu. Lain kali aku ingin
membelikannya beberapa hadiah kecil.
“Arl?”
“Ah tidak, bukan apa-apa.”
“Kalau begitu, silakan
duduk di sini, Arl.”
“Bolehkah?”
Aku menatap ke arah tempat
tidur yang ditunjuk oleh jari Rena.
“Iya.”
“Kalau begitu, aku tidak
akan sungkan.”
Setelah aku duduk di tepi tempat
tidur, Rena mengambil posisi di kursi yang menghadap ke arahku.
“Lalu, apa yang ingin kamu
bicarakan?”
Begitu mata kami saling
bertatapan dengan lurus, Rena langsung memulai pembicaraan.
“Kamu mungkin sudah
menyadarinya, tapi ini mengenai sikapmu belakangan ini, Rena.”
“—Sepertinya aku
benar-benar sudah dicurigai, ya”
Ekspresi Rena menegang.
“Aku akan langsung ke
intinya. Sejak kedatanganku di kediaman Keluarga Clover hingga hari ini,
seluruh tindakanku semata-mata karena aku ingin bermanfaat bagi keluarga ini.”
“Maksudnya, kamu tidak
memiliki niat tersembunyi?”
“Benar. Aku berani
bersumpah atas nama Yang Mulia Raja.”
Rena menjawab dengan nada
dan sikap tegas berwibawa. Setidaknya, ini bukanlah sikap seorang Nona Villainess
seperti yang kukenal.
Apakah Rena memang bukan
Nona Villainess... tunggu, sebelum menyimpulkan itu.
“Rena. Ada satu hal lagi
yang ingin kutanyakan padamu.”
“Silakan.”
“Rena yang berada di Akademi
Bangsawan, dan Rena yang sekarang ada di depanku, mana dari keduanya yang
merupakan sosok dirimu yang sebenarnya?”
Itulah satu-satunya hal
yang harus kupastikan.
Mendengar pertanyaanku, Rena
menarik napas panjang, seakan meneguhkan tekad, sebelum menjawab.
“Diriku yang sekarang,
itulah diriku yang sesungguhnya.”
Setelah mengatakan hal
tersebut, Rena mulai menceritakan seluruh kronologi yang membawanya hingga ke
hari ini.
“Arl, seberapa jauh kamu
mengetahui tentang Keluarga Hyacinth?”
“Hanya sebatas mengetahui
bahwa keluarga itu berpangkat Marquis dan tergabung dalam Faksi Bangsawan.”
Tanpa badan intelijen
kelas atas, hampir mustahil untuk mengorek informasi dari keluarga bangsawan
lain, terlebih dari bangsawan pusat yang memegang kekuasaan besar.
“Lalu, menurutmu apa
tujuan mereka menjadikanku sebagai tunangan Yang Mulia?”
“Kalau itu...”
“Jangan ragu, katakan
saja.”
“Berdasarkan dugaanku,
mungkin mereka ingin mengambil alih keluarga kerajaan.”
“Tepat sekali.”
Rena membenarkan dugaanku
tanpa ada sangkalan sedikit pun.
“Apa kamu berpikir
tindakan itu terlalu kejam?”
“Yah, begitulah.”
“Namun, begitulah keadaan Keluarga
Hyacinth.”
Lalu, Rena membeberkan
kepadaku sebagian dari kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Keluarga
Hyacinth.
Sebagai bangsawan, tentu
wajar memiliki ambisi untuk terus meraih posisi yang lebih tinggi. Akan tetapi,
apa yang diceritakan Rena telah jauh melewati batas toleransiku.
“Ketika aku mempelajari
sejarah Keluarga Hyacinth, aku merasa sangat muak.”
Dengan kata lain, Rena tidak
lagi bisa menoleransi kehidupan mewah yang didirikan di atas sejarah yang
kejam. Jika aku berada di posisinya, aku pasti akan merasakan hal yang sama.
“Karena itulah aku
memutuskan. Aku akan mengakhiri sejarah keluarga tersebut.”
“Jangan-jangan, demi
tujuan itu...”
“Benar, aku menargetkan
agar pertunanganku dengan Yang Mulia dibatalkan.”
Mendengar hal tersebut,
aku mulai bisa melihat gambaran besarnya.
Demi mengakhiri sejarah
Keluarga Hyacinth—lebih tepatnya, untuk membuat Keluarga Hyacinth runtuh dan
kehilangan pengaruhnya—Rena berusaha memutus pertunangannya dengan Yang Mulia.
Aktingnya sebagai Nona Villainess
merupakan salah satu langkah dari rencananya.
Di tempat itu, aku
menghela napas panjang.
“Bolehkah aku menanyakan
sesuatu yang aneh?”
“Sesuatu yang aneh? Jika
aku bisa menjawabnya.”
“Pertama, apakah Rena ini
tipe karakter gadis bangsawan yang ‘mengulang kembali waktu’?”
“? Tipe mengulang kembali
waktu, maksudnya?”
“Maksudnya adalah gadis
bangsawan yang mengalami nasib tragis di masa depan, lalu kembali mengulang
waktunya di masa lalu dengan ingatan tersebut.”
“...?”
“Atau, apa kamu tipe
karakter gadis bangsawan yang ‘reinkarnasi’?”
“Tipe reinkarnasi?”
“Seperti, menjalani
kehidupan kedua kalinya... atau pola di mana kamu memiliki ingatan kehidupan di
dunia sebelumnya.”
“Anu... dari tadi apa yang
kamu bicarakan?”
Dari reaksinya, terlihat
jelas bahwa Rena memang tidak mengerti, membuatku kembali menghela napas.
Seandainya Rena melakukan
reinkarnasi atau time-leap, semua tindakannya ini akan terasa masuk
akal, namun kenyataannya bukan seperti itu.
Itu berarti, sejak awal Rena
ini memang memiliki pendirian teguh, jujur dengan perasaannya, benar-benar
sosok heroine yang paling sempurna bagiku.
Perasaanku sungguh campur
aduk. Awalnya, aku berencana untuk secara perlahan mengatasi segala rintangan
dan kesulitan, mendekatkan jarak dengannya, hingga akhirnya sifat aslinya yang
seperti sekarang terungkap.
Tapi kenyataannya, proses
untuk menjadi lebih dekat dengannya yang sangat kunanti-nantikan itu langsung
terlewati begitu saja.
Secara harfiah ini memang
hal yang baik, tapi jika dipikir-pikir aku kehilangan kesempatan menikmati
proses itu, rasanya susah diungkapkan.
“Anu, Arl. Maaf mengganggu
saat kamu sedang terlihat murung, tapi bolehkah aku menanyakan satu hal?”
Saat aku mengangguk lesu,
entah mengapa Rena mendadak terdiam ragu. Terlebih lagi, pipinya sedikit
memerah.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya... soal itu, aku jadi
berpikir, kenapa Arl bersedia membawaku ke kediaman ini?”
Begitu ya, dari sudut
pandang Rena, wajar saja jika ia penasaran.
Normalnya, tidak ada orang
waras yang mau menampung wanita yang baru saja diputus tunangannya oleh anggota
keluarga kerajaan. Itu sama saja dengan mencoreng nama baik keluarga.
Sekarang, jawaban seperti
apa yang tepat untuk diberikan?
“Beri aku waktu sebentar.
Satu menit saja cukup.”
Aku mencoba menata kembali
perasaanku.
Alasanku membawa Rena ke sini
adalah karena aku mencintainya. Hanya saja, perasaan itu sebelumnya ditujukan
pada Rena yang berpura-pura menjadi Nona Villainess di Akademi Bangsawan.
Lalu, apakah aku
benar-benar mencintai sosok Rena yang ada di hadapanku ini?
Pertanyaan konyol.
“Tentu saja karena aku
mencintaimu, Rena.”
“—Ghk!?”
Mendengar jawabanku, wajah
Rena seketika merona merah padam.
“Itu... apakah benar-benar
tidak apa-apa?”
Memang sangat disayangkan bahwa aku tidak bisa menikmati proses pendekatan
untuk mengikis jarak di antara kami secara perlahan.
Meski begitu, tidak diragukan
lagi bahwa Rena tetaplah sosok heroine yang paling sempurna bagiku.
Sambil membusungkan dada
dengan penuh percaya diri, aku menganggukkan kepalaku.
“Ya.”
“Uuugh...”
Sepertinya Rena sangat
malu, bahkan sampai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Mengingat biasanya ia
tampil anggun dan tangguh, reaksi imutnya ini membuat jantungku berdegup
kencang.
“Rena sendiri, apa tidak
apa-apa jika kamu bersama dengan orang sepertiku?”
Mengingat situasi di mana aku
membawanya ke sini secara sepihak menggunakan skenario pengasingan, walaupun sedikit
terlambat, aku harus menanyakannya.
Rena membuat sedikit celah
pada jari-jarinya yang menutupi wajah, lalu ia menatapku dari celah tersebut
dan menjawab.
“Iya... Karena aku juga,
umm... sangat mencintai Arl.”
“—Ghk.”
Mendengar kata-kata yang
diucapkan dengan susah payah karena menahan rasa malu, pipiku perlahan mulai
terasa panas.
“A-Arl. Anu... aku ini
masih memiliki banyak kekurangan, tapi mulai sekarang aku mohon bimbingannya...!”
“O-Oh... aku juga, mohon bimbingannya...”
Kami berdua membuang muka,
sementara keheningan dengan nuansa manis-asam memenuhi udara.
Jika dibiarkan, keadaan
ini bisa berlanjut sampai salah satu dari kami terlelap tidur.
“Umm, karena besok kita
harus bangun pagi, kurasa kita sudahi sampai di sini dulu.”
“I-Iya.”
“Kalau begitu, selamat
tidur.”
“Iya, selamat tidur.”
Aku yang sudah tidak
sanggup menahan debaran dada lebih lama lagi, langsung berpamitan pada Rena dan
melangkah keluar dengan tergesa-gesa.
Namun, bahkan setelah aku
kembali ke kamarku sendiri, rasa kegembiraan yang meluap-luap ini sama sekali
tidak mau mereda
Pada akhirnya, malam itu berakhir dengan aku yang hampir tidak bisa memejamkan mata sama sekali.



Post a Comment