Chapter 3
Sang Bijak menertawakan sang Pahlawan
"Oi,
Mikkanen."
Mimpi yang begitu
familiar.
Masa di mana aku
masih hidup di desa kelahiranku tanpa memikirkan apa pun.
Ingatan tentang
saat aku tertawa bersama Kurukutta dan pahlawan di skenario asli, ketika aku
masih berpikiran naif bahwa selama ada mereka, umat manusia akan baik-baik
saja.
Kurukutta
tersenyum manis.
"Hei,
Mikkanen. Boleh aku tanya satu hal?"
Sambil
berbaring di padang rumput, aku memandangi desa.
Kurukutta,
yang duduk di sampingku, mencondongkan wajahnya ke arahku.
Aku menatap wajah
itu lekat-lekat. Dengan
senyum yang benar-benar polos, dia bertanya.
"Kenapa
kau tidak membunuh semua Raja Iblis itu menggantikanku?"
Tiba-tiba
aku tersadar.
Tepat di
depan mataku, ada wajah Alexeiev dan orang-orang yang dibunuh oleh Peri
Cendekiawan. Mereka menatapku diam-diam dari dalam lautan darah. Tatapan yang
dingin dan penuh amarah.
"Karena
Mikkanen-san tidak membunuh Raja Iblis itu dengan benar."
"Tidak,
hentikan, tidak..."
Alexeiev
merapalkan kata-kata penuh kebencian.
"Karena
Mikkanen-san, aku dibunuh."
"Aku tahu.
Aku tahu aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti Kurukutta."
Aku
menutup telinga, berpura-pura tidak mendengar.
"Ahahahaha!"
Kepala
Alexeiev jatuh bergedebuk, dan dari belakangnya, Peri Cendekiawan muncul.
Seolah mengejekku yang meringkuk tak berdaya, ia mendekatkan bibirnya ke
telingaku.
"Kalau itu
Kurukutta-chan, bagaimana jadinya ya?"
"Kubilang,
hentikan..."
◆◆◆
"Mikkanen,
apa yang terjadi?"
"Alhanzen-sensei..."
Reruntuhan Kastil
Ogdanel di malam hari.
Saat aku menuruni
tangga gelap yang sepi, tiba-tiba ada suara yang menyapaku dari atas.
Diterangi cahaya
lampu yang dingin, sosok yang menatapku adalah Alhanzen-sensei.
"Kurasa ini
sudah waktunya tidur. Setahuku, Mikkanen tidak memiliki tugas militer di malam
hari."
"Yah, aku
agak susah tidur."
Aku berusaha
menyembunyikan kotak kecil di tanganku ke dalam saku.
Namun, mata
tenang Alhanzen-sensei terus mengawasinya.
"Obat tidur?
Apalagi itu obat yang dijual bebas."
Suara langkah
kaki yang menapak tangga batu terdengar berirama.
Sebelum aku
sempat membela diri, Alhanzen-sensei sudah mengambil kotak obat itu. Setelah
melihat isinya, dia mengernyitkan dahi.
"Berapa
banyak yang kau telan dalam semalam?"
"..."
Berbohong pada
Alhanzen-sensei tidak ada gunanya. Lebih baik diam saja.
Dia menatap
mataku lekat-lekat, lalu dengan tangan yang mencengkeram kuat, dia meremukkan
kotak obat itu hingga hancur dan membantingnya ke lantai.
Tak. Kotak itu menggelinding.
Alhanzen-sensei
berdecak kesal padaku yang tertunduk, lalu menarik tanganku.
"Alhanzen-sensei?"
"Ikut aku.
Jangan coba-coba protes."
Aku diseret ke
laboratorium milik Alhanzen-sensei.
Cahaya oranye
yang menyilaukan memenuhi ruangan.
Sepertinya dia
baru saja menyelesaikan eksperimen; gelas kimia dan tabung reaksi tersusun rapi
di meja. Mungkin dia sedang mengerjakan peningkatan "Senjata No. 0"
atas perintah Agrastein hingga larut malam.
Alhanzen-sensei
menyingkirkan semua barang itu dengan kasar.
Suara kaca beradu
terdengar riuh, dan beberapa larutan tumpah. Namun, dia tidak memedulikannya
sedikit pun.
"Duduklah
di sana dan diam."
"Tidak,
aku benar-benar tidak mengerti..."
Di bawah
tatapan dinginnya, aku tak punya pilihan selain duduk di kursi yang empuk.
Alhanzen-sensei mulai sibuk bekerja di mejanya.
"Beberapa
hari lalu, aku melaporkan bahwa stres Mikkanen terdeteksi saat tidur dan aku
menanyakan alasannya."
Ah, seingatku
memang pernah ada kejadian seperti itu.
"Waktu itu,
Mikkanen menjawab tidak perlu khawatir karena akan membaik dalam beberapa hari.
Aku mempercayai kata-katamu dan hanya terus melakukan pemantauan."
Alhanzen-sensei
mendongak. Sorot matanya begitu dingin hingga membuat bulu kudukku
berdiri.
"Apakah ini
hasilnya?"
"Maaf."
Saat aku menunduk
karena merasa disalahkan, Alhanzen-sensei menghela napas panjang.
Sepertinya
pekerjaannya selesai; dia membagi bubuk yang dibuatnya ke dalam beberapa
kantong dan menggenggamkannya ke tanganku.
"Alhanzen-sensei,
ini...?"
"Mengonsumsi
obat bebas secara membabi buta itu sangat bodoh. Gunakan satu bungkus setiap
malam; itu akan membuatmu beristirahat cukup dalam hingga tidak bisa melihat
mimpi sekali pun."
Tanpa menatap
mataku, Alhanzen-sensei menggenggam tanganku dengan telapak tangannya yang
hangat.
"Mikkanen,
bagiku kau adalah penunjuk jalan."
Dia berbicara
dengan lembut.
"Seorang
penunjuk jalan adalah yang menuntun arahku, bukan sebaliknya. Aku akan selalu
mempercayaimu. Tidak perlu sekarang, tapi aku berharap suatu hari nanti kau mau
memberitahuku apa yang membuatmu menderita."
Kebaikan
Alhanzen-sensei meresap ke dalam dadaku.
Aku hanya
bisa menunduk sambil mengertakkan gigi, merasa kesal pada diriku sendiri yang
begitu lemah.
"Terima
kasih, Alhanzen-sensei."
◆◆◆
Jeritan
peluru artileri yang memekakkan telinga terdengar.
Serangan ini jauh
melampaui apa pun sebelumnya; asap mesiu menutupi cahaya matahari.
Bongkahan besi
itu merobek-robek tanah. Itu bukan sekadar perang, melainkan kebrutalan
senjata.
Jumlah
tentara manusia di medan perang tidak banyak. Karena hampir tidak ada peri yang
bisa menembus badai besi itu, kehadiran tentara di garis depan bahkan tidak
diperlukan.
Di hutan
dan gunung di belakang reruntuhan Kastil Ogdanel, laras-laras meriam tumbuh bak
jamur di musim hujan.
Agrastein dan
para perwira memandangi pemandangan neraka itu.
"Luar biasa.
Dengan ini, kita bisa membasmi Peri Cendekiawan di mana pun dia
bersembunyi...!"
"Usaha keras
kita membangun jaringan kereta api dan pabrik senjata selama ini tidak sia-sia.
Logistik di garis belakang yang mendukung pengeboman ini bisa disebut sebagai
sebuah karya seni!"
Berbeda
dengan para perwira yang bersemangat, Agrastein tetap membisu. Tujuan
pengeboman ini bukan sekadar membunuh peri. Tatapan Agrastein—dan bidikan
meriam-meriam itu—hanya tertuju pada satu titik.
Hutan
Peri, yang berdiri angkuh dan gelap di kedalaman medan perang.
Pohon-pohon
raksasa dibakar oleh mesiu dan dicabik oleh pecahan besi. Peri yang terjebak di
sana tertimpa pohon tumbang dan tewas.
Hutan itu
sedang dibakar, diledakkan, dan dimusnahkan. Peluru-peluru terus ditembakkan ke
tanah yang menghitam, seolah tidak membiarkan satu tunas pun untuk tumbuh.
Serangan
besar-besaran ke Hutan Peri, yang dipicu oleh kemunculan Peri Cendekiawan.
Inilah langkah pertamanya.
Hutan
adalah medan yang sulit bagi senjata modern manusia; pohon raksasa yang sulit
ditebang dan lumut yang menjebak kaki adalah mimpi buruk bagi militer. Dulu,
menyerbu Hutan Peri dianggap sebagai bunuh diri.
Namun,
jika menyerah pada hal seperti itu, dia bukanlah Agrastein. Komandan yang ditakuti karena ketegasannya
itu memikirkan strategi yang sangat sederhana.
Jika peri
menjadikan hutan sebagai sarang, maka bakar seluruh hutannya.
Dari
tambang ke pabrik, dari pabrik ke garis depan. Agrastein membangun urat nadi
logistik di wilayah manusia.
Seperti
lini produksi yang tak terputus, gunung-gunung peluru ditembakkan setiap detik.
Agrastein
menatap peta di mejanya dengan tenang.
Peta itu
mencatat geografi Hutan Peri yang didapat dengan mengorbankan nyawa tak
terhitung jumlah tentara dan pemburu.
Setelah
pengeboman selesai, sepatu bot infanteri dan pasukan lapis baja menginjak tanah
yang telah menjadi arang akibat mesiu.
Deretan
truk yang memanjang dari reruntuhan Kastil Ogdanel terlihat seperti garis
tunggal yang tak berujung.
Lima
ratus divisi yang disembunyikan Agrastein di garis belakang—pasukan terbesar
yang pernah ada dalam sejarah manusia—mengalir ke dalam Hutan Peri bak
longsoran salju.
Di
sisa-sisa hutan yang hangus, beberapa peri yang selamat dari pengeboman pertama
tersebar di titik-titik yang masih hijau.
Apa pun yang
mereka alami, satu-satunya pikiran di otak mereka tetap sama: memakan otak dan
hati manusia.
Namun, mimpi itu
tidak akan pernah terwujud.
Seorang pengintai
yang melihat kehijauan itu dari balik kayu bakar melaporkan sesuatu melalui
telegraf.
Beberapa menit
kemudian, pepohonan yang tersisa itu pun ditelan api. Pembom yang terbang
santai di atas hutan adalah salah satu senjata baru yang diperkenalkan manusia
dalam operasi ini.
Peri yang
melompat keluar untuk menghindari api segera diburu oleh infanteri.
Tidak ada satu
pun prajurit yang merasa kasihan mendengar jeritan sekarat mereka.
Di dada para
prajurit, yang ada hanyalah ingatan tentang kawan seperjuangan yang dimakan
oleh peri. Semangat sedingin es bersarang di mata mereka.
Mengikuti rencana
Agrastein, tak terhitung jumlah prajurit masuk ke dalam hutan. Mereka mengepung
dan menghancurkan peri yang tersisa seolah membentuk busur.
Hanya dalam hari
pertama, manusia telah melangkah puluhan kilometer ke kedalaman hutan.
Jika satu divisi
kehabisan logistik, divisi baru yang masih segar muncul dari belakang untuk
terus mendorong peri lebih jauh.
Di belakang
mereka, zeni membangun jalan dan rel kereta, membawa peluru serta roti dari
Kastil Ogdanel yang kini menjadi pusat logistik terbesar umat manusia.
Rencana operasi
Agrastein yang presisi benar-benar sebuah karya seni.
"Peri
Cendekiawan adalah ancaman strategis yang terlalu besar. Entah bagaimana
caranya, dia bangkit meski seharusnya sudah dibunuh. Membiarkannya adalah
kebodohan."
Peri Cendekiawan
bisa menular bukan hanya pada manusia, tapi juga peri, mempelajari dan
menumbuhkan sihir mereka.
Semakin lama,
kekuatannya semakin membesar. Agrastein menatap Hutan Peri dengan mata dingin.
"Kita akan
membasmi Peri Cendekiawan sekarang juga. Ini adalah serangan besar-besaran yang
mempertaruhkan nasib umat manusia. Kita harus menyegel kebangkitan Raja Iblis
itu dengan cara apa pun."
Kuncinya
adalah sang Pemburu.
Kartu as
manusia yang mampu membalikkan medan perang dengan keberanian satu orang saja.
Pemburu tingkat tinggi setara dengan bencana alam bagi para peri.
Sihir
yang melampaui kekuatan satu divisi yang dikerahkan secara tunggal itulah yang
menopang serangan besar umat manusia.
Dan di
antara mereka, ada satu pemburu yang terus mencatatkan hasil yang tak
tertandingi.
◆◆◆
Aku
menoleh ke belakang.
Di sana
ada gunung daging yang tak berujung. Rangkaian pegunungan merah yang terbuat
dari potongan daging yang masih menggeliat dan lengan-lengan yang kupotong.
Di depan sana,
ada lautan peri. Entah datang dari mana, jumlah mereka begitu banyak hingga
menutupi tanah, hanya menatapku dengan kebencian.
Aku menarik napas
pelan. Tanganku meraih Longsword. Tidak ada tentara di sekitar. Hanya
aku di sini. Jadi, tidak perlu menahan diri.
Aku berlari
menuruni gunung daging yang kubangun sendiri. Hal itu memicu ribuan sihir peri
terbang ke arahku.
Mulai dari bola
api sederhana hingga cahaya misterius yang meliuk-liuk.
Aku tidak
memedulikan semua itu dan terus berlari.
Meski
sihir merobek dagingku, menerbangkan jariku, atau mencabik organ tubuhku, aku
tidak peduli. Aku hanya terus berlari.
Aku
menebas peri mana pun yang tertangkap mataku. Aku sudah tidak berniat
menghindari serangan musuh.
Mengorbankan
daging untuk mematahkan tulang—itulah cara sihirku yang paling efektif.
Rasa
sakit sudah tidak penting lagi.
Saat
menebas sekitar seribu peri, Longsword-ku patah di tengah jalan. Karena
sayang membuang bilahnya, aku mencengkeram ujung pedang yang patah itu dengan
tangan telanjang.
Tentu
saja, tanganku ikut teriris setiap kali menebas peri, tapi aku cukup
menyembuhkannya dengan sihir. Masalah yang jauh lebih besar adalah jumlah Longsword
yang mulai menipis.
Tebas,
tebas, dan terus menebas.
Aku
membuang pedang yang sudah hancur lebur dan mengambil bilah baru dari balik
jubahku.
Terkadang, aku menggunakan potongan lenganku sendiri atau kaki sebagai tameng untuk menerjang maju.
Bahkan
gigi pun bisa menjadi senjata yang hebat jika digunakan dengan benar.
Akhir-akhir ini, aku mulai menyukai cara memungut rahang bawah yang terlepas
dan menghantamkannya ke arah para peri.
Aku terus
mengamuk tanpa henti.
Membangun
gunung dari jasad-jasad peri.
Begitu
aku sadar, hanya aku yang tersisa di tempat itu.
Aku
menyentuh pinggangku dengan tenang dan menyadari bahwa Longsword milikku
sudah hancur sejak lama.
Di akhir
pertempuran tadi, benda yang kugenggam dan kukira sebagai pedang ternyata
hanyalah cakar peri.
Aku tidak
tahu sudah berapa malam yang kulalui.
Yang
tersisa hanyalah lautan jasad peri yang membentang hingga puluhan kilometer.
◆◆◆
"Bohong,
kan! Sumpah, aku belum pernah mencicipi minuman sekelas ini seumur
hidupku!"
"Si
Agrastein itu, dia benar-benar tahu caranya menyenangkan kita!"
"Untuknya,
aku rela dimakan peri sekalipun!"
Di kejauhan,
terdengar seruan kegembiraan. Saat aku mendongak, kulihat para prajurit sedang
berkumpul di sekitar kotak kayu. Aku tahu apa isinya.
Anggur. Umpan
yang diberikan Agrastein kepada para prajuritnya.
Dia sangat piawai
dalam melakukan tipu daya kecil seperti ini. Agrastein adalah jenius
abad ini dalam hal memacu moral pasukannya.
Agrastein tidak memedulikan berapa banyak tumpukan daging
mati atau cara apa yang harus ditempuh, selama umat manusia bisa menang. Itulah sebabnya dia rela memeras otaknya
demi menjaga semangat para prajurit.
Hati para
prajurit yang terus-menerus terlibat dalam aksi saling bunuh dengan peri
perlahan-lahan mulai hancur. Jika tidak diberikan waktu istirahat di suatu
tempat, serangan besar-besaran ini pasti akan gagal.
Para prajurit
menari di atas telapak tangan Agrastein.
Sebagai pion,
mereka diperas hingga titik darah penghabisan, dibawa ke medan maut tanpa tahu
kapan akan dibunuh peri, namun tetap bertarung demi umat manusia.
Itulah bakat
Agrastein sebagai seorang komandan militer.
Aku menghindari
para prajurit yang bersorak dan berjalan menuju pinggiran kamp.
Di sana berbaris
kantong-kantong jenazah berisi prajurit yang telah menjadi mayat tak bersuara.
Ada yang rembesan darahnya menembus kain, ada pula yang ukurannya tampak
terlalu kecil untuk satu orang.
Mereka
semua gugur dalam serangan besar ini.
Gugur
demi menghentikan napas Peri Cendekiawan selagi bisa. Demi membunuh Peri
Cendekiawan yang seharusnya sudah kubunuh, tapi ternyata masih hidup.
Aku
merenung.
Aku
memikirkan "seandainya" yang selama ini kusembunyikan dalam lubuk
hatiku. Seandainya Kurukutta yang selamat menggantikanku, seandainya dia
menjadi pahlawan seperti dalam skenario asli...
Mungkinkah para
prajurit ini masih hidup?
Pertanyaan itu
terus berputar di dalam kepalaku. Karena tak sanggup lagi berpikir, aku meraih Longsword
di dekatku.
Aku harus
bertarung.
Jika aku tidak
bertarung melawan peri, skenario akan semakin kacau. Aku tidak boleh
beristirahat, jadi aku harus segera membunuh peri. Segera, harus segera...
"Dasar
bodoh...!"
Seseorang
mendorongku dengan kekuatan yang luar biasa.
Sosok yang
menindihku saat aku terjatuh ke tanah adalah Isfarina, dengan mata berkaca-kaca
seolah hendak menangis. Dia mencengkeram kerah bajuku.
"Apa kau
sadar apa yang sedang kau lakukan?! Kau sudah bertarung selama sebulan penuh
tanpa tidur sedikit pun, dasar bodoh!"
"...Ini
pilihanku. Isfarina, kau tidak perlu memedulikanku."
Plak! Suara nyaring terdengar. Rasa
nyeri menjalar di pipiku.
Sambil
menangis, Isfarina berteriak.
"Apa
yang harus kulakukan jika kau mati?! Hanya dengan memikirkan saat kau mati,
aku, aku, aku..."
"Isfarina.
Untuk sekarang, hentikan sampai di situ."
Saat aku
mendongak, kulihat Morgleide berdiri dengan kepala tertunduk.
"Mikkanen.
Ada yang ingin kutanyakan, boleh?"
Morgleide
bertanya seolah sedang menahan sesuatu yang mendesak dari dalam dadanya.
Matanya bergetar oleh berbagai macam emosi.
"Selama ini,
yang kurasakan darimu hanyalah ketakutan dan rasa sakit. Meski aku hanya
merasakan serpihannya, rasanya begitu mengerikan sampai aku hampir
menangis."
"...Hm,
begitu ya? Aku
sendiri tidak begitu paham."
Aku
memejamkan mata di depan senyum canggung Morgleide.
Beruntung
jantung yang menghubungkanku dengan Morgleide tidak menyalurkan seluruh
pikiranku. Jika iya, aku
tidak tahu betapa kacaunya pikiranku saat ini.
Morgleide
dan Isfarina masih belum mengetahuinya.
Aku
menyingkirkan Isfarina yang terisak dan bangkit perlahan. Isfarina langsung
mendekap dadaku. Morgleide mendekat perlahan.
"Aku
ingin kau mengandalkanku. Sejak hari di mana kau menyelamatkan nyawaku, aku
bersumpah akan hidup untukmu. Sejujurnya, aku tidak peduli soal manusia atau
peri, asal kau bahagia, itu sudah cukup."
"Morgleide...?"
Itu
adalah tatapan yang sangat jujur, sesuatu yang jarang kulihat.
"Andalkan
aku, hancurkan aku sampai tak berbentuk pun tak apa! Gunakan aku sesukamu hanya
demi keinginanmu sendiri!"
Morgleide
menangkupkan tangan di dada, memohon seolah sedang berdoa.
"Jadi,
kumohon... katakan padaku apa yang kau takuti..."
Jeritan itu
tersampaikan dengan jelas, menunjukkan betapa dia peduli padaku.
Untuk sesaat, aku
ingin menceritakan semuanya agar hatiku lega.
Tentang skenario,
tentang Kurukutta, tentang Radim... aku ingin mengakui semua dosa yang telah
kuperbuat dan mengandalkan mereka. Namun, kata-kata itu tersangkut di
tenggorokanku.
Aku mulai
berpikir, bagaimana reaksi Morgleide jika mendengar ceritaku?
Jika bukan karena
aku, dunia ini seharusnya sudah berakhir sesuai skenario. Kurukutta seharusnya
hidup, Radim seharusnya menjadi pahlawan, dan umat manusia seharusnya selamat.
Padahal aku tahu
segalanya sejak awal, tapi akulah yang merusak alur tersebut. Jika aku mengakui
dosa itu, apakah aku akan dimaafkan?
Bagaimana
Isfarina dan Morgleide akan memandangku?
Aku ketakutan.
Meski telah menumpuk begitu banyak dosa, aku masih sangat takut jika mereka
berdua membenciku atau menganggapku menjijikkan.
"Morgleide,
bagaimana kalau kita menangkap peri di suatu tempat dan bertarung
bersama?"
"Mikkanen...?"
Kata-kata itu
meluncur begitu saja. Tak bisa kuhentikan lagi.
"Aku tadi
sempat berpikir soal jantung yang kuberikan padamu. Misalnya, jika aku
mencungkil jantung itu saat bertarung melawan peri, lalu aku menyembuhkannya
dengan sihirku setelahnya, bukankah aku bisa mengembalikan jantung itu
kepadamu..."
"Mikkanen!"
Morgleide
membentak.
Matanya terbakar
oleh gairah yang meluap.
Dia mencengkeram
kerah bajuku dan menghantamkanku ke batang pohon kering di dekat situ.
Mata yang kini
memerah itu berada tepat di depan hidungku.
"Jantung itu
adalah sesuatu yang kuserahkan padamu. Itu adalah milikmu seumur hidup. Dan
kau... kau justru ingin mengembalikannya padaku! Apa kau pikir aku akan senang
jika kau melakukan itu? Apa kau pikir aku akan setuju?!"
"Maaf."
Aku menundukkan
kepala. Cengkeraman tangannya di dadaku perlahan melonggar.
"Aku hanya
terpikir sekilas. Kalau kau tidak suka, aku tidak akan melakukannya."
"Jangan
pernah ucapkan itu lagi seumur hidupmu."
Morgleide
berbalik dan menjauh perlahan. Aku merapikan kerah seragam militermu yang
berantakan. Terdengar suara deheman.
"Mikkanen,
bagaimanapun juga, bicaralah padaku. Jika kau punya masalah,
katakanlah..."
"...Aku
tidak punya masalah. Tidak dulu, tidak juga nanti."
Aku
mencoba menyelinap melewati Morgleide, tapi dia menangkap lenganku.
"Mikkanen."
Mata jujur
Morgleide menatapku. Namun, aku hanya tersenyum tipis dan perlahan meraih Longsword-ku.
"Kalau
begitu, jaga dirimu baik-baik."
Setelah
mengatakan itu, aku pergi seolah melarikan diri.
◆◆◆
"Astaga,
jumlahnya banyak sekali."
"Itu
karena Agrastein-sama memerintahkan untuk mengumpulkan semuanya dari gudang
anggur di dekat ibu kota. Dia benar-benar atasan yang perhatian."
Di tengah
perjalanan antara reruntuhan Kastil Ogdanel dan medan perang.
Di
stasiun kereta api darurat, sekumpulan prajurit sedang sibuk menurunkan muatan.
Seorang prajurit yang sibuk memindahkan tong berat ke truk layaknya semut
pekerja, melontarkan kata-kata.
"Kasihan
juga para peri itu. Kita bisa membawa anggur, sementara mereka hutannya dibakar
dan dibom dari langit. Benar-benar malang."
"Mereka
memang pantas mendapatkan itu. Kita sudah terlalu lama menderita, ini saja
belum cukup."
Keheningan
menyelimuti para prajurit.
"Sudahlah,
buka tong-tong itu dan periksa apakah anggurnya masih bagus. Jangan coba-coba
mencuri minum sedikit pun, dasar bodoh."
Mengikuti
perintah atasan, para prajurit memeriksa tong-tong tersebut. Tiba-tiba, salah
satu prajurit berteriak.
"Ugh! Ada
tikus!"
Di dalamnya,
seekor tikus mengambang di atas anggur berwarna amber. Tikus itu sudah mati,
sepertinya tenggelam di dalam anggur.
"Sial,
anggur di tong ini sudah tidak bisa dipakai. Harus dibuang semuanya."
"Yah, sayang
sekali... tidak bisakah kita minum sedikit saja?"
"Bodoh, kau
tidak tahu penyakit apa yang dibawa tikus itu. Kalau tidak mau berakhir menangis di depan
dokter militer, buang saja ke selokan."
Prajurit dengan wajah masam itu menendang tong tersebut.
Anggur
dengan kilau yang memikat mengalir keluar dari tong yang terguling, meresap ke
tanah yang hangus.
Tikus
yang tadi tenggelam di anggur terbaring di atas tanah hitam, dibiarkan begitu
saja. Sayang sekali, tak ada prajurit yang meliriknya.
Namun,
itu adalah kesempatan terakhir dan terbesar.
Jebakan
yang dipasang dalam serangan besar ini, gigitan tikus yang akan membusukkan
benteng raksasa itu hingga ke akarnya.
Jika saja mereka
menyadarinya, masa depan mungkin akan berbeda.
Tapi, itu tidak
terjadi.
Para prajurit
hanya fokus pada bongkar muat dan tidak melihat tikus yang seharusnya mati itu
bergerak sedikit, lalu berlari pergi ke suatu tempat.
Tikus itu
perlahan menumbuhkan jari manusia, kemudian lengan, kaki, dan akhirnya
membentuk wujud seorang manusia.
Tikus yang kini
berubah menjadi seorang gadis kecil itu tersenyum lebar.
"Hampir
saja! Sedikit lagi, identitasku hampir terbongkar! Wah, anggurnya enak sekali,
aku sampai terlena!"
Peri Cendekiawan
menari di atas tanah yang menghitam.
"Tapi,
semuanya berjalan dengan sangat lancar! Hadiah kejutan untuk Pahlawan-chan
sepertinya benar-benar bisa terlaksana!"
Dengan
mata yang berbinar, Peri Cendekiawan tersenyum lebar.
"Tunggu ya, Pahlawan-chan. Aku akan menuangkan seluruh
isi hatiku padamu!"
◆◆◆
Entah sudah berapa lama aku terus bertarung setelah
meninggalkan mereka berdua.
Sekitar sebulan
lagi berlalu tanpa istirahat, dan aku menerima tugas militer baru. Ada laporan
saksi mata mengenai target operasi ini, yakni Peri Cendekiawan.
"Siapa
pemburu di sana itu? Tubuhnya berlumuran darah dan daging sampai-sampai
wajahnya tidak kelihatan."
"Bodoh,
jangan dibicarakan. Matanya jelas sudah gila, nanti kalau dia mengamuk karena
tersinggung, kita sendiri yang repot. Mungkin dia pemburu baru yang kehilangan akal
sehat di medan perang pertamanya."
Di pagi
buta, aku yang berlumuran darah dan potongan daging duduk sendirian di
pinggiran truk. Tak ada
pilihan lain; tubuhku yang berlumuran merah dari kepala hingga kaki membuatku
terlihat seperti hantu.
Dari jauh,
landasan pacu berwarna hitam terlihat.
Aku menyipitkan
mata, bersyukur akhirnya sampai.
Diiringi deru
suara mesin, sekumpulan pesawat pengebom yang membawa bom terbang lepas landas
tanpa henti. Di
darat, para pilot dan mekanik berlarian sibuk.
Di ujung
terjauh medan perang.
Informasi
masuk bahwa Peri Cendekiawan muncul di garis depan terjauh dalam serangan besar
ini.
Raja
Iblis itu akhirnya menampakkan ekornya, aku tidak boleh membiarkannya lolos.
Agrastein
memerintahkanku untuk menumpang pesawat pengebom yang kebetulan ada di sana dan
segera menuju titik tersebut.
Tanpa
sadar, cengkeramanku pada Longsword menguat.
Ingatanku
melayang pada senyuman terakhir Alexeiev. Bukan itu saja, ada tak terhitung
banyaknya nyawa yang dimakan peri, dan kesedihan mereka yang ditinggalkan.
Nyawa
yang gagal kuselamatkan.
Seandainya
aku tidak ada di sana seperti dalam cerita aslinya, mungkin Alexeiev tidak akan
dibunuh. Mungkin nyawa-nyawa itu tidak akan hilang.
"Ah,
ini dokumen yang dimaksud. Bicaralah dengan pilot di dekat sana."
Jari itu
menunjuk ke arah satu pesawat pengebom yang menghitam. Pesawat itu diam tak
bersuara, menyerupai burung hering.
Aku
menarik tanganku dari Longsword, yang entah sejak kapan memutih karena
cengkeramanku yang terlalu kuat.
"...Mikkanen?"
Sosok
yang kulihat adalah prajurit dengan wajah yang sangat familiar. Kumis model
Kaiser dan seragam militer yang rapi. Rambut yang dipotong pendek berkilau
tertimpa sinar matahari.
"Lasso?"
Itu adalah
kenalan lamaku.
"Benar, aku
lega kau belum melupakan wajahku."
"Apa yang
terjadi? Aku pikir kau sudah lama pensiun dari militer."
Aku memiringkan
kepala. Lasso dulunya adalah kapten pasukan kavaleri.
Sejak awal perang
melawan peri, pasukan kavaleri yang bergerak lebih cepat dari manusia dianggap
sebagai aset berharga karena merupakan satu-satunya kekuatan yang bisa berlari
melintasi medan perang bersama pemburu.
Aku mengenal
Lasso karena pernah mengandalkannya untuk melintasi hutan di balik padang
rumput saat bertarung melawan Peri Cendekiawan. Namun, kehadiran senjata api
dan truk membuat pasukan kavaleri menjadi usang.
Katanya, militer
sudah membubarkan kavaleri sejak lama.
"Jangan
bodoh, apa gunanya kavaleri kabur dari medan perang? Memang benar sekarang
mesin besi yang berkuasa, tapi aku masih berniat bertarung di medan
perang."
Lasso
menepuk dadanya yang bidang dengan kening mengernyit.
Begitu
ya, sekarang aku ingat.
Banyak
anggota kavaleri yang pasukannya dibubarkan akhirnya bergabung ke dalam pasukan
pengebom atau pesawat tempur yang baru dibentuk. Lagipula, sebagai mantan kavaleri, mereka mungkin
terbiasa mengendarai sesuatu untuk bertarung.
"Lagipula
Mikkanen. Ada apa dengan penampilanmu itu? Bau sekali."
"Ah, ini
baru selesai tugas militer. Tadi sempat bertarung dengan peri."
Aku menyadari
mata Lasso tertuju pada tubuhku yang berlumuran darah dan lemak.
"Begitu ya,
seberapa banyak kau bertarung?"
"Sekitar
beberapa hari. Jangan khawatir, aku sempat beristirahat sesekali."
Sepertinya Lasso
mencemaskanku.
Berbohong lebih
mudah sekarang. Tidak seperti Isfarina atau Morgleide, Lasso seharusnya tidak
tahu banyak tentang tugas militer pemburu lain, jadi dia tidak akan curiga.
"Hahaha, kau
masih saja nekat! Kalau kau sampai bertindak membabi buta demi prestasi, aku
tidak bisa tinggal diam!"
Sepertinya
kebohonganku tidak terbongkar, Lasso tertawa terbahak-bahak.
Sekumpulan
pesawat pengebom yang terbang di langit tampak jauh lebih besar dan lebih bisa
diandalkan daripada saat kulihat dari daratan.
Di atas awan,
puluhan pesawat pengebom berkumpul seperti kawanan serigala, terbang dengan
santai di ketinggian yang tak terjangkau oleh peri di darat. Sambil membawa bom
yang siap menyebarkan kematian dan kehancuran.
Aku melongok ke
kokpit melalui jendela bundar kecil.
Di dalam kokpit,
Lasso yang menyerahkan kendali pesawat kepada pilot lain sedang merebut radio
dari operator. Dengan
urat leher yang menonjol, dia berteriak ke arah radio.
"Apa
maksudmu anggurnya enak! Kita adalah kavaleri kebanggaan, tidak, kita adalah
pasukan pengebom! Mabuk saat
bertugas adalah penghinaan! Apa kalian melupakan kehormatan kavaleri?!"
Lasso mengomel di
radio.
Meski sudah turun
dari kuda dan beralih terbang di langit, jiwa kavaleri dalam diri Lasso
sepertinya tak pernah hilang. Lasso, yang berasal dari keluarga kavaleri
turun-temurun, mungkin sangat bangga akan hal itu.
"Maaf ya.
Aku malah membiarkanmu mendengar hal-hal tidak penting dari skuadronku."
"Tidak
apa-apa, itu membuatku teringat Lasso yang dulu."
Setelah
berhenti membentak, Lasso berbicara dengan nada menyesal.
"Entahlah,
mungkin karena terlalu sering menang, para prajurit jadi mulai santai. Padahal
mereka ini kru pesawat pengebom, tapi ada saja yang nekat meminum anggur."
Lasso menghela
napas.
Katanya, dia
bakal pusing karena harus mengurus laporan disiplin nanti. Namun, wajah Lasso
tampak agak senang.
"...Yah, aku
cuma bernostalgia teringat masa lalu. Lagipula, anak buahku adalah kawan
seperjuangan yang sudah mengikutiku sejak zaman kavaleri, jadi aku ikut senang
melihat mereka."
Tiba-tiba, aku
menyadari sesuatu.
Kru di pesawat
Lasso semuanya sudah berusia lanjut. Dari sepuluh orang kru, sembilan di
antaranya tampak seperti orang tua berusia di atas enam puluh tahun. Mata Lasso
menyipit perlahan.
"Mereka
semua kesulitan sejak pasukan kavaleri dibubarkan."
Di
dadanya bersinar sebuah loket dengan lambang bangsawan. Bukti status mereka.
"Jadi karena
kavaleri dibubarkan, ya?"
Aku pernah dengar
bahwa kavaleri cenderung mempertahankan tradisi dan adat istiadat lama. Bagi
bangsawan militer, kavaleri adalah kebanggaan mereka.
Seorang pemimpin
klan memimpin pengikutnya masuk ke militer dan berlari dengan gagah berani ke
arah peri. Kavaleri adalah tempat di mana dongeng seperti itu masih tersisa.
Saat senjata
berubah dari tombak dan panah menjadi senapan, dan prajurit berubah dari
ksatria menjadi petani, kavaleri yang menjadi kebanggaan bangsawan akhirnya
hancur seiring dengan kemunduran mereka.
Kini perwira
dinilai dari ujian sekolah militer, bukan darah mereka. Bangsawan militer pun
sudah hampir tidak ada. Jika bicara soal pejabat militer bangsawan, Agrastein
adalah contoh terakhir.
Dengan hilangnya
kavaleri yang tersisa, banyak bangsawan yang kini menderita karena kesulitan
keuangan.
"Mereka
semua punya keluarga untuk dilindungi, banyak juga yang kehilangan kepala
keluarganya dalam perang. Mereka harus menghidupi keluarga dan pewaris yang
tersisa."
Dulu aku pernah
diperlihatkan cincin perak yang indah oleh Lasso. Sekarang, jari Lasso yang
menceritakan hal itu hanya memakai cincin besi yang sederhana.
Kilauan redup
dari cincin itu begitu menyilaukan hingga aku mengalihkan pandangan.
"Maaf, tapi
kita harus melakukan pengeboman dulu sebelum menurunkanmu."
Beberapa saat
setelah Lasso mengatakan itu, suara gemuruh tiba-tiba menggelegar di sekitar.
Skuadron itu
sedang melakukan pengeboman ke arah hutan di bawah mereka.
Bom-bom
yang dijatuhkan membakar Hutan Peri. Pohon-pohon yang ditiup angin hancur
berkeping-keping, dan hutan yang terbakar di kegelapan malam bersinar terang.
"Ini
pengeboman terakhir, setelah ini selesai kau bisa turun."
Peri-peri di
hutan mati terbakar menjadi bola api.
Semua kru pesawat
pengebom yang melihatnya tersenyum lebar. Bahkan ada yang bersenandung. Mungkin
itu wajar, mengingat mereka sudah membakar sekitar tiga puluh persen Hutan
Peri.
"Senang
rasanya bisa membunuh para peri dengan begitu mudah. Kalau bisa menang semudah
ini, seharusnya serangan ini dilakukan lebih awal."
Lasso tertawa, kakaka.
Aku tidak bisa
tertawa mendengar kata-kata itu.
Ada yang
aneh. Ada yang salah. Dalam
cerita aslinya maupun pertempuran selama ini, seharusnya peri tidak semudah itu
dikalahkan.
Dalam skenario
asli, ada banyak titik di mana umat manusia seharusnya kalah jika bukan karena
Radim.
Meski Radim
kehilangan sihirnya dan tetap tinggal di reruntuhan Kastil Ogdanel, tidak
mungkin semuanya berjalan selancar ini. Namun entah mengapa, umat manusia
justru menang besar.
"Kira-kira
apa yang dilakukan peri yang selamat, ya?"
"Entahlah,
mungkin mereka bersembunyi jauh di dalam hutan."
Aku tidak tahu.
Apa yang dilakukan Peri Cendekiawan?
Yang membedakan
ini dengan skenario asli adalah operasi ini ditujukan untuk membunuh Peri
Cendekiawan.
Bagi Peri
Cendekiawan, menghalangi serangan besar ini seharusnya sangatlah mudah. Dia
hanya perlu membiarkan prajurit yang terinfeksi mengamuk, itu sudah cukup untuk
memperlambat laju pasukan.
Padahal, sang
mantan Raja Iblis itu tetap bungkam.
Rasanya ada
sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di balik layar, jauh lebih besar
daripada serangan besar umat manusia ini. Aku merasa cemas, seolah semuanya
sudah terlambat untuk diperbaiki.
Aku merasa ada
sesuatu yang sedang terjadi di medan perang ini.
Aku hanya bisa
menatap api yang berkobar di bawah sana.
◆◆◆
Tempat aku turun
adalah tanah tandus tanpa sehelai rumput pun yang tumbuh.
Hutan itu sudah
lama dibakar, dan tidak ada satu pun ilalang tersisa di tanah ini. Peri pun
tampaknya sudah hampir musnah, membuat garis depan yang sunyi itu hanya diisi
oleh segelintir prajurit.
Para prajurit
tampak tidak fokus. Bahkan para penjaga hanya melamun menatap awan putih di
langit.
Meskipun Raja
Iblis itu, sang Peri Cendekiawan, dikabarkan muncul, mereka bahkan tidak
terlihat panik.
Skuadron pengebom
sudah lebih dulu kembali ke markas di belakang. Hanya pesawat Lasso yang
membawaku yang mendarat di tanah ini.
"Pemandangan
yang benar-benar sepi, ya," gumam Lasso sambil mendengus.
"Begitulah,"
balasku singkat sambil sedikit mengangguk.
Katanya, Peri
Cendekiawan muncul di sini. Namun, bagi Peri Cendekiawan yang
merupakan penyakit menular, aku merasa tidak ada alasan baginya untuk muncul di
tempat yang kekurangan kehidupan seperti ini.
Aku
sangat tidak percaya dia berniat bertarung denganku di sini.
Lebih baik jika
dia menemuiku di medan pertempuran sengit di mana Hutan Peri masih tersisa.
Tempat ini bahkan tidak memiliki nyawa untuk dijadikan inang penularan.
"Kalau
begitu, aku akan kembali menjemputmu setelah tugas militermu selesai. Kirimkan
telegraf kalau kau sudah siap."
Setelah pesawat
Lasso terbang menjauh, aku menghela napas dan berjalan menuju tenda komandan.
"Wah, wah,
pahlawan kita, Mikkanen-san. Senang sekali Anda sudi datang jauh-jauh ke ujung dunia seperti
ini."
Komandan
berjanggut itu membungkuk-bungkuk kepadaku.
Tugas
militer yang diberikan kepada para prajurit di sini hanyalah pertahanan
formalitas belaka.
Hutan di
depan sana memiliki geografis yang sulit untuk dimasuki pasukan besar, jadi
tidak ada yang peduli dengan garis depan ini.
Mungkin
karena itulah, komandan di tempat ini menghabiskan sepanjang hari hanya dengan
mengurus dokumen.
"Katanya
Peri Cendekiawan muncul di sini, tapi..."
"Hah?"
Mata sang
komandan membulat sempurna.
"Saya
rasa saya tidak pernah memberikan laporan seperti itu. Jika benar Raja Iblis
itu muncul, saya tidak mungkin bisa tetap waras seperti ini."
"Haah..."
Lalu, untuk apa
aku ada di sini?
"Mungkin
Anda salah dengar. Di sini sangat damai, bahkan bayangan peri pun tidak
ada."
Aku menghela
napas panjang.
Aku tidak
mengerti bagaimana bisa terjadi kesalahan komunikasi hingga berujung pada
laporan palsu mengenai kemunculan Peri Cendekiawan. Bagaimanapun juga,
ini terlalu keterlaluan.
Setelah itu, aku
bertanya banyak hal kepada komandan, tapi rupanya tidak satu pun orang di sini
yang pernah melihat peri.
"Kalau
begitu, karena tidak ada peri, aku ingin pindah ke medan perang lain..."
"Anda bilang
begitu, tapi karena tempat ini sangat terpencil, butuh waktu satu hari untuk
memanggil pesawat pengebom tadi kembali. Malam ini, silakan menginaplah di
sini."
Aku mendongak ke
langit dan menghela napas dalam-dalam.
◆◆◆
Pagi itu, aku
terbangun dengan sentakan, seperti orang tenggelam yang berhasil mencapai
tepian.
Aku bermimpi
buruk lagi.
Sejak hari di
mana aku mulai memimpikan Kurukutta, aku terus terperangkap dalam mimpi buruk.
Kondisinya semakin parah sejak aku tahu Peri Cendekiawan bangkit
kembali.
Awalnya hanya
Kurukutta, tapi beberapa hari terakhir, Alexeiev, bahkan Peri Cendekiawan
sendiri muncul di mimpiku setiap malam.
Obat dari
Alhanzen-sensei pun mulai kehilangan khasiatnya, belakangan ini aku meminum
dosis dua malam dalam sehari. Jika dia tahu, aku mungkin tidak hanya akan
dibentak.
"Berdasarkan
percakapan kemarin, pesawat pengebom Lasso akan menjemputku tengah hari nanti.
Tapi, aku benar-benar tidak punya muka untuk menemuinya," gumamku pelan.
Siapa sangka aku
membuang-buang tenaga karena kesalahan informasi? Lasso pasti akan
menertawakanku. Aku sedang memikirkan hal itu.
"Mikkanen-san,
Peri Cendekiawan! Peri Cendekiawan telah muncul!"
Itu terjadi
sesaat sebelum teriakan histeris tersebut memecah keheningan.
Tenda
tempat komandan seharusnya berada.
Di kursi
itu, sesosok peri sedang duduk.
Dia
menyeruput kopi di meja dengan santai seolah sedang mengobrol ringan, lalu
memasang wajah masam karena rasa pahitnya.
Namun,
sosok gadis berbaju putih suci itu jelas merupakan jenis iblis. Bagaimanapun
juga, kulit sang komandan yang tadi kuajak bicara kini berlumuran darah dan
tergeletak di kakinya.
Saat aku
menerjang masuk ke dalam tenda, dia menyapaku dengan senyum yang menyilaukan.
"Kamu
terlambat! Aku sudah lelah menunggu, tahu!"
"Cih, jadi
kau menginfeksi komandan, mengendalikannya, dan memancingku ke sini?"
"Bingo!
Memang pahlawan kita yang paling pintar!"
Aku menahan para
prajurit yang hendak mendekat dengan tanganku.
Sosok di depanku
adalah salah satu Raja Iblis yang pernah membawa umat manusia ke ambang
kepunahan. Sayangnya, prajurit biasa hanya akan menjadi beban.
Sejujurnya, aku
ingin mereka segera lari.
"Pahlawan,
ada yang ingin kubicarakan."
"Singkat
saja. Kesabaranku tipis, aku sudah menahan diri agar tidak segera memenggal
kepalamu."
"Terima
kasih. Kalau begitu, satu kalimat saja."
Peri
Cendekiawan berjalan
perlahan mendekat.
Pipi merahnya
merona, dan matanya yang berkaca-kaca dipenuhi dengan harapan sekaligus
kecemasan. Ia tampak seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
"Aku
mencintai pahlawan. Maukah kau membiarkanku memakanmu, dan menjadi
milikku?"
"Mustahil.
Apa yang kau pikirkan?"
Aku langsung
menolak kata-kata Peri Cendekiawan yang tidak masuk akal itu.
Apa dia pikir aku
akan mengangguk hanya karena seekor peri bilang ingin memakanmu? Aku tidak mengerti mengapa Peri
Cendekiawan itu tampak terkejut dengan mulut menganga.
"...Kejamnya."
Peri
Cendekiawan menundukkan
kepalanya.
"Kejam,
kejam sekali. Padahal aku benar-benar mencintaimu."
"Kalau
begitu, lebih baik kau segera mencungkil jantungmu sendiri dan akhiri
hidupmu."
Aku mengernyit
melihat perilaku Peri Cendekiawan yang jelas-jelas tidak waras. Sesaat
kemudian, tawa yang indah menggema di dalam tenda yang sunyi.
Peri
Cendekiawan mengangkat
wajahnya perlahan.
"Aku sudah
memikirkannya lama sekali," Peri Cendekiawan tertawa mengerikan.
"Bagaimana
caranya agar aku bisa mendapatkanmu, bagaimana caranya agar kau bisa jujur dan
menjadi milikku."
"Tidak perlu
berpikir. Kau akan segera kubunuh di sini."
Sekarang,
aku ingin menggali informasi sebanyak mungkin darinya.
Apa yang dia
pikirkan? Apa rencananya? Karena itulah, meski sudah menghunuskan pedang, aku
tidak langsung menebasnya.
Itu adalah
kesalahanku.
"Aku sudah
menyadarinya, kelemahanmu," Peri Cendekiawan tersenyum lebar dengan
ceria, seolah sinar matahari pagi.
"Mikkanen,
kau itu pahlawan yang gagal, kan?"
Saat itu juga,
kepala para prajurit di sekitarku meledak.
"Aah, mati!
Mati semua! Mereka mati karena Mikkanen bukan pahlawan yang asli!"
"...Apa
maksudmu?"
Melihat Peri
Cendekiawan yang cekikikan, rasa dingin menjalar di tulang punggungku. Ada
yang salah, ada sesuatu yang sudah gila.
Peri
Cendekiawan tertawa.
"Mikkanen,
kau tahu alur cerita perang ini, kan! Kalau sesuai aslinya, Radim—siapa
namanya?—lah yang akan memusnahkan para peri, dan Raja Iblis sepertiku bahkan
tidak ada di dalam skenario!"
Kepalaku terasa
kosong.
Bagaimana mungkin
Peri Cendekiawan tahu soal itu? Pengetahuan tentang game ini, tentang Hunter
of the Fairies, tentang Radim yang seharusnya menjadi pahlawan, seharusnya
hanya aku yang tahu.
...Itu berarti,
dia juga tahu soal Kurukutta.
Lututku gemetar
hebat. Kepalaku terasa berkabut hingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Dan satu
lagi."
Kumohon, jangan
katakan itu. Jangan katakan yang itu.
"Yang
seharusnya dipuji sebagai pahlawan sejati umat manusia adalah Kurukutta,
kan!"
Napas kusesak.
Ternyata benar, Peri
Cendekiawan mengetahuinya.
Pahlawan sejati,
seseorang yang seharusnya dihormati karena menyelamatkan umat manusia dari
ambang kepunahan menggantikanku—Kurukutta. Seseorang yang seharusnya dimintai
bimbingan oleh Radim—Kurukutta.
Peri
Cendekiawan mengetahui
semuanya.
"Tidak adil,
kan? Kau membunuh Kurukutta dan membiarkan dirimu tetap hidup. Karena itulah
alur ceritanya melenceng, bukan? Makanya, kau terpaksa menjadi seorang
Hunter."
"...Hentikan."
Rasa dingin yang
luar biasa merambat di punggungku.
"Kau
berusaha keras, bertarung melawan para peri, sampai akhirnya berhasil membunuh
Raja Iblis seperti kami, lalu Radim dan sang pahlawan datang!"
Ya, aku pikir
akhirnya aku berhasil melindungi skenario, melindungi alur cerita. Aku pikir
aku bisa memperbaiki kecacatan skenario yang seharusnya tidak bisa terjadi jika
aku tidak lahir.
Peri
Cendekiawan menari dengan
sangat gembira. Ia menggerakkan tangan dan kakinya dengan gemulai, seolah-olah
sedang berada di gedung opera.
"Kau merasa
lega, kan? Mikkanen bodoh yang membiarkan pahlawan sejati mati akhirnya bisa
tenang, karena sekarang, semua ini bukan lagi salah Mikkanen!"
Mata yang tajam
seperti ular itu menusukku.
Ujung bibirnya
terangkat hingga ke telinga, dan Peri Cendekiawan berbisik dengan sangat
bahagia.
"...Tapi,
ternyata salah."
Entah mengapa, Peri
Cendekiawan bangkit kembali. Radim kecil terperangkap oleh Peri
Cendekiawan karenaku, dan kehilangan sihirnya. Skenario, alur cerita game
itu, perlahan-lahan menjadi kacau.
"...Aku
memutuskan untuk menghancurkan semua alur cerita milikmu, Mikkanen."
"Radim, sang
pahlawan itu, anggota party yang bertarung bersamamu, bahkan orang bernama
Agrastein itu—semua orang yang kau kenal akan kubunuh!"
Begitu aku sadar,
kakiku sudah terkubur dalam kawanan tikus.
Tanpa kusadari, Peri
Cendekiawan sudah memegang gelas anggur di satu tangannya. Ia menatap
anggur berwarna amber yang bersinar di dalamnya dengan terpesona, lalu
meminumnya hingga tandas.
Seketika itu
juga, rasa takut yang luar biasa menyergapku.
Kekuatan sihir
yang tidak bisa dibandingkan dengan Peri Cendekiawan yang kuhadapi
sebelumnya; ini adalah ketakutan yang belum pernah kurasakan selama beradu
pedang dengan mereka.
Kekuatan Peri
Cendekiawan meningkat drastis.
Seolah-olah dia
telah memakan jutaan nyawa dalam sekejap, Peri Cendekiawan mendapatkan
kekuatan yang mustahil...
"Tu,
tunggu."
Suara parau
keluar dari mulutku.
Anggur, tikus,
sihir penular, Agrastein, oleh-oleh untuk membakar semangat prajurit, dan sosok
para prajurit yang bersenang-senang di kamp.
Petunjuk-petunjuk
itu terangkai, membawaku pada kesimpulan yang tidak ingin kupikirkan.
"Tu,
tunggulah."
"Aah, ini
semua karena Mikkanen menyelamatkan diri sendiri dengan mengorbankan pahlawan
yang asli. Mikkanen, kau jahat sekali ya, karena sayang nyawa, kau malah
membiarkan umat manusia musnah sekarang."
Sambil membelai
pipiku dengan jari putihnya, Peri Cendekiawan memprovokasi. Ia berjalan
berputar di sekitarku seolah sedang mengolok-olok anak kecil yang sedang
dimarahi.
"Berapa
banyak yang sudah kau makan?"
Bibirnya
melengkung.
"Mungkin,
sekitar sepuluh juta orang."
◆◆◆
Divisi Infanteri
ke-87 berjalan melewati Hutan Peri yang sudah menjadi abu. Sepatu bot para
prajurit menginjak jalan yang dibangun oleh pasukan pelopor.
Di sisi jalan,
seorang perwira mengernyit.
Wajah para
prajurit tampak murung.
Divisi ini adalah
prajurit yang telah lama melindungi umat manusia dari peri di reruntuhan Kastil
Ogdanel.
Memang benar
mereka terus bertempur selama beberapa hari terakhir, tetapi mereka semua
menang, dan seharusnya tidak ada korban luka di sini.
Namun, langkah
kaki mereka tampak limbuh.
"Apa kita
perlu istirahat? Dengan begini, kita bahkan tidak akan sampai di titik
tujuan."
Saat perwira itu
bergumam, hal itu terjadi.
Seorang prajurit
perlahan runtuh. Dia meringkuk di tanah, memuntahkan sesuatu dari mulutnya.
Namun, prajurit di sekitarnya tidak memedulikannya dan hanya melamun dengan
mata kosong.
"He-hei, apa
yang terjadi! Apa yang kalian lakukan!"
Perwira itu
berlari mendekat dengan panik dan yang dilihatnya adalah tikus basah kuyup.
Seekor tikus gemuk yang berlumuran air liur menampakkan wajah dari mulut
prajurit itu.
"Hah?"
Dia melangkah
mundur. Apa-apaan ini?
Ini bukan
keracunan makanan atau penyakit menular biasa. Seseorang yang mampu menyebabkan hasil
mengerikan seperti ini... hanya peri yang bisa melakukannya.
Saat berpikir
sampai di sana, perwira itu menyadari sesuatu.
Untuk apa
serangan besar ini dimulai? Untuk memusnahkan apa militer mengerahkan kekuatan
tempur yang tak tertandingi dalam sejarah? Siapa yang sebenarnya ditakuti oleh
para jenderal?
"Peri
Cendekiawan...!"
"Bingo☆"
Kepala para
prajurit di sekitarnya meledak.
Dari leher yang
berceceran darah merah itu, kepala kecil tumbuh bak tunas tanaman, hingga
akhirnya, senyum anak kecil bermekaran di sana.
Itu terjadi dalam
sekejap.
Dalam sekejap
itu, 40.000 prajurit Divisi Infanteri ke-87, kecuali segelintir penyintas yang
tidak meminum anggur, semuanya terinfeksi oleh Peri Cendekiawan, lalu
ditelan.
"Ahaha, apa
kau tidak minum anggur? Kau anak yang jujur, ya. Anak yang baik. Untuk anak teladan sepertimu,
aku akan memberimu hadiah."
Prajurit
yang kini telah menjadi Peri Cendekiawan berjalan menuju perwira yang
terduduk di tanah.
"Mulai
sekarang, aku akan memakanmu perlahan-lahan!"
Di tengah jeritan
dan keputusasaan, sang perwira tewas dengan anggota tubuh yang dicabik
hidup-hidup.
"Infeksi
Peri Cendekiawan tidak berhenti di berbagai tempat! Karena intensitasnya
yang luar biasa, sistem komando sudah lumpuh!"
"Divisi
Infanteri ke-5 dan ke-70 juga tidak bisa dihubungi! I-ini, garis depan akan
hancur jika dibiarkan!"
Markas
Besar Komando di reruntuhan Kastil Ogdanel.
Wajah
para perwira yang memimpin di tenda itu pucat pasi, lebih putih dari mayat.
Laporan yang masuk setiap menitnya membuat telinga tak percaya.
Bidak
divisi di peta yang terhampar di meja digantikan dengan bidak peri.
Mulai
dari divisi yang bertempur di garis depan, hingga divisi yang menjaga garis
belakang. Semuanya jatuh ke
tangan Peri Cendekiawan tanpa ampun.
Sepuluh juta.
Itu adalah jumlah
pasukan terbesar yang hilang dalam satu hari dalam sejarah panjang perang
melawan peri. Hampir setengah dari tentara umat manusia lenyap dari muka bumi
dalam hitungan detik.
Itu benar-benar
mimpi buruk.
"I-ini,
bagaimana mungkin..."
Tidak ada yang
bisa berpikir jernih. Mereka hanya menutup telinga terhadap kenyataan yang
disampaikan oleh operator telegraf dan terdiam. Bahkan ada yang pingsan.
"Bagaimana
bisa kalian kehilangan ketenangan seperti ini? Garis depan masih bertahan, bukan?"
Kata-kata
berat dan dingin menggema di tenda.
"Yang
Mulia Agrastein!"
Agrastein,
sang panglima tertinggi, melangkah masuk ke dalam tenda.
"Pasti ada
skenario yang sudah direncanakan untuk saat seperti ini, kan? Segera tarik mundur divisi dari
garis depan dan atur pertahanan di sana."
Mata dingin itu,
meski militer umat manusia hampir musnah, sama sekali tidak goyah. Para perwira
yang akhirnya sadar kembali segera bekerja dengan panik.
Di tengah deru
telegraf, Agrastein bertanya kepada ajudan di sebelahnya.
"Berapa
banyak yang gugur?"
"Diperkirakan
dari 452 divisi yang tersisa, sekitar 257 divisi telah jatuh ke tangan Peri
Cendekiawan."
Tangan Agrastein
sedikit bergetar.
Ajudan
membelalakkan mata. Itu adalah pemandangan pertama yang ia lihat setelah
bertahun-tahun mengabdi pada komandan paling kompeten di umat manusia ini.
Seolah
tersesat, Agrastein bergumam.
"...Sedikit
kurang, ya?"
"Yang Mulia
Agrastein?"
Ajudan
memiringkan kepala karena tidak mengerti kata-katanya. Namun, Agrastein sudah
kembali ke wajah tenangnya yang biasa.
Dia bertanya
dengan tenang.
"Lalu,
kenapa kau malah melamun di sampingku tanpa menyentuh telegraf satu pun?"
"A-ah, mohon
maaf!"
Mendengar teguran
itu, ajudan segera lari terbirit-birit.
"Lakukan
sesuai rencana yang sudah disusun, mundur perlahan. Jangan beri peri kesempatan
untuk membalas, lindungi garis depan sambil perlahan mundur ke belakang."
Berkat komando
terampil Agrastein, pasukan yang hampir hancur itu mulai bergerak seolah
menjadi satu kesatuan hidup.
Divisi yang
tersisa berkumpul, saling melengkapi kekuatan untuk mempertahankan garis depan.
Mereka melarikan diri dari divisi yang terinfeksi Peri Cendekiawan.
Dan tepat ketika
secercah harapan kecil lahir di Markas Komando...
"A-ada
energi sihir luar biasa yang berkumpul!"
Laporan
bernada jeritan muncul.
Seorang
prajurit di tenda Komando yang terus memejamkan mata untuk mencari
informasi—seorang Hunter dengan kemampuan mendeteksi sihir peri—berteriak.
"I-ini
melampaui sihir Peri Bintang Langit! Mustahil, Peri Cendekiawan
berkumpul menjadi satu, kekuatannya luar biasa!"
Darah
mengalir dari mata Hunter itu.
"S-sulit untuk menang melawan ini..."
Sesaat kemudian, Hunter itu runtuh dengan darah yang
menyembur dari setiap lubang di wajahnya.
Prajurit yang segera berlari mendekat memeriksa nadinya,
lalu menggelengkan kepala.
Sesaat kemudian,
para prajurit di Markas Komando merinding seketika.
Meskipun
tidak tahu sihir dan bukan Hunter, mereka sadar ada sesuatu yang sedang datang.
Kekuatan peri itu begitu luar
biasa dan mengerikan.
"Di mana
Mikkanen?"
"Dia
diperkirakan masih terjebak di garis depan sebelah timur, tempat informasi
mengenai Peri Cendekiawan berada."
"...Tidak.
Jika itu Mikkanen, pahlawan kita, senjata pamungkas umat manusia, dia pasti
akan datang dengan segala cara. Operasi ini sejak awal harus melibatkan
keberadaan pahlawan."
Agrastein
diam-diam mengambil pistol dari balik bajunya.
Dia mengalirkan
energi sihir ke tungku sihir yang sudah lama tidak menyala.
Tanpa memedulikan
anggota tubuhnya yang berderit karena sudah karatan, Agrastein melangkah
meninggalkan tenda.
"Sampai saat
itu tiba, kita harus mengulur waktu untuk hal itu."
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Peri ◆◆
"Aku,
saat ini benar-benar bahagia..."
Peri Cendekiawan
membuka matanya perlahan.
Ia menggenggam
erat jantungnya yang berdegup kencang, mabuk oleh kekuatan yang diperoleh dari
sepuluh juta nyawa yang telah ia lahap.
Ini adalah
pertama kalinya ia mendapatkan nyawa sebanyak ini dalam sekejap.
Menekan kekuatan
yang mengamuk, Peri Cendekiawan tertawa dengan anggun.
"...Jadi,
mari kita mulai."
Kata-kata itu
menjadi pemicu bagi seluruh kekuatan Peri Cendekiawan yang tersebar di berbagai
tempat untuk mengalir ke satu sosok saja.
Karena kekuatan
yang seolah hendak meledak itu, sosok gadis Peri Cendekiawan itu membengkak
secara harfiah.
Kekuatan sihir
dari kawanan itu berkumpul menjadi satu dalam daging dan darah yang tunggal.
Karena kekuatan
sihir yang luar biasa itu, tulang-tulangnya hancur, darahnya bersinar putih,
dan kulitnya berubah menjadi kristal. Angin panas berhembus liar, membuat
batu-batu di sekitarnya berpijar merah hanya karena hawa panasnya.
Itu adalah pemandangan layaknya dalam mitologi.
Tubuh Peri Cendekiawan tumbuh dengan cepat, menjadi seperti
raksasa. Wujud manusia yang sangat besar dan bersinar putih bersih.
Di atas kepalanya bertahta mahkota perak yang terbuat dari
sihir, dan napasnya sendiri menciptakan badai sihir. Itu sudah melampaui akal
budi manusia; hanya dengan melihatnya saja, orang bisa menjadi gila.
Kekuatan sihir berkumpul, memercik, dan mengamuk.
Satu-satunya Peri Cendekiawan yang menyatukan seluruh kekuatan dari kawanan
peri itu menggerakkan matanya yang sebesar benteng.
"Ketemu."
Tempat para
prajurit manusia mundur.
Di balik markas
komando pusat.
Di kedalaman
reruntuhan Kastil Ogdanel.
Tanah tempat umat
manusia hidup dengan tenang.
Jika dia hanyalah
peri biasa, dia pasti akan merasa senang dengan hati yang melimpah di tanah itu
dan hanya berpikir untuk melahap umat manusia. Namun, di saat seperti ini,
hanya satu orang yang terlintas di hati Peri Cendekiawan.
"Mikkanen..."
Peri Cendekiawan
mengingat pria tercinta yang dilihatnya di ujung garis depan tadi.
Sosok Mikkanen
yang seperti karya seni, dengan campuran keputusasaan, ketakutan, dan berbagai
emosi lainnya.
Itu adalah wajah
pertama yang pernah dilihat oleh Peri Cendekiawan.
"Aku
menginginkannya..."
Kata-kata itu
meluncur jujur dari lubuk hatinya.
Orang yang baru
pertama kali ia kenal; ia menginginkan hati pria itu, bukan kekuatannya. Pria
bernama Mikkanen yang sangat ingin dimiliki oleh Peri Cendekiawan, tak peduli
bagaimana caranya.
Ia ingin melahap
Mikkanen.
"Mulai
sekarang, aku akan membunuh orang-orang yang dilindungi Mikkanen. Dengan
begitu, celah akan muncul di hati itu, retakan akan tercipta."
Setelah itu, ia
hanya perlu menyusup masuk.
Di ujung garis
depan, bahkan jika Mikkanen berhasil kembali, semuanya akan berakhir.
Sebagian besar
prajurit tewas oleh Peri Cendekiawan, reruntuhan Kastil Ogdanel hancur, dan
peri menyerbu masuk ke tanah manusia; hanya neraka seperti itulah yang akan ia
temui.
Ia akan menyiksa
Mikkanen sesuai dengan ingatan yang ia miliki tentang pria itu.
Kematian para
prajurit, kehancuran umat manusia, ia akan menimpakan semua dosa itu kepada
Mikkanen; jika itu terjadi, sekuat apa pun Mikkanen, dia pasti akan hancur.
Saat itulah
keinginan Peri Cendekiawan akan terkabul.
"Setelah
hatinya hancur, hanya aku yang akan melahap Mikkanen dengan lembut."
Peri Cendekiawan
tersenyum penuh ekstasi.
"Karena aku
mencintai Mikkanen."
Raksasa itu
melangkah maju.
◆◆◆
Itu adalah sebuah
kawanan.
Sejak lahir, peri
itu tidak memiliki jati diri. Peri itu lahir dengan membawa hati yang hampa.
Menular. Peri itu
hanya terus-menerus menunggangi angin untuk menelan dunia ini.
Tidak ada
hati, tidak ada pikiran. Ia hanya mengikuti algoritma yang terpatri dalam
dirinya, masuk ke dalam tubuh manusia, menggerogotinya, lalu menjadikannya
bagian dari dirinya.
Itulah
Peri Cendekiawan.
Peri
Cendekiawan mempelajari sihir dari peri yang ia lahap dan ingatan dari manusia
yang ia makan. Ia berbicara bahasa manusia, menyerap ilmu pengetahuan, dan
mendapatkan teknik yang tak terhitung jumlahnya.
Kemudian,
saat ia telah menyerap jiwa dari ribuan manusia dan peri, untuk pertama kalinya
benih keinginan muncul di lubuk hatinya.
Setelah melalui
pembelajaran, Peri Cendekiawan mempelajari satu keinginan.
Itu adalah rasa
lapar akan jati diri. Peri Cendekiawan, yang tidak memiliki jati diri sejak
lahir, selalu mendambakan sesuatu yang selamanya kurang dalam dirinya.
Peri Cendekiawan
adalah kawanan. Peri di sebelahnya, dan peri di sebelahnya lagi, adalah dirinya
sendiri, namun ia tidak mengenal apa itu "diri".
Bahkan jika
mereka adalah peri, tubuh mereka berbeda satu sama lain. Ada yang memiliki
telinga panjang, ada yang berkulit hitam.
Itu adalah
sesuatu yang tidak dimiliki Peri Cendekiawan.
Peri Cendekiawan
seperti sebuah penyakit. Meskipun ia bisa membentuk tubuh yang telah terinfeksi
itu seperti tanah liat, ia tidak tahu wujud aslinya.
Ia bahkan tidak
tahu apa sihir miliknya.
Ia adalah
kawanan; ia bahkan tidak tahu peri seperti apa dia pada awalnya. Wujud,
teriakan, dan bahkan keinginannya sudah tertelan oleh kawanan.
Yang tersisa
hanyalah penularan dan pembelajaran.
Karena itulah,
Peri Cendekiawan menempuh satu-satunya cara yang ia ketahui. Atau mungkin itu
pun hanyalah mengikuti algoritma.
Ia akan melahap
manusia seperti gunung.
Melahap manusia,
belajar, dan meniru. Pada akhirnya, mendapatkan jati diri yang benar menjadi
tujuan utama bagi Peri Cendekiawan.
Virus dan
penyakit biasanya sangat berhati-hati dengan jumlah inang yang bisa mereka
tular.
Jika ia membunuh
tubuh inang secara membabi buta, ia tidak akan bisa bertahan hidup. Peri
Cendekiawan hanya bisa terus hidup jika ada jumlah manusia sehat yang konstan.
Karena itulah, ia
menyadarinya.
Saat ini, umat
manusia hampir musnah oleh para Raja Iblis lainnya.
Jika begitu, apa
yang akan terjadi setelah manusia musnah? Jika ia membunuh semua manusia, Peri
Cendekiawan tidak akan bisa menular lagi.
Hati pun tidak
akan bisa didapatkan.
Algoritma
memberitahunya bahwa ia mungkin bisa bertahan hidup untuk sementara dengan
mengumpulkan sisa-sisa hati yang ada pada peri. Namun, saat ditanya apa yang
terjadi setelah itu, algoritma tersebut diam.
Peri Cendekiawan
tidak hanya ingin hidup lama.
Ia ingin
mendapatkan jati dirinya.
Ia tidak boleh
menjadi gila dan mati kelaparan sebelum itu tercapai. Peri Cendekiawan bukanlah
binatang buas, melainkan penyakit. Karena itulah, otaknya bekerja.
Ia harus
membiarkan manusia hidup, ia harus memelihara manusia. Jika tidak, keinginan
terbesar Peri Cendekiawan tidak akan tercapai, dan ia tidak bisa bertahan hidup
sebagai kawanan.
Peri Cendekiawan
mencoba menyelamatkan umat manusia.
"Aku
benar-benar jenius."
"Benar,
benar."
Dengan
wajah yang tidak menunjukkan emosi sedikit pun, Peri Cendekiawan memiringkan
kepalanya.
Di depan matanya
adalah peternakan raksasa. Kandang di mana manusia yang kotor karena urine dan
tanah melahap makanan mereka.
"Perkembangbiakannya
juga berjalan lancar."
"Ayo bawa
lebih banyak pejantan dan plasenta! Kalau begitu semua orang akan
bahagia!"
Peri Cendekiawan
belajar tentang apa yang disebut kesejahteraan hewan dari manusia.
Jika
diperlakukan benar-benar seperti ternak, hati tidak akan tumbuh dalam diri
manusia. Oleh karena itu, ia membiarkan mereka berlari dan bermain di padang
rumput di siang hari.
Hanya saja,
pelatihan harus dilakukan dengan tegas.
"Kau mencoba
melarikan diri, ya? Kalau begitu, makan saja!"
"Bagus, anak
itu kan cuma ditemukan saja, kan?"
"Meski
begitu, karena itu sebuah prestasi, tidak apa-apa untuk memakannya."
Satu Peri
Cendekiawan menggigit kepala manusia. Setelah mengunyah sesaat, Peri
Cendekiawan itu bersendawa dengan bahagia.
"Wah,
menjijikkan."
"Bersendawa
itu terasa menjijikkan, ya."
Orang-orang
di sekitar menatap genangan darah yang meluas dengan pandangan hampa.
Manusia
dipelihara dengan besi panas. Tidak diajarkan bahasa, tidak dibiarkan
mempelajari pengetahuan; itu bukanlah perlakuan untuk ternak.
Sambil menelan
satu hutan, koloni Peri Cendekiawan terus berlanjut.
Belakangan
ini, Peri Cendekiawan tidak lagi bertarung dengan militer umat manusia. Masih ada tiga peri lain yang ditakuti
oleh Raja Iblis dan umat manusia, kehancuran itu sudah terlihat jelas.
Lebih dari itu,
ia harus memelihara kawanan manusia ini.
◆◆◆
Salah satu Raja
Iblis, Peri Bintang Langit, dikabarkan telah kalah.
Hal itu sulit
dipercaya, pikir Peri Cendekiawan. Inilah yang disebut "terkejut"
yang ia pelajari dari manusia.
Peri
Bintang Langit adalah peri yang misterius dan benar-benar menakutkan bahkan
bagi Peri Cendekiawan sendiri.
Yah,
bagaimanapun juga, situasinya sudah tidak bisa ditolong. Perang ini tidak cukup
lunak untuk berbalik ke sisi umat manusia hanya karena membunuh satu Raja
Iblis.
Para peri akan
memusnahkan negara umat manusia.
Mungkin karena
sedang meronta di saat-saat terakhir, beberapa prajurit mulai datang ke tempat
Peri Cendekiawan. Tentu saja, ia menangkap mereka semua untuk dipelihara.
"Hmm-hmm."
Belakangan ini,
Peri Cendekiawan menyukai pembuatan varietas baru.
Agar bisa
melahirkan anak lebih cepat, agar tumbuh lebih cepat, agar otak menjadi lebih
besar. Seperti
varietas gandum atau anjing, ia sedang melakukan eksperimen.
Lagi-lagi,
Peri Cendekiawan menangkap seorang Hunter.
Hunter
adalah bibit perkembangbiakan yang baik. Anak-anaknya cenderung mudah
mendapatkan sihir, dan yang terpenting, hatinya memiliki rasa yang elegan. Jika
terinfeksi, ia juga bisa mempelajari sihir baru.
Terlebih
lagi, dia sepertinya adalah orang yang membunuh Peri Bintang Langit.
Bahkan
bagi Peri Cendekiawan yang telah menumpuk pembelajaran dari bangkai yang tak
terhitung jumlahnya, ia masih buta akan segala hal tentang Peri Bintang Langit.
Bohong jika ia tidak penasaran dengan ingatannya.
Peri
Cendekiawan memutuskan untuk melatih Hunter itu.
Dari
pembelajaran sebelumnya, ia tahu segudang cara untuk menyiksa manusia. Mencabut
kuku, mencongkel mata, memotong hidung, dan akhirnya Hunter itu kehilangan
hatinya.
Sekarang ia hanya
bisa mengeluarkan suara "Uuh" atau "Aah".
Dengan
kondisi seperti ini, ia tidak perlu khawatir lagi. Peri Cendekiawan melemparkan
Hunter itu ke kandang tempat manusia ternak murni dipelihara.
Sekarang,
apa yang harus dilakukan dengan Hunter itu?
Dijadikan
pejantan juga boleh, atau diberikan kepada Peri Cendekiawan yang berprestasi
sebagai santapan mewah juga boleh, tapi pengetahuan tentang Peri Bintang Langit
itu tetap membuatnya penasaran.
Bagaimanapun,
hatinya sudah hancur. Sisanya bisa diatur sesuka hati.
Berpikir
demikian, Peri Cendekiawan tertawa.
◆◆◆
Segala sesuatu
terbakar oleh api.
Dari kedalaman
gunung, artileri menembakkan peluru meriam bagaikan hujan, dan ia terbungkus
oleh ledakan serta angin panas. Di tengah situasi itu, Peri Cendekiawan—sang
kawanan—mengembara.
Di sana-sini,
kawanan itu mengecil dengan kecepatan yang luar biasa.
Manusia yang
seharusnya sudah dipelihara entah kenapa melarikan diri. Meskipun hatinya sudah
hancur, meskipun sudah dijadikan ternak, sosok mereka tidak ada.
Itu adalah hal
yang mustahil.
Pembelajarannya
selama ini berteriak bahwa itu mustahil. Algoritma yang mengendalikan Peri
Cendekiawan di kedalaman kawanan memiringkan kepalanya.
Mampukah manusia
menyusun strategi sejauh ini?
Mampukah manusia
memiliki kekuatan sejauh ini?
Mampukah manusia bertarung sejauh ini?
Kawanan manusia yang seharusnya bahkan tidak diajarkan kata
"melarikan diri" itu berlari menghindari mata Peri Cendekiawan yang
mengintai di mana-mana. Hal itu melampaui pengetahuan Peri Cendekiawan.
Seseorang sedang menarik benang di balik layar.
Lama-kelamaan,
Peri Cendekiawan berpikir demikian. Itulah sebabnya kawanan di sana-sini
dibantai, dan itulah sebabnya manusia yang seharusnya tidak berani melawan
malah melakukan perlawanan.
Seseorang ada di
sana.
"Begitu
rupanya, jadi gerombolan Peri Cendekiawan besar yang muncul."
"Kemungkinan
besar mereka adalah individu yang unggul dalam pertempuran di antara para Peri
Cendekiawan. Aku menganggap ini sebagai kartu as Peri Cendekiawan."
Mungkin karena
terlambat melarikan diri, masih ada manusia yang memiliki nomor di lehernya.
Dua Hunter muncul
seolah melindungi manusia itu dari kawanan Peri Cendekiawan yang mencoba
mengejarnya.
Salah satunya
adalah Hunter dengan penampilan yang tidak jelas. Ia mengenakan pakaian putih,
dan dari balik lengan bajunya terlihat sesuatu yang disebut senjata api. Dan
yang satunya lagi.
Itu adalah Hunter yang hatinya seharusnya sudah hancur.
"Eh,
ternyata Hunter itu menipuku. Jadi dia berpura-pura hatinya hancur untuk
menyusup, ya."
Peri Cendekiawan
segera berpikir demikian sebagai kawanan.
Begitu
rupanya, sepertinya ia terlalu lengah. Pantas saja dia adalah Hunter yang
membunuh Peri Bintang Langit; tampaknya meskipun disiksa dengan pengetahuan
yang dimilikinya, hatinya tidak bisa dibunuh.
"Jadi, apa
yang akan kau lakukan?"
"Aku akan
terus menular."
"Bahkan jika
itu di ujung dunia sekalipun."
"Sudahlah,
percuma saja kau melarikan diri."
"Ayo,
serahkan dirimu dan biarkan aku memakanmu. Bertarung pun percuma."
Ya, jika gagal,
ia tinggal menular lagi. Tinggal belajar lagi. Karena itulah, Peri Cendekiawan
memutuskan untuk masuk ke dalam tubuh Hunter itu.
"Ayo,
ayo!"
Ia mendesak.
Seribu sihir yang
dipelajari dari Hunter yang tak terhitung jumlahnya yang telah dilahapnya
menghujani satu Hunter kecil itu. Di tengah badai tersebut, Hunter itu
bertarung meski tubuhnya hancur lebur.
Bumi bergetar.
Tinju yang
diayunkan oleh salah satu Peri Cendekiawan menghancurkan bumi dan menciptakan
ngarai. Napas yang dilepaskan oleh yang lain membuat segalanya membusuk.
Hunter itu sudah
berada di ambang maut.
"Hmm,
lumayan juga. Layak disebut Raja Iblis, ya."
Meski begitu, ia tidak bisa membunuhnya, tidak bisa
menularinya.
Luka
Hunter itu sembuh dengan sendirinya. Seolah-olah memutar balik waktu, lengan
yang seharusnya sudah membusuk kembali tumbuh.
Peri
Cendekiawan bekerja dengan tenang menggunakan pengetahuan di kepalanya.
Ia
meneliti sihir itu dengan sihir yang tak terhitung jumlahnya yang telah
dipelajari, lalu membongkar kekuatan dan sumpah (Geass) tersebut.
"Sihir
yang menyembuhkan diri sendiri dengan mengandalkan jiwa, ya."
"Sihir
yang lumayan juga. Apa kau sengaja tidak menggunakannya saat ditangkap?"
"Itu sia-sia
untuk manusia biasa sepertimu, maukah kau memberikannya padaku?"
Begitu rupanya,
pantas saja tidak bisa menular.
Kemungkinan
besar, sihir Hunter ini bahkan menyembuhkan Peri Cendekiawan yang mencoba
menular. Benih penularan yang disusupkan pun dianggap tidak pernah ada.
Namun, Peri
Cendekiawan segera menyimpulkan.
Ceritanya
sederhana; sihir Hunter menyembuhkan Hunter dan mencegah penularan, maka ia
hanya perlu menular jauh lebih cepat dari itu.
Ia akan
mengalirkan bakteri yang tak terhitung jumlahnya dan menang dengan momentumnya.
"Ah..."
Sebuah
kata kecil bergema.
Seorang
anak kecil, mungkin tersesat, sayangnya muncul tepat di samping Peri
Cendekiawan. Melihat sosok itu, mata Hunter itu bergetar.
Dan Peri
Cendekiawan tidak melewatkan hal itu.
Satu Peri
Cendekiawan segera mengulurkan tangan untuk menular ke anak itu.
Anak yang
terikat ketakutan itu tidak bisa melarikan diri dan seharusnya membiarkan
dirinya dimasuki begitu saja.
"Cih... kena
kau."
"Mikkanen,
apa yang kau pikirkan! Jika kau melakukan hal itu, maka..."
"Alhanzen-sensei,
segera bawa anak ini melarikan diri. Meskipun harus menjadi tumbal, aku akan membunuh peri ini."
Hunter yang
melindungi anak itu malah dadanya yang tertusuk sebagai gantinya.
Hunter lain yang
mengenakan pakaian putih melarikan diri sambil membawa anak itu dengan wajah
yang tampak ingin menangis.
Nah, ini
akhirnya.
Begitulah pikir
Peri Cendekiawan. Seperti
yang diduga, Hunter ini melindungi anak itu. Peri Cendekiawan telah mempelajari
bahwa manusia memiliki kebiasaan semacam itu.
Dan
sekarang, ia berhasil menghubungkan Peri Cendekiawan dengan Hunter itu.
Sebelumnya,
ia hanya bisa mencoba menular secara tidak langsung melalui percikan, tapi
sekarang ia bisa mengalirkan Peri Cendekiawan dalam jumlah besar dari lengan.
Jika itu terjadi, hasilnya sudah jelas.
Ia akan
mendapatkan teknik, ingatan, dan sihir Hunter ini.
"Bodoh
sekali, sungguh."
"Bocah
itu kan cuma salah satu dari kawanan, kenapa kau harus mengorbankan
nyawamu?"
"Apa kau
sedang berpura-pura menjadi pahlawan? Dasar bodoh."
Karena itulah
manusia itu bodoh.
Demi melindungi
satu bagian dari kawanan, ia membuang kekuatan tempur yang besar sebagai
hasilnya. Dengan
begitu, algoritma perlahan masuk ke dalam hati Hunter itu dan...
Namun,
Hunter itu tidak menyerah.
"Apa-apaan
ini?"
Seharusnya hati
Hunter itu sudah hancur sejak lama.
Untuk melawan
penularan yang dilakukan Peri Cendekiawan dengan paksaan yang bisa disebut
sebagai kekejaman, seharusnya ia harus menahan rasa sakit yang luar biasa
hingga tidak bisa tetap waras.
Faktanya,
Hunter itu berguling di tanah dan berteriak.
Jika
terkena rasa sakit seperti itu, jiwa seharusnya hilang, sihir tidak akan
bekerja, dan ia tidak akan bisa menyembuhkan penularan, sehingga Hunter itu
seharusnya jatuh ke tangan Peri Cendekiawan.
Akan
tetapi, Hunter itu tidak menyerah.
Meski hampir
gila, ia menahan rasa sakit yang luar biasa, menjalankan sihirnya, dan melawan
Peri Cendekiawan.
Segala kawanan
Peri Cendekiawan mengerjapkan mata. Itu sangat tidak masuk akal, tetapi entah
mengapa, mereka terpesona oleh kilauan yang tampak begitu buruk rupa itu.
Diri yang
absolut dan tunggal.
Keinginan
terbesar yang dicari Peri Cendekiawan sejak hari ia menjadi kawanan. Diri yang
tidak akan pernah goyah, tidak akan pernah tertelan oleh kawanan.
Sesuatu
yang tidak bisa didapatkan oleh Peri Cendekiawan yang hanya bisa hidup sebagai
kawanan.
"Indah..."
Kata
"menginginkan" saja tidak cukup.
Segala pemikiran
Peri Cendekiawan tertutupi oleh Hunter ini. Ia menginginkan Hunter ini, ia
ingin mendapatkan Hunter bernama Mikkanen ini.
Mikkanen, aku iri
padamu.
Mikkanen, aku
mencintaimu.
Sambil menderita
karena rasa sakit yang luar biasa, Mikkanen terus bertarung. Semakin banyak
Peri Cendekiawan yang dialirkan untuk menular, jumlah kawanan justru berkurang,
dan mereka justru semakin terpojok.
Algoritma
mendesak untuk melarikan diri.
Bahwa
mustahil mendapatkan Hunter ini dengan penularan, bahwa kekuatan mereka justru
akan hilang. Jika tidak melarikan diri, merekalah yang akan musnah.
Namun,
untuk pertama kalinya sejak lahir, Peri Cendekiawan melawan algoritma. Seolah
serangga yang terbang ke api, ia terpesona oleh keinginan terbesar yang
terlihat di depan mata, hingga lupa untuk melarikan diri.
Hari itu,
untuk pertama kalinya Peri Cendekiawan berharap ingin memiliki seseorang dari
lubuk hatinya, lalu ia musnah.
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Peri Selesai ◆◆
Aku
bangkit berdiri dengan perasaan linglung.
Sudah
tidak ada lagi sosok Peri
Cendekiawan,
aku ditinggalkan sendirian.
Di
sekelilingku, percikan darah dan potongan daging dari mereka yang dulunya
adalah prajurit berserakan.
Sepertinya
hanya aku yang masih hidup di tempat ini.
Kata-kata
Peri Cendekiawan terus bergema di dalam hatiku.
Seseorang
di lubuk jiwaku terus menyalahkanku, mengatakan bahwa seharusnya Kurukutta yang
hidup menggantikanku, dan seharusnya akulah yang mati pada malam itu.
Cepat, aku harus membunuh Peri Cendekiawan.
Jika tidak, akan ada lebih banyak prajurit yang mati dan
umat manusia akan kembali berada di ambang kepunahan.
Skenarionya akan berakhir. Karena aku, sepuluh juta nyawa
sudah hilang.
Jika terus begini, Agrastein, para prajurit yang tersisa,
bahkan teman-teman di dalam Party-ku juga akan terbunuh.
Jika terus begini, jika terus begini... Aku menatap tanganku
sendiri.
Tanganku
gemetar hebat bagaikan tikus. Gemetar itu merambat hingga membuat Longsword
di tanganku ikut bergetar. Namun, bagaimanapun juga, aku harus mengejar Peri
Cendekiawan sekarang.
Tepat saat itu, sebuah ledakan dahsyat menggelegar.
Sebuah pesawat pengebom tergeletak di atas tanah seolah-olah
baru saja runtuh. Oli bocor dan aroma terbakar menusuk indra penciuman.
Bayangan pesawat pengebom yang terbaring di atas tanah
kelabu itu tampak kelam, seperti bangkai seekor burung raksasa.
Jika oli yang tumpah itu tersambar api, pesawat itu pasti
akan terbakar dengan dahsyat.
"Cih!"
Aku segera memecahkan kaca kokpit dan masuk ke dalam. Hal
yang kulihat adalah Lasso, yang sedang mendekap dadanya dan memuntahkan darah.
Aku segera merangkulnya dengan panik dan mengguncang bahunya.
"Hei, apa yang terjadi! Mengapa pesawat ini bisa jatuh..."
Saat itu, aku
menyadari ada beberapa sosok yang mengintip dari dalam pesawat. Semua orang memiliki mata yang
kosong dan tubuh yang lemas tak bertenaga.
Dari
balik mulut mereka yang terbuka lebar, terlihat tikus berbulu kelabu yang
sesekali menampakkan wajahnya.
"Mikkanen,
ya? Tidak guna, semua anggota regu sudah..."
Mata Lasso yang
terbuka perlahan menatapku.
Dari kata-katanya
dan sosok-sosok yang dulunya adalah manusia di dalam pesawat ini, aku langsung
memahami segalanya.
Bibirku
gemetar hebat di luar kendaliku.
Genangan
darah di sekitar Lasso terus membesar. Bersamaan dengan itu, cahaya dari
matanya perlahan memudar.
Tangannya
yang meraba-raba ke arah dada akhirnya mencapai liontin berukir lambang
keluarganya, mengungkap satu foto yang disimpannya di sana.
"Mikkanen,
kumohon, setidaknya istri dan anakku... hanya mereka saja..."
Itulah kata-kata
terakhir yang diucapkan Lasso.
Seorang pria yang
memiliki keluarga untuk kembali, rekan seperjuangan untuk dilindungi, dan
kebanggaan akan rumahnya.
Pria seperti itu
kehilangan nyawanya karena Peri Cendekiawan, atau dengan kata lain, karena
diriku.
Apakah ini hasil
dari kegagalanku?
Karena aku,
sepuluh juta nyawa hilang. Aku telah menciptakan orang-orang yang kehilangan
orang tua, anak, istri, suami, dan sahabat sebanyak sepuluh juta orang. Semua
itu terjadi karena aku hidup.
Moncong pistol
yang dipegang oleh bayangan-bayangan itu perlahan mengarah kepadaku.
"Ah..."
Sebelum sempat
berpikir, pedang Longsword di tanganku sudah menebas lengan mereka.
"Aaaaa..."
Aku terus
membunuh para prajurit yang masih dianggap orang-orang yang ditunggu di kampung
halaman, orang-orang yang karena kesalahanku telah terinfeksi oleh Peri
Cendekiawan dan dilahap.
"Aaaaaaaa!"
Tanpa kusadari,
aku telah berteriak.
Aku membunuh para
prajurit yang menyerangku, membunuh dan membunuh lagi hingga membangun tumpukan
darah dan daging.
Meskipun nyawa
mereka hilang karenaku, aku masih terus menodai jenazah mereka.
"Aku, aku
ini...!" Begitu pula saat itu, seperti saat bersama Kurukutta dulu.
"Aku
ini, si pengecut keparat!" Sekali lagi, aku bertahan hidup.
"Mikkanen...!"
Kelopak bunga putih beterbangan.
Di suatu tempat
yang jauh, seorang peri memegangi dadanya dengan perasaan getir.
"Mengapa,
mengapa kamu harus menderita sendirian seperti itu...!"



Post a Comment