NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V5 Chapter 4

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 4

Permainan Klasik

Sabtu siang, Haruto dan Ayaka membuka buku referensi di kamar Ayaka, tengah belajar untuk ujian. Keduanya sangat fokus, sampai-sampai di ruangan itu hanya ada suara goresan pena di atas kertas. Ayaka yang sedang menulis dengan tatapan serius, tiba-tiba mengangkat wajah dan melirik jam dinding.


“Teman-teman yang lain mungkin sebentar lagi sampai, ya?”


“Harusnya begitu. Barusan Tomoya mengabari kalau dia sudah berkumpul dengan yang lain, jadi mungkin sebentar lagi.”


Haruto pun menghentikan belajarnya sejenak, menjawab sambil mengecek aplikasi chatting di ponselnya.


“Akagi-kun dan Shizuku-chan janjian ketemu di depan stasiun, ‘kan?”


“Iya, karena mereka tidak tahu lokasi rumahnya, jadi mereka bilang akan dipandu oleh Aizawa-san.”


Hari ini, Tomoya, Shizuku, dan Saki berencana mengunjungi kediaman Toujou untuk belajar bersama.


Semuanya bermula pada jam istirahat di hari Kamis.


Begitu Shizuku datang ke kelas Haruto dan kawan-kawan, dia langsung berseru kepada Ayaka, “Sabtu depan, bagaimana kalau kita belajar bareng di rumah Aya-senpai.”


Setelah melontarkan kata-kata itu dengan suara yang bergema ke seluruh ruangan, Shizuku kemudian menghampiri Haruto dan berkata, “Haru-senpai juga harus ikut dan ajari kami belajar,” seolah-olah itu adalah sebuah kewajiban mutlak.


Sesuai dugaan, ucapan Shizuku membuat seisi kelas menjadi gempar.


Di tengah kegemparan itu, beberapa siswa sempat mengutarakan keinginan untuk ikut bergabung, namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Shizuku dengan menjadikan luas kamar Ayaka sebagai alasan. Akhirnya, peserta kelompok belajar itu ditetapkan hanya lima orang, termasuk Tomoya dan Saki. Niat asli Shizuku adalah untuk menciptakan fakta bahwa Haruto pernah memasuki kamar Ayaka, lalu menyebarkan kabar itu ke seluruh kelas.


Sambil memahami maksud dan dampak dari rencana itu, Haruto merasa agak pusing setiap kali teringat bagaimana suasana kelas saat gadis itu mengusulkan idenya.


Tiba-tiba, suara interkom berbunyi.


“Ah, sepertinya Saki dan yang lain sudah datang.”


Ayaka meletakkan pena-nya, lalu keluar dari kamar menuju pintu depan.


Haruto mengikutinya dari belakang, namun Ryota yang tadinya sedang bermain dengan Ikue di ruang tamu tiba-tiba berlari menghampirinya.


“Onii-chan, ada tamu?”


“Iya, hari ini teman-temanku dan Ayaka datang untuk belajar bareng.”


Selagi Haruto membungkuk untuk berbicara dengan Ryota, Ayaka membuka kunci pintu depan dan mempersilakan Saki dan yang lain masuk ke dalam rumah.


“Fuuuh, dingiiin! Oh, yahoo, Ryota.”


“Saki Onee-chan!”


Saki yang baru masuk mengangkat tangannya dan menyapa Ryota yang berdiri di sebelah Haruto. Wajah Ryota langsung berbinar melihat kedatangan Saki dan hendak berlari menghampirinya. Namun, saat melihat Tomoya dan Shizuku yang muncul menyusul Saki, langkah anak itu tiba-tiba terhenti.


Ryota menoleh ke arah Haruto dengan raut wajah sedikit cemas. Menyadari reaksi Ryota, Haruto mengukir senyum lembut dan mulai memperkenalkan mereka.


“Mereka berdua adalah Tomoya dan Shizuku, dua-duanya teman baikku.”


Begitu Haruto bilang begitu, Tomoya menjadi orang pertama yang mengangkat sudut bibirnya lebar-lebar dan menyodorkan tangannya kepada Ryota.


“Salam kenal Ryota-kun, aku Akagi Tomoya.”


“......Salam kenal.”


Dengan satu tangan masih mencengkeram erat ujung celana Haruto, Ryota menggunakan tangan satunya lagi untuk menyambut uluran tangan Tomoya dan bersalaman. Selanjutnya, Shizuku bergerak ke hadapan Ryota, lalu berjongkok untuk menyamakan pandangan mereka.


“Salam kenal, Ryota-kun. Aku Doujima Shizuku.”


“......Salam kenal.”


Melihat Ryota yang sedikit menundukkan kepala, Shizuku perlahan menyipitkan mata.


“Tidak heran dia adalah adik Aya-senpai, di usia semuda ini sudah memiliki paras setampan ini. Benar-benar gumpalan potensi... Ryota, mau tidak menaklukkan dunia bersamaku?”


“......Dunia?”


“Eh, Shizuku! Jangan menanamkan pikiran aneh-aneh pada Ryota!”


Haruto buru-buru menyela Shizuku, melindungi Ryota bagai tameng.


Ayaka yang mengamati interaksi itu dengan senyum masam menyadari ada kantong besar di genggaman tangan Shizuku.


“Shizuku-chan, kantong apa tuh?”


“Fufufu, ini adalah item wajib yang tidak boleh absen kalau lagi belajar bareng.”


Shizuku menegakkan kembali tubuhnya. Kemudian, sambil mengucapkan sfx ‘Tadaaa’ dari mulutnya sendiri, dia memperlihatkan isi kantong itu kepada Ayaka.


“Camilan?”


“Yap, camilan. Tanpa ini, belajar bareng kita nggak bakal bisa jalan.”


Shizuku menyatakannya dengan penuh keyakinan sambil membusungkan dada. Ayaka sedikit tercengang melihat banyaknya jumlah camilan di dalam kantong tersebut.


“......Kamu belinya banyak banget.”


“Ini adalah kumpulan camilan terbaik yang kupilih bareng Tomo-senpai dan Saki-senpai.”


“Ahaha, entah kenapa jadi asyik sendiri waktu kami pilih bareng-bareng tadi.”


Meskipun tanpa ekspresi, Shizuku memancarkan aura kebanggaan yang begitu kental, membuat Saki hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Saat itu, Ryota menatap isi kantong yang dipegang Shizuku dengan penuh minat. Menyadari itu, Tomoya meminta izin kepada Ayaka.


“Toujou-san, boleh nggak kalau kami kasih sebagian buat Ryota-kun?”


Mendengar ucapan itu, Ryota langsung menatap Ayaka dengan binar mata penuh harap.


“Walaupun makan camilan, kamu tetap harus makan malam dengan benar, oke?”


“Oke!!”


Merespons perkataan kakaknya, Ryota mengangguk dengan penuh semangat lalu kembali mengalihkan pandangannya ke kantong Shizuku. Menanggapi antusiasme Ryota, Shizuku menyerahkan camilan yang bentuknya mirip stik Umaibou.


“Nih, kukasih buat Ryota-kun. Rasa sup jagung dan rasa natto.”


“Wah! Asyiiik!!”


Ryota melompat-lompat kegirangan setelah menerima jajanan dari tangan Shizuku.


“Ryota, jangan lupa bilang terima kasih.”


“Terima kasih! Shizuku Onee-chan!”


“Ugh.”


Mendapat ucapan terima kasih dari Ryota yang tersenyum sangat lebar, entah kenapa Shizuku membuat gestur seolah jantungnya baru saja tertembus peluru.


“......Ryota-kun, bisa tolong panggil aku ‘Shizuku Onee-chan’ sekali lagi?”


“Eh? Shizuku Onee-chan?”


Kali ini Ryota mengucapkannya sambil memiringkan kepala dengan raut kebingungan.


“......Sekali lagi.”


“? Shizuku Onee-chan.”


“Aya-senpai, boleh nggak aku bawa pulang Ryot─”


“Ya enggak, lah!!”


Ayaka dengan telak memotong perkataan Shizuku di tengah jalan.


“Cih.”


“Jangan malah ‘cih’!”


“Aya-senpai ini memang suka memonopoli segalanya sendirian ya, nyebelin dah.”


“Reaksiku barusan wajar, ‘kan!? Yang kelakuannya nyebelin itu justru kamu, Shizuku!”


Ketika Ayaka dan Shizuku mulai berdebat, Haruto merendahkan suaranya dan bertanya kepada Saki tentang sifat Ryota.


“Ryota-kun itu anaknya pemalu kan, ya?”


“Begitulah. Tapi yah, kayaknya dia juga gampang dipancing kalau pakai makanan.”


“Ternyata Ryota gampang dijinakkan, ya?”


“Yah, tergantung situasinya, sih. Tapi, Ayaka juga gampang banget luluh kan kalau sama kamu, Ootsuki-kun? Artinya mereka berdua kakak beradik yang sangat mirip.”


“Haha......”


Mendengar godaan Saki yang disertai senyum jahil, Haruto tertawa kecil karena sedikit malu untuk mengalihkan topik. Tepat pada saat itu, Ikue datang dari arah ruang tamu.


“Ara, selamat datang.”


“Ah, permisi.”


“Permisi.”


Melihat kehadiran Ikue, Tomoya dan Shizuku serempak memberikan salam sambil menunduk sopan.


Ryota menunjukkan jajanan di kedua tangannya kepada ibunya dengan suara riang.


“Lihat Bu! Aku dikasih jajanan!”


“Wah, bagus dong.”


Mendengar percakapan ibu dan anak itu, samar-samar terdengar rentetan gumaman dari arah Tomoya dan Shizuku, “I-Ibu?”, “Eh? Bukan kakaknya? Eh?”. Haruto pun jadi teringat kembali pada hari ketika ia pertama kali bertemu Ikue. Saat itu, Haruto pun sempat mengira bahwa Ikue adalah kakaknya Ayaka.


Ikue mengelus kepala Ryota dengan lembut sambil tersenyum ke arah Tomoya dan yang lainnya.


“Terima kasih banyak, ya.”


“T-Tidak, sama-sama. Ah, dan ini... walau hanya bingkisan sederhana.”


Meski sempat terbata-bata, Tomoya mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas punggungnya dan menyodorkannya kepada Ikue. Ikue menerimanya, dan raut wajahnya berubah gembira begitu melihat logo toko yang tercetak di kemasannya.


“Wah! Ini kue sus dari toko depan stasiun, ‘kan! Tante suka sekali kue ini. Duh, jadi merepotkan. Terima kasih, ya.”


“Sama-sama, justru kami yang merepotkan karena berkunjung dengan jumlah sebanyak ini.”


Tomoya menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang sedikit lebih lega. Setelah itu, Saki juga ikut tersenyum ke arah Ikue.


“Aku ingat kalau Mama Ikue suka kue sus dari toko itu, jadi kami semua membelinya sama-sama tadi.”


“Ara, ara! Makasih ya, Saki-chan. Dan juga, Umm...”


Setelah berterima kasih kepada Saki, Ikue mengarahkan senyum ramahnya kepada Tomoya dan Shizuku.


“Ah, perkenalkan, saya Akagi Tomoya! Saya adalah sahabatnya Haru...... Ootsuki-kun!”


“Sama, saya juga sahabatnya Haru-sen...... Ootsuki-senpai, Doujima Shizuku. Salam kenal.”


“Walah, walah! Kalian berdua sahabatnya Haruto-kun, toh! Tomoya dan Shizuku, ya. Salam kenal, tante adalah ibunya Ayaka, Ikue. Walaupun di masa depan mungkin juga akan merangkap jadi ibu mertuanya Haruto.”


Ikue berkata dengan nada jenaka sambil tersenyum nakal, “Ufufu”.


“Tunggu, Mama!? Jangan ngomong aneh-aneh, dong!!”


“Ara, maaf, maaf.”


“Ih!”


Ayaka menggembungkan pipi dan cemberut kepada ibunya.


“Oi Haru...... Serahkan pidato perwakilan sahabat dari pihak mempelai kepadaku.”


“Aku juga akan menyumbangkan cerita-cerita kocak soal Haru-senpai.”


“Tunggu dulu! Perkataan Ikue-san tadi kan cuma candaan!”


Tomoya menatapnya dengan mata berapi-api, sementara Shizuku mengacungkan jempolnya. Melihat itu, Haruto buru-buru menghentikan kedua temannya itu dengan panik. Namun di momen itu, Saki yang sudah sangat mengenal tabiat Ikue, menyeringai tipis dan menimpali.


“Kata-katanya sih mungkin candaan, tapi tatapan mata Mama Ikue tadi kelihatan cukup serius, loh.”


“............”


Haruto tak mampu membalas ucapan Saki dan hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Usai memberi salam kepada Ikue, mereka pun mulai berjalan menuju kamar Ayaka.


“Waah, sebelum datang ke sini aku memang sudah dengar dari Aizawa-san, tapi rumah keluarga Toujou benar-benar sangat mewah, ya.”


“Aku bahkan merasa bisa tinggal meski cuma di lorong rumahnya.”


“Ah, aku juga kepikiran hal yang sama tadi.”


Teringat kembali betapa luasnya lorong yang memanjang dari pintu masuk tadi, Shizuku mengatakannya dengan nada meyakinkan, yang langsung dibalas Tomoya dengan anggukan berkali-kali. Melihat Tomoya dan Shizuku yang mengobrol sembari menaiki tangga, Saki berucap dengan wajah sombong dan bangga.


“Sudah kubilang, bukan? Rumahnya Ayaka itu luar biasa.”


Tomoya langsung tertawa sambil menyanggah kelakuan gadis itu.


“Bentar, bentar, kenapa malah Aizawa-san yang sombong? Harusnya kan Toujou-san?”


“Kalau diibaratkan... milik sahabatku adalah milikku juga, mungkin? Betul tidak, Ayaka?”


“Meski kamu minta persetujuan, aku bingung harus jawab apa......”


Ayaka tersenyum kaku pada Saki seraya membuka pintu kamarnya, mempersilakan teman-temannya masuk. Begitu masuk ke dalam, tatapan Shizuku dengan cepat menyapu sekeliling ruangan, lalu mendongak menatap lampu di langit-langit.


“Hoho, ternyata pencahayaannya bukan menggunakan lampu kristal chandelier ya, Aya-senpai.”


“Kalau kamar pakai begituan, justru nggak bakal bisa tenang, kan.”


Menanggapi balasan Ayaka yang disertai ekspresi agak terheran-heran, Shizuku sedikit memiringkan kepala sambil mempertahankan wajah datarnya.


“Menurutku chandelier itu sangat cocok loh dengan Aya-senpai?”


“......Shizuku, kamu lagi muji atau malah ngejek?”


“50-50.”


“Apa susahnya sih bilang kalau kamu lagi muji......”


“Bercanda, kok.”


Sementara Ayaka dan Shizuku asyik berdebat kecil, yang lainnya mulai duduk di atas bantal lantai yang terhampar mengelilingi meja.


“Entah kenapa, kalau kepikiran ini adalah kamarnya Toujou-san rasanya jadi gugup. Betul tidak, Haru?”


“Aaah yah, awalnya aku juga sempat gugup, sih.”


“Oh, benar juga. Haru mah udah sering mondar-mandir masuk kamar ini, ya.”


“Nggak lah, aku nggak sampai keluar masuk sesering itu.”


Haruto tersenyum kecut melihat Tomoya yang mengangguk-angguk sok tahu dan menyimpulkan itu sendirian.


“Kalau begitu, Haru-senpai biasanya berhabitat di sudut rumah sebelah mana?”


Shizuku menyudahi obrolannya dengan Ayaka dan gantian melempar pertanyaan pada Haruto.


“Berhabitat nggak, tuh. Emangnya aku ini satwa liar, apa?”


Haruto membalas pelan sebelum menunjuk ke arah kamar sebelah menggunakan jempolnya.


“Untuk saat ini, aku dipinjami kamar di sebelah kamar Ayaka. Meski aslinya itu kamar Ryota, sih.”


“Tinggal seatap, laki-laki dan perempuan yang lagi puber-pubernya bersebelahan kamar...... Cabul bet, sih.”


Shizuku mengucapkannya dengan intonasi lambat sembari menatap Haruto dan Ayaka secara bergantian.


Mendengar ucapan itu, suara Haruto dan Ayaka sontak bertumpang tindih.


“Apanya yang cabul coba!”


“Kok dibilang cabul, sih!”


Mendapat reaksi penolakan yang sama persis dari mereka berdua, Shizuku kembali sedikit memiringkan kepala.


“Eh? Habisnya, di balik selapis dinding tipis ini kan ada ayang?”


“Terus kenapa kesimpulanmu malah mengarah ke cabul.”


“Kenapa katamu? Ya karena mustahil nggak bakal terjadi apa-apa dalam situasi menguntungkan seperti itu. Ya kan, Saki-senpai.”


Saat Shizuku menoleh pada Saki untuk mencari dukungan opini, Saki pun ikut mengangguk pelan.


“Betul juga...... cabul sih.”


“Ih! Saki jangan ikut-ikutan ngomong yang aneh-aneh, deh!”


Ayaka melayangkan protes kepada sahabatnya yang malah ikut-ikutan menjahilinya. Dengan pipi yang masih menggembung kesal, Ayaka duduk di atas bantal lantainya.


“Semuanya, ayo lekas belajar. Hari ini kan kita kumpul buat belajar bareng.”


Mendengar teguran itu, semuanya segera duduk melingkar di meja dan mengeluarkan alat tulis masing-masing. Setelah itu, semuanya kembali serius mencurahkan fokus pada pelajaran untuk ujian.


Secara mengejutkan, Shizuku tidak melontarkan lelucon lagi atau menjahili Ayaka, melainkan ikut menatap buku referensinya dengan pandangan serius sambil tekun mencatat sesuatu di buku tulisnya.


Beberapa saat berlalu tanpa ada percakapan karena masing-masing orang sibuk berkonsentrasi, hingga akhirnya Saki yang sedang mengerjakan soal matematika bergumam “Umm...” sambil kebingungan, dan menggeser buku pelajarannya kepada Haruto.


“Hei, Ootsuki-kun, kamu paham cara kerjain soal ini, nggak?”


“Hm? Oh, soal yang ini sih......”


Haruto kemudian menjelaskan langkah-langkah penyelesaian dari soal yang ditanyakan Saki.


“Oh, begitu, toh! Paham, paham! Wah, Ootsuki-kun memang hebat! Gelar ranking satu di seangkatan itu memang bukan sekadar isapan jempol, ya. Cara mengajarimu juga sangat mudah dipahami.”


Saki memuji dengan wajah lega karena berhasil memecahkan soalnya. Tiba-tiba, Tomoya memasang raut wajah sangat bangga.


“Haru itu memang hebat, loh. Soal tersulit macam apa pun, dia bisa menjelaskannya dengan cara yang gampang dimengerti.”


“Wajah bangga Akagi-kun yang nggak ada hubungannya ini kocak banget. Harusnya yang pamer itu pacarnya, Ayaka, bukan kamu.”


Ucap Saki sambil melempar topik tersebut pada Ayaka yang duduk di sebelahnya. Ayaka, yang terlalu fokus pada bukunya, sempat terdiam selama satu ketukan sebelum memandang Saki dengan ekspresi bingung.


“Eh? Apa? Tadi panggil aku?”


Melihat wajah cengo Ayaka, Saki mendengus “Fufu” dan sedikit mencondongkan badannya ke depan.


“Ayaka, di ujian kali ini kamu kelihatan sangat termotivasi dan niat banget, ya.”


Saki berkomentar sembari menunjuk buku catatan Ayaka yang sudah dipenuhi oleh tulisan materi yang padat. Mendengarnya, wajah Ayaka sedikit memerah.


“Umm, rencananya di ujian kali ini aku mau coba menargetkan nilai 80 ke atas di semua mata pelajaran.”


“Hooo? Tapi Ayaka, nilai ujianmu kan biasanya memang selalu stabil di sekitar angka segitu?”


“Ah, iya, sih. Tapi, anu...... khusus kali ini aku benar-benar ingin meraih 80 ke atas......”


Jawab Ayaka dengan gestur sedikit malu-malu.


Menyadari bahwa arah pandang gadis itu diam-diam kerap melirik ke arah Haruto, Saki menyeringai.


“Kenapa kamu tiba-tiba kebelet pengin dapat nilai 80 ke atas? Ayaka-san.”


“I-Itu, anu......”


“Jangan-jangan, kalau kamu berhasil dapat 80 ke atas di seluruh mata pelajaran, kamu bakal dapat semacam hadiah spesial dari Haruto-kun tersayang, yaaa?”


Bahu Ayaka langsung tersentak kuat merespons tebakan Saki barusan.


“Hahah, tebakanku tepat sasaran, ya.”


Karena berhasil ditebak dengan sangat akurat, Ayaka yang sangat panik mulai menjelaskan dengan tempo bicara yang cepat.


“B-Begini loh, selama libur musim panas kemarin aku kan belajar bareng Haruto-kun. Terus, supaya motivasi belajarku tetap terjaga, kami mikir mungkin perlu semacam hadiah atau reward begitu, jadi karena itulah......”


“Oh, begitu. Terus, kalau Ayaka bisa dapat hadiah dari Ootsuki-kun kalau menembus angka 80, syarat supaya Ootsuki-kun dapat hadiah dari Ayaka apaan, dong?”


Dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati keadaan, Saki kini beralih menatap Haruto dan menanyakan hal itu padanya.


“Eh? Kalau buatku sih, tidak ada kesepakatan hadiah apa-apa, kok.”


“Mana bisa gitu! Nggak adil, dong! Masa Ayaka dapat hadiah, sementara Ootsuki-kun tidak!”


Saki mencecarnya dengan seringai jahil yang seakan menempel erat di bibirnya.


“Bener kan, Ayaka? Kamu juga harus ngasih hadiah ke Ootsuki-kun dengan adil, dong?”


“I-Itu...... memang benar, sih.”


Ayaka menyetujui ucapan Saki, lalu dengan wajah tersipu berbalik menatap Haruto.


“Kalau begitu, jika di ujian kali ini Haruto-kun kembali mempertahankan ranking satu di seangkatan...... Bakal kukasih hadiah.”


“Ah, uhm...... terima kasih.”


Ayaka yang mengucapkannya dengan penuh rasa malu itu terlihat begitu manis, membuat wajah Haruto seketika terasa memanas. Tepat di detik itu juga, Shizuku yang sedari tadi terus berkonsentrasi belajar dalam diam tiba-tiba melempar pulpen yang dipegangnya sembari berteriak.


“APA INIII! Pas orang-orang lagi serius memeras otak, kalian malah asyik bermesraaan mesra-mesraan di sini!”


“K-Kita nggak lagi mesra-mesraan, kok.”


Ayaka buru-buru menyangkalnya dengan wajah merah merona, namun Shizuku hanya membalasnya dengan tatapan memicing yang sinis.


“Mana ada, percakapan barusan itu jelas-jelas adegan bermesraan tingkat dewa.”


“E-Enggak, ah.”


“Kalau begitu, mari kita serahkan masalah ini kepada Juri Penilai Adegan Mesra, Tomo-senpai, untuk mengambil keputusan final.”


Sembari berkata begitu, Shizuku menoleh ke arah Tomoya yang sedari tadi asyik mengamati perdebatan mereka dengan wajah geli.


“Tomo-senpai, apakah interaksi mereka berdua barusan masuk ke dalam kategori bermesraan?”


“Hmm, jika diputuskan berdasarkan observasi atas interaksi mereka berdua sejak tadi......”


Tomoya melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengerutkan kening. Ia memasang raut wajah serius dan menunduk sejenak sebelum menjatuhkan vonis dengan nada sok berwibawa layaknya hakim agung.


“Haru dan Toujou-san...... Bersalah!!”


“Bacot.”


Vonis yang dijatuhkan bak putusan pengadilan itu langsung disanggah oleh Haruto dengan wajah pasrah. “Juri Penilai Adegan Mesra apaan coba.”


Tampaknya konsentrasi Shizuku sudah menguap tanpa sisa, karena kini tangannya mulai meraba bungkusan camilan yang dibawanya.


“Aah sudahlah, mulutku sudah kemanisan gara-gara omongan kalian, aku sudah nggak bisa fokus belajar lagi. Waktunya rehat sejenak. Pesta Camilan resmi dimulai.”


Bersamaan dengan ucapan itu, Shizuku menuangkan seluruh isi kantong camilan dan menyebarkannya ke atas meja.


“Oh, asyik, asyik!”


Saki ikut meletakkan pulpennya, menyudahi sesi belajarnya, dan langsung menjangkau gunungan camilan yang tiba-tiba hadir di hadapannya.


“Dari tadi aku udah nahan-nahan pengin makan ini.”


Ucap Saki sambil merobek bungkus permen gummy berukuran besar yang tampak mengenyangkan.


“Ayaka juga mau coba?”


“Ya sudah, aku minta sedikit, deh.”


Melihat para gadis menyudahi sesi belajar dan mulai makan camilan, pandangan Haruto juga ikut tertuju pada tumpukan jajanan itu.


“Kalian beneran beli banyak banget. Memangnya yakin ini bisa habis semua?”


“Kalau ada sisa, nanti aku kasih buatmu dan Toujou-san. Dari awal aku membelinya dengan niat begitu, kok.”


Tomoya menjawab santai sembari melemparkan kacang almond berbalut cokelat ke dalam mulutnya.


“Oh begitu, makasih. Ngomong-ngomong, ini jajan apa? Hokky?”


Haruto memiringkan kepalanya saat membaca kemasan camilan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Shizuku lantas menjelaskannya.


“Camilan itu aku membelinya di toko makanan Hokkaido. Camilan itu terbuat dari bahan baku kerang Hokki asli dari Hokkaido, dan tentu saja rasanya adalah rasa kerang Hokki.”


“Kerang Hokki...... Emangnya jajanan begini rasanya enak? Terus, dilihat dari bentuknya pun rasanya mirip Pock─”


“Haru-senpai, menyinggung soal plagiarisme bentuk di saat begini itu tidak etis, loh.”


Shizuku memotong kilat perkataan Haruto. Tak lama, seolah baru saja mendapat pencerahan, Shizuku menepukkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya dengan bunyi ‘Prok’.


“Semuanya, ayo kita main permainan.”


Mendengar usulan dadakan Shizuku, Ayaka dan Saki yang sedang mengunyah permen gummy langsung menunjukkan minatnya.


“Permainan? Permainan apa?”


“Fufufu, Saki-senpai. Kalau remaja laki-laki dan perempuan lagi kumpul bareng dan memutuskan untuk main permainan, pilihannya cuma ada satu.”


“Hmm? Apaan, tuh?”


Saki yang sepertinya tidak menangkap maksud Shizuku bertanya sambil memiringkan kepala. Sudut bibir Shizuku pun terangkat membentuk sebuah senyuman.


“Pilihannya adalah...... Main raja-rajaan!”


Ketika Shizuku menyatakannya dengan suara lantang, Ayaka langsung mengernyitkan alisnya pertanda kurang setuju.


“Shizuku-chan, hari ini kan kita kumpul buat belajar. Terlalu banyak main-main tidak baik, loh.”


“Aya-senpai, hasil kerja yang efisien selalu dilahirkan dari waktu istirahat yang efisien pula. Beristirahat yang cukup untuk memulihkan konsentrasi jauh lebih baik demi kelancaran proses belajar.”


“T-Tapi...... Main raja-rajaan rasanya agak......”


Ayaka masih menunjukkan keraguan.


“Main raja-rajaan itu yang perintah sang raja adalah kemutlakan absolut, ‘kan?”


“Iya, betul. ......Ah, jangan-jangan Aya-senpai lagi bayangin hal-hal mesum, ya? Ih, diam-diam mesum.”


“E-Enggak, kok!”


Ayaka membantahnya dengan wajah merah padam, dan dibalas Shizuku dengan usil “Yang beneerr?” sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada Saki.


“Bagaimana dengan Saki-senpai? Apakah Saki-senpai tidak suka main raja-rajaan?”


“Hmm, dibilang nolak sih enggak, tapi...... permainan semacam itu memberiku kesan buruk tentang permainan yang sering diusulkan oleh cowok-cowok kuliahan hidung belang pas acara kencan buta.”


Saki menjawab seraya menyilangkan tangan di dada, lalu melanjutkan perkataannya, “Tapi...”


“Kayaknya permainannya lumayan seru. Jadi, kalau misal ada syarat tambahannya, aku mau-mau saja ikut main.”


“Apa syaratnya?”


“Syaratnya, jangan maksa nyuruh sesuatu yang tidak disukai oleh orang yang ditunjuk, dan tidak boleh ada unsur memaksakan kontak fisik secara berlebihan. Kira-kira begitu?”


Shizuku mengangguk setuju dengan syarat yang diajukan Saki.


“Bisa dimengerti. Kalau begitu, kalau kita main raja-rajaan versi sehat dan masih dalam batas kewajaran ini, bagaimana menurut Aya-senpai?”


“Kalau peraturannya seperti itu, sih......”


Setelah mengangguk pelan, Ayaka melirik ke arah Haruto untuk melihat bagaimana responsnya. Menyusul gerakan Ayaka, Shizuku pun ikut memandangnya dengan penuh tanya.


“Kalau aku sih, selama nggak ada yang keberatan, nggak masalah. Kalau Tomoya gimana?”


“Aku juga setuju-setuju aja, asalkan pihak perempuannya nyaman dan tidak masalah.”


Mendapat lampu hijau dari pihak laki-laki, Shizuku mengangguk puas dan segera merogoh kantong plastiknya untuk mengeluarkan sumpit sekali pakai.


“Kalau begitu, mari kita mulai main raja-rajaannya.”


Bahkan dengan wajah datarnya, suara Shizuku terdengar sangat antusias. Tomoya pun tersenyum kecut melihat persiapan temannya itu.


“Sumpit itu, jangan-jangan kamu membawanya dengan niatan mau main ini sejak awal, ya?”


“Jelas, dong.”


Melihat Shizuku yang mengacungkan jempolnya, Saki ikut-ikutan memasang ekspresi seperti Tomoya.


“Kukira Shizuku-chan itu tipe orang yang makan keripik pakai sumpit biar tangannya nggak kotor, ternyata ini bagian dari rencana terselubungmu, ya.”


“Kalau makan keripik sih, aku tim yang makan pakai tangan kosong. Lagipula, menjilati sisa bumbu di jari telunjuk dan ibu jari adalah pencapaian kepuasan tertinggi.”


Sembari memberikan jawaban di luar dugaan, Shizuku mengeluarkan spidol dari kotak pensilnya dan mulai menulis angka satu sampai empat, beserta simbol mahkota raja di bagian ujung setiap batang sumpit kayu tersebut. Setelah selesai, ia menggenggam kelima sumpit itu erat-erat sehingga ujung angkanya tidak terlihat, dan menyodorkan kumpulan sumpit itu tepat ke tengah meja.


“Nah, persiapannya sudah selesai. Silakan pilih sumpit mana saja yang kalian mau.”


Mendengar instruksi Shizuku, setelah jeda sejenak Haruto mengulurkan tangannya sambil berkata, “Kalau begitu...” Ketika ia mengambil satu dari lima sumpit, yang lainnya juga ikut mengambil satu sumpit masing-masing.


“Semuanya sudah ambil? Kalau begitu, saat aku kasih aba-aba, tarik sumpitnya, ya.”


Shizuku menatap wajah teman-temannya satu per satu, lalu berseru dengan suara yang sedikit lantang.


“Kita mulai, ya! Siapakah Rajanya!”


Kelima sumpit itu ditarik serentak seiring dengan teriakan lantang Shizuku. Seluruh pasang mata seketika langsung tertuju pada ujung batang sumpit di tangan masing-masing.


“Bukan aku rajanya.”


“Aku juga bukan.”


Saki melapor dengan nada sedikit kecewa, lalu disusul oleh Tomoya yang mengkonfirmasi bahwa dirinya juga bukan pemegang gelar Raja. Berikutnya adalah Shizuku, yang bibirnya seketika mengerucut begitu menyadari ia tidak mendapat Raja.


“Muuu, berani-beraninya gelar rakyat jelata turun kepadaku. Bagaimana dengan Haru-senpai?”


“Aku juga bukan.”


Haruto menjawab sembari mengecek ujung sumpitnya, sebelum pandangannya perlahan bergeser menatap Ayaka.


“Umm, akulah Rajanya.”


Mendadak menjadi pusat perhatian seluruh ruangan, Ayaka mengangkat tangannya dengan ragu-ragu dan memberi tahu mereka.


“Rupanya Aya-senpai si diam-diam mesum, ya, yang jadi Raja.”


“Dibilangin aku nggak diam-diam mesum, kok!!”


Ayaka dengan cepat menepis julukan Shizuku. Mengabaikan itu, Saki beralih melempar pertanyaan penting.


“Terus, apa perintah dari Raja Ayaka?”


“Ehm...... umm, kalau begitu...... orang nomor tiga...... puji orang nomor Satu habis-habisan.”


Mendengar perintah hasil perasan otak Ayaka yang ia ucapkan sambil memiringkan kepala kebingungan, Saki memancarkan senyum simpul sembari bergumam “Fufu”.


“Benar-benar perintah damai khas Ayaka, ya.”


Lalu, disusul oleh komentar Shizuku.


“Kirain bakal langsung lempar perintah mesum tingkat dewa sejak putaran awal.”


“Kan sudah kubilang! Aku ini bukan orang yang pikirannya kayak gitu!”


“Yang benerrr?”


Membalas tatapan curiga yang dilayangkan Shizuku padanya, Ayaka menggembungkan pipinya dan merengut kesal.


“Ih! Shizuku-chan nyebelin banget, sih! Terus, siapa yang dapat sumpit nomor tiga?”


Mendengar pertanyaan pengalihan isu dari Ayaka, Haruto segera mengangkat tangannya.


“Aku yang dapat nomor tiga.”


“Oh! Jadi Haru bakal memujiku habis-habisan, ya! Wah, jadi nggak sabar.”


Tomoya memamerkan batang sumpitnya yang bertuliskan angka ‘Satu’ kepada Haruto seraya tersenyum sumringah dengan suara “Mweheheh”.


“Aku harus memuji Tomoya, ya...... lumayan sulit, sih.”


“Oi, oi, asal kau tahu saja, butuh waktu setengah hari, loh, buat menjabarkan daya tarikku?”


Haruto mengalihkan pandangannya pada Tomoya yang asyik bercanda, dan mulai melontarkan pujian sesuai dengan titah Raja.


“Aku benar-benar bersyukur dari lubuk hatiku yang terdalam bisa menjadi sahabat baik Tomoya. Aku rasa dia itu orang yang sangat hebat. Sekilas, dia memang sering terlihat seperti cowok yang sembrono dan serampangan, namun aslinya dia selalu memperhatikan orang-orang di sekitarnya dengan sangat baik. Dia juga punya sisi kepedulian yang tinggi karena diam-diam akan membantu apabila melihat ada orang yang sedang kesulitan. Sisi-sisi baik itulah yang ingin aku pelajari darinya.”


Haruto memuji Tomoya tanpa putus dengan sangat runtut. Orang yang menerima rentetan pujian itu malah menunjukkan raut wajah seolah sedang mati kutu, menggaruk sebelah pipinya menggunakan jari telunjuk karena salah tingkah.


“O-Oh...... makasih.”


“Ahaha, mukamu merah, loh, Akagi-kun.”


Saki tertawa lepas seraya menunjuk ke arah muka Tomoya. Karena Haruto melontarkan pujian kelewat serius yang tidak ia sangka-sangka, Tomoya pun merasa sangat malu sampai harus membuang muka.


“Sip, ayo pindah ke perintah berikutnya. Semuanya tolong kembalikan sumpitnya.”


Shizuku memungut kembali sumpit-sumpit tersebut, lalu sama seperti tadi, ia menyembunyikan ujung sumpitnya dan menyodorkannya ke tengah meja untuk diundi ulang.


“Kita mulai lagi ya. Siapakah Rajanya!”


“Ah, kali ini aku Rajanya~!”


Rupanya Saki-lah yang jadi Raja untuk putaran ini. Ia mengayunkan sumpit bergambar mahkota itu dengan senang, kemudian bergumam “Enaknya kasih perintah apa, yaaa,” sambil memikirkan ide licik di kepalanya.


“Sip, sudah kuputuskan! Orang nomor dua harus bikin wajah sekonyol mungkin!”


Begitu mandat Saki diturunkan, semua orang langsung buru-buru mengecek nomor ujung sumpit masing-masing.


“Syukurlah, aku nomor Satu......”


Ayaka melepaskan napas lega yang tertahan seraya mengelus dadanya. Sebaliknya, Shizuku yang duduk di seberang mejanya perlahan menyipitkan kedua matanya.


“Berarti aku yang nomor dua, ya.”


“Wah, akhirnya kita bisa melihat wajah konyolnya Shizuku.”


Haruto berkomentar sambil melirik gadis itu dengan menyeringai geli. Ekspresi konyol seorang Shizuku, yang di kesehariannya bagai manekin tanpa ekspresi, merupakan aset yang sangat berharga dan langka. Shizuku kemudian mengembuskan napas panjang dengan sikap pasrah.


“Apa boleh buat. Kalau begitu semuanya, tolong perhatikan baik-baik. Inilah persembahan wajah konyol super berharga dari gadis cantik mempesona yang tiada tanding ini.”


Dalam kesehariannya, Shizuku selalu minim ekspresi, sehingga orang-orang di luar pergaulannya kerap menilai dirinya sebagai pribadi yang cool dan jutek. Namun kenyataannya, Shizuku adalah tipe orang yang sangat asyik untuk diajak bercanda, dan ia sama sekali tidak pernah keberatan jika diminta melakukan kekonyolan seperti ini. Justru sebaliknya, dialah mood maker alias pembawa suasana yang selalu proaktif terlibat langsung memeriahkan keadaan.


Shizuku menempelkan kedua telapak tangannya di sisi kanan dan kiri pipinya secara perlahan, menekan wajahnya dengan kuat dari kedua sisi.


“Jurus rahasia, Umeboshi!”


Bersamaan dengan peluncuran kalimat andalannya itu, Shizuku langsung memandang sekeliling dengan wajah yang sudah remuk tak beraturan menyerupai umeboshi.


“Pfft, wajahnya parah banget...... fufu,”


“S-Shizuku-chan, fufu...... fufufu.”


Pertahanan Saki dan Ayaka jebol. Keduanya tak mampu lagi membendung ledakan tawa hingga harus menunduk menutupi wajahnya. Tomoya yang duduk di sebelahnya juga langsung tertawa terbahak-bahak sembari membuka mulut lebar-lebar.


“Kesenjangan muka datarmu itu bikin tambah konyol, tahu nggak!”


Melihat wajah hancur Shizuku yang sukses mengguncang perut seisi ruangan, sudut bibir Haruto juga ikut berkedut ke atas ketika ia memberikan komentarnya.


“Kamu ini, sifat totalitasmu dalam membuang urat malu di saat-saat begini masih kayak biasa ya, Shizuku.”


“Melakukan hal konyol setengah-setengah itu tidak akan menghasilkan kelucuan apa-apa, yang ada malah cuma numpuk rasa malu aja. Kalau sudah kepalang basah, mending nyemplung sekalian dan lakukan dengan sepenuh hati buat meraup tawa, rasanya malah jauh lebih memuaskan, loh.”


“Mentalmu benar-benar patut diacungi jempol.”


Di saat teman-temannya masih terengah-engah kehabisan oksigen karena tertawa, Shizuku mengambil alih dan mengumpulkan kembali semua batang sumpit di meja dengan raut wajah bangga.


“Nah, kita lanjut ronde kilatnya. Semuanya lekas tarik sumpitnya.”


Atas komando Shizuku, semua orang segera menarik sumpit pilihan masing-masing di genggamannya.


Dan orang yang dinobatkan sebagai Raja di putaran ketiga, jatuh di tangan Shizuku.


“Fufufu, akhirnya tiba juga saatnya bagiku untuk berkuasa.”


Shizuku perlahan mengangkat sumpit bertanda mahkota ke atas kepalanya.


“Mula-mula, mari kita berikan perintah pemanasan... Orang nomor tiga dan nomor dua, tolong saling bertatap mesra selama satu menit.”


Titah Raja telah turun, dan Haruto mengecek nomornya sendiri.


“Aku... nomor satu rupanya.”


“Aku nomor empat,” ucap Ayaka sambil mengangkat sumpitnya. Setelah itu, Tomoya maju dengan agak canggung.


“Aah, aku nomor tiga.”


“Berarti, aku dan Akagi-kun yang saling bertatapan, ya.”


Saki mengecek nomor di sumpitnya sekilas, lalu berkata sambil menatap ke arah Tomoya.


Shizuku mengatur timer di ponselnya, lalu memberitahu Saki dan Tomoya.


“Kalau begitu, saat aku kasih aba-aba, bertatapanlah selama satu menit dari saat itu. Paham?”


Tomoya dan Saki mengangguk mendengar perkataan Shizuku.


“Baiklah, kita mulai, ya? Siap... mulai.”


Atas aba-aba Shizuku, keduanya saling menatap dalam diam.


Beberapa detik pertama, Tomoya dan Saki saling bertatapan dengan ekspresi serius. Namun, saat sepuluh detik berlalu, tiba-tiba wajah Saki berkerut hebat.


“...Pfft... Pfft... Fufu...”


“Ah, Saki-senpai, dilarang tertawa, loh.”


Raja Shizuku langsung memberikan teguran.


“M-Maaf, maaf, muka serius, muka serius... Fufufu...”


Mendapat teguran dari Shizuku, wajah Saki kembali serius sesaat, tapi tak lama kemudian sudut bibirnya kembali berkedut, menahan tawa yang hampir meledak.


“Saki-senpai?”


“Ufufu... maaf, entah kenapa kalau dipikir tidak boleh tertawa, malah makin... Pffft... Uha... Ahahaha! Hahaha!”


Saki yang akhirnya tak bisa menahan diri, memalingkan wajah dari Tomoya sambil memegangi perutnya.


“Nggak kuat... Fufu... Wajah serius Akagi-kun bikin aku geli... Aha-Ahahaha!”


“Saki, kalau kamu tertawa begitu... Fufufu... kamu tidak sopan pada Akagi-kun, loh.”


Entah karena tertular tawa Saki, Ayaka pun ikut menegur sahabatnya sambil mati-matian menahan tawanya sendiri.


“I-Iya, ya. Maaf ya Akagi-kun-ku- pfft... fufufu... Fuhahahaha! Nggak kuat, hahahaha!”


Saki mencoba menatap wajah Tomoya lagi, namun pada akhirnya tawanya meledak.


Melihat sosok Saki yang memegangi perutnya sambil terengah-engah berkata, “Hiiih, perutku sakit...”, Tomoya malah memberikan senyum sendu nan memelas kepada Haruto.


“Hei, Haru. Boleh nggak aku... nangis sekarang?”


“Bro, selera humor orang itu beda-beda. Jangan diambil hati.”


Haruto berkata demikian sambil menepuk-nepuk bahu Tomoya untuk menghiburnya.


Setelah itu, mereka pun mulai menikmati keseruan main raja-rajaan yang tadinya dimulai sebagai selingan belajar. Di tengah permainan, Saki anehnya tiba-tiba ingin tertawa setiap kali melihat wajah Tomoya, tetapi di luar dugaan, semua orang tampak menikmati permainan ini.


“Sip, aku rajanya! Kalau begitu, orang nomor tiga... nyanyikan bagian reff lagu yang paling kamu kuasai dengan penuh penghayatan!”


Saat Tomoya memberikan perintah dengan penuh semangat, Ayaka yang memegang sumpit nomor tiga langsung menunjukkan ekspresi bingung, “Ehh.”


Gadis itu ragu-ragu sejenak, namun akhirnya mulai menyanyikan lagu balada yang sedang tren. Nyanyiannya jauh dari kata ‘penuh penghayatan’ seperti yang diperintahkan Tomoya, melainkan dinyanyikan dengan suara kecil dan lembut dengan pipi merona menahan malu. Melihat sosok Ayaka yang seperti itu, entah mengapa Haruto merasa tersentuh.


Selanjutnya Haruto yang menjadi Raja, dan atas perintahnya, Tomoya tumbang oleh jentikan jari spesial dari Shizuku. Masing-masing dari mereka mengeluarkan berbagai perintah sebagai Raja dan menikmati permainan. Lalu, giliran Raja kembali kepada Shizuku untuk ketiga kalinya.


“Nah, berhubung kalian semua sudah terpikat dengan keseruan permainan ini, haruskah aku mengeluarkan perintah itu sekarang?”


Shizuku menatap sumpit bertanda mahkotanya dan berbicara dengan nada mencurigakan.


“Perintah apa tuh, Shizuku-chan?”


Menanggapi Ayaka yang bertanya sambil memiringkan kepalanya, Shizuku memecah wajah datarnya dan tersenyum menyeringai, sesuatu yang jarang ia lakukan.


“Ini adalah hal yang wajib ada jika kita bicara soal main raja-rajaan.”


Sambil berkata demikian, Shizuku mengambil salah satu camilan yang tersebar di atas meja dan mengangkatnya di depan Ayaka dan yang lainnya.


“Kalau bicara soal main raja-rajaan, ya ini. Pocky... eh, maksudku, Permainan Hocky!”


Setelah mengatakan itu, Shizuku mengaktifkan perintahnya sebagai Raja.


“Orang nomor dua dan nomor satu lakukan Permainan Hocky!”


Begitu Shizuku melontarkan perintahnya, Haruto dan yang lainnya buru-buru mengecek nomor mereka.


“Ah, aku nomor tiga rupanya.”


“Aku nomor empat... Itu berarti...”


Saki dan Tomoya mengonfirmasi nomor mereka, lalu diam-diam mengalihkan pandangan ke arah Haruto dan Ayaka.


“Haru-senpai dan Aya-senpai memang luar biasa. Memang pantas disebut sepasang kekasih yang saling mencintai, keberuntungan kalian boleh juga.”


Shizuku menyeringai ke arah Haruto dan Ayaka yang memegang sumpit nomor satu dan nomor dua.


“Kalau begitu kalian berdua, tolong gigit kedua ujung Hocky ini.”


“T-Tunggu Shizuku-chan! Kita benar-benar akan melakukannya?”


“Perintah Raja itu mutlak. Ayo, ayo, lekas gigit.”


Melihat Ayaka yang panik karena malu, Shizuku semakin mendesaknya dengan memegang sebatang Hocky di tangannya.


“T-Tapi, di depan semua orang begini...”


“Selama permainan, kami akan menutup mata. Jadi tidak ada masalah, ‘kan? Benar kan, Haru-senpai?”


“Hei, hei, tunggu dulu! Lagipula, sebelum mulai main raja-rajaan, kita sudah sepakat bahwa perintah Raja harus dalam batas wajar, ‘kan!”


“Ini sudah sangat dalam batas wajar, loh? Sepasang kekasih melakukan permainan Pock... Hocky itu hal yang sangat biasa. Benar kan, Aya-senpai?”


Masih memegang Hocky di satu tangannya, Shizuku meminta persetujuan Ayaka. Di luar dugaan, meskipun tampak ragu, Ayaka mengangguk kecil.


“M-Memang, sih... untuk sepasang kekasih yang mesra, ini mungkin hal yang biasa.”


“Tunggu!? Ayaka!?”


Latihan pacaran yang dilakukan Haruto dan Ayaka selama libur musim panas.


Dari isi latihan tersebut, telah terbukti bahwa standar “biasa” Ayaka sebagai seorang kekasih sama sekali tidak biasa. Namun, Haruto tak pernah menyangka hal itu akan meledak di tempat seperti ini.


Dengan tatapan penuh tekad, Haruto buru-buru menahan Ayaka yang hendak menerima Hocky dari Shizuku.


“Ayaka-san! Kurasa hal seperti ini kurang pantas dilakukan di depan orang lain!”


“T-Tapi Haruto-kun, seperti kata Shizuku-chan, bagi sepasang kekasih yang mesra, permainan kayak begini pasti biasa saja, ‘kan?”


“Betul, biasa saja, kok.”


Shizuku mengangguk setuju, seolah mendukung kata-kata Ayaka.


Haruto menoleh ke arah Saki untuk meminta bantuan.


“Ahaha, Ayaka memang suka nekat kalau sudah begini,” ujar Saki sambil menikmati situasi yang menurutnya menarik ini.


“Eh, Aizawa-san, jangan malah ketawa, hentikan temanmu yang lepas kendali ini.”


“Hmm, nggak bisa. Bahkan aku pun tidak bisa menghentikan cinta Ayaka pada Ootsuki-kun.”


Saki menyerah dengan begitu mudahnya. Haruto lalu menatap Tomoya, tanpa menaruh banyak harapan. Benar saja, Tomoya membalas tatapan Haruto dengan mata penuh kecemburuan.


“Main Hocky bareng Toujou-san... Haru, meledak saja kau.”


Haruto akhirnya sadar bahwa tak ada satu pun orang di tempat ini yang bisa menghentikan permainan itu. Di tengah kepasrahannya, suara Ayaka yang sedikit gemetar karena malu terdengar berbisik di telinganya.


“H-Haruto-kun...”


Mendengar suara itu, Haruto menoleh ke arah Ayaka. Gadis itu rupanya sudah menggigit sebelah ujung Hocky, menatap Haruto lekat-lekat dengan wajah yang merah padam.


“...............”


Beberapa saat lamanya, Haruto bergantian menatap wajah Ayaka yang dipenuhi rasa malu dan ujung Hocky yang menjulur dari mulutnya sambil berpikir, hingga akhirnya ia sadar tak ada cara untuk menghindarinya.


Dengan tekad bulat, Haruto perlahan mendekatkan wajahnya dan sedikit membuka mulut untuk menggigit Hocky.


Namun, saat itu juga, Ayaka yang tak lagi sanggup menahan rasa malunya tiba-tiba memalingkan wajah dan mengambil Hocky dari mulutnya.


“W-Wah, tetap saja nggak bisa!”


“Aya-senpai, jangan lari, dong.”


“Melakukan hal seperti ini di depan semua orang... malu banget...”


“Kami tutup mata, loh?”


“Te-Tetap saja...”


Dengan wajah masih memerah, Ayaka menggeleng-gelengkan kepalanya.


“L-Lagipula, kita sudah menetapkan aturannya di awal, ‘kan? Kita tidak boleh memaksakan perintah kalau orangnya tidak mau.”


“Memang sih peraturannya begitu, tapi...”


Shizuku menatap Ayaka dengan tatapan menyelidik.


“Apa Senpai benar-benar tidak mau? Main Hocky dengan Haru-senpai?”


“Uhh... bukannya aku nggak mau...”


“Hmm?”


Shizuku semakin menyudutkan Ayaka yang terbata-bata dengan tatapannya.


Seolah ingin melarikan diri dari Shizuku dan dari situasi itu, Ayaka menepuk tangannya.


“U-Udah! Main raja-rajaannya udahan sampai di sini!! Lagipula awalnya kita hanya mulai ini sebagai selingan dari belajar! Rehatnya sudah cukup, ‘kan! Ayo, ayo! Kita lanjut belajarnya!”


“Aya-senpai kabur, ya?”


“A-Aku nggak kabur! Eh, Saki dan Akagi-kun juga, jangan malah cengengesan, ayo belajar!”


Setelah mengakhiri main raja-rajaan secara paksa, Ayaka mendesak yang lain untuk kembali belajar. Melihat Ayaka yang panik dengan wajah merah, Saki tersenyum kecil.


“Yah, karena tuan rumah bilang begitu, kita harus patuh.”


“Betul. Tapi wajah Toujou-san pas lagi malu damage-nya bukan main, ya. Bener nggak, Haru?”


Sambil mengangguk menyutujui ucapan Saki, Tomoya menepuk punggung Haruto sambil memuji keimutan Ayaka.


Haruto membalas singkat, “Ya,” sambil berusaha menjaga ketenangannya, mencoba meredakan detak jantungnya yang rusuh akibat insiden permainan Hocky tadi.


Permainan raja-rajaan telah diakhiri oleh otoritas Ayaka selaku pemilik kamar. Shizuku mengambil sebatang Hocky, menggigitnya hingga berbunyi ‘krek’, lalu berkata,


“Sayang banget sih kita nggak bisa lihat Permainan Hocky, tapi berhubung aku sudah cukup puas main-main dengan Aya-senpai, ya sudahlah.”


“Aku ini bukan mainanmu, Shizuku-chan!!”


Protes Ayaka disambut oleh tawa yang lain, dan setelah itu, kelompok belajar mereka kembali berlanjut dengan meriah.


Setelah beristirahat, Haruto dan yang lainnya kembali belajar sambil sesekali mengobrol, saling mengajari, dan makan camilan. Ketika langit di luar jendela perlahan mulai memancarkan rona jingga senja, Tomoya yang sedari tadi menunduk menghadap buku catatan mengangkat wajahnya dan melihat jam dinding.


“Walah? Sudah jam segini?”


Mendengar itu, Saki pun menyudahi belajar matematikanya dan menatap ke luar jendela.


“Betul juga. Rasanya waktu cepat banget berlalu kalau belajar bareng begini.”


“Bagaimana kalau kita pulang sekarang?”


Shizuku yang sedang mengunyah camilan cokelat mengirim isyarat pada Tomoya dan Saki.


“Ya, kalau kelamaan di sini nanti merepotkan.”


“Kalau begitu, mari kita sudahi belajar barengnya.”


Saki mengangkat kedua tangannya ke atas dan merenggangkan tubuhnya panjang-panjang, “Hnngg.”


Tomoya menepuk bahu Haruto sambil membereskan peralatan belajarnya.


“Makasih ya, Haru. Berkat ajaranmu, kali ini aku pasti aman dari nilai merah.”


“Padahal kalau kamu rajin belajar tiap hari, harusnya kamu gampang dapat nilai bagus. Sayang banget.”


Tomoya memang selalu berada di ambang nilai merah dengan hasil tes yang pas-pasan, tapi mengingat betapa cerdas dan tangkas otaknya, ia sebenarnya menyimpan potensi yang cukup untuk menempati ranking atas jika mau belajar sungguh-sungguh.


Namun, berhubung Tomoya sendiri tidak menganggap nilai di sekolah sebagai sesuatu yang penting, ia jadi jarang belajar dengan rajin.


“Asal nggak perlu ikut kelas tambahan saja, aku sudah puas, kok. Masa SMA itu terbatas, aku nggak punya waktu luang cuma buat mikirin belajar.”


Haruto hanya bisa tersenyum pahit mendengar perkataan Tomoya yang sama sekali tak sejalan dengan prinsip bahwa kewajiban utama siswa adalah belajar. Saat itu, Shizuku yang sudah selesai berkemas memakai ranselnya sambil berseru, “Hap.”


“Baiklah, Aya-senpai, terima kasih sudah mengizinkan kami memakai kamarmu.”


“Iya, aku juga senang bisa belajar bareng kalian.”


“Meski sayang banget sih nggak bisa lihat Permainan Hocky bareng Haru-senpai.”


“I-Itu nggak usah dibahas lagi, ‘kan!”


Teringat kembali kejadian tadi, pipi Ayaka kembali merona merah.


Setelah puas melihat reaksi Ayaka, Shizuku mengalihkan pandangannya pada Haruto.


“Ngomong-ngomong, Haru-senpai. Neneknya Senpai juga ada di rumah ini, ‘kan?”


“Iya, kurasa sekarang sedang mempersiapkan makan malam di dapur.”


“Kalau tidak mengganggu, aku ingin menyapa beliau sekalian, sudah lama juga.”


“Ah, aku juga!”


Saat Shizuku berkata ingin menyapa nenek Haruto, Tomoya pun ikut mengangkat tangan.


“Aku sih nggak masalah, Nenek juga pasti senang, tapi...” Haruto menoleh ke arah Ayaka.


Menangkap tatapan Haruto, Ayaka mengangguk, menyiratkan bahwa ‘tidak apa-apa’.


“Kalau begitu, mari ke ruang keluarga,” ucap Ayaka sambil memimpin menuju ruang keluarga.


Saat Haruto dan yang lainnya masuk ke ruang keluarga, Ikue yang sedang melakukan pekerjaan di laptopnya pada meja rendah di depan TV menyapa mereka.


“Ara, belajarnya sudah selesai?”


“Iya. Mama Ikue, maaf kami ganggu.”


Saki membalas sapaan Ikue dengan senyuman, lalu Tomoya dan Shizuku juga ikut menunduk sambil mengucapkan, “Maaf mengganggu.”


“Ufufu, kapan-kapan main lagi, ya.”


Ikue membalas senyuman Saki dan yang lainnya. Saat itu, Ryota yang tadinya berada di dapur berlari menghampiri Haruto.


“Onii-chan, belajarnya sudah selesai?”


“Iya, sudah selesai. Ryota-kun lagi ngapain?”


“Aku habis bantu-bantu Nenek, loh!”


Menjawab pertanyaan Haruto, Ryota membusungkan dadanya seolah berkata ‘Baguslah Onii-chan bertanya!’.


Dari belakang Ryota, nenek Haruto, Kiyoko, muncul.


“Ara, Shizuku-chan dan Tomoya-kun, selamat sore.”


“Selamat sore. Sudah lama tidak bersua, Nenek Kiyoko.”


Shizuku menunduk hormat, diikuti oleh Tomoya yang menyapa Kiyoko dengan senyum ceria.


“Selamat sore. Waktu Nenek pingsan karena sengatan panas dulu aku sempat kaget, tapi syukurlah Nenek kelihatan sehat sekarang. Bagaimana keadaan pinggang Nenek belakangan ini?”


“Terima kasih, ya. Waktu Nenek keluar dari rumah sakit, kalian juga sudah banyak membantu. Sekarang karena Ryota-kun banyak bantu-bantu Nenek, pinggang Nenek jadi lebih enakan, Nenek sangat terbantu.”


Kiyoko menyipitkan matanya dengan senang menanggapi perhatian Tomoya, lalu mengelus kepala Ryota yang memasang ekspresi bangga.


Saat kepalanya dielus Kiyoko, Ryota membusungkan dada sambil bergumam bangga, “Heheh.” Saat itu, Saki melangkah maju dan menyapa Kiyoko.


“Salam kenal. Saya teman sekelas Ootsuki-kun, Aizawa Saki.”


“Wah, wah, sopannya, saya Kiyoko, neneknya Haruto.”


Setelah saling menunduk, Saki berjongkok untuk menyetarakan pandangannya dengan Ryota.


“Ryota-kun, tadi kamu bantu-bantu apa?”


Mendengar pertanyaan Saki, Ryota berlari mengambil selembar kertas yang ditempel dengan magnet di kulkas.


“Ini!”


Ucap Ryota dengan penuh semangat sambil menunjuk satu bagian dari kertas yang ia bawa.


Di kertas itu tertulis besar-besar judul ‘Tabel Uang Saku Membantu Pekerjaan Rumah’, dan di bagian yang ia tunjuk tertulis, Cuci piring... 50 yen.


“Aku mau banyak bantu-bantu supaya bisa kumpulin banyak uang!”


“Heeh, kenapa Ryota-kun mau kumpulin banyak uang?”


Mendengar Saki bertanya sambil tersenyum geli, Ryota tersenyum lebar.


“Buat Onee-chan dan Onii-chan! Tunggu sebentar!!”


Ryota segera berlari keluar dari ruang keluarga untuk mengambil sesuatu. Melihat tingkah adiknya, Ayaka tiba-tiba menyadari sesuatu dan buru-buru mencoba menghentikannya.


“Eh! Tunggu, Ryota! Tunggu dulu!”


Namun, pencegahan sang kakak sudah terlambat. Ryota kembali ke ruang keluarga sambil memeluk erat sebuah kotak di dadanya seolah itu adalah benda yang sangat berharga.


“Hm? Apa itu, Ryota-kun?”


Ketika Shizuku menatap benda yang dipeluk Ryota, bocah itu langsung mulai menjelaskan.


“Ini adalah Celengan Pesta Pernikahan buat Onee-chan dan Onii-chan!”


“Onee-chan dan Onii-chan nggak bisa nikah karena mereka nggak punya uang! Makanya, aku juga ikut bantu kumpulin uang supaya Onii-chan bisa cepat jadi keluarga beneran!”


Melihat sosok Ryota yang dengan tulus mendambakan pernikahan Ayaka dan Haruto, Tomoya memasang ekspresi kagum.


“Membuat anak sekecil ini punya tekad sebesar itu...”


Tomoya menatap Haruto dengan ekspresi sangat serius.


“Haru, serahkan pidato perwakilan teman padaku.”


“Tidak, tunggu, ini tuh...”


“Melihat mata Ryota-kun yang seperti ini, apa kau tega bilang ini candaan, Haru-san?”


“Ugh...”


“Haru-senpai, serahkan pertunjukan bakat di after-party kepadaku.”


Menyusul Tomoya, Shizuku juga mengacungkan jempolnya, yang membuat Haruto tak bisa berkata-kata lagi. Saki pun melihat ke arah ‘Celengan Pesta Pernikahan’ milik Ryota dan menatap Ayaka dengan senyum jahil.


“Ayaka, pas acara lempar buket bunga, lempar ke arahku, ya.”


“Uuuh, Ryotaaa...”


Ayaka menutupi wajahnya yang memerah padam dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba Ikue datang dengan senyum lembut.


“Ini Ryota, kamu hebat karena hari ini juga sudah rajin bantu-bantu.”


Sambil berkata demikian, Ikue memasukkan koin lima puluh yen ke dalam ‘Celengan Pesta Pernikahan’ yang dipeluk erat oleh Ryota.


“Terima kasih, Ibu!”


Ryota berterima kasih dengan gembira sambil menggoyangkan celengannya, membuat suara gemerincing dari koin yang sudah terkumpul di dalamnya terdengar berisik.


Suara itu terdengar begitu nyaring di telinga Haruto.


Menggunakan ‘Celengan Pesta Pernikahan’ Ryota sebagai bahan, Tomoya dan yang lainnya terus-terusan merecoki Haruto dan Ayaka sampai akhirnya mereka pulang. Setelah itu, karena masih ada waktu sampai makan malam siap, Haruto kembali ke kamar Ayaka untuk belajar.


“Haaah, malu banget...”


Begitu sampai di kamar, Ayaka langsung menjatuhkan diri di atas meja dan menghela napas panjang.


“Celengan Ryota-kun sepertinya bakal terus jadi bahan untuk menggoda kita, ya.”


“Pasti bakal digoda habis-habisan sama Shizuku-chan.”


“Ahaha...”


Karena hal itu sudah pasti, Haruto hanya bisa tertawa hambar.


“Habisnya, Shizuku-chan selalu saja begitu. Saki dan Akagi-kun juga ikut-ikutan ngeledek...”


Mengenai ‘Celengan Pesta Pernikahan’ Ryota, bahkan Saki yang biasanya kalem pun tak tahan untuk tidak merecokinya, dan ikut-ikutan tersenyum geli bersama Tomoya.


Mungkin karena teringat kejadian itu, pipi Ayaka menggembung lucu, lalu pandangannya jatuh pada camilan yang masih tersisa di atas meja.


Tepat di arah pandangannya, terdapat sekotak Hocky.


“Soal celengan Ryota juga, tapi Permainan Hocky tadi juga idenya Shizuku-chan. Mana bisa aku melakukan hal seperti itu di depan semua orang... Iya kan, Haruto-kun?”


“...Memang, sih. Kalaupun kita benar-benar melakukannya, pasti bakal jadi bahan ledekan lagi.”


“Nah, ‘kan...”


Setuju dengan ucapan Haruto, Ayaka terdiam sejenak sambil menatap kotak Hocky tersebut. Tak lama, ia perlahan mengangkat tubuhnya yang sedari tadi bersandar di meja, dan perlahan mengulurkan tangannya pada Hocky.


“Tapi... apa sepasang kekasih memang wajar melakukan permainan semacam itu... ya?”


“Eh? Ah, kurasa itu cuma karangan Shizuku saja.”


“Tapi... kurasa ucapan Shizuku-chan juga ada benarnya.”


Ayaka lalu berdiri, berjalan ke rak buku di dekat dinding, dan kembali ke sebelah Haruto sambil membawa sebuah manga.


“Lihat ini Haruto-kun, coba baca bagian ini.”


Haruto mengecek judul manga yang dibawa Ayaka, dan wajahnya sedikit menegang.


“Ore-sama Kareshi ga Watashi o Sukisugite Komattemasu (Pacarku yang Arogan Terlalu Menyukaiku Sampai Bikin Aku Kewalahan)...?”


“Iya! Disingkat Oresuki! Manga ini seru banget dan sangat populer, loh!”


Melihat mata Ayaka yang berbinar, Haruto menjerit dalam hati.


‘Jadi ini biang keladi yang merusak standar “kewajaran pacaran” Ayakaaaaa!!’


Menghadapi sumber dari segala beban jantungnya selama latihan pacaran, Haruto dengan saksama membaca isi manga shoujo tersebut.


Adegan yang ditunjukkan Ayaka menampilkan seorang anak laki-laki dengan penampilan agak urakan yang memaksa seorang gadis pendiam untuk melakukan permainan tersebut. Menghadapi anak laki-laki yang agak agresif itu, si gadis tampak kalang kabut, tetapi karena ia juga menaruh hati pada anak laki-laki tersebut, ia digambarkan seolah tak sepenuhnya menolak.


“Ini, tuh...”


“Iya, ‘kan!”


“Mereka berdua pacaran?”


“Bukan, di adegan ini mereka belum pacaran!”


Ayaka menjawab pertanyaan Haruto dengan mata yang masih berbinar.


“...Belum pacaran, ya.”


“Iya. Tapi kalau dipikir sebaliknya, kalau mereka yang belum pacaran saja melakukan permainan ini, berarti kalau sudah jadian, ini adalah hal yang sangat wajar, ‘kan?”


“Iya... sih...”


Terdesak oleh antusiasme Ayaka, Haruto akhirnya mengangguk pasrah.


Haruto sampai merinding menyadari betapa besarnya pengaruh sebuah manga shoujo populer terhadap pandangan romansa seorang gadis.


Karena Saki dan yang lainnya sudah pulang, rasa malu Ayaka pun memudar. Ia segera menggigit ujung sebatang Hocky dan menatap ke arah Haruto, bersiap untuk bermain.


“Ayo, Haruto-kun.”


Ayaka sedikit mendongakkan wajahnya, menyamakan tinggi ujung Hocky dengan posisi mulut Haruto. Menyadari bahwa entah bagaimana situasinya mengalir menuju Permainan Hocky, Haruto merasakan detak jantungnya mulai berpacu lebih cepat.


Melihat keagresifan Ayaka, Haruto jadi sedikit teringat kembali pada masa-masa latihan pacaran mereka di libur musim panas. Saat itu pun, Ayaka sangat agresif melontarkan kata-kata romantis atau menawarkan pangkuannya dengan santai.


Jika murid-murid di sekolah tahu bahwa Idol Sekolah mereka, Toujou Ayaka, sebenarnya gadis yang cukup agresif, entah tampang macam apa yang akan mereka tunjukkan.


Membayangkan hal itu membuat Haruto merasa geli, dan senyum kecil terbentuk di bibirnya.


“Ada apa, Haruto-kun?”


Ayaka memiringkan kepalanya dengan heran, sementara Hocky masih tergigit di mulutnya.


Haruto menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


“Tidak. Bukan apa-apa.”


Setelah menjawab, Haruto perlahan menggigit ujung Hocky yang terjulur dari mulut Ayaka.


“...Rasanya memalukan juga, ya.”


“Iya. Jaraknya lebih dekat dari yang kubayangkan.” 


Sambil menggigit kedua ujung Hocky, keduanya merona merah menyadari betapa dekatnya wajah mereka.


“K-Kalau begitu... kita mulai makan pas hitungan ‘mulai’, ya? Siap? Bersedia... mulai.”


Atas aba-aba Ayaka, Haruto perlahan mulai memakan Hocky-nya dari ujung.


Di seberangnya, Ayaka juga menggigit kecil-kecil sambil mengawasi gerakan Haruto.


Saat pertama kali menggigit ujung Hocky, Haruto sudah merasa jaraknya dengan Ayaka sangat dekat, tetapi seiring dengan patahan Hocky yang terus mereka makan, jarak itu kian menipis.


Hingga akhirnya mereka sampai pada jarak yang terlalu memalukan untuk saling tatap, dan Haruto perlahan memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian, di tengah kunyahannya, ia merasakan sentuhan lembut nan memikat di bibirnya.


Haruto menarik wajahnya sedikit ke belakang dan membuka kelopak matanya.


Tepat di depan pandangannya, tampak Ayaka yang tersenyum tersipu malu memenuhi seluruh jarak pandangnya.


“...Kita jadi ciuman beneran, ya.”


“Iya.”


Sambil berkata demikian, keduanya perlahan mengunyah sisa Hocky di mulut mereka.


“Ngomong-ngomong, bagaimana cara menentukan menang atau kalah di permainan ini?”


“Seingatku, yang melepaskan gigitannya dari Hocky sebelum ciuman, dia yang kalah, ‘kan?”


“Lalu kalau sampai ciuman?”


“Hmm... mungkin yang makannya lebih banyak, dia yang menang...?”


Menanggapi pertanyaan Ayaka, Haruto ikut memiringkan kepala dan menjawab dengan sedikit ragu.


Pada dasarnya, permainan ini adalah semacam adu nyali di mana para pemain menikmati sensasi berdebar dari potensi ciuman. Karena itu, jika dimainkan oleh sepasang kekasih yang tak keberatan untuk berciuman, permainan ini pada akhirnya hanya menjadi ajang bermesraan.


“Yang tadi, kira-kira siapa yang makan lebih banyak, aku atau Haruto-kun?”


“Entahlah? Di akhir aku memejamkan mata, jadi aku nggak begitu yakin.”


“Aku juga.”


Ayaka tertawa, lalu mengeluarkan sebatang Hocky lagi dan menatap Haruto.


“Mau main sekali lagi?”


“Boleh. Aturannya, yang makan Hocky lebih banyak yang menang, ‘kan.”


“Iya.”


Mereka berdua yang memang sudah pasti akan berciuman, menciptakan kriteria kemenangan yang berbeda dari permainan aslinya.


Haruto dan Ayaka kembali saling menggigit kedua ujung Hocky.


“Aku mulai, ya?”


Kali ini Haruto yang memberikan aba-aba.


“Bersedia... mulai.”


Tepat saat mengucapkan aba-aba, Haruto berniat makan lebih cepat dari sebelumnya. Namun, tiba-tiba suara manis Ayaka terdengar di telinganya.


“Haruto-kun, aku sayang kamu.”


“Eh!?”


Sama sekali tak menyangka serangan mendadak itu, Haruto merasakan jantungnya berdegup kencang, dan gerakan mulutnya terhenti. Memanfaatkan celah itu, Ayaka melahap Hocky dengan cepat ke arahnya.


Melihat Ayaka yang semakin mendekat, Haruto buru-buru tersadar dan langsung memakan Hocky-nya. Namun, keterlambatannya di awal tak bisa dikejar, dan pada akhirnya ciuman terjadi di titik yang jauh lebih dekat ke arah Haruto daripada di tengah.


Berhasil mengumpulkan lebih banyak Hocky di mulutnya daripada Haruto, Ayaka tersenyum puas karena strateginya berhasil. Melihat Ayaka mengunyah Hocky perlahan seolah menikmati sisa kemenangan, jiwa tak mau kalah di dalam diri Haruto mulai mendidih.


Haruto pun teringat kembali ke masa lalu.


Saat pertama kali menonton film berdua dengan Ayaka, ia kalah telak ketika mencoba menggandeng tangan gadis itu.


Saat latihan pacaran pun ia selalu dibuat tak berkutik oleh keagresifan Ayaka, dan ia juga kalah saat adu kembang api di acara barbeque. Bahkan saat main tebak rasa es serut di festival rumahan mereka, meskipun ia memenangkan permainannya, kendali sepenuhnya tetap berada di tangan Ayaka.


Sudah saatnya membuat gadis ini tak berkutik.


Saat pikiran itu muncul, Haruto tiba-tiba teringat pada adegan manga shoujo yang baru saja ia lihat. Anak laki-laki di manga itu mendesak heroine dengan sangat agresif. Bahkan bisa dibilang agak memaksa.


Jangan-jangan, Ayaka juga mendambakan hal seperti itu? Berpikir demikian, Haruto menatap lurus ke arah Ayaka yang masih dengan santai mengunyah Hocky.


Lalu, ia tiba-tiba menjulurkan tangannya dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


“Fweh?”


Terkejut oleh tindakan tiba-tiba Haruto, mata Ayaka membelalak lebar, dan suara kaget meluncur dari mulutnya.


Tepat pada saat itu, Haruto menekankan bibirnya ke bibir Ayaka.


“Uhm.”


Kejutan beruntun itu membuat mulut Ayaka sedikit terbuka. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Haruto merampas habis sisa Hocky yang ada di dalam mulut Ayaka.


“Mmhh.”


Mata Ayaka membelalak kebingungan melihat serangkaian aksi Haruto.


Melihat reaksi Ayaka, Haruto merasa puas dan menelan Hocky yang berhasil ia curi.


“Pertandingan kali ini aku yang menang, ya.”


Haruto menyatakan kemenangannya. Mendengar hal itu, Ayaka yang masih menatapnya dengan pipi memerah dan mata berkaca-kaca akibat ciuman mendadak tadi, tersentak sadar.


“...Cu-Curang!! Yang tadi itu pelanggaran!”


“Nggak ada aturan yang melarang kita merebut Hocky lawan, ‘kan?”


“Muuu! Ayo main sekali lagi!”


“Boleh saja.”


Haruto mengangguk santai sambil tersenyum melihat Ayaka yang merajuk menantangnya.


Lalu, mereka pun menggigit Hocky untuk ketiga kalinya.


Haruto memberikan aba-aba.


“Siap? Bersedia... mulai!”


Bersamaan dengan aba-aba, Haruto dan Ayaka langsung melahap Hocky dengan cepat.


Ayaka tidak mungkin menggunakan trik yang sama dua kali, jadi ia murni memakannya secepat mungkin. Namun, ukuran gigitan Haruto jauh lebih besar, sehingga sebagian besar Hocky itu akhirnya dimakan olehnya.


“Fufu.”


Sambil mengunyah Hocky kemenangannya yang lebih banyak dari milik Ayaka, Haruto tampak menikmati momen tersebut.


Namun tiba-tiba, Ayaka mengulurkan kedua tangannya dan menangkup pipi Haruto yang tengah tersenyum puas. Ia lalu menarik wajah Haruto mendekat, dan menempelkan bibirnya dengan bibir Haruto, mencoba merebut kembali Hocky dari dalam mulutnya. Akan tetapi, Haruto menutup rapat bibirnya, menghalangi invasi Ayaka dan mempertahankan Hocky-nya mati-matian.


“Mu! Muuu!”


Ayaka mencoba merebut Hocky itu dengan menyentuhkan bibirnya berkali-kali, namun bibir Haruto tetap terkatup rapat. Ayaka lalu melepaskan telapak tangannya dari pipi Haruto, menyusupkan lengannya di bawah ketiak pemuda itu, dan memeluknya erat-erat.


“Haruto-kun jahat...”


Suara Ayaka terdengar sedih dan sangat murung.


Melihat reaksi itu, Haruto jadi agak panik.


“Ka-Kamu nggak perlu semurung itu...”


“Ada celah!!”


“Fuguh.”


Haruto bermaksud untuk menghiburnya, namun mulutnya baru saja terbuka.


Tak melewatkan satu detik celah itu, Ayaka dengan sigap merapatkan bibirnya dan merampas Hocky dari dalam mulut Haruto melalui ciuman yang panas.


“Mufufufu.”


Sangat bahagia karena strateginya berhasil, Ayaka memakan Hocky hasil curiannya dengan lahap.


Setelah menelan Hocky itu, ia tersenyum lebar hingga sudut bibirnya terangkat tinggi.


“Barusan aku yang menang, ya.”


“Tunggu, yang barusan, ‘kan...”


“Kan nggak ada aturan yang melarang merebut Hocky lawan.”


Ayaka membalas dengan kalimat yang digunakan Haruto sebelumnya.


Mendengar ucapan itu, Haruto hanya bisa tersenyum pahit, membatin ‘Ah, aku nggak bakal pernah bisa menang darinya’, sambil mengambil satu batang Hocky lagi.


“Kalau begitu, mari kita bertanding sekali lagi.”


“Uhm, boleh.”


Setelah itu, mereka berdua terus memainkan Permainan Hocky dengan aturan yang sudah sangat melenceng dari permainan aslinya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close