NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kodoku Datta Kokuminteki Bishoujo no Imouto wo Hitoban Tometara Natsukareta V1 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Adik dari Aktris Jenius

Sore hari, ketika jarum jam telah melewati pukul 18:00.


"Hari ini saya izin pulang dulu."


Setelah menyelesaikan pekerjaan, aku merapikan meja dan bangkit dari kursi. Tempat ini adalah sebuah agensi hiburan bernama 'Second House', tempatku bekerja paruh waktu.


Meskipun berskala kecil—hanya memiliki 4 karyawan termasuk pekerja paruh waktu dan tiga aktris yang bernaung di bawahnya—agensi ini cukup disegani di dalam industri karena semua aktris tersebut merupakan aktris populer yang sangat berbakat.


Karena sebuah garis takdir, aku diizinkan bekerja di sini sejak satu tahun yang lalu.


"Terima kasih atas kerja kerasnya."


"Kanata-kun, terima kasih atas kerja kerasnya!"


Yang membalas salamku dengan senyum lebar adalah sesama staf administrasi, Ema Saikawa-san.


Dia adalah mahasiswi yang diterima bekerja paruh waktu 2 bulan setelah aku mulai bekerja di sini. Sosok wanita yang ceria, supel, dan suka mendampingi. Karena usianya dua tahun lebih tua dan berumur sepantaran, kami bisa berhubungan dengan akrab.


Bagi diriku, dia adalah salah satu dari sedikit rekan kerja, sekaligus sudah seperti teman lawan jenis.


Tepat saat aku melambaikan tangan kembali kepada Ema-san dan memegang gagang pintu.


"Kanata-kun, bisa tunggu sebentar?"


Aku dipanggil oleh seorang wanita lain yang berada di dalam kantor. Orang ini adalah Igarashi Chika-san, yang menjabat sebagai direktur utama Second House. Direktur Igarashi adalah seorang pengelola yang dipercaya untuk memegang kendali Second House dari direktur sebelumnya di usia yang masih muda.


Aku tidak tahu situasi detailnya, tetapi konon pada saat itu, Direktur Igarashi aktif sebagai aktris yang bernaung di bawah Second House. Namun, karena direktur sebelumnya tiba-tiba menghilang, dia memutuskan pensiun sebagai aktris dan menjabat sebagai direktur utama. Mungkin karena dia adalah orang yang memiliki latar belakang unik sebagai direktur agensi hiburan—yaitu mantan aktris—dia menjadi sosok yang tegas namun lembut, yang selalu mengutamakan perasaan para aktris yang bernaung di bawahnya.


"Apakah ada pekerjaan yang mendesak?"


"Bukan pekerjaan mendesak, tapi ada pekerjaan yang ingin kuperkenalkan kepadamu."


"Pekerjaan yang ingin... diperkenalkan?"


Alih-alih pekerjaan yang ingin dipercayakan, pilihan kata 'pekerjaan yang ingin diperkenalkan' terasa mengganjal di hatiku. Kemudian, Direktur Igarashi mengambil selembar kertas dari laci meja dan menyodorkannya kepadaku. Begitu menerimanya dan mengalihkan pandangan ke bawah, tajuk bertuliskan 'Undangan Audisi' langsung menarik perhatianku.


Hanya dengan melihat itu, aku langsung memahami segalanya, dan di saat yang sama, sebuah helaan napas lolos dari bibirku.


"Seorang sutradara drama kenalanku berkonsultasi, dia memintaku memperkenalkan aktor yang bagus jika ada. Jika Kanata-kun berkenan, aku berniat memperkenalkanmu sebagai aktor yang bernaung di bawah agensi kami."


Sebab, ini bukanlah pertama kalinya Direktur Igarashi memperkenalkan pekerjaan sebagai aktor kepadaku seperti ini. Padahal aku seharusnya dikontrak sebagai staf administrasi, tetapi jumlah pembicaraan serupa yang dilontarkan selama satu tahun ini sudah lebih dari hitungan lima jari.


"Sudah berulang kali saya sampaikan, saya tidak berniat lagi untuk beraktivitas sebagai aktor."


"Apakah perasaanmu tetap tidak berubah?"


Sebagai gantinya merespons dengan kata-kata, aku memperlihatkannya dengan anggukan yang dalam.


"Lagipula, saya sudah pensiun selama dua tahun. Sekarang ini, saya tidak akan bisa menunjukkan akting yang layak."


"Tidak mungkin seperti itu. Memang benar ada masa vakum, tetapi kepekaan yang telah dipupuk selama bertahun-tahun sejak masa kanak-kanak tidak akan hilang hanya karena meninggalkan lokasi syuting selama beberapa tahun."


Direktur Igarashi mengutarakannya seolah hal itu adalah sesuatu yang sewajarnya.


"Ema-san juga berpikir begitu, kan?"


"Eh? Ah... iya. Aku juga ingin melihat aksi Kanata-kun lagi!"


Karena tiba-tiba dilempari pertanyaan, Ema-san menjawab dengan senyuman meski tampak gugup. 


Terlepas dari apakah kata-kata Ema-san itu hanya sekadar menyamakan ritme pembicaraan atau tulus dari lubuk hatinya, jika seorang mantan aktris yang memiliki wawasan tentang akting seperti Direktur Igarashi sudah menegaskan dengan kata 'tidak mungkin seperti itu', aku tidak bisa membantahnya dengan keras. Beliau adalah direktur luar biasa yang mampu memahami perasaan seorang aktor, tetapi bagiku, hal ini sungguh menyulitkan.


Karena menyadari alasan yang asal-asalan tidak akan mempan, aku menyiapkan kata-kata lain.


"Setidaknya, sudah pasti kepekaan saya telah tumpul. Jika memperkenalkan orang seperti itu, hal itu akan memengaruhi reputasi Second House. Saya senang dengan perhatian Direktur Igarashi, tetapi kalau yang satu ini, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya."


"Aku akan mempertimbangkan hal itu saat memperkenalkannya nanti. Agensi kita ini isinya wanita semua, jadi sejujurnya kami juga menginginkan aktor pria. Kami akan memberikan dukungan sebisa mungkin, jadi maukah kamu memikirkannya?"


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, tetapi perasaan saya tidak berubah."


"......Baiklah. Maaf karena telah memaksamu."


Setelah menjawab demikian, Direktur Igarashi bergumam dengan raut wajah kecewa.


Setelah itu, beliau tidak membujukku lebih jauh lagi.


"Maaf ya sudah menahanmu. Terima kasih atas kerja kerasmu."


"Tidak apa-apa. Saya permisi pulang duluan."


Setelah sekali lagi menyelesaikan salam, aku meninggalkan kantor agensi. Saat menuruni tangga dan keluar dari gedung, lingkungan sekitar sudah mulai temaram.


"......Ingin diperkenalkan sebagai aktor, ya."


Sembari berjalan menuju stasiun terdekat, aku teringat kembali akan percakapan tadi. 


Sesuai dengan makna dari kata-kata itu, dulu aku pernah beraktivitas sebagai aktor. Sejak mulai bisa memahami lingkungan sekitar, aku sangat menyukai drama televisi dan menaruh kekaguman pada profesi sebagai aktor. Berkat pemahaman dari orang tua, aku menghadiri kelas akting untuk anak-anak, dan berhasil lolos dengan gemilang pada audisi yang kesekian kalinya. Aku berhasil melakukan debut sebagai aktor cilik pada usia lima tahun.


Kala itu, dibandingkan dengan anak-anak seusiaku, aku yang matang lebih awal secara mental mendapat sorotan sebagai aktor cilik yang memiliki daya pemahaman serta kemampuan akting yang tinggi. Meski terdengar sombong jika diucapkan sendiri, aku sempat tersohor sebagai aktor cilik yang jenius. Bahkan, popularitas itu begitu besar hingga tidak ada hari tanpa melihatku di televisi.


Namun...... situasi seperti itu tidak bertahan lama.


Ada ungkapan bijak yang sering dikatakan orang: 'Anak ajaib di usia sepuluh tahun, pemuda berbakat di usia lima belas tahun, dan begitu melewati usia dua puluh tahun, hanyalah orang biasa.' Dalam kasusku, bahkan sebelum menginjak usia dua puluh tahun, tepatnya sejak menjadi siswa SMP, pekerjaan mulai berkurang.


Meskipun demikian, demi bertahan hidup sebagai aktor, aku benar-benar melakukan apa saja yang bisa kulakukan sesuai arti harfiahnya. Tentu saja selain meningkatkan kemampuan akting, aku menerima pekerjaan apa pun untuk peran apa pun yang diberikan, dan mencoba mendekati sutradara serta produser menggunakan segala macam koneksi...... namun, tidak ada permintaan bagi aktor cilik yang masa jayanya telah lewat.


Di tengah situasi seperti itu, barulah aku berhasil mendapatkan kembali pekerjaan drama setelah sekian lama. Itu terjadi saat aku duduk di kelas tiga SMP──.


"Perkenalkan. Saya aktris pendatang baru, Tachibana Haruka!"


Aku bertemu dengan seorang genius yang sesungguhnya──Tachibana Haruka, atau nama aslinya Tachibana Haruka.


Dia berada di usia yang sama denganku, dan saat itu merupakan aktris pendatang baru yang baru saja bernaung di bawah Second House. Meskipun itu adalah karya debutnya, dia langsung terpilih untuk memainkan peran semipendukung dalam drama tersebut. Aku yang bermain bersama dengannya dalam drama itu menyaksikan sendiri bakatnya, dan dipaksa menyadari dengan perih bahwa diriku sama sekali bukanlah seorang genius ataupun sejenisnya.


Sebuah bakat yang begitu luar biasa dominan, hingga membuatku berpikir bahwa kata 'genius' itu diciptakan khusus untuk dirinya. Terlebih lagi, kenyataan bahwa dia baru memulai akting belum genap satu tahun terasa amat mengerikan. Sebuah kejeniusan yang saking hebatnya, alih-alih memicu rasa iri, justru membuatku merasakan ketakjuban yang murni.


Terlebih lagi, bakat yang dimilikinya tidak hanya terbatas pada kemampuan akting saja. Dia adalah seorang genius yang 'disukai oleh siapa saja'. Dengan kemampuan akting yang tinggi disertai penampilan fisik setingkat idola, tidak mungkin dia tidak menjadi populer.


Masyarakat dihebohkan oleh aksi aktris genius yang muncul bak komet ini. Dengan karakternya yang memikat, dia juga disenangi oleh media massa. Langkahnya yang melesat cepat menuju puncak popularitas bagaikan kisah Cinderella di era baru. Kala itu, dia bahkan digadang-gadang sebagai penerus dari Yoshioka Satomi, aktris papan atas di agensi yang sama.


Wajar saja jika ada orang yang merasa tidak senang dengannya, tetapi aku tidak pernah melihat satu orang pun yang menjelekkannya. Dia bukan sekadar sosok populer yang biasanya ada satu di setiap kelas, atau orang yang memiliki tingkat kesukaan yang sangat tinggi, melainkan sosok yang sangat dicintai oleh berbagai kalangan pada tingkat yang bahkan bisa dibilang tidak biasa; seorang bermuka dua yang ulung dalam arti yang paling positif.


Melihat aksinya yang memukau seperti itu, masyarakat mulai memberikan penilaian.

 

──Akting Tachibana Haruka memiliki pesona yang mampu memikat hati orang lain.

 

Tepat pada saat seluruh Jepang hampir dibuat jatuh hati olehnya. Suatu hari, setelah dua tahun berlalu sejak debutnya. Dia meninggal dunia akibat kecelakaan saat proses syuting.

 

──Sejak saat itu, tak terasa satu tahun telah berlalu.


Dalam arti tertentu, aku merasa berterima kasih kepadanya. Karena bertemu dengan seorang genius yang sesungguhnya, aku bisa merelakan impian menjadi aktor, mengambil keputusan untuk pensiun sebelum menginjak usia yang terlambat untuk berbenah, dan memanfaatkan momentum masuk SMA untuk memulai kembali kehidupanku.


Jujur saja, aku merasa ngeri jika membayangkan hal ini baru terjadi setelah aku menjadi orang dewasa. Tanpa sadar, aku memeluk lenganku sendiri sambil mendongak menatap langit malam.


"Tidak mungkin aku bisa kembali menjadi aktor sekarang......"


Padahal aku sudah lama menata kembali perasaanku, tetapi alasan mengapa sekarang aku memikirkannya lagi mungkin bukan hanya karena Direktur Igarashi menawarkan pekerjaan sebagai aktor, melainkan juga karena masalah baru yang muncul belakangan ini.


Sembari tenggelam dalam pikiran, aku tiba di apartemen, lalu menaiki tangga menuju kamar. Di sana, tepat di depan pintu masuk, tampak sosok yang menjadi sumber masalah tersebut.


"Selamat datang, Kanata-san!"


Orang yang telah menanti kepulanganku tidak lain dan tidak bukan adalah Yuu, adik dari Tachibana Haruka.


Dia berlari mendekat sembari mengurai senyum memikat dan membiarkan rambut panjangnya terombang-ambing.


Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat dia diajak oleh Tachibana Haruka untuk melihat-lihat lokasi syuting. Berbanding terbalik dengan Tachibana Haruka yang supel dan penuh daya pikat, aku teringat sosoknya kala itu yang bertukar salam denganku sambil bersembunyi di balik punggung kakaknya. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam impianku bahwa dia, yang saat itu masih duduk di kelas satu SMP, bisa semirip ini dengan sang kakak.


Jika diperhatikan baik-baik, berbeda dengan kakaknya yang tampak dewasa, dia masih menyisakan kepolosan yang sesuai dengan usianya. Meski begitu, kemiripan mereka berdua benar-benar bagaikan pinang dibelah dua.


"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, Kanata-san."


"......Kamu ini tidak ada kapoknya, ya."


Wajar saja jika aku rasanya ingin mengeluh.


Bagaimana tidak, sejak hari pertama dia muncul di hadapanku seminggu yang lalu, dia terus menanti kepulanganku setiap hari tanpa absen sekalipun; persis seperti seekor anjing setia terkenal yang patungnya dipajang di Stasiun Shibuya. Sikapnya yang tidak pernah patah semangat meski telah berulang kali diabaikan benar-benar mirip seperti seekor anjing.


"Berapa kali pun kamu memohon, aku tidak berniat mengajarkan akting."


"Tolong usahakan entah bagaimana caranya, tidak bisakah Anda mengabulkannya?"


"Maaf, tapi menyerahlah saja."


"Kanata-san──"


Aku mengabaikan suara yang memanggil namaku, lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Beberapa saat kemudian, mungkin karena sudah menyerah, suara langkah kaki Yuu perlahan menjauh dan menghilang.


"Kenapa juga orang seperti aku yang diandalkan......"


Kata-kata itu lolos dari bibirku sembari bersandar pada pintu.


Yah...... bukannya aku tidak tahu alasannya. Yuu tahu kalau aku dulunya seorang aktor, dan kami pernah bertemu serta saling mengenal saat aku bermain dalam drama yang sama dengan Tachibana Haruka. Terlebih lagi, dia juga tahu kalau aku bekerja di Second House, agensi tempat Tachibana Haruka bernaung dulu.


Memang kenyataan bahwa tidak ada orang lain yang lebih pas untuk dia mintai tolong selain diriku. Namun, meski begitu......


"Bagaimana dia bisa tahu kalau aku bekerja di Second House?"


Lebih jauh lagi, bagaimana bisa dia mengetahui letak kamarku?


Sampingkan dulu pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yang jelas aku tidak berniat memenuhi harapan Yuu.


"Yah, lambat laun dia juga pasti akan menyerah."


Awalnya aku berpikir demikian...... namun tampaknya pemikiranku terlalu naif. Setelah itu pun, Yuu terus menanti kepulanganku setiap hari tanpa pernah absen. Sebagai contoh, pada suatu hari.


"Kanata-san, terima kasih atas kerja kerasnya!"


"Bisa tidak, kamu menyerah saja sekarang?"


"Sama sekali tidak mau."


Kalimat sekeras itu bukanlah dialog yang pantas diucapkan sambil tersenyum manis, bukan?


"Omong-omong Kanata-san, apakah perut Anda tidak lapar?"


"Lapar? Yah, karena baru pulang kerja tentu saja lapar, tapi......"


"Ini. Silakan♪"


Kemudian, dia mengeluarkan kue taiyaki dari dalam kantong kertas yang dibawanya.


"Di area pertokoan depan stasiun, baru saja buka toko taiyaki baru."


"Hee...... aku malah tidak tahu."


"Karena tergoda oleh aromanya yang harum menggugah selera, saya jadi membelinya. Tapi, saya tidak sengaja membeli terlalu banyak. Di sini ada juga taiyaki berisi krim kastor kesukaan Kanata-san, bagaimana kalau mencicipinya satu?"


Sembari berkata demikian, Yuu menyodorkan kantong kertas itu lalu mulai makan duluan.


Sampingkan dulu masalah bagaimana dia bisa tahu kalau aku menyukai krim kastor, tidak mungkin aku bisa tahan ketika disuguhi pemandangan seseorang yang sedang makan dengan lahapnya tepat di depan mataku. Tanpa diduga, suara perutku yang keroncongan bergema di koridor apartemen.


"......Ini bukan berarti sebagai gantinya aku akan mengajarimu akting, ya."


"Saya tidak akan mengatakan hal yang tidak tahu adat seperti itu."


Jika memang begitu masalahnya, aku akan menerimanya tanpa sungkan.


Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan taiyaki. Begitu menggigitnya mulai dari bagian kepala, pipiku langsung meleleh oleh rasa manis kastor yang memenuhi seluruh mulut. 


Saat aku sedang kagum karena krimnya terisi penuh dari bagian kepala hingga ke ujung ekor—menandakan bahwa ini adalah toko yang jujur.


"Fufuh. Saya ikut senang melihat Kanata-san juga menikmatinya."


Yuu menatapku sembari tersenyum puas.


"......Ya, ini lumayan enak. Terima kasih atas makanannya."


"Sama-sama. Lain kali, saya akan membelikannya lagi untuk Anda."


"Tidak, lain kali──"


Sebelum sempat aku melarangnya datang lagi, Yuu sudah telanjur pergi.......Benar-benar misteri sebenarnya apa tujuan dia datang ke sini.


Lalu di hari yang lain.


"Ah, Kanata-san. Saya sudah menunggu Anda!"


"Aku mohon, jangan menguntitku lagi──"


Begitu menemukan keberadaanku, Yuu langsung berlari mendekat sambil tersenyum lebar. Bersamaan dengan seruan "Soal itu nanti saja!", dia mencengkeram tanganku dan mulai berlari keluar dari area apartemen dengan sikap tergesa-gesa.


"Hei, tunggu dulu──kita mau ke mana?!"


"Ada permohonan yang ingin saya sampaikan kepada Kanata-san!"


"Makanya, aku tidak berniat mengajarkan akting──"


"Bukan tentang akting!"


"Bukan tentang akting?"


Tempat yang kami tuju setelah ditarik berlari seperti ini ternyata adalah sebuah toko roti di area pertokoan.


"Toko roti ini memajang roti yang baru matang di etalase sebanyak tiga kali sehari; pagi, siang, dan sore. Namun di antara semuanya, yang paling juara adalah roti goreng yang ditaburi bubuk kedelai dan gula. Setiap orang hanya diperbolehkan membeli maksimal dua buah."


"Jangan-jangan...... maksudmu aku juga harus ikut mengantre?"


"Sebagai imbalannya, saya akan memberikan satu buah untukmu...... apakah tidak boleh?"


Aku sungguh serbasalah jika dimohon dengan tatapan mata yang menyerupai anak anjing telantar seperti itu.


"Kanata-san juga sangat menyukai roti goreng dari toko ini, bukan?"


Makanya, kenapa sih kamu bisa tahu makanan kesukaanku?


"......Hanya karena kamu memberiku satu, bukan berarti aku akan mengajarimu akting, ya."


"Tentu saja. Hal itu dan hal yang ini adalah dua perkara yang berbeda."


Setelah ikut mengantre selama lima belas menit──kami pun berhasil membeli masing-masing dua buah roti. Kami kemudian berpindah tempat ke taman terdekat, lalu duduk di bangku yang kosong dan langsung melahap roti goreng tersebut.


"Nfufu~♪"


Mungkin karena rotinya terlampau enak, Yuu mendongak menatap langit dengan ekspresi penuh haru.


"Memang benar, roti goreng yang dimakan bersama orang lain itu rasanya jauh lebih enak, ya!"


"Tidak juga...... tidak ada hubungannya dengan makan bersama orang lain atau tidak, alasannya terasa enak itu ya karena rotinya baru selesai digoreng."


"Tentu saja itu juga menjadi alasannya, tetapi makanan itu terasa lebih enak jika dimakan berdua daripada sendirian. Berkat Kanata-san yang mau menemani saya, rasanya jadi dua kali lipat lebih enak dari biasanya."


Sembari berkata demikian, dia melahap habis tiga buah roti goreng yang tergolong berat karena berminyak itu dalam sekejap.


Terlepas dari apa alasannya, meski terdengar aneh jika diucapkan olehku sendiri, tetapi apakah tidak apa-apa seperti ini?


Ini benar-benar memutarbalikkan tujuan utama; aku jadi tidak tahu sebenarnya apa maksud dia datang ke sini. Satu hal yang kupahami dengan sangat jelas adalah fakta bahwa Yuu sangat suka makan. Begitulah seterusnya, hari-hariku yang diombang-ambingkan oleh Yuu terus berlanjut.


Seberapa dingin pun sikap yang kutunjukkan, sejelas apa pun kata penolakan yang kusampaikan, bahkan ketika terkadang aku mengusirnya dengan ketat ataupun mengabaikannya, Yuu tidak pernah patah semangat dan terus menanti kepulanganku dengan senyuman. 


Situasi seperti itu terus bertahan selama sekitar dua minggu, hingga tiba di akhir bulan April. Tepatnya sehari sebelum libur Golden Week dimulai.


"Hari ini pasti dia tidak ada, kan......"


Saat sedang bekerja, aku memandang ke luar jendela dan melihat hujan yang sangat lebat sampai-sampai membuatku meragukan penglihatanku sendiri. Hujan yang mulai turun sejak sore hari berangsur-angsur semakin deras, dan sekarang sedang menghantam jendela dengan sengitnya.


Bukan hanya hujan, angin pun bertiup kencang, menciptakan badai yang membuat orang kesusahan meski hanya untuk memakai payung dengan benar. Di berita televisi, mbak-mbak pembawa acara cuaca mengatakan bahwa jadwal kereta di beberapa jalur telah dihentikan. Kenyataan ini membuat cuaca cerah saat aku berangkat ke kantor agensi tadi terasa seperti kebohongan.


"Melihat cuaca seperti ini, meskipun agak lebih awal, mari kita akhiri pekerjaan hari ini."


Direktur Igarashi yang sedari tadi menonton berita mengumumkan berakhirnya jam kerja.


"Kalian berdua pulanglah sebelum keretanya berhenti beroperasi."


"Baik. Terima kasih banyak."


Aku merapikan meja kerja dan meninggalkan kantor bersama Ema-san. Begitu keluar, angin memang sudah agak mereda, tetapi hujan masih tetap deras seperti sebelumnya.


"Gawat juga ya......"


"Kanata-kun, kamu tidak bawa payung?"


"Waktu berangkat tadi belum hujan."


"Ka-Kalau begitu...... kalau kamu tidak keberatan, mau berteduh di bawah payung bersamaku?"


Ema-san mengintip ke arah wajahku sambil mencengkeram payungnya erat-erat dengan kedua tangan. Aku senang dengan perhatiannya, tetapi dengan hujan sederas ini, akan sulit bagi kami untuk berbagi satu payung berdua.


"Terima kasih banyak. Tapi jangan cemaskan aku, Anda pulang duluan saja."


"Tidak boleh. Aku tidak bisa membiarkan Kanata-kun pulang sendirian sambil kehujanan."


Caranya mencengkeram lengan bajuku dan tidak mau melepaskannya memberikan kesan yang entah mengapa sangat keras kepala.


Sampingkan dulu hal itu, apakah hanya perasaanku saja kalau pipinya tampak sedikit merona?


『Satu payung berdua...... dengan idola...... kesempatan emas! 』


Dia tampak menggumamkan sesuatu, tetapi suara hujan terlalu bising sehingga tidak terdengar olehku.


"Ema-san, ada mengatakan sesuatu?"


"Ti-Tidak ada apa-apa. Kalau begitu, yuk berangkat!"


Ema-san membuka payungnya, lalu mulai berjalan sembari merapatkan tubuhnya ke arahku. Karena merasa jarak kami terlalu dekat, aku berniat untuk sedikit menjauh, tetapi...


"Jangan menjauh. Kalau tidak menempel nanti kamu basah."


"......Terima kasih banyak."


Sembari memegang payung, Ema-san dengan cekatan mengaitkan lengannya ke lenganku. Jika dilihat oleh orang lain, hal ini pasti akan memicu salah paham, tetapi aku memutuskan untuk menerima kebaikannya.


“"............ "”


Jarak menuju stasiun tidak sampai sepuluh menit berjalan kaki. Waktu itu adalah saat kami sedang berjalan sembari mendengarkan suara hujan yang menghantam payung.


"Kanata-kun, belakangan ini kamu tampak kurang bersemangat, apakah terjadi sesuatu?"


Ema-san bertanya dengan nada suara yang terdengar khawatir.


......Kalau bekerja bersama, pada akhirnya dia pasti akan menyadarinya juga, ya.


"Tidak ada apa-apa, kok."


Namun, karena tidak mungkin aku membeberkan alasannya, aku pun menjawab dengan samar. Aku berpikir jika menceritakan situasinya, hal itu hanya akan membuatnya merasa sungkan yang tidak perlu. Terlebih lagi, ini adalah masalah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ema-san. 


Justru karena aku tahu dia adalah orang baik yang pasti akan mengerahkan kemampuannya untuk menolong jika aku bercerita, makanya aku tidak bisa mengatakannya. Lagipula, diriku sendiri pun belum bisa merapikan situasi ini dengan baik hingga ke tahap bisa dikonsultasikan.


"Begitu ya...... kalau kamu benar-benar kesulitan, kapan saja silakan cerita ya."


"Terima kasih banyak."


Mungkin karena bisa membaca situasi, Ema-san tidak mendesakku lebih jauh lagi. 


Sembari melewati obrolan itu, kami pun tiba di stasiun terdekat.


"Kalau begitu, sampai jumpa besok ya."


"Baik. Terima kasih banyak."


Setelah mengucapkan salam perpisahan di depan gerbang tiket, aku naik ke atas kereta dan menempuh perjalanan pulang.


Setelah beberapa saat diguncang kereta dan tiba di stasiun daerah rumahku, hujan sudah menjadi jauh lebih reda. Menganggap ini sebagai kesempatan, aku berlari menuju apartemen agar tidak terlalu basah kuyup.


Meskipun hanya hujan gerimis, tubuhku tetap saja terkena air. Sembari menaiki tangga dengan tergesa-gesa, aku berpikir untuk segera masuk ke kamar mandi agar tidak masuk angin, namun tepat saat itulah...


"......Serius?"


Aku benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang dilihat oleh mataku sendiri. Di sana, tampak sosok Yuu yang sedang berdiri termangu dalam keadaan basah kuyup.


"Ah...... Selamat datang di rumah!"


Rambutnya basah, dan seragam sekolahnya pun begitu basah hingga pakaian dalamnya sampai menerawang.


Jika diperhatikan baik-baik, kedua tangan yang mendekap lengannya sendiri tampak bergetar kecil karena kedinginan. Tidak perlu diragukan lagi kalau dia telah dihantam hujan dengan sangat parah, tetapi meski begitu, dia tetap menyambutku dengan senyuman demi menghargai kepulanganku.


"Kamu tidak bawa payung?"


"Waktu berangkat tadi belum hujan."


Yuu melempar senyum kecut sembari melontarkan kalimat yang rasanya pernah kudengar di suatu tempat tadi. Aku benar-benar kehilangan kata-kata untuk membalasnya.


"Maaf karena selalu begini setiap hari, tapi tolong ajarkan saya──"


"Baiklah, aku mengerti."


"Eh──?"


Mungkin karena mengira hari ini pun dia akan ditolak lagi. Yuu mengangkat kepalanya dengan ekspresi wajah yang tampak terkejut.


Tentu saja aku tidak bisa menelantarkan seorang gadis yang berada dalam kondisi basah kuyup begitu saja. Lebih dari itu, aku merasa telah kalah telak oleh kegigihan Yuu yang keras kepala dan menolak untuk menyerah.


"Setidaknya aku akan mendengarkan ceritamu. Tapi, kalau membiarkan tubuhmu basah begitu kamu bisa masuk angin. Untuk sementara, masuklah ke dalam kamar dan mandi air hangat dulu. Hangatkan badanmu baik-baik, baru setelah itu kita bicara."


"Baik. Terima kasih banyak!"


"Kalau begitu, sekarang juga...... ah."


Tangan yang terulur untuk membuka pintu mendadak terhenti.


"Ada apa?"


"Tidak......"


Aku refleks menjawab dengan samar karena teringat akan kondisi kamarku yang berantakan. Meskipun tidak sampai sekacau tidak ada tempat untuk melangkah, kamar ini tidak bisa dibilang cukup rapi untuk menerima tamu.


Bagi seorang laki-laki yang tinggal sendiri, kondisi seperti ini pasti dialami oleh siapa saja; sampah yang lupa kubuang pada hari pengumpulan sudah menumpuk, dan pakaian kotor pun sudah memenuhi keranjang cucian. Belum lagi botol plastik kosong yang tergeletak begitu saja di atas meja. Meskipun demikian, aku tidak mungkin membiarkannya menunggu di luar selagi aku beres-beres.


"Ya sudahlah...... silakan masuk."


"Permisi."


Aku menyerah dengan pasrah, lalu membuka pintu dan mempersilakannya masuk ke dalam. Seketika itu juga, Yuu tampak menunjukkan ekspresi wajah yang seolah-olah sedang meneguhkan hatinya secara berlebihan.


"Kamu kenapa?"


"Itu...... soalnya, ini pertama kalinya saya masuk ke kamar laki-laki......"


Apa yang sedang dia bicarakan dalam situasi seperti ini?


"Tenang saja, aku tidak berniat macam-macam pada anak-anak."


"Saya bukan anak-anak. Usia saya hanya berbeda dua tahun dari Kanata-san!"


"Artinya, kamu dua tahun lebih kekanak-kanakan dariku, kan?"


"Menurut saya itu cuma argumen yang dicari-cari!"


Aku memutuskan untuk tidak mengatakan bahwa sikapnya yang gampang naik darah itu justru yang membuatnya tampak seperti anak-anak.


Mengingat sifatnya yang ramah dan mudah akrab dengan orang lain, awalnya aku mengira dia adalah seorang gadis yang mirip seperti anjing. Namun, melihat sosoknya yang sedang mengembungkan pipi sambil merajuk seperti ini, dia malah mengingatkanku pada seekor anjing ras kecil yang menggonggong manja.


Jika diibaratkan, dia adalah gadis tipe pencinta anjing yang mirip Pomeranian yang suka mengekor ke mana pun pemiliknya pergi. Mungkin karena alasan itulah aku jadi selalu tergoda untuk menjahilinya.


"Tunggu sebentar di sini."


Aku masuk ke kamar lebih dulu, lalu menyiapkan handuk mandi serta pakaian ganti sebelum kembali ke pintu depan.


"Ini baju gantiku, jadi ukurannya pasti tidak akan pas untukmu, tapi tahan saja ya. Masukkan saja pakaianmu yang basah ke dalam mesin cuci sekalian pengering. Nanti selagi kamu mandi, aku akan menyalakan mesinnya. Pakaianmu pasti sudah kering saat kamu pulang nanti."


"Dari awal sampai akhir, terima kasih banyak atas kebaikan Anda."


"Sudahlah, cepat mandi sana."


"Baik. Saya pinjam kamar mandinya, ya."


Setelah mengantar Yuu yang berjalan menuju kamar mandi dengan pandangan mataku, aku pergi ke kamar tidur untuk berganti pakaian rumah. Meskipun aku juga sempat terkena air hujan, rasanya mengeringkan rambut dengan handuk saja sudah cukup.


Aku menuju ke ruang wastafel untuk menaruh handuk yang telah selesai kugunakan dan pakaian kotor ke dalam keranjang cucian. Sekaligus, aku memastikan apakah pakaian Yuu sudah dimasukkan ke dalam mesin cuci berserta pengering, lalu menyalakan tombolnya. Kain yang menyerupai pakaian dalam sempat sedikit terkelebat di mataku, tetapi itu murni sebuah ketidaksengajaan.


"......Mari kita anggap saja itu kecelakaan akibat niat baik."


Sembari membuat alasan seperti itu, aku melangkah menuju ruang tengah. Saat mengalihkan pandangan ke jam dinding, waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan belas.


"Wah, sudah jam segini, ya......"


Jika aku baru mendengarkan ceritanya setelah menunggu Yuu selesai bersiap-siap, waktu makan malam pasti sudah terlewat. Rasanya kasihan jika membiarkannya pulang dalam kondisi kedinginan karena dihantam hujan lebat, ditambah lagi dengan perut kosong.


Sekalian sebagai balasan karena tempo hari telah ditraktir taiyaki dan roti goreng, aku memutuskan untuk memesan makan malam untuk dua orang melalui aplikasi pesan antar makanan. Kalau membicarakan anak-anak, menu hamburg steak pastilah pilihan yang paling mutlak.


"......Sampai mengurusi urusan makannya segala, aku benar-benar merasa seperti sedang menampung anjing telantar."


Tentu saja, meskipun aku memberinya makan, bukan berarti aku akan memeliharanya. Sembari melewati waktu dengan pikiran itu, terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, disusul oleh gema suara alat pengering rambut. Beberapa saat kemudian, Yuu yang telah dibalut pakaian rumah milikku melangkah masuk ke ruang tengah. Mungkin karena tubuhnya sudah menghangat, rona wajahnya tampak sudah jauh lebih membaik.


"Terima kasih banyak atas tumpangan mandinya."


Saat aku mempersilakannya untuk duduk di sebelahku, dia mengucapkan "Permisi" lalu mendudukkan dirinya. Begitu mengembuskan napas panjang, aku pun langsung beralih ke pokok permasalahan.


"Aku memang bilang setidaknya akan mendengarkan ceritamu, tetapi garis besar situasinya sudah kupahami."


Sebab, hal yang terus-menerus disampaikan kepadaku setiap hari sudah tidak perlu dipastikan lagi sekarang.


"Karena itu, tolong jawab tiga pertanyaanku."


Yuu membenarkan posisi duduknya, lalu mengangguk kecil dengan ekspresi wajah yang serius.


"Pertama. Bagaimana cara kamu mencari tahu letak kamarku?"


"Saya diberi tahu kalau Kanata-san bekerja di Second House, jadi saya pergi ke kantor agensi. Lalu saya melihat Kanata-san keluar dari gedung...... dan meskipun tahu itu tidak boleh, saya malah membuntuti Anda."


"Sudah kuduga pasti begitu."


Tadinya aku berniat menanyakan siapa yang memberitahunya, tetapi kurasa siap pun orangnya tidak masalah.


Toh aku tidak menyembunyikannya, dan ada banyak pihak terkait yang memiliki hubungan kerja denganku. Jika mengingat fakta bahwa kakaknya dulu adalah seorang aktris, bukan hal yang aneh jika Yuu memiliki koneksi, dan kemungkinan dia mendapatkan informasi dari seputar lingkungan tersebut.


"Pertanyaan kedua. Mengapa kamu ingin menjadi aktris?"


"Mohon maaf...... saya tidak bisa menceritakannya."


Yuu menundukkan kepalanya sembari menunjukkan rasa bersalah.


Melihat caranya meminta maaf tanpa ragu-ragu, dia sepertinya memang tidak berniat untuk mengatakannya. Namun, menyakiskan wajahnya yang persis seperti anak kecil yang sedang dimarahi, aku bisa menduga bahwa alasannya mungkin adalah sesuatu yang jika diutarakan pasti akan memicu penolakan.


Sifatnya yang emosinya mudah terbaca ini juga sangat mirip anjing, tetapi mari kesampingkan dulu kesan itu.


"Ini pertanyaan terakhir. Mengapa kamu ingin belajar akting dariku?"


Dua pertanyaan sebelumnya tidak masalah jika tidak dijawab. Hal yang paling ingin kuketahui sebenarnya adalah pertanyaan ketiga ini.


"Aku bisa membayangkan alasannya, mungkin karena aku mantan aktor, rekan main kakakmu, dan orang dalam industri yang saling mengenal serta usianya dekat. Tapi, aku ini mantan aktor, bukan mentor. Meskipun aku pernah memberikan saran akting kepada orang lain, posisinya aku ini tetap orang awam dalam hal mengajar. Apa alasanmu sampai ingin belajar dari orang sepertiku?"


Ada banyak cara lain yang bisa ditempuh untuk mempelajari seni peran. Daripada memohon dididik olehku, akan jauh lebih baik jika dia masuk ke sekolah pelatihan akting. Justru jika dia benar-benar serius ingin menjadi aktris, sudah pasti jalan yang paling tepat adalah berguru pada orang yang memiliki rekam jejak dalam membimbing akting.


Di tempat seperti itu, dia juga bisa saling mengasah kemampuan bersama rekan-rekan yang memiliki visi yang sama.


"Soal itu......"


Untuk sesaat, pandangan mata Yuu tampak goyah seolah sedang bimbang.


"Bagi saya, mendapatkan bimbingan dari Kanata-san adalah hal yang memiliki arti penting."


Jika melihat sepasang mata itu, aku rasa dia tidak sedang berbohong. Namun, dia juga tampak seolah-olah tidak menceritakan kebenaran yang sesungguhnya.


Bagaimanapun juga, dalam artian tidak memberikan jawaban yang semestinya, kalimatnya itu sangat kurang penjelasan.


"Harus bagaimana ya......"


Wajar saja jika aku akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengembuskan napas panjang. Karena pada akhirnya, tidak ada satu pun jawaban layak yang kudapatkan.


"Saya, benar-benar ingin menjadi aktris!"


Di dalam mata Yuu, terpancar rona tekad yang luar biasa. Terlepas dari apa alasannya, aku dibuat terdesak oleh kuatnya perasaan yang meluap-luap dari dalam dirinya.


Hanya saja...... sama seperti saat kami pertama kali bertemu kembali setelah sekitar tiga tahun berlalu, mata itu terlalu kehilangan corak warna untuk seseorang yang sedang menceritakan impiannya. Aku sama sekali tidak bisa menganggapnya sebagai sebuah alasan yang positif.


Bagaimana pun aku memikirkannya, tidak perlu diragukan lagi kalau pasti ada situasi pelik di balik semua ini.


"Saya mohon. Sudilah kiranya, Kakak mengajarkan akting kepada saya."


Yuu menundukkan kepalanya dalam-dalam, hingga keningnya hampir menyentuh lutut. Aku bisa menangkap perasaan itu, dan layaknya manusia biasa, hatiku pun ikut merasa iba. Namun...


"Maaf, tapi aku terpaksa menolaknya."


Bukan berarti aku harus memenuhi perasaan itu, bukan? 


Perkara itu adalah hal yang berbeda. Seberapa penting pun situasi yang dihadapi oleh Yuu, bagiku itu hanyalah urusan orang lain. Lagipula, seperti yang sudah berulang kali kukatakan, aku bukan lagi seorang aktor dan bukan pula berada di posisi yang bisa mengajari seseorang. Jika bekerja di dunia hiburan sebagai staf administrasi aku masih bisa menerimanya, tetapi aku tidak ingin terlibat lagi dengan urusan akting untuk kedua kalinya.


“"............””


Suasana canggung dan keheningan seketika menyelimuti ruang tengah. Lalu, tiba-tiba saja suara bel pintu berdentang memecah kesunyian.


"Aku tadi memesan makanan lewat layanan pesan antar."


Aku beranjak ke pintu depan, lalu membawa kotak bekal yang ditinggalkan melalui metode pengiriman tanpa kontak ke ruang tengah.


"Hujannya sepertinya sudah reda. Setelah memakan ini, kamu pulanglah dan──"


Tepat di saat aku menaruh kotak bekal di atas meja dan mengucapkan kalimat dengan maksud menasihatinya.


"Tidak mau."


Yuu menyela dengan nada suara yang tegas, seolah sengaja memotong kalimatku. Pernyataan yang terlampau instan itu membuatku melongo, melampaui rasa terkejut.


"Saya tidak akan pulang."


"Hei, apa maksudmu dengan tidak akan pulang──"


"Saya akan tetap tinggal di sini sampai Kakak bersedia mengatakan akan mengajari saya."


"Aduh, aduh...... meskipun kamu bilang akan tetap tinggal di sini, tapi......"


Sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya, memperlihatkan sisi dirinya yang keras kepala. Caranya menguasai bagian tengah sofa seolah-olah menegaskan bahwa dia tidak akan bergeser satu langkah pun, benar-benar mengingatkan pada seekor anjing yang menolak mentah-mentah untuk pulang setelah berjalan-jalan—sebuah pemandangan yang sering kali dijumpai di situs berbagi video dan membuat pemiliknya kewalahan.


Melihatnya sebagai penonton memang terasa lucu, tetapi saat hal itu menimpa diri sendiri, ini benar-benar tidak bisa dijadikan bahan tertawaan.


"Setelah rutin datang selama tiga minggu, akhirnya saya diizinkan masuk ke dalam rumah. Saya tidak berniat menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebelum Kakak bersedia mengajari saya akting, saya benar-benar tidak akan pulang!"


Astaga...... di balik penampilannya yang tampak penurut, dia sepertinya tipe orang yang tidak disangka-sangka sangat keras kepala.


"Pokoknya setelah memakan itu, pulanglah sebelum larut malam."


Meskipun aku berkata demikian, jika dibiarkan saja dia pasti akan pulang dengan sendirinya nanti.


Setelah menghabiskan kotak bekal milikku, aku meninggalkan ruang tengah dan melangkah menuju kamar tidur. Sembari mendudukkan diri di tepi tempat tidur dan memandang bulan yang mengambang di luar jendela, aku bergumam.


"Ingin menjadi aktris...... ya."


Terlepas dari apa alasannya, bukan berarti aku tidak bisa memahami perasaan itu. Entah itu untuk meneruskan wasiat kakaknya demi menjadi aktris, atau karena ingin menjadi aktris populer seperti sang kakak. Bahkan tanpa melibatkan hal-hal itu pun, pasti ada banyak gadis yang mengagumi profesi glamor sebagai seorang aktris. Terlebih lagi jika statusnya adalah adik dari Tachibana Haruka, wajar jika dia menaruh harapan bahwa dirinya mungkin memiliki bakat yang sama seperti kakaknya.


Hal seperti itu tentu saja tidak hanya terbatas pada Yuu seorang. Ketika masih kecil, siapa pun pasti pernah menaruh impian yang glamor setidaknya sekali dalam hidup. Menganggap diri sendiri spesial, impian itu pun ikut bertumbuh seiring kedewasaan, lalu mulai melakukan usaha untuk menggapainya. Di saat momen kelulusan SMP atau SMA yang menentukan masa depan tiba, barulah seseorang akan mencari jalan konkret untuk mewujudkannya. Lalu mulai melangkah sembari membayangkan sosok dirinya yang berhasil meraih impian di ujung fatamorgana tersebut.


"Tapi...... realitas tidak semanis yang dipikirkan."


Seiring pertumbuhan, seseorang akan dipaksa menyadari bahwa dirinya tidaklah spesial, lalu merelakan impiannya.


Bagi sebagian orang, mereka bahkan sudah menyerah untuk bermimpi bahkan sebelum berhasil menemukan impian itu sendiri.


Tentu saja begitu. Di zaman sekarang ini, segala macam informasi bisa diakses hanya dengan satu ponsel pintar. Katakanlah seseorang memiliki impian; begitu mencari tahu sedikit saja, mereka akan langsung dihadapkan pada kenyataan betapa sulitnya untuk mewujudkan hal tersebut. Yang terlihat hanyalah betapa buruknya nilai efisiensi dalam bermimpi, hingga akhirnya merenggut habis keberanian untuk mengambil langkah pertama menuju impian tersebut.


Di era modern yang dipenuhi dengan limpahan informasi seperti ini, memiliki satu impian saja rasanya sudah tidak dimungkinkan lagi.


"Jika dipikir-pikir seperti itu, aku yang sempat mewujudkan impian mungkin termasuk orang yang beruntung, ya......"


Meskipun sekarang aku sudah jatuh dan tidak menyisakan kejayaan masa lalu, setidaknya sukses itu masih lebih mendingan. Pasti akan terasa melegakan jika aku bisa berpikir demikian, tetapi kenyataannya sama sekali tidak bisa. Justru karena aku pernah mewujudkan impian itu sekalipun jugalah, pemikiran ini muncul.


──Lebih baik tidak usah bermimpi saja.


Anggapan bahwa 'lebih baik menyesal karena telah mencoba daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa' hanyalah kalimat pemanis kosong yang dilontarkan sesuka hati oleh orang-orang yang berada di tempat aman; mereka yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya penderitaan bagaikan di neraka setelah impian mereka hancur berkeping-keping.


Masyarakat akan bersikap dingin kepada mereka yang keluar dari jalur yang semestinya, dan tempat kembali pun tidak akan pernah ada lagi setelahnya. Hidup dengan bersahaja tanpa menaruh impian dan tanpa perlu menyesal karena tidak mencobanya, juga merupakan salah satu bentuk kehidupan yang benar. Jika saja sejak awal aku tahu akan mengalami frustrasi seperti ini, aku tidak akan sudi menjadi aktor cilik. Oleh karena itu, seberapa besar pun aku diminta, aku tidak akan pernah kembali menjadi aktor untuk kedua kalinya.


Sama halnya dengan itu, aku juga tidak sudi mengajarkan seni peran kepada siapa pun. Aku sudah kapok untuk bermimpi maupun membuat orang lain bermimpi.



"......Sudah pagi, ya."


Keesokan paginya, aku terbangun karena silau dari sinar matahari pagi yang menyelinap dari celah gorden. 


Sembari mengucek mata yang masih mengantuk, aku memeriksa ponsel pintar yang tergeletak di dekat bantal; waktu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi.


Mulai hari ini adalah libur Golden Week, jadi sekolah libur untuk beberapa waktu. Ditambah lagi, pekerjaan di Second House baru dimulai jam sepuluh, sehingga aku tidak perlu bangun pagi-pagi. Rasanya agak rugi di hari pertama libur panjang ini.


Aku bangkit dari tempat tidur, lalu sembari memulihkan kesadaran dari rasa kantuk, aku memikirkan kejadian kemarin.


"......Dia pasti sudah pulang, kan."


Tadi malam, saat aku selesai mandi, masih terasa ada hawa keberadaan seseorang di ruang tengah. Setelah itu, karena aku langsung ketiduran begitu merebahkan diri di tempat tidur, aku tidak tahu jam berapa dia pulang. Semoga saja dia tiba di rumah dengan selamat...... tapi, bukan hakku juga untuk mencemaskannya setelah mengusirnya dengan dingin begitu.


Sembari berpikir bahwa dia pasti sudah menyerah dengan cara ini, aku mencuci muka di wastafel lalu melangkah ke ruang tengah. Tepat saat itu, entah hanya perasaanku saja, tercium aroma yang sangat harum di udara.


"......Eh?"


Begitu membuka pintu, sebuah seruan terkejut lolos dari bibirku akibat pemandangan yang sama sekali tidak disangka-sangka.


Bagaimana tidak, ruang tengah yang sebelumnya tidak bisa dibilang rapi bahkan dengan bumbu pujian sekalipun, kini telah tertata bersih. Sampah-sampah yang berserakan sudah dibersihkan, dan seluruh ruangan tampak berkilau diterpa sinar matahari pagi yang menyelinap masuk dari jendela.


Aku berdiri terpaku tanpa bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Kanata-san. Selamat pagi!"


Tiba-tiba, suara penuh semangat layaknya anak anjing menggelitik telingaku. Saat mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, tampak sosok Yuu yang sedang memasak di dapur.


"Kamu sedang apa......?"


"Menyiapkan sarapan."


Bukan, kalau itu sih aku juga tahu hanya dengan melihatnya.


"Tolong tunggu sebentar lagi, ya."


Hal yang ingin kutanyakan adalah, mengapa kamu sampai menyiapkan sarapan? Mengabaikan pertanyaan di kepalaku, Yuu terus melanjutkan memasak dengan suasana hati yang sangat baik sambil bersenandung kecil.


"Maaf membuat Anda menunggu!"


Yuu melepas celemeknya, lalu mendorong punggungku dan mempersilakanku duduk di kursi. Begitu mendudukkan diri seperti yang diminta, di hadapanku telah tersaji nasi yang baru matang dan sup miso. Selain itu, ada juga tamagoyaki dan salmon panggang. Ditambah lagi dengan natto serta salad; lauk-pauk kaya warna yang bisa dibilang merupakan hidangan standar dalam menu makanan tradisional Jepang telah berjejer dengan rapi.


"Isi kulkas itu harusnya cuma ada minuman, bahkan beras pun harusnya tidak ada......"


"Saya membelinya di supermarket. Awalnya saya mengira jam segini belum ada yang buka, tetapi setelah memeriksa lewat ponsel, ternyata ada toko yang buka sejak pagi buta di tempat yang agak jauh. Jadi sekalian jalan-jalan pagi, saya pergi ke sana."


Yuu melanjutkan dengan nada gembira, "Saya berhasil membelinya dengan harga murah karena ada diskon pagi."


"Ayo, mari kita makan sebelum makanannya dingin."


Yuu tersenyum sembari merapatkan kedua tangannya di depan hidangan sarapan.


"Selamat makan!"


"S-Selamat makan......"


Mungkin karena aku baru bangun tidur sehingga otakku belum bekerja dengan sempurna. Atau bisa jadi karena aroma sup miso yang merangsang nafsu makanku.


Sampingkan dulu pertanyaan mengenai situasi ini, aku telanjur menyahuti kata-katanya karena terbawa oleh atmosfer Yuu.


"............"


Ada banyak hal yang mengganjal di pikiran, tetapi karena sudah telanjur dibuatkan, mari kita nikmati saja.


Tepat saat aku baru saja memegang sumpit, gerak tanganku terhenti demi melihat sosok Yuu yang sedang makan di depanku. Punggungnya yang tegak lurus, serta rambut panjangnya yang diikat rapi agar tidak mengganggu saat makan. Tangan yang memegang sumpit pun terlihat begitu anggun hingga ke ujung jari, dan gestur tubuhnya saat menyuap makanan ke dalam mulut memiliki keindahan yang tanpa sadar membuat mata terbelalak.


Aku belum pernah melihat orang yang makan dengan tata krama seanggun ini sebelumnya. Ini pertama kalinya aku sampai terpesona melihat cara seseorang menyantap makanan.


"Apakah ada sesuatu yang salah?"


"Ah, tidak...... bukan apa-apa."


Tentu saja aku tidak mungkin mengaku kalau aku sedang terpesona melihatnya. Sembari membuat alibi, aku mengarahkan sumpit ke salmon panggang.


"......Enak."


Begitu memakannya, kata pujian langsung lolos dari bibirku karena rasanya yang teramat lezat. Mungkin karena tingkat kematangannya yang sangat pas, daging ikan langsung terurai lembut begitu disentuh dengan sumpit, membiarkan uap panas mengepul dari dalamnya. 


Saat mengambil suapan kedua, perpaduan rasa asinnya yang bisa dibilang sempurna membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyendok nasi putih banyak-banyak ke dalam mulut. Selanjutnya, Tamagoyaki yang kuambil dengan sumpit juga memiliki sensasi rasa agak manis yang sesuai dengan seleraku. 


Saat aku sedang makan dengan khusyuk untuk beberapa saat.


"Fufuh."


Yuu yang sedari tadi memperhatikan sosokku menertawakanku dengan anggun.


"Padahal kamu sudah bersusah payah memasak, tapi caraku makan malah tidak tahu sopan santun, ya."


Yuu menggelengkan kepala kecilnya.


"Saya lega jika makanannya sesuai dengan selera Anda."


"Tanpa bermaksud merayu pun, ini benar-benar enak, kok. Sudah lama sekali rasanya aku tidak sarapan seperti ini, dan sudah lama juga aku tidak memakan masakan yang dibuat oleh orang lain. Kapan ya terakhir kali aku memakan masakan rumahan......"


Kemungkinan besar sudah lebih dari dua tahun yang lalu.


"Maaf jika saya tidak sopan...... Kanata-san, orang tua Anda di mana?"


Yuu bertanya dengan nada santun seolah-olah dia sudah bisa menangkap garis besar situasinya.


Yah...... sejak aku tahu kalau Yuu merapikan kamarku, aku sudah mengira cepat atau lambat pertanyaan ini akan muncul. Sebab, di kamar ini sama sekali tidak ada jejak keberadaan orang lain yang tinggal selain diriku.


Aku tidak menyangka pertanyaan itu akan datang di momen ini, tetapi aku juga tidak punya alasan untuk menyembunyikannya.


"Aku sudah tidak punya orang tua."


Sesuai dugaanku, tidak ada gurat terkejut di wajah Yuu.


"Orang tuaku sudah bercerai. Aku sempat diasuh oleh ibuku dan tinggal bersama untuk beberapa waktu...... tapi, dua tahun lalu dia mendadak kabur dan menghilang. Sejak saat itu, aku pun tinggal sebatang kara seperti ini."


"Kabur dan menghilang......?"


Namun, dia tampaknya cukup terkejut mendengar kata 'kabur dan menghilang'.


"Orang tuaku bercerai saat aku berusia 10 tahun, tepat di saat aku sedang berada di puncak kejayaan sebagai aktor cilik. Mereka bercerai karena perbedaan pendapat mengenai prinsip pendidikanku. Meski terdengar sombong jika diucapkan sendiri, saat itu penghasilanku memang luar biasa banyak sampai-sampai bikin bergidik. Ibuku kemungkinan mengasuhku karena berpikir masa depannya akan terjamin aman bersamaku, tapi......"


Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, realitas tidaklah semanis itu.


"Setengah tahun setelah aku pensiun sebagai aktor, dia membawa kabur sebagian besar uang tabunganku lalu menghilang. Dia kabarnya sempat meminta ayahku untuk mengurusku, tapi mungkin karena ayahku juga tidak berniat menafkahiku sekarang, dia pun memutus kontak dan tidak bisa dihubungi lagi."


"Sungguh keterlaluan......"


Benar-benar sebuah kisah latar belakang hidup yang tragis, bahkan menurutku sendiri.


Kisah dengan latar belakang seperti ini pasti ada satu atau dua di dalam drama. Namun, sebagai akhir bagi seorang aktor yang telah lenyap dari dunia hiburan, ini adalah cerita yang sudah sangat lumrah terjadi.


Ini adalah topik pembicaraan yang terlalu berat untuk dibahas di pagi hari, dan sebenarnya bukan sesuatu yang pantas diceritakan kepada seorang gadis yang belum lama kukenal. Namun, aku berpikir jika aku memperlihatkan realitas tragis dari seorang mantan aktor cilik yang telah jatuh, hal itu bisa menjadi alasan yang bagus untuk membuatnya menyerah.


"Setelah itu, entah dari mana beliau mengetahui situasiku, Direktur Second House mendadak muncul. Beliau yang tidak tega melihat kondisiku mengajakku dengan berkata, 'Mau bekerja sebagai staf administrasi?', lalu menyiapkan kamar ini untukku. Yah, bisa dibilang ini seperti asrama yang disewa oleh Second House khusus untukku."


Sebagai informasi, tata ruang apartemen ini adalah tipe 1LDK yang cukup luas. Tentu saja sangat wajar jika dia langsung menyadari kalau aku tinggal sendirian.


"Setelah itu, apakah tidak ada kabar dari ibu Anda......?"


"Sama sekali tidak pernah. Tampaknya untuk mengurus diriku, Direktur sempat menghubungi ibuku, tetapi aku tidak diberi tahu detailnya. Yah...... mungkin itu adalah bentuk perhatian dari Direktur dengan caranya sendiri."


Menghadapi orang tua yang menelantarkan anaknya sendiri seperti itu, aku rasa beliau pasti melewati banyak kesulitan. Aku benar-benar tidak akan pernah bisa berterima kasih secara tuntas kepada Direktur Igarashi.


"Itu...... saya turut berdukacita."


Yuu menunjukkan ekspresi wajah yang sedih seolah-olah hal itu menimpa dirinya sendiri. Meskipun tujuannya adalah untuk membuatnya menyerah, aku jadi menyesal karena merasa telah melakukan hal yang buruk.


"Jangan dipikirkan. Ini adalah kisah yang lumrah terjadi sebagai akhir dari seorang aktor cilik yang sudah tidak laku lagi. Justru sebagai karier kedua bagi mantan aktor gagal, aku sudah merasa puas hanya dengan bisa mendapatkan pekerjaan yang sekarang. Ayo, mari kita lanjutkan sarapannya. Masakan lezat yang sudah susah payah kamu buat nanti keburu dingin."


"Baik......"


Meskipun aku berkata demikian, ekspresi wajah Yuu tetap tidak kunjung cerah. Aku merasa sedikit bersalah kepadanya.


Setelah menyelesaikan sarapan, aku kembali berpikir sembari bersiap-siap untuk pergi. Meskipun aku akhirnya menikmati sarapan itu karena terbawa suasana, situasi ini sebenarnya sudah terlalu jauh di luar perkiraan.


Bukannya aku meragukan perkataan Yuu yang berbunyi, "Sebelum Kakak bersedia mengajari saya akting, saya benar-benar tidak akan pulang!", tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau dia benar-benar akan tinggal sampai pagi. Lagipula, sangat tidak baik bagi seorang gadis remaja untuk menginap di kamar laki-laki.


Jika aku adalah laki-laki yang bejat, tidak akan mengherankan jika sebuah kekhilafan sampai terjadi. Sifat Yuu yang sangat ramah dan gampang akrab ini adalah cerminan dari rendahnya kesadaran akan manajemen krisis pada dirinya.


Aku jadi sangat mencemaskan masa depannya, tetapi mari kesampingkan dulu hal itu untuk sekarang.


"Nah, sekarang harus bagaimana ya......"


Begitu selesai bersiap-siap dan kembali ke ruang tengah, Yuu ternyata sedang berada di tengah-tengah mencuci piring di dapur. Sadar akan kehadiranku, dia mematikan aliran air lalu berlari mendekat ke arahku sembari mengeringkan tangan menggunakan celemek.


"Apakah Anda sudah mau berangkat?"


"Ya. Karena hari ini aku juga harus bekerja...... dan soal itu."


Aku meletakkan beberapa lembar uang seribu yen dan kunci kamarku di atas telapak tangan Yuu.


"Ini uang pengganti sarapan dan kunci cadangan kamar ini."


"Kunci cadangan......?"


"Aku paham tekadmu, dan aku juga berterima kasih karena kamu sudah membuatkan makanan. Meski begitu, aku sama sekali tidak berniat mengabulkan permohonanmu. Saat kamu pulang nanti, kuncilah pintu menggunakan ini lalu masukkan kuncinya ke dalam kotak surat di pintu."


Karena aku mengatakannya dengan nada suara yang cukup tegas, dia pasti akan pergi dari sini. Aku berangkat bekerja dengan harapan seperti itu, namun...... tampaknya pemikiranku terlalu naif.



Malam harinya di hari yang sama.


"Selamat datang di rumah!"


Begitu pulang dan membuka pintu, aku refleks memegangi kepalaku karena pening. Bagaimana tidak, di hadapanku tampak sosok Yuu yang sedang menyambut kepulanganku dalam balutan celemek sembari memegang sendok sayur di satu tangan.


Dia tidak mengenakan seragam sekolah seperti biasanya melainkan pakaian kasual. Rambut panjangnya dijepit ke atas dengan jepitan rambut agar tidak mengganggu proses memasak, dan dia berlari mendekat sembari mengayun-ayunkan rambutnya itu dengan heboh persis seperti kibasan ekor anjing.


"Makanya...... kenapa kamu masih ada di sini, sih?"


"Saya kan sudah bilang kalau saya tidak berniat menyia-nyiakan kesempatan ini, bukan?"


Memang sih kamu bilang begitu...... bukannya aku lupa juga, tahu.


"Persiapan untuk makan malam dan air mandi hangatnya sudah siap, lho."


Percakapan ini benar-benar persis seperti sepasang kekasih yang tinggal bersama atau sepasang suami istri yang baru menikah.


"Apakah Anda mau makan dulu? Mandi dulu? Atau......"


Yuu menyembunyikan suaranya sembari menggumamkan, 「......saya?」 dengan pipi yang merona malu.


"Kalau ujung-ujungnya bakal malu sendiri, jangan lakukan hal seperti itu."


"Tetapi Kakak saya pernah bilang, jika melakukan ini maka laki-laki akan merasa senang."


Tachibana Haruka ini sebenarnya sudah mengajarkan hal macam apa pada adiknya yang polos tanpa dosa ini, sih?


"......Bahkan katanya, akan jauh lebih efektif kalau cuma pakai celemek saja tanpa sehelai benang pun."


Serius, aktris genius itu sebenarnya menganggap kesucian adiknya seperti apa, sih?!


"Saya diajarkan kalau dengan melakukan itu, sebagian besar laki-laki pasti akan mengabulkan permohonan kita."


Yuu melanjutkan, "Meskipun kalau untuk sampai cuma pakai celemek tanpa baju begitu, sejujurnya saya masih belum punya cukup keberanian, sih......"


"Tidak, ucapan itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tapi...... itu bukan sesuatu yang boleh dikatakan secara enteng, lho."


"Tenang saja. Saya sudah diwanti-wanti untuk tidak menggunakannya kecuali di saat-saat yang benar-benar genting."


Justru menurutku, sekarang ini sama sekali bukan momen yang tepat untuk menggunakannya......


Sampingkan dulu hal itu. Memang benar sebagian besar laki-laki di dunia ini akan merasa senang, atau lebih tepatnya mendambakannya. Kalimat itu juga dipastikan masuk ke peringkat atas dalam daftar kalimat yang ingin didengar dari seorang wanita setidaknya sekali seumur hidup. Jika dia adalah seorang remaja laki-laki yang sedang dalam masa pubertas, situasi seperti ini pastilah skenario yang pernah dibayangkan bersama gadis yang disukainya.


Tentu saja, aku pun berharap suatu saat nanti ada yang mengatakannya kepadaku. Namun...


"Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh seorang anak-anak."


Tentu saja aku tidak bisa merasa senang jika lawan bicaraku adalah seorang gadis yang baru saja lulus SMP.


"Saya bukan anak-anak. Usia saya hanya berbeda 2 tahun dari Kanata-san!"


"Artinya, kamu 2 tahun lebih kekanak-kanakan dariku, kan?"


Aku merasa kami pernah melakukan interaksi seperti ini sebelumnya.


"Gunu-nu-nu......"


Meskipun kamu menggeram seperti seekor anjing ras kecil yang sedang mengintimidasi, hal itu tetaplah sebuah fakta, jadi menyerahlah saja.


"Lagipula, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang boleh diucapkan sebagai lelucon."


"Ini bukan lelucon. Demi menjadi aktris, kalau cuma segini──"


"Iya, iya, aku mengerti. Tapi menu makan malam ini jauh lebih memikat, kok."


"Ih, Kanata-san egois sekali!"


Sembari menenangkan Yuu yang sedang merajuk tak keruan, aku melangkah masuk ke kamar. Setelah selesai berkumur dan mencuci tangan di wastafel, aku menuju ke ruang tengah. Dari arah dapur, aroma rempah-rempah yang tajam tampak menguar di udara.


"Ini...... kari, ya?"


"Karena hari ini daging babi bisa dibeli dengan harga murah, jadi saya membuat pork curry."


Sama seperti tadi pagi, Yuu mendorong punggungku dan mempersilakanku duduk di kursi. Dia kemudian meletakkan dua piring kari yang sudah disajikan untuk kami berdua di atas meja, lalu menyampirkan celemek yang telah dilepasnya di sandaran kursi sebelum ikut mendudukkan diri.


"Ayo, mari kita makan."


Kami merapatkan kedua tangan bersama-sama, lalu menyamakan suara mengucapkan, "Selamat makan." Melihat sosok Yuu yang sedang makan dengan ekspresi bahagia, gerak tanganku kembali terhenti. Hal ini sebenarnya juga sempat kupikirkan saat sarapan tadi pagi, karena gestur tubuh Yuu saat makan terlihat sangat indah.


Tidak, jika dipikir-pikir lagi sekarang, hal itu tidak hanya terbatas pada sosoknya saat sedang makan saja. Begitu pula dengan posisi berdirinya saat menantiku ketika kami pertama kali bertemu kembali, sudut membungkuknya saat dia memberi hormat kepadaku, hingga posisinya saat memotong bahan makanan ketika memasak. Meskipun tidak sampai ke tahap seanggun seorang putri bangsawan, keindahan itu terpancar secara alami seolah sudah menjadi hal yang sewajarnya.


"Apakah Anda tidak terlalu menyukai kari?"


"Ah, tidak......"


Mungkin karena aku hanya diam tanpa menyentuh makananku sedikit pun. Yuu bertanya sembari menunjukkan raut wajah cemas. Namun, sebelum berbicara, dia secara alami meletakkan sendoknya kembali ke dekat tangan terlebih dahulu. 


Hal itu menandakan bahwa sikap tersebut bukanlah sesuatu yang dipaksakan, melainkan kebiasaan sehari-hari yang sudah melekat erat pada dirinya. Tata kramanya jauh lebih mantap daripada instruktur tata krama mana pun yang tidak jelas asal-usulnya.


"Karena caramu makan sangat anggun, aku tanpa sadar jadi terpesona melihatnya."


"Eh......?"


Seketika itu juga, wajah Yuu langsung memerah padam bagaikan tersulut api.


Tepat di saat aku sempat merasa cemas apakah karinya terlampau pedas hingga membuatnya seperti itu.


"Anu...... terima kasih banyak. Karena saya lulusan SMP khusus perempuan dan belum memiliki banyak pengalaman dipuji oleh laki-laki, saya jadi merasa sangat malu. Tapi, saya tulus merasa senang karena Kanata-san yang mengatakannya."


Sesuai dengan perkataannya, Yuu benar-benar salah tingkah karena tingkat rasa malu yang sudah mencapai puncaknya.


Bagaimana, ya...... aku merasakan ada sedikit kesalahpahaman dalam persepsi di antara kami berdua. Aku bisa memahami perasaan malu saat dipuji oleh lawan jenis, tetapi apakah itu sesuatu yang sampai harus membuat wajahnya memerah sehebat itu?


"Ini pertama kalinya penampilan fisik saya dipuji oleh seorang laki-laki......"


"......Penampilan fisik?"


Memang benar postur dan tata krama juga bisa dibilang sebagai bagian dari penampilan fisik, sih......


Tepat saat berpikir demikian, aku akhirnya menyadari alasan mengapa Yuu sampai sesalah tingkah itu.


"Bukan, bukan begitu. Hal yang kupuji tadi bukanlah soal penampilan luar secara fisik, melainkan postur dan tata kramamu saat sedang makan──eh, tapi ini bukan berarti aku mengatakan kalau penampilan luarmu tidak cantik, lho."


Karena merasa pilihan kata ini tidak sopan bagi seorang gadis, aku pun buru-buru meralatnya. Namun, rasanya semakin aku membuat pembelaan, aku malah semakin menggali kuburanku sendiri.


Melihat tingkahku yang seperti itu tampaknya terasa lucu bagi Yuu, sehingga dia menutupi mulutnya dengan satu tangan sambil tertawa kecil.


"Bagaimanapun maksudnya, kenyataan bahwa saya merasa senang itu tidak berubah, jadi tidak apa-apa kok."


Mendengar perkataan itu, aku pun bisa bernapas lega.


"Maaf karena sudah membuatmu salah paham. Tapi tenang saja, aku tidak antipati pada kari, kok. Malahan aku sangat menyukainya. Alasan mengapa gerak tanganku sempat terhenti tadi, selain karena terpesona melihatmu, sebenarnya ada alasan lain juga......"


Bahkan, alasan yang satu ini bisa dibilang jauh lebih besar porsinya.


"Soalnya, sudah lama sekali aku tidak makan kari......"


Aku bahkan masih mengingat dengan sangat jelas kapan terakhir kali aku memakannya. Itu adalah sehari sebelum audisi terakhir yang kuikuti sebelum akhirnya aku pensiun sebagai aktor.


"Sejak masa-masa menjadi aktor cilik hingga sebelum pensiun, setiap malam menjelang audisi, ibuku pasti selalu membuatkan katsu curry. Itu adalah menu wajib kemenangan untuk memohon kelulusan yang kami makan bersama seluruh anggota keluarga."


Selain menjadi menu wajib kemenangan, bagi diriku kari adalah simbol dari kehangatan sebuah keluarga yang berkumpul bersama di meja makan.


"Kari itu kan bukan jenis makanan yang dibuat hanya untuk porsi satu orang, bukan? Itu adalah makanan yang dibuat dalam jumlah banyak untuk disantap bersama seluruh keluarga, atau bisa dibilang menu yang merepresentasikan hidangan meja makan di sebuah rumah...... Tentu saja kita bisa membelinya untuk porsi satu orang dalam bentuk instan atau siap saji, tapi aku sama sekali tidak berminat untuk memakannya sendirian."


"Begitu rupanya......"


Sama seperti saat sarapan tadi pagi, atmosfer yang rumit kembali menyelimuti ruangan. Padahal aku sama sekali tidak berniat untuk membawa topik pembicaraan ini ke arah yang melankolis.


"Saya akan mencoba memikirkan menu masakan lain yang bisa dinikmati berdua."


"Eh......?"


"Mumpung sekarang sudah ada teman untuk makan bersama. Menu masakan yang bisa dinikmati bersama-sama pasti rasanya akan jauh lebih enak. Selain kari, menu seperti stew juga bagus...... lalu kalau cuaca sudah mulai dingin, makan hidangan rebusan seperi nabe pasti akan sangat menyenangkan, ya!"


Yuu mulai memikirkan menu masakan dengan ekspresi serius sampai-sampai melupakan makanannya sendiri.


Memang benar bagi diriku yang tinggal sendiri ini, masakan yang bisa dinikmati bersama orang lain terasa sangat memikat. Namun...


"Kamu bilang kalau cuaca sudah mulai dingin, jangan-jangan kamu berniat untuk tetap tinggal di sini sampai musim dingin tiba?"


"Sebelum saya bisa mendengar jawaban yang memuaskan, saya tidak akan mengembalikan kuncinya."


"Ampun, deh."


Alasanku memberikan kunci tadi pagi itu bukan karena aku menerima keputusan untuk tinggal bersama...... namun seberapa besar pun aku mengatakannya sekarang, semuanya sudah terlambat. Aku benar-benar menyesal telah mempersilakannya masuk ke kamar hanya karena terbawa perasaan seperti sedang menampung seekor anjing telantar.


Aku bersumpah di dalam hati, bahwa aku tidak akan pernah lagi memungut anjing maupun anak gadis di jalanan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close