Penerjemah: Noire
Proffreader: Noire
Chapter 1
Bayangan yang Menakutkan dan Pertemuan Baru
Suasana dapur dan ruang makan itu dipenuhi suara desisan salmon yang sedang dipanggang serta aroma gurih yang menggugah selera.
Tepat saat warna salmon berubah menjadi kecokelatan yang cantik, penanak nasi mengeluarkan alarm bernada tinggi. Waktu nasi matang dan waktu masakan selesai benar-benar pas. Semuanya berjalan sesuai perhitungan.
Sambil merasakan kepuasan tersendiri karena bisa bergerak dengan efisien, aku memindahkan salmon ke piring datar. Di saat yang sama, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari lantai atas—teman-teman serumahku sudah bangun.
"Keluarga makan dari periuk yang sama, itulah kemewahan yang paling utama. Dari dulu sampai sekarang, hal itu tidak pernah berubah."
Itu adalah ucapan favorit nenekku, yang dulu menjalankan Kedai Shioda di lantai satu rumah keluarga Shioda ini dengan kondisi keuangan yang pas-pasan.
Entah itu berkat ucapannya atau gara-gara ucapannya, di rumah kami ada aturan tak tertulis bahwa tidak boleh ada yang mulai makan sebelum seluruh anggota keluarga berkumpul.
Saat aku menyendokkan nasi untuk empat orang dan menatanya di meja, adik perempuanku, Mayu, masuk ke ruang tamu sambil menggaruk kepalanya yang berantakan.
Ia memakai piyama merah muda bergambar karakter dengan asal-asalan, lalu menggerutu dengan suara tidak senang.
"Eeeh, hari ini nasi? Padahal aku lagi pengin makan roti."
Dulu dia adik yang polos dan sangat manja padaku, tapi seiring bertambahnya usia, sikapnya jadi makin kurang ajar. Sekarang setelah duduk di kelas dua SMA, dia benar-benar berada di puncak masa puber yang pemberontak dan sulit dihadapi.
Kalau aku buatkan roti pun, dia pasti ujung-ujungnya bakal bilang lebih enak makan nasi. Benar-benar merepotkan.
"Kalau mau protes, tidak usah makan sekalian."
Karena merasa kesal, aku memasukkan kembali nasi yang sudah kusendokkan ke mangkuk Mayu ke dalam penanak nasi. Seketika, Mayu berseru panik.
"Wah, wah, Kak! Tunggu, tunggu dulu! Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah memutuskan pagi ini mau makan nasi! Dengan senang hati akan aku makan!"
"Dasar cari aman saja... Padahal kalau dari awal tidak protes kan beres."
Aku menyendokkan kembali nasi untuk Mayu dan menyerahkannya. Dia menerimanya dengan kedua tangan secara berlebihan sambil berucap, "Hamba terima dengan hormat..."
Melihat tingkahnya, sepertinya mulut besarnya itu bukan sekadar pemberontakan, melainkan caranya sendiri untuk berinteraksi dengan keluarga.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, pintu terbuka dengan bunyi klek, dan seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih mengintip ke dalam.
"Aduh, apa yang kalian berdua lakukan pagi-pagi begini? Takeru, maaf ya. Hari ini ada rapat pagi sekali, jadi aku tidak butuh lauk."
Koichi, ayahku, mengatakan itu dengan nada heran melihat aku dan Mayu yang sedang melakukan serah-terima nasi layaknya tuan dan pelayan. Koichi sudah berpakaian rapi dengan setelan jas, memegang dasi dan tas di tangannya; dia sudah siap berangkat.
Saat sedang terburu-buru, Koichi biasanya langsung memasukkan nasi ke dalam sup miso lalu menelannya begitu saja, sehingga dia tidak menyentuh lauk pauk. Artinya, porsi lauk milik Koichi akan tersisa.
Selagi aku memikirkan cara membereskan lauk yang sisa itu, bel pintu rumah berbunyi.
Pin-pon! Mendengar suara itu, sudut bibirku terangkat membentuk seringai.
"Oh, sepertinya petugas pembuangan sisa makanan sudah datang di waktu yang tepat."
Mendengar perkataanku, Mayu tertawa terbahak-bahak.
"Ahaha! Benar juga, kalau Akari-chan sih pasti sanggup makan sebanyak apa pun!"
"Ya, kita harus hati-hati jangan sampai dia saking semangatnya malah memakan porsi kita juga."
"Apa Akari-chan itu tipe gadis 'tukang habiskan makanan orang'?"
Aku membalas candaan Mayu dengan tawa sambil melangkah ringan menuju pintu depan.
Sebelum membuka pintu, aku mengecek cermin panjang yang ada di lorong depan.
Tubuhku rata-rata, wajahku pun biasa saja tanpa ciri khas selain tahi lalat di bawah sudut mata kanan, tapi setidaknya aku selalu memperhatikan kebersihan. Aku memiringkan kepala untuk memastikan tidak ada rambut yang mencuat, lalu mendekat ke cermin untuk mengecek apakah ada sisa janggut yang terlewat saat bercukur.
Setelah selesai memeriksa penampilan, aku membuka pintu depan. Seperti biasa, suara ceria dan penuh semangat milik Akari menggema.
"Pagi, Ken! Menu hari ini apa nih?"
Hanya dia satu-satunya orang di dunia ini yang memanggil namaku, "Takeru", dengan sebutan "Ken".
Akari Sato. Dia tinggal di dekat sini, dan kami selalu satu sekolah sejak SD, SMP, SMA, hingga kuliah.
Tingginya sedikit di bawah rata-rata, dengan mata bulat besar yang sangat manis layaknya seorang idola. Ditambah kepribadiannya yang supel, konon dia adalah gadis paling populer di universitas kami. Rambut bob pendek berwarna cokelat yang sedikit bergelombang itu terlihat sempurna tanpa cela hari ini, seolah-olah model dari majalah baru saja melangkah keluar ke hadapanku.
"Selamat pagi, Akari. Hari ini salmon panggang. Khusus untuk Akari, aku siapkan dua potong."
"Eeeh?! Boleh sarapan semewah itu?! Kalau begitu aku juga mau tambah nasi!"
Akari bereaksi dengan terkejut yang dilebih-lebihkan, lalu masuk ke rumah, melepas sepatunya asal-asalan, dan langsung menuju ruang tamu.
Sejak dulu dia memang ceroboh; tumit sepatu yang dilepasnya selalu menghadap ke arah luar. Karena itu, setiap hari akulah yang memutar posisi sepatunya agar menghadap ke dalam dan merapikannya. Dulu aku sering menegurnya, tapi karena tidak pernah berubah meski sudah dibilas berkali-kali, ini pun akhirnya menjadi rutinitas harianku.
Akari membuka pintu ruang tamu dengan penuh energi lalu berseru keras.
"Selamat pagiii!"
Terhadap sapaan Akari yang terlalu bersemangat itu, adikku menjawab dengan lesu, sementara Koichi menanggapi dengan tergesa-gesa.
"Pagi, Akari-chan..."
"Ah, pagi, Akari-chan. Maaf ya kalian berdua, bisa segera duduk? Seperti yang kukatakan pada Takeru tadi, hari ini aku sedang buru-buru."
Mendengar perkataan Koichi, aku dan Akari bergegas duduk di kursi, lalu menangkupkan tangan menunggu aba-aba dari Koichi.
"Selamat makan."
" " "Selamat makaaan!" " "
Mengikuti suara Koichi, suara kami bertiga—aku, Akari, dan Mayu—bergabung menjadi satu.
Begitulah hari-hari di keluarga Shioda plus Akari dimulai.
Setelah selesai sarapan, aku dan Akari menonton berita di televisi sambil melepas kepergian adik dan ayahku yang berangkat ke sekolah dan kantor dengan terburu-buru.
Punya waktu luang adalah hak istimewa mahasiswa. Tergantung harinya, tapi hari ini kuliahku baru dimulai pada jam kedua, dan jarak ke kampus hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki. Masih ada sisa waktu sekitar satu jam sebelum berangkat.
Akari mulai berbicara sambil mencicipi telur gulung (tamagoyaki) yang merupakan sisa dari bekal makan siang.
"Hmm, memang telur gulung itu paling enak kalau rasanya asin! Kemarin aku sempat mencicipi punya teman, eh, rasanya manis banget... itu sih aliran sesat!"
Meskipun nama belakang Akari adalah Sato (yang bisa berarti 'gula'), dia sebenarnya tidak suka makanan manis dan lebih memilih rasa asin dari garam atau kecap asin.
Aku menjawab sambil menyeruput teh.
"Hmm, kalau itu sih masalah selera ya. Ngomong-ngomong, aku malah lebih suka yang pakai gula supaya manis."
Mendengar perkataanku, Akari mengerutkan dahi.
"Eh? Tapi bukannya kamu selalu pakai garam kalau masak?"
Setelah mengatakan itu dengan wajah heran, tiba-tiba dia menyeringai seolah menyadari sesuatu.
"Ah, jangan-jangan kamu menyesuaikan dengan seleraku? Wah wah, Ken-kun, apa kamu sebegitu sukanya padaku?"
Mendengar ucapannya, aku langsung tersedak hebat. Tebakannya tepat sasaran; aku memang membumbui telur gulung itu sesuai selera Akari. Aku terus memukul-mukul dadaku dan terbatuk-batuk untuk mengeluarkan teh yang masuk ke saluran pernapasan sebelum akhirnya menjawab.
"I-itu gara-gara Mayu! Mayu itu tim rasa asin, makanya aku buat begitu!"
"Ahaha, Ken, kamu panik banget sih."
Sambil tertawa terbahak-bahak, Akari mengambil kotak tisu dan meletakkannya di dekatku. Aku mengelap sisa teh di sekitar mulut sambil mengatur napas.
Karena hubungan kami yang sudah sangat lama, Akari sering bisa membaca pikiranku dari tindak-tandukku, dan kebohongan jarang berhasil padanya. Dalam situasi begini, lebih baik mengganti topik pembicaraan.
"Daripada itu, Akari, apa tugas yang harus dikumpulkan besok sudah kamu kerjakan?"
Sesuai dugaanku, topik ini sangat efektif untuk mengalihkan perhatiannya. Ekspresi Akari langsung membeku. Kemudian, dia mulai bergumam pelan.
"Anu... soal itu... sebenarnya ada yang ingin kuminta dari Ken..."
Akari mengetuk-ngetukkan kedua jari telunjuknya sambil menatapku dengan tatapan memelas dari bawah.
Aku sudah bisa menebak apa yang ingin dia katakan. Paling-paling dia mau minta izin menyontek tugas. Aku menyipitkan mata menatap Akari.
"Tugas itu emang malas ngerjainnya kalau belum disentuh, tapi kalau sudah mulai, satu-dua jam juga selesai kok. Mulai ngerjain nanti malam pun masih sempat banget."
Akari menempelkan dagunya di meja sambil telungkup, menunjukkan wajah tidak puas.
"Eeeh, pelit banget sih. Kan belum tahu nanti malam aku luang atau etidak!"
Karena Akari punya teman yang tak terhitung jumlahnya, mungkin dia sudah ada janji main.
Dasar, begitulah mahasiswa kalau sudah begini...
Aku menghela napas, mengeluarkan map bening dari dalam tas, lalu menyodorkannya pada Akari.
"Jangan dicontek habis-habisan ya. Kalau ketahuan, bisa-bisa nilaiku juga ikut jatuh."
Seketika mata Akari berbinar. Dia menerima map itu dan mendekapnya erat.
"Memang Ken yang terbaik! Aku cinta padamu!"
"...Iya, iya. Aku juga."
Aku menjawab asal-asalan sambil terus menatap televisi.
Laki-laki normal mana pun, jika dibilangi "aku cinta padamu" oleh gadis secantik Akari, pasti wajahnya akan memerah padam dan kehilangan ketenangan.
Namun, bagi aku, Akari adalah teman masa kecil. Aku tahu betul dia tipe orang yang gampang terbawa suasana dan suka mengucapkan hal seperti itu sebagai pengganti rasa terima kasih sejak dulu. Aku sudah terbiasa.
Aku memegang cangkir teh dengan satu tangan dan mengarahkannya ke mulut.
"Panas! Aduh, panas!"
"Lho, Ken?! Tanganmu gemetaran parah... eh, tehnya tumpah banyak banget, kamu tidak apa-apa?!"
Tentu saja aku tidak apa-apa—maksudku, tentu saja aku tidak baik-baik saja! Aku benar-benar terguncang hanya karena ucapan "aku cinta padamu" tadi.
Karena Akari khawatir tanpa sadar bahwa dialah penyebabnya, aku berusaha keras memasang wajah tenang sambil menjawab.
"Ah, tidak apa-apa. Ini jelas bukan salah Akari kok, benar-benar bukan."
"Ya, aku juga tahu itu... lagian aku memang tidak ngapa-ngapain kan."
Akari berkata begitu sambil tersenyum heran.
Tidak, kamu tidak tahu apa-apa. Kamu tidak tahu sudah berapa kali kata-kata cerobohmu mengguncang hatiku. Kamu tidak tahu seberapa besar kekuatan kata "aku cinta padamu" jika diucapkan oleh lawan jenis yang kita sukai. Dia yang bisa menggunakan kata-kata seperti itu dengan ringan benar-benar tipe penggoda alami.
Tanpa mengetahui perasaanku, Akari menarik tanganku mendekat ke arahnya. Dia mengusap teh yang tumpah di tanganku dengan sapu tangan, lalu mengamati tanganku dari berbagai sudut.
Sensasi tangan Akari yang halus menguasai sebagian besar pemrosesan otakku, hingga rasa sakitnya pun sirna.
"Hmm, sepertinya luka bakarnya tidak parah, tapi agak merah ya. Mungkin sebaiknya didinginkan buat jaga-jaga... eh, Ken? Dari tadi sikapmu aneh, ada apa?"
Aku menutupi kedua mataku dengan tangan yang satunya untuk menyembunyikan ekspresiku.
Dibanding tangan yang terkena teh, sekarang wajahku terasa jauh lebih panas sampai rasanya mau terbakar. Jika dia melihat wajahku yang sekarang, dia pasti sadar kalau aku sangat baper padanya.
"Tidak, beneran tidak ada apa-apa. Bukan salah Akari, jadi jangan dipikirkan."
"Kan sudah kubilang, aku tahu. Ken cuma melakukan kesalahan bodoh terus kena air panas sendiri, kan?"
Bukan, Akari benar-benar tidak tahu apa-apa. Aku memang bilang ini bukan salah dia supaya perasaanku tidak ketahuan, tapi sebenarnya ini semua salahmu!
Aku melepaskan tangan Akari, dan sambil berhati-hati agar dia tidak melihat wajahku, aku melangkah menuju dapur untuk mendinginkan tangan.
☆
Sekitar jam sepuluh lewat, aku tiba di depan ruang kelas universitas.
Aku menghentikan Akari yang hendak masuk ke kelas duluan.
"Ah, tunggu sebentar, Akari. Ini bekalmu buat hari ini. Menu hari ini shogayaki (daging tumis jahe)."
Aku mengeluarkan kotak bekal yang terbungkus kain furoshiki oranye dari tas dan menyodorkannya pada Akari. Setiap kali membuatkan bekal untuk ayah dan adikku, aku selalu sekalian membuatkan untuk Akari.
Karena shogayaki adalah makanan favoritnya, aku membayangkan dia akan berseru kegirangan, tapi ternyata dia malah menunjukkan ekspresi bingung.
"Ah, benar juga... Maaf, hari ini aku tidak butuh bekal."
"Hah? Kenapa? Hari ini Akari ada kegiatan klub, kan?"
Kalau kuliah selesai siang hari, masuk akal jika dia ingin makan di luar bersama teman-temannya. Namun, Akari ikut klub tenis, dan biasanya kalau ada kegiatan klub di sore hari, dia selalu makan bekal di kampus.
Aku pikir dia pasti butuh bekal, tapi Akari malah menyilangkan tangan dengan wajah bimbang.
"Hmm, itu... hari ini entah kenapa kami setuju buat makan di luar bareng teman-teman."
"O-oh, begitu ya? Ya sudah... Yah, ada hari-hari seperti itu juga sih. Oke, cuma lain kali tolong kasih tahu lebih awal ya."
Aku telanjur membuat satu porsi bekal ekstra. Yah, tidak apa-apa, tinggal dijadikan makan malam saja nanti.
"Iya, maaf banget ya? Sampai nanti!"
Akari berkata begitu lalu masuk ke kelas, berbaur ke dalam kelompok mahasiswi "keren" yang mendominasi kursi bagian belakang.
Aku dan Akari punya lingkaran pertemanan yang berbeda di kampus. Tipikal teman yang kami sukai memang berbeda. Teman-temanku rata-rata tipe orang yang tenang dan biasa saja, sedangkan Akari sebaliknya, temannya banyak yang modis dan supel.
Saat aku masuk kelas dan melihat-lihat kursi, ada seorang laki-laki yang melambaikan tangan padaku.
Ryoma Sako. Tubuhnya agak mungil untuk ukuran laki-laki. Rambut hitamnya yang bergelombang acak-acakan terlihat sangat rapi sampai aku mengira itu hasil permanen, tapi katanya itu asli. Wajahnya sederhana dan sekilas tampak pendiam, tapi dia orangnya asyik dan cukup berisik.
"Pagi, Sako."
"Yo. Hari ini ke kampus bareng Sato-san lagi? Enak banget."
"Bukan begitu, aku dan Akari tidak ada hubungan apa-apa."
Kami memang hanya teman masa kecil, tapi karena sering berangkat bersama, orang-orang sering salah paham mengira kami pacaran.
Percakapan ini sudah kulakukan berkali-kali bukan hanya dengan Sako, dan seharusnya aku sudah menjelaskan berkali-kali juga padanya.
Aku memelototinya, tapi Sako memelototi balik tak mau kalah.
"Bukan begitu maksudku, tapi jalan bareng Sato-san itu bisa menaikkan gengsi tahu... Rasanya derajatmu sebagai laki-laki naik satu level, kan?"
Kalau pacaran dengan wanita cantik seperti Akari, aku paham maksudnya. Tapi kalau cuma teman masa kecil, rasanya terlalu sombong untuk berpikir begitu.
"Hmm, entahlah. Kalau begitu, Sako juga kan sering jalan bareng Miyano-san?"
Megumi Miyano. Katanya dia teman Sako sejak kecil, dan sering ikut berkumpul bersama kami.
Dia cukup tinggi untuk ukuran perempuan, memakai kacamata, dan rambut panjangnya diikat dua di posisi rendah. Penampilannya memberikan kesan pendiam, tapi kepribadiannya sebenarnya ceria dan enak diajak bicara.
Mendengar ucapanku, wajah Sako mengerut tidak senang.
"Megumi? Mana bisa derajatku naik gara-gara dia. Dia itu cuma tinggi doang!"
"...Oh? Jadi begitu ya pikiran Sako-kun?"
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Saat menoleh, Miyano berdiri di sana dengan tangan bersedekap dan senyum yang menyeramkan.
"Geh?!"
Sako terlonjak kaget dan langsung berdiri tegak.
"I-itu tidak benar! A-aku cuma bilang kalau dibandingkan dengan Sato-san, siapa pun pasti bakal sulit...!"
Miyano menghela napas panjang lalu duduk di sebelahku.
"Yah, aku tidak peduli Sako-kun mikir apa tentangku, tapi kalau Shioda-kun juga mikir begitu, aku bakal syok sih..."
Miyano berkata begitu seolah-olah menyindirku. Aku langsung menggelengkan kepala kuat-kuat untuk membantah.
"Tidak, tidak, tidak! Aku sama sekali tidak mikir gitu! Itu cuma Sako yang asal ngomong! Miyano-san bukan tinggi banget kok, cuma Sako-nya saja yang kecil!"
Sebenarnya Miyano memang tergolong tinggi bagi perempuan, tapi tetap lebih pendek jika dibandingkan rata-rata laki-laki. Hanya Sako saja yang memang bertubuh kecil. Itu saja.
Miyano tertawa mendengar pembelaanku, tapi sekarang giliran Sako yang mengerutkan dahi.
"Jangan bilang kecil dong! Terus Megumi juga jangan ketawa!"
Melihat Sako yang menggerutu tidak senang, aku dan Miyano saling bertatapan lalu tertawa terbahak-bahak.
Suasana antara Sako dan Miyano ini selalu terasa sangat nyaman bagiku.
Saat itu, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang memperhatikan dari belakang. Ketika aku menoleh, mataku bertemu dengan mata Akari. Ternyata dialah yang tadi melihat ke sini.
Aku memiringkan kepala seolah bertanya "ada apa?", tapi Akari hanya terdiam dan tidak memberi respons. Kalau diperhatikan lebih dekat, sepertinya fokus matanya tidak tertuju padaku. Lalu, apa yang sebenarnya dia lihat?
Saat aku sedang bertanya-tanya sambil melihat sekeliling, tiba-tiba Miyano bersuara.
"Ah! Kayanya aku pindah ke kursi depan saja deh! Akhir-akhir ini kacamata ku sepertinya sudah tidak pas ukurannya..."
Miyano berkata begitu lalu pindah dari sebelahku ke kursi di depan Sako.
Posisi tempat dudukku sekarang berada di tengah agak ke belakang. Memang, bagi orang yang penglihatannya lemah, tulisan di papan tulis mungkin sulit terbaca.
Seketika Sako mulai berteriak protes.
"Bodoh! Kalau kamu di depanku, aku jadi tidak bisa lihat papan tulis! Kamu sengaja ya?!"
"Mau gimana lagi, kursi lain tidak ada yang kosong! Daripada protes, mending kamu panjangin tuh badan!"
"Jangan minta yang tidak mungkin dong! Lagian di depan Takeru kan kosong! Sana duduk di situ!"
Sako dan Miyano mulai berdebat berisik. Walaupun dibilang debat, sebenarnya mereka cuma bercanda.
Hubungan mereka yang saling melontarkan ejekan tanpa jadi benci karena masing-masing tahu batasannya—aku suka melihat interaksi mereka yang seperti komedi duo ini.
"Ngapain sih, Takeru? Senyum-senyum sendiri, menjijikkan tahu."
Ternyata karena aku terus memperhatikan mereka, pikiranku terpancar di wajah sampai Sako merasa risih.
Aku tersenyum lebar dan mengatakan apa yang ada di pikiranku.
"Tidak, cuma mikir enak ya punya teman masa kecil."
" " "Kami tidak mau dibilang begitu sama kamu!" " "
Suara mereka berdua berbarengan.
Mungkin mereka bermaksud bilang "kan kamu punya Akari", tapi rasanya aku dan Akari pun tidak pernah bisa sekompak ini.
Aku melirik ke arah Akari, tapi dia sudah tidak lagi melihat ke arah sini; dia sedang asyik mengobrol dengan temannya yang bergaya gyaru.
Ngomong-ngomong, tadi apa yang dia lihat ya? Belum sempat aku memikirkannya, profesor tiba dan kuliah pun dimulai.
☆
Kuliah jam kedua berakhir, dan waktu makan siang pun tiba. Seperti biasa, aku pergi ke kantin bersama Sako dan yang lainnya, lalu duduk di kursi yang kosong. Sudah jadi kebiasaan bagiku yang membawa bekal sendiri untuk mengamankan kursi bagi tiga orang sementara mereka mengantre memesan makanan.
Sambil menunggu mereka dengan melamun menatap ponsel, tiba-tiba terdengar suara rintihan seperti kutukan dari sebelahku.
"Tidak enak, tidak enak, tidak enak banget...!!"
Dengan ragu aku menoleh ke arah suara itu. Di depanku agak menyamping, ada seorang wanita yang sangat cantik, tapi sedang memasang ekspresi sangat buruk sambil memakan set menu shogayaki.
Rambut hitam lurusnya menjuntai hingga pinggang, bulu matanya panjang dengan mata yang tajam. Garis wajahnya tegas namun cantik—perpaduan sempurna antara tipe imut dan tipe elegan.
Satu-satunya hal yang sangat disayangkan adalah kerutan di antara alis dan hidungnya saat dia makan dengan ekspresi jijik.
Karena tanpa sadar aku terus menatapnya, tiba-tiba mata kami bertemu. Dia pun menatapku dengan wajah curiga dan menegurku.
"...Apa? Ada urusan apa denganku?"
Nada bicaranya menantang dan cukup menyeramkan. Aku buru-buru memalingkan muka.
"I-itu... aku cuma pikir sepertinya kamu tidak suka shogayaki..."
"Aku bukannya tidak suka shogayaki. Hanya saja shogayaki di sini rasanya tidak enak."
Aku juga pernah makan shogayaki di kantin ini. Memang tidak istimewa, tapi rasanya tidak buruk juga seingatku.
Aku mencuri pandang sekali lagi ke arahnya.
Wanita itu memakai rajutan putih tipis dengan rok panjang hitam, pakaian yang terlihat kalem. Tas yang diletakkan di sampingnya adalah merek mewah yang bahkan aku pun tahu. Setelah melihat tas itu, pakaian yang dia kenakan pun mulai terlihat berkualitas tinggi dan mahal.
Di universitas memang sering begini, terkadang ada orang kaya raya yang "nyasar".
Mungkin bagi nona muda seperti dia, cita rasa makanan rakyat biasa sulit dimengerti.
Saat aku sedang berpikir begitu, tiba-tiba dia condong ke arahku dan mengintip bekalku.
"Itu, apa kamu buat sendiri? Apa itu shogayaki?"
Kecantikannya jika dilihat dari dekat benar-benar tanpa cela. Meskipun aku merasa gugup didekati wanita secantik itu, aku tetap menjawab.
"Iya, begitulah."
"...Hmm...?"
Dia menatap selang-seling antara bekalku dan wajahku dengan penuh kecurigaan, lalu tiba-tiba kehilangan minat dan kembali duduk tegak.
Kemudian, dia menggeser nampan berisi set menu shogayaki-nya ke arahku.
"Ini, kuberikan padamu."
"Hah?"
"Sudah kubilang ini untukmu. Meninggalkan sisa makanan itu tidak sopan bagi koki, kan?"
Koki katanya... ini kan cuma kantin. Ya, secara teknis tidak salah sih.
"...Menurutku, bilang makanan yang disajikan itu tidak enak juga kurang sopan sih..."
Sebagai orang yang sering memasak, aku tahu betapa sakitnya jika masakan kita dijelek-jelekkan. Meskipun ada risiko menyinggung wanita cantik yang tampak sombong ini, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Tapi dia tidak marah. Tanpa mengubah ekspresinya, dia menjawab.
"Tadi itu hanya penilaian objektif. Karena aku membayar, tentu saja aku punya hak untuk menilai. Nah, kuserahkan padamu ya."
Setelah berkata begitu, dia dengan sopan mengganti sumpit bekas pakainya dengan sumpit baru yang belum digunakan, lalu beranjak pergi.
Tanpa memberiku kesempatan untuk menolak, dia pergi bagaikan badai. Selagi aku terpana melihat punggungnya, Sako kembali dengan membawa nampan makanannya.
"Hei, Takeru! Siapa itu tadi?! Kenalin dong ke aku!"
Sepertinya dia melihat interaksiku dengan wanita tadi.
"Tidak, aku juga tidak tahu namanya. Tiba-tiba diajak bicara saja."
"Haaaah?! Kamu tuh ya, sebenarnya amal apa yang kamu lakukan di kehidupan sebelumnya sampai bisa diajak bicara sama cewek secantik itu?"
Sako duduk di sebelahku sambil menatapku iri.
Padahal sebenarnya dibilang "diajak bicara" pun lebih condong ke arah "dilabrak preman" secara kiasan, tapi Sako sepertinya salah paham.
"Dia Chise Takatsuki-san, mahasiswi tahun pertama." Saat aku sedang berpikir bagaimana menjelaskannya, Miyano menyela pembicaraan sambil duduk di depanku. "Kalau tidak salah dia di Fakultas Ekonomi juga sama kita. Dulu sempat ramai dibicarakan karena ada mahasiswi baru yang sangat cantik."
Sako memegang dahinya sambil menggelengkan kepala.
"Aduh! Aku kecolongan riset! Kenapa informasi cewek secantik itu tidak masuk radar informasiku?!"
Mendengar ucapan Sako, Miyano tersenyum kecut.
"Hmm... mungkin karena kepribadian Takatsuki-san yang agak sulit, sekarang citranya lebih dikenal sebagai 'cewek aneh' daripada 'cewek cantik'..."
Memang benar, secantik apa pun wajah seseorang, kalau dia bilang masakan orang lain tidak enak, dia pasti tidak akan populer. Tetap saja, wanita seperti Akari yang selalu bilang "enak, enak" saat makan terasa jauh lebih menarik. Ya.
Setelah aku mengangguk setuju, Sako menunjuk set menu shogayaki yang ditinggalkan Takatsuki.
"Terus, shogayaki ini apa? Kamu sudah bawa bekal tapi masih beli set menu juga?"
Aku menjawab sambil memikirkan cara menjelaskannya.
"Itu dipaksakan padaku oleh Takatsuki-san tadi. Kalau diibaratkan ulasan di situs makanan, mungkin bunyinya: 'Rasanya terlalu standar rakyat jelata dan tidak enak. Karena tidak bisa habis, jadi kuberikan pada orang sebelah. Bintang satu'."
"Wah, tipe pengulas yang menyebalkan banget ya! Tapi tunggu, ini bekas makannya dia?!"
Sako menarik nampan itu ke arahnya, matanya berbinar seperti bajak laut yang menemukan harta karun.
" " "Hiii..." " "
Menyadari tatapan dingin dariku dan Miyano, Sako langsung melambaikan tangan dan bicara dengan cepat.
"B-bukan begitu...! Takeru kan tidak bakal sanggup makan semuanya! Aku cuma mikir sayang kalau makanannya dibuang! Kalian tahu SDGs tidak? Singkatan dari Sustainable Development Goals, artinya tujuan pembangunan berkelanjutan, di situ ada poin soal masalah pangan..."
Melihatnya mencoba membenarkan diri dengan istilah asing yang pelafalannya dibuat-buat dan pengetahuan yang entah didapat dari mana, dia terlihat sangat konyol.
Sayangnya bagi Sako, sumpit yang tadi sempat dipakai Takatsuki sudah dibawa pergi, dan dia sepertinya hanya menyentuh satu suapan saja, jadi itu bukan benar-benar "bekas makan" yang diharapkan Sako.
Tapi, memberitahunya juga tidak akan menguntungkan siapa pun. Biarkan saja dia memakannya. Demi SDGs-nya. Ya.
☆
Kuliah jam ketiga berakhir. Saat kuliah untuk hari ini sudah selesai dan aku mulai bersiap pulang, Akari menyapaku.
"Halo Ken, habis ini mau ke mana?"
"Seperti biasa, langsung pulang ke rumah."
"Ooh, begitu. Kalau aku mungkin mampir ke klub dulu deh~"
Akari sudah bermain tenis sejak SMP dan bergabung dengan klub tenis di kampus juga. Aku sudah beberapa kali diajak menonton pertandingannya, dan meskipun aku orang awam, aku bisa melihat Akari sangat hebat. Faktanya, dia selalu meraih hasil yang cukup bagus di tiap kompetisi.
Sako tiba-tiba menyembul dari samping.
"Sato-saaan, apa klub tenis masih menerima anggota baru? Aku ini sebenarnya punya bakat atletik yang cukup bagus lho sejak dulu."
Sako berkata begitu sambil memperagakan gerakan mengayun raket. Gerakannya sangat kaku, bahkan bagi orang awam pun dia tidak terlihat punya bakat olahraga sama sekali.
Akari tertawa senang dan memberikan senyum yang menyilaukan pada Sako.
"Ahaha, Sako-kun, kami selalu menyambut anggota baru kok~ Karena kamu temannya Ken, khusus buatmu, aku sendiri yang bakal mengajarimu secara langsung~"
"Serius nih?! Mau banget! Tolong ajari aku sedetail mungkin, pegang tangan, pegang pingg... guekh!"
Karena Sako seolah-olah mau menerjang ke arah Akari, aku langsung menjambak kerah belakang lehernya.
"Ngapain sih, Takeru!"
"Akari, jangan terlalu menggodanya. Sako itu tipe orang yang gampang baper kalau dipuji sedikit. Lagian, nilai olahraganya waktu kelas satu kemarin itu D, jadi dia tidak punya bakat olahraga sama sekali."
"Ah! Sialan, jangan dibongkar dong!"
Sako menepis tanganku lalu menerjang dan melakukan pitingan kepala. Sepertinya dia melakukannya dengan cukup serius karena rasanya lumayan sesak.
Aku menepuk-nepuk lengan Sako sebagai tanda menyerah, sementara Akari tertawa melihat kami sambil bilang, "Kalian benar-benar akrab ya."
Aku mencoba meronta untuk melepaskan diri, tapi Sako tidak kunjung melepaskannya. Saat kulihat wajahnya, dia sepertinya sudah melupakanku karena terpesona melihat senyum Akari. Saat aku hendak mencubit punggungnya, terdengar suara laki-laki yang tidak asing di kelas ini.
"Akari-chan, sudah selesai kuliahnya? Tadi siang kamu bilang mau datang ke klub hari ini, kan?"
Laki-laki yang menyapa Akari itu berambut pirang, bertubuh tinggi semampai layaknya seorang model.
Kehadiran cowok tampan yang tiba-tiba itu membuat seisi kelas seketika menjadi sunyi.
"Ah, iya, aku segera ke sana! Sampai nanti ya, Ken!"
"Eh? Ah, iya, oke."
Akari berbalik arah dan berlari menghampiri cowok tampan berambut pirang tersebut.
Aku dan Sako hanya bisa melongo melihat kejadian itu. Lengan Sako yang memiting kepalaku sudah tidak lagi bertenaga, tapi aku pun lupa untuk melepaskan diri.
Setelah mengobrol sebentar, Akari dan cowok itu keluar kelas. Setelah beberapa detik hening, Sako... tidak, teriakan bergema di seisi kelas.
"Jangan bercanda! Bukannya katanya dia tidak punya pacar karena dijaga terus sama teman masa kecilnya?!"
"Tiba-tiba muncul kuda hitam yang luar biasa!!"
"Siapa sih cowok ganteng itu! Dia mengambil Sato-san milik kita...!"
Hampir semua mahasiswa di kelas tampak syok, yang menunjukkan betapa populernya Akari di sini.
Aku sendiri merasa familiar dengan wajah cowok pirang tadi.
"...Itu Hayato Yasaka-senpai... kan. Seingatku waktu SMA dulu dia langganan ikut kompetisi tenis tingkat nasional..."
Hayato Yasaka. Senior tingkat dua dan merupakan ketua klub tenis.
Aku tahu namanya karena dulu sewaktu SMA, Akari pernah bercerita bahwa dia orang yang hebat dalam pelajaran maupun olahraga, serta sangat keren. Waktu itu mereka beda sekolah jadi tidak ada interaksi khusus, tapi sekarang mereka di kampus yang sama dan di klub yang sama pula.
Aku tidak menyangka mereka sudah cukup dekat sampai dijemput segala.
Lagi pula, tadi dia bilang 'tadi siang kamu bilang', kan?
Jangan-jangan, "teman" yang dia maksud makan siang bareng tadi itu adalah...
"Sialan! Memangnya ini masalah tinggi badan...?! Atau wajah...?! Atau tenis...?! ...Tapi dia punya semuanya! Curang banget!"
Teriakan Sako yang seolah mewakili perasaan seluruh laki-laki di kelas bergema kencang.
Akari memang punya pergaulan luas dan banyak teman laki-laki sejak dulu, jadi ada kemungkinan mereka hanya berteman.
Waktu SMA dulu, aku pernah bertanya apa dia pacaran dengan teman laki-laki yang akrab dengannya. Saat itu dia tertawa dan menjawab itu tidak mungkin karena bukan tipenya.
Tapi, bagaimana dengan kali ini?
"Shioda-kun, kamu tidak apa-apa?"
Saat aku sedang tenggelam dalam pikiran, tiba-tiba Miyano menyapaku hingga aku terkejut.
"...Eh?! Apa?"
"Apanya yang apa... ekspresimu seram sekali tahu...?"
Mendengar ucapan Miyano, aku sadar bahwa imajinasi burukku tadi terpancar di wajah. Aku buru-buru memasang senyum palsu.
"Maaf, aku tidak apa-apa kok. Cuma sedang memikirkan sesuatu."
"Ooh?" Miyano berkata sambil terus mengamati ekspresiku. "Ngomong-ngomong, menurut Shioda-kun, apa mereka berdua pacaran?"
Aku terdiam. Karena aku belum pernah dengar hal semacam itu dari Akari, seharusnya saat ini mereka belum pacaran. Begitu pikirku.
Tapi, kalau diingat kembali saat Akari membicarakan Yasaka, ada sesuatu yang terasa ganjil. Bisa saja itu hanya rasa kagum, tapi... setidaknya rasanya berbeda dibanding saat dia membicarakan laki-laki lain.
"Aku juga tidak dengar apa-apa dari Akari, jadi mungkin mereka tidak pacaran... tapi aku juga tidak bisa menjamin."
Setelah berpikir keras, aku memberikan jawaban yang ambigu. Miyano menepuk bahuku perlahan dan bicara dengan nada khawatir.
"...Begitu ya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke aku kok."
Aku tahu kenapa Miyano berkata begitu.
Karena jika mereka benar-benar pacaran, dia tahu siapa orang yang akan merasa paling terpukul.
☆
Karena Sako dan Miyano ada kegiatan klub, aku pulang sendirian.
Biasanya, saat pulang sekolah aku akan melangkah ringan sambil memikirkan mau melakukan apa di rumah, tapi hari ini langkahku terasa sangat berat karena kejadian tadi tidak bisa lepas dari kepala.
Di tengah perjalanan pulang, ponselku berbunyi. Aku segera mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi pesan saat melihat nama Akari di layar.
`"Maaf, mulai besok untuk sementara aku tidak butuh bekal. Aku bakal makan bareng teman."`
Teman... ya... Apa benar hanya teman biasa? Apa jangan-jangan itu Yasaka-senpai?
Saat sedang memikirkan itu, tanpa sadar aku mengetik `"Temannya siapa?"` di kolom balasan.
Tapi rasanya aneh menanyakan hal begitu padahal aku bukan pacarnya. Setelah bimbang sejenak, aku menghapus tulisan itu, hanya membalas `"Oke"`, lalu menutup aplikasi.
Hanya karena kemungkinan Akari punya pacar, kenapa aku bisa merasa segegabah dan sedepresi ini?
Aku ingin bertanya langsung pada Akari apa dia pacaran dengan Yasaka atau tidak, tapi aku tidak berani karena membayangkan jika jawabannya adalah "iya". Aku merasa sangat payah karena baru menyadari betapa lemahnya diriku ini.
Sambil memikirkan itu, aku berjalan lunglai menghabiskan waktu dua kali lipat lebih lama dari biasanya sampai akhirnya rumahku terlihat.
Rumahku berlantai tiga. Lantai satu adalah kedai makan, sementara lantai dua dan tiga adalah tempat tinggal. Saat ini kedai makan sedang tertutup pintu geser dan ada kertas bertuliskan "Tutup Sementara" yang tertempel di sana.
Di depan kertas itu, terlihat seorang wanita berdiri terpaku.
Mungkin dia pelanggan yang pernah datang ke kedai kami dulu. Begitu pikirku, lalu aku menyapanya.
"Maaf, pemiliknya sedang tidak ada, kedainya lagi tutup."
Mendengar suaraku, wanita itu menoleh.
Wanita yang cantik. Rambut hitam lurusnya yang indah menjuntai hingga pinggang, mata tajam yang tampak keras kepala, dan kerutan di antara alisnya itu... lho.
"Takatsuki... san?"
Ternyata dia adalah Chise Takatsuki, orang yang tadi siang memaksakan set menunya padaku.
Takatsuki mengernyitkan dahi dan mundur selangkah dengan waspada.
"Kamu yang tadi siang... Lagian, kenapa kamu tahu namaku?"
Benar juga, dia kan belum memperkenalkan diri. Aku salah bicara.
"M-maaf, aku dengar dari temanku. Sepertinya kamu cukup terkenal jadi temanku tahu namamu..."
Mendengar itu, Takatsuki menghela napas, memasukkan tangannya ke sela-sela rambut hitamnya yang indah, lalu menggaruk kepalanya sedikit kasar karena kesal.
"Hah, paling-paling kamu dengar rumor aneh, kan? Hubungan manusia memang benar-benar merepotkan..."
Setelah bergumam begitu, Takatsuki menyilangkan tangan dan menatapku tajam.
"Daripada itu, kedai ini tutup terus, apa kamu tahu sesuatu? Apa ada rencana untuk buka kembali?"
Aku menjawab sambil tanpa sadar berdiri tegak karena tertekan oleh auranya.
"Kedai ini dulu dijalankan oleh nenekku, tapi nenekku meninggal tahun lalu... Mungkin sudah tidak akan buka lagi."
Mendengar jawabanku, wajah Takatsuki tampak merasa bersalah. Dia menunduk dan bergumam pendek, "Begitu ya."
"Jangan-jangan, kamu pernah makan di sini dulu?"
Saat aku bertanya begitu, Takatsuki memelototiku hingga aku menciut.
Aku sudah bersiap-siap akan mendengar kata-kata pedas lagi, tapi ternyata tidak. Takatsuki justru melanjutkan pembicaraan dengan nada rindu.
Sepertinya tatapan matanya memang sudah menyeramkan dari sananya.
"Iya, sudah cukup lama sih, tapi aku suka shogayaki di sini... Tapi kalau memang begitu keadaannya, mau bagaimana lagi. Kalau begitu aku permisi du—"
Gruuuuuuuuuk.
Suara perut keroncongan yang sangat keras terdengar.
Dan pemilik suara itu bukanlah aku.
Aku membelalakkan mata, menatap ke arah perut Takatsuki yang baru saja berbunyi nyaring.
Seketika itu juga, wajah Takatsuki memerah padam.
"B-bukannya aku... bukannya aku bilang itu bukan aku, tapi bukan berarti aku tidak ngaku ya! Memangnya ada masalah?!"
Mendengar cara bicaranya, aku tidak tahan untuk tidak tertawa. Bukannya mencoba mengelak dengan bilang "itu bukan aku", dia malah mengakui itu dirinya lalu bertanya balik apa ada masalah; itu sangat lucu karena menunjukkan kepribadiannya yang apa adanya.
Melihatku tertawa kecil, Takatsuki mengepalkan tangannya hingga gemetaran.
"Ka-kamu...!! Sudah cukup, aku mau pulang! Dah!"
Takatsuki berbalik dengan cepat dan melangkah lebar, tapi aku buru-buru menahannya.
"Maaf, maaf, tunggu sebentar! Tadi siang kamu hampir tidak makan apa-apa, kan. Wajar saja kalau lapar!"
"B-berisik! Aku tidak mau ketemu lagi sama orang tidak sopan sepertimu untuk kedua kalinya!"
Aku berlari menyalipnya dan menghadang di depan langkahnya yang terus maju.
"Ini, bawa saja," kataku sambil menyodorkan kotak bekal yang dibungkus kain furoshiki oranye. Itu adalah bekal yang kubuat untuk Akari.
"Anggap saja sebagai permintaan maaf. Pemilik kedai ini yang mengajariku masak, jadi kurasa rasanya bakal mirip. Maaf ya kalau menunya shogayaki lagi, sama seperti tadi siang."
"Kamu ini, mana mungkin aku bisa makan bekal buatan orang yang baru saja kutemui hari ini?!"
Aku menarik tangan Takatsuki dan memaksanya memegang kotak bekal itu.
"Kumohon, terima saja. Kalau memang tidak mau, kamu boleh membuangnya. Buang saja sekalian dengan kotak bekalnya. ...Karena barang ini sudah tidak dibutuhkan lagi."
Rasanya hampa kalau harus menghabiskan sendiri bekal yang kubuat untuk Akari. Hatiku akan lebih tenang kalau orang lain yang membereskannya.
Seolah membalas perbuatannya tadi siang yang memaksakan set menunya padaku, aku langsung lari dari sana sebelum dia sempat mengembalikan kotak bekal itu, lalu masuk ke dalam rumah.
☆
"Pagi! Lho, Ken, kenapa lesu begitu!"
Keesokan paginya, suara ceria Akari yang tidak tahu apa-apa tentang kegalauanku terasa menusuk kepalaku yang kurang tidur.
"Pagi. Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak."
"Hmm? Kenapa? Begadang belajar?"
Akari mendekat secara tiba-tiba dan mengintip wajahku. Meskipun jantungku berdegup kencang karena jarak yang mendadak dekat, aku berusaha keras menjaga ekspresiku.
"Tidak, bukan karena itu juga sih..."
Rasanya aku ingin menuntutnya dengan bertanya "memangnya ini salah siapa?", tapi aku memilih diam, mundur selangkah memberi ruang untuk Akari masuk, dan menyuruhnya segera masuk.
Meskipun tampak heran, Akari menurut dan masuk ke rumah menuju ruang tamu.
Saat aku hendak merapikan sepatu Akari, aku menyadari dia memakai sepatu hak tinggi hitam yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Sepatu baru ya?"
Akari menoleh sambil tetap membiarkan pintu ruang tamu terbuka.
"Ah, itu. Baru beli kemarin, bagus kan?"
"Iya, bagus. Akari sendiri yang pilih?"
Sepatu hak itu polos tanpa hiasan. Karena biasanya Akari suka barang-barang yang mencolok, pilihan yang kalem ini terasa tidak biasa baginya.
"Hmm? Yah, dipilihkan teman, sih."
Akari menjawab dengan ragu tanpa menatap mataku, lalu masuk ke ruang tamu.
Teman, ya... Kalau dibilang burung dengan bulu yang sama akan hinggap di dahan yang sama, teman-teman Akari kebanyakan tipe gadis yang modis. Ada yang dandanannya tebal layaknya gyaru, bahkan ada rumor salah satunya adalah model majalah.
Apa mungkin teman-teman seperti itu akan memilihkan sepatu hak yang simpel begini? Entah kenapa, aku merasa ada sentuhan selera laki-laki di sana.
Tidak, aku terlalu banyak berpikir. Pasti karena kejadian kemarin aku jadi menghubung-hubungkan segalanya.
Aku menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kacau itu, lalu menyusulnya ke ruang tamu.
☆
Setelah selesai sarapan, aku keluar rumah bersama Akari di waktu seperti biasanya.
Kecepatan jalan Akari cukup kencang. Aku mengikuti dari belakang saat dia melangkah jauh di depan. Posisi seperti ini tidak berubah sejak kami masih SD. Namun, punggungnya entah kenapa terasa sedikit lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena sepatu hak hitam itu.
"Ken, hari ini kamu beneran kelihatan lesu."
Tiba-tiba dia berbalik di depan gerbang utama kampus dan mengatakan itu. Aku berusaha agar kegugupanku tidak terlihat di wajah.
"Kan sudah kubilang tidak apa-apa. Cuma kurang tidur saja..."
"Bohong banget! Aku tahu, kamu pasti lagi galauin sesuatu, kan?"
Akari memotong ucapanku dan mendekatkan wajahnya. Karena sepatu haknya, wajahnya terasa lebih dekat dari biasanya. Aku menundukkan kepala dan memalingkan muka dari tatapan Akari.
"Tuh kan, memalingkan muka lagi. Ken memang gampang banget dibaca ya. Ayo, coba bilang sama Kakak. Kakak memang tidak bisa janji bantu semuanya, tapi sebisa mungkin bakal bantu kok."
Akari membentuk mulutnya seperti huruf omega (ω) dan menyenggol lenganku dengan sikunya sambil memasang wajah sok tahu.
Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan rahasia dari teman masa kecilku ini. Aku menghela napas sebagai tanda menyerah, lalu membuka mulut sambil memikirkan bagaimana cara memulainya.
"Anu... Akari... soal Yasaka-senpai..."
Tepat saat itu, sebuah suara laki-laki menyela perkataanku.
"Lho? Akari-chan? Sedang apa di depan kampus?"
Bersamaan dengan suara itu, muncul seorang laki-laki berambut pirang dan bertubuh tinggi dari dalam area kampus... Yasaka. Panjang umur sekali orang ini.
Akari tampak panik saat tiba-tiba disapa oleh Yasaka.
"S-selamat pagi! Cuacanya bagus ya hari ini!"
"Pagi. Cuaca? Iya sih, bagus... Ahaha, sapaanmu kaku banget seperti di buku teks."
Yasaka berkata sambil tertawa kecil, lalu mengalihkan pandangannya padaku yang berdiri di belakang Akari. "
Hmm, sepertinya kita baru pertama kali bertemu. Temannya Akari-chan?"
Mendengar nada bicaranya yang ramah, aku kelu. Ini pertama kalinya aku melihat Yasaka dari dekat. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku yang hanya setinggi rata-rata laki-laki.
Wajahnya tampan bak model, tapi sikapnya tetap rendah hati dan ramah. Aku terintimidasi oleh aura Yasaka hingga tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Saat aku masih terbata-bata, Akari menyela.
"Iya, dia cuma teman masa kecil! Mungkin karena jadwal kuliah kami sama, tadi kami tidak sengaja ketemu~"
Cuma teman masa kecil... tidak sengaja ketemu... Kata-kata Akari terasa seperti batu besar yang dijatuhkan satu per satu ke dalam dadaku.
Sampai harus berbohong dibilang "tidak sengaja ketemu", sepertinya Akari benar-benar tidak ingin hubungan kami dicurigai oleh Yasaka.
"Terus, ada apa, Yasaka-senpai? Senpai pasti ada urusan denganku, kan?"
"Ah, iya benar. Ini, Akari-chan lupa membawanya waktu di rumahku kemarin, jadi aku menunggu untuk memberikannya."
Yasaka berkata begitu sambil mengeluarkan map bening yang familiar dari tasnya. Itu adalah map yang kupinjamkan pada Akari kemarin.
"Ah, itu punyaku..."
Tanpa sadar aku mengeluarkan suara.
"Oh, ini punyamu ya."
Yasaka memberikan map itu dengan senyuman cerah.
"Rangkumannya bagus sekali, aku juga sangat terbantu. Terima kasih ya."
"Iya, sama-sama."
Aku menjawab pendek sambil menerima map tersebut.
Setelah itu, Yasaka dan Akari terus mengobrol, tapi pikiranku sudah tidak di sana lagi.
Baru saja Yasaka bilang map ini "lupa dibawa waktu di rumahku kemarin". Itu artinya, kemarin Akari pergi ke rumah Yasaka.
Mungkin mereka tidak berdua saja, mungkin ada orang lain, atau mungkin mereka memang benar-benar hanya mengerjakan tugas.
Namun, imajinasiku terus berkembang ke arah yang buruk.
"Nah, kuliah mau dimulai, ayo berangkat."
Suara Akari menyadarkanku. Ternyata Yasaka sudah pergi entah kapan, dan sekarang hanya ada Akari yang memasang wajah cemberut di depanku.
"Waktunya sudah mepet, jadi soal kegalauan Ken kita bahas lain kali saja ya. Oke?"
"I-iya..."
Mendengar jawabanku yang refleks itu, Akari tersenyum lebar sambil bilang "Sip!", lalu melangkah masuk ke kampus.
Aku mengulurkan tangan ke arah punggung Akari yang semakin menjauh.
Punggung yang sejak kecil selalu berada dalam jangkauan tanganku itu, seiring berjalannya waktu, terasa semakin jauh hingga tak tergapai lagi.
"Akari, tunggu sebentar."
Tanpa sadar aku memanggilnya. Akari berbalik dan memasang wajah heran.
"Tidak apa-apa," tadinya aku mau bilang begitu secara refleks, tapi aku menelan kembali kata-kata itu.
Tidak boleh. Aku harus memperjelasnya di sini, kalau tidak, aku akan terus menyeret perasaan ini tanpa pernah berani bertanya.
Aku memantapkan hati dan menatap langsung ke mata Akari.
"Akari, apa mungkin... kamu pacaran dengan Yasaka-senpai?"
Mendengar pertanyaanku, mata Akari membelalak. Pandangannya tidak fokus dan mulutnya komat-kamit.
Melihat reaksinya, sebenarnya aku sudah bisa menebak, tapi aku tetap menunggu kata-katanya sambil menggenggam secercah harapan terakhir.
Setelah ragu-ragu selama beberapa detik, Akari membuka mulutnya dengan pipi yang sedikit memerah.





Post a Comment