NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V5 Chapter 8

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 8

Izakaya Haruto

Haruto duduk menghadap meja dan menatap buku referensinya di kamar Ryota yang ia pinjam. Belajar sebelum tidur sudah menjadi kebiasaannya.


Selama beberapa saat, ia berkonsentrasi mengerjakan soal-soal, namun tiba-tiba tangannya yang memegang pena terhenti dan ia tanpa sadar menatap langit-langit. Di benaknya, terbayang senyum Ayaka yang telah berkali-kali ia lihat sepanjang hari ini.


“Imut banget...”


Ia bergumam pelan sambil mengingat kembali kencan hari ini.


Sejak mulai berpacaran dengan Ayaka, hari-hari yang sungguh membahagiakan terus berlanjut. Haruto benar-benar merasakannya.


Setiap kali melihat senyum gadis itu, hati Haruto melonjak dan dipenuhi rasa bahagia. Terlebih lagi, bukan hanya Ayaka yang memberikan kebahagiaan itu.


Suasana keluarga Toujou yang ramai dan hangat, menyelimuti Haruto dengan lembut.


Bagi Haruto yang tinggal bersama kakek-neneknya sejak kecil, dan hanya hidup berdua bersama Kiyoko setelah kakeknya meninggal, keseharian di rumah keluarga Toujou yang tak pernah kehabisan tawa dan penuh kasih sayang ini memiliki kehangatan yang secara alami membuat senyumnya merekah.


“Kalau dipikir-pikir, seandainya aku nggak kerja sambilan pas libur musim panas kemarin, rasanya agak menakutkan juga, ya...”


Bergumam demikian, Haruto mengalihkan pandangannya ke dinding yang berbatasan dengan kamar Ayaka.


Karena hari ini gadis itu bangun pagi-pagi, ia pasti sudah terlelap sekarang.


“Mulai kedepannya pun, kita akan membuat lebih banyak kenangan bersama, ya...”


Ucapan Ayaka di tengah suasana fantastis tarian lumba-lumba itu meninggalkan kesan yang sangat kuat di hati Haruto.


Sambil terbuai dalam sisa-sisa kebahagiaan, Haruto melanjutkan belajarnya. Entah karena efek kencan dengan Ayaka, ia bisa lebih fokus dari biasanya. Akibatnya, ia duduk di depan meja lebih lama dari yang direncanakan, dan tanpa sadar waktu sudah menunjukkan larut malam.


“Udah jam segini rupanya, agak kebablasan aku.”


Haruto membereskan meja belajarnya, lalu keluar dari kamar menuju dapur dengan niat meminum segelas air sebelum tidur. Karena orang-orang selain dirinya sudah terlelap, ia berjalan pelan di dalam kediaman Toujou yang hening, mengambil gelas dari rak piring, dan menenggak air keran dalam sekali teguk.


“Huhh... tidur, ah.”


Baru saja ia membilas gelasnya sekilas dan hendak kembali ke kamar, terdengar suara dari arah pintu depan. Tak lama kemudian, Shuuichi masuk ke ruang tamu.


“Ah, selamat datang, Shuuichi-san.”


“Oh? Haruto-kun? Kamu masih bangun?”


Shuuichi yang masih mengenakan setelan jas menatap Haruto dengan wajah sedikit terkejut.


“Iya. Tadi saya belajar sebentar sebelum tidur, tapi malah keterusan.”


“Oh, Haruto-kun memang hebat. Mengagumkan.”


Sambil memuji Haruto, Shuuichi melonggarkan dasinya.


“Anu, apakah Shuuichi-san baru pulang kerja?”


“Begitulah. Pekerjaannya memakan waktu lebih lama dari perkiraanku.”


Haruto tiba-tiba teringat bahwa tadi pagi Shuuichi bilang ia akan pulang telat dan tidak perlu disiapkan makan malam.


“Terima kasih atas kerja keras Anda sampai selarut ini.”


“Yah, hari ini aku benar-benar capek. Tapi berkat itu, Haruto-kun, sepertinya proyek besar kami akan berjalan lancar.”


Meski kelelahan tampak jelas dari raut wajahnya, nada bicara Shuuichi lebih banyak memancarkan kepuasan yang menyegarkan seolah baru saja mencapai sesuatu yang besar.


“Oleh karena itu, sebagai hadiah untuk diriku sendiri, aku mau minum-minum sedikit.”


Sambil berkata “Minum sehabis penat kerja memang yang terbaik,” Shuuichi melangkah riang menuju kulkas. Namun, di tengah jalan, perutnya berbunyi nyaring, “Kruyuuk”.


“Eh? Shuuichi-san, jangan-jangan Anda belum makan malam?”


“Ahaha... Sebenarnya tadinya aku mau makan di luar.”


Shuuichi menoleh pada Haruto sambil menggaruk kepalanya dengan satu tangan karena malu.


“Tapi karena pulangnya jauh lebih malam dari dugaan, aku jadi malas mampir ke restoran. Kupikir mending cepat pulang, minum, sambil ngemil apa saja yang ada.”


“Begitu rupanya... Kalau begitu, biar saya buatkan sesuatu.”


“Eh, jangan, jangan! Nggak enak sama kamu! Ini sudah larut malam!”


Shuuichi melambaikan kedua tangannya, menolak tawaran Haruto. Namun, Haruto membalasnya dengan senyum ramah dan berkata, “Tidak apa-apa, kok.”


“Justru saya sangat berterima kasih pada Shuuichi-san selama ini, jadi sebagai balasan, tolong biarkan saya memasak untuk Anda.”


Karena Shuuichi dan keluarganya telah mempekerjakan neneknya yang kehilangan pekerjaan, serta menyambut Haruto sendiri layaknya anggota keluarga sungguhan, Haruto selalu ingin membalas budi. Ia merasa ini adalah kesempatan yang sangat tepat.


“Tidak, tidak, kamu tidak perlu merasa berutang budi begitu.”


“Terima kasih. Tapi, Shuuichi-san dan yang lainnya selalu menyantap masakan saya dengan lahap sambil memujinya enak, dan itu membuat saya sangat senang saat memasakannya.”


Haruto tersenyum hangat pada Shuuichi.


“Karena itu, tolong biarkan saya memasak.”


Melihat Haruto menundukkan kepala, Shuuichi tampak sedikit bimbang sebelum akhirnya membuka mulut, “Kalau begitu...”


“Bisa tolong buatkan?”


“Baik, terima kasih. Saya akan siapkan bahan-bahannya, jadi silakan Anda ganti baju dulu.”


Mendengar kata-kata Haruto, Shuuichi berkata “Maaf ya, sudah merepotkan,” lalu meninggalkan ruang tamu sejenak untuk berganti pakaian.


“Oke.”


Berdiri di dapur, hal pertama yang dilakukan Haruto adalah memasukkan gelas bir yang biasa dipakai Shuuichi ke dalam freezer. Kemudian, ia melihat isi kulkas dan memikirkan menu kudapan.


“Hmm, pertama-tama mending bikin sesuatu yang cepat saji buat ganjal perutnya, kali ya? Habis itu baru bikin yang agak berat...”


Sambil memeriksa ketersediaan bahan, Haruto memikirkan menu apa saja yang bisa dibuat.


“Sebagai awalan, tahu, kimchi, terus... kubis dan daun bawang cukup, deh. Oh! Ada ampela ayam rupanya. Nanti kupakai juga, ah.”


Setelah mengeluarkan bahan-bahan, Haruto mengisi panci dengan air dan medidihkannya. Selanjutnya, ia memotong kubis kasar-kasar, memotong kimchi dengan ukuran sedang, dan mengiris halus daun bawang.


Usai memotong bahan, ia mengambil dua buah mangkuk dari laci di bawah wastafel.


Ia memasukkan kubis ke satu mangkuk, menutupinya dengan plastic wrap, lalu memanaskannya di dalam microwave. Sementara itu, di mangkuk satunya, ia memasukkan potongan kimchi dan daun bawang, menuangkan minyak wijen, lalu mengaduknya. Setelah itu, ia menuangkan campuran tersebut di atas tahu dingin yang sudah diletakkan di piring kecil.


Tepat pada saat itu, kubis telah selesai dipanaskan, dan ia pun mengeluarkan mangkuk dari microwave.


“Aduh, panas...”


Haruto membuka plastic wrap dari mangkuk yang mengepul panas, lalu mendinginkan kubis yang sudah layu dengan air es. Setelah meniriskan airnya dengan bersih, ia merobek-robek nori ke dalamnya.


Ia mengaduk mangkuk itu perlahan, lalu menambahkan minyak wijen, kecap asin, dan garam merica, kemudian mengaduknya lagi.


Terakhir, setelah mencicipi rasanya dan menambahkan sedikit garam merica, Haruto menyajikannya di piring kecil dan menaburkan biji wijen putih sangrai di atasnya.


Tepat ketika Tahu Dingin Kimchi Minyak Wijen dan Salad Kubis Nori itu siap disajikan, Shuuichi yang sudah berganti pakaian kembali ke ruang tamu.


“Shuuichi-san, bir saja cukup, ‘kan?”


“Ya! Terima kasih, Haruto-kun!”


Mendengar pertanyaan Haruto, Shuuichi mengangguk dengan senyum semringah dan duduk di kursi. Melihat senyum gembira Shuuichi, Haruto ikut tersenyum sambil mengeluarkan gelas dari freezer dan mengambil kaleng bir dari kulkas.


“Silakan, Shuuichi-san.”


“Terima kasih!”


Shuuichi menerima gelas dari Haruto dan wajahnya langsung berbinar melihat gelas yang dingin membeku itu.


“Biar saya tuangkan, ya.”


Haruto menuangkan bir ke dalam gelas yang dimiringkan Shuuichi.


Cairan berwarna amber mengalir deras ke dalam gelas yang memutih karena dingin, pusarannya menciptakan busa yang kental dan sangat lembut.


Setelah busanya cukup terbentuk, Haruto mulai menuangkannya pelan-pelan.


Memegang gelas yang bermahkota busa tebal dan memancarkan kilau keemasan itu, Shuuichi memuji Haruto dengan kagum.


“Wah, luar biasa! Sempurna sekali, Haruto-kun!”


“Terima kasih.”


“Kalau begitu, selamat minum.”


Tak sabar lagi, Shuuichi mendekatkan gelas ke mulutnya dan menenggaknya.


Menelan birnya dengan suara tegukan, ia meminum hampir setengah isi gelas dalam sekali tarikan, lalu meletakkan gelasnya di atas meja dengan ekspresi bagaikan baru saja mencapai nirwana.


“Kuuuh! Momen ini emang nggak ada duanya!”


Melihat sosok Shuuichi yang menikmati bir dengan begitu nikmat, Haruto pun ikut tertular rasa bahagia.


“Ini Tahu Dingin Kimchi Minyak Wijen dan Salad Kubis Nori. Silakan dinikmati.”


Berdiri di sisi dapur, Haruto mengulurkan tangannya dan meletakkan kudapan yang baru dibuatnya di atas meja.


“Ooh, kamu bikin ini dalam waktu sesingkat itu? Seperti biasa, kerjamu cekatan sekali, ya.”


“Kalau nenek saya, dalam waktu segini udah bisa bikin tiga macam hidangan, loh.”


“Hebat sekali. Suatu hari nanti, aku ingin coba kudapan buatan Kiyoko-san juga, ah.”


Sambil berkata begitu, Shuuichi menangkupkan kedua tangan seraya bergumam “Selamat makan”, lalu mengarahkan sumpitnya ke salad kubis terlebih dahulu. Ketika menyantap kubis bersama nori, mata Shuuichi terbelalak lebar, sebelum buru-buru membilas kerongkongannya dengan bir.


“Haruto-kun! Ini mah bikin nggak bisa berhenti minum bir!”


Setelah berucap demikian, Shuuichi langsung menyuapkan gigitan salad kubis lagi ke mulutnya, lalu menenggak birnya.


“Puaah! Enak banget! Tahu dingin ini juga... um, um! Ini juga enak, Haruto-kun!”


“Syukurlah kalau cocok di lidah Anda.”


Untuk salad kubis, Haruto sengaja membuat rasanya sedikit lebih pekat agar cocok sebagai pendamping bir. Sebaliknya, hidangan tahu dingin dirancang agar menggugah selera lewat rasa pedas kimchi dan aroma daun bawang.


Melihat Shuuichi makan sambil terus bergumam “Enak, enak!”, Haruto bersorak dalam hati.


Supaya Shuuichi lebih puas, ia mengeluarkan ampela ayam dari kulkas.


“Shuuichi-san, selapar apa perut Anda sekarang? Masih bisa makan banyak?”


“Kalau masakan Haruto-kun, rasanya aku bisa terus makan saking nagihnya.”


“Baiklah. Kalau begitu, saya akan buat beberapa macam lagi.”


Tersenyum mendengar jawaban Shuuichi, Haruto merebus sebentar ampelanya untuk menghilangkan bau amis, membuang uratnya, lalu menumisnya di wajan yang sudah dilumuri minyak.


“Wah, rasanya kayak lagi makan di izakaya beneran, nih.”


“Saya akan berusaha sebaik mungkin agar rasanya sekelas hidangan restoran.”


“Ahaha! Masakan Haruto-kun mah sudah setara atau bahkan lebih enak dari masakan izakaya!”


Menanggapi Haruto yang merendah, Shuuichi tertawa terbahak-bahak dan memberikan stempel persetujuan mutlak atas masakannya.


Sambil membalas dengan senyuman dan ucapan “Terima kasih,” Haruto memercikkan sake pada ampela yang sudah kecokelatan, lalu menutup wajan untuk mengukusnya. Saat itulah ia menyadari gelas Shuuichi sudah hampir kosong, jadi ia mengeluarkan kaleng bir baru dari kulkas.


“Silakan tambah lagi, Shuuichi-san.”


“Wah, makasih banyak! Jadi nggak enak, nih!”


Dengan mood yang sedang sangat bagus, Shuuichi menyodorkan gelasnya dan tersenyum lebar melihat bir yang dituangkan.


Ia kembali meminum bir dengan nikmat dan mencomot hidangannya.


Sambil mengawasi seberapa cepat makanan itu habis, kali ini Haruto mengeluarkan terong dan memotongnya setengah lingkaran. Lalu, ia menyiapkan wajan kedua di sebelah wajan ampela yang sedang dikukus, dan menumis terong itu dengan minyak.


Setelah membumbui terong dengan garam dan merica, Haruto mencincang daun bawang putih, membuka tutup wajan ampela, dan memasukkan daun bawang itu ke dalamnya.


Begitu daun bawang layu, ia mencampurkan bumbu yang terdiri dari kaldu ayam bubuk, minyak wijen, perasan lemon, dan bawang putih parut ke dalam tumisan ampela, lalu menyesuaikan rasanya dengan garam dan merica sebagai sentuhan akhir.


“Ini Tumis Ampela Daun Bawang Garam Lemon.”


Haruto menyajikan ampela itu di piring dan menyodorkannya ke hadapan Shuuichi.


“Ohoho! Ini yang kutunggu-tunggu!”


Aroma bawang putih dan minyak wijen yang menguar dari hidangan di atas meja itu sangat menggugah selera Shuuichi.


“Selamat makan!”


Dengan mata berbinar, Shuuichi mengambil sepotong ampela yang berlumur saus daun bawang dengan sumpit dan menyuapkannya ke mulut.


“Hah, panash... um, um! Enak! Sempurna, Haruto-kun!”


Shuuichi mengacungkan jempol ke arah Haruto, lalu buru-buru meminum birnya.


“Aroma menggugah selera dari minyak wijen dan bawang putihnya, rasa asin gurih yang sangat cocok dengan bir, ditambah rasa asam lemon yang menetralkan minyaknya bikin aku merasa bisa makan ini sebanyak apa pun... Haruto-kun! Terima kasih!”


Dalam suasana hati yang luar biasa baik, Shuuichi menjulurkan tangannya dan menjabat tangan Haruto.


“Saya senang Anda menyukainya.”


Haruto membalas jabat tangan Shuuichi, lalu mengeluarkan bacon dari kulkas dan memotongnya dengan lebar sekitar satu sentimeter. Kemudian, ia memasukkannya ke dalam wajan berisi terong yang sudah layu dan menumisnya bersama-sama.


Begitu terong menyerap minyak bacon dan mengeluarkan aroma lezat, Haruto memindahkannya ke piring tahan panas, lalu menaburkan banyak keju di atasnya.


Saat ia mengambil blowtorch, Shuuichi yang sejak tadi mengawasi Haruto memasak, membuka mulut dengan senyum merekah di wajahnya.


“Ah, Haruto-kun. Makanan seenak apa lagi yang akan kamu buat...”


Menanggapi perkataan itu, Haruto hanya membalas dengan senyum kecil sambil menyalakan blowtorch dan mulai membakar kejunya.


Keju itu meleleh sambil membentuk tekstur panggangan yang kecokelatan. Shuuichi pun ikut meleleh sambil mendesah, “Aaah...”


“Ini Terong Bacon Panggang Keju Leleh. Silakan dicoba.”


Melihat hidangan menggoda yang diletakkan di sebelah tumis ampela sebelumnya, Shuuichi perlahan-lahan menggelengkan kepalanya.


“Haruto-kun. Jangan begini... ini bahaya. Kalau kamu terus-terusan bikin yang beginian, aku bisa benar-benar jadi tawanan ‘Izakaya Haruto’, loh.”


“Fufufu, kedai kami selalu menunggu kedatangan Anda kapan pun.”


“Aku bisa jadi pelanggan tetap, nih.”


Sambil melontarkan candaan itu, Shuuichi menyantap terong dan bacon-nya yang ditarik bersama lelehan benang-benang keju.


“Nggak bisa berhenti minum birrr!”


Shuuichi, yang sudah sepenuhnya terjerat pesona Izakaya Haruto, tampak mulai mabuk dengan wajah sedikit memerah sambil terus memanjakan lidahnya dengan hidangan buatan pemuda itu. Sambil merasa senang melihatnya, Haruto mengiris tipis bawang bombay dan merendamnya dalam mangkuk berisi air.


“Ngomong-ngomong, Haruto-kun. Kencan hari ini menyenangkan?”


“Iya. Udah lama banget saya nggak ke akuarium, ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang saya kira.”


“Syukurlah kalau begitu. Ayaka juga pasti sangat menikmatinya, ‘kan? Anak itu memang suka akuarium sejak dulu.”


Shuuichi perlahan memiringkan gelasnya, menyesap bir, dan tatapannya sedikit menerawang, seolah sedang mengingat masa lalu.


“Waktu dia masih kecil, aku sering mengajaknya ke sana. Ayaka paling suka sama lumba-lumba. Aku masih ingat betul betapa senangnya dia menunjuk-nunjuk lumba-lumba yang berenang di tangki sambil berseru, ‘Aku mau berenang sama lumba-lumba!’.”


“Lucu sekali, ya.”


Sambil mengeluarkan telur dari kulkas, Haruto mendengarkan cerita Shuuichi dengan saksama.


“Sungguh, baik Ayaka maupun Ryota... mereka berdua adalah malaikat dan harta paling berharga bagiku.”


Shuuichi bergumam dengan penuh perasaan sambil perlahan-lahan menyuapkan ampela ke mulutnya.


“Sayangnya, akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan kerjaan. Karena Ayaka sudah besar, aku sering kali harus memintanya bersabar, tapi karena Ryota masih kecil, sebisa mungkin aku tidak ingin membuatnya merasa kesepian.”


Shuuichi dan Ikue sama-sama berstatus sebagai direktur perusahaan.


Karena posisi tersebut, sistem kerja mereka jauh lebih fleksibel dibanding pekerja kantoran biasa. Namun di sisi lain, tanggung jawab besar yang mereka pikul terkadang membuat mereka harus pergi lama atau pulang sangat larut seperti hari ini.


Shuuichi menenggak sisa birnya, lalu menatap Haruto.


“Aku sangat berterima kasih padamu. Terima kasih karena selalu meluangkan waktu untuk menemani Ryota main.”


“Sama-sama. Ryota-kun anaknya sangat baik dan lucu, saya sendiri juga merasa terhibur dan mendapat energi darinya.”


Haruto memecahkan telur ke dalam mangkuk sambil menanggapi perkataan Shuuichi.


Mendengar jawaban itu, ekspresi Shuuichi langsung cerah seketika.


“Iya, ‘kan! Saat Ryota mengantar kepergianku sambil bilang ‘Ayah semangat kerjanya, ya’, rasanya energi buat menjalani hari itu langsung meluap-luap!”


Ia meminum birnya lagi dalam tegukan besar dan memasang senyum yang tampak luluh.


“Terus, pas pulang kerja dan sampai rumah, kalau Ayaka menyambutku dengan ucapan ‘Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, Papa’, rasa lelahku langsung menguap seketika.”


Sambil menyantap terong berbalut keju, Shuuichi bergumam, “Kehadiran keluarga itu benar-benar hebat, ya.”


Melihat sosok Shuuichi yang sangat menyayangi keluarganya, Haruto tersenyum ramah dan menyetujui, “Benar sekali,” sembari mulai membuat dashimaki tamago.


[TLN: Dashimaki Tamago adalah salah satu jenis Tamagoyaki. Perbedaan dengan Tamagoyaki biasa adalah kandungan kaldu dashi-nya yang lebih pekat.]


“Ngomong-ngomong, Haruto-kun. Boleh aku tanya sesuatu?”


“Iya, ada apa?”


Mendapat pertanyaan mendadak dari Shuuichi, Haruto mengalihkan pandangannya dari telur yang sedang ia masak dan menoleh padanya.


“Mungkin pertanyaan ini agak lancang...”


Setelah memberi pengantar singkat, Shuuichi bertanya dengan wajah yang sudah memerah karena mabuk.


“...Kamu suka Ayaka bagian mananya?”


Mendengar pertanyaan Shuuichi, Haruto terhenti sejenak.


“...Bagaimana, ya.”


Ditanya tentang hal apa yang ia sukai dari kekasihnya oleh ayah dari kekasihnya sendiri membuat Haruto menjawab dengan sedikit gugup.


“Bagi saya... Ayaka-san itu benar-benar sempurna di segala aspek, jadi kalau ditanya suka bagian mananya, saya menyukai semuanya...”


Haruto memindahkan dashimaki tamago itu ke atas piring kecil, lalu menatap lurus ke arah Shuuichi dan melanjutkan kalimatnya.


“Saya menyukai semuanya, tapi yang paling membuat saya terpikat adalah... senyum Ayaka-san.”


Senyum bahagia Ayaka yang tampak seperti mentari.


Senyum itu menghangatkan dan mengisi hati Haruto dengan kebahagiaan. Sebuah senyum yang terasa ajaib.


“Senyum Ayaka-san sangatlah berarti bagi saya, dan membuat saya merasa ingin terus melihatnya selamanya.”


Ayaka memang dianugerahi paras yang sangat menawan, sampai-sampai dijuluki gadis tercantik di sekolah.


Namun, Haruto merasa pesona utama dari senyumnya bukanlah dari penampilan luar yang rupawan itu.


Sifat dan kepribadian yang dimiliki Ayaka-lah sumber utamanya.


Hatinya yang lembut, baik hati, dan perhatian. Kepolosannya yang murni, namun dipadukan dengan sifat aslinya yang sedikit polos-polos ceroboh.


Pesona semacam itulah yang membuat senyum gadis itu bersinar semakin terang.


Ketika Haruto menjelaskan perasaannya seperti itu, Shuuichi mengangguk penuh semangat.


“Wah! Aku benar-benar bersyukur pacar putriku adalah kamu!”


Sambil berkata demikian, Shuuichi menenggak habis sisa bir di gelasnya dalam satu tarikan.


“Mau tambah satu gelas lagi?”


“Boleh, deh.”


Dengan wajah merah padam, Shuuichi menyodorkan gelasnya dengan riang gembira.


Haruto menuangkan bir ke dalam gelasnya sembari berpikir, ‘Apa aku sekalian bikin sup miso kerang buat besok pagi, ya?’.


Tepat pada saat itu, pintu ruang tamu terbuka, dan Ikue muncul dengan pakaian tidurnya.


“Ara? Selamat datang, Sayang. Maaf ya, aku nggak sadar kamu udah pulang.”


Setelah bilang begitu, Ikue menghampiri Haruto dan suaminya sambil sedikit memiringkan kepala keheranan.


Shuuichi mengangkat pelan gelas yang dipegangnya pada istrinya dan membalas, “Aku pulang,” sebelum mulai menjelaskan.


“Ah, jangan dipikirkan. Ini loh, sekarang Haruto-kun lagi masakin macam-macam makanan buat aku.”


Shuuichi memamerkan gelas di tangannya ke arah Ikue dengan senyum lebar.


“Gimana? Ikue mau gabung menikmati Izakaya Haruto juga?”


“Ara, ara, kamu kelihatan senang banget. Jangan-jangan proyek yang kamu kerjakan hari ini berjalan lancar?”


“Begitulah. Sepertinya proyek itu berhasil kita dapatkan.”


“Wah! Kalau gitu harus dirayakan, dong.”


Ikue menangkupkan tangannya sambil tersenyum manis, lalu mengalihkan pandangannya pada Haruto.


“Haruto-kun, maaf ya sudah selarut ini, tapi apa boleh aku ikut gabung juga?”


“Tentu saja. Ikue-san mau minum juga?”


Ketika Haruto bertanya, Ikue, yang sudah duduk di kursi sebelah Shuuichi, menganggukkan kepalanya.


“Aku ikut minum aja, kali ya? Sayang, nggak apa-apa?”


“Tentu saja! Ayo kita bersulang dan merayakannya sama-sama!”


Shuuichi mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dengan gaya orang yang sudah mabuk berat.


“Fufu, kalau gitu aku ikut minum juga, deh.”


Suara Ikue terdengar sedikit melonjak gembira.


“Ikue-san, mau bir juga?”


“Iya, boleh minta tolong tuangkan?”


“Baik. Silakan duduk saja di situ, Ikue-san.”


Haruto mencegah Ikue yang berniat mengambil bir sendiri. Ia memberikan gelas pada wanita itu, mengambil kaleng bir dari kulkas, lalu menuangkannya.


“Terima kasih, Haruto-kun. Kalau begitu, Sayang... Bersulang.”


“Bersulang!”


Ikue menggenggam gelasnya dengan kedua tangan, mengangkatnya sedikit untuk bersulang dengan Shuuichi, lalu meminum birnya dengan anggun.


“Ufufu. Bir yang dituangkan Haruto-kun rasanya sangat enak.”


Ikue tersenyum bahagia.


Haruto membalas dengan anggukan hormat, lalu memindahkan kaldu dashi yang disimpannya di kulkas ke dalam panci, memanaskannya, dan menambahkan kecap asin serta mirin.


“Masakan buatan Haruto-kun ini enak-enak banget loh, kamu wajib coba. Saking cocoknya sama bir, sampai gawat rasanya.”


Shuuichi menggeser piring-piring makanan di depannya ke arah Ikue.


“Ara, kelihatannya enak semua.”


Ikue meletakkan gelasnya di atas meja sejenak, lalu menggantinya dengan sumpit dan mencicipi tumis ampela daun bawang garam lemon.


“Mmm, Haruto-kun memang hebat, ya.”


“Terima kasih.”


Mendapat pujian dari Ikue, Haruto tersenyum senang. Ia lalu menyiramkan kaldu hangat berbumbu tadi ke atas dashimaki tamago yang sudah disiapkan sebelumnya, menaburkan daun bawang di atasnya, lalu menyajikannya di hadapan pasangan itu.


“Ini Dashimaki Tamago yang direndam kaldu.”


“Oh? Sekarang kamu mengeluarkan menu yang lembut, ya.”


Shuuichi mengambil sepotong telur dadar itu sambil tersenyum lebar. Begitu mencicipinya, raut wajahnya luluh, “Hoho.”


“Setelah digempur rasa-rasa berani nan pekat, sekarang dikasih yang lembut begini... Boleh juga strategimu, Haruto-kun!”


Mendengar nada bicara Shuuichi yang benar-benar sudah seperti om-om mabuk, Ikue tertawa kecil, “Kamu ini ada-ada saja,” sambil ikut menyuapkan potongan telur itu ke mulutnya.


“Rasa kaldunya pas banget, ya.”


Puas menikmati masakan Haruto, pasangan Toujou itu menenggak bir mereka.


Merasakan suasana riang dari keduanya, Haruto meniriskan bawang bombay yang tadi direndam air, lalu mencampurnya dengan daging ikan tuna kaleng yang sudah dihancurkan. Ia membumbuinya dengan mayones, bawang putih, garam, dan merica. Setelah menatanya di piring, ia meletakkannya di sebelah sajian telur dadar.


Shuuichi langsung menyantap salad bawang bombay tersebut.


“Makanan simpel kayak gini juga mantap.”


Mengangguk puas, Shuuichi kembali menandaskan bir di gelasnya dalam sekali tarikan.


“Oh ya, Sayang. Kamu udah dengar belum soal nilai ujian Ayaka sekarang?” tanya Ikue sambil menyantap salad kubis nori.


Shuuichi, yang baru saja dituangkan bir baru oleh Haruto, memiringkan kepalanya.


“Belum, sih. Memangnya kenapa?”


“Hasil ujian Ayaka yang sekarang, nilainya paling bagus loh dari semua ujian yang pernah dia ikuti. Anak itu, saking senangnya, sampai pamer lembar jawabannya ke aku.”


Mungkin karena teringat akan tingkah putrinya, senyum kecil, “Fufu”, terukir di bibir Ikue.


“Wah, hebat! Usahanya membuahkan hasil, ya!”


Shuuichi berterima kasih pada Haruto yang menuangkan bir, lalu meminumnya dengan riang usai mengetahui kerja keras putrinya.


Mengikutinya, Ikue meminum sedikit bir sebelum menatap Haruto.


“Ayaka bisa dapat hasil sebagus itu berkat Haruto-kun, loh.”


“Tidak, itu semua berkat hasil kerja keras Ayaka-san sendiri. Saya cuma bantu mengajarinya sedikit.”


Mendengar Haruto merendah, Shuuichi meletakkan gelasnya dan menatap Haruto dengan pandangan serius.


“Haruto-kun. Terima kasih banyak atas semua yang kamu lakukan untuk putriku.”


Melihat Shuuichi menundukkan kepala dalam-dalam padanya, Haruto melambaikan kedua tangannya dengan panik.


“A-Ah, Anda berlebihan, Shuuichi-san! Tolong angkat kepala Anda!”


“Tidak, tidak berlebihan sama sekali.”


Shuuichi menggelengkan kepala, mengambil gelasnya lagi, menyesap birnya, lalu mulai berbicara.


“Haruto-kun. Ujian di sekolah tuh ya, hampir nggak ada artinya begitu kamu terjun ke dunia kerja. Entah kamu dapat nilai seratus atau remidi di SMA, hal semacam itu paling cuma jadi bahan obrolan basa-basi pas lagi pesta minum-minum waktu sudah dewasa nanti.”


Setelah menelan seteguk bir lagi, Shuuichi melanjutkan, “Tapi, asal kamu tahu...”


“Menetapkan target untuk mendapat nilai bagus, lalu berusaha keras mencapai target itu, dan akhirnya berhasil mencapainya. Proses dan pengalaman sukses itulah yang sangat berharga. Dunia orang dewasa itu, jauh lebih bebas, sekaligus jauh lebih tidak masuk akal daripada yang kalian bayangkan. Tembok rintangan dalam hidup bertebaran di mana-mana.”


Sambil menatap buih-buih di dalam gelasnya, Shuuichi berucap dengan sungguh-sungguh.


“Di tengah lingkungan sosial yang keras, pengalaman bahwa ‘usaha yang kita lakukan pasti membuahkan hasil’ akan menjadi landasan rasa percaya diri yang kuat. Itu adalah hal yang sangat penting. Berkat Haruto-kun, putri kami bisa mendapat pengalaman berharga tersebut. Terima kasih banyak.”


Shuuichi kembali menundukkan kepala pada Haruto. Begitu ia mengangkat wajahnya, ia memasang raut terkejut.


“Waduh, aku malah kayak lagi ceramah. Maaf ya, Haruto-kun.”


“Ah, tidak apa-apa. Nasihat Anda sangat berarti buat saya.”


“Hei, Haruto-kun. Jangan memanjakan pemabuk, nanti dia ngelunjak, loh.”


Merespons ucapan Haruto, Shuuichi menenggak habis birnya dengan riang gembira.


Di saat itu, Ikue memiringkan kepala dan bertanya pada Haruto.


“Ngomong-ngomong, hasil ujian Haruto-kun sendiri gimana?”


“Ah, ehm... kebetulan hasil ujian kali ini pun, saya ranking satu di seangkatan.”


Haruto memberitahukannya dengan sedikit malu-malu.


Mendengar hasil luar biasa itu, Ikue memberikan tepuk tangan kecil, “Prok prok prok.”


“Hebat banget, loh!”


“Terima kasih banyak.”


Haruto menunduk sedikit untuk menyembunyikan rasa malunya. Di sebelahnya, Shuuichi berkata dengan senyum lebar.


“Wah, ini sih wajib dirayakan! Kalau bir... sayangnya kamu belum cukup umur buat minum.”


Shuuichi menyentuh dagunya, tampak berpikir keras tentang hadiah apa yang cocok untuk merayakan prestasi Haruto.


“A-Anu, niat baik Anda saja sudah membuat saya senang, jadi tidak usah repot-repot mengadakan perayaan segala. Saya jadi tidak enak.”


“Ara, ara, jangan sungkan begitu, Haruto-kun. Ranking satu di seangkatan itu hebat banget, loh. Bagaimanapun juga, ranking satu kan cuma bisa diraih oleh satu orang dari seluruh siswa.”


“Eh? Ah, yah... benar juga, sih?”


Haruto sedikit kebingungan menanggapi perkataan Ikue yang diucapkan layaknya kata-kata mutiara padahal itu sudah sewajarnya.


Kecuali ada yang nilainya kebetulan persis sama, wajar saja kalau ranking satu cuma dipegang satu orang.


Jangan-jangan, Ikue-san juga sudah mulai mabuk?


Ketika Haruto memikirkan hal itu, tiba-tiba Ikue menepukkan kedua tangannya seolah punya ide bagus dan tersenyum manis.


“Haruto-kun, bisa ke sini sebentar, nggak?”


Ikue memberi isyarat memanggil Haruto.


“Ya, baiklah.”


Meski sedikit memiringkan kepala karena bingung, Haruto dengan patuh keluar dari area dapur menuju meja tempat Ikue berada.


Sambil mempertahankan senyum ramahnya, Ikue berkata pada Haruto yang sudah mendekat.


“Nah, coba berdiri di sini.”


“?”


Ikue membimbing Haruto agar berdiri tepat di antara dirinya dan Shuuichi.


“Anu... kita mau apa—?”


Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Ikue mulai mengelus kepalanya dengan lembut.


“Eh!? I-Ikue-san!?”


“Anak pintaar, Haruto-kun sudah berusaha keras, ya. Pintar, pintar.”


Seolah-olah sedang memuji anak kandungnya sendiri, Ikue terus mengelus kepala Haruto sambil menghujaninya dengan pujian.


Diperlakukan seperti itu membuat wajah Haruto memerah.


“A-Anu... saya ini sudah SMA, diperlakukan begini rasanya... kayak anak kecil dan memalukan...”


Haruto berucap dengan suara lirih karena tak kuasa menepis tangan Ikue.


Namun, Ikue membantah kata-katanya sambil terus tersenyum.


“Anak SMA itu masih terhitung anak kecil, loh? Dan hak istimewa seorang anak adalah bermanja-manja pada orang tua.”


Ikue berkata demikian sambil menatap mata Haruto.


“Haruto-kun, kamu itu terlalu cepat bersikap dewasa. Masa anak-anak itu singkat, jadi mumpung masih ada waktu, kamu harus bermanja-manja sepuasnya pada orang tua.”


“T-Tapi... Ikue-san, ‘kan...”


“Ara, Haruto-kun. Kamu mau ngomong hal yang bikin sedih, ya?”


Ikue menatap Haruto dengan senyuman yang menyiratkan tidak menerima bantahan apa pun.


Tekanan dari wanita itu membuat Haruto reflek memalingkan wajahnya. Dan di ujung pandangannya terdapat gelas bir Ikue yang sudah kosong melompong.


Tepat saat Haruto mulai kewalahan menghadapi Ikue, yang bisa dibilang eksistensi terkuat di keluarga Toujou, Shuuichi yang entah sudah minum berapa kaleng bir, menepuk pundak Haruto ringan.


“Haruto-kun! Jangan sungkan-sungkan, mulai sekarang kamu boleh kok panggil aku ayah mertua!”


“Ara. Kalau gitu panggil aku ibu mertua juga, ya.”


“A-Anu...”


Dikeroyok oleh pasangan Toujou yang kekuatannya bertambah pesat berkat alkohol, Haruto benar-benar kelabakan.


“Haruto-kun!”


“Haruto-kun?”


Didesak tanpa ampun oleh keduanya, Haruto tidak bisa melarikan diri dan akhirnya bergumam dengan suara super pelan.


“Ayah mertua... Ibu mertua...”


Begitu mendengar panggilan itu, pasangan itu langsung heboh, memuji Haruto habis-habisan.


“Bagus sekali, Haruto-kun! Ujiannya hebat banget! Aku benar-benar bangga!”


“Haruto-kun hebat, ya! Bisa masak makanan enak begini juga. Terima kasih banyak, ya.”


Dipuji bertubi-tubi oleh Shuuichi dan Ikue membuat sekujur tubuh Haruto gerah dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Shuuichi menunjukkan senyum paling lebar yang pernah Haruto lihat sejak pertama kali mereka bertemu.


“Sip! Malam ini kita minum sampai puas!”


“Ah iya, Sayang. Bukannya kita punya wine yang bagus, ya?”


“Oh iya! Ayo kita buka botolnya!”


Melihat pasangan Toujou semakin heboh, Haruto menyingkir kembali ke dapur dengan wajah yang masih merah padam.


“Ehm, saya buatkan hidangan yang cocok dengan wine, ya.”


“Makasih, Haruto-kun!”


“Makasih ya, Haruto-kun.”


Setelah itu, keramaian di ‘Izakaya Haruto’ berlanjut hingga hari berganti.


Pasangan Toujou benar-benar mabuk total dan berada dalam puncak kegembiraan.


Ditemani hidangan buatan Haruto, mereka menghabiskan sebotol wine dalam sekejap setelah sebelumnya menenggak banyak bir. Belum puas, Shuuichi dan Ikue merambah ke sake, dan pada akhirnya, mereka beralih ke wiski. Saat pesta usai dan Haruto akhirnya merebahkan diri di atas ranjang, waktu hanya menyisakan beberapa jam sebelum fajar menyingsing.


Rasa kantuk yang hebat tentu mulai menyerang Haruto.


Dalam balutan rasa kantuk itu, ia merasakan sebuah kehangatan saat perlahan-lahan menutup matanya.


Kalau... seandainya Ayah dan Ibu masih hidup, apa aku bakal dipuji-puji kayak tadi, ya...


Ia kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan lalu lintas saat masih kecil.


Namun, bukan berarti ia tumbuh tanpa mengenal kasih sayang.


Kakek dan nenek yang menggantikan peran mendiang orang tuanya telah mencurahkan kasih sayang yang melimpah padanya. Haruto sendiri sangat menyadarinya dan amat bersyukur akan hal itu.


Akan tetapi, lubang di hatinya akibat kehilangan sosok ayah dan ibu tak pernah benar-benar bisa ditambal secara utuh.


Kasih sayang kakek-neneknya mungkin menutup permukaannya, tapi lubang itu tetap ada di sana.


Namun, berinteraksi dengan pasangan Toujou hari ini membuat Haruto merasa ada sesuatu yang hangat mengalir masuk ke dalam lubang tersebut. Rasa kehilangan akan orang tuanya memang masih meninggalkan lubang, namun rasanya seolah-olah ada kasih sayang yang mengisi celah-celahnya dengan sangat lembut.


Shuuichi-san, Ikue-san, Ryota-kun, dan Ayaka... mereka semua, sangat hangat, ya...


Merasakan kehangatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, Haruto akhirnya jatuh terlelap.



Aku terbangun saat merasakan sinar matahari pagi yang menyusup dari balik jendela.


“Hngh...”


Aku menggeliat meregangkan badan, beranjak dari ranjang, lalu membuka tirai jendela.


“Cuacanya sangat bagus.”


Melihat pemandangan pagi yang cerah di luar jendela, hatiku terasa sangat segar.


Entah karena efek kencan dengan Haruto-kun kemarin, rasanya semalam aku tidur sangat nyenyak dan nyaman.


“Ah, mulai sekarang kan aku panggilnya Haruto aja, bukan Haruto-kun...”


Mengingat hal itu saja sudah bisa membuatku senyum-senyum sendiri.


Memanggil pacar dengan namanya saja tanpa pakai honorifik adalah impianku sejak dulu... Sejak berpacaran dengan Haruto, satu per satu impianku mulai terwujud.


Aku meresapi kebahagiaan yang meluap-luap di dadaku sambil berjalan menuju ruang tamu.


“Selamat pagi, Haruto. Kiyoko-san juga, selamat pagi.”


Aku menyapa Haruto dan Kiyoko-san yang sudah berada di dapur.


“Pagi, Ayaka.”


Haruto mengangkat wajahnya dari panci dan membalas sapaanku.


Kiyoko-san juga tersenyum ramah dan membalas, “Selamat pagi.”


“Loh? Papa dan Mama belum bangun, ya?”


“Ah... kayaknya hari ini Shuuichi-san dan Ikue-san bangunnya bakal agak siangan, deh.”


“Oh, ya?”


“Semalam, mereka minum-minum sampai larut banget soalnya.”


Haruto pun bercerita bahwa semalam ia membuatkan bermacam-macam kudapan untuk Papa dan Mama.


Papa dan Mama curang banget! Padahal aku juga mau makan masakan Haruto!


Rupanya rasa iri itu terpampang jelas di wajahku, karena Haruto langsung tersenyum sambil bilang, “Kapan-kapan, aku masakin buat Ayaka juga, deh.”


Haruto memang benar-benar pacar yang baik dan luar biasa....


Semakin jatuh cinta pada pesonanya, aku pun ikut berdiri di dapur untuk membantu Kiyoko-san memasak.


“Ah, karena Shuuichi-san dan Ikue-san kemungkinan nggak bakal sanggup sarapan biasa, nanti tolong hangatkan ini buat mereka, ya?”


Seusai aku membuat dashimaki tamago di bawah bimbingan Kiyoko-san, Haruto menunjuk sebuah panci.


“Itu apa?”


“Sup miso kerang. Nanti kalau Shuuichi-san dan yang lain udah bangun, tolong panaskan lagi, tambahkan satu sendok makan sake, dan larutkan misonya, ya.”


“Um, oke.”


Seusai memasak sarapan, Haruto dan Kiyoko-san pamit pulang ke kediaman Ootsuki.


Sebenarnya sih, aku penginnya Haruto dan Kiyoko-san tinggal di sini terus selama seminggu penuh. Tapi, jelas itu tidak mungkin.


Rumah Haruto juga perlu dibersihkan, lagian, di sanalah tempat orang tua dan kakeknya beristirahat. Altar keluarga harus rajin dirawat dan dibersihkan, ‘kan.


...Kapan-kapan aku ikut bantu bersih-bersih di rumah Haruto aja, kali ya?


Di saat aku sedang santai memikirkan hal itu sendirian di ruang tamu, Ryota turun sambil mengucek-ngucek matanya.


“Onee-chan. Ayah dan Ibu nggak bangun-bangun dari tadi.”


Biasanya Ryota tidur bareng Papa dan Mama.


“Udah dibangunin, digoyang-goyang pun tetep nggak bangun?”


“Iya. Udah disuruh bangun, tapi mereka cuma ngerang ‘uuuh’, ‘aaah’ doang, nggak ngaruh.”


“Hadeh, semalam mereka minumnya sebanyak apa sih?”


Papa kadang-kadang memang teler, tapi kalau Mama sampai ikut-ikutan tumbang begini, kayaknya baru kali ini, deh.


Memangnya kudapan Haruto seenak apa sih sampai mereka lepas kendali begitu?


“Ryota, Kiyoko-san dan Haruto udah buatin kita sarapan, jadi mending kita berdua makan duluan aja, yuk.”


“Ya! Mau makan masakan Nenek sama Onii-chan!”


Meninggalkan kedua orang tua yang tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan itu, aku dan Ryota menyantap sarapan kami.


Seusai makan, Ryota mulai membongkar mainannya di ruang tamu sementara aku mencuci piring. Saat itulah, akhirnya terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.


Suara langkah kakinya berat dan sangat lambat, jauh dari kata lincah. Mendengarnya, aku langsung mulai memanaskan sup miso kerang yang sudah disiapkan Haruto.


Tak lama, Papa dan Mama yang baru saja mencuci muka di wastafel melangkah sempoyongan memasuki ruang tamu.


“Pagi, Papa, Mama.”


“Uuuh... Pa... gi.”


“Uh... Pagi.”


Seolah mayat hidup yang berjalan merangkak perlahan, Papa dan Mama membalas sapaanku dengan suara parau.


“Aku dengar dari Haruto, semalam minum-minum sampai larut banget, ya?”


“Aah... begitulah. Ya.”


“Sepertinya minumnya kebanyakan...”


Papa menekan dahinya dengan tangan seolah menahan sakit kepala yang menusuk. Wajah Mama juga terlihat lebih pucat dari biasanya.


Kelihatannya mabuk mereka parah banget, tapi rasain, itu hukuman karena sudah memonopoli masakan Haruto berdua doang.


“Papa dan Mama curang, makan masakan Haruto nggak bagi-bagi,” protesku sambil memonyongkan bibir.


Mendengar itu, Ryota yang sedang main figur sentai langsung sewot.


“Iya, nih!? Ayah dan Ibu curang!! Aku juga mau makan masakan Onii-chan!!”


“Ugh... M-Maaf, ya. Nanti kita minta tolong buatkan lagi sama Haruto-kun.”


Teriakan kencang Ryota sepertinya langsung bergema di kepala Mama yang sakit, ia memegangi kepalanya dengan sebelah tangan sambil menenangkan Ryota yang ngambek.


Papa duduk pelan-pelan di kursi meja makan, lalu menatapku yang sedang berdiri di area dapur.


“Haruto-kun dan Kiyoko-san mana?”


“Karena hari ini Minggu, mereka udah pulang.”


“Begitu, ya.”


Sebagai asisten rumah tangga kami, Kiyoko-san mendapat hari libur setiap hari Minggu dan Senin.


“Gimana sarapannya? Mau makan?”


“Waduh... maaf, tapi buat sekarang...”


“Mama juga?”


“Iya, mual...”


Melihat mereka berdua sama-sama berekspresi getir, aku memasang wajah jengah.


“Hadeh, kalian berdua minumnya berlebihan, sih.”


Sesuai instruksi Haruto, aku menambahkan satu sendok makan sake ke dalam sup miso kerang, mendidihkannya sebentar, lalu melarutkan misonya. Aku menuangkannya ke dalam mangkuk dan menyajikannya di hadapan Papa dan Mama.


Mengintip ke dalam mangkuk, Papa bergumam.


“Ini apa...?”


“Sup miso kerang. Haruto berpesan, kalau kalian udah bangun, suruh hidangkan ini.”


“Wah, Haruto-kun ini benar-benar pengertian, ya.”


Mama berdecak kagum sambil mencicipi sup miso itu.


“Haaah, enaknya...”


Sepertinya rasa lembut kaldu kerang itu menenangkan mual akibat mabuk mereka. Wajah Mama langsung relaks dan terlihat lebih mendingan. Setelah meminum satu teguk lagi, ia tiba-tiba menatapku tajam.


“Hm? Kenapa, Mama?”


“Ayaka, kamu harus jaga dan perlakukan Haruto-kun dengan baik, oke?”


Ikut-ikutan Mama, Papa juga mengangguk penuh semangat.


“Ayaka, kamu jangan sampai melepaskannya, ya?”


“Eh? B-Baik.”


Tekanan dari mereka berdua terasa jauh lebih intens dari biasanya.


“Hei, Papa? Waktu lagi mabuk semalam, Papa nggak ngomong yang aneh-aneh kan ke Haruto?”


“...Aku nggak bilang yang aneh-aneh, kok? Nggak ada yang aneh. Serius.”


“Yang bener?”


Aku menatap Papa dengan curiga.


“T-Tentu saja.”


Mencurigakan... mencurigakan banget.


Mabuknya sampai bikin teler begini, semalam mereka berdua pasti lepas kendali.


“Kalau Mama? Mama bilang apa ke Haruto?”


“Hmm... aku cuma bilang ‘makasih ya udah bantuin Ayaka belajar,’ kali ya.”


“Hmm? Cuma itu doang?”


“Terus, ya... paling cuma titip pesan, ‘Untuk kedepannya pun tolong jaga Ayaka, ya’. Cuma itu, kok. Mama sama sekali nggak ngomong yang aneh-aneh.”


Setelah bicara begitu, Mama menyesap kembali sup misonya dan mulai ngajak Papa ngobrol, “Enak banget, ya,” seolah mengalihkan pembicaraan. Gelagat mereka berdua yang pura-pura tenang itu justru bikin aku makin curiga.


Besok, aku harus menginterogasi Haruto tentang apa saja yang Papa dan Mama katakan semalam!


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close