Penerjemah: Noire
Proffreader: Noire
Chapter Khusus Untuk Edisi Digital
Dilema Bekal Makan Siang
Di lorong sayur sebuah supermarket, aku sedang kebingungan.
Aku sedang memusingkan isi kotak bekal. Biasanya aku tidak pernah sebingung ini, tapi ucapan Mayu tempo hari saat kami sekeluarga makan di luar terus terngiang-ngiang di kepalaku.
『Set menu ini kelihatannya enak! Tapi lauk pendampingnya bayam rebus... soalnya aku sudah sering makan itu di bekal sekolah.』
Aku tahu Mayu tidak bermaksud mengeluh. Namun, alasan kenapa kata-katanya terasa mengganjal di telingaku adalah karena aku sadar selama ini aku hanya mengandalkan sedikit variasi lauk pendamping untuk menyiasati isi bekalnya. Aku selalu berhati-hati agar lauk utamanya tidak membosankan, tapi aku kurang memikirkan lauk pendampingnya.
Aku pikir ini kesempatan bagus untuk menambah variasi lauk pendamping, makanya aku memeras otak di bagian sayuran supermarket seperti ini.
Kinpira gobo (tumis akar seruni), terung bumbu manis pedas, atau tumisan rumput laut hijiki. Aku memang ahli memasak semuanya, tapi untuk dimasukkan ke dalam kotak bekal, warnanya terasa agak sedikit suram.
Saat sedang melamunkan hal itu, sebuah suara yang sangat kukenal terdengar dari arah belakang.
"Tidak butuh sayur kali! Kan namanya daging panggang (yakiniku), ditulis pakai huruf 'daging' dan 'panggang'. Tidak ada ruang buat sayuran di sana!"
"Kalau cuma makan yang berminyak saja nanti perutmu begah lho. Tidak semua orang punya perut sekuat Sako-kun."
Saat aku menoleh, dua orang yang sudah kubayangkan dari percakapan tadi sedang berjalan berdampingan tak jauh dariku.
Sako yang bertubuh mungil dengan rambut keriting, dan Miyano yang bertubuh tinggi dengan rambut dikuncir dua. Mereka berdua langsung menyadari keberadaanku dan melambaikan tangan sambil mendekat.
"Wah, kebetulan banget ketemu di sini, Takeru! Pas banget, tolong kasih tahu Megumi juga dong, kalau di acara bakar-bakar daging itu sayur tidak penting!"
"Tidak benar begitu kan, Shiono-kun! Sayuran itu harus ada!"
Baru saja bertemu, aku sudah diserbu oleh mereka berdua. Aku menjawab sambil sedikit tertekan oleh semangat mereka.
"Ya, yah... kurasa memang lebih baik ada sayurnya kan? Demi kesehatan juga."
Mendengar jawabanku, Sako langsung memegangi kepalanya.
"Kaaaaaaakh!! Kamu juga, Takeru?! Masukin sayur ke acara bakar daging itu bukan gaya laki-laki tahu! Kamu sama Megumi sama saja, dasar cewek!"
"Aku memang perempuan dari dulu, dan hari ini bakal ada anak perempuan lain yang datang juga tahu!"
Anak perempuan lain datang? Apa maksudnya? Lagi pula, Sako dan Miyano kelihatannya jauh lebih bersemangat daripada biasanya. Karena bingung, aku menoleh ke arah Miyano, dan dia yang menyadari hal itu memberikan penjelasan sambil tersenyum kecut.
"Maaf, maaf. Teman SMA kami mengajak kumpul-kumpul buat makan yakiniku. Nah, kami berdua ditugaskan buat belanja bahan-bahannya."
"Ooh, begitu rupanya."
Sekarang masuk akal kenapa mereka sangat bersemangat. Membawa bahan makanan sendiri dan makan yakiniku bareng di rumah teman adalah salah satu hiburan paling menyenangkan bagi mahasiswa yang baru mulai hidup mandiri.
Sako bertanya padaku dengan nada suara yang masih melengking senang.
"Terus, Takeru sendiri lagi ngapain?"
"Lagi beli bahan buat makan malam sama bekal besok. Masih bingung mau isi apa buat bekal besok."
Mendengar itu, mata Sako membelalak.
"Makan malam? Wih, rajin banget kamu jadi cowok. Tidak cuma bikin bekal, tapi sampai masak buat makan malam juga?"
Sako berkata dengan nada kagum, tapi sedetik kemudian dia memiringkan kepala heran.
"Eh? Tapi bukannya kamu bilang masih tinggal bareng keluarga?"
"Iya benar. Aku yang masakin buat keluarga."
"Hah? Di rumah sendiri tapi kamu yang masak? Bekal sama makan malam juga? ...Itu tiap hari?"
"Iya. Tiap hari."
Sako terdiam membatu selama beberapa detik seolah sedang loading, lalu tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi sangat serius.
"...Takeru. Kamu... hebat banget."
"Tidak hebat-hebat amat kok. Dari dulu aku memang diajari masak sama Nenek."
"Tidak, ini bukan masalah bisa atau tidak bisa. Normalnya mah tidak mungkin sanggup. Kita ini kan masih mahasiswa?"
Nada suara Sako yang tadinya tinggi langsung turun satu tingkat, dia terlihat serius—hal yang jarang terjadi. Miyano pun memalingkan wajahnya dengan canggung. Rasanya suasananya jadi agak aneh. Mungkin aku tidak seharusnya menceritakan urusan keluargaku yang sedikit khusus ini.
"Tidak, beneran, ini bukan masalah besar. Karena sudah kulakukan sejak lama, aku sudah terbiasa..."
Tepat saat aku mengatakan itu dengan rasa bersalah karena telah merusak suasana, tiba-tiba Sako menepuk dadanya dengan keras.
"Oke, serahkan padaku! Aku yang bakal kasih ide buat isi bekalku!"
Ekspresi dan nada bicaranya sudah kembali seperti semula. Sako ternyata tipe orang yang sangat peka.
Mungkin dia menyadari kalau aku merasa tidak enak hati tadi. Aku pun mengikuti permainannya dan menanggapi candaannya dengan santai.
"Hmm, tapi kalau ide bekal dari Sako..."
"Eh, kamu meragukan aku ya?! Tunggu sebentar."
Sako menyilangkan tangan dan memejamkan mata, mengernyitkan dahi seolah sedang berpikir keras. Beberapa detik kemudian dia membuka mata, lalu menunjuk ke arahku dengan gaya sok keren seolah sedang mengucapkan kalimat pamungkas.
"Ayam goreng saus asam manis dan menu utama *hamburg* ukuran jumbo. Sudah diputuskan!"
"Berat banget itu. Keduanya itu lauk utama tahu."
Kalau hamburg mini sih aku masih paham, tapi jangan pakai kata 'jumbo' dong. Sako langsung protes dengan kesal.
"Memangnya kenapa kalau dua-duanya menu utama! Daripada pakai ruang di kotak bekal buat lauk pendamping, bukannya lebih seneng kalau ada lauk utama satu lagi!"
"Itu sih bekal idaman anak kecil. Lagian kan sudah kubilang, yang bikin aku bingung itu lauk pendampingnya."
"Lauk pendamping?! Dasar, sayur lagi sayur lagi, kamu benar-benar seperti cewek!"
Sako kembali mengeluarkan teori anehnya bahwa 'sayur sama dengan cewek', lalu dia bergumam "Tidak tahu ah! Sayur itu bukan bidangku!" dan melangkah lebar menuju lorong daging.
Sebenci itukah dia pada sayuran?
Sambil merasa heran, aku menatap punggung Sako yang berjalan dengan kemeja kuningnya yang melambai-lambai. Tepat saat itu, sebuah inspirasi muncul di kepalaku. Bahan makanan yang jarang kupakai, tapi merupakan menu klasik untuk bekal. Ada satu yang sangat pas!
Setelah punggung Sako menghilang, aku mencari bahan yang baru saja terlintas di pikiranku. Miyano yang sejak tadi diam kemudian menyapaku dengan tatapan memelas yang merasa bersalah.
"Maaf ya Shiono-kun. Kami jadi mengganggumu kan?"
"Tidak apa-apa kok. Gara-gara melihat Sako tadi, aku malah kepikiran bahan yang pas."
"Eh?"
Miyano memasang wajah heran, tapi begitu melihat bahan makanan yang aku ambil, dia langsung tertawa terbahak-bahak.
☆
"Selamat makaaan!"
Aku memotong satu suapan hamburg dengan sumpit lalu memasukkannya ke dalam mulut. Seketika sari daging dan rasa saus ala Jepang meledak di dalam mulutku, membuatku tanpa sadar menggoyangkan kaki dengan senang.
"Hmm!! Ini dia rasanya!!"
Teman yang makan bersamaku menyapa sambil tersenyum kecut.
"Beneran deh, Akari kelihatannya paling bahagia kalau lagi makan bekal."
"Ahaha. Soalnya bekal buatan Ken itu yang paling enak."
"Shiono-kun ya. Enak banget punya teman masa kecil yang jago masak~"
"Hehe~ iri kan?"
Aku menjawab dengan sedikit nada bercanda dan sombong.
Meskipun aku menjawabnya dengan nada bercanda, kenyataannya aku memang merasa senang jika Takeru dipuji, seolah-olah akulah yang dipuji. Takeru sudah menyokong keluarganya sendiri sejak masih SMA. Bukan cuma masak, tapi dia juga melakukan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih dan mencuci baju—jarang sekali ada orang seusianya yang melakukan itu semua. Aku selalu berpikir dia pantas mendapatkan lebih banyak pujian. Sayangnya, karena kepribadiannya yang rendah hati dan tidak suka menonjol, kehebatan Takeru tidak banyak diketahui orang.
Saat sedang melamunkan itu, salah satu temanku tiba-tiba bertanya.
"Ngomong-ngomong Akari, kamu beneran tidak pacaran sama Shiono-kun?"
Padahal kami berteman sejak upacara penerimaan mahasiswa baru dan sudah hampir satu tahun bersama, tapi pertanyaan semacam ini masih saja sesekali muncul. Aku menjawab dengan sedikit jengah.
"Tidak lah, aku sama Ken itu sudah bareng sejak kecil, dia itu sudah seperti adikku sendiri, jadi mana mungkin aku melihatnya sebagai laki-laki."
Apakah hanya karena kami teman masa kecil lawan jenis, orang-orang jadi mengira seperti itu?
Di saat teman-temanku memberikan reaksi seperti "Oh begitu" atau "Ya masuk akal sih", suara salah satu temanku terdengar lebih menonjol.
"Yah, kalau dipikir-pikir, dia memang agak terlalu biasa ya buat jadi pasangan Akari?"
Aku tidak bisa membiarkan kata-kata itu lewat begitu saja. Aku langsung menoleh ke arah teman yang mengucapkannya, lalu menatap matanya dalam-dalam dan berkata dengan nada menasihati.
"Aku rasa aku kurang suka cara bicaramu yang seperti itu."
Seketika teman itu melambaikan tangannya dengan panik dan meminta maaf.
"Eh, maaf, maaf! Maksudku bukan begitu. Maksudku, belakangan ini pendekatan Yasaka-senpai ke Akari kan lagi gencar banget tuh? Aku cuma mau bilang kalau Yasaka-senpai lebih kelihatan cocok sama Akari."
Sontak teman-teman yang lain ikut menimpali dengan kalimat seperti "Iya benar, aku juga mikir gitu" atau " Yasaka-senpai pasti beneran lagi ngincer Akari tuh".
Memang kalau diingat-ingat kembali, belakangan ini aku merasa Yasaka sangat perhatian padaku. Aku menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin lah. Yasaka-senpai kan populer banget, mana mungkin dia tertarik sama aku."
"Halah, bilang saja kalau sebenarnya kamu seneng kan?"
"Ya, yah... kalau soal itu... gimana ya? Ehehe."
Sambil memberikan jawaban yang ambigu, aku merasakan wajahku memanas. Sontak teman-temanku mulai menggodaku dengan teriakan "Akari imut banget", "Gampang banget ditebak deh", atau "Wajahnya merah padam", sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku memalingkan muka agar tidak terlihat oleh mereka dan berseru kesal.
"Sudah ah! Jangan godain aku terus! Ayo cepat habiskan makannya, nanti telat masuk kuliah selanjutnya lho!"
Aku mengabaikan godaan mereka yang bilang aku "melarikan diri" dan kembali fokus pada kotak bekalku.
"Lho?"
Saat itu, aku menemukan sesuatu yang menarik di dalam kotak bekal dan mengangkatnya dengan sumpit.
Di bagian sayuran, ada sesuatu yang tidak biasa. Biasanya isinya kalau bukan bayam rebus, selada dan tomat ceri, ya labu parang rebus yang dimasukkan secara bergantian. Namun benda yang aku ambil dengan sumpit ini bukan salah satu dari itu, bahkan bahan makanan yang jarang muncul di masakan Takeru.
"Tumben sekali. Apa dia lagi pengin variasi baru ya?"
Begitu aku memasukkan brokoli itu ke dalam mulut, aroma kari langsung menyebar ke seluruh rongga mulutku. Wah, enak banget. Memang bekal buatan Takeru adalah yang terbaik di dunia.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment