NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V1 Chapter 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 2

Garis Depan Tentara Kekaisaran Kekaisaran Luvankrum

Bagian dalam bangunan itu dipenuhi dekorasi mewah dan berkelas tinggi, mulai dari wallpaper hingga tangga spiral di depan mata.


Dan sejak masuk ke dalam markas, aku bisa mencium aroma manis yang mungkin berasal dari semua orang di sini.


"Ja-jadi ini markas garis depan..."


"Kalau pertama kali lihat, memang sama sekali tidak terasa seperti markas, kan?"


"Benar juga..."


"Aku juga awalnya begitu, tapi kalau sudah tinggal di sini lama-lama pasti terbiasa kok, jadi mulai sekarang ayo hidup bersama di sini ya!"


"I-iya."


Aku hampir tidak pernah masuk ke bangunan dengan dekorasi semewah ini. 


Bertahun-tahun lalu, Onee-chan──meski bukan kakak kandungku. Melainkan orang yang sangat baik padaku sebelum aku masuk sekolah sihir.


Terakhir kali aku masuk ke bangunan seperti ini adalah saat mengunjungi mansion milik Onee-chan itu.


Apa benar akan datang hari di mana aku bisa terbiasa dengan bangunan semewah ini? Sambil memikirkannya, aku menaiki tangga bersama Elena-san.


Dan di lantai itu, terdapat banyak pintu.


"Di sini adalah kamar pribadi milik masing-masing anggota."


"Begitu ya... kamar milik semua orang──eh!?"


"Ada apa?"


"Pa-padahal ini markas, tapi ada kamar pribadi segala!?"


"Iya. Karena untuk sekitar lima puluh orang, jadi beberapa lantai mulai dari sini memang area kamar pribadi semua anggota... ah, tentu saja kamar pribadi untuk Finn-kun juga ada, jadi tenang saja!"


"Ti-tidak mungkin! Kalian sampai menyediakan satu kamar khusus untukku... kalau memang ada ruang kosong, bukankah lebih baik dijadikan gudang makanan atau──"


"Kami tidak kekurangan gudang makanan ataupun ruang penyimpanan, jadi tidak perlu dipikirkan! Atau jangan-jangan, daripada kamar sendiri kau lebih ingin tinggal sekamar denganku?"


"Eh!? Ti-tidak, itu..."


Kalau dipikir-pikir, justru itu akan lebih merepotkan dirinya. Dan lagi, tinggal bersama orang seanggun Elena-san terus-menerus...


Sudah pasti aku akan gugup dan tidak akan bisa tenang...!


"Ka-kalau begitu... dengan senang hati aku akan memakai kamar pribadi itu."


"Yup! Itu lebih baik! Walaupun tadi cuma spontan bilang begitu, tapi hidup berdua bersama mungkin juga lumayan ya..."


"Eh...? Elena-san mengatakan sesuatu?"


"A-ah, tidak! Bukan apa-apa! Oke, sekarang aku akan langsung mengajakmu ke lantai paling atas!"


Aku tidak mendengar apa yang tadi Elena-san gumamkan.


Tapi sepertinya itu bukan sesuatu yang memang ingin dia sampaikan kepadaku, jadi aku tidak terlalu memikirkannya dan terus menaiki tangga spiral bersama Elena-san.


Dan setelah beberapa saat melewati lantai-lantai kamar pribadi.


Kami tiba di lantai dengan hanya satu pintu ganda.


"Elena-san... tempat ini?"


"Ini kamar mandi. Tepat sebelum masuk ada ruang ganti pakaian, tapi karena ini kamar mandi untuk bangunan tempat tinggal sekitar lima puluh orang, ukurannya lumayan besar lho~!"


Kamar mandi besar...


Aku memang jarang masuk tempat seperti itu, tapi mungkin rasanya menyenangkan ya.


Saat aku memikirkannya, terdengar suara para perempuan dari balik pintu ganda itu.


"Latihan hari ini memang melelahkan, tapi gara-gara Teraword-kun rasanya capekku hampir hilang semua."


"Aku ngerti banget!"


"Aku juga akhir-akhir ini bahuku agak pegal, tapi gara-gara Tera-kun rasanya langsung ringan lagi!!"


"Bukannya bahumu pegal karena dadamu besar?"


"Eh~? Dadamu juga hampir sama besarnya denganku, kan? Memangnya kau gimana mengatasinya?"


"Kita kan banyak bergerak, jadi yang penting itu bra──"


Ini percakapan yang tidak boleh kudengar.


Begitu menyadarinya secara naluriah, aku langsung berbalik ke arah tangga spiral.


Sambil melangkah pergi, aku mengatakan hal yang paling ingin kutanyakan sekarang.


"E-Elena-san! Tolong tunjukkan juga lokasi kamar mandi pria!"


"Kamar mandi pria...? Seperti yang Finn-kun tahu, selama ini unit ini isinya hanya perempuan, jadi tempat seperti itu tidak ada."


"...Eh?"


Aku refleks berhenti melangkah mendengar jawabannya.


Lalu sambil tidak bisa menyembunyikan kegugupanku, aku menoleh ke arah Elena-san.


"Ka-kalau begitu... mulai sekarang aku harus mandi di mana?"


"Di mana lagi, tentu saja di kamar mandi yang ada di balik pintu depanmu itu!"


Sambil berkata begitu, Elena-san menunjuk ke arah──


"Kita juga harus mempertimbangkan kalau dada bisa bergoyang──"


"Kalau pertarungan jarak dekat sih──"


"Bra ini lumayan recommended──"


Pintu yang kini tepat berada di depanku, tempat suara-suara seperti itu terdengar jelas jika aku mendengarkan baik-baik.


"A-aku... tidak bisa masuk."


"Eh?"


Di tempat yang penuh percakapan khas perempuan seperti itu.


Atau lebih tepatnya sebelum itu...!


"Mandi bersama semua orang... aku terlalu malu untuk melakukannya...!"


Hanya dengan membayangkannya saja wajahku langsung terasa panas.


Tapi disuruh mandi bersama perempuan-perempuan cantik seperti mereka. Sudah sewajarnya aku jadi seperti ini.


"Imut banget...! Maksudku bukan itu! Ehm... mungkin awalnya memang malu, tapi seperti dekorasi markas ini, nanti lama-lama kau juga akan terbiasa kok!"


"De-dekorasi dan mandi bersama kalian itu sama sekali berbeda!"


Kalau soal dekorasi mewah ini, mungkin kalau tinggal lama di sini suatu hari aku bisa terbiasa dan menganggapnya bagian dari latar belakang.


Tapi terbiasa mandi bersama mereka dan tetap tenang tanpa gugup. Aku bahkan tidak bisa membayangkan diriku seperti itu.


"Dan lagi... aku memang bukan merasa tidak suka, hanya malu saja, tapi bukankah semua orang justru akan merasa tidak nyaman mandi bersamaku?"


Mereka semua sudah menyambutku di unit garis depan ini.


Aku juga sudah tahu kalau mereka semua orang baik.


Tapi menerima kehadiranku dan mandi bersama denganku adalah dua hal yang berbeda.


"Kalau pria lain sih memang pasti tidak mau, malah mustahil, tapi kalau Finn-kun bukan cuma tidak masalah, malah aku senang karena bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu!"


"Walaupun Elena-san berpikir begitu, tapi yang lain mungkin──"


"Semuanya sama kok! Kalau penasaran, aku tanyakan langsung sekarang ya!"


"Eh!? E-Elena-san!?"


Setelah berkata ceria begitu.


Elena-san langsung mencoba membuka pintu tanpa peduli kalau ruang ganti di balik pintu bisa terlihat.


Karena itu aku buru-buru menjauh dan menghadap ke arah tangga spiral di belakangku.


Lalu begitu suara pintu tertutup terdengar, suara dari dalam pun terdengar.


"Eh, Elena-senpai? Ada apa?"


"Aku tadi sedang menjelaskan soal kamar mandi ini ke Finn-kun, tapi karena di markas ini cuma ada satu kamar mandi, berarti Finn-kun juga bakal mandi bareng kalian, kan? Nah, Finn-kun khawatir kalau kalian mungkin tidak suka mandi bersamanya."


"Eeh! Sama sekali nggak keberatan kok! Malah pasti seru banget!"


Eh...!?


"Malah bagus, kan!"


"Aku juga mau mandi bareng Teraword-kun!!"


Saat aku masih terkejut dengan reaksi yang tak terduga itu, salah satu perempuan mengajukan pertanyaan.


"Hm, kalau tadi sedang dijelaskan soal kamar mandi, berarti sekarang Teraword-kun ada di depan kamar mandi ini?"


"Iya! Ada kok!"


"Serius...!? Kalau begitu, mulai sekarang kita bisa mandi bareng──"


"E-Elena-san...! Aku tunggu di lantai atas saja ya...!"


"Eh!? Finn-kun!?"


Aku memang merasa tidak enak pada Elena-san dan semua orang. 


Tapi untuk langsung mandi bersama mereka sekarang juga.


Aku sama sekali tidak punya keberanian sebesar itu.


Sambil membawa perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, aku naik satu lantai ke atas.


Dan di sana──


"Loh, Teraword-kun!?"


"Eh!? Tera-kun!?"


"Se-semuanya...?”


Ada banyak orang di sana, dan aku sempat berpikir ada apa sebenarnya. Tapi setelah melihat lebih dekat, di atas meja tersaji banyak makanan.


Dan semua orang tampaknya sedang menyantapnya… berarti.


"Ini ruang keluarga… ya?"


"Yup. Di sini kami makan bersama, terus main kartu, atau ada juga yang main catur. Ada sofa juga, jadi kadang ada yang ketiduran di sini."


"Begitu ya……"


Cara mereka menghabiskan waktu benar-benar tidak terasa seperti markas garis depan militer.


Tapi memikirkan bahwa mulai sekarang aku bisa bersenang-senang bersama mereka seperti ini, entah kenapa membuatku sangat bahagia.


"Bukannya tadi katanya Teraword-kun lagi dianter Elena-senpai keliling markas? Kok sekarang sendirian? Elena-senpai mana?"


"Barusan, Elena-san sedang……"


Aku hampir saja mengatakan "mengantarkanku ke tempat pemandian", tapi.


Saat teringat bahwa aku sempat membayangkan mandi bersama semua orang. Wajahku langsung terasa panas, dan aku pun berhenti bicara di tengah kalimat.


"Eh……?"


"Teraword-kun……?"


"Masa jangan-jangan……"


Begitu melihat reaksiku, semua orang mendadak terdiam sesaat. Lalu detik berikutnya, mereka buru-buru mendekatiku.


"Teraword-kun! Apa Elena-senpai melakukan sesuatu padamu!?"


"Kalau iya, ngapain aja!?"


"Dia nggak melakukan hal aneh, kan!?"


"Eh? E-ehm……"


Saat aku kebingungan melihat semua orang mulai ribut.


Dari tangga tempat aku tadi naik, Elena-san muncul.


"Ah! Finn-kun! Kita masih tengah tur keliling markas, jadi kamu nggak boleh pergi sendir──"


Namun, semua orang langsung memotong perkataannya dengan nada penuh semangat.


"Elena-senpai!"


"Apa yang Elena-senpai lakukan pada Teraword-kun!?"


"Eh? Maksudnya apa……?"


"Mentang-mentang cuma berdua sama Tera-kun, jangan melakukan hal aneh dong!"


"Hal aneh……? Maaf, aku serius nggak ngerti kalian ngomong apa."


"Teraword-kun merah banget begitu, nggak bisa ngeles lagi."


"Merah…… ahh! Bukan bukan! Aku nggak ngapa-ngapain kok, Finn-kun cuma malu aja!"


"Berarti Elena-senpai memang melakukan sesuatu yang bikin Tera-kun malu dong!"


Saat semua orang makin mendesak, Elena-san buru-buru menggeleng.


"Makanya bukan begitu! Tadi aku cuma lagi nunjukin tempat mandi ke Finn-kun, terus karena pemandiannya cuma satu, aku bilang nanti dia bakal mandi bareng kalian semua. Kayaknya dia jadi malu banget gara-gara itu."


"Eh……?"


"Oh, jadi begitu……?"


"Eh tapi itu berarti……"


Begitu mendengar penjelasan Elena-san, semua orang kembali menoleh ke arahku.


Dan sekali lagi, mereka langsung menghampiriku.


"Imut banget~!"


"Cuma dengar ceritanya aja udah bikin hati tenang……"


"Jadi Tera-kun malu karena ngebayangin mandi bareng kami ya~"


"M-maaf……!"


"Itu bukan sesuatu yang perlu minta maaf!"


M-malunya……tapi sungguh syukurlah semua orang di sini baik sekali. Sambil benar-benar merasakan hal itu, aku berbincang sebentar dengan mereka.


Lalu Elena-san menepukkan kedua tangannya hingga terdengar suara kering "pak!".


"Baik baik! Masih ada tempat lain yang mau kutunjukin ke Finn-kun, jadi untuk hari ini sampai sini dulu ya!"


Begitu dia berkata demikian, semua orang mengucapkan "sampai nanti" padaku sebelum kembali ke tempat semula.


"Sudah dengar dari mereka tempat ini apa?"


"Iya. Katanya ini ruang keluarga, tempat makan dan bermain kartu."


"Betul sekali! Nanti kalau bangun pagi, kita makan bersama di sini! Nah, habis ini kita lanjut lihat bagian atas…… tapi sebelum itu, boleh turun sebentar ke bawah?"


"Baik."


Aku tidak tahu alasannya. Tapi karena Elena-san bilang ingin turun, tentu tidak ada alasan bagiku untuk menolak.


Saat kami turun bersama, kami tiba di lantai paling atas dari area kamar pribadi.


Ada empat pintu di sana, berarti ada empat kamar.


"Di sini kamar kami berempat."


Yang dimaksud "kami berempat" mungkin Elena-san, Sephia-san, dan para pemilik medali Kekaisaran Luvankrum itu.


"Satu orang sedang tidak berada di garis depan sekarang, jadi belum bisa kukenalkan. Tapi satu lagi kurasa sedang ada di kamarnya, jadi aku ingin mengenalkannya hari ini."


"……!"


Aku memang sedikit gugup, tapi lebih dari itu.


Aku juga ingin bertemu dengannya…… jadi.


"Hari ini tidak masalah!"


"Begitu ya! Kalau begitu."


Karena Elena-san mulai berjalan, aku pun mengikutinya. Lalu dia berhenti di depan salah satu pintu dan mengetuknya.


"Hm~? Siapa~?"


Dari dalam kamar terdengar suara wanita dewasa yang terdengar manis.


Dan saat pintu terbuka dari dalam, yang muncul adalah wanita cantik berambut merah muda.


Sesuai kesan dari suaranya, wajah dan penampilannya benar-benar terasa seperti wanita dewasa.


Poni yang menjuntai dan bibirnya yang berkilau memancarkan aura menggoda.


"Ah, Elena-chan? Ada apa── ohh, jadi kamu membawa anak laki-laki ke sini karena ingin mengorek informasi ya."


Sambil berkata begitu, wanita berambut merah muda itu mengangkat tangannya ke arahku.


Informasi……?


"Tunggu! Buk──"


"Pesona."


Saat wanita itu mengucapkannya, gelombang sihir terpancar dari tangannya ke arahku.


Karena bertumpuk dengan suara Elena-san, aku tidak sempat mendengar mantra apa yang digunakan, tapi sebenarnya dia melakukan apa?


"Eh, ternyata bukan begitu?”


"Bukan! Anak ini adalah anak laki-laki yang mulai hari ini akan bergabung sementara dengan pasukan ini!"


"Ohh, jadi begitu yaa."


"Benar! Yah, aku juga nggak menyangka bakal ada anak laki-laki datang ke pasukan ini, jadi wajar kalau salah paham, tapi mana mungkin kami membiarkan laki-laki musuh masuk ke dalam markas! Apalagi Finn-kun…… cepat, cepat lepaskan sihirnya!!"


Elena-san berkata dengan panik.


Untuk saat ini, tubuhku tidak terasa berubah apa pun.


Apa aku baru saja terkena sihir yang berbahaya sekali?


"Iya iya, aku mengerti kok~. Maaf ya? Soalnya sebelumnya kudengar yang datang ke garis depan itu perempuan, jadi aku sama sekali nggak menyangka bakal laki-laki── eh……?"


Wanita berambut merah muda yang tadi berbicara dengan aura menggoda itu. Menatap mataku dan entah kenapa mengeluarkan suara bingung.


"Ada apa……?"


Saat aku bertanya balik, wanita itu membelalakkan mata seolah sangat terkejut.


Sungguh, sebenarnya ada apa?


Saat aku merasa bingung, Elena-san yang berada di sampingku juga tampak terkejut dan berkata.


"Finn-kun…… jangan-jangan, sihir pesonanya nggak mempan……?"


"Eh……? Pesona……?"


Pesona. Sesuai namanya, itu adalah semacam sihir pencuci otak yang membuat target terpesona.


Di sekolah sihir, kami memang sempat mempelajarinya sedikit.


Tapi karena hanya sedikit orang yang bisa menggunakannya, sihir itu tidak pernah diajarkan dalam praktik.


"Benar, tadi Finn-kun seharusnya terkena sihir pesona…… tapi……"


Aku terkena sihir pesona……? Untuk memastikannya, aku menggerakkan tangan dan lenganku pelan.


Katanya kalau terkena pesona, seseorang akan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.


Dan selain itu, pikirannya hanya akan dipenuhi oleh orang yang mempesonanya…… seharusnya begitu.


Tapi.


"Sepertinya…… tidak ada perubahan apa pun."


"Iya ya…… hei, hal seperti ini sebelumnya──"


"Luar biasa~! Kamu!"


"Eh……?"


Wanita berambut merah muda di depanku mendekatiku sambil memasang ekspresi sangat senang.


"Kalau kamu melapisi tubuhmu dengan sihir sih aku masih bisa mengerti, tapi ternyata ada anak laki-laki yang bisa menahan sihir pesonaku dengan tubuh biasa itu benar-benar mengejutkan~"


"E-ehm…… terlalu dekat──"


"Tapi kenapa sihir pesonaku nggak berhasil yaa? Rumus efek pesona itu sederhananya adalah 'kekuatan sihir pengguna × daya tarik pengguna', dan kurasa kekuatan sihirku jelas tidak bermasalah. Nih, lihat?"


Meski gugup dengan jarak sedekat itu, aku mengikuti arahannya dan melihat medali Kekaisaran Luvankrum di dadanya.


"Medali yang sama seperti Elena-chan di sana, bukti bahwa aku termasuk kekuatan terkuat tentara Kekaisaran Luvankrum…… aku sih bukan tipe militer yang terlalu peduli soal medali, tapi setidaknya ini membuktikan kalau kekuatan sihirku jauh di atas rata-rata, kan?"


"T-tentu saja."


Bagi prajurit yang bertarung di medan perang, kekuatan sihir adalah hal mutlak.


Apalagi seseorang yang menjadi kekuatan tempur terkuat, tentu kekuatan sihirnya tinggi tanpa perlu dijelaskan lagi.


Lagi pula, kekuatan sihir yang kurasakan saat dia mengangkat tangannya tadi memang luar biasa berkualitas.


"Benar, kan? Tapi kalau begitu…… kalau mengikuti rumus tadi, berarti bagimu aku tidak menarik?"


Sambil berkata begitu, wanita itu menggoyangkan dadanya yang besar sekali. Karena tadi aku sedang melihat medali di dadanya.


Saat melihat bagian dadanya bergoyang meski tertutup pakaian, aku langsung merasa malu.


"T-tunggu! Apa yang kau──"


Elena-san yang hendak menyela ditahan dengan gerakan tangan olehnya. Lalu tangan itu kembali diarahkan padaku.


"Pesona."


Gelombang sihir kembali dilepaskan ke arahku.


"Namamu Finn-kun, kan? Nah gimana? Ada yang berubah?"


Karena ditanya, aku kembali menggerakkan tangan dan lenganku seperti sebelumnya.


"……Tidak. Tidak ada yang berubah."


"……Padahal tadi reaksimu lucu banget waktu sadar sama dadaku, tapi bahkan di saat seperti itu pun sihirku nggak mempan……"


Mendengar jawabanku, wanita berambut merah muda itu menutupi mulutnya dengan tangannya.


Setelah itu, dia terdiam seolah kehilangan kata-kata.


"……"


Sihir yang selama ini sangat dia percayai ternyata sama sekali tidak berhasil. Kira-kira bagaimana rasanya ya.


……Menyakitkan mungkin.


Mungkin aku seharusnya pura-pura terpengaruh saja agar tidak menyinggungnya── saat aku mulai memikirkan itu.


"……nggak……masuk……akal……"


"……Eh?"


Wanita berambut merah muda yang tadi tampak kehilangan kata-kata itu. Kalau didengarkan baik-baik, ternyata sedang bergumam pelan.


Dan saat aku mencoba mendengarkan lebih saksama──


"Nggak mungkin…… tadi dia bereaksi semanis itu saat melihat dadaku bergoyang, tapi sihir pesona tetap nggak berhasil…… kenapa? Kalau bukan karena aku nggak menarik baginya, dan bukan karena kekuatan sihirku kurang…… berarti jawabannya ada jauh sebelum itu…… biasanya laki-laki yang melihatku pasti sedikit banyak akan bergairah secara naluriah, tapi anak ini berbeda dari nafsu dan hasrat laki-laki biasa…… dia benar-benar melihatku hanya sebagai seorang manusia, sebagai seorang wanita. Bukan melihat hasratnya sendiri, tapi benar-benar melihat diriku…… makanya pesona yang memperbesar hasrat melalui sihir tidak mempan…… tapi laki-laki yang bisa melihat lawan bicara tanpa memikirkan hasratnya sendiri seperti ini…… dari fakta kalau sihir pesonaku belum pernah gagal sebelumnya, seharusnya tidak mungkin ada seorang pun──”


Dia berbicara terlalu cepat, jadi aku tidak mengerti apa yang sedang dia katakan.


Tapi, kalau dia terluka karena diriku, aku ingin setidaknya sedikit menghiburnya.


Karena itu.


"Umm!"


"Ada apa……?"


"Eetto……meskipun sihir pesonanya tidak berhasil, tapi kekuatan sihir yang tadi dilepaskan ke arahku benar-benar luar biasa! Jadi, anu……bisakah kamu semangat lagi?"


"!!"


Saat aku menyampaikan perasaanku sejujurnya, wanita berambut merah muda itu memandangku sambil memerah pipinya.


Lalu, dia menoleh ke arah Elena.


"Hei, Elena-chan……anak ini sekarang tidak sedang mengeluarkan sihir, kan? Misalnya seperti sihir pesona atau semacamnya."


"Eh? Iya, tidak kok."


Memang benar, aku tidak mengeluarkan sihir apa pun.


Jangankan itu, aku juga tidak mungkin bisa menggunakan sihir pesona.


Mendengar jawaban Elena-san, wanita berambut merah muda itu menyentuh dadanya sendiri.


"Begitu……begitu ya. Jadi, kau adalah yang selama ini kucari……"


Dia bergumam sesuatu dengan nada senang, lalu pada detik berikutnya. Dia mendekatkan wajahnya padaku dan berkata dengan suara ceria.


"Hei, bolehkah aku mendengar lagi nama dan umurmu?"


"Ah……!"


Diingatkan begitu, aku baru sadar kalau kami bahkan belum saling memperkenalkan diri.


Aku pun buru-buru membuka mulut.


"Mulai hari ini aku menjadi murid pelatihan yang bergabung sementara dengan pasukan garis depan ini, namaku Finn Teraword! Umurku 15 tahun, dan aku belum punya pengalaman tempur, tapi aku ingin berusaha sekuat tenaga agar bisa segera menyusul kemampuan kalian semua!"


"Begitu yaa. Kalau umurmu 15 tahun berarti aku lebih tua, jadi bolehkah kau memanggilku Onee-san?"


"Eh……?"


"Tunggu dulu! Apa-apaan bicara seenaknya begitu!? Itu tidak boleh!!"


"Sudahlah, cuma bercanda kok bercanda."


Setelah menenangkan Elena yang bersuara marah dengan santai, wanita itu kembali menatapku.


"Namaku Norn, jadi Finn-kun juga boleh memanggilku begitu, ya?"


"Mengerti! Norn-san! Mulai sekarang mohon bantuannya!"


"Un, salam kenal ya~"


……Norn.


Wanita misterius dengan aura dewasa dan menggoda yang sedikit berbeda dari anggota pasukan garis depan lainnya.


Meski auranya menggoda, aku bisa merasakan kalau pada dasarnya dia orang yang baik, jadi aku benar-benar menantikan bisa hidup bersama dengannya mulai sekarang.


"Kalau begitu, Finn-kun! Kita lanjut lagi tur di dalam markasnya ya!"


"Ya! Tolong bantuannya!"


Setelah selesai berkenalan dengan Norn-san.


Aku kembali diajak Elena berkeliling markas.


Dan ketika semua tempat selesai diperlihatkan kepadaku, matahari pun sudah terbenam.


Waktu malam mulai tiba.


◆ ◇ ◆


Markas Besar Militer Kekaisaran Luvankrum.


Di ruang rapatnya, rapat yang berlangsung sejak pagi akhirnya hampir selesai.


Waktu sudah mulai memasuki malam.


"Apakah semua hal yang perlu dibahas hari ini sudah selesai?"


Saat Deandre mengatakan itu untuk menutup rapat hari ini, pria bertubuh gemuk mengangguk.


"Ya……meskipun begitu, rapat sampai selarut ini benar-benar menunjukkan kalau kita pekerja keras."


"Benar sekali."


Rapat di markas besar dari pagi hingga malam.


Kalau hanya mendengarnya saja, memang terdengar seperti pekerja keras.


Namun kenyataannya, setelah pembicaraan minimum selesai, mereka bukan membahas cara mengembangkan militer lebih jauh──melainkan.


Betapa hebatnya para petinggi seperti mereka.


Betapa besar kontribusi mereka pada negara.


Betapa bodohnya rakyat jelata, dan betapa unggulnya kaum bangsawan.


Lukisan mahal, minuman favorit, dan topik-topik semacam itu sajalah yang mereka bicarakan dengan antusias.


"……"


Wanita berambut ungu itu hanya ikut berbicara sebagian saat topiknya masih berkaitan dengan militer di awal rapat.


Namun setelah itu, ketika pembahasannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan militer, dia tidak membuka mulut sedikit pun.


Meski mereka membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan militer, para pria itu masih menyebut diri mereka pekerja keras, dan wanita itu menatap mereka dengan pandangan dingin.


"Namun, karena sudah malam, murid pelatihan itu mungkin sekarang sudah menjadi mayat."


"Kalau cuma jadi mayat sih masih beruntung. Mengingat para pembenci pria itu……mungkin mereka sengaja membiarkannya hidup agar bisa melampiaskan kebencian mereka terhadap pria lain pada Teraword."


"Tak masalah, bukan? Rakyat jelata terluka menggantikan kaum bangsawan……itulah tatanan alam yang memang seharusnya."


Kata pria berpakaian rapi dengan sedikit janggut di dagunya.


Mendengar itu, Deandre dan yang lainnya mengangguk setuju.


"Ya, benar sekali."


"Mungkin sekarang dia sedang melewati malam penuh ketakutan sampai bahkan tak bisa tidur."


"Benar. Atau mungkin dia sudah tertidur untuk selamanya."


Saat para pria tertawa mendengar kata-kata Deandre itu, Deandre melanjutkan.


"Bagaimanapun, kita sudah mengirim pria untuk menjadi sasaran pelampiasan amarah mereka. Dengan begitu, sedikit banyak pantulan kebencian para pembenci pria itu terhadap kita juga akan mereda."


"Untuk memastikan kematian Teraword, kita perlu mengirim pasukan ke garis depan dalam waktu dekat……persiapannya akan kami urus."


"Ya. Setelah kematiannya dipastikan, bersamaan dengan itu umumkan juga bahwa Teraword yang terkenal unggul meski hanya rakyat jelata telah mati, agar rakyat jelata tidak pernah lagi bermimpi terlalu tinggi."


"Tentu saja, akan kami lakukan."


Mendengar jawaban itu, Deandre sedikit mengangkat sudut bibirnya.


Keberadaan Finn Teraword telah menarik perhatian baik rakyat jelata maupun bangsawan di seluruh Kekaisaran Luvankrum.


Bagi rakyat jelata, dia adalah harapan karena berhasil lulus dari sekolah sihir sebagai peringkat pertama meski berasal dari kalangan biasa.


Bagi kaum bangsawan, mereka mengakui bakat dan kekuatan sihirnya. Selain itu, Finn juga memiliki wajah tampan dan kepribadian yang lembut.


Karena itu, dia populer terutama di kalangan wanita, baik senior maupun junior di sekolah sihir.


Bahkan di beberapa bagian negara, ada kelompok yang memuja Finn dengan sebutan "Finn-sama".


Kelompok-kelompok itu tersebar di seluruh negeri, dan pada dasarnya hanya bisa diketahui oleh orang-orang dari posisi atas seperti petinggi militer Kekaisaran Luvankrum.


Karena itulah, situasinya belum sampai memberi pengaruh besar pada negara. Namun, fakta bahwa seorang rakyat jelata diperlakukan seperti itu sama sekali tidak bisa diterima oleh Deandre dan yang lainnya.


Karena itulah, sejak masih menjadi murid pelatihan, mereka mengirimnya ke medan maut dan berusaha membunuhnya secepat mungkin.


"Finn Teraword benar-benar telah membuat kita pusing dalam banyak hal, tapi sekarang akhirnya kita bisa tidur nyenyak……dengan ini, rapat hari ini selesai."


Saat Deandre menutup rapat, wanita berambut ungu itu berdiri lebih cepat daripada siapa pun.


Lalu langsung keluar dari ruang rapat.


Di matanya, tampak kehampaan gelap yang begitu dalam──


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close