Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 6
Yang Dijadikan Hadiah Ujian
Sepulang dari tempat karaoke.
Matahari sore membuat bayangan keduanya memanjang, lebih panjang dibanding saat libur musim panas lalu. Haruto dan Ayaka berjalan sebelahan dengan santai menuju rumah.
“Karaokenya seru, ya.”
“Iya. Nyanyian Ayaka tadi bagus banget, loh.”
Haruto mengangguk setuju dan memujinya. Mendengar itu, rona merah tipis menjalar di pipi Ayaka saat disertai tawa malu, “Ehehe.”
Meskipun sempat ada kejadian Ayaka keceplosan hingga rahasia mereka bermain Hocky berdua terbongkar, dan detailnya dikorek habis oleh Saki dan Shizuku sampai mereka digoda habis-habisan, tetap saja, karaoke setelah sekian lama ini terasa sangat menyenangkan bagi Haruto.
“Haruto-kun juga kelihatan keren, kok. Aku nggak terlalu paham lagu enka sih, tapi menurutku suaramu bagus banget, aku jadi ingin dengar lagi.”
Ditatap dengan mata berbinar seperti itu, Haruto menunjukkan senyum yang sedikit malu-malu.
“Makasih. Lagu enka itu... dulu sering banget didengar mendiang Kakek.”
Haruto mengalihkan pandangannya ke langit senja yang berwarna jingga kemerahan, mulai bercerita seolah tengah mengenang masa lalu.
“Terus, kalau aku ikut nyanyi enka, Kakek selalu mendengarkan dengan raut wajah senang. Karena ingin bikin Kakek lebih senang lagi, aku pun sering dengerin dan berlatih nyanyi enka.”
“Selain manis, Haruto-kun juga anak yang berbakti, ya.”
“Hahaha, tapi itu cerita waktu aku masih kelas satu atau dua SD, loh.”
“Oh, gitu. Aku jadi pengin lihat deh Haruto-kun kecil yang nyanyi enka sungguh-sungguh demi bikin kakeknya senang.”
Ayaka berucap sambil ikut menatap langit senja seperti Haruto, lalu menggumam dengan senyum mengembang, “Pasti imut banget.”
Merasa malu dengan reaksi Ayaka, Haruto menggaruk kepalanya dengan sebelah tangan untuk menutupi salah tingkahnya, lalu mengalihkan pembicaraan.
“Ngomong-ngomong, hasil ujianmu di atas 80 semua, ‘kan?”
“Iya! Jangankan di atas 80, ini rekor nilai terbaikku selama ini, loh!”
Ayaka mengangguk dengan senyum semringah.
“Sampai rumah nanti aku mau pamer ke Mama, ah.”
Melihat Ayaka yang berjalan dengan langkah riang dan polos saking senangnya, perasaan hangat yang menyenangkan ikut merayap di hati Haruto.
“Terus, karena kamu berhasil mencapai target nilai di atas 80 di semua pelajaran, kamu mau hadiah apa dariku?”
“Nah, soal itu. Besok hari Sabtu, Haruto-kun ada urusan, nggak?”
“Besok? Nggak ada, sih.”
Dalam kesehariannya sekarang, ia menghabiskan hari Jumat dan Sabtu di kediaman Toujou. Karena itu, besok ia hanya berencana membantu neneknya, menemani Ryota bermain, dan belajar di sela-sela waktu luang.
Mendengar jawaban Haruto, Ayaka memberi jeda sejenak sebelum kembali bersuara.
“Kalau gitu, besok kita kencan, yuk?”
“Kencan?”
“Iya. Soalnya sejak kita jadian, kita belum pernah kencan sama sekali, ‘kan.”
“Ada benarnya.”
Haruto mengangguk membenarkan ucapan Ayaka.
Selama libur musim panas, mereka sudah melakukan banyak hal bersama, mulai dari kencan nonton film, pergi ke Taman Hutan Satwa, keliling kota mencari es krim edisi terbatas, sampai camping. Tapi, setelah resmi berpacaran, mereka memang belum pernah pergi kencan yang sesungguhnya sekalipun.
“Kalau begitu, besok kita kencan. Ayaka ada tempat yang pengin dituju?” tanya Haruto, yang langsung dibalas Ayaka dengan mengeluarkan ponselnya.
“Agak jauh sih, tapi dari dulu aku pengin banget ke sini. Gimana?” ucap Ayaka sambil menyodorkan layar ponselnya ke Haruto.
Di layar itu, terpampang website sebuah taman hiburan bertema laut yang dilengkapi dengan akuarium dan berbagai wahana permainan.
“Ah, tempat ini, ya. Kalau di sini sih emang bisa puas main seharian.”
“Haruto-kun sepakat?”
“Iya. Berarti besok kita kencan di akuarium, ya.”
“Ya!! Nggak sabar, deh!”
Senyum Ayaka yang begitu lebar dan semringah membuat sudut bibir Haruto ikut terangkat. Setelah itu, di sepanjang perjalanan mereka berdua terus membicarakan rencana kencan besok sampai tiba di depan pintu rumah keluarga Toujou.
Begitu Haruto dan Ayaka sampai dan mengucapkan “Kami pulang” saat masuk ke ruang tam, tampak Kiyoko dan Ryota tengah asyik bermain Othello.
Kiyoko, yang sedari tadi menatap Ryota yang sedang cemberut memelototi papan permainan dengan tatapan lembut, kini beralih menatap Haruto dan Ayaka.
“Selamat datang, Haruto. Ayaka-san juga, selamat datang.”
“Aku pulang, Nek.”
“Kiyoko-san, aku pulang.”
Keduanya membalas sapaan itu secara bergantian.
Haruto menghampiri Ryota yang masih memasang wajah tegang sambil menggumam, “Hmm....”
“Gimana Ryota-kun, kira-kira bisa menang?”
“Onii-chan, lihat, deh. Aku tuh pengin taruh pion putih di sini, tapi nanti Nenek bisa ambil ujungnya. Tapi kalau aku taruh di sebelah sini, pion hitam yang bisa dibalik cuma satu....”
Sambil tetap memasang wajah serius, Ryota menjelaskan situasi pertarungannya kepada Haruto yang mengamati papan dari belakang.
“Begitu, ya. Berarti penentuan menang kalahnya, nih.”
Haruto ikut memasang ekspresi serius dan mengangguk, memahami dilema Ryota. Tiba-tiba, Ayaka membuka mulut berniat memberi saran kepada adiknya.
“Ryota, kalau gitu taruh aja di—“
“Aaah!! Onee-chan, jangan kasih tahu!”
Sebelum Ayaka menyelesaikan kalimatnya, Ryota berseru keras memotong ucapannya.
“Dikasih contekan itu curang! Ini pertarungan serius antara aku dan Nenek! Onee-chan nggak boleh kasih petunjuk!!”
“O-Oh, gitu ya. Maaf, maaf.”
Melihat wajah serius adiknya, Ayaka buru-buru menarik kembali tangannya yang hampir menunjuk papan Othello. Melihat interaksi kakak beradik Toujou itu, Kiyoko tersenyum simpul.
“Ryota-kun ini anaknya memang sangat baik, ya.”
“Aku mau bertarung dengan jujur dan ngalahin Nenek,” ucap Ryota, sebelum kembali mengerang, “Hmm....” dengan raut serius.
Haruto dan Ayaka mengawasi Ryota yang sedang berpikir keras dengan tenang. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, bocah itu akhirnya meletakkan pion penentuannya. Permainan berlangsung sengit hingga akhir, dan Ryota keluar sebagai pemenang dengan selisih dua pion.
“Asyik!! Aku menaang!!”
Ryota mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, bersorak kegirangan.
“Wah, Nenek kalah. Ryota-kun hebat, ya.”
“Ehehe.”
Dipuji oleh Kiyoko, Ryota tersipu malu. Melihat senyum malu-malu itu, Haruto menyadari kalau senyuman Ryota persis seperti senyum Ayaka saat ia memuji nyanyiannya di jalan pulang tadi.
‘Mereka memang benar-benar kakak beradik, ya,’ batin Haruto takjub.
Tak lama kemudian, Kiyoko melihat jam dinding dan berdiri sambil bergumam pelan, “Baiklah.”
“Sudah waktunya Nenek menyiapkan makan malam.”
“Ah, kalau gitu biar kubantu. Menu makan malam hari ini apa, Nek?”
“Tadi di supermarket terong lagi murah, jadi malam ini kita makan Mapo Terong.”
“Wah, aku nggak sabar makan Mapo Terongnya Kiyoko-san!”
Wajah Ayaka langsung berseri-seri mendengar menu malam ini.
“Bahan-bahannya sudah disiapkan, jadi masaknya cuma sebentar. Haruto, bisa tolong buatkan supnya?”
“Oke,” ucap Haruto sambil berjalan menuju dapur mengikuti neneknya.
Menggantikan Kiyoko yang kini sibuk memasak, giliran Ayaka yang menemani Ryota.
“Oke, sekarang Onee-chan yang bakal jadi lawan main Othello-mu.”
“Boleh. Aku juga nggak bakal kalah sama Onee-chan.”
“Aku juga nggak bakal kalah, loh.”
Sambil mendengarkan celotehan kakak beradik itu, Haruto berdiri di sebelah neneknya di dapur.
“Nek, lauknya kan Mapo Terong, bagaimana kalau supnya kaldu ayam ala Tiongkok aja?”
“Iya, boleh. Sekalian bisa tolong buatkan salad juga?” tanya Kiyoko sambil meletakkan wajan di atas kompor.
“Bisa. Kalau nggak salah di kulkas masih ada okra sama tauge, ‘kan? Aku bikin salad ala Tiongkok dari itu aja.”
Haruto berbicara sambil mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas. Setelah menghabiskan masa libur musim panasnya dengan kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga di kediaman Toujou, dapur ini sudah tak asing lagi bagi Haruto. Ia bahkan sudah hafal letak bahan makanan, bumbu, alat masak, dan piring-piring layaknya di rumah sendiri.
Bersama Kiyoko, Haruto dengan cekatan menyiapkan makan malam.
Tepat saat aroma sedap Mapo Terong mulai menguar dari dapur, muncul Shuuichi dan Ikue yang sama-sama habis pulang kerja.
“Kami pulang. Mmm, wanginya sangat enak.”
“Kami pulang. Wah, hari ini menunya Mapo Terong, ya. Sepertinya sangat lezat.”
Pasangan Toujou itu langsung tersenyum lebar mencium aroma makan malam yang menggiurkan.
“Selamat datang. Makanannya hampir matang, kok.”
Kiyoko menunduk sopan menyambut mereka. Mendengar itu, Ryota segera menghentikan permainan Othello-nya bersama Ayaka dan berlari menuju dapur.
“Ibu, Ayah, selamat datang! Nenek! Aku mau bantu bawa piringnya ke meja!”
“Terima kasih Ryota-kun, Nenek sangat terbantu. Kalau begitu, bisa tolong bawakan piring-piring yang ini?”
“Okee!”
Ryota menerima tumpukan piring dari Kiyoko lalu menatanya di atas meja makan. Tak lama berselang, Shuuichi dan Ikue yang sudah bersalin kembali ke ruang makan. Mereka semua duduk mengelilingi meja dan mulai menyantap makan malam.
“Wah, Kiyoko-san. Masakan hari ini juga sangat enak.”
“Terima kasih banyak.”
Kiyoko tersenyum dan sedikit menunduk menanggapi pujian Shuuichi yang tampak sangat menikmati makanannya.
“Onii-chan, sup ini juga enak, loh!”
“Terima kasih, Ryota-kun. Coba cicipi salad ini juga.”
“Ya!”
Haruto mengambilkan salad ke piring Ryota. Bocah itu menyuapkan salad tersebut ke mulutnya dengan gembira, lalu tersenyum lebar, “Enak!”
Seperti biasa, meja makan keluarga Toujou dipenuhi dengan kehangatan dan canda tawa. Di tengah suasana itu, Ayaka berbicara kepada Ikue tentang rencananya besok.
“Mama, besok aku mau pergi kencan sama Haruto-kun.”
“Ara, begitukah? Bagus, dong. Rencananya mau ke mana?”
Ikue tersenyum manis mendengar laporan putrinya, lalu menatap bergantian ke arah Ayaka dan Haruto. Mendapat isyarat itu, Haruto menjelaskan tentang taman hiburan yang diusulkan Ayaka saat perjalanan pulang tadi.
“Karena tempatnya lumayan jauh, saya dan Ayaka-san berencana untuk berangkat pagi-pagi buta.”
“Wah, bagus, tuh! Dulu, waktu aku dan Shuuichi-san masih pacaran, kami juga pernah kencan ke sana, loh.”
“Hee, Mama dan Papa pernah kencan ke sana juga?” Ayaka tampak tertarik dengan cerita ibunya.
“Sudah sekitar 20 tahun, sih. Orang ini, padahal nggak bawa baju ganti, tapi malah nekat nonton pertunjukan lumba-lumba di barisan paling depan sampai basah kuyup. Malah ketawa-ketawa lagi.”
“Ahahaha, wah, aku juga ingat kejadian itu.”
Shuuichi tertawa terbahak-bahak, lalu menatap Haruto dan Ayaka dengan pandangan penuh nostalgia.
“Tapi, ya... menyadari kalau tempat kencan kita dulu sekarang jadi tempat kencan putri kita sendiri... rasanya cukup mengharukan,” ucapnya, lalu menolehkan seluruh badannya menghadap Haruto.
“Besok seharian, tolong jaga putriku baik-baik ya, Haruto-kun.”
“Baik.”
Melihat dua pria itu saling bertukar janji dan membungkuk hormat, Ayaka hanya bisa tersenyum pasrah. “Duh, Papa lebay banget, deh.”
Ayaka mengangkat bahu, memaklumi kelakuan ayahnya yang selalu berlebihan. Tiba-tiba Ryota bertanya dengan bingung.
“Onii-chan besok mau ke akuarium sama Onee-chan?”
“Iya. Ah... Ryota-kun mau ikut juga?”
Haruto mencoba peka dan menawarinya. Tapi di luar dugaan, Ryota menggeleng pelan.
“Nggak perlu, aku jaga rumah aja. Kan Onii-chan sama Onee-chan mau kencan buat menumbuhkan cinta, jadi aku nggak boleh ganggu.”
“M-Makasih ya, Ryota-kun.”
“Ya. Semangat kencannya, Onii-chan!”
Mendapat dukungan semangat dari Ryota, Haruto membalas dengan pose mengepalkan tangan penuh tekad, “O-Oke. Aku akan berjuang.”
※
Keesokan harinya, usai acara karaoke.
Merasakan sinar mentari pagi yang lembut mengintip dari balik tirai, Haruto perlahan membuka mata. Ia merasa sudah lumayan terbiasa dengan rutinitas menginap di rumah keluarga Toujou yang dimulai sejak libur musim panas usai.
Haruto bangkit, meregangkan tubuhnya panjang-panjang, turun dari ranjang, dan langsung melangkah keluar kamar.
Setelah cuci muka dan sikat gigi di wastafel lantai satu, ia kembali ke kamarnya untuk melakukan rutinitas hariannya: belajar di pagi buta.
Seluruh penghuni rumah keluarga Toujou masih tertidur pulas dalam keheningan. Hanya terdengar suara gemeresik pelan dari halaman buku referensi yang dibalik serta goresan pena di atas buku tulis yang menggema samar di dalam kamar.
Setalah satu jam berkonsentrasi, Haruto menghentikan gerak penanya dan kembali meregangkan otot.
“Hmm... sip. Sampai sini dulu aja.”
Setelah merapikan mejanya, ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Ternyata neneknya, Kiyoko, sudah ada di sana dan tengah menyiapkan sarapan untuk enam orang, termasuk porsi mereka berdua.
“Pagi, Nek.”
“Pagi, Haruto.”
Usai menyapa neneknya, Haruto berdiri di sebelahnya. Ia mengambil mentimun yang tergeletak di samping talenan dan memukulnya dengan sisi datar pisau untuk mememarkannya. Berbekal pengalaman memasak berdampingan dengan neneknya selama bertahun-tahun, Haruto sudah bisa menebak menu apa yang akan dibuat hanya dengan melihat deretan bahan dan bumbu di atas meja.
Ia mencampur mentimun yang sudah dimemarkan tadi dengan daging buah plum dan bumbu, memasukkannya ke dalam kantong plastik, lalu meremas-remasnya agar bumbu meresap.
“Nek, isian sup misonya hari ini apa?”
“Nenek rencananya mau bikin sup miso jamur nameko,” jawab Kiyoko sambil menumis sisa terong dari Mapo Terong semalam dengan minyak agak banyak.
“Kata Ikue-san, Ryota-kun suka banget loh sama sup miso nameko.”
“Baru tahu, tuh. Ryota-kun ternyata suka nameko, ya.”
Haruto pikir ia sudah cukup memahami selera makan seluruh anggota keluarga Toujou lewat pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga, tapi rupanya ia masih harus banyak belajar.
Sekadar informasi, Shuuichi menyukai hidangan berbumbu kuat yang cocok dijadikan teman minum, sedangkan Ikue menyukai hidangan bercita rasa asam dengan campuran cuka atau perasan lemon, serta hidangan sedikit pedas.
Sementara itu, Ayaka pada dasarnya akan menyantap apa pun dengan wajah berseri dan berseru ‘Enak!’, tapi dari keseluruhan, ia paling suka masakan rebusan yang dibumbui agak manis. Wajah bahagianya benar-benar tak ternilai.
“Kalau gitu, aku siapkan sup miso namekonya, ya.”
Saat Haruto bersiap membuat sup miso menggantikan Kiyoko yang sedang mengurus rebusan terong berbumbu, pintu ruang tamu bergeser dan sosok Ayaka muncul.
“Ah, selamat pagi Haruto-kun. Kiyoko-san juga, selamat pagi.”
“Selamat pagi, Ayaka-san.”
“Pagi, Ayaka. Tumben bangun cepat?”
Sapa Haruto yang tengah memegang panci berisi kaldu dashi yang sudah disiapkan sebelumnya. Ayaka membalas dengan sedikit tersipu.
“Iya. Anu... kalau boleh, mulai sekarang aku juga pengin ikut bantu-bantu masak. Rasanya nggak enak kalau terus-terusan membebankan urusan dapur ke Kiyoko-san...”
“Ya ampun, Ayaka-san, nggak usah repot-repot memikirkan itu.”
Kiyoko mengalihkan pandangannya dari masakan terong dan tersenyum hangat pada Ayaka.
“Bisa diizinkan bekerja di sini saja Nenek sudah sangat bersyukur. Jadi jangan sungkan, kamu santai-santai saja, ya.”
“A-Anu... sebenarnya, ada alasan lain kenapa aku pengin bantu masak....”
Ayaka menautkan kedua tangannya dengan gelisah, melirik sekilas ke arah Haruto, lalu dengan pipi merah merona ia melanjutkan kalimatnya.
“Aku juga pengin belajar masak seenak masakan Kiyoko-san.... Terus, suatu saat aku pengin Haruto-kun nyobain masakanku....”
Mendengar penuturan Ayaka yang tulus dan menggemaskan itu, mata Kiyoko seketika melebar karena haru.
“Walah, walah! Haruto! Kamu dengar itu, ‘kan?! Ayaka-san ini sungguh pacar yang luar biasa!!”
“N-Nek, tenang dulu. Jangan terlalu heboh, nanti dadanya sesak, loh.”
Haruto berusaha menenangkan neneknya yang mulai ngos-ngosan saking antusiasnya.
“Ayaka-san! Kalau alasannya seperti itu, dengan senang hati Nenek akan mengajarimu memasak!”
Kiyoko melangkah menghampiri Ayaka, menggenggam kedua tangannya, dan membungkuk, seolah-olah malah ia yang memohon.
Melihat itu, Ayaka langsung buru-buru ikut membungkuk.
“Mohon bimbingannya! Aku bakal berusaha sekuat tenaga biar masakanku bisa mirip masakan Kiyoko-san!”
Ayaka dan Kiyoko pun berjabat tangan dengan mantap. Setelahnya, mereka langsung bekerja sama membuat rebusan terong.
Kiyoko menjelaskan secara detail tentang tips-tips memasak dan takaran bumbu. Ayaka mendengarkannya dengan raut wajah serius sambil mengangguk berkali-kali, lalu mempraktikkannya langsung. Dengan begitu, ia mulai menyerap ilmu memasak dari Kiyoko.
Di sela-sela mengaduk sup miso nameko, Haruto curi-curi pandang ke arah Ayaka. Pada saat itu, tatapan Ayaka yang sebelumnya serius malah bertemu dengan pandangannya. Seketika, Ayaka memamerkan senyumnya yang begitu lembut.
“Tunggu saja, Haruto-kun. Kelak aku pasti akan menaklukkan perutmu.”
“...Aku akan menantikannya.”
Mendapat serangan mendadak lewat kalimat Ayaka, jantung Haruto berdetak kencang tak karuan. Ia memasak sup misonya sambil sebisa mungkin menahan ujung bibirnya yang terus-terusan ingin membentuk seringai lebar.
Sejak pagi buta sudah dibuat senam jantung oleh Ayaka, Haruto harus menarik napas panjang berkali-kali untuk menutupi gejolak di dadanya dan kembali fokus menyiapkan sarapan.
Tak berselang lama, penghuni lain mulai terbangun dan berkumpul di ruang tamu. Enam orang dari keluarga Toujou dan Ootsuki itu kini duduk mengelilingi meja makan. Shuuichi menyuapkan sepotong terong rebus ke mulutnya, lalu mengangguk puas.
“Sarapan enak pagi-pagi begini bikin energi langsung full, ya.”
Mendengar komentar itu, Kiyoko tersenyum simpul.
“Terong rebus itu, Ayaka-san ikut bantu bikin, loh.”
“Wah, masa sih?! Ayaka, ini enak banget, loh.”
“Makasih. Tapi aku cuma bantu dikit doang, kok. Sisanya dibikin Kiyoko-san semua.”
Ayaka membalas pujian ayahnya dengan tersipu malu. Melihat tingkah putrinya, Ikue tersenyum jahil.
“Belajar masak ke Kiyoko-san... jangan-jangan Ayaka berniat menaklukkan perut calon suaminya, ya?”
“I-Itu... kelak aku pasti bakal nikah, ‘kan... Kalau bisa masak, lebih baik, dong?”
Wajah Ayaka bersemu merah, tapi ia tetap membalas godaan ibunya. Ikue meredakan sedikit senyum jahilnya, berganti dengan tatapan lembut penuh kasih sayang.
“Iya, kamu benar. Masakan itu salah satu kunci penting keharmonisan rumah tangga. Benar nggak, sayang?”
“Begitulah. Yah, karena Ayah nggak jago masak, Ibu jadi lumayan repot ngurus ini itu.”
“Dulu waktu kamu sok-sokan bikin pasta tinta cumi-cumi, eh ternyata cuma spageti Neapolitan gosong. Aku sampai kaget waktu itu.”
“Ahahaha, benar juga. Pernah ada kejadian kayak gitu, ya.”
Mendengar cerita aib masa lalunya, Shuuichi hanya tertawa terbahak-bahak. Ayaka menatap ayahnya dengan raut putus asa.
“Papa... gagalnya kebangetan nggak, sih?”
“Habisnya gimana, dong? Di apartemen kita yang dulu kan kompornya pakai gas. Bagi laki-laki, memasak dengan api besar itu adalah romansa! Haruto-kun pasti paham sama perasaanku ini, ‘kan?”
Haruto yang tiba-tiba diminta persetujuan sempat kebingungan, namun ia buru-buru menutupinya dengan senyum ramah.
“Iya, sih. Kalau lihat video orang masak masakan Tiongkok pakai api gede emang kelihatan keren banget.”
“Nah! Itu dia! Wajan besi yang digoyang-goyang di tengah kobaran api! Bahan-bahan makanan yang berterbangan di udara! Itulah yang dinamakan romansa sejati seorang pria!!”
“Kobaran api sama wajan besi... padahal yang Papa bikin cuma Neapolitan....”
Ayaka kembali menghela napas panjang sambil pasrah, “Hadeh.”
Melihat interaksi ayah dan anak itu, Ikue tertawa kecil, “Ufufu,” lalu bertanya pada Kiyoko.
“Kiyoko-san. Kira-kira bakat masaknya Ayaka gimana, ya?”
“Ayaka-san ini cekatan dan tanggap, jadi menurutku pasti akan cepat mahir.”
Kiyoko menjawab dengan senyum merekah, ikut terhanyut dalam obrolan hangat keluarga Toujou.
“Syukurlah Ayaka. Berarti kamu nggak mewarisi bakat payah memasak Papamu.”
“Bukan karena Papa nggak bakat masak sih, tapi yang jadi masalah pas masak dia kebanyakan nuntut romansa-romansa aneh, ‘kan?”
“Ayaka, bagi pria memasukkan romansa ke dalam masakan itu hukumnya wajib, tahu?”
“Sifat Papa yang kayak gitu tuh yang jadi masalah.”
Haruto tak kuasa menahan kekehannya mendengar perdebatan Ayaka dan ayahnya. Ia melirik ke sebelahnya, melihat Ryota sedang meniup-niup pelan sup miso nameko miliknya agar cepat dingin.
“Ryota-kun suka banget sup miso nameko, ya.”
“Iya, aku suka!”
“Nggak ngerasa aneh sama teksturnya yang agak licin berlendir gitu?”
Haruto selama ini punya pandangan pribadi bahwa anak kecil kurang begitu menyukai jamur nameko. Tapi, menanggapi pertanyaannya, Ryota malah menyunggingkan senyum dengan gaya sok dewasa.
“Fufufu. Onii-chan, justru tekstur licin berlendirnya ini yang jadi daya tarik utama sup miso nameko.”
Jawaban Ryota yang terdengar seperti orang tua seketika menggelitik perut Haruto. Ia pun tertawa lepas.
“Hahaha, benar banget. Sup miso nameko emang kurang mantap kalau nggak licin berlendir.”
“Nah, itu Onii-chan, tahu.”
Ryota mengangguk-angguk seakan membenarkan, lalu setelah meniup-niup sup misonya beberapa kali, ia menyeruputnya dengan sangat lahap. Melihat senyum puas Ryota, hati Haruto ikut dipenuhi kebahagiaan.
Jamur nameko sebenarnya bisa diremas dengan garam untuk menghilangkan lendirnya. Tapi, kalau dilakukan, aromanya yang khas bisa ikut hilang. Karena itu, Haruto sengaja membuat sup miso tanpa membuang lendirnya. Kini, ia menepuk bahunya sendiri dalam hati, memuji keputusannya yang ternyata tepat.
Saat Haruto dan Ryota saling tersenyum sambil menggumam “Enak, ya” saat menikmati sup miso, Ikue bertanya pada Haruto dan Ayaka.
“Ngomong-ngomong, kalian berdua hari ini kira-kira pulang jam berapa? Malamnya makan di luar?”
“Tidak, sebelum jam makan malam kami udah di rumah, kok. Iya, ‘kan, Haruto-kun?”
“Iya, rencananya kami mau pulang sekitar sore hari.”
Hari ini, Haruto dan Ayaka punya jadwal kencan. Tempat yang akan mereka tuju adalah taman hiburan dengan akuarium dan wahana yang lumayan jauh dari kediaman Toujou. Tapi, karena mereka memastikan akan pulang sebelum jam makan malam, Kiyoko menganggukkan kepala.
“Kalau begitu, nanti malam Nenek akan siapkan makan malam untuk enam orang seperti biasa, ya.”
Setelah Kiyoko berucap, Shuuichi menatapnya dengan raut penuh penyesalan.
“Maaf, Kiyoko-san. Sepertinya hari ini kerjaan saya baru selesai larut, jadi tak perlu siapkan porsi untuk saya.”
“Ara, begitukah? Kalau begitu, mau saya sisihkan saja untuk nanti dipanaskan?”
“Tak usah, tak usah. Karena pulangnya tidak menentu, saya berniat makan di luar saja.”
“Begitu, ya... baiklah. Jadi untuk malam ini lima porsi saja, ya.”
“Maaf, ya.”
Melihat Shuuichi yang membungkuk minta maaf pada Kiyoko, Ayaka melirik ayahnya dengan raut cemas.
“Papa hari ini kerja lagi?”
“Iya, kebetulan ada proyek penting yang lagi di tahap krusial.”
Menangkap gurat kecemasan di mata putrinya lantaran belakangan ini ia sering pergi ke kantor di akhir pekan, Shuuichi mengukir senyum hangat.
“Kalau hari ini semuanya lancar, urusannya bakal selesai. Setelah itu, Papa bisa santai agak lama.”
“Gitu, ya... Semangat kerjanya, Papa.”
“Tentu saja, dong!”
Shuuichi mengepalkan sebelah tangannya untuk membalas ucapan Ayaka. Setelah percakapan itu, keenam anggota keluarga Toujou dan Ootsuki kembali melanjutkan sarapan mereka dengan ceria dan sesekali diselingi tawa riang.



Post a Comment