NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kodoku Datta Kokuminteki Bishoujo no Imouto wo Hitoban Tometara Natsukareta V1 Chapter 8

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 8

Bakat yang Berlawanan

Setelah itu, aku terpaksa absen dari sekolah selama sekitar satu minggu karena cedera. Meskipun dokter mengatakan butuh waktu dua minggu untuk sembuh total, setelah satu minggu berlalu, rasa sakitnya memang masih sedikit tersisa, tetapi tidak lagi mengganggu aktivitas sehari-hari. 


Aku pun kembali ke sekolah dan pekerjaan di second house untuk menjalani rutinitas seperti biasa. Namun, aku tidak punya waktu untuk menemani Yuu berlatih di kelasnya. Sebab, agensi kami yang berskala kecil langsung kekurangan tenaga jika ada satu orang saja yang absen. Ditambah lagi, ada pekerjaan mendadak yang masuk bertubi-tubi. Begitu aku kembali aktif, pekerjaan sudah menumpuk sangat banyak hingga membuat Direktur Igarashi dan Ema-san nyaris kewalahan.


Padahal aku baru saja berjanji untuk menjadikannya seorang aktris, jadi aku merasa sangat enak. Ketika aku memberi tahu Yuu bahwa aku tidak bisa mendampingi latihannya sampai pekerjaan agak reda, dia menjawab, "Tidak apa-apa. Lagipula, entah bagaimana saya sudah mulai menangkap konsep dasarnya."


Menangkap konsep bagaimana? Padahal aku hampir belum mengajarkan apa-apa padanya. Apa maksudnya, ya?


Di tengah kesibukan seperti itu, hari-hari berlalu tanpa terasa, dan tahu-tahu liburan musim panas sudah di depan mata. Hari ini adalah hari terakhir semester pertama, tepat beberapa hari sebelum pertunjukan perdana Yuu di akhir pekan ini.


"Akhirnya aku terjerumus juga ke hal ini..."


Setelah menyelesaikan upacara penutupan semester dan pulang ke rumah, aku mendapati diriku dikelilingi oleh tumpukan rempah-rempah di dapur. Bumbu-bumbu yang kubeli dari supermarket tadi jumlahnya mencapai lebih dari sepuluh jenis. Mulai dari yang standar seperti kunyit, jinten, dan ketumbar, hingga cabai bubuk cayenne, pala, dan garam masala.


Mengapa aku membeli rempah-rempah dalam jumlah banyak begini? Jawabannya adalah untuk membuat kari—salah satu hidangan dari "Tiga Menu Masakan yang Cenderung Ditekuni secara Berlebihan oleh Pria yang Tinggal Sendirian".


Apakah kamu ingat aku pernah mengatakan ada satu alasan lagi mengapa sebelumnya aku tidak mau menyentuh masakan kari, selain karena hidangan ini merupakan simbol kehangatan keluarga? Alasannya adalah karena aku tahu, sekali aku mencobanya, maka semuanya akan berakhir.


Seperti yang bisa dilihat, jenis rempah-rempah itu sangat banyak, dan jika kita mulai pemilih serta perfeksionis, maka tidak akan ada habisnya. Ini adalah salah satu hidangan yang paling tepat digambarkan dengan istilah "terjebak di dalam lubang tanpa dasar".


Melihat karakterku yang terus-menerus membuat nasi goreng sampai benar-benar menguasainya, aku yakin pasti akan kecanduan masakan ini. Alasan lainnya adalah karena aku pernah membaca sebuah artikel di majalah wanita yang menuliskan, "Pria yang membuat kari dari rempah-rempah mentah itu merepotkan."


Katanya, ada istilah "3C" untuk menggambarkan ciri-ciri pria yang sebaiknya jangan dipacari, yaitu Cameraman, Creator, dan pria yang suka membuat Curry dari rempah-rempah asli.


Jika aktor juga dikategorikan sebagai kreator dalam arti luas, berarti saat aku mulai menyentuh kari rempah ini, ada seorang pria di sini yang sudah memenuhi dua ciri tersebut sekaligus... 


Bolehkan aku menangis sebentar?


Yah, belakangan ini aku juga sadar kalau diriku memang agak merepotkan, jadi rasanya sudah terlambat untuk memikirkannya sekarang.


Omong-omong, bagi yang ingin tahu alasan detailnya, silakan cari sendiri di ponsel masing-masing.


"Ini kan demi kelancaran dan kesuksesan pertunjukan perdana Yuu, jadi tidak usah dipikirkan."


Sambil membuat alasan seperti itu, aku memantapkan tekad untuk mulai memasak. Menu yang ingin kubuat adalah katsu kari, hidangan yang sebenarnya sangat klise.


Tentu saja tidak ada istilah menang atau kalah dalam sebuah pertunjukan teater. Namun, katsu kari adalah menu andalan pembawa keberuntungan di keluargaku. Dulu saat aku masih menjadi aktor cilik, ibuku selalu memasaknya pada malam sebelum audisi untuk kami santap bersama seluruh keluarga agar lulus seleksi. Karena itulah, aku ingin Yuu juga memakannya.


"Baiklah... mari kita mulai sekarang."


Saat ini Yuu pasti sedang menjalani gladi resik di gedung tempat pertunjukan besok akan digelar. Waktu yang kumiliki memang masih ada, tetapi aku tidak bisa bersantai-santai.


Aku memakai apron, menggulung lengan baju, lalu mulai memasak di tengah kepungan bahan makanan.

Pertama-tama, membuat karinya yang menjadi menu utama. Aku memang pernah membuat kari menggunakan bumbu blok instan, tetapi ini adalah pengalaman pertamaku meraciknya langsung dari rempah-rempah mentah.


Tidak apa-apa, aku sudah mempelajari cara membuatnya di situs berbagi video khusus untuk hari ini. 


Mula-mula, tuangkan minyak di wajan, lalu masukkan bawang bombai yang sudah dicincang halus dan tumis dengan api sedang. Aduk perlahan sampai warnanya berubah menjadi cokelat karamel, kemudian masukkan jahe dan bawang putih parut serta sedikit air, lalu tumis kembali. Setelah warnanya semakin pekat, masukkan tomat kaleng dan aduk hingga kadar airnya menyusut sampai membentuk tekstur pasta. Begitu airnya menyusut, tibalah saatnya memasukkan rempah-rempah.


Untuk kali ini, aku memutuskan menggunakan empat jenis rempah. Kunyit yang berfungsi sebagai pemberi warna, serta ketumbar dan jinten sebagai pemberi aroma. Menggunakan tiga jenis ini saja sebenarnya sudah menghasilkan rasa yang enak, tetapi karena aku ingin menambahkan sedikit rasa pedas, aku juga memasukkan cabai bubuk cayenne.


Pada tahap ini, pastikan untuk tidak lupa memasukkan garam. Sebab, kabarnya penyebab utama masakan terasa kurang lezat sebagian besar karena kekurangan takaran garam.


Setelah diaduk rata, tuangkan air dan biarkan mendidih dengan api besar, lalu kecilkan api dan biarkan meresap perlahan selama lima belas menit. Akhirnya, kari rempah dengan aroma tajam yang menggugah selera pun selesai dibuat.


Aroma rempah yang pekat itu menyeruak keluar dari dapur hingga memenuhi ruang tamu.


"Hmm... untuk ukuran pertama kali membuat, ini sukses besar."


Rasa pedas yang menggigit di balik manisnya bawang bombai langsung membangkitkan selera makan. Keseimbangan antara aroma, warna, dan rasanya benar-benar pas, membuatku merasa bangga pada diri sendiri. Tepat saat aku berpikir untuk menggoreng katsunya setelah Yuu pulang nanti—


"Saya pulang!"


Suara Yuu terdengar dari arah koridor masuk pada waktu yang sangat tepat. Suara langkah kakinya yang mengenakan selop terdengar mendekat ke arah ruang tamu.


"Kanata-san, hari ini masak kari ya?"


Sepertinya aroma rempah-rempahnya sudah tercium sampai ke pintu depan. Begitu membuka pintu, Yuu langsung menghampiriku dengan mata yang berbinar-binar.


"Ini... jangan-jangan Anda membuatnya langsung dari rempah-rempah?"


"Mumpung ada momennya, kupikir tidak ada salahnya mencoba membuat yang autentik."


"Aromanya harum sekali dan kelihatan lezat!"


"Malam ini, sebagai bentuk doa untuk kesuksesan pertunjukanmu, aku berniat membuat katsu kari. Aku baru mau menggoreng tonkatsunya sekarang, jadi butuh sedikit waktu lagi. Bagaimana kalau kamu mandi duluan?"


"Terima kasih banyak. Kalau begitu, saya mandi duluan ya."


Setelah meletakkan barang-barangnya, Yuu mengambil baju ganti dan handuk lalu berjalan menuju kamar mandi.


Sembari menatap punggungnya yang menjauh, aku kembali fokus pada bahan makanan di hadapanku.


"Baiklah, tinggal sedikit lagi."


Membuat tonkatsu terlihat mudah, padahal persiapan awalnya sangat krusial. 


Pertama, daging bagian lulur luar babi yang sudah dikondisikan pada suhu ruang harus disayat sedikit menggunakan ujung pisau untuk memotong urat-uratnya. Proses mengembalikan daging ke suhu ruang dan memotong urat ini diam-diam memegang peranan yang sangat penting. Jika kita menggunakan daging dingin yang baru dikeluarkan dari kulkas, waktu yang dibutuhkan agar bagian dalamnya matang akan lebih lama, akibatnya lapisan tepung bagian luar akan gosong sebelum dagingnya matang sempurna. Selain itu, jika uratnya tidak dipotong, daging akan mengerut saat digoreng dan menyebabkan lapisan tepungnya terkelupas, jadi bagian ini harus sangat diperhatikan.


Melakukan atau melewatkan dua tahapan ini akan menghasilkan kualitas yang berbeda bak bumi dan langit. Jadi, pastikan untuk tidak melupakan langkah ini saat Anda menggoreng tonkatsu.


Setelah uratnya dipotong, aku menaburkan garam dan lada di kedua sisi daging sebagai bumbu dasar, lalu membalurinya dengan tepung terigu tipis-tipis sambil menepis sisa tepung yang berlebih, kemudian mencelupkannya ke dalam kocokan telur. Setelah terbalur rata, aku melapisinya dengan tepung roti hingga menutup seluruh permukaan daging, dan persiapan pun selesai.


Goreng daging dalam minyak bersuhu sekitar 170°C hingga 180°C selama tiga menit, lalu selesaikan dengan api besar selama satu menit. Begitu pisau ditorehkan, tonkatsu yang sudah matang itu mengeluarkan suara renyah yang menandakan tingkat keregasan yang sempurna.


"Hebat juga aku, tingkat kematangannya benar-benar pas," ucapku memuji diri sendiri.


Saat aku sedang asyik mengagumi hasil masakanku, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Kupikir dia selesai mandi cepat sekali, tapi mungkin dia sudah sangat lapar dan tidak tahan lagi. Agar persiapan cepat selesai, aku segera menyendokkan nasi ke atas piring, menata tonkatsu di atasnya, lalu menyiramkan kuah kari.


Begitu selesai membawanya ke meja makan, Yuu kembali pada waktu yang sangat tepat.


"Makanannya sudah siap, duduk dan tunggulah."


"Baik. Terima kasih banyak!"


Melihatnya menunggu dengan gelisah seperti itu mengingatkanku pada seekor anjing yang sedang disuruh menahan diri sebelum makan. Aku sempat tergoda untuk menguji seberapa lama dia bisa bertahan, tapi karena kasihan, kuutuskan untuk tidak melakukannya kali ini.


Setelah meletakkan sendok dan segelas air, aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


""Selamat makan!""


Kami berdua merapatkan tangan secara bersamaan, dan Yuu langsung mengambil sendok lalu menyuapkan kari itu ke dalam mulutnya.


Begitu makanan itu masuk, dia mengeluarkan suara tertahan sembari menyunggingkan senyum yang tampak sangat bahagia. Aku memperhatikan gerak-geriknya yang sedang mengunyah perlahan seolah benar-benar menikmati rasanya dengan perasaan tegang.


"Enak sekali! Ini kari paling lezat yang pernah kumakan seumur hidup!"


Mendengar kalimat itu, aku merasa sangat lega hingga seluruh ketegangan di tubuhku rasanya meluruh seketika.


"Kamu ini, tidak usah berlebihan begitu."


"Benaran, lho! Rasanya sampai membuatku ingin memakannya setiap hari!"


Untuk membuktikan ucapannya, Yuu terus makan dengan lahap.


"Kalau setiap hari tentu saja tidak bisa, tapi kalau sesekali, aku tidak keberatan membuatkannya lagi untukmu."


"Benarkah? Tolong buatkan lagi, ya!"


"Tapi, ada satu syarat."


Yuu memiringkan kepalanya sembari menggigit tonkatsu.


"...Kamu tidak akan mengataiku sebagai pria yang merepotkan, kan?"


"Apa maksudnya itu?"


Yuu melanjutkan dengan bergumam, "Aku tidak akan bilang begitu, kok," lalu kembali melanjutkan makannya tanpa acuh.


Yah... menanyakan alasan di balik pertanyaanku tampaknya bakal lebih merepotkan lagi, jadi lebih baik aku diam saja. Tanpa terasa, piring Yuu sudah bersih tak tersisa.


"Anu... boleh tambah...?"


Yuu mengintip ke arah wajahku sambil meminta tambah dengan malu-malu. Melihatnya menyodorkan piring pelan-pelan seperti itu membuatnya tampak seperti seekor anjing yang sedang mengemis makanan.


"Tonkatsunya sudah habis, tidak apa-apa?"


"Tentu saja tidak apa-apa!"


Kuharap porsi makan yang banyak ini tidak akan memengaruhi penampilannya di panggung besok. Diiringi kekhawatiran kecil itu, malam sebelum hari pertunjukan pun semakin larut.



Dan tibalah siang hari pada pertunjukan utama.


Aku sudah tiba di lokasi tiga puluh menit sebelum pertunjukan Yuu dimulai. Hari ini, para siswa dari sekolah akting tempat Yuu belajar mengadakan pementasan sejak pagi hari yang dibagi berdasarkan kelompok usia. Kelompok Yuu dan anak-anak SMA lainnya mendapatkan giliran tampil pada pukul dua siang.


Di lobi, selain penonton umum, terlihat juga teman-teman dari para pemeran serta orang-orang yang tampaknya merupakan anggota keluarga. Ada juga rombongan keluarga besar yang datang bersama-sama untuk memberikan dukungan demi menyaksikan hari pembuktian anak mereka secara langsung.


Sembari mengamati pemandangan tersebut dari sudut mata, aku menyelesaikan proses registrasi lalu melangkah masuk ke dalam aula pertunjukan.


"Suasana seperti ini, sudah lama sekali ya..."


Ini adalah sebuah teater kecil dengan kapasitas sekitar tiga ratus penonton. Karena skalanya yang kecil, jarak antara panggung dan kursi penonton menjadi sangat dekat, memberikan daya tarik tersendiri berupa keintiman dan atmosfer yang terasa begitu hidup.


Dulu, aku sering pergi menonton berbagai pementasan teater untuk belajar, dan aku pun pernah berdiri di atas panggung sebagai pemeran. Namun, terlepas dari posisi mana pun, ketegangan khas yang menyelimuti aula ini selalu berhasil membangkitkan rasa rindu dalam diriku.


"Malah aku yang rasanya jadi gugup..."


Di tengah perasaan yang tidak tenang itu, seluruh kursi penonton akhirnya terisi penuh. Suara bel yang menandakan dimulainya pertunjukan pun bergema di dalam aula. Dengan demikian, tirai pertunjukan perdana Yuu resmi diangkat. Begitu pementasan dimulai, tidak butuh waktu lama bagi Yuu untuk muncul di atas panggung.


Saat melihat aktingnya, aku spontan membelalakkan mata karena terkejut. Sebab, cara Yuu menumpahkan emosinya jauh lebih baik daripada sebelum-sebelumnya.


Saat terakhir kali aku melihat aktingnya, penampilannya sama sekali tidak bisa dipuji. Tentu saja, bahkan sekarang pun aktingnya masih terasa kasar, tetapi tingkat penyaluran emosinya jelas-jelas telah meningkat pesat.


Aku memang telah mengajarkan tentang emosi kepadanya lewat berbagai pengalaman, tetapi hal itu saja tidak cukup untuk menjelaskan perubahan ini. Dia mampu mengekspresikan peran sulit yang kaya akan emosi ini dengan baik, terlepas dari statusnya yang masih seorang pemula.


"Tidak, bukan. Bukan hanya itu..."


Ada sebuah kejanggalan kuat yang kurasakan melebihi kualitas akting Yuu sendiri. Kejanggalan itu adalah 'level akting lawan mainnya yang meningkat terlalu drastis'.


Tentu saja akting Yuu telah menjadi lebih baik, tetapi yang lebih mengejutkan adalah akting lawan mainnya yang jauh lebih berkembang. Hal ini tidak hanya terjadi pada satu atau dua orang, melainkan sebagian besar aktor di panggung tampil dengan kemampuan yang jauh lebih terasah dibandingkan saat latihan.


Alhasil, kualitas dari keseluruhan pementasan ini pun melonjak naik.


"Bagaimana bisa menjadi seperti ini...?"


Ini adalah pemandangan yang mendadak sulit untuk dipercaya.


Tentu saja ada kemungkinan bahwa semua orang terpicu untuk berkembang dalam waktu singkat. Ada kalanya seorang aktor yang sebelumnya mengalami kebuntuan tiba-tiba berhasil membuka potensi bakatnya karena suatu pemicu tertentu, dan aku sendiri sudah sering menyaksikan momen kebangkitan lawan mainku saat aku masih menjadi aktor cilik dulu. Namun, jika begitu banyak aktor yang mengalaminya secara bersamaan seperti ini, hal itu tidak lagi masuk akal.


"Jangan-jangan..."


Saat pementasan sudah mendekati babak akhir, aku baru menyadari alasan di balik fenomena tersebut. Bahwa semua aktor yang mengalami peningkatan kemampuan bertingkah laku adalah mereka yang terlibat interaksi langsung dengan Yuu di panggung. Begitu berhasil memahaminya, aku tidak bisa menahan rasa merinding yang menjalar ke seluruh tubuhku.


Setelah pementasan berakhir dan para penonton telah membubarkan diri, aku berdiri di luar gedung teater, menunggu Yuu keluar. Berlawanan dengan langit cerah tanpa awan yang seolah sedang merayakan keberhasilan pementasan ini, aku masih belum bisa meredam gejolak kegembiraan setelah menyaksikan langsung pemandangan yang sulit dipercaya itu. Sejak tadi, aku terus memutar kembali memori tentang jalannya pertunjukan di dalam kepalaku berulang kali.


Mungkinkah... aku baru saja menyaksikan sesuatu yang luar biasa?


Di tengah rasa bimbang karena belum sepenuhnya yakin, aku terus menunggu. Namun, setelah sekian lama, Yuu tidak kunjung muncul. Padahal siswa lainnya sudah pulang sejak tadi. Ini terlalu lama.


"Apa terjadi sesuatu...?"


Karena khawatir, aku memutuskan berjalan memutar menuju pintu belakang khusus kru dan pemain. Di sana, aku melihat Yuu sedang bersama siswi pemeran utama yang sempat mencacinya saat latihan dulu.


"Maaf ya, membuatmu harus tetap tinggal setelah yang lain pulang." 


"Tidak apa-apa. Untuk pertunjukan hari ini, apakah ada bagian dari penampilan saya yang kurang berkenan?" 


"Bukan... justru sebaliknya."


Siswi itu memperlihatkan ekspresi canggung sebelum akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Saat latihan... anu, maafkan aku karena sudah bicara yang kasar padamu. Aktingmu hari ini sangat bagus, Tachibana-san. Berada di satu panggung bersamamu membuatku merasa begitu mudah membawakan peranku. Aku merasa, berkat dirimu, aku bisa berakting jauh lebih baik dari biasanya. Karena itulah aku ingin meminta maaf atas kejadian tempo hari..."


"Terima kasih banyak. Namun, kenyataannya kemampuan saya saat latihan memang masih kurang, jadi Anda tidak perlu meminta maaf. Saya justru berterima kasih dari lubuk hati yang terdalam karena telah mendapatkan masukan yang sangat berharga."


"Mendengarmu berkata begitu membuat perasaanku jauh lebih lega. Mohon bantuannya ya untuk ke depannya."


"Baik. Saya juga mohon bantuannya."


Setelah mengucapkan hal itu, si siswi berjalan melewataiku dan meninggalkan gedung teater. Yuu yang melepas kepergiannya dengan pandangan mata akhirnya menyadari keberadaanku, lalu berjalan mendekat perlahan.


"...Bagaimana bisa?"


Setelah sempat bimbang, akhirnya hanya pertanyaan abstrak itu yang lolos dari mulutku. Pertanyaan yang kuajukan bukan tentang siswi tadi, melainkan tentang kualitas akting Yuu. Tampaknya Yuu pun menyadari adanya perubahan dalam cara beraktingnya sendiri.


"Pertama, berkat pertengkaran saya dengan Kanata-san waktu itu."


Itu pasti merujuk pada hari ketika Sutradara Rokujo bertemu dengan Yuu di kafe.


"Berkat Kanata-san yang telah membawa saya ke berbagai tempat, saya bisa memahami beraneka ragam emosi. Hal itu membuat pemahaman saya terhadap peran menjadi lebih dalam, tetapi awalnya saya belum bisa menyalurkannya ke dalam akting. Namun, pertengkaran waktu itu menjadi pemicu yang membuat saya akhirnya bisa sedikit menuangkan emosi saya sendiri ke dalam karakter yang saya mainkan."


Artinya, kejadian malam itu telah menjadi jembatan bagi Yuu untuk menyalurkan emosinya. Selama ini, aku hanya fokus memberikan asupan emosi kepada Yuu—dengan kata lain, memperbanyak bank emosi di dalam dirinya. Seperti yang pernah kukatakan, menghadapi dan mengenali emosi diri sendiri adalah hal yang krusial untuk memerankan berbagai karakter.


Tentu saja, emosi yang telah dipahami tidak akan ada artinya jika tidak bisa disalurkan. Yuu telah berhasil menyalurkannya dengan benar, tetapi proses itu sama sekali tidak semudah kedengarannya. Sebab, aku sendiri bahkan belum sempat mengajarkan cara menyalurkannya.


"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, itu adalah pertama kalinya bagi saya menjadi seemosional itu..."


Mendengar penjelasannya, terlintas di pikiranku kemungkinan bahwa atribut akting Yuu adalah tipe "Reproduksi". Jika dia termasuk tipe Reproduksi yang menarik emosi dari pengalaman masa lalu yang mendekati situasi peran, wajar jika dia bisa menyalurkannya secara intuitif begitu menemukan pemicunya. Alasan mengapa pertengkaran kami menjadi titik baliknya pun menjadi masuk akal. Namun, ada hal lain yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan teori itu saja.


"Lalu, alasan yang kedua adalah—"


Sejak Yuu mengatakan 'Pertama', aku sudah tahu pasti ada alasan kedua. Justru alasan kedua inilah yang paling ingin kudengar—alasan mengapa level kemampuan lawan mainnya ikut meningkat drastis.


"—perkataan Kanata-san tentang 'perlu adanya kesadaran untuk membuat lawan main merasa nyaman saat berakting'."


Itu adalah nasihat yang kuberikan saat aku menanyakan sejauh mana dia memahami perannya.


"Saat Anda memberi tahu bahwa peran saya menuntut akting yang mendukung orang lain dan kesadaran untuk membuat lawan main merasa nyaman, di situlah saya menyadarinya... bahwa tuntutan peran itu adalah cara hidup saya yang sebenarnya."


"Cara hidupmu...?"


Pandangan mata Yuu menerawang, seolah sedang mengenang masa lalunya.


"Kakak perempuan saya selalu berpura-pura menjadi anak ideal bagi siapa pun. Hal itu sangat diperlukan agar kami bisa bertahan hidup tanpa menimbulkan masalah di lingkungan panti asuhan. Karena itu, sejak kecil saya selalu berpikir... saya tidak boleh merusak hubungan harmonis yang telah dibangun oleh Kakak. Meskipun saya tidak bisa menjadi seperti Kakak yang dicintai oleh semua orang, saya selalu menanamkan dalam diri untuk 'tidak dibenci oleh siapa pun'."


"Agar tidak dibenci oleh siapa pun...?"


Begitu memahaminya, rasa merinding kembali menjalar ke seluruh tubuhku.


"Membaca situasi dan ekspresi orang dewasa, memahami apa yang mereka sukai, menghindari topik yang mereka benci, dan mencari posisi netral agar tidak terlibat dalam hubungan interpersonal yang rumit. Meskipun saya tidak bisa mengatakan hal-hal yang menyenangkan hati mereka, setidaknya saya tidak mengatakan hal yang memicu kebencian. Saya selalu menjaga diri untuk tetap disukai, hari demi hari."


Setelah mendengar cerita ini, barulah aku paham.


Sifat dedikatif Yuu yang terlampau berlebihan. Alasan mengapa dia menggunakan bahasa yang sangat sopan di usianya yang masih muda. Serta alasan mengapa tata krama dan gestur tubuhnya saat makan terlihat begitu anggun memikat. Semua itu adalah taktik bertahan hidup yang dia pelajari demi 'tidak dibenci oleh siapa pun'.


"Jika sudah memahami hal itu, saya tinggal memberikan kebohongan yang terasa nyaman bagi lawan main saya. Saya merespons dengan jeda waktu yang mereka inginkan, menyelaraskan kecepatan membaca dialog, dan melemparkan umpan dialog yang mudah mereka kembalikan. Meskipun kemampuan saya saat ini belum cukup kuat untuk mengubah kebohongan menjadi sebuah kenyataan utuh, tampaknya saya sudah bisa memberikan kebohongan yang membuat lawan main merasa nyaman."


Itulah alasan mengapa siswi pemeran utama tadi akhirnya mengakui kemampuan akting Yuu. Yuu melanjutkan kalimatnya, "Lagipula, saya sendiri sudah terbiasa berakting sejak pertama kali bisa mengingat hal di dunia ini."


"Begitu rupanya..."


Setelah memahami segalanya, hanya kata-kata penuh pemahaman itu yang terlontar dari mulutku. Sama halnya seperti Tachibana Haruka yang berakting sebagai 'gadis yang dicintai semua orang', Yuu pun telah lama berakting sebagai 'gadis yang tidak dibenci siapa pun'. Karena itulah daya pengamatannya dalam membaca situasi dan ekspresi orang lain sangatlah tinggi.


Jika dinilai dari tingkat ketajaman intuisi dan pengamatan saja, secara atribut kemungkinan besar Yuu berada di atas Haruka. Dengan kemampuan observasi yang tinggi itu, dia bisa membaca akting seperti apa yang diinginkan oleh lawan mainnya, sehingga mampu mendongkrak kualitas seluruh pemeran di panggung.


Karakteristik ini sebenarnya cenderung mengarah pada tipe "Analisis" yang memahami perasaan peran lalu mengekspresikannya. Namun dalam kasus Yuu, dia tidak hanya memahami perannya sendiri... melainkan jauh lebih lihai dalam memahami peran yang dibawakan oleh lawan mainnya.


Begitu rupanya, sekarang semua kejanggalan yang sempat mengusik pikiranku telah terjawab tuntas. Terjawab memang... tapi prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Jenius dalam akting penyelarasan...?"


Tanpa sadar aku menggumamkan sebuah potensi bakat yang baru. Kepekaan tinggi yang mampu menyalurkan emosi tanpa perlu diajari, dipadukan dengan kemampuan memahami peran lawan main melebihi perannya sendiri demi menaikkan level performa tim secara keseluruhan. Ini adalah tipe hibrida antara tipe Reproduksi dan tipe Analisis. Jika diibaratkan dalam sebuah gim, dia adalah sosok pemberi buff yang mampu meningkatkan status dan kemampuan seluruh anggota parti. Walaupun akar mereka sebagai aktris dari garis bersaudara adalah sama, perbedaan kepribadian telah melahirkan bakat yang bertolak belakang.


Jika Tachibana Haruka adalah seorang aktris utama yang tiada tanding, maka Yuu adalah sosok aktris pendukung yang diidamkan oleh semua orang. Lawan main yang paling sempurna dan menguntungkan bagi aktor mana pun.


Seketika sebuah pemikiran terlintas di kepalaku.


—Jangan-jangan, aku sedang membesarkan bakat luar biasa yang setara dengan Tachibana Haruka?


Jika benar demikian, bakat emas ini mutlak tidak boleh dibiarkan terkubur sia-sia.


"Kanata-san...?"


Mungkin karena aku terus menatapnya sambil melamun cukup lama, Yuu mengintip ke arah wajahku dengan ekspresi khawatir.


"Ah, maaf. Bukan apa-apa, jangan khawatir."


Aku meletakkan tanganku di atas kepalanya sambil memberikan pujian atas kerja kerasnya.


"Untuk pertunjukan pertamamu, ini adalah hasil yang sangat luar biasa. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik."


"Terima kasih banyak. Ini semua juga berkat bantuan Kanata-san."


"Sebagai hadiah, aku akan mentraksirmu makan malam apa saja yang kamu suka."


"Benarkah? Kalau begitu, saya ingin makan nasi goreng buatan Kanata-san."


"Padahal aku berniat mentraksirmu, yakin tidak mau makan di luar saja?"


"Bagi saya, tidak ada hidangan mewah yang melebihi masakan rumahan buatan Kanata-san."


Astaga, bahkan di luar panggung pun dia pandai sekali membuat orang lain merasa senang.


"Kebetulan sekali, aku memang sedang berniat melakukan tanding ulang untuk membuat gyoza."


"Kalau begitu, saya akan ikut membantu ya!"


Langkah kaki kami pun beriringan menuju jalan pulang sambil saling menggenggam tangan. Saat mendongak ke atas, langit bersih membentang dengan warna biru yang begitu cerah.


Tanpa disadari, musim panas telah sepenuhnya tiba.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close