NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kodoku Datta Kokuminteki Bishoujo no Imouto wo Hitoban Tometara Natsukareta V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Alasan Dia Ingin Menjadi Aktris

"Lama sekali, ya......"


Keesokan harinya, malam di hari terakhir liburan Golden Week. Tepat di saat jarum jam dinding di ruang tengah telah melewati pukul 8 malam.


Aku sedang berada di dalam kamar seorang diri, menunggu kepulangan Yuu dengan perasaan yang tidak tenang.


"Apakah terjadi sesuatu padanya......?"


Untuk ukuran seorang anak gadis sekolahan, jam segini sudah terlampau larut untuk berkeliaran di luar seorang diri.


Kalau dipikir-pikir, kemarin malam pun dia juga pulang terlambat, meski tidak selarut hari ini. Jika situasinya akan menjadi seperti ini, seharusnya aku mendengarkan nasihat Ema-san untuk segera bertukar kontak komunikasi dengannya. Kemarin malam aku memang tidak bisa menanyakannya karena Yuu sudah tidur, tetapi harusnya aku bisa menanyakannya tadi pagi sebelum dia pergi.


"Tidak, aku pasti terlalu banyak berpikir."


Mungkin saja diskusi panjang kemarin malam membuahkan hasil yang baik, dan dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke panti asuhan. Meskipun kemarin dia tidak menunjukkan gelagat akan menerima usulan dari aku dan Ema-san, tetapi setelah mengetahui bahwa alasan pensiunnya diriku adalah karena kakaknya sendiri, dia pasti merasa bertanggung jawab dan akhirnya memilih untuk menyerah.


Tiba-tiba, raut wajahnya yang tampak sedih saat mendengar perkataanku itu kembali terlintas di dalam kepala.


Sebuah ekspresi yang tampak seolah-olah ada retakan besar yang muncul di wajahnya.


"Aku...... mungkin sudah melakukan hal yang agak kejam kepadanya."


Meski begitu, keputusan dan pendirianku tidak akan pernah berubah. Sejak awal, aku sama sekali tidak memiliki alasan ataupun kewajiban moral untuk mengajarkan akting kepadanya.


Sembari meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah jalan yang terbaik, aku pun menyelesaikan makan malamku. Ini adalah pertama kalinya setelah sepuluh hari berlalu aku kembali melewatkan waktu seorang diri──aku bergegas masuk ke kamar mandi lebih awal untuk menghangatkan tubuh, lalu menikmati kembali rutinitas harian yang sudah lama tidak kurasakan sembari menonton drama musim ini yang sudah kuunduh dan kukumpulkan sebelumnya.


"............"


Namun, meskipun aku mencoba mengalihkan perhatian, sosok Yuu tetap tidak bisa lepas dari sudut kepalaku. Tanpa terasa, waktu kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.


"......Apakah benar begitu?"


Aku mulai meragukan kesimpulan yang kubuat sendiri. 


Apakah benar si keras kepala Yuu itu akan menyerah begitu saja? Masa kebersamaan kami memang tidak bisa dibilang lama, tetapi di balik waktu yang singkat itu, aku cukup bisa memahami seberapa besar antusiasme dan kesiapan mental yang dimiliki oleh Yuu. Justru karena aku tahu betul bahwa dia adalah tipe lawan bicara yang tidak akan bisa dihadapi dengan cara yang biasa, makanya aku sampai sengaja menyeret nama Tachibana Haruka.


Meskipun di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa membujuknya adalah sesuatu yang mustahil.


"......Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin kalau Yuu menyerah begitu saja."


Aku memang hampir tidak tahu apa-apa tentang Yuu. Meskipun kami tinggal bersama di bawah satu atap, aku tidak tahu nomor kontaknya, dan aku juga tidak tahu apa makanan kesukaannya. Namun, jika menyangkut perkara seberapa buruknya dia dalam hal menyerah, aku tahu hal itu sampai di tahap yang membuatku merasa jengkel.


"Kalau memang begitu, alasan mengapa Yuu belum pulang pasti karena hal lain."


Apakah dia mengalami kecelakaan, terlibat suatu kasus...... atau jangan-jangan dia digoda dan dibawa pergi oleh orang dewasa yang berniat buruk.


Sekali saja aku memikirkan kemungkinan yang buruk, maka skenario tentang situasi yang paling mengerikan akan terus melintas di dalam kepalaku tanpa ada batasan.


"Tidak bisa dibiarkan...... aku harus pergi mencarinya!"


Karena sudah tidak bisa lagi duduk diam dengan tenang, aku menyambar ponsel dan dompetku lalu bergegas melompat keluar dari kamar. Sembari memikirkan kemungkinan jika kami tidak sengaja berpapasan jalan, aku meninggalkan secarik kertas memo di atas meja makan yang bertuliskan nomor ponselku dan pesan agar dia segera menghubungiku begitu tiba di kamar.


Meski begitu, aku sama sekali tidak tahu ke mana tujuan Yuu pergi.


"Ke mana aku harus mencarinya......"


Untuk sementara, aku melangkah menuju ke arah stasiun sembari menyatroni toko kelontong dan supermarket yang ada di sepanjang jalan demi mencari keberadaan Yuu. Aku terus berjalan sembari memfokuskan pandangan pada setiap orang yang berpapasan denganku, namun sosok Yuu tetap tidak dapat kutemukan di dalam lanskap pemandangan kota ini.


Rasa panik di dalam dadaku perlahan mulai membuncah, hingga tanpa disadari aku sudah mulai berlari dengan segenap kemampuan yang kupunya. Hingga pada akhirnya napasku mulai memburu dan rasa lelahku sudah melewati ambang batas, tepat di saat aku memutuskan untuk menghentikan langkah.


"......Telepon?"


Aku menyadari bahwa ponsel di dalam sakuku sedang bergetar. Saat mengeluarkannya, layar ponsel menampilkan nama 'Saikawa Ema'.


"Halo──"


『Kanata-kun, bisa bicara sebentar?』


"Mohon maaf. Saat ini aku sedang ada urusan mendesak."


『Ini mengenai Yuu-chan, kan?』


Mendengar satu kalimatnya itu, jalur pemikiranku seketika terhenti.


『Sebenarnya saat ini Yuu-chan sedang bersamaku.』


"Sedang bersama Ema-san...... m-maksudnya bagaimana?"


Melihat diriku yang panik, Ema-san melanjutkan kalimatnya dengan nada bicara yang pelan seolah sedang berusaha untuk menenangkingku.


『Saat pulang kerja tadi, aku tidak sengaja melihat Yuu-chan sedang berada di peron stasiun. Karena dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat, aku merasa cemas lalu menghampirinya dan bertanya, "Kamu tidak pulang ke rumahnya Kanata-kun?". Tapi dia cuma diam seribu bahasa...... Makanya saat aku mengajaknya, "Mau main ke rumahku saja?", dia menganggukkan kepalanya, jadi akhirnya kubawa dia pulang ke rumahku.』


"Jadi begitu rupanya......"


Untuk saat ini, hanya dengan mengetahui di mana keberadaannya saja sudah membuatku merasa sangat lega.


Begitu rasa lega itu membuatku bisa bernapas dengan tenang, rasa lelah yang teramat sangat mendadak langsung menyerbuku bagai ombak. Karena sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri tegak di sana, aku langsung menjatuhkan diriku dan terduduk di pinggir jalan tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitar.


"Terima kasih banyak karena sudah mengamankan dan menjaga Yuu."


『Sama-sama. Mengingat kejadian yang terjadi kemarin malam, mungkin dia merasa agak sungkan untuk pulang ke rumahmu.....』


Apa yang dikatakan oleh Ema-san ada benarnya juga. Atau jika boleh dikatakan lebih tepatnya, hal itu pastilah terjadi karena dia sudah mengetahui alasan pensiunnya diriku.


Bagi Yuu, dia pasti berpikir bahwa akulah yang harus mundur dari dunia hiburan gara-gara kakaknya, dan dia pasti merasa bimbang apakah pantas bagi dirinya untuk meminta diajarkan akting oleh orang sepertiku. Kegalauan itulah yang akhirnya melahirkan situasi seperti sekarang ini. Meskipun hasil akhirnya sesuai dengan apa yang kuharapkan sebelumnya, tetapi aku rasa caraku menghadapi masalah ini benar-benar mencerminkan sikap yang sangat tidak dewasa. Rasa muak terhadap diriku sendiri seketika membuat lidahku terasa pahit.


『Untuk sementara waktu dia akan tinggal di kamarku, jadi kamu tidak perlu cemas, ya.』


"Apakah tidak apa-apa?"


『Aku juga tinggal sendirian, kok, jadi tidak masalah.』


"Mohon maaf...... dan terima kasih banyak, bantuanmu benar-benar sangat menolongku."


『Kalau ada perkembangan apa pun aku akan segera menghubungimu. Kanata-kun sendiri juga jangan terlalu membebani pikiranmu, ya.』


"Iya...... Terima kasih banyak."


Setelah saling bertukar kata satu-dua kalimat lagi, sambungan telepon pun terputus. Sembari tetap menggenggam ponsel di tangan, aku refleks mendongak menatap langit malam.


"Sekarang aku harus bagaimana......"


Sikapku yang tadinya begitu bersikeras untuk menolak keberadaannya kini terasa seolah-olah hanyalah sebuah kebohongan belaka. Tanpa disadari, kepalaku kini sudah sepenuhnya dipenuhi oleh perkara mengenai Yuu seorang.



Selama satu minggu sejak saat itu, Yuu menumpang tinggal dan dirawat di kamar Ema-san. Menurut penuturan Ema-san, Yuu tetap rajin membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sama persis seperti saat dia berada di kamarku dulu. Meskipun aku merasa tidak enak kepada Ema-san yang justru merasa senang karena kamarnya menjadi bersih berkat hal tersebut, namun secara tidak langsung, ucapan itu bukankah merupakan sebuah pengakuan jujur kalau kondisi asli kamarnya sebelum ini agak berantakan......? 


Tapi mari jangan dibahas. Sampingkan dulu candaan semacam itu, kondisi Yuu kabarnya memang masih tampak kurang bersemangat. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara empat mata sekali lagi dengan Yuu.


Tepat di saat aku sedang memikirkan hal tersebut, di suatu sore. Sesaat setelah jam kerja berakhir.


"Kanata-kun, mau pulang bersama sampai ke stasiun?"


Mendengar ajakan Ema-san, aku seketika bisa menebak apa alasannya. Karena dari raut wajahnya, terlihat jelas kalau suasana hatinya sedang mendung.


"Iya. Mari kita pulang bersama."


Kami berdua berpamitan kepada Direktur Igarashi lalu segera melangkah meninggalkan kantor agensi. Begitu kami mulai berjalan menuju ke arah stasiun, Ema-san langsung masuk ke inti pembicaraan.


"Sebenarnya begini......Yuu-chan, sepertinya dia tidak masuk sekolah."


"Tidak masuk sekolah?"


Sebuah seruan penuh tanya spontan lolos dari mulutku demi mendengar kalimat yang sama sekali tidak disangka-sangka itu.


"Karena statusku adalah mahasiswi, ada hari-hari di mana jadwalku hanya ada di pagi hari saja, jadi aku terkadang sudah pulang ke rumah pada siang hari...... Tapi begitu tiba di kamar, Yuu-chan selalu sudah ada di sana. Awalnya aku berpikir, 'Oh, mungkin hari ini dia sedang kurang sehat jadi izin tidak masuk sekolah'. Tapi, kejadian itu terus berulang sampai berkali-kali."


"Begitu rupanya......"


"Apakah Kanata-kun sebelumnya tidak menyadarinya?"


"Karena selama Yuu berada di kamarku, situasinya bertepatan dengan libur Golden Week."


Mengingat sebagian besar harinya adalah hari libur, aku sama sekali tidak menaruh kecurigaan sedikit pun.


"Tentu saja ada hari-hari di mana sekolah tetap masuk, tetapi karena aku selalu berangkat lebih awal dan baru pulang larut malam karena pekerjaan di Second House, aku mengira Yuu juga pergi ke sekolah di antara rentang waktu tersebut."


"Benar juga, sih. Wajar saja kalau kamu tidak menyadarinya."


Tidak seperti Ema-san, aktivitasku di sekolah tidak pernah selesai dalam waktu setengah hari saja. Fakta ini bisa terungkap justru murni karena Ema-san bersedia menjaga dan merawatnya di rumah.


"Terima kasih banyak karena sudah memberi tahu hal ini."


"Sama-sama. Tapi, setelah ini sebaiknya kita harus bagaimana, ya?"


"Benar juga, ya......"


Jika dia memang benar-benar membolos dari sekolahnya, ini dipastikan merupakan sebuah masalah yang teramat sangat sensitif. Seorang anak gadis yang baru saja kehilangan kakaknya—yang merupakan satu-satunya keluarga yang dimilikinya—kini berstatus sebagai anak yang mangkir dari sekolah.


Siapa pun yang memikirkannya, dipastikan tidak akan bisa membayangkan adanya alasan yang positif di balik situasi tersebut.


"Biar nanti coba kupikirkan jalannya, tapi...... masalahnya aku tidak tahu di mana sekolah SMA tempat Yuu menuntut ilmu."


Jika disadari kembali, sudah satu setengah bulan berlalu sejak aku bertemu kembali dengan Yuu. Dan meskipun sepuluh hari di antaranya kami habiskan dengan tinggal bersama di bawah satu atap, aku tetap tidak mengetahuinya. Jangankan perkara sekolahnya, aku bahkan tidak tahu panti asuhan tempat dia dititipkan, dan sampai detik ini pun kami bahkan belum saling bertukar kontak komunikasi.


Meskipun sudah terlambat, aku benar-benar menyesali diriku sendiri yang selama ini tidak pernah mencoba untuk memahami situasi Yuu secara lebih mendalam.


"Kalau soal sekolahnya Yuu-chan, aku tahu, kok."


"Benarkah?"


"Seragam sekolah yang selalu dipakai oleh Yuu-chan itu, aku rasa adalah seragam milik salah satu SMA putri yang sangat terkenal di wilayah ibu kota. Desain seragamnya sangat populer di kalangan siswi SMP dan SMA karena terkenal imut, sampai-sampai ada anak-anak yang rela mengikuti ujian masuk ke sana murni hanya karena alasan ingin mengenakan seragam tersebut."


"Begitu rupanya......"


Jika sekolahnya sudah diketahui, maka akan ada cara untuk mengambil tindakan penanganan.


"Untuk sementara, biar urusan yang satu ini kuserahkan kepadaku saja."


"Oke. Kalau ada hal yang bisa kubantu, jangan sungkan untuk mengatakannya, ya."


"Terima kasih banyak untuk segalanya. Karena selama ini aku selalu merepotkan Ema-san, kapan-kapan izinkan aku memberikan sesuatu sebagai tanda balas budi. Kalau berkenan, aku ingin mentraktir makan malam yang enak."


"Benaran nih──!?"


Senyuman manis seketika mengembang di wajah Ema-san, seolah-olah sebuah sakelar di dalam dirinya baru saja dinyalakan.


Melihat binar matanya yang begitu berkilau, aku mendadak punya firasat kalau aku sudah membuat ekspektasinya membumbung tinggi melebihi porsi yang seharusnya. Meskipun rasa terima kasihku ini murni dari dalam hati sehingga melihatnya tidak sungkan adalah hal yang bagus, tetapi rasanya aku sudah menaikkan standar rintangannya sendiri sedikit terlalu tinggi.


Ini adalah hal yang harus kuperjuangkan agar bisa kulompati dengan sukses nanti.


"Saat masih menjadi aktor cilik dulu, aku sering diajak oleh orang-orang di industri hiburan untuk mengunjungi berbagai tempat makan yang menyajikan hidangan lezat. Jadi jika Anda memberi tahu apa menu masakan atau makanan kesukaanmu, aku bisa memilihkan restoran yang cocok dengan mudah."


"Kalau perginya bersama Kanata-kun, aku rasa di mana saja pasti akan terasa enak, tapi aku bakal senang sekali kalau menunya adalah masakan Jepang."


"Baiklah. Kalau begitu untuk masalah hari dan tanggalnya akan kita tentukan lagi nanti──"


Aku melangkah menuju ke arah stasiun sembari merekomendasikan beberapa restoran masakan Jepang yang terkenal lezat kepada Ema-san. Meski begitu, perkara mengenai Yuu tetap tidak bisa lepas dari sudut kepalaku sepanjang jalan.



Keesokan harinya, sesaat sebelum waktu tengah hari tiba. Aku sengaja membolos dari sekolahku sendiri, dan melangkahkan kaki menuju ke sekolah putri tempat Yuu menuntut ilmu.


Tempat ini merupakan sebuah sekolah putri terpadu setingkat SMP dan SMA yang sangat terkenal di wilayah ibu kota, sebuah sekolah dengan nilai tradisi luhur yang telah berdiri selama lebih dari 100 tahun lamanya. Jaraknya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan kereta dari kamarku──terletak di tengah kawasan pemukiman yang tenang dan tidak jauh dari pusat kota, sekolah ini memiliki daya tarik berupa sistem pendidikan yang mumpuni dengan berbagai fasilitas penunjang yang berdiri kokoh di atas area lahan yang sangat luas.


Mungkin karena statusnya yang merupakan sekolah swasta dengan budaya sekolah yang sangat menghargai kemandirian siswinya, sekolah ini memiliki pemahaman yang sangat baik terhadap aktivitas di dunia hiburan. Akibatnya, ada banyak siswi yang bersekolah di sini sembari tetap aktif berkarier di industri hiburan sejak masa sekolah mereka.


Desain arsitektur modern dari gedung sekolah baru yang dibangun kembali beberapa tahun lalu benar-benar sukses menyajikan kesan yang megah dalam satu kata.


"......Tetap saja, tempat ini rasanya benar-benar tidak cocok untuk dihadiri oleh orang sepertiku."


Jangankan fakta bahwa tempat ini bukanlah kawasan yang biasa dikunjungi oleh masyarakat kalangan biasa, area ini adalah taman rahasia yang terlarang bagi kaum laki-laki.


Karena berpikir bahwa keberadaan seorang siswa SMA laki-laki yang berdiri seorang diri di sini pasti akan memicu kecurigaan, aku sengaja datang terlambat demi menghindari jam masuk sekolah agar tidak ada sosok siswi putri yang berkeliaran di sekitar. Namun, memikirkan fakta bahwa aku harus menyusup masuk ke dalam seorang diri sekarang tetap saja membuat nyaliku sedikit menciut.


Terlebih lagi karena para petugas keamanan yang berbaris di depan gerbang utama terus melemparkan tatapan tajam ke arahku sejak tadi. Meski begitu, aku tidak mungkin berbalik pulang setelah melangkah sejauh ini.


"Baiklah...... mari kita masuk."


Aku kembali memantapkan tekadku, lalu melangkah menuju ke arah pintu masuk bagi tamu pengunjung. Membicarakan kembali perihal mengapa aku bisa sampai datang ke tempat ini?


Alasannya bermula dari kejadian di beberapa jam yang lalu──.


"Mohon maaf karena saya menghubungi Anda sepagi ini."


『Sama sekali tidak, kok. Ada apa?』


Tadi pagi, sesaat setelah melangkah keluar dari rumah, aku langsung menelepon Ema-san.


"Aku berencana untuk pergi ke SMA tempat Yuu bersekolah sekarang."


『Ke sekolahnya Yuu-chan?』


Ema-san mengulangi perkataanku dengan nada terkejut.


"Karena kalau aku menanyakannya langsung pada Yuu, aku rasa dia tidak akan mau menjawabnya. Jadi, aku berniat untuk menemui wali kelasnya demi mencari tahu situasinya. Hanya saja, aku pikir bakal repot kalau sampai hari ini Yuu mendadak masuk sekolah."


『Begitu rupanya. Karena itulah kamu meneleponku untuk memastikannya, ya.』


"Apakah Yuu saat ini masih berada dirumah Ema-san?"


『Iya. Mengingat jam segini dia masih di sini, sepertinya hari ini pun dia tidak akan masuk sekolah.』


Mendengar konfirmasi itu, aku bisa sedikit bernapas lega. Namun seandainya ada masalah, itu adalah──.


『Tapi, apakah gurunya mau membeberkan situasinya kepada Kanata-kun......?』


Persis seperti yang baru saja diutarakan oleh Ema-san dengan nada cemas. Seberapa sering pun kami bertatap muka dan meski sempat tinggal bersama, statusku dan Yuu tidak lebih dari sekadar orang asing.


Pihak sekolah tentu tidak akan semudah itu memberikan informasi mengenai siswinya kepada seorang siswa SMA laki-laki yang bukan merupakan anggota keluarga, kerabat, ataupun petugas dari panti asuhan tempatnya bernaung. Jika ada satu-satunya celah yang bisa kumanfaatkan, itu hanyalah fakta bahwa aku datang sebagai orang dari agensi tempat mendiang kakaknya dulu bernaung. Namun, hal itu pun sebenarnya hanya bisa menjadi pembuktian identitas saja, bukan sebuah alasan kuat yang bisa memicu rasa percaya dari pihak sekolah.


Dalam skenario terburuk, ditolak mentah-mentah di depan pintu gerbang pun sangat mungkin terjadi.


"Untuk urusan yang satu itu, aku akan mencarikan jalan keluarnya dengan baik, Kak."


『Begitu, ya. Semangat, ya!』


"Terima kasih banyak. Kalau begitu──"


Tepat di saat aku menyampaikan rasa terima kasih dan hendak memutus sambungan telepon.


『Ah, tunggu sebentar!』


"Ada apa?"


『Itu, soal janji makan malam kita...... bagaimana kalau nanti malam saja?』


"Nanti malam?"


Aku berpikir di dalam hati bahwa ajakannya ini lagi-lain terasa sangat mendadak.


『Menurutku, urusan seperti ini kalau tidak segera ditentukan hari dan tanggal pastinya, sampai kapan pun jalannya tidak akan pernah maju. Lagipula, aku juga ingin mendengar cerita tentang hasil pertemuanmu dengan gurunya Yuu-chan nanti...... Apakah tidak bisa?』


Apa yang dikatakan oleh Ema-san memang ada benarnya, dan lagipula akulah pihak yang pertama kali menawarkan hal tersebut. Terus-menerus menunda janji untuk membalas budi kebaikan orang lain tentu bukanlah sikap yang terpuji.


"Baiklah. Nanti malam tidak apa-apa, kok."


『Benaran──!?』


"Nanti akan kuhubungi lagi untuk detailnya, ya."


『Oke. Sampai jumpa nanti!』


──Dan begitulah hingga aku tiba di situasi yang sekarang.


"Jadi di sini tempatnya......"


Setelah memutar ke arah pintu belakang dan tiba di area pintu masuk khusus untuk tamu pengunjung, aku segera melangkah masuk ke dalam. Tepat di balik pintu terdapat sebuah meja resepsionis, di mana dari balik jendela kacanya tampak seorang pria paruh baya yang sedang memperhatikan kedatanganku.


"Mohon maaf karena telah mengganggu waktu Anda yang sibuk. Kedatangan saya ke sini adalah karena ingin menemui wali kelas dari siswi bernama Tachibana Yuu yang bersekolah di sini. Saya memang belum membuat janji temu sebelumnya, namun apakah kira-kira saya diperbolehkan untuk menemuinya?"


Tentu saja wajar jika petugas tersebut langsung memasang sikap waspada melihat seorang siswa SMA laki-laki datang berkunjung tanpa adanya janji temu terlebih dahulu.


Pria itu memasang raut wajah yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang sangat ketara, sembari berucap, 『......Mohon maaf, Anda ini siapa, ya?』. Meskipun rasanya agak kurang menyenangkan, tetapi mengingat ini adalah lingkungan sekolah putri, tindakan pengamanan yang dilakukannya sudah sangat benar.


Aku segera menyodorkan kartu nama Second House yang sudah kupersiapkan sebelumnya.


"Kedatangan saya ke sini adalah untuk membicarakan perkara mengenai Tachibana Yuu yang belakangan ini mangkir dari sekolah."


“......Mohon tunggu sebentar.”


Kartu nama perusahaan tampaknya berhasil menjadi bukti identitas yang meyakinkan baginya. Pria itu segera menyambar gagang telepon lalu menghubungi suatu tempat. 


Sembari menunggu dengan perasaan tegang, pria itu akhirnya meletakkan kembali gagang teleponnya lalu mendongak menatapku.


"Silakan naik ke lantai dua dan tunggu di dalam ruang tamu pengunjung yang ada di sana."


"Terima kasih banyak."


Tampaknya rintangan pertama berhasil kulewati dengan sukses. Aku menerima kartu pas pengunjung, mengalungkannya di leher, lalu mulai melangkahkan kaki ke dalam area sekolah. Karena saat ini jam pelajaran sedang berlangsung, koridor sekolah tampak sangat sepi dan senyap. Jika aku menajamkan pendengaran, sayup-sayup terdengar suara guru yang sedang mengajar dan ketukan kapur yang menghantam papan tulis. Dari balik jendela kaca, tampak pula sosok para siswi yang sedang berlari di area lapangan olahraga.


Meskipun aku sendiri berstatus sebagai seorang siswa SMA, lingkungan sekolah putri seperti ini rasanya benar-benar terasa seperti dunia yang berbeda.


Sembari merasakan debaran tegang di dalam dada, aku melangkah menuju ke lantai dua sesuai dengan petunjuk yang diberikan.


"Tetap saja, mengagumkan sekali dia bisa bersekolah di tempat semegah ini......"


Aku refleks bergumam sendiri sembari menyusuri koridor.


Yah, tidak sulit untuk membayangkan apa alasannya. Besar kemungkinan mendiang Haruka—kakak perempuan Yuu—dulu menuntut ilmu di sekolah ini.


Mengingat sosoknya yang sudah meraup popularitas tinggi di saat memasuki jenjang SMA, tidak ada pilihan sekolah lain yang lebih ramah selain sekolah yang memiliki pemahaman baik terhadap aktivitas di dunia hiburan seperti tempat ini. Aku rasa Yuu sengaja mendaftar ke sini murni karena ingin mengikuti jejak sang kakak.


Sembari memikirkan hal tersebut, aku pun tiba di depan ruang tamu pengunjung.


"Permisi."


Aku mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya. Di dalam, sebuah ruangan dengan desain interior yang tampak sangat berkelas langsung menyambut pandanganku. Ruangan terasa sangat terang benderang berkat cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar. 


Di bagian tengah ruangan, sebuah sofa berbahan kulit mewah tampak ditata sedemikian rupa dengan sebuah meja yang mengapitnya di tengah. Karpet dengan serat kain yang tebal dan panjang yang digelar di lantai memancarkan kesan berkelas yang sangat kental. Seluruh furnitur pajangan hingga tanaman hias di dalam ruangan ditata dengan sangat indah, memancarkan atmosfer keramahan yang tinggi untuk menyambut tamu yang datang. Benar-benar sebuah standar yang sangat layak untuk sekolah putri elite yang sarat akan nilai tradisi.


Setelah menunggu selama beberapa menit di posisi kursi dekat pintu.


"Mohon maaf telah membuat Anda menunggu lama!"


Bersamaan dengan suara pintu yang terbuka, sebuah pekikan suara wanita yang terdengar panik dan tergesa-gesa menggema di dalam ruangan.


Saat aku mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, tampak sosok seorang guru wanita yang penampilannya terlihat seperti berusia pertengahan dua puluh tahun.


"Salam kenal. Nama saya Souma Kanata."


Di momen-momen seperti inilah pengalaman masa kecilku yang sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang dewasa di industri hiburan terasa sangat membantu.


Aku segera bangkit berdiri dari sofa, lalu memberikan penghormatan sembari memasang senyuman ramah khas dunia kerja.


"S-Salam kenal...... Saya Misaki, wali kelas dari Tachibana Yuu-san."


Seperti dugaan, dia tampaknya sama sekali tidak menyangka bahwa tamu yang datang berkunjung ternyata adalah seorang siswa SMA. Raut wajah Misaki-sensei terlihat dipenuhi oleh ekspresi kebingungan yang sangat jelas.


"Silakan, silakan duduk kembali."


Meskipun demikian, dia dengan cepat berhasil menguasai kembali ketenangannya, lalu mempersilakanku untuk duduk.


Setelah menyampaikan rasa terima kasih dan mendudukkan diri, Misaki-sensei pun mengambil posisi duduk di sofa yang berada tepat di hadapanku.


"Mohon maaf karena saya telah lancang mendatangi Anda secara mendadak hari ini."


"Tidak apa-apa, justru saya yang berterima kasih karena Anda sudah bersedia meluangkan waktu untuk datang ke sini."


"Kedatangan saya hari ini tidak lain adalah karena ada hal yang ingin saya sampaikan terkait posisi Tachibana Yuu."


"Sebelum masuk ke sana...... Mohon maaf jika saya terdengar tidak sopan, namun apa sebenarnya hubungan Anda dengan Yuu-san? Petugas di meja depan tadi menyampaikan kepada saya bahwa Anda adalah orang yang bekerja di agensi hiburan Second House......"


Raut kebingungannya seketika berubah, berganti dengan kilatan nada waspada yang tampak samar. Aku pun segera menyerahkan kartu nama agensi milikku kepada Misaki-sensei.


"Souma...... Kanata-san?"


Misaki-sensei bergumam dengan nada terkejut sembari menundukkan pandangannya menatap kartu nama di tangannya.


"Saya bekerja sebagai staf administrasi di Second House, agensi tempat mendiang kakak perempuan Yuu-san—yaitu aktris Tachibana Haruka—dulu bernaung. Karena adanya suatu alasan, sejak bulan April lalu saya yang bertanggung jawab untuk merawat dan mengawasi Yuu-san."


Jika ingin berbicara secara akurat, situasinya sebenarnya murni karena kamarku disatroni olehnya. Dan belakangan ini orang yang benar-benar merawatnya adalah Ema-san, namun penjelasanku tadi masih bisa dibilang tidak sepenuhnya berbohong.


Meskipun statusku saat ini hanyalah seorang siswa SMA biasa, namun jika aku menyampaikan bahwa aku adalah orang dari agensi tempat mendiang kakaknya dulu bernaung sekaligus pihak yang saat ini mengawasi Yuu, setidaknya hal itu bisa sedikit memicu rasa percaya dari pihak sekolah.


Sebagai buktinya, fakta bahwa aku bukanlah orang asing yang sama sekali tidak memiliki keterkaitan tampaknya mulai tersampaikan. Kilatan nada waspada yang sempat membayang di wajah Misaki-sensei perlahan mulai memudar. Bukan, lebih tepatnya dia saat ini justru terlihat seperti sedang sangat terkejut akan suatu hal.


"Jangan-jangan...... Souma-san ini adalah aktor Souma Kanata-san!?"


Tampaknya Misaki-sensei mengetahui rekam jejak karierku di masa lalu. Meskipun aku pribadi tidak terlalu suka membahas cerita lama, namun dalam situasi seperti sekarang, aku tidak memiliki pilihan lain.


"Iya. Benar, itu saya."


"Sudah kuduga!"


Sikap waspada yang ditunjukkannya tadi seketika lenyap seperti kebohongan belaka, dan tubuhnya kini langsung condong bergerak maju ke depan.


Misaki-sensei bahkan merapat dengan gestur yang tampak seolah-olah hendak melewati meja pembatas di antara kami.


"Saya adalah penggemar berat dari Souma-san! Sejak karya debut Anda dulu, saya selalu menonton seluruh drama yang Anda bintangi tanpa ada yang terlewat. Saya benar-benar tidak pernah menyangka dalam mimpi sekalipun kalau bisa bertemu dengan Anda di tempat seperti ini!"


Aku pun sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan penggemarku sendiri di tempat seperti ini.


"Anu...... jika tidak keberatan, apakah saya boleh meminta tanda tangan Anda?"


Biasanya aku pasti akan menolaknya dengan halus, namun untuk saat ini, akan lebih baik jika aku menaikkan kesan positif di matanya terlebih dahulu.


Begitu aku menjawab, "Tentu saja, dengan senang hati," Misaki-sensei segera menyodorkan buku catatan yang sedang dipegangnya. Saat aku menorehkan tanda tangan di balik bagian sampul bukunya, matanya tampak berbinar-binar persis seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan sebuah harta karun berharga.


"Terima kasih banyak!"


"Sama-sama. Saya juga ikut senang jika hal ini bisa membuat Anda bahagia."


Namun, ekspresi kegembiraan itu seketika berbalik seratus delapan puluh derajat. Raut wajah Misaki-sensei mendadak berubah pucat seolah baru saja tersadar kembali ke realitas.


"M-Mohon maaf! Sebagai seorang guru, saya tidak seharusnya mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan masalah pribadi seperti ini......"


"Jangan terlalu dipikirkan. Malahan berkat hal ini, rasa tegang di dalam dadaku bisa sedikit mencair."


"Saya sangat berterima kasih jika Anda bersedia memakluminya."


Misaki-sensei kembali merapikan kerah bajunya dan membenarkan posisi duduknya dengan takzim.


"Tapi...... mengapa sosok seperti Souma-san sekarang bisa bekerja sebagai staf administrasi di Second House?"


Wajar saja jika Misaki-sensei merasa heran dan mempertanyakan hal tersebut. Pasalnya, aku memang tidak pernah mengumumkan secara resmi kepada publik perihal keputusanku untuk pensiun dari dunia akting. Lagipula, bagi seorang aktor yang pamornya sudah meredup, menghilang begitu saja dari peredaran tanpa perlu membuat deklarasi pensiun adalah sebuah hal yang lumrah terjadi.


Di mata masyarakat awam, posisiku saat ini hanyalah sebatas aktor yang belakangan ini sudah jarang terlihat lagi di layar kaca. Pertanyaan dari Misaki-sensei pun lebih condong ke arah nuansa rasa penasaran seperti, 'Mungkin dia pindah agensi, tapi kenapa posisinya malah menjadi staf administrasi dan bukannya tetap menjadi aktor?'.


"Untuk urusan yang satu itu, ada banyak latar belakang situasi yang mendasarinya."


Meski begitu, aku tidak memiliki kewajiban untuk membeberkan seluruh detailnya di sini. Meskipun pembicaraan tadi sempat diwarnai oleh sedikit obrolan di luar topik, namun setidaknya jarak di antara kami berdua kini sudah berhasil dipangkas.


Melihat benteng kewaspadaan dari Misaki-sensei yang sudah mulai melunak, aku pun segera mengarahkan kembali pembicaraan ke inti persoalan.


"Mari kita kembali ke topik awal. Kedatangan saya hari ini murni karena ada hal yang ingin saya sampaikan mengenai Yuu, dan jika diperbolehkan, saya juga ingin menanyakan beberapa hal terkait Yuu kepada Misaki-sensei."


"............"


Meskipun demikian, urusan yang satu itu tetaplah merupakan hal yang berbeda. Fakta bahwa benteng kewaspadaannya melunak tidak serta-merta berarti aku sudah berhasil mendapatkan rasa percayanya secara mutlak.


"Saya sangat memahami apa yang menjadi pertimbangan di dalam hati Misaki-sensei. Sebagai seorang pendidik, Anda tentu tidak boleh membeberkan informasi yang berkaitan dengan privasi siswi Anda kepada orang yang bukan merupakan anggota keluarganya. Namun, justru karena status Anda adalah wali kelasnya, Anda pasti tahu betul bahwa saat ini Yuu tidak memiliki keluarga ataupun kerabat dekat lain yang bisa dijadikan sebagai tempat bersandar, bukan?"


"Apa yang Anda sampaikan...... memang benar adanya, Souma-san."


Misaki-sensei menganggukkan kepalanya secara perlahan, namun setelah itu...


"Meski begitu, saya tetap tidak bisa menceritakannya kepada Anda."


Dia menegaskannya dengan nada bicara yang mantap dan tatapan mata yang tidak menyiratkan adanya keraguan sedikit pun. Dari ekspresi wajah dan cara bicaranya, aku bisa merasakan adanya sebuah tekad yang sangat kuat dari dirinya untuk melindungi sang siswi.


Jika hanya dilihat sekilas, ruang untuk melakukan negosiasi seolah-olah sudah tertutup rapat. Namun fakta bahwa dia bersedia keluar untuk menemuiku adalah sebuah bukti nyata bahwa Misaki-sensei sebenarnya juga membutuhkan informasi mengenai kondisi Yuu saat ini. Di atas segalanya, sikapnya yang berusaha keras untuk melindungi Yuu adalah sebuah bukti bahwa dia adalah sosok guru yang sangat tepercaya.


Jika situasinya demikian, maka ruang untuk melakukan negosiasi sebenarnya masih terbuka lebar. Masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan rasa percaya yang cukup dari dirinya, sampai-sampai dia merasa tidak keberatan untuk membeberkan informasi tersebut kepadaku.


Hanya sekadar mengungkap jati diri tentu saja tidak akan cukup, dan menceritakan garis besar situasinya pun akan tetap terasa sulit. Jika menunjukkan ketulusan saja masih dirasa kurang, maka yang perlu kulakukan sekarang hanyalah 'memerankan' sosok diriku yang tepercaya di mata lawan bicaraku.


Benar, ini adalah sebuah trik yang metodenya persis seperti monolog yang sering muncul di bagian awal sebuah adegan drama.


"Momen di saat saya pertama kali bertemu kembali dengan Yuu adalah pada satu setengah bulan yang lalu, tepatnya di awal bulan April──"


Sebuah pertunjukan teater solo berkedok kilas balik masa lalu pun dimulai, dengan sedikit melebih-lebihkan unsur emosional di dalamnya.


Saat ini, aku tidak sedang berbicara di hadapan seorang guru wali kelas, melainkan sedang mengetuk hati seorang manusia dewasa yang sama-sama mengkhawatirkan kondisi Yuu. 


Di suatu hari, Yuu mendadak muncul di hadapanku tanpa ada peringatan apa pun. Dia kemudian memohon kepadaku sembari berucap, 'Saya ingin menjadi aktris, jadi tolong ajarkan akting kepada saya'. Alasan mengapa Yuu memilih untuk bersandar kepadaku adalah karena aku merupakan seorang mantan aktor yang dulu pernah beradu peran dengan mendiang Tachibana Haruka. Dan jika boleh ditambahkan, hal itu juga karena saat ini aku bekerja di Second House—agensi hiburan tempat kakaknya dulu bernaung.


Pada awalnya, aku menolak permintaannya itu mentah-mentah. Karena dibanding siapa pun, akulah orang yang paling tahu seberapa kejam dan kerasnya industri hiburan itu sebenarnya.


Hanya karena statusnya adalah adik dari seorang aktris genius, bukan berarti dia otomatis akan bisa menjadi seperti kakaknya. Malahan, kemungkinan bagi dirinya untuk gagal justru jauh lebih besar, dan aku tahu betul bahwa dunia hiburan bukanlah sebuah tempat yang ramah yang bisa ditaklukkan hanya dengan bermodalkan angan-angan atau harapan kosong belaka.


Meskipun kalimat ini terdengar sangat kejam, namun kemungkinan bahwa masa depannya akan hancur berantakan justru jauh lebih tinggi. Namun di balik itu semua, melihat sosoknya yang sama sekali tidak berniat untuk menyerah, tanpa disadari hatiku mulai tergerak.


Sembari menghabiskan waktu bersama, sembari memahami seberapa dalamnya perasaan yang dimilikinya, dan sembari menyelami kesiapan mental serta isi di dalam lubuk hatinya...... meskipun awalnya aku adalah pihak yang menentang hal tersebut paling keras, entah sejak kapan di dalam diriku mulai tumbuh keinginan untuk menjadi kekuatan yang bisa menyokong langkahnya. Namun, seandainya aku ingin memberikan bantuan kepadanya pun, aku menyadari bahwa aku masih terlalu butuh informasi mengenai sosok Yuu yang sebenarnya.


Aku ingin memahami dan mengetahui perihal Yuu secara lebih mendalam──.


"Momen di saat saya mengetahui bahwa Yuu ternyata mangkir dari sekolahnya adalah tepat di saat saya sedang memikirkan hal tersebut."


Dari yang tadinya berwujud monolog sepihak, di bagian akhir aku mengubah cara bicaraku seolah-olah sedang mengetuk hati Misaki-sensei secara langsung.


"Sebagai wali kelasnya, Anda tentu mengetahui latar belakang situasi Yuu yang tidak saya ketahui, dan Anda pun pasti merasa sangat cemas melihat kondisi Yuu yang terus-menerus membolos dari sekolah. Begitu pemikiran itu terlintas di dalam kepala, langkah kaki saya secara alami langsung menuntun saya untuk mendatangi sekolah ini."


Sosok yang sedang kuperankan saat ini adalah seorang siswa SMA berhati lembut yang sangat memedulikan adik dari mendiang rekan kerjanya dulu.


Sebuah cerminan figur pria yang lebih tua yang sedang berusaha memberikan dukungan dengan cara yang benar kepada seorang anak gadis yang sedang dirundung duka nestapa. 


Karena ini adalah sebuah akting yang bertujuan murni untuk mendapatkan rasa percaya dari lawan bicara, aku harap dia mau memaafkanku jika di dalamnya terdapat sedikit bumbu kebohongan ataupun unsur yang dilebih-lebihkan.


Aku tidak pernah menyangka kalau rekam jejak karierku sebagai mantan aktor ternyata bisa sangat berguna di situasi seperti ini. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah lagi bersentuhan dengan dunia akting, tapi berhubung kali ini tujuanku melakukannya bukan dalam kapasitas sebagai seorang aktor, jadi mari anggap saja ini tidak dihitung.


Kualitas dari akting yang kulakukan setelah dua tahun vakum ini sebenarnya masih jauh dari kata memuaskan jika dinilai oleh standar diriku sendiri.


Meski begitu, pertunjukan tadi tampaknya sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan lubuk hati Misaki-sensei.


"Jadi begitu rupanya......"


Misaki-sensei bergumam dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa iba yang mendalam. Namun, dia sama sekali tidak menunjukkan gelagat terkejut setelah mendengar informasi mengenai kondisi Yuu saat ini. Malahan, dia justru terlihat seperti sudah bisa memaklumi hal tersebut.


"Saya tahu alasan mengapa Misaki-sensei tidak bisa membeberkan banyak hal adalah murni karena Anda memikirkan kebaikan Yuu sendiri. Meskipun waktu kebersamaan kami terhitung singkat, sebagai orang yang pernah melewatkan waktu bersama dengan Yuu, saya merasa sangat senang melihat kepedulian Anda. Justru karena alasan itulah, saya rasa kita berdua bisa saling bekerja sama."


"Bekerja sama......?"


"Jika Misaki-sensei berkenan untuk membagikan cerita mengenai situasi Yuu kepada saya, maka sebagai timbal baliknya, ke depannya saya juga akan mengabarkan kondisi terkini Yuu secara berkala kepada Anda. Sebagai sesama individu yang sama-sama mengkhawatirkan masa depan Yuu, bukankah tidak ada salahnya jika kita saling bertukar informasi di batas wilayah yang sekiranya tidak melanggar aturan?"


Jika dengan cara ini pun masih gagal, maka melontarkan argumen apa pun setelah ini pasti akan berakhir sia-sia.


Tepat di saat aku berpikir untuk segera berpamitan mundur secara jantan jika penawaranku ditolak.


"Awal mula di saat Yuu-san mulai mangkir dari sekolah adalah sejak satu tahun yang lalu──"


Kali ini, giliran Misaki-sensei yang mulai bergumam sendiri layaknya sebuah monolog.


"Pemicu utamanya adalah karena kakak perempuannya meninggal dunia."


Ucapan itu adalah sebuah bentuk pernyataan sikap bahwa dia bersedia menerima penawaran kerja sama dariku.


"Jika begitu...... apakah hal itu terjadi karena dia mengalami syok berat akibat kehilangan sang kakak?"


"Saya rasa hal itu juga menjadi salah satu faktornya. Namun, alasan paling utamanya adalah karena tindakan perundungan yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya."


"Tindakan perundungan?"


Misaki-sensei meralat kalimatnya kembali, "Bukan...... lebih tepat jika disebut sebagai kasus perundungan."


"Karena status kakaknya yang merupakan seorang aktris terkenal, pada awalnya teman-teman sekelasnya memang merasa kagum dan iri kepadanya...... Namun lama-kelamaan, rasa kagum itu berubah menjadi rasa dengki, dan sejak saat itulah kasus perundungan dimulai."


......Mendengar cerita itu, aku merasa seperti sedang mendengarkan kisah hidupku sendiri. Persis seperti rasa cinta yang mendalam yang bisa berbalik menjadi rasa benci yang pekat, rasa hormat dan kekaguman yang terlampau besar pun pada akhirnya bisa bergeser menjadi rasa dengki yang beracun.


Sebagian besar berita mengerikan yang disiarkan di media setiap harinya pun, jika dirunut akarnya, rata-rata disebabkan oleh konflik asmara yang lahir akibat rasa cinta mendalam yang berjalan melenceng, atau rasa benci yang lahir sebagai cerminan dari rasa kagum yang terlampau besar yang berwujud dalam bentuk kedengkian.


Perkara semacam itu saja bisa terjadi di dunia orang dewasa, jadi wajar saja jika hal itu jauh lebih rentan terjadi di kalangan siswa SMP dan SMA yang kondisi emosionalnya masih sangat labil. Dan Yuu sayangnya telah berakhir menjadi target dari lingkaran setan tersebut.


"Sepanjang informasi yang berhasil kami himpun, kasus perundungan tersebut dimulai sejak Yuu-san duduk di bangku kelas dua SMP. Setelah itu, intensitas perundungannya semakin parah, berbanding lurus dengan popularitas kakaknya yang terus melejit di dunia hiburan."


"Tunggu sebentar."


Aku refleks memotong penjelasan dari Misaki-sensei. Jika informasi itu adalah sebuah fakta, aku tentu saja tidak bisa menahan rasa heran yang membuncah di dalam dada.


"Mengapa Yuu baru membolos dari sekolah setelah kakaknya meninggal dunia? Jika dipikirkan secara logis, intensitas perundungan yang diterimanya seharusnya jauh lebih kejam di saat kakaknya masih hidup dan aktif di dunia hiburan, bukan? Bukankah situasinya seharusnya menjadi lebih tenang setelah sang kakak tiada?"


Misaki-sensei mengangguk, lalu menyahut sembari berucap, "Justru karena alasan itulah."


"Justru karena kakaknya sedang aktif di dunia hiburan, dia tetap memaksakan dirinya untuk terus masuk sekolah meski harus menerima perundungan setiap hari. Yuu-san sama sekali tidak ingin fakta bahwa dirinya sedang dirundung diketahui oleh kakaknya. Selain karena dia tidak ingin membuat kakaknya cemas, fakta bahwa alasan di balik perundungan itu adalah karena keberadaan sang kakak...... adalah sebuah hal yang mutlak tidak boleh sampai diketahui oleh kakaknya."


Jadi begitu rupanya rupanya......


"Wali kelasnya saat itu sempat menyadari adanya kasus perundungan tersebut, dan berniat untuk memanggil para siswi yang melakukan perundungan demi dimintai keterangan. Namun di saat sang guru mencoba menanyakan situasinya kepada Yuu-san sembari berkata, 'Mari kita bicarakan hal ini dengan pihak panti asuhan tempatmu tinggal juga', Yuu-san justru mengancam guru tersebut dan berkata, 'Kalau masalah ini diperbesar sampai terdengar ke telinga Kakak, saya akan melompat dari atap gedung sekolah dan mati saat ini juga'. Melihat ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak terlihat seperti sedang main-main, para guru akhirnya tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa menutup mulut."


"............"


Aku memang sudah menyadari bahwa rasa kasih sayang Yuu terhadap kakaknya terhitung sangat besar. Namun, aku sama sekali tidak menyangka kalau kadarnya ternyata sampai se-ekstrem itu.


"Sejak saat itu pun Yuu-san terus menolak segala bentuk penyelesaian masalah dan memilih untuk terus bertahan menahan perundungan tersebut seorang diri. Namun, setelah kakaknya meninggal dunia, alasan baginya untuk bertahan menahan semua itu tampaknya sudah lenyap...... Sejak satu tahun lalu dia mulai sering membolos, dan meskipun dia pada akhirnya tetap bisa melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat SMA putri di sini, di tahun ajaran baru kali ini dia bahkan belum pernah masuk sekolah sekalipun."


"Belum pernah masuk sekali pun......"


Meskipun aku sudah sempat menduganya samar-samar, tetapi kenyataannya ternyata memang persis seperti perkiraanku.


"Momen terakhir di saat dia menginjakkan kakinya di sekolah adalah saat upacara kelulusan jenjang SMP bulan lalu. Di saat saya berusaha membujuknya agar dia mau masuk sekolah setiap hari mulai musim semi ini, Yuu-san justru melontarkan kalimat ini kepada saya."


──Pada akhirnya, saya berhasil menemukan alasan untuk tetap hidup.


"Karena itulah dia bilang kalau dia tidak punya waktu luang untuk disia-siakan dengan pergi ke sekolah."


"............"


Sorot mata yang ditunjukkan oleh Yuu di saat kami bertemu kembali seketika terlintas di dalam kepalaku. Sebuah tatapan mata yang dipenuhi oleh tekad yang membara, namun di balik bagian terdalamnya, tampak membayang samar sebuah gurat kesedihan yang pekat.


"Alasan itu adalah ingin menjadi seorang aktris, sama persis seperti kakaknya, ya......"


Sudut mata Misaki-sensei tampak mulai basah, seolah-olah hatinya ikut terenyuh melihat betapa besarnya rasa kasih sayang Yuu terhadap mendiang kakaknya. Namun sayangnya, kenyataannya tidak se-mengharukan seperti apa yang dipikirkan oleh Misaki-sensei saat ini. Malahan, aku justru memiliki sebuah keyakinan yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari pemikirannya tersebut.


"......Souma-san."


"Iya. Ada apa?"


"Sudikah Anda membantu saya untuk membujuk Yuu-san agar dia mau kembali masuk sekolah?"


Misaki-sensei mencondongkan tubuhnya ke depan lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapanku. Dari raut wajahnya saat ini, gurat kewaspadaan maupun kebingungan yang sempat membayang di awal tadi kini sudah sepenuhnya sirna tanpa bekas.


"Sepanjang yang saya dengar dari cerita Anda, saya rasa Yuu-san sangat mempercayai Souma-san. Setidaknya bagi dirinya yang sekarang, sosok yang bisa dijadikan sebagai tempat bersandar bukanlah kami para guru, melainkan Anda, Souma-san."


Aku pun bisa memahami mengapa dia sampai ingin bersandar kepada orang seperti diriku.


Fakta bahwa wali kelasnya terpaksa harus merasakan kepasrahan yang mendalam atas ketidakberdayaan dirinya, lalu berujung menggantungkan harapan pada seorang siswa SMA yang mendadak muncul di hadapannya. Pemandangan di mana seorang penyelia dewasa sampai harus menundukkan kepala kepada seorang anak remaja, jika dilihat dari sudut pandang luar, memang bukanlah sebuah hal yang patut dipuji. Namun jika dibalik, situasi ini justru menjadi sebuah bukti nyata seberapa besarnya rasa cemas dan kepedulian yang dimilikinya terhadap Yuu.


"Baiklah."


Aku sama sekali tidak memiliki alasan untuk menolak permintaannya.


"Saya akan mencoba berbicara dengannya agar dia mau kembali masuk sekolah."


"Terima kasih banyak!"


Senyuman lega seketika mengembang di wajah Misaki-sensei.


"Hanya saja, meskipun saya mengajaknya bicara, hal ini akan tetap terasa sulit jika akar penyebab masalahnya tidak diselesaikan secara tuntas. Alasan bahwa dia tidak punya waktu luang untuk pergi ke sekolah demi menjadi aktris memang bisa kita kesampingkan, tetapi selama kasus perundungan itu masih terus berjalan......"


"Sejak Yuu-san mulai mangkir dari sekolah, kami dari pihak guru pun terus melakukan tindakan pengawasan dan bimbingan secara menyeluruh untuk menyelesaikan masalah ini. Hanya saja...... karena kami tidak memiliki bukti fisik dan tidak pernah memergoki kejadiannya secara langsung di lokasi, kami tidak bisa memberikan sanksi ataupun bimbingan yang keras kepada siswi yang bersangkutan. Mereka tampaknya melakukan hal tersebut dengan sangat rapi di belakang kami, jadi saat mereka berkilah dan pura-pura tidak tahu, kami tidak bisa berbuat apa-apa......"


Misaki-sensei melontarkan kalimatnya sembari menyiratkan gurat kepedihan yang mendalam.


Pihak sekolah sudah melakukan apa yang bisa mereka lakukan, namun titik terang untuk menyelesaikan masalah ini masih belum juga terlihat. Meski begitu, aku tidak bisa menyalahkan Misaki-sensei maupun jajaran staf pengajar yang ada di sini.


Jika sebuah kasus perundungan bisa selesai hanya dengan sekali teguran dari guru untuk memintanya berhenti, maka masalah perundungan di dunia ini dipastikan sudah lama sirna. Rentetan berita mengerikan mengenai kasus perundungan yang setiap harinya menghiasi layar kaca seolah-olah menjadi bukti nyata bahwa penyelesaian mutlak untuk masalah ini adalah sesuatu yang mustahil.


Terlebih lagi karena Yuu sendiri adalah pihak yang menolak masalah ini untuk diselesaikan, jadi situasinya tentu menjadi jauh lebih rumit.


"Mohon maaf karena kemampuan kami tidak bisa menjangkau masalah ini sampai tuntas......"


"Ini bukan kesalahan Misaki-sensei."


Atmosfer berat seketika kembali menyelimuti ruang tamu pengunjung. Terus terdiam di sini pun tidak akan membuat solusi pemecahan masalah mendadak muncul di dalam kepala.


"Pertama-tama, saya akan mencoba berbicara dengan Yuu terlebih dahulu, setelah itu izinkan saya untuk kembali berkonsultasi dengan Anda."


"Baiklah. Kalau begitu, saya titipkan urusan ini kepada Anda."


Aku bangkit berdiri dari sofa, lalu melangkah meninggalkan ruang tamu pengunjung bersama dengan Misaki-sensei. Tepat di saat itu, suara bel yang menandakan berakhirnya jam pelajaran pagi menggema di seluruh penjuru area sekolah.


"Jika tidak keberatan, apakah saya diperbolehkan untuk melihat ruang kelas Yuu?"


"Tentu saja boleh. Meskipun Anda sudah mengenakan kartu tanda pengenal khusus tamu, keberadaan seorang siswa SMA laki-laki yang berjalan seorang diri di koridor sekolah pasti akan membuat para siswi terkejut, jadi mari saya antarkan."


"Terima kasih banyak."


Gedung untuk jenjang SMA ternyata berada di sayap timur, dan jaraknya dari ruang tamu pengunjung gedung sayap barat tempat kami berada sekarang rupanya terhitung agak jauh.


Di sepanjang jalan menuju ke sana, aku melangkah menyusuri koridor sembari bisa merasakan tatapan mata dari para siswi yang berpapasan dengan kami.


"Lantai ini adalah tempatnya."


Sesaat setelah kami tiba di depan ruang kelas yang dituju.


"Ngomong-ngomong, soal si Tachibana itu──"


Sebuah letupan suara yang memanggil nama keluarga Yuu terdengar samar dari dalam ruang kelas.


"Sejak naik ke jenjang SMA, dia belum pernah masuk sekolah sekali pun, ya."


"Benar banget. Kalau dia sekalian mengundurkan diri saja dari sekolah ini, rasanya pasti bakal lega banget."


Mendengar isi percakapan tersebut, beberapa siswi tampaknya sedang membicarakan perkara mengenai Yuu sesama teman kelompoknya.


Saat aku melongokkan kepala untuk mengintip ke dalam kelas, tampak sosok tiga orang siswi yang gelagat perilakunya terlihat kurang baik untuk ukuran sebuah sekolah tradisional yang sarat akan nilai luhur.


"Ya habisnya, gara-gara kamu habis-habisan menjahatinya sampai se-ekstrem itu, wajar saja kan kalau dia jadi tidak mau masuk sekolah lagi."


"Heh, tolong ya, jangan berbicara seolah-olah cuma aku saja yang melakukannya sendirian. Lagipula si Tachibana itu sendiri yang salah karena bersikap belagu mentang-mentang kakaknya sedikit terkenal. Dan kalian semua juga ikut-ikutan menjahatinya karena menganggap hal itu seru, kan?"


"Ya kalau mau jujur, alih-alih dibilang bersikap belagu, tindakan kita kemarin itu sebenarnya lebih condong ke arah cari-cari kesalahan saja, sih."


"Berarti butuh waktu sekitar dua tahun ya sampai dia akhirnya membolos total dari sekolah. Ternyata dia lumayan keras kepala juga."


"Tapi berkat hal itu, kita jadi bisa menjadikannya sebagai bahan mainan dalam waktu yang lama, jadi hasil akhirnya tetap menguntungkan, kan?"


"Benar juga, sih."


Setelah melontarkan untaian kalimat tersebut, para siswi itu langsung tertawa terbahak-bahak dengan volume suara yang bising.


Tepat di saat aku mendengarkan isi percakapan dan derai tawa mereka, sebuah rasa amarah yang teramat sangat seketika membuncah dari dasar lubuk hatiku.


Bersamaan dengan sensasi aliran darah yang mendadak berdesir naik ke kepala, bagian belakang mataku terasa memanas. Hal yang membuatku tersadar bahwa saat ini diriku sedang kehilangan ketenangan sampai di tahap yang membuatku terkejut adalah rasa sakit di telapak tanganku akibat kepalan tinju yang begitu erat hingga kuku-kukuku menancap ke dalam daging.


Meski begitu, aku tetap tidak mampu meredam luapan emosi ini.


"Mohon maaf. Saya akan segera menegur mereka sekarang──"


Aku langsung menahan gerakan Misaki-sensei yang hendak maju untuk menghentikan tindakan mereka.


"Souma-san......?"


Sebagai gantinya, akulah pihak yang melangkah maju menghampiri gerombolan siswi tersebut.


"Oi. Bisa minta waktunya sebentar?"


"Ha? Kamu...... siapa, ya?"


Ketiga siswi dari kelompok tersebut seketika melemparkan tatapan mata yang jelas-jelas menyiratkan pandangan curiga seperti sedang melihat seorang penyusup.


Para siswi lain di dalam kelas yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini pun langsung mundur selangkah sembari memperhatikan situasi kami.


Jika dipikirkan dengan logika, tindakan seorang pihak luar seperti diriku yang melangkah maju untuk mengonfrontasi siswi di sekolah ini jelas-jelas akan memicu sebuah masalah yang panjang.


Meskipun isi kepalaku memahami betul akan konsekuensi tersebut, alasan mengapa aku tetap tidak mampu menahan amarahku tidak lain adalah karena selain karena aku tidak sudi memaafkan kelakuan bocah-bocah ini, hal itu juga dipicu karena efek dari akting yang kulakukan beberapa saat lalu setelah bertahun-tahun vakum, yang membuat emosiku menjadi jauh lebih sensitif dan mudah meledak keluar. Atau bisa jadi, hal itu terjadi karena latar belakang situasi Yuu saat ini terasa sangat tumpang tindih dengan kilas balik masa lalu diriku sendiri.


"Percakapan kalian yang tadi...... yang dimaksud dengan Tachibana itu, adalah Tachibana Yuu, kan?"


"......Kalau memang iya, kenapa?"


"Ada hal yang ingin kutanyakan pada kalian."


"Kami tidak punya urusan ataupun hal yang perlu dibicarakan dengan orang luar."


"Memangnya kamu ini punya hubungan apa dengan si Tachibana?"


"Hubungan apa, ya......"


Hal itu sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang aku sendiri pun ingin tahu jawabannya.


"Aku adalah keluarganya...... anggap saja aku ini adalah kakaknya."


Meskipun rentang waktunya terhitung singkat, kami adalah rekan yang pernah melewatkan waktu di bawah satu atap yang sama dan mencicipi makanan dari periuk yang sama. Meskipun sebutan keluarga mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang untuk mendeskripsikan hubungan kami, namun khusus untuk saat ini, tolong izinkan aku memosisikan diriku sebagai keluarganya.


“”"............”””


Mungkin karena aku menyeret kata keluarga di dalam kalimatku. Ketiga siswi tersebut seketika melemparkan pandangan mata yang gelisah dengan raut wajah yang jelas-jelas terlihat merasa canggung.


"Berdasarkan apa yang kudengar dari obrolan kalian tadi, penyebab utama dari masalah ini tampaknya adalah karena Yuu bersikap belagu. Jika hal itu memang benar adanya, aku selaku perwakilannya meminta maaf karena dia telah membuat teman-teman sekelasnya merasa tidak nyaman, dan aku berjanji akan menegur serta menasihati Yuu dengan tegas agar dia mau merubah sikapnya tersebut. Karena itu, bisakah kalian memberi tahu aku──"


Aku bisa merasakan bahwa intonasi dan nada bicaraku perlahan-lahan mulai meninggi dengan volume yang semakin berat.


"Apa sebenarnya tindakan yang telah diperbuat oleh anak itu sampai kalian tega memperlakukannya seperti ini!?"


Suara lantangku seketika menggema memecah keheningan di dalam ruang kelas yang sunyi senyap tersebut. Bahkan setelah menunggu selama beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia memberikan jawaban.


"Tentu saja kalian tidak akan bisa mengatakannya, kan......"


Jika apa yang disampaikan oleh Misaki-sensei adalah sebuah fakta, maka alasan kalian murni hanyalah cari-cari kesalahan belaka. Dan di atas segalanya, bocah-bocah ini baru saja mengakui dengan mulut mereka sendiri beberapa saat lalu bahwa tindakan mereka memang hanya sebatas mencari-cari kesalahan.


Sebagai buktinya, ketiga siswi di hadapanku ini terus memalingkan pandangan mata mereka dariku. Saat aku mengedarkan pandangan ke seisi ruang kelas, tampak beberapa siswi lain yang juga ikut menundukkan kepala dalam-dalam. Besar kemungkinan mereka semua yang ada di kelas ini juga ikut terlibat dalam lingkaran perundungan tersebut.


Mengingat jumlah mereka yang diperkirakan mencapai hampir sepuluh orang, rasanya benar-benar membuat lambungku mual.


"Aku tidak bermaksud bilang bahwa Yuu adalah sosok yang sepenuhnya tanpa cela. Memang benar bahwa di mata kalian pasti ada satu atau dua hal dari dirinya yang terasa kurang menyenangkan. Tapi, apakah hal itu bisa menjadi alasan yang sah bagi kalian untuk terus merundungnya selama dua tahun penuh!? Apakah kalian tidak pernah sekalipun memikirkan apa alasan di balik sikapnya yang memilih untuk terus bungkam dan bertahan menahan semua itu!? Bahkan setelah kakaknya meninggal dunia dan dia tetap menerima perundungan dari kalian, pernahkah kalian mencoba membayangkan bagaimana hancurnya perasaan anak itu──apakah hal sekecil itu pun tidak mampu kalian bayangkan!?"


Bagian dalam hidungku terasa tersumbat, tenggorokanku mendadak kering hingga membuat suaraku terdengar serak.


Pandanganku mulai buram diselimuti air mata, ujung-ujung jariku bergetar hebat, dan bibirku tidak bisa berhenti berkedip. Luapan emosi yang membuncah di dalam dada ini terlampau rumit, hingga di tahap ini aku bahkan sudah tidak bisa membedakan lagi apakah rasa ini adalah sebuah amarah ataukah sebuah kesedihan.


"Kalau ke depannya kalian masih ingin melanjutkan tindakan itu, silakan lakukan sesuka hati kalian. Tapi, setidaknya camkan satu hal ini baik-baik di dalam kepala kalian──"


Meski begitu, aku tetap tidak mampu membendung ego perasaanku untuk menyemburkan untaian kalimat terakhir ini.


"Fakta bahwa kalian pernah merundung seseorang──fakta nyata tersebut, suatu hari nanti dipastikan akan berbalik menjadi kutukan yang akan menyiksa hidup kalian sendiri. Di saat kalian sedang melewatkan waktu bersama dengan orang yang kalian cintai, di saat kalian menikah, atau di saat kalian dikaruniai seorang anak. Di tengah hari-hari di mana kalian sedang mereguk kebahagiaan, di suatu momen yang acak, ingatan itu dipastikan akan mendadak terlintas kembali dan hari di mana hati kalian tercabik-cabik oleh rasa bersalah pasti akan benar-benar datang!"


“”"............ "””


"Bahkan setelah 10 tahun atau 20 tahun berlalu, fakta itu tidak akan pernah bisa dihapus seolah-olah tidak pernah terjadi. Di saat kalian beranjak dewasa dan baru menyadari bahwa diri kalian di masa lalu adalah sesosok manusia yang paling bajingan, semuanya sudah terlambat. Kalian akan dipaksa menjalani hari demi hari dalam ketakutan dan bayang-bayang ngeri jika suatu saat rahasia ini terbongkar di hadapan orang-orang yang kalian sayangi──hiduplah seperti itu sembari terus memendam rasa penyesalan sampai ajal menjemput kalian!"


Mungkin mereka akhirnya mulai bisa mencerna dan memahami seberapa biadabnya perbuatan yang selama ini mereka lakukan.


Beberapa siswi tampak berwajah pucat pasi, dan ada pula siswi yang sudut matanya mulai digenangi oleh air mata.


"Kalau kalian tidak sudi melakukan hal itu, aku tidak akan meminta kalian untuk berteman baik dengannya. Setidaknya, biarkan dia tenang dan jangan usik kehidupannya lagi."


Setelah meninggalkan untaian kalimat penutup tersebut, aku segera melangkah keluar dari ruang kelas.


Aku tahu tindakan yang kulakukan ini benar-benar mencerminkan sikap yang sangat tidak dewasa, namun aku sama sekali tidak menyesalinya. Hanya saja, tepat di saat aku berpikir bahwa aku harus segera melayangkan permohonan maaf kepada Misaki-sensei atas keributan ini.


"Eh──?"


Saat aku mendongakkan kepala demi mencari keberadaan Misaki-sensei, di ujung pandanganku tampak sosok Yuu yang sedang berdiri mematung di area koridor sekolah.


Di balik punggungnya, tampak pula sosok Ema-san yang sedang mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa bersalah. Melihat pemandangan itu, aku seketika bisa langsung menangkap bagaimana situasinya. Besar kemungkinan obrolan teleponku dengan Ema-san tadi pagi sempat terdengar oleh Yuu, dan setelah mengetahui situasinya, dia pun langsung bergegas menyusul ke tempat ini.


Yuu terus menatap ke arahku sembari menggigit bibir bawahnya rapat-rapat.


"Itu...... maafkan aku, ya."


Kalimat yang pertama kali meluap dari mulutku tidak lain adalah sebuah untaian kata maaf.


"Tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, aku malah melakukan tindakan yang tidak perlu."


Yuu menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"Lalu...... ada satu hal lagi yang ingin kuminta maaf kepadamu."


Ini adalah sebuah hal yang sudah kuputuskan di dalam hati untuk segera kusampaikan begitu kami bertemu kembali.


"Maaf karena tempo hari aku sudah melontarkan kalimat yang seolah-olah melimpahkan alasan pensiunnya diriku kepada sosok Tachibana Haruka."


Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam di hadapannya tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitar.


"Memang benar bahwa momen di saat aku memantapkan tekad untuk pensiun dipicu oleh keterpukauan dari adegan beradu peran dengan Tachibana Haruka. Namun, keputusan untuk menyudahi karier tersebut murni lahir dari kehendak diriku sendiri. Pihak yang memilih untuk menghentikan langkah kaki dan menyerah adalah diriku sendiri, jadi hal itu sama sekali bukan karena kesalahan kakakmu."


Padahal situasinya demikian, namun tempo hari aku malah menyemburkan kalimat kejam yang mengiris hati Yuu. Tindakan yang kulakukan waktu itu tidak ada bedanya dengan kelakuan para teman sekelas yang merundung Yuu selama ini.


Aku benar-benar merasa muak dan tidak habis pikir dengan diriku sendiri yang bisa-bisanya menceramahi ketiga siswi di dalam kelas tadi dengan gaya yang sok bijak.


"Malahan sebenarnya aku sangat berterima kasih kepadanya...... Di saat karierku sebagai aktor sebenarnya sudah habis namun aku tetap bersikeras mencengkeramnya erat-erat dengan cara yang menyedihkan, dia hadir dan memberikan sebuah titik balik bagiku untuk menemukan jalan hidup yang baru."


Tergantung dari bagaimana cara kita memandang situasinya, tidak berlebihan rasanya jika aku menyebut mendiang kakaknya sebagai sosok dewa penolong dalam hidupku. Persis seperti arti dari kalimatku tadi, fakta bahwa diriku yang sekarang bisa berdiri di sini adalah murni berkat keberadaan Tachibana Haruka.


"Karena itulah...... aku benar-benar minta maaf."


Mendengar penjelasanku, Yuu berucap dengan nada suara yang lembut, 『Tolong angkat wajahmu, Kanata-san.』.


Saat aku mengangkat kembali wajahku sesuai dengan apa yang dikatakannya, Yuu melanjutkan kalimatnya sembari menyentuhkan tangan di dadanya.


"Sebenarnya saya sudah tahu, kok. Alasan mengapa Kanata-san sengaja berbicara seolah-olah melimpahkan kesalahan itu kepada Kakak saya adalah murni karena Anda memikirkan kebaikan saya. Saya juga menyadari bahwa tindakan itu merupakan bentuk kebaikan dari Kanata-san. Namun, di saat saya berpikir bahwa Kakak saya ternyata tidak sepenuhnya lepas dari balik alasan tersebut, saya mendadak menjadi bingung harus memasang ekspresi wajah seperti apa di hadapan Kanata-san......"


"Jadi itu alasan mengapa kamu tidak kunjung pulang ke rumah?"


"Iya...... Mohon maaf, ya."


Yuu mengerdilkan tubuhnya persis seperti seorang anak kecil yang baru saja menerima omelan.


Mendengar konfirmasi bahwa dia bukan bermaksud membenciku, sebuah embusan napas lega spontan lolos dari mulutku.


"Ya sudah kalau begitu...... berarti sekarang kita sudah resmi berbaikan, kan?"


"Jika Kanata-san tidak keberatan, saya juga akan merasa sangat senang."


Melihat senyuman tipis yang spontan mengembang di wajahku, Yuu pun ikut melayangkan sebuah senyuman manis dari bibirnya. Rasanya sudah teramat lama sekali aku tidak melihat gurat senyuman itu menghiasi wajah Yuu.


Sembari aku memikirkan hal tersebut di dalam hati, Yuu mulai melangkahkan kakinya berjalan meandahului posisiku.


"Kamu mau ke mana?"


"Saya mau masuk kelas untuk mengikuti jam pelajaran siang."


Sorot mata yang ditunjukkan oleh Yuu saat melontarkan kalimat itu tidak menyiratkan adanya keraguan sedikit pun.


"......Apakah tidak apa-apa?"


Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa menyembunyikan rasa cemas di dalam dada dan refleks mempertanyakannya. Yuu pun menjawab sembari melempar senyuman hangat, 『Sekarang semuanya sudah tidak apa-apa, kok.』.


Namun setelah melontarkan kalimat tersebut, dia tampak berdiri bergeming di tempat sembari gelagat tubuhnya terlihat seperti masih ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada apa lagi?"


"Anu, itu......"


Aku sempat dibuat heran sembari menebak-nebak apa alasan yang membuat wajahnya mendadak merona malu seperti itu, sampai akhirnya...


"Nanti malam, saya ingin makan nasi goreng buatan Kanata-san."


Mendengar satu kalimat yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, sebuah senyuman kembali merekah di wajahku.


"Nanti akan kubuatkan lengkap dengan gyoza juga, jadi cepatlah pulang setelah sekolahmu selesai, ya."


"Baiklah!"


Setelah memberikan sahutan jawaban dengan nada suara yang terdengar sangat riang, Yuu segera membalikkan badan lalu melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya.


Tepat di saat aku selesai melepas kepergian sosok punggungnya yang menjauh, begitu aku memutar badan ke arah belakang, pemandangan yang tersaji di hadapanku seketika sukses membuatku langsung terbungkam seribu bahasa. Karena di sana, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kebahagiaan Yuu, tampak sosok Ema-san yang sedang memasang raut wajah penuh ketidakpuasan yang teramat sangat ketara. Atau jika boleh dikatakan lebih tepatnya, alih-alih dibilang tidak puas, ekspresinya lebih condong ke arah merajuk karena merasa rencana yang sudah disusun rapi mendadak berjalan melenceng.


Yaaa...... aku rasa aku tidak perlu repot-repot menanyakan apa alasannya, kan?


"Anu...... proses persiapan untuk meracik adonan gyoza dari awal itu biasanya memakan waktu yang lumayan lama, lho."


"Kalau aku pribadi, sih, tipe orang yang menganggap gyoza instan kemasan beku jauh lebih praktis. Jadi, maksud dari ucapanmu itu apa, hayo?"


"Untuk agenda janji makan malam kita nanti...... bolehkah saya meminta izin untuk dijadwalkan ulang di hari lain......?"


Ema-san sengaja mengembuskan napas panjang yang terkesan dibuat-buat. Namun sedetik kemudian, sebuah senyuman jahil tampak menghiasi wajahnya.


"Kalau begitu, anggap saja sekarang kamu berutang satu budi padaku, ya?"


"Baik...... Terima kasih banyak."


Jika menghitung keputusannya yang bersedia ikut mendampingiku saat berbicara dengan Yuu tadi, alih-alih berutang satu budi, rasanya utang budiku sudah bertambah menjadi dua. Skala restoran yang sudah kami rencanakan sebelumnya pun sepertinya harus kunaikkan sekitar dua tingkat lebih mewah agar bisa sepadan dengan kebaikan yang sudah diberikannya.


Setelah melayangkan permohonan maaf kepada Misaki-sensei, aku dan Ema-san pun segera melangkah meninggalkan area sekolah putri tersebut.


Dari sana, aku langsung mengarahkan langkah kakiku menuju supermarket terdekat demi berburu bahan-bahan makanan.



"Oke...... mari kita mulai."


Sesampainya di rumah, aku sudah berdiri di dapur menghadap ke arah jajaran bahan makanan yang siap disulap menjadi hidangan nasi goreng dan gyoza.


Karena nasi gorengnya baru akan kubuat setelah Yuu pulang nanti, jadi agenda pertamaku adalah menyiapkan adonan isian gyozanya terlebih dahulu.


Pertama-tama, masukkan daging cincang ke dalam wadah mangkuk besar, tambahkan garam dan lada, lalu uleni adonan dengan baik. Setelah teksturnya mulai terasa lengket, masukkan cincangan kasar kubis dan kucai. Langkah berikutnya adalah menambahkan bumbu penyedap seperti gula, kecap asin, minyak wijen, dan yang lainnya untuk memperkuat cita rasa.


Secara pribadi, aku sebenarnya ingin memasukkan parutan jahe dan bawang putih dalam jumlah yang agak banyak. Namun, aroma jahe yang terlalu kuat biasanya tergantung pada selera masing-masing orang, dan anak perempuan pun cenderung sensitif terhadap aroma menyengat dari bawang putih, jadi aku hanya memasukkannya sedikit saja sebagai bumbu rahasia.


Setelah adonan isiannya selesai diracik, langkah berikutnya adalah mendiamkannya di dalam lemari es selama kurang lebih satu jam.


Satu-satunya perkara yang menjadi masalah adalah proses pengerjaan berikutnya.


"Terakhir kali aku membuat hidangan ini adalah satu tahun yang lalu. Apakah aku masih bisa melipat kulitnya dengan rapi, ya......"


Untuk mengantisipasi skenario terburuk jika aku gagal di tengah jalan, aku sengaja membeli kulit gyoza dalam jumlah yang agak banyak.


Aku pun segera mengambil sesendok adonan isian dengan tangan kanan, meletahkannya di atas selembar kulit gyoza yang bertumpu di tangan kiri, lalu mulai mencoba melipatnya...... Namun, persis seperti apa yang sudah kuduga dan kuwatirkan sebelumnya, karena sudah terlampau lama tidak membuatnya, jariku tidak bisa melipat kulit gyoza tersebut dengan luwes sesuai keinginan.


Ada sebuah rasa frustrasi yang menggelitik di saat isi kepalaku mengingat betul cara melipatnya, namun gerakan tubuhku justru tidak bisa menyelaraskannya dengan baik.


"Saat aku berakting kembali di hadapan Misaki-sensei tadi aku juga sempat berpikiran hal yang sama, sih. Baik dunia akting maupun dunia memasak, jika kita sempat vakum dalam waktu yang lama, hasilnya memang tidak akan bisa langsung kembali luwes seperti sedia kala. Sepertinya butuh waktu yang lumayan panjang untuk bisa mengembalikan instingku lagi......"


Sembari bergumam sendiri, aku terus menggerakkan tanganku dengan tekun demi menyelesaikan lipatan demi lipatan. Dan hasil akhirnya adalah...


"Uh, mmm......"


Gyoza yang sudah selesai dibuat ini, bahkan jika dinilai dengan standar pujian yang paling halus sekalipun, sama sekali tidak bisa dikategorikan memiliki tampilan yang estetik. Bahkan tingkat keberhasilannya terhitung berada di garis batas yang abu-abu untuk menentukan apakah hidangan ini masih layak dipanggil sebagai gyoza atau tidak.


"Yaa...... yang paling penting kan cita rasanya."


Tepat di saat aku sedang menghibur diri sendiri agar bisa menerima hasil karya tersebut.


"Saya pulang!"


Sesaat setelah suara pintu depan yang terbuka terdengar, pekikan suara Yuu langsung menggema lantang hingga mencapai area dapur. Meskipun telingaku seharusnya sudah terbiasa mendengarkan letupan suara tersebut, entah mengapa suara riang itu mendadak memicu sebuah rasa rindu yang familier di dalam dada. Sembari masih mengenakan celemek memasak, aku segera melangkah menuju ke arah pintu depan demi menyambut kepulangan Yuu setelah satu minggu lamanya dia tidak pulang ke rumah.


"Selamat datang kembali──eh?"


Sesampainya di sana, aku mendapati Yuu yang sedang memasang sebuah senyuman manis yang terlihat sangat bahagia.


"Ada apa?"


"Karena selama ini posisinya selalu saya yang menyambut kedatangan Kanata-san sembari mengucapkan 'Selamat datang kembali', rasanya terasa sangat segar dan...... sedikit menggelitik di dalam dada saat mendengarkan Kanata-san yang mengucapkan kalimat 'Selamat datang kembali' itu kepada saya."


"......Benar juga, sih."


Mendengar penjelasannya, aku pun ikut merasakan sensasi geli yang serupa di dalam dada.


"Jika dipikir-pikir lagi, saat dulu saya masih tinggal berdua denganmu, Anda selalu pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan. Alhasil, saya selalu menjadi pihak yang mengucapkan kalimat selamat datang, dan hampir tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan kalimat 'Saya pulang'."


"Begitu rupanya......"


Setidaknya aku bisa sedikit memahami bagaimana rasanya saat kita harus melewatkan waktu seorang diri demi menunggu kepulangan dari orang yang kita sayangi.


Sebuah bentangan waktu di mana di satu sisi kita merasa sangat tidak sabar menantikannya, namun di sisi lain ada sebuah rasa cemas dan kesepian yang ikut menyelimuti hati. Jika aku tidak dipertemukan kembali dengan Yuu, aku mungkin tidak akan pernah menyadari adanya emosi semacam ini.


"Anu, itu...... saya pulang."


Yuu mengulang kembali kalimatnya secara perlahan seolah ingin meresapi setiap jengkal katanya.


"Iya. Selamat datang kembali."


Aku pun membalas kalimatnya demi menyahut perkataannya tersebut. Raut wajah yang dipancarkannya saat ini benar-benar mencerminkan sebuah senyuman polos dari seorang anak gadis yang sesuai dengan usianya.


"Persiapan untuk makan malamnya sudah selesai, nih. Meskipun dari segi jam sebenarnya masih terhitung agak awal, bagaimana menurutmu?"


"Karena hari ini saya tidak sempat menyantap makan siang, perut saya sekarang rasanya sudah sangat lapar."


"Baiklah. Akan segera kubuatkan sekarang, jadi tunggu sebentar, ya."


"Kalau begitu, saya ganti baju dulu, ya."


Setelah meletakkan barang bawaannya di ruang tengah, Yuu segera mengambil baju ganti rumahan lalu melangkah menuju ke arah kamar mandi. Selepas melepas kepergian sosok punggungnya, aku pun langsung bergegas kembali ke dapur untuk menata wajan dan panci di atas kompor gas.


Mulai dari detik ini, kecepatan adalah kunci utamanya. Nyalakan api kompor, tuangkan sedikit minyak ke atas wajan, lalu tata jajaran gyoza di atas permukaannya.


Setelah didiamkan selama kurang lebih satu menit, tuangkan air secukupnya, tutup wajannya, lalu biarkan gyozanya matang melalui proses pengukusan selama lima menit.


Selagi memanfaatkan sisa waktu lima menit tersebut, aku segera beralih untuk meracik menu nasi goreng. Sama persis seperti proses pembuatan di waktu sebelumnya, aku langsung menceploskan telur ke dalam minyak yang sudah dipanaskan.


Sebelum telurnya matang sempurna, masukkan nasi putih lalu aduk secara merata hingga seluruh bulir nasinya terselimuti oleh lapisan telur. Masukkan potongan daun bawang dan paprika hijau. Jika di kesempatan sebelumnya aku menggunakan daging bacon sebagai alternatif, khusus untuk kali ini aku memasukkan potongan daging char siu yang sudah dipotong berbentuk dadu ke dalam wajan.


Langkah terakhir tinggal menggoyang-goyangkan wajan sembari menambahkan bumbu penyedap untuk menyelaraskan cita rasanya, dan nasi goreng pun selesai dibuat.


Tepat di saat aku sedang menata nasi gorengnya di atas piring saji, sebuah letupan suara gemercik air yang menguap dari arah wajan gyoza terdengar di waktu yang sangat pas.


Buka tutup wajannya demi membuang sisa kadar air yang menggenang di dalam, lalu tuangkan sedikit minyak di sekelilingnya. Begitu bagian dasarnya sudah berubah warna menjadi cokelat keemasan yang renyah, telungkupkan sebuah piring datar di atas wajan lalu balik posisinya dengan cepat, dan menu gyoza pun resmi rampung.


Terakhir, hangatkan semangkuk sup khas Tionghoa yang sudah kubuat sebelumnya, lalu tata semuanya di atas meja makan. Tepat di saat seluruh hidangan sudah siap, Yuu melangkah kembali ke ruangan di waktu yang sangat presisi.


"Wah, aromanya harum sekali, ya!"


"Duduklah dan tunggu sebentar."


"Baik!"


Sembari derap langkah sandal rumahnya terdengar berbunyi, Yuu segera melangkah menuju ke arah meja makan. Dia mendudukkan dirinya di atas kursi dengan binar mata yang berkedip cerah, namun sedetik kemudian, dia tampak memiringkan kepalanya dengan raut wajah keheranan.


"Bukannya tadi Kanata-san bilang kalau menu malam ini akan ditemani oleh gyoza juga, ya?"


"Guh, uuu......"


Sebuah letupan suara erangan yang aneh tanpa sadar lolos dari tenggorokanku.


"Tapi tidak apa-apa, kok! Saya juga sangat menyukai pangsit!"


Mendengar bentuk perhatian yang dilayangkannya itu, alih-alih merasa senang, rasanya hatiku justru malah menjadi semakin miris.


Memang benar sih kalau tampilannya agak kurang meyakinkan, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau dia sampai salah mengiranya sebagai hidangan pangsit. Tapi ya kalau dipikir-pikir kembali, bentuk lipatannya yang kuperbuat asal-asalan demi menyembunyikan kegagalan itu memang terlihat sangat mirip dengan bentuk pangsit, sih.


"Niatnya sih...... aku mau membuat gyoza......"


"Eh......"


Sebuah letupan suara canggung seketika lolos dari mulut Yuu.


"Hanya saja akunya yang payah saat melipat kulitnya."


"M-Mohon maaf yang sebesarnya-besarnya!"


"Faktanya bentuk hidangan ini memang terlihat aneh, jadi tidak usah terlalu dipikirkan."


Sembari melontarkan kalimat tersebut, aku melepas celemek memasakku lalu mendudukkan diri di depan meja makan.


Setelah kami berdua mengatupkan kedua tangan dan mengucapkan kalimat "Selamat makan" secara serempak, Yuu segera mengambil sumpitnya lalu memasukkan gyoza yang berwujud pangsit itu ke dalam mulutnya.


"......"


Sebagai pihak yang memasaknya, aku tentu saja merasa sangat penasaran dengan bagaimana reaksi yang akan ditunjukkannya.


Aku terus menatap ke arah Yuu yang sedang memejamkan mata sembari meresapi cita rasa hidangan tersebut selama beberapa detik.


"Wah. Ini enak sekali!"


Begitu matanya mendadak terbuka lebar, sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya.


Setelah itu, gerakan sumpit Yuu tampak tidak bisa berhenti sembari menyantap hidangan nasi goreng dan gyoza tersebut secara bergantian. Melihat gelagatnya yang menikmati makanan dengan raut wajah yang sangat bahagia seperti itu, suasana hatiku sendiri pun entah mengapa ikut berubah menjadi sangat baik.


"Meskipun tampilannya agak sedikit aneh, bagian kulitnya terasa sangat renyah, lalu perpaduan aroma jahe dan bawang putihnya pun terasa pas dan lezat. Ditambah lagi, potongan daging char siu berukuran besar yang ada di dalam nasi gorengnya juga benar-benar membuat hidangan ini terasa sangat mengenyangkan!"


Persis layaknya seorang kritikus kuliner profesional, Yuu berhasil menebak dengan sangat akurat mengenai poin-poin yang sengaja kuperhatikan secara khusus saat memasak tadi. Melihatnya merasa sangat gembira seperti ini tentu saja tidak memberikan kesan yang buruk bagiku. Saat terpikir bahwa Yuu yang selama ini selalu memasak untukku setiap hari pasti juga merasakan emosi yang sama, aku memutuskan di dalam hati untuk mulai melayangkan pujian kepadanya ke depannya nanti.


Setelah itu, aku dan Yuu melewatkan waktu makan malam bersama setelah sekian lama tidak melakukannya berdua. Kami mengelilingi meja makan sembari mengobrol dengan sangat riang, seolah-olah perkara mengenai kami yang tidak saling bertemu selama satu minggu kemarin hanyalah sebuah dusta belaka. Padahal sebelumnya aku sempat menganggap keberadaan Yuu yang terus menetap di apartemenku sebagai sebuah gangguan, dan sempat sangat mendambakan untuk bisa kembali ke pola kehidupan lamaku yang menyendiri. Namun sekarang, aku justru dibuat terkejut oleh diriku sendiri yang malah berharap agar momen-momen hangat seperti ini bisa terus berlanjut ke depannya.


Perasaan itu sudah menjadi sebuah isi lubuk hati yang mutlak dan tidak bisa lagi kupungkiri.


“"............"”


Setelah sesi makan malam dan membersihkan diri di kamar mandi selesai. Kami melewatkan waktu bersantai bersama di dalam ruang tengah. Meskipun kami berdua sama-sama memiliki topik yang ingin dibicarakan, tampaknya atmosfer yang berhembus di antara kami mengisyaratkan bahwa setidaknya untuk malam ini, ada baiknya jika kami menghindari pembahasan yang terlalu mendalam. Alhasil, sebuah keheningan yang canggung sempat menyelimuti kami karena tidak ada satu pun yang bersedia memulai obrolan.


Tanpa terasa, jarum jam dinding yang tergantung sudah menunjuk tepat di angka dua puluh dua malam.


"Sudah waktunya tidur, nih."


"Iya. Benar juga, ya."


Urusan mengenai pembahasan yang mendalam biarlah kami bicarakan kembali besok atau di hari berikutnya.


Aku pun segera melangkah untuk mengambil kasur lantai (futon) yang sengaja kubeli sebelumnya, lalu membawanya menuju ke ruang tengah.


"Itu apa?"


"Kalau kamu terus-menerus tidur di atas sofa, rasa lelah di tubuhmu tidak akan bisa hilang dengan maksimal, kan? Kasur ini sengaja kubeli saat kamu sedang menginap di kamar Ema-san kemarin. Mengingat luas ruangan ini tidak memungkinkan untuk ditambah sebuah ranjang tempat tidur, maaf ya jika harus memakai ini, tapi setidaknya kasur lantai ini jauh lebih baik ketimbang sofa, bukan?"


"Terima kasih banyak."


Kami berdua bergotong-royong menggeser posisi meja dan sofa demi mengosongkan area yang sekiranya cukup untuk menggelar kasur lantai tersebut.


Setelah membentangkan kasur lantai, memasang kain seprai, lalu menata posisi selimut dan bantal, proses penataan tempat tidur pun resmi rampung. Meskipun cuaca di pertengahan bulan Mei sudah mulai berangsur hangat, namun karena terkadang malam hari masih menyisakan hawa yang dingin, aku sengaja meletakkan sebuah selimut tebal di dekat posisinya.


"Kalau begitu, selamat tidur."


"Iya...... Selamat istirahat."


Aku mematikan sakelar lampu ruang tengah lalu melangkah masuk ke dalam kamar tidurku.


Aku merebahkan diri di atas ranjang sembari melayangkan pandangan menatap langit-langit kamar.


"Kira-kira, bagaimana cara terbaik bagiku untuk membuka obrolan nanti, ya......"


Sejujurnya, malam ini aku memiliki sebuah keinginan untuk kembali bicara dari hati ke hati dengan Yuu.


Di saat Yuu memohon kepadaku agar aku mau mengajarinya berakting waktu itu, aku langsung mendepaknya secara sepihak.


Hal itu memang dipicu karena Yuu tidak bersedia menceritakan apa alasan utamanya ingin menjadi aktris maupun alasan mengapa dia sampai bergantung kepadaku, namun aku pun menyadari bahwa saat itu sikap diriku sendiri pun terlampau keras kepala...... Tapi jika untuk saat ini, aku merasa kami berdua pasti sudah bisa saling menurunkan ego masing-masing.


Aku merasa sekarang kami sudah siap untuk saling menghadapi latar belakang situasi kami satu sama lain.


"............"


Sudah berapa lama kiranya aku melewatkan waktu sembari melamunkan perkara tersebut? Tepat di saat aku sudah tidak mampu lagi membendung rasa kantuk yang mendera dan mulai terlelap.


"......Mmm?"


Sayup-sayup aku seperti mendengarkan adanya letupan suara ketukan pintu.


Sembari menyeret kembali kesadaranku yang hampir tenggelam, aku mengarahkan pandangan mataku menuju ke arah pintu kamar.


"Kanata-san...... Apakah Anda masih terbangun?"


Rupanya suara tadi bukanlah sekadar halusinasi belaka. Aku bangkit dari atas ranjang, lalu melangkah untuk membuka pintu secara perlahan. Di balik pintu, tampak sosok Yuu yang sedang berdiri mematung sembari mendekap erat bantal di dadanya.


"Ada apa?"


"Anu...... Apakah saya diperbolehkan untuk tidur bersama?"


"Eh──?"


Mendengar satu kalimat yang sama sekali tidak terduga tersebut, isi kepalaku seketika mendadak mogok berpikir.


"Ah, maksudnya...... bukan berarti tidur bersama di atas satu ranjang yang sama dengan Kanata-san, melainkan saya ingin meminta izin untuk menggelar kasur lantai saya tepat di sebelah posisi Anda...... Tentu saja, itu pun jika Kanata-san tidak keberatan."


"Ah, oooh...... Jadi begitu maksudnya."


"Apakah tidak boleh......?"


Yuu terus menatap ke arahku dengan pandangan mata yang menyiratkan permohonan, sembari separuh bagian wajahnya sengaja disembunyikan di balik bantal yang didekapnya. Di dalam binar matanya, tampak membayang sebuah gurat kesepian pekat yang bahkan tidak mampu disembunyikan oleh pekatnya kegelapan malam.


Rasanya aku ingin memukul diriku sendiri karena sempat berpikiran yang tidak-tidak meskipun hanya sesaat.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kasurmu dulu."


"Terima kasih banyak."


Aku melangkah menuju ruang tengah untuk mengambil seluruh perlengkapan tidur milik Yuu, lalu menatanya kembali di dalam kamar tidurku. Di bawah sela-sela tirai jendela yang membiarkan kilauan cahaya bulan mengintip masuk ke dalam kamar, kami berdua pun merebahkan diri secara berdampingan.


“"............"”


Suasana malam hari di area kawasan pemukiman warga ini terasa sudah sangat sunyi senyap. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara lengkingan seekor kucing.


"Dulu, saya juga sering tidur berbaring berdampingan seperti ini bersama dengan Kakak......"


Tepat di saat sepasang mata kami sudah mulai terbiasa dengan kondisi ruangan yang remang-remang, Yuu menjadi pihak yang pertama kali memecah keheningan dengan melontarkan kalimatnya.


"Saya dan Kakak sudah kehilangan kedua orang tua sejak kami masih kecil, dan bahkan sebelum Kakak menginjak usia sekolah dasar, kami berdua sudah dirawat dan dibesarkan di dalam panti asuhan. Bagi diri saya, keberadaan Kakak bukan hanya sebatas seorang kakak perempuan belaka, melainkan dia juga merupakan sesosok figur ibu...... Ke mana pun Kakak pergi, saya pasti akan selalu mengekor di belakangnya. Saya juga sangat sering menyelinap masuk ke dalam selimutnya untuk tidur bersama seperti ini."


Yuu terus melanjutkan cerita mengenai latar belakang kisah hidupnya, seolah-olah dia sedang merindukan kembali kenangan manis di masa lalu yang pernah dilewatkannya bersama dengan mendiang sang kakak.


"Namun, setelah Kakak mendapatkan tawaran audisi dari agensi Second House saat dia masih duduk di bangku kelas dua SMP, roda kehidupan kami seketika berubah total. Kami keluar dari panti asuhan, lalu mulai hidup mandiri berdua di sebuah apartemen. Di sana, kami bisa melewatkan hari-hari yang dipenuhi oleh kebahagiaan sederhana...... Saya benar-benar berterima kasih kepada Direktur Igarashi dari lubuk hati yang paling dalam."


Namun──Yuu menjeda kalimatnya sejenak sebelum kembali melanjutkan.


"Sejak Kakak resmi memulai debutnya, ada banyak hari di mana dia harus pulang larut malam, sehingga kesempatan bagi kami untuk bisa tidur bersama seperti dulu menjadi semakin berkurang. Terkadang, ada kalanya dia bahkan tidak pulang ke rumah selama beberapa hari karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya menginap di lokasi. Meski begitu, selama hal tersebut demi mewujudkan impian Kakak, saya sama sekali tidak merasa menderita. Malahan, bisa menyokong perjuangan Kakak dari balik layar seperti itu sudah menjadi sebuah arti dan tujuan hidup yang paling berharga bagi diri saya."


Aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya impian yang dimiliki oleh Tachibana Haruka. Namun, aku bisa merasakan bahwa impian tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan alasan mengapa Yuu sampai begitu bersikeras untuk menjadi seorang aktris sekarang.


"Karena itulah, bisa kembali tidur berdampingan bersama dengan anggota keluarga setelah sekian lama rasanya membuat saya merasa sangat bahagia."


Keluarga──Itu adalah sebuah untaian kata yang sempat kulontarkan di hadapan teman-teman sekelas Yuu siang tadi.


Aku sama sekali tidak bermaksud mengucapkan kata tersebut dengan separuh hati, namun saat mendengarnya diutarakan kembali langsung dari mulut Yuu, rasanya membuatku menjadi agak sedikit malu.


"Maafkan aku, ya...... Waktu itu aku sengaja memilih kata tersebut karena kupikir sebutan itu adalah hal yang paling ampuh untuk menusuk mental dan menyadarkan kelakuan bocah-bocah itu."


"Tolong jangan meminta maaf. Saya justru merasa sangat senang karena Anda bersedia menganggap saya sebagai keluarga Anda, lho."


Sedetik kemudian, Yuu menatap ke arahku dengan binar mata yang seolah-olah sedang menyiratkan sebuah permohonan yang mendalam.


"Anu...... Apakah saya boleh pindah untuk tidur di atas satu ranjang yang sama dengan Anda?"


Mungkin karena dia terlampau larut dalam merindukan kenangan manis bersama mendiang kakaknya, dia menjadi sangat mendambakan kehangatan dari sesosok figur manusia di dekatnya.


Secara tampilan luar, Yuu memang memiliki perawakan dewasa yang sangat mirip dengan sang kakak, namun di balik itu semua, dia tetaplah sesosok gadis remaja yang masih berusia lima belas tahun.


Berdasarkan apa yang kudengar dari ceritanya tadi, dia tampaknya harus terus mendekap rasa kesepian yang mendalam sejak sang kakak resmi berprofesi sebagai aktris. Mengingat latar belakang garis takdir hidup yang harus dilewatinya, tidak sulit bagiku untuk membayangkan bagaimana tersiksanya anak ini di masa-masa keemasannya yang seharusnya diisi dengan bermanja-manja, namun dia justru tidak memiliki satu pun tempat untuk bersandar dan menumpahkan keluh kesahnya.


Besar kemungkinan dia bahkan tidak bisa bermanja-manja kepada mendiang kakaknya sendiri──Tidak, jika mengingat fakta bahwa dia sampai rela bungkam dan menyembunyikan perkara perundungan yang diterimanya demi tidak ingin membuat sang kakak merasa cemas, sudah bisa dipastikan bahwa dia memang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bermanja-manja selama ini.


Rasa haus akan kasih sayang dari seorang anak yang ditelantarkan oleh keadaan seperti ini, benar-benar bisa kupahami hingga ke tahap yang menyayat hati.


"Ah...... Tentu saja boleh."


Aku mengangkat sedikit bagian selimutku secara perlahan. Melihat hal itu, Yuu segera keluar dari balik kasur lantainya sendiri lalu menyelinap masuk ke dalam kehangatan ranjangku.


"Kanata-san......"


"Mmm? Ada apa?"


"Apakah...... saya memang benar-benar diperbolehkan untuk kembali pulang ke tempat ini?"


Nada suaranya yang sedikit bergetar hebat itu menyiratkan sebuah rasa cemas pekat yang tidak mampu disembunyikannya.


"Kanata-san memang sudah bilang bahwa keputusan Anda untuk mundur dari dunia hiburan bukanlah karena kesalahan Kakak saya. Namun, saya tetap merasa bersalah karena ketakutan jika keberadaan saya di sisi Anda justru akan terus mengorek luka lama dan membuat Kanata-san merasa menderita."


Setelah sebelumnya mengorbankan diri demi sang kakak, kini dia malah mengkhawatirkan ketenanganku...... Bahkan di saat seperti ini pun, dia masih sempat-sempatnya memikirkan perasaan orang lain.


Bisa jadi hal itu memang sudah menjadi sifat aslinya, namun di mataku, perilakunya terasa terlampau mengorbankan diri sendiri secara berlebihan.


"Memang benar jika dibilang kemungkinannya tidak sepenuhnya nol. Tapi...... di bandingkan rasa sesak akibat teringat kembali akan kenangan masa lalu saat kamu berada di sisiku, fakta bahwa kehadiranmu di tempat ini justru sudah menjadi sebuah penyelamat hidup bagiku adalah sebuah kebenaran yang jauh lebih besar."


"Menjadi seorang penyelamat──?"


Aku melayangkan pandangan menatap sosok Yuu yang sedang berbaring tepat di sebelah posisiku. Yuu yang menyadari arah tatapan mataku pun perlahan ikut mendongakkan wajahnya.


"......Sepertinya, selama ini aku merasa sangat kesepian."


Aku tahu mengakui hal semacam ini di hadapan seorang gadis yang usianya jauh lebih muda dariku adalah sebuah hal yang sangat memalukan. Namun, aku tidak ingin mendustai isi hatiku sendiri atas emosi yang baru kusadari ini.


"Kamu mungkin sudah bisa menebaknya secara samar, tapi selama dua tahun penuh sejak aku memutuskan mundur sebagai aktor, aku tidak pernah menjalani pola kehidupan yang normal. Kehilangan tempat bernaung di dunia hiburan, ditambah kondisi keluargaku yang hancur berantakan hingga membuat kedua orang tuaku pergi entah ke mana...... Meskipun aku tidak pernah meratapi nasib buruk itu secara berlebihan, namun tampaknya di dasar lubuk hatiku yang terdalam, aku terus memendam rasa kesepian yang teramat sangat."


Alasan mengapa aku menerima tawaran pekerjaan dari Direktur Igarashi pun, mungkin secara tidak sadar dipicu karena jiwaku sedang mendambakan adanya sebuah ikatan hubungan dengan sesama manusia. Jika bukan karena alasan itu, aku tidak akan bisa menjelaskan apa motif utamaku sampai bersedia kembali bekerja di dunia hiburan meskipun hanya sebatas menjadi seorang staf administrasi biasa.


"Tanpa kusadari, hari demi hari yang kulewatkan saat tinggal berdua bersamamu perlahan mulai terasa tidak buruk juga. Meskipun pada awalnya aku sempat dibuat kebingungan oleh pola kehidupan bersama yang dimulai secara sepihak ini, namun begitu aku menyadarinya, aku mendapati diriku yang ternyata merasa sangat bahagia melewatkan waktu bersamamu."


Momen di saat aku bisa mengonfirmasi kebenaran dari perasaan tersebut secara gamblang adalah tepat di saat Yuu melangkah pergi meninggalkan rumah ini.


Fakta bahwa aku tidak sudi untuk kembali mencicipi dinginnya rasa kesendirian itu lagi adalah sebuah bukti nyata yang tidak terbantahkan.


"Karena itulah, keberadaanmu di sini sama sekali bukanlah sebuah gangguan, melainkan aku justru merasa sangat terselamatkan oleh kehadiranmu, Yuu. Jika kamu tidak merasa keberatan, aku sama sekali tidak masalah jika ke depannya kamu ingin terus menetap di dalam kamar ini. Tidak, tunggu...... rasanya tidak adil jika di saat seperti ini aku masih menggunakan pilihan kata yang ambigu."


Sangatlah egois jika di saat aku sudah menyadari bagaimana isi hatiku yang sebenarnya, aku justru malah melemparkan keputusan akhirnya kepada pihak lawan.


"Murni karena aku yang ingin terus bersama denganmu, jadi maukah kamu untuk tetap tinggal di sisiku mulai dari sekarang?"


Aku tahu betul bahwa melayangkan sebuah permohonan yang terdengar menyedihkan seperti ini kepada seorang gadis yang lebih muda adalah tindakan yang memalukan. Namun, aku terlanjur menaruh harapan besar bahwa Yuu pasti akan bisa memahami bagaimana rasanya tercekik oleh rasa kesepian yang sama denganku.


"Apakah...... saya benar-benar boleh melakukannya......?"


Intonasi suara Yuu terdengar bergetar jauh lebih hebat ketimbang beberapa saat yang lalu.


"Iya. Aku mohon kepadamu."


Tepat di saat sepasang matanya mulai digenangi oleh air mata yang merebak keluar, Yuu langsung mendekap dadaku erat-erat sembari menyembunyikan wajahnya di sana.


"Uuuh......"


Yuu berusaha sekuat tenaga untuk meredam luapan emosinya, namun tetesan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya tampak sudah tidak bisa dibendung lagi. Saat aku mengusap punggungnya secara perlahan demi menenangkannya, pertahanan dirinya seketika runtuh total bagai seutas benang yang terputus, dan dia pun mulai melayangkan suara tangisan histeris yang teramat sangat memilukan.


Sejak aku masih berkarier sebagai aktor cilik dulu, aku sudah berulang kali menyaksikan adegan anak perempuan yang sedang menangis di dalam sebuah skenario akting. Namun, aku belum pernah sekalipun menyaksikan sebuah tangisan pilu yang menyuarakan luapan emosi yang begitu pekat dan mendalam seperti yang ditunjukkan oleh Yuu saat ini.


Jika situasi ini adalah salah satu bagian dari potongan adegan di dalam sebuah film drama, ini mungkin adalah momen yang tepat bagiku untuk melontarkan satu atau dua baris kalimat puitis yang keren. Namun, di saat aku dipaksa berhadapan langsung dengan tetesan air mata yang nyata seperti ini, satu-satunya hal yang mampu kulakukan hanyalah sebatas merengkuh tubuhnya erat-erat di dalam dekapanku.


Hingga Yuu akhirnya berhenti menangis, aku dipaksa untuk meresapi kembali betapa tidak berdayanya diriku ini sebagai seorang manusia.


“"............"”


Sudah berapa lama kiranya kami melewatkan waktu dalam posisi seperti itu?


Setelah beberapa saat berlalu, Yuu perlahan-lahan mulai merenggangkan pelukan tubuhnya dariku.


"Mohon maaf, ya. Baju piyama Kanata-san sampai basah kuyup karena tetesan air mata saya......"


"Jangan dipikirkan. Setidaknya di saat kamu sedang ingin menangis, tidak ada salahnya bukan untuk meminjam dada seseorang sebagai tempat bersandar?"


"Iya...... Dulu Kakak juga pernah bilang, kalau saya sedang ingin menangis, pinjamlah dada seseorang untuk bersandar."


Begitu rupanya, aktris genius itu ternyata terkadang bisa juga melontarkan kalimat bijak yang bagus. Namun, alih-alih meratapi hal tersebut, ada perkara lain yang jauh lebih penting.


"Anu, Yuu."


"Iya......"


"Sama halnya seperti kamu yang sudah menyelamatkan hidupku, aku pun memiliki sebuah keinginan untuk bisa menjadi kekuatan yang menopang dirimu."


Meski begitu, aku tetap tidak akan bisa mengajarimu akting.


Sejak aku resmi mundur sebagai aktor, aku sudah memantapkan tekad di dalam hati untuk tidak akan pernah bermimpi lagi, dan bersumpah tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti membuat orang lain memupuk sebuah impian kembali. Namun, di luar perkara mengajari berakting, bukankah seharusnya masih ada hal-hal lain yang bisa kulakukan untuk membantumu?


Di atas segalanya, untuk saat ini aku benar-benar murni ingin menjadi sosok yang berguna bagimu.


"Karena itulah, maukah kamu menceritakannya kepadaku? Mengenai alasan utamamu ingin menjadi seorang aktris."


Yuu tampak melayangkan pandangan matanya ke arah bawah sembari menggigit bibir bawahnya rapat-rapat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu di dalam pikiran.


"Baiklah, saya mengerti."


Sesaat kemudian, dia langsung mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke arahku seolah-olah sudah memantapkan tekad di dalam hati.


"Saya──ingin menjadi sosok pengganti bagi Kakak saya."


"......Menjadi sosok pengganti kakakmu?"


Aku mengulang kembali untaian kalimat tersebut karena sama sekali tidak mampu menangkap apa maksud tersembunyi di balik ucapannya.


"Saya ingin menggantikan posisi Kakak demi merampungkan proyek serial drama yang telah menjadi karya terakhir dalam hidupnya."


"Karya terakhir kakakmu...... maksudmu serial drama yang berjudul 'Meneruskan Kisah Cinta yang Tak Sampai Bersama Adikmu'?"


Alih-alih memberikan jawaban lewat kata-kata, Yuu hanya menyahut dengan memberikan sebuah anggukan kepala kecil.


──Meneruskan Kisah Cinta yang Tak Sampai Bersama Adikmu.


Itu adalah proyek serial drama yang seharusnya menjadi panggung perdana bagi Tachibana Haruka untuk mengemban peran sebagai tokoh utama.


Garis besar dari alur cerita karya tersebut mengisahkan tentang pertemuan antara seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang sama-sama melewati hari-hari dalam kesendirian sejak kecil. Mereka saling tertarik satu sama lain seolah demi mengisi kekosongan di dalam jiwa masing-masing, namun tepat setelah kebahagiaan sejati berhasil direngguk, sang gadis mendadak meninggal dunia.


Tiga tahun kemudian, sang pemuda dipertemukan kembali dengan adik perempuan dari mendiang gadis tersebut. Berangkat dari kondisi di mana keduanya masih sama-sama terpuruk dalam bayang-bayang duka akibat kepergian sang gadis, mereka pun mulai saling berpegangan tangan. Di tengah proses perjuangan bersama demi mengatasi rasa kesedihan mendalam karena kehilangan orang yang paling disayangi itulah, benih-benih asmara yang murni namun tabu perlahan mulai tumbuh di antara keduanya dalam sebuah jalinan kisah cinta yang emosional.


Serial drama ini dikonformasi akan berjalan sepanjang dua musim berturut-turut, di mana musim pertama akan berfokus pada bab sang kakak, sedangkan musim kedua akan menyoroti kisah dari bab sang adik.


Di dalam proyek drama tersebut, Tachibana Haruka seharusnya mengemban tanggung jawab ganda untuk memainkan dua peran sekaligus, yaitu sebagai sosok sang kakak sekaligus sosok sang adik.


"Beberapa hari menjelang pelaksanaan upacara kelulusan sekolah SMP saya, sutradara dari proyek drama tersebut mendadak datang berkunjung menemui saya."


Jika yang dimaksud adalah sang sutradara...... berarti orang itu adalah Sutradara Rokujou, kan?


Aku mengenal sosoknya dengan sangat baik karena beliau adalah sutradara yang sudah sangat berjasa membimbingku sejak aku masih berkarier sebagai aktor cilik dulu.


"Beliau meminta saya untuk bersedia tampil sebagai aktris di dalam proyek 'Meneruskan Kisah Cinta yang Tak Sampai Bersama Adikmu' demi menggantikan posisi Kakak. Mengingat proses syuting untuk bagian musim pertama kabarnya sudah berhasil dirampungkan sebelum Kakak meninggal dunia, beliau menganggap bahwa untuk bagian musim kedua──yaitu peran sang adik yang seharusnya dimainkan oleh Kakak──tidak ada sosok lain yang paling ideal untuk memainkannya selain diri saya yang merupakan adik kandung aslinya."


Mendengar penjelasan tersebut, emosi yang pertama kali meluap dari dalam dadaku tidak lain adalah sebuah rasa amarah yang teramat sangat pekat. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk sampai kehilangan kendali diri akibat dikuasai oleh rasa murka.


"Saya harus merampungkan proyek drama tersebut demi menggantikan posisi Kakak!"


Alasan utama yang membuatku harus menahan diri adalah karena ekspresi wajah yang ditunjukkannya saat mengutarakan kalimat tersebut tampak diselimuti oleh seberkas bayangan kegelapan yang pekat.


Luapan perasaan yang disuarakannya dengan nada pilu yang menyayat hati itu, benar-benar terasa sama persis seperti ekspresi yang ditunjukkannya di saat kami pertama kali dipertemukan kembali──sepasang bola matanya tampak menyiratkan kepedihan mendalam yang teramat sangat, hingga rasanya tidak akan ada satu orang pun yang mengira jika untaian kalimat penuh tekad yang baru saja dilontarkannya tadi lahir dari sorot mata yang telah kehilangan pancaran warnanya demi menceritakan sebuah impian.


"Yuu......"


Hingga di tahap ini, aku memang masih belum bisa menangkap apa alasan utama yang membuatnya sampai begitu keras kepala ingin belajar berakting dariku. Namun, tepat di saat aku dipaksa berhadapan langsung dengan sepasang bola mata yang memancarkan pekatnya kegelapan sedalam itu, ada satu hal yang melintas di dalam pikiranku.


Sekali lagi, aku memantapkan tekad di dalam hati untuk tidak akan pernah membiarkan Yuu terjun menjadi seorang aktris.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close