Chapter 5
Sang Pahlawan memercayai sang Legenda
Di depan mata,
Mikkanen-sama dilahap oleh Peri Cendekiawan.
Aku hanya bisa
menatapnya dengan tatapan kosong.
Harapan dunia
ini, sang pahlawan bagi umat manusia, terbunuh karena diriku. Dia kehilangan
nyawanya demi melindungiku.
Ah, ternyata aku
masih sama seperti diriku yang dulu.
Padahal, aku
sudah mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku harus membunuh "diriku yang
lama".
Mengunci diriku
yang pengecut di lubuk hati terdalam, bertarung melawan peri apa pun yang
terjadi, dan membalas budi Mikkanen-sama. Demi itu, aku harus membunuh diriku
yang lama.
Aku telah
menempuh pelatihan yang keras. Aku meniru segala hal yang dilakukan
Mikkanen-sama, menghapus jati diriku sendiri, dan berpikir bahwa dengan menjadi
pahlawan, aku bisa membunuh diriku yang dulu.
Aku berpikir
bahwa aku bukan lagi diriku yang saat itu.
Namun, hasilnya
justru seperti ini.
Saat pertama kali
melihat Peri Cendekiawan, aku kehilangan akal dan mengamuk, lalu di saat
krusial aku justru tidak bisa bertarung dan harus diselamatkan oleh
Mikkanen-sama yang mempertaruhkan nyawanya.
Kini, bahkan
sihirku tidak bisa bekerja, dan aku hanyalah sandera yang diculik Peri
Cendekiawan saat aku sedang berada di ruang medis.
Sebenarnya, untuk
apa aku menjadi seorang Hunter?
"Maafkan
aku."
Aku hanya bisa
meminta maaf.
"Maafkan
aku, maafkan aku, Mikkanen-sama..."
Dosa yang
kuperbuat tidak akan pernah bisa ditebus. Sebagai seseorang yang dulunya
hanyalah ternak, aku tidak bisa melakukan apa pun.
Padahal, aku baru
saja menyebabkan kematian Mikkanen-sama.
"Ah, kalau
begitu kalian tidak kubutuhkan lagi. Lagipula aku sudah mendapatkan
Mikkanen-chan, dan bukankah tadi kubilang aku tidak akan menyentuh kalian atau
umat manusia lagi? Jadi, pergilah ke mana pun kalian mau."
Kami dilempar
dengan kasar ke tanah oleh Peri Cendekiawan.
Isfarna-san dan
Ingrasius-san hanya berjongkok diam di atas tanah dengan tatapan mata yang
kosong. Raksasa putih
yang bersinar itu tidak lagi melirik kami dan hendak pergi dari sana.
"Hei,
Peri Cendekiawan."
Di
hadapannya, seorang Hunter kecil berdiri menghadang.
Kelopak
bunga putih berterbangan, membiarkan rambutnya tertiup angin.
"Di mana kau
sembunyikan Mikkanen? Di mana jantungku?"
"Wah,
kupikir siapa, ternyata si tiruan peri. Sudah lama tidak jumpa, ya. Kalau
dipikir-pikir, ini pertama kalinya kita bertemu lagi sejak aku dibunuh, bukan?
Apa kabarmu?"
"Diam kau.
Di mana kau sembunyikan Mikkanen? Jawab sekarang, atau akan kuhancurkan mulut
lancangmu itu."
Meskipun
menghadapi musuh yang begitu mengerikan, Murglaide-san tidak mundur sedikit
pun.
"Ah,
Mikkanen, Mikkanen ya..."
Mata Peri
Cendekiawan melengkung penuh kesenangan.
"Sudah
kumakan!"
"...Ahhhhhh,
akan kubunuh kau!"
Murglaide-san
berteriak dengan mata yang memerah penuh amarah.
Seketika, kelopak
bunga putih mengamuk dan menyerang Peri Cendekiawan. Namun, Peri Cendekiawan
yang kini memiliki kekuatan sihir yang jauh melampaui level sebelumnya, bahkan
tidak tergores kulitnya.
"Kau
mengganggu, tahu."
Kilatan cahaya
putih melesat.
Hanya dengan itu,
Murglaide-san terlempar jauh. Darah memercik di mana-mana, tubuhnya
menggelinding di tanah hingga menghantam bebatuan.
"Benar-benar
bodoh ya, mencoba bertarung padahal tidak ada peluang untuk menang."
Peri
Cendekiawan bergumam dengan nada jengkel.
Namun,
meski tubuhnya babak belur dalam satu serangan dan napasnya sudah
tersengal-sengal di ambang kematian, Murglaide-san tetap bangkit berdiri.
"Hanya
kau... hanya kau yang memakan Mikkanen yang tidak akan kumaafkan...!"
Dia terus
berteriak.
Dia
kembali memanggil kelopak bunga untuk mencoba bertarung melawan Peri
Cendekiawan. Berbeda dengan Murglaide-san, aku hanya bisa terduduk diam di
tanah.
...Ah, aku
benar-benar tidak berubah sama sekali, pikirku.
Aku yang dulu
menertawakan orang-orang yang berani bertarung dan mengucapkan kata-kata kasar
kepada Mikkanen-sama yang lama. Aku hanyalah seekor babi yang tetap dipelihara
oleh Peri Cendekiawan.
Pengecut, hanya
bisa menjilat peri yang jauh lebih hebat dariku.
Aku tetaplah
diriku yang bodoh seperti dulu.
Sementara
Murglaide-san dan Mikkanen-sama saat ini, mereka sangatlah berbeda.
Mikkanen-sama
mati demi melindungiku.
Mikkanen-sama
terus bertarung demi orang lain sampai akhir. Tidak peduli betapa konyolnya
pertarungan itu, dia terus berjuang dengan sungguh-sungguh meski tubuhnya
hancur.
Terkadang
menanggung beban nyawa para Hunter.
Terkadang
menanggung beban nyawa orang-orang tak berdosa yang tak terhitung jumlahnya.
Namun,
Mikkanen-sama tetap bertarung dengan berani.
Ah, aku
tidak akan pernah bisa menandinginya.
Mikkanen-sama
berjalan di jalan yang seandainya itu adalah aku, sudah pasti akan kutinggalkan
sejak lama demi mencari kenyamanan. Meskipun dia tahu nyawanya bisa hilang karena kesalahan sekecil apa pun,
dia tetap melangkah maju.
Aku tahu tatapan
Mikkanen-sama berubah penuh kesedihan saat melihat pemakaman Alekseyev-san.
Aku tahu bibirnya
bergetar saat dia hampir hancur oleh beban dosa yang dipikulnya.
Kalau aku, aku
pasti sudah melarikan diri.
Sosok
Mikkanen-sama yang selalu terluka dalam setiap pertarungan dan menahan rasa
sakit yang luar biasa terasa begitu pedih, membuat dadaku sesak. Meski dia
menderita luka yang bahkan tidak bisa disebut manusiawi, bahkan meski hanya
menyisakan kepalanya saja, dia tetap...
Dan aku membunuh
Mikkanen-sama seperti itu.
Aku lah yang
membunuhnya.
Aku bahkan tidak
bisa membayangkan bagaimana caranya untuk menebus dosa ini.
"Berisik
sekali, kan? Mikkanen-chan sekarang sudah jadi milikku. Aku sudah meluangkan
waktu untuk menghancurkan mentalnya dengan penuh kasih sayang, jadi sekarang
dia sudah sepenuhnya tunduk padaku."
"Diam diam
diam...!"
Murglaide-san
terus terluka. Setelah terlempar oleh Peri Cendekiawan, dia bangkit lagi dan
menyerbu ke arahnya.
Itu terasa
sia-sia bagiku.
Karena
Mikkanen-sama sudah tidak ada lagi.
Dulu, umat
manusia bisa bertarung dan membunuh Raja Iblis karena ada Mikkanen-sama di sisi
kami.
Sekarang, saat
Raja Iblis itu bangkit kembali dan Mikkanen-sama dilahap karena kesalahanku,
segalanya terasa tidak berguna.
Mikkanen-sama
terbunuh karena diriku. Bagaimanapun juga...
Tepat saat aku
menundukkan wajah karena tidak sanggup melihat Murglaide-san terus disiksa,
itulah yang terjadi.
"!"
Peri Cendekiawan
menggetarkan matanya.
Dia memeluk
tubuhnya sendiri dan membungkuk, seolah mencoba menahan sesuatu yang akan lahir
dari dalam dirinya. Senyum yang selama ini tak pernah hilang itu kini lenyap.
"Kenapa,
kenapa bisa begini!"
Dia berteriak
penuh kebingungan.
"Kenapa
sekarang? Padahal sudah kubuat mentalnya hancur perlahan-lahan, kenapa!"
Setelah kata-kata
yang terdengar begitu pedih itu, Peri Cendekiawan terdiam dengan wajah yang
terdistorsi.
Sesaat kemudian,
dadanya menyembul kuat.
Darah
menyembur dari dada yang meledak, daging berhamburan ke mana-mana. Dan dari
sana, seseorang yang bersimbah darah melompat keluar.
Saat aku
melihat sosok itu menghantam tanah dan menggelinding, napasku terhenti.
"...Ah,
menyebalkan sekali! Aku mencintaimu begitu dalam, tapi kenapa Mikkanen-chan
selalu tidak pernah percaya pada cintaku!"
"Ti...dak
mungkin..."
Padahal
seharusnya dia sudah dimakan karena kesalahanku.
Namun, sosok yang
berdiri di sana adalah Mikkanen-sama yang sesungguhnya.
"Mikkanen...
sama..."
Dia adalah sosok
pahlawan yang sebenarnya.
◆◆◆
"Mikkanen?"
Murglaide
bergetar, seolah dia melihat sesuatu yang tidak bisa dipercayai. Tubuhnya penuh
luka, berantakan oleh tanah dan darah.
Aku merasa
menyesal.
Namun, tidak ada
waktu untuk meminta maaf.
Dalam sekejap,
pandanganku memutih. Aku tewas seketika tanpa sempat menyadari bahwa aku
terhempas oleh sihir Peri Cendekiawan.
Satu-satunya yang
tersisa, pergelangan kaki yang berasap, mulai menumbuhkan kaki, lengan, dan
kepala. Dengan
begitu, aku berhasil menggelinding menghindari serangan sinar yang terus
menyusul.
Kilatan
cahaya menyerempet di atas kepalaku, sedikit membakar rambutku.
Aku
menerjang maju dan menghantamkan pedang ke lengan sang peri.
Namun,
bahkan tanpa perlu mengerahkan tenaga, Longsword milikku patah menjadi
dua di bagian pangkalnya. Mungkin karena sihir yang menyelimuti kulitnya, garis
merah muncul di kulitku sendiri.
"Tidak
ada yang berubah! Aku seharusnya tidak perlu pakai taktik, aku seharusnya
memaksa kalian mengerti dengan kekuatanku dari awal! Ahahahaha!"
Tawa yang
menusuk telinga milik Peri Cendekiawan bergema.
Jadi
pedang tidak bisa menembusnya, ya.
Aku
menggeretakkan gigi. Peri Cendekiawan yang telah memakan sepuluh juta nyawa dan
mempelajari sihir para Hunter di dalam tubuhnya, sepertinya tidak bisa
dilukai dengan kekuatan kasar.
Sinar
putih murni menyambar ke arahku yang masih mengayunkan Longsword.
"Cih,
sial... berbeloklah..."
Lintasan
serangan yang seharusnya menebas kepalaku dengan bersih itu, karena satu kata,
targetnya menjadi kacau dan meleset ke samping.
Seorang Hunter
yang tadi seharusnya terkapar bersimbah darah.
Isfarna,
sedikit mengangkat kepalanya, mengarahkan tangannya ke arah sini.
"Isfarna,
jangan gegabah. Kau kan bisa mati kapan saja..."
"Jangan
sok menasihatiku, si bodoh! Kau juga sama saja, kan? Bukankah kau selalu hancur sendirian tanpa
memberitahu siapa pun? Kalau begitu, tidak ada salahnya jika aku melakukan hal
yang sama!"
Sambil
menciptakan genangan darah, Isfarna menangis dan berteriak. Melihat air mata yang tumpah dari matanya,
aku tidak punya pilihan selain diam.
Alis Peri
Cendekiawan berkerut.
"Duh, jangan
memunculkan hal aneh yang mengganggu, dong. Aku ingin berduaan saja dengan
Mikkanen."
Lengan raksasa
putih itu berbuih, dan menembakkan banyak tombak hitam. Ingrasius melompat
menutupi Isfarna untuk menahan tombak-tombak tersebut.
"..."
Wajahnya
terdistorsi oleh rasa sakit yang hebat.
Pada daging lunak
yang sudah tidak memiliki kekuatan sihir untuk bertahan, ujung tombak yang
tajam menancap dalam tanpa ampun.
Aku
mengambil Longsword baru dari balik jubahku dan menepis sisa tombak yang
terus menyerang.
Melihat
itu, senyum kembali ke wajah Peri Cendekiawan. Dia mungkin menyadari bahwa
meski aku bangkit dari dalam perutnya, keunggulan posisinya tidak goyah sedikit
pun.
"Semangat,
semangat."
Tidak ada
yang berubah.
Dengan
sihir kami saja, kami tidak bisa melukai Peri Cendekiawan yang telah memakan
sepuluh juta nyawa. Aku, Murglaide, Isfarna, maupun Ingrasius, tidak ada yang
bisa menyentuh kulitnya.
Jika ada
seseorang yang bisa melakukannya...
Mataku
menangkap sosok Radim yang sedang duduk di dekat sana.
Menyadari hal
itu, Radim menggetarkan matanya.
Sihir Radim
adalah menciptakan Longsword yang dapat menembus apa pun. Kekuatan itu,
mungkin adalah satu-satunya senjata yang mampu membunuh Peri Cendekiawan saat
ini.
"Radim,
bisakah kau meminjamkan kekuatanmu padaku?"
Aku berbicara
dengan tenang.
Jika aku tidak
membunuh Peri Cendekiawan di sini, umat manusia akan musnah karena kesalahanku.
Meski aku tahu ini adalah ego karena tidak ingin hal itu terjadi, aku tidak
punya pilihan selain mengandalkan Radim.
"Mustahil,
itu mustahil...! Bahkan tanpa peri sekalipun, aku yang tidak bisa lagi
menggunakan sihir dengan benar, bagaimana mungkin bisa membunuh Peri
Cendekiawan itu!"
Radim saat ini
kehilangan sihirnya karena aku.
Radim
kehilangan akal dan mengamuk saat bertarung melawan Peri Cendekiawan. Bagi
Radim yang seharusnya sudah membunuh "dirinya yang lama" saat menjadi
budak Peri Cendekiawan, itu adalah hal yang tidak bisa dimaafkan.
Akibatnya,
dia tidak bisa lagi memenuhi Geass-nya.
Geass untuk mempercayai dirinya
sendiri.
"Aku
tidak akan pernah bisa menjadi pahlawan seperti Mikkanen-sama. Aku hanyalah
ternak yang patuh pada peri karena takut mati, jadi bagaimana mungkin kau bisa
percaya pada seseorang seperti aku..."
Aku
segera memeluk Radim dan berguling ke samping.
Tempat
yang tadi kami tempati telah terbakar oleh sinar putih dan seketika berubah
menjadi tanah hangus.
Peri
Cendekiawan menyingkirkan Isfarna, Murglaide, dan Ingrasius yang mencoba
menghalanginya dengan berbagai sihir, lalu menatap Radim dengan mata dingin
yang mengejek.
"Betul
sekali, Mikkanen-chan, tidak ada gunanya memercayai anak itu. Dia dulunya
adalah ternak yang kupelihara, tahu. Hanya bisa gemetar ketakutan padaku,
bahkan tidak bisa melawan seperti dirimu."
"Apa yang
dikatakan Peri Cendekiawan itu benar, Mikkanen-sama. Tidak ada orang seperti aku yang pantas
dipercayai. Aku, aku..."
Aku
menyentuh pipi Radim.
"Eh?"
Bersamaan
dengan itu, sihir Peri Cendekiawan menghantam punggungku.
"!"
Dagingku
hancur, tulang-tulangku terkikis, namun aku tetap menyalurkan sisa sihirku
untuk menjadi perisai.
Aku
mengangkat wajah Radim dan menatap matanya.
"Lihat hanya
ke mataku."
Punggungku
terbakar.
Aroma daging
terbakar menyengat di mana-mana, dan setiap kali sarafku hilang lalu tumbuh
kembali, rasa sakit yang luar biasa menghantam otakku. Namun, aku tidak
melepaskan tangan dari Radim.
"Kau adalah Hunter
berbakat, berani, dan penuh usaha."
"Mana
mungkin aku bisa percaya itu..."
"Kalau
begitu, percayalah pada diriku yang memercayaimu."
Mata
Radim bergetar.
"Radim,
siapakah aku ini?"
"Mikkanen-sama,
Mikkanen-sama adalah pahlawan umat manusia. Seseorang yang tidak pernah
menyerah, terus bertarung, dan meski dalam kesulitan hebat, pada akhirnya
selalu menang. Dialah Hunter yang kukagumi."
"Dan aku
yang itu, memercayaimu. Tidakkah itu cukup?"
Sesuatu yang
berkilau muncul di mata Radim. Sambil terisak dengan suara basah, Radim bertanya padaku dengan suara
serak.
"Mengapa,
mengapa Anda bisa mengatakan hal seperti itu?"
"Karena
kau bisa menatap kegagalan dan dosamu di masa lalu dengan jujur. Karena kau
malu akan dirimu yang dulu, dan karenanya kau berusaha untuk menjadi lebih
baik."
Ya, Radim
berbeda denganku.
Berbeda
denganku yang dulu kehilangan Kurukutta dan lari dari dosa demi "menjaga
skenario gim" agar tetap berjalan.
"..."
Saat Radim
mengepalkan tangannya erat-erat.
"Guh,
ah!"
"Mikkanen-sama!"
Bersamaan dengan
jeritan pedih Radim, rasa sakit luar biasa merambat di punggungku.
Di sudut mataku,
kulihat larva panjang masuk ke dalam tubuhku. Ini pasti sihir Peri Cendekiawan;
aku sedang dimakan oleh serangga saat masih hidup.
"Kenapa
kalian tidak berhenti bicara soal hal-hal klise yang menjijikkan itu?"
Peri Cendekiawan
tertawa cekikikan. Meski menahan rasa sakit luar biasa karena daging punggungku
membusuk, aku tetap berharap.
"Radim, bisa
kau lakukan?"
"..."
Radim mengangguk
kecil.
Aku memeluk Radim
dan berdiri. Dari arah belakang, sejumlah sinar yang tak terhitung jumlahnya
melesat dari Peri Cendekiawan.
"Kenapa
kalian malah jadi semangat begini? Padahal cuma ternak, cepat serahkan
Mikkanen-chan padaku!"
"Mohon,
tetaplah sedekat mungkin. Sampai kulit kita bersentuhan, kalau tidak, bahkan
dengan mengumpulkan semua sihirku saat ini, aku tidak akan bisa menembus peri
itu."
Mengikuti
kata-kata lirih Radim, aku menendang tanah dan berlari.
"Diserahkan
padamu."
Aku berlari
seolah merayap di tanah menuju Peri Cendekiawan. Untuk membidik kami,
sinar-sinar cahaya berkumpul dan mengepung langkah kami.
"Beloklahhh!"
Jeritan Isfarna
bergema.
Namun, bahkan
dengan sisa sihir terakhirnya, dia hanya mampu membelokkan sedikit lintasan
sinar tersebut.
Tepat di depan
mata, ada cahaya yang bisa membunuh Radim hanya dengan menyerempetnya. Saat aku
memeluk Radim untuk menjadi perisai, itulah saatnya.
Satu bayangan
melompat masuk di antara cahaya itu dan diriku.
Suara
gigi yang bergemeretak terdengar sampai ke sini.
Ingrasius,
yang mengeraskan tubuhnya dengan sihir menjadi baja, menahan sinar yang
mendekat dengan tubuhnya sendiri.
"Ingrasius!"
Suara
daging yang terkoyak terdengar hingga ke sini. Lubang di lengannya bahkan bisa
menembus pandangan cahaya dari arah seberang, namun Ingrasius tetap
mencengkeram kerah bajuku.
"--!"
Dengan teriakan
tanpa suara, dia melempar tubuhku pergi.
Sambil
menggigit bibir, aku terus berlari.
"Bodoh
sekali, kalau kalian mendekat dari sana, itu justru membuatku lebih mudah
membidik, tahu."
Peri
Cendekiawan tercekik.
Lalu, apa
yang lahir dari mulutnya adalah bola api raksasa yang tampak seperti matahari.
Panasnya bahkan membakar kulit Peri Cendekiawan itu sendiri.
Peri
Cendekiawan tersenyum lebar.
"Strike."
Bola api itu
jatuh tepat ke arahku.
Aku mendecakkan
lidah. Dengan sisa sihirku saat ini, mustahil bagiku untuk menembus bola api
ini sambil melindungi Radim.
Namun, kelopak
bunga berterbangan.
"Mikkanen,
ini akan terasa sedikit sakit, tapi tahan ya."
Murglaide
meletakkan tangannya di dadanya sendiri.
Jari-jarinya
menancap ke kulit putihnya, lalu tenggelam. Dengan wajah kesakitan, apa yang
diambil Murglaide adalah jantung yang terus berdenyut.
Dia
menghantamkannya ke dadaku.
Melibatkan
jantung Murglaide, lukaku mulai sembuh. Bersamaan dengan itu, sihir yang sangat
besar mengalir dari Murglaide ke dalam tubuhku.
"Sisanya
kuserahkan padamu. Kalau kau mati, tidak akan kumaafkan..."
Murglaide
kehilangan kesadaran dan roboh.
Tanpa
ragu, aku menerjang ke dalam bola api.
"Mikkanen-sama,
Mikkanen-sama!"
Karena mulutku
terus terbakar, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Sambil terus
melindungi Radim di dalam dekapanku, aku melangkah lebih cepat, apa pun yang
terjadi.
Dengan
begitu, aku sampai di depan dada Peri Cendekiawan.
"Lalu
kenapa! Kalau kau tidak tahu di mana jantungku berada, itu percuma!"
Peri Cendekiawan
sama sekali tidak menghilangkan senyumnya.
Tanpa meragukan
kemenangannya, dia terus mengejekku. Namun, hanya satu pemikiran lain yang
bergema di kepalaku yang berbicara dengan tenang.
'Mikkanen, aku
akan menusuk jantungnya. Kamu hanya perlu membidik titik itu.'
Alhanzen-sensei,
yang dilahap oleh Peri Cendekiawan dan hanya menyisakan pikirannya.
Alhanzen-sensei
telah masuk ke dalam diriku, berada di sisiku. Dia menaruh pikirannya ke dalam Senjata No. 0, dan
masuk ke dalam diriku.
Senjata No. 0
yang tersembunyi di dalam tubuh Peri Cendekiawan.
Benda itu membuat
jantung Peri Cendekiawan bersinar merah.
"Hah?"
Untuk pertama
kalinya, senyum hilang dari wajah Peri Cendekiawan. Tidak peduli seberapa
banyak Hunter yang telah ia lahap, jika lokasi jantungnya diketahui, dia
akan segera dimusnahkan.
"Kenapa,
kenapa melakukan hal sekejam ini! Aku hanya menginginkan Mikkanen, seperti yang
lain, aku hanya ingin memiliki 'diri sendiri'..."
Karena oleh-oleh
yang ditinggalkan oleh sepuluh juta prajurit yang telah dimakan, kematian Peri
Cendekiawan kini ada tepat di depan mata.
"Radim,
raih tanganku!"
"I-iya."
Sihir
berkumpul di tangan putih Radim.
"Percayalah
padaku. Percayalah pada dirimu yang dipercayai olehku."
"Aku percaya
pada Mikkanen-sama, aku percaya pada Mikkanen-sama...!"
Saat Radim
memejamkan mata, di tangannya benar-benar tergenggam Longsword yang
bersinar terang.
"Aku percaya
pada diriku yang dipercayai oleh Mikkanen-sama...!"
Itu adalah kilau
sang pemberani yang pernah kulihat berkali-kali di dalam gim.
Kilatan cahaya
yang dilepaskan seketika memusnahkan Peri Cendekiawan.
◆◆◆
―Kenapa, rasanya
sakit sekali?
Peri Cendekiawan
tidak mengerti.
Rasanya aneh,
bukankah seharusnya dia yang menang sampai sesaat lalu?
Dia sudah
mendapatkan Mikkanen, melahap sepuluh juta prajurit, dan seharusnya tidak
terkalahkan oleh siapa pun.
Namun,
kenyataannya dia kini terpojok.
Sekali lagi, dia
terpojok oleh Mikkanen, pria yang telah menggenggam cahaya yang selama ini ia
kejar-kejar.
Mengapa bisa
begitu?
Mengapa ini
terjadi?
Peri Cendekiawan
tidak memahaminya.
Meski tidak
memahaminya, entah mengapa dia justru tertawa.
Benar, inilah
dia. Inilah hal yang selama ini selalu didambakan oleh Peri Cendekiawan.
Sosok
yang tidak pernah menyerah kapan pun.
Sosok
yang terus melawan dalam kondisi apa pun.
Sosok yang tidak pernah membiarkan dirinya dibengkokkan oleh orang lain, melainkan terus bertarung dengan teguh hanya demi jalannya sendiri.
Itu dia,
hal yang ia inginkan—sesuatu yang disebut "diri sendiri," sosok
seorang pria bernama Mikkanen.
Terbungkus
dalam kilatan cahaya putih, jantungnya perlahan menghilang.
Gerombolan
yang ia ciptakan perlahan musnah.
Ah,
begitu rupanya.
Akhirnya,
Peri Cendekiawan menyadarinya.
Bukan
"diri sendiri" yang selama ini diinginkan oleh Peri Cendekiawan.
Ia sebenarnya sangat mengagumi sosok Mikkanen
yang terus berjalan di jalannya sendiri dengan sepenuh hati.
Ia
mendambakan bisa hidup seperti pria itu, merindukannya dengan begitu dalam.
Akhirnya
ia sadar.
"Diri
sendiri" yang selama ini ingin ia miliki, sebenarnya sudah ia genggam.
Sejak hari itu,
sejak pertama kali ia bertarung melawan Mikkanen dan menyentuh hatinya.
Di saat-saat
terakhirnya, Peri Cendekiawan akhirnya berhasil menemukan "dirinya
sendiri."
Sebuah perasaan
yang tak akan ia berikan pada siapa pun.
Meski apa pun
yang terjadi di depan nanti, meski nyawa ini harus melayang, itu adalah
"diri sendiri" yang mutlak dan tak akan pernah hilang.
"Aha, mati
di tangan orang yang kucintai... ternyata jauh lebih membahagiakan daripada
yang kubayangkan, ya?"
Hal terakhir yang
dipelajari oleh Peri Cendekiawan adalah cinta.



Post a Comment