Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Alasan Pensiunnya Mantan Aktor Cilik Jenius
Setelah itu pun, Yuu terus saja tinggal di kamarku seolah-olah hal itu sudah menjadi hal yang sewajarnya. Berapa kali pun aku menyuruhnya pulang, dia sama sekali tidak mau mendengarkan dan terus menanti kepulanganku setiap hari.
Awalnya aku benar-benar pening memikirkan harus bagaimana menghadapi situasi ini, tetapi kenyataan bahwa aku bisa menjalani kehidupan yang nyaman berkat keberadaan Yuu juga merupakan sebuah fakta. Lebih jauh lagi, sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati kehidupan yang layak dan manusiawi seperti ini.
Sebagai contoh──.
"Kamu tidak hanya membersihkan ruang tengah, tapi sampai merapikan seluruh ruangan?"
"Iya. Kamar tidur juga sudah saya bersihkan sampai ke sudut-sudutnya, lalu noda minyak di sekitar dapur juga sudah saya lap sampai bersih. Kasur dan selimutnya juga sudah saya jemur, jadi malam ini Kakak bisa tidur nyenyak sambil diselimuti aroma segar matahari pagi!"
"Be, begitu ya...... terima kasih banyak."
"Lho...... kantong sampah yang kuletakkan di balkon sudah tidak ada, ya."
"Soal itu, tadi pagi sudah saya buang ke bak penampungan sampah. Orang-orang memang sering kali lupa membuangnya pada hari pengumpulan, tapi mulai sekarang biar saya saja yang mengurusnya, jadi tenang saja, ya!"
"O, oh...... jadi tidak enak merepotkanmu terus."
"Lho...... samponya habis."
"Tadi waktu pulang jalan-jalan, saya sudah membeli kemasan isi ulangnya. Karena saya membelinya dalam jumlah banyak sekaligus, untuk beberapa waktu ke depan tidak perlu khawatir kehabisan lagi. Kalau mau, boleh saya bantu mengisikannya?"
"Cepat keluar dari kamar mandi sana!"
Diperhatikan sampai sedemikian rupa seperti ini, terlepas dari bagaimana situasinya, aku tentu saja akan merasa berterima kasih.
Karena memiliki sifat yang ramah dan gampang akrab layaknya seekor anjing, dia tidak pernah patah semangat seberapa dingin pun aku mengabaikannya. Lalu saat makan malam tiba, dia akan bercerita dengan riang tentang kejadian sehari-hari, seperti: "Hari ini sayur-sayuran lagi murah banget, lho!"
Entah itu kepada manusia ataupun hewan, rasanya tidak akan pernah buruk jika ada yang bersikap manja dan menaruh kedekatan kepada kita. Ternyata, inilah yang dinamakan luluh oleh perhatian.
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mendapati diriku yang perlahan-lahan mulai menerima keberadaan Yuu. Sembari mencemaskan kalau-kalau perasaan sayang yang aneh akan tumbuh jika terus begini, kehidupan tinggal bersama kami pun bergulir dengan lancar di luar dugaan.
Meskipun demikian, jika tinggal bersama di satu atap, kecelakaan kecil atau kesalahpahaman pastilah akan terjadi satu atau dua kali...... Itu terjadi pada suatu sore, tepat saat aku baru pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaan──.
"Lho...... tidak ada, ya."
Sosok Yuu tidak terlihat di waktu yang biasanya dia selalu ada. Aku sudah mencarinya di ruang tengah, tentu saja termasuk di dapur dan kamar tidur, tetapi tidak juga menemukannya.
Nasi sudah matang, dan sup miso pun sudah siap. Lauk pauknya juga sudah selesai dibuat, jadi sepertinya tidak mungkin kalau dia sudah menyerah lalu pulang...... apakah dia sedang pergi ke supermarket karena ada bahan yang lupa dibeli?
"Lebih baik aku mandi duluan saja sambil menunggunya."
Tepat di saat aku membuka pintu ruang wastafel sembari berpikir demikian.
“"Eh──?"”
Suara kebingungan dan seruan terkejut mendadak saling tumpang-tindih.
Di sana, tampak sosok Yuu yang sepertinya baru saja selesai mandi. Entah harus dibilang beruntung atau malah buntung, Yuu sedang memegang handuk di tangannya sehingga bagian-bagian yang tidak boleh dilihat tidak sampai terpampang. Namun, meski begitu, proporsi tubuhnya yang ideal tidak dapat disembunyikan sepenuhnya.
Berbanding terbalik dengan fitur wajahnya yang masih menyisakan kepolosan, lekuk tubuhnya sudah bisa dibilang pantas sebagai seorang wanita dewasa. Rambut panjangnya yang basah serta bibirnya yang memerah merona terlihat begitu sensual hingga tanpa sadar merebut seluruh pandangan mataku.
"......Meskipun ini murni sebuah kecelakaan, bukankah melihatnya terlalu lama?"
"Ma, maaf──!"
Tersadar kembali oleh teguran Yuu, aku buru-buru menutup pintu dan kembali ke ruang tengah dengan panik. Dengan kepanikan karena telah melakukan kesalahan ditambah gejolak emosi setelah melihat tubuh seorang wanita, tidak mungkin aku bisa bersikap tenang.
Sembari memutar otak dengan keras memikirkan alasan apa yang harus kusampaikan, sebuah pemikiran terlintas di kepalaku.
"Padahal usianya 2 tahun lebih muda dariku, kupikir dia masih anak-anak......"
Orang-orang sering bilang kalau perempuan bertumbuh dewasa lebih cepat daripada laki-laki, dan hal itu ternyata memang benar adanya. Dia sudah berada di tingkat kedewasaan yang akan terasa tidak sopan jika masih dianggap sebagai anak-anak......
Aku merasa sedikit jijik pada diriku sendiri karena memikirkan hal semacam itu, tetapi fakta tetaplah fakta.
Belum sempat aku menyelesaikan alasan di kepala, Yuu yang sudah berganti pakaian rumah telah kembali ke ruang tengah.
"Kanata-san."
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya!"
Aku refleks duduk seizadi lantai, kemungkinan besar karena didorong oleh rasa bersalah yang teramat sangat.
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu sedang mandi di jam segini."
"Karena aroma masakan menempel di rambut, jadi saya memutuskan untuk mandi duluan."
Seberapa besar pun ini adalah kamarku sendiri, aku yang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu adalah pihak yang sepenuhnya bersalah.
Tepat di saat aku sudah memantapkan hati untuk menerima segala macam kata-kata amarah dan makian darinya.
"Tolong jangan menunjukkan wajah yang sebersalah itu."
Alih-alih dimarahi, aku justru disuguhi oleh kata-kata yang lembut.
"Pihak yang sudah memaksakan diri untuk menumpang di sini adalah saya. Sejak awal saya memantapkan hati untuk tetap tinggal di kamar ini, cepat atau lambat saya sudah bersiap jika situasi seperti ini akan terjadi. Malahan, saya tidak keberatan memperlihatkannya sebagai pengganti uang sewa rumah."
Aduh, aduh...... seorang gadis yang lebih muda dan toleran terhadap hal-hal mesum seperti ini tentu saja sangat menyenang...... maksudku, ini benar-benar sangat mencemaskan.
"Sampingkan dulu hal itu, saya rasa ke depannya kejadian yang serupa pasti akan terulang lagi."
"Kalau soal itu...... memang benar sulit untuk menjamin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, sih."
"Oleh karena itu, mari kita buat satu aturan."
Tunggu sebentar. Ini kan kamarku, tapi kenapa malah Yuu yang mulai menentukan aturan?
"Apakah Kanata-san tahu tentang aturan tiga detik?"
"A, aturan tiga detik......?"
Seingatku itu adalah aturan tentang makanan yang jatuh, kalau belum lewat tiga detik maka statusnya masih aman untuk dimakan, bukan?
Aku merasa aturan ini juga ada dalam olahraga bola basket, tetapi intinya adalah sebuah teori santai yang basis ilmiahnya cukup meragukan, yang menganggap jika makanan jatuh belum lewat tiga detik maka efeknya belum terlalu parah sehingga masih aman untuk dimakan. Kalau secara higienis, menurutku pribadi sih itu sudah jelas tidak boleh.
"Saya mengusulkan untuk menerapkan aturan tiga detik ini ke dalam kehidupan kita bersama."
"Anu...... maaf. Bisa tolong jelaskan dengan sedikit lebih spesifik?"
"Ini adalah aturan untuk menganggap suatu kejadian tidak pernah ada jika terjadi hal yang tidak mengenakkan di antara kita berdua dalam waktu tiga detik. Jika terjadi kejadian seperti kali ini—saat Anda tidak sengaja melihat saya mandi atau berganti pakaian—kalau belum lewat tiga detik, mari kita lupakan saja."
Aturan macam apa yang kelewat luar biasa ini!
Bagi Yuu, karena kami tinggal bersama, kecelakaan kecil seperti ini pasti akan terjadi satu atau dua kali. Jadi, esensi dari usulannya adalah agar kami tidak perlu terlalu ambil pusing. Namun jika dibalik, artinya segala hal diperbolehkan asal tidak lewat dari tiga detik.
Jika dikaitkan dengan kasus kali ini, artinya melihat tubuhnya tanpa busana pun sah-sah saja asalkan tidak lebih dari tiga detik. Niat mesum itu tampaknya langsung terbaca olehnya.
"Tentu saja, kalau sengaja berbuat mesum itu tidak boleh."
"......Baik. Mohon maaf."
Aku benar-benar diperangati dengan sangat telak.
Seberapa luar biasa pun aturan itu, rasanya keterlaluan jika aku malah kegirangan setelah melihat tubuh seorang gadis tanpa busana. Tergantung pada pihak lawan, perkara seperti ini bahkan bisa menyeret seseorang untuk berurusan dengan pihak kepolisian. Aku seharusnya bersyukur karena sudah dimaafkan, tetapi...... karena aku adalah seorang laki-laki, tampaknya aku memang tidak bisa melawan insting yang bernama hasrat seksual ini.
"Omong-omong, kalau sampai lewat dari tiga detik, apa yang akan terjadi?"
"Tentu saja Kakak harus bertanggung jawab. Dalam banyak hal."
"Dalam banyak hal...... ya."
Sejujurnya aku terlalu takut untuk menanyakan apa arti dari kata 'banyak hal' tersebut.
Sebagai informasi tambahan—meski aku tahu ini tidak terlalu penting jadi akan kupersingkat saja—momen berikutnya saat aturan tiga detik ini berlaku adalah ketika Yuu tidak sengaja mengintipku saat sedang berganti pakaian...... dan sebagai aksi balas dendam, dia benar-benar menatapku lekat-lekat selama tiga detik penuh.
Urusan bertelanjang dada atau melihat orang lain telanjang itu memang sama-sama membuat canggung, ya.
──Dengan ritme seperti itulah kehidupan tinggal bersama kami terus berlanjut hingga saat ini. Namun, di balik kehidupan yang berjalan lancar ini, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku. Yaitu mengenai apakah orang tua Yuu tidak mencemaskannya.
Seberapa longgar pun libur Golden Week, seorang gadis remaja yang terus-menerus menginap di luar rumah biasanya pasti akan dimarahi. Apakah dia berhasil mengelabui mereka dengan alasan yang bagus, seperti menginap di rumah temannya?
Mengingat dia mengenakan seragam sekolah pada hari pertama tetapi belakangan ini selalu terlihat memakai pakaian kasual, dia pasti sempat pulang untuk mengambil pakaian ganti...... tapi sepertinya akan lebih baik jika aku menanyakan situasi seputar hal tersebut secara langsung. Jika sampai terjadi kemungkinan terburuk di mana aku masuk berita dengan tuduhan penyekapan siswi SMA, riwayat hidupku bisa tamat.
Hari-hari pun terus bergulir di tengah rasa cemas yang samar tersebut. Hingga tiba di suatu sore, sehari sebelum hari terakhir libur Golden Week.
"Kalau sendirian, tempat ini terasa luas sekali, ya......"
Tidak seperti biasanya, aku mendapati diriku tinggal seorang diri di kantor agensi untuk menyelesaikan pekerjaan. Hari ini Direktur sedang keluar seharian penuh untuk melakukan peninjauan di lokasi syuting sekaligus menghadiri rapat.
Ema-san ikut mendampingi beliau sebagai sekretaris, sedangkan aku bertugas sendirian sejak siang untuk mengurus pekerjaan administrasi dan menjaga telepon.
Sebagai informasi, Ema-san sebenarnya memiliki status yang sama denganku sebagai staf administrasi. Namun, di hari seperti ini dia terkadang ikut mendampingi Direktur sebagai sekretaris, dan di saat kekurangan staf, dia juga bisa menghandle pekerjaan seorang manajer. Dia adalah orang yang sangat kompeten. Aku sendiri selalu merepotkan Ema-san dan tidak akan pernah bisa menyamai kehebatannya.
Apakah suatu saat nanti dia akan diangkat menjadi karyawan tetap di Second House?
Sembari memikirkan hal itu, aku mencari sebuah dokumen di depan lemari arsip.
"Yang ini, kah......"
Dokumen yang kuambil adalah sebuah map dengan tulisan 'Data Talenta' di sampulnya. Ini adalah dokumen rahasia perusahaan yang berisi rekam jejak para aktris yang bernaung di bawah Second House. Secara sederhana, ini menyerupai profil detail mereka, dan siapa saja orang dalam perusahaan bebas untuk mengaksesnya.
Setelah membalik beberapa halaman, data milik 'Tachibana Haruka' langsung menarik perhatianku. Garis besar isinya adalah sebagai berikut.
Nama asli──Tachibana Haruka.
Nama panggungnya ditulis dengan karakter 'Bunga yang Berdiri' (Tachibana), menjadi Tachibana Haruka. Usianya sama denganku. Jika masih hidup, tahun ini dia seharusnya sudah menjadi siswa kelas 3 SMA berusia 18 tahun. Dia bakatnya ditemukan oleh Direktur Igarashi saat duduk di kelas 2 SMP, lalu langsung terjun ke dunia akting.
Karya debutnya adalah sebuah drama televisi yang dimainkannya bersama denganku, satu tahun setelah dia bernaung di bawah Second House.
Setelah itu, kariernya terus menanjak dengan lancar hingga akhirnya terpilih untuk pertama kalinya sebagai aktris utama dalam drama berjudul 'Kelanjutan Cinta yang Tak Kesampaian, Bersama Adikmu'. Namun, saat duduk di kelas 2 SMA, dia berpulang akibat kecelakaan saat proses syuting.
Dia telah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, dan dibesarkan di panti asuhan bersama adiknya sebelum akhirnya melakukan debut. Dia tidak memiliki kakek maupun nenek, dan meskipun memiliki kerabat jauh, mereka sama sekali tidak pernah menjalin komunikasi.
"Dibesarkan di panti asuhan......"
Sebuah gumaman lolos dari bibirku karena akhirnya merasa paham. Alasan mengapa dia bisa menginap di kamarku setiap hari adalah karena tidak ada keluarga yang mencemaskannya. Aku tidak tahu panti asuhan tempat Yuu dititipkan itu seperti apa, tetapi setidaknya jika melihat dia diizinkan untuk menginap di luar, tempat itu sepertinya bukanlah tempat yang terlalu mengekang kebebasannya.
Untuk sementara aku bisa bernapas lega karena ini bukanlah kasus kabur dari rumah, namun...
"............"
Tiba-tiba saja, aku teringat kembali akan kejadian di pagi hari setelah Yuu pertama kali menginap di rumahku. Wajahnya yang tampak bersalah saat meminta maaf setelah mendengarkan kisah latar belakang hidupku langsung terlintas di kepala.
"Kenapa juga kamu harus meminta maaf......"
Bukankah Yuu juga sama-sama tidak memiliki keluarga?
Tidak...... setidaknya aku hanya mengalami perpisahan keluarga, jadi posisiku masih jauh lebih mendingan.
Tepat di saat aku didera rasa sesal karena telah menceritakan tentang diriku sendiri tanpa memikirkan perasaannya padahal aku tidak tahu apa-apa.
"Kamu sedang meminta maaf kepada siapa?"
"Uwaaa──?!"
Karena tiba-tiba ditegur dari arah belakang, aku refleks berteriak karena terkejut. Begitu menoleh, tampak sosok Ema-san yang sedang mengintip ke arah tanganku.
"Ema-san, sejak kapan Anda kembali?"
"Semua jadwal hari ini sudah selesai, kok. Direktur setelah ini ada acara makan malam kolega bisnis, tapi karena aku tidak perlu ikut mendampingi, beliau menyuruhku untuk kembali ke kantor saja. Padahal tadi aku sudah mengucapkan salam tanda pulang, lho."
Tampaknya aku terlalu fokus pada dokumen sehingga tidak mendengarnya sama sekali.
"Apakah kamu sedang mencari tahu tentang Tachibana Haruka-san?"
"Tidak, ini......"
Menutup dokumen itu secara refleks adalah sebuah kesalahan. Sebenarnya tidak ada masalah jika aku terlihat sedang melihat-lihat dokumen ini. Hanya saja, jika ditanya mengapa aku mencari tahu tentang mantan aktris yang sudah tiada, aku tidak akan bisa memberikan alasan yang bagus. Meskipun aku bisa mengelabui situasi di tempat ini dengan baik, jika hal ini sampai terdengar ke telinga Direktur Igarashi, beliau dipastikan akan menuntut penjelasan dariku.
Sehebat itulah arti dari eksistensi seorang Tachibana Haruka bagi Second House.
"Benar-benar...... dia adalah sosok aktris yang sangat disayangkan harus tiada secepat itu."
Tidak, aku mungkin justru harus bersyukur karena lawan bicaraku saat ini adalah Ema-san.
"Ema-san. Setelah ini, apakah Kakak ada waktu luang?"
"Setelah ini? Aku luang, kok...... memangnya ada apa?"
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan. Bagaimana kalau kita minum teh sebentar──"
"Ayo. Mau! Kita minum teh!"
Ema-san menyahut dan memberikan persetujuannya dengan sangat cepat, bahkan sebelum aku selesai melontarkan pertanyaan. Rasanya dia terkesan agak terlalu bersemangat, tapi tentu saja aku merasa terbantu.
"Kalau begitu, mari kita pergi ke kafe setelah pekerjaan selesai."
"Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, jadi tunggu sebentar, ya!"
Ema-san kembali ke mejanya lalu menyalakan komputer, dan mulai membereskan pekerjaannya dengan kecepatan yang rasanya mencapai tiga kali lipat dari biasanya. Ditambah lagi, dia bahkan ikut menghandle sebagian pekerjaanku, yang tentu saja sangat membantuku.
『Cuma berdua......hal penting...... jangan-jangan, pernyataan cinta!? 』
Dia tampak menggumamkan sesuatu, tetapi suaranya tenggelam dan tidak terdengar akibat bisingnya suara ketikan keyboard yang super cepat. Terlepas dari apa pun isinya, berkat hal itu tugas kerja hari ini bisa rampung jauh lebih awal.
*
Setelah meninggalkan kantor agensi, kami melangkah menuju sebuah kedai kopi yang terletak di dekat stasiun. Tempat ini adalah kedai franchise yang bisa dijumpai di mana saja di area ibu kota. Desain interiornya yang memanfaatkan banyak unsur kayu memberikan kesan hangat, ditambah alunan musik latar bernuansa tenang yang mengalir di dalam kedai terasa begitu nyaman; menjadikannya tempat paling ideal untuk bersantai.
Ini adalah kedai favorit yang terkadang juga kusinggahi seorang diri saat pulang kerja.
"Biar aku saja yang traktir, jadi tidak perlu sungkan untuk memesan."
"Tidak enak, ah. Aku bayar sendiri saja, jadi tidak apa-apa."
"Karena hari ini aku yang mengajak Anda, jadi izinkan aku mengambil kesempatan untuk sok keren ini."
"Kalau kamu bilang begitu...... kalau begitu, aku terima kebaikanmu, ya."
Saat sedang menunggu di area pintu masuk, seorang staf perempuan datang memandu kami menuju ke area tempat duduk bagian dalam.
Kami diarahkan ke kursi sofa yang berkapasitas dua orang, posisi yang sangat pas untuk membicarakan topik pembicaraan yang cukup privat. Aku memesan iced coffee, sedangkan Ema-san memesan iced tea dan kue cokelat. Sembari menunggu pesanan tiba, kami sempat mengobrol ringan tentang berbagai hal, dan tidak butuh waktu lama sampai pesanan kami diantarkan ke meja.
Kami berdua menyesap minuman masing-masing untuk melepas dahaga sembari mengembuskan napas lega.
"Anu...... jadi, hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?"
Sejak tadi Ema-san tampak gelisah dan tidak bisa tenang sembari merapikan rambutnya.
Sorot matanya tampak seolah sedang mengharapkan sesuatu, dan di saat yang sama juga terlihat seperti sedang memantapkan persiapan di dalam hatinya. Lebih dari itu, apakah hanya perasaanku saja atau pipinya memang terlihat sedikit merona merah?
Namun sampingkan dulu hal itu, aku meletakkan gelasku lalu mulai beralih ke inti pembicaraan.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukonsultasikan."
"Sesuatu yang ingin dikonsultasikan?"
"Mengenai adik dari Tachibana Haruka."
"Adik dari...... Tachibana Haruka-san?"
Sangat wajar jika Ema-san terkejut mendengarnya. Namun entah mengapa, raut wajahnya yang tadinya tampak tersipu malu seketika berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi ekspresi yang penuh keputusasaan. Sebuah ekspresi yang sulit digambarkan dengan kata-kata, seolah-olah seluruh emosi negatif telah bercampur aduk menjadi satu di wajahnya.
Atmosfer di sekitar Ema-san mendadak terasa suram dan berat.
『Di momen kencan...... malah konsultasi...... soal wanita lain? 』
Dia kembali menggumamkan sesuatu, tetapi suaranya tidak terdengar jelas karena tertutup oleh salam penuh semangat dari salah seorang staf kedai yang menggema di ruangan.
"Anu...... apakah ada sesuatu yang salah?"
"Ah, tidak──bukan apa-apa!"
Ema-san memasang senyuman di wajahnya seolah baru tersadar dari lamunan. Meskipun senyuman itu terlihat agak mirip seperti senyum getir.
"Lalu, ada apa dengan adik dari Tachibana Haruka-san?"
"Ya. Sebenarnya begini──"
Setelah itu, aku menjelaskan kronologi kejadiannya secara runut dari awal. Mulai dari suatu hari di awal bulan April saat aku mendapati Yuu berada di depan pintu kamarku ketika pulang kerja. Fakta bahwa dia memohon agar aku mengajarinya akting karena ingin menjadi aktris, tetapi aku menolaknya. Meski begitu, Yuu tidak menyerah dan terus datang menyatroni kamarku setiap hari, hingga akhirnya aku tidak tega dan memperbolehkannya masuk, yang justru menjadi pemicu baginya untuk terus tinggal di sana.
Aku juga menyampaikan bahwa tanpa terasa sudah satu bulan berlalu sejak kami pertama kali bertemu kembali.
"Tinggal bersama...... seorang anak gadis?"
"Bukan. Dia cuma menumpang tinggal tanpa izin."
Aku meluruskan kalimatnya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Artinya...... dia tipe gadis yang mengunjungi rumah laki-laki untuk menjadi calon istri (oshikake nyōbō)!?"
"Yah, kalau melihat situasinya, memang bisa dibilang mirip-mirip seperti itu, sih......"
Tapi ini bukanlah jenis hubungan romantis yang mengarah ke hal mesum antara laki-laki dan perempuan.
Belum sempat aku menyampaikan hal itu, Ema-san sudah memasang raut wajah yang syok bukan main.
"Aku tahu Kanata-kun juga seorang laki-laki, jadi wajar saja kalau kamu punya hasrat...... tapi, rasanya kurang pantas kalau melibatkan anak gadis yang bahkan baru saja lulus SMP. Memang sih aku sering dengar kalau laki-laki itu seberapa pun umurnya akan tetap menyukai gadis yang lebih muda, tapi ini rasanya terlalu muda...... Maksudku, dibandingkan anak itu aku memang lebih tua, tapi secara umum aku juga masih tergolong usia muda, tahu. Kalau kamu memang sudah tidak bisa menahannya lagi, kamu kan bisa berkonsultasi denganku. Maksudku, harusnya konsultasi denganku, dong!"
Sampingkan dulu fantasi macam apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Ema-san saat ini. Serta sampingkan juga perkara mengapa aku harus berkonsultasi dengan Ema-san jika menyangkut hal tersebut.
"Biar tidak terjadi kesalahpahaman, aku tegaskan kalau aku sama sekali tidak menyentuhnya, ya."
"Bohong...... Benaran tidak terjadi apa-apa......?"
"Demi Tuhan, sama sekali tidak ada."
Ema-san tampak mengembuskan napas lega sembari mengelus dadanya. Namun di momen berikutnya, dia mendadak melemparkan tatapan penuh curiga ke arahku.
"Tapi kalau dipikir-pikir secara tenang, situasi itu justru malah mencemaskan dengan cara yang berbeda...... Sangat tidak masuk akal kalau tidak terjadi apa-apa padahal ada seorang laki-laki dan perempuan yang tinggal bersama di bawah satu atap. Jangan-jangan, Kanata-kun sebenarnya tidak tertarik pada perempuan? Malahan, kalau kamu ternyata tertariknya pada sesama laki-laki, tingkat syok yang kurasakan bakal jauh lebih hebat daripada mendengarmu menyentuh anak gadis itu, lho......"
Meskipun terasa kurang sopan jika diucapkan, dia mendadak mulai membicarakan hal yang aneh-aneh dan merepotkan.
"Aku ini murni masih tertarik pada perempuan, jadi tolong jangan melayangkan kecurigaan yang tidak-tidak."
Aku sama sekali tidak memiliki hobi untuk menyenangkan sebagian kalangan wanita yang menyukai fujoushi.
Lagipula, kenapa topik pembicaraannya malah melantur ke arah sini, sih?
"Kalau memang begitu, tidak heran kan kalau kejadian seperti tidak sengaja melihat pakaian dalam, mengintip kamar mandi, atau diintip saat sedang berganti pakaian sampai terjadi? Paling tidak, peristiwa semacam itu pasti terjadi satu atau dua kali, bukan? Bagaimana dengan urusan yang satu itu?"
Ema-san menyebutkan contoh-contoh yang begitu spesifik seolah-olah dia menyaksikannya sendiri dengan mata kepala sendiri.
Gawat...... kalau untuk urusan yang itu, aku sama sekali tidak bisa bersumpah demi Tuhan.
"Jangan-jangan kamu sengaja mengintipnya ke kamar mandi dengan modus pura-pura tidak sengaja......"
"Bukan begitu. Kejadian yang waktu itu benar-benar murni kecelakaan──"
Aku refleks menutup mulut tepat di saat hampir melontarkan kalimat pembelaan.
"Tuh, kan, ketahuan kalau kamu beneran mengintip. Kanata-kun mesum!"
Tidak, tidak, ini mah namanya jebakan betmen melalui pertanyaan penuntun!
"P-Pokoknya begini──"
Aku sengaja mengeraskan suara untuk mengembalikan topik pembicaraan ke inti masalah.
"Seberapa sering pun aku menolaknya dia tidak mau menyerah, dan dia juga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari kamar. Malahan belakangan ini dia terlihat sangat betah tinggal di sana...... Aku juga tidak mungkin mendiskusikan hal ini dengan Direktur Igarashi, jadi aku benar-benar pening harus bagaimana."
"Begitu rupanya. Karena itulah kamu memutuskan untuk berkonsultasi denganku, ya."
"Benar. Jujur saja aku sudah angkat tangan, situasinya benar-benar sudah kehabisan akal......"
"Tapi, kenapa kamu tidak bisa mendiskusikan hal ini dengan Direktur Igarashi?"
"Itu karena...... aku yakin Direktur Igarashi pasti akan langsung menerima keberadaan Yuu."
Bagi Direktur Igarashi, eksistensi Tachibana Haruka adalah sesuatu yang sangat spesial. Dia adalah sosok aktris yang bakatnya ditemukan sendiri oleh Direktur, yang kemudian dipoles potensinya hingga berhasil diantarkan menuju gerbang debut.
Direktur dipastikan menaruh harapan besar kepadanya sebagai aktris yang kelak akan menyokong masa depan Second House. Rasa syok akibat kehilangan aktris yang sangat berharga itu pastilah dirasakan jauh lebih besar oleh Direktur dibandingkan dengan siapa pun yang ada di agensi. Mengingat Direktur Igarashi adalah orang yang sangat perasa, jika peninggalan dari Tachibana Haruka berkata ingin menjadi aktris, beliau pasti akan langsung bersedia untuk mengurusnya.
Seolah-olah beliau akan mengajukan diri menjadi sosok pengganti ibu bagi Yuu yang kini bisa dibilang sebatang kara.
"Bukannya aku keberatan jika hal itu terjadi. Jika Direktur memang ingin menerima Yuu dan Yuu sendiri menginginkan hal tersebut, aku tidak keberatan untuk mempertemukan mereka. Hanya saja, karena Yuu memohonnya kepadaku, aku tidak bisa mendukung langkahnya begitu saja secara tidak bertanggung jawab. Setidaknya, sebelum aku mendengar langsung alasan mengapa dia ingin menjadi aktris, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Memang benar, apa yang dikatakan Kanata-kun ada benarnya juga."
"Oleh karena itu, ada satu hal yang ingin kuminta......"
Inilah alasan utama mengapa aku mengajak Ema-san minum teh bersama.
"Bisa tidak kalau setelah ini Anda ikut datang ke kamarku?"
"Eh...... Eeeehh!?"
Ema-san sontak memasang ekspresi wajah yang sangat terkejut. Karena ini adalah ajakan yang mendadak, wajar saja jika dia terkejut, tapi bukankah ini agak terlalu berlebihan?
『Kencan pertama...... tak disangka...... langsung diajak menginap!? 』
Rasanya hari ini Ema-san entah mengapa jadi sering sekali berbicara sendiri di dalam hati. Dia tampak menggumamkan sesuatu lagi, tetapi suaranya sama sekali tidak terdengar karena tertutup oleh riuh suara barang pecah belah yang tidak sengaja dijatuhkan oleh staf kedai yang sedang membereskan meja.
Sampingkan dulu apa yang sebenarnya diucapkan oleh Ema-san. Termasuk sampingkan juga perkara mengapa dia mendadak menarik kerah bajunya sendiri lalu mengintip ke dalam pakaiannya sembari menggumam, "Sip...... pakaian dalam yang kupakai hari ini modelnya lucu, jadi tidak masalah".
"Aku ingin Anda ikut mendengarkan cerita dari Yuu bersamaku."
"............Nn?"
Ema-san memiringkan kepalanya dengan tatapan heran.
"Mungkin saja alasan tersebut adalah sesuatu yang sulit untuk diceritakan kepadaku. Lagipula, karena aku adalah seorang laki-laki, wajar saja jika seorang gadis yang lebih muda akan merasa sungkan untuk berbicara jujur. Aku berpikir jika Ema-san—yang merupakan orang dari agensi tempat mendiang kakaknya dulu bernaung sekaligus sesama perempuan—ikut mendampingi, Yuu mungkin akan bersedia menceritakan situasinya yang sebenarnya."
"Oh, jadi maksudnya begitu......?"
Raut wajah Ema-san yang tadinya tersipu malu seketika berubah drastis menjadi ekspresi yang kosong melompong bagai hampa udara. Dia tampak tidak terlalu bersemangat sehingga aku merasa tidak enak, tetapi aku tidak bisa menemukan cara lain yang lebih baik dari ini.
"Karena tidak ada orang lain lagi yang bisa kumintai tolong selain Ema-san."
"Artinya...... cuma aku satu-satunya tempatmu bersandar?"
"Benar."
Ema-san tampak mengerutkan dahi sembari mengerang dengan ekspresi dilematis.
Setelah sempat termenung memikirkannya beberapa saat, dia mengembuskan napas kecil lalu mengangguk.
"Baiklah. Kalau kamu tidak keberatan denganku, aku siap membantu."
"Benarkah!?"
"Aku tidak tahu apakah bisa banyak membantu atau tidak, tapi kalau demi Kanata-kun, aku rasa tidak ada salahnya aku turun tangan."
"Terima kasih banyak!"
Karena keputusan sudah diambil, tentu akan lebih baik jika kami bergerak cepat. Kami segera meninggalkan kedai kopi dan melangkah menuju stasiun.
"Yah, setidaknya bisa berkunjung ke kamar Kanata-kun saja sudah....."
"Ada apa dengan kamarku?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa, kok♪"
Raut wajahnya yang tadinya tampak penuh keputusasaan kini seketika berbalik menjadi sangat ceria seolah kejadian tadi hanyalah kebohongan belaka.
Entah perubahan suasana hati macam apa yang sedang dialaminya, dia berjalan menyusuri jalanan sembari melompat-lompat kecil dan bersenandung. Terkadang terkejut, tersipu malu, lalu setelah murung mendadak bisa langsung gembira; ekspresi emosinya yang begitu kaya membuat siapa pun yang melihatnya tidak akan pernah merasa bosan.
Di samping sifatnya yang suka mengayomi, aku rasa bagian ini juga merupakan salah satu daya tarik dari seorang Ema-san.
"Fufufu~n♪"
Aku bergumam dalam hati, laki-laki yang menjadi kekasih Ema-san pasti akan menjalani hari-hari yang menyenangkan.
*
"Jadi di sini apartemen tempat tinggal Kanata-kun......!"
Begitu tiba di apartemen, Ema-san bergumam dengan nada penuh emosional. Matanya tampak berbinar-binar saat mendongak menatap bangunan, seolah kata 'terpukau' adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan ekspresinya. Padahal usia bangunan ini sudah tua dan sistem keamanannya pun biasa-biasa saja; sama sekali bukan tipe properti yang didambakan oleh seorang wanita.
Apakah dia menyukai desain eksteriornya sedemikian rupa?
"Kamarku ada di lantai 4."
Aku membawa Ema-san menuju ke lift yang biasanya jarang kugunakan. Saat masih aktif sebagai aktor dulu, aku cukup rutin melatih tubuhku, tetapi setelah pensiun aku tidak pernah lagi berolahraga secara layak.
Di sekolah pun aku tidak mengikuti aktivitas klub mana pun dan langsung pulang, jadi biasanya aku selalu berusaha menggunakan tangga demi menjaga kesehatan. Namun karena hari ini sedang bersama Ema-san, kami naik ke lantai empat menggunakan lift.
Begitu tiba di depan kamar dan membuka pintu, aku tidak mendapati adanya sepatu Yuu.
"Yuu sepertinya sedang keluar."
"Wah, sayang sekali. Waktunya kurang pas, ya."
"Aku rasa dia akan segera kembali, jadi mari kita tunggu di dalam."
"Benar juga. Kalau begitu, p-permisi......"
Ema-san melangkah masuk ke dalam rumah dengan gestur yang tampak tegang.
Saat kupandu menuju ke ruang tengah, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan ekspresi kagum.
"Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar laki-laki, tapi ternyata rapi dan bersih sekali, ya......"
"Beberapa waktu yang lalu kondisinya sama sekali tidak berbentuk, tapi Yuu sudah membersihkannya untukku."
Tentu saja dengan kondisi kamarku yang sebelumnya, aku tidak akan pernah sudi mengundang seorang wanita berkunjung.
Aku berpikir di dalam hati bahwa aku harus berterima kasih kepada Yuu. Tapi, rasa terima kasih ini rasanya memiliki makna yang agak rancu. Lagipula, jika sejak awal Yuu tidak mengunjungi kamarku, aku kan tidak perlu repot-repot mengundang Ema-san datang ke sini seperti ini. Aku jadi bingung harus bersyukur sampai di tahap mana.
"Silakan duduk dulu sambil menunggu."
"Ya. Terima kasih, aku duduk, ya."
Ema-san mendudukkan diri di sofa sembari sesekali melirik ke arah sekitar ruangan dengan gelisah. Melihat sosoknya dari sudut mata, aku beralih ke dapur untuk merebus air dan menyeduh dua cangkir teh hitam. Aku kembali ke ruang tengah, menyerahkan salah satu cangkir kepada Ema-san, lalu mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Silakan."
"Terima kasih."
Ema-san memegang cangkir dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya di tepi cangkir.
"Padahal biasanya jam segini dia sudah sibuk menyiapkan makan malam, lho."
"Hari ini dia tidak ada mengirim pesan kalau bakal pulang terlambat?"
"......Kalau dipikir-pikir, aku tidak tahu kontak komunikasinya."
Sudah satu bulan berlalu sejak aku bertemu kembali dengan Yuu setelah sekitar 3 tahun lamanya. Dan sudah 10 hari pula sejak dia mulai menumpang tinggal di kamarku, tetapi alasan mengapa kami belum bertukar kontak adalah karena aku sama sekali tidak menyangka kalau hubungan kami akan berlanjut sejauh ini.
"Mengingat kalian tinggal bersama, bukankah sebaiknya kalian bertukar kontak?"
"Benar juga. Nanti malam akan coba kutanyakan kepadanya."
Namun, ini sudah terlalu larut......
Jarum jam dinding sudah melewati pukul tujuh malam, dan hari pun sudah sepenuhnya gelap.
Aku tidak hanya mencemaskan Yuu yang belum kunjung pulang, tetapi aku juga mengkhawatirkan Ema-san yang bisa kemalaman jika terus menunggu di sini.
"......Baiklah."
Aku bangkit berdiri dari sofa lalu melangkah menuju dapur. Saat memeriksa isi kulkas, seluruh bahan makanan yang dibutuhkan untungnya sudah tersedia lengkap.
"Karena sepertinya bakal larut, sekalian saja makan malam di sini."
"Eh? Jangan-jangan, Kanata-kun yang akan memasaknya?"
"Iya. Walaupun cuma menu yang sederhana, sih."
Aku segera menyingsingkan lengan baju, mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas, lalu mulai melakukan persiapan. Belakangan ini urusan memasak selalu kuserahkan kepada Yuu yang dengan sukarela membuatnya, dan sebelum itu aku selalu mengandalkan aplikasi pesan antar makanan. Namun begini-begini pun, aku selalu memasak sendiri saat awal-awal mulai hidup mandiri, jadi aku bisa memasak.
Meski kualitasnya hanya sebatas tidak kesusahan untuk memenuhi porsi makan sendiri, sih. Namun, ada satu menu masakan yang bisa kuhidangkan dengan rasa percaya diri penuh.
Yaitu nasi goreng; salah satu menu dari 'Tiga Hidangan yang Cenderung Ditekuni secara Total oleh Laki-Laki yang Tinggal Sendirian'.
Saat awal-awal mulai membuatnya dulu, nasi goreng buatanku tidak pernah bisa menghasilkan tekstur yang pera. Karena penasaran dan tidak mau kalah, tanpa sadar aku sempat melewati hari-hari dengan menu nasi goreng secara terus-menerus. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku belajar dengan menonton video tutorial, atau mengintip ke arah dapur dari balik meja bar kedai masakan Tiongkok.
Berkat usaha keras itu, aku rasa kualitas nasi goreng buatanku saat ini sudah tidak memalukan lagi untuk dihidangkan kepada orang lain.
Sebagai informasi, dua menu lainnya adalah kari dan omurice, tetapi aku tidak menyentuh kedua menu tersebut.
Untuk kari, seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, menu itu adalah simbol kehangatan keluarga bagiku sehingga aku tidak memiliki keinginan untuk membuatnya sendirian. Namun sebenarnya, ada satu alasan besar lain mengapa aku menghindari menu tersebut.
Untuk nasi omlet pun aku memiliki alasan tersendiri mengapa tidak membuatnya, tetapi akan kuceritakan jika ada kesempatan nanti.
"Prosesnya tidak akan memakan waktu lama, jadi tolong tunggu sebentar, ya."
"Terima kasih. Aku jadi tidak sabar mencicipinya."
Aku pun segera memulai proses pembuatan nasi goreng. Beruntung, nasi putih sudah dimasak oleh Yuu menggunakan fitur timer.
Bahan-bahan makanan yang kukeluarkan dari dalam kulkas adalah bacon, daun bawang, dan sisa paprika hijau.
Tentu saja aku tidak selalu menyediakan chashu di rumah, jadi aku mencincang bacon sampai halus sebagai penggantinya. Daun bawang dan paprika hijau juga kucincang halus lalu kupisahkan ke piring kecil. Setelah nasi dan bumbu-bumbu siap, persiapan pun selesai.
Mulai dari sini, semuanya adalah pertarungan adu kecepatan. Pertama-tama, tuangkan minyak dalam porsi yang agak banyak ke dalam wajan yang sudah dipanaskan, lalu masukkan telur. Sebelum telurnya matang sempurna, masukkan nasi dan tumis sedemikian rupa hingga seluruh butirannya terselimuti oleh telur. Setelah nasi dan telur menyatu dengan pas, masukkan bahan-bahan pelengkap, lalu bumbui sembari mengayun-ayunkan wajan hingga nasi goreng pun selesai dibuat.
Masukkan nasi goreng ke dalam mangkuk kecil, tangkupkan piring di atasnya, lalu balikkan dengan cepat. Tampilannya kini benar-benar terlihat sempurna.
"Untuk ukuran menu yang sudah lama tidak kubuat, hasilnya lumayan juga."
Saat mencicipinya sedikit, rasanya memuaskan dan sesuai ekspektasi.
"Ema-san, maaf membuatmu menung──lho?"
Begitu mengalihkan pandangan ke ruang tengah, sosok Ema-san tidak ada di sana.
Tepat di saat aku bertanya-tanya ke mana dia pergi.
"Aromanya harum sekali, ya!"
Pintu ruang tengah terbuka dan Ema-san pun kembali. Aku sengaja tidak menanyakannya, tapi dia kemungkinan besar baru saja pergi ke kamar mandi. Tepat di saat aku mulai bersiap-siap untuk membuat sup khas Tionghoa sebagai hidangan pendamping.
"Saya pulang!"
Sebuah seruan yang terdengar agak tergesa-gesa menggema dari arah pintu depan. Sosok yang muncul sembari menimbulkan suara derap langkah kaki yang terburu-buru itu adalah Yuu.
"Maaf saya pulang terlambat. Saya akan segera menyiap──eh?"
Yuu melangkah mendekat persis seperti seekor anjing yang terpikat oleh aroma makanan.
"Kanata-san, jangan-jangan sudah menyiapkan makan mal──lho?"
Kalimatnya terhenti di tengah jalan, digantikan oleh kepala yang dimiringkan ke kiri dan ke kanan seolah tanda tanya besar sedang mengapung di atas kepalanya. Tentu saja begitu, karena saat ini ada seorang wanita asing yang tidak dikenalnya di sini.
"M-Mohon maaf! Saya tidak tahu kalau pacarmu sedang berkunjung!"
"T-Tunggu sebentar!"
Yuu langsung dilanda kepanikan di tengah kesalahpahaman yang luar biasa besar itu.
"K-Kalau begitu, saya akan keluar rumah sekali lagi, jadi silakan menikmati waktu──"
"Bukan. Kamu salah paham!"
"Apakah kira-kira akan selesai dalam waktu satu jam?"
Perhitungan waktu dari mulai melakukan apa sampai selesai yang dia maksud itu?
Tidak, mari kesampingkan dulu hal semacam itu.
"Dia bukan pacarku!"
"......Eh?"
Aku refleks mencengkeram lengan Yuu untuk menahannya agar tidak pergi. Namun entah mengapa, dia justru melemparkan tatapan yang penuh dengan rasa jijik ke arahku.
"Jadi Kanata-san adalah tipe orang yang suka membawa masuk wanita yang bukan pacarnya ke dalam kamar, ya......"
"Tidak, tidak, bukan begitu. Ini ada penjelasannya──"
"Kata Kakak saya, laki-laki yang punya niat terselubung pasti akan membuat pembelaan dengan panik."
Kenapa sih aktris genius itu selalu mengajarkan hal-hal yang tidak penting pada adiknya?! Malahan kalau mau jujur, aku justru ingin mempertanyakan balik bagaimana dengan situasi Yuu sendiri.
Padahal statusnya bukan pacar, tapi dia sudah nekat menumpang tinggal di kamar laki-laki selama sepuluh hari. Cara pandang moralnya yang menganggap tidak boleh membawa masuk wanita yang bukan pacar ke dalam kamar memang sudah benar, tetapi masuk ke kamar laki-laki yang bukan pacarnya sendiri juga bukan hal yang normal, kan?
Tapi, sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu.
"Iya, kan, Ema-san?"
Aku meminta bantuan kepada Ema-san agar Yuu memercayaiku. Namun...
"Keterlaluan...... Kanata-kun, jadi selama ini aku cuma mainanmu saja?"
"T-Tunggu, Ema-san──!?"
Jangan-jangan Anda malah sengaja ikut memperkeruh suasana!?
Ema-san menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu menjatuhkan lututnya ke lantai dengan lemas seolah kehilangan seluruh tenaga. Meski begitu, sebuah senyuman yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya tampak mengintip dari celah jari-jarinya.
"Kanata-san, saya benar-benar salah menilai Anda!"
"Tak disangka kamu punya wanita lain selain aku......!"
"Bukan begitu! Sumpah, aku tidak melakukannya!"
Aku membela diri persis seperti judul sebuah film lama tentang tuduhan kasus pelecehan di kereta. Padahal hari sudah malam, tetapi sebuah adegan pelik layaknya drama opera sabun di siang hari mendadak dimulai di sini.
Yuu benar-benar marah besar, dan karena kemampuan akting Ema-san yang luar biasa meyakinkan, pembelaan apa pun yang kulontarkan menjadi sama sekali tidak mempan. Padahal aku tidak sedang menjalin hubungan asmara dengan siapa pun dari mereka berdua, tapi kenapa situasinya malah membuatku terkesan seperti pria yang ketahuan berselingkuh?
Tepat di saat aku sudah benar-benar kewalahan dan hampir kehilangan seluruh energi untuk membuat pembelaan.
"......Fu, fufufuh."
Suara tawa kecil mendadak lolos dari bibir Ema-san.
“"......?"”
Aku dan Yuu saling melempar pandang karena bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, ya. Habisnya melihat Kanata-kun yang panik begitu seru sekali, jadi aku kelepasan ikut bercanda. Kenyataan bahwa aku bukan pacarnya itu memang benar, kok. Tapi kalau ditolak secara mentah-mentah dan bersikeras begitu, sebagai seorang wanita rasanya agak menyebalkan juga, jadi aku ingin menjahilinya sedikit."
"Tolong ampuni aku......"
Rasa lelah yang teramat sangat seketika menyerbuku begitu perasaan lega itu datang. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa fakta mata Ema-san yang tidak ikut tertawa tadi hanyalah sekadar halusinasiku saja.
Di sisi lain, Yuu menatap aku dan Ema-san secara bergantian dengan tatapan heran.
"Kalau begitu, Anda benar-benar bukan kekasihnya......?"
"Iya. Jadi kamu tidak perlu merasa sungkan atau berpikiran yang aneh-aneh."
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya!"
Yuu tampaknya akhirnya memercayai perkataan kami.
"Saya sudah bersikap tidak sopan kepada Kanata-san, dan terlebih lagi kepada Anda yang baru pertama kali saya temui......"
"Jangan dipikirkan, kok."
Ema-san menyahut dengan nada santai seolah sama sekali tidak keberatan, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Malahan justru aku yang harus minta maaf karena sudah membuatmu terkejut, ya. Dan juga, salam kenal Yuu-chan. Aku adalah rekan kerja Kanata-kun di Second House, namaku Saikawa Ema. Di sana aku bekerja sebagai staf administrasi."
"Second House──?"
Yuu mengulangi kata itu dengan ekspresi terkejut. Hanya dengan mendengar nama itu saja, dia tampaknya langsung bisa menangkap garis besar situasinya.
"Untuk sekarang, mari kita makan malam dulu dan bicarakan detailnya nanti."
Meskipun aku ingin segera masuk ke inti pembicaraan, nasi gorengnya nanti keburu dingin. Aku menyuruh mereka berdua untuk duduk menunggu di meja makan, lalu kembali melanjutkan proses pembuatan sup khas Tionghoa yang sempat tertunda.
Menggunakan kaldu ayam bubuk sebagai bahan dasar, aku memantapkan rasanya dengan garam dan kecap asin, lalu menambahkan minyak wijen untuk memperkaya aroma dan cita rasanya. Bahan pelengkapnya sangat sederhana karena hanya berupa daun bawang, tetapi sup khas Tionghoa adalah hidangan pendamping yang wajib ada untuk menemani nasi goreng, bukan?
Setelah menata paket menu nasi goreng yang sudah selesai dibuat di atas meja, kami bertiga merapatkan kedua tangan bersama-sama.
“”"Selamat makan!"””
Sebagai orang yang memasak, aku tentu saja penasaran dengan penilaian rasa dari mereka.
Tepat di saat mereka berdua menyuapkan sendok secara bersamaan ke dalam mulut.
“"Hmm!"”
Keduanya saling melempar pandang dengan ekspresi yang merupakan perpaduan antara rasa terkejut dan gembira.
Sembari mengangguk tanpa kata, mereka mengunyah dan menikmati rasanya.
"Ini enak banget sampai bikin kaget!"
"Iya. Saya terkejut karena rasanya sangat autentik!"
Meningat perkataan itu, aku pun bisa bernapas lega. Meski ini adalah masakan yang paling kukuasai, aku tetap merasa lega karena hidangannya sesuai dengan selera mereka.
"Kanata-san, ternyata pandai memasak, ya."
"Masakan yang layak kuhidangkan untuk orang lain cuma nasi goreng ini saja, kok."
"Saya ingin dibuatkan lagi nanti."
"......Kalau aku lagi ingin, ya."
Meskipun aku menjawab demikian, aku tidak merasa keberatan karena dipuji. Selama ini aku selalu bergantung sepenuhnya pada Yuu dalam urusan makan, jadi tidak ada salahnya jika sesekali aku yang memasak untuknya.
Setelah itu, kami menikmati makan malam sembari mengobrol santai tentang berbagai hal. Kalau dipikir-pikir, rasanya sudah lama sekali aku tidak makan bersama dengan melibatkan banyak orang seperti ini.
Sejak masa-masa menjadi aktor cilik, kesempatan untuk menghadiri jamuan makan bersama orang-orang di industri hiburan memang sering kali ada, namun kapan terakhir kali aku menikmati makan bersama untuk urusan privat? Terlebih lagi jika harus makan bersama orang-orang dari generasi yang sama, ini bisa dibilang merupakan pengalaman pertama bagiku. Hal itu bisa terjadi karena aku tidak memiliki teman akibat aktif sebagai aktor cilik.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, aku sudah menjejakkan kaki di dunia hiburan dan menjadikan kehidupan sebagai aktor sebagai poros utama, sehingga aku jarang sekali masuk sekolah. Pandangan penuh kekaguman yang dilayangkan oleh teman-teman sekelas kepada sosokku pun hanya bertahan di awal-awal saja.
Tanpa disadari, rasa kagum itu berubah menjadi rasa iri dan dengki, hingga tahu-tahu aku sudah terkucilkan seorang diri.
Jika saja aku menjalani kehidupan yang normal, aku pasti bisa mampir ke suatu tempat bersama teman-teman sepulang sekolah, saling berkompetisi demi meningkatkan kemampuan bersama rekan-rekan satu klub, atau jatuh cinta pada anak gadis di kelas──aku seharusnya bisa menikmati masa muda yang normal seperti itu. Meskipun itu adalah masa lalu yang tidak akan pernah bisa kuambil kembali, aku sudah merasa cukup puas hanya dengan bisa merasakan atmosfer yang serupa seperti sekarang.
Aku benar-benar berpikir dari dalam hati bahwa mengundang Ema-san datang ke sini adalah keputusan yang sangat tepat.
"Nah, mari kuperkenalkan sekali lagi──"
Setelah selesai makan malam, kami duduk saling berhadapan di sofa. Di tengah atmosfer yang seketika berubah menjadi penuh ketegangan, berbanding terbalik dengan saat kami makan tadi, aku mulai masuk ke inti pembicaraan.
"Ema-san adalah seorang mahasiswi yang bekerja sebagai staf administrasi di Second House. Alasan mengapa aku memintanya datang hari ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena aku berpikir bahwa diskusi kita akan berjalan lebih konstruktif jika didampingi oleh pihak ketiga."
Yuu tampaknya juga merasakan bahwa membiarkan situasi terus berjalan seperti sekarang tidaklah baik. Dia tidak menunjukkan gelagat keberatan yang berarti.
"Terkait pendampingan ini, aku sudah menjelaskan garis besar situasi kita kepadanya. Maaf karena aku sudah menceritakannya tanpa izinmu terlebih dahulu, tapi tenang saja, Ema-san bukanlah tipe orang yang akan memanfaatkan situasi ini untuk berbuat buruk, kok."
"Tidak apa-apa, karena ini juga bukan sesuatu yang harus saya sembunyikan."
Karena Yuu sudah memberikan persetujuannya meski secara retrospektif, aku pun melanjutkan pembicaraan.
"Yuu, kamu sendiri pasti menyadarinya, kan? Kalau terus begini, pembicaraan kita hanya akan berputar-putar di tempat dan tidak akan maju selangkah pun. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengajarimu akting, dan kamu pun tidak berniat untuk menyerah demi menjadi aktris, bukan?"
"Benar. Hanya hal itu yang tidak akan pernah berubah, apa pun yang terjadi."
"Oleh karena itu, aku ingin kita menemukan titik temu."
"Titik temu?"
Saat aku melemparkan pandangan ke arah Ema-san, dia memberikan anggukan kecil kepadaku. Mulai dari bagian ini, aku sudah meminta bantuan Ema-san untuk menjelaskannya terlebih dahulu.
"Meskipun Kanata-kun tidak berniat untuk mengajarimu akting, aku rasa masih ada jalan lain bagimu untuk menjadi seorang aktris.
Tergantung pada alasanmu nanti, aku mungkin bisa memperkenalkanmu kepada Direktur Igarashi dari Second House."
"Memperkenalkan saya...... ke Second House?"
Itu pastilah sebuah tawaran yang sama sekali tidak disangka-sangka olehnya. Sebuah seruan lolos dari bibir Yuu sembari memasang ekspresi wajah yang terkejut.
"Yuu-chan adalah adik dari Tachibana Haruka-san. Tentu saja aku tidak bisa memberikan jaminan penuh, tetapi setidaknya aku yakin beliau pasti bersedia untuk mendengarkan ceritamu. Direktur kami adalah orang yang sangat perasa, dan aku dengar beliau juga sangat menyayangi kakakmu. Hanya saja...... seandainya beliau bersedia mendengarkan ceritamu pun, pada akhirnya kamu pasti akan tetap ditanya mengenai alasan mengapa kamu ingin menjadi aktris."
"Benar juga, ya......"
"Kami juga siap membantumu, jadi bisakah kamu menceritakannya kepada kami?"
Luar biasa, Ema-san memang orang yang pandai berbicara karena posisinya sebagai seorang kakak perempuan yang lebih tua. Caranya berbicara terasa sangat lembut, tidak seperti diriku yang hanya menuntut jawaban atau kesimpulan secara langsung.
Tepat di saat aku berpikir bahwa Yuu mungkin akan bersedia membuka hatinya jika dengan cara ini.
"Saya sangat berterima kasih atas tawaran yang luar biasa ini, tetapi mohon maaf, saya terpaksa menolaknya."
Yuu menolaknya mentah-mentah tanpa ada gurat keraguan sedikit pun.
"Kenapa? Ini seharusnya bukan penawaran yang buruk bagi dirimu, kan?"
Malahan bagi Yuu, tawaran ini seharusnya menjadi sebuah kesempatan emas yang tidak ada duanya.
"Saya tahu tawaran ini terlalu berharga untuk orang awam seperti saya. Namun bagi diri saya, mendapatkan bimbingan akting dari Kanata-san lah yang memiliki arti penting. Jika saya tidak bisa berguru kepada Kanata-san, maka tidak ada artinya lagi seandainya saya bisa bernaung di bawah Second House sekalipun."
“"............"”
Kami berdua seketika kehilangan kata-kata demi mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Bukannya aku lupa kalau Yuu memang bersikeras untuk diajar olehku. Hanya saja, aku benar-benar tidak menyangka kalau dia akan menolak kemungkinan untuk bisa bernaung di bawah Second House dalam sekali jawab. Padahal Second House adalah sebuah agensi hiburan yang memiliki nama besar dan rekam jejak yang diakui di dalam industri ini.
Skala prioritasnya adalah berguru kepadaku, alih-alih bernaung di bawah Second House. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa alasan di balik keterikatannya yang begitu kuat kepadaku sampai sejauh itu.
"Bolehkah saya juga menanyakan satu hal?"
Kali ini, giliran Yuu yang mengambil alih pembicaraan.
"Ya. Katakan saja, jangan sungkan."
"Kalau begitu saya ingin bertanya, mengapa Kanata-san tidak sudi mengajarkan akting kepada saya?"
"Itu......"
"Saya tahu membalas pertanyaan dengan pertanyaan adalah sikap yang tidak sopan. Namun, jika Kakak menuntut sebuah alasan dari saya, maka wajar saja jika saya juga menuntut alasan yang sama dari Kanata-san."
Jujur saja, aku merasa argumennya tepat menghantam bagian titik lemahku. Alasan yang dilontarkan oleh Yuu sangatlah logis, dan aku pun sudah mengira kalau cepat atau lambat hal ini pasti akan dipertanyakan. Dan karena aku adalah pihak yang menuntut jawaban darinya terlebih dahulu, tidak ada pilihan lain bagiku selain menjawabnya.
"Aku sudah...... tidak sudi lagi untuk bermimpi, ataupun membuat orang lain bermimpi."
Entah apakah kalimat yang lolos dari tenggorokanku ini adalah murni sebuah kata-kata ataukah luapan emosiku yang terdengar parau.
Sembari merasa bingung dengan suara diriku sendiri yang terdengar begitu lemah, aku tetap melanjutkan kalimatku.
"Pekerjaan sebagai aktor itu tidak ada bedanya dengan judi. Sudahlah peluang menangnya kecil, begitu menang sekali pun imbalan yang didapat tidak seberapa. Seperti yang kalian berdua ketahui, diriku sendiri adalah contoh nyata yang membuktikannya. Jadi, kalau ada yang meminta diajarkan akting karena ingin mengincar industri seperti itu, ya jelas tidak mungkin, kan?"
"............"
"Kalau bisa cepat-cepat sadar dan berhenti seperti diriku, itu masih mending. Tapi kalau sudah masuk usia 20 atau 30 tahun dan tetap tidak laku, kehidupan orang itu tidak akan bisa diperbaiki lagi. Masyarakat itu sangat kejam terhadap orang-orang yang menempuh jalan hidup berbeda dari orang awam. Padahal aku tahu betul akan hal itu, mana mungkin aku sudi mengajarinya...... Aku tidak bisa bertanggung jawab atas kehidupan orang lain."
Meskipun hal ini mungkin terdengar terlalu pesimistis, namun inilah kenyataan yang sebenarnya.
Mendengar untaian kalimatku itu, Yuu dan Ema-san hanya bisa terus mendengarkan tanpa mampu melontarkan kata-kata balasan.
"Dengarkan nasihatku ini demi kebaikanmu sendiri. Kalau kamu tetap bersikeras ingin diajar olehku, maka menyerahlah untuk menjadi aktris. Tapi kalau kamu tidak bisa menyerah untuk menjadi aktris, maka berhentilah berharap untuk diajar olehku, lalu incarlah posisi aktris itu di Second House atau agensi lainnya."
Meski begitu──.
"Saya tidak mau. Saya tidak akan menyerah untuk kedua hal itu."
Aku sudah tahu kalau Yuu pasti akan langsung menjawabnya seperti itu tanpa ragu sedikit pun.
"Tidak, maksudku...... seberapa keras pun kamu melontarkan ego kekanak-kanakan seperti itu......"
"Orang yang memperlakukan saya seperti anak kecil itu adalah Kanata-san sendiri. Jadi wajar saja kalau saya bersikap egois."
"Ya, aku memang memperlakukanmu begitu, sih...... tapi argumenmu itu terlalu memaksakan kehendak."
"Bagi saya, kalau bukan Kanata-san, maka tidak ada artinya!"
Kalimat itu meluap bersamaan dengan perasaan emosional yang menyiratkan kepedihan mendalam. Untaian kata itu terdengar seperti sebuah gumaman yang tidak ditujukan kepada siapa pun.
"Pada masa itu, Kanata-san adalah sosok yang kami kagumi. Karena adanya Kanata-san lah kami bisa terus memandang ke depan dan berjuang keras. Bahkan sampai sekarang pun, saya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Kanata-san telah pensiun sebagai aktor. Kenapa...... kenapa harus pensiun!? Seandainya Anda tidak pensiun, pasti saat ini──"
Yuu meninggikan suaranya dengan gelagat yang sangat frustrasi hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa cemas. Seolah-olah seluruh emosi yang selama ini dipendamnya dalam-dalam kini meledak keluar. Aku tidak mengerti apa arti di balik kata-katanya tersebut, namun......
"Alasan mengapa aku pensiun──"
Ini juga merupakan hal yang sudah kukira cepat atau lambat pasti akan dipertanyakan. Sebuah hal yang kupikir tidak seharusnya kusampaikan meskipun ditanyakan.
Karena aku tahu betul, jika aku menyampaikannya, Yuu pasti akan merasa sangat terbebani dan menyalahkan dirinya sendiri. Namun, alasan mengapa aku tetap mengucapkannya adalah karena aku berpikir dia akan menyerah jika aku memberi tahu hal ini.
"Itu karena aku bertemu dengan Tachibana Haruka──"
"......Eh?"
Mendengar satu kalimat yang terlontar dari mulutku itu, raut wajah Yuu seketika berubah tegang seolah-olah ada retakan yang muncul di sana.
"Saat beradu peran dengan Tachibana Haruka, sebenarnya sudah tidak ada lagi ruang dan kebutuhan bagi diriku sebagai seorang aktor. Namun di saat aku sedang berjuang mati-matian untuk tetap bertahan di dunia hiburan, aku bertemu dengan Tachibana Haruka. Seorang anak gadis yang bahkan belum genap 1 tahun memulai akting, tetapi sudah mampu menunjukkan perbedaan kasta kemampuan yang sangat mutlak di depanku...... Bagi diriku yang saat itu, pertemuan dengan sang genius sudah lebih dari cukup untuk membuatku menyerah pada impianku."
Itu adalah momen di mana aku disadarkan bahwa diriku hanyalah orang yang berwujud biasa-biasa saja. Aku tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana rasanya keputusasaan yang anehnya justru terasa melegakan itu.
"Orang yang bisa bertahan hidup di dunia hiburan itu hanyalah segelintir orang. Mereka semua tanpa terkecuali adalah orang-orang genius, sedangkan orang-orang yang tidak memiliki bakat seperti itu cepat atau lambat pasti akan tersingkir. Bukan hal yang mengejutkan...... aku hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang termasuk dalam kategori kelompok yang kedua."
Oleh karena itu jika berbicara secara akurat, Tachibana Haruka hanyalah pemicunya, bukan alasan utamanya. Meski begitu, esensinya kurang lebih sama saja.
"Jadi...... begitu rupanya, ya."
Seperti dugaan, fakta ini pastilah menjadi pukulan yang telak bagi Yuu. Sosok yang membuat orang yang ingin dijadikan gurunya mundur dari dunia hiburan ternyata adalah kakaknya sendiri.
Aku berpikir di dalam hati bahwa aku mungkin sudah melakukan hal yang agak kejam kepadanya.
"Karena itulah, berhentilah berharap untuk belajar dariku."
Yuu tidak memberikan jawaban apa pun atas kalimat penutupku itu.
*
Setelah diskusi panjang itu berakhir.
"Terima kasih banyak untuk hari ini."
Aku berjalan menyusuri jalanan malam demi mengantarkan Ema-san sampai ke stasiun.
"Tidak apa-apa, kok. Malahan justru aku yang harus minta maaf karena tidak bisa banyak membantu, ya."
"Sama sekali tidak begitu. Aku sudah sangat berterima kasih karena setidaknya kita bisa mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi."
Meskipun ini tidak bisa dibilang sebagai hasil yang positif, namun aku rasa kami sudah bisa membicarakan hal yang selangkah lebih mendalam. Jika mengingat bagaimana hubungan kami yang selama ini selalu berjalan di tempat tanpa titik temu, bisa melangkah maju satu tapak pun sudah merupakan sebuah kemajuan yang besar.
Hanya saja, fakta bahwa situasi ini bukanlah sesuatu yang bisa dirayakan dengan lega juga benar adanya.
“"............””
Mungkin karena kami berdua sama-sama memikirkan hal tersebut. Atmosfer berat yang menyelimuti area di antara kami berdua terasa begitu nyata, suka ataupun tidak suka.
"Aku tahu...... perasaan kalian berdua, aku bisa memahami kedua belah pihak."
Setelah keheningan sempat bertahan selama beberapa saat, Ema-san akhirnya mulai membuka suara.
"Karena aku juga pernah bermimpi...... tetapi aku juga punya pengalaman di mana impian tersebut tidak bisa terwujud."
"Benarkah begitu?"
Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Ema-san menganggukkan kepalanya secara vertikal. Kemudian, dia menatap ke arah kejauhan seolah sedang melemparkan kembali ingatannya pada kenangan masa lalu.
"Sebenarnya...... saat masih kecil dulu, aku juga ingin menjadi seorang aktris, lho."
Padahal hubunganku dengan Ema-san sudah terjalin cukup lama, tetapi ini adalah pertama kalinya aku mendengar cerita ini.
"Pada masa itu, aku sangat mengagumi seorang anak laki-laki seusiaku yang sangat aktif di televisi. Aku mulai belajar akting karena berharap suatu hari nanti bisa beradu peran dengannya. Tapi tampaknya aku memang tidak memiliki bakat di bidang itu...... jadi aku memutuskan untuk menyerah sebelum masuk ke jenjang SMA."
Sebelum masuk ke jenjang SMA──.
Itu adalah periode waktu yang sama persis dengan momen di saat aku memutuskan untuk menyerah sebagai aktor.
Tanpa disangka-sangka, aku merasakan adanya kesamaan nasib karena memiliki latar belakang situasi yang serupa dengannya.
"Karena itulah, perasaan Yuu-chan yang sangat ingin menjadi aktris, maupun perasaan Kanata-kun yang memutuskan untuk pensiun setelah bertemu dengan Tachibana Haruka-san...... aku bisa memahami keduanya dengan sangat baik. Walaupun rasanya agak lancang jika membandingkan diriku dengan kalian, tapi karena aku juga merupakan manusia yang pernah menyerah pada impian, aku rasa aku bisa memahami perasaan Kanata-kun secara mendalam."
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat agar perasaan emosional yang mendadak membuncah di dalam dada ini tidak tumpah keluar. Tak disangka, orang yang bisa memahamiku ternyata berada di tempat yang sedekat ini.
"Karena itulah, aku juga tahu apa alasan di balik sikap dingin yang Kanata-kun tunjukkan kepada Yuu-chan."
Mendengar satu kalimat penutupnya itu, jantungku seketika berdegup kencang.
"Itu adalah bentuk kebaikan yang hanya bisa ditunjukkan karena dirimu adalah Kanata-kun. Jika mimpi itu adalah sesuatu yang sulit untuk diwujudkan, maka membuatnya menyerah juga merupakan sebuah kebaikan. Kalau memikirkan masa depan, memang lebih baik menjalani hidup yang realistis dengan kaki yang berpijak di bumi. Tapi......"
Ema-san bergumam dengan nada penuh penghayatan sembari mendongak menatap langit malam.
"Meski begitu, manusia tidak akan pernah bisa berhenti untuk bermimpi, ya......"
Terpancing oleh ucapannya, aku pun ikut mendongak menatap langit malam. Sebuah pemandangan yang langka untuk ukuran wilayah ibu kota, bintang-bintang dapat terlihat dengan sangat jelas malam ini.
"Generasi kita──Generasi Z sering disebut sebagai 'Generasi Satori' (generasi yang realistis/menyerah pada keadaan), dan anak-anak muda zaman sekarang sering dibilang terlalu realistis serta tidak punya mimpi. Tapi aku rasa, bukannya mereka tidak bermimpi, melainkan mereka bukan tidak ingin bermimpi. Lebih tepatnya mereka tidak bisa bermimpi meskipun ingin...... Jika kita membicarakan mimpi kita, orang-orang akan menertawakannya, dan keluarga pun akan menentangnya. Ditambah lagi saat mencari informasi di internet, yang terlihat hanyalah segala bentuk kesulitan untuk mewujudkannya. Kalau sudah begitu, wajar saja kan kalau akhirnya mereka bersikap realistis......"
Entah mengapa, aku bisa memahami apa yang ingin disampaikannya. Karena dulu aku juga pernah memikirkan hal yang serupa. Aku tidak berniat untuk melimpahkan segalanya pada alasan perkembangan zaman, tetapi tidak bisa dimungkiri kalau sisi tersebut memang nyata adanya.
"Namun karena mereka tetap tidak bisa hidup tanpa bermimpi, sebagai gantinya mereka menitipkan mimpi tersebut kepada orang lain. Mereka mendukung selebritas atau idola favorit mereka, dan menganggap bahwa momen di saat sang idola berhasil mewujudkan mimpinya adalah mimpi mereka sendiri yang ikut terwujud. Dengan cara meminta orang lain mewujudkannya sebagai perwakilan, mereka bisa memuaskan perasaan tersebut...... Mungkin sekarang adalah era di mana orang-orang menitipkan mimpi mereka kepada sosok idola, ya."
Mendengar cerita seperti itu, aku jadi refleks ingin menanyakannya.
"Apakah Ema-san juga menitipkan mimpi Anda kepada sosok idola?"
"Iya......"
Ema-san menjawab dengan agak tersipu malu, namun terdengar sangat jelas.
"Tapi, idolaku saat ini sedang dalam masa hiatus...... Aku sedang menunggu sembari memercayai bahwa suatu hari nanti dia akan kembali ke panggung hiburan. Agar saat hari itu tiba aku bisa kembali mendukungnya dengan segenap kemampuanku, aku juga harus berjuang keras menjalani kehidupanku saat ini!"
Mata Ema-san saat menceritakan hal itu tampak persis seperti mata seorang manusia yang sedang bermimpi. Sorot matanya terlihat bersinar layaknya bintang-bintang di langit malam yang sedang kami pandang.
"Terima kasih karena sudah repot-repot mengantarkanku, ya."
Tanpa terasa di tengah obrolan tersebut, kami sudah tiba di stasiun.
"Aku yang justru berterima kasih banyak untuk hari ini."
"Sama-sama. Kalau ada apa-apa, konsultasi denganku lagi, ya."
"Siap. Hati-hati di jalan."
Aku melepas kepergian Ema-san yang melangkah melewati gerbang tiket sembari melambaikan tangan kecilnya. Sembari menatap sosok punggungnya yang menjauh, aku kembali teringat akan perkataan Ema-san tadi.
"Menitipkan mimpi kepada sosok idola...... ya."
Memang benar, di era sekarang ini, esensi dari sebuah mimpi mungkin sudah mulai bergeser.
Sembari memikirkan hal tersebut, aku pun bergegas melangkah pulang.
*
"Aku pulang...... lho?"
Setelah itu, begitu aku kembali ke apartemen dan membuka pintu depan, tidak ada sahutan suara balasan dari Yuu. Padahal biasanya dia selalu menyambutku sembari menimbulkan suara derap langkah kaki yang riuh, pikirku sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Di sana, aku mendapati sosok Yuu yang sedang meringkuk di atas sofa sembari mengembuskan napas tanda tertidur lelap.
"Astaga...... ternyata dia sedang tidur."
Sembari menatap sosoknya, aku mendadak menyadari sesuatu.
Sejak Yuu mulai menumpang tinggal di kamar ini, dia selalu tidur di atas sofa setiap malam. Meskipun aku sudah meminjamkan selimut tebal kepadanya sehingga dia tidak akan kedinginan, namun jika dilihat-lihat seperti ini, sofa ini terlalu sempit untuk dijadikan sebagai tempat tidur. Posisi tidur yang tidak nyaman itu pastilah membuat rasa lelahnya terus menumpuk.
"Padahal dia sudah mengurus banyak hal untukku, tapi aku malah memperlakukannya dengan buruk, ya......"
Aku mengangkat tubuh Yuu dengan lembut agar tidak membangunkan tidurnya, lalu membawanya menuju ke kamar tidur.
Saat aku merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan hendak menyelimutinya, tiba-tiba saja lenganku dicengkeram erat olehnya.
"Onee...... chan......"
Yuu menggumamkan nama kakaknya di dalam mimpi sembari sudut matanya tampak mulai basah.
Sembari menyeka air mata yang menetes dari pelupuk matanya dengan jari secara lembut, aku merenung di dalam hati. Pada akhirnya, hari ini pun aku tetap tidak bisa mendengarkan alasan dari situasi Yuu yang sebenarnya. Baik alasan mengapa dia mengincar posisi aktris maupun alasan mengapa dia begitu bersikeras denganku, dia masih belum mau menceritakannya sampai sekarang.
Meski begitu, aku bisa mulai memahami dari hari ke hari bahwa Yuu memiliki kesiapan mental tersendiri dengan caranya sendiri...... Jika memang begitu, sikapku yang langsung mendepak dan menjauhkannya tanpa mau tahu apa-apa mungkin terkesan terlalu sepihak.
"Ternyata, membicarakan soal Tachibana Haruka tadi mungkin adalah sebuah kesalahan, ya......"
Aku melepaskan genggaman tangan Yuu secara perlahan, lalu melangkah meninggalkan kamar tidur.
"Selamat tidur......"
Perkara mengenai kelanjutan hal ini akan kupikirkan lagi nanti, tetapi untuk sekarang, pertama-tama aku akan membelikan kasur lantai agar Yuu bisa tidur dengan nyaman.
Aku segera mencarinya di aplikasi belanja daring pada ponselku, lalu membelinya dengan opsi pengiriman terjadwal untuk esok hari......
Namun keesokan harinya, Yuu tidak pernah lagi kembali ke kamarku.




Post a Comment