NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V5 Chapter 5

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 5

Sisi Tak Terduga

Libur musim panas di kelas dua SMA ini, kurasa adalah saat-saat dimana aku belajar paling giat dalam hidupku.


Aku belajar mati-matian, jauh lebih rajin dibandingkan libur musim panas yang sudah-sudah. Soalnya, kalau aku bisa dapat nilai 80 ke atas di semua mata pelajaran pada ujian rutin pasca-libur ini, Haruto-kun janji akan memberiku hadiah!


“Baiklah, hasil ujiannya akan segera dibagikan. Kalau namanya dipanggil, maju ke depan.”


Mendengar instruksi guru matematika itu, aku menggenggam tanganku erat-erat di bawah meja.


Kerja kerasku dalam belajar sejak libur musim panas demi mendapat hadiah dari Haruto-kun ternyata membuahkan hasil. Semua lembar ujian yang sudah dibagikan sejauh ini nilainya di atas 80.


Kalau nilai tes matematika ini juga di atas 80...


“Selanjutnya, Toujou.”


“Ya!”


Namaku dipanggil. Dengan perasaan gugup, aku melangkah menuju meja guru.


Tepat saat menyerahkan kertas ujianku, Sensei memberikan pujian, “Di ujian kali ini kamu berusaha dengan sangat baik, ya.”


Begitu menerima kertas itu, mataku langsung tertuju pada nilainya. Di sana, tertulis angka 97 dengan tinta merah.


Melihat nilai itu, rasanya aku nyaris melompat kegirangan di tempat.


97!! Ini rekor nilai tertinggi dalam hidupku untuk tes matematika!


Sekembalinya di meja, sekali lagi aku menatap angka itu.


Asyik! Dengan begini aku bakal dapat hadiah dari Haruto-kun!


Saat aku tengah asyik memuji diriku sendiri karena sudah berusaha keras, terdengar Sensei memanggil nama Haruto-kun.


“Selanjutnya, Ootsuki.”


“Ya.”


Secara refleks, mataku langsung mengikuti sosok Haruto-kun yang berjalan dari bagian belakang kelas menuju meja guru.


“Kerja bagus, Ootsuki. Nilai sempurna yang mengesankan.”


“Terima kasih banyak.”


Pujian itu langsung disambut sorakan kagum, “Wah!” dari seisi kelas. Menanggapi reaksi teman sekelas, Haruto-kun hanya menunduk sopan sekilas dan kembali ke tempat duduknya.


Haruto-kun memang hebat banget, bisa dapat nilai 100. Udah gitu, dia sama sekali nggak pamer. Haaah, pacarku keren banget, sih....


Ah, ngomong-ngomong, kalau di ujian kali ini Haruto-kun berhasil dapat ranking satu di seangkatan lagi, giliran aku yang harus memberinya hadiah.


Kira-kira Haruto-kun bakal minta hadiah apa, ya?


Jantungku deg-degan memikirkan hal apa yang sekiranya akan ia minta dariku.


Haruto-kun ingin aku ngapain, ya? Apa dia mau kepalanya dielus? Rambut Haruto-kun kan halus banget, enak buat dielus-elus.


Aku jadi teringat waktu kami latihan pacaran dulu. Waktu itu, aku memberinya pangkuan dan mengelus kepalanya.


Atau... minta hadiah yang lebih... u-umm, ciuman, misalnya?!


Begitu pikiran itu melintas di kepalaku, wajahku langsung terasa panas membara. Di saat yang sama, ingatanku melayang pada permainan Hokky yang kami lakukan tempo hari.


Tatapan mata Haruto-kun yang tiba-tiba menatapku serius, lalu menarikku ke pelukannya... dan kami berciuman.


Mengingat kembali sensasi saat Haruto-kun merebut Hokky dari mulutku, aku tak tahan lagi. Kutenggelamkan wajahku ke atas kertas ujian dan menggeliat menahan malu.


“Uuuh....”


“...Kamu kenapa Ayaka?”


Saat aku sedang sibuk menggeliat pelan di atas meja, Saki yang duduk di serong belakangku menegur dengan nada keheranan.


“Eh? Ah, tunggu, Har—eh, bukan, bukan apa-apa, kok!”


Hampir saja mulutku keceplosan sebut nama Haruto-kun. Aku pun buru-buru membungkam mulut. Kalau sampai nama ‘Haruto-kun’ terlontar di tengah kelas begini, bisa berabe urusannya.


“Hmm? Sus banget, deh.”


“B-Bukan apa-apa kok, serius!”


Aku menggelengkan kepala kuat-kuat demi menghindari tatapan curiga dari Saki.


“Gitu? Ya udah sih, aku juga nggak bakal maksa kamu cerita. Walau sebenarnya aku sudah bisa menebaknya, dasar Ayaka diam-diam mesum,” goda Saki sambil tersenyum jahil.


“I-Ih, Saki!!”


“Hei, Toujou, ini masih jam pelajaran. Harap tenang.”


“B-Baik... maaf....”


Karena terpancing godaan Saki, suaraku tanpa sadar meninggi dan ujungnya malah kena tegur Sensei. Dengan wajah merah padam menahan malu, aku menundukkan kepala, lalu diam-diam melotot ke arah Saki.


Saki hanya mengangkat satu tangan di depan wajah dan menggumamkan kata ‘Maaf, maaf’ tanpa suara.


Ih... belakangan ini Shizuku-chan dan Saki sama saja, hobi banget menggodaku....


Aku menggembungkan kedua pipiku sebagai bentuk protes pada Saki, lalu kembali menghadap ke depan dan mengikuti pelajaran dengan serius agar tidak ditegur lagi.


Usai pelajaran matematika, berikutnya adalah mapel olahraga. Aku dan Saki berjalan menuju ruang ganti siswi.


“Terus, gimana hasil ujiannya? Target tercapai?”


“Iya, target 80 ke atas untuk semua pelajaran sukses. Malahan, ini rekor nilai terbaikku selama ini.”


“Wah! Keren banget! Hasil didikan tutor pribadi yang hebat, ya?”


“Begitulah,” jawabku.


Mendengarnya, Saki tertawa kecil, “Wajahmu kelihatan senang banget, tuh.”


“Gimana kalau kita pergi karaoke buat merayakan selesainya masa ujian selesai dan tercapainya targetmu? Sekalian refreshing!” usul Saki.


“Wah, ide bagus!” mataku berbinar mendengar tawaran itu.


Namun, baru saja kami mau mendiskusikan tempat karaoke mana yang mau dituju, segerombolan gadis di kelas langsung mengerubungiku.


“Hei, Toujou-san. Tadi pas pelajaran matematika kamu senyum-senyum sendiri, lagi mikirin ‘si cowok itu’, ya?”


“Eh? A-Ah, bukan kok. Itu cuma karena aku dapat nilai bagus aja.”


“Toujou-san, kamu beneran pacaran sama ‘cowok itu’, kan?”


“Rahasia, dong.”


“Cowok itu murid sekolah ini bukan, sih?”


“Hmm, kasih tahu nggak, ya?”


Seperti biasa, aku diberondong pertanyaan yang sama. Aku hanya memasang senyum ramah sebagai tameng dan mengelak pelan. Lalu, aku memberikan isyarat mata pada Saki, ‘Kita bahas lagi nanti, ya’. Saki merespons dengan anggukan ‘Oke’.


Setelah jam pelajaran olahraga usai dan kembali ke kelas, mataku tanpa sadar langsung tertuju pada satu titik.


Di kursi paling belakang dekat jendela. Kursinya Haruto-kun.


Selama di sekolah, aku sudah berusaha keras agar mataku tidak terus-terusan mengikutinya. Tapi apa daya, refleksku selalu mencari sosoknya. Terutama di saat-saat seperti ini, sekembalinya dari ruang kelas lain, atau sebaliknya saat Haruto-kun ke luar kelas. Tatapanku tetap saja tak terkontrol.


Kali ini pun, mengabaikan akal sehatku, mataku kembali menangkap sosoknya.


Dan seketika itu juga, mataku menyipit.


Bagaimana tidak? Di sekeliling Haruto-kun sekarang berkerumun beberapa siswa, dan gawatnya, ada beberapa gadis di antara mereka.


Gadis-gadis itu sedang merayunya dengan suara manis.


...Atau setidaknya begitulah kelihatannya di mataku!


“Ootsuki-kun, nilai matematikamu 100? Hebat banget, deh!”


“Enggak, kok. Kebetulan aja soal yang kupelajari sebelum ujian sama persis dengan yang keluar.”


“Ootsuki, ranking satu di seangkatan lagi, nih?”


“Entahlah. Rapornya belum dibagikan, jadi aku belum tahu.”


“Pasti kamu ranking satu, deh, Ootsuki-kun!”


“Haha, terima kasih.”


“Kapan-kapan aku mau dong diajarin sama Ootsuki-kun....”


“Oh... ya, kalau pas jam istirahat sih boleh....”


“Beneran?!”


G-Gawat! Kalau dibiarkan begini terus, bisa gawat!!


Mata gadis-gadis yang ngobrol sama Haruto-kun itu sudah berubah jadi bentuk love!! ...Mungkin!!


Tapi, Haruto-kun memang keren, pintar, jago ngurus rumah, peka, dan baik hati. Wajar sih kalau banyak yang naksir. Malah aneh kalau selama ini dia nggak punya pacar.


Kalau sampai cowok semenarik Haruto-kun mengajari mereka berduaan saja, gadis-gadis itu pasti langsung jatuh cinta! Sebagai pacarnya, aku harus mencegah hal itu terjadi!!


T-Tapi... gimana caranya...?


Kalau aku ngobrol sama dia sekarang, identitas ‘si cowok itu’ bisa-bisa ketahuan kalau itu Haruto-kun.... Tapi kalau dibiarkan, Haruto-kun bakal direbut cewek lain... uuuh....


Ah, tunggu... berkat rencana Shizuku-chan waktu itu, sekarang aku jadi punya sedikit kedekatan dengan Haruto-kun! Kalau cuma ngobrol sedikit, harusnya nggak bakal kelihatan mencurigakan.... O-Oke!! Aku bakal sapa dia!!


Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, lalu memantapkan hati menghampiri meja Haruto-kun.


“...Har—eh, O-Ootsuki-kun.”


Nyaris saja kupanggil dia ‘Haruto-kun’. Aku pun buru-buru meralatnya.


Mendengar suaraku, Haruto-kun dan anak-anak yang mengerubunginya langsung menoleh dengan ekspresi terkejut.


Wajah terkejut Haruto-kun... rasanya tampak baru, manis banget, deh....


“Aya—eh, Toujou-san, ada apa?”


“A-Anu... Sebenarnya nilaiku di ujian kali ini bagus banget. Kupikir ini pasti berkat sesi belajar bareng Ootsuki-kun waktu itu.”


“Oh, begitu rupanya. Syukurlah kalau Toujou-san dapat nilai bagus, aku turut senang.”


Keterkejutan Haruto-kun dengan cepat tergantikan oleh senyuman hangat andalannya.


Tapi, ada sedikit jarak dalam senyumannya. Ditambah lagi, panggilan ‘Toujou-san’ yang ia gunakan persis seperti saat pertama kali kami bertemu di musim panas lalu. Hal itu membuatku merasa sedikit bernostalgia. Rasanya ia kembali menjadi Haruto-kun dari agen jasa kebersihan yang pertama kali datang ke rumahku.


Jarak di antara Haruto-kun yang dulu dan sekarang terasa begitu mencolok perbedaannya.


Ini menyadarkanku bahwa jarak di antara kami benar-benar sudah terpangkas sejak aku menjadi pacarnya. Fakta itu membuatku luar biasa bahagia, sampai-sampai rasanya aku ingin langsung menerjang dan menggesek-gesekkan pipiku ke dadanya saat ini juga. Namun, sebisa mungkin kutahan dorongan itu.


“...Toujou-san?”


Haruto-kun menatapku heran karena aku sedikit gemetar menahan godaan hasratku sendiri.


“Ah, maaf. Anu... Kalau Ootsuki-kun ada waktu, u-umm... gimana kalau anggota belajar bersama waktu itu, kita rayakan dengan karaoke?”


“Karaoke?”


Begitu aku mengajaknya, suasana kelas langsung hening seolah disiram air dingin. Tapi aku berusaha sebisa mungkin mengabaikan keheningan itu dan melanjutkan kata-kataku.


“Iya... berlima. Aku, Saki, Ootsuki-kun, Akagi-kun, dan Shizuku-chan. Gimana?”


Berkat rencana Shizuku-chan sebelumnya, mengajak Haruto-kun karaoke sekarang tidak akan terlihat aneh! Lagipula ini bukan cuma berdua, tapi berlima. Pasti aman!


Sambil terus mengepalkan tangan erat-erat, aku menanti jawaban Haruto-kun tanpa berkedip.


Haruto-kun menatap sekeliling kelas sejenak, lalu menjawab sambil tersenyum lembut.


“Boleh juga. Kalau begitu, ayo kita karaokean sama-sama.”


“Ya!”


Aku mengangguk ceria merespons persetujuannya.


Detik itu juga, terdengar suara bisik-bisik riuh yang mulai memenuhi ruang kelas.



Saat Ayaka mengajak Haruto ke karaoke, seisi kelas langsung riuh.


Melihat reaksi teman-teman sekelasnya, Haruto sempat mengamati situasi sekitar sejenak sebelum membalas dengan senyum hangat.


“Boleh juga. Kalau begitu, ayo kita karaokean sama-sama.”


Ayaka, yang sebelumnya mengatakan ingin merahasiakan hubungan mereka karena trauma masa lalunya, kini berinisiatif menyapanya lebih dulu. Sebagai seorang pacar, tentu saja ia harus menyambut keberanian Ayaka yang rela mengambil langkah tersebut.


Mendengar persetujuan Haruto, Ayaka membalas dengan senyum semringah dan anggukan ceria, “Ya!” sebelum akhirnya kembali ke mejanya.


Begitu sosok Ayaka menjauh, Haruto langsung diberondong rentetan pertanyaan dari sekitarnya.


“Oi, oi, Ootsuki! Beneran tuh kau mau karaokean sama Toujou-san?!”


“Kan bareng yang lain juga. Ada Tomoya sama Aizawa-san,” jawab Haruto sambil tersenyum kecut melihat seorang siswa yang bertanya dengan mata melotot tak percaya.


“Ootsuki-kun, sejak kapan kau sedekat itu sama Toujou-san? Awalnya dari mana?” Kali ini giliran seorang siswi yang bertanya dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.


“Mungkin lebih tepatnya karena Shizuku teman dekatnya Toujou-san, makanya jadi ikut akrab.”


“Shizuku itu maksudnya Doujima-san dari kelas satu, kan? Memangnya kau ada hubungan apa sama Doujima-san?”


“Kebetulan dari kecil aku ikut latihan di dojo karate, dan Shizuku itu putri tunggal pemilik dojo-nya.”


Mendengar penjelasan tentang hubungannya dengan Shizuku, ekspresi salah satu siswa mendadak serius.


“Kalau aku ikut gabung dojo itu, kira-kira aku juga bakal punya kesempatan buat dekat sama Toujou-san, nggak...?”


“Dojo Doujima selalu buka pendaftaran buat murid baru, loh. Kalau kamu tertarik, kapan-kapan mau datang buat lihat-lihat?” tawar Haruto.


Dojo Doujima yang sudah membimbingnya sejak kecil sudah seperti rumah kedua baginya. Tentu saja Haruto akan sangat senang jika dojo itu semakin ramai murid.


“Hmm... coba kupikir-pikir dulu, deh. Nanti kabari aku lagi, ya.”


“Oke.”


Setelah itu, Haruto terus dicecar banyak pertanyaan. Ia menghadapinya dengan santai, menangkis setiap pertanyaan yang masuk sembari sesekali menyelipkan promosi tentang Dojo Doujima.


Sepulang sekolah. Usai homeroom, Ayaka dan Saki langsung menghampiri meja Haruto.


“Ootsuki-kun, soal rencana karaoke tadi, kalau di tempat ini gimana?” tanya Ayaka sambil menyodorkan layar ponselnya. Di sana terpampang website sebuah waralaba karaoke terkenal yang terletak di depan stasiun.


“Iya, boleh-boleh saja.”


Bersamaan dengan jawaban Haruto, Tomoya ikut bergabung.


“Ah, Akagi-kun juga setuju kan kalau karaokenya di sini?”


“Hm? Oke, sip!” Tomoya mengintip layar ponsel Ayaka dan memberikan acungan jempol.


“Jadi kita langsung jalan aja, nih?”


“Iya, rencananya begitu,” angguk Saki menanggapi pertanyaan Tomoya.


Tiba-tiba Haruto teringat akan Shizuku. “Ah, kita harus kabari Shizuku juga.”


“Aku udah kabari Shizuku-chan, kok. Katanya dia bakal nunggu di depan gerbang sekolah,” jawab Ayaka.


“Baguslah. Kalau gitu, ayo lekas berangkat.”


Saat mereka tengah asyik mengobrol, entah sejak kapan suasana kelas yang tadinya riuh oleh suasana sepulang sekolah kini mendadak senyap. Rupanya, hampir seisi kelas sedang menguping pembicaraan Haruto dan kawan-kawan.


Saat mereka beranjak keluar, puluhan pasang mata mengikuti langkah mereka. Sambil menahan diri dari tatapan yang sarat akan berbagai macam emosi tersebut, Haruto bergegas meninggalkan ruang kelas.


Setelah bertemu dengan Shizuku, rombongan Haruto langsung menuju tempat karaoke di depan stasiun.


Setelah diantar ke ruangan oleh staf, perhatian Shizuku langsung tertuju pada brosur promo yang tergeletak di meja.


“Hmm, ada promo diskon seporsi besar kentang goreng... Senpai, mari kita pesan ini.”


“Wah, boleh, tuh! Aku setuju!” Saki mengangguk semangat melihat brosur yang ditunjuk Shizuku.


Melihat anggota lain ikut mengangguk setuju, Shizuku segera memesan kentang goreng itu. Saat Shizuku sedang sibuk memesan lewat interkom di sebelah pintu, Tomoya meraih remote AC.


“Para wanita sekalian, jika Anda semua tidak berkeberatan bolehkah suhunya saya turunkan sedikit?”


“Aku sih nggak masalah. Saki sama Shizuku-chan gimana?” balas Ayaka sambil bertanya pada keduanya.


“Aku juga nggak masalah.”


“Nanti suhunya bakal naik sendiri karena kita nyanyi lagu panas, jadi nggak masalah.”


“Oke. Kalau gitu, suhu AC-nya kuturunkan, ya.”


Setelah mendapat izin dari para gadis, Tomoya menurunkan suhu pendingin ruangan. Haruto kemudian meletakkan tablet karaoke di tengah meja dan angkat suara.


“Siapa yang mau nyanyi duluan?”


Semua orang saling bertatapan sejenak. Setelah jeda singkat, Saki mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


“Aku, aku! Kalau gitu Ayaka, ayo kita nyanyi bareng!”


“Boleh, mau nyanyi lagu apa?”


“Hmm... lagu apa, yaaa...”


Saki mengutak-atik layar tablet dengan bingung. Ayaka ikut duduk di sebelahnya, menyandarkan kepala melihat layar untuk mencari lagu.


“Gimana kalau lagu ini aja?”


“Oke.”


Setelah berdiskusi sejenak, mereka akhirnya memasukkan sebuah lagu. Layar TV di dinding pun menampilkan judul lagu diiringi alunan intro.


“Ooh! Asyik, nih!” seru Tomoya mencoba menghidupkan suasana.


Tak mau kalah, entah dari mana asalnya, Shizuku sudah memegang rebana pesta dan menggoyangkannya gemerincing sambil bersorak dengan nada datar, “Yey.” Tingkah hebohnya itu sama sekali tak cocok dengan wajah datarnya, membuat Haruto tak kuasa menahan tawa.


‘Masih kayak biasa’, pikir Haruto geli.


Tak lama, intro lagu usai dan Ayaka beserta Saki mulai bernyanyi.


Perpaduan suara mereka ternyata sangat merdu. Terlebih bagi Haruto, suara Ayaka terdengar sangat merdu dan menyejukkan telinga. Mungkin karena belum terbiasa dengan suasana di sana, wajah Ayaka terlihat sedikit malu-malu saat bernyanyi. Sosoknya itu terlihat begitu menggemaskan sampai-sampai Haruto jadi ingin memeluk pacar tercintanya itu.


Sambil menahan dorongan tersebut, Haruto hanyut dalam lantunan lagu mereka. Begitu lagu selesai, dia, Tomoya, dan Shizuku serempak memberikan tepuk tangan meriah.


Menanggapi ketiga tepuk tangan itu, Saki mengangkat satu tangan ala musisi, “Terima kasih, terima kasih,” sementara Ayaka tertawa malu, “Ehehe.”


“Nah, selanjutnya siapa yang mau nyanyi?!” Saki mengangkat mikrofon tinggi-tinggi.


Tomoya langsung menyahut. “Oke! Sekarang giliranku!”


Ia menerima mik dari Saki, lalu memilih lagu dari band rock favoritnya.


Berbeda drastis dengan lagu Ayaka dan Saki sebelumnya, gebukan drum bertempo cepat kini menghentak ruangan karaoke. Karena terbiasa bermain band, sense ritme Tomoya sangat bagus dan nadanya pun pas. Mendengar suaranya, Saki bersorak kagum, “Wah!”


“Akagi-kun jago banget nyanyi, ya.”


“Tomoya main gitar dari SD, dan sekarang nge-band sama anak dari sekolah lain, makanya sense musiknya tinggi,” jelas Haruto kepada Saki yang bertepuk tangan mengikuti irama nyanyian Tomoya.


“Hee, ternyata Akagi-kun anak band, ya.”


“Iya, dia semangat banget loh tahun ini mau tampil di panggung pentas seni sekolah.”


“Oh, ya? Pasti seru banget, tuh.”


Saki tampak tertarik dengan aktivitas band Tomoya.


“Kalau kamu bilang menantikan penampilannya di pentas nanti, Tomoya pasti senang banget. Tapi kalau berlebihan, dia bisa makin besar kepala, sih.”


“Ahahaha, bener juga. Kebayang banget Akagi-kun yang lagi kegirangan.”


Obrolan santai antara Haruto dan Saki itu berlangsung di sela-sela nyanyian penuh semangat Tomoya. Saat lagu usai, semua orang bertepuk tangan.


“Nge-rock banget, Tomo-senpai.”


“Jelas, dong! Menyanyi itu harus bisa menggetarkan jiwa!” Tomoya menyeringai lebar mendengar pujian Shizuku.


“Kalau begitu, sekarang giliranku yang akan menggetarkan jiwa kalian,” ucap Shizuku sembari menerima mikrofon dari Tomoya.


Rupanya ia sudah memilih lagu. Begitu lagu Tomoya selesai, intro lagu berikutnya langsung mengalun.


“Eh? Shizuku-chan mau nyanyi lagu ini?”


Ayaka tampak kaget mendengar intronya.


Lagu pilihan Shizuku adalah dari sebuah band rock pria yang tengah digandrungi anak muda. Temponya sangat cepat, di liriknya ada banyak bahasa Inggris, dan tergolong sulit dinyanyikan. Tapi, menanggapi keterkejutan Ayaka, Shizuku hanya mengacungkan jempol ke arahnya dan langsung bernyanyi.


Ia melahap tempo cepat itu tanpa kesulitan dan mengucapkan lirik bahasa Inggris dengan fasih. Namun anehnya, meski suaranya penuh tenaga dan penghayatan, ekspresinya tetap datar. Perbedaan kontras itu membuat Ayaka berbisik pelan pada Haruto.


“Hei, Haruto-kun. Shizuku-chan itu... luar biasa dalam banyak hal, ya.”


“Shizuku karakternya emang kuat banget, sih. Tapi justru di situlah daya tariknya.”


Sekilas, Shizuku terlihat seperti gadis cantik berambut hitam yang dingin, tanpa ekspresi, dan pendiam. Namun berbanding terbalik dengan penampilannya yang bak Yamato Nadeshiko, sifat aslinya luar biasa usil dan jenaka.


“Kelihatannya imut banget, wajahnya minim ekspresi dan terkesan cool, tapi kalau udah diajak ngobrol, suka aneh-aneh dan jahil abis. Karena dia anak pemilik dojo, berarti dia juga jago karate, ‘kan?”


“Jago parah. Sekarang pas udah SMA, dia mungkin bakal kalah karena perbedaan fisik dan tenaga, tapi waktu kelas satu SMP dulu, Shizuku lebih jago dariku, loh.”


“Shizuku-chan memang keren, ya....” gumam Ayaka dengan takjub. Saat lagu Shizuku selesai, ia memberikan tepuk tangan paling kencang.


Usai bernyanyi, Shizuku melakukan fist bump disertai pujian Tomoya, “Mantap, Shizuku-chan!”


“Selanjutnya giliran Haru-senpai.” Shizuku menyerahkan mikrofon yang dipegangnya pada Haruto.


“Makasih. Kalau gitu... nyanyi lagu apa, ya...”


Haruto menerima mik itu dan mulai mencari lagu-lagu yang sedang tren di tablet.


Melihatnya, Tomoya langsung merampas tablet itu. “Oi, oi, kamu ngapain sih, Haru!”


“Eh, Tomoya, apaan sih?”


“Jangan malah ‘apaan sih’. Haru, masa kamu lupa sama lagu andalanmu yang pantang dilewatkan itu.”


“Eh? Apa, tuh? Ootsuki-kun punya lagu andalan?”


Saki langsung tertarik mendengar ucapan Tomoya dan menatap ke arah Haruto.


“Ah, nggak... bukan lagu andalan, sih. Gimana, ya...”


Haruto tergagap canggung, namun Tomoya mengangguk mantap.


“Suara Haru itu luar biasa, loh! Kalian bakal paham kalau dengar lagu ini!”


Tanpa basa-basi, Tomoya memasukkan lagu yang ia sebut sebagai lagu andalan Haruto.


“Ah, tung–, Tomoya!”


“Ayo, Haru! Tunjukkan kehebatan olah vokalmu ke Toujou-san dan Aizawa-san!”


Tepat setelah Tomoya berseru demikian, musik mulai mengalun.


Sebuah intro yang sangat mendayu-dayu membuat Saki memasang wajah kebingungan, “Eh?”


Di sisi lain, Haruto hanya menghela napas pasrah, “Haaah,” lalu mengangkat bahu dan memosisikan mik ke dekat mulutnya, bersiap menyanyi.


Begitu intro selesai, Haruto pun mulai bernyanyi.


Julukan ‘luar biasa’ dari Tomoya ternyata bukan omong kosong. Nada yang presisi, ritme yang sempurna, serta suara Haruto yang lantang dan merdu memang membuktikan kemampuannya.


Lebih dari itu, vibrato yang dalam dan teknik cengkok khasnya juga dieksekusi dengan sangat sempurna. Melihat penampilan Haruto, Saki berkomentar geli.


“Eh? Lagu andalannya Ootsuki-kun... lagu enka?!”


“Tuh, ‘kan? Suara Haru bagus banget, ‘kan?”


“Iya sih, bagus... tapi kocak aja. Benar nggak, Ayaka?”


Saki menoleh ke arah Ayaka untuk meminta persetujuan. Tapi temannya itu malah sedang menatap lekat-lekat ke arah Haruto.


“Suara Haruto-kun... merdu banget....”


Melihat Ayaka yang benar-benar tersihir oleh nyanyian Haruto, Saki hanya bisa tersenyum kecut.


“Walah... bagi Ayaka, mau itu lagu enka kek, lagu apa kek, udah nggak ada bedanya, ya....”


Gumam takjub campur heran Saki itu pada akhirnya tenggelam oleh sorakan dari Shizuku, “Yo! Haru-senpai nomor satu di Jepang!”



Lantunan suara Haruto-kun memenuhi seisi ruang karaoke.


Inikah rasanya saat telingamu dimanjakan?


Lagu enka yang dinyanyikannya adalah lagu yang sangat terkenal. Aku juga pernah mendengarnya beberapa kali di acara musik televisi. Liriknya berkisah tentang cinta yang tragis, membara, dan penuh gejolak.


Membayangkan kalau Haruto-kun menyanyikan lirik itu untukku... rasanya dari relung hatiku yang terdalam muncul sensasi panas dan bergetar yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bersamaan dengan itu, debar jantungku tanpa sadar semakin berdetak cepat.


Andai saja aku bisa mendengar suaranya selamanya....


Sayangnya, harapanku pupus karena lagunya berakhir dalam waktu lima menit.


Sambil terus menyesali bahwa aku masih ingin mendengar suaranya, aku memberikan tepuk tangan paling meriah. Saat itulah Saki menghampiriku sambil tersenyum geli.


“Wah, baru kali ini aku lihat ada orang nyanyi lagu enka di karaoke.”


“Aku juga baru pertama kali lihat, tapi Haruto-kun kelihatan keren banget, ‘kan?”


“Ya, emang bagus sih. Tapi lihat cowok SMA pakai seragam nyanyi enka itu... kelihatan kocak aja. Eh, bentar, Ayaka, wajahmu kok merah banget?”


“Eh? M-Masa sih? ...Mungkin cuma kepanasan aja.”


Mana mungkin kan aku jujur pada Saki kalau aku tengah asyik membayangkan diriku dan Haruto-kun sebagai tokoh di lirik lagu itu? Yang ada nanti aku malah digoda lagi.


“Hee? Mau kuturunin lagi suhu AC-nya?”


“N-Nggak usah, nggak apa-apa. Ah, aku mau ambil minum, ya!”


Aku bangkit dan meraih gelasku yang isinya tinggal sepertiga, mencoba melarikan diri dari tatapan curiga Saki. Pas banget, di saat yang sama Akagi-kun menyodorkan mik pada Saki, “Giliranmu, Aizawa-san.”


“Makasih. Hmm, nyanyi lagu apa lagi, ya....”


Melihat Saki sibuk memilih lagu di tablet, aku bertanya sambil berdiri.


“Saki mau diambilin minum, nggak? Sekalian.”


“Nggak usah, punyaku masih ada. Nanti aja habis nyanyi aku ambil sendiri.”


“Oke. Yang lain ada yang mau diambilin?” tawarku pada tiga orang lainnya.


“Aku nggak usah.”


“Aku juga.”


“Ah, aku mau. Mari pergi sama-sama, Aya-senpai.”


Haruto-kun dan Akagi-kun menggeleng. Shizuku-chan yang gelasnya sudah kosong langsung berdiri.


“Biar kuambilin sekalian aja, gimana?”


“Oh, tidak-tidak, aku tidak berani meminta Senpai membawakan minuman untukku. Lancang sekali.”


“Serius kamu mikir gitu?”


“Tentu saja... sama sekali tidak terlintas sedikit pun.”


“Iih, kamu tuh, ya!”


Mendengar perkataannya yang blak-blakan, aku refleks menggembungkan pipiku. Tapi, karena entah kenapa aku sudah menduga dia bakal jawab begitu, senyum pun otomatis kembali merekah.


“Ayo barengan, Shizuku-chan.”


“Ay, ay, Sir.”


Aku dan Shizuku-chan yang memberi hormat dengan ala kadarnya akhirnya keluar dari ruang karaoke menuju drink bar.


Drink bar itu berada di ujung lorong seberang kamar kami, di sebelah area lift. Saat kami berjalan menuju ke sana, Shizuku-chan memanggilku dari belakang.


“Aya-senpai.”


“Hm? Ada apa, Shizuku-chan?”


“Terima kasih atas ajakannya hari ini.”


Mendengar Shizuku-chan membungkuk dan berterima kasih dengan sopan seperti itu, tingkat kewaspadaanku langsung naik. Anak ini tiba-tiba bersikap manis begini? Pasti ada udang di balik batu!


“Kenapa tiba-tiba?” tanyaku sedikit waspada.


Shizuku-chan memberi jeda sesaat sebelum mulai bicara.


“Acara karaoke hari ini, Aya-senpai yang ajak Haru-senpai, ‘kan?”


“Iya, sih.”


“Kukira, karena kalian sudah bisa ngobrol di sekolah, aku yang cuma jadi nyamuk ini bakal langsung dicampakkan karena sudah tidak berguna lagi.”


“Aku nggak bakal setega itu, tahu!”


Aku buru-buru membantah rentetan keluhan yang dilontarkan Shizuku-chan dengan wajah datar ke arah gelasnya yang kosong. Mungkin reaksiku sedikit di luar dugaannya, ia memiringkan kepalanya dengan polos.


“Oh, begitu, ya?”


“Tentu aja! Kan berkat Shizuku-chan aku jadi bisa punya alasan ngobrol sama Haruto-kun di sekolah. Masa iya aku bilang, ‘Kita sudah tidak punya urusan lagi, hus-hus!’ ke penolongku?!”


“...Aya-senpai ternyata sangat setia kawan, ya.”


“Bukan cuma aku, kok. Kurasa nggak bakal ada orang sejahat itu....”


“Jangan salah, di dunia ini banyak loh orang yang bisa melakukan hal sekejam itu tanpa merasa bersalah.”


“Sebenarnya masa lalumu setragis apa sih, Shizuku-chan?”


Mendengar pertanyaanku, sebuah senyum tipis yang misterius terlukis di wajah tanpa ekspresi Shizuku-chan.


“Fufufu, rahasia. Wanita yang punya aura kelam dari masa lalunya itu keren, ‘kan.”


“Masa, sih?”


Aku hanya bisa tersenyum canggung mendengar argumennya sambil mulai menuangkan jus jeruk ke gelasku.


“Lagipula, fakta bahwa Shizuku-chan itu penolongku nggak bakal pernah berubah. Terus...”


Kuhentikan tuangan jus sebelum meluap, lalu mengangkat gelasku dan menatap Shizuku-chan lekat-lekat.


“Kita ini kan sobat kentel. Iya, ‘kan?”


Waktu pertama kali disapa oleh Shizuku-chan, aku sempat bingung karena tiba-tiba diajak jadi sobat kentel. Tapi, setelah beberapa kali berinteraksi dengannya, meskipun tingkahnya kadang diluar nalar, dia itu anaknya sangat baik. Dulu aku memang sering bingung menghadapinya, tapi sekarang aku benar-benar tulus ingin berteman akrab dengannya.


Berharap perasaanku tersampaikan, aku tersenyum manis padanya. Shizuku-chan malah memonyongkan bibirnya dan menaruh gelasnya di bawah dispenser minuman.


“Aya-senpai curang.”


“Eh?”


“Sudah cantik, baik hati pula. Curang banget. Udah gitu... ‘punyanya’ Senpai juga gede.”


“Gede?”


Aku tak paham dia ngomong apa.


Shizuku-chan menghela napas sambil mengangkat bahu.


“Haaah, Aya-senpai. Jangan-jangan Senpai tanpa sadar suka menempelkan ‘senjata mematikan’ itu ke Haru-senpai, ya? Senpai sadar nggak sih dengan ukurannya sendiri?”


Ditatap dengan tatapan setajam silet dari Shizuku-chan, aku akhirnya paham maksud perkataannya barusan.


“M-M-Mana mungkin aku ngelakuin hal kayak gitu!”


“Yang bener?”


“I-Iya, lah!”


Aku membela diri mati-matian, dan Shizuku-chan hanya memandangiku dengan tatapan curiga sambil menggumam, “Hee”. Namun beberapa saat kemudian, ia membuang muka dan mengambil gelas yang sudah terisi penuh dengan ginger ale.


“Aya-senpai.”


“A-Apa lagi?”


“...Ke depannya, semoga kita tetap akrab ya, sebagai sobat kentel.”


“Ah... um, aku juga, Shizuku-chan.”


Ekspresi Shizuku-chan masih datar seperti biasa, tapi entah mengapa ia terlihat agak tersipu. Sepertinya aku sudah mulai bisa membaca perubahan ekspresinya yang sangat tipis itu.


Saat aku merasa senang dengan kemajuan itu, tiba-tiba Shizuku-chan mengangkat gelasnya ke arahku.


“Bersulang untuk persahabatan abadi kita.”


“Fufu, bersulang.”


Aku ikut mengangkat gelasku dan menempelkannya dengan pelan ke gelasnya. Sayangnya, karena gelas kami terbuat dari plastik, bukan kaca, hanya terdengar suara benturan ‘tuk’ yang tumpul. Aku kembali tertawa, dan tampaknya Shizuku-chan juga ikut tersenyum.


Usai mengisi ulang minuman, kami berjalan sebelahan kembali ke kamar karaoke.


“Ah, iya, makasih juga ya soal camilan waktu kita belajar bareng.”


Waktu kami mengadakan sesi belajar bersama, Shizuku-chan dan kawan-kawan yang lain membawakan banyak sekali makanan ringan. Saat acara selesai, mereka sengaja meninggalkan sisa camilannya dengan alasan kalau itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah diizinkan memakai rumahku.


“Bukan apa-apa... Oh, seingatku aku juga meninggalkan Hokky di sana. Setelah kami pulang, apa kalian sudah melakukan permainan Hokky yang intens?”


“Fweh?! Eh, ah, yah, anu....”


“Eh? ...Kalian benar-benar main permainan Hokky?”


Sepertinya tadinya Shizuku-chan niatnya cuma bercanda, tapi karena tebakannya tepat sasaran, aku jadi langsung gelagapan.


“A-A-Aku nggak ngelakuin hal k-kayak gitu, kok!”


“Aya-senpai... Ketahuan banget bohongnya.”


“Uuh....”


“Kalau begitu, mari kita dengar secara perlahan dan mendetail, seperti apa permainan Hokky yang kalian lakukan? Aya-senpai ini diam-diam memang mesum.”


Tatapan mata Shizuku-chan sekarang benar-benar seperti elang yang tengah membidik mangsanya.


“A-Aku nggak mesum, tahu...”


“Iya, iya, pembelaannya silakan disampaikan di dalam ruang sidang tertutup ini. Mari masuk.”


Shizuku-chan lalu membuka pintu ruang karaoke lebar-lebar.


Bagiku, ruangan itu sekarang tak ubahnya seperti ruang interogasi di neraka.


“Saki-senpai, kita bakal dengar cerita menarik nih dari Aya-senpai.”


“Eh? Cerita apaan, tuh?”


Saki yang kebetulan baru selesai menyanyi dan menyerahkan mik ke Akagi-kun langsung menoleh dengan penuh minat ke arah Shizuku-chan.


Uuuh... sekarang interogatornya jadi dua orang....


“Ayaka? Kenapa berdiri di depan pintu?”


Haruto-kun menatapku dengan wajah heran lantaran aku tak kunjung masuk ke dalam ruangan.


“...Haruto-kun, maafin aku, ya.”


“Eh? Minta maaf buat apa?”


Haruto-kun kebingungan melihat aku yang tiba-tiba minta maaf. Di saat bersamaan, Saki yang sudah dibisiki oleh Shizuku-chan menyeringai lebar bagai iblis.


“Ayaka-saaan, ayo, ayo, cepat sini duduk manis,” ujar Saki seraya menepuk-nepuk ruang kosong di sofa di sebelahnya.


“...Ya.”


Menyadari segala bentuk perlawanan akan sia-sia, aku patuh duduk di samping Saki dengan pasrah.


“Ayaka-san, ternyata pergerakanmu cukup agresif, ya. Oh, jangan cemas, Ootsuki-kun juga bakal dimintai keterangan setelah ini.”


“Eh? Soal apa?”


Saki menyeringai nakal dan wajahku serasa memanas karena malu yang teramat sangat. Sementara itu, Haruto-kun masih bengong tak paham apa-apa.


Setelah itu, di sela-sela giliran menyanyi yang lain, Saki dan Shizuku-chan, duo interogator menakutkan itu, berhasil mengorek habis seluruh rahasia soal permainan Hocky antara aku dan Haruto-kun.


Dan benar saja, mereka menggodaku habis-habisan....


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close