NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinrui Metsubou Sunzen Game Sekai de Jibun wo Gisei ni Teki wo Taoshitetara Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Sang Pahlawan memercayai sang Legenda


Di depan mata, Mikkanen-sama dilahap oleh Peri Cendekiawan.

Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong.

Harapan dunia ini, sang pahlawan bagi umat manusia, terbunuh karena diriku. Dia kehilangan nyawanya demi melindungiku.

Ah, ternyata aku masih sama seperti diriku yang dulu.

Padahal, aku sudah mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku harus membunuh "diriku yang lama".

Mengunci diriku yang pengecut di lubuk hati terdalam, bertarung melawan peri apa pun yang terjadi, dan membalas budi Mikkanen-sama. Demi itu, aku harus membunuh diriku yang lama.

Aku telah menempuh pelatihan yang keras. Aku meniru segala hal yang dilakukan Mikkanen-sama, menghapus jati diriku sendiri, dan berpikir bahwa dengan menjadi pahlawan, aku bisa membunuh diriku yang dulu.

Aku berpikir bahwa aku bukan lagi diriku yang saat itu.

Namun, hasilnya justru seperti ini.

Saat pertama kali melihat Peri Cendekiawan, aku kehilangan akal dan mengamuk, lalu di saat krusial aku justru tidak bisa bertarung dan harus diselamatkan oleh Mikkanen-sama yang mempertaruhkan nyawanya.

Kini, bahkan sihirku tidak bisa bekerja, dan aku hanyalah sandera yang diculik Peri Cendekiawan saat aku sedang berada di ruang medis.

Sebenarnya, untuk apa aku menjadi seorang Hunter?

"Maafkan aku."

Aku hanya bisa meminta maaf.

"Maafkan aku, maafkan aku, Mikkanen-sama..."

Dosa yang kuperbuat tidak akan pernah bisa ditebus. Sebagai seseorang yang dulunya hanyalah ternak, aku tidak bisa melakukan apa pun.

Padahal, aku baru saja menyebabkan kematian Mikkanen-sama.

"Ah, kalau begitu kalian tidak kubutuhkan lagi. Lagipula aku sudah mendapatkan Mikkanen-chan, dan bukankah tadi kubilang aku tidak akan menyentuh kalian atau umat manusia lagi? Jadi, pergilah ke mana pun kalian mau."

Kami dilempar dengan kasar ke tanah oleh Peri Cendekiawan.

Isfarna-san dan Ingrasius-san hanya berjongkok diam di atas tanah dengan tatapan mata yang kosong. Raksasa putih yang bersinar itu tidak lagi melirik kami dan hendak pergi dari sana.

"Hei, Peri Cendekiawan."

Di hadapannya, seorang Hunter kecil berdiri menghadang.

Kelopak bunga putih berterbangan, membiarkan rambutnya tertiup angin.

"Di mana kau sembunyikan Mikkanen? Di mana jantungku?"

"Wah, kupikir siapa, ternyata si tiruan peri. Sudah lama tidak jumpa, ya. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kita bertemu lagi sejak aku dibunuh, bukan? Apa kabarmu?"

"Diam kau. Di mana kau sembunyikan Mikkanen? Jawab sekarang, atau akan kuhancurkan mulut lancangmu itu."

Meskipun menghadapi musuh yang begitu mengerikan, Murglaide-san tidak mundur sedikit pun.

"Ah, Mikkanen, Mikkanen ya..."

Mata Peri Cendekiawan melengkung penuh kesenangan.

"Sudah kumakan!"

"...Ahhhhhh, akan kubunuh kau!"

Murglaide-san berteriak dengan mata yang memerah penuh amarah.

Seketika, kelopak bunga putih mengamuk dan menyerang Peri Cendekiawan. Namun, Peri Cendekiawan yang kini memiliki kekuatan sihir yang jauh melampaui level sebelumnya, bahkan tidak tergores kulitnya.

"Kau mengganggu, tahu."

Kilatan cahaya putih melesat.

Hanya dengan itu, Murglaide-san terlempar jauh. Darah memercik di mana-mana, tubuhnya menggelinding di tanah hingga menghantam bebatuan.

"Benar-benar bodoh ya, mencoba bertarung padahal tidak ada peluang untuk menang."

Peri Cendekiawan bergumam dengan nada jengkel.

Namun, meski tubuhnya babak belur dalam satu serangan dan napasnya sudah tersengal-sengal di ambang kematian, Murglaide-san tetap bangkit berdiri.

"Hanya kau... hanya kau yang memakan Mikkanen yang tidak akan kumaafkan...!"

Dia terus berteriak.

Dia kembali memanggil kelopak bunga untuk mencoba bertarung melawan Peri Cendekiawan. Berbeda dengan Murglaide-san, aku hanya bisa terduduk diam di tanah.

...Ah, aku benar-benar tidak berubah sama sekali, pikirku.

Aku yang dulu menertawakan orang-orang yang berani bertarung dan mengucapkan kata-kata kasar kepada Mikkanen-sama yang lama. Aku hanyalah seekor babi yang tetap dipelihara oleh Peri Cendekiawan.

Pengecut, hanya bisa menjilat peri yang jauh lebih hebat dariku.

Aku tetaplah diriku yang bodoh seperti dulu.

Sementara Murglaide-san dan Mikkanen-sama saat ini, mereka sangatlah berbeda.

Mikkanen-sama mati demi melindungiku.

Mikkanen-sama terus bertarung demi orang lain sampai akhir. Tidak peduli betapa konyolnya pertarungan itu, dia terus berjuang dengan sungguh-sungguh meski tubuhnya hancur.

Terkadang menanggung beban nyawa para Hunter.

Terkadang menanggung beban nyawa orang-orang tak berdosa yang tak terhitung jumlahnya.

Namun, Mikkanen-sama tetap bertarung dengan berani.

Ah, aku tidak akan pernah bisa menandinginya.

Mikkanen-sama berjalan di jalan yang seandainya itu adalah aku, sudah pasti akan kutinggalkan sejak lama demi mencari kenyamanan. Meskipun dia tahu nyawanya bisa hilang karena kesalahan sekecil apa pun, dia tetap melangkah maju.

Aku tahu tatapan Mikkanen-sama berubah penuh kesedihan saat melihat pemakaman Alekseyev-san.

Aku tahu bibirnya bergetar saat dia hampir hancur oleh beban dosa yang dipikulnya.

Kalau aku, aku pasti sudah melarikan diri.

Sosok Mikkanen-sama yang selalu terluka dalam setiap pertarungan dan menahan rasa sakit yang luar biasa terasa begitu pedih, membuat dadaku sesak. Meski dia menderita luka yang bahkan tidak bisa disebut manusiawi, bahkan meski hanya menyisakan kepalanya saja, dia tetap...

Dan aku membunuh Mikkanen-sama seperti itu.

Aku lah yang membunuhnya.

Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana caranya untuk menebus dosa ini.

"Berisik sekali, kan? Mikkanen-chan sekarang sudah jadi milikku. Aku sudah meluangkan waktu untuk menghancurkan mentalnya dengan penuh kasih sayang, jadi sekarang dia sudah sepenuhnya tunduk padaku."

"Diam diam diam...!"

Murglaide-san terus terluka. Setelah terlempar oleh Peri Cendekiawan, dia bangkit lagi dan menyerbu ke arahnya.

Itu terasa sia-sia bagiku.

Karena Mikkanen-sama sudah tidak ada lagi.

Dulu, umat manusia bisa bertarung dan membunuh Raja Iblis karena ada Mikkanen-sama di sisi kami.

Sekarang, saat Raja Iblis itu bangkit kembali dan Mikkanen-sama dilahap karena kesalahanku, segalanya terasa tidak berguna.

Mikkanen-sama terbunuh karena diriku. Bagaimanapun juga...

Tepat saat aku menundukkan wajah karena tidak sanggup melihat Murglaide-san terus disiksa, itulah yang terjadi.

"!"

Peri Cendekiawan menggetarkan matanya.

Dia memeluk tubuhnya sendiri dan membungkuk, seolah mencoba menahan sesuatu yang akan lahir dari dalam dirinya. Senyum yang selama ini tak pernah hilang itu kini lenyap.

"Kenapa, kenapa bisa begini!"

Dia berteriak penuh kebingungan.

"Kenapa sekarang? Padahal sudah kubuat mentalnya hancur perlahan-lahan, kenapa!"

Setelah kata-kata yang terdengar begitu pedih itu, Peri Cendekiawan terdiam dengan wajah yang terdistorsi.

Sesaat kemudian, dadanya menyembul kuat.

Darah menyembur dari dada yang meledak, daging berhamburan ke mana-mana. Dan dari sana, seseorang yang bersimbah darah melompat keluar.

Saat aku melihat sosok itu menghantam tanah dan menggelinding, napasku terhenti.

"...Ah, menyebalkan sekali! Aku mencintaimu begitu dalam, tapi kenapa Mikkanen-chan selalu tidak pernah percaya pada cintaku!"

"Ti...dak mungkin..."

Padahal seharusnya dia sudah dimakan karena kesalahanku.

Namun, sosok yang berdiri di sana adalah Mikkanen-sama yang sesungguhnya.

"Mikkanen... sama..."

Dia adalah sosok pahlawan yang sebenarnya.

◆◆◆

"Mikkanen?"

Murglaide bergetar, seolah dia melihat sesuatu yang tidak bisa dipercayai. Tubuhnya penuh luka, berantakan oleh tanah dan darah.

Aku merasa menyesal.

Namun, tidak ada waktu untuk meminta maaf.

Dalam sekejap, pandanganku memutih. Aku tewas seketika tanpa sempat menyadari bahwa aku terhempas oleh sihir Peri Cendekiawan.

Satu-satunya yang tersisa, pergelangan kaki yang berasap, mulai menumbuhkan kaki, lengan, dan kepala. Dengan begitu, aku berhasil menggelinding menghindari serangan sinar yang terus menyusul.

Kilatan cahaya menyerempet di atas kepalaku, sedikit membakar rambutku.

Aku menerjang maju dan menghantamkan pedang ke lengan sang peri.

Namun, bahkan tanpa perlu mengerahkan tenaga, Longsword milikku patah menjadi dua di bagian pangkalnya. Mungkin karena sihir yang menyelimuti kulitnya, garis merah muncul di kulitku sendiri.

"Tidak ada yang berubah! Aku seharusnya tidak perlu pakai taktik, aku seharusnya memaksa kalian mengerti dengan kekuatanku dari awal! Ahahahaha!"

Tawa yang menusuk telinga milik Peri Cendekiawan bergema.

Jadi pedang tidak bisa menembusnya, ya.

Aku menggeretakkan gigi. Peri Cendekiawan yang telah memakan sepuluh juta nyawa dan mempelajari sihir para Hunter di dalam tubuhnya, sepertinya tidak bisa dilukai dengan kekuatan kasar.

Sinar putih murni menyambar ke arahku yang masih mengayunkan Longsword.

"Cih, sial... berbeloklah..."

Lintasan serangan yang seharusnya menebas kepalaku dengan bersih itu, karena satu kata, targetnya menjadi kacau dan meleset ke samping.

Seorang Hunter yang tadi seharusnya terkapar bersimbah darah.

Isfarna, sedikit mengangkat kepalanya, mengarahkan tangannya ke arah sini.

"Isfarna, jangan gegabah. Kau kan bisa mati kapan saja..."

"Jangan sok menasihatiku, si bodoh! Kau juga sama saja, kan? Bukankah kau selalu hancur sendirian tanpa memberitahu siapa pun? Kalau begitu, tidak ada salahnya jika aku melakukan hal yang sama!"

Sambil menciptakan genangan darah, Isfarna menangis dan berteriak. Melihat air mata yang tumpah dari matanya, aku tidak punya pilihan selain diam.

Alis Peri Cendekiawan berkerut.

"Duh, jangan memunculkan hal aneh yang mengganggu, dong. Aku ingin berduaan saja dengan Mikkanen."

Lengan raksasa putih itu berbuih, dan menembakkan banyak tombak hitam. Ingrasius melompat menutupi Isfarna untuk menahan tombak-tombak tersebut.

"..."

Wajahnya terdistorsi oleh rasa sakit yang hebat.

Pada daging lunak yang sudah tidak memiliki kekuatan sihir untuk bertahan, ujung tombak yang tajam menancap dalam tanpa ampun.

Aku mengambil Longsword baru dari balik jubahku dan menepis sisa tombak yang terus menyerang.

Melihat itu, senyum kembali ke wajah Peri Cendekiawan. Dia mungkin menyadari bahwa meski aku bangkit dari dalam perutnya, keunggulan posisinya tidak goyah sedikit pun.

"Semangat, semangat."

Tidak ada yang berubah.

Dengan sihir kami saja, kami tidak bisa melukai Peri Cendekiawan yang telah memakan sepuluh juta nyawa. Aku, Murglaide, Isfarna, maupun Ingrasius, tidak ada yang bisa menyentuh kulitnya.

Jika ada seseorang yang bisa melakukannya...

Mataku menangkap sosok Radim yang sedang duduk di dekat sana.

Menyadari hal itu, Radim menggetarkan matanya.

Sihir Radim adalah menciptakan Longsword yang dapat menembus apa pun. Kekuatan itu, mungkin adalah satu-satunya senjata yang mampu membunuh Peri Cendekiawan saat ini.

"Radim, bisakah kau meminjamkan kekuatanmu padaku?"

Aku berbicara dengan tenang.

Jika aku tidak membunuh Peri Cendekiawan di sini, umat manusia akan musnah karena kesalahanku. Meski aku tahu ini adalah ego karena tidak ingin hal itu terjadi, aku tidak punya pilihan selain mengandalkan Radim.

"Mustahil, itu mustahil...! Bahkan tanpa peri sekalipun, aku yang tidak bisa lagi menggunakan sihir dengan benar, bagaimana mungkin bisa membunuh Peri Cendekiawan itu!"

Radim saat ini kehilangan sihirnya karena aku.

Radim kehilangan akal dan mengamuk saat bertarung melawan Peri Cendekiawan. Bagi Radim yang seharusnya sudah membunuh "dirinya yang lama" saat menjadi budak Peri Cendekiawan, itu adalah hal yang tidak bisa dimaafkan.

Akibatnya, dia tidak bisa lagi memenuhi Geass-nya.

Geass untuk mempercayai dirinya sendiri.

"Aku tidak akan pernah bisa menjadi pahlawan seperti Mikkanen-sama. Aku hanyalah ternak yang patuh pada peri karena takut mati, jadi bagaimana mungkin kau bisa percaya pada seseorang seperti aku..."

Aku segera memeluk Radim dan berguling ke samping.

Tempat yang tadi kami tempati telah terbakar oleh sinar putih dan seketika berubah menjadi tanah hangus.

Peri Cendekiawan menyingkirkan Isfarna, Murglaide, dan Ingrasius yang mencoba menghalanginya dengan berbagai sihir, lalu menatap Radim dengan mata dingin yang mengejek.

"Betul sekali, Mikkanen-chan, tidak ada gunanya memercayai anak itu. Dia dulunya adalah ternak yang kupelihara, tahu. Hanya bisa gemetar ketakutan padaku, bahkan tidak bisa melawan seperti dirimu."

"Apa yang dikatakan Peri Cendekiawan itu benar, Mikkanen-sama. Tidak ada orang seperti aku yang pantas dipercayai. Aku, aku..."

Aku menyentuh pipi Radim.

"Eh?"

Bersamaan dengan itu, sihir Peri Cendekiawan menghantam punggungku.

"!"

Dagingku hancur, tulang-tulangku terkikis, namun aku tetap menyalurkan sisa sihirku untuk menjadi perisai.

Aku mengangkat wajah Radim dan menatap matanya.

"Lihat hanya ke mataku."

Punggungku terbakar.

Aroma daging terbakar menyengat di mana-mana, dan setiap kali sarafku hilang lalu tumbuh kembali, rasa sakit yang luar biasa menghantam otakku. Namun, aku tidak melepaskan tangan dari Radim.

"Kau adalah Hunter berbakat, berani, dan penuh usaha."

"Mana mungkin aku bisa percaya itu..."

"Kalau begitu, percayalah pada diriku yang memercayaimu."

Mata Radim bergetar.

"Radim, siapakah aku ini?"

"Mikkanen-sama, Mikkanen-sama adalah pahlawan umat manusia. Seseorang yang tidak pernah menyerah, terus bertarung, dan meski dalam kesulitan hebat, pada akhirnya selalu menang. Dialah Hunter yang kukagumi."

"Dan aku yang itu, memercayaimu. Tidakkah itu cukup?"

Sesuatu yang berkilau muncul di mata Radim. Sambil terisak dengan suara basah, Radim bertanya padaku dengan suara serak.

"Mengapa, mengapa Anda bisa mengatakan hal seperti itu?"

"Karena kau bisa menatap kegagalan dan dosamu di masa lalu dengan jujur. Karena kau malu akan dirimu yang dulu, dan karenanya kau berusaha untuk menjadi lebih baik."

Ya, Radim berbeda denganku.

Berbeda denganku yang dulu kehilangan Kurukutta dan lari dari dosa demi "menjaga skenario gim" agar tetap berjalan.

"..."

Saat Radim mengepalkan tangannya erat-erat.

"Guh, ah!"

"Mikkanen-sama!"

Bersamaan dengan jeritan pedih Radim, rasa sakit luar biasa merambat di punggungku.

Di sudut mataku, kulihat larva panjang masuk ke dalam tubuhku. Ini pasti sihir Peri Cendekiawan; aku sedang dimakan oleh serangga saat masih hidup.

"Kenapa kalian tidak berhenti bicara soal hal-hal klise yang menjijikkan itu?"

Peri Cendekiawan tertawa cekikikan. Meski menahan rasa sakit luar biasa karena daging punggungku membusuk, aku tetap berharap.

"Radim, bisa kau lakukan?"

"..."

Radim mengangguk kecil.

Aku memeluk Radim dan berdiri. Dari arah belakang, sejumlah sinar yang tak terhitung jumlahnya melesat dari Peri Cendekiawan.

"Kenapa kalian malah jadi semangat begini? Padahal cuma ternak, cepat serahkan Mikkanen-chan padaku!"

"Mohon, tetaplah sedekat mungkin. Sampai kulit kita bersentuhan, kalau tidak, bahkan dengan mengumpulkan semua sihirku saat ini, aku tidak akan bisa menembus peri itu."

Mengikuti kata-kata lirih Radim, aku menendang tanah dan berlari.

"Diserahkan padamu."

Aku berlari seolah merayap di tanah menuju Peri Cendekiawan. Untuk membidik kami, sinar-sinar cahaya berkumpul dan mengepung langkah kami.

"Beloklahhh!"

Jeritan Isfarna bergema.

Namun, bahkan dengan sisa sihir terakhirnya, dia hanya mampu membelokkan sedikit lintasan sinar tersebut.

Tepat di depan mata, ada cahaya yang bisa membunuh Radim hanya dengan menyerempetnya. Saat aku memeluk Radim untuk menjadi perisai, itulah saatnya.

Satu bayangan melompat masuk di antara cahaya itu dan diriku.

Suara gigi yang bergemeretak terdengar sampai ke sini.

Ingrasius, yang mengeraskan tubuhnya dengan sihir menjadi baja, menahan sinar yang mendekat dengan tubuhnya sendiri.

"Ingrasius!"

Suara daging yang terkoyak terdengar hingga ke sini. Lubang di lengannya bahkan bisa menembus pandangan cahaya dari arah seberang, namun Ingrasius tetap mencengkeram kerah bajuku.

"--!"

Dengan teriakan tanpa suara, dia melempar tubuhku pergi.

Sambil menggigit bibir, aku terus berlari.

"Bodoh sekali, kalau kalian mendekat dari sana, itu justru membuatku lebih mudah membidik, tahu."

Peri Cendekiawan tercekik.

Lalu, apa yang lahir dari mulutnya adalah bola api raksasa yang tampak seperti matahari. Panasnya bahkan membakar kulit Peri Cendekiawan itu sendiri.

Peri Cendekiawan tersenyum lebar.

"Strike."

Bola api itu jatuh tepat ke arahku.

Aku mendecakkan lidah. Dengan sisa sihirku saat ini, mustahil bagiku untuk menembus bola api ini sambil melindungi Radim.

Namun, kelopak bunga berterbangan.

"Mikkanen, ini akan terasa sedikit sakit, tapi tahan ya."

Murglaide meletakkan tangannya di dadanya sendiri.

Jari-jarinya menancap ke kulit putihnya, lalu tenggelam. Dengan wajah kesakitan, apa yang diambil Murglaide adalah jantung yang terus berdenyut.

Dia menghantamkannya ke dadaku.

Melibatkan jantung Murglaide, lukaku mulai sembuh. Bersamaan dengan itu, sihir yang sangat besar mengalir dari Murglaide ke dalam tubuhku.

"Sisanya kuserahkan padamu. Kalau kau mati, tidak akan kumaafkan..."

Murglaide kehilangan kesadaran dan roboh.

Tanpa ragu, aku menerjang ke dalam bola api.

"Mikkanen-sama, Mikkanen-sama!"

Karena mulutku terus terbakar, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Sambil terus melindungi Radim di dalam dekapanku, aku melangkah lebih cepat, apa pun yang terjadi.

Dengan begitu, aku sampai di depan dada Peri Cendekiawan.

"Lalu kenapa! Kalau kau tidak tahu di mana jantungku berada, itu percuma!"

Peri Cendekiawan sama sekali tidak menghilangkan senyumnya.

Tanpa meragukan kemenangannya, dia terus mengejekku. Namun, hanya satu pemikiran lain yang bergema di kepalaku yang berbicara dengan tenang.

'Mikkanen, aku akan menusuk jantungnya. Kamu hanya perlu membidik titik itu.'

Alhanzen-sensei, yang dilahap oleh Peri Cendekiawan dan hanya menyisakan pikirannya.

Alhanzen-sensei telah masuk ke dalam diriku, berada di sisiku. Dia menaruh pikirannya ke dalam Senjata No. 0, dan masuk ke dalam diriku.

Senjata No. 0 yang tersembunyi di dalam tubuh Peri Cendekiawan.

Benda itu membuat jantung Peri Cendekiawan bersinar merah.

"Hah?"

Untuk pertama kalinya, senyum hilang dari wajah Peri Cendekiawan. Tidak peduli seberapa banyak Hunter yang telah ia lahap, jika lokasi jantungnya diketahui, dia akan segera dimusnahkan.

"Kenapa, kenapa melakukan hal sekejam ini! Aku hanya menginginkan Mikkanen, seperti yang lain, aku hanya ingin memiliki 'diri sendiri'..."

Karena oleh-oleh yang ditinggalkan oleh sepuluh juta prajurit yang telah dimakan, kematian Peri Cendekiawan kini ada tepat di depan mata.

"Radim, raih tanganku!"

"I-iya."

Sihir berkumpul di tangan putih Radim.

"Percayalah padaku. Percayalah pada dirimu yang dipercayai olehku."

"Aku percaya pada Mikkanen-sama, aku percaya pada Mikkanen-sama...!"

Saat Radim memejamkan mata, di tangannya benar-benar tergenggam Longsword yang bersinar terang.

"Aku percaya pada diriku yang dipercayai oleh Mikkanen-sama...!"

Itu adalah kilau sang pemberani yang pernah kulihat berkali-kali di dalam gim.

Kilatan cahaya yang dilepaskan seketika memusnahkan Peri Cendekiawan.

◆◆◆

―Kenapa, rasanya sakit sekali?

Peri Cendekiawan tidak mengerti.

Rasanya aneh, bukankah seharusnya dia yang menang sampai sesaat lalu?

Dia sudah mendapatkan Mikkanen, melahap sepuluh juta prajurit, dan seharusnya tidak terkalahkan oleh siapa pun.

Namun, kenyataannya dia kini terpojok.

Sekali lagi, dia terpojok oleh Mikkanen, pria yang telah menggenggam cahaya yang selama ini ia kejar-kejar.

Mengapa bisa begitu?

Mengapa ini terjadi?

Peri Cendekiawan tidak memahaminya.

Meski tidak memahaminya, entah mengapa dia justru tertawa.

Benar, inilah dia. Inilah hal yang selama ini selalu didambakan oleh Peri Cendekiawan.

Sosok yang tidak pernah menyerah kapan pun.

Sosok yang terus melawan dalam kondisi apa pun.

Sosok yang tidak pernah membiarkan dirinya dibengkokkan oleh orang lain, melainkan terus bertarung dengan teguh hanya demi jalannya sendiri.




Itu dia, hal yang ia inginkan—sesuatu yang disebut "diri sendiri," sosok seorang pria bernama Mikkanen.

Terbungkus dalam kilatan cahaya putih, jantungnya perlahan menghilang.

Gerombolan yang ia ciptakan perlahan musnah.

Ah, begitu rupanya.

Akhirnya, Peri Cendekiawan menyadarinya.

Bukan "diri sendiri" yang selama ini diinginkan oleh Peri Cendekiawan.

 Ia sebenarnya sangat mengagumi sosok Mikkanen yang terus berjalan di jalannya sendiri dengan sepenuh hati.

Ia mendambakan bisa hidup seperti pria itu, merindukannya dengan begitu dalam.

Akhirnya ia sadar.

"Diri sendiri" yang selama ini ingin ia miliki, sebenarnya sudah ia genggam.

Sejak hari itu, sejak pertama kali ia bertarung melawan Mikkanen dan menyentuh hatinya.

Di saat-saat terakhirnya, Peri Cendekiawan akhirnya berhasil menemukan "dirinya sendiri."

Sebuah perasaan yang tak akan ia berikan pada siapa pun.

Meski apa pun yang terjadi di depan nanti, meski nyawa ini harus melayang, itu adalah "diri sendiri" yang mutlak dan tak akan pernah hilang.

"Aha, mati di tangan orang yang kucintai... ternyata jauh lebih membahagiakan daripada yang kubayangkan, ya?"

Hal terakhir yang dipelajari oleh Peri Cendekiawan adalah cinta.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close