NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinrui Metsubou Sunzen Game Sekai de Jibun wo Gisei ni Teki wo Taoshitetara Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Sang Pahlawan yang Memburu Peri


"Sudah kubilang, menyelamatkanku tidak ada gunanya. Dia masih hidup," ucap Morgraid dengan pupil mata yang memerah.

Morgraid menundukkan wajahnya sembari terisak pelan.

"Peri yang melahirkanku, Sang Bunda Agung…… Ibu adalah peri pertama yang muncul di dunia ini. Tak ada satu pun yang tahu di mana jantungnya disembunyikan."

Bunda Agung, peri permulaan.

Tentu saja aku tahu.

"Mungkin kamu tidak tahu siapa peri itu sebenarnya. Tapi, peri itu memiliki kekuatan untuk memusnahkan umat manusia! Semakin banyak hati manusia yang dimakan, semakin unggul peri yang dilahirkannya, begitulah jenisnya!"

Aku tahu, bahkan sejak sebelum aku lahir.

"Karena itu, karena itu……! Kamu harus lari, Mikkanen akan mati! Alasan namanya tidak tercatat dalam sejarah adalah karena setiap orang yang menemuinya telah dimakan habis!"

"Itu, gawat ya."

"Begitu, kan? Makanya, seharusnya kamu tidak perlu menyelamatkanku! Pokoknya, sekarang kamu harus segera lari……"

Begitu ya, kalau musuhnya adalah bos terakhir dalam game ini, memang masalah besar.

Mungkin player character yang memiliki kekuatan jauh di atasku saja akan dipaksa dalam pertarungan sengit menghadapi bos terakhir game ini. Dan sekarang, dia sedang menuju ke arah sini.

"Lalu, kenapa memangnya?"

Aku mencabut Longsword-ku.

Aku memaksakan tubuhku yang hancur untuk bergerak dengan sihir. Sembari merangkak menuju hutan peri yang tiba-tiba menjadi gelap dan sunyi senyap.

Jika aku kabur di sini, umat manusia akan kembali terdesak ke ambang kepunahan. Menyelamatkan Morgraid dan melindungi umat manusia—karena aku telah menetapkan jalan hidupku sendiri, aku harus melakukan itu semua.

"Aku tidak menyesal telah menyelamatkan Morgraid. Jadi, meski musuhnya adalah Bunda Agung sekalipun, aku harus bertarung dan menang."

Hanya itu masalahnya.

"……!"

Morgraid menatapku dengan mata yang bergetar.

Dari dalam hutan, tak terhitung banyaknya peri yang bermunculan. Kemungkinan besar itu adalah para peri yang dilahirkan sebagai permulaan oleh Bunda Agung yang telah bangkit. Selain kawanan peri besar, terlihat juga beberapa mala petaka yang bercampur di sana.

Jadi, aku harus menembus kawanan itu dan berlari sampai ke tempat Bunda Agung, ya.

"Kamu benar-benar bodoh, ya. Kamu pikir aku akan menjauh darimu sekarang?"

Dari belakang, kehangatan tubuh Morgraid terasa.

Terdengar suara isak tangis, dan di sudut mataku, kelopak bunga putih yang biasa menghiasi udara kini bertebaran. Melihat hal itu, aku tersenyum dan mencoba bangkit dengan bertumpu pada Longsword-ku yang bergoyang.

Sesaat kemudian, kilatan cahaya yang luar biasa melesat, disusul gelombang ledakan di tengah kawanan peri.

"Melakukan keputusan sepihak tanpa permisi, aku merasa memiliki atasan yang benar-benar merepotkan."

"Alhansen-sensei, kenapa kalian ada di sini?"

Alhansen-sensei yang selalu tenang dan kalem menyapa.

"No.10, ratakan tanah dengan No.5."

Bersamaan dengan kata-katanya, bayangan hitam raksasa berbentuk burung turun dari balik awan. Sayapnya yang mengepak di langit berkilauan.

Seketika, sekitar dipenuhi oleh suara ledakan.

No.5 jatuh dari No.10 di atas sana; bom raksasa sebesar bukit itu melepaskan kilatan hijau di udara dan melenyapkan kawanan peri di sekitar dalam sekejap.

"No.3, aku berpendapat sudah saatnya melancarkan serangan dengan daya ledak maksimal. Dalam kondisi ini, kerusakan pada laras meriam tidak perlu dipertimbangkan."

Tanpa kusadari, Alhansen-sensei berjalan mendekat ke sisiku. Sebuah meriam miniatur seukuran pistol yang mengikutinya dari belakang berhenti dan mulai membidik.

Ke arah tempat No.5 melenyapkan para peri, energi elektromagnetik yang tak terlihat melesat.

Sembari mengoyak bumi dan menciptakan tebing curam, No.3 menembus kawanan peri dan memperlihatkan sosok Bunda Agung yang berada di baliknya untuk sesaat.

Sosok yang berkali-kali kulihat melalui layar game.

Hitam, seperti kabut, kegelapan seperti malam yang pekat. Hal itu merembes keluar dari hutan seolah hendak menelan segalanya. Di berbagai sisi tubuhnya, peri-peri terus dilahirkan.

Kawanan peri yang tak terhitung jumlahnya buru-buru berusaha menutup lubang tersebut.

"Isfarna, si jenius sihir memerintahkan! Kalian para peri sialan, segera buka jalan!"

Isfarna melompat keluar sembari berteriak.

Ia mengulurkan tangan dan merentangkan lengannya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Berpusat pada lubang yang dibuka oleh senjata Alhansen-sensei, para peri terdorong mundur seolah pintu sedang dibuka paksa.

"Isfarna!"

"Si bodoh ini! Kamu adalah atasan langsungku, kenapa kamu pergi berperang meninggalkanku? Apa kamu berniat memonopoli jasa pertarungan ini?!"

Sekarang, bahkan umpatan itu terdengar melegakan bagiku.

Isfarna tertawa menyeringai, lalu lanjut memperlebar celah di kawanan peri tersebut.

Namun, yang berada di depan sana adalah bos terakhir dalam cerita asli, sang peri permulaan. Tidak mungkin dia membiarkan kami membuka jalan semudah itu.

Tekanan berat seolah menghimpit bahu kami.

Kawanan peri mulai menutup celah itu perlahan, seolah mengejek senjata Alhansen-sensei dan sihir Isfarna.

Isfarna berteriak dengan darah yang menetes dari mulutnya. Lengan yang ia rentangkan kini terus patah seolah ditekan oleh tanggem yang tak terlihat.

"Hanya peri sepertimu mau beradu kekuatan sihir denganku?! Jangan sombong!"

"No.2! Selamatkan Isfarna dan jaga jalan itu!"

Gumpalan daging yang melompat keluar dari tabung reaksi yang dilemparkan Alhansen-sensei mulai tumbuh besar sembari melahap para peri. Namun, kawanan peri tumbuh lebih cepat dan lebih agresif.

"Sial, secara prinsip makhluk ini seharusnya bisa mengeringkan air laut sekalipun!"

Alhansen-sensei berteriak tidak percaya. Isfarna kini sudah mengeluarkan darah dari mata dan telinganya.

Karena kawanan peri yang terus berdatangan, jalan itu tampak sudah tertutup sepenuhnya.

Namun, kami masih memiliki satu anggota yang bisa diandalkan. Uap merah yang tumpah dari tungku sihir yang terbakar hingga batasnya menyelimuti sosok seorang pendeta.

"Sampai-sampai Ingrasius juga……"

Melompat ke dalam jalan yang hampir tertutup layaknya sambaran petir, Ingrasius mengepalkan tinjunya.

"――――――――!"

Raungan tanpa suara mengguncang bumi.

Tinjunya, yang telah diubah menjadi bongkahan baja oleh sihir hingga tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa menggoyahkannya, menghancurkan jalan yang hampir tertutup itu dengan kekuatan fisik murni.

Sosok Bunda Agung kini benar-benar terlihat.

Alhansen-sensei menepuk bahuku ke arah kegelapan hitam yang mengerikan itu.

"Aku berpendapat bahwa membunuh peri itu sekarang juga adalah pilihan terbaik. Karena semakin lama waktu berlalu, sihirnya akan semakin besar, jadi tidak ada waktu untuk berpikir."

"Kalian……"

Jika mereka tetap tinggal di Ibu Kota, mereka bisa saja berpura-pura tidak tahu dan menyebut tindakanku sebagai tindakan sepihak yang melanggar aturan militer. Mereka bisa terus meraih jabatan, dan yang terpenting, mereka bisa selamat.

Namun, Isfarna, Alhansen-sensei, dan Ingrasius memilih datang ke sini.

"……Ini adalah musuh yang lebih menakutkan dan kuat daripada peri mana pun yang pernah kita lawan. Apakah kalian masih mau percaya dan mengikutiku?"

"Setelah sejauh ini, tidak mungkin aku kabur, kan. Aku akan selalu berada di sisimu."

"Kenapa bertanya sekarang? Kamu adalah satu-satunya atasan yang dibanggakan oleh jenius sepertiku. Berikan saja perintahmu."

"Untuk sebuah pencarian ilmu, terkadang keberanian untuk masuk ke sarang harimau memang diperlukan."

Tentu saja, aku berniat untuk terus bersama selamanya.

Di sini, telah terkumpul party terbaik yang bisa kuharapkan.

"Aku yang akan masuk. Aku tahu cara untuk membunuh peri itu."

Aku tidak menceritakan alasannya.

"Apapun yang terjadi, jangan arahkan sihir kalian ke Bunda Agung. Kalau aku tidak bertarung sendirian, dia tidak akan bisa dibunuh."

Meski begitu, tidak ada seorang pun yang meragukan kata-kataku.

Mereka memberikan punggung mereka kepadaku seolah percaya sepenuhnya. Itulah sebabnya, aku mulai berlari.

Kawanan peri yang menerjangku diledakkan oleh bom, mengakhiri hidup mereka sendiri, dihancurkan oleh tinju baja, dan layu oleh kelopak bunga.

Di tengah situasi itu, aku terus berlari dengan fokus.

Yang kupertaruhkan adalah pengetahuan dari cerita aslinya.

Bunda Agung, sang peri permulaan, karena dia adalah bos terakhir dalam game, maka dia pun memiliki jantung. Karena tidak mungkin menang dengan bertarung secara terbuka, hanya ada satu jalan.

Mendapatkan jantung itu dengan serangan kilat.

Dan aku tahu betul di mana letak jantung itu berada. Bahkan, aku juga tahu bahwa itu berada di tempat yang hanya bisa dihancurkan olehku.

Entah dia tahu atau tidak, bayangan yang tampak seperti Bunda Agung itu mengangkat tangannya ke arahku.

Aku mengepalkan tangan erat-erat. Hanya dengan itu, tubuhku hancur berkeping-keping, terlipat, dan menjadi segumpal daging.

Namun, aku tidak akan berhenti.

Dari segumpal daging ini, aku menumbuhkan kaki, tangan, dan kepala, lalu terus berlari. Kawanan peri yang mengulurkan tangan untuk menjauhkanku dari sana kini bercampur dengan mala petaka dan peri yang kekuatannya melampaui itu.

Tapi, aku tidak memedulikannya.

Karena aku memiliki rekan seperjuangan yang lebih bisa diandalkan daripada siapa pun.

Peri yang mencoba memenggal kepalaku dari kiri ditendang oleh jubah hitam yang bergerak seperti bayangan. Gumpalan daging Alhansen-sensei berubah wujud menjadi diriku, mengecoh para peri.

Di belakang, para peri saling bertarung. Itu adalah sihir Isfarna.

"Jangan menghalangi jalanku."

Lalu, Morgraid. Dia menyelimuti sekeliling dengan kelopak bunga dan melayukan segalanya.

Aku tidak tahu ada rekan seperjuangan yang bisa diandalkan sebanyak ini. Karena itulah, pertarungan ini harus kuakhiri secepat mungkin. Jika tidak, teman-temanku akan hancur tergilas.

Aku sampai di tempat Bunda Agung berada.

Sosok bayangan hitam itu—sang peri permulaan yang bahkan dalam cerita aslinya tidak diketahui detailnya dan serba misterius. Aku menebas sosok berkabut itu.

Tidak ada efek apa pun.

Tentu saja, peri sekelas Bunda Agung tidak mungkin terluka oleh Longsword yang terbuat dari besi biasa. Sebagai balasannya, aku dipelintir dan diremas dalam keadaan hidup.

Dari dada dan tanganku, puluhan jarum menembus dagingku, lidahku dibakar, dan mataku dibutakan. Kekuatan yang entah sihir macam apa itu terus melukaiku.

Aku mati lagi.

"Mikkanen!"

Jika aku tidak tahu tentang cerita aslinya, mungkin aku sudah kehilangan nyawa di sini tanpa tahu alasannya. Sihirku hanya membuatku tidak kalah, tapi tidak bisa membuatku menang. Jika hatiku hancur, aku akan mati begitu saja.

Namun, entah karena takdir apa, aku tahu di mana jantung "Bunda Agung" itu berada.

Sembari memaksakan lengan yang membengkak dengan mengerikan untuk patuh, aku mengarahkan ujung Longsword ke dadaku sendiri. Bayangan hitam itu menggeliat seolah panik, lalu berlari ke arahku.

Tapi, sudah terlambat.

Jantung Bunda Agung, sang peri permulaan, adalah jantung dari orang yang sedang bertarung dengannya.

Karena itulah, sampai sekarang tidak ada yang bisa membunuhnya dan tidak ada yang menyadarinya. Benar-benar trik picik khas peri.

Jantung dibuat untuk setiap orang yang bertarung dengannya, dan peri ini tidak bisa dibunuh sampai semuanya dihancurkan. Itulah kenapa hanya aku yang harus bertarung.

Benar-benar makhluk yang menyebalkan.

Dalam game aslinya pun begitu. Player character mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk membunuh Bunda Agung. Tentu saja, setelah itu ada mukjizat yang terjadi.

Tapi, aku tidak memiliki hal seperti itu.

Jika Bunda Agung mati, peri yang mengikutinya akan lari ke hutan. Pertarungan akan berakhir.

Itu berarti, sihirku tidak akan bekerja lagi. Tidak ada orang yang bisa selamat setelah jantungnya tertusuk.

Itulah mengapa, hanya aku yang bisa melakukannya. Tidak ada orang lain yang bisa dipercayakan tugas ini.

Aku membalikkan pegangan Longsword.

"Mikkanen!"

Jeritan Morgraid yang seolah menyadari sesuatu menusuk gendang telingaku.

Aku menikamkan Longsword tepat ke dadaku sendiri.

◆◆◆

Aku membuka mata.

Aku yang entah sejak kapan sudah berbaring di tempat tidur, bertatapan langsung dengan Morgraid yang sedang mengintip wajahku. Saat melihat pupil matanya bergetar tipis, ia segera memalingkan wajah.

"Akhirnya bangun juga. Benar-benar membosankan sampai rasanya aku hampir mati."

"……Morgraid."

Aku memaksakan kepalaku yang belum bisa berpikir jernih untuk bekerja, lalu bangkit sembari menahan rasa sakit dan mengedarkan pandangan. Sepertinya aku berada di ruang perawatan.

Aku meletakkan tangan di dada. Jantungku berdetak kencang.

"Apakah aku masih hidup?"




Morgraid mengupas apel yang digenggamnya dengan pisau, lalu bergumam acuh tak acuh.

"Tentu saja."

Itu seharusnya mustahil.

Aku orang yang paling tahu karena tangan inilah yang menikamkan Longsword ke jantungnya. Aku sudah menghancurkannya dengan teliti agar Bunda Agung tidak mungkin bisa bertahan hidup.

Saat Bunda Agung mati, sihirku pun akan berhenti bekerja.

Aku seharusnya sudah mati.

"Apa yang terjadi pada Bunda Agung?"

"Dia belum mati, tapi dia juga tidak tidak terluka. Dia mungkin akan bersembunyi di hutan dan beristirahat selama beberapa tahun ke depan."

Dia menyuapkan potongan apel ke mulutku menggunakan garpu. Lidahku bersuka cita menikmati rasa manis buah itu, yang entah sudah berapa lama tidak kurasakan.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal aku yakin sudah mati bersama Bunda Agung……"

"Kalau boleh dibilang, justru akulah yang hidup bersamamu."

Aku memiringkan kepala, bingung mendengar perkataan Morgraid yang sulit dimengerti.

Morgraid menghela napas, lalu entah kenapa meraih tanganku. Ia menekankan telapak tanganku ke dadanya sendiri.

Aku menahan napas.

"T-tunggu sebentar."

"Nah, sekarang kamu mengerti, kan?"

Aku tersadar.

Tidak ada detak jantung yang terasa dari dada Morgraid. Kulitnya pun terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah tidak ada darah yang mengalir di sana……

"Kamu tahu, kan, kalau peri yang kuat bisa menyembunyikan jantungnya di mana saja?"

"Apa maksudmu……"

Aku melihat ada bekas luka di kulitnya.

Bekas luka itu terlihat seperti ada sesuatu yang baru saja dikeluarkan dari dada Morgraid, dan seketika itu juga aku memahami segalanya.

"Aku menyembunyikan jantungku di dalam dirimu. Sekalian menyelamatkan nyawamu."

Bagi peri, jantung adalah sumber kehidupan. Selama jantung itu ada, mereka tidak akan terbunuh, dan jika jantung itu hancur, mereka akan mati. Morgraid memberikan hal sepenting itu, bahkan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk membunuh Bunda Agung, hanya demi menyembuhkanku.

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak meninggikan suaraku.

"Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu! Itu seharusnya aku……"

"Kamu itu! Di depan mata sendiri melihat orang yang paling dicintai di dunia ini merenggut nyawanya sendiri! Lalu kamu pikir aku harus diam saja sambil menonton?!"

Morgraid berteriak marah.

Aku terpaksa membisu. Karena, itu adalah pertama kalinya aku melihat luapan emosi sedahsyat itu dari Morgraid.

"Jangan seenaknya menyelamatkanku, lalu pergi seenaknya juga! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Mengertilah……"

Isak tangis Morgraid bergema pelan di ruang perawatan.

Aku hanya bisa terdiam menatapnya dengan kosong.

Jika kupikirkan dengan kepala dingin, mungkin memang akulah yang melakukan berbagai hal bodoh selama ini.

Tak lama kemudian, keheningan kembali menyelimuti ruang perawatan.

Aku menatap Morgraid yang telah berhenti terisak.

Morgraid yang dulu menggila di tengah badai kelopak bunga benar-benar telah ternoda warna putih murni dan kehilangan kemanusiaannya. Namun, sosok yang ada di sini adalah Morgraid yang biasanya.

"Apa kamu masih lapar?"

"Karena terhubung melalui jantung, perasaanmu mau tidak mau meresap masuk. Jadi, selama kamu ada di sini, aku tidak akan lapar lagi. Anggap saja ini sebagai hukuman karena kamu melakukan hal seenaknya," ucap Morgraid ketus.

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

Yah, banyak hal telah terjadi, tapi pada akhirnya Morgraid tetap hidup seperti ini. Mungkin itu saja sudah menjadi hal yang patut dibanggakan.

Aku tersenyum kecil karena senang rekan seperjuanganku tidak sampai mati.

Melihat senyumku, Morgraid menundukkan wajahnya.

Setelah itu, keheningan kosong melayang di ruangan yang didominasi warna putih tersebut.

"……Terima kasih, karena telah menyelamatkanku. Dan karena telah mengajariku tentang hati."

"Tidak perlu dipikirkan. Kita ini adalah rekan seperjuangan."

Tiba-tiba, aku menyadari tumpukan kulit apel merah yang menggunung di tempat sampah. Ngomong-ngomong, sejak kapan Morgraid berada di sisiku?

"Kamu tidak sadarkan diri selama satu bulan penuh, lho," gumam Morgraid pelan.

"Tapi aneh, ya. Padahal aku harusnya menatap wajahmu selama sebulan ini, tapi aku masih ingin terus melihatnya. Perasaanku padamu meluap sedemikian rupa sampai tidak ada kata bosan sedikit pun."

"Mo-Morgraid?"

Kelopak bunga putih putih mengalir dari tubuh Morgraid seolah hendak menyelimutiku.

Morgraid, yang dulu mengurungku dalam badai bunga, kini menatapku lekat-lekat dengan mata birunya.

"Ah, jadi inikah yang namanya hati?"

Bibirnya yang seperti bunga sakura mendekat ke arahku, seolah serangga yang terpikat oleh madu.

Meski aku mencoba menghindar dengan menarik diri, Morgraid terus mengejarku. Saat jarak kami hampir tidak tersisa, aku memejamkan mata erat-erat.

"……Tamu yang tidak tahu diri datang, ya."

Saat itu, sebuah jubah hitam jatuh dari ventilasi di langit-langit. Ingrasius melepaskan pukulan secepat kilat ke arah Morgraid.

Morgraid buyar menjadi kelopak bunga, lalu bersandar ke jendela sembari mengerutkan kening dan kembali ke wujud manusianya.

"Ada apa, Ingrasius? Aku rasa aku tidak perlu diganggu olehmu yang secara diam-diam menyimpan kain lap bekas keringat Mikkanen."

"O ( ( ، . > □ < . ، ) ) O Ci-Ciuman itu tidak sopan!"

Ingrasius mengangkat buku sketsanya dengan wajah memerah padam. Batu ubin di bawah kakinya hancur berkeping-keping.

Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki berlarian dari arah pintu.

Pintu terbuka dengan bantingan keras, memperlihatkan anggota party lainnya yang masuk dengan penuh semangat.

"Hei bodoh, kalau sudah bangun katakan sesuatu! Tidak tahukah kamu kalau membuat jenius sepertiku khawatir itu perbuatan tidak sopan!"

Isfarna menerjang masuk begitu saja, membuatku mengerang kesakitan karena luka yang belum sepenuhnya sembuh ikut berdenyut hebat.

Alhansen-sensei segera mencengkeram kerah Isfarna—yang sedang memeluk dan menepuk-nepuk wajahku—lalu melemparkannya ke samping.

"Jika Isfarna mengaku sebagai jenius, seharusnya dia tahu bahwa tidak boleh memperlakukan orang sakit dengan kasar. Dengan kata lain, dia itu bodoh."

Keduanya saling melempar tatapan tajam.

Aku menghela napas melihat pemandangan party-ku yang kini kembali ke rutinitas biasa; sesuatu yang entah kenapa terasa begitu membuat rindu.

◆◆◆

"Nah, kamu telah pergi ke medan tempur tanpa melapor dan meninggalkan jabatan instrukturmu.

Tentu saja, daftar pelanggaran aturan militer yang kamu lakukan—termasuk menumpang gerobak tambang tanpa izin—sudah setinggi gunung."

Agrastain mengetuk-ngetuk meja dengan irama pelan. Aku hanya bisa menciutkan bahu sembari menundukkan kepala dalam-dalam.

"Tapi, aku sebagai atasanmu yang membiarkanmu begitu saja juga memiliki tanggung jawab. Mempertimbangkan hal itu, jika kamu menandatangani dokumen ini, semuanya akan kuanggap tidak terjadi."

Ternyata, pembicaraan mengenai jabatan instruktur itu dibatalkan. Aku akan tetap melanjutkan tugasku sebagai Hunter di reruntuhan Kastil Ogdanel seperti sebelumnya.

Yah, kalau bayarannya adalah nyawa rekan seperjuanganku, mungkin ini memang jalan yang harus ditempuh.

Aku menatap tumpukan kertas yang diberikan Agrastain. Tertulis di sana bahwa aku akan kehilangan hak asasi sebagai Hunter selama satu tahun.

……Begitu ya, khas sekali tindakan si shota sinting itu.

Aku bahkan tidak ingin membayangkan apa yang akan mereka lakukan padaku selama setahun ke depan.

Aku jadi curiga, mungkin alasan dia membiarkanku begitu saja saat aku mencoba menyelamatkan Morgraid adalah demi momen ini.

Namun, aku tidak punya pilihan selain patuh.

Agrastain mengambil dokumen yang sudah kutandatangani, lalu ia menunjukkan senyum yang membuat bulu kudukku berdiri untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

"Dengan ini, semuanya beres."

"Hah?"

Agrastain mengambil lembaran paling belakang dari tumpukan dokumen tersebut.

Di sana tertulis tanda tanganku yang sudah tersalin dengan sempurna pada dokumen yang jelas-jelas bukan milik militer. Tentu saja, aku sama sekali tidak menyadarinya saat menandatangani tumpukan kertas tadi.

"Ini sudah tidak diperlukan lagi."

Si shota sinting itu justru melempar dokumen tentang kehilangan hak asasi tersebut ke dalam api perapian. Aku memiringkan kepala, benar-benar tidak mengerti. Agrastain hanya menyeringai lebar padaku.

"Kau tahu apa ini?"

"Su, rat, ni, kah……?"

"Tepat sekali. Dengan kata lain, sekarang aku memegang surat nikah dengan namamu tertulis di dalamnya."

Tiba-tiba, firasatku menjadi sangat buruk.

Jangan-jangan, aku baru saja menandatangani sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada dokumen yang dibakar tadi? Aku gemetar ketakutan dan mundur perlahan.

"Nah, wahai para anggota party pahlawan yang pasti sudah mendengar pembicaraan ini dari tadi, mari kita bicara."

Si shota sinting itu mengayun-ayunkan surat nikah bertanda tanganku di udara.

"Aku sedang sangat pusing karena Mikkanen terus-menerus ingin keluar dari militer. Karena itulah, aku akan memberikan dokumen ini kepada siapa pun yang paling berkontribusi dalam mengatasi masalahku."

Aku pun sadar.

Saat menoleh ke jendela, kelopak bunga putih beterbangan di sana.

Di lantai, gumpalan daging kecil berjalan dengan suara ceplok-ceplok. Ventilasi di atasku terdengar berisik, dan ada suara kepala yang terbentur dari pintu di belakangku.

"Intinya, jika kalian ingin menikah dengan si barang rongsokan ini, pastikan dia tidak kabur dari militer sampai perang berakhir."




◆◆ Selingan: Monolog Seorang Perwira ◆◆

Saat aku mengalihkan pandangan dari Mikkanen yang melarikan diri bagai angin, seorang perwira yang baru saja masuk berpapasan dengannya mengernyitkan dahi.

"Apakah membiarkannya seperti itu tidak apa-apa? Jika kita percaya pada perkataan Morgraid, bukankah itu adalah kesempatan emas yang takkan terulang untuk mengakhiri perang ini?"

Pertanyaan yang dilontarkan perwira menengah muda itu menunjukkan bahwa dia bahkan tidak terpikir sedikit pun tentang kemungkinan umat manusia meraih kemenangan. Aku menghela napas.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba muncul lagi peri yang bisa melahirkan peri baru? Lagipula, keempat Raja Iblis terdahulu adalah bukti nyata bahwa peri bukanlah makhluk yang bisa dihadapi dengan cara biasa."

Harusnya dia bisa berpikir lebih jauh.

Memang benar, jika kita membunuh makhluk yang disebut Bunda Agung itu, mungkin tidak akan ada lagi peri baru yang lahir.

Namun, itu hanya jika kita mempercayai perkataan Morgraid yang sudah lama menjauh dari hutan. Bisa saja dia berbohong, dan tidak ada bukti kuat yang menjamin kebenarannya.

"Aku tidak bisa memastikannya. Umat manusia bahkan belum pernah menginjakkan kaki di kedalaman Hutan Peri. Bisa jadi masih banyak peri seperti Bunda Agung yang bersembunyi di sana, atau mereka mungkin akan lahir kembali."

Aku menambahkan bahwa di antara para Raja Iblis, ada satu yang memiliki sihir serupa dengan Bunda Agung.

Dalam pertempuran selama ini, aku telah belajar betapa konyolnya para peri. Sifat alami peri adalah selalu melampaui segala ekspektasi kita.

"Seandainya kita berhasil membunuh Bunda Agung pun, tidak ada yang berubah. Umat manusia tidak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang sampai hari di mana kita memusnahkan peri dari muka bumi ini."

Untuk itu, dibutuhkan kekuatan militer luar biasa untuk menyerbu Hutan Peri dan membantai seluruh peri hingga ke akarnya. Aku tidak punya waktu untuk membuang pion-pion berharga dalam pertempuran kecil di perbatasan hutan.

"Para Hunter saat ini, dengan Mikkanen sebagai ujung tombak, adalah yang terbaik dalam sejarah umat manusia. Pion-pion itu harus disimpan sampai hari di mana umat manusia melancarkan serangan besar-besaran ke Hutan Peri."

"Ta-tapi……"

"Lagipula, jika kau mengira kau bisa mendapatkan kedamaian sementara hanya dengan melenyapkan satu peri, seberapa besar kau pikir itu akan membuat umat manusia lengah?"

Aku sudah benar-benar muak dengan kehangatan semu di Ibu Kota.

Saat ini adalah masa krusial di mana umat manusia menang atau kalah dalam perang besar yang mempertaruhkan nasib ini, namun para politisi dan jenderal justru sibuk dengan perebutan kekuasaan.

Strategi untuk memperkaya garis belakang memang bagus, tapi optimisme tak berdasar bahwa peri tidak akan lagi lahir hanya akan membuat umat manusia membusuk dari dalam, dan aku sudah melihatnya dengan jelas.

"Lagipula, bukankah mereka hanya akan memulai pertikaian kotor memperebutkan kekuasaan daripada melatih para Hunter?"

Setidaknya, tidak akan ada yang mengizinkan operasi penyerbuan ke Hutan Peri. Padahal, bisa saja sewaktu-waktu muncul peri baru yang bisa melahirkan peri di suatu tempat.

"Jika begitu, keadaan seperti ini jauh lebih baik."

"A-ah, saya mengerti. Terima kasih atas pelajarannya."

"Ingat itu baik-baik sebagai perwira dari reruntuhan Kastil Ogdanel. Jika kau tidak memahami hal mendasar seperti itu, kau hanya akan menjadi beban bagi umat manusia."

Aku memberikan teguran pada prajurit yang baru lulus dari akademi militer itu sembari menerima dokumen.

"Siap!"

Aku menghela napas panjang melihat punggungnya yang menjauh setelah memberi hormat.

Apa yang kukatakan tadi memang bukan kebohongan, tapi alasan sebenarnya adalah hal lain. Namun, alasan itu pun terlalu konyol bagi diriku sendiri, sehingga aku harus menyimpannya rapat-rapat.

Kenapa aku tidak menghentikan Mikkanen yang mencoba menyelamatkan Morgraid? Itu karena aku percaya bahwa Mikkanen adalah seorang pahlawan.

Morgraid atau siapa pun itu, aku tidak peduli meski mereka mati. Bahkan diriku sendiri—demi kemenangan umat manusia—aku tidak peduli apakah aku hidup atau mati.

Namun, Mikkanen berbeda.

Mikkanen adalah pahlawan. Hingga saat di mana umat manusia akhirnya mengalahkan peri nanti, orang yang harus memegang Longsword itu dan berlari di garis depan hanyalah Mikkanen.

Mikkanen tidak boleh kehilangan nyawanya, apa pun yang terjadi.

Aku tahu ini pemikiran yang sangat gila. Berpegang teguh pada satu prajurit tanpa alasan yang jelas, tidak ada hal yang lebih konyol bagi seorang komandan.

Namun, aku tetap percaya bahwa inilah cara terbaik agar umat manusia bisa menang.

Aku teringat akan operasi di mana aku pertama kali melihat pahlawan bernama Mikkanen itu. Tentang hari di mana dia merasa telah kehilangan segalanya.

Tentang hari di mana dia menelan kegilaan itu.

Dari seberang saluran telepon, terdengar jeritan terakhir sang komandan batalion. Prajurit yang wajahnya pucat pasi segera memberi hormat padaku.

"Mulai saat ini, komando batalion diserahkan kepada Anda, Tuan Agrastein."

Pasukan yang seharusnya menjaga kota dari posisi mereka di gunung sudah hancur lebur. Di hadapan kawanan peri yang tak terhitung jumlahnya, dan di belakang mereka, berdiri salah satu dari Raja Iblis, Peri Bintang Surgawi.

Begitu banyak prajurit yang tewas dalam mimpi buruk itu.

Aku gemetar karena rasa putus asa dan ketidakberdayaan.

Aku lahir dari keluarga militer ternama dan bersumpah akan mendedikasikan hidup ini demi kemenangan umat manusia. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Seberapa keras pun aku berusaha, umat manusia tetap terus terdesak mundur.

Bagi umat manusia yang mengandalkan senjata api dan meriam, kota yang memiliki industri tersisa ini seharusnya menjadi pertahanan terakhir. Namun, lihatlah apa yang terjadi.

Jika tempat ini jatuh, tidak ada lagi cara bagi umat manusia untuk meloloskan diri dari kepunahan.

"Haha."

Di tengah medan tempur yang putus asa, aku tertawa kering sembari terus memberikan perintah yang sia-sia bagaikan menyiram air ke atas api yang berkobar. Berhenti membohongi dirimu sendiri.

Sudah berapa banyak kota yang "tidak boleh jatuh" yang akhirnya kutinggalkan begitu saja?

Perintah mundur turun dari komando pusat untuk seluruh pasukan. Saat itu, aku menyerah dan berpikir bahwa umat manusia telah kalah. Apa pun yang kulakukan sekarang, tidak akan bisa menang.

Tanggung jawab atas semua itu ada pada militer yang tidak becus melindungi umat manusia.

Jika begitu, tidak ada gunanya membiarkan prajurit mati demi militer itu. Aku harus berusaha agar setidaknya satu orang prajurit bisa hidup lebih lama. Dengan itulah aku berniat memimpin operasi penarikan diri yang bagaikan neraka.

"Apakah komandan batalion ada di sini?"

Saat itu, seorang Hunter yang berlumuran darah datang tergopoh-gopoh. Kata-kata yang diucapkan oleh Hunter bayaran bernama Mikkanen itu membuatku tertegun.

"Meminta kami mengulur waktu sampai unit lain mundur, itu sama saja dengan memerintahkan kami menjadi umpan mati! Beraninya kau memberikan perintah seperti itu dengan wajah tanpa dosa!"

Aku mencengkeram dada Hunter itu dengan amarah meluap. Mikkanen membiarkannya, lalu membuka mulut.

"Aku juga berpikir itu aneh. Karena itulah, aku punya rencana."

Saat ini, berkat perjuangan kerasnya, batalion ini berada di posisi yang paling jauh menembus pertahanan peri dibandingkan unit lain. Itulah mengapa, lebih mudah untuk menerobos kawanan peri dari sini.

"Aku akan menyerbu sendirian. Lalu, aku akan mencoba membunuh Raja Iblis itu dengan serangan mendadak dari belakang."

Apa yang diucapkan Mikkanen adalah taktik konyol yang bahkan tidak bisa disebut sebagai rencana. Sudah jelas itu tidak mungkin berhasil.

Selama ini, tidak ada satu pun manusia yang mampu membunuh Raja Iblis.

Dan sekarang, Mikkanen—seorang pemula—mengatakan dia akan membunuhnya. Bahkan bayi pun akan menertawakan hal itu.

"Batalion, berpura-puralah kalian sedang bertarung lalu mundurlah perlahan. Cukup dengan aku yang menyerbu, itu sudah cukup untuk menjadi barisan belakang."

Namun, kalimat selanjutnya membuatku terhenyak.

Pemuda Hunter ini mengatakan dia akan mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan batalion ini. Jika memikirkan betapa berharganya seorang Hunter, seharusnya aku menolak hal ini. Komandan yang waras tidak akan setuju.

Tapi, bukankah umat manusia memang tidak bisa menang? Kita sudah kalah sejak awal.

Lalu, kenapa aku harus mengorbankan batalion ini hanya untuk menyelamatkan seorang Hunter? Aku memutuskan untuk menyetujui rencana Mikkanen, meski aku sadar konsekuensinya adalah tiang gantungan.

Anggap saja ini hanya cara seorang Hunter pemula untuk mati lebih cepat, kataku pada diri sendiri.

Aku pun mulai memimpin mundurnya batalion sembari memalingkan muka dari Mikkanen yang menyerbu kawanan peri bagaikan dewa perang.

Aku menyadari tanganku gemetar.

Benarkah ini sosok militer yang kuimpikan? Mengirim seorang pemuda yang bahkan mungkin belum pernah minum alkohol ke tempat kematian demi kelangsungan hidupku sendiri? Apakah ini militer yang kusembahkan hidupku untuknya?

Hunter bernama Mikkanen itu terlalu bodoh.

Begitu bodohnya, sampai-sampai aku merasa ikut gila. Aku meraih pistol yang bahkan belum pernah kutembakkan sejak lulus dari akademi militer.

"Batalion, teruskan mundur! Aku memiliki tugas yang harus kulaksanakan sendiri."

Mengatakan hal itu pada wakilku, aku melangkah menuju medan tempur yang dipenuhi peluru meriam.

"Apa yang Anda pikirkan? Tidak mungkin seorang komandan harus bertarung sendirian. Itu adalah tugas Hunter."

"T-tapi..."

Lenganku ditarik dan dihentikan.

Wakilku menghela napas melihat diriku yang tetap bersikeras melangkah dengan wajah penuh penderitaan. Di tangannya yang menyusul, ia juga menggenggam sebuah pistol.

"Setidaknya saya akan menemani Anda."

"Hei, hei, jangan berpikir hanya perwira yang boleh menyerbu. Kami para prajurit juga harus ada untuk bertarung dalam perang."

"Selain itu, kalau tidak ada kurir, kita akan kesulitan. Kita tidak bisa memberi perintah ke unit masing-masing."

Prajurit batalion ikut bersiap, seolah-olah terjadi longsoran keberanian. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.

"Tidak perlu disembunyikan lagi. Kita semua tahu sebagian besar batalion akan mati kalau kita mundur sekarang. Jika memang begitu, bukankah lebih baik kita mati setelah memberikan perlawanan?"

"Mata Hunter yang bernama Mikkanen itu, lurus sekali. Jika memang harus mati, lebih baik mati dengan bertarung sambil mengacungkan jari tengah ke arah para peri."

"Begitu, ya. Haha, hahahahaha!"

Aku tertawa seperti orang gila. Lalu, aku menggenggam erat bendera batalion dengan tanganku sendiri.

Yang terpatri di kepalaku adalah binar mata Hunter bernama Mikkanen itu. Sinar penuh harapan yang terlalu terang bagi umat manusia, yang bahkan belum menyerah pada kemenangan.

"Ini adalah perintah terakhir batalion: Ikuti Mikkanen!"

Hari itu, batalion yang terjun ke dalam rencana yang jauh dari kata taktis itu berhasil mengalahkan peri bersama Mikkanen, meski tujuh puluh persen prajuritnya gugur.

Sesuatu yang dipercaya tidak mungkin dilakukan oleh siapa pun berhasil tercapai: membunuh salah satu Raja Iblis, Peri Bintang Surgawi yang ditakuti semua orang.

Sembari mengelus pistol yang ditinggalkan oleh wakilku yang tewas di dalam pelukanku saat itu, aku kembali memikirkan Mikkanen.

Di akademi militer, kami diajarkan bahwa perang selalu diikuti oleh hal-hal yang tidak masuk akal.

Bahwa jika kita bisa memenangkan perang hanya dengan mengirim pasukan sesuai rencana, maka tidak akan ada kekalahan. Bahwa seberapa hebat pun taktik yang ada, pada akhirnya keberuntungan atau nasib akan menentukan hasil akhir.

Tentu saja, tugas militer adalah memikirkan taktik semaksimal mungkin.

Namun, menurut pendapatku dulu hingga sekarang, tidak ada satu jalan pun bagi umat manusia untuk menang di sana. Jika begitu, pasti ada sesuatu yang melampaui strategi militer dalam kemenangan tersebut.

"Ya, misalnya saja, karena ada seorang pahlawan di sana."

Aku bergumam pelan.

Aku menganggap diriku sebagai komandan yang cakap. Tapi, kemenangan umat manusia atas peri membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan.

Seorang pahlawan yang membalikkan ketidakmasukakalan dan menjadikan yang mustahil menjadi mungkin.

Karena ada Mikkanen, umat manusia bisa menang. Artinya, aku tidak boleh kehilangan Mikkanen, apa pun yang terjadi.

Mikkanen harus terus bertarung.

Itulah kesimpulan yang diambil oleh Agrastein Lorelei.

"Pahlawan, ya. Bahkan bagiku sendiri, ini terdengar seperti ajaran agama."

◆◆ Selingan: Monolog Seorang Perwira Selesai ◆◆



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close