NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Osananajimi ni Kareshi ga Dekita Tame, Betsu no Ko ni Obento o Tsukutte Agetara, Osananajimi no Yousu ga Okashiku Natta V1 Chapter 4

 Penerjemah: Noire

Proffreader: Noire


Chapter 4

Emosi Impulsif dan Rasa Kenangan

『Rasanya enak sekali! Nek, kenapa Nenek bisa membuat masakan seenak ini?』


Aku bertanya pada wanita tua berambut putih yang duduk di meja sebelahku.  


Wanita itu menjawab dengan nada suara yang ceria.  


『Terima kasih, Akari-chan. Itu karena Nenek sangat menyukai mereka. Nenek suka pelanggan setia yang datang ke kedai ini, suka Takeru, suka Mayu, dan tentu saja Nenek juga suka Akari-chan. Mungkin itulah alasan kenapa masakannya jadi enak.』 


Wanita tua itu—neneknya Takeru—tersenyum lebar setelah mengatakannya.  


Aku tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud oleh Nenek.  


『Hmm? Kalau kita sangat suka seseorang, kita jadi bisa masak makanan enak? Apa itu semacam sihir?』


Mendengar itu, Nenek tertawa terbahak-bahak.  


『Ahahaha, sihir... sihir ya! Mungkin memang mirip seperti itu! Bisa dibilang, itu adalah sihir cinta.』 


『Sihir cinta...?』


Saat aku semakin memiringkan kepala kebingungan, Nenek tersenyum malu-malu.  

『Yah, Akari-chan juga suka kan pada Takeru dan Mayu? Pernahkah kamu merasa kekuatanmu mendadak bangkit saat memikirkan mereka berdua?』


『Iya! Pernah! Kemarin saja, aku mengusir anak laki-laki bernama Kazuki yang selalu menjahili Ken!』


『Ahahaha, sama saja dengan itu. Kalau kita memasak sambil memikirkan orang yang kita sayangi, tanpa sadar rasanya akan menjadi rasa kesukaan orang tersebut. Akari-chan, terima kasih ya sudah melindungi Takeru. Nenek jadi tenang kalau Takeru punya kakak perempuan sepertimu.』 


『Iya, serahkan padaku! Sebagai kakak, aku pasti akan melindungi Ken selamanya.』


Aku menepuk dadaku dengan bangga, menunjukkan senyum lebar untuk menenangkan hati Nenek.  


Lalu Nenek mengelus kepalaku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku sangat suka saat Nenek mengelus kepalaku.  


『Makanya, Nenek juga harus terus bersamaku..』 


Teruslah di sini, baru saja aku hendak mengatakan itu, Nenek melepaskan tangannya dari kepalaku sambil tetap tersenyum, lalu berbalik membelakangiku dan mulai berjalan pergi.  


Aku terburu-buru mengejarnya dan mencoba meraih tangannya, tapi tanganku justru menembus sosoknya; aku hanya menangkap udara kosong.  


『Tunggu, Nek! Jangan pergi!』


Aku berlari sekuat tenaga mengejar Nenek, tapi entah kenapa aku tidak bisa menyusulnya padahal Nenek terlihat berjalan dengan santai.  


Semakin kencang aku berlari, jarak antara aku dan Nenek justru semakin lebar, membuatku dirundung rasa cemas yang hebat. Aku merasa jika kami terpisah di sini, aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.  


『Nenek! Aku tidak mau Nenek pergi! Kumohon! Tunggu—』


Seketika aku terbangun dan melihat langit-langit kamar yang sudah tidak asing lagi.  


"Oalah, ternyata cuma mimpi."  


Aku menghela napas lega dan menyeka keringat di dahi dengan lengan baju. Aku mengibas-ngibaskan baju tidurku yang basah oleh keringat, membiarkan angin sejuk yang nyaman masuk ke sela-selanya.  


Sambil menatap langit-langit, aku kembali teringat mimpi tadi.  


Meskipun itu mimpi, bagian awalnya adalah ingatan nyata dari masa laluku.  


『Sebagai kakak, aku pasti akan melindungi Ken selamanya.』


Itu adalah janji yang aku buat dengan Nenek—neneknya Takeru—saat aku masih SD.  


Takeru sejak dulu selalu baik kepada siapa pun. Tapi karena kebaikannya itu, dia terlihat lemah di mata orang lain, sehingga meskipun tidak sampai ke tahap perundungan, dia sering dijahili oleh teman sekelasnya. Janji itu kubuat dengan Nenek untuk melindungi Takeru.  


Teman sekelas yang jahat dan menjahili Takeru biasanya akan langsung pergi dengan perasaan tidak enak jika aku, yang punya pengaruh di kelas, memberikan satu tatapan tajam pada mereka.  


Sampai sekarang, sesuai janjiku pada Nenek, aku terus melindungi Takeru layaknya seorang kakak.  


"Aduh, aku ketiduran ya."  


Saat melihat jam, ternyata waktu sudah lewat pukul satu siang. Seharusnya hari ini aku ada kuliah jam kedua, tapi waktunya sudah lewat.  


Aku tahu kenapa aku bisa bangun kesiangan. Itu karena aku terus memikirkan kejadian dengan Chise kemarin hingga tidak bisa tidur.  


Apa hubungan antara Takeru dan Chise sebenarnya? Kenapa mereka makan siang bareng? Kenapa Takeru seolah tidak mau mempertemukanku dengannya? 


Semakin kupikirkan, rasa kesal itu semakin menumpuk dan membuatku terjaga.  


Lagipula...  


"Aku tidak menganggap dia cadangan, tahu."  


Aku bergumam sendirian sambil menatap pola di langit-langit.  


Chise bilang aku menganggap Takeru sebagai 'cadangan', tapi aku bisa menjamin dengan tegas kalau itu sama sekali tidak benar.  


Cadangan—aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadikan Takeru sebagai pilihan kedua jika seandainya aku putus dengan Yasaka nanti.  


Faktanya, aku sudah berkali-kali mencoba memberi tahu Takeru kalau aku pacaran dengan Yasaka. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakannya.  


Aku tidak ingin Takeru tahu kalau aku sedang pacaran dengan seseorang.  


Entah itu karena rasa malu, atau karena aku takut hal itu akan mempengaruhi hubunganku dengan Takeru, aku sendiri tidak tahu. Namun, melihat situasi sekarang di mana hubunganku dengan Takeru jadi kacau setelah dia tahu soal hubunganku dengan Yasaka, aku jadi menyesal dan merasa seharusnya aku tidak usah mengatakannya saja sekalian.  


Tiba-tiba aku mengecek ponsel dan melihat ada puluhan pesan masuk.  


Saat aku memeriksanya sekilas, kebanyakan pesan berasal dari Yasaka dan teman-teman sekelas yang menanyakan kenapa aku tidak datang kuliah hari ini karena mereka khawatir.  


Aku membalas setiap pesan mereka dengan, "Ahaha, aku bangun kesiangan..." disertai stiker asal.  


Lalu, saat aku melihat pesan terakhir, sudut bibirku naik secara alami.  


Pesan itu dari Takeru, isinya cuma satu kalimat pendek: 'Kamu tidak apa-apa?' Aku merasa lega karena aku sempat berpikir Takeru benar-benar marah gara-gara kejadian siang kemarin.  


"Nfufufu, ternyata biar gimana pun kamu tetap mengkhawatirkanku ya?"  


Aku sengaja menunda membalas pesan Takeru dan langsung melompat dari tempat tidur.  


Seingatku hari ini Takeru juga hanya ada kuliah sampai jam kedua, jadi dia seharusnya sudah ada di rumah sekarang.  


Sambil bersenandung, aku mulai bersiap-siap untuk keluar.  



Sesampainya di depan rumah Takeru, aku menekan bel pintu yang sudah kutekan ribuan kali sejak kami masih SD.  


Biasanya pintu akan langsung terbuka dalam hitungan detik, tapi tumben sekali kali ini tidak ada reaksi.  


Saat aku mulai bimbang apakah sebaiknya pulang saja, pintu terbuka dan Takeru mengintip keluar.  


"Eh, Akari? Kenapa...?"  


Takeru memasang wajah tidak senang. Akhir-akhir ini dia selalu begini. Hanya karena aku punya pacar, dia jadi bersikap canggung dan secara terang-terangan mencoba menjauh dariku.  


Namun, tidak peduli meskipun aku punya pacar, aku sama sekali tidak berniat memutuskan ikatanku dengan Takeru.  


Selain karena janjiku pada Nenek, bagiku Takeru adalah teman sangat berharga yang tidak boleh hilang, jadi aku tidak boleh kalah di sini.  


"Ken, makasih ya buat pesannya. Maaf sudah bikin khawatir, sebenarnya aku cuma bangun kesiangan tadi—"  


Sambil berkata begitu, aku melangkah maju agar diperbolehkan masuk.  


Biasanya jika aku melakukan itu, Takeru akan minggir dan membiarkanku masuk, tapi hari ini dia sama sekali tidak mau bergeser.  


"Ken, aku tidak bisa masuk nih kalau begini?"  


Mendengar ucapanku, Takeru memasang wajah bingung.  


"Kan sudah berkali-kali kubilang, Akari itu sudah punya Yasaka-senpai, jadi tidak baik kalau kamu masuk ke rumahku terus."  


Lagi-lagi soal ini. Aku menjawab sambil memelototi Takeru.  


"Sudah kubilang tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan!"  


"Tidak bisa begitu."  


Takeru yang biasanya tidak terlalu suka memaksakan kehendak, tumben sekali kali ini bersikap sangat keras kepala.  


Aku mencoba menerobos paksa dengan mendorong dada Takeru menggunakan kedua tanganku.  


"Biarkan aku masuk!! Hmmmmm...!!"  


"Tidak boleh, aku tidak akan membiarkanmu lewat. Maaf, mending kamu pulang saja."  


Aku mendorong sekuat tenaga, tapi Takeru sama sekali tidak bergeming.  

Sambil terus berusaha mendorong, aku melihat ekspresi Takeru. Dia tampak jengah dan sepertinya tidak sedang mengeluarkan banyak tenaga.  


Ngomong-ngomong, Takeru yang dulu kurus dan kecil, sekarang kalau dilihat-lihat lagi perawakannya sudah seperti laki-laki dewasa pada umumnya, dan dada yang sedang kusentuh sekarang pun terasa sudah lebih bidang.  


"Ternyata Ken juga sudah jadi laki-laki ya. Sok jagoan!"  


"Eh! Maksudnya apa?!"  


Takeru tampak gelagapan mendengar ucapanku.  


Di tengah aksi saling dorong dengan Takeru, mataku menangkap sepasang sepatu bot hitam yang diletakkan di pintu depan. Sepatu bot untuk perempuan dari merek ternama itu memancarkan aura yang sangat berbeda dan jelas-jelas terlihat mencolok di pintu depan rumah Takeru yang sederhana.  


"Ken, itu sepatu siapa?"  


Mendengar pertanyaanku, Takeru mengikuti arah pandanganku lalu menyadari adanya sepatu bot itu. Dia menjawab dengan wajah yang dibuat seolah tidak terjadi apa-apa.  


"...Itu punya Mayu."  


Tapi aku tidak melewatkan sekejap ekspresi wajah Takeru yang sempat menegang.  


"Sepatu bot itu produk terbarunya Dior, kan? Kamu tahu tidak harganya berapa?"  

"Eh... m-mungkin dua puluh ribu yen... eh, atau jangan-jangan lima puluh ribu yen...?"  


Takeru mencoba meralat harganya sambil melihat ekspresiku, tapi dia sepertinya sama sekali tidak tahu nilai barang itu.  


"Harganya beda satu digit lho. Jadi itu bukan punya Mayu-chan, kan?"  


Keluarga Takeru tidak sekaya itu sampai bisa membeli sepatu merek ternama. Artinya, sepatu bot itu milik perempuan lain selain Mayu.  


Firasat buruk melintasi dadaku.  


Aku mendorong paksa Takeru yang masih terkejut mendengar harga sepatu itu, lalu aku menyelinap masuk ke dalam rumah. Entah karena kekuatan dari mana, aku berhasil menyingkirkan Takeru yang tadinya tidak bergerak sedikit pun.  


"Eh... tiba-tiba tenagamu kuat sekali...!"  


Takeru mengatakan sesuatu tapi aku tidak peduli. Aku menepis tangan Takeru yang mencoba menghentikanku, lalu melangkah masuk ke ruang tamu.  


Di ruang tamu, ada Chise yang sedang duduk di kursi yang biasanya kutempati sambil membaca buku.  


Firasat burukku tepat sasaran.  


Hanya dia satu-satunya orang yang terlintas di kepalaku yang suka pamer memakai barang bermerek di sekitar kami.  

Chise mengangkat wajah dari bukunya, dia sama sekali tidak goyah melihat kedatanganku yang tiba-tiba, dan justru memberikan senyum yang anggun padaku.


"Halo, Sato-senpai. Tiba-tiba datang ke rumah Takeru, ada perlu apa?"


"……Kenapa Chise-chan ada di sini?"


"Kenapa? Memangnya aneh kalau aku datang ke rumah temanku... rumah Takeru?"


Chise memasang ekspresi polos dan bingung.


Meskipun dia orang yang paling memahami situasi ini, melihatnya pura-pura tidak tahu apa-apa membuatku naik pitam.


"Chise-chan, kamu tahu kan kenapa aku marah? Kenapa kamu memasang wajah aneh begitu?"


Tanpa sadar nada bicaraku menjadi menantang.


"Hmm, maaf sekali tapi aku benar-benar tidak mengerti. Apa maksudmu kamu tidak suka aku berada di rumah 'Takeru'?"


Takeru, Takeru, Takeru, Takeru, Takeru...


Setiap kali Chise mengucapkan nama itu, hatiku bergejolak. Aku tidak bisa tetap tenang. Entah dia sengaja atau tidak, dia berkali-kali menyebut nama Takeru seolah ingin menekankannya, dan setiap kali itu pula darahku naik ke kepala.


Di tengah aksi saling melotot antara aku dan Chise, Takeru yang berlari dari arah pintu depan tiba-tiba menyela di antara kami.


"T-tunggu sebentar, Akari. Ada alasan kenapa aku meminta Chise-san datang ke rumah..."


"Tunggu Takeru, kamu tidak perlu repot-repot menjelaskan."

Tepat saat Takeru hendak memberi penjelasan, Chise memotongnya.


"Hei, bisa tidak Chise-chan diam saja dulu?"


Aku mengatakannya sambil melotot penuh amarah pada Chise, tapi gadis keras kepala itu tidak mundur setapak pun.


"Tidak, aku tidak akan diam. Sebaliknya, aku ingin bertanya, apa yang Sato-senpai khawatirkan? Aku hanya datang ke rumah teman. Jika senpai adalah pacar Takeru, mungkin memang perlu ada penjelasan, tapi tentu saja kenyataannya tidak begitu, kan?"


"Itu... memang benar, tapi..."


Aku terbungkam oleh kata-kata Chise dan hanya bisa bergumam tidak jelas.


"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dijelaskan."


Chise kembali menunduk ke bukunya, seolah-olah pembicaraan ini sudah selesai.


Memang apa yang dia katakan ada benarnya. Faktanya, aku tidak punya hak untuk ikut campur soal siapa pun yang diizinkan Takeru masuk ke rumahnya. Tapi Chise tidak tahu apa-apa soal hubunganku dengan Takeru. Aku punya janji dengan Nenek.


Aku tahu persis alasan Chise mendekati Takeru. Sebagai orang yang bertugas melindunginya, aku tidak bisa membiarkan Takeru terseret masalah pribadiku. Jika Chise tidak mau pergi, maka aku harus membujuk Takeru untuk mengusirnya.


Berpikir begitu, aku melotot tajam ke arah Takeru.


"Ken, kamu bilang kan tidak pacaran sama Chise-chan? Bukankah aneh memasukkan gadis yang bukan pacarmu ke dalam rumah?"


Chise menghela napas dan menggelengkan kepala seolah merasa jengah, tapi aku mengabaikannya dan terus melotot menunggu jawaban Takeru. Takeru memegangi kepalanya dengan satu tangan lalu menjawab.


"Akari, ini ada sedikit urusan."


"Makanya, urusan apa?! Dari tadi aku nanya terus!!"


Tanpa sadar suaraku meninggi. Perlahan, aku mulai merasa kesal juga pada Takeru. Jika memang tidak ada yang mencurigakan, seharusnya dia bisa menjelaskannya padaku. Tapi, Takeru malah saling bertatapan dengan Chise dengan ekspresi bingung.


Aku juga tidak suka melihat pemandangan di mana Takeru membela Chise dan mencoba menenangku. Takeru ini sebenarnya ada di pihak siapa sih?


Tepat saat aku hendak berseru lagi, terdengar suara pintu depan terbuka disertai suara Mayu.


『Eh, Chise-chan datang?!』


Setelah suara langkah kaki berdentum dari arah pintu depan, Mayu membuka pintu ruang tamu dengan semangat dan melongokkan kepalanya.


"Chise-chan, ayo main gim— lho, Akari-chan juga datang... Ini situasi macam apa? Keributan cinta?"


Mayu membelalakkan mata saat melihatku, lalu wajahnya membeku saat melihatku dan Chise bergantian.


Justru aku yang ingin bertanya begitu. Kenapa Mayu kenal Chise? Dan kenapa mereka kelihatan sangat akrab? Pertanyaanku semakin bertumpuk. Saat wajahku masih kaku, Chise yang menjawab sebagai gantinya.


"Halo Mayu-chan. Sato-senpai dan aku ini awalnya senior-junior di klub yang sama, jadi kami berteman kok."


Mendengar kata-kata Chise, ekspresi Mayu langsung melunak karena lega.


"Eh, ternyata teman toh. Kalau gitu Akari-chan mau ikut main gim juga?"


Sekarang bukan saatnya main gim. Aku memasang wajah menyesal dan menolak ajakan Mayu.


"Maaf ya Mayu-chan, saat ini aku punya urusan yang ingin dibicarakan dengan Ken."


Mendengar nada bicaraku yang ketat, Mayu sepertinya merasakan suasana yang tidak beres dan memasang wajah heran. Chise kemudian berdiri dan menghampiri Mayu.


"Kalau begitu, mari kita ke kamar Mayu-chan saja. Aku sudah latihan, jadi hari ini aku tidak akan kalah."


Setelah berkata begitu, Chise mengajak Mayu keluar dari ruang tamu. Mungkin dia melakukannya karena ingin menjauhkan Mayu dari sini agar kami bisa bicara berdua.


Ruang tamu yang kini hanya diisi aku dan Takeru pun diselimuti kesunyian, hanya suara detak jam yang terdengar bergema. Aku menatap pintu ruang tamu yang dilewati Mayu dengan tatapan kosong lalu membuka suara.


"Mayu-chan akrab sekali ya dengan Chise-chan? Sepertinya ini bukan pertama kalinya dia datang ke sini."


Takeru terdiam sejenak, lalu menjawab seolah sudah menyerah.


"……Yah, dia sudah datang beberapa kali."


"Hari ini kunjungan ke berapa?"


"Keempat... eh, mungkin kelima? Ayah dan Mayu sangat menyukainya, mereka terus berisik menyuruhku membawanya kemari."


Lima kali... dan sepertinya dia juga sudah akrab dengan Paman.


"……Kapan... ini semua terjadi……"


Aku bergumam pelan agar tidak terdengar Takeru. Rasa sakit di dada yang belum pernah kurasakan sebelumnya menyerangku, dan aku duduk terperosok di kursi yang tadi diduduki Chise—kursi milikku.


Lalu, aku mengelus pelan permukaan meja yang merupakan posisiku.


Duduk di depan Takeru ini, melihat wajah Takeru yang tampak lega setelah aku bilang makanannya enak, perasaan geli yang menyenangkan di hatiku,


Menemani Mayu main gim sejak dia masih TK,


Makan bekal buatan tangan Takeru setiap hari,


Semua, semua, semua itu adalah tempat berhargaku. Namun tanpa kusadari, posisi-posisi itu kini semuanya telah diambil alih oleh Chise.


Aku menggigit bibir kuat-kuat, lalu memantapkan hati untuk bicara.


"Ken, sebenarnya Chise-chan itu, tentang Yasaka-senpai—"


"Akari, Chise-san itu…." 


Takeru memotong ucapanku dengan nada tegas. Dia melanjutkan sambil tersenyum lembut. 


"Dia memang selalu cemberut, bicaranya terkadang pedas, dan sangat tidak mau kalah."


Tepat saat itu, terdengar bunyi gedebuk di balik pintu. Saat aku menoleh, terlihat bayangan seseorang di balik kaca pintu yang sepertinya adalah Chise. Dia sedang menguping pembicaraan kami. Namun Takeru melanjutkan bicaranya tanpa menyadari hal itu.


"Tapi dia hanya orang yang kaku. Dia tidak bisa membiarkan orang yang kesulitan begitu saja, dan akan mengulurkan tangan dengan caranya sendiri yang canggung. Dia hanya sering salah paham, tapi dia benar-benar bukan anak nakal. Tidak peduli apa pun yang dikatakan orang, aku akan percaya pada Chise-san yang kulihat dengan mataku sendiri."


Takeru mengatakannya sambil menatap langsung ke mataku.


Sejak dulu Takeru memang peka terhadap perasaan orang lain. Dia pasti tahu kalau aku sejak awal tidak menyukai Chise. 

Karena itu, sebelum aku sempat menjelek-jelekkan Chise, dia sudah lebih dulu memperingatiku.


Takeru lebih memilih percaya pada Chise daripada kata-kataku. Apakah hubungan kepercayaan yang kami bangun selama bertahun-tahun pun sudah tidak bisa mengalahkan gadis itu?


Aku terdiam untuk menahan air mata yang mulai mendesak keluar, lalu Takeru merendahkan nada suaranya dan melanjutkan.


"Lagi pula, tadi Akari bilang aneh kalau aku memasukkan orang yang bukan pacar ke dalam rumah, tapi bagaimana dengan Akari sendiri? Bukankah aneh kamu masuk ke rumahku padahal kita tidak pacaran?"


"Tapi meskipun laki-laki, ini kan Ken?! Tidak perlu merasa secanggung itu—"


"LALU APA KAMU BISA MENGATAKANNYA?!"


Tumben sekali Takeru membentakku, aku pun terkejut dan terbungkam. Takeru menunduk sambil mengepalkan tangan kuat-kuat, suaranya bergetar karena emosi.


"Apa kamu bisa bilang ke Yasaka-senpai... kalau setiap pagi kamu datang ke rumahku untuk sarapan? Kemarin di depan Yasaka-senpai pun kamu berbohong bilang aku hanya teman masa kecil biasa, kamu pasti tidak mengatakannya padanya, kan?"


"Itu... memang belum kukatakan, tapi..."


Suaraku pun ikut bergetar. Rasa terkejut karena Takeru marah serta rasa takut membuat air mataku tumpah. Rasa takut ini bukan karena Takeru terlihat menyeramkan, tapi aku takut dibenci olehnya... aku takut ditinggalkan olehnya.

Takeru melanjutkan dengan nada bicara yang semakin kuat.


"Bukannya 'belum', tapi 'tidak bisa', kan? Akari juga sebenarnya sadar di lubuk hatimu. Kamu tahu pergi ke rumah lawan jenis saat sudah punya pacar itu aneh. Makanya kamu tidak bisa mengatakannya."


Takeru menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan seolah sedang bicara pada dirinya sendiri.


"Aku pun sebenarnya ingin hubungan kita tetap seperti dulu selamanya. Tapi, Akari sudah melangkah maju... hubungan kita juga harus melangkah maju."


Mendengar kata-kata Takeru yang seolah terperas dari hatinya itu, aku akhirnya menyadari sesuatu.


Hingga tadi, aku berpikir semua yang sudah kubangun selama belasan tahun telah dirampas oleh Chise. Tapi aku salah. Akulah yang membuangnya sendiri. Ini adalah akibat dari keangkuhanku yang mencoba mempertahankan Yasaka-senpai sebagai pacar sekaligus Takeru sebagai teman masa kecil lawan jenis.


"Tapi Ken...! Aku... aku...!!"


Aku benar-benar tidak mau kehilangan hubunganku dengan Takeru. Aku tahu jika aku tidak membalas apa pun di sini, hubunganku dengannya akan berakhir. Tapi kata-kata tidak mau keluar. Semuanya adalah akibat perbuatanku sendiri, semuanya sudah terlambat, dan aku tidak punya satu pun alasan untuk membela diri.


Menyadari aku menangis, Takeru melembutkan nada bicaranya seolah ingin menghiburku.


"Maaf ya Akari, tapi tolong jangan menangis. Bukan berarti kita tidak berteman lagi. Kita hanya akan memulai kembali sebagai teman lawan jenis dengan jarak yang wajar."


Bukan itu. Aku tidak mau hanya menjadi teman biasa bagi Takeru. Aku ingin menjadi teman masa kecil, menjadi kakak, menjadi keluarga yang spesial...


"Jadi, um, mungkin sebaiknya kita mulai dari mengubah cara memanggil. Sato-san... mungkin?"


Sato-san. Dipanggil secara formal oleh Takeru membuat mentalku terguncang hebat. Didorong oleh emosi, aku menampar pipi Takeru yang sedang tersenyum ramah itu sekuat tenaga.


"KEN BODOH!!!!!!"


Setelah menamparnya, aku meninggalkan Takeru yang terpana dan berlari melarikan diri dari sana.



Pipi yang ditampar Akari terasa berdenyut-denyut dan panas. Entah berapa detik aku terpaku di sana, tak lama kemudian pintu ruang tamu terbuka, Chise dan Mayu keluar.


"Kamu benar-benar tidak punya ampun... Meskipun pada dasarnya ini akibat perbuatan Sato-senpai sendiri, tapi bagian terakhir tadi keterlaluan... Kurasa soal panggilan sebaiknya biarkan saja seperti biasa."


"Iya, Kakak jahat banget. Kasihan Akari-chan... itu jelas-jelas overkill."


Mereka berdua tersenyum kecut sambil meringis melihat pipiku.

"Ugh... aku juga jadi bingung di mana harus menarik garis batasnya..."


Memang benar, mengubah cara memanggil mungkin keterlaluan. Aku sendiri pun merasa perih saat mencoba memanggil Akari dengan "Sato-san".


"...Eh, kalian berdua dengerin ya?!"


Dari kapan?! Seingatku aku sempat mengucapkan banyak hal yang memalukan, apa semuanya terdengar...? Selagi aku mengingat-ingat ucapanku, Chise menunjuk ke arah pintu depan dan bertanya.


"Nah, Sato-senpai sudah pergi, kamu tidak mau mengejarnya?"


Aku tersenyum pada Chise untuk menenangkannya.


"Kalau Akari sudah begitu, sebaiknya dibiarkan saja dulu sebentar. Percuma bicara apa pun padanya sekarang."


"Yah, Akari-chan memang keras kepala sih—"


Mayu ikut menimpali kata-kataku sambil tersenyum kecut. Jika Akari sudah emosional, dia tidak akan bisa berpikir rasional dan kata-kata tidak akan masuk. Dalam kondisi begitu, cara terbaik adalah membiarkannya sampai kepalanya dingin dan menunggunya sampai bisa bicara dengan tenang.


"Hmm...? Kamu sangat paham ya."


Chise mengerutkan dahi dan menunjukkan reaksi yang ambigu antara paham dan tidak paham.


"Yah, kan kami teman masa kecil."


Setelah aku berkata begitu, Chise tidak bertanya lagi dan langsung memalingkan wajah. Saat aku sedang heran dengan reaksi aneh Chise, Mayu membuka pintu kulkas untuk mengambil es krim.


"Tapi, kurasa sebaiknya Kakak cepat baikan sama dia kali ini."


"Eh? Kenapa?"


"Soalnya kan Akari-chan yang paling sering makan masakan Nenek. Bukannya lebih baik minta bantuan Akari-chan soal masalah shogayaki itu?"


Benar juga, di antara kami bertiga, Akarilah yang paling dekat dengan Nenek. Seperti kata Mayu, mungkin aku bisa tahu sesuatu jika meminta bantuannya.


Malam itu juga, aku menelepon Akari. Setelah tiga kali nada sambung, dia mengangkatnya.


"Halo, Akari?"


"…………"


Namun, tidak ada suara dari Akari. Karena aku bisa mendengar derau statis di seberang sana, seharusnya teleponnya sudah terhubung.


"Halo, Akari?"


"……Bukannya mau panggil 'Sato-san'?"


Akhirnya suaranya terdengar, tapi dengan nada ketus. Sepertinya Akari masih marah soal kejadian siang tadi. Karena aku ingin sedikit menjahilinya, aku sengaja mengikuti perkataannya.


"Ah, ternyata kamu lebih suka dipanggil begitu? Maaf, Sato-san."

"……Ueeh…… hiks."


Kupikir dia akan marah, tapi ternyata Akari jauh lebih sedih dari dugaanku. Karena dia mulai terisak, aku buru-buru meminta maaf.


"Ah maaf Akari!! Bukan begitu, um, aku tadi juga sedang tidak tenang... Aku sadar kalau mengubah panggilan itu juga berat buatku. Kita tetap pakai panggilan seperti biasa saja ya? Oke?"


"……Iya, oke."


Suaranya sangat kecil dan lemah, tapi setidaknya dia bisa menahan tangisnya. Aku merasa lega, dan berusaha meminta maaf sambil berhati-hati agar tidak menyinggung perasaannya lagi.


"Soal tadi siang, maaf ya. Aku tidak menceritakan alasan kenapa Chise-san ada di rumah bukan karena mau menyembunyikan sesuatu darimu, tapi... itu masalah pribadi Chise-san jadi aku tidak bisa sembarangan cerita."


"……Beneran... kalian tidak pacaran kan……?"


Akari bertanya dengan nada cemas.


"Iya, itu sudah pasti."


Setelah aku menegaskannya, Akari menjawab dengan lega.


"Kalau begitu, lupakan saja. Aku paham." 


Setelah berkata begitu, Akari melanjutkan dengan nada sedih. 


"Aku juga minta maaf soal tadi siang, aku sedang emosi sampai tanpa sadar menamparmu..."


"Tamparan begitu sih tidak ada apa-apanya. Dulu kamu malah sering melakukan kuncian lengan padaku kan?"


Kalau tidak salah saat kami SD, Akari sempat keranjingan bela diri karena pengaruh ayahnya. Saat itu aku sering dijadikan kelinci percobaan teknik kuncian angka empat (figure-four leglock) dan berbagai teknik lainnya. Saat masih kecil aku tidak memikirkannya, tapi sekarang kalau dipikir-pikir, kontak fisik kami memang terlalu berlebihan.


Mendengar godaanku, Akari berseru panik.


"Eh, itu kan sudah lama sekali! Sudah kubilang berkali-kali lupakan soal itu!"


Sepertinya ingatan saat dia menjadi "bos anak-anak" adalah aib besar bagi Akari, dia selalu bereaksi keras jika aku membahasnya. Aku bisa membayangkan wajahnya yang merah padam sekarang. Aku merasa lega karena suaranya yang tadi lemah kini mulai kembali bersemangat.


"Hahaha, ya sudah, intinya kita berdua salah, jadi kita baikan ya?"


Saat aku berkata begitu, suara Akari terdengar seperti sedang tersenyum malu.


"Ehehehe, iya. Makasih ya sudah telepon, Ken."


Aku merasa lega melihat dia sudah kembali seperti biasa. Tapi, tujuan telepon ini belum selesai. Dengan ragu aku mulai bicara.


"Nah Akari, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuminta tolong."


"……Jangan-jangan, soal Chise-chan?"


Tebakannya tepat sasaran padahal aku belum bilang apa-apa, membuatku terdiam sejenak. Karena aku diam, Akari menganggapnya sebagai jawaban iya, lalu dia melanjutkan dengan nada dingin.


"Ternyata benar ya. Jangan-jangan kamu mengajak baikan tadi cuma demi minta tolong ini?"


"Tidak, tidak, bukan begitu. Telepon ini murni karena aku ingin baikan sama Akari. Soal minta tolong itu cuma sampingan, jadi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa."


Aku menjawabnya dengan tegas dan cepat. Mendengar itu, Akari bergumam rendah. Sepertinya dia tidak terlalu suka jika harus membantu Chise. Tapi karena kami baru saja baikan, mungkin dia merasa bimbang karena sulit untuk menolak.


Sangat disayangkan, tapi jika Akari memang tidak mau, ya sudah. Aku pun memberikan jalan keluar agar dia mudah menolak.


"Kalau aku minta tolong, aku harus menjelaskan alasan kenapa Chise-san datang ke rumahku jadi ceritanya bakal panjang, jadi lupakan saja—"


"Oke. Aku dengarkan."


Tadinya aku mau membatalkan permintaanku, tapi tiba-tiba Akari memberikan jawaban positif.


"……Eh, beneran boleh? Bakal memakan waktu cukup lama lho."


"Sudahlah cepat ceritakan saja."


Meskipun tadi sempat ragu, tiba-tiba dia malah mendesakku. Aku pun menceritakan semuanya soal Chise padanya. Setelah selesai bercerita, Akari menghela napas panjang.


"Begitu ya, mereproduksi rasa masakan Nenek... Oalah, ternyata kamu memasukkannya ke rumah cuma karena mau membantu ya."


Akari berkata begitu dengan nada lega.


"Iya, tapi sepertinya tidak ada yang ingat rasa masakan Nenek dengan tepat. Padahal aku sudah membuatnya sesuai resep, tapi Chise-san bilang rasanya berbeda."


Akari mulai bicara seolah bernostalgia.


"Rasa masakan Nenek, aku ingat semuanya kok. Sejak bertemu Ken di SD, aku kan makan itu terus. Mana mungkin aku lupa."


Setelah berkata begitu, Akari terdiam sambil bergumam "Tapi...". Entah apa alasannya, sepertinya Akari memang tidak menyukai Chise. Mungkin di lubuk hatinya dia tidak terlalu ingin membantu.


"Kamu... keberatan?"


"Hmm... Tapi Ken ingin membantu Chise-chan kan?"


"A-ah, iya, begitulah."


"Kalau begitu... aku akan melakukannya."


Benar, sejak dulu Akari tidak pernah menolak setiap kali aku meminta bantuan padanya. Meskipun dia sering menggerutu tapi pada akhirnya dia selalu menemaniku.


"Terima kasih ya, Akari."

"……Iya."


Akari menjawab dengan nada malu-malu tapi mantap.



Keesokan paginya, aku mengundang Akari ke rumah dan memintanya mencicipi shogayaki buatanku.


"Nah, ini dia! Rasa yang ini nih~!"


" "Tidak, ini sih jelaaaaas beda banget! " "


Suara santai Akari langsung disambar oleh protes keras dariku dan Mayu secara bersamaan.


Selama proses memasak, Akari berkali-kali mencicipi dan menyesuaikan bumbunya, tapi hasil akhirnya benar-benar berbeda dari rasa masakan Nenek yang ada dalam ingatanku.


Malah, bumbu ini hampir persis dengan rasa shogayaki yang biasa kubuatkan untuk bekal Akari dulu. Sepertinya Akari, karena terlalu sering memakan masakanku, sudah benar-benar melupakan cita rasa asli masakan Nenek.


"Akari, kalau memang sudah lupa, bilang saja jujur... Kita tidak punya waktu buat main-main sekarang."


Saat aku memelototinya, Akari buru-buru melambaikan tangannya dengan panik seolah membantah.


"Eh, bukan gitu! Aku serius tahu! Rasanya beneran kayak gini!"


"Mana mungkin! Rasa kecap asinnya tidak sekuat ini, dan harusnya ada sedikit lebih banyak rasa manis!"

"Habisnya mau gimana lagi, aku kan cuma tim pemakan, mana aku tahu detailnya!"


Akari menggembungkan pipinya dan memalingkan muka dengan ketus.


Aku benar-benar buntu. Mayu, Chise, dan Akari—masing-masing bersikeras pada rasa yang berbeda.


Hari yang dijanjikan adalah besok, tapi aku belum juga sampai pada rasa masakan Nenek. Kalau begini terus, padahal Chise sudah susah payah mengajak orang tuanya, aku tidak akan bisa menyajikan rasa dari masa lalu itu. Aku menghela napas panjang sambil memegangi kepala dengan lesu.


Melihat kondisiku, Akari tampak panik. Dia menaruh jari telunjuknya di pelipis, memejamkan mata rapat-rapat, dan mulai mengerang seolah sedang menggali memorinya. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba membuka mata dan berseru.


"Ah! Benar juga, dulu Nenek pernah bilang kalau dia pakai sihir!"


"Si-sihir?"


Karena Akari tiba-tiba mengatakan hal yang tidak masuk akal, tanpa sadar aku menatapnya dengan penuh kecurigaan. Akari pun buru-buru menyambung kata-katanya.


"Su-sungguh! Dia bilang kalau memasak sambil memikirkan pelanggan setia, Ken, atau Mayu-chan, masakannya bakal jadi enak!"


Memasak sambil memikirkan pelanggan setia, aku, atau Mayu...


Mendengar kata-kata Akari, aku merasa seperti ada titik-titik yang mendadak terhubung di kepalaku. 

Mayu sepertinya sampai pada pemikiran yang sama; dia bergumam "Itu bukan sihir, jangan-jangan..." sambil membelalakkan mata menatapku.


Aku mengangguk, setuju dengan Mayu.


"Iya, aku juga mikir hal yang sama."


Nenek kemungkinan besar mengubah-ubah rasanya sesuai dengan selera pelanggan setia atau selera kami masing-masing. Jika asumsi itu benar, maka terjawab sudah kenapa kami bertiga memberikan jawaban yang berbeda-beda tentang rasa masakan Nenek.


Pasti untuk Mayu dan aku yang suka rasa seimbang, Nenek membuat bumbu yang orisinal. Sedangkan untuk Akari yang tidak suka manis dan lebih suka asin, Nenek menambah takaran kecap asin dan mengurangi gulanya. Dia melakukan penyesuaian itu untuk semua pelanggan tetapnya, termasuk Chise.


Aku kembali disadarkan betapa hebatnya Nenek. Tapi kalau begitu...


"Berarti... selama Chise-san sendiri cuma ingat rasanya samar-samar, mustahil bagi kita untuk mereproduksinya..."


Rasa shogayaki yang dulu dimakan Chise hanya pernah dimakan oleh Chise seorang. Artinya, jika dia sendiri tidak mengingatnya dengan tepat, maka mustahil bagi siapa pun untuk membuatkan rasa yang sama persis untuknya. Bahuku merosot karena merasa lemas.


Seketika Akari berputar ke belakangku, mencengkeram bahuku dan mengguncang-guncangkannya maju-mundur.


"Ken, tidak ada waktu buat galau! Besok sudah harinya!"


Mungkin ini caranya memberiku semangat. Aku tersenyum lemah dan menjawab.


"Iya, tapi aku baru saja sadar kalau ini sudah jalan buntu."


"Makanya, aku bilang rasa yang tadi kubuat sambil mencicipi itu sudah oke kok!"


Akari sepertinya belum paham situasinya dan masih bicara begitu.


"Bukan gitu, Akari. Jadi Nenek itu..."


Tepat saat aku hendak menjelaskan pada Akari, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku.


Kenapa rasa shogayaki yang kubuat untuk Akari dulu bisa sama persis dengan rasa shogayaki yang Nenek buatkan untuk Akari? Padahal aku tidak tahu kalau Nenek menyajikan rasa yang berbeda untuknya, dan aku juga tidak pernah diajari resep khusus itu oleh Nenek.


Shogayaki yang kubuat untuk Akari adalah hasil riset mandiriku demi menyesuaikan seleranya. Jika kedua rasa itu menjadi sama, apakah itu hanya kebetulan? Tidak, bukan itu.


"Begitu ya! Harusnya dari awal aku lakukan itu saja!"


Setelah menyadari sesuatu, aku berdiri dan menjabat tangan Akari kuat-kuat. 


"Makasih Akari! Gara-gara kamu, aku melihat harapan!"


Akari terpana selama beberapa detik dengan wajah melongo, sebelum akhirnya membusungkan dada dengan tampang sok tahu.

"Eh? I-iya, bener banget! Harusnya dari awal kamu percaya sama aku!"


Akari tampak sangat bangga, meski sepertinya dia sama sekali tidak mengerti apa-apa. Tapi yah, justru karena kata-kata dari dia yang seperti itulah aku bisa terselamatkan—dalam arti yang positif, tentu saja.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close